Category: Pengusaha

Trisya Suherman

No Comments

                                      

BANGGA PUNYA BRAND INDONESIA

Buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Ungkapan ini mungkin bisa mewakili sepakterjang Trisya Suherman dalam meniti jalan hidupnya. Terlahir dari ayah yang pebisnis, meski hanya bisnis kecil berupa toko, Icha (begitu ia dipanggil) sukses menjadi pebisnis di bidang kecantikan dan perawatan tubuh dengan mendirikan usaha spa yang diberinya nama Bambu Spa. Satu pilihan nama yang terdengar unik dan seperti lain dari bisnis sejenis.

Menurut Icha, pilihan nama tersebut sebenarnya bukan kesengajaan atau hasil perenungan yang rumit. Awalnya Ia hanya suka dengan gambar keramik kamar mandinya yang bermotif pohon bambu. Ia melihat gambar tersebut sangat indah dan artistik. Nah, dari situlah kemudian muncul nama Bambu Spa sebagai identitas usahanya.

Ketika nama tersebut ditanyakan pada sang ibunda, bundanya menyetujui pilihan Icha. Menurut sang bunda bambu memberi kesan kekuatan, dan itu cocok bagi Icha agar kuat menjalani bisnisnya. Walhasil, sekarang Bambu Spa pun menjadi brand yang membanggakan Icha dan menjadi pilihan utama bagi spa lovers yang ingin merawat tubuh dan wajah mereka.

 

 

 

Perjalanan Hidup

Icha terlahir sebagai anak ketiga dari lima bersaudara. Ia mempunyai kakak perempuan yang kini bermukim di Australia dan kakak laki-laki yang bekerja sebagai Proffesional IT di perusahaan bank di Jakarta. Sedang dua adiknya adalah laki-laki semua. Yang salah satunya adalah Eksekutif Chef di Hotel Berbintang 5.

Icha merupakan lulusan Universitas Bina Nusantara, dari jurusan ekonomi managemen.

Setelah lulus kuliah ia bekerja di Bank Lippo sebagai customer services. Karena kerjanya ia lalu dipromosikan mengikuti pendidikan MDP (Management Development Program) apabila menyelesaikan program tersebut dirinya diberi tugas memegang bank cabang sebagai Branch Manager.

Lama pendidikannya  lebih kurang satu tahun. Banyak syarat- syarat yang baginya sulit dipenuhi. Akhirnya ia memutuskan tidak mengikuti program itu, karena ia sendiri telah memiliki rencana hidup yakni ingin menikah di usia 25 tahun, kemudian ingin memiliki 3 anak. Dengan alasan tersebut Icha lalu memilih  tidak mengikuti pendidikan MDP.

Pada perjalanan berikut Icha mulai berfikir ingin mempunyai bisnis sendiri. “Saya kerja  cuma mau ambil ilmunya. Seperti saya di Customer Services saya mendapat pelajaran banyak, seperti belajar bagaimana bertemu dan melayani orang dengan berbagai ragam, makanya saya terapkan di Bambu Spa ini,” tutur wanita kelahiran Jakarta ini.

Dan, dengan ilmu yang didapat dari pengalaman kerjanya itu Icha pun mencoba bisnis kafe. Itu dilakoninya setelah dirinya berumahtangga.Tapi sayangnya,  usaha kafe bukan passion-nya. Menurut cerita Icha, ia membuka kafe karena  ada saudaranya yang pintar memasak mengajaknya bergabung. ”Saya menyanggupi karena pada dasarnya saya memang terbiasa kerja dan tak betah bila harus berdiam diri di rumah,” ujar anak dari pasangan Bambang Suherman dan Yayah ini.

Namun, di tahun 2008 bisnis kafenya terhenti. Icha mengakui, memang sejak ia hamil anak pertama bisnis kafenya sudah tak jalan, lalu ketika anaknya lahir kafenya pun tak beroperasi lagi, karena ia harus fokus mengasuh anak. “Karena kafe itu bisnis keluarga jadi saya gak jalan, mereka juga gak jalan, karena memang mengandalkan saya. Akhirnya kita tutup. Namanya Royal Cafe. Di daerah Cengkareng, Jakbar,” tutur ibu dari 3 anak.

Selepas usaha kafe, Icha tak mau lama-lama menganggur. Ia memutar otak dan mulai berfikir bahwa bekerja itu harus fokus dan benar-benar konsen. Ia kemudian ambil keputusan untuk mandiri. Kebetulan sewaktu bekerja dulu ia mempunyai tabungan, yang mana uang itu lalu dibelikannya rumah.  Otak bisnisnya terus bekerja, rumah itu dikontrakkan, sedang Icha memilih mengontrak sebuah ruko (rumah toko) yang niatnya akan digunakan sebagai tempat tinggal sekaligus tempat usaha.

“Meski saya juga bingung rukonya mau dibikin apa, tapi pikir saya pokoknya mau bisnis, gitu. Akhirnya ya udah kita buka titipan kilat, lalu lantai dua mau warnet. Saya sama anak di lantai tiga. Tapi saya mikir kalau warnet incomenya lama. Kita juga ribet. Akhirnya, saya mikir, saya kan suka perawatan, akhirnya saya buka perawatan kecantikan di lantai dua,” jelas wanita yang memulai karir bisnisnya di usia 28 tahun ini.Untuk modal awal usahanya ia meminjam dana Rp 30 juta dari bank. Uang itu dipakainya untuk merenovasi lantai dua bangunan ruko, misal, untuk ruang perawatan kecantikan, bathtube dan lain-lain. Akhirnya, pada tahun 2008 berdirilah usaha bisnis perawatan kecantikan miliknya dengan nama Bambu Spa.

Dalam waktu singkat, lewat kabar dari mulut ke mulut nama Bambu Spa mulai dikenal orang. Pelanggan mulai berdatangan. Sampai akhirnya ada beberapa yang kemudian minta buka di tempat lain, Tapi, Icha belum berani memnuhi permintaan tersebut. Karena ia merasa masih baru, belum kepikiran melakukan franchise. Lagi-ula ia ingin memperkuat urusan internal dulu agar memiliki tim yang solid. “Tapi, saya sudah mengurus ijin legalitasnya,” papar Icha.Seiring waktu, saking banyaknya permintaan, Icha akhirnya membuka satu cabang di Moderland. Lalu, di tahun 2012 karena banyak yang minta buka, akhirnya ia belajar cara franchise, dengan cara mengikuti pameran franchise tahun 2013. “Akhirnya Bambu Spa ini  dikenal dari mulut ke mulut. Banyak media meliput karena kita unik pijat dengan bambu,” ujarnya.

Berikutnya, di tahun 2016 ia ikut pameran lagi dan sekarang, di bulan November 2017 ini ia pun membuka 2 cabang lagi di Tebet, Jakarta dan di Surabaya. Total cabang yang dimiliki sekarang ada 16 cabang, dengan jumlah karyawan keseluruhan mencapai sekitar 200-an orang. “Kita selalu menerapakn sistem kekeluargaan. Kalau mereka ada masalah itu juga bagian dari permasalahan kita.Setiap karyawan/ti berulang tahun, kami merayakan dengan potong kue bersama dan sekali – sekali refreshing dengan nyanyi – nyanyi, ”  tuturnya.

Salah satu poin plus yang dimiliki Bambu Spa yaitu, menyediakan spa dengan menggunakan bambu asli. Mengapa menggunakan bambu? Karena bambu bisa menyimpan panas dengan baik, sehingga kehangatan yang diperlukan pada saat spa bisa diperoleh dengan maksimal. Selain itu spa dengan menggunakan bambu ini dipercaya dapat membakar lemak serta menipiskan selulit yang merupakan salah satu masalah bagi para wanita pada umumnya.

Karena bambu mengandung magnesium dan selsium. Kedua zat ini sangat berguna untuk menghaluskan kulit dan membantu mobilitas lemak yang ada pada tubuh, sehingga partikel lemak yang sudah menebal bisa perlahan-lahan menipis. Keunggulan lainnya adalah bahan alami dari bambu yang mudah menyerap racun atau polutan dalam tubuh dengan cepat. Tentunya bambu yang digunakan bukanlah sembarang bambu, namun merupakan bambu yang muda yang diolah khusus untuk kecantikan dan aman untuk tubuh.

Selain itu Bambu Spa memiliki beberapa treatment unggulan yang sangat digemari oleh pelanggan setia Bambu Spa dan hasilnya telah terbukti 100% dari survey kepuasan pelanggan. Beberapa treatment unggulan tersebut diantaranya: Bust Treatment, yaitu perawatan pada bagian payudara dengan menggunakan minyak bulus yang diproduksi sendiri dan sudah terkenal ampuh khasiatnya untuk mengencangkan serta membesarkan payudara atau bagian tubuh lainnya seperti bokong. Treatment ini juga dipercaya dapat mencegah terjadinya kanker payudara.

Selain itu, Bambu Spa memiliki Slimming Treatment dengan menggunakan slimming machine yang bukan hanya berfungsi untuk mengencangkan serta menyusutkan bagian-bagian tubuh tertentu, namun juga terbukti membuat kulit semakin halus dan bersinar.

Ditanya soal promosi Icha menjelaskan bahwa dirinya tak ada promosi khusus, paling pihaknya mengikuti pameran, even-even, yang kemudian di even tersebut memberikan semacam ujicoba rileks dengan bambu. Selain itu, pihaknya juga bekerjasama dengan pelatihan-pelatihan yoga. “Kita juga pernah kerjasama dengan perusahaan broadcast besar di Indonesia, di situ kita kasih pijat bambu untuk semua karyawan dan juga direksi-direksinya, dan dari satu media meliput kami sekarang hampir semua media termasuk media TV ikut meliput. Sebulan sekali kita pasti ada liputan dari media,” ungkap Icha.

Menurut Icha, semua usaha pasti ada kendala, termasuk usaha yang digelutinya sekarang, misal soal karyawan. Menurutnya, ia sudah mendidik karyawannya bagus tapi ketika si karyawan menikah lalu punya anak, otomatis ia keluar dari Bambu Spa. “Itu yang paling sering saya alami,” ujarnya. Kendala lain, saat awal-awal berdiri ia harus meyakinkan orang-orang bahwa spa ini seperti apa, bukan spa plus – plus. Lalu bagaimana melewati birokrasi dan lain-lain.

Ditegaskan Icha, dengan membuka Bambu Spa ia ingin spa lovers bangga bahwa kita punya brand Indonesia, asli Indonesia. Mereka bangga jika melakukan spa ke tempat kita. Itu visinya. Sedang misinya ialah kepuasan pelanggan itu nomor satu.

Menurutnya yang membedakan Bambu Spa dengan usaha lain yang sejenis ialah ia mempunyai slimming treatment, Bambu Spa mempunyai mesin kapsul yang bisa bikin tubuh menjadi ideal.

Treatment pertama akan menimbang dan mengukur, ketika mereka keluar dari kapsul akan terlihat perubahannya. “Itu best seller kita. Ini berbeda dengan slimming centre lain, dan Brand Indonesia yang ada cuma di Bambu Spa,” terang wanita yang. sekarang menjadi Ketua Promosi da Kelembagaan di Lembaga Sertiifikasi dan Kompetensi Spa Nasional (2017-…).

Dijelaskan lebih jauh oleh Icha bahwa perawatan spa itu juga ada spa wajah, selain slimming spa. Jadi spa itu identik dengan perawatan.

Spa singkatan dari air, spa artinya spectrum pro aqua. Sementara, spa yang ada di sekitar itu kebanyakan cuma messege dan refleksi. Padahal, spa itu artinya penyembuhan melalui air, maka setiap spa meninal harus ada berendam dan steam.

Terang wanita yang katanya masih memiliki obsesi lain dalam karir bisnisnya tapi itu masih rahasia. “Kita ada 2 proyek lagi tapi masih off the record. Kita juga terus mencari tahu ke depannya ada perkembangan apa, terutama di bidang kesehatan dan kecantikan,” ujarnya.

Perihal kompetitor, Icha hanya berujar singkat bahwa ia hanya bersyukur karena Tuhan pasti telah mengatur semuanya, dan soal peran pemerintah Icha menilai pemerintah sangat mendukung dengan adanya even-even pameran bagi usahanya ini. “Bahkan saya diberi booth gratis dalam satu even pameran,” ujar wanita yang hobi jalan-jalan dan suka suasana pegunungan ini.[]

FITRIYANTO

No Comments

 

 TAK USAH BANYAK TEORI LAKUKAN SAJA

 

Setelah 3 tahun di Cibitung timbul kesadaran ingin mengubah hidupnya. Kesadaran itu muncul karena ia melihat atasannya yang telah sekian tahun bekerja hanya begitu-begitu saja. Fitri tak mau seperti itu. Tekadnya bulat ingin bangkit dan mengubah nasib. Walhasil, mulai saat itu Fitri  giat membaca buku kisah-kisah orang sukses

Terlahir di Purbalingga dan sukses di ibukota. Itulah sosok Fitriyanto, owner PT Vitechindo, Jakarta.  Petualangannya di Jakarta dimulai setelah lulus SMA di tahun 1992, ia mengadu nasib ke Jakarta. Sebenarnya saat itu Fitri (demikian dipanggil) mendapat jalur undangan mahasiswa baru di Universitas Muhammadiyah Malang, tetapi karena terbentur soal biaya ia tak bisa memenuhi undangan tersebut, dan akhirnya memutuskan ke Jakarta.

Meski ada family di Jakarta, Fitri memilih hidup mandiri. Ia mengontrak rumah sederhana di pinggir kali Ciliwung selama hampir 2 tahun. Untuk memenuhi kebutuhan hidup Fitri bekerja apa saja, yang penting bisa mendapat penghasilan, begitu konsepnya. Salah satunya Fitri pernah kerja menjadi kuli bangunan selama 4 bulan.  Selesai kuli bangunan ia menemukan jalan mendapat kerja yang lebih baik lantaran saat ia mengerjakan bangunan itu pemiliknya seorang manager di PT Nasional Gobel.  Di hari terakhir pembangunan, Fitri ditawarkan bekerja di PT Nasional Gobel. Tawaran itu tentu saja disambut suka-cita oleh Fitri. Singkat kata, ia mengikuti tes penerimaan karyawan di PT Nasional Gobel, Alhamdulillah Fitri lulus, lalu kerja kontrak selama 3 bulan, kemudian kontraknya diperpanjang hingga  6 bulan kemudian ia diangkat menjadi karyawan tetap. Lalu 6 berikutnya diangkat menjadi supervisor dan dipindah ke Cibitung. “Waktu itu saham Nasional Gobel dari Jepang jadi namanya bukan Nasional Gobel lagi tapi PGCOM (Panasonic Gobel Electronic Component). Di Cibitung itu sebagai divisi produksi speaker, minicompo. Saya di situ 3 tahun,” tuturnya.

Saat libur kerja di hari Sabtu-Minggu ia mendatangi toko-toko buku, bukan untuk membeli buku tapi membaca buku langsung di toko buku tersebut. “Jadi saya gak beli. Saya baca kemudian saya beri tanda halamannya, saya tinggal sebentar kemudian balik lagi untuk meneruskan membaca. Kalau membaca langsung satu buku saya ndak enak,” kenangnya. Dari beberapa buku biografi orang sukses yang dibaca Fitri memetik pelajaran ternyata orang sukses itu rata-rata berlatarbelakang marketing. Dari situ timbul keinginannya untuk mencoba menjadi sales. Kemudian, ia resign dari kerjaan.  Langkah selanjutnya Fitri melamar kerja di PT Dua Tang. Ia diterima sebagai canvas spreading. Nah, disini permasalahan muncul. Ia tak memiliki SIM karena syarat menjadi canvasser harus memilik SIM.  Untuk mengurus SIM Jakarta ia tak bisa lantaran KTPnya saat itu masih KTP daerah. Akhirnya Fitri menghubungi familinya yang saat itu kebetulan menjadi Ketua RT di Ciracas, Jakarta Timur. Ia ingin numpang sebagai anggota keluarga familinya supaya bisa membuat KTP Jakarta.

Tapi sang famili tak langsung menyetujui niat Fitri. Alih-alih membantu mengurus KTP Fitri, familinya malah memberi masukan jika Fitri mau hidup di Jakarta ia harus mengurus surat pindah dan bikin KTP Jakarta secara resmi, jangan lewat jalan pintas. Saran itu dipikirkannya hingga 2 hari, sampai akhirnya Fitri bulat memutuskan akan tinggal di Jakarta, hidup mati di Jakarta. Lalu Fitri berkomunikasi dengan orangtua di kampung.  Sang ibunda ternyata tak mengijinkan Fitri tinggal di Jakarta, karena Fitri merupakan anak bungsu dari 5 bersaudara di keluarganya dan satu-satunya anak yang merantau ke Jakarta. Tapi tekad Fitri sudah bulat. Ia berfikir kalau nantinya tak betah di Jakarta ia  akan balik lagi ke daerah. Saat itu Fitri hanya minta doa dari ibu agar saya selalu sehat dan sukses di Jakarta. Persoalan pun teratasi dan Fitri diterima bekerja di PT Dua Tang (1995). Namun sayang, ia hanya bertahan 3 bulan, dan kemudian pindah kerja ke perusahaan coklat Silver Queen. “Dari PT Dua Tang saya banyak mendapat pelajaran dan banyak memiliki data konsumen.

Itu yang menjadi bekal saya di perusahaan selanjutnya,” katanya. Di perusahaan Silver Queen ia bekerja selama 1 tahun di bagian marketing juga. Tapi karirnya lumayan meningkat, dari canvasser kemudian meningkat menjadi TO, yakni memeriksa order ke toko-toko. Berikutnya naik lagi memegang divisi untuk supermarket (Ramayana, Hero, Goro). “Saat itu sya masih tinggal di pinggiran Ciliwung dekat pintu air Manggarai. Jadi kalau pintu airnya ditarik, tanahnya akan longsor. Saya dulu pernah mengalami peristiwa itu di jam 2 pagi,” kenangnya.

 

Satu tahun di Silver Queen, Fitri pindah kerja lagi ke perusahaan coklat juga. Kali ini ia dipercaya memegang order ke pasar-pasar dan ke usaha pembuatan donat home industry. 3 bulan di perusahaan tersebut ia pindah lagi, kali ini ia masuk ke bidang otomotif. Boleh dibilang inilah babak baru dalam hidupnya, karena dari sinilah ia mulai “bermain” otomotif. Berkarir di dunia otomotif. “Kebetulan bos saya itu lulusan S2 dari Jerman seangkatan dengan Pak BJ Habibie. Di situ saya menempa ilmu selama 5 tahun. Itu kimia otomotif (chemical), seperti pembersih untuk tune up, bikin air aki, carburator cleaner. Saya di bagian marketing. Di situ saya ditempa oleh gurunya, diajari dari dasar lagi tentang marketing,” tuturnya. Nah, dalam rangka mereguk ilmu dari sang Bos, Fitri rela di hari libur kerja Sabtu-Minggu tetap meeting dengan bosnya. Ia belajar. Sang Bos juga bilang kalau dirinya nanti keluar dari perusahaannya, jangan jadi marketing lagi, tapi jadilah pengusaha. Ada omongan sang Bos yang diingatnya yakni jangan melihat perusahaannya tapi lihatlaht pribadinya. Ketika hendak menjual produk juallah diri kita dulu, produk nomor dua. Intinya, sebelum melangkah keluar kantor, perbaiki diri kita dulu, penampilannya,

Setelah 5 tahun bekerja Fitri pindah kerja lagi. Masih di dunia otomotif dan pemiliknya juga lulusan S2 Jerman juga. Kemudian, bak kutu loncat, satu tahun berikutnya ia pindah kerja lagi ikut seseorang yang juga lulusan Jerman, dan mengabdi selama 4 tahun sampai 2007. “Yang terahir ini bos saya stay di Jerman, di sini saya yang ngurusin, dari mulai impor sampai ke pasar saya yang urus. Dari situ saya benar-benar mulai dari nol. Sampai akhirnya saya bisa masuk ke ATPM,” ujarnya. Sedikit kilas balik, Fitri mengingat pertama dulu bekerja di bidang otomotif di PT Prima Gandareksa, yang sampai saat ini masih ia ingat dan sangat berterimakasih pada pimpinannya. Karena, di perusahaan itu dirinya benar-benar ditempa. Sampai pernah ada kejadian yang membanggakan sekaligus mengecewakan mantan pimpinannya itu -yang sebenarnya beliau juga bangga-, dimana suatu saat ada tender di ATPM, lalu dirinya bersaing dengan mantan bosnya itu  yang mana akhirnya tender itu dimenangkan oleh Fitri. Mantan bosnya itu mengacungkan jempol untuknya karena merasa bangga anak didiknya sukses menerapkan ilmu yang diberikannya dulu..

