Tini​ ​Martini​ ​Arifin

No Comments

Tini​ ​Martini​ ​Arifin​ ​

Pemilik​ ​Salon​ ​Rengganis

Memulai​ ​Karier​ ​Sejak​ ​Belia

berjualan ia menanyakan teman-temannya sekaligus kompetitornya perihal jam berjualan, setelah diketahui bahwa teman-temannya berjualan lebih siang, ia langsung mendahului berjualan lebih pagi yaitu jam 5 pagi. “Jam 6 pagi itu sudah habis dagangan, makin pagi maka kecil lingkaran konsumen untuk berjualan. Semakin siang, semakin besar lingkaran konsumen mungkin sampai bingung mau​ ​jual​ ​kemana​ ​lagi,”​ ​jelas​ ​Tini.  One step a head​, begitu taktik yang ia mainkan sejak masih belia. Selalu menjadi yang paling pertama untuk memulai dan mengambil kesempatan. Lalu, Tini pun pernah berjualan buah nangka keliling kampung. Dengan mengambil buah dari sang juragan sebanyak 20 buah, ia jajakan dagangannya di atas nyiru dan dibalut daun. Tini pun tidak mau kalah dengan pedagang lain, ia memiliki taktik berjualan yaitu dengan membawa pisau untuk membukakan Tini Martini, wanita kelahiran Cirebon dan besar di Bogor ini mempunyai kegigihan dan semangat yang sangat menginspirasi wanita-wanita. Menjadi sulung dari keenam bersaudara membuat Tini – begitu ia disapa menjadi pribadi yang bertekad kuat untuk sukses membiayai adik​ ​serta​ ​kedua​ ​orangtuanya. Mungkin orang lain bisa berkata bahwa hidup inj dijalani saja layaknya air yang mengalir. Namun lain hal bagi Tini, ia berprinsip bahwa hidup itu harus diperjuangkan dan yang terpenting ditata sedemikian rupa dengan baik oleh diri sendiri. Sedari kecil pula Tini telah mantap meyakinkan diri bahwa ia harus menjadi orang kaya. Bagaimana tidak, karier-nya telah dimulai sejak ia duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar. Menjadi pembantu rumah tangga hingga menjual sayuran pun ia lakoni demi menghasilkan pundi-pundi rupiah. Pada pagi hari sekali sebelum berangkat sekolah ia telah datang ke rumah majikannya untuk membersihkan rumah dan sepulang sekolah pun kembali lagi bekerja hingga malam hari. Waktu​ ​bermain​ ​layaknya​ ​anak​ ​seumurnya​ ​pun​ ​nyaris​ ​tak​ ​ia​ ​miliki.

Beruntung, Tini memiliki majikan yang pengertian. Setiap akhir minggu yaitu Sabtu dan Minggu menjadi hari libur. Alih-alih beristirahat, waktu tersebut ia gunakan untuk berjualan sayur dan buah. Bersama kedua sahabatnya, ia bergiliran berjualan kangkung. Nampaknya sejak kecil, strategi bisnis telah melekat dalam jiwanya. Sebelum biji nangka satu persatu. Setelah laris terjual 20 buah, ia pun menyetor ke sang juragan dan mendapatkam hasil komisi sebesar 10%. Tidak ingin rugi, Tini masih punya biji yang ia masak kembali bersama rebusan air garam dan kembali ia jajakan. Maka ia mendapatkan pendapatan yang maksimal 100% berkat pemikiran cemerlang serta kerja lebihnya. Pekerjaan tersebut konsisten ia jalani hingga menginjak bangku kelas 2 Sekolah Menengah Atas. Pengalaman-pengalaman seperti itulah yang tidak dimiliki oleh kebanyakan anak muda jaman sekarang yang justru membuatnya menjadi pribadi yang kuat untuk berjuang untuk menjemput impiannya. “Saya sangat bersyukur mendapatkan keadaan susah seperti itu. Karena membuat saya bersumpah hingga tujuh turunan hal itu jangan sampai terulang kembali​ ​maka​ ​saya​ ​harus​ ​tangguh​ ​dan​ ​gigih​ ​untuk​ ​sukses,”​ ​tandasnya.

