Category: Profesional

Dr. Hilman Taufik Wijayasomantri

No Comments

Tanggungjawab dan Kepercayaan Adalah  Kunci Suksesnya

directMemiliki prinsip yang dinamik, bersahaja dan dekat dengan bawahan, adalah konsepsi hidupnya. Dengan bekal itulah, dokter Hilman Taufik Wijayasomantri dipercaya pemerintah untuk menjabat Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sumedang. Sejak diangkat menjadi  direktur pada tahun 2009, Hilman telah banyak mengubah rumah sakit tersebut. Infrastruktur, sarana dan prasarana serta sumber daya manusia,  yang semula belum banyak perubahan, direnovasinya dengan baik, sehingga kini berada dalam tahap kemajuan yang signifikan. Bahkan tahun ini Rumah Sakit Umum Daerah Sumedang akan melaksanakan penilaian akreditasi oleh Komite Akreditasi RS (KARS) dengan standar 2012 yg sudah mengacu kepada joint commition international (JCI), sehingga untuk mewujudkan pelayanan di RSUD Sumedang yg berstandar internasional bukan suatu hal yg mustahil. “Sejak saya bertugas di rumah sakit ini, waktu itu jumlah tempat tidurnya masih 198, kini telah menjadi 310 tempat tidur, Alhamdulillah dalam tempo 3 tahun, saya berhasil memperbaiki seluruh ruangan yang ada, bahkan untuk meningkatkan kualitas SDM, secara bertahap 15 dokter melanjutkan spesialisasi di Bandung dengan fasilitas beasiswa,  “ujar bapak dua anak yang salah satu putra sulungnya mengikuti jejaknya sebagai dokter.
Riwayat rumah sakit ini menurut Hilman adalah sebelum tahun 1920, dr Leimenia menjadi dokter zending di Jalan Raya (Sekarang Gudang Pupuk Pusri, Jalan Geusan Ulun Sumedang). Selanjutnya, pada tahun 1920-1930 dr. Djoenjoenan bertugas di garnisun               tentara Hindia Belanda pada saat itu dibangun sebuah Rumah Sakit yang kemudian dikenal sebagai rumah sakit sederhana yang dicat hitam (hideung) sehingga rumah sakit ini kemudian dikenal dengan Rumah Sakit Hideung, yang bertempat di Ciuyah (sekarang bernama Jalan Kartini).  Dengan nama Rumah Sakit Hiedeung atau hitam, karena seluruhnya bercat hitam, agar tidak terkena bom. Rumah Sakit Umum Daerah  Sumedang yang merupakan bekas rumah sakit Belanda, mengalami banyak perubahan, dari yang semula berlokasi di Jalan menuju arah Tasikmalaya, hingga kini berada di Sumedang. Menurut Hilman, bahkan lokasi yang dulu telah menjadi terminal. Perpindahan itu terjadi pada tahun 1972. Dan pindah ke Sumedang, terjadi pada tahun 1974. “Lokasi rumah sakit ini dulunya kecil, dan tidak tertampung pasiennya, waktu itu hanya ada dokter yang bertugas 1 orang didampingi 5 perawat,  “ujar Hilman. Berkembang terus menerus hingga kini. Saat Hilman masuk tahun 2009, Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten  Sumedang sudah berkelas B. “Saya masuk rumah sakit ini sudah ditetapkan sebagai RS type B, kini saya sedang mengupayakan melengkapi dan menyempurnakan sebagai RS tipe B, “ungkap Ketua Ikatan Dokter Indonesia Kabupaten Sumedang ini.
Perubahan yang begitu pesat, telah menjadikan Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sumedang ini mulai banyak dibanjiri pasien dari berbagai daerah. Wajar apabila kini jumlah perawat dan dokter serta seluruh stafnya meningkat. Tercatat jumlah tenaga keseluruhan  yang terdapat di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sumedang yang tersedia mencapai 930 orang, meliputi 440 tenaga paramedis,  26 dokter spesialis, 30 dokter umum, 221 tenaga umum dan administrasi, serta sisanya tenaga pendukung. “Untuk standard RSUD ini, kita fokus dengan profesionalitas, seperti misalnya contoh kecil untuk tenaga office boy, dan cleaning service, itu kita pisahkan atau dibedakan, mereka bekerja dengan satu pekerjaan, tidak ada rangkap kerja, “ujar pria kelahiran Garut 27 Agustus 1963. Harapan Hilman, tentu dengan pekerjaan standard masing-masing itu, lingkungan rumah sakit ini akan senantiasa bersih, lestari dan nyaman. Dengan begitu ungkapnya, pasien akan merasa nyaman datang ke Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sumedang.
Saya kelola dari sisi aspek lingkungannya. Bersih, gedung diperbaiki, termasuk peningkatan kualitas sumber daya manusianya, “tutur lulusan magister manajemen mutu pelayanan kesehatan Universitas Indonesia. Selain masalah infrastruktur sarana dan prasarana, hal yang terpenting lainnya adalah membudayakan kerja dengan penuh disiplin dan ramah terhadap pengunjung rumah sakit. Artinya kata Hilman butuh kerja dengan rasa, kebersamaan, tidak ada yang terbebani dan dibebani, semua pekerjaan harus dilakukan dengan rasa tanggungjawab, bukan keterpaksaan, apalagi tuturnya rumah sakit adalah usaha jasa pelayanan. Jadi harus benar-benar memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat yang membutuhkan pengobatan. “Jangan jadikan pekerjaan itu sebuah keterpaksaan, jadikan sebuah kebutuhan. Dengan penyuluhan dan kedekatan kepada pegawai, saya kini tidak lagi harus setiap saat untuk kontrol ke sana-sini. Perubahan signifikan ini sudah mulai berubah pada tahun 2012. Memang butuh waktu untuk mengubah budaya kerja itu, “papar Wakil Ketua ARSADA Jawa Barat ini.
Sementara visi Rumah Sakit Umum Daerah Sumedang, adalah menjadikan rumah sakit umum daerah Kabupaten Sumedang berkinerja terbaik di Jabar. “Alhamdulillah, dari sisi keuangan, pada awal saya masuk pendapatan RS jumlahnya kurang lebih 29 milyar pertahun, kini jumlahnya menjadi 77 milyar pertahun. Suatu hal yang fantastis, apalagi kini masyarakat atau  pasien telah menjadikan Rumah Sakit Umum Daerah Sumedang sebagai pilihan untuk pengobatannya. Oleh karena itu, pihaknya mentargetkan untuk tahun selanjutnya target pendapatan menjadi 100 milyar per tahun, angka tersebut sangat memungkinkan dengan rencana adanya tambahan gedung baru 6 lantai sebagai tambahan sarana rawat inap,  “kata PNS Daerah yang pangkat terakhirnya pembina utama muda golongan empat ce.