Menurutnya, semua memang harus ada perjuangan, tak ada kesuksesan tanpa perjuangan, dan baginya perjuangannya justru di lima tahun pertama dulu saat ia pertama mengenal dunia otomotif. Berikutnya, di lima tahun perusahaan terakhir dimana pimpinannya waktu itu hanya sebagai pemodal dan tinggal di Jerman, ia singlefighter mengelola di sini. Tahun 2007 Fitri resign dari kantornya yang terahir, karena ia berfikir sudah cukup mampu untuk berkarya sendiri. Menurutnya, ia sudah lama cukup lama kecimpung di dunia otomotif, dari tahun 1997 hingga 2007. Jadi, ketika resign tinggal melanjutkan saja, karena market sudah terbentuk.

Tahun 2015 petualangan baru dimulai. Saat itu ia melihat kendaraan roda dua mulai memakai sistem injection. Kemudian, bersama seorang rekannya Fitri mencoba membikin sebuah produk injection cleaner dengan brand SR 15, singkatan dari nama anaknya Sahrul Ramadhan yang lahir tanggal 15 Oktober. “Saya bikin yang simpel, karena kalau brand itu gak usah yang susah-susah, gampang diingat,” ujarnya. Sementara nama perusahaannya yakni PT Vitechindo, itu pun dari nama Virsa Teknologi Indonesia, Virsa itu dari Vira Sahrulah. Menurutnya, ia belajar dari orang Cina dan Jepang yang selalu memberi merk dagang dari nama orang atau nama alam. Perusahaannya berdiri tahun 2007. Awalnya ia memakai nama CV Virsa kemudian ketika kerjasama dengan ATPM harus memakai PT, karena CV bersifat seperti home industry, akhirnya ia bikin PT Vitechindo Perkasa (2007) dengan modal awal 25 juta.

Dijelaskan Fitri, PT Vitechindo punya brand antara lain Autofit itu yang bermain di pasar ATPM. Lalu ketika di tahun 2015 ia melihat model injection ia luncurkan lagi brand SR 15. Sementara nama Virsa kini dipakai untuk usaha travel yakni  PT Virsa Cita Wisata,  membawahi umroh. Selain itu, ia punya lagi PT Mitra Virsa Teknika, usaha bodyrepair kerjasama dengan PT Astra. Ada lagi CV Profit, yang ini supplier. Juga ada Yayasan Al Maidah, bergerak di bidang keagamaan, punya TPA dan TK. Kalau bengkel motornya bernama Virsa. “Tapi, kita sekarang fokus ke SR 15,” ujarnya.

Menurutnya, sejak tahun 2013 para produsen motor sepakat model injection menjadikan peluang baginya menciptakan injection cleaner, dan sekarang yang memegang marketnya adalah SR 15. Teknologi sekarang, jelasnya, motor injection itu jika servis harus menggunakan Injection Cleaner, kalau tidak menggunakan SR 15 namanya pembodohan pada konsumen. Injection tidak bisa disemprot dengan carburator cleaner, harus pakai injection cleaner SR 15. Produk ini sudah formulasinya sudah tepat dan pihaknya selaku produsen SR 15 sudah mendapat sertifikat dari ITS. Fitri yakin produknya bakal booming, karena motor sekarang sudah injection semua.

Saat ini produknya sudah ada SR 15, Autofit IT, Pro Fit 72, SL 99, dimana pihaknya tinggal bermain di masalah harga saja. Kalau kualitas, jelas SR 15 unggul karena produk pertama, dan saatb ini sudah menjadi market leader di produk sejenis. Fitri bangga karena brand SR 15 hasil ciptaannya. “Suda sejak 2007 saya bermain di bidang ini, cuma dulu di mobil BMW dan Mercedes, itu mobil injection. Kita sebagai marketing memang harus tahu seluk beluk semuanya, termasuk tahu dapurnya kompetitor juga. Kalau ibarat perang kita siap tinggal atur strategi aja,” ungapnya.

Visi misi

Disinggung soal visi-misi Fitri menjawab simpel ia ingin mengurangi pengangguran, menciptakan lapangan pekerjaan dan selama bisa berkreasi akan terus berkreasi. Paling tidak, tegasnya, sebaik-baiknya manusia itu yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Ia akan terus lakukan sesuatu yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Soal profit urusan belakangan. Menurutnya, kalau kita bekerja dengan benar profit akan datang sendiri. Jadi, bekerja itu jangan menghitung profit dulu, artinya kalau mau membuka usaha jangan menghitung untung-ruginya dulu. Ciptakan dulu satu produk yang bermanfaat, jangan belum memulai sudah tanya untungnya berapa. “Yang jelas visi kita bagaimana nantinya Autofit dan SR 15 menyebar di semua bengkel. Sampai bengkel terkecil pun ada produk saya,” harapnya.  Soal kompetitor ia melihat kompetitor produknya adalah barang impor. Dan yang namanya produk impor pasti harganya mahal. “Bos saya pernah bilang di Indonesia itu sebenarnya ada bahan dari A, B, dan C, nah saya menggunakan bahan B dan C menghasilkan A. Saya diajarkan begitu. Otomotif memang yang diakui dari Jerman, dan saya masih memakai base-nya dari Jerman, masih impor. Di kita gak ada, bahannya gak ada. Kita cari di toko kimia juga gak ada. Sebenarnya saya juga bisa bikin yang dari bahan dasar lokal, tapi hasilnya gak dahsyat. Bahasanya begitu,” tandasnya.

Nah, karena pesaingnya adalah produk impor, pihaknya bersaing di masalah harga. Soal harga, menurutnya, jauh berbeda. Produk impor harganya Rp 50 ribu, sedang produk perusahaannya cuma Rp 28.000 dengan kualitas yang sudah teruji di bengkel-bengkel. Fitri memang lebih fokus pada produk SR 15. Ia yakin produk ini bakal mendunia, karena kendaraan roda dua sudah injection semua. Sekarang tinggal bagaimana pihaknya mengedukasi mekanik-mekanik, karena kebanyakan mekanika di sini otodidak yang awalnya hanya ikut-ikut menjadi kenek di bengkel. Kalau yang menngajari salah ke bawahnya akan salah juga.  Hal itu menjadi tanggungjawabnya untuk mengedukasi. Ke depannya ia akan mengadakan pelatihan mekanika gratis. “Kita sudah pernah lakukan pelatihan untuk SR 15 ke SMK, dan yang sekarang sedang jalan pelatihan di LP Salemba, Jakarta. Hal tersebut merupakan rencananya ke depan. Ia ingin para mekanik mengerti cara melayani kendaraan customer dengan baik dan semestinya, karena sekarang banyak bengkel yang cuma semprot-semprot bersihkan mesin kendaraan.

Menurutnya, pabrik motornya sendiri memang tak pernah menciptakan produk semacam SR 15. Tapi ketika ia menciptakan produk tersebut, piha pabri menerima juga. Karena pabrikan memang mengatur dalam kurun 5 tahun motor injection harus ganti, sedang produknya SR 15 justru memperpanjang umur kendaraan. Dijelaskan Fitri,  yang namanya pembakaran pasti meninggalkan residu, sedang lubang injection itu 0,01 micron. Nah, itu yang dibersihkan oleh produknya. Dengan adanya SR 15 mesin motor tertolong dan powernya juga berbeda. “Kita sudah diuji di lembaga resmi sudah lolos dan salah satu merek motor Jepang sudah pakai Autofit di bengkel-bengkel resmi mereka,” tambahnya.  Di perusahaannya kini ada 30 karyawan yang dibinanya. Fitri menegaskan, ia membina mereka untuk sukses bersama. Istilahnya kalau mereka bisa membuka bisnis di sebelah bisnisnya Fitri malah senang. Jadi malah bisa bersaing. Orang-orang marketingnya justru distributor produknya. Mereka berkantor di perusahaan Fitri. Tiap s jumat selalu ada meeting, dimulai setelah pengajian rutin jam 8.00-9.00, kemudian dilanjut sholat jumat bersama. Sebagai pimpinan Fitri tak pernah menjaga jarak dengan bawahan. Semua berjalan cair dan familiar. Soal dukungan pemerintah, Fitri melihat pemerintah sangat mendukung usaha seperti bisnisnya. Sepanjang mengikuti aturan pemerintah semua pasti berjalan baik, tak ada kendala. Yang penting ikuti aturan pemerintah pasti tak ada kendala, tegas Fitri.

Sukses yang diraihnya saat ini memang buah kerja kerasnya. Namun, untuk ke depannya iapun tak kaku mewajibkan anak-anaknya menjadi penerus. Menurutnya,  siapapun yang mau meneruskan tidak harus keturunannya. Ia menekankan pada anaknya, kalau nanti sang anak lulus kuliah, jangan langsung kerja dengan dirinya. Cari kerja sendiri. Kalau sudah mampu silahkan bergabung di perusahaan sang ayah. “Kalau belum mampu, jangan. Karena saya pelajari, usaha di Indonesia itu biasanya jatuh di generasi kedua. Karena biasanya ketika ayahnya sukses, anaknya belum siap. Anaknya biasanya cuma terbiasa meminta, jiwanya belum siap. Tidak memulai dari bawah,” tuturnya.  Menutup pembicaraan Fitri menyampaikan pesan, kalau ingin terjun menjadi entreupeneur selama itu positif lakukan saja. Tak usah mikir, tak usah banyak teori, lakukan saja. Gagal itu biasa, jangan ditakutin. Kalau gagal kita pasti belajar. “Bagi saya, kuliah itu cuma buat wacana, karena kebanyakan lulusan kuliah bekerja tak sesuai dengan jurusan kuliahnya. Saya omong kepada anak, kuliah itu cuma untuk mendapatkan pengakuan selembar ijasah,” ujar pria yang memiliki dua anak, Safira Liviana (19 tahun) dan Sahrul Ramadhan (13 tahun).

Fitri melihat orang-orang sukses itu kebanyakan bukan dari latarbelakang pendidikan tinggi, tapi dari semangat ingin maju, bertanggungjawab dan jujur. “Dan, prinsip orangtua saya memang harus jujur. Jangan malu melakukan apapun asal bukan mencuri. Saya sedniri saat pertama kali merantau tak membawa apa-apa kecuali sarung, peci, dan tasbih. Cuma saya pegang teguh nasehat orangtua soal kejujuran,” ungkap pria yang menikahi gadis Betawi bernama Lihardiana di tahun 1998 ini.[] (baguspram)

Hermansyah Ahmad Gumri 

No Comments

Hermansyah Ahmad Gumri 

PT TRAVELATAYA MANDIRI UATAMA

 

 

Sulung si Pengangkat Derajat Orangtua

Hermansyah Ahmad Gumri,  sulung kelahiran desa Kuala enok Pekanbaru ini telah menjelma menjadi pengusaha muda sukses di bidang travel. Terlahir dari keluarga biasa saja dimana ibu hanya berprofesi sebagai pedagang kue dan bapak sebagai nelayan, Hermansyah – begitu ia disapa mengaku tak menyangka bisa mencapai titik kesuksesan ini. Ia pun sejak kecil dikenal berprestasi. Bagaimana tidak, sejak sekolah dasar hingga sekolah kejuruan Hermansyah mendapatkan tunjangan beasiswa. Meskipun begitu, hal tersebut tak menjadikannya besar kepala. Ia bahkan kala itu tak sungkan untuk ikut berjualan menjajakan dagangan sang ibu.

“Sesusah apapun hidup kita  tidak boleh mengeluh bahkan meminta-minta,” nasihat sang ayah kepada Hermansyah. Maka ia pun berprinsip untuk mandiri dan pantang menyerah dalam segala situasi. Memang cita-cita yang ia miliki untuk mengangkat derajat keluarga sekaligus membahagiakan keluarga sangatlah berkobar sejak ia masih belia. Oleh karena itu, hampir-hampir ia tak memiliki masa kecil bermain bersama teman sebaya sebab waktunya telah diisi Hermansyah untuk bekerja membantu orangtua membiayai kedua adiknya. Kendati demikian, ia sangat bersyukur dengan keadaan tersebut sebab tidak semua orang memiliki pengalaman tempaan yang membentuk dirinya seperti saat ini.

Sebagai anak pertama ia lebih mementingkan pendidikan adik-adiknya ketimbang dirinya sendiri. Maka dari itu, selepas lulus sekolah menengah kejuruan (SMK) dengan jurusan perkantoran ia pun memutuskan untuk bekerja sebagai penopang kebutuhan. Ia pun akhirnya diterima di bank swasta. Cukup lama Hermansyah mencicipi dunia perbankan hingga sempat berkelana berganti-ganti bank swasta, hingga akhirnya ia pun tergugah untuk berdiri di kaki sendiri dengan membuat usaha pariwisata ini.

Sejarah PT TRAVEL ATHAYA MANDIRI UTAMA

Berawal dari hobinya untuk jalan-jalan, maka muncullah ide untuk membuat Biro jasa pariwisata (travel) sendiri. Tanpa pengalaman dibidang pariwisata sama sekali akhirnya pada tahun 2014, berdirilah CV. ATHAYA SOLUSINDO yang bergerak di bidang PPOB, ticketing sampai tour-tour wisata. Seiring dengan berjalannya waktu, setahun kemudian mulailah membuka jasa perjalanan haji dan umroh. Semua pun berawal dari keinginan sederhana ingin memberangkatkan haji kedua orangtua dan keluarganya hingga memiliki keinginan untuk membawa kembali tamu-tamu Allah ke Baitullah. “Jika memang diizinkan tolong lancarkan usaha ini jika tidak berhentikan saja,”  ucap Hermansyah sesampainya di Baitullah untuk bermunajat kepada Allah.

Hingga detik ini ridho dan berkah dari Allah terus mengalir, sukses di pemberangkatan pertamanya Departemen Agama pun langsung merekomendasikan CV ATHAYA SOLUSINDO ini untuk ditingkatkan menjadi sebuat Perseroan Terbatas. Maka terbentuklah PT. TRAVELATAYA MANDIRI UTAMA, Hermansyah  pun menjelaskan filosofi dari nama itu sendiri. “Apabila disingkat PT. TRAVELATAYA MANDIRI UTAMA itu menjadi TAMU, seperti yang saya bilang tadi ingin membawa tamu-tamu Allah sampai ke Baitullah,” jelasnya dengan senyuman. Selain itu kata Athaya sendiri yang merupakan putri pertamanya memiliki artian hadiah, maka ini dimaksudkan sebagai hadiah perjalanan. Visi dan misi yang berlandaskan ketulusan ingin membawa jamaah sebanyak-banyaknya ke rumah Allah. Mengapa demikian? Sebab telah kita semua ketahui dewasa ini untuk menunaikan ibadah haji diperlukan biaya yang cukup mahal sehingga diperuntukkan bagi golongan menengah ke atas. Lain hal dengan perjalanan haji dan umroh yang Hermansyah hadirkan, ia menyasar golongan menengah ke bawah sebagai pangsa pasarnya. Kendati harga yang ditawarkan cukup murah dan dapat dijangkau oleh masyarakat kalangan menengah ke bawah, Hermansyah tentu tetap mengutamakan failitas yang unggul. “Harga masyarakat, fasilitas pejabat,” begitu motto yang ia lontarkan dengan sumringah.

Hermansyah mengaku tidak semudah membalikan telapak tangan untuk membangun perusahaannya ini. Hermansyah telah melewati banyak aral yang melintang. Bahkan sejak perjalanan pertama memberangkatkan haji dan umroh konsumen hingga kini ia selalu terjun langsung dan tidak ada satupun jamaah yang mengenalnya sebagai direktur utama, mereka hanya mengenal Hermansyah sebagai karyawan saja. Hal itu bukan tak beralasan, sengaja ia melakukannya sebab tujuannya hanya satu untuk mengantarkan tamu Allah yang menjadikan berkah tersendiri. “Semua air mata perjuangan telah berganti dengan air mata kebahagiaan,” ungkapnya. Sebab usaha tidak pernah membohongi hasil.

Program-program yang ditawarkan pun beragam demi memenuhi kebutuhan kosumen yang kian berkembang. Program pertama yaitu bernamakan Gemuruh (Gerakan Umroh Murah Berkah dan Amanah) seperti yang telah dijelaskan tadi menyasar kepada masyarakat menengah ke bawah. Lalu program terbaru yaitu Pejuang Baitullah yang menerapkan sedekah umrah. Apa itu sedekah umrah? Sedekah umrah adalah bentuk sedekah dari para pengusaha-pengusaha untuk berpartisipasi membantu para calon jamaah yang berhak mendapatkannya namun tidak mampu dalam perihal biaya. Nah, para calon jamaah ini tentulah memiliki persyaratan khusus yaitu harus hafidz qur’an dengan dibuktikan terlebih dahulu. Banyak kompetitor yang mengecam bahwa langkah program yang Hermansyah ambil ini tergolong saat berani namun tetap ia balas engan membuktikan kini telah bisa memberangkatkan dua orang jamaah umroh ke tanah suci dengan program Pejuang Baitullah. Selain itu, ada pula program Syiar Baitullah yang lebih berkonsentrasi kepada edukasi bagi para calon jamaah perihal bagaimana cara memilih jasa travel yang baik dan tips-tips untuk berangkat haji maupun umroh. Semua itu terlepas dari pemasaran terselubung, pria yang mempunyai hobi berenang ini pun mengaku sama sekali tak masalah jika nanti bukanlah jasa travelnya yang dipilih sebab tujuan utamanya adalah agar para calon jamaah pintar dan mengerti bagaimana caranya.

Kiat dan Strategi Ala Hermansyah

            “Konsumen membeli paket yang manapun mau yang kecil atau besar, pelayanan tetaplah sama. Pelayanan tetap kosnsiten optimal,” begitu tandasnya. Tak jarang konsumen meragukan pelayanan sebab harga yang ditawarkan sebab sangat ramah di kantong. Ada pula konsumen yang mengatakan giro lain memasang harga yang lebih rendah. Semua respon positif hingga negatif ia tanggapi dengan senyuman. Sebab sebagaimanapun juga, konsumen adalah raja yang perlu dilayani dengan sepenuh hati terlepas dari kendala-kendala maupun masalah yang ada harus tetap melayani dengan optimal. Disanggah mengenai kompetitor, ia tak pernah ambil pusing perihal mereka. Banyak yang menyebar isu-isu terlebih karena harga miring yang Hermansyah tawarkan dengan dalih-dalih menyusutkan kepercayaan konsumen terhadap jasa giro miliknya. Ayah dari dua orang anak ini bersyukur sebab adanya kompetisi tersebut membuatnya semakin berkembang untuk mengaktualisasi diri menjadi yang lebih baik bersama PT. TRAVELATAYA MANDIRI UTAMA ini. Semua isu tersebut ia balas dengan tindakan nyata yang beimbas kepada konsumen-konsumen yang tetap loyal memilih jasa travelnya sebagai teman perjalanan ibadah ke tanah suci.