Tini pun mengaku berprinsip realistis dan keras kepada diri sendiri, tidak seperti remaja kebanyakan dalam kamus Tini tidak ada istilah pacaran. Jika ingin serius tentu harus dengan ikatan pernikahan. “Jika ingin menikah, saya punya 11 syarat. Pertama, harus berpendidikan tentunya untuk masa depan saya dan yang lainnya tidak bisa dikatakan di sini,” ungkapnya sambil tertawa renyah. Baginya, tujuan menikah itu untuk kaya. Tidak ada lata cinta. Sebab cinta akan datang sendirinya seiring dengan berjalannya waktu, kebersamaan serta yang penting syarat-syarat yang Tini ajukan terpenuhi. Memang terdengar naif, namun seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa hidup itu harus realistis. Kala itu selepas lulus SMA, Tini bertemu seorang pria di kost tempat ia bekerja sebagai buruh cuci. Sang pria jatuh hati kepadanya dan berniat mencari istri, maka menikah lah Tini pada 1985 di usianya yang menginjak umur 18 tahun. Cinta pun bersemi setelah 2 tahun berjalan dan dikaruniailah seorang​ ​anak.

Mencari​ ​Jati​ ​Diri​ ​Sebelum​ ​Membangun​ ​Rengganis

Melanjutkan pendidikan di Politeknik Institut Pertanian Bogor (IPB), dengan menyandang gelar Diploma ia pun mencari peruntungan untuk bekerja. Pertama-tama pada tahun 1989 Tini menjadi seorang guru STM layaknya sang ayah dahulu. Namun, pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya tak berlaku padanya. Menjadi guru Kimia di STM, Tini mendapati anak-anak didiknya mendapatkan nilai yang buruk hanya berada dalam interval 3-6 saja. Kelimpungan mendapatkan hasil yang buruk, ia pun menganalisis kesalahannya. Hingga akhirnya ia menemukan jawaban bahwa kesalahan terdapat pada dirinya yaitu cara mengajar yang salah sehingga anak didik kurang mengerti ataupun faktor lain anak didik gagal fokus karena ia perempuan muda dan murid adalah lelaki semua. Pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya nyatanya tak berlaki baginya. Tak sampai setahun, sebab Tinii merasa gagal menjadi pengajar, akhirnya ia memutuskan berhenti mengikuti jejak sang orangtua untuk menjadi​ ​seorang​ ​guru.

Mulailah berkelana kembali mencari jati diri, rezekinya pun berlabuh untuk bekerja di Bank Lippo. Namun apa mau dikata, hati sang pebisnis ini merasa hal-hal yang monoton seperti bekerja kantoran itu bukan dunia-nya. Jiwanya haus tantangan dan hantaman. Maka dengan segala gengsi yang melekat pada pamor bekerja di sebuah bank, ia putuskan untuk kembali hengkang dari pekerjaannya. Munculah hasrat untuk membuka salon kecantikan. Banyak yang tidak setuju dengan keputusan yang Tini ambil dengan keluar dari bank, terlebih membuka salon. “Kamu mau jadi ​germo​?” tanya sang suami kala meminta izin ingin membuka sebuah salon. Hingga kedua orangtua Tini pun tak setuju dan menasehati jangan sampai memalukan nama keluarga. Paradigma masyarakat tentang salon adalah bisnis plus plus ​yang berhubungan dengan seks ilegal memang tak bisa dipisahkan, sebab benar adanya. Namun kali ini, Tini memiliki niat dan tujuan yang berbeda untuk merubah paradigma tersebut. Semakin pandangan dan perkataan negatif ia dapatkan, semakin ia yakin dan terpacu untuk mendirikan salon khusus wanita. “Izinkan saya kursus salon, saya ingin menunjukan bahwa yang Anda katakan sekarang akan menjadi sesuatu kelebihan buat saya. Tolong izinkan saya, saya akan merubah itu,” kata Tini mengulang jawabnya menjawab sekaligus meminta​ ​izin​ ​kepada​ ​sang​ ​suami.