Pendekatan Ke Masyarakat
Untuk obsesi ke depannya, lulusan kedokteran umum Universitas Padjajaran ini mengungkapkan, bahwa pihaknya akan mengembangkan homecare atau perawatan pasien di rumah. Mengingat untuk menambah lantai atau bangunan kembali di lahan rumah sakit, tidak akan memungkinkan kembali. “Ketersediaan lahannya sudah optimal”. Untuk itu dengan pola penerapan perawatan di rumah ini, diharapkan pasien sepeti penderita stroke atau lanjut usia, dapat terbantukan, khususnya dalam penanganan di rumah. “Penderita ini butuh perawatan khusus, sebab kalau saja semua pasien berada di rumah sakit, kasihan costnya terlalu tinggi, diantaranya untuk sewa kamar. Dengan mereka di rawat di rumah dengan kontrol perawat, setidaknya mengurangi biaya pengeluaran tersebut “ungkap jebolan SMA Negeri 3 Bandung ini.
Selain itu, papar Hilman, kita juga membentuk perkumpulan, seperti perkumpulan Diabetes, gagal ginjal, thalasemia dan lain-lain. Hampir setiap minggu, pihaknya mengadakan pertemuan rutin bagi penderita penyakit tersebut. “Kita mengharapkan dapat memberi jalan keluar membantu kesehatan masyarakat, “ujarnya. Menurut Hilman, pola itu sengaja diubahnya guna mendorong mainset masyarakat kepada dokter. Komunikasi yang baik antara seorang dokter dan pasien. “Saya punya tim dokter dan keperawatan yang baik, sehingga mudah untuk mengaturnya, jika ada pasien yang betul-betul membutuhkan tenaga keperawatan untuk merawat anggota keluarganya yang sakit di rumah. Keunggulan inilah yang diharapakan menjadikan rumah sakit umum daerah Sumedang tambah mendapat hati di masyarakat, “jelasnya.
Sebagai Wakil Ketua Asosiasi Rumah Sakit Daerah Jawa Barat, ia menuturkan mempunyai kesempatan mengenal Jawa Barat lebih luas, ke pelosok-pelosok daerah untuk turut serta memajukan rumah sakit yang terdapat di daerah Jawa Barat. Dari hasil pemantauan itulah, Hilman menilai kemajuan rumah sakit sebenarnya kembali kepada pemilik rumah sakit itu, apakah ingin menjadikan rumah sakitnya sebagai sarana mendulang PAD semata, atau sebaliknya menjadikan rumah sakit sebagai sarana pengobatan masyarakat. Pandangan atau paradigma ini harus diubah. “Sebenarnya maju mundurnya rumah sakit itu tergantung komitmen dari pemiliknya, niat awal, kalau ingin cari uang dari rumah sakit, repot, yang pada akhirnya akan tejadi ada pasien yang tidak mampu akan ditolak. Citra ini harus diubah, jika ingin rumah sakitnya  maju dan disenangi masyarakat. Dengan citra rumah sakit yang baik, maka pasien pasti senang memilih kepada rumah sakit tersebut.Dengan begitu, tanpa harus menolak pasien tidak mampu, rumah sakit itu telah memberi keuntungan sendiri dari pasien-pasien yang lainnya dengan mekanisme subsidi silang, “papar Hilman.
Semua itu kembali kepada sumber daya manusianya, sebab dengan sumber daya yang kurang, rumah sakit pasti akan sulit berkembang. Paradigma itu harus diubah dengan menjadikan SDM rumah sakit yang berkualitas dan mumpuni, termasuk infrastruktur yang lainnya juga. “Saya sebagai pioner di Jawa Barat, tentu menginginkan setiap rumah sakit yang terdapat di Jawa Barat maju, apakah itu rumah sakit swasta atau pemerintah. Untuk RS pemerintah sedianya, tak perlu harus menunggu bantuan dari pemerintah pusat buat merenovasi atau  membangun infrastruktur rumah sakit. Mereka dapat bekerjasama dengan investor, “ungkap Hilman bersemangat.
Menurut Hilman, ia sangat atensi dan antusias serta bersyukur terhadap pimpinannya, bupati Sumedang, karena telah mendukung sepenuhnya pembangunan RSUD Kabupaten Sumedang. “Bupati sangat support, dan ini sangat membantu, artinya pihak swasta berani menginvestasikan dananya untuk menjadi mitra rumah sakit, “ujarnya. Berkat bantuan investor itulah, kini Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sumedang telah memiliki sarana penunjang alat laboratorium canggih dan alat radiologi canggih, sehingga kalau ada pasien yang membutuhkan pemeriksaan laboratorium dan radiologi tidak perlu lagi di rujuk ke rumah sakit atau tempat lainnya.
Menurut Hilman lagi, investasi swasta itu harus dipertanggungjawabkan, jadi kita tidak boleh memanfaatkan untuk kepentingan pribadi. “Asal tidak untuk kepentingan pribadi.” Hilman menambahkan, kalau dikelola dengan baik, pasti bisnis rumah sakit itu menguntungkan. Tarif bersaing, asalkan kualitas pelayanannnya dengan standard yang sama dengan rumah sakit lain yang mahal, di jamin pasien atau masyarakat akan ramai datang berobat ke rumah sakit kita.
Kini menurutnya, RSUD Kabupaten Sumedang, telah berakreditasi nasional. Dengan perkembangan dan kemajuan yang telah diraih dengan segala keterbatasan yang ada, RSUD Kabupaten Sumedang mencoba merintis ke arah standard rumah sakit Internasional. “Kita telah study banding ke Malaysia bersama 24 pimpinan rumah sakit di Jawa Barat lainnya, “ungkap Hilman. Karena tergelitik dengan makin banyaknya masyarakat Indonesia yg berobat ke RS negeri jiran tesebut,  Sebenarnya, kemajuan yang signifikan itu bertumpu pada budaya kerja, itu saja yang membedakan antara pelayanan rumah sakit di Indonesia dengan pihak rumah sakit di negara-negara maju. Tak heran jika banyak pasien di Indonesia beralih ke rumah sakit negara lain. Itu dikarenakan sistem budaya kerja pelayanan dari karyawan rumah sakit di negeri ini masih belum optimal, sementara di negara lain sudah kepada tahap yang lebih. “contoh konsep pelayanan terhadap pasien di Malaysia sangat berbeda dengan di negeri kita, di sana, hampir setiap limabelas menit perawat masuk ke ruangan pasien untuk sekedar melihat, bertanya dan berdialog dengan pasien (round visit), tapi di Indonesia pada umumnya, pelayanan tersebut dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas bel, yang mana ini sangat kurang membantu bagi pelayanan pasien, belum lagi masih ada perawat yang suka cerewet atau kurang baik memberikan pelayanan, sehingga kurang memuaskan.  Wajar saja jika masyarakat kita lebih memilih rumah sakit lain di luar Indonesia, “papar Hilman.
Dibawah tangan dingin Hilman, RSUD Kabupaten Sumedang tumbuh dan berkembang layaknya rumah sakit modern. “Pendekatan saya adalah manajemen customer sutisfection, yakni memberikan kepuasan kepada pasien atau kepuasan pelanggan. Ditambah lagi pihak pemda kabupaten Sumedang juga turut mendukung, jika rumah sakit ini membutuhkan dana, dengan memberikan rekomendasi pinjaman modal ke bank, dan pemda sebagai bumper. Selama kita mampu mengkomunikasikan kepada atasan, pasti jalan dan sukses,  “paparnya.
IMG_0046 IMG_0087 IMG_0092 IMG_0137 IMG_0125 IMG_0094
Obsesi Terjun Ke Bisnis Rumah Sakit
Menurut Hilman, tentang obsesinya untuk tampil ke dunia bisnis. Dengan merendah, Hilman mengatakan, bahwa untuk menuju ke panggung bisnis, dibutuhkan keseriusan. “Obsesi untuk buat rumah sakit sendiri ada, tapi jika melihat kerumitannya, saya tidak mau ngeyel, sebab dengan mengelola klinik dan apotik saja yang seluruh pengelolaannya ditangani istri, itu saja sudah sibuk. Saya kini punya tiga klinik dan 2 apotik di Sumedang, “katanya.
Ia mengatakan, meski usahanya berkembang pesat, Hilman mengaku belum ada merencanakan untuk membuka usaha di luar Kabupaten Sumedang. “Saya tidak bisa ekspansi ke luar dulu, sebab semua itu butuh kerja keras dan disiplin yang ketat. Dan saya tidak pernah menganggap pesaing lainnya sebagai kompetitor, melainkan sebagai mitra kerja, terhadap apa yang saya kerjakan saat ini di rumah sakit umum daerah , “paparnya.
Citra pelayanan rumah sakit  yang buruk, dengan masih sering adanya rumah sakit yang menolak pasien, perlu ditinjau kembali, mengingat ini sangat merugikan buat pihak rumah sakit itu sendiri. Dengan adanya kebijakan ekonomi daerah, Hilman yakin peluang  bisnis rumah sakit akan terus tumbuh, apalagi kini juga Puskesmas telah maju, malah saat ini banyak Puskesmas yang telah memiliki USG. Padahal dulu sulit banget. Puskesmas sekarang telah banyak yang punya USG. Kini tinggal bagaimana melakukan pembinaan hal itu ke Puskesmas-puskesmas. “Pasien tidak perlu dirujuk  ke rumah sakit, cukup ditangani Puskesmas, kecuali  jika ada pasien yang harus menjalani operasi contohnya, “ungkap Hilman Taufik
Dengan rasa bahagianya Hilman mengungkapkan, bahwasannya Rumah Sakit Umum Daerah Sumedang, kini telah banyak memiliki kamar operasi, sehingga tidak perlu lagi ada pasien yang harus menunggu, atau waiting list, apalagi untuk pasien yang akan menjalani operasi atau bedah. “Dulu kita ada 3 kamar operasi, kini sudah ada tujuh kamar operasi, dokternya juga sudah banyak. Jadi tidak ada lagi pasien yang harus menunggu mendapat giliran operasi. Mereka bisa bersamaan menjalani operasi. Tinggal kini bagaimana kemajuan itu tetap dipertahankan. Saya tidak pernah memposisikan sebagai direktur dengan staf dalam kinerja mengelola RSUD Kabupaten Sumedang. Sehingga mereka tidak pernah ada jarak atau segan kepada saya. Sekecil apa pun permasalahan mereka, selalu berharga buat saya. Tidak ada batasan atau skat yang membatasi saya dengan bawahan, “papar mantan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang ini. Ia menambahkan, dengan banyak bantuan pemerintah dalam memberikan tambahan pembangunan gedung, memungkinkan RSUD Kabupaten Sumedang, perlahan-lahan mulai diperhitungkan banyak pasien di luar Sumedang. “Saya yakin suatu saat nanti RSUD Kabupaten Sumedang akan jadi pilihan prioritas masyarakat, makanya saya bangun terus gedung, selebihnya saya buat rencana lain di masyarakat. “Jaringan komunikai harus dibangun, kalau tidak sulit untuk berjalan, dan itu harus kita lengkapi, “ujarnya.