Obsesi yang ia emban saat ini adalah memberangkatkan haji sebanyak-banyaknya dengan kisaran ekspektasi 1000 jamaah. Untuk saat ini ia baru mencapai seperempatnya yaoiyu 250.000 jamaah yang telah ia berangkatkan. Perihal target sendiri, Hermansyah tidak pernah memiliki target. Mengapa demikian? Sebab baginya semua telah menjadi kehendak Allah Sang Maha Kuasa. Berharap hanya kepada-Nya tidak muluk-muluk dalam berbicara hasil, berkarya dan berusaha yang maksimal adalah kewajiban namun hasil biar Allah yang menentukan. Jika tidak, maka kita akan kecewa apabila hasil tak sesuai dengan keinginan. “Travel ini bukan milik saya, tetapi milik Allah. Kita hanya media yang menyalurkan niat baik tersebut melalui TRAVELATAYA ini dengan sepenuh hati,” jelasnya. Ia hanya berharap agar perusahaan ini dapat terus ada hingga ia menutup mata lalu setelahnya tetap eksis dengan dipegang oleh penerus berikutnya

Pesan untuk Pemerintah

            “Sebaiknya pemerintah itu peka terhadap bisnis travel-travel seperti ini terlebih yang start-up dalam hal perizinan dan sebagainya,” tandas pria yang memiliki hobi bernyanyi ini. Tak lain dan tak bukan, dalam perjalanan ibadah haji maupun umroh memang tidak pernah ditanyakan perihal memakai jasa travel mana hanya sekedar diperiksa tiket, visa, hotel, paspor dan lainnya. Sehingga kelegalan dari sebuah perusahaan pun tidak dapat dipertanggungjawabkan pula jika terdapat oknum-oknum yang menggunakan kesempatan tersebut sebagai hal yang tidak patut dilakukan. Dengan dikaruniai sepasang anak putra dan putri, ia telah menyiapkan untuk mengikuti jejaknya menjadi seorang pengusaha. Hermansyah memiliki prinsip bahwa anak-anaknya haruslah ber-mindset pengusaha bukanlah menjadi karyawan biasa sebab pengusaha memiliki pengaruh besar bagi negara dengan menciptakan lapangan kerja yang luas. Putri pertamanya pun sedang mempersiapkan bekal yang akan menjadi pondasinya yaitu dengan menjalani pendidikan bahasa Arab serta hafidz qur’an.

 

Generasi Muda: ‘Kita Sendiri yang Tentukan Warnanya’

“Hidup itu dilalui juga harus dinikmati. Karena hidup itu penuh warna, maka kita sendiri yang tentukan warnanya ingin seperti apa,” kata Hermansyah penuh arti. Perjalanan panjang dan usaha keras dibarengi ikhtiar kepada Yang Kuasa pun wajib. Hermansyah pun memiliki pesan bagi generasi muda yang tengah menjadi jati diri. Pertama, apapun yang diminati ataupun menjadi hobi cobalah untuk dijadikan penghasilan. Hobi yang dibayar, siapa yang menolak? Dengan begitu, pekerjaan pun akan dikerjakan sungguh-sungguh dan optimal sebab kita mencintainya. Setelah itu, apabila telah sukses mencapai puncak tetaplah rendah hati dan jangan sombong. Semua  kesuksesan yang hadir pun atas izin Sang Kuasa. Apabila suatu ketika kesuksesan serta kemudahan yang telah ada direnggut seketika, kita tidak bisa apa-apa. Maka dari itu tetaplah membumi walau telah menggapai langit. “Tetaplah semangat, gali terus potensi dan minat yang dimiliki. Jangan pernah menyerah karena satu kegagalan berbuah seribu kemudahan,” ucapnya menutup pembicaraan.(mutiararizky)

Nurlaila

No Comments

Nurlaila

 PT Sembilan Jagad Pandhito

 

 

Jiwa Produktif Tak Pernah Padam

Nurlaila, lahir dan dibesarkan di wilayah timur Indonesia tepatnya Desa Monggo, Kec. Bolo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Putri dari hasil perkawinan pasangan Ibu Siti Mainah dan Muh. Said ini sukses menjadi nakhoda bagi perusahaannya di bidang container. Alih-alih menyukai mata pelajaran Biologi dan bercita-cita menjadi seorang guru semasa sekolah, namun ombak takdir membawanya menjadi seorang pebisnis handal.

Kesuksesan yang dimilikinya saat ini tidak datang dengan sendirinya. Sempat mengenyam pendidikan kuliah di jurusan Biologi, namun pada saat yang bersamaan dengan kondisi kesehatan sang ayah yang kurang baik maka ia memutuskan untuk terjun langsung ke dunia kerja. Orangtuanya saat itu mengutarakan keinginannya Nurlaila segera membangun rumah tangga, setelah itu menikahlah ia dengan seorang pemuda dan dibawa merantau ke Ibukota Jakarta. Karena pada saat itu suami sebagai seorang PNS golongan II dengan penghasilan kurang mecukupi. Akhirnya Nurlaila memutuskan bekerja untuk membantu biaya rumah tangga. Pertama bekerja masuk ke pabrik PT Kaos Kaki di kawasan Cakung, hanya bertahan satu bulan bekerja disana sebab merasa sistem kerja yang monoton. Setelah itu masuk ke perusahaan lain di bagian cutting atau Quality Control (QC) namun berujung sama hanya bertahan tiga bulan Nurlaila memilih hengkang dari pekerjaan tersebut.

Hingga suatu ketika ia masuk bekerja ke salah satu perusahaan korea yang bergerak di bidang garmen bernama PT. Thong Kyung. Ia pun diterima sebagai General Manager. Mempelajari hal baru, Nurlaila harus belajar dari dasar dari cara memotong bahan sampai dengan bagaimana cara melayani pelanggan. Ia pun mengaku bersyukur mendapatkan atasan bernama Mr. Hong yang sangat baik dan sabar membimbingnya dalam bidang pekerjaan yang baru digelutinya. Sebagai pemilik, Mr Hong sangat loyal dalam membagi ilmu dan mengajarkan setiap hal yang kurang dipahami oleh para karyawannya. Bagi Nurlaila pekerjaannya saat itu adalah tempat untuk memperoleh ilmu sebanyak-banyaknya. “Saya sangat bersyukur diberikan kepercayaan beliau untuk mengurusi perusahaan mulai dari menerima buyer, mengecek produksi, mengekspor barang, dan merekrut karyawan,” jelasnya. Hal tersebutlah yang mendorong ia berani untuk berdiri di tanduk perusahaannya sendiri. Ia tekuni perkerjaan tersebut sekitar kurang lebih lima tahun dari tahun 1987 sampai 1992.

Setelah mendengar wejangan dari sang orangtua, Nurlaila memutuskan untuk vakum dalam dunia kerja dan mengurusi putrinya yang kala itu masih balita. Sebagai wanita karier, berdiam diri di rumah malah membuat ia bosan. Jiwa produktif masih membara dalam dirinya. Maka saat itu ia mendirikan toko kelontong untuk sekedar mengilangkan kebosanan sekaligus bisa mengurusi anak. Tak bertahan lama, selama dua tahun berjalan akhirnya Nurlaila menutup tokonya dan mencari peruntungan lain.

Setelah sang putri sudah dirasa cukup besar untuk ditinggalkan bekerja, ia mulai lagi terjun kembali ke dunia kerja. Memulai dengan menjadi makelar kredit barang-barang elektronik yang dibutuhkan oleh pabrik dan pengusaha. Tanah Abang dan Glodok adalah tempat dimana ia berbelanja pesanan customer. Modal yang ia keluarkan tergolong tidak terlalu besar dibandingkan dengan distributor pada masa sekarang yang telah luas jaringannya. Namun dalam hal perhitungan keuntungan, masih relatif sama. Pada saat itu terdapat salah satu pelanggan yang menunggak membayar nominalnya kala itu cukup besar senilai 50juta rupiah. Setekah diklarifikasi, akhirnya sang pelanggan meminta maaf dan mau membayarnya dengan sebuah rumah dengan catatan Nurlaila membayar lagi sekian rupiah untuk memilikinya.

Setelah resmi miliknya, rumah tersebut pun dikontrakan kembali untuk orang lain. Perkenalan dengan dunia container dan traktor pun dimulai ketika bertemu dengan orang yang menempati rumahnya tersebut, ia mengusulkan untuk membuat usaha dengan membeli sebuah mobil trailer. Karena kala itu kebetulan biaya ekspor masih murah dan bisa menggunakan mobil pribadi berjalanlah usaha MKL yang bertempat di Enggano, Tanjung Priok. Perjalanan hidup pun membawa Nurlaila bertemu dengan Pak Sudi pemilik PT MPK (Mandiri Pita Khatulistiwa) yang merupakan cikal bakal perusahaannya saat ini. Di PT MPK tersebut Nurlaila menjadi Komisaris mengurusi bagian keuangan dengan pembagian saham 60% dan 40% dari hasil perusahaan. Dengan adanya dua kepemimpinan tersebut pastinya mempunyai ego dan pemikiran yang berbeda. Baginya, pengelolaan keuangan tersebut haruslah tertib sebab semua alat yang dipakai saat ini masih barang sewaan yang harus memiliki perhitungan yang matang namun rekan kerjanya memiliki pendapat yang berlainan bahwa bila keuntungan telah didapat langsunglah dipakai. Akhirnya berpisahlah mereka dan Nurlaila menjadi pemegang saham utama dan mendirikan perusahaan baru.

Harapan Kepada Pemerintah

“Kami sebagai pengusaha kecil itu sebenarnya adalah pejuang orang-orang susah,” ujarnya. Ia bercerita mengenai kebijakan pajak di Indonesia ini terlalu ketat, hanya telat lapor satu hari saja denda yang sekiranya cukup besar langsung turun denda selama satu bulan. Seharusnya pemerintah memberikan peringatan dan pemberitahuan terlebih dahulu, baginya sebagai pengusaha kecil cukup memberatkan dan merugikan. Namun untuk masalah perizinin, Nurlaila akui pemerintah telah melakukan peningkatan yang baik. Lebih mudah dalam mengurus perizinan dan yang paling penting tidak adanya pungli karena ketegasan pemerintah. Serta jangka waktu perizinannya yang lebih lama, jika dahulu setiap tahun harus diurusi namun sekarang lima tahun sekali.

Perihal penerus perusahaan yang ia rintis ini, Nurlaila telah menyiapkan putrinya Nurpitasari yang saat ini sedang berkuliah S2 Bisnis. Telah dilatih dengan memberikan beberapa tugas yang dapat Nurpitasari lewati, terlihat jika ia mulai menjiwai serta tekun menjalankannya. Terlebih sudah mempunyai bekal pendidikan yang tentunya memiliki pemikiran yang matang untuk meneruskan tampuk kepemimpinan di PT Sembilan Jagad Pandhito. Dalam mendidik anak, Nurlaila tidak pernah berlebihan dalam memberikan kebutuhan materi. Memupuk jiwa berbagi dan peduli kepada sesama terlebih kepada orang-orang yang tidak mampu.

Pesan kepada Penerus Bangsa

“Dengan susah, perjalanan yang agak pahit disitulah timbul ilmu ataupun pemikiran positif,” tuturnya bersemangat. Menurut kacamata Nurlaila, dewasa ini generasi muda sedikit memikirkan kesusahan dan banyak memikirkan yang mudah-mudah saja. Contoh kecil, berangkat sekolah atau beraktifitas inginnya diantar dengan kendaraan tanpa ingin tahu menahu bagaimana cara mendapatkan fasilitas yang menunjang kebutuhan tersebut. Lain halnya dengan dahulu, kerja keras yang lebih untuk sampai ke sekolah dengan berjalan kaki berkilo-kilo meter. Memang jaman telah berbeda namun kekuatan mental itu keharusan dalam mengarungi kehidupan ini.

Dalam dunia usaha, modal yang paling penting adalah kejujuran dan kekuatan mental harus siap jatuh bangun menanggung resiko yang menunggu di setiap langkah. Buang jauh-jauh pemikiran pesimis, bangun keyakinan bahwa Allah-lah yang akan selalu memberi kekuatan pada dirinya sehingga bisa dan mampu layaknya ungkapan yang sering terdengar ‘jika orang lain bisa, kenapa saya tidak?’. Tidak pernah mengeluh dalam bekerja karena pekerjaan baginya adalah hobi dan kantor adalah tempatnya menuangkan ide. Harus kuat menghadapi semua terjangan, memang sejatinya kekuatan itu bersumber dari Allah SWT namun harus dibangun pula dari dalam diri sendiri. Semangat Nurlaila untuk mendapatkan pendidikan tak pernah surut, kini ia menjalani pendidikan S1 Bisnis di Universitas Jayabaya. Belajar itu tidak ada habisnya bahkan sampai ke liang lahat pun tetap terus belajar. Walaupun ilmu sedikit yang dapat diambil dari pengalaman maupun membaca namun semuanya dapat diterapkan dalam bekerja. “Generasi yang akan datang, berpikirlah positif jangan berpikir segalanya dapat dihasilkan dengan instan,” begitu pesannya.

Ia pun berharap agar buku ini dengan berisi tokoh-tokoh profil yang ikut berkontribusi dalam memajukan negeri tercinta Indonesia bisa dijadikan contoh,  pembelajaran, dan motivasi bagi hal layak terutama generasi penerus. Menjadi gambaran bagaimana kiprah orang-orang sukses yang telah menggapai impiannya dengan usaha dan kerja keras, sebab sejatinya semua itu tidak pernah membohongi hasil.

Didiek Hendraleka

No Comments

Didiek Hendraleka – Direktur Utama Kumis Group

Tidak ingin Kaya, Namun ingin Hidup Bermanfaat

Didiek Hendraleka, pria kelahiran 12 Juli 1960 ini sukses menjadi nakhoda perusahaan besar di bidang General Contractor, Building Construction dan Transportation. Memulai usahanya pada tahun 2003, melihat berkembangnya kebutuhan akan transportasi dari masa ke masa, maka ia memutuskan untuk memisahkan bisnis Kontraktor dan Transportasi dengan mendirikan PT Kurnia Mitra Selaras (KUMIS) pada tahun 2010 yang fokus bergerak di bidang Logistic dan Transportasi. Bukan tak beralasan, Didiek – begitu ia disapa memilih bidang logistik, sebab menurutnya logistik merupakan bidang yang masih luas peluangnya untuk digarap.

Semua langkah besar bermula dari langkah kecil. Setapak demi setapak ia mulai mengarungi aral yang melintang, bermula dari perusahaan kecil melalui insting bisnis serta tangan dinginnya perusahaan berkembang pesat. Seiring dengan kegigihannya dalam membangun perusahaan, kepercayaan klien dan investor pun semakin bertambah besar. Tidak hanya menambah jumlah klien, investor yang share holder dengan perusahaan pun bertambah. Padahal, menurut Didiek yang dilakukannnya semata agar hidupnya bermanfaat dan karyanya dinikmati banyak orang. “Saya tidak langsung jadi, perlu waktu untuk sampai seperti sekarang. Kita pernah hidup dibawah sekali, sangat sengsara dan perlu perjuangan keras untuk keluar dari kondisi itu. Kita tidak ingin kaya, tetapi ingin hidup bermanfaat dan dinikmati orang banyak. Saya tidak takut apa yang saya miliki akan hilang karena itu hanyalah titipan. Itu sangat berat, kalau tidak punya apa-apa mungkin tidak berat,” ungkapnya.

Perjuangan dan usaha keras tak mengenal lelah berhasil Didiek tempuh dalam mendirikan perusahaan. Pasang surut perjuangan sejak tahun 2003 tersebut dilakukannya dengan penuh komitmen, tanpa memandang apakah yang dikerjakan akan berdampak kecil atau besar.  “Kita mendirikan Kumis Group ini tidak mudah. Penuh perjuangan dan komitmen. Untuk bisa seperti sekarang, kita melakukan perjuangan panjang sejak tahun 2003,” ungkapnya. Dengan menggunakan armada Wingbox guna mendukung skema Milkrun untuk menurut-supply komponen otomotif ke Pabrik Assembly Daihatsu dan dengan skema Regular yang melayani banyak pabrik komponen otomotif dan consumer goods, perusahaan semakin membesar dan melayani banyak pelanggan dari Cilegon sampai Bali.

Usahanya pun terus berkembang, pada tahun 2013 ia memutuskan untuk mendirikan PT Artindo Nusa Graha (ANG) yaang bergerak di bidang logistik untuk melayani pengiriman kendaraan ke pulau Jawa, Sumatra dan Bali. Armada yang dipilih sebagai keunggulan tersendiri adalah jenis armada Car Carrier, Tansya dan Single Carrier. Lalu, baru-baru ini pada tahun 2017 ia mulai merambah ke bisnis baru dengan mendirikan PT Kurnia Mitra Semesta Property (KUMIS PROPERTY) yang bergerak di industri pengembang property. Dengan banyaknya unit usaha dalam Kumis Group, Didiek harus piawai dalam membagi waktu untuk mengelola perusahaan. Maka dari itu, ia menciptakan sistem managemen yang memudahkan dirinya untuk mengontrol, mengendalikan dan memutuskan kebijakan perusahaan. Ditambah, Didiek sendiri masih terjun langsung melaksanakan tugas sebagai marketing bagi seluruh perusahaan miliknya. “Semua kebagian, karena saya selalu muter di setiap perusahaan. Tidak lama, kalau disini paling tidak saya tinggal selama dua jam. Nanti, saya akan pindah ke kantor yang lain, begitu seterusnya. Kita punya system yang sudah berjalan dengan baik. Saya juga punya banyak pekerjaan di luar yang harus ditangani karena perusahaan tidak memiliki marketing sehingga saya sendiri bertindak sebagai marketing perusahaan,” tandasnya.

Meskipun baru seumur jagung, unit usaha Kumis Group yang bergerak di bidang property ini telah berkembang pesat. Sambutan konsumen sangat antusias dan dengan fasilitas hunian yang mumpuni sekaligus unik. Bagaimana tidak, Kumis Group mengedepankan desain rumah bergaya etnik nusantara, bagaikan oase menyejukkan di tengah kebisingan metropolitan. “Kita bangun rumah yang bisa dinikmati orang banyak, dengan harga terjangkau tetapi kualitas terjamin. Murah, mewah tetapi tidak murahan. Bisa diadu meskipun bukan yang terbaik. Desain rumah yang kita bangun mulai rumah Papua, Jawa, Minang, Dayak dan lain-lain. Karena Indonesia sangat indah dan beraneka ragam sehingga ketika tinggal di situ, kita seperti pulang kampung. Memang terasa ini cukup berani, namun jika tidak ada yang mulai siapa lagi,” jelasnya.

Sebagai marketing kawakan, Didiek telah memperhitungkan dengan tepat segala kemungkinan yang terjadi. Bukan hanya kondisi dalam negeri, tetapi juga antisipasi perekonomian global dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Apalagi, teknologi dan SDM yang masuk ke Indonesia dari luar negeri tidak bisa dihadang akibat globalisasi dan MEA tersebut. Untuk itu, lanjutnya, sebagai pengusaha harus menyiapkan diri dengan kualitas, standar kerja dan kompetensi perusahaan. Di perusahaan, ia menekankan kepada karyawan yang langsung bersentuhan dengan konsumen atau klien harus memperhatikan standar kerja yang telah ditetapkan. Karena pengabaian terhadap standar kerja bisa membuat konsumen meninggalkan perusahaan yang dianggap tidak profesional.  “Tanpa itu jangan mimpi menjadi yang terbaik kalau standar kerja tidak ada. Jangan mimpi memperoleh pekerjaan dari perusahaan-perusahaan besar jika kita tidak memiliki standar kerja yang jelas. Karena mereka mencari klien yang bisa menjamin keamanan bisnisnya. Itu yang kita lakukan. Memang sangat susah untuk menjadi yang terbaik karena pekerja bukan robot, masih manusia. Tetapi kita terus melakukan evaluasi untuk perbaikan sehingga secara kualitas kita tidak kalah,” tegasnya.

Terkait aktivitas pembangunan infrasatruktur yang gencar dilakukan pemerintah, sebagai pengusaha Didiek menyambut optimis upaya tersebut. Meski sekarang ini menimbulkan kemacetan dan menelan alokasi anggaran, namun di masa mendatang akan berdampak signifikan terhadap kesejahteraan bangsa. “Apalagi kalau menginginkan pertumbuhan ekonomi 7 persen, pembangunan infrastruktur ini selesai pasti akan tercapai. Bukan mimpi lagi. Saya rasa pemerintahan sekarang bagus,” imbuhnya.  Sebagai pebisnis yang handal ia pun memperoleh penghargaan sebagai Outstanding Contribution Award ADM Logistic Partner 2012/2013 dan Special Contribution Award ADM Logistic Partner 2015/2016.

Sejarah Kumis Group

Kumis Group berdiri pertama kali pada tahun 2003 dengan PT Kurnia Mitra Sejati (KMS) sebagai perusahan di bidang General Contractor dan Building Construction, juga sebagai partner Astra Group dalam membangun Showroom dan Kantor. Selain itu KMS juga membangun berbagai hotel di seluruh Indonesia. Selanjutnya, Kumis Group membidik bisnis Logistics & Transportation di area otomotif dengan mendirikan PT Kurnia Mitra Selaras (KUMIS) pada tahun 2010, dengan menyediakan Armada Wingbox guna mendukung skema Milkrun untuk men-supply komponen ke pabrik assembly Daihatsu.

