Category: Profesional

Prof. dr. Hardi Darmawan

No Comments

RS RK Charitas :

Hidup Kubaktikan Untuk Kepentingan dan Manfaat Orang Banyak

Prof dr HARDI DARMAWANDengan motto In OmnibusCharitas, yang memiliki arti, kasih dalam segalanya, Rumah Sakit RK Charitas mencoba memaknai arti motto tersebut untuk semua orang. Motto ini menjiwai dalam setiap pelayanan di Rumah Sakit RK Charitas, agar dapat memberi manfaat bagi orang banyak. “Kewajiban kita dalam kehidupan adalah harus melakukan hal yang bermanfaat bagi orang banyak, dan bersumbangsih serta menciptakan berkah bagi masyarakat,” ungkap Prof. dr. Hardi Darmawan, MPH&TM, FRSTM.

Charitas sendiri memiliki arti berupa kasih sayang, derma, beramal, atau amal. Dari catatan Suster Wilhelmina –salah satu perintis Rumah Sakit RK Charitas–,Kongregasi Fransiskus Charitas (dulu Kongregasi Franseskanes Charitas) , ingin agar perawatan di daerah misi, sesuai dengan tuntutan-tuntutan yang rasional dan harapan dari rumah sakit yang modern.Karya ‘Charitas’ jangan dilakukan setengah-setengah saja, karenanama Charitas menunjuk pada cinta kasih yang begitu besar sehingga tidak cukup dengan menyuruh pasien pulang sesudah memperolehperawatan.

Suster- suster Fransiskus Charitasmenyelenggarakan perawatan keliling dan kunjungan rumah. Dengan dijiwai oleh cita-cita ibu pendiri –yakni Sr. Theresia Saelmaekers–, yaitu dalam kegembiraan, kesederhanaan dan cinta kasih untuk menolong orang lain. Seraya berdoa dan mengorbankan diri, menampakan kegembiraan hidup di antara orang sakit dan yang berkekurangan.

Rumah Sakit RK Charitas memiliki Visi: tahun 2015 menjadi Rumah Sakit terbaik di Indonesia dalam keselamatan pasien dan mutu pelayanan, yang mampu menyenangkan pelanggan. Sedangkan misinya, adalah ingin (1) Memberikan pelayanan sesuai standar pelayanan terkini di dukung dengan IPTEK dan SDM yang profesional dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat. (2) Memberikan pelayanan yang paripurna, bersifat transparan, aman, adil, bertanggung jawab, akuntabilitas dan berlandaskan dimensi spiritualitas. (3) Menciptakan Sumber Daya Manusia yang kompeten, berempati, berperilaku baik, visioner dan mengembangkan budaya komunikasi dengan sikap mendengarkan, membangun kerjasama, dialog interpersonal, jernih dalam berpikir, berbicara, dan bertindak. (4) Memperhatikan kesejahteraan karyawan dan memperlakukan karyawan sebagai keluarga besar Rumah Sakit RK. Charitas.

Strategi dan Kiat RS RK Charitas

Strategi dan kiat yang diterapkan Rumah Sakit RK Charitas untuk menjadi besar, adalah dengan mengkombinasikan unsur yang ideal antara strategic service intent (jiwa layanan) dan kiat, seperti bagan di bawah ini :

Strategis Service Intent

Jiwa Layanan

Care : Membuat pelanggan merasa diperhatikan dan dilayani dengan baik

Convenience & comfort : Membuat pelanggan merasa mendapatkan kemudahan dan kenyamanan dalam memperoleh informasi maupun kebutuhan yang diperlukan.

Safety : Petugas/staff karyawan memperhatikan dan melaksanakan program keselamatan pasien yang selalu dimonitor dan dievaluasi dan ada umpan balik

Patient/ family participation : Pasien/Keluarga dilibatkan dalam proses penyelesaian permasalahan yang dihadapi.

Holistik : Selalu melayani pelanggan sebagai manusia seutuhnya, baik jasmani, jiwa, maupun rohani ( Biopsiko Sosial )

 

Kiat

Sedangkan keunggulan differensiasi, diversifikasi dan inovasi RS RK Charitas, berupa :

Keunggulan differensiasi : Putting the patient first.

Fokus : Patient Centeredness Care

Nilai- nilai (value ) RS. RK Charitas:

SISTERES :

  • Spirituality

Kita menumbuhkembangkan cinta kasih, kreatifitas, inovasi diantara sesama pelayan

dan pelanggan.

  • Integritas

Hubungan antar manusia yang berdasarkan kejujuran, keadilan dan kebijaksanaan, berhati nurani sosial.

  • Stewardship

Pelayanan kesehatan masyarakat holistik, humanistik, untuk keadaan sehat (well being) masyarakat.

  • Trust

Berperilaku yang menimbulkan kepercayaan dan bertanggungjawab.

  • Excellence

Memberikan pelayanan kesehatan bermutu terbaik (optimal), perawatan penderita (patient care) melalui pembelajaran individu dan organisasi dan perbaikan berkesinambungan melalui pendidikan, latihan, penelitian dengan sumber daya manusia yang ada secara kreatif, efektif, efisien, relevan dan akurat.

  • Respect

Kita menghormati (menghargai) memahami kebenaran (perbedaan) harkat, martabat, dan ketergantungan semua manusia.

  • Empathy

Berlaku empati untuk menunjang/membantu semua orang mencapai keseimbangan dan kehidupan sehat.

  • System

Berpikir secara sistem (system thinking) semua karyawan termasuk Direksi, Yayasan harus memiliki kemampuan berpikir secara sistem, berfikir secara menyeluruh dan memahami dengan benar tentang pengaruh, kaitan, ketergantungan setiap unsur dalam sistem, guna mewujudkan tujuan yang akandicapai khususnya dalam kaitannya dengan strategis pembaharuan dan persaingan yang ada.

Keunggulan:

  • High technologyHigh touch
  • Komputerisasi RS Pertama di bidang asuhan keperawatan
  • Patient Safety Award I Tahun 2006 ( Penghargaan secara Nasional yang diberikan oleh Menteri Kesehatan)
  • Penghargaan-Penghargaan:

Tahun

Penghargaan

Dari

1991

Pataka “Nugraha Karya Husada Tingkat II

MenKes RI

1991

Juara I Lomba Kebersihan RS SeKodya Palembang

Kanwil DepKes RI

1994

Penampilan Terbaik Kedua Tahun 1994 Bidang Upaya Penerapan Standar Pelayanan, Penampilan RS dan Penanggulangan Kanker

MenKes RI

1999

Peringkat 10 Pembayar Pajak untuk Daerah SumSel, lampung & Bengkulu)

DepKeu RI

 

Perusahaan Peserta Jamsostek Teladan I Kategori 500 tenaga kerja ke atas

PT. Astek

1994

Penampilan Terbaik Kedua RSU Swasta Setingkat Kelas B tahun 1994

MenKes RI

1998

Lulus Akreditasi RS 5 Pelayanan

KARS /DepKes

2002

Kinerja Terbaik Bidang Lingkungan Hidup

PemKot Palembang

2003

Piagam Penghargaan Teladan Bidang Keselamatan dan kesehatan Kerja

Gubernur Sumsel

2005

Penghargaan Kecelakaan Nihil

Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi

2005

Lulus Akreditasi RS 12 Pelayanan

KARS /DepKes

2005

Penghargaan Sebagai Tim Relawan Tsunami Aceh

Menkes RI

2006

Penghargaan RS. Terbaik I ~ Patient Safety

PERSI Pusat

2007

Juara Harapan I Lomba Poster World Alliance for Patient Safety Indonesia 2007 “Clean Care is Safer Care” Depkes RI & WHO

2008

Juara IV Lomba Persi Award – IHMA 2008 (Presentasi Implementasi Pencegahan Keselamatan Pasien jatuh di RS. RK. Charitas)

PERSI Pusat

2008

Juara II Lomba Poster Implamentasi Pasien Jatuh di Rumah Sakit

PERSI Pusat

2009

Juara III Lomba Persi Award (“Menccgah Kejadian Tidak Diharapkan dalam Pelayanan Tranfusi Darah Melalui Penerapan Daftar Tilik, Pemantauan Reaksi Tranfusi , Pemeriksaan Uji Saring dan Golongan Darah Ulang di RS. RK. Charitas Palembang”)

PERSI Pusat

2009

Juara IV Lomba Poster (“Menccgah Kejadian Tidak Diharapkan dalam Pelayanan Tranfusi Darah Melalui Penerapan Daftar Tilik, Pemantauan Reaksi Tranfusi , Pemeriksaan Uji Saring dan Golongan Darah Ulang di RS. RK. Charitas Palembang”)

PERSI Pusat

2010

The Best of Palembang Service ExcellentChampion,category Hospital

Markplus Inc

Des 2010

The Best Facility Bali & Singapore

Asuransi Graha Medika

2011

Lulus Akreditasi Bank Darah 2011-2014 KARS /DepKes
2011 Pusat Rujukan atas Kegiatan SEA Games  

2011

Lulus Akreditasi RS 16 Pelayanan

KARS /DepKes

2011

The Best of Palembang Service Excellent Champion,category Hospital

Markplus Inc

2012

Penghargaan Perusahaan terbaik Penerapan SMK3

Dinas Tenaga Kerja Kota Palembang

Okt 2012

Juara I Lomba Poster Pasien Safety

PERSI Pusat

Feb 2013

The Best of Palembang Service Excellent Champion,category Hospital

Markplus Inc

Feb 2013

Certified Indonesia International Award Winner 2013 as The Best Hospital & Service Excellent of The Year

World Achievement Association

Mei 2013

Juara Harapan II, Lomba Dance Hand Hygiene dalam rangka International Nurses Day

RSUP Moh. Hoesin, Palembang

Note: PERSI : Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia

 

Diversifikasi

Rumah Sakit RK Charitas melayani seluruh lapisan masyarakat, terutama option for the poor, karena itu Rumah Sakit RK Charitas menyambut baik kerja sama dengan RENA dan Smile Train untuk program operasi bibir sumbing. Untuk lebih memperluas jangkauan kepada mereka yang membutuhkan, Yayasan Rumah Sakit Charitas mendirikan rumah sakit satelit di beberapa daerah, baik di kota maupun di daerah transmigrasi dan terpencil, seperti: Palembang (RS Myria, RS Karya Asih, BP/RB Bakti Kasih Cab. Charitas Sekojo), Belitang (BP/RB Panti Bhakti Kasih Charitas dan BP/RB Panti Bhakti Kasih Charitas), , Tanjung Sakti (BP/BKIA Charitas Tanjung Sakti) Tugumlyo-Musi Rawas (BP/RB St. Maria), daerah transmigrasi Pasang Surut Jalur 20 Purwodadi (BP/RB Charitas Cab. Pasang Surut), Bengkulu (RS Hana Charitas), Klepu-Yogyakarta (RS Panti Bhakti Ningsih), Timika-Papua (RS Mitra Masyarakat Charitas Timika).

Selain dalam bidang kesehatan, Yayasan Rumah Sakit Charitas juga ingin meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui bidang pendidikan. Didirikanlah Yayasan Pendidikan Charitas di Bangka Belitung, Batam, Belitang, dan Jakarta. Sementara itu, di Palembang didirikan Sekolah Tinggi Kesehatan (STIKES) Perdhaki Charitas.

 

Inovasi Rumah Sakit

Rumah Sakit RK Charitas melakukan inovasi dengan melakukan Benchmarking dan kolaborasi dengan rumah sakit di dalam dan luar negeri. Selain itu, Rumah Sakit RK Charitas berupaya untuk memberikan Customer Service Excellence, dimana karyawan Rumah Sakit RK Charitas diharapkan: (1) tampil ramah. Perawat diharapkan selalu mengingat dan menyebut nama pasien ketika sedang melayani pasien. Karyawan Rumah Sakit RK Charitas diharapkan memiliki pergaulan yang luas dan dapat menjangkau berbagai kalangan; (2) tampil sopan dan penuh hormat. Karyawan diwajibkan untuk tampil tidak hanya dengan pakaian yang sopan tetapi juga dengan attitude yang sopan, serta penuh hormat, baik dengan sesama karyawan maupun dengan pelanggan. Dalam situasi pekerjaan sehari-hari yang cukup padat, karyawan selalu diingatkan untuk selalu mengucapkan “apa yang bisa kami bantu?”, “mohon maaf” dan “terima kasih”. Ketiga kata ini mewakili pribadi yang sederhana dan terbuka; (3) tampil dengan pengetahuan dan keterampilan yang mantap (Profesional). Untuk bisa sampai pada tahap ini, tentu saja harus didasari dengan sikap senang membaca dan belajar. Belajar dari pengetahuan maupun belajar dari pengalaman orang lain; (4) tampil rapi. Dengan membiasakan diri disiplin, kita tidak akan menolak pada kewajiban-kewajiban yang harus kita lakukan. Tidak menolak pada kewajiban, kita dapat tampil rapi, baik dalam penampilan maupun hasil pekerjaan; (5) tampil care. Untuk bisa tampil care, harus didasari dengan keihklasan untuk memberi dan melayani, selain itu juga memiliki pribadi yang senang menyenangkan orang lain.

Setiap perawat harus : SENYUM

S : Sigap dan salami dengan tulus dan sopan serta pelihara harga diri pasien

 

E : Empati terhadap perasan dan masalah pasien

 

N : Nalar, nyatakan respon positif terhadap masalah pasien dan jadilah pendengar aktif yang baik

 

Y : Yakin bahwa anda mengerti masalah pasien dan siap membantu

 

U : Upayakan gagasan pasien

 

M : Mengucapkan terima kasih dan meminta maaf yang tulus.

Selanjutnya Hardi mengungkapkan bahwasannya, obsesi Rumah Sakit RK Charitas adalah bagaimana menjadikan rumah sakit ini sebagai rumah sakit berkelas dunia atau World Class Hospital. Untuk menjadi rumah sakit berkelas, pihaknya menyikapi persaingan dengan rumah sakit swasta atau pemerintah lainnya dengan blue ocean strategy. Yakni salah satu ciri penting praktik kedokteran modern, seperti kehadiran dan dominasi teknologi kedokteran canggih dengan High Touch tetapi tetap mengutamakan Patient Centered Care. Menurutnya, hampir semua proses asuhan medis membutuhkan dukungan tes medis, apakah itu demi tujuan menegakkan penyakit, pengobatan tindakan medis dan pecegahan, promosi kesehatan. Lebih dua puluh tahun yang lalu, menyetir pernyataan John Naisbitt, Hardi mengungkapkan frase yang sangat terkenal dalam buku John Naisbitt yang sangat laris : Megatrend : 10 New Transforming Our Lives, yakni :”High – tech / High touch”. Sayangnya apa yang terjadi dalam praktik kedokteran tidak sejalan seperti yang diharapkan oleh John Naisbitt. Inilah kelemahan praktik kedokteran modern yang terus menuai kritik karena layanan yang bersifat : high tech – low touch. Dr. Mimi Guarneri penulis buku The Heart Speaks, seorang kardiolog terkenal, memberikan komentar mengenai sikap dokter : “Beberapa dokter modern memiliki mental montir dengan menganggap tugas mereka adalah menemukan masalah secepat mungkin dan segera memperbaikinya, dan bukannya membangun hubungan jangka panjang, “papar Hardi panjang lebar.