Masa Kecil
Masa kecil, lahir di pegunungan Garut. Selesai SPMA, orangtua bertugas diperkebunan teh. “Masa kecil saya di perkebunan teh. SMPN 1  pindah di garut kota, dan  saat SMA di bandung, lulus dari SMAN 3 Bandung, saya mendaftar di Fakultas Kedokteran di Universitas Padjajaran, ungkapnya. Tugas pertama saya di pegunungan, di Puskesmas Cibugel selama 3,5 tahun.
Selama 3 tahun atau tepatnya 2007, menjadi Kepala dinas kesehatan, 2009 baru pindah ke rumah sakit. “Saya enam bersaudara, tiga perempuan dan 3 laki-laki. Saya punya cita-cita untuk jadi dokter bedah. Sayangnya saat lulus kuliah di kedokteran, saya terlena mengurus pasien di puskesmas.  saya terlena dengan praktik. Hampir pagi dan sore, pasiennya banyak hampir setiap hari itu ada  kurang lebih 150 pasien. Ini menjadi kepuasan sendiri buat saya sudah dipercaya masyarakat.
Melanjutkan kuliah ke klinis sudah tidak bisa, karena faktor  usia tidak boleh. Saya pilih kuliah S-2 manajemen kesehatan.  “Kalau semua jadi spesialis bagaimana, ngak ada yg mengaturnya”. Masa kecil saya seperti pada umumnya anak-anak pada usia saat itu, yakni main layangan, klereng, main bola. Ditambahkan, ibu saya orang garut, dan bapak Tasikmalaya. Kini orangtua tinggal  di Bandung.
Sedangkan pola asuh orangtua terhadap saya, mereka fleksibel. Kadang keras, kadang juga lembut, dan itu tertanam di saya. “Wejangan orangtua, ingin jadi dokter, orangtua sangat mendukung. “Fakutaltas Kedokteran Unpad, anak saya juga kini semester enam, dan yang nomor dua kelas satu SMP. Dahulu secara finansial orangtua saya berkecukupan.”
Filosofi Hilman,  tidak perlu neko-neko seperti air mengalir. Punya tujuan yang jelas. Tujuan hidupnya, kalau melaksanakan amanah sesuai aturan yang selesai dan bisa berkiprah dengan bidang lain sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hilman ingat saat punya cita-cita ingin menjadi dokter, berawal dari saat masih kecil, di sunat di rumah sakit. Ayah saya bawa ke rumah sakit. Terobsesi untuk menjadi dokter, karena saya yakin bergerak di bidang kesehatan bisa langsung dirasakan manfaatnya. “Saya sepertinya sudah tertempa, istri sangat mendukung.
Sebelum menikah, mendapat tugas praktik ke pegunungan,  belum ada listrik. Ada yang minta tolong, pakai motor jauh banget, keluar rumah jam 3 sore, pulang jam 6 pagi. Banyak pertimbangan,  saya tungguin. Rumah dinas disediakan, ada gaji, ada tunjangan. “Saya menikmati, kepuasaan. Seharusnya betul-betul mengabdi. “
Visi dan misi pribadi saya, ungkap Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan 11 April Sumedang ini yaitu ingin mengajak teman sejawat untuk meningkatkan profesionalisme, kompetensi, mengembangkan ilmu pengetahuan masyarakat, kedokteran berkelanjutan. Membantu menciptakan ketrampilan dan skill. Ketemu istri saat tingkat dua, istri baru masuk kuliah. Dulu almamater SMA satu komplek gedung, pacaran 7 tahun. Selesai kuliah baru menikah. Istri ambil jurusan perbankan. Pulang kampung buka Klinik, apotik, pusat kebugaran/fitnes, senam, dan penyuluhan kesehatan , istri saya yang kelola.
Handphone saya 24 jam.  Menanggapi soal terjun ke panggung politik, Hilman mengatakan, tidak ada obsesi khusus. Keluarga sendiri sebenarnya mendorong untuk ikut pilkada bupati. Tapi berat sepertinya. Apalagi saya juga  tidak suka politik. Sudah banyak yang ngelamar dari parpol, tapi saya merasa  belum tiba saatnya. “Kita mengukur aja, introspeksi. Itu relatif kalau bicara pantas. Sedangkan harapan pribadi, konsep reformasi birokrasi bisa secara utuh dilaksanakan. “Profesionalisme kalau itu bisa dilaksanakan mudah untuk mengerakan masyarakat.”
Kini yang harus dibangun, adalah bagaimana pemahaman  pembangunan kesehatan menjadi tanggungjawab bersama, seperti  pemerintah, masyarakat dan swasta. “Yang saya potret di era kini, masih adanya  kesenjangan yang  jauh antara Indonesia Timur dan Barat, belum ada kepercayaan yang seratus persen terhadap kesehatan masyarakat. Budaya, struktur, kearifan budaya,  otonomi daerah. Yang paling penting itu bisa terlaksananya adalah didukung dengan sdm yang mumpuni.
Menurut Hilman, dulu di RSUD Sumedang anggaran untuk pendidikan dan pelatihan nol, bagaimana untuk meningkatkan kualitas. Jika menuntut demikian. “Yang mau meningkatkan keilmuan kita magangkan. Kita tugaskan mengikuti Workshop, seminar, di sini masih ada perawat yang berpendidikan SPK, padahal harusnya D-3. Kita sekolahkan dengan bea siswa. Sebenarnya kita ini rangking kelima di Jawa Barat sbg Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi,  pada peringatan hari ibu, ada penilaian rumah sakit sayang ibu dan bayi. Generasi sekarang jadi lebay. Terlalu banyak fasilitas, jadi daya juangnya kurang, tidak struggle”, ungkapnya. Dengan sarana dan prasarana yg lengkap bedampak kurang termotivasi untuk berdaya saingnya. Saat sma saya masih naik angkot, anak sma sekarang tidak demikian. Ke depan bagaimana untuk mengantisipasinya, globalisasi, berikan pemahaman, bisa menghadapinya, pesan saya, karena momentum generasi itu kan tidak akan datang dua kali, jadi harus punya impian dari awal, dan berupaya untuk menjadi kenyataan. Hobbi saya saat ini, bahkan sejak remaja adalah seluruh olahraga saya suka, seperti  futsal, sepakbola, bulutangkis, tenis, sepeda motor gede, sepeda  motor trail dan bersepeda.  “Intinya keseimbangan harus dijaga,  kesehatannya penting. Wisata ke pantai atau pegunungan.  Setiap tahun sekali ke Bali dan juga ke luar negeri bersama istri dan anak. Alhamdulilah itu semua berkat usaha istri saya mengembangkan kegiatan MLM besama pt KK indonesia, jadi semua kegiatan jalan2 adalah gratis, bonus dari perusahaan

hilman keluarga
KESAN KELUARGA
Winny Novianti, istri dokter Hilman
Wanita  berpendidikan sarjana ekonomi, jurusan manajemen perbankan, 27 November 1965,  ini mengatakan, sebagai  ibu rumah tangga, ia patuh saja untuk mengikuti   suami pergi tugas  dokter ke mana saja. “Suami saya melarang bekerja, mengingat suami bekerja langsung ke daerah  Sumedang,  atau tepatnya di daerah Pegunungan. Menurut Winny Novianti, perkenalannya dengan suaminya dokter Hilman, terjadi saat Sekolah Menengah Atas, kebetulan saat itu sekolahnya satu lingkungan atau komplek, hanya berbeda sekolahnya.  “Kenal suami dari sma, satu lingkungan atau satu komplek, suami di SMAN 3, sedangkan saya di SMAN 9.
Setahun setelah selesai kuliah. Dengan berjalannya waktu, saya menikah kemudian melahirkan anak pertama saat suami tugas di pegunungan. Anak kedua lahir ketika suami sudah di dinas kesehatan. Selanjutnya saat punya waktu  dikota, saya bisa menyalurkan hobi dan kesibukan. Suami di kota, kita buka usaha, karena waktu itu saya merengek untuk bekerja, dan  suami menantang untuk buka usaha sebuah klinik. “Katanya kalau berhasil hebat, bonusnya saya dikerjain siang dan malam. Karena ada kesempatan, usaha selanjutnya kami kembangkan tahun 2000 ke Jatinangor.
Kita mengelola tiga klinik, dua apotik, fitnes dan klinik kecantikan ditambah bisnis MLM. Kendala belum. Punya usaha bidang apa pun. Butuh kerja keras untuk memelihara usaha ini agar  berkembang, perlu waktu yang banyak, termasuk rekrutmen pegawai. “Syukurnya saya punya karyawan yang mempunyai loyalitas mumpuni. Sehingga ngga ada kendala yang besar. Saya ikut membantu PKK dan Dharma Wanita di Kabupaten.”
Masukan untuk generasi muda, khususnya wanita, jangan berpikir kita tidak mampu, yang penting ada kemauan, dan tekuni jangan setengah-tengah, dan target yang pasti. Jalankan dengan benar dan baik, dan jangan pelit terhadap karyawan atau siapa pun. Dimatanya suaminya adalah  sosok suami yang hebat. Suami saya itu di rumah figur semua orang, saya dan anak. Suami tidak pernah mengeluh, senyum dan tegas. Saya sebagai istri bangga sekali. Dia punya masalah, seperti tidak punya masalah, meski sebenarnya ada masalah. Karier suami dan saya, doa ibu dan mertua. Apa pun kalau ada masalah kita selalu meminta doa kepada orangtua.
Masalah kesehatan suami, saya perhatikan masalah makanannya. Sedangkan kelemahan suami saya yakni suka lupa makan. Makanya saya suka telpon. Sosok bapak, pintar, berkumis dan punya istri yang baik. Seorang istri berharap suami sehat, amanah dan dicintai orang-orang disekitarnya. Harapan sudah terpenuhi semua. “Kita berharap anak-anak bisa mencontoh bapaknya, yang amanah dan anak yang sholeh. Sosok hilman sebagai seorang ayah, hebat. Anaknya mengidolakan ayahnya menjadi dokter. Pesan saya, suami panjang umur dan barokah untuk orang-orang sekitar.