Nama dari PT Kurnia Mitra Selaras atau disingkat KUMIS ini mempunyai filosofi khas bagi namanya tersebut. K untuk kerja sesuai prosedur. U untuk mengutamakan pelanggan karena pelanggan layaknya raja. M menjadi yang  terbaik dan terdepan dalam pasar kompetisi nasional amupun internasional. I yaitu inisiatif dalam bekerja, memperbaiki setiap kesalahan yang ada. S adalah selalu tepat waktu dan disiplin dalam menjalankan tugas sehingga target serta tujuan tercapai.

PT Kurnia Mitra Selaras memiliki visi menjadi perusahaan jasa yang terbaik dalam bidang konstruksi dan transportasi nasional. Lalu misinya sendiri adalah menyediakan jasa yang terpercaya, tepat waktu dengan harga yang kompetitif untuk kepuasan pelanggan, memelihara semangat perbaikan yang berkelanjutan agar dapat menjadi yang terbaik, memberikan rasa aman pada pelanggan, karyawan serta pemegang saham dan juga ikut berpatisipasi membantu pemerintah dengan menyediakan lapangan kerja

Kumis dengan skema reguler yang melayani banyak pabrik komponen otomotif dan terus berkembang melayani banyak pelanggan dari Cilegon sampai Bali. PT Artrindo Nusa Graha (ANG) didirikan pada tahun 2013 untuk melayani pengiriman kendaraan dengan Car Carrier Trailer, Tansya dan Single Carrier dengan Divisi Trailer Cargo yang sedang dikembangkan. Bidang usaha yang dimiliki  Kumis Grup sendiri sangatlah beragam. Lingkup area servis PT KMS telah mencapai beberapa area yaitu Tangerang, Sunter, Cibitung, Cikarang, karawang, Bogor, Purwakarta dan Bandung.

Strategi dan perencanaan dari PT. Kurnia Mitra Selaras terbagi menjadi dua. Pertama, Milkrun System Transportation. Milkrun adalah system transportasi pengiriman yang menggabungkan 2 suplier atau lebih dalam satu kali pengambilan/picking up untuk satu rute dengan basis Just In Time Delivery. Keuntungan penerapan system milkrun ini adalah efisiensi biaya transportasi, mempersingkat lead time dari ordering ke delivery, mengurangi pengendalian truck & driver serta mengurangi stock yang tidak perlu. Terkahir, Direct System Transportation adalah sistem transportasi pengiriman langsung kepada spesifik customer ataupun supplier.

Beragam fasilitas unggulan yang menjadi prioritas utama untuk melayani konsumen. Pertama, integrasi dengan System GPS. KMS telah menggunakan system GPS untuk mengetahui posisi dan lokasi keberadaan kendaraan, kecepatan kendaraan, mendeteksi waktu berangkat dan tiba di lokasi supplier dan customer serta mengetahui status kapan pintu truk dibuka dan ditutup. Kedua, Control Room for GPS. Centra Control Room (CCR) di office melakukan monitoring kendaraan selama 24 jam sehari 7 hari seminggu serta membuat rekording dari semua aktifitas dan melakukan komunikasi dengan customer dan pihak atau instasi terkait. Ketiga, Dojo Room yang merupakan ruangan yang akan dipergunakan untuk briefing ataupun training baik kepada driver maupun karyawan dalam membangun SDM yang berkompetisi, integritas, disiplin, etika dan attitude yang baik. Keempat, Sparepart Warehouse merupakan tempat yang dimiliki untuk menyimpan part dalam rangka mendukung aktivitas operasional truk dimana jika terjadi breakdown maintanance maka akan dapat dengan cepat diselesaikan. Kelima yaitu service development yang merupakan salah satu dari departemen yang merencanakan dan mengontrol aktivitas preventive maintanance truk baik yang berada di pool maupun yang berada di lapangan dan juga mengontrol jumlah truk maupun back up serta mencatat keberadaannya. Serta yang terkahir, pool PT Kurnia Mitra Selaras inj sudah dilengkapi dengan kamera CCTV yang memonitor seluruh area baik workshop, warehouse, area kerja dan area parkir kendaraan selama 24 jam per hari dan 7 hari seminggu.

Membina Hubungan dengan Karyawan

Didiek sadar, menciptakan sebuah sistem yang ditaati oleh banyak orang itu sangat sulit. Kecuali, ketaatan terhadap sistem tersebut berasal dari hati karyawan di dalamnya. Ikatan ‘batin’ yang kuat antara karyawan dan perusahaan membuat system berjalan dengan baik. Bukan tidak mungkin, ikatan yang terjalin dengan erat menambah loyalitas karyawan kepada perusahaan. Dengan karyawan yang penuh dedikasi dan loyalitas, jelasnya, perusahaan akan tumbuh menjadi semakin membesar. Kesadaran karyawan bahwa perusahaan adalah tempatnya mencari nafkah untuk menghidupi keluarga berpengaruh besar terhadap dedikasi dan loyalitas terhadap perusahaan. Kesadaran yang tumbuh akan ‘rasa’ memiliki perusahaan membuat karyawan akan mengerahkan segenap kemampuan untuk menghasilkan karya terbaik.

“Tidak mudah untuk menciptakan sebuah sistem yang profesional. Tetapi bila menggunakan pendekatan yang pas, dengan hati pasti terjalin dengan mulus. Mereka akan merasa perusahaan adalah tempat mencari nafkah menghidupi keluarga dan bekerja dengan sepenuh hati, penuh dedikasi dan loyalitas. Ini perusahaan saya, ini hidup saya, seperti itu dan bekerja dengan bertanggung jawab,” tegasnya. Ia pun menuturkan, perusahaan menjadi besar seperti sekarang ini bukan hasil kerja kerasnya semata, melainkan kontribusi dari seluruh karyawan. Apalagi, awal berdirinya perusahaan ia tidak mengeluarkan modal sama sekali, termasuk menyewa tanah untuk kantor. “Besarnya perusahaan dari mereka bukan saya. Karena mereka yang mengerjakan sementara saya hanya menerima report saja. Kalau mereka kerjanya bagus, majulah perusahaan. Kalau tidak yaa hancur. Yang penting kita bekerja dengan hati,” jelasnya. Dalam menjalin hubungan dengan karyawan, Didiek tidak menganggap dirinya bos. Tidak pernah memandang apakah bawahan atau atasan, semuanya dirangkul layaknya tidak ada batasan. Bahkan Didiek siap dihubungi kapan saja jika ada kesulitan karyawan dalam pekerjaan. Tetapi karena memegang beberapa perusahaan jadi kalau memang urgensinya mendesak, ya tentu lebih baik untuk bertatap muka untuk konsultasi.

Dukungan Keluarga

Baginya, peran keluarga sangatlah berpengaruh selama dirinya membangun perusahaan. Dukungan serta pengertian istri dan anak-anaknya membuat ia memiliki waktu yang cukup untuk membangun perusahaan tanpa harus mengkhawatirkan kondisi keluarganya. Didiek berharap, semua yang sekarang dimilikinya dapat bermanfaat bagi orang banyak. Apalagi ia menganggap semua yang dimiliknya sekarang adalah titipan Tuhan untuk disampaikan kepada orang-orang yang berhak. “Pokoknya semua yang saya punya dapat dinikmati orang banyak. Dari tidak ada menjadi ada, setelah ada mau diapain. Nah, itu yang harus dipikirkan, bagaimana keluar dari tekanan, bangkit dan sukses,” tambahnya.

Mengisahkan ‘kebangkitan’ yang pernah dilakukannya, Didiek menyebut para karyawan loyal dan setia sebagai penyebabnya. Selain keluarga, mereka menjadi pendorong semangat baginya untuk terus bekerja keras membangun perusahaan. Ia merasakan, bagaimana orang lain yang tidak memiliki hubungan persaudaraan saja memikirkan dirinya, sedangkan ia memikirkan diri sendiri. Sejak itu, jelasnya, ia kemudian bangkit dari keterpurukan dengan dilandasi keikhlasan atas kejadian yang menimpanya. Ia bersama seluruh tim perusahaan kemudian menata kembali apa yang sudah dimulai. Komitmen atas kepercayaan yang diberikan investor kepada perusahaan dilanjutkan dengan manajemen yang lebih rapi, terorganisir dan  terencara dengan baik. “Saya bangkit dengan keikhlasan. Kita hidup untuk mengejar apa yang kita kembangkan. Kita komitmen untuk menjalankan apa yang sudah dipercayakan kepada kita, itu saja. Makanya saya berterima kasih kepada orang yang mempercayai saya karena mereka lah yang punya uang. Sementara saya hanya menjalankan. Kita bisa besar karena kepercayaan, bukan yang lain. Dalam bisnis apapun, kepercayaan itulah yang menjadi kunci kesuksesan. Jangan harap kalau kita ingin besar tetapi tanpa komitmen,” tandasnya.

Titik kebangkigan itu ketika Kumis Group terikat kontrak jangka panjang dengan Astra serta pabrik pendukungnya. Begitu juga dengan pekerjaan yang lain, semua berupa kontrak panjang. Itu yang meyakinkan kita untuk terus bergerak menuju kemajuan karena bisnisnya lebih pasti. Karena pasar otomotif Indonesia cenderung fluktuatif maka Kumis juga mengembangkan kerjasama dengan Unilever Indonesia. Dengan men-support pengangkutan produk sampai 50 armada melalui kontrak jangka panjang.  Bisnis retail memang memiliki pasar yang bagus namun diikuti pula oleh resiko yang besar. Salah satunya adalah armada yang digunakan untuk mengangkut produk ke seluruh Jawa bisa terkena perampokan. Maka solusinya adalah dengan menanamkan prinsip kepada driver untuk bekerja dengan teliti dan sehati-hati mungkin. Oleh karena itu, dengan kerja keras, di tengah banyaknya perusahaan yang kolaps, Kumis Grup masih tetap bertahan.

Sebagai seorang ayah, ia juga memberikan kesempatan bagi anak-anaknya untuk berkarir di perusahaan miliknya. Kendati begitu, ia tetap menerapkan kebijakan standar karyawan kepada mereka sesuai dengan tugas dan kemampuan masing-masing. Sebab sedari kecil, ia mengajarkan anak-anaknya untuk mandiri,dapat lebih menghargai segala hasil jerih payah usaha, sekecil apapun. Hal tersebut dilakukan bertujuan agar kehadiran anak-anaknya jangan sampai mengganggu sistem kepegawaian yang telah ditetapkan.  “Anak-anak saya yang bekerja di sini sesuai dengan job desk masing-masing, sesuai kemampuan dan tidak ada yang istimewa. Mereka bekerja dari bawah seperti karyawan yang lainnya, tidak diistimewakan sama sekali. Karena kita membangun perusahaan ini bersama-sama, dengan hati bukan yang lain,” tegasnya.

Didiek Hendraleka menjelaskan bahwa untuk menjadi pengusaha yang sukses harus mempunyai tekad yang kuat tetapi penuh perhitungan. Selain itu, seorang pengusaha harus memiliki komitmen, integritas dan mental baja dalam menghadapi kerasnya persaingan dunia usaha. Dengan memiliki faktor-faktor tersebut ditambah loyalitas dan dedikasi karyawan, tidak sulit bagi sebuah perusahaan untuk mendulang kesuksesan.  Tetapi, lanjut pengusaha yang setiap tahun memberangkatkan enam karyawan untuk umrah ini, proses untuk menjadi perusahaan yang sukses tetap memerlukan waktu. Karena di dunia ini tidak ada yang bisa diraih secara instan, apalagi kesuksesan. Termasuk zaman sekarang pada era teknologi modern yang menuntut kecepatan tinggi, tetap memerlukan proses untuk sampai di puncak tangga kesuksesan.

“Kalau bisa matahari tidak perlu terbenam agar saya tetap bisa terus bekerja,” ucapnya berambisi. Berkat kegigihannya tersebut banyak karyawannya yang terinspirasi dan juga mulai mendirikan perusahaan sendiri. Kendati belim sepenuhnya berhasil, ia memuji keberanian dan semangat jiwa muda untuk mandiri sebagai pengusaha. Ia pun mengingatkan bahwa menjadi pengusaha itu memerlukan mental baja, konsistensi dan kerja keras. Sebab dewasa ini, banyak yang hanya mengandalkan pemberian orangtua saja tanpa tahu bagaimana berusaha mendapatkannya. “Bagi generasi muda perlu diingatkan, bahwa tidak ada yang dapat diraih secara instan. Semua perlu perjuangan, konsistensi dan kerja keras. Termasuk dalam bisnis yang memerlukan proses, kerja keras dan mental untuk memperjuangkan kesuksesan. Jadi pengusaha, meski harus jatuh bangun seribu kali pun tidak boleh putus asa. Dalam berusaha selalu ada rintangan, hambatan itu yang harus diatasi,” tuturnya.

Untuk sampai pada posisi saat ini, perjuangan panjang telah dilakoni oleh Didiek Hendraleka. Mengawali karir dari posisi bawah, dengan ketajaman naluri bisnisnya, perlahan namun pasti usahanya semakin meningkat. Ia juga mengaku bahwa pikiran-pikiran sendirilah yang selalu menggangunya. “Butuh waktu dua tahun untuk berdamai dengan pikiran-pikran yang menggangu, maka itu kunci agar bisa tetap melangkah dan yakin. Ubah pikiran,” tuturnya. Berbagai penghargaan pun telah ia raih, salah satunya adalah penghargaan Indonesian Platinum and Best Corporate Award 2017 dengan Katagori “The Best Trusted Logistic Company of The Year”. Penghargaan persembahan PT Sembilan Bersama Media dan Majalah Indonesian Inspire ini diselenggarakan pada tanggal 11 Agustus 2017 di Hotel Le Meridien Jakarta. Penghargaan diserahkan langsung oleh Laksdya TNI Purn. Gunadi, MDA selaku Founder PT Sembilan Bersama Media.

Tini​ ​Martini​ ​Arifin

No Comments

Tini​ ​Martini​ ​Arifin​ ​

Pemilik​ ​Salon​ ​Rengganis

Memulai​ ​Karier​ ​Sejak​ ​Belia

berjualan ia menanyakan teman-temannya sekaligus kompetitornya perihal jam berjualan, setelah diketahui bahwa teman-temannya berjualan lebih siang, ia langsung mendahului berjualan lebih pagi yaitu jam 5 pagi. “Jam 6 pagi itu sudah habis dagangan, makin pagi maka kecil lingkaran konsumen untuk berjualan. Semakin siang, semakin besar lingkaran konsumen mungkin sampai bingung mau​ ​jual​ ​kemana​ ​lagi,”​ ​jelas​ ​Tini.  One step a head​, begitu taktik yang ia mainkan sejak masih belia. Selalu menjadi yang paling pertama untuk memulai dan mengambil kesempatan. Lalu, Tini pun pernah berjualan buah nangka keliling kampung. Dengan mengambil buah dari sang juragan sebanyak 20 buah, ia jajakan dagangannya di atas nyiru dan dibalut daun. Tini pun tidak mau kalah dengan pedagang lain, ia memiliki taktik berjualan yaitu dengan membawa pisau untuk membukakan Tini Martini, wanita kelahiran Cirebon dan besar di Bogor ini mempunyai kegigihan dan semangat yang sangat menginspirasi wanita-wanita. Menjadi sulung dari keenam bersaudara membuat Tini – begitu ia disapa menjadi pribadi yang bertekad kuat untuk sukses membiayai adik​ ​serta​ ​kedua​ ​orangtuanya. Mungkin orang lain bisa berkata bahwa hidup inj dijalani saja layaknya air yang mengalir. Namun lain hal bagi Tini, ia berprinsip bahwa hidup itu harus diperjuangkan dan yang terpenting ditata sedemikian rupa dengan baik oleh diri sendiri. Sedari kecil pula Tini telah mantap meyakinkan diri bahwa ia harus menjadi orang kaya. Bagaimana tidak, karier-nya telah dimulai sejak ia duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar. Menjadi pembantu rumah tangga hingga menjual sayuran pun ia lakoni demi menghasilkan pundi-pundi rupiah. Pada pagi hari sekali sebelum berangkat sekolah ia telah datang ke rumah majikannya untuk membersihkan rumah dan sepulang sekolah pun kembali lagi bekerja hingga malam hari. Waktu​ ​bermain​ ​layaknya​ ​anak​ ​seumurnya​ ​pun​ ​nyaris​ ​tak​ ​ia​ ​miliki.

Beruntung, Tini memiliki majikan yang pengertian. Setiap akhir minggu yaitu Sabtu dan Minggu menjadi hari libur. Alih-alih beristirahat, waktu tersebut ia gunakan untuk berjualan sayur dan buah. Bersama kedua sahabatnya, ia bergiliran berjualan kangkung. Nampaknya sejak kecil, strategi bisnis telah melekat dalam jiwanya. Sebelum biji nangka satu persatu. Setelah laris terjual 20 buah, ia pun menyetor ke sang juragan dan mendapatkam hasil komisi sebesar 10%. Tidak ingin rugi, Tini masih punya biji yang ia masak kembali bersama rebusan air garam dan kembali ia jajakan. Maka ia mendapatkan pendapatan yang maksimal 100% berkat pemikiran cemerlang serta kerja lebihnya. Pekerjaan tersebut konsisten ia jalani hingga menginjak bangku kelas 2 Sekolah Menengah Atas. Pengalaman-pengalaman seperti itulah yang tidak dimiliki oleh kebanyakan anak muda jaman sekarang yang justru membuatnya menjadi pribadi yang kuat untuk berjuang untuk menjemput impiannya. “Saya sangat bersyukur mendapatkan keadaan susah seperti itu. Karena membuat saya bersumpah hingga tujuh turunan hal itu jangan sampai terulang kembali​ ​maka​ ​saya​ ​harus​ ​tangguh​ ​dan​ ​gigih​ ​untuk​ ​sukses,”​ ​tandasnya.

Tini pun mengaku berprinsip realistis dan keras kepada diri sendiri, tidak seperti remaja kebanyakan dalam kamus Tini tidak ada istilah pacaran. Jika ingin serius tentu harus dengan ikatan pernikahan. “Jika ingin menikah, saya punya 11 syarat. Pertama, harus berpendidikan tentunya untuk masa depan saya dan yang lainnya tidak bisa dikatakan di sini,” ungkapnya sambil tertawa renyah. Baginya, tujuan menikah itu untuk kaya. Tidak ada lata cinta. Sebab cinta akan datang sendirinya seiring dengan berjalannya waktu, kebersamaan serta yang penting syarat-syarat yang Tini ajukan terpenuhi. Memang terdengar naif, namun seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa hidup itu harus realistis. Kala itu selepas lulus SMA, Tini bertemu seorang pria di kost tempat ia bekerja sebagai buruh cuci. Sang pria jatuh hati kepadanya dan berniat mencari istri, maka menikah lah Tini pada 1985 di usianya yang menginjak umur 18 tahun. Cinta pun bersemi setelah 2 tahun berjalan dan dikaruniailah seorang​ ​anak.

Mencari​ ​Jati​ ​Diri​ ​Sebelum​ ​Membangun​ ​Rengganis

Melanjutkan pendidikan di Politeknik Institut Pertanian Bogor (IPB), dengan menyandang gelar Diploma ia pun mencari peruntungan untuk bekerja. Pertama-tama pada tahun 1989 Tini menjadi seorang guru STM layaknya sang ayah dahulu. Namun, pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya tak berlaku padanya. Menjadi guru Kimia di STM, Tini mendapati anak-anak didiknya mendapatkan nilai yang buruk hanya berada dalam interval 3-6 saja. Kelimpungan mendapatkan hasil yang buruk, ia pun menganalisis kesalahannya. Hingga akhirnya ia menemukan jawaban bahwa kesalahan terdapat pada dirinya yaitu cara mengajar yang salah sehingga anak didik kurang mengerti ataupun faktor lain anak didik gagal fokus karena ia perempuan muda dan murid adalah lelaki semua. Pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya nyatanya tak berlaki baginya. Tak sampai setahun, sebab Tinii merasa gagal menjadi pengajar, akhirnya ia memutuskan berhenti mengikuti jejak sang orangtua untuk menjadi​ ​seorang​ ​guru.