Peran Pasien Rumah Sakit

Pasien berasal dari kata patients, yang akarnya adalah patio yang berarti orang yang menderita. Eric Cassel, seorang psikiater yang banyak menggeluti masalah penderitaan, memberikan definisi penderitaan (suffering) sebagai suatu keadaan distress (ketidaknyamanan) yang berat yang dihubungkan dengan suatu peristiwa yang mengancam keutuhan atau integritas seseorang. Penderitaan tidak hanya mempengaruhi fisik atau psikologis, melainkan mempengaruhi secara keseluruhan (whole being), baik itu fisik, emosi, mental, spiritual dan aspek kehidupan sosial. Sebagai seorang pasien, ia mengalami penderitaan fisik, mental dan spiritual.

Menurut Thomas (2005), seorang dokter tidaklah cukup berperan sebagai “curer the disease”, lebih dari itu, yang diharapkan perannya adalah menjadi “healer of the sick”. Praktik kedokteran saat ini pada umumnya berorientasi pada proses cure atau mengobati dan berhenti pada penyembuhan fisik semata. Menurut arti katanya heal berasal dari kata whole (utuh atau menyeluruh). Beberapa pakar, seperti Cassell, Kubler – Ross dan Saunders memberikan definisi penyembuhan (healing) sebagai : “making whole again”, “becoming whole again” dan “finding wholeness”. Inilah yang menjadi tugas para dokter yang bertugas di rumah sakit – membuat utuh kembali dimensi pasien yang tercerai berai sebagaimana diungkapkan oleh Socrates : “The part can never be well unless the whole is well”.

Memahami aspek tersebut Rumah Sakit RK. Charitas, menurut Hardi, harus berani berpikir secara berbeda. Rumah Sakit RK. Charitas mempunyai komitmen yang kuat untuk memberikan layanan kepada pasien secara holistik. Pendekatan holistik adalah metode yang paling ideal dan merupakan perwujudan dari pelayanan yang berfokus pada pasien (lihat bagan Pendekatan Kedokteran Integratif yang Bersifat Holistik).

Hubungan dokter dan pasien diawali ketika pasien sepakat untuk dirawat oleh dokter atau saat pasien memeriksakan diri di poliklinik. Melalui interaksi dokter dan pasien secara kolaboratif, pasien mempunyai pengetahuan dan kesiapan untuk berubah. Melalui informasi, komunikasi dan edukasi yang intens baik dengan dokter maupun tenaga kesehatan lainnya yang disediakan oleh rumah sakit, pasien mempunyai pengetahuan dan keterampilan serta kesiapan untuk merubah gaya hidup. Pasien siap untuk mengelola dirinya sendiri. Dokter kemudian memberikan pengobatan atau tindakan medis sesuai kebutuhan pasien. Apabila diperlukan dokter akan merujuk pasien untuk menjalani pengobatan alternatif dan komplementer seperti akupuntur, psikoterapi, terapi herbal atau energi, olah raga, meditasi sesuai kebutuhan masing-masing pasien. Proses penyembuhan menjadi lebih optimal dan pasien menjadi semakin puas berkat pendekatan holistik.

Bagan Pendekatan Kedokteran Integratif Yang Bersifat Holistik

Hardi mengatakan yang diterapkan dalam membina Sumber Daya Manusia di rumah sakitnya adalah dengan melakukan penilaian kinerja karyawan setiap 1 (satu) tahun sekali, dari hasil tersebut akan diketahui hasil kinerja karyawan apakah baik, cukup dan kurang. Apabila hasil yang didapat “kurang” maka karyawan akan diberi pembinaan agar dapat bekerja lebih baik lagi. Selain itu Rumah Sakit RK Charitas juga memberikan pendidikan dan pelatihan bagi karyawan untuk meningkatkan dan menambah keterampilan, pengetahuan dan wawasan tentang pekerjaannya. Salah satu caranya adalah dengan memberikan beasiswa pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi bagi karyawan-karyawan yang kinerja kerjanya baik.

Kami juga memperhatikan dalam peningkatan karir karyawan, dengan melakukan rotasi, mutasi, promosi dan demosi. Untuk peningkatan kepribadian dan rohani karyawan, RS RK Charitas mengadakan rekoleksi, rekreasi dan outbound secara berkala bagi karyawan. Tak lupa, kesejahteraan karyawan baik dari segi penghasilan dan kesehatan karyawan pun kami perhatikan, “ujarnya.

Rencana dan target ke depannya, adalah dengan menciptakan rumusan strategi di masa datang, seperti : (1) Target Rumah Sakit RK. Charitas ke depan adalah tetap mempertahankan posisi sebagai Market Leader di tengah meningkatnya ancaman perubahan akibat perubahan lingkungan bisnis / kompetisi perumahsakitan, regulasi / medico legal dan ekonomi. (2) Penguatan competitiveness dipusatkan di area yang sudah menjadi kekuatan (strength) utama institusi, yaitu Brand Image Rumah Sakit RK. Charitas, terutama di kalangan masyarakat Palembang dan Sumatera Selatan. (3) Kekuatan utama tersebut dikembangkan dengan model marketing yang kontemporer sesuai perkembangan jaman yang dinamis, regulasi pemerintah yang makin ketat dan tuntutan masyarakat yang makin tinggi terhadap pelayanan kesehatan.

Uraian Strategi, berikut ini : (1) Posisi Market Leader saat ini adalah hasil upaya berkesinambungan peningkatan mutu pelayanan selama ini. Upaya tersebut akan dilanjutkan, bahkan dengan intensitas yang semakin tinggi. (2) Kekuatan utama institusi adalah Visi, Misi dan Nilainya, yang menghasilkan Brand Image Rumah Sakit RK. Charitas, terutama di kalangan masyarakat Palembang dan Sumatera Selatan. Maka strategi yang dipilih sebaiknya bertumpu pada area kekuatan utama tersebut. Diupayakan agar Rumah Sakit RK. Charitas makin mengakar di tengah masyarakat, dipercaya dan bahkan jadi ‘milik’ masyarakat. (3) Area kekuatan ini diwujudkan dalam bahasa strategi bisnis seperti misalnya Market Development atau Product Development dan lain sebagainya, yang secara operasional diartikan dengan mengembangkan pangsa pasar dengan strategi marketing yang tepat, yaitu pengembangan produk yang sudah ada atau menciptakan produk yang baru yang inovatif. (4) Pengembangan produk lama ataupun diversifikasi produk baru, tetap konsisten dengan misi dan nilai institusi yaitu In Omnibus Charitas. Yang berbeda adalah kemasan produk yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan tuntutan perkembangan jaman masa kini. a.) Patient Centeredness adalah contoh kemasan baru yang bersifat universal. Bila diisi dan diperkaya dengan roh dan nilai utama yaitu In Omnibus Charitas, maka akan ‘tampil beda’ dibandingkan provider lain dalam hal ‘Sentuhan Manusiawi’. Tanpa mengurangi nilai luhur yang diperjuangkan selama ini, dalam bahasa marketing, mutu produk kemasan baru akan unggul, lebih menyentuh dengan ‘cita rasa’ yang lebih tinggi. (Contoh : Supermi, The Botol/Kotak Sosro, Air Mineral Kemasan, dll) b. Nilai Utama Rumah Sakit RK Charitas perlu secara gencar dipasarkan ke personel dan pelanggan (shared value) sehingga menjadi milik bersama. Rumah Sakit mendekatkan diri ke pasien, keluarga dan masyarakat, baik secara fisik maupun akses informasi dan komunikasi. Strategi marketingnya adalah Open Source and Collaborative/Participative.

Menanggapi harapannya terhadap pemerintah dalam dunia kesehatan, khususnya bidang usaha rumah sakit, Hardi mengatakan, pemerintah, dinas kesehatan dan instansi terkait terbina kerjasama-kemitraan dalam rangka pembinaan kesehatan masyarakat.

Sejarah berdirinya RS RK Charitas

Rumah Sakit RK Charitas yang berkembang hingga sekarang berawal dari sebuah rumah sakit kecil yang menggunakan rumah milik pribadi orang Belanda. Rumah sakit ini sejak tahun 1915 dibuka dan dikelola oleh Yayasan Perawatan Orang sakit ( Vereeniging Voor Ziekenverpleging). Sasaran pelayanan dikhususkan pada pasien orang Eropa di Palembang. Rumah sakit ini hanya memiliki satu orang dokter, beberapa perawat, dan beberapa pegawai penunjang medis, yang semuanya adalah orang Eropa. Karena eksploitasi rumah sakit begitu besar, mereka tidak sanggup membiayainya dan merencanakan untuk ditutup. Pastor Henricus Van Oort SCJ mendengar hal itu dan cepat mengambil kesempatan membelinya walaupun belum tahu siapa yang akan mengelolanya.

Maka pada tahun 1926 Pastor Henricus Van Oort SCJ menghubungi Pastor Henricus Smeets yang direncanakan menjadi Prefek Apostolik Bengkulu tapi masih berada di Belanda agar mencari tenaga suster untuk mengelola Rumah Sakit tersebut.Pastor Smeet SCY bertemu Mgr. Hopmans, Uskup Keuskupan Breda untuk mengungkapkan kebutuhan tersebut. Mgr Hopman menyarankan agar menemui Moeder Maria Vincentia FCh,Pemimpin Kongregasi Suster-Suster Fransikanes Charitas Roosendaal. Permintaan Pastor Smeets ditanggapi dengan baik oleh Moeder Vincentia Pemimpin Umum Kongregasi Charitas. Dalam waktu relatif singkat ditetapkan 5 suster yang akan diutus ke tanah misi. Mereka adalah:

1. Sr. M. Raymunda Hermans

2. Sr. M. Catharina Koning

3. Sr. M. Alacoque Van Den Linden

4. Sr. M. Caecilia Luyte

5. Sr. M. Wilhelmina Blesgraf

Di antara suster- suster tersebut ada tiga suster yang mempunyai ijazah perawat, yaitu Sr. Raymunda, Suster Alacoque, Sr. Wilhelmina sedangkan Sr. Chatarin dan Sr. Caecilia bukan perawat . Di tanah misi Sr. Chatarin bertugas di kamar cuci dan Sr. Caecilia bertugas di dapur. Percaya akan penyertaan Allah dan akan pemenuhan janjiNya inilah yang memampukan mereka pergi ke tempat baru, memulai sesuatu yang baru demi ketaatannya, kepercayaannya, dan kecintaannya pada Allah. Pada tanggal 1 Juni 1926, Mereka berangkat bersama dengan seorang misionaris SCJ yang bernama Pastor Henricus Hermelink. Hari Jumat tanggal 09 Juli 1926 pukul 05.00 mereka sampai di pelabuhan Boom Baru. Motto “ Charitas Christi Urget Nos” Kasih Kristusyang menggerakan mereka” menjadi roh atau semangat yang mendayai hidup karya perutusannya. Kelima suster tersebut memulai karyanya di Indonesia tepatnya di wilayah misi kota Palembang, Jalan Jendral Sudirman 1054.Rumah sakit yang dikelolah suster- suster adalah rumah sakit yang menampung 14-16 pasien khusus orang Eropa. Tahun 1927, kelima suster memperluas rumah sakit dengan membangun kamarkamar baru supaya dapat menampung para pasien pribumi, orang-orang Tionghoa, Arab, India, dan Jepang yang tinggal di Palembang. Akhir tahun 1927 telah tersedia ruang rawat inap yang terdiri dari17 tempat tidur untuk orang dewasa yang berasal dari Eropa, 20 tempat tidur untuk orang dewasa pribumi dan Tionghoa. Untuk anak-anak Eropa ada 7 tempat tidur. Dan 3 tempat tidur untuk anak anak pribumi.

Untuk memberikan pelayanan yang lebih luas mereka mencari jalan lain, yaitu dengan mengadakan kunjungan rumah. Setiap hari 2 orang suster keluar masuk lorong keliling kota Palembang. Dengan perkembangan yang ada, dirasakan kurangnya tenaga, maka Kongregasi Charitas di Roosendal kembali mengirim tenaga para susternya untuk membantu, yakni di tahun 1927 dikirimlah Sr. Borgia; tahun 1928 dikirimlah Sr. Alexandra; tahun 1929 dikirimlah Sr. Pasedia, Sr. Agnesia, Sr. Barbara dan Sr. Servatia; tahun 1930 dikirimlah Sr. Hilaria; tahun 1932 dikirimlah Sr. Brigitte (Perawat), dan di tahun 1934, dikirimlah Sr. Rheynilda (Bidan) dan sr. Benigna (Perawat).

Pada tahun 1937 dimulai peletakan batu pertama, tanggal 18 Januari 1938 dilaksanakan peresmian pembukaan Rumah Sakit RK. Charitas yang baru oleh Mgr. Meckelholt, SCJ. Rumah Sakit RK. Charitas yang baru mempunyai kapasitas 59 tempat tidur. Lambat laun dirasakan kurangnya kembali tenaga, maka untuk melengkapi tenaga di Rumah Sakit, tanggal 1 Maret 1938 Charitas Roossendal mengirim 4 orang Suster lagi, yakni tiga orang tenaga perawat: Sr. Amantia, Sr. Theresito dan Sr. Redempta; dan satu suster yang mengurusi rumah tangga, yakni Sr. Dorothea. Bersama dengan keberangkatan mereka ke Palembang, dibawa juga alat Rontgen. Pada tanggal 29 September 1938 menyusul Sr. Paula dan Sr. Pacomia. Keduanya sebagai tenaga perawat dan bidan. Pada tahun 1939 datang Sr. Gemma sebagai tenaga perawat menyusul suster-suster yang lain. Melihat perkembangan yang ada dan kebutuhan tambahan tenaga yang diperlukan maka diutuslah ke Indonesia

Tahun 1947 : Sr. Leonilla : sebagai tenaga analis

Sr. Yustina : sebagai bagian rumah tangga

Sr. Yosina : sebagai bagian rumah tangga

Sr. Blandina : sebagai tenaga perawat

Tahun 1948 : Sr. Sergia : sebagai tenaga perawat

Sr. Evermoda : sebagai tenaga perawat

Tahun 1950 : Sr. Annete : sebagai tenaga perawat

Sr. Amantia : sebagai tenaga perawat

Selama penjajahan Jepang, Rumah Sakit RK. Charitas menjadi markas bagi staf tentara Jepang. Tempat-tempat yang dijadikan markas adalah Biara, Paviliun Maria (Kebidanan), Paviliun Theresia (Kanak-kanak) dan Perkantoran. Segera setelah pembebasan orang Belanda dari internir, Sr. Alacoque selaku Missi Overste/Direktris Rumah Sakit RK. Charitas berusaha mendapatkan kembali Rumah Sakit RK. Charitas dan menempatinya.

Pada tanggal 28 September 1945 Rumah Sakit RK. Charitas dapat ditempati kembali dibawah pengawasan Dienst der Volk Gezondheid (DVG). Kemudian diusahakan dan berhasil untuk mendapatkan pengesahan secara resmi pengembalian Rumah Sakit RK.Charitas Palembang dengan surat:

  1. Permohonan pengembalian Rumah Sakit RK.Charitas oleh Sr. Alacoque selaku Direktris/Missi Overste Kongregasi Charitas Indonesia No. 208/AC tanggal 14 April 1948.