Ibu Hajjah Sofiah Hidayat/Orangtua
dokter Hilman Taufik Wijaya
Menurut Hajjah Sofiah Hidayat, anaknya sholeh, pintar dan taat agama. Ia adalah anak yang pintar, dan selalu rangking satu terus saat sekolah dasar  hingga sekolah menengah atas. Saat mengandung hilman, minta laki-laki, lahir pakai bidan. Suami mengikuti kelahiran anaknya. Masa kecil hilman, laki-laki biasa, jatuh naik sepeda. Belajar sepeda jatuh. Soal pendidikan cerdas, cucu juga cerdas.
Cucu 13 dari 6 anak bersaudara. Mereka sukses semua. Baik pandangannya, dekat dengan anak-anak. Sebagai anak tertua, hilman terhadap adik-adiknya, sangat dekat sekali, saya selalu yang pertama menolong. “Saya punya anak enam semuanya sholeh. Alhamdulillah.  Pesan ibu kepada hilman, pesan saya hilman sehat, panjang umur.  Suami saya belum bisa beli apa-apa kesejahteraan, hilman selalu berkorban, tapi jika ada rezeki, hilman selalu minta diberikan lebih untuknya, “ungkapnya.

Tini Sofiatin/adik kedua Hilman
Lahir, 26 desember 1964, Tini mengaku kegiatannya bergerak di bidang perumahan. “Saya lulusan sarjana hukum, saya tidak tertarik dengan notaris, saya membebaskan lahan. Suami di pertanian,  anak dua,  di lembang pertaniannya. “Di mata saya, hilman jarang bicara. Saat papa di perkebunan, di tarik ke direksi, saya ditinggal di garut, karena tanggung sekolahnya. Kakak saya jarang ngomong, apalagi curhat, sekalinya dimintai pendapat, mantap, “ujarnya.
Karakter kakak, orangnya bertanggungjawab, ke adik2 perhatian, termasuk kepada ayah saya, gila kerja, seperti ayahnya. Kerasa kalau ada acara pertemuan keluarga, kakak suka lama datang bekerja. Terasa sekali sama adik-adiknya. Pesan untuk kakak, kesehatan dijaga. Kakak harus lebih dalam segala hal, karier dan iman islamnya lebih.

Nasrudin

No Comments

Koperasi BMT Al-Ijtihad Memacu Usaha dengan mengedepankan

Profesionalismedan mengutamakan System Informasi Technology

NasrudinKesulitan ekonomi membuat Nasruddin remaja berpikir keras untuk berusaha. Berbagai cara dan upaya dilakukan untuk bisa menghidupi dirinya, ibunda dan adik-adiknya. Beliau, ibunda dan adik-adiknya ditinggal sang kepala keluarga/ ayahna yang meninggal dunia. “Saat itu saya masih berusia tiga tahun, dan kebetulan ada adik saya yang masih dalam kandungan, “ceritanya mengenang.

Nasruddin menggambarkan secara sederhana terlebih dahulu arti BMT. BMT itu sendiri memiliki kepanjangan Baitul Mal Wattamwil adalah lembaga Pembiayaaan Mikro didalam pengoperasiannya sehari hari menerapkan hukum Negara plus hukum Syariah. Sebagai Lembaga Pembiayaan BMT mengacuk kepada aturan, strategi dan kiat usaha penggalangan dana, menciptakan produk/jasa pembiayaan yang beragam dan menarik, promosi, dan mengedukasi pasar. Menceritakan keberhasilannya menjadi orang nomor satu di Baitul Mal Tanwil atau BMT Al-ijtihad Pekanbaru, Riau ini.Nasruddin merasa dan melihatnya sebagai keberhasilan seluruh unsure di BMT yang utamanya adalah anggota yang telah menepatkan dananya dan yg telah memanfaatkan jasa pembiayaan yang ditawarkan. Mereka-mereka inilah awal mula pergerakan roda kegiatan pembiayaan di BMT yang kami beri sentuhan managemen usaha yang bersih, tenaga yang professional, penggajian karyawan yang memadai dan terpenting pemanfaatan sistim Technology Informasi telah membuat loncatan perkembangan dan keberhasilan BMT Ittihad yang diakui beberapa kalangan terkagum. Memang beberapa kunci Utama maju dan kokohnya BMT Al Ittihad ini tidak terlepas dari kepercayaan anggota, orang pemilik dana untuk menempatkan dananya di BMT Al Ittihad ditambah pula pemanfaatan System Technology Informasi. Sebelum mengelola BMT Itthad, tokoh kita ini sudah membaur didalam berbagai kegiatan di masyarakattermasuk menjadi pengurus sebuah koperasi konvensional di Pekanbaru bermodal gemuk selama puluhan tahun. Setelah selesai masa baktinya selama 3 periode di koperasi konvensional itu, Pimpinan kerjanya di PT CHevrom Pacific Indonesia (CPI) yang juga Ketua Umum Pengurus Yayasan Kesatuan Pendidikan Islam dimana BMT ini bernaung, memintanya duduk di Kepengurusan BMT Al Ittihad untuk mengembangkan lebih pesat dan kuat lagi lagi koperasi BMT Al Ittihad ini. Bapak Haji Ely Azhar, SE yang memberinay peluang ini juga menempatkan Bapak Haji Tegus Soelastyo P, SE Ak, MAk, sebagai ketua Pengurus dan Nasruddin sebagai Wakil Ketua. Selang beberapa bulan, Pak Teguh juga “dibajak” koperasi lain, sehingga Bapak Nasruddin Naik ke posisi Ketua Pengurus sampai sekarang setelah 2 kali pemilihan dan penggantian Kepengurusan. Rupanya Pak Haji Ely Azharini mempunyai niat luhur untuk menitipkan BMT ini kepada orang-orang yg diyakini mampu melanjutkan kerja beliau sembari juga mempersiapkan saat pensiun dari CPI di Rumbai dan akan bermukim diluar Ppekanbaru.Pada saat beliau mengadakan acara pamitan kepada Bapak Teguh dan Bapak Nasruddin beliau titip untuk melanjutkan pengelolaan dan pengurusan BMT ini denga sebaik mungkin. “Benar kesempatan saya sekarang ini tidak terlepas dari kepercayaan orang untuk menempatkan saya selaku pucuk pimpinan, saya pun yang telah berusia 55 tahun sekarang menginginkan koperasi ini maju, berkembang dengan kokoh karena itu harus dikelola oleh orang-orang yang profesional dan dibantu oleh sebuah system Technology Informasi keuangan yang mutachir, “ujarnya.

Nasruddin 1 cSejak tahun 1977, lepas dari SMU di Kota Pekanbaru, Riau, Nasruddin remaja melamar berbagai pekerjaan.Ia mulai dari seorang sales asuransi di kota Pekanbaru, Riau.Di Chevron, Agraria, Telkom, BPS, sampai STPDN/APDN dia memasukkan lamaran baik utk bekerja maupun untuk menjadi mahasiswa. “Alhamdulilllah saya diterima di semua lembaga itu, hanya saja saya mengambil pekerjaan PNS di BPS (Kantor Sensus & Stistik Provinsi Riau) Pekanbaru, karna BPS itu yang cepat member tanggapan, memanggil saya untuk bekerja dan tampa prasyarat lain“ungkapnya.

Selain itu tuturnya, beliau juga sempat memberikan les privat kepada anak-anak tetangga secara pribadi untuk mengisi hari-harinya usai lulus di SMU tahun 1977, di kala usianya memasuki 19 tahun, beliau pun mengaku mendapat tawaran pekerjaan di perusahaan Asing pembuat Anjungan Minyak Lepas Pantai di Batam, Riau, atau tepatnya PT. McDermott Indonesia. Perusahaan itu menerimanya untuk bekerja dan ditempatkan di bagian administrasi Engineering perusahaan tersebut sebelum mengundurkan diri untuk masuk PNS di BPS tahun 1979. Setelah itu “Dari lamaran saya setelah tamat SMU, saya lulus di dua perusahaan yakni PT Telkom dan PT Caltex Pacific Indonesia.“ujarnya. Menurut Nasruddin, pada saat itu ia kebingungan untuk memilih tempat bekerja yang paling tepat, akhirnya beliau pun memilih berhenti dari PBS masuk ke perusahaan minyak PT Caltex (CPI) yang beroperasi di Riau.

Lahir 25 Mei 1958, Nasruddin kemudian menjalani pekerjaan itu dengan sebaik-baiknya. Anak kedua dari empat bersaudara yang kini mengaku telah memiliki enam anak, tiga laki-laki dan tiga perempuan ini merasa bersyukur telah dikarunia keberhasilan pekerjaannya dari Allah Tuhan Yang Maha Pemurah. “Meski dahulu susah, tapi berkat kerja keras dan kesungguhan, semuanya dapat dilaluinya dengan sebaik-baiknya, “katanya. Nasruddin yang sejak di bangku sekolah dasar selalu juara kelas bahkan juara umum ini mengaku bahwa saat SD dia dibiayai oleh salah seorang gurunya karna ibunya belum sanggup membayar biaya sekolahnya waktu itu. Kebaikan Gurunya itu dibalas Nasruddin dengan menammatkan SD dalam waktu 5 tahun saja, sebelum kemudian masuk SMP PGRI Riau dan SMA Negeri 1 di Pekanbaru Riau. Lagi-lagi raportnay sering terlulis Juara.