Sejarah​ ​berdirinya​ ​Salon​ ​Rengganis

Kendati tak didukung, Tini tetap berjalan tegak untuk mendirikan salon kecantikan khusus wanita. Sebab ia percaya bahwa langkahnya ini tidak seperti yang orang-orang duga. Tini ingin menunjukkan dengan fakta dan bukti nyata bukan dengam perkataan. Tak tanggung-tanggung, selama 4 tahun ia menggali ilmu kecantikan dengan kursus di 7 tempat sekaligus. “Saya ingin punya keahlian yang tidak dimiliki oleh orang lain,” tandas ibu tiga anak​ ​ini.

Pada tahun 1994 akhir, berdirilah salon Rengganis pertama yang bertempat di atas garasi rumah sendiri. Saat itu peralatan yang ada hanya satu kursi, satu meja, satu ​hairdryer​, satu tempat cuci, dan tentunya satu karyawan yaitu Tini sendiri. Baginya pasang surut pasar konsumen hal biasa terlebih salonnya masih kecil. Maka ia terus bersabar dan gigih, ia tak mengeluh sebab telah mengalami yang lebih getir sejak kecil dari sekedar minggu ini tak dapat konsumen. Sejak berdiri, salon Rengganis sudah paten khusu perempuan maka laki-laki tidak diperkenankan masuk walau hanya sampai di pintu. Mendirikan salon khusus perempuan tidaklah mudah, tak jarang Tini harus berhadapan dengan laki-laki yang protes dengan sangat tertutupnya Rengganis bagi kaum pria. “Sebab semakin tertutup, semakin orang​ ​penasaran.​ ​Apa​ ​sih​ ​yang​ ​ada​ ​di​ ​dalam​ ​Rengganis?”​ ​tutur​ ​Tini.Pada tahun 2000 barulah ia mampu memindahkan Rengganis ke tempat yang lebih besar. Selama 6 tahun tersebut di samping ia membuka salon, ia membuka bisnis menjadi distributor ikan gurame. Saat itu sekita 45% pangsa pasar restoran dari kawasan Puncak Bogor hingga Cianjur dipegang oleh Tini. “Saya tidak memelihara atau membesarkan hanya menampung dari para nelayan lalu saya kumpulkan di Parung barulah didistribusikan ke seluruh resto langganan”, jelasnya. Selain itu ia pun menjajal ekspor jahe kecil ke Jepang. Awalnya kebutuhan teman yang sedang ke luar negeri, namun lama-kelamaan menjadi bisnis yang cukup menguntungkan. Bekerjasama lah Tini dengan petani untuk menanam jahe hanya dalam waktu 1 minggu saja. Namun, kedua bisnis tersebut kandas di tengah jalan. Tidak berkembang sesuai dengan yang diharapkan. Mengapa demikian? Tini berkesimpulan bahwa dalam hal berbisnis jika tidak fokus dan sang pemilik tidak terjun langsunh maka hal tersebut akibatnya. Dari ikan gurame yang tidak segar hingga jahe yang terlalu lama ditanam sehingga produk tidak dalam keadaan optimal dan pelanggan kecewa. Maka ia menegaskan diri untuk memilih satu bisnis saja, yaitu salon Rengganis. Hasil dari bisnis tersebut membuahkam outlet​ ​pertama​ ​yang​ ​berada​ ​di​ ​Jl.​ ​Bangbarung,​ ​Bogor.

Mengapa salon ini dinamakan Rengganis? Tini bercerita, sebab ia asli kelahiran Cirebon maka ia mengambil nama Rengganis yang tidak lain tidak bukan adalah dewi yang berasal dari Cirebon. Dewi Rengganis adalah putri jelita yang tangguh dan kuat membela keluarganya. Hal tersebut menjadi inspirasi dari Tini untuk mengabadikannya dalam salon khusus wanitanya ini, sebagai filosofi agar wanita itu harus cantik dan kuat. Visi dari salon Rengganis sendiri yaitu pertama, menjadikan usaha salon sebagai bisnis yang professional, terbebas dari citra negatif yang terkadang muncul di masyarakat. Tini sangat ingin sekali menumpas pemikiran negatif masyarakat tentang salon tersebut dan bersyukur tuturnya bahwa visi ini telah terlaksana. Kedua, mampu bersaing dengan salon-salon bertaraf Nasional maupun International. Ia mengaku, selalu bersaing dengan sehat dengan semua kompetitor di sekitarnya. Ketiga, secara bertahap menambah outlet/cabang dengan membangun sendiri atau lewat ​franchise sehingga bisa melayani lebih banyak pelanggan tanpa mengurangi kualitas. Saat ini cabang yang ada sebanyak 12 outlet, semuanya berada di Bogor. Mengapa demikian?