  2. Surat Rekomendasi dari Central Missie Bureau tanggal 21 April 1948 No.314.

  3. Surat Rekomendasi dari Gouv. Secretariat tanggal 27 Februari 1948 No. 17824.

  4. Surat Keputusan dari Dienst der Volk Gezondheid (DVG) yang isinya antara lain: memutuskan pengembalian Rumah Sakit RK. Charitas Palembang terhitung mulai tanggal 1 Juli 1948 kepada Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas termasuk eksploitasinya.

Surat Keputusan ini dikeluarkan tanggal 25 Agustus 1948 ditandatangani Sekretaris Kepala Departemen Kesehatan Batavia Dr. Y.E. Karamoy. Untuk mendapatkan tenaga perawatan yang terampil, maka pada tahun 1947 mulai didirikan Sekolah Jururawat dan pada tahun 1955 diubah menjadi Sekolah Pengatur Rawat. Pada tahun 1951 dibuka Sekolah Kebidanan . Menurut peraturan yang berlaku pada tahun 1957/1958 semua badan asing harus di Indonesia-kan. Oleh sebab itu pada tanggal 29 Maret 1958 dibentuklah Yayasan Charitas dengan Akta Pendirian No. 65. Untuk mempermudah pengelolaan Rumah Sakit RK Charitas Palembang ini, dibentuklah Yayasan baru yang khusus untuk mengelola Rumah Sakit RK. Charitas, yaitu pada tanggal 3 November 1981 dengan Akta Pendirian No. 8 dengan nama Yayasan Rumah Sakit Charitas.

Dari tahun 1938 sampai dengan tahun 1977 pengembangan bangunan Rumah Sakit Charitas dilakukan berdasarkan situasi darurat yang sedikit dipaksakan oleh kebutuhan masyarakat akan kebutuhan perawatan orang sakit yang semakin mendesak. Keadaan ini mempunyai pengaruh yang kurang menunjang operasional Rumah Sakit baik segi ekonomi, ketatagunaan maupun segi-segi lain seperti kenyamanan bagi penderita, staf dan pengunjung.Rencana Rumah Sakit RK. Charitas disusun pada tahun 1981 oleh Yayasan Rumah Sakit Charitas dan Dewan Direksi Rumah Sakit RK. Charitas.Pada tanggal 5 Oktober 1983 adalah awal pengembangan pembangunan RS RK Charitas dengan peletakan batu pertama untuk:

  1. Bangunan ruang-ruang perawatan untuk unit penyakit dalam dan bedah dengan kapasitas tempat tidur 170.
  2. Bangunan untuk sarana penunjang (Diagnostik-Treatment) .

Pada tahun 1986 gedung perawatan berlantai tiga siap untuk dipakai dan sebelum dipakai dilaksanakan pemberkatan oleh Mgr. J.H. Soudant, SCJ, Uskup Palembang.

Adapun Direktur Rumah Sakit RK Charitas dari awal berdiri hingga hari ini adalah:

Tahun 1926-1946 : Sr. Alacoque

Tahun 1947-1953 : Dr. Bruna

Tahun 1953-1966 : Dr. B. Moenir

Tahun 1966-1999 : Dr. R. Gozali

Tahun 1999-sekarang : Prof. Dr. Hardi Darmawan, MPH&TM, FRSTM

 

Perjalanan Hidup

Lahir di Palembang, Kampung 7 Ulu Kapitan, bersekolah rakyat di bawah rumah panggung lantai tanah, Hardi kemudian pindah ke Sekolah Methodist English School di seberang Ilir Kota Palembang —Sekolah berbahasa Inggris yang dikelola oleh orang-orang Amerika. Memasuki usia remaja, ia bersekolah di SMP Xaverius dan aktif dalam aksi sosial kemanusiaan, dan melanjutkan di SMA Xaverius. Mengambil kuliah di Fakultas Kedokteran UNSRI Palembang, dan melanjutkan di berbagai perguruan tinggi di Negara lain seperti: Postgraduated in Tulane University New Orleans, USA; Harvard University; Kentucky University; California University. Dalam perjalanan karir, pernah menjadi Dokter Bea cukai; Dosen F.K. UNSRI sejak tahun 1968– sampai dengan sekarang dan menjadi Direktur Utama Rumah Sakit RK. Charitas sejak tahun 1999.

Prestasi yang membanggakan adalah mendapatkan:

Nama Penghargaan

Tahun

Diberikan oleh

Fellow of the Royal Society of Tropical Medicine and Hygiene

1978

Royal Society of Tropical Medicine, London, UK
Delta Omega Award

1979

American Medical Association USA
Honorary Kentuckian

1979

Kentucky University, USA
Satyalencana Karya Satya 20 tahun

1990

Presiden Republik Indonesia
Pediatric Grand Rounds Lecture

1990

University of Kentucky College of Medicine
Konsultan NMCP-PUM Belanda

1988

Netherlands Management Cooperation Programme (NMCP), Belanda
Alumnus Berprestasi

2004

Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
Satyalencana Karya Satya 30 Tahun

2006

Presiden Republik Indonesia
Patient Safety, Risk Management Award

Nov 2006

Menkes RI / Persi
Zero Accident Award

2006

Wakil Presiden RI
Adi Satya Utama

2009

Ikatan Dokter Indonesia
Palembang Marketeers Champion 2013 untuk sector: Healthcare, Pharmaceutical & Consumer

2013

MarkPlus Inc.

Menyikapi hal yang menarik tentang kehidupan, Hardi mengatakan, bahwasannya ia suka bekerja dengan rajin dan ulet rata-rata 16 jam /hari, kejujuran dan integritas adalah prinsip hidupnya. Hardi memiliki kepekaan yang tinggi. Ia membantu masyarakat yang kurang mampu dan aktif melakukan kegiatan sosial, seperti menjadi ketua Yayasan Jompo, pendiri dan anggota pengurus Perdhaki (Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia) Wilayah Sumatera Bagian Selatan sejak tahun 1974, pernah menjadi dokter Usaha Kesehatan Sekolah di tingkat SD dan SMP, memberikan beasiswa kepada keluarga-keluarga yang kurang mampu, membantu kesehatan masyarakat termasuk yang kurang mampu. Ia pun tak lupa untuk menyeimbangkan kehidupan sosialnya dengan kehidupan rumah tangga. Dalam mendidik anak, cinta kasih adalah pusat segalanya, sehingga harapannya anak dapat tumbuh dengan memiliki 5Q: Intelligence Quotient, Emotional Quotient, Social Quotient, Relational Quotient, dan Communication Quotient. Dalam hidup ada suka dan duka. Keterbatasan waktu dan tenaga untuk membantu lebih banyak orang merupakan suatu kedukaan tersendiri bagi Hardi. Memilih dunia kesehatan dalam berkarir, dilatarbelakangi oleh masa kanak-kanak Hardi yang tinggal di kampung 7 Ulu Kapitan, dimana banyak masyarakat kurang mampu tidak mendapat pelayanan kesehatan. “Sesuai dengan cita-cita dari kecil setelah melihat kekurangan pelayanan kesehatan di kampung sehingga tetangga selalu bertanya kepada saya, apakah saya mau menjadi dokter dan membantu orang-orang sakit dan lansia di kampung? “ujarnya.

Dukungan keluarga terhadap profesi yang Hardi pilih sangat tinggi. Cita-cita Hardi sangat dibantu oleh sang ayah, alm. Julianus Darmawan, yang walaupun sebagai Pegawai Negeri Sipil di Bank Indonesia, yang sangat terbatas keuangannya tetapi sang ayah bekerja ekstra pada saat malam hari untuk mencari dana tambahan untuk sekolah. Obsesi dan filosofi hidup Hardi sederhana, “hidup kubaktikan untuk kepentingan yang bermanfaat bagi orang banyak. Kewajiban kita dalam kehidupan adalah harus melakukan hal yang bermanfaat bagi orang banyak, kita segera bersumbangsih dan menciptakan berkah bagi masyarakat,” ujarnya mantap.

Pemerintah sangat membantu dalam profesi yang Hardi pilih, terutama pada Proyek Kesehatan Transmigrasi – Pasang Surut di Purwodadi, Jalur 20. Kesehatan Sekolah di sekolah – sekolah SD dan SMP Kota Palembang. “Saat ini saya diangkat sebagai Tim Ahli Kesehatan oleh Walikota Palembang; Anggota Dewan Pendidikan Sumatera Selatan yang diangkat oleh Gubernur Provinsi Sumatera Selatan, sehingga memudahkan saya untuk berinteraksi dengan instansi pemerintahan, ketika saya memiliki gagasan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam hal pendidikan dan kesehatan. Selain itu, impian saya untuk membantu orang pun dapat saya realisasikan, bahkan saya dapat membantu lebih banyak orang, “paparnya mengakhiri percakapan.

RICHARD SUWONDO, SH, MH

Notaris dan PPAT

Lawyer yang beralih haluan menjadi Notaris dan PPAT

Dalam dunia kerja, berpindah pekerjaan adalah hal biasa. Begitu juga pergantian profesi merupakan hal yang wajar dilakukan, apalagi bila potensi yang dimiliki seseorang ternyata lebih berkembang dalam pekerjaan atau profesi yang baru.

Pergantian profesi seperti itu juga pernah dilakukan oleh RICHARD SUWONDO, SH, setelah beberapa tahun menjalani profesi sebagai lawyer, hati nurani mendorongnya untuk beralih profesi menjadi notaris. Profesi tersebut mulai ditekuninya sejak tahun 2002 setelah menyelesaikan pendidikan kenotariatan.

“Sebelum menjadi notaris, saya bekerja di UNIBANK sekitar tahun 1995 sampai dengan 1997. Kemudian saya melanjutkan pendidikan dibidang hukum sekaligus menjadi lawyer dan konsultan pasar modal pada saat bersamaan sampai dikeluarkannya SK pengangkatan saya sebagai notaris sekitar tahun 2002, makanya saya lepas pengacaranya dan sepenuhnya menjadi notaris. Baru pertengahan tahun 2005 dikeluarkan SK pengangkatan saya sebagai PPAT” ujarnya.

Alasan berganti profesi tersebut sungguh mulia yakni karena sebagai pengacara, putra pertama dari tiga bersaudara pasangan Suardi Kartakesuma dan Kartini ini belum memiliki kesiapan mental, terutama terkait dengan hati nurani mengingat sistem hukum di Indonesia pada saat ini. “Menurut kita, apa yang kita lakukan sebagai pengacara tidak sesuai dengan hati nurani. Mungkin mental kita pada saat itu yang belum kuat karena sebagai pengacara apa yang kita lakukan hanya untuk memenangkan klien dalam berpekara saja.” imbuhnya.

Pria kelahiran Jakarta, 21 Februari 1971 ini berandai-andai, apabila pada saat itu telah siap mental dan terus berkarier sebagai lawyer dan konsultan pasar modal semua pasti akan berbeda. Melihat kemampuan yang dimiliki, bukan tidak mungkin andai dijalani dengan sepenuh hati, sekarang kariernya sudah mencapai puncak. Akan tetapi, selain SK pengangkatan sebagai notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) yang dimilikinya setelah menyelesaikan pendidikan kenotariatan, dorongan hati nurani juga memaksanya untuk tidak melanjutkan karier sebagai lawyer, walau sewaktu-waktu ia masih menggeluti propesi lamanya tersebut.

“Meskipun demikian, sewaktu-waktu kita masih terjun sebagai lawyer bergabung dengan kantor hukum lain, tentunya tanpa meninggalkan profesi utama kita sebagai notaris. Pekerjaan notaris itu sangat luas, sejak manusia lahir sampai dengan tutup usia semua terkait dengan akta notaris. Sedangkan PPAT hanya mengurusi masalah pertanahan saja.” tegasnya.

Bicara mengenai pertanahan, pria yang biasa disapa Richard ini mengingatkan bahwa pekerjaan sebagai PPAT sebenarnya cukup nyaman. Hanya saja, pekerjaan ini harus menguras kesabaran yang lebih besar disebabkan database yang dimiliki oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) sangat kurang, khususnya data Peta Bidang Tanah, sehingga menyulitkan tugas PPAT.

“Makanya kita berharap kepada BPN untuk dapat segera merealisasikan Peta Bidang Tanah untuk seluruh wilayah di Indonesia secara lengkap. Dengan adanya itu pasti sengketa tanah akan lebih mudah diselesaikan karena database tersebut terkait dengan hukum. Dengan adanya PPAT, tinggal mekanisme yang sangat simple sebenarnya. Kalau sudah ada database yang baik, tinggal manajemennya saja dibenahi.” ujarnya dengan optimis.

Yang terpenting adalah kerja keras

Dalam menyikapi perkembangan dunia notaris dan PPAT yang sangat cepat, Richard Suwondo, SH menyiapkan diri untuk bersaing. Baginya, yang terpenting adalah kesiapan, kesungguhan dan kerja keras dalam menjalani profesinya. Dengan semakin tingginya kesadaran hukum masyarakat pada saat ini, tentunya akan berpengaruh terhadap semakin tinggi pula kebutuhan terhadap jasa notaris dan PPAT.

“Bagi kita yang terpenting adalah kerja keras, Optimalkan kinerja delapan orang SDM yang kita miliki. Kita ikuti sistem hukum yang ada, karena seiring waktu pastinya akan terus berkembang searah dengan semakin cerdasnya masyarakat. Dengan pengetahuan, kemampuan dan kerja keras, kita pasti akan mampu bersaing dalam hal, kapan dan dimana pun kita berada.” ujar pemilik motto “Hari ini harus lebih baik dari kemarin” ini.

Ayah dua orang putri dari pernikahannya dengan Jein Grace Sela ini mengungkapkan bagaimana kurangnya dukungan pemerintah terhadap profesi notaris. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah sering adanya perubahan sistem yang diterapkan dan tidak adanya standarisasi yang pasti.

“Dukungan pemerintah terhadap profesi notaris terkadang justru menjadi kendala. Sistem yang selalu berubah-ubah dan pegawai-pegawai nakal. Tetapi bagaimanapun kita harus mengikuti karena sebagai negara berkembang kita harus melewati tahapan seperti itu. Selain itu, dalam bidang pertanahan, BPN harus lebih transparan, karena seiring waktu bidang pertanahan itu akan semakin penting bagi kita semua.” ungkapnya.

Richard berharap agar pemerintah mulai bergerak untuk membenahi masalah pertanahan ini. Adanya BPN sudah tentu membantu, tetapi akan jauh laebih membantu apabila BPN ditingkatkan menjadi setara dengan kementerian mengingat masalah pertanahan di Indonesia sangat rawan terjadi konflik, baik antar masyarakat, pemerintah maupun dengan negara lain terkait perbatasan antar negara.

Sebagai orang yang sudah berkecimpung sekian lama di dunia notaris dan PPAT, Ricard sangat memahami betul kebutuhan masyarakat Indonesia. Bagaimana tingginya biaya dan ruwetnya menyelesaikan urusan pertanahan misalnya, dalam hal ini ia memiliki kiat-kiat dalam mengatasi segala problem tersebut.