Mulailah berkelana kembali mencari jati diri, rezekinya pun berlabuh untuk bekerja di Bank Lippo. Namun apa mau dikata, hati sang pebisnis ini merasa hal-hal yang monoton seperti bekerja kantoran itu bukan dunia-nya. Jiwanya haus tantangan dan hantaman. Maka dengan segala gengsi yang melekat pada pamor bekerja di sebuah bank, ia putuskan untuk kembali hengkang dari pekerjaannya. Munculah hasrat untuk membuka salon kecantikan. Banyak yang tidak setuju dengan keputusan yang Tini ambil dengan keluar dari bank, terlebih membuka salon. “Kamu mau jadi ​germo​?” tanya sang suami kala meminta izin ingin membuka sebuah salon. Hingga kedua orangtua Tini pun tak setuju dan menasehati jangan sampai memalukan nama keluarga. Paradigma masyarakat tentang salon adalah bisnis plus plus ​yang berhubungan dengan seks ilegal memang tak bisa dipisahkan, sebab benar adanya. Namun kali ini, Tini memiliki niat dan tujuan yang berbeda untuk merubah paradigma tersebut. Semakin pandangan dan perkataan negatif ia dapatkan, semakin ia yakin dan terpacu untuk mendirikan salon khusus wanita. “Izinkan saya kursus salon, saya ingin menunjukan bahwa yang Anda katakan sekarang akan menjadi sesuatu kelebihan buat saya. Tolong izinkan saya, saya akan merubah itu,” kata Tini mengulang jawabnya menjawab sekaligus meminta​ ​izin​ ​kepada​ ​sang​ ​suami.

Sejarah​ ​berdirinya​ ​Salon​ ​Rengganis

Kendati tak didukung, Tini tetap berjalan tegak untuk mendirikan salon kecantikan khusus wanita. Sebab ia percaya bahwa langkahnya ini tidak seperti yang orang-orang duga. Tini ingin menunjukkan dengan fakta dan bukti nyata bukan dengam perkataan. Tak tanggung-tanggung, selama 4 tahun ia menggali ilmu kecantikan dengan kursus di 7 tempat sekaligus. “Saya ingin punya keahlian yang tidak dimiliki oleh orang lain,” tandas ibu tiga anak​ ​ini.

Pada tahun 1994 akhir, berdirilah salon Rengganis pertama yang bertempat di atas garasi rumah sendiri. Saat itu peralatan yang ada hanya satu kursi, satu meja, satu ​hairdryer​, satu tempat cuci, dan tentunya satu karyawan yaitu Tini sendiri. Baginya pasang surut pasar konsumen hal biasa terlebih salonnya masih kecil. Maka ia terus bersabar dan gigih, ia tak mengeluh sebab telah mengalami yang lebih getir sejak kecil dari sekedar minggu ini tak dapat konsumen. Sejak berdiri, salon Rengganis sudah paten khusu perempuan maka laki-laki tidak diperkenankan masuk walau hanya sampai di pintu. Mendirikan salon khusus perempuan tidaklah mudah, tak jarang Tini harus berhadapan dengan laki-laki yang protes dengan sangat tertutupnya Rengganis bagi kaum pria. “Sebab semakin tertutup, semakin orang​ ​penasaran.​ ​Apa​ ​sih​ ​yang​ ​ada​ ​di​ ​dalam​ ​Rengganis?”​ ​tutur​ ​Tini.Pada tahun 2000 barulah ia mampu memindahkan Rengganis ke tempat yang lebih besar. Selama 6 tahun tersebut di samping ia membuka salon, ia membuka bisnis menjadi distributor ikan gurame. Saat itu sekita 45% pangsa pasar restoran dari kawasan Puncak Bogor hingga Cianjur dipegang oleh Tini. “Saya tidak memelihara atau membesarkan hanya menampung dari para nelayan lalu saya kumpulkan di Parung barulah didistribusikan ke seluruh resto langganan”, jelasnya. Selain itu ia pun menjajal ekspor jahe kecil ke Jepang. Awalnya kebutuhan teman yang sedang ke luar negeri, namun lama-kelamaan menjadi bisnis yang cukup menguntungkan. Bekerjasama lah Tini dengan petani untuk menanam jahe hanya dalam waktu 1 minggu saja. Namun, kedua bisnis tersebut kandas di tengah jalan. Tidak berkembang sesuai dengan yang diharapkan. Mengapa demikian? Tini berkesimpulan bahwa dalam hal berbisnis jika tidak fokus dan sang pemilik tidak terjun langsunh maka hal tersebut akibatnya. Dari ikan gurame yang tidak segar hingga jahe yang terlalu lama ditanam sehingga produk tidak dalam keadaan optimal dan pelanggan kecewa. Maka ia menegaskan diri untuk memilih satu bisnis saja, yaitu salon Rengganis. Hasil dari bisnis tersebut membuahkam outlet​ ​pertama​ ​yang​ ​berada​ ​di​ ​Jl.​ ​Bangbarung,​ ​Bogor.

Mengapa salon ini dinamakan Rengganis? Tini bercerita, sebab ia asli kelahiran Cirebon maka ia mengambil nama Rengganis yang tidak lain tidak bukan adalah dewi yang berasal dari Cirebon. Dewi Rengganis adalah putri jelita yang tangguh dan kuat membela keluarganya. Hal tersebut menjadi inspirasi dari Tini untuk mengabadikannya dalam salon khusus wanitanya ini, sebagai filosofi agar wanita itu harus cantik dan kuat. Visi dari salon Rengganis sendiri yaitu pertama, menjadikan usaha salon sebagai bisnis yang professional, terbebas dari citra negatif yang terkadang muncul di masyarakat. Tini sangat ingin sekali menumpas pemikiran negatif masyarakat tentang salon tersebut dan bersyukur tuturnya bahwa visi ini telah terlaksana. Kedua, mampu bersaing dengan salon-salon bertaraf Nasional maupun International. Ia mengaku, selalu bersaing dengan sehat dengan semua kompetitor di sekitarnya. Ketiga, secara bertahap menambah outlet/cabang dengan membangun sendiri atau lewat ​franchise sehingga bisa melayani lebih banyak pelanggan tanpa mengurangi kualitas. Saat ini cabang yang ada sebanyak 12 outlet, semuanya berada di Bogor. Mengapa demikian?

Sebab baginya, daya jangkau dan selalu memantau setiap cabang adalah hal yang utama. “Saya datangi satu-persatu. Sebab khawatir jika di luar kota tidak bisa terpantau dengan baik,” tuturnya. ​Lalu, misi dari salon Rengganis sendiri adalah salon menjadi pilihan utama bagi para wanita professional, ibu rumah tangga, mahasiswi/pelajar, remaja putri dan kaum wanita pada umumnya. “Alhamdulillah, telah menjadi salon yang mengambil pasar middle-up​. Salon pilihan para menteri, anak presiden bahkan insyaAllah ibu presiden nanti akan berkunjung,” pungkasnya dengan sumringah. Misi yang terakhir yaitu bersaing dalam kualitas,​ ​harga​ ​dan​  ​pelayanan.

Membina​ ​Sumber​ ​Daya​ ​Manusia

Seluruh sumber daya manusia di Rengganis tingkat pendidikannya tidak ada yang Sarjana, termasuk Tini yang lulus sebagai Diploma. Tini hanya mencari orang yang ingin bekerja, hanya mencari perempuan baik-baik yang punya keinginan namun tidak mempunyai kesempatan untuk bersekolah dengan baik. “Ketika SMP, SMA, dan kuliah saya itu mendapat beasiswa. Jika tidak, mungkin SMP saja tidak lulus,” tuturnya dengan getir. Karyawan yang hanya berijazah SD dan SMP itu banyak. Sebab menurutnya, tingkat pendidikan dan kesetiaan memiliki korelasi yang kuat. Semakin rendah pendidikannya, maka tingkat kesetiannya semakin tinggi. Maka semakin tinggi pendidikannya, kesetiaan sudah tak dimiliki lagi dalam hal pekerjaan. “Dari 12 manajer cabang, ada 4 dengan ijazah SD. Anak saya yang dokter serta menantu saya yang paspamres, gajinya kalah dengan dia,” ucapnya. Selama masih ada kemauan untuk belajar dan sesuai dengan kemauan Tini, maka akan mendapatkan apa yang diinginkan melalui Rengganis ini. Bagi Tini, ijazah hanya selembar kertas bukti bahwa seseorang pernah belajar, namun selama masa hidup pun tentunya terus belajar.​ ​Maka​ ​itu​ ​bukanlah​ ​perkara​ ​penting​ ​baginya.

Namun bukan berarti bisa sembarangan masuk sebagai pegawai di Rengganis, hanya menerima karyawan yang lulus tes dari sekian banyak persyaratan-persyaratan yang ada. Tini beserta manajer training telah mempunyai 22 catatan kriteria kandidat yang tidak boleh diterima. Setelah itu karyawan baru yang lolos, langsung Tini yang men-​training di hari pertama. Tini mempunyai keinginan untuk merubah karyawan menjadi tiga macam. Pertama, menjadi cantik. Karena cantik adalah kebanggaan, kebahagiaan dan menumbuhkan rasa percaya diri. Cantik itu terbagi menjadi dua, dari luar yaitu wajah dan yang terpenting ​inner beauty. ​Kedua, memiliki keahlian. Sebab percuma cantik, jika tidak ada kemampuan, uang bahkan tidak tahu apa yang ingin dikerjakan. Terakhir, membuat hidup menjadi berkualitas. Rutinitas pagi hari dalam setiap kegiatan Rengganis selalu diawali dengan berdoa. Setiap dua minggu sekali mengadakan yasinan. Menyanyikan mars Semangat Rengganis agar tetap terpacu mencapai tujuan. “Semua terasa jadi lebih beretika. Karena saya pun kebetulan menjadi guru etika dan pengembangan kepribadian di beberapa perusahaan seperti Telkom dan​ ​Bank​ ​Mega,”​ ​jelasnya.

Terutama men-training sikap dan mental, selama tiga bulan. “Modal kerja di Rengganis itu hanya semangat,” ucap Tini. Banyak pula yang gugur karena tidak tahan dengan cara Tini mengajar yang keras dan tegas. “Saya banyak sekali lihat di luar sana wanita cantik tapi tak beretika maupun tak tahu apa apa tujuan yang ingin dikerjakannya,” katanya dengan nada getir. Setelah tiga bulan kemudian yang lulus barulah boleh turun melayani tamu pelanggan dan yang tidak lulus dipulangkan. Banyak yang tumbang dalam menjalani training, terutama pada mentalnya yang tidak kuat. Tini menjelaskan bahwa sebenarnya jika seseorang tahu apa obat semangatnya, maka semuanya dapat teratasi. Pelajari terlebih dahulu yang menyebabkan tidak semangat itu apa, lalu cari solusi terbaik dan yang paling tahu diri sendiri. “Saya bukan tidak punya masalah, ada namun saya sudah tahu obatnya. Di depan karyawan selalu semangat dan datang dengan tersenyum untuk menularkan suasana positif,” ungkapnya. Tini pun mengajarkan kepada para manajer-manajer cabang bahwa menjadi pemimpin itu adalah seni​ ​memengaruhi,​ ​harus​ ​menjadi​ ​panutan.

Kedekatan yang profesional adalah salah satu kunci keharmonisan pemimpin dengan para pegawainya. Tini menjabarkan bahwa karyawan itu hanya ingin empat hal yang dipahami. Pertama, pahamilah perasaannya. Dengan berbincang-bincang dan sekadar bertanya perasaannya hari ini dapat membuat karyawan merasa diperhatikan dan menjadi lebih baik. Kedua, pahami rasa lelahnya. Ia tahu betul batasan kekuatan para karyawannya. “Karyawan cabang itu batas kekuatannya dalam melayani lulur 2 kali dan ​creambath ​1 kali. Jangan dipaksakan lebih. Mungkin sekarang kuat, namun besoknya pasti ambruk,” jelasnya. Tebarkanlah empati dengan menempatkan pemikiran jika menjadi seperti karyawan, memberikan perhatian yang lebih. Ketiga, pahamilah laparnya. Karena di salon waktu bekerja fleksibel sesuai kedatangan konsumen, maka tak jarang waktu makan siang terlewat oleh karyawan yang sedang bekerja. Sebagai pimpinan, berilah ia sekadar makanan kecil untuk mengganjal perut. Terakhir, pahamilah rasa sakitnya. Bahwa karyawan pun manusia juga yang​ ​sewaktu-waktu​ ​dapat​ ​sakit.

Rengganis pun mempunyai tim audit pekerjaan dari kantor pusat yang ditempatkan di masing-masing cabang. Jika kedapatan pelayanan yang jelek atau mendapat ​complain​, keesokan harinya langsung diberhentikan untuk melayani tamu serta harus mengikuti training ulang. Bukan main-main untuk dapat melayani pelanggan, sertifikat training sendiri pun harus ditandangani oleh Tini dan manajer training. Maka karyawan rugi, tidak mendapat kesempatan lebih banyak komisi yang didapat dari melayani pelanggan. Usaha jasa salon sangat sensitif perihal pelayanan, terlebih setelah ada ​social media yang benar-benar tajam dalam​ ​penyebaran​ ​berita​ ​baik​ ​maupun​ ​buruk.

Dalam menghadapi kompetitor, Tini mengaku menganut ​Blue Ocean Strategy​. Diumpamakan oleh Tini, strategi ini seperti kapal besar yang yang berlayar di samudra biru tanpa terpengaruh gelombang karena kekuatannya dan keunikannya. Strategi samudra biru berfokus pada menumbuhkan permintaan dan menjauh dari kompetisi dengan menciptakan suatu nilai dan keunikan yang tidak sembarang unik, namun juga merupakan pangsa pasar menguntungkan. Oleh karena itu, ia tidak pernah menganggap bahwa salon lain adalah ancaman namun vitamin untuk memperbaiki diri dari kekurangan. Ia yakin pasti masing-masing memiliki pasarnya sendiri. Memang dalam hal harga Rengganis menawarkan harga yang lebih mahal, namun setara dengan pelayanan dan kualitas yang akan didapatkan. Tini selalu memastikan mempertahankan itu. Hingga anak dari salah satu tokoh proklamator Meutia Hatta pun berbicara, “Salon kamu tuh unik.” Mungkin sampai saat ini belum ada yang menyamakan. Suasana ​homie dengan wangi yang konsisten sama, bunga segar selalu hadir, sapaan​ ​hangat​ ​kepada​ ​konsumen​ ​kala​ ​baru​ ​datang​ ​hingga​ ​akan​ ​pulang.

Obsesi seorang nakhoda pelopor salon khusus wanita di Bogor ini mungkin terdengar cukup teoritis. Pertama, ingin ketiga anaknya menjadi dokter. Akhirnya terwujud, kedua anaknya sudah menjadi dokter hanya tinggal si bungsu menyelesaikan pendidikan dokternya. Semua bermuara pada keinginan Tini dahulu kala yang bercita-cita menjadi seorang dokter, namun hanya menjadi angan-angan belaka. “Jika kalian sayang Ibu, tiga-tiganya kuliah kedokteran, setelah lulus terserah kalian mau jadi apa. Yang penting gelar dokter itu persembahan untuk saya,” ungkap Tini. Namun tak bisa dipungkiri lagi bahwa darah pebisnis memang mengalir deras kepada anak-anaknya. Selepas lulus, keduanya memilih untuk berdagang dibanding bergelut dengan jarum suntik. Ia pun mengaku hal tersebut dan juga didukung oleh faktor lingkungan yang membuktikan lebih berpotensi menjadi pebisnis ketimbang seorang dokter. Selain itu, obsesi lainnya yaitu berkeinginan memberdayakan perempuan-perempuan di Rengganis yang tak berdaya dan tak berpendidikan bisa menjadi cantik, kuat, dan bisa melakukan sesuatu untuk masa depannya. “Jika saya ini hebat, saya ingin melakukan lebih untuk memberdayakan wanita-wanita yang bernasib malang. Namun apa daya, saya hanyalah pemilik Rengganis yang hanya punya sekian ratus karyawan. Tidak seperti orang hebat lainnya,” ucapnya. Target Tini dalam pengembangan cabang dengan rentan waktu satu tahun harus menelurkan satu outlet, telah ia putuskan untuk mencukupkan pemerataan di Bogor dan mulai menapaki kota-kota besar lainnya. Perihal ​franchise juga telah direncanakan yang rupanya disarankan oleh konsultan keuangan untuk membuka jalan baru bagi pendapatan. “Karena pada dasarnya saya itu tidak bisa apa-apa, hanya pedagang murni yang harus dibarengi​ ​dengan​ ​orang-orang​ ​profesional,”​ ​sanggah​ ​Tini.

 

Untuk​ ​Generasi​ ​Muda

Tidak ada sukses yang turun dari langit, sukses itu harus diperjuangkan oleh cucuran air mata dan keringat. Tidak ada kekayaan yang dipersembahkan, tidak ada jabatan yang dipersembahkan. Semua harus betul-betul diperjuangkan. Dengan usaha dan perjuanganlah yang diinginkan akan tercapai. Jika masih merasa malas, maka kalian masih berada di dunia mimpi. Hiduplah secara nyata, realistis. Tidak ada kesuksesan yang didapat secara instant. Semakin ke depan semua bidang usaha akan terus berkembang tentunya diiringi kesulitan yang semakin bertambah. “Kesulitan tersebutlah yang harus dihadapi bersama,” tutur Tini menutup​ ​pembicaraan.​(mutiararizky)

Chotibul Umam

No Comments

Chotibul Umam– Pemilik NS Tenda

Bungsu Sang Penerus

Chotibul Umam, anak betawi asli kelahiran 11 Oktober 1988 ini sukses menjadi nakhoda jasa sewa tenda. Kendati menjadi anak bungsu dari sembilan bersaudara tidak menjadikannya pribadi yang manja, justru jiwa semangat dan gigih begitu ia junjung. Ia mengenyam pendidikan dasar SMP dan SMA di pesantren Al-Zaitun Indramayu untuk memperdalam ilmu agama. Setelah dirasa cukup, Umam pun melanjutkan pendidikan kuliah di daerah Ciputat dengan jurusan IT. Walaupun tidak ada basic di bidang IT sebelumnya, namun prestasinya justru sangat memuaskan sehingga ia pun pernah ditunjuk sebagai asisten dosen.

Umam mengaku sebelum menyelesaikan pendidikannya, ia tak ada hasrat untuk membantu usaha jasa sewa tenda milik kedua orangtuanya itu. Pasca lulus pada tahun 2012, Umam  mulai mencoba peruntungan bekerja salah satu perusahaan di Jakarta. Kariernya menanjak tajam dari menjabat sebagai konsultan IT sampai dipercaya sebagai project manager. Memang jabatan tersebut adalah target pencapaiannya semasa kuliah dulu yang akhirnya dapat terealisasikan. Selama kurang lebih tiga setengah tahun, Umam bekerja kantoran hingga ia memutuskan hengkang dan bergabung untuk menjalankan bisnis jasa sewa tenda tersebut. Ia berprinsip teguh kepada pencapaian dan selalu belajar mencari solusi. Maka tak jarang, Umam dimintai bantuan oleh rekan maupun client terdahulu untuk memecahkan masalah mengenai IT.

Sejarah NS Tenda

NS Tenda berdiri sejak akhir 1999-an, didirikan oleh kedua orangtua Umam yaitu sang ibu bernama Nani dan sang ayah Sidiq. Dari singkatan nama tersebutlah NS Tenda ini berasal. Meski awal mula bisnis ini dirintis bersamaan dengan krisis moneter yang melanda tanah air tercinta, namun tak berdampak besar terhadap perkembangan bisnis keluarga ini. Mengapa demikian? Umam bertutur bahwa kebahagiaan tetap harus terlaksana, karena jasa sewa tenda ini tidak terlepas dari perayaan hari-hari bahagia seperti pernikahan dan acara lainnya.

Setapak demi setapak perjuangan pun ditempuh, bermula hanya satu tenda serta alat angkutnya saja. Sebelum Umam yang terjun menggeluti bisnis keluarga ini, kedua kakaknya lah yang ikut berperan langsung dalam pengembangan NS Tenda. Setelah bisnis mendapat sentuhan jiwa muda maka inovasi pun banyak bermunculan. Satu gerobak angkutan yang dimiliki bertransformasi menjadi mobil. Kemudian seterusnya bila ada profit lebih kembali dibekukan menjadi aset yang dapat dioperasionalkan dengan jangka panjang. Pasar pun masih sangatlah konvensional yaitu dengan mengandalkan sistem dari mulut ke mulut.