Sebab baginya, daya jangkau dan selalu memantau setiap cabang adalah hal yang utama. “Saya datangi satu-persatu. Sebab khawatir jika di luar kota tidak bisa terpantau dengan baik,” tuturnya. ​Lalu, misi dari salon Rengganis sendiri adalah salon menjadi pilihan utama bagi para wanita professional, ibu rumah tangga, mahasiswi/pelajar, remaja putri dan kaum wanita pada umumnya. “Alhamdulillah, telah menjadi salon yang mengambil pasar middle-up​. Salon pilihan para menteri, anak presiden bahkan insyaAllah ibu presiden nanti akan berkunjung,” pungkasnya dengan sumringah. Misi yang terakhir yaitu bersaing dalam kualitas,​ ​harga​ ​dan​  ​pelayanan.

Membina​ ​Sumber​ ​Daya​ ​Manusia

Seluruh sumber daya manusia di Rengganis tingkat pendidikannya tidak ada yang Sarjana, termasuk Tini yang lulus sebagai Diploma. Tini hanya mencari orang yang ingin bekerja, hanya mencari perempuan baik-baik yang punya keinginan namun tidak mempunyai kesempatan untuk bersekolah dengan baik. “Ketika SMP, SMA, dan kuliah saya itu mendapat beasiswa. Jika tidak, mungkin SMP saja tidak lulus,” tuturnya dengan getir. Karyawan yang hanya berijazah SD dan SMP itu banyak. Sebab menurutnya, tingkat pendidikan dan kesetiaan memiliki korelasi yang kuat. Semakin rendah pendidikannya, maka tingkat kesetiannya semakin tinggi. Maka semakin tinggi pendidikannya, kesetiaan sudah tak dimiliki lagi dalam hal pekerjaan. “Dari 12 manajer cabang, ada 4 dengan ijazah SD. Anak saya yang dokter serta menantu saya yang paspamres, gajinya kalah dengan dia,” ucapnya. Selama masih ada kemauan untuk belajar dan sesuai dengan kemauan Tini, maka akan mendapatkan apa yang diinginkan melalui Rengganis ini. Bagi Tini, ijazah hanya selembar kertas bukti bahwa seseorang pernah belajar, namun selama masa hidup pun tentunya terus belajar.​ ​Maka​ ​itu​ ​bukanlah​ ​perkara​ ​penting​ ​baginya.

Namun bukan berarti bisa sembarangan masuk sebagai pegawai di Rengganis, hanya menerima karyawan yang lulus tes dari sekian banyak persyaratan-persyaratan yang ada. Tini beserta manajer training telah mempunyai 22 catatan kriteria kandidat yang tidak boleh diterima. Setelah itu karyawan baru yang lolos, langsung Tini yang men-​training di hari pertama. Tini mempunyai keinginan untuk merubah karyawan menjadi tiga macam. Pertama, menjadi cantik. Karena cantik adalah kebanggaan, kebahagiaan dan menumbuhkan rasa percaya diri. Cantik itu terbagi menjadi dua, dari luar yaitu wajah dan yang terpenting ​inner beauty. ​Kedua, memiliki keahlian. Sebab percuma cantik, jika tidak ada kemampuan, uang bahkan tidak tahu apa yang ingin dikerjakan. Terakhir, membuat hidup menjadi berkualitas. Rutinitas pagi hari dalam setiap kegiatan Rengganis selalu diawali dengan berdoa. Setiap dua minggu sekali mengadakan yasinan. Menyanyikan mars Semangat Rengganis agar tetap terpacu mencapai tujuan. “Semua terasa jadi lebih beretika. Karena saya pun kebetulan menjadi guru etika dan pengembangan kepribadian di beberapa perusahaan seperti Telkom dan​ ​Bank​ ​Mega,”​ ​jelasnya.