“Kalau kita idealis mungkin akan selalu bersebrangan dengan BPN, entah instansi BPN itu sendiri atau mungkin pelaksananya yang kurang professional. Bergantung pada kondisi yang sudah ada, kita harus lihai. Main bersih kita siap, diluar itu juga ayo saja, tentu sedapat mungkin kita hindari, karena pada dasarnya dalam mengambil keputusan dan melakukan sesuatu tidak dapat lepas dari hati nurani. Makanya untuk para generasi muda yang baru saja bergabung di kantor notaris kita ucapkan selamat bekerja. Ilmunya sudah ada dan dapat dipelajari darimana saja, tinggal penerapan langsung berhadapan dengan masyarakat banyak.” pungkasnya.

Dr. H. Sutopo Somaprawiro, SpOT, FICS

Kualitas SDM Tidak Kalah

Dunia kedokteran Indonesia akan memasuki zaman baru di era globalisasi. Pasien Indonesia yang sebelumnya berbondong-bondong ke luar negeri untuk berobat, di era keterbukaan tidak perlu melakukannya. Karena para dokter dan ahli kesehatan dari seluruh dunia bebas membuka praktek di negara manapun termasuk Indonesia. Di akui teknologi kesehatan di bidang orthopaedi dalam beberapa hal agak terbatas khususnya di daerah, tetapi di pusat-pusat pendidikan orthopaedi Indonesia teknologi tersebut telah memadai.

Oleh karena itu, pasien Indonesia yang biasanya berobat ke luar negeri cukup dilayani di negeri sendiri. Memang sebagian rumah sakit Indonesia telah menempatkan tenaga dokter luar negeri di RS yang dipimpinnya. Hal ini sesuai kesepakatan aturan Depkes dalam era globalisasi ini. Sekali lagi, kualitas SDM kedokteran Indonesia tidak kalah dengan para dokter asing. Dokter Indonesia bahkan memiliki kelebihan memahami karakter bangsa Indonesia secara mendalam sehingga mampu memahami pasien dengan baik.

“Di daerah, khususnya dari segi teknologi kedokteran kita memang kurang. Tetapi secara kualitas, dokter Indonesia mampu mengimbangi dokter luar negeri. Sebenarnya, kemampuan dan prestasi kedokteran kita masih bisa mengimbangi luar negeri. Jadi kita tidak perlu minder atau menjadi luar negeri minded,” kata Dr. H. Sutopo Somaprawiro, SpOT, FICS.

Spesialis orthopaedi dari RS Orthopaedi Dr. Soeharso Solo ini, mengungkapkan bagaimana sebuah operasi putus tendon Achilles menjadi berita besar beberapa tahun lalu. Penyebabnya, operasi tersebut dilakukan di sebuah rumah sakit besar di luar negeri. Pemberitaan media massa yang cukup gencar, membuat peristiwa tersebut seolah-olah operasi besar yang hanya bisa dilakukan oleh seorang spesialis dan pakar dari rumah sakit besar dan luar negeri.

Sejatinya, operasi putus tendon Achilles serta kasus-kasus serupa lainnya bisa dilakukan di Indonesia. Di rumah sakit Dr. Soeharso Solo, operasi sejenis sering dilakukan. Baik untuk “sekadar” me-repair tendon Achilles maupun untuk merekonstruksinya hingga berfungsi seperti sedia kala.

“Sayangnya, operasi tersebut tidak pernah dimuat di koran,” ujarnya. Sutopo mengimbau seluruh masyarakat Indonesia untuk menggalakkan ’Aku Cinta Indonesia’ dan meningkatkan rasa handarbeni (memiliki) Indonesia. “Saya senang sekali acara ‘Beli Indonesia’ di Solo beberapa waktu lalu, 20 Juni 2011, itu akan menggugah masyarakat Indonesia untuk mencintai produk bangsa sendiri,” imbuh Sutopo yang berharap masyarakat Indonesia tidak silau terhadap hal-hal yang berbau luar negeri ini.

Sutopo mengakui globalisasi memberi pengaruh positif di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi orthopaedi. Hanya saja, ia mengingatkan pengaruh tersebut harus disikapi dan disesuakan dengan kondisi di dalam negeri itu, khususnya menyangkut dana yang diperlukan. Karena dana sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan dunia orthopaedi terkait peralatan yang berharga cukup mahal.

Di sisi lain, lanjutnya, Indonesia yang memiliki wilayah sangat luas memerlukan banyak sekali sarana dan prasarana kesehatan. Utamanya wilayah luar Jawa yang sangat minim fasilitas kesehatan serta fasilitas umum lainnya. Kondisi tersebut, membuat tenaga-tenaga kesehatan enggan ditugaskan ke daerah, meskipun belum termasuk daerah terpencil. Akibatnya, rakyat di daerah yang harus menanggung akibatnya sehingga sulit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.

“Dokter, baik orthopaedi maupun lainnya, dalam bekerja memerlukan sarana dan prasarana. Itu harus disiapkan oleh pemerintah. Sehubungan dengan itu, alat-alat untuk operasi, fasilitas transportasi dan perumahan harus dipenuhi, jadi tidak melulu gaji bulanan saja. Pemerintah juga harus memberikan saran-saran untuk mengarahkan mereka. Karena tugas dokter tidak hanya di Jakarta atau Jawa saja, tetapi di daerah banyak diperlukan dokter. Kalau tidak, anak daerah harus belajar keras hingga menjadi dokter atau ahli lainnya untuk membangun daerah masing-masing,” tegasnya.

Falsafah ‘Mbanyu Mili”

Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada pada tanggal 30 Agustus 1969, Dr. H. Sutopo Somaprawiro, SpOT, FICS, tidak segera mengurus penempatan kerja. Saat itu, ia masih menikmati masa bakti sosial, kegiatan yang lebih dikenal dengan sebutan ‘turba’ atau turun ke bawah. Kegiatan turba, saat itu sedang ngetrend dilakukan oleh sarjana kedokteran yang baru lulus.

Ia selalu mengikuti kegiatan berkeliling daerah, mulai di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bengkulu, Lampung, sampai Sumatera Selatan. Memang sejak belum lulus kuliah, ia sudah aktif mengikuti turba bersama para senior. Bahkan setelah lulus pun, ia masih aktif dalam kegiatan ini. “Saya ikut turba baik sebagai tim medis maupun sebagai bagian tim lengkap yang terdiri atas tim pertanian, tim dakwah, maupun tim sosial lain,” ujarnya.

Hingga akhirnya, Sutopo tersentak oleh kesadaran yang muncul dari dalam dirinya sendiri. Pertanyaan tersebut adalah, kapan dirinya akan bekerja sebagai dokter sungguhan. Berkat jasa Prof. Dr. R. Soeharso (alm), ia ditempatkan di Lembaga Orthopaedi dan Prothese (LOP) Surakarta, sebagai pegawai bulanan. “Beliau mengajukan nama saya kepada pihak Departemen Kesehatan RI untuk menempatkan saya di LOP Surakarta. Saat ini LOP Surakarta menjadi RS Orthopaedi Prof. DR. R. Soeharso Surakarta dan Bagian Prothese hanya menjadi bagian dari Rehabilitasi Medik di RS Orthopaedi tersebut,” katanya.

Mengenai orthopaedi, spesialisasi yang ditekuninya selama ini, Sutopo mengetengahkan batasannya yang diambil dari American Academy of Orthopaedic Surgery (1960), yaitu: ‘Orthopaedics is the medical specialty that includes the investigation, preservation, restoration, and development of the form and function of the extremities, spine, and associated structure by medical, surgical, and physical method.’

Berdasarkan batasan itu maka ruang lingkup orthopaedi dan traumatologi sama dengan ruang lingkup kedokteran pada umumnya, yaitu kelainan bawaan (sejak lahir), trauma, infeksi, neoplasma (tumor), kelainan degeneratif (kemunduran), kelainan metabolic, bahkan kelainan fungsi dan bentuk akibat/segualae cerebral palsy dan poliomyelitis, yang mengenali anggota gerak atas, anggota gerak bawah, dan tulang belakang, baik mengenai tulangnya sendiri maupun mengenai associated structure.

Di Indonesia, lanjutnya, digunakan singkatan SpOT untuk Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi yang diletakkan di belakang nama dokter. SpOT ini tergabung dalam Perhimpunan Ahli Bedah Orthopaedi Indonesia atau PABOI yang berinduk pada Ikatan Dokter Indonesia. Saat ini anggota PABOI sudah lebih dari 400 orang dokter ahli ortopedi. Menurut Sutopo, jumlah tersebut sangat sedikit mengingat jumlah penduduk Indonesia mencapai 234 juta jiwa. Saat ini PABOI memiliki 13 cabang di Indonesia, meliputi seksi yang jumlahnya ada tujuh, yakni seksi-seksi spine, hand, orthopaedic pediatric, sport, joint replacement, orthopaedic oncology dan yang terbaru yaitu orthopaedic rheumatology. Indonesia Orthopaedic Rheumatology Association (IORA) dibentuk pada tanggal 16 Juni 2011 di Pekanbaru.

“Solo menjadi center pendidikan orthopedi yang kelima, sekarang sudah bertambah tiga lagi. Jakarta, Surabaya, Makassar, Bandung, Solo, Medan, Denpasar dan lain-lain. Sekitar ada sepuluh center ortopedi di seluruh Indonesia, dengan dokter ahli orthopaedi di hampir seluruh kabupaten di Jawa sudah,” ujarnya. Ia mengacu pada keberadaan pusat pendidikan orthopaedi di tanah air ini. Semula hanya ada di UI Jakarta dan Unair Surabaya. Kemudian berkembang pula di Unhas Makassar, Unpad Bandung, UNS Surakarta, dan akan diikuti oleh pusat pendidikan lain di Indonesia. “Khusus di Solo, pendidikan orthopaedi diselenggarakan oleh UNS yang bekerjasama dengan RSOP Prof. Dr. R. Soeharso dan RSUD Dr. Moewardi,” imbuhnya.

Sutopo memasuki masa pensiun per tanggal 1 April 2002, saat menginjak usia 60 tahun setelah menjalani masa bakti selama 32 tahun. Pria kelahiran Purworejo, 25 Maret 1942 ini mengaku tidak punya alasan khusus menggeluti profesi di bidang ini. “Saya mengikuti falsafah ‘mbanyu mili, yaitu mengalir seperti air. Sesuai sifatnya, air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Ini juga yang menjadi salah satu sunatullah,” kata anak dari pasangan H. Mustofa dan Hj. Sutirah ini.

Sesuai dengan falsafah tersebut, kita harus qonaah yaitu merasa cukup, puas dan senang hati serta ridhlo atas apa yang telah dianugerahkan atau ditakdirkan oleh Allah SWT kepada kita dan yakin bahwa itu yang terbaik bagi kita. Qonaah tidak berarti fasilitas serta menerima nasib secara pasif tanpa ikhtiar. Setelah ikhtiar secara maksimal dan sambil berdoa, maka harus ridhlo atas hasilnya atau keputusan Allah SWT. “Saya telah ditakdirkan untuk berbakti di Solo,” ujarnya.

Berkutat di lingkungan orthopaedi, Sutopo menemui kenyataan banyaknya masyarakat yang memerlukan pelayanannya. Berbarengan dengan itu, menurutnya, orthopaedi sebagai ilmu atau disiplin kedokteran masih belum dikenal secara meluas. “Secara tidak langsung, timbul rasa cinta pada ilmu atau disiplin kedokteran ini sehingga saya termotivasi untuk mempelajari dan mengamalkannya pada mereka yang memerlukan pelayanan ini,” ujarnya.

Sutopo prihatin karena keberadaan spesialis orthopaedi dan traumaologi masih sangat terbatas untuk rasio penduduk Indonesia yang mencapai ratusan juta jiwa. Maka, ia dituntut berlaku istiqomah, yaitu memiliki keteguhan hati untuk mempelajari, menekuni, dan mengamalkan ilmu ini. Komitmen kuat Sutopo untuk menekuni bidang ini menemui kendala besar, terlebih untuk berprofesi sebagai ahli bedah orthopaedi. Kendala ini terkait dengan sistem pendidikan yang ada. Sistem pendidikan di Solo waktu itu, LOP mensyaratkan pendidikan ahli bedah orthopaedi selama lima tahun hanya bisa di ikuti oleh dokter umum.

Sutopo yang baru satu tahun menjadi asisten Soeharso harus menerima kenyataan pembimbingnya itu wafat pada tanggal 27 Juli 1971. Sementara di Jakarta mensyaratkan pendidikan ahli bedah orthopaedi selama dua tahun dan bisa diikuti oleh dokter umum. “Jalan buntu menghadang di depan saya. Saya sempat ditawari oleh Direktur LOP ke dua – alm. Dr. Hermawan Sukarman Sp.BO – untuk mengambil keahlian tertentu yang masih ada hubungannya dengan orthopaedi di Australia seperti ahli paraplegi atau ahli rheumatologi. Atau, saya dianjurkan mengambil spesialis lain di dalam negeri,” ujar Sutopo yang mengambil sikap untuk tetap bekerja di LOP Surakarta. Di situ ia bisa terus memberi pelayanan dan tentu saja sambil belajar.

Sampai akhirnya, atas jasa Prof. Dr. H. Sularto Reksoprojo, FICS (alm), ia diijinkan mengikuti pendidikan Ahli Bedah Orthopaedi di FKUI Jakarta mulai Mei 1976 secara resmi. Sebelumnya, ia juga berkesempatan berpartisipasi dalam The First National Congress of the Indonesian Orthopaedi Association, Jakarta, 1-3 Nopember 1974 dan Simposium Orthopaedi Daerah, Jakarta, 25 Oktober1975.

Setelah lulus pendidikan ahli bedah orthopaedi pada 17 Nopember 1978, Sutopo merasa lebih mantap bekerja. Ia melaksanakan pengabdian kepada begitu banyak pasien dengan beragam penyakit orthopaedi dan cacat fisik orthopaedi. Berdasarkan pengamatannya Sutopo berpendapat, pertambahan jumlah spesialis orthopaedi dan traumatologi dibarengi dengan pertambahan jumlah pasiennya. “Jumlah pasien orthopaedi di Solo tidak berkurang. Ternyata ungkapan ‘The orthopaedic surgery is A surgery for yesterday, today and tomorrow’ menjadi benar adanya,” ujarnya.

Meski demikian, Sutopo tak ingin menyangkal perkembangan ilmu orthopaedi dan traumatologi di Indonesia cukup maju. Baik pengetahuan mau pun teknologinya selalu mengikuti perkembangan mutakhir. Menurutnya kemajuan ini dipicu oleh:
 Pertama, Continuing Orthopaedic Education (COE) rutin dilaksanakan setiap enam bulan. Ini merupakan ajang pertemuan para spesialis orthopaedi dan traumatologi sekaligus untuk menyimak presentasi yang disampaikan oleh para ahli-ahli dari dalam dan luar negeri.
 Ke dua, kongres PABOI yang rutin diadakan setiap dua tahun. Forum yang lebih akbar ini menghadirkan presentasi para ahli dari luar negeri dengan porsi yang lebih besar pula.
 Ke tiga, simposium atau seminar baik yang dilaksanakan oleh bagian orthopaedi fakultas kedokteran berbagai universitas di Indonesia mau pun rumah sakit tertentu.
 Ke empat, para ahli dari Indonesia aktif mengikuti pertemuan-pertemuan international.