Pada tahun 2015, Umam langsung bergabung dengan NS Tenda. Dengan kemampuan IT-nya yang sangat mumpuni, maka aspek pemasaran yang langsung disasar dengan membuat website yang juga sebagai identity di zaman milenial ini. “Usaha yang bagus sekalipun jika pemasarannya jelek maka akan mati atau hanya jalan di tempat,” tuturnya menjelaskan. Umam pun mengaku, kelemahan dari para pebisnis tenda adalah sistem pemasaran yang kurang baik terutama bisnis online. Maka tak jarang banyak pebisnis jasa sewa tenda yang gulung tikar sebab tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk berkembang mengikuti zaman. Terlebih dewasa ini dengan kehadiran internet yang telah menjadi pilihan utama konsumen untuk brtransaksi dengan kemudahan akses yang ada.

Setelah dilakukan pembangunan website dan mulai masuk kepada pasar online, permintaan konsumen pun bertambah pesat. “Jangkauan order sekarang makin luas, yang tadinya hanya di Jakarta saja sekarang sudah bisa Jabodetabek bahkan Bandung,” jelas Umam dengan antusias. Kini, ia bersama satu kakaknya yang bernama Dahliatul Kholbi sama-sama meneruskan bisnis sang orangtua. “Saya itu dengan kakak seperti otak kiri dan otak kanannya dia,” tuturnya. Sebab sang kakak baginya adalah gudang inovasi dan ide sekaligus eksekutor lapangan yang langsung berhadapan dengan konsumen. Sedangkan dirinya, lebih memperhitungkan cara agar inovasi dan ide tercapai serta mengatur kegiatan operasional yang ada. Misi dari NS Tenda adalah membuka cabang-cabang yang tersebar di seluruh provinsi Indonesia. Sedang visinya sendiri yaitu kepuasan pelanggan karena kepuasan pelanggan diartikan sebagai bentuk apresiasi kepada NS Tenda. Terlebih usaha bisnis ini bergerak di bidang usaha, kepuasan pelanggan adalah hal yang paling utama diperhatikan. Khalid pun menjelaskan bahwa usaha di bidang jasa hubungan dengan konsumen tidak hanya sekali namun bisa berkepanjangan karenan jika memuaskan maka konsumen pun akan mempercayakan kami.

Strategi pemasaran yang diusung sendiri yaitu memperkuat koneksi web. Kendati terdapat dua web, namun ia mengaku untuk saat ini lebih efektif bila mengoptimalkan kepada satu web yaitu nstenda.com. Kiat utama Khalid yaitu memahami Google, karena menurutnya Google adalah pasar saat ini. “Siapa yang paling memahami maka akan berada di paling atas halaman jika sedang dicari. Ibaratnya pasar yang muncul di paling atas adalah toko yang paling dekat dan banyak pengunjung,” begitu jelasnya. Ia sendiri memilih mengaturnya dengan teknik SEO (Search Engine Optimizer) yaitu dengan taktik membuat kata kunci sehingga tidak memerlukan untuk memasang iklan langsung bisa muncul paling teratas. Namun semuanya membutuhkan proses dan usaha yang panjang, sebelum website NS Tenda menjadi sorotan teratas mereka pun sempat berada paling terbawah bahkan di halaman ke sepuluh. “Yang kedua dan ketiga dibawah yang teratas saja sudah tidak dilirik, apalagi ini ada di halaman ke sepuluh,” kata Khalid sambil tertawa saat mengenang perjuangannya. Memang tidak semua website bisa memasuki urutan teratas, dibutuhkan persyaratan sekaligus resep khusus agar dapat mencapainya. Kini ia telah mempersiapkan staff khusus untuk mrnangani lintas update di website NS Tenda agar lebih optimal.Disanggah mengenai kompetitor, Khalid mengaku tidak takut sebab ia telah siap dengan segala peralatan tempurnya untuk menjadi yang terdepan.

Terkait ekspansi melebarkan sayap dengan membuka cabang-cabang di seluruh Indonesia yang menjadi misi sekaligus obsesi NS Tenda, Khalid pun bertutur belum bisa jika hanya bergerak sendiri. Faktor utama karena dan yang dihasilan masih sendiri tanpa ada investor maupun stakeholder, maka rencana ke depannya ingin menerapkan sistem franchise atau menanamkan saham. Dimulai dari tahun 2018 nanti setidaknya satu cabang terwujud setiap tahunnya. Jika sebelumnya karyawan hanya dua sampai tiga orang saja kini telah ada 30 karyawan serta aset sekitar 4000m. Pasarnya sendiri ia mengaku bahwa 60% lebih cenderung untuk acara-acara di luar pernikahan seperti acara perkantoran hingga bazaar dan sisanya barulah untuk pernikahan. Simbiosis mutualisme Khalid terapkan dalam berbisnis dengan rekanan bisnis lainnya karena untuk jasa sewa tenda ini tentu saja konsumen menginginkan yang lebih praktis yaitu sekaligus beserta catering, panggung, dan lain sebagainya. Selain jasa sewa tenda, ia juga mencoba peruntungan dengan menyediakan jasa sewa kursi meja. Tak disangka, presentase pemesanan terkadang melampaui dari pemesanan tenda. Semua kalangan dari menengah kebawah hingga keatas menjadi tempat pasarnya. NS Tenda pun pernah dipercaya untuk memberikan jasanya kepada sekelas TNI hingga menteri. Hingga saat ini pesanan mencapai 20 pesanan dalam satu minggu bahkan pernah mencapai 40 pesanan, masing-masing untuk tenda dan kursi. Omset yang dihasilkan pun kuran lebih telah mencapai 100 juta dalam satu bulan.

Kenyamanan Pegawai adalah Kuncinya

“Ini bukan usaha barang, tapi lebih ke manusianya,” tandasnya. Mengapa demikian? Karena diibaratkan besi hanyalah besi tidak ada nilai jual namun jika ada manusia sebutlah saja tukang yang mengerjakannya maka jadilah bernilai. Sebaik apapun kita punya tenda, jika tidak ada tukang, tetaplah nol besar lanjutnya. Dari total 30 orang pegawai yang dimilikinya, dibuatlah beberapa tim untuk menjalankan tugas sewa tenda dan sewa kursi. Rata-rata untuk sewa tenda dibutuhkan 4-10 orang, semua tergantung besar kapasitas pemesannya. Ia paham betul bagaimana cara memahami lelah karyawan-karyawannya. Apalagi dalam sewa jasa tenda seperti ini yang tentu jam kerjanya pun berbeda dengan jam kerja kantor seperti biasa. Maka kenyamanan pegawai adalah kuncinya. Bisa saja pegawai itu dari pagi hingga pagi lagi, maka ia memaklumi jika sesudah ada pesanan mereka bangun kesiangan karena wajar. Meski begitu, semua kebutuhan konsumen tetaplah dapat dipenuhi oleh para pegawainya. Hal yang membedakan dengan perusahaan lain adalah sistem penggajian, Khalid menerapkan sistem bagi hasil dengan jangka waktu perminggu sesuai dengan pesanan pelanggan yang ada. Dengan begitu, pegawai merasa adil karen kewajiban dan hak yang didapatkan setimpal. Jika pesanan banyak maka kerja lebih banyak dan hasil pun lebih banyak dan vice versa.

Peranan Pemerintah

NS Tenda ini telah diresmikan menjadi CV. Nani Sidiq sejak tahun 2010 silam, namun setelah akan diperpanjang pada tahun 2015 kemudian tidak dapat diperpanjang. Kendala terdapat pada lokasi yang berada di daerah perumahan yang tidak memenuhi syarat-syarat perizinan perusahaan. Maka hingga saat ini kelegalannya masih tertunda. Khalid sendiri telah merencanakan untuk melegalkan sekaligus meningkatkan statusnya menjadi Perseroan Terbuka (PT) dengan memindahkannya ke tempat yang lebih besar serta bisa memenuhi persyaratan tersebut. Sebab hal ini juga berdampak kepada kesempatan untuk mendapatkan pelanggan. Diceritakan Khalid yang kala itu NS Tenda diberikan kepercayaan dan kesempatan untuk memberikan jasa sewa tenda kepada PT KAI dalam rangka mudik lebaran yang akan disebar di seluruh stasiun. Namun sebelum teknis dan lain sebagainya, hal yang paling pertama diperhatikan adalah kelengkapan dokumen yang ada. Disitulah kekurangan yang sedang diusahakan untuk terpecahkan.

Ditanyai tentang obsesi pribadi ia menuturkan dari sisi usaha yaitu ingin mewujudkan segala ide, inovasi, kelegalan yang belum tercapai serta menentukan penerus dari usaha yang dirintisnya ini. “Menjalankan bisnis tenda ini gampang-gampang susah. Lebih ke arah mengurus manusianya, terkadang ‘kan ada yang males-malesan, kurang bayar. Ya, ada-ada saja lah,” ucapnya sambil tertawa. Selain itu, obsesi lainnya menempuh pendidikan yang lebih tinggi agar usaha dan pendidikan dapat maju sekaligus berkesinambungan bersama. Ia pun berkeinginan membuka usaha lain jika dirasa NS Tenda ini sudah stabil. Usaha yang ingin didirikannya yaitu di bidang digital advertising bertujuan membantu perusahaan-perusahaan untuk dapat menembus pasar digital yang kian lama kian ketat persaingannya.

Pesan untuk Generasi Muda: “Modal Utama Keyakinan Diri”

“Bagi yang baru lulus SMA maupun kuliah, cobalah berusaha dan berwiraswasta sebab dari situ kita bisa tahu kekurangan apa yang dimiliki,” tandasnya. Menurutnya, jika bekerja kantoran di perusahaan orang maka tentu saja kita hanya melakukan apa yang ditugaskan. Hal tersebut yang membuat potensi diri tidak berkembang secara maksimal. Beda halnya dengan bekerja untuk diri sendiri, pasti terdapat dorongan dalam diri untuk melakukan hal yang lebih karena merasa belum cukup baik. Skill-skill yang terpendam serta ide-ide yang ada dapat diimplementasikan. “Dorongan utama untuk membuka usaha itu bukan tentang modal materi saja namun yang terpenting adalah modal keyakinan diri sendiri,” pungkasnya. Jika sudah yakin lalu dijalankan dengan usaha dan doa maka faktor x untuk mencapai tujuan pasti selalu ada. Umam pun percaya apabila telah diatur oleh Allah maka terjadi, begitupun semesta yang ikut mendukung keberhasilan yang akan dicapai. (mutiararizky)

Ary Bastari

No Comments

Ary Bastari, S.H.,M.M.,AFP.,CPHR.,CBA.,CRGP.,CERG.

Komisaris Utama Bank BPD Kalsel, Kalimantan Selatan

 

JANGAN SEGAN BELAJAR DAN CARILAH KEBERKAHAN

 

Dalam menjalani hidup ini jangan mencari musuh, kita duduk diam saja sudah ada orang yang iri dan tidak suka dengan kita dengan berbagai alasan. Ekstremnya pasti ada orang yang iri sama kita. Tapi dalam hidup itu yang penting mencari berkah dan ridho Ilahi, Insya Allah kita tetap dalam lindungan NYA,  Demikian pandangan hidup Ary Bastari, Komisaris Utama Bank BPD Kalsel. Ary, begitu ia kita sapa, mencontohkan dirinya ketika saat diberikan amanah oleh pemilik perusahaan dimanapun dia berkarya, ada saja orang yang tak suka kehadirannya, padahal kehadiran kita adalah untuk menjalankan amanah pemilik agar perusahaan menjadi lebih baik dan professional, ungkapnya.

Ary merupakan tipikal orang yang serius dalam bekerja. Kalau cuma mau cari enaknya bisa saja ia sekedar datang ke kantor, duduk, dan menikmati posisi jabatannya. Toh, masa kerjanya juga tak lama, mungkin tak sampai 5 tahun. Tapi, Ary bukan model sosok seperti itu. Baginya, apa yang diterimanya sekarang adalah amanah, dan amanah itu harus dijaga dengan baik serta dijalani dengan ihklas tanpa harus memanfaatkan jabatan tersebut untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

Dikisahkan Ary, pemegang saham meminta dirinya menjadi Komisaris Utama karena yang diperlukan ialah pengalaman, kemampuan teknis dan managerial skill nya.Dalam menjalan kan Amanah ini, cita-citanya sederhana yakni ingin membuat bank BPD Kalsel menjadi lebih professional dan memiliki integritas yang baik .Oleh karena itu, hal yang menjadi perhatiannya ialah, pertama, memperbaiki kualitas dan integritas SDMnya. Menurutnya, secanggih apapun teknologi tetap tak bisa lepas dari PERAN SDM.

Jadi, permasalahannya bukan pada produk atau kecanggihan IT tapi kemampuan SDM nya. yang harus ditingkatkan, baik dari sisi kompetensi maupun integritasnya. Dua hal ini yang perlu ditingkatkan. Kompetensi berkaitan dengan pengetahuan dan kemampuan dari seluruh karyawan, termasuk Direksi.

Kedua, masalah Integritas dimana kita melakukan hal terbaik tanpa dilihat orang. Termasuk soal kejujuran dan kedisiplinan. “Kalau masalah pintar, banyak orang yang pintar, tapi punya integritas enggak. Banyak orang jujur tapi memiliki kompetensi nggak. Kalau ditanya butuh orang pinter atau jujur, saya pilih orang jujur, karena orang jujur bisa pintar tapi orang pinter belum tentu bisa jujur,” tukasmya.

Hal lainnya menurutnya, adalah sebagai atasan jangan hanya memakai telunjuk saja dalam bekerja. Kalau mau karyawan disiplin, harus dimulai dari kita dulu yang disiplin. Harus kasih contoh. Jadilah Atasan yang tidak merasa jadi bos. Dijelaskan Ary, ia ingin mengubah image BPD Kalsel karena bank ini umurnya sudah 53 tahun tapi tak semaju BPD yang lain. Nah, untuk meningkatkan hal tersebut Ary berperan aktif melakukan pengawasan dan pembinaan. Itu adalah dua  fungsi utama kerja Komisaris. “Sesudah saya melakukan pengawasan harus melakukan pembinaan. Jangan hanya ada pengawasan tapi gak ada pembinaan. Dan pembinaan apa yang dilakukan, itu harus kita kasih contoh. Sebelum kita negur orang kita kasih contoh yang baik dulu. Fungsi pembinaan juga harus ada response baik dari Direksi dan teman-teman karyawan lainnya.


kalau gak ada feedback percuma, gak jalan juga. Yang namanya kerjasama itu semua pihak harus terlibat dan berperan. Tak hanya Direksi tapi juga sampai office boy. Jadi, dalam bekerja jangan berhenti belajar dan belajar terus, kita belajar sesuatu dalam hidup ini jangan hanya pada orang yang pinter saja tapi belajar juga pada orang yang kurang beruntung daripada kita, sehingga kita akan selalu bersyukur atas nikmat yang telah kita terima” ujar pria yang beristrikan gadis Minang.

Untuk meningkatan kompetensi dan integritas seluruh jajaran Bank Kalsel, Ary terus melakukan pembinaan secara konsisten, dan sebagai Komisaris Utama, kita harus ada niat ingin membangun dan mengembangkan Bank ini menjadi lebih baik, kalau bisa Dewan Komisaris bergerak lebih cepat dari Direksi, dalam berkontribusi positif untuk kemajuan Bank ini.

Komisaris juga harus bekerja aktif, artinya juga memberi kontribusi, bukan sekedar memberikan nasehat saja tapi memberikan Kontribusi yang nyata, contohnya Komisaris harus bisa melihat sesuatu permasalahan secara detail, yang mungkin terlewat dari pandangan Direksi dan jajarannya.

Kalau Komisaris maunya hanya menerima laporan dari Direksi itu artinya asal bapak senang. Jadi tidak ada budaya untuk membangun Bank ini. Kalau cuma Direksi yang bekerja sampai kapan bank ini maju. Jadi kita harus sadar untuk sinergi, sebagai Komisaris Utama juga aktif kerja. Pembinaannya juga harus aktif, punya kontribusi,dan kasih contoh. Jangan mentang-mentang Komisaris kita tinggal nyuruh, dan sekedar datang hanya untuk menunjukan jabatannya saja tetapi tidak tahu harus bagaimana berkonstribusi positif untuk Bank ini.

Bekerja harus serius.tuntas dan Professional serta tidak terpancing dengan “office politic’s”, justru sebagai Komisaris kita harus bangun budaya professional dengan bersinergi dengan baik, dengan tujuan yang sama yakni demi memajukan dan menjaga nama baik Bank. Jangan memanfaatkan jabatan demi kepentingan pribadi. Saya yakin waktu yang akan membuktikan nantinya, Mana yang punya niat baik dan mana yang punya niat buruk.

Menurut Ary, visinya di bank BPD Kalsel yaitu menjadikan Bank ini benar-benar bisa tumbuh dan berkembang dengan didukung oleh karyawan yang berintegritas dan memiliki kompetensi. Sederhananya, ia mau setiap staf mampu bersaing sehat di lingkungan kerjanya baik di internal maupun diluar Bank Kalsel .Ary melihat bank-bank lain khususnya di Kalsel bisa tumbuh besar, pelajaran berharga yang bisa dipetik adalah orang luar saja melihat potensi yang besar di Kalsel. Nah, kenapakitatidak menggali potensi itu. Mindset itu yang akan ia ubah. Jangan berpuas diri, selalu waspada dan jeli dalam melihat persaingan dan kemajuan diluar sana. Oleh karena itu, iaakan membuat Bank BPD Kalsel ini sebagai organisasi pembelajar. Misal, ia minta semua pejabat atau staf di bank Kalsel ikut pelatihan yang bersertifikasi standar nasional maupun regional, artinya harus ada ujiannya, dan ada uji kompetensi secara berkala.

Saat ini bank Kalsel dalam aturan OJK masuk BUKU 2. Ary menargetkan Bank BPD Kalsel bisa masuk kategori buku 3. Artinya, Konsekuensinya bank harus berupaya meningkatkan produktifitasnya dengan serius sehingga akan memperoleh keuntungan yang maksimal, dengan demikian bisa meningkatkan modal bank. Dengan modal bank yang meningkat maka kita bisa bergerak lebih cepat dalam menggali potensi usaha dan memperbesar skala usaha bank, selain itu bank harus konsisten dalam memberikan keuntungan yang lebih baik bagi seluruh pemegang saham. Kedua, bank BPD Kalsel adalah milik daerah, sehingga misinya harus bisa mensejahterakan  daerahnya dan kalau bisa menjadi yang terbesar di daerah tersebut. Satu hal lagi, ia ingin karyawan Bank Kalsel bekerja selalu tuntas dan menjunjung tinggi kejujuran.

Bank BPD Kalsel merupakan bank milik Pemda, dengan kepemilikan saham dari Pemprov dan Pemkab/Kota di seluruh Kalimantan Selatan. Jadi 100% memang milik Pemda. Pemprov saat ini memiliki 28% dan sisanya dibagi 13 Pemkab/Kota. Di Bank BPD Kalsel ada 4 Direksi, memiliki 17 kantor cabang, 120 kantor unit di seluruh Kalsel. Sedang di Jakarta ada 1 kantor cabang.Menurutnya, ia ingin bank BPD Kalsel bisa mensejahterakan masyarakat Kalsel, caranya dengan mendorong UKM menjadi prioritas usaha. Sisi lain, dalam rangka memenuhi UU Perbank Syariah, ia ingin bank BPD Kalsel dapat mempersiapkan dengan baik Unit Usaha Syariah nya, dapat spin off lebih cepat dari yang ditentukan.

“Kompetitor itu jangan dianggap musuh, jadikan mereka sebagai inspirasi kita. Kalau jadi musuh kita malah kuat-kuatan. Jadikan inspirasi jadi kita bisa belajar dari kompetitor,” ujarnya.

Disinggung soal peran pemerintah dalam dunia perbankan, Ary mengatakan Semua aturan yang dikeluarkan otoritas bank, selalu diawasi dengan ketat oleh otoritas secara berkala,agar  bank ini tetap sehat dan tumbuh.