Bekerja di Perusahaan Minyak Chevron

Nasruddin 2Bekerja di perusahaan minyak asing Chevron sejak July 1981, ditahun-tahun awal dia dikursuskan bahasa dan akuntansi dengan bahasa pengantar bahasa asing pula dan mendapat pendidikan dari orang asing membuatnya tambah kaya pengalaman kerja dan ilmu. Hal itu dilakukan sampai 1985. “Saya tidak diterima sebagai pekerja lapangan, tapi saya kemudian dipekerjakan di Kantor. Saya bekerja di Chevron sudah 29 tahun (1981 – sekarang ).

Pengalaman menarik lainnya adalah saat saya bekerja sebagai sales asuransi. Pada saat itu saya menawarkan asuransi kepada seorang bapak yang baru pulang dari adu burung perkutu dan beliau konon kalah taruhan perkutut tersebut. Saat saya disuruh masuk ke rumahnya untuk nasabah mengisi formulir, saya pikir nasabah mau mengambil pulpen mengisinya, tapi yang saya dapat bukan formulir yang diisi, di dalam rumah, melainkan Bapak itu mengambil parang untuk mengusir saya keluar dari rumahnya, ujarnya mengenang masa pahitnya selama bekerja sebagai sales asuransi di Pekanbaru. Begitu juga waktu bekerja di Biro Pusat Statistik atau BPS, saat saja mendapat tugas Mengawasi Sensus Penduduk 1980 di sebauk Kabupaten, bukannya saya disuruh masuk untuk Pengawasan Pelaksanaan Sensus penduduk di Kantor pemerintahan daerah, melainkan saya disuruh duduk saja di lobi tamu. Baru menjelang sore, saya ditanya, sedang menunggu siapa dik, “Saya bilang bahwa saya utusan dari BPS Provinsi untuk melakukan Penmgawasan SP1080 di kantor bapak, karuhan saja mereka pun sibuk berbenah membenahi kantornya yang berantakan administrasinya, “papar Nasruddin.

Nasruddin juga bercerita bahwa beliau juga pernah mendapat pendidikan bahasa Asing dari tenaga pengajar luar negeri, saat bekerja di perusahaan minyak Chevron. “Saya mendapat 70 kursus dan pelatihan yang beberapa diantaranya langsung diberikan orang asing dengan pengantar bahasa Inggris, kebetulan saya memahaminya. Tapi, yang ironi adalah saat saya harus mempelajari akutansi. Saya ini adalah lulusan SMU jurusan IPA. “Saya kebingungan sekali untuk mengerjakan PR-PR nya. Nasib elok, ada dosen yang menilai saya bagus pekerjaannya, sehingga perlu dipoles lagi untuk terus mereka didik sampai ilmu Akuntansi ku selesai. “paparnya. Sampai kini Nasruddin masih menjadi tenaga pekerja di Chevron,“Saya memulai kerja di Chevron sejak tahun 1981 hingga sekarang selama hampir 29 tahun. Bekerja sampai jam 16.00 setelah itu memikirkan dan memegang pekerjaan di KOPSYAH BMT AL Ittihad untuk kegiatan susial lainnya dan keluarga pastinya.

Mengenal istri

Nasruddin 1 b Nasrudin_Page_2Sebagai anak petani, Nasruddin mengaku mengenal istri, saat masuk ke perusahaan minyak Chevron, saat itu usianya 23 tahun dan istrinya 19 tahun. Setamat SMU, mereka menikah dan dikarunia 6 anak kini. “Istri saya menerima saya apa adanya, tulus tanpa neko-neko, “ungkapnya. Di perusahaan inilah saya membina Baitul Maal Wa Tamwil (BMT) al Ittihad bersama teman-teman. Selain aktif di koperasi, Nasruddin juga aktif di masyarakat Pengurus Masjid, Panitia Qurban, Penasihat di 4 Koperasi Konvensional, dan Pembawa acara Hari-hari besar Islam seperti Hari Raya Fitri, dan Adha sehingga begitu banyak pertemanan yang memudahkan koperasinya berkembang dan maju. Hal itu dilakukan saat di luar jam kerjanya di PT CPI.

Selama menjadi pimpinan koperasi, Nasruddin menjalaninya dengan seadil-adilnya. Ia majukan sumber daya manusianya, dengan memberi gaji karyawan yang memadai dan memasukan mereka dalam koperasi. Sehingga ketika karyawan butuh barang, dan modal bisa pinjam di koperasi. Koperasi ini melayani berbagai skim pembiayaan atau simpan pinjam tetapi juga melayani semua golongan dan lapisan masyarakat dengan demikian tidak ada kesulitan untuk memperlebar dan meperdalam pasar ke pelosok yg melayani orang-orangdari banyak profesi, diantaranya pedagang pasar, pandai besi, peternak ayam dan pekolam, petani sayur, perbengelan sanpai kepada para guru dan PNS non guru. “Duit selalu ada di kota besar, sedangkan orang dan usaha yang membutuhkan modal kadang dan lebih banyak ada di pedesaan atau pedalaman. Mereka harus dilayani dan bisa mendapatkan modal usaha, dapat keuntungan, kesempatan ikut maju bersama peluang usaha yang terbuka luas. Dengan demikian modal masuk ke pelosok, roda ekoni berputar, tenaga kerja dan produksi masyarakat terserap dalam perputaran ekonomi sedemikian rupa memberikan nilai tambah beredampak ganda (value added from multiplier effect). Sangat ideal mengelola koperasi. Tidaka da habisnya peluang dan terobosan dapat dikembangkan di sector ini. Namun demikian, mengelola BMT (baca Lembaga keuangan mikro) bukan tampa hambatan atau kelemahan. Saudara BMT ini yaitu Koperasi sudah terlanjut sudah punya nama jelek. Banyak korupsi dan jarang dapat untung luamayan. Mudah di bawa kabur atau tilep orang dalam sendiri. Buku laporan banyak direkayasa. Kita masuk untuk perbaikan, kita buktikan kepada anggota dan masyarakat bahwa koperasi dan BMT mampu dan bisa lebih baik lagi. Kepercayaan ini harus kita bina dan tumbuhkan. Kalo orang sudah percaya mereka akan merasa nyaman bergabung, menyimpan duitnya dan sangat mudah masuk. Bahwa kaitan barang dan uang di BMT berbeda sekali dengan koperasi konvensional. BMT menjalin rapih hubungan barang dan uang, sehingga selalu sinkron dan krisis moneter tidak akan pernah terjadi secara partial dan menyakitkan. Baitul Mal Tanwil al-Ijtihad, kami memakai kaidah-kaidah ekonomi syariah, walaupun pada awalnya saya tidak punya dasar ilmu Ekonomi Syaraih dan saat itu punya pengalaman nol hanya punya pengalaman berkoperasi konvensional. BMT berdiri atas prakarsa orang-orang brilliant seperti Haji Ely Azhar, Hj Nurbaity Maas dan H. R Awan Setiawan, H. Lukman Tedji dan lain lian. Yayasan Kesatuan Pendidikan Islam, mmembawahi unit pendidikan, Unit Da’wah, UKS, Unit Muammalah sector ril, unit Pengelolaan Asset dan BMT.

Visi dan Misi

Visi BMT Al Ittihad adalah maju berdasarkan syariah. Sedangkan Missi BMT mensejahterakan ummat lahir bathin dengan menjadi pusat pengembangan, semangat dan penerapan ekonomi syariah.

Untuk mengelola koperasi Islam ini dari Bapak Haji Ely Azhar dan Mas Haji Tguh Soelastyo P. Nasruddin mengaku sangat serius dan bekerja keras, hingga berkembang pesat seperti sekarang

“ Saya diminta untuk memimpin BMT Ittihad ini menggantikan Ketua yaitu Mas Teguh Soelstyo P. “dibajak’ oleh koperasi lain sedang Ketua sebelum yaitu Pak Haji Ely Azahr sudah Pensiun dan pindah domisili. Dengan sangat besemangat akhirnya saya pimpin lembaga ini mulai tahun 2006. Sudah enam tahun ini BMT Al Ittihad saya pimpin. Di tingkat kota pekanbaru kita selalu menjadi koperasi unggulan sejak 2006 itu terus naik trendnya pada posisi provinsi Riau dan konon sedang disevaluasi oleh Kemenkop untuk level Nasional. Prediket dan Pengahrgaan harus kami syukurin dan sambut dengan sukacita, namun kami sangat bersyukur lagi jika kami dapat menyelaraskan anatara pedikat itu, denga kwalitas pelayanan dan dampak langsungnya kepada anggota pada khususnya dan ummat dilingkungannya pad aumumnya. Kita menanam benih kepercayaan dan memupuknya supaya tumbuh subur produktip. Saya pertama dibimbing untuk memajukan koperasi ini.

Pertama saya membuat Perencanaan dan skala prioritas, menetapkan unsur-unsur apa yg harus digarap buat meningkatkan daya tahan dan keuntung bisnis.