Mengaitkan kemajuan ini dengan keberadaan dirinya saat ini, Sutopo yang telah menjadi “lansia” secara fisik dan talenta, merasa mengalami penurunan kompetensi seperti dalam hand surgery, micro surgery, dan navigated surgery. Meskipun demikian, ia sangat bersyukur karena sebagian rekan-rekan spesialis orthopaedi dan traumatologi –tentu yang lebih muda dan potensial– sangat aktif dan involved. Bahkan sebagian dari rekan-rekannya tersebut telah go international, sehingga minimal kita tidak makin tertinggal.

“Beberapa hari lalu, tanggal 16-18 Juni 2011 di Pekanbaru, saya menghadiri COE ke-58. Di sana, diketahui bahwa Dr. Andri MT Lubis, SpOT, baru saja berhasil meraih Juara II dalam sebuah forum internasional di Amerika. Ini merupakan salah satu indikasi bahwa kita tidak perlu rendah diri terhadap kemajuan kedokteran dunia luar. Meskipun saya tidak pernah mendapat seperti itu, tetapi saya turut bangga atas pencapaian tersebut,” ungkapnya bangga.

Pelayanan Orthopaedi Meluas

Harapan Sutopo terhadap kedokteran orthopaedi tidak terlalu muluk. Ia hanya mengharapkan agar tetap bisa melayani penderita-penderita orthopaedi di usia senjanya. Selain itu, ia ingin menolong siapa pun -baik kaum dhuafa atau pun pasien biasa- yang datang menemui sampai saat-saat terakhir dalam hidupnya. Satu hal yang selalu diinginkannya adalah, meskipun dengan usia yang semakin menua, Sutopo ingin masuk dalam kategori manusia yang baik, yaitu manusia yang berumur panjang dan baik amalnya.

“Saya ingin baik dalam bersikap dan beramal untuk masyarakat umum, anak cucu, dan keturunan-keturunan selanjutnya. Bukan saja di bidang orthopaedi tapi juga dalam kehidupan sosial keagamaan. Harapan saya yang lain dapat menangi (Jawa) selesainya pendidikan anak keempat, bisa mensupport dan mendukung sampai dia berkeluarga,” katanya.

Khusus bagi para spesialis orthopaedi dan traumatologi yang lebih muda, Sutopo berharap mereka senantiasa terpacu untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan ke-orthopaediannya. Ia berharap mereka bisa meningkatkan pelayanan tanpa pilih-pilih pasien miskin atau dhuafa dan pasien VIP atau elit. Sehingga, terjadi pula peningkatan pengabdian dan dedikasi kepada masyarakat dan bangsa, selain tentu saja untuk peningkatan kesejahteraan diri dan keluarga semata. “Masyarakat Indonesia harus tahu, bahwa spesialis orthopaedi dan traumatologi Indonesia telah sejajar dengan sejawatnya di luar negeri yang ipteknya sudah sangat maju,” ujarnya bersemangat.

Di sisi lain, Sutopo mengaku tidak menemui hambatan berarti dalam menjalankan tugas dan pengabdiannya kepada masyarakat. Kesibukan yang nyaris menyita waktunya 24 jam sehari dan tujuh hari dalam seminggu tidak menjadi beban selama keluarga tetap mendukungnya.

“Itu dulu, tetapi secara umum, tidak ada masalah dengan dukungan keluarga. No problem. Paling-paling, terkadang mereka harus membukakan pintu pada setengah atau sepertiga malam terakhir, saat saya harus pergi meninggalkan rumah atau pun pulang dari rumah sakit. Atau kesibukan saya terkadang mengganggu acara keluarga yang sudah direncanakan,” kata ayah dari Dr. Vita Susianawati, Sp.A, M.Kes; Afiani Dwi Handayani, SPsi., Psi; Arif Nugroho, ST, SE; dan Muhammad Subarkah ini.

Sutopo tetap memegang erat pendapatnya yang menyatakan dokter adalah profesi mulia dan luhur. Agaknya, pendapat pribadi Sutopo sejalan dengan pendapat yang berlaku umum, menjadikan profesi ini sebagai ladang untuk berbakti kepada masyarakat dan pengguna jasa kedokteran. Selain itu, ia juga menjadikan profesi ini sebagai sarana mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

“Saya sudah semakin tua. Tetapi saya semakin merasakan bertambahnya kewajiban untuk membantu dan menolong masyarakat dalam mengatasi masalah-masalah mereka. Khusunya pada masalah kesehatan dan masalah sosial keagamaan pada umumnya,” kata suami Hj. Siti Awalina ini dan kakek tujuh orang cucu ini.

Tanpa bermaksud menggurui, ia mencoba mengingatkan bahwa tujuan penting menjalani kehidupan ini adalah mencapai kebaikan di dunia dan akhirat. “Kita akan mencapai posisi tertinggi saat berhasil menjadi muttaqin, yaitu orang yang bertakwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya,” kata Sutopo yang tergerak untuk menyampaikan pesan reliji kepada generasi muda. Sebuah hadist Nabi menyebutkan, Allah SWT mencintai orang-orang yang bertakwa kepada-Nya, tapi lebih mencintai orang-orang muda yang bertakwa, tanpa memandang profesi dan pekerjaannya.

Akhir kata, setelah penisun dari PNS, Sutopo saat ini menjadi dokter mitra di RS PKU Muhammadiyah Surakarta dan RS Islam Yarsis Surakarta di Pabelan, Sukoharjo.

Moh Ilham Soeroer, SE, MM

DIREKTUR UTAMA  PT BANK SULTENG  

(Sang Direktur yang Datang Paling Pagi, Pulang Paling Belakang)

 

Moh. Ilham Soeroer,SE,MM dilahirkan di kota Pompanua pada tanggal 7 Mei 1955.   Masa kanak-kanaknya dihabiskannya di tanah kelahirannya yang  diisi dengan ikut membantu orangtuanya dengan menjajakan kue jajanan di sekolah, dan mendampingi ayahnya yang ia panggil Abah berjualan di pasar-pasar disekitar kampungnya yang termasuk dalam jadwal sepekan. Menginjak SLP dia belajar di SMEP Negeri kemudian melanjutkan ke SMEA Negeri di Sengkang.  Setelah itu ia melanjutkan kuliahnya di Akademi Ajun Akuntan di Makasar dan lulus tahun 1978 setelah tertunda selama dua tahun karena tenggelam dalam kegiatan kemahasiswaan sebagai  Sekretaris Dewan Mahasiswa pada tahun 1976-77 dan Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Dewan & Senat Mahasiswa Se Makassar  yang mengantarnya masuk dalam tahanan bersama-sama sejumlah fungsionaris mahasiswa kala itu karena tulisannya dalam editorial bulletin mahasiswa “KREASI” yang diterbitkan oleh Dewan Mahasiswa tempatnya kuliahMerasa kurang akan ilmunya ia melanjutkan kuliah di IKIP Makassar yang hanya sempat dijalani satu tahun, karena Ayahnya memasuki masa  pensiun sehingga ia banting setir masuk ke Akademi Ajun Akuntan untuk kuliah pada sore harinya dan pada pagi harinya ia gunakan untuk bekerja serabutan untuk menutupi biaya kuliahnya. Karena tantangan yang dihadapinya mendorong seorang Ilham Soeroer lebih tekun belajar sambil bekerja bahkan sempat menjadi asisten dosen. Dan hal itu pula yang mengantarnya memperoleh bea siswa dari Dep.Pendidikan RI.dua tahun berturut-turut dengan peringkat akademis no.2 se Kopertis Wilayah VII kala itu. Beberapa tahun kemudian, ia melanjutkan kuliahnya di Universitas Terbuka dan memasuki Fakulktas Ekonomi di Jakarta hingga lulus pada tahun 1991.  Karena tuntutan pekerjaannya dan daya pikir yang terbuka membuatnya meneruskan kuliahnya di Program S-2 pada Universitas Krisna Dwipayana di Jakarta dan lulus pada tahun 2000.

 

PERJALANAN KARIR

Awal karir Moh. Ilham Soeroer dimulai ketika ia menerima beasiswa dari Departemen Pendidikan & Kebudayaan RI melalui  Akademi Ajun Akuntan Ujung Pandang selama tiga tahun berturut-turut hingga Ia dapat selesaikan kuliah. Ia diangkat sebagai Asisten Dosen pada tahun 1975, di Makassar .

Kemudian tahun 1978 setelah menamatkan kuliah di Akademi Ajun Akuntan

Ia diminta untuk mengembangkan HRD  Learning center (Human Resource Development) di pabrik kertas, serta  perpustakaan sebagai pusat informasi pendidikan,  dalam waktu yang bersamaan Ia juga ditugaskan oleh Kopertis setempat   sebagai asisten dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Makassar selain dikampusnya sendiri.

Tahun 1979, setahun setelah Ia menamatkan pendidikan di Akademi Ajun Akuntan Ia melamar pekerjaan di bank Indonesia Jakarta, kemudian diterima dan bertugas  di Bank Indonesia Makassar.

Ketika ditanya mengapa tertarik masuk Bank Indonesia, beliau berujar bahwa ia tertarik masuk Bank Indonesia karena melihat pegawainya rapih, dan disiplin waktu karena menurutnya disiplin dan kerapihan adalah suatu ciri keteraturan hidup dan menjadi  suatu tantangan untuk  belajar disiplin dan bekerja secara  produktif.

Karena kerja keras dan niatnya bekerja produktif mengantarnya dapat melewati beberapa jenjang karir di BI, dari tingkat Pegawai Tata Usaha (PTU), Pengawas Bank Yunior, Pengawas Bank Senior hingga akhirnya menjadi  Deputi Pemimpin BI di daerah.  Dalam perjalanan karirnya beliau mengutamakan produktifitas dan kejujuran dan mencoba selalu memegang prinsip dalam bekerja yaitu membiasakan  kebenaran bukan membenarkan kebiasaan selain kejujuran itu sendiri.

Beberapa pelatihan dan kursus telah membekalinya dengan segudang ilmu yang bermanfaat dalam pekerjaannya. Beberapa kursus dan pelatihan itu diantaranya adalah kursus pejabat dan pemberian kredit program BJJ. Pendidikan Pemeriksa dan Analisa Bank, Kursus Penyegaran Audit Bank, Training For Trainers Tingkat Manajer, Bank Analysis & Examination, pelatihan Dasar Perbankan Syariah,   Pelatihan Change Management dan Training Analisa Ekonomi Daerah serta beberapa kursus dan pelatihan lainnya yang berkaitan dengan perbankan.

MASA PENSIUN SANG KAMPIUN

            Posisi terakhir beliau adalah Deputi Pemimpin kemudian saat memasuki masa pensiun tahun 2010 dan dalam perjalanan separo pensiun, beliau dipanggil oleh Gubernur Sulawesi Tengah untuk memimpin Bank Sulteng.

            Kondisi Bank Sulteng pada saat ketika ia baru masuk adalah dalam kondisi yang paling “bontot” diantara 26 BPD lainnya. Selama 42 tahun berdiri, belum banyak dikenal masyarakat karena ketidak mampuan melakukan transformasi untuk mencapai kemajuan, termasuk untuk mengutamakan pelayanan yang prima. Semuanya dirombak sendiri olehnya, setelah mendapat amanah RUPSLB tanggal 24 Februari 2011 untuk melakukan perubahan struktur organisasi yang disesuaikan dengan arah dan target yang akan dicapai, terutama yang tertuang dalam BPD Regional Champion. Dan hal itu dilakukan tanpa mempekerjakan tenaga ahli karena high cost ditambah lagi belum adanya kesatuan pandang dewan komisaris dan direksi. Beliau banyak belajar dengan cara banyak melihat bagaimana mengelola  bank dari orang lain, dari rekaman pengalaman ketika menjadi auditor bank. Beliau bekerja begitu gigihnya dengan menerapkan prinsip datang paling pagi pulang paling akhir. Kerja kerasnya mulai membuahkan hasil dalam waktu kurang lebih 6 bulan, jumlah dana pihak ketiga yang bersumber dari tabungan menanjak melalui “Gerakan Indonesia Menabung” (yang dipompanya melalui Kantor Cabang Utama, Luwuk dan cabang-cabang lainnya), disamping dana – giro pemerintah daerah.

SEKILAS BPD SULTENG

PT. Bank Sulteng awalnya adalah Bank pembangunan Daerah Sulawesi Tengah dengan surat izin dari Menteri Keuangan Republik Indonesia. No.D.15.6.1.17 tanggal 27 Januari 1970. Setelah kinerja BPD Sulteng semakin membaik, maka berdasarkan PERDA Tingkat I Sulteng, No.2 Tahun 1999 tanggal 30 Maret 1999, telah dilakukan perubahan badan hukum Bank Pembangunan Daerah dari Perusahaan Daerah menjadi Perseroan Terbatas. Sejak itu, nama BPD Sulawesi Tengah berganti nama menjadi PT. Bank Sulteng.

Maksud dan pendirian PT.Bank Sulteng adalah untuk mendorong pertumbuhan daerah di segala bidang.Disamping itu, kehadiran PT.Bank Sulteng diharapkan mampu berperan sebagai salah satu alat ekonomi di bidang keuangan/perbankan untuk pengelolaan sumber pendapatan asli daerah untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat.

            Langkah-langkah yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut antara lain adalah:

–          Menghimpun dana masyarakat dalam bentuk produk perbankan seperti giro, deposito, tabungan, dan lain-lain; memberikan kredit; memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah; menempatkan dana pada peminjam atau meminjamkan dana kepada bank lain, baik dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi, maupun dengan wesel, unjuk, cek dan atau sarana lainnya; menerima pembayaran tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan bank antar pihak ketiga; melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

PT. Bank Sulteng berkantor pusat di Jalan Sultan Hasanudin No.20 Palu, Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah. Bank ini memiliki pelayanan yang tersebar diseluruh wilayah Provinsi Sulteng, dari ibukota provinsi. Ibu kota kabupaten dan beberapa kota kecamatan. Hingga akhir tahun 2009, jaringan pelayanan bank terdiri atas: 1 kantor pusat, 1 kantor cabang utama, 7 kantor cabang, 5 kantor cabang pembantu, 6 Kantor cabang kas pelayanan 17 Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan 8 kantor payment point pajak.

Pada akhirnya ia berfikir bahwa mengelola suatu bank tidaklah sulit jika ada kemauan dan niat, sehingga pada akhirnya pemikiran dan bank yang dikelolanya dapat diterima oleh masyarakat disana.

Gebrakan awalnya adalah dengan meluncurkan kartu Pegawai negeri sipil elektronik di Palu. Kartu pegawai elektronik itu multi fungsi, seperti untuk transaksi perbankan atau transaksi keuangan seperti layaknya ATM (Anjungan Tunai Mandiri). Ia menargetkan bisa mendapat sebanyak 3.000 penggunaan kartu pegawai negeri sipil elektronik hingga triwulan pertama 2011. Saat ini sebanyak 2000 dari 7.600 PNS di Sulawesi Tengah telah memiliki kartu pengawas elekteronik.Para PNS tetap bisa menggunakan kartu elektronik itu meski sudah pensiun.