Terutama men-training sikap dan mental, selama tiga bulan. “Modal kerja di Rengganis itu hanya semangat,” ucap Tini. Banyak pula yang gugur karena tidak tahan dengan cara Tini mengajar yang keras dan tegas. “Saya banyak sekali lihat di luar sana wanita cantik tapi tak beretika maupun tak tahu apa apa tujuan yang ingin dikerjakannya,” katanya dengan nada getir. Setelah tiga bulan kemudian yang lulus barulah boleh turun melayani tamu pelanggan dan yang tidak lulus dipulangkan. Banyak yang tumbang dalam menjalani training, terutama pada mentalnya yang tidak kuat. Tini menjelaskan bahwa sebenarnya jika seseorang tahu apa obat semangatnya, maka semuanya dapat teratasi. Pelajari terlebih dahulu yang menyebabkan tidak semangat itu apa, lalu cari solusi terbaik dan yang paling tahu diri sendiri. “Saya bukan tidak punya masalah, ada namun saya sudah tahu obatnya. Di depan karyawan selalu semangat dan datang dengan tersenyum untuk menularkan suasana positif,” ungkapnya. Tini pun mengajarkan kepada para manajer-manajer cabang bahwa menjadi pemimpin itu adalah seni​ ​memengaruhi,​ ​harus​ ​menjadi​ ​panutan.

Kedekatan yang profesional adalah salah satu kunci keharmonisan pemimpin dengan para pegawainya. Tini menjabarkan bahwa karyawan itu hanya ingin empat hal yang dipahami. Pertama, pahamilah perasaannya. Dengan berbincang-bincang dan sekadar bertanya perasaannya hari ini dapat membuat karyawan merasa diperhatikan dan menjadi lebih baik. Kedua, pahami rasa lelahnya. Ia tahu betul batasan kekuatan para karyawannya. “Karyawan cabang itu batas kekuatannya dalam melayani lulur 2 kali dan ​creambath ​1 kali. Jangan dipaksakan lebih. Mungkin sekarang kuat, namun besoknya pasti ambruk,” jelasnya. Tebarkanlah empati dengan menempatkan pemikiran jika menjadi seperti karyawan, memberikan perhatian yang lebih. Ketiga, pahamilah laparnya. Karena di salon waktu bekerja fleksibel sesuai kedatangan konsumen, maka tak jarang waktu makan siang terlewat oleh karyawan yang sedang bekerja. Sebagai pimpinan, berilah ia sekadar makanan kecil untuk mengganjal perut. Terakhir, pahamilah rasa sakitnya. Bahwa karyawan pun manusia juga yang​ ​sewaktu-waktu​ ​dapat​ ​sakit.

Rengganis pun mempunyai tim audit pekerjaan dari kantor pusat yang ditempatkan di masing-masing cabang. Jika kedapatan pelayanan yang jelek atau mendapat ​complain​, keesokan harinya langsung diberhentikan untuk melayani tamu serta harus mengikuti training ulang. Bukan main-main untuk dapat melayani pelanggan, sertifikat training sendiri pun harus ditandangani oleh Tini dan manajer training. Maka karyawan rugi, tidak mendapat kesempatan lebih banyak komisi yang didapat dari melayani pelanggan. Usaha jasa salon sangat sensitif perihal pelayanan, terlebih setelah ada ​social media yang benar-benar tajam dalam​ ​penyebaran​ ​berita​ ​baik​ ​maupun​ ​buruk.

Dalam menghadapi kompetitor, Tini mengaku menganut ​Blue Ocean Strategy​. Diumpamakan oleh Tini, strategi ini seperti kapal besar yang yang berlayar di samudra biru tanpa terpengaruh gelombang karena kekuatannya dan keunikannya. Strategi samudra biru berfokus pada menumbuhkan permintaan dan menjauh dari kompetisi dengan menciptakan suatu nilai dan keunikan yang tidak sembarang unik, namun juga merupakan pangsa pasar menguntungkan. Oleh karena itu, ia tidak pernah menganggap bahwa salon lain adalah ancaman namun vitamin untuk memperbaiki diri dari kekurangan. Ia yakin pasti masing-masing memiliki pasarnya sendiri. Memang dalam hal harga Rengganis menawarkan harga yang lebih mahal, namun setara dengan pelayanan dan kualitas yang akan didapatkan. Tini selalu memastikan mempertahankan itu. Hingga anak dari salah satu tokoh proklamator Meutia Hatta pun berbicara, “Salon kamu tuh unik.” Mungkin sampai saat ini belum ada yang menyamakan. Suasana ​homie dengan wangi yang konsisten sama, bunga segar selalu hadir, sapaan​ ​hangat​ ​kepada​ ​konsumen​ ​kala​ ​baru​ ​datang​ ​hingga​ ​akan​ ​pulang.

Obsesi seorang nakhoda pelopor salon khusus wanita di Bogor ini mungkin terdengar cukup teoritis. Pertama, ingin ketiga anaknya menjadi dokter. Akhirnya terwujud, kedua anaknya sudah menjadi dokter hanya tinggal si bungsu menyelesaikan pendidikan dokternya. Semua bermuara pada keinginan Tini dahulu kala yang bercita-cita menjadi seorang dokter, namun hanya menjadi angan-angan belaka. “Jika kalian sayang Ibu, tiga-tiganya kuliah kedokteran, setelah lulus terserah kalian mau jadi apa. Yang penting gelar dokter itu persembahan untuk saya,” ungkap Tini. Namun tak bisa dipungkiri lagi bahwa darah pebisnis memang mengalir deras kepada anak-anaknya. Selepas lulus, keduanya memilih untuk berdagang dibanding bergelut dengan jarum suntik. Ia pun mengaku hal tersebut dan juga didukung oleh faktor lingkungan yang membuktikan lebih berpotensi menjadi pebisnis ketimbang seorang dokter. Selain itu, obsesi lainnya yaitu berkeinginan memberdayakan perempuan-perempuan di Rengganis yang tak berdaya dan tak berpendidikan bisa menjadi cantik, kuat, dan bisa melakukan sesuatu untuk masa depannya. “Jika saya ini hebat, saya ingin melakukan lebih untuk memberdayakan wanita-wanita yang bernasib malang. Namun apa daya, saya hanyalah pemilik Rengganis yang hanya punya sekian ratus karyawan. Tidak seperti orang hebat lainnya,” ucapnya. Target Tini dalam pengembangan cabang dengan rentan waktu satu tahun harus menelurkan satu outlet, telah ia putuskan untuk mencukupkan pemerataan di Bogor dan mulai menapaki kota-kota besar lainnya. Perihal ​franchise juga telah direncanakan yang rupanya disarankan oleh konsultan keuangan untuk membuka jalan baru bagi pendapatan. “Karena pada dasarnya saya itu tidak bisa apa-apa, hanya pedagang murni yang harus dibarengi​ ​dengan​ ​orang-orang​ ​profesional,”​ ​sanggah​ ​Tini.

 

Untuk​ ​Generasi​ ​Muda

Tidak ada sukses yang turun dari langit, sukses itu harus diperjuangkan oleh cucuran air mata dan keringat. Tidak ada kekayaan yang dipersembahkan, tidak ada jabatan yang dipersembahkan. Semua harus betul-betul diperjuangkan. Dengan usaha dan perjuanganlah yang diinginkan akan tercapai. Jika masih merasa malas, maka kalian masih berada di dunia mimpi. Hiduplah secara nyata, realistis. Tidak ada kesuksesan yang didapat secara instant. Semakin ke depan semua bidang usaha akan terus berkembang tentunya diiringi kesulitan yang semakin bertambah. “Kesulitan tersebutlah yang harus dihadapi bersama,” tutur Tini menutup​ ​pembicaraan.​(mutiararizky)