Kedua, saya yakin saya harus mengutamakan pegawai profesional, saya ambil manager yang bukan sembarang. Seperti Manager Pengelola BMT Ittihad yang sekarang Pak Indra Putra adalah mantan Mangkir dari salas sebuah bank. Kepada Pak Indra Putra dan jajarannya saya katakana “ saya hanya bisa member kalian semua semangat, arah dan dukungan moral maupun material agar kalian mendapat penghasilan yang layak disini dan koperasi bisa maju berkat tangan-tangan professional kalian semua.Ini tempat kita mencari nafkah dan tempat menimba amal untuk kepentingan umat. Saya ketuk tular kepada Pak Manager agar koperasi dengan segala potensi yang ada harus dipacu. Ini tempat saya bekerja hingga pensiunan. Agar sejahtera dan makmur mari jadikan BMT Al Ittihad ini bank kecil yang professional dimana satu saat mampu member hak pensiunan yang memadai pada para karyawan. Karyawan ini yang tlh membantu saya menjadikan BMT berkembang. Yang memasak harus dapat makanan cukup.

Ketiga, saya merasa zaman sekarang ini penting akrab dengan sistem teknologi informasi untuk mendukung percepatan, ketepatan, kecepatan dan kerahsiaan data, saya ajak semua komponen berfikir, menambah ilmu dan menenamkan uang utk IT untuk segera memajukan sistem IT pendukung operasi dan misi BMT . Kita memakia modul perbankan yang ukurannya sudah disesuaikan untuk Pembiayaan Mikro oleh USIBandung dan Jakarta. Kami masih memiliki beberapa jurus kunci lagi dalam hal IT ini agar perjuangan membesarkan BMT Al Ittihad ini berlanjut dengan percepatan yg dieskalasi. BMT Al Ittihad harus menjadi pemakai terdepan Teknologi informasi bukan karena gagah-gagahan tetapi meletakkan pondasi yang kuat bagi pertumbuhannya BMT kedepan.

Ke-empat. Keterbukaan. Apapun tindakan strategis yang kami ambil harus mendapatkan persetujuan pemilik uang (anggota) terlebih dahulu. Jika itu belum kami lakukan sedangkan peluang sdh didepan mata maka kami akan membuat keputusan khusus yang segera harus dilaporkan dengan justifikasi kepada Anggota (pemilik Uang).

Menurutnya, Undang-undang koperasi nomor 17 tahun 2012 yang baru, telah memungkinkan setiap Koperasi atau BMT dapat beroperasi diseluruh wilayah NKRI ini termasuk di Jakarta. “Di Riau kami sedang menunggu kelahiran kantor Cabang ke 3. Kami berharap sampai 2015 kami bisa mebuka cabang di setiap ibu kota kabupaten di Provinsi Riau.

Obsesi Nasruddin

Bagi Nasruddin obsesinya tidak muluk-muluk. Prinsip beliau, bagaimana menjaring orang untuk berani dan menaruh uang di BMT Al Ittihad. “Saya harus mempunyai sistem IT dan orang yang profesional mengelola uang mereka selain aman, dan juga memberi keuntungan yang menarik. Sebagai tindak lanjutnya kami harus aggressive memberi pembiayaan kepada masyarakat, “pungkasnya. Ia mengaku sangat terbantu karan kepercayaan masyarakat di dalam dan di luar lingkup PT CPI tergalang dengan baik. “Dahulu kami hanya punya Modal Rp 300 juta. Per hari ini Asset BMT AL Ittihad Rp 47 milyar,jadi dalam 12 tahun usia koperasi ini pertumbuhan kepercayaan atau yg tergambar dari kenaikan nialai aseet itu adala 153 kali lipat .

Menghadapi persaingan yang negatif, beliau mengaku juga suka berdiskusi dengan para pesaingnya, terutama bagaimana mendengarkan mereka, agar saya punya strategi jitu menyikapi situasi bmt. “Mengambil ide pesaing, saya melihat pesaing sebagai sparing partner. Untuk mengukur dan membanding dengan adanya persaingan, mengembangkan potensi untuk maju ke depan. “Pesaing membuat kita tidak puas untuk maju terus.”

Sedangkan pembinaan SDM di BMT alijtihad. “Mereka kita rekrut disesuaikan antara kebutuhan dengan tawaran gaji dan inteligensi selektif dengan mengutamakan pengalaman. Yang saya terima adalah yang bisa bekerjasama. Beberapa diantaranya kita awasi untuk pengkaderan Kepemiminan yang akan datang, “katanya mantap.

Selanjutnya, tentang inovasi, saya menyambut adanya inovasi agar ada loncatan berkembang dan modernisasi. Alhamdulillah, Sejak April 2013 BMT AL Ittihad sudah memakai transaksi Mobile dengan sistem satelit tanpa harus disetorkan ke bmt, lewat orang bmt datanya sudah ada di pusat. Jika bermasalah data dan uangnya, maka petugas yang bermasalah. “Disetorkan sekian ke bmt pekanbaru, telah dapat diterima dan diketahui via satelit ke pusat.”

Menanggapi peran pemerintah, Nasruddin mengatakan yang kita rasakan, bmt ini atau koperasi ini, kita aktif dulu baru pemerintah bantu. “Mereka punya program banyak dan jadi wasit dalam industri bmt. Sangat wajar jika mereka memberi kontribusi kepada kita. Koperasi ini sejak bung hatta gelorakan, memberi manfaat yang sangat besar. Namun sebaliknya koperasi sekarang dianaktirikan”. Pemerintah harus bisa memajukan koperasi, via alat tulis kantor. Pemerintah sekarang tidak lagi memberi peran kepada koperasi, justru bank swasta yang dinomorsatukan. Ideologi dan praktik masih perlu pemikiran yang sejajar, komitmen harus sungguh-sungguh dan luar biasa.

Menikah selama 31 tahun, Nasruddin mengaku peran keluarga saling memahami keduabelah pihak. “Kita jalani masing-masing. Indahnya keluarga. Sebelum bersama saya istri mengjar sebentar, setelah ada momongan jadi ibu rumah tangga. Kita mempunyai anak 6 tiga laki2 dan 3 perempuan, yang pertama dosen di riau s2 di unpadj, nomor 2 sakit sampai sma, dan ketiga tamatan elektro usu kerja di kalimantan, nomor empat bisnis tamat smu, nomor 5 di s2 unisba bandung, dan keenam nomor kelas 6 sd. Hidup ini saya anggap menikmati. “

Tentang usia muda, Nasruddin mengatakan harus kita manfaatkan dengan baik, dan kesempatan yang baik harus kita mampu analisa keadaan, agar pada usia muda dapat berbuat manfaat di usia produktif antara 15 hingga 55 tahun. “Peluang harus kita baca, saat saya kini peluang itu muncul saat saya sudah tua. Ini berbeda dengan dengan orang china, yang rata2 berusia muda telah menjadi manager atau direktur atau pimpinan puncak. Anak saya s2, tatanan teoritis dia sempurna dan tatanan praktis dia nol. Julius tahiya orang pertama pimpinan minyak, Pengalaman tidak bisa dijemput di bangku kuliah, pengalaman tidak bisa memenggal atau memutus waktu. Dari kecil kita bina untuk merebut peluang, maka kita bisa menangkap peluang. Kenali diri anda, kelebihan dan kekrangan anda, setelah tahu kelebihan asah, dan kekurangan diminimalisir, jangan dihilangkan. Semua kelemahan kita dikurangi. Kita harus mampu bersaing. Kenali diri anda, maka anda kenal dengan tuhannya. Pada usia muda capai yang terbaik.

Hasbullah, SH.,MH

No Comments

LKBH Fakultas Hukum

Universitas Pancasila Siap Membantu

Masyarakat Yang Membutuhkan Bantuan

Hukum

profil hasbullah sh mhLembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Fakultas Hukum Universitas Pancasila adalah salah satu wadah penunjang Tridharma Perguruan Tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat. LKBH semakin sangat penting di lingkungan Perguruan Tinggi, khususnya bagi Perguruan Tinggi yang memiliki Fakultas Hukum sebagai wadah pengembangan bagi dosen dan mahasiswa dalam dunia praktisi.

Didirikan pada tahun 1986 oleh menteri kehakiman, berkembang hingga saat ini. Fungsi lembaga ini adalah menjalani sebagai salah satu fungsi Tridarma Perguruan Tinggi, atau tepatnya pengabdian kepada masyarakat.“Sudah beberapa kali pergantian ketua, sebelum saya, yang memimpin senior dan juga dosen saya, “ungkapnya. Sebelum berkedudukan di Lenteng Agung. LKBH berkantor di Menteng. Menurut Ketua LKBH, Hasbullah, sudah banyak sekali kasus-kasus yang ditanggani, kebanyakan prodeo atau kasus cuma-cuma. “LKBH itu punya dua tugas, dalam hal konsultasi hukum dan pendampingan hukum, “paparnya.

Menurutnya, kalau kantor hukum atau firma-firma hukum ada nominalnya. Tapi kalau lembaga bantuan hukum hanya sekedar yang diberikan secara sukarela oleh klien. Litigasi hukum, kasus perdata dan pidana. Konsultasi, pendampingan hukum kita tidak dipungut biaya, karena kita di subsidi oleh kampus, dan rencananya juga oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Hukum dan HAM, “ujarnya. Hasbullah mengatakan, dirinya diangkat lewat pemilihan pada tahun 2012 oleh anggota LKBH Fakultas Hukum Universitas Pancasila.

Menurut Hasbullah, sebagai suatu lembaga pengabdian kepada masyarakat LKBH memberikan pelayanan hukum baik litigasi, non litigasi maupun penyuluhan hukum kepada masyarakat dengan prinsip Justice for All.

LKBH Fakultas Hukum Universitas Pancasila sebagai unit aktivitas Fakultas Hukum didirikan dengan tujuan : 1. Memberikan bantuan yang berhubungan dengan masalah-masalah hukum terutama bagi masyarakat yang secara ekonomis dan pengetahuan tentang hukum dipandang kurang mampu dengan tidak membedakan suku, agama, ras, atau golongan. 2. Meningkatkan cakrawala pengetahuan bagi para mahasiswa dan tenaga pengajar Fakultas Hukum Universitas Pancasila, khususnya pengetahuan praktis di bidang hukum dalam kasus nyata. 3. Memberikan bantuan perlindungan hukum bagi masyarakat yang kurang mampu.

Visi kami adalah pelaksanaan dari visi Universitas Pancasila di bidang bantuan hukum, yakni menjadi suatu lembaga hukum yang berkualitas dan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu hukum serta praktek hukum dengan menyeimbangkan antara ilmu pengetahuan hukum dengan perkembangan hukum dalam masyarakat, guna menciptakan perilaku yang sesuai dengan kehendak Tuhan (Godly Character) dan senantiasa memuliakan Tuhan, “Ungkap pria yang lahir di Tangerang 26 Juli 1987 ini.

Sementara misinya menurut Hasbullah adalah memberikan bantuan yang berhubungan dengan masalah-masalah hukum, terutama bagi masyarakat yang secara ekonomis dan pengetahuan tentang hukum dipandang kurang mampu dengan tidak membeda-bedakan suku, agama, ras dan atau golongan.Visi dan misi, visi berkaitan dengan visi fakultas yakni Tridarma Perguruan Tinggi. Misinya, apa yang kita harus lakukan, dengan cara membantu orang-orang yang terlibat dalam kasus hukum pidana dan perdata sebagai bentuk pengabdian masyarakat.

Selain itu pihaknya juga ingin meningkatkan cakrawala pengetahuan bagi para mahasiswa dan tenaga pengajar Fakultas Hukum Universitas Pancasila, khususnya pengetahuan praktis di bidang hukum dalam kasus nyata, “Ujar Hasbullah yang bekerja untuk Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Fakultas Hukum Universitas Pancasila.

Misalnya, kasus pemberian konsultasi hukum di Tajur Bogor. Kita datang kepada masyarakat untuk memberikan pemahaman hukum, agar mereka tidak salah tindakan-tindakan dalam kehidupannya. Kalau salah sedikit, maka fatal dan berdampak pada akibat-akibat hukum yang merugikan seperti pertanahan dan hubungan dalam keluarga. Sedangkan profesi ini dipercaya dan amanah sebagai ketua, “Profesi saya sebagai pengajar, profesi dosen atau pengajar. Dalam konsep hidup itu ada dua, yakni untuk diri sendiri dan orang lain, ungkapnya.

Bermanfaat, itu profesi yang mulia. Jangan diharapkan kestabilan dalam pengajaran, ketenangan jiwa dan hati dan relasi serta ilmu jadi pengajar, juga mengontrol profesi yang lain. Saya hobi sebagai pengajar, dan saya banyak mengajar juga di polisi, seperti di Polda Metro Jaya, Polres Metro Jaksel, Polair Polda Metro, DPRD dan BNN. Menurutnya, dengan mengajar relasi banyak, tingkat pekerjaan jadi bertambah. Kemudian terkait LKBH yang terpenting adalah untuk mencapai semua itu, perlu strategi. Pertama yang diterapkan adalah bersih, pelayanan maksimal. Kita beri pandangan bahwa LKBH ini merupakan lembaga pemberi bantuan hukum yang sesuai dengan das sollen hukum Indonesia .

Selain itu kita juga harus bisa meningkatkan kemampuan kita dalam pelayanan hukum. Jangan harapkan uang, tapi dengan kita dipercaya, maka kita akan dapatkan uang. LKBH memberikan pelayanan maksimal kepada orang yang tidak punya uang, apalagi yang punya uang, lebih maksimal lagi. Trust kita jadi makin tinggi.” Ungkapnya.

Obsesinya, ingin menjadikan LKBH dikenal di masyarakat, dan juga dikenal serta dipercaya pelayanannya.“Dapat melayani seluruh masyarakat tanpa terkecuali, dan dapat dijadikan tempat pembelajaran oleh mahasiswa. Dan memberikan pelayanan hukum kepada para pencari keadilan.Hasbullah mengatakan kesewenangan dan penyalahgunaan wewenang sangat nyata dalam dunia hukum di Indonesia. Oleh karena sebagai lembaga pemberi bantuan hukum mempunyai kewajiban paling tidak ikut serta dalam mewujudkan tujuan hukum itu sendiri yaitu keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum. Hal ini penting untuk diketahui mahasiswa, agar mahasiswa dapat memahami dan mempelajari serta mempraktikan pemahaman yang baik akan tujuan hukum. Sebaik mungkin memberikan yang terbaik untuk mahasiswa dan masyarakat. Hukum di Indonesia rusak sekali.

foto profil hasbullah sh mh IMG-20120405-00017 IMG-20120405-00019

Disisi lain, sebenarnya saya tidak tertarik untuk unggul-unggulan dalam banyaknya Organisasi Bantuan Hukum di Indonesia baik yang terafiliasi dengan kampus maupun tidak. Kita terikat oleh kode etik. Kita tidak boleh saling menyerang, memberikan bantuan hukum kepada masyarakat adalah tugas utama. Kita ingin LKBH lain muncul. Ini yang harus kita jadikan tolok ukur, agar beban memberikan pelayanan yang maksimal dapat tumbuh pada LKBH lainnya. “Kami jadi sedikit berkurang bebannya dengan banyaknya LKBH lain bermunculan, “paparnya.

Namun sayang, kadang-kadang ada juga dari mereka ini etika moralnya banyak yang menyimpang. Ada juga beberapa Advokat yang hanya menjadi fasilitator oleh kliennya untuk memberikan uang, suap menyuap kepada penegak hukum lainnya. Contoh pada kasus haposan hutagalung.“Kalau jalannya sesuai dengan trek saya dengan dengan senang hati membantu memberikan pelayanan hokum namun kalau keluar dari trek kita akan mundur. Saya harus akui kepengurusan LKBH saat ini masih perlu banyak perbaikan dalam mengatur kembali LKBH. Sebab sempat pada kepengurusan sebelumnya kurang terstruktur dan kurang tertata dalam segi administrasinya. Saya harus memimpin dan memberikan hal yang maksimal. Karena anggota saya adalah dosen saya. Itu hal yang paling berat.

Kalau seorang pemimpin dipercaya harus benar-benar dijalankan. Yang paling penting, saya tidak menganggap sebagai pemimpin, saya ingin melayani dosen-dosen saya yang ingin memperoleh point dalam pengabdian masyarakat. Kalau beliau-beliau mau dapat pangkat akademik maka dia harus terjun dalam pengabdian masyarakat. Saya Cuma memfasilitasi beliau-beliau saja. Melayani dan mendapatkan pengabdian masyarakat, “ungkapnya.

Untuk mahasiswa, mereka itu berbeda dengan SD, SMP dan SMA. Universitas berbeda, mau cepat lulus bisa dan lambat juga bisa, bebas-bebas aja. Saya sering berbagi pengalaman sama mereka. 50 teori dan 50 pengalaman saya. Kalau Cuma teori itu mudah, tapi perlu praktik. Memberikan sebuah gambaran kepada mahasiswa. Bagaimana memberikan keyakinan akhir dari proses pembelajaran di sini, “ujarnya menjelaskan secara detail.

Hasbullah menambahkan, rencana ke depannya, yakni dapat dipercaya oleh lembaga pemerintah. Kementerian, perusahaan dan pengadilan sebagai partner mereka untuk membantu memberikan penyuluhan kepada mereka. “Bagaimana kita dapat dipercaya. Kerjasama dengan Dewan Pers, BRI dan perusahaan, Kementerian Komunikasi dan Informasi.

Apa sih yang diharapkan kalau bukan mengayomi masyarakat dan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pemerintah harus lebih peduli lagi kepada lembaga bantuan hukum. Bukan sebaliknya menjadikan mandulnya fungsi Negara secara langsung. Pemerintah minim untuk memberikan bantuan hukum kepada masyarakat, apalagi kepada LKBH. Negara harus memberikan atau memfasilitasi lembaga bantuan hukum secara lebih maksimal. Kita harus dihargai, sebab kalau Negara tidak mampu. Paling tidak memberi dukungan atau sokongan kepada lembaga bantuan hukum.

Hukum di Indonesia banyak praktik korupnya. Dulu saya ingin mundur, tapi kemudian saya diberi semangat untuk maju terus dan membantu memberikan jaminan dan dukungan pelayanan hukum lebih baik kepada masyarakat, “ungkapnya. Hukum di Indonesia itu baik dan buruk lebih tinggi. Hukum di Indonesia sangat rentan dengan korupsi. Menurutnya, zaman sukarno, korupsi itu sembunyi-sembunyi (corruption behind on table), di zaman Suharto terang-terangan di atas kursi (Corruption above the table). Sekarang lebih parah lagi korupsi menjadi lebih gila lagi semuanya (corruption include the table).

Selama ini saya melihat praktik bantuan hukum secara keseluruhan, sistemnya ada yang 80 persen tidak professional, sisanya 20 persen professional. Jadi fungsi tujuan hukum untuk membela keadilan, saat ini belum terlaksana atau penuhi dengan baik, “pungkasnya. Menurut Hasbullah, system hukum di Indonesia tidak beres dan banyak masalahnya hal itu didasari dalam pengaturan hukum acara pidana kita yang memungkinkan terjadinya mafia peradilan, oleh karena itu dalam berbagai kesempatan saya ungkapkan mendesaknya pengesahan atas revisi KUHAP. Penegakan hukum tidak dilaksanakan, karena sosialisasi yang tidak berjalan dengan semestinya. Masyarakat tanpa hukum berantakan, hukum itu harus bisa memberi kepastian hukum kepada masyarakat. Di mana ada masyarakat di situ ada hukum (ubi societas ibi ius- where there is a society, there is law).

Suka duka, menurut Hasbullah, masih terlalu muda duduk sebagai ketua LKBH ini. Sebelum saya, yang duduk sebagai ketua LKBH adalah dosen saya dengan usia 55 tahun. “Sebenarnya saat ini saya tidak menduduki posisi yang nyaman. Zona yang tidak nyaman.

Jujur perjalanan karier saya bukan suatu hal yang gampang. Untuk menuju suatu keberhasilan atau kesuksesan, orang tua saya menempanya dengan sangat keras. “Ayah saya seorang guru. Saya kini guru konteks sebagai dosen. Saya hidup dalam lingkungan yang Islami dan ketat dalam belajar. Kalau dalam sekarang KDRT mungkin, tapi untuk urusan pendidikan ayah sangat keras sekali. Sejak SD dan SMP saya sudah aktif berorganisasi yang menumbuhkan jiwa kemandirian saya, ketua regu dan ketua pramuka. Malah sejak kecil telah berprestasi dalam organisasi.

Hanya saja, saya baru bisa berprestasi akademik maksimal pada saat kuliah. Dunia leadership dalam organisasi. Prestasi akademik ditengah-tengah. SMA jadi ketua Pembina pramuka. Diorganisasi untuk karate juara 1 dan 2.

Sebenarnya lulus SMA, saya ingin masuk STPDN, tapi pada waktu itu ramai pemberitaan tentang kekerasan di sana, sehingga mundur. Saya ingin jadi dokter, tapi tidak mampu dalam hal biaya, karena menjadi dokter itu luar biasa biayanya. Tapi ada cara lain untuk membantu masyarakat selain dokter dengan cara ini lah saya turut menyembuhkan penyakit hukum di masyarakat.“ujarnya menguatkan cita-citanya.

Saya daftar di Fakultas Kedokteran UI, meski saat SMA saya mengambil jurusan IPA. tapi gagal dan susah. Masuk Politik dan social bingung, selanjutnya saya masuk kuliah di Fakultas Hukum Universitas Pancasila. Begitu sulitnya saya kuliah, bayangkan dalam seminggu saya dikasih uang 150 ribu rupiah.Saya mengatur makan dengan kuah. Rekan-rekan saya alhamdulillah yang ekonominya cukup, saya buat tugas dan bantu mereka, saya tidak minta uang, tapi mereka mengajak saya makan. Dikuliah saya berprestasi di kampus, dapat beasiswa, jadi ketua organisasi peradilan semu. Jadi ketua Debat. Dari sini saya dapat uang untuk menghidupi kekurangan uang saya paling tidak untuk menambah uang jajan, “ujarnya bangga.

Prestasi itu datang di kampus, dapat honor, ditraktir oleh dekan, dapat uang saku. Saya juga jadi mahasiswa berprestasi dengan pujian dan cum laude, posisi terbaik kedua pada saat lulus, setelah itu saya mengambil magister hukum saya. Saya diminta untuk mengabdi mengajar di kampus dengan prestasi dan pengalaman saya itu. Dunia kerja banyak gesekan, ada saja yang tidak suka dengan kepemimpinan saya saat ini. Namun yang penting, bisa memberi kebaikan kepada mereka yang tidak suka.

Jadikan energy positif jika kita dianiaya, akhirnya saya jadi ketua, awalnya sempat ditolak. Sudah banyak sekali tendangan, hujatan dan cibiran. Saya tidak pernah menyerah begitu saja, dan tidak ada kesempatan untuk yang kedua kalinya. Meski saya dapat fasilitas mobil dan sopir, tapi saya berikan kepada anggota saya atau staf saya, kecuali mendesak.

Selain mengajar, dan menjadi peneliti serta bercara. Saya juga senang traveling. Dan kegiatan lainnya seperti suka dengan panti asuhan. Memberikan fasilitas untuk masyarakat, social. Hobi Main bola dan belajar. Dalam hal Hedonisme saya membatasinya. Saya khawatir kalau naik cepat, turun cepat. Saya harus pahami dan temui solusinya. Naik cepat harus kita pelihara agar tidak mudah patah, “ungkapnya.

Mewujudkan salah satu tujuan dari Tridharma Perguruan Tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat tambahnya. Dikatakan, untuk keperluan konsultasi dan atau permintaan hukum, warga masyarakat dapat berhubungan langsung dengan sekretariat LKBH Fakultas Hukum Universitas Pancasila atau menghubungi kantor Fakultas Hukum Universitas Pancasila, dengan membawa data-data diri dan permasalahan yang dihadapi secara lengkap.

Pihaknya melalui sekretariat akan menyerahkan kepada ketua LKBH untuk dipelajari dan selanjutnya diserahkan kepada Tim yang dibentuk berdasarkan kompetensi keahliannya untuk diberikan konsultasi dan atau bantuan hukum.

Hasbullah, SH, MH mengatakan untuk litigasi, pihaknya menanggani perkara perdata dan pidana, perkara niaga, dan hak atas kekayaan intelektual (HKI), perkara pajak, perkara HAM dan perkara perlindungan anak, perkara perburuhan, perkara Tata Usaha Negara, maupun pengajuan Judicial Review ke Mahkamah Konstitusi. Termasuk juga perkara Peradilan Agama. Sedangkan untuk perkara Non-Litigasi, pihaknya menanggani masalah hukum perusahaan, HKI, perjanjian (kontrak), hukum pasar modal, hukum agraria, hukum keluarga/perkawinan, dan hukum kewarganegaraan.

Mengenai masalah pembiayaannya, Hasbullah mengungkapkan, informasi diberikan kepada masyarakat dengan Cuma-Cuma, penyuluhan hukum diberikan dengan Cuma-Cuma, konsultasi diberikan dengan pembiayaan administrasi sekedarnya. “Bantuan hukum diberikan dengan imbalan biaya sesuai dengan peraturan pembelaan umum yang berlaku dengan mengingat jenis perkara yang dihadapi, “Ujar pria yang mempunyai motto atau prinsip hidup “There is Will There is Away” ini.

Sedangkan bagi mereka yang berdasarkan atas bukti-bukti sah diberikan aparatur pemerintah daerah serendah-rendahnya Lurah, ternyata tidak mampu membayar biaya konsultasi dan atau bantuan hukum dapat diberikan keringanan dan atau dibebaskan dari biaya. “LKBH sendiri dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 s.d 16.30, kecuali hari Sabtu, minggu, libur nasional dan libur karyawan yang ditetapkan oleh universitas. Dan alamat kami ada di Fakultas Hukum Universitas Pancasila, Jalan Srengseng Sawah, Jakarta Selatan 12640 atau telpon dan faks di 021- 78892100 atau email : lkbh_up@yahoo.com, “papar Hasbullah yang memiliki tokoh favoritnya Nabi Muhammad.

Berikut ini susunan Pengurus di LKBH Fakultas Hukum Universitas Pancasila

  1. Ketua : Hasbullah, SH, MH

  2. Sekretaris : M. Yamin, SH, SS, MH

  3. Bendahara : Lisda Syamsumardian, SH, MH

  4. Deputi Penanganan Perkara dan Pengabdian Masyarakat : Hadis Sastranegara, SH, MH

  5. Deputi Pendidikan dan Latihan : M. Rizky Aldila, SH

  6. Deputi Penelitian dan Pengembangan : Ramadiansyah Rambe, SH

  7. Deputi Kerjasama : Edi Rohaedi, SH, MH

1 . Advokat dan Konsultan

Adnan Hamid, SH, MH, MM

Hadis Sastranegara, SH, MH

Wibisono Oedoyo, SH, MH

Diani Kesuma, SH, MH

Hasbullah, SH

Ramadiansyah Rambe, SH

2. Konsultan

Zuraida Balweel, SH, MH ( Hukum Keluarga )

Abdul Hakim, SH, MH, CN ( Hukum Agraria )

Adnan Hamid, SH, MH, MM ( Hukum Perpajakan )

Budi Santoso, SH, MH ( Hukum Kesehatan )

Remi Ramadhan, SH, MH ( Hukum Persaingan Usaha )

Adnan Hamid, SH, MH ( Hukum Pasar Modal )

Juniman Menrofa, SH, MH ( Hukum Bisnis )

Endra Wijaya, SH.,MH, (Hukum Tata Usaha Negara )