Mengingat kondisi BPD pada waktu itu adalah sebagai Bank yang paling akhir atau bontot.Pada akhirnya beliau mengatakan bahwa mengelola suatu bank tidaklah sulit jika ada kemauan dan niat, sehingga pada akhirnya pemikiran dan bank yang dikelolanya dapat diterima oleh masyarakat disana. Beliau mencoba mengatasi human resources development (SDM) nya melalui rebranding. Beliau melakukan rebranding karena dari sudut pandangnya,  masyarakat Sulawesi Tengah ini belum mempunyai kebanggan terhadap bank-nya sendiri.Beliau melihat adanya pemetaan dan terlihat hambatan yang perlu diperbaiki dengan cara di-rebrain. Program rebranding masyarakat tidak dapat dikerjakan sendiri sehingga ia mengajak pengelola untuk melakukan brain storming untuk mengerjakan proyek rebranding ini. Seluruh pegawai di brain storming dimulai dari dewan direksinya, sehingga ia dapat melihat siapa saja yang setuju akan transformasi terhadap banknya. Ia melihat siapa saja yang tidak sependapat akan menjadi bahan pemikiran sedangkan yang setuju diikutkan pada program rebranding, Oleh karena itu, ketika beliau masuk untuk mengelola Bank Suteng ia tidak bilang bahwa beliaulah yang membangun tetapi hanya mendinamisasikan potensi dan energi sehingga bank itu dapat bergerak lebih dinamis dan lebih cepat.

 

Pemikiran dan Harapan

Menurut Beliau, perbankan yang baik bukan dari jumlah banknya tetapi kantor pelayanannya. Seperti bank daerah sudah saatnya ada holding. Di daerah seperti  Semarang/Pati jarang terdapat bank umum yang ada bank daerah atau BPR.Hal itu bergantung pada penerimaan daerah. Dan bergantung ada orientasi perusahaannya (corporate oriented).

Berkaitan dengan harapannya, menurutnya generasi muda saat ini belum memiliki self-confidence (kepercayaan diri) pada apa yang dikerjakan. Lain halnya dengan orang Jepang jika melakukan sesuatu maka mereka  tekuni seumur hidup. Belum ada komitmen dan loyalitas yang tinggi. Maka, Ilham Soeroer berkesimpulan penting adanya motivasi dari diri sendiri sekaligus menjadi “role model” diiringi pembinaan. Ia melihat pegawai harus memiliki keyakinan  apa yang dikerjakan sehingga menjadi total dalam berfikir, mengerjakan dengan sungguh-sungguh dan berdo’a dalam menjalankan apapun. Kekurangan dalam diri sendirilah yang membuat kita harusnya lebih termotivasi. Jadi, kekurangan bukanlah menjadi suatu hambatan melainkan tantangan. Dengan adanya kekurangan atau hambatan akan membuat kita bisa berfikir bagaimana cara mengatasi kekurangan atau hambatan tersebut dan tidak pernah merasa takut terhadap sesuatu atau pekerjaan yang baru. Nantinya semua bisa teratasi dengan baik .

            Jika masuk ke sesuatu yang baru pastilah ada masalah atau konflik seperti halnya yang dialami pria kelahiran Pompanua ini. Beliau hanya mempunyai dua pilihan di depan mata saat menapaki karirnya setelah mendapat promosi Deputi Pemimpin, yaitu masuk ke Papua atau ke Palu, Beliau lebih memilih Palu dengan pertimbangan bahwa daerah Palu selain dekat dengan domisili leluhur kakeknya di Morowali, juga dinilainya Palu merupakan kota yang memiliki potensi sumber daya alam namun terbatas sumber daya manusia yang terlatih. Hal itulah yang mendorongnya untuk berperan aktif setelah terpilih sebagai Ketua I ISEI yang membidangi Pengembangan Ekonomi Regional,  Lembaga keuangan  dan Investasi daerah. Dalam suatu kesempatan kordinasi tripartite, Ia bersama-sama ISEI yang sebagiannya adalah akademisi menggagas sekaligus men”drive” diadakan “SULTENG EXPO” yang menjadi ajang promosi dengan mengajak instansi teknis terkait untuk bersinergi mewujudkan event tersebut. Pada awalnya mendapat tantangan karena selama itu promosi lebih cenderung dilaksanakan di Jakarta, sehingga Palu khususnya atau Sulawesi Tengah umumnya kurang banyak dikenal masyarakat luas dan lebih dikenalnya sebagai daerah konflik (Poso, red). Setelah melalui diskusi terbuka, akhirnya terselenggara Sulteng Expo pada tahun 2006 yang dirangkai dengan Seminar Nasional Indonesia Forum dan pelantikan Pengurus ISEI Sulawesi Tengah,  dengan menghadirkan Gubernur Bank Indonesia – Burhanuddin Abdullah. Kehadiran Gubernur Bank Indonesia saat itu selain memecah kesepian Palu dari kunjungan seorang Gubernur BI dalam rentang waktu 28 tahun,  sekaligus upaya meyakinkan kepada masyarakat luas bahwa Palu atau pun Sulawesi Tengah sudah kondisi “aman”.   Dalam menjalani hari-harinya di Bank Indonesia Palu sebelum masuk ke Bank Sulteng beliau bukanlah tipe orang yang suka berkonflik melainkan tipe pekerja yang tangguh menghadapi segala rintangan dan  ulet sehingga tak heran Ia dapat lalui selama tidak kurang dari 5 tahun di bumi Tadulako yang memberinya banyak inspirasi dan kreasi.

Menyinggung peran pemerintah untuk lembaga seperti BPD, berkat adanya dukungan dari pemerintah daerah melalui Gubernur Sulawesi Tengah (saat itu Bapak HB Paliudju) yang begitu besar sehingga Bank Sulteng dapat keluar dari bank yang tergolong akan menjadi BPR jika tidak dapat memenuhi modal  disetor Rp 100 milyar pada tahun 2007. Harapannya, adalah bagaimana upaya Pengurus Bank  Sulteng berupaya agar  tidak saja dapat di terima di kalangan masyarakat regional Sulteng saja tetapi Bank Sulteng dapat dikenal dan diterima nasional secara luas. Hal itu kemudian, Ia memasuki advetorial – beriklan melalui salahsatu koran nasional yang dikenal banyak dan luas dikalangan investor dan pebisnis. Sayangnya dikalangan Pengurus kok malah dianggap pemborosan, lha marketing kok.  Menurut Ayah 4 orang putra/putri ini, hal yang dapat dilakukan karyawan antara lain, ketika BPD setback, Ia tetap memberikan motivasi kepada pegawai tentang penerapan transformasi yang dilakukan guna mengejar ketertinggalan Bank Sulteng. Bagaimana bisa menghasilkan sesuatu yang banyak dan meluas sehingga dapat dikenal banyak orang, karena mengubah budaya kerja seadanya yg melekat selama  42 tahun bukanlah perkara yang mudah.

Ketika disinggung mengenai kebudayaan di Sulawesi Tengah yang mempengaruhi operasional suatu BPD, Beliau tidak menjelaskan lebih gamblang karena menjaga untuk tidak disalahtafsirkan seperti SARA. Beliau lebih suka menyerahkannya pada masyarakat. Masyarakat saja yang berhak menilainya. Berkat kerja kerasnya yang tak mengenal lelah, dalam kurun waktu 1 tahun beliau sudah bisa mengubah pola pikir internal maupun kebudayaan masyarakat untuk gemar menabung melalui sosialisasi “Gerakan Indonesia Menabung” ke pelosok. Antara lain masyarakat lebih mengenal budaya menabung, kebiasaan yang sifatnya konsumtif menjadi yang produktif, serta merasa bangga mempunyai bank sendiri. Beliau berusaha memberikan panutan dan tidak meremehkan orang-orang di sekitarnya sehingga bisa membawa pembaharuan karena banyak pegawai yang puluhan  tahun bekerja namun belum pernah diberi pelatihan ataupun pendidikan.

            Dalam program pengembangan bank ini tidak ada kepentingan pribadi melainkan lebih dititikberatkan untuk kepentingan Bank Sulteng semata.

 

Ilham Soeroer di mata Keluarga

 

Akan halnya harapan Ia terhadap anak-anaknya, Ia selalu menekankan anak-anaknya agar bersungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaan dan mencintai pekerjaan yang digeluti. Kedisiplinan yang didapat dari kakek dan Ayah-Bundanya juga ditularkan pada keempat orang putranya, walau belum ada yang mengikuti jejaknya bekerja di Bank ataupun masuk di Bank Indonesia. Dengan kita mencintai pekerjaan, maka pekerjaan juga akan mencintai kita, tandas pria yang memiliki saudara sebanyak 9 orang yang hidup dari 12 orang yang dilahirkan ibundanya, yang semuanya menyebar di seluruh Indonesia ini menutup pembicaraan.

Drs. H. Musman Tholib, M.Ag

Ketua Muhammadiyah Jawa Tengah

Menggunakan Manajemen Silaturahmi dalam Kondisi Apapun

Manusia hidup tidak pernah lepas dari permasalahan. Sejak lahir hingga berkalang tanah, masalah selalu hadir dalam kehidupan. Dari masalah kecil dan remeh temeh hingga masalah besar semua terjadi silih berganti. Hanya manusia dengan kemampuan memecahkan masalah yang berhasil dalam hidupnya.

Adapun cara yang paling ampuh untuk memecahkan masalah adalah menjaga silaturahmi. Melalui silaturahmi, persoalan kecil dapat terpecahkan dan masalah besar terurai. Dengan silaturahmi pula, manusia tidak akan silau oleh pangkat, jabatan dan kedudukan seseorang.

Untuk berhasil dalam hidup, seorang anak muda harus memiliki kemauan belajar yang tinggi. Belajar itu bisa dari buku atau pengalaman orang-orang yang sukses dan orang yang gagal. Kedua hendaklah menjalani manajemen silaturahmi, baik ke dalam maupun keluar. Kalau saling tolong menolong dalam kebersamaan, hasilnya pasti akan sukses,” kata Drs. H. Musman Tholib, M.Ag., Ketua Muhammadiyah Jawa Tengah.

Pria kelahiran Purwodadi Grobogan, 13 Agustus 1944 ini mengungkapkan agar generasi muda tidak mudah marah ketika dikritik. Mereka seharusnya menerima kritikan sebagai upaya untuk membangun dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Karena dari kritikan yang diterima, mereka bisa mawas diri tentang kekurangan atau kelebihan mereka.

Ia mengingatkan, bahwa yang terpenting dalam hidup adalah bagaimana dapat beribadah dengan baik untuk mendapat ridhlo Allah. Apapun pekerjaan, jabatan dan kondisinya, asalkan mendapat ridlho Allah pasti akan selamat dunia akhirat. Karena hal itu merupakan manifestasi dari seorang hamba yang sangat tergantung dari kekuasaan Tuhan sebagai penguasa alam semesta.

Karena itu kita tidak akan silau, minder, dan menghormati orang lain. Kalau salah ya menyadari kesalahannya. Prinsip saya, ‘Pangkat iso minggat, bondho iso lunga’ tetapi silaturahmi harus tetap dijaga. Jangan silau dengan jabatan, pangkat tetapi bekerja dengan baik, karena bekerja itu dinilai oleh Allah bukan manusia saja. Jadi persaudaraan itu harus terjaga dengan baik,” tuturnya.

Priyayi, Santri dan Abangan

Drs. H. Musman Tholib, M.Ag adalah putra pasangan H. Moh. Tholib dan Nartiyah. Kakek dari pihak ibu adalah seorang priyayi yang sangat disegani masyarakat di sekitarnya sekaligus menjabat sebagai Lurah/Kepala Desa. Kehidupan kepala desa saat itu jauh dari nilai-nilai ajaran agama, yang memang tidak lazim saat itu. Sedangkan kakek dari pihak ayah adalah seorang kyai sekaligus pengurus masjid di kampungnya.

Saya lahir di Desa Krangganharjo, Kec. Toroh Kabupaten Purwodadi Grobogan Jawa Tengah. Sejak kecil saya dibesarkan dalam lingkungan keluarga priyayi, santri dan abangan sekaligus. Orang tua saya adalah pegawai KUA sekaligus petani. Saya tepengaruh dengan kehidupan santri, apalagi ayah memiliki mushola sendiri dan kakek adalah pengurus masjid. Sedangkan kakek dari ibu saya adalah Kepala Desa yang agak jauh dengan agama,” kisah suami Hj Siti Taqiyah, BA ini.

Karena condong dengan kehidupan santri, selesai Sekolah Rakyat (SR) Musman mengikuti ujian sekolah PGA (Pendidikan Guru Agama) di Salatiga. Dari seluruh provinsi Jawa Tengah, setiap satu kecamatan hanya dua wakil yang diterima hingga terkumpul 200 siswa. Ia juga merupakan satu di antara 40 orang siswa yang menerima ikatan dinas (ID) dari pemerintah.

Di Salatiga, Musman tinggal di rumah dan menerima dua sisi pendidikan sekaligus. Pagi sekolah di PGAP Negeri Salatiga sebagai persiapan untuk menjadi guru agama Islam. Sementara sore ia belajar mengaji untuk mendalami agama Islam mulai mengkaji Al Quran sampai pelajaran Nahwu Sorof atau gramatika bahasa Arab.

Setelah itu saya meneruskan di PGAA Solo. Saat itu Menag memberikan kesempatan kepada siswa PGAA yang nilainya baik untuk meneruskan pendidikan ke IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saya juga termasuk sehingga mempunyai kesempatan kuliah di IAIN Yogyakarta dengan status tugas belajar hingga sarjana muda. Karena tidak ditugaskan mengajar, akhirnya saya melanjutkan sampai S1,” tandasnya.

Musman menyelesaikan pendidikan di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 1972. Berbagai tawaran datang kepadanya, mulai menjadi Kepala Sekolah Laboratorium PGA pada Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga hingga Dekan di Kalimantan. Semua ditolaknya, apalagi ayahnya juga tidak memberikan izin baginya untuk ke Kalimantan. Meskipun demikian, sebenarnya ia memiliki prinsip untuk tidak mempermasalahkan di mana pun akan ditempatkan.

Di manapun bertugas yang penting bisa ibadah, itu prinsip saya. Kebetulan saya bertugas di Kudus untuk mengajar di SMEAN Kudus. Saat itu, saya mengajak anak-anak untuk meramaikan masjid Jember yang tidak terurus. Alhamdulilah, perlahan-lahan jamaah mulai banyak meskipun lingkungan sekitarnya saat itu dikenal sebagai kampung hitam. Banyak molimo yang berlangsung dengan seenaknya,” tuturnya.

Musman terpanggil untuk membina dan memperbaiki akhlak masyarakat sekitar sekolah. Apalagi situasi keamanan sekolah tidak kondusif karena sering terjadi pencurian. Awalnya, ia mengajak siswa untuk mengadakan berbagai kegiatan yang melibatkan tokoh masyarakat sekitar. Saat pembagian zakat fitrah, misalnya, ia mengajak para tokoh untuk membantu menyalurkan. Hasilnya menakjubkan, sejak itu tidak pernah terjadi pencurian lagi.

Ia semakin akrab dengan masyarakat sekitar saat memperoleh kesempatan untuk membeli sebidang tanah di wilayah tersebut. Ia berniat untuk membangun rumah yang sudah dibelinya dengan tujuan mengubah masyarakat menjadi lebih baik. Ia menanami tanahnya dengan singkong dan pisang. Saat panen tiba, ia mengundang tetangga untuk bersama-sama memanen hasil kebunnya.

Dari situ orang mulai simpati dengan saya dan tidak melakukan pencurian lagi. Begitu juga dengan pembangunan rumah saya yang tidak mengalami apapun meskipun orang lain bisa hilang kusennya. Artinya kalau kita menolong orang itu sebenarnya kita menolong diri sendiri ‘Jika kamu berbuat baik, maka untuk kamu sendiri’. Begitu juga sebaliknya, kalau perbuatan kamu jelek ya untuk kamu sendiri,” tegasnya.

Saat itu, Musman merupakan pria bergelar sarjana (S1) yang kedua di seluruh Kudus. Oleh karena itu, ia diminta untuk mengisi pengajian di Pengadilan Negeri, Badan Pertanahan, Kepolisian dan lain-lain. Ia juga diminta untuk mengisi jabatan Dekan IKIP Muhammadiyah Kudus yang tadinya dijabat oleh Kepala Pengadilan Negeri.

Setelah dua tahun menjadi Dekan, IKIP Muhammadiyah Kudus dilebur dan bergabung dengan FKIP Muhammadiyah Solo (sekarang menjadi UMS). Ia diminta dengan sangat untuk menjadi Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah Kudus. Saat itu, sekolah masuk sore dan ia berinisiatif agar sekolah masuk pagi. Caranya, ia menetapkan calon siswa yang ingin belajar di SMA Muhammadiyah harus membayar uang gedung sebesar Rp.15.000,-

Respon masyarakat justru besar sekali. Saya mendapat 10 kelas sehingga harus pinjam ruangan di SD, dan SMP Muhammadiyah. Atas bantuan seorang pengusaha, akhirnya hanya SMA Muhammadiyah Kudus yang bisa memiliki gedung sekolah bertingkat. Selain itu, kami juga memiliki peralatan laboratorium berkat kerjasama dengan teman-teman UGM,” kata pria yang menjabat sebagai Kasie Urusan Agama Islam Kantor Departemen Agama Kabupaten Kudus dari tahun 1976-1987 ini.

Di bawah kepemimpinan Musman, SMA Muhammadiyah Kudus maju pesat. Berbagai prestasi ditorehkan mulai olahraga -volley dan tennis lapangan- sampai prestasi akademis tidak kalah dengan SMA lain. Berbagai jabatan penting di Kudus –mulai Bupati, Kejari Satpol PP, intelijen, anggota DPRD dan lain-lain- dipegang oleh alumni SMA Muhammadiyah Kudus. “Kebanggaan lainnya, alumni SMA Muhammadiyah yang menjadi anggota DPRD itu berasal dari berbagai partai. Dari PAN, PKS, PDIP dan lain-lain,” imbuhnya.

Sukses sebagai Kepala Seksi, Musman kemudian ditugaskan sebagai Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Cilacap. Ia sekaligus juga menjabat sebagai Sekretaris Wanhat Golkar (Dewan Penasehat Golkar) yang Ketuanya dijabat oleh Bupati Kabupaten Cilacap terkait kebijakan mono loyalitas Presiden Soeharto. Saat itu, ia memanfaatkan posisinya tersebut dengan mengadakan pengajian keliling di kediaman pejabat-pejabat kabupaten. “Jadi saya manfaatkan untuk meningkatkan pemahaman keberagamaan para pejabat sekaligus dalam pengamalannya,” ujarnya.

Dari Cilacap, Musman kemudian ditarik sebagai Kepala Bidang Penerangan Agama Islam Kanwil Provinsi Jawa Tengah (1991-1995). Setelah itu dipercaya untuk menjabat sebagai Kepala Bagian Sekretariat Kanwil Depag Provinsi Jawa Tengah (1995-1999) dan jabatan terakhirnya adalah Kepala Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Depag Provinsi Jawa Tengah. Selama duduk di jabatan struktural, Musman tidak melupakan menggeluti pada dunia pendidikan terutma di Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Musman menjabat pengurus Badan Pelaksana Harian Universitas Muhammadiyah Surakarta selama 2 periode pada saat Rektor dipegang oleh Prof. H. Dochak Latif. Pada tahun 2000, setelah memiliki jabatan funsionaris Lektor dari Kopertis, Musman mengajukan mutasi kepegawaian menjadi Dosen Jurusan Tarbiyah STAIN Surakarta. Ia menyandang jabatan fungsionaris Lektor Kepala terhitung mulai tanggal 1 Juli 2000.

Saya mengajar di STAIN dari tahun 2000 sampai 2009 dan mengambil S2 di UMS Surakarta. Kebetulan saat kuliah saya aktif di senat mahasiswa, bendahara, sekretaris dan lain-lain. Saya juga aktif di Muhammadiyah dan banyak belajar dari tokoh-tokoh Muhammadiyah DIY dan PP Muhammadiyah. Saya sering ikut rapat-rapat organisasi Muhammadiyah. Di organisasi ini, yang paling mengesankan adalah soal kedisiplinan waktu. Segala sesuatu on time dan yang kedua adalah keikhlasan, itu yang paling berharga,” tambahnya.

Membangun Masjid Monumental

Ayah dari tiga anak –Naibul Umam Eko Sakti, S.Ag., M.Si., Arin Fitriani, M.Si, dan Siti Hajar Rahmawati, SE, MA, ini mengungkapkan visi dan misinya dalam memajukan organisasi Muhammadiyah di Jawa Tengah. Secara umum visi yang diusung adalah “Mewujudkan masyarakat Islam yang sebenarnya” yakni bagaimana membuat masyarakat damai dan sejahtera.

Sementara misinya memperdalam dan memperkokoh aqidah Tauhid dan menyebarkan agama Islam berdasar Al Qur’an dan An Sunnah dengan menggunakan akal yang sehat. Serta mewujudkan ajaran Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Semua itu dicapai dengan merealisasikan lewat amal sholeh dalam bentuk amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, sosial kemasyarakatan dan usaha-usaha pertolongan umum lainnya,” tegasnya.

Amal Usaha Muhammadiyah di Jawa Tengah antara lain :

  1. Bidang Pendidikan :

PAUD

TK/ABA

SD

MI

SMP

MTs

SMU

SMK

MA

UNIVERSITAS

SEKOLAH TINGGI/AKADEMI

TPQ

150

1883

192

460

280

110

113

140

17

5

14

70

B. Bidang Kesehatan, Sosial dan Ekonomi

Rumah Sakit

RB/BP/Poliklinik/BKIA

PAY

Non Panti

Rumah Jompo

Penitipan

Tim Perawatan Jenasah

Bank Syariah

Cabang Bank Syariah

BMT/BTM

Koperasi

Toko

Wartel

LAZIS Muhammadiyah

31

99

99

19

4

19

12

1

2

79

59

15

4

73

Dalam periode masa jabatannya, Musman memiliki obsesi yang sangat menarik. Ia ingin Muhammadiyah Jawa Tengah memiliki “sesuatu” yang menyerupai isi di Tugu Monas. Bukan kemegahannya, namun lebih kepada fungsi pembelajaran di dalamnya. Yakni sebuah masjid monumental lengkap dengan menara yang menjadi pusat pembelajaran tentang Islam dan ke-Muhammadiyahan.

Dalam periode kepemimpinan saya, harus bisa membangun masjid yang monumental. Tidak hanya sekadar sebagai tempat ibadah, tetapi juga untuk pembelajaran. Di menaranya kita buat diorama, lintas perjalanan tokoh Muhammadiyah dari dahulu sampai sekarang, kemudian CD tuntunan ibadah yang benar juga akan ditampilkan profil masing-masing Daerah Muhammadiyah se Jawa Tengah. Jadi orang yang datang bisa belajar dan sekarang pembangunan terus dalam proses bahkan untuk lantai dasar sudah dapat dimanfaatkan untuk ibadah shalat berjamaah,” ujarnya.

Obsesi lain yang ingin dicapai Musman adalah pengembangan dan pemberdayaan cabang serta ranting Muhammadiyah. Dalam organisasi Muhammadiyah cabang berada di tingkat kecamatan, sementara ranting dan tingkat desa/kelurahan. Menurut hematnya, terjadinya penambahan cabang dan ranting akan membuat Muhammadiyah bertambah amalnya.

Muhammadiyah Wilayah Jawa Tengah sebenarnya memiliki sepuluh program unggulan dalam periode kepengurusannya.

10 Program Unggulan tersebut adalah:

  1. Administrasi penataan perkantoran dari Ranting, Cabang dan Daerah

  2. Zakat, infak dan shadaqoh berjalan dengan benar

  3. Pembangunan masjid monumental

  4. Ketersediaan dana penanggulangan bencana

  5. Menggerakkan potensi-potensi di bidang ekonomi seperti Bank Syariah, BTM Baitul Tamwil Muhammadiyah

  6. Penertiban dan pengamanan asset milik Muhammadiyah

  7. Penyelenggaraan Hari berMuhammadiyah oleh masing-masing Pimpinan Daerah Tingkat Kabupaten/Kotamadya dan puncaknya diselenggarakan tingkat Provinsi

  8. Dan lain-lain

Semua itu bisa terwujud kalau pimpinan Muhammadiyah memiliki ikatan yang kuat. Kalau sudah terjadi ikatan yang kuat, kompak insya Allah Muhammadiyah akan maju. Di Muhammadiyah harus dihindari sikap Jubriyo yakni ujub, kibir dan riya’. Ujub itu bangga diri, riya’ itu pamer dan kibir itu sombong. Meskipun bisa menghasilkan banyak manfaat tetapi dalam agama ketiga hal tersebut harus dihindari. Kemudian jangan dilupakan bahwa perbedaan adalah teman berpikir, persamaan pendapat harus kita wujudkan,” katanya.

Mendirikan MWB Muhammadiyah

Sewaktu sekolah di PGAA Negeri Surakarta, setiap Ahad pagi Musman mempunyai kesempatan mengikuti kuliah pagi yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah Daerah Surakarta. Perkuliahan ini bertempat di gedung Balai Muhammadiyah Keprabon. Sejak itulah, ia mulai mengenal Muhammadiyah secara mendalam.

Dari sana saya mulai mengenal Muhammadiyah. Begitu lulus dari PGAA Negeri Surakarta, sambil menunggu penugasan saya pulang kampung ke desa Krangganharjo. Bersama beberapa pemuda saya mendirikan MWB atau Madrasah Wajib Belajar Muhammadiyah,” kisahnya.

Perkenalanannya dengan Muhammadiyah semakin mendalam setelah mendapat penggilan tugas belajar di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebagai mahasiswa, disamping aktif di organisasi intra anggota Senat Mahasiswa Fak. Tarbiyah, Musman juga memasuki organisasi ekstra yaitu IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah).

Beberapa jabatan penting sempat diemban selama aktif di IMM, antara lain:

  • Di IMM menjabat sebagai Ketua Komisariat IMM Fakultas Tarbiyah tahun 1966.

  • Ketua Korkom IMM IAIN Sunan Kalijaga tahun 1968.

  • Sekretaris Cabang IMM DIY 1970.

  • Sekretaris BPK (Badan Pembina Kader) PP Muhammadiyah (1971-1974).

Di Yogyakarta, saya mendapat pelajaran langsung tentang Islam dan keMuhammadiyahan dari Bapak KH. R Hajid. Beliau merupakan santri dari KHA. Dahlan. Dari para Tokoh Muhammadiyah Kol. H. Junus Anis, KH. Ahmad Badawy, KH. Abdul Mukti, KH. Bakir, K. Hiban Hajid, KH. Ahmad Azhar Basyir, KH. AR. Fakhruddin, Prof. Abdul Kahar Mudzakir, Djindar Tamimy, Mr. Kasman Singodimedjo, Djarnawi Hadikusumo dan ulama-ulama Muhammadiyah lainnya,” terangnya.

Saat bertugas di Kudus tahun 1973, beberapa jabatan penting Drs. H Musman Tholib, M.Ag, di Muhammadiyah antara lain:

  • Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Kudus 2 periode (periode Muktamar 40-41).

Kemudian setelah bertugas di Semarang (ibukota Provinsi Jawa Tengah) Musman diberi amanah sebagai :

  • Sekretaris Majelis Tarjih Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah periode Muktamar 41.

  • Ketua Majelis Tarjih Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah periode Muktamar 42.

  • Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah periode Muktamar 43, 44 dan 45.

  • Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah periode Muktamar 46 (2010-2015).

Dr. Edhy Listiyo, MARS, Q.I.A

Direktur Rumah Sakit Adi Husada Undaan Wetan Surabaya

PEMIKIR, INOVATIF dan GOLDEN HEART

PANDANGAN dan PRINSIP HIDUP

Berpenampilan santai namun rapi, dr. Edhy Listiyo,MARS,Q.I.A. terkesan hangat, ramah dan komunikatif. Sebagai Direktur Rumah Sakit Adi Husada Undaan Wetan, sebuah rumah sakit yang cukup besar di kawasan Surabaya, beliau tampak tegas dan terbuka, jauh dari kesan angkuh.

Dengan memiliki Prinsip Hidup : disiplin, jujur, dan kerja keras, pria kelahiran 13 Maret 1945 ini mengatakan, ”Kalau kita disiplin, kita akan bisa mengatur waktu dengan efisien, sedangkan kejujuran akan mendukung pekerjaan kita agar menjadi lancar dan transparan. Dengan melalui efisiensi waktu , saat kerja saya manfaatkan maksimal dengan bekerja keras agar tercapai target dan sasaran yang diinginkan.”

Sebagai seorang praktisi medis yang mengerti betul dunia kedokteran, dr. Edhy menyadari bahwa metode pengobatan saat ini semakin canggih. Banyak ditemukan obat-obatan serta peralatan kedokteran yang baru. Inovasi di bidang kesehatan semakin banyak. Semua itu merupakan upaya untuk mengatasi “perubahan” penyakit yang semakin “bandel” terhadap obat-obatan yang biasa digunakan.

Selain itu, saat ini sedang gencar pula dilakukan penggalian kemampuan pengobatan pasien secara tradisional. Beberapa rumah sakit di luar negeri menggunakan gabungan antara pengobatan Konvensional dengan Tradisional. Pengobatan konvensional menggunakan obat-obatan kimia dan teknologi canggih dari negara-negara barat. Sementara pengobatan tradisional memanfaatkan obat-obatan herbal serta terapi lain yang telah membudaya di tengah-tengah masyarakat

Sebagai dokter yang memiliki pengalaman mengikuti kegiatan seminar di dalam dan luar negeri, dr. Edhy mengenal betul berbagai macam metode pengobatan. Baik secara komplementari maupun alternatif. Karena menurut beliau masing-masing pilihan pengobatan tersebut memiliki kelebihan tersendiri. Kemampuan dan pengalaman praktisi kesehatanlah yang akan menentukan secara tepat saat penggunaan masing-masing metode pengobatan .

CITA-CITA

Sebagai Direktur rumah sakit Adi Husada Undaan Wetan Surabaya,

saya ingin rumah sakit ini suatu saat nanti dapat menerapkan penggabungan pengobatan timur dan barat. Pengobatan yang disebut dengan integrated medicine ini sebenarnya sudah dipakai di negara lain. Saat ini kita tertinggal cukup jauh sehingga kita harus belajar banyak dari negara lain. Harapan saya, kita dapat menonjolkan keanekaragaman dan budaya pengobatan tradisional Indonesia sehingga kalau saat ini marak pengobatan Tradisional Chinese Medicine(TCM) maka saya menginginkan ada pengobatan Tradisional Indonesian Medicine (TIM). Karena kita juga memiliki tradisi penggunaan jamu yang mengakar, pemijatan dan lain-lain. Itu yang akan kita kembangkan,” kata dr. Edhy Listiyo, MARS, Q.I.A.

Adi Husada, lanjut dr. Edhy, sejak tahun 1980-an sudah menyediakan pelayanan akupunktur. Pengobatan akupunktur sendiri sudah diakui efektivitas, keamanan dan eksistensinya oleh badan kesehatan PBB, WHO. Ini menjadikan Adi Husada sebagai salah satu rumah sakit di Jawa Timur yang memiliki klinik akupunktur.

Saat ini klinik Akupunktur RS Adi Husada Undaan Wetan ditangani oleh para dokter yang memiliki kemampuan tambahan di bidang Akupunktur. Bahkan salah seorang dokter kami adalah alumnus University Chinese Medicine Beijing di bidang ilmu akupunktur.

Akupunktur itu sangat membantu, kalau saya diberi kekuatan oleh Tuhan Yang Maha Esa tahun ini saya akan mengikuti kuliah S2 Akupunktur di Chinese MedicineUniversity di Guangzhou China dimana kelulusan magister ini diakui pula oleh pemerintah Indonesia. Pendidikan master ini pertama kali diadakan di Indonesia.

Saya juga ingin menggabungkan pengobatan tradisional dengan pengobatan konvensional untuk terapi pada pasien geriatri, kecantikan dan lain-lain yang sudah ada di rumah sakit Adi Husada.” Kata dr. Edhy.

Beberapa waktu lalu kita juga mendatangkan master pijat tuina dari China,” imbuh dr. Edhy. Kedatangan master pijat ini untuk melatih tenaga kesehatan RS Adi Husada Undaan Wetan. Sehingga rumah sakit akan memiliki layanan pijat yang bervariasi dan baik bagi penyembuhan orang sakit.

Selain itu, ia juga mengirimkan dokter ahli rehabilitasi medik untuk belajar mengenai mediSpa ke manca negara. Rencananya, Adi Husada juga akan membuka klinik mediSpa untuk melayani masyarakat yang membutuhkan.

Kita nanti akan membuka MediSpa yaitu pelayanan terapi dengan dasar pelayanan Spa di rumah sakit. Gaya hidup yang ‘sibuk’ pada jaman sekarang menyebabkan kita hanya mempunyai sedikit waktu untuk berinvestasi dalam kesehatan. MediSpa menyediakan perawatan alami yang sederhana dan efektif dalam aspek perawatan kesehatan, kecantikan dan kebugaran untuk mencapai penundaan penuaan dini. MediSpa berfokus pada destressing di dalam dan luar tubuh, menggunakan layananyang santai, menyenangkan dan menenangkan stres harian dan memfokuskan merelaksasi kembali tubuh dan pikiran kita.

Kita juga memiliki Klinik Kosmetologi untuk perawatan kecantikan yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat umum, untuk menjaga keindahan yang telah diberikan Tuhan,” tandasnya.

Menurut dr. Edhy, rumah sakit Adi Husada Undaan Wetan sejak lama telah memiliki trauma center. Beberapa saat lalu juga telah diluncurkan Pelayanan Stroke Terpadu. Layanan ini, tidak hanya bertujuan semata-mata untuk menyembuhkan dari stroke. Layanan ini mengupayakan agar masyarakat mengenal gejala stroke dengan baik, berobat sedini mungkin agar tidak banyak terjadi gejala sisa, serta bagaimana cara menghindari serangan stroke sehingga mereka dapat hidup sehat dan berkualitas.

Karena itu pada Pelayanan Stroke Terpadu mencakup tindakan promotif, preventif,kuratif serta rehabilitatif. Pada layanan ini masyarakat diberi pengetahuan berbagai hal berkaitan dengan Stroke. Antara lain mengenai langkah persiapan sampai penanganan pasien sehingga kesempatan pasien untuk selamat dari serangan stroke lebih besar.

Kita juga akan membuat layanan geriatric bagi orang-orang tua, karena saat ini jumlah orang tua semakin banyak,” kata dr. Edhy.

Untuk sertifikasi yang dikeluarkan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS), rumah sakit Adi Husada Undaan Wetan saat ini telah mencapai tingkatan akreditasi tertinggi. “Kita juga sudah mendapat sertifikasi ISO 9001:2008 System Manajemen Mutu, sedangkan sertifikasi JCI memang belum. JCI memang lebih khusus untuk rumah sakit,” imbuhnya.

Dr. Edhy dapat digolongkan sebagai seorang pemimpin yang memiliki visi jauh ke depan. Memiliki pemikiran pelopor, penuh inovasi, agar rumah sakitnya menjadi pelopor pula di dunia perumahsakitan.

Menghadapi globalisasi di mana kebanyakan orang masih berdiam diri belum melakukan sesuatu, ia sudah melakukan berbagai langkah strategis. Sebagai contoh : kerjasama dengan National University Hospital dan beberapa rumah sakit lain di Singapore, kerjasama dengan rumah sakit The First People of Foshan di Republik Rakyat China.

Tidak hanya berhasil dalam strategi manajemen,dr. Edhy juga memiliki perhatian dalam meningkatkan sumber daya manusia di rumah sakit agar memiliki kemampuan yang baik dalam melayani pasien. Salah satunya dengan mengirimkan para dokter, fisioterapis/tenaga pelaksana lain untuk memperdalam ilmu terkait di Singapura maupun di Foshan.

PENDAPAT

Dr. Edhy Listiyo, MARS, Q.I.A. mengisahkan, sebenarnya persepsi orang Indonesia tentang kehebatan pengobatan di luar negeri tidak sepenuhnya benar. Ia menyayangkan bagaimana masyarakat Indonesia berbondong-bondong ke Singapura untuk sekadar cek kesehatan. Padahal dokter Indonesia tidak kalah hebat dalam pengetahuan, penanganan dan lain-lain.

Kalau ’otak’ kita sebenarnya tidak kalah. Hanya masalah peralatan, rumah sakit luar negeri memiliki lebih banyak peralatan canggih dan modern. Di luar negeri, rumah sakit sudah merupakan sebuah bisnis dengan teamwork yang solid, administrasi yang tertata serta sistem yang rapi. Semua memiliki Standard Operationg Procedure (SOP) sendiri-sendiri dan semua dijalankan dengan disiplin karena jelas prosedurnya,” tegasnya.

Selain itu, dokter di luar negeri memiliki pendapatan yang sangat memadai. Sehingga mereka tidak perlu (bahkan di Singapura dilarang) membuka praktik swasta di rumah atau merangkap tugas di beberapa rumah sakit sekaligus. Sore hari atau saat tidak bertugas bisa dimanfaatkan untuk mencari tambahan ilmu pengetahuan kedokteran.

Sedangkan di Indonesia, waktu yang dimiliki oleh seorang dokter untuk pasiennya sangat sempit. Dokter Indonesia harus berpacu melawan waktu agar bisa secepatnya memeriksa pasien. Setelah itu, dokter langsung “terbang” untuk praktek di tempat lain.

Dokter di Indonesia, sore hari harus praktik pribadi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk itu, dr. Edhy menghimbau agar dokter-dokter di Indonesia dapat mengatur waktunya dengan baik sehingga mereka bisa belajar dan membaca literatur kedokteran terbaru dan lainnya. Seringkali, karena kesibukan, saat memberikan pelayanan kadang dokter kurang memberikan pendekatan yang baik terhadap pasien. Apabila kondisi tersebut diperbaiki, seyogyanya pasien Indonesia tidak akan “lari” ke luar negeri.

Selain itu ada empat alasan tambahan kenapa pasien Indonesia seharusnya memilih rumah sakit dalam negeri saja. Dibandingkan dengan pengobatan di dalam negeri, maka kendala pengobatan keluar negeri adalah : “Pertama, biaya yang harus dikeluarkan sangat mahal. Kedua berobat di tempat asing, ketiga kendala bahasa, yang belum tentu sama dan keempat fasilitas pendukung/kenyamanan buat keluarga yang mengantar. Kalau hal tersebut sudah diperbaiki, bukan tidak mungkin malah sebaliknya pasien luar negeri yang akan datang berbondong-bondong ke Indonesia,” tuturnya.

Satu pertanyaan yang menggelitik mengapa orang Indonesia bersedia membayar mahal, berapapun biayanya, untuk berobat di Singapura. Sedangkan kalau di Indonesia mereka akan mengeluh bila membayar mahal. Saya ingin menyampaikan agar kita jangan terlalu luar negeri minded karena dokter kita tidak kalah ketrampilan dan pengetahuannya. Perawat-perawat kita juga bisa lebih ’ngemong’ pasien, berbeda dengan luar negeri,” tuturnya.

Rumah sakit Adi Husada Undaan Wetan telah memulainya dengan memberikan pelayanan secara komprehensif sehingga hampir semua jenis layanan kesehatan tersedia. Dari pelayanan kedokteran umum sampai gizi, pelayanan spesialistis, bedah ortopedi, thorak dan lain-lain. Begitu juga dengan pelayanan lintas spesialis seperti pelayanan stroke comprehensive yang semuanya ditangani secara profesional, semenjak pasien datang untuk pertama kali sampai kunjungan berikutnya.

 Apalagi secara teknologi, lanjutnya, Adi Husada telah menerapkan Hospital Information System yang terintegrasi pula. Saat pasien mendaftar, dokter tujuan pemeriksaan sampai masalah keuangan semua dengan mudah bisa diakses. “Banyak pasien memuji bahwa Di Surabaya, Medical Center kita yang terbaik, tapi kami tetap merasa masih perlu memperbaiki diri. Saat ini masing-masing klinik memiliki ruang tunggu tersendiri dan tiap dokter di klinik mempunyai ruang pemeriksaan terpisah pula. Rawat inap dan rawat jalan pun terpisah sehingga gangguan yang kerap terjadi saat pemeriksaan dapat dihindari,” tambahnya.

 SISI KEMANUSIAAN

 Begitu lulus dari FK Trisakti Jakarta, dr. Edhy Listiyo langsung ditugaskan di rumah sakit Adi Husada Surabaya. Tugas pertamanya di Unit Jalan Gula yang hanya memiliki poli gigi, poli klinik, BKIA, klinik TBC dan lain-lain. Tidak lama kemudian ia diangkat sebagai Kepala di Unit Jalan Gula tersebut sehingga tugasnya semakin bertambah. Mulai urusan penanganan TBC, vaksinasi sampai menulis laporan ke Pusat dan Dinas Kesehatan.

 “Bisa dibilang saat itu saya cukup happy karena pasien saya banyak, terutama anak-anak. Bahkan ketika mereka sudah dewasa pun masih ingat dengan saya. Penyebabnya, saat itu di belakang klinik ada kolam ikan dan burung. Nah, ketika anak-anak datang, mereka minta saya gendong untuk melihat burung atau ikan terlebih dahulu sebelum diperiksa,” tandasnya.

 Meskipun bertugas di cabang, dr. Edhy tetap mendapat kewajiban jaga malam di rumah sakit Adi Husada Undaan Wetan. Di saat-saat seperti itulah, ia baru tersadar bahwa kemampuannya sebagai dokter ’kalah’ dibandingkan perawat/suster saat itu yang mampu membaca hasil Electro Cardio Graphy (ECG) pasien jantung. Sementara dirinya di Unit Jalan Gula hanya berkutat dengan penyakit-penyakit ’rutin’ seperti panas, batuk, pilek dan lain-lain.

 Oleh karena itu, dr. Edhy kemudian mengajukan diri untuk pindah ke RS Adi Husada Undaan Wetan yang lebih memberikan tantangan. Meskipun secara kepangkatan dan gaji turun, tetapi ia mendapatkan tugas dan tantangan sebagai seorang dokter sesungguhnya. Dari dua pilihan yang diberikan antara Klinik Jantung dan THT, ia memilih untuk bertugas di Klinik Jantung yang memiliki tantangan lebih besar.

 “Konsekuensi dari kepindahan itu, gaji langsung turun. Tetapi saya tidak peduli karena memang saat itu gaji bukan kebutuhan utama tapi keinginan untuk bisa mengembangkan ilmu sebagai dokter, itu yang lebih utama. Ternyata, saat bekerja di Klinik Jantung, banyak pasien yang tertangani dengan baik sehingga dapat diselamatkan dengan tepat waktu. Ini mungkin karena pengalaman dalam menangani pasien saat di Jalan Gula yang saya kerjakan dengan baik dan sungguh-sungguh. Untuk meningkatkan kemampuan, saya mendapat pendidikan di RSUD Dr. Soetomo bagian Jantung selama tiga bulan. Sejak itu saya bertugas di ICU dan karier saya terus menanjak,” kisahnya.

 Dikisahkan ketika ditugaskan di Unit Gawat Darurat rumah sakit Adi Husada Undaan Wetan, dr. Edhy punya pengalaman yang tidak terlupakan. Pagi hari, ketika akan pulang dari jaga malam, ada pasien penderita jantung dari keluarga miskin. Nenek itu sudah lanjut usia. Dia harus masuk ICU guna mendapatkan perawatan khusus.

Sebagai dokter, nalurinya berbicara. Pasien itu harus segera ditolong. Namun, keluarganya tidak memiliki uang yang cukup. Maka, dr Edhy langsung menjamin biaya perawatan pasien lansia itu. Pertolonganpun dilakukan. Pasien yang sudah dalam kondisi gawat itu dilakukan, penanganan intensif, sampai akhirnya sembuh.

Hari itu, dr. Edhy tidak jadi pulang. Perawatan pasien itu bahkan dilakukan sampai sore, dan itu dilakukan selama beberapa hari. Sampai sang pasien benar-benar dinyatakan sembuh. Ketika kontrol, nenek itu sambil menggendong cucunya bertemu dirinya. ”Dokter ini yang mengobati dan membiayai pengobatan nenek sampai sembuh.” ujar dr.Edhy, menirukan ucapan pasien itu.

Beberapa tahun kemudian, cucu yang digendong nenek itu datang kepada dr. Edhy sambil membawa rambutan. ”saya diminta membawakan buah ini, amanah dari nenek,” katanya. Kebahagiaan seorang dokter adalah melihat kalau pasien yang ditolongnya sembuh meski untuk itu membutuhkan pengorbanan.

 Walau sangat menikmati saat bertugas di Klinik Jantung, dr. Edhy tidak bisa mengikuti pendidikan spesialisasi Jantung karena terkendala faktor pembatasan usia. Sehingga setelah berdiskusi panjang dengan pimpinan saat itu, ia bersedia bergabung di jajaran manajemen. Kariernya di bagian ini terbilang cepat, berawal dari pelaksana naik menjadi Kepala Bidang yang harus mengelola bidang medis.

 Ketika saat itu wakil direktur RS Adi Husada Undaan Wetan mengundurkan diri, dr. Edