Category: Pendidik

DADAN SUPRIATNO, S.ST

No Comments

DADAN SUPRIATNO, S.ST
SMKN 1 Bojonggede

 

 

Keberhasilan Merupakan Buah Kerjasama Semua Pihak

Bila mendengar kata SMK pasti asumsinya adalah sekolah yang dulunya bernama STM, tapi menilik SMKN 1 Bojonggede bila dilihat dari bidang keahlian yang ada maka sepertinya unik. Di sana terdapat 5 bidang keahlian yaitu Mulitimedia, Jasaboga, Akomodasi Perhotelan dan Akuntansi. Dua bidang keahlian bisa digolongkan pada sekolah SMK Pariwisata, yakni Akomodasi Wisata, Perhotelan dan Jasaboga. Untuk bidang keahlian Akuntansi pada masa dulu merupakan bagian dari jurusan Sekolah Menengah Ekonomi tingkat Atas atau yang dikenal dengan SMEA, dan Multimedia yang pada umumnya ada di sekolah menengah kejuruan teknik atau STM. Inilah keunikan yang ada di SMKN 1 Bojonggede, Kabupaten Bogor.

SMKN 1 Bojonggede merupakan sekolah kejuruan negeri di Kabupaten Bogor yang kebetulan sejak Januari 2017 pengelolaannya diserahkan ke Provinsi Jawa Barat. Di sini ada 5 paket keahlian; perhotelan, jasaboga (kuliner), usaha perjalanan wisata, ini kelompok pariwisata, sedang di kelompok bisnis manajemen, ada akutansi, di teknologi ada multimedia. Saat ini siswa dari 5 jurusan ada 1.048 siswa, dipimpin oleh Dadan Supriatno,  S.ST., selaku Kepala Sekolah (Kasek), dibantu oleh 5 Wakil Kasek, yaitu Bidang Kurikulum; Dede Cahyana, M.Pd., Bidang Hubungan Industri; Andi Suhandi, S.Pd., Bidang Sarana Prasarana; Sukamto, S.Pd., Bidang Kesiswaan; Wawan Budiarto, M.Si., ditambah lagi satu Wakil Kasek yang memang dibutuhkan di Bidang Bina Program dan Pengembangan Mutu Sekolah yakni Siti Chodijah Dewi Untari, M.Pd.  Menurut Dadan (begitu kita sapa), jika bicara prestasi sekolah, setelah dirinya diangat menjadi Kepsek ada perkembangan bagus dari nilai kelulusan siswa dibanding tahun sebelumnya, yaitu di tahun 2016 sekolah ini mendapat predikat IPK tertinggi untuk UNBK se-Kabupaten Bogor untuk jenjang SLTA. Sementara untuk prestasi ditingkat nasional, SMKN 1 Bojonggede merupakan sekolah di Kabupaten Bogor yang menjadi sekolah rujukan. Kemudian karena prestasinya selaku Kasek Dadan mendapat kepercayaan dari Pemerintah Pusat untuk masuk dalam kemitraan Kasek, yang tugasnya berbagi ilmu (sharing) dengan Kasek-Kasek yang sekolahnya masuk kategori 3 T (terdepan, terpencil, terbelakang).

Tugas tersebut telah dimulai sejak tahun 2015 dimana saat itu Dadan berbagi ilmu dengan salah seorang Kasek di Sumatera Barat, bertugas selama 10 hari di sana, tepatnya di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat. Lalu tahun 2017 ia mendapat tugas membina salah satu sekolah swasta di daerah Rangkasbitung, Provinsi Banten. Menurutnya, kepercayaan tersebut karena pemerintah melihat SMKN 1 Bojonggede dinilai sudah berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, sudah ada perubahan, sehingga ia diminta membina sekolah yang ada di 3 T.Untuk prestasi siswa, banyak prestasi yang telah diraih oleh siswa-siswinya, baik dari bidang olahraga, kesiswaan, sampai yang berbaris produksi, seperti lomba memasak tingkat Jabodetabek, dimana sekolah ini meraih predikat juara dua. Termasuk juga meraih juara 2 lomba Paskibra se-pulau Jawa. Selain itu, untuk bidang kuliner dan servis  SMK ini selalu ditunjuk mewakili Kaupaten Bogor ikut lomba kompetensi siswa. Bahkan tahun emarin kita menyelenggara lomba LKBB tingkat Jabodetabek, pesertanya ada yang dari Lampung.

Rencana ke depan

Sebagai institusi yang mendapat amanah menjadi sekolah rujukan Dadan menjabarkan untuk ke depannya pihak sekolah akan melakukan, pertama, LSP 1 di sekolah, kedua, harus ada 5 jurusan (telah terwujud), melaksanakan pricing factory, kemudian pengembangan sekolah. Selain itu, melakukan kerjasama dengan perusahaan, dan lembaga di luar negeri, misal, dengan institusi di Malaysia, MoU dengan Imperia Resort, yang mana dalam waktu dekat pihak sekolah akan mengirim 8 siswa ke sana. Istilahnya, bekerja sambil kuliah.

Di samping itu juga kerjasama dengan hotel-hotel berbintang di tanah air. Lebih jauh diterangkan oleh Dadan, pemerintah Kabupaten Bogor, melalui SK Bupati telah menunjuk SMKN 1 Bojonggedem menjadi Pusat Penyelenggara Kegiatan Pendidikan Kejuruan untuk bidang pariwisata, juga sebagai pusat kegiatan pelatihan untuk jenjang SLT atau umum.  Menurut Dadan, semua pihak, mulai dari Pemerintah Pusat, Pemprov hingga Pamkab/Kota, termasuk warga sekolah, berkeinginan, pertama, lulusan SMK bisa terakomodir saat mau bekerja atau terakomodir di perguruan tinggi pada saat mau melanjutkan kuliah. Selain itu, mereka mempunyai kompetensi jika mereka ingin wirausaha. Baginya, untuk SMK bisa dikatakan sukses kalau yang 3 itu (bisa bekerja, melanjutkan kuliah, wirausaha) tercapai. Jadi, bukan hanya lulus 100 persen. Jaman sekarang lulus sekolah itu bisa dikatakan mudah, karena yang meluluskan sekolahnya sendiri bukan pemerintah. Tapi yang sulit itu bagaimana para lulusan terakomodir di perusahaan, baik di dalam atau luar negeri, bisa melanjutan kuliah sesuai ilmu yang mereka geluti, atau bisa juga mandiri asalkan mereka punya kemampuan ilmu maupun modal. “Alhamdulillah, secara bertahap, tahun kemarin (2016) kita berhasil meloloskan satu anak bekerja di Jepang untuk jasa boga. Sebenarnya ada 3 tapi yang dua ada kendala. Seleksinya ketat pakai instrument Jepang. Mudah-mudahan berikutnya bertambah,’ ungkap Dadan.

Membina SDM

Keberhasilan institusi sekolah bukan semata prestasi Kasek saja, karena ini sebuah sistem dimana satu sama lain saling berhubungan. Jadi, au Dadan,  keberhasilan SMKN 1 Bojonggede merupakan buah dari kerjasama semua pihak, baik dari guru, wali kelas, wakasek, dan sebagainya termasuk di dalamnya tenaga kependidikan yang dalam hal ini staf, sekuriti, karyawan TU. Sebagai Kasek tugasnya banyak, antara lain, sebagai pembina, sebagai leader, sebagai motivator, dan itu dilakukannya sesuai kondisi-situasi. Walau tak selalu formal tapi Dadan selalu bersikap ke arah sana (membina dan memotivasi). Demikian caranya dalam membina SDM-nya. Lain daripada itu, terus melakukan inovasi, mengajak semua karyawan untuk selalu berubah seiring perkembangan jaman. Di samping itu, agar sekolahnya tetap unggul dan tetap mendapat kepercayaan masyarakat pihaknya tentu harus tetap konsekuen dengan visi dan misi sekolah. Selalu berinovasi untuk kemajuan sekolah.

Inovasi-inovasi yang dilakukan untuk kemajuan sekolah antara lain akan mengadakan expo yang terkait, pertama, sistem informasi menajemen sekolah. Walau masih banyak resistensi karena satu dan lain hal, sekolah mencoba memberlakukan finger-print online, sehingga secara teknis orangtua siswa bisa melihat anaknya apakah masuk sekolah atau tidak melalui aplikasi. Kedua,  dalam mengembangkan kreatifitas, mulai Januari 2018 sekolah mempunyai tv-streaming dengan Nesabo TV-streaming. Nantinya jika ada kagiatan di hotel akan di-shooting oleh siswa multimedia, kemudian diviralkan melalui tv-streaming. Juga semua kegiatan di sekolah akan di-upload dan disiarkan.

Sekolah juga akan melakukan priecing factory, yang tujuannya untuk pembentukan karakter siswa. Setiap bidang keahlian diwakili beberapa anak. Program ini bekerjasama dengan Bank Jabar dan mewajibkan setiap anak menabung. Siswa akuntansi diberi tugas mencatat dan seminggu sekali Bank Jabar datang ke sekolah mengambil setoran tabungan siswa.  Saat ini perkembangannya cukup bagus,  siswa sudah mau menabung, memiliki buku tabungan dan atm sendiri. Rencana lainnya membuat kartu siswa berlogo Bank Jabar, dimana atm merangkap kartu siswa. Iuran sekolah juga disetor langsung ke rekening bank. Selain itu, orangtua siswa bisa melihat info-info sekolah melalui aplikasi yang diberi nama SimBa. “Kita juga peduli lingkungan dan kita sudah lama (sejak 2014) sistem evaluasi kita memakai computer base training, jadi kita tak memakai kertas. Sehingga dapat kepercayaan Pemkab Bogor mengadakan UNBK SMA, Paket, Paket B, termasuk uji kompetensi guru yang wilayah di sini,” tutur Dadan. Disinggung soal persaingan, Dadan mengatakan itu hal wajar, itu dinamika hidup. Tapi jangan membuat kita diam, stagnan. Adanya kompetitor harusnya membuat kita dinamis. Sekolah itu, jelasnya, sebetulnya pergaulan yang direncanakan, teorganisasi. Jadi, agar tetap mendapat kepercayaan dari masyarakat kita komitmen dengan apa yang direncanakan. Menurutnya, masyarakat sekarang sudah pinter, kalau janji-janji tak buktinya itu bahaya, dan yang paling sulit itu mempertanggjawabkan kepercayaan masyarakat terhadap kita.

Terhadap masyarakat Dadan berkomentar, memilih sekolah itu tak gampang. Masyarakat, meski tak semua, kadang terbuai oleh janji-janji melalui poster, spanduk, banner. Sebagai salah seorang garda pelaksana pendidikan di SMK Dadan mengingatkan masyarakat hendaknya cerdik dalam memilih, mengikuti perkembangan informasi, baik dari pemerintah atau dari yang lain, dicermati dulu dengan baik. Dadan menganalogikan, misal kalau mau jualan kita harus inovasi, jangan diam, ikuti perkembangan, lakukan perubahan, walaupun perubahan itu sedikit tapi itu juga sudah perubahan. Menurut para ahli, tekan Dadan, orang Indonesia itu “masih banyak yang tak mau berubah”, tak mau mengikuti perubahan. Enjoy dengan yang sudah ada.

Menutup pembicaraan Dadan mengingatkan UU pendidikan mengamanatkan bahwa. keberhasilan pendidikan bukan semata tanggungjawab sekolah. Dalam UU diatur pendidikan itu tanggungjawab bersama, antara pemerintah, dalam hal ini institusi sekolah sebagai bagian dari pemerintah, dan masyarakat. SMK itu ada kaitan dengan dunia industry, dan dikuatkan dengan Inpres. Ini bisa berhasil bila semua memiliki komitmen;  sekolah, orangtua siswa, masyarakat, dunia kerja. Apalagi di abad MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) ini, ada lebih kurang 108 sektor jasa. Kalau tidak disikapi dengan baik, nanti yang menguasai pasar kerja bisa orang Thailand, Vietnam. Masyarakat Indonesia sepertinya belum siap. Padahal, menurut Dadan, dunia pendidikan sudah siap dan sudah mencoba. Contohnya, dengan memakai digital, komputerisasi dalam pelajaran, ujian. Juga secara bertahap mencoba mengikuti teknologi, meskipun masih ada kesenjangan antara teknologi yang ada di sekolah dan yang di luar sekolah.

Sekilas tentang Dadan

Pria ini dilahirkan di Cianjur, Jawa Barat, 4 Juni 1964. Pendidikannya dari SD-SMP diselesaikan di Cianjur. Kemudian SLTA di Bandung, sekolah di STM, tahun 1983, lalu melanjutkan kuliah ke IKIP Bandung (sekarang UPI), dan ke Politeknik TDC Bandung. Pertama bekerja sebagai PNS ditempatkan di Provinsi Banten, tahun 1995. Kemudian pindah ke Kota Bogor tahun 1999, mengabdikan diri di Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor. Tahun 2012 ikut seleksi Kasek dan lulus 2 tahun kemudian, tepatnya tanggal 14 September 2014, lalu diberi amanah memimpin SMKN 1 Bojonggede.

Menurut Dadan, kerja itu syaratnya harus fokus. Misalkan menjadi guru tapi tak fokus dan hanya sebatas menggugurkan kewajiban tentu tak akan punya dinamika. Tapi kalau fokus atau mencintai pekerjaan, walaupun menurut orang lain susah, tetap akan nikmat. “Saya ini sudah di atas 20 tahun kecimpung di dunia pendidikan, dulu menjadi guru saya nikmati profesi guru, sehingga bisa memotivasi diri dan Alhamdulillah kemudian bisa menjadi editor buku di salah satu percetakan,” ungapnya.  Selain sebagai pendidik pria ini juga aktif dalam organisasi seperti menjadi Ketua MGMP, ketrampilan otomotif Prov Jawa Barat (1997). Lalu tahun berikutnya karena mukim di Bogor, didaulat menjadi Ketua MGMP Otomotif Kabupaten Bogor. Baginya, manusia hidup itu jangan melanggar ketentuan hukum positif dan juga hukum Allah. Intinya, bekerjalah dengan fokus dan jangan sekali-kali melakukan tindakan yang melanggar hukum, karena syarat menjadi sukses itu mempunyai komitmen dan jujur. [] (baguspram)

 

 

 

Hj. Ade Jubaedah, S.SiT, M.Kes, MKM

No Comments

BIODATA PENULIS

Hj. Ade Jubaedah, S.SiT, M.Kes, MKM

  1. Data Pribadi

Nama Lengkap              : Hj. Ade Jubaedah, S.SiT, M.Kes, MKM

Tempat, Tanggal Lahir  : Bogor, 17 Juni 1966

Jenis Kelamin                : Perempuan

Status                            : Menikah

Agama                           : Islam

Kewarganegaraan         : Indonesia

Alamat Rumah              : Jln. KH Soleh Iskandar No. 43, Kel. Kayumanis, Kec. Tanah Sareal, Kota Bogor.

Nomor HP                     : 082114149405

  1. Pendidikan
Jenjang Jurusan Universitas Tahun
D3 Kebidanan Poltekes Bandung Prodi, Bogor 2006
S-1 DIV Kebidanan STIKES Ngudi Waluyo, Semarang 2006
S-2 S2 Kesehatan IMNI, Jakarta 2008
S-3 S2 Kespro UMJ, Jakarta 2012
S3 Agama & Kesehatan UIN Syarifhidayatulloh, Jakarta 2017

 

  1. Pelatihan
No. Judul Pelatihan Penyelenggara Tahun
1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

Pelatihan MTBS

Pelatihan Fasilitator MTBS

Pelatihan PPGDON

Pelatihan Manajemen Asfiksia

Pelatihan APN

Pelatihan BBLR

Pelatihan SDIDTK

Pelatihan CTU Update

Pelatihan Manajemen Laktasi

Pelatihan Teknis KAUPT Puskesmas

Pelatihan CTS u/ Clinical Instruktur

Pelatihan Assesor Uji Kompetensi Bagi Bidan

Pelatihan Pekerti Bagi Dosen Pemula

Pelatihan AA Pekerti Bagi Dosen Lanjutan

Dinkes Kab Bogor

Dinkes Kab Bogor

Dinkes Kab Bogor

Dinkes Kab Bogor

Dinkes Kab Bogor

Dinkes Kab Bogor

Dinkes Kab Bogor

Dinkes Kab Bogor

Dinkes Kab Bogor

BLKM Ciloto

Dinkes Kab Bogor

Dinkes Kab Bogor

KOPERTIS IV Jabar

KOPERTIS IV Jabar

2008

2008

2008

2006

2010

2008

2010

2010

2008

2010

2010

2010

2010

2011

 

 

 

  1. Pengalaman
  2. Jabatan
No. Jenis Pengalaman Tahun
1

2

3

4

Ketua IBI Ranting Wilayah Kab Bogor

Ketua IBI Cabang Kab Bogor

Pudir III Akbid Pelita Ilmu

Direktur Akbid Pelita Ilmu

2003/2008

2008/sekarang

2006/2008

2008/2017

 2.Non Jabatan

No. Jenis Pengalaman Tahun
1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Dosen tidak tetap Akbid Prima Husada Bogor

Dosen tidak tetap Akbid Wijaya Husada Bogor

Dosen tidak tetap Akbid Bogor Husada

Dosen tidak tetap STIKES Banten

Dosen tidak tetap Akbid Al-Ikhlas

Dosen tetap Akbid Pelita Ilmu

Dosen tidak tetap Akbid Bakti Bangsa Bekasi

Dosen tidak tetap D-IV STIKES BPI

Dosen tidak tetap D-IV UNAS

Dosen tidak tetap D-IV STIKES Batam Karimun

2006/sekarang

2006/sekarang

2006/sekarang

2006/sekarang

2006/sekarang

2006/sekarang

2010/sekarang

2010/sekarang

2010/sekarang

2010/2011

DRS.SUDARFIANA, M.M

No Comments

SMK 1 Majene

1 foto-smkn1-majene 03add9f

Ingin Selalu dan Selalu memberi Manfaat Untuk Masyarakat

 

Sudarjiana -demikian tokoh kita kali ini- dilahirkan di Sleman, Yogya, tanggal 22 Maret 1962. Dari pasangan Dalijo Hadi Sumarto dan Siti Marsih. Ia merupakan anak sulung dari 4 bersaudara, memiliki satu adik satu perempuan, dan dua adik laki-laki. Walau orangtuanya bukanlah orang berada tapi ayah-ibunya tetap memperhatikan pendidikan anaka-anaknya. Sejak usia 4 tahun Sudarjiana sudah disekolahkan. di TK Bhakti PKBI, sekolah TK yang tak jauh dari rumah tinggalnya di desa Sedayu Triharjo, Sleman, Yogyakarta.

 

2 tahun lulus TK ia langsung masuk SD Sleman 2. Lulus SD masuk SMPN 1 Sleman. Selesai SMP, karena orangtuanya termasuk keluarga “pas-pasan”, Sudarjiana diijinkan boleh melanjutkan sekolah lagi tapi yang setelah lulus nanti bisa cepat kerja. Maka, ia pun memilih meneruskan sekolah ke STM. Ia lalu masuk STM Negeri 1 Yogya atau STM Jetis dan memilih jurusan kelistrikan. Karena saat itu ada perubahan tahun ajaran sekolah, dari semula dimulai bulan Januari lalu menjadi bulan Juli, maka studinya di STM ditempuh dalam kurun 3,5 tahun. “Saya lulus STM tahun 1981,” terangnya. Lalu, kenapa ia memilih jurusan listrik? Menurutnya, setiap pembangunan rumah pasti akan ada instalasi listrik, maka orang yang memahami perlistrikan tidak akan kekurangan pekerjaan.

 

Dikisahkan Sudarjiana, sewaktu di STM, ia terdorong ingin belajar bahasa Inggris, karena waktu itu guru bahasa Inggrisnya galak. Kalau siswa tidak bisa akan dipukul lengannya dengan penggaris. Tapi, baginya, pukulan itu merupakan pukulan mendidik. Itu yang memotivasi dirnya. Walhasil, ia pun ikut kursus bahasa Inggris, karena sewaktu semester satu bahasa Inggrisnya nilanya 6. Tapi, setelah mengikuti kursus nilai bahasa Inggrisnya meningkat. Semester 2 mendapat nilai 7. Lanjut lagi di kelas 2 semester tiga nilainya 8. lalu di semester empat nilai bahasa Inggrisnya 9. Akhirnya guru bahasa Inggrisnya ngomong pada Sudarjiana bahwa ia tidak akan dikasih nilai 10, alasannya masak orang Indonesia nilai bahasa Inggrisnya 10. Sudarjiana hanya tersenyum mendengar perkataan itu dan baginya tak apa-apa.

 

Memilih Menjadi Guru

Tak semua rencana berwujud jadi kenyataan, begitulah yang kemudian terjadi pada perjalanan hidup Sudarjiana. Sedari awal masuk STM ia ingin menekuni bidang kelistrikan tapi tak dinyana ketika beersekolah di STM, Sudarjiana malah bercita-cita menjadi guru,  karena ia menganggap guru itu pekerjaan yang baik. Alhasil, setelah lulus STM Sudarjiana memilih masuk Fakultas Teknik di Yogya yang linier dengan jurusannya di STM namun Fakultas itu juga mempunyai program mencetak sarjana guru-guru yang kompetitif, kompeten dan profesional.

 

“Yang saya masuki itu proyeknya Bank Dunia, jadi lulus jadi guru ditempatkan dimana saja, ikatan dinas. Akhirnya daftar ke situ. Alhamdulillah lolos, satu kelas hanya 17 orang, padahal yang daftar 3.000 orang. Jadi kalau saya rata-rata kira-kira perbandingannya 1:50 orang. Di antara yang 17 orang itu saya ranking yang ke 5,” papar suami dari Dra. Andi Rachma ini.

 

Saat masih kuliah ia pun aktif di keorganisasian. Waktu itu ia ditunjuk sebagai Ketua Pemuda di desanya, desa Trihardjo, Sleman. Diceritakannya, jaman-jaman itu kan ada yang namanya LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarkat Desa). Ada Pokja Pembangunan, Pokja Pemuda, dan dirinya terlibat di Pokja Pemuda.   Selama 4 tahun ia berkecimpung di situ. Setelah selesai kuliah ia  merantau ke Medan, mengajar di salah satu STM di Medan. Hampir setahun di Medan ia disuruh kembali ke Yogya karena ada SK penempatan guru yang ingin dibagikan. “Saya lalu mendapat SK penempatan di STM Negeri Pare-Pare, Sulawesi Selatan,” tuturnya.

tata-busana-604x270 tata-kecantikan-kulit-604x270

 

Berikutnya, ia pun merantau dan mengajar di Pare-Pare. Sudarjiana mengajar di jurusan listrik. Menjadi guru pengajar sekitar 1,5 tahun, karena satu tahun berikutnya, ia menjadi pengajar sekaligus dikasih tugas menjadi wali kelas. Jadi yang setengah tahun ia mengajar dan menjadi wali kelas. Setelah itu dipercaya menjadi Ketua Jurusan. “Padahal guru-guru yang senior di atas saya banyak tapi Alhamdulillah saya yang diamanahkan untuk tugas itu,” kenangnya. Selanjutnya, memasuki tahun ke-5 dirinya mengabdi di Pare-Pare, Sudarjiana di minta pimpinan sekolahnya mengikuti tes untuk belajar ke Australia dalam program Indonesia-Australia Technical Project, program kerjasama antara negara Indonesia dan Australia.

 

Sudarjiana ikut seleksi dengan peserta 42 orang dan yang diambil hanya 2 orang. Alhamdulillah, dirinya lolos dan berangkat ke Australia. 6 bulan ia di sana mengikuti program Master Teacher Graduate Certificate. Setelah itu kembali ke Pare-Pare. Namun, selama di Australia ia merintis kerjasama dengan pihak Australia, meminta ilmu yang ada di Australia ditransfer ke Indonesia, khususnya ke Pare-Pare.

 

“Sewaktu saya di Australia saya belajar program BLC, tapi saya bingung, kalau saya kembali ke Indonesia bisa ndak program ini diterapkan karena kita ndak ada peralatannya. Akhirnya, setelah mengajak kerjasama, pihak Australia setuju, peralatan BLC pun dihibahkan dikirim ke Indonesia. Setelah itu saya ngomong lagi lalu siapa yang mengajar, karena saya sendiri belum lancar. Akhirnya salah satu dosen di Australia datang ke Indonesia. Lalu karena teman-teman belum menguasai bahasa Inggris, pihak Australia pun mau menterjemahkan panduannya ke dalam bahasa Indonesia. Penterjemahnya langsung didatangkan dari Australia, dosennya pun mau mengajar untuk kita,” terangnya panjang lebar.

 

Waktu terus bergerak, kesibukannya sebagai guru pun berjalan seperti biasa sampai akhirnya beberapa waktu berikut ia dipanggil Kepala Sekolahnya dan ditawarkan ikut seleksi menjadi Kepala Sekolah. Semula ia ragu menerima tugas itu, karena ia merasa “masih kecil”, masih junior masak mau menjadi kepala sekolah.

 

Tapi, setelah ditimbang dan difikir, akhirnya ia memutuskan mengikuti seleksi tersebut. Ia lalu mendaftar menjadi Kepala Sekolah di Provinsi Sulawesi Selatan. Yang mendaftar ada 114 orang lolos seleksi pertama. Seleksi kedua yang lolos tinggal 68 orang. Seleksi ketiga tinggal 8 orang. Seleksi keempat tinggal 7 orang. Dan, akhirnya ia pun lulus seleksi dan ikut Diklat Kepala Sekolah di Bandung untuk kemudian pada tanggal 2 November 1996 dirinya ditempatkan di SMK 1 Majene.

 

Untuk memantau kinerja seorang Kepala Sekolah ada yang namanya monitoring dan evaluasi dari Direktorat Pendidikan Menengah dan Kejuruan, Kementerian Pendidikan. Itu untuk memantau sejauh mana keberhasilan suatu sekolah. Evaluasi itu untuk Kepala Sekolah dan juga sekolahannya. Dikisahkan Sudarjiana, sewaktu ia pertama masuk SMK 1, sekolah itu dapat predikat C, dan setelah 2 tahun ia memimpin sekolah mendapat predikat B. Untuk jabatan Kepala Sekolah, pertama ia masuk mendapat nilai Cukup, dan dua tahun di situ ia mendapat nilai Amat Baik dan mendapat penghargaan dari Direktur Direktorat Pendidikan Meneganh dan Kejuruan. “Nyaris mendapat Kepala Sekolah Istimewa, nilainya kurang sedikit. Istimewa itu penghargaan yang tertinggi,” ujarnya.

 

Delapan tahun memimpin SMK 1 Majene, Sudarjiana “melebarkan” kiprahnya dengan membangun sekolah lain yaitu mendirikan SMK Kelautan Majene (sekarang menjadi SMK 3 Majene). “Saya sempat menjadi Kepala Sekolah di SMK Kelautan itu, jadi menjabat di dua sekolah, karena memang embrionya dari SMK 1 dan saat itu masih masa transisi,” jelasnya. SMK Kelautan resmi dibuka tahun 2005. Di SMK itu Sudarjiana memimpin dalam kurun waktu selama 7 tahun. Semua dimulai dari nol, karena tak ada listrik, tak ada air, alat komunikasi sulit. Jadi, dirinya di sekolah itu termasuk perintis.

 

Selama 7 tahun kepemimpinannya SMK Kelautan terus melakukan berbagai kegiatan. Prinsipnya, meski SMK dari daerah tapi pihaknya berusaha muncul di tingkat nasional. Seperti sewaktu ada Seminar Kelautan Internasional di Bali pihaknya pun ikut. Lalu,  apa yang didapat di seminar itu dikembangkan di sekolah. Karena pihaknya ingin terus eksis dalam pengembangan pendidikan akhirnya pihak sekolah pun melibatkan Bapak Bupati Majene, saat itu dijabat oleh  H. Muhamad Harfis

 

“Kami bilang kami mau MoU dengan Lembaga Kelautan di Jakarta, apa Bapak Bupati bersedia. Beliau bersedia dan akhirnya kami mengajak Beliau ke Jakarta untuk tandatangan MoU dengan Pusat Riset Teknologi Kelautan, Jakarta,” ungkapnya. Dari situlah kerjasama dimulai. Setiap ada event tentang kelautan, pihak sekolah selalu diberi informasi. Selain itu, pihaknya juga bekerjasama dengan berbagai pihak, seperti dengan LAPAN Pare-Pare, dengan PT Industri Kapal Indonesia, Makassar.

 

Menjadi peserta seminar kelautan internasional yang pertama di Bali, kemudian yang kedua di BPPT, Jakarta, membuat Sudarjiana berfikir kenapa pihaknya hanya menjadi peserta seminar terus, kenapa tidak menjadi pemateri atau presenternya. Berawal dari pemikiran itu maka pada tahun 2011 dirinya usul ingin menjadi pemakalah atau presenter seminar. Usulan disetujui lalu pihaknya pun diseleksi dan akhirnya lolos menjadi penyelenggara seminar kelautan internasional di Majene. Waktu itu seminar diikuti berbagai negara, seperti Amerika, Jepang, Belanda, Vietnam, Australia. Waktu seminar itu, tambah Sudarjiana, satu-satunya SMK di Indonesia yang memberi materi hanya dari SMK Kelautan Majene.

 

Sekian waktu memimpin SMK Kelautan Sudarjiana ditarik kembali ke SMK 1 Majene. Namun sebelum kembali ke Majene, ia sempat berfikir SMK 1 Majene itu sekolah rintisan internasional kalau dirinya kembali memimpin tapi tak membawa perubahan yang signifikan ia akan malu. Akhirnya, ia mempunyai ide membawa SMK 1 kerjasama dengan 2 industri kecil di Korea Selatan. Kemudian membuat program setiap tahun guru belajar ke luar negeri. Program ini telah berjalan dimana salah satu guru SMK 1 Majene berangkat ke Jerman selama 1 minggu untuk melihat Labschool di sana.

 

Dalam program kerjasama dengan Korea Selatan, SMK 1 Majene mendapat bantuan dana dari Dinas Pendidikan Provinsi untuk memberangkatkan 2 siswa ke Korea Selatan (tahun 2016).  Tahun 2017 ini targetnya memberangkatkan 4 siswa ke Korea Selatan, dan 4 siswa yang ditunjuk tengah dikursuskan bahasa Korea di Jakarta.

 

Selain itu, pihaknya juga bekerjasama dengan IKCS (Indonesia Korea Culture and Studies), yayasan pendidikan dan budaya. IKCS menawarkan jika lulusan SMK 1 Majene mau kuliah di Korea pihak IKCS akan memfasilitasi. Siswa bisa mendapat beasiswa. Dijelaskan Sudarjiana, pihaknya memiliki 5 zona kerjasama yakni; zona Asia di Korea, zona Amerika, zona Eropa di Belanda, zona Australia, zona Timur Tengah dan Afrika. Tapi, tambahnya, program ini juga tak bisa jalan kalau tidak didukung kebijakan. “Yang kami rasakan, begitu program ini kami tuangkan Pemda mendukung sepenuhnya, hanya karena dana Pemda juga terbatas, itu yang kadang menjadi kendala,” yang beristrikan wanita asli Sulawesi ini. “Saya punya obsesi siswa-siswi (SMK 1 Majene) bisa praktek industry secara nyata di Korea,” ujar pria yang pada tahun 2007 mendapat predikat kepala sekolah berprestasi karena membantu kontingen Sulawesi Barat berlomba pada tingkat nasional.

Uji-Kompetensi-Peragan-Hasil Signing the MoU with Korean School

 

Obsesi Pribadi

Kiprah Sudarjiana di dunia pendidikan di lingkungan Sulawesi Selatan sudah tak diragukan lagi, tapi saat ditanya obsesi pribadinya, pria ini malah bilang tak pernah berfikir tentang obsesi pribadi. Dirinya hanya berfikir memberikan kemampuan yang dimiliki untuk kepentingan masyarakat, menyumbangkan ilmunya untuk masyarakat dan bermanfaat. “Itulah yang menjadi cita-cita saya. Kalau dilihat dari sisi materi mungkin tak sesuai dengan kemampuan tapi saya punya keinginan di dalam dunia pendidikan bisa memberi manfaat untuk orang lain,” tutur pria yang sering memberi pencerahan pada guru-guru agar mereka jangan mau kalah dengan dirinya. Setiap guru harus mempunyai arah dan tujuan menjadi guru itu mau separti apa. Kemudian, kembangkan sikap profesional, sesuai dengan motto SMK 1 Majene yaitu; kreatif, inovatif, dan profesional.

 

Tatkala disinggung kenapa memilih terjun di dunia pendidikan, Sudarjiana menjelaskan bahwa semua berawal dari kondisi keluarga saat itu, dimana orangtuanya bukanlah orang yang berada maka ia mencari sekolah yang kelanjutannya bisa langsung kerja. Tapi, dalam perjalanan selanjutnya ia mulai memahami dan meyakini bahwa menjadi guru itu pekerjaan yang mulia..

 

Lalu, apa suka dukanya berprofesi menjadi guru, menjadi Kepala Sekolah SMK? Sudarjiana mengatakan Itu relatif. Menurutnya, kalau dipikir susah pasti akan susah terus. Sudarjiana menggambarkan, dulu di SMK Kelautan ia menjadi Pembina drumband. Saat itu, dalam berkegiatan sekolah tak mempunyai dukungan dana, tapi Sudarjiana tak patah arang. Dalam pemikirannya tertanam bahwa setiap orang itu memiliki kompetensi (kemampuan). Hal ini yang ditekankan pada siswa-siswanya bahwa mereka semua mampu, tidak kalah dengan teman-teman mereka dari pulau Jawa. Walhasil, dengan motivasi tersebut dan dengan dana minim, bahkan Sudarjiana rela merogoh koceknya untuk menomboki, sekolahnya berani ikut lomba drumband di Yogya, dan hasilnya mereka mampu meraih juara 3.

 

“Saya bangga, karena bisa membawa orang daerah tapi sukses meraih juara.  Dari situ saya punya cita-cita, kalau saya berada di satu daerah saya bisa memberi kontribusi pada daerah itu, masyarakat dan pemerintah daerah bisa menerima, artinya kalau ada saya masyarakat senang, kalau tidak ada saya maka saya dicari. Itu filosofi hidup saya. Saya bisa bahagia bila bisa memberi kontribusi yang bermanfaat dimanapun saya berada,” tuturnya.

 

Di dalam memimpin SMK 1 Majene, Sudarjiana masih memiliki obsesi yang ia targetkan dalam kurun 3 tahun dirinya harus bisa menyelesaikan 8 program untuk sekolahnya, yaitu : Pertama, menjadi sekolah bertaraf internasional. Kedua, menjadi school digital. Ketiga, sekolah berbasis mutu ISO. Keempat, menjadi tempat rekrutmen kerja di Sulawesi. Kelima, outlet rekrutmen tenaga kerja. Keenam, tempat uji kompetensi. Ketujuh, school digital. Kedelapan, sekolah berwawasan lingkungan, yaitu sekolah yang peduli lingkungan hidup, tidak menebangi pohon, pengolahan limbah dan peduli lingkungan. Menurutnya, saat ini bumi semakin panas, lapisan ozon semakin menipis, jadi, kita harus berfikir tentang itu. Harapannya, sebelum ia dipindah 8 program itu bisa diwujudkan.

 

SMK-BISA screenshots_2015-08-08-23-30-15

Tentang pendidikan di Indonesia

Ditanya prihal pendidikan tanah air, menurutnya, perkembangannya pada dasarnya semakin membaik, hanya sekarang karena tuntutan jaman, perkembangan teknologi sangat cepat, kita masih tertinggal. Memang ada plus-minusnya. Contoh, kalau orang dulu berhitung tak perlu kalkulator, sekarang orang kalau berhitung tergantung dengan kalkulator. Lalu, kalau dari kedalaman berfikir, terkait dengan masalah intelektual, memang lebih maju, itu dari sisi pengetahuan, tapi dari sisi attitude (sikap) orang jaman dulu masih lebih bagus, ada sopan-santun, ada etika. Kalau anak sekarang kurang. Maka, sekarang ini dikembangkan lagi pendidikan karakter. Dalam satu pelajaran ada unsur ilmu pengetahuan, ketrampilan, sikap. Tiga unsur ini harus ada pada anak. Itu jadi kesatuan. Siswa sekarang dididik dulu sikapnya, kemudian pengetahuannya, lalu ketrampilan.

 

Menurutnya, perkembangan pendidikan tentu tak lepas dari sistem pendidikan yang ada. Sistem pendidikan di Indonesia, katanya, masih umum (general), semua menguasai tapi detailnya kurang, spesialisasinya kurang. Contoh, tentang kelistrikan. Kita bisa tahu secara umum tapi detail kelistrikan kita kurang. Kalau di luar negeri beda, contoh tentang pendingin AC, betul-betul sampai detailnya dipelajari. “Saya bisa bandingkan karena saya pernah belajar di Australia, lalu ke Korea 3 kali, Singapura 1 kali, Malaysia 1 kali. Di luar negeri belajar spesifik keilmuannya. Kita masih dibawah mereka,” tekannya.

 

Hal lain yang disoroti adalah prihal pelajar Indonesia. Menurutnya, pelajar sekarang semakin baik. Kalaupun ada di berita-berita tentang pelajar yang tidak baik, misal, terlibat tawuran, narkoba, tapi itu hanya sebagian kecil. Yang berprestasi itu lebih banyak lagi, tapi terkadang itu tidak diekspos. Walau demikian, dirinya juga tak memungkiri hal-hal buruk memang sering terjadi di kalangan pelajar Indonesia. “Saat ini menjadi guru memang  tidak semudah yang dibayangkan,” ucapnya.

 

Pesan-pesan untuk generasi sekarang

Terakhir wawancara, Sudarjiana memberi pesan pada generasi sekarang hendaknya tetap menghormati orangtua atau orang yang lebih tua, ini nomor satu. Menghargai orang lain, termasuk etika, sopan-santun, budi pekerti. Kemudian, yang kedua, fokuslah pada yang ada di depanmu, dalam artian menekuni sesuatu. Karena dalam level sekarang ini, apa yang dikerjakan hari ini menentukan kedepannya akan seperti apa nanti. Jadi apa yang kita tekuni sekarang akan menentukan masa depan. Ketiga, kita harus berfikir positif, jangan negative thinking. Keempat, berfikir produktif baik dalam perbuatan maupun ucapan, jangan gosip sana gosip sini. Istilahnya buang-buang waktu. Kelima, fokus mau menjadi apa. Keenam, kuasai apa yang berkembang sekarang ini, seperti IT, bahasa, dan lain-lain.

 

PRIBADI

Dikisahkan Sudarjiana, ia tinggal di Sulawesi bersama istri.Ia di Majene, istrinya menjadi guru di Pare-Pare. Ia hanya berdua sang istri tercinta, karena memang tak dikaruniai putra. Namun, ia menyekolahkan anak kakaknya di Pare-Pare. Yang saat ini telah lulus SMU dan melanjutkan ke sekolah penerbangan di Yogyakarta, dan sekarang tengah  magang di Bandara Soekarno-Hatta. “Istri saya di Pare-Pare, jadi saya pulang seminggu sekali ke Pare-Pare,” tutur pria yang dalam menakhodai SMK 1 Majene ini telah membawa sekokah tersebut menjuarai lomba tari di tingkat Kabupaten dan Provinsi, juga juara Ketrampilan Siswa tingkat Provinsi.

 

Ketika ditanya apa rencananya setelah pensiun nanti, Sudarjiana mempunyai keinginan hendak mendirikan sekolah, tapi sayang masih terkendala tak memiliki lahan. Padahal ia ingin mendirikan lembaga sekolah yang eksistensinya dapat diterima di masyarakat. Karena menurutnya, terkadang orang itu tidak sesuai antara konsep dan pemikiran, Ada orang konsepnya mendirikan sekolah tapi yang dicari sisi finansialnya. Selain itu, dirinya juga punya keinginan membangun perpustakaan untuk masyarakat. “Dengan Bupati terdahulu  saya juga sudah berencana mendirikan Akademi Komunitas. Semua sudah dipersiapkan tapi terbentur lahan, jadi untuk sementara ini tertunda. Saya hanya ingin ketika tua nanti tetap bisa eksis di dunia pendidikan,” ucapnya mengakhiri pembicaraan.[] (baguspram)

 

 

 

 

RATNAWATY WISARTA

No Comments

IMG-20170726-WA0011TNETS Tour and Travel

Hobi yang Menghasilkan

 

Ratnawaty, terlahir sebagai anak kedua dari keluarga pengusaha tidak membuatnya menjadi anak yang malas. Kedua orangtuanya adalah panutan Ratnawaty hingga sekarang. Sosok wanita yang tak pernah patah semangat ini sukses menukangi bisnisnya di sektor pariwisata dengan konsep bahwa jalan-jalan itu perlu mahal asalkan cerdas. Dilatarbelakagi oleh cita-citanya ingin menjadi seorang pramugari yang tujuannya memang untuk bisa menikmati berpergian keliling dunia tanpa biaya. “Hobi jalan-jalan dan saya rasa bisnis tur ini adalah ladang usaha yang tidak ada mati-nya. Sebab itu, tidak ada yang bosan melihat dunia,” jelasnya.

 

Sebelum membuka bisnis pariwisata ini, ia pun sering mengikuti dan menjalankan berbagai macam bisnis lain dari masuk ke media televisi hingga membuka toko pernak-pernik kartun. Hingga suatu titik dia merasa harus membuat bisnis dengan pola saling menguntungkan satu sama lain atau disebut juga mata rantai. Hingga akhirnya ia mengkombinasikan cita-cita serta harapan tersebut dengan mewujudkan TNETS Tour & Travel ini.

 

Banyak yang mengira bisnis TNETS Tour & Travel ini adalah bisnis yang ditakuti masyarakat pada umumnya yaitu MLM. Walaupun memang jaringan yang diterapkan menyerupai, namun hal tersebut ditepis oleh ibu dua anak ini. Lain hal dengan MLM pada umumnya, TNETS sendiri mampu mempromosikan bisnisnya melalui media tv, online, media cetak yang mana MLM hanya diperbolehkan direct selling.

 

Sejarah Berdirinya

gallery1 IMG-20170726-WA0013 IMG-20170726-WA0006

Berdiri pada tanggal 12 Januari 2012, dibawah naungan PT. TRANSNET SUKSES MANDIRI yang diketuai oleh Ratnawaty beserta suami Wandy Lesmana. Nama TNETS sendiri terdiri dari singkatan “Travelling Never Ends Though Succesness” yang artinya perjalanan tidak akan pernah berakhir meski telah mencapai kesuksesan.

 

Lalu, apa visi dan misi yang dimiliki TNETS ini? “Jalan-jalan dapat duit”, tuturnya singkat. Selain itu, visi perusahaannya tersebut adalah menjadi perusahaan Travel Networks terbaik di dunia. Untuk sistem penjualan paket liburan serta konsep pemasaran sendiri memakai sistem yang revolusioner dan bisa memberikan “Financial Freedom” untuk semua lapisan masyarakat. Merubah paradigma lama masyarakat bahwa jalan-jalan itu adalah pos pengeluaran menjadi paradigma baru bahwa jalan-jalan adalah pos pemasukan merupakan misi utama TNETS.

 

Dengan menslogankan ‘jalan-jalan hemat’ bukan berarti TNETS asal-asalan, dua sistem unggul di dunia saat ini yang digabungkan menjadi pondasi berlangsungnya  bisnis ini yaitu Travel Networking dan E-Commerce (internet). Terdapat banyak keunggulan yang dimiliki oleh TNETS yaitu Cash Back Reward, “Get Paid” dari program liburan, Passive Income dari bisnis travelling, dan mendapat harga yang berada di Bottom Line. Ratnawaty berprinsip tidak pernah puas walaupun telah menapaki puncak, harus terjun ke bawah untuk memantau secara detail pelayanan yang diberikan kepada pelanggan. Tak jarang, ia sering ikut pelanggan travelling dan dianggap menjadi ‘kuli’ di TNETS.

 

“Memberikan konsep yang sederhana adalah jawaban kepada mereka yang mempunyai impian namun belum tahu bagaimana cara passion menjadi asset,” tandasnya menjawab pertanyaan mengenai strategi perusahaan. Lain hal dengan tawaran franchise Tour & Travel umumnya yang membutuhkan modal yang besar, modal usaha di TNETS ini ditawarkan cukup ringan namun investasi bisa untuk selamanya. Ia pun menuturkan TNETS menciptakan terobosan bisnis tanpa perlu bersaing sesama member, sebab member bukanlah objek melainkan subjek maka tak perlu saling sikut untuk mendapatkan bonus cukup keliling dunia dengan hemat melalui bisnisnya.

 

Lalu, obsesi apa yang ingin dicapai TNETS Tour & Travel ini? Bisa merangkul satu juta anggota komunitas bisnis dan dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat yang tergabung dalam komunitas TNETS adalah obsesi yang sedang diraihnya. Disinggung mengenai kompetitor, Ratnawaty mengatakan kompetitor diperlukan untuk sebuah bisnis yang sehat karena adanya mereka menjadikan parameter kinerja kerja. Jadi baginya, kompetitor bukanlah momok yang menakutkan justru dijadikan partner untuk sharing serta berlomba menunjukan prestasi.

 

Ratnawaty menguraikan, dalam pembinaan SDM ia lebih mengarah untuk menciptakan kader-kader yang mempunyai kualitas mentoring yang tangguh sehingga terbentuklah karyawan-karyawan unggulan. Kini rencananya, Ratnawati akan terus memberikan informasi bermanfaat bagi para traveller dengan cara yang lebih smart. Mengenai target, dua tahun kedepan ia ingin bertambahnya jumlah anggota hingga ribuan orang.

 

Dukungan Keluarga

IMG-20170726-WA0009 IMG-20170726-WA0004

Ditanya soal peranan keluarga, Ratnawaty mengaku mendapat dukungan pebuh dari keluarga. Terutama suaminya yang turut ikut ambil bagian dalam perusahaan yang dirintisnya itu. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, pepatah itu cocok diberikan untuk kedua anaknya yang ingin meneruskan usaha yang dimilikinya. “Putri pertama saya sekarang sedang kuliah Jurusan Perhotelan UPH untuk mempelajari kemampuan hospitality dan bagaimana cara melayani pelanggan dengan baik. Lalu, putra kedua sedang dipersiapkan untuk masuk di Teknologi IT untuk memegang sistem di TNETS,” jelasnya.

 

Ditanya perihal peran pemerintah ia mengaku mendapat dukungan serta apresiasi yang luar biasa darinya. Hingga tahun keenam ini, sudah terdapat 38 penghargaan yang perusahaannya capai. “Saya sangat berterimakasih kepada pemerintah yang member kepercayaan kepada saya khusunya dan TNETS,” pesannya. Namun, ia sendiri memiliki harapan untuk pemerintah agar membuka lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya sebagai wadah bagi pengusaha-pengusaha handal dan sukses.(mutiararizky)

SULARNO, S.Pd

No Comments

MERAIH PRESTASI

DARI SEBUAH OBSESI BERSAMA

Sularno 8Sistem Pendidikan Nasional menggariskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Sebagai kepala Sekolah SMP Negeri 6 Batam, Sularno, S. Pd tentu memahami hakekat konteks di atas. Mengingat selama memimpin sekolah ini, beliau mampu menjawabnya dengan berbagai macam prestasi. Lahir di Kijang, 8 April 1969, Sularno tentu menginginkan agar kita terkenal sebagai bangsa yang memiliki semangat gotong royong yang tinggi, sopan, ramah, murah senyum, dan santun. Hal ini sesuai dengan Visi dan Misi SMP Negeri 6 Batam yang ingin menjadikan sekolah ini sebagai sekolah unggul dalam prestasi dan berdaya saing internasional serta berlandaskan iman, takwa dan akhlak mulia.

Sedangkan Misinya sendiri, adalah ingin mewujudkan standard kompetensi lulusan atau SKL yang bertaraf internasional. Mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang bertaraf internasional. Proses pembalajaran yang bertaraf internasional. Terpenuhinya tenaga pendidik dan kependidikan yang memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk mengelola sekolah bertaraf internasional. Tersedianya sarana prasarana dan fasilitas pendidikan yang bertaraf internasional. Terwujudnya manajemen sekolah bertaraf internasional. Terpenuhinya pembiayaan sesuai dengan standar biaya sekolah bertaraf internasional. Terwujudnya system penilaian pendidikan yang bertaraf internasional. Terwujudnya system penilaian pendidikan yang bertaraf internasional, dan Budaya dan lingkungan yang kondusif untuk menunjang proses belajar mengajar.

Alasan Memilih Dunia Pendidikan

Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistematik denan system terbuka dan multimakna. Sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan masyarakat, pendidikan berlangsung sepanjang hayat dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat. Menanggapi alasan latar belakangnya memilih dunia pendidikan, Sularno, mengatakan, “Dunia Pendidikan merupakan investasi yang luar biasa, ilmu yang kita dapat dan kita berikan pada orang lain menjadi suatu amalan bagaikan air mengalir yang tidak akan putus walaupun di cincang oleh sebilah pisau yang tajam. Juga bagaikan matahari dan rembulan yang silih berganti menerangi dunia, baik siang maupun malam, dan kebajikan itu akan menjadi amal ibadah bagi siapapun pelakunya baik di dunia maupun di hari akhir nanti.”

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional).

Sedangkan kiat dan strategi yang diterapkan di SMPN 6 Batam untuk menjadi yang terbaik dan unggul, menurutnya, adalah bagaimana memberdayakan semua stake holder sesuai dengan kompetensinya masing-masing. Selain itu ia juga ingin menanamkan prinsip adat, suku, budaya dan agama boleh berbeda, tetapi kita tetap menjunjung persatuan dan kesatuan demi mencapai tujuan bersama agar sekolah SMPN 6 berjaya. Menjalin tim work yang solid dengan selalu berpikiran positif terhadap teman, selalu yakin dan percaya bahwa teman tidak akan menjatuhkan kita. “Jangan pernah merasa kesuksesan yang kita peroleh membuat kita merasa besar, melainkan bagaimana kita menggandeng teman-teman yang ada diilingkungan kita menjadi terpacu untuk mencapai sukses sesuai dengan bidangnya masing-masing, “ungkapnya.

Keunggulan diferensiasi dan difersifikasi atau aneka ragam, yakni proses belajar mengajar, khususnya mata pelajaran matematika, IPA menggunakan bilingual sebagai bahasa pengantar. Setiap ruang belajar dilengkapi dengan multi media, baik itu computer, maupun CCTV. Selain itu, ujian semester dengan system on line, dan prestasi siswa khususnya di bidang akademik, serta menanamkan konsep satu keluarga. Sedang, keunggulan difersifikasi, adalah sebagai sekolah unggulan di Kota Batam.

Apapun bentuk keunggulan itu semuanya tetap mengacu pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang system Pendidikan Nasional yang menetapkan bahwa akhlak mulia sebagai tujuan pendidikan nasional yang bermakna dalam kehidupannya sebagai individu, peserta didik harus mempunyai sikap, perilaku, dan tindakannya yang mengacu pada norma kehidupan sesama individu, kehidupan dalam keluarga, dan kehidupan dalam bermasyarakat, yang lebih jauh lagi akhirnya dalam kehidupan berbangsa dan kehidupan bernegara.

Obsesinya di Bidang Pendidikan

Sularno 1 Sularno 2 Sularno 3 Sularno 4 Sularno 5 Sularno 6 Sularno 7Sularno mengatakan ingin menjadikan SMP Negeri 6 Batam menjadi sekolah unggul di bidang akademik, olahraga, seni maupun keagamaan. Tentunya ia berharap stake holder membantu obsesinya itu. Pola ini harus dimanfaatkan oleh seluruh pemangku kepentingan pendidikan dalam merumuskan kebijakan maupun dalam proses pembelajaran. Sebab melalui pendidikan dan keteladanan akan tumbuh kembang dan komitmen untuk menjunjung nilai-nilai budaya luhur bangsa bagi peserta didik dalam bersikap, berprilaku, membentuk dan mengembangkan watak dan kebiasaannya. “Disiplin terhadap tugas dan tanggung jawab, baik siswa, guru, pegawai maupun kepala sekolah. Selanjutnya sekolah yang berbasis IT dan sebagai sekolah yang terdepan di Propinsi Kepulauan Riau, “jelasnya.

Perubahan sikap, perilaku dan ekspresi dalam segala tindakan terjadi oleh masyarakat karena adanya perubahan paradigma. Dari semula pemerintah sangat yakin dengan pola stabilitas akan dapat mewujudkan suatu kehidupan masyarakat yang tentram, sejahtera, aman dan damai. Kini pemerintah sangat menghargai adanya perbedaan, kebinekaan, keanekaragaman dan kemajemukan serta kebebasan menyampaikan pendapat yang direspon dengan sangat bersemangat oleh masyarakat.

Menurutnya, tinggal kini bagaimana menyikapi persaingan untuk tetap selalu unggul, dengan menjadikan teman-teman kompetiter sebagai spirit guna memacu percepatan kesuksesan sekolah. Menjadikan bahan evaluasi diri mengenai kekurangan dan kelebihan SMPN 6 Batam. Melangkah tidak dengan pola deret hitung seperti 1,2,3, dan 4 melainkan dengan pola deret ukur 1,2, 4, 8 dan seterusnya. Jangan juga pernah puas dengan apa yang telah diperolehnya saat ini. Serta mengamati segala perubahan, karena perubahan adalah sesuatu hal yang pasti, untuk itu kita harus menggapai perubahan itu, tentunya perubahan kea rah yang lebih maju dan bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain.

Sifat kegotongroyongan, santun, ramah, dan menjunjung nilai luhur budaya bangsa masih ada dan melekat disanubari masyarakat Indonesia yang memiliki falsafah Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa ini. Untuk itulah dalam menerapkan dan membina SDM, siswa dan siswi di SMPN 6 Batam, Sularno mengedepankan pola azas kebersamaan status/posisi semua lini adalah penting, sebab sekecil apa pun peran masing-masing bidang adalah kunci kesuksesan untuk mencapai target yang diharapkan.

Beliau pun memiliki rencana jangka panjang dan target bagi SMPN 6 Batam, dengan ingin menjadikan sekolah tersebut sebagai pioner terdepan di dunia pendidikan minimal untuk tingkat propinsi Kepulauan Riau. Untuk itulah, Sularno, S.Pd mengharapkan betul dari pemerintah di dunia pendidikan dan SMPN 6 Batam, khususnya, menghargai potensi, kinerja dan prestasi dengan memberikan apresiasi antara lain ; Memberikan prestasi beasiswa kepada guru yang kinerjanya baik dan berprestasi untuk melanjutkan studi minimal setingkat dari pendidikan yang dimiliki saat ini; Memberikan beasiswa kepada siswa yang berprestasi baik dibidang akademik, olah raga, seni maupun agama; Melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan sekolah untuk menunjang kualitas pendidikan di SMPN 6 Batam, baik dari segi gedung, media pembelajaran maupun buku-buku sumber belajar maupun alat-alat multi media pembelajaran.

Perjalanan Hidup Sularno, S.Pd

Hidup serba prihatin dalam tugas, tidak membuatnya frustasi atau patah semangat, justru keadaan itulah yang melecutnya untuk bangkit dan berprestasi dalam setiap tugas dan pekerjaannya, terutama di bidang pendidikan. Kondisi ini memaksa Sularno, S.Pd bertambah semangat untuk membangun sekolah yang dipimpinnya.

Pertama bertugas di SMPN 7 Batam, lokasinya berada di Hinterland yakni suatu pulau yang jumlah penduduknya tidak sampai 300 kepala keluarga dengan kondisi geografis yang hampir tidak ada sumber air, sehingga jika ingin mengambil air di sumur harus menunggu tengah malam sekitar pukul 01.00 hingga 02.00, karena penduduk kampung takut keluar tengah malam, “kenangnya.

Dari sisi penghasilan, beliau mengatakan pada saat itu atau tepatnya tahun 1993, gaji yang diterima hanya 84 ribu rupiah, sementara sewa kamar harganya 30 ribu rupiah. Jadi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari harus berperan ganda turun ke laut mencari ikan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Akses transportasi keluar pulau untuk ke kecamatan sangat minim satu kali perjalanan sehari, berangkat pukul 07.00, kembali pukul 11.00, sementara untuk hitungan guru biaya transportasi Rp 6000, ini biaya yang cukup besar untuk seorang guru saat itu, apalagi juga belum ada alat komunikasi seperti telpon dan sebagainya. “ceritanya.

Sementara untuk kondisi yang menyenangkan, Sularno mengatakan social masyarakatnya yang kental, berpengaruh terhadap tugas dan tanjung jawab yang diembannya. “Menikmati segala yang kita miliki dan terima dangan rasa kesyukuran, sehingga dalam kondisi apapun kita tidak pernah merasa kekurangan, karena tolok ukur kepuasan dan kenikmatan hidup bukanlah materi, “paparnya.

Mengenai peran keluarga dalam kehidupan dan suksesnya, ia mengatakan, luar biasa dukungan dari, apapun kegiatan walaupun baik yang sifatnya tugas kedinasan, organisasi, maupun social walaupun harus menyita ruang dan waktu dukungan keluarga baik istri maupun anak mensuport habis, hal terbukti dalam segala hal aktivitas yang saya lakukan selalu melalui diskusi keluarga sehingga keputusan yang diambil adalah hasil mufakat keluarga.

Terakhir pesannya kepada generasi muda bangsa Indonesia adalah jangan pernah mengatakan tidak terhadap tugas dan kewajiban yang harus kita lakukan. Jangan pernah mengatakan sulit, tidak tahu ataupun tidak bias terhadap segala sesuatu yang di amanahkan untuk kita kerjakan, karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Selalu berpikiran positif, dan optimis dalam bekerja, karena orang-orang yang optimis selalu mendapat kesempatan/solusi dalam segala macam bentuk kesulitan dan permasalahan. Mensyukuri nikmat yang diberikan Sang Khalik kepada kita dalam suka dan duka, karena kenikmatan dan ketenangan hidup bukan materi tolok ukurnya. Jangan pernah lupa terhadap cita-cita yang kita dengungkan saat masih balita, renungkan dan hidupkan cita-cita itu jangan pernah putus asa karena setiap kita dilahirkan ke dunia mempunyai kelebihan masing-masing. Kembangkan daya imajinasi dan Ekploitasi kelebihan itu. Jadikan diri kita minimal bermanfaat bagi orang-orang yang ada di sekitar kita.

  1. Pendidikan

    • SDSDN 5 Kijang kec. Bintan Timur, Kepulauan Riau

    • SMPSMPN 1 Kijang Kec. Bintan Timur Kepulauan Riau

    • SMASwasta Aneka Tambang Kijang Kec. Bintan Timur

    • D 3FKIP-Biologi UIR Pekanbaru, Riau

    • S 1FKIP-Biologi Univ. Riau Kepulauan

    • S 2Sedang Proses Tesis Fekon Univ. Batam

  1. Masa Remaja

      • Ketua OSIS SMA Aneka Tambang Kijang

      • Tim volley ball SMA Antam Kijang Juara I tk SMA Kep. Riau 1987,1988

      • Tim Sepakbola SMA Antam Juara I tk SMA Kep. Riau’1987

      • Pengurus Forum Komunikasi Putra/Putri Aneka Tambang Bauksit Kijang

      • Tim Sepakbola SMA Antam Kijang, Semifinalis Sepakbola Pelajar se Prov. Riau 1987

  1. Perjalanan Karir

      • Guru SDN 008 Bintan Timur Kijang Tg Pinang 1992-1993

      • Guru SMP Sei Lekop Bintan Timur Kijang, Tg Pinang

      • Guru SMPN 7 Batam 1993-1999

      • Wakil Kepala SMPN 7 Batam 1995 – 1999

      • Pengelola SMP Terbuka 1995 – 1998

      • Guru SMPN 3 Batam 1999-2000

      • Guru SMPN 4 Batam 2000-2006

      • Pengelola Labor IPA SMPN 4 Batam, 2001 -2004

      • Wakil Kepala SMPN 4 Batam 2004 – 2006

      • Finalis Guru berprestasi Kota Batam tahun 2004

      • Instruktur Pelajaran IPA Prov. Kep. Riau 2004 -2006

      • Kepala SMPN 29 Batam 2006-2010

      • Juara I Kepala Sekolah Berprestasi Kota Batam 2010

      • Juara I Kepala Sekolah berprestasi Provinsi Kepulauan Riau 2010

      • Finalis Kepala Sekolah Berprestasi Tingkat Nasional 2010

      • Pembimbing Guru Berprestasi Kota Batam 2011,2012

      • Pelatih Tim Volly PGRI Kota Batam

        1. Juara II Kejuaraan PGRI se Prov Kepri 2009

        2. Juara III Kejuaraan PGRI se Prov Kepri 2010

        3. Juara III Kejuaraan PGRI se Prov 2011

        4. Juara II , Pesona CUP Batam 2012 (Pelatih )

        5. Juara I, Kasu Cup Batam 2012

        6. Juara II PBVSI CUP Batam 2013

        7. Juara IV Haluan Kepri Batam Internasional III 2013

      • Ketua PGRI Kec. Batu Ampar Kota Batam, 2006-2008

      • Sekretaris PGRI Kota Batam 2008 – 2012

      • Wakil Ketua PGRI Kota Batam 2013 – 2017

      • Ketua Bidang Pertandingan PERCASI Kota Batam 2008 – 2012

      • Kepala SMPN 6 Batam 2012 -..

Dra. Hj.RAHMI LESTARI RAHAYUNI,MPd

No Comments

Lingkungan Hidup

adalah Bagian dalam Jiwanya

 

Rahmi 1Bagi keluarga besar SMA Negeri 1 Prembun, nama Dra. Hajjah Rahmi Lestari Rahayuni, M.Pd sesuatu yang tidak luar biasa. Di tangan dinginnya, sekolah negeri ini berkembang pesat, khususnya dalam prestasi.Wanita pendidik yang berjuang membangun kemandirian dengan mewujudkan karakter peduli lingkungan dan cinta tanah air bagi peserta didiknya ini senantiasa selalu berkomitmen untuk melaksanakan pendidikan lingkungan hidup.Rahmi selalu ingin pendidikan lingkungan hidup dapat berjalan atau diterapkan di jalur pendidikan formal dan non formal.Bahkan dia dijuluki sosok pengabdi lingkungan yang berprestasi diberbagai bidang lingkungan hidup.

Menurut wanita pendidik yang ingin berjuang membangun kemandirian ini, ada satu benang merah yang menghubungkan karakter peduli lingkungan dan cinta tanah air sebagai upayanya membangun kemandirian.“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mandiri, “ujar Rahmi.Salah satu indicator bangsa yang mandiri itu menurutnya, adalah bangsa yang mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap tanah airnya.Inilah yang selalu diperjuangkan oleh Rahmi.Kecintaannya terhadap konservasi lingkungan telah membuatnya selalu komitmen untuk menerapkan pendidikan lingkungan hidup bagi sekolah yang dipimpinnya.“Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-baqarah ayat 30 menyiratkan bahwa, “Manusia dijadikan Allah sebagai khalifah di bumi,” maka dari itu wajib bagi kita untuk memelihara amanah ini dengan benar.

Semangat membangun kemandirian diwujudkan dengan karakter peduli lingkungan dan cinta tanah air.Melalui wahana pekerjaan yang digelutinya sebagai pendidik dengan tugas yang diembannya sekarang sebagai kepala sekolah di SMA Negeri 1 Prembun.“Meskipun saya ini disibukkan sebagai pendidik di sekolah, tapi saya masih menyempatkan aktivitas membina kemandirian masyarakat melalui kegiatan kader lingkungan hidup LIBERTTI, “ungkap wanita yang telah menerima sepuluh macam penghargaan ini.

Aktivitas Lingkungan Hidup Informal

Edukasi lingkungan dalam ruang lingkup informal dilaksanakan Rahmi melalui edukasi di masyarakat.“Edukasi lingkungan informal dilaksanakan bersama kelompok kader lingkungan hidup K2LH LIBERTTI di kawasan Kebumen, “ungkapnya.Pelaksanaan kegiatan edukasi lingkungan informal juga sudah berjalan cukup lama sejak tahun 2002, hingga sekarang.Dimulai saat dimulai merintis mendirikan majelis taklim pengajian untuk para ibu dilingkungannya.

Bersama dengan para kader lingkungan lainnya, Rahmi aktif melaksanakan berbagai kegiatan pelestarian lingkungan hidup lewat edukasi konservasi dengan mengolah limbah di kawasan home industry, memproduksi bahan daur ulang menjadi produk yang dapat dipakai lagi di Kebumen dan sekitarnya. Menurut Rahmi, meningkatkan partisipasi masyarakat pada pengelolaan lingkungan hidup melalui kegiatan kader dan mandiri. Menanggulangi kerusakan lingkungan kali bersih tata ruang galian C dan konservasi lahan yang banyak terjadi di Kebumen, “paparnya.

Ia mengatakan dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri itulah, pihaknya membina Madrasah berbasis LH “Nurrussulaiman” di Desa Seliling Alian Kebumen. Dengan melibatkan masyarakat sekitar madrasah serta pemberdayaan lingkungan hidup para wali murid dan pemberdayaan perempuan untuk meningkatkan taraf pendapatan dan kemandirian keluarga.

Karier Pribadi

Rahmi 16 Rahmi 17 Rahmi 18 Rahmi 19 Rahmi 20 Rahmi 21 Rahmi 22Rahmi memang sejak kecil telah bercita-cita ingin menjadi seorang pendidik.Bahkan pada masa kanak-kanaknya, Rahmi telah senang bermain menjadi seorang guru dan ternyata permainan itu menjadi kenyataan, disaat tumbuh dewasa.“Pendidik itu adalah pekerjaan yang menarik, harus sabar dan gigih serta tidak pantang menyerah, tidak putus asa, penuh kasih saying, penuh harapan, dan hasil pendidikan tidak dapat dilihat dengan cepat, melainkan dampaknya baru akan terlihat jauh dikemudian hari.Artinya menjadi pendidik itu adalah panggilan hati, “kata Rahmi dengan riang.

Berlatar belakang pendidikan sarjana Pendidikan Biologi, lulusan Universitas Negeri Yogyakarta, Rahmi ingi berperan dalam menunjukkan generasi penerus yang memajukan bangsanya.Mewujudkan generasi yang mandiri, cerdas, dan cinta tanah air.Ia juga mengaku ingin mendarmabaktikan ilmunya agar bermanfaat. Oleh karenanya, Rahmi menuturkan memilih kariernya sebagai guru serta aktivitas di masyarakat. Hingga ia kemudian diangkat menjadi Kepala Sekolah di SMA Negeri 1 Prembun.

Kesadarannya akan pentingnya membangun kemandirian dan kecintaaannya akan konservasi lingkungan menjadikan Rahmi berkomitmen melaksanakan pendidikan lingkungan hidup. Pendidikan lingkungan hidup menurut pendapat Rahmi, sangat mendorong dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan dan sikap, serta pada akhirnya dapat menumbuhkan kepedulian, komitmen untuk melindungi, memperbaiki serta memanfaatkan lingkungan hidup secara bijaksana, turut menciptakan pola perilaku baru yang bersahabat dengan lingkungan hidup, mengembangkan etika lingkungan hidup dan memperbaiki kualitas hidup.

Prinsip inilah yang menurut Rahmi diterapkan dimana saja ia bekerja. Demikian pula dengan sekolah yang diasuhnya.“Pendidikan lingkungan hidup di SMA Negeri 1 Prembun bertujuan membina dan mengembangkan anak didik agar memiliki sikap dan tingkat laku yang rasional dan bertanggungjawab dalam rangka memelihara keseimbangan system lingkungan dan sumberdaya secara bijaksana, serta melakukan konservasi mencegah lingkungan.

Ada banyak pengalaman yang menurutnya sangat menarik sebagai pendidik dalam menerapkan pendidikan lingkungan hidup. Prinsip pendidikan lingkungan hidup akan dapat berjalan dengan baik, bila diterapkan pada semua lini dan semua warga sekolah. Membangun kepedulian harus mulai dari pembiasaan dan pemberian contoh.Sebab pendidikan kepedulian merupakan suatu langkah mendidik semua warga sekolah.Membangun kepedulian dikatakan, harus mulai dari pembiasaan dan pemberian contoh.Sebab pendidikan kepedulian itu adalah suatu langkah mendidik semua warga sekolah.

Sebagai Kepala Sekolah, Rahmi mengaku membentuk kultur sekolah yang erat hubungannya dengan visi yang dimiliki. “Dengan gigih saya terus menggerakan, memotivasi, mengajak, dan membimbing, serta membina untuk mewujudkan kepedulian warga sekolah serta khususnya peserta didik.

Suka Duka Sebagai Pendidik

Rahmi 2 Rahmi 3 Rahmi 4 Rahmi 5 Rahmi 6 Rahmi 7 Rahmi 8 Rahmi 10 Rahmi 11 Rahmi 12 Rahmi 13 Rahmi 14Menurut Rahmi, sebagai seorang pendidik ia memiliki kesempatan untuk dapat menyampaikan pokok pikiran dan gagasan cita-citanya pada para siswa didiknya. “Saya dapat menyampaikan pesan ide yang baik demi kemajuan siswa, sekolah serta masyarakat dalam kehidupan berbangsa.Sehingga semua dapat bekerjasama dengan adanya komunikasi dan ikatan batin yang khas antara guru dan murid, “ujar Rahmi.

Sebagai Kepala Sekolah ada banyak suka yang dialami, dimana yang paling menyenangkan untuknya, yakni ketika semua steakholder sekolah melaksanakan program dalam mewujudkan keberhasilan pendidikan di sekolah. “Bekerja keras bersama-sama sangatlah menyenangkan baginya, apalagi secara bersemangat, kompak, ikhlas serta penuh dedikasi, “paparnya.Rahmi pun mengaku bersyukur rekan-rekannya mau kompak, ikhlas dalam bekerja serta penuh dedikasi.Ia juga sangat senang dengan terwujudnya sikap yang peduli.

Tidak hanya senang, ia pun sempat mengalami yang namanya duka saat harapannya tidak berjalan dengan baik. Hal tersebut pernah dirasakan, ketika perjuangannya dalam mewujudkan kepedulian warga sekolah harus melalui proses yang begitu berat. Namun Rahmi menuturkan tidak pernah menyerah, dimana akhirnya kesadaran kepedulian ternyata harus tumbuh melalui proses dan waktu.

Peran Keluarga dan Pesan untuk Generasi Bangsa

Keluarga menurutnya sangat mendukung. Keluarga telah membangun budaya prestasi, sehingga ia dapat sukses bersama. Sedangkan mengenai ide yang ingin disampaikan untuk kemajuan bangsa Indonesia, terkait dengan dunia pendidikan, yakni bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai dirinya.Menurut Rahmi, dalam system pendidikan bangsa Indonesia harus mampu mewujudkan prestasi serta memupuk kecintaan dan penghargaan pada tanah air dengan tindakan riil kepedulian. “Bangsa Indonesia harus lebih percaya diri serta tidak berkiblat dengan system lain guna mengarahkan pendidikan kita, “ujarnya member solusi.

Rahmi juga menyampaikan gagasannya untuk kemajuan bangsa, terkait dengan dunia pendidikan, yaitu menciptakan pendidikan berkarakter yang saat ini, sedang diterapkan sebagai suatu langkah yang bagus.“Tetapi kita harus waspada dan yakin benar bahwa karakter itu bisa terwujud, membantuk karakter bukan pekerjaaan yang mudah dan sesaaat.Harus ada kesungguhan, ketekunan dan kesabaran.Untuk mewujudkan karakter peduli lingkungan dikalangan generasi muda, maka para orang dewasa harus menjadi model moral, “ungkapnya menjelaskan ide.

Rahmi juga ingin memberikan pesan bagi penerus bangsa, khususnya siswa dan siswi SMA Negeri 1 Prembun agar menjadi generasi yang berprestasi, beriman, bertakwa serta peduli dan mencintai tanah air. Atau berbuat yang terbaik untuk bangsa, dimanapun mereka berada.Prembun dapat melanjutkan pendidik yang lebih tinggi dan dapat mendharmabaktikan ilmunya untuk Negara.“Semoga semua generasi penerus dapat sebagai generasi yang berprestasi, beriman, bertakwa, peduli dan cinta tanah air.Kelak berperan sebagai apapun, maka saya berdoa semoga visinya mewarnai setiap tindakan dan keputusan yang dipilihnya, “kata Rahmi.

Prestasi Rahmi

  1. Pembimbing peneliti terbaik kedua bidang ilmu social dan kemanusiaan RKIR LIPI 2001.

  2. Pembimbing Pengusul Riset Terbaik Tingkat Nasional LIPI 2001.

  3. Juara 1 Nasional Lomba Karya Penelitian Bidang Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH) Departemen Pendidikan Nasional Jakarta tahun 2003.

  4. Penghargaan guru berprestasi kabupaten Kebumen tahun 2003/2004.

  5. Pemenang 1 Kalpataru pengabdi lingkungan propinsi Jawa Tengah tahun 2012

  6. Kepala Sekolah Berprestasi 2012 di Kabupaten Kebumen.

  7. Penghargaan berprestasi sebagai pengabdi lingkungan dari Bupati Kebumen dalam rangka hari jadi Kebumen 2013.

  8. Penghargaan Top 25 Award Kategori School Higly Recommended Of The Year.

  9. Penghargaaan Indonesia Creativity Award Kategori The Best Education of The Year

  10. Penghargaan Indonesia Award 2013 Kategori The Best Education and Educator of The Year.

Sejarah Berdirinya SMA Negeri Prembun

SMA Negeri 1 Prembun berdiri tahun 1982.Sekolah ini berada di daerah local pertanian di Kecamatan Prembun Kabupaten Kebumen.Awal berdiri, dimulai dengan 3 rombel hingga kini formasinya dengan 27 rombel adalah sekolah kategori mandiri.

Visi SMA Negeri 1 Prembun yakni pendidikan berkualitas, berjati diri bangsa, berprestasi dalam imtaq dan iptek, serta berwawasan lingkungan hidup. Sedangkan misinya adalah :

  1. Menyelenggarakan pembelajaran berkualitas secara professional, efektif, efisien berdasarkan kurikulum yang berlaku.

  2. Meningkatkan kualitas pelayanan dan sarana belajar yang memadai, mengikuti perkembangan iptek.

  3. Meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan serta membina akhlak mulia yang terintegrasi dalam semua aktivitas.

  4. Menanamkan dan menerapkan budi pekerti serta nilai-nilai luhur bangsa dan cintah tanah air.

  5. Mewujudkan manusia sebagai Pembina lingkungan hidup yang peduli memelihara pelestarian lingkungan, bertindak mencegah terjadinya pencemaran dan bertindak mencegah kerusakan lingkungan.

  6. Memberikan kesempatan pengembangan potensi bakat dan prestasi peserta didik seoptimal mungkin, melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler.

  7. Menciptakan iklim kondusif untuk terlaksananya tugas pokok fungsi sekolah dan menyediakan komunikasi serta koordinasi dengan mitra sekolah demi terlaksananya program sekolah.

Menurut Rahmi, partisipasi peserta didik generasi muda sangat diperlukan dalam keikutsertaannya mengelola lingkungan. Karena generasi muda merupakan motor penggerak dan jug aide-ide cemerlang yang sangat diperlukan untuk membantu mengatasi masalah lingkungan. “Kepedulian peserta didik terhadap lingkungan akan berpengaruh positif terhadap kepedulian masyarakat terhadap linkungan, “ujar Rahmi. Pembentukan kepribadian generasi muda yang bersih dan cinta lingkungan perlu proses panjang, tetapi aplikasi peran itu di masa depan diharapkan dapat berdampak baik baik keberlangsungan bangsa Indonesia.

Menurutnya, manusia sebagai bagian dari alam. Alam mempunyai keterbatasan untuk dimanfaatkan terus oleh manusia sama seperti manusia, alam memiliki umur, maka manfaatkanlah alam dengan bijak dan hati-hati. “Untuk itu mari kita ubah pola pikir kita menjadi generasi muda yang menghargai dan menjaga alam dengan arif dan bijak, dengan menjaga kualitas lingkungan baik tentang estetika, etika maupun keberlangsungan sumber daya alam dan energy yang berguna untuk keseimbangan ekosistem.”

Dalam penanaman budaya cinta lingkungan di SMA Negeri 1 Prembun tidak hanya melalui pembelajaran klasikal dalam kelas atau teoritis, melainkan dapat diwujudkan dengan tindakan baik dalam pembelajaran intra maupun ekstra di sekolah.

Dunia pendidikan adalah dunia yang sangat menarik.Dunia pendidikan suatu asa atau harapan.Kita menjadi pendidik dengan penuh ketekunan dan kesabaran dan tidak putus asa memberikan pengajaran pendidikan dengan penuh harapan, mewariskan pemikiran dan gagasan kelak dikemudian hari.Generasi muda yang kita didik berhasil.“Pendidikan lingkungan hidup mewujudkan manusia yang peduli dikemudian hari, dengan profesi apa pun akan menjadi manusia Pembina lingkungan hidup, “ungkap Rahmi.

Strategi SMAN 1 Prembun

Strateginya adalah menerapkan atau mempertimbangkan berbagai potensi dan kekuatan sekolah serta peluang yang dapat diraih dengan memperhitungkan kendala hambatan, maka sekolah menentukan strategi arah yang ditempuh dengan pertimbangan itu.Kepala Sekolah sebagai leader menentukan strategi untuk menuju menjadi sekolah yang terbaik.SMAN 1 Prembun memulai langkahnya dengan menentukan menjadi sekolah berwawasan lingkungan hidup.

Sekolah berwawasan lingkungan hidup, kurikulum berwawasan lingkugnan hidup, budaya sekolah yang berkarakter peduli lingkungan.Pendidikan lingkungan hidup dalam KTSP SMA Negeri 1 Prembun muncul sebagai mata pelajaran khusus secara monolitik dalam maple mulok PKLH.Esensi materi pelajaran pendidikan lingkungan hidup (PLH) muncul secara terintegrasi dengan semua mata pelajaran yang lainnnya.

Sedangkan obsesi SMA Negeri 1 Prembun, ingin menjadi sekolah yang kompetitif berprestasi dibidang akademik dan non akademik sekolah berkarakter yang mengamalkan imtaq, menjadi sekolah yang terdepan dalam menerapkan kepedulian lingkungan.

Menyikapi competitor, Rahmi mengatakan tidak cepat merasa puas dengan hasil yang diperolah, namun secara kreatif untuk selalu berusaha berubah lebih maju demi meningkatkan kualitas sekolah.Untuk menjadi sekolah yang handal perlu selalu melakukan inovasi terbaik terus menerus dan menerapkannya pada penyelenggaraan sekolah, setiapkali harus ada perubahan untuk lebih sempurna, dengan langkah itu maka SMAN 1 Prembun selalu siap kompetitif.

Ada pun langkah yang diterapkan dalam membina Sumber Daya Manusia dan Siswa-siswinya, SMAN 1 Prembun, yakni memilah sampah organic dan an-organik seperti plastic, kertas dan daun. 2. Belajar membuang sampah pada tempatnya, jika dikendaraan umum, maka disimpan dulu dalam tas lalu setelah turun dan menemui tempat sampah baru dibuang ke termpat sampah. 3. Melalui kegiatan ekstrakurikuler pramuka dan pmr diadakan kegiatan kebersihan, penanaman pohon dilingkungan sekolah, outbond dan pemberian materi arti pentingnya kebersihana diri dan lingkungan hidup.

Sementara yang diharapkan pada pemerintah adalah dukungan penuh dalam rangka memajukan keberhasilan dan prestasi sekolah baik melalui bantuan operasional maupun dukungan lainnya. Dan prestasi selama 6 tahun sekolah ini adalah predikat sekolah hijau kabupaten menetapkan bahwa sekolah menerapkan program Adiwiyata SMA Negeri 1 Prembun tahun 2008, dan memperoleh predikat sekolah adiwiyata propinsi, dan sekolah penyelenggara pendidikan lingkungan hidup terbaik ke-3 di propinsi, dan sejumlah prestasi besar lainnya yang maa begitu banyak.