Sekilas Perjalanan Hidup

Ary memiliki ayah asli dari Kalimantan Selatan, sedang ibu berasal dariJawa Barat. Ia lahir, besar sampai mendapat jodoh di Jakarta. Dulu, ayahnya merantau ke Jakarta dari tahun 1951. Menurut cerita Ary, di Kalimantan Selatan atau mungkin diseluruh Indonesia tahun 1951 jarang ada orang yang memiliki kesempatan untuk sekolah. Ayahnya merantau ke Jakarta dari daerah yang termasuk pedalaman, yaitu dari desa Anjir Sarapat, Kabupaten Barito Kuala, letaknya di perbatasan Kalsel dan Kalteng. “Dulu tahun 1970 saya pertama menginjakkan kaki di desa ayah, dan belum ada jalan darat, masih sungai sebagai jalan transportasinya dan dikelilingi oleh hutan. Saya berpikir bagaimana situasi transportasi desa ini pada tahun 1951. Kok bisa ayah saya memiliki semangat untuk sekolah ke kota Jakarta, Tahun 1970 saja, saya menuju desa ayah saya harus pakai perahu kecil namanya klotok sebagai alat transportasinya.” kenang Ary.

Tahun 1951 sang ayah sudah kuliah di Akademi Penerbang Indonesia, di Curug, Tangerang, yang sekarang menjadi STPI (Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia). hingga tahun 1953. Itu yang membuat dirinya surprise. Bayangkan, di tahun 1951 putra daerah Kalimantan sudah ada yang mau sekolah penerbangan. Hal ini yang kemudian membuat Ary dan saudaranya termotivasi untuk maju.

Di Akademi Penerbangan Indonesia atau API (sekarang STPI Curug di bawah Kemenhub). sang ayah diterima untuk jurusan teknik Radio dan Navigasi. Jadi beliau termasuk yang mendalami ilmu radar di Indonesia. Kemudian, lulus di tahun 1953 beliau sekolah lagi ke Australia. Menurut Ary, ayahnya adalah PNS tulen, karena berangkat kerja pagi jam 07.00, pulang pukul 15.00-16.00 sore. Penghasilannya benar-benar dari gaji PNS saja.

Saat dulu di Jakarta, Ary tinggal di Kompleks Perhubungan, Jakarta. Sekolah SD hingga SMA ditempuhnya di sekolah negeri di Jakarta. Kemudian kuliah di Fak Hukum UI, lalu S2 di UGM. Didikan orangtuanya mengajarkanjika mereka sekolah atau kuliah wajib selesai. Jadi tak ada embel-embel nyambi kerja atau bahkan drop-out. Sekolah harus selesai.  Yang menarik lagi,  meskisang ayah mengenyam Pendidikan  luar negeri(Australia) tapi orangtuanya mewajiban anak-anaknya, pertama, harus ikut pelajaran Mengaji. Kedua, ikut olahraga. Untuk olahraga Ary menekuni beladiri karate dan Silat, bersama 4 saudaranya, Ketiga, kursus bahasa Inggris.

Mulailah beliau berkarir sejak 1989 di salahsatu Bank swasta di bagian Loan Admin dan Legal, 8 bulan kemudian ada tawaran menarik dari Bank Danamon untuk ikut Management Tarinee (Program Pendidikan Kader Perbankan), dan beliau dapat menyelesaikan program lebih cepat yakni hanya 6 bulan dari program 9 bulan, mulailah karier beliau di Bank Danamon sejak 1990. Mulai dari jabatan Kepala Bagian, Kepala Cabang Pembantu, Kepala Cabang, Wakil Kepala Wilayah Jabotedabekcil, Wakil Kepala Divisi sampai dengan Regional Business Manager yang membawahi wilayah Jakarta Pusat, Timur, Tangerang, Bekasi, Depok dan Provinsi Banten serta Lampung. Pengalamannya di hampir seluruh bagian di perbankan pernah dijalani. Hal ini lah yang membuat beliau matang dalam menjalani pekerjaannya.

Ada kenangan yang tak terlupa saat bekerja di bank tersebut, yakni kala itu, bank mengalami rush.Sebagai kepala area, oleh direksi ia ditugaskan standby terus supaya layanan tak terganggu. Saat itu, ia pun datang ke kantor jam 07.00 pagi, pulang ke rumah jam 02.00 pagi, dan itu dilakukan setiap hari selama dua minggu berturut-turut. Menurutnya, di bawah kontrolnya waktu itu ada 50 kantor, asetnya cukup besar. “ mulai pagi hari hingga malam hari saya kontrol ke semua cabang/kantor, malamnya saya membuat laporan mengenai kebutuhan cabang-cabang” ujarnya. Demi patuhnya beliau dengan atasan dan komitmennya dalam bekerja,

Pengabdiannya di bank mengukir prestasi. Ary masuk dalam hall of fame (orang-orang yang berprestasi), sebagai koordinator bisnis manager yang berprestasi. Dari reward ini ia mendapat kesempatan ke luar negeri dan juga memperoleh beasiswa melanjutkan studi S2 di UGM, Yogyakarta. Selain itu beliau memiliki beberapa sertifikasi dibidang Perencanaan Keuangan yang terdaftar di FPAS (Financial Planner Association of Singapore)sejak tahun 2004, Certified  Professional  in Human Resources (CPHR)  , Certified Behavioral Analyst (CBA) ,  Certified Risk Government Professional (CRGP) dari BNSP RI (Badan Nasional Sertifikasi Profesi), Sertifikasi Manajemen Risiko Level Komisaris Bank dari LSPP (Lembaga Sertifikasi Profesi Perbankan), serta Certified Entreprise Risk Governance (CERG) dari Center for Risk Management Studies (CRMS Indonesia).

Kiprahnya di dunia perbankan dilakoni darikurun tahun 1989 sampai 2004. Dulu di hati Ary sempat terucap ingin kerja merasakan atmosfer bekerja di semua jenis bank, baik konvensional, syariah, dan Internasional, dan ternyata Allah memenuhi keinginan tersebut.  Hampir di semua bank ia rasakan selama kurun pengabdiannya di perbankan. Menurutnya, itu jalan Allah, iatidak bisa memilih. Pertama kali di Bank Surya (grup Golden Truly), kemudian Bank Danamon selama 15 tahun, kemudian di rekruit oleh CitiBank sebagai Vice Presdent, kemudian mendapat tawaran sebagai Direktur di salah satugrup perusahaan IT. Saat Perbankan Syariah sedang mulai berkembang beliau ditawari untuk kembali ke bank dan bergabung di Bank Syariah Mandiri, hampir 4 tahun sebagai Kepala Divisi Pembinaan Cabang (2005-2008). Lalu pindah ke grup perusahaan Konsesi tambang batubara di Kalsel (2008-2010), kemudian 2010-2012 ke Kalteng di grup perusahaan tambang juga, sejak 2012 menjadi Direktur di Private Airline Company, lalu bergabung di Bank Kalsel November 2016 langsung sebagai Komisaris Utama.

Kariernya memang lancar saja walaupun banyak tantangan dan hambatan. Hal ini bisa jadi karena prinsip hidupnya yang ingin mencari keberkahandan selalu bersyukur sertajangan menzholimi orang.

Hal lainnya ialah jangan segan belajar dalam hidup ini. Ditanya keinginannya ke depan. ia mengatakan bercita-cita mempunyaisekolah atau pusat pelatihan (training centre), yang dikelola sendiri dan dilatihnya sendiri, serta ingin memiliki kebun dan peternakan ikansendiri, Sedang obsesinya terhadap Bank Kalselia ingin BPD ini bisaseperti sebesar bank nasional lain, jadi bukan cuma bank daerah yang kesannya hanya sebagai bank kelas 2. Paling tidak ia akan memulai dari Bank Kalsel ini. “Memang, kalau kita mau mengadakan perubahan pasti akan ada yang terganggu kenyamanan nya, tapi itu biasa. Nah, kalau niatnya kita mau melakukan perubahan lupakan pertentangan itu. Jadi, jangan takut pada perbedaan, kalau ada ketidaksetujuan itu biasa,” tandas pria yang anakpertamanyatelah lulus Master Hukum dari Sydney ini.

Lebih jauh dijelaskan Ary, anaknya mengambil S1 di Fakultas Hukum UI, kelas internasional, juga diterima jalur undangan S1 di Unpad jurusan akutansi. Tapi akhirnya pilihan jatuh di Kelas Internasional FHUI, Lulus 3,5 tahun. Lalu kuliah S2 di Sidney, Australia, ambil hukum koorporasi Saat ini sang anak bekerja di salah satu lawfirm terkemuka di Jakarta. Anak keduanya diterima melalui jalur undangan (talent Scouting) di Fakultas Teknik UI, International double degree program.

Dalam mendidik anak-anaknya Ary juga menerapkan pola seperti orangtuanya dulu mendidik dirinya. Anak-anaknya juga diharuskan mengaji atau memperdalam ilmu agama, walau cara telah berbeda dengan jaman saat ia kecil dulu. Anak-anaknya kini mengaji di rumah dengan mengundang ustaz ke rumahnya, bukan lagi mengaji di mushola seperti Ary kecil dulu. Kemudian, anak-anaknya juga wajib olahraga, serta belajar bahasa Inggris. Kalau kesenian, misalnya musik malah anak-anaknya walau telah difasilitasi dengan alat-alat music, hanya saja anak-anaknya belum ada yang tertarik berkesenian.

Beliau sampai saat ini, masih menyempatkan waktu untuk menonton kesenian khususnya seni pertunjukan (teater), dan termasuk penonton setia Teater Koma, Jakarta.

Menurut Ary, sosok Ayahnya adalah PNS biasa tapi bertanggungjawab mendidik anak-anaknya dan sangat penyabar dan pendiam. Sedang terhadap sang ibu, Ary begitu menyayanginya. Ayah dan ibu mengorbankan kepentingan pribadinya demi sekolah anak-anaknya. Saat ibundanya masih ada, sesibuk apapun dirinya, ia selalu menyempatkan diri datang ke rumah sang ibu. Baginya surga ada di telapak kaki ibu,saya sangat meyakini ridha Allah adalah Ridha ibudan itu terbukti ketika ia menghadapi berbagai persoalan hidup selalu ada jalan keluar yang baik. “Itu yang namanya surga ada di telapak kaki ibu. Sampai suatu saat ibu bilang begini pada saya, kamu sudah nggak dosa sama ibu. Berarti ibu saya sudah benar-benar ikhlas pada saya. Ibu bilang, kamu yang mengurusi saya sampai ibu meninggal. Itu yang saya pegang. Makanya saya juga sedikit keras pada anak-anak untuk menyayangi mamanya,” tegas pria yang anak keduanya kini kuliah di tahun ke-2 di Fak Teknik UI.

Menurutnya, apa yang dilakukannya terhadap sang ibu semata-mata hanya ingin berbakti dan sekaligusingin memberi contoh kepada adik-adiknya. Dan, pelajaran penting dari ibu dan ayahnyaadalah  dalam hidup ini, harus selalu bersyukur dan mencari berkah. Kalau kemudian kita kaya itu dampak dari keberkahan yang diterima. Berkah itu artinya saat kita butuh ada, dan saat kita berlebih kita selalu bersyukur dan tidak lupa diri. Jadi, hidup itu lurus saja dan jangan rakus. “Kalau kejar duniawi maunya kita kejar terus sampai dapat.Begitu kita lihat teman kita, dia lebih kaya dari kita lalu kita iri hati, janganlah  iri hati tapi kalau buat motivasi untuk prestasi boleh,  karena rejeki sudah diatur Allah SWT, kita hanya bisa berusaha dengan selalu berdoa dan mensyukuri semua yang kita dapat, dan rezeki itu bukan hanya sekadar uang saja, tapi kesehatandan keluarga kita juga adalah rezeki yang tak ternilai nilainya, maka sempatkanlah berucap syukur kepada Allah setiap hari.” ujarnya.

http://www.bankkalsel.co.id/

Anton Sasmita ( LUNG )

No Comments

Anton Sasmita ( LUNG ) – PT Lung Victory Carpet

 Anton akrab dipanggil LUNG 

w

 

Dibesarkan di lingkungan bisnis interior disebuah ruko menjadikan Anton sedari dini mengenal pasar dan tak jarang sesekali membantu pekerjaan orangtuanya dengan menjaga salah satu toko interior. Sehingga sampailah satu hari ada seseorang yang menawarkan karpet kecil ( keset ) kepadanya pada saat Anton sedang menjaga toko tersebut. Timbul insting bisnisnya untuk menjual kembali keset yang diproduksi orang tersebut, sebut saja namanya : Pa Udin. Maka setelah berjalan 1-2 tahun akhirnya pihak pabrik bermaksud menjual mesin-mesin pembuat karpet/keset tersebut. Pucuk dicinta ulam tiba maka setelah proses tawar menawar maka jadilah Anton membeli semua mesin dan semua karyawannya pun diboyongnya ke ruko 4 lantai toko dari orang tua yang dijaganya sehari-hari sepulang sekolah. Sejak saat itu dia memiliki HOME INDUSTRY yang dia namakan sesuai nama kecilnya, yakni LUNG CARPET. Hingga kini LUNG CARPET telah sukses mendirikan

perusahaannya sendiri di bidang produksi carpet dan berkembang menjadi PT Lung Victory Carpet.  Melepas lajang di tahun 2000, ia menjatuhkan hatinya kepada teman  yang dia kenal sejak SMA yang sudah dipacari selama 10 rahun. Bersamaan dengan saat itu pula, Anton  mulai berani menambah usaha kecil yang masih berbasis home industry bersama sang istri. Aral melintang tak menjadi hambatan Anton dalam melangkah, merintis dari modal yang pas-pasan, bangunan yang kurang memadai hingga mantan karyawan yang malah menjadi membelot dan menjadi pesaingnya sendiri. Semua itu telah dia lewati dengan kegigihan serta kepercayaan bahwa sukses itu harus dibayar dengan kerja keras. Maka tidak heran jika sekarang PT Lung Victory Carpet ini telah menduduki peringkat atas dalam industri karpet dalam negeri, berbagai macam pangsa pasar mulai dari menengah sampai  ke atas.

y

Perjalanan Membangun PT Lung Victory Carpet

Berdiri sejak tahun 1994, saat Anton masih menjadi mahasiswa manajemen tingkat 1 di Universitas Parahyangan Bandung. Masih sangat sederhana dengan modal seadanya dan alat yang masih semacam bor tangan dengan menembakan benang yang  menempel di kanvas. Pasar pun masih kecil yaitu sekitaran ITC Mangga Dua dan paling jauh dikirim ke Surabaya.  Pada tahun 2010, mendapatkan investor dan mulai berkembang pesat dan merambah ke hotel-hotel berbintang. Industri karpet dengan nama PT Lung Victory  ini memiliki cerita tersendiri mengenai nama yang dipakai. Lung, nama tersebut merupakan nama kecil Anton yang akhirnya dipakai sebagai nama

Perusahaannya itu. Dahulu nama awal yang dipakai adalah PT Lung Carpet Industry namun karena ada investor bernama perusahaan Victory maka dinamailah PT Lung Victory Carpet. Akan tetapi pada tahun 2016 belakangan ini, Anton telah membayar kembali saham yang dibeli investor tersebut sebesar 100% maka hak milik saat ini menjadi milik ia seutuhnya.

Logo Lung Carpet

Misi yang diusung sendiri ingin membawa PT Lung Victory Carpet ini ke kancah Internasional sebagai perusahaan karpet terkemuka di Asia Tenggara. Tentunya dengan misi tersebut dibarengi dengan usaha yang maksimal. Anton memiliki beberapa kiat sukses untuk membangun perusahaan besar yaitu yang dibutuhkan yaitu harus dikenal luas oleh khalayak umum mengenai produk tersebut melalui media promosi dan iklan. Bukan hanya gencar promosi, yang paling penting adalah pelayanan yang memuaskan serta kualitas produk yang mumpuni adalah menjadi nilai utama dalam bisnis manapun. Agar menghasilkan produk yang unggul dibutuhkan alat atau mesin yang canggih pula dengan membeli alat dari Eropa telah dilakukan sehingga tak kalah bersaing dengan produsen dari luar negeri. Seperti saat ini, PT Lung Vicrory tengah menjajal alat baru dari Jerman tentunya kemudahan dan keefisienan dari time production sangat signifikan bedanya. Umpama dalam satu project memakan waktu dua bulan, kini hanya memerlukan waktu berkisar dua minggu saja. Upaya-upaya tersebut tentunya berdampak pada bertambahnya pelanggan serta pangsa pasar baru yang belum dijajaki oleh perusahaan-perusahaan lain. Ditanyai mengenai obsesi, ia menuturkan bahwa kelak ingin menjadikan PT Lung Victory Carpet go public dan berpengaruh positif bagi khalayak orang banyak.

e

Sehingga banyak orang dapat merasakan manfaat dengan hadirnya PT Lung Victory Carpet ini. Perihal target, Anton mengaku optimis bahwa dalam kurun waktu dua tahun ke depan PT Lung Victory ini dapat menjadi perusahaan karpet pertama yang bisa IPO. “Tiga sampai lima tahun ke depan, bahkan bulan ini sudah mulai menambah lagi kapasitas dengan bertambahnya mesin baru,” jawabnya mengenai rencana. Kini pasar yang dibidik yaitu hotel, tentunya bukan hanya hotel berbintang lima dan empat saja namun juga hotel bintang tiga dan dua pun bisa mendapatkan pelayanan sebab berhubung harga yang terjangkau. Alat-alat yang akan rampung pada akhir tahun seperti alat perlengkapan spinning dan dying sehingga tidak lagi bergantung pada supplier luar namun bisa berdiri sendiri dan produksi pun dapat dilakukan dalam internal perusahaan. Sistem custom made yang diusung membuat karpet di PT Lung Carpet ini menjadi spesial dan perlu pelayanan yang khusus.   Pada 2015 saat itu pemerintah membuka pintu ekspor dan impor dengan menandatangani zona perdagangan Asia bebas. Memberikan keuntungan bagi negara karena meningkatkan devisa negara lewat bea cukai. Namun, hal yang sama tidak dirasakan oleh para pengusaha di Indonesia. Justru menyebabkan terpukulnya pabrik-pabtik domestik yang tergeser akibat persaingan yang semakin ketat.

o

Terlebih bagi negara industri yang maju seperti Negeri Tiongkok  dengan harga lebih murah sekitar 10% sampai 15% yang menjadi unggulan mereka. Anton tidak tinggal diam dengan kondisi yang membuatnya sedikit goyah tersebut, ia mempunyai usaha trik tersendiri. Terobosan yang diambilnya adalah dengan membeli seperangkat mesin spinning, mesin ini berguna untuk memintal benang wol sehingga perusahaan dapat memproduksi benang sendiri yang berdampak pada kualitas yang terjaga  serta menekan biaya produksi. Alhasil, ketika harga barang dari luar negeri mulai menanjak, produk miliknya masih berada pada angka yang stabil dan menjadi pilihan bagi konsumen. Maka pada saat itu “ LUNG “ bisa memenangkan kembali posisi pasar yang sempat direbut banyak importir.

“Banyak yang mengatakan saya bodoh karena saya memberikan lebih dari yang diminta. Contohnya mereka minta kambing saya kasih sapi. Mereka meminta kualitas A, saya berikan kualitas A+,” tuturnya. Hal tersebut dilakukan bukan tak beralasan, namun lebih karena baginya kepuasan pelanggan yang utama dan perihal keuntungan nomor dua. Asalkan dana tersebut masih bisa diputarkan untuk biaya ekspan dan memajukan PT Lung Victory ini. Dalam pelayanannya, Anton juga memberikan garansi selama 1 tahun bagi pelanggan yang memasang karpetnya dengan nama divisi Prof Carpet. Garansi tersebut berupa pelayanan membersihkan bahkan service ditempat jika ada kerusakan pada karpet. Namun tenang saja, lewat dari setahun masih banyak promo dan diskon untuk pelayanan service khusus membership. Selain itu Prof Carpet sendiri bertugas untuk keliling mengunjungi dan mengecek ke tempat-tempat customer yang telah dipasangi karpet sebagai penampung keluhan dan pemberi solusi.

t

Tidak terasa 23 tahun telah ia jalani dalam membangun PT Lung Victory ini, banyak yang telah mengenal Anton dalam industri karpet ini. Kebanyakan yang mengenalnya pasti menjadi pelanggan setianya serta tak jarang mantan karyawannya pun menjadi mitra bisnisnya.

4

Harapan Kepada Pemerintah

“Saya lebih suka perusahaan berkembang sehingga dapat membayar pajak lebih banyak,” sergahnya ditanyai harapan kepada pemerintah.  Dan Deregulasi kemudahan  perijinan yang dicanangkan pemerintah masih menjadi wacana akan tetapi belum dapat dinikmati di lapangan sebenarnya. Baginya, income tax lebih banyak tersebut berdampak kepada kapasitas yang juga bertambahnya pada jumlah penjualan yang semakin meningkat dengan hal tersebut. Selain itu, perihal lapangan kerja yang dalam enam bulan sekali pasti terus bertumbuh dan tenaga kerja tersebut pun menjadi devisa negara. Karena penambahan tenaga kerja di perusahaan-perusahaan tersebut membantu ekonomi di daerah bersangkutan yang bisa menopang ekonomi seluruh masyarakat Indonesia. Dengan penamabahan tenaga kerja tentunya memberikan efek domino bagi bertambahnya kapasitas, penambahan gedung, pembebasan lahan bagi fasilitas mereka. Banyak yang menanyakan kepadanya akan dibesarkan sebesar apalagi, sebab semakin bertambah usia semakin kurang pula kemampuan dan keinginan untuk makan. “Biarlah, meskipun saya makan hanya satu piring, namun berapa kepala yang bisa makan berkat hasil jerih payah saya? tandasnya. Keinginannya hanya saru agar banyak orang dapat merasakan hasil dari usaha dan rezeki yang diraihnya dengan membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya dan menjadi berkah bagi banyak orang.

Dukungan doa dari keluarga terus mendukung terutama orangrua kendati tidak ikut ambil bagian dalam perusahaan namun dengan doa dan wejangan selalu diberikan seperti hati-hati dalam berinvestasi karena berpengaruh besar bagi perusahaan. Anton sering bercerita dengan anak-anaknya “Mereka sangat antusias dan memiliki ambisi sama seperti saya,” tuturnya menjelaskan kedua putra putrinya. Penerus tampuk kepemimpinan yang ia miliki tentunya keinginan tersendiri bagi Anton bahwa anaknya sendiri yang akan meneruskan. Melihat semangat anak-anaknya tersebut, Anton yakin setelah ia pensiun nanti dan PT Lung Victory Carpet ini dapat dijalankan oleh anak-anaknya tersebut akan berkembang lebih besar.(mutiararizky) 

SELVIA

No Comments

Selvia

BM Residence

DARI KEJUJURAN AKAN TERCIPTA SEGALANYA

BM 8    Setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing. Baik dalam hal perjodohan maupun pekerjaan atau profesi yang digeluti. Tapi, tak sedikit orang yang sulit menentukan profesi apa yang tepat baginya. Profesi yang bisa membawa kesuksesan  untuk dirinya. Terkadang, orang seperti tak sengaja menemukan profesi yang cocok untuk dirinya dan membawa sukses bagi karirnya. Hal demikian terjadi pula dalam kehidupan Selvia Pasande, pemilik BM RESIDENCE HOTEL. Sebuah hotel yang eksis di kota Palopo, lokasinya di jantung kota, Jl. Anggrek EE No 10. BM RESIDENCE kian kian menjadi salah satu hotel yang tidak asing untuk skala provinsi Sulawesi Selatan. Selain karena fasilitas yang disuguhkan cukup representative, ditopang lingkungan hotel yang asri dan higienis, juga dikelola dengan management pelayanan familiar.

      Menggeluti bisnis perhotelan bukanlah cita-citanya. Bahkan jauh sebelum ia sukses di bisnis tersebut, Selvia, demikian ia dipanggil, lebih dikenal sebagai pemain sinetron dan seorang peragawati yang sering tampil mengikuti fashion show di beberapa kota. Namun, semua berubah tatkala ia menikah dan tinggal di Palopo, kota kelahirannya.  Ketika pulang ke Palopo mengikuti sang suami yang juga asli Palopo,  Selvia justru sukses sebagai pengusaha. “Awalnya, saya bingung mau melakukan apa di Palopo. Saya terbiasa di Makassar, berkarya di Makassar serta banyak memiliki channel di Makassar, tiba-tiba harus pindah ke Palopo,” kenang ibu dari enam anak ini.  Langkah awal debut bisnisnya dimulai di Makassar saat ia membuka usaha salon rias kecantikan. Selanjutnya ketika kembali ke kampung halaman kota Palopo, Selvia merintis usaha dari nol dengan memulai usaha jual beli bahan bangunan yang lokasinya lumayan jauh dari kota Palopo, tepatnya di suatu perkampungan pinggiran kota, yakni Rantai Damai. Ada cerita menarik ketika ia melakoni bisnis ini. Kala itu, kisah Selvia.

BM 5

Tempat usahanya di Rantai Damai kira-kira ditempuh dalam satu jam perjalanan dari kediamannya. Belum punya mobil ketika itu, sehingga Selvia  menggunakan angkutan umum yang di Palopo disebut dengan pete-pete, semacam angkot jika di Jakarta. Ia biasa berangkat pagi dari rumah ke tempat usaha dan kembali sore hari. Celakanya, jika hari telah sore angkutan umum tersebut sudah nyaris tak adalagi yang beroperasi. Walhasil, bila Selvia pulang ia pun suka menumpang kendaraan lain yang bukan untuk angkutan umum. Suatu ketika, saat hujan turun dengan deras, Selvia bingung harus naik apa. Sementara tubuhnya basah kuyup kena guyuran air hujan. Di tengah kebingungannya, mendadak datang dan menepi sebuah truk angkutan pasir dan menawarkan tumpangan padanya, Selvia awalnya ragu bakal ketakutan dan dilihatnya sang sopir dan keneknya laki-laki semua, namun meski ketakutan ia terpaksa ikut mobil pasir tersebut, karna tidak ada pilihan lain karna ia harus pulang ke rumah

Dengan baju basah Selvia duduk di tengah di antara sopir dan keneknya, ikut pulang bersama mobil angkut pasir. Tapi, cerita tak hanya sampai disitu. Bak kisah sinetron perjalanan pulang dengan mobil angkut pasir semakin dramatis karena lampu mobil mati, rem mobil sedikit bermasalah, dan mobil hanya bisa berjalan pelan-pelan. Alhasil jarak tempuh yang seharusnya 1 jam sampai rumah, malam itu hampir 5 jam ia baru tiba di rumah.  Tapi kejadian itu punya kesan tersendiri dan menjadi pengalaman berharga bagi Selvia dalam perjuangan Panjang merintis usaha bisnisnya dikemudian hari.  Dengan baju basah Selvia duduk di tengah di antara sopir dan keneknya, ikut pulang bersama mobil angkut pasir. Tapi, cerita tak hanya sampai disitu. Bak kisah sinetron perjalanan pulang dengan mobil angkut pasir semakin dramatis karena lampu mobil mati, rem mobil sedikit bermasalah, dan mobil hanya bisa berjalan pelan-pelan. Alhasil jarak tempuh yang seharusnya 1 jam sampai rumah, malam itu hampir 5 jam ia baru tiba di rumah.  Tapi kejadian itu punya kesan tersendiri dan menjadi pengalaman berharga bagi Selvia dalam perjuangan Panjang merintis usaha bisnisnya dikemudian hari.

BM Logo

 

BM Residence Hotel

Usia BM Residence Hotel saat ini telah memasuki tahun ke-8, tepatnya pada bulan Juli 2009 lalu. Menurut cerita Selvia, semula ia tak pernah berniat mendirikan hotel. Memiliki kavling tanah seluas 1.000 M2 Selvia malah sempat berfikir ingin membuat sekolah setingkat Taman Kanak-Kanak tapi batal karena ia menyadari dirinya tak memiliki jiwa sebagai pendidik. Setelah berkontemplasi dan berembuk dengan orang-orang dekatnya, akhirnya muncul gagasan membikin homestay. Ide pun diwujudkan, pembangunan homestay selesai dan diresmikan oleh Walikota. Dan, di peristiwa itulah itulah muncul momentum penting yang mengubah jalan hidup Selvia sebagai pelaku bisnis. Saat peresmian Pak Walikota memberi masukan kalau homestay milik Selvia terlalu mewah fasilitasnya layak seperti hotel. Pak Walikota lalu mensupport Selvia agar homestaynya diubah menjadi hotel.

“Saya ragu karena letak bangunannya masih masuk ke dalam kira-kira 100 M dari jalan poros, tapi Pak Walikota menegaskan supaya saya jangan pesimis, lalu beliau berjanji akan mengarahkan tamu-tamunya ke tempat saya,” kenang wanita yang bersuami seorang kontraktor ini. Akhirnya, seiring waktu berjalan, bisnis hotel yang dikelolanya, yang kemudian diberi nama BM Residence Hotel, berkembang pesat. Yang berkesan bagi Selvia ialah tamu pertama yang menginap di hotelnya adalah seorang mantan Menteri cabinet era Presiden Abdurrahman Wahid yakni Alwi Shihab Bersama rombongan gubernur Provinsi Sulawesi Selatan saat itu. Dan, yang lebih membanggakan lagi sesudahnya itu, beberapa kali Gubernur melakukan kunjungan kerja ke Palopo beliau menyempatkan diri dan memilih menginap di BM Residence. “Padahal pihak protokoler pemkot Palopo sudah menyiapkan hotel lain untuk beliau tapi Pak Gubernur tetap merasa nyaman beristirahat di hotel kami” Selvia mengenang kembali saat saat yang membanggakan dirinya itu.

      Waktu terus berjalan, hotelnya menjadi booming dan menjadi tujuan pilihan tamu-tamu menginap. Lalu, untuk lebih meningkatkan performa bisnis perhotelannya, Selvia membeli tanah yang berbatasan langsung di samping dan di belakang hotel miliknya. Luas tanahnya hampir 1 hektar. Rencananya, di atas  lahan tersebut akan dibangun hotel 3 tingkat, kolam renang, kamar paviliun dan aula meeting room. Pengembangan  lainnya, mengadakan kerjasama dengan agen-agen travel perjalanan. “Saat ini sudah banyak agen travel yang berniat dan menawarkan kerjasama dengan kami,” ungkapnya. Pilihan nama BM juga bukan tanpa maksud. Menurutnya, BM itu diambil dari nama ibundanya. Tujuannya supaya anak-anak bisa mengingat jasa seorang ibu yang bekerja membawa nama baik keluarga. Selain itu,  ia ingin anak-anak selalu mengingat rumpun keluarga leluhurnya, agar mereka kelak terhindar dari perselisihan-perselisihan yang mungkin saja bisa timbul di antara mereka dimasa-masa yang akan datang.

      Disinggung soal harapan, Selvia ingin ke depannya bisa berkembang dan menjadi lebih baik lagi, juga berharap bisa melakukan ekspansi ke luar negeri untuk mengembangkan sayap bisnisnya. Ditanya tentang competitor bagi Selvia taka da masalah. Menurutnya, untuk bersaing dengan competitor sejenis, ia hanya bermain disoal harga selain tentunya dengan pelayanan yang baik nomor satu. Pronsipnya clear dan clean. Untuk meningkatkan SDM, Selvia terus memberikan pembekalan bahkan pelatihan. “Tapi yang pertama jujur dan disiplin. Yang saya terapkan ke karyawan saya yang utama itu kejujuran, karena dengan kejujuran akan tercipta segalanya” Ujar wanita yang menjadi bendahara PHRI kota Palopo ini.

a

 Perjalanan hidup

Dikisahkan Selvia ia lahir di Palopo, Sulawesi Selatan. Jenjang pendidikannya dari SD hingga SMA ditempuhnya di Palopo. Nah, sewaktu di SMA ini ia sempat menjadi peragawati. Mengikuti fashion show di berbagai tempat termasuk di Kota Makassar, dan selalu mendapat juara satu. Dari kelas 1 hingga kelas 3 SMA memperoleh predikat juara terus.

 

Terakhir sempat mengikuti fashion show di Jakarta, dan sempat masuk nominasi juara. Kemudian kuliah hijrah ke Makassar, ambil jurusan sekretaris dan ekonomi. Saat kuliah dirinya sempat pula menjadi penyanyi dan tampil di TVRI (saat itu memang hanya ada TVRI, belum ada Televisi Swasta), juga menjadi pemain sinetron dan sempat main di film Ketika Harus Memilih, sebuah karya film yang masuk nominasi penghargaan pada festival di Jakarta.

 

Ada pengalaman lain yang dilakoninya ketika kuliah di Makassar, yakni selain menjadi pesinetron ia juga nyambi kerja di sebuah majalah marketing, kemudian menjadi sekretaris di perusahaan tersebut. Lalu bekerja dibeberapa Lembaga bisnis. untuk kemudian pindah lagi bekerja di Lippo Life, sebuah perusahaan asuransi yang bereputasi internasional. Di perusahaan yang terakhir ini karirnya termasuk mujur, karena ia sering ditugaskan ke Bandung, Cibaduyut, Jakarta dan juga ke luar negeri. “Saya waktu itu punya market prospektif ke nasabah mendapat nilai tinggi sehingga saya dikirim ke luar negeri. Setelah itu, saya lulus kuliah kemudian menikah, maka karir saya di Makassar selesai,” tutur wanita yang anak pertamanya kini bersekolah di Malaysia dan anak keduanya melanjutkan study di Bali. 

 

  

Perjalanan hidup

Dikisahkan Selvia ia lahir di Palopo, Sulawesi Selatan. Jenjang pendidikannya dari SD hingga SMA ditempuhnya di Palopo. Nah, sewaktu di SMA ini ia sempat menjadi peragawati. Mengikuti fashion show di berbagai tempat termasuk di Kota Makassar, dan selalu mendapat juara satu. Dari kelas 1 hingga kelas 3 SMA memperoleh predikat juara terus.

 

Terakhir sempat mengikuti fashion show di Jakarta, dan sempat masuk nominasi juara. Kemudian kuliah hijrah ke Makassar, ambil jurusan sekretaris dan ekonomi. Saat kuliah dirinya sempat pula menjadi penyanyi dan tampil di TVRI (saat itu memang hanya ada TVRI, belum ada Televisi Swasta), juga menjadi pemain sinetron dan sempat main di film Ketika Harus Memilih, sebuah karya film yang masuk nominasi penghargaan pada festival di Jakarta.

 

Ada pengalaman lain yang dilakoninya ketika kuliah di Makassar, yakni selain menjadi pesinetron ia juga nyambi kerja di sebuah majalah marketing, kemudian menjadi sekretaris di perusahaan tersebut. Lalu bekerja dibeberapa Lembaga bisnis. untuk kemudian pindah lagi bekerja di Lippo Life, sebuah perusahaan asuransi yang bereputasi internasional. Di perusahaan yang terakhir ini karirnya termasuk mujur, karena ia sering ditugaskan ke Bandung, Cibaduyut, Jakarta dan juga ke luar negeri. “Saya waktu itu punya market prospektif ke nasabah mendapat nilai tinggi sehingga saya dikirim ke luar negeri. Setelah itu, saya lulus kuliah kemudian menikah, maka karir saya di Makassar selesai,” tutur wanita yang anak pertamanya kini bersekolah di Malaysia dan anak keduanya melanjutkan study di Bali. 

BM 6

Obsesi Ke Depan

Diceritakan Selvia, sebenarnya ia terlahir dari kedua orangtua yang berprofesi pendidik, tapi dirinya dan 4 saudaranya tak ada satupun yang kecimpung dibidang pendidikan. Semua menjadi pengusaha. Menurutnya, semua memang kehendak Allah. Kita boleh merencanakan tapi Allah yang menentukan.

 “Untuk kedepannya saya harus lebih baik, lebih baik, dan lebih baik lagi, karena saya anak pertama dalam keluarga, saya harus memberi contoh dan menjadi panutan bagi adik-adik saya,” demikian obsesinya. Termotivasi menjadi lebih baik. Karna dia menyadari selalu ada saja orang yang apriori dengan usahanya, tapi justru hal itulah yang membuatnya terpacu untuk menjadi lebih baik.

 Dalam mendidik anak-anaknya ia menekankan bahwa dirinya akan dikatakan berhasil kalau anak-anak menjadi baik, dan bisa dikatakan sukses jika anak-anaknya kemudian menjadi sukses. apapun pilihan bidang profesinya nanti. Sukses itu bagi Selvia harus melewati banyak proses, bukan banyak protes “prinsip saya mau jadi orang sukses jangan pernah merasa sebagai orang pintar atau paling kuat, karena sehebat apapun kita, pasti membutuhkan keberadaan orang lain. Orang sukses itu pasti berpotensi kaya, sementara kaya belum pasti sukses”. Begitu nasihatnya. Dia juga menambahkan untuk senantiasa menjaga kondisi kesehatan sebagai prioritas utama dalam berkarir. :Dengan kondisi kesehatan yang selalu prima, kita mampu melakukan banyak hal yang bermanfaat baik untuk diri kita, keluarga dan orang banyak”. Tandas Selvia dengan mimic penuh spirit. Tapi dalam banyak hal, reputasi yang kini ia raih, merupakan berkat dukungan keluarga utamanya suami tercinta. Maka Selsia selalu menekankan, bagaimanapun tingkat kesibukan dari kegiatan yang kita lakoni, kita tetap memposisikan keluarga tercinta diatas segala-galanya.

   Menurut Selvia, dalam rumah tangga ia selalu merasa memiliki tanggung jawab sama dengan suami sebagai kepala rumah tangga. Tapi bersamaan dengan itu sekaligus ia memposisikan diri sebagai seorang ibu yang baik bagi anak-anaknya. Jadi fokusnya, selain sebagai pebisnis professional juga menjadi ibu rumah tangga yang baik bagi suami dan anak-anaknya. Ia selalu menghindari masalah yang timbul dari bisnis dibawa ke keluarga dan sebaliknya juga begitu, masalah keluarga dibawa-bawa ke lingkup perusahaan. “Waktunya untuk anak-anak ya untuk anak-anak, waktunya usaha ya usaha. Saya ingin buktikan pada anak-anak bahwa saya bisa mengelola usaha dan sekaligus menjadi ibu rumah tangga yang baik”. ungkap wanita yang berpesan pada .generasi muda hendaknya bisa menciptakan lapangan kerja sendiri melalui karya-karya yang produktif.[]

 

 

 

Waktu terus berjalan, hotelnya menjadi booming dan menjadi tujuan pilihan tamu-tamu menginap. Lalu, untuk lebih meningkatkan performa bisnis perhotelannya, Selvia membeli tanah yang berbatasan langsung di samping dan di belakang hotel miliknya. Luas tanahnya hampir 1 hektar. Rencananya, di atas  lahan tersebut akan dibangun hotel 3 tingkat, kolam renang, kamar paviliun dan aula meeting room. Pengembangan  lainnya, mengadakan kerjasama dengan agen-agen travel perjalanan. “Saat ini sudah banyak agen travel yang berniat dan menawarkan kerjasama dengan kami,” ungkapnya.

 

Pilihan nama BM juga bukan tanpa maksud. Menurutnya, BM itu diambil dari nama ibundanya. Tujuannya supaya anak-anak bisa mengingat jasa seorang ibu yang bekerja membawa nama baik keluarga. Selain itu,  ia ingin anak-anak selalu mengingat rumpun keluarga leluhurnya, agar mereka kelak terhindar dari perselisihan-perselisihan yang mungkin saja bisa timbul di antara mereka dimasa-masa yang akan datang.

 

Disinggung soal harapan, Selvia ingin ke depannya bisa berkembang dan menjadi lebih baik lagi, juga berharap bisa melakukan ekspansi ke luar negeri untuk mengembangkan sayap bisnisnya. Ditanya tentang competitor bagi Selvia taka da masalah. Menurutnya, untuk bersaing dengan competitor sejenis, ia hanya bermain disoal harga selain tentunya dengan pelayanan yang baik nomor satu. Pronsipnya clear dan clean. Untuk meningkatkan SDM, Selvia terus memberikan pembekalan bahkan pelatihan. “Tapi yang pertama jujur dan disiplin. Yang saya terapkan ke karyawan saya yang utama itu kejujuran, karena dengan kejujuran akan tercipta segalanya” Ujar wanita yang menjadi bendahara PHRI kota Palopo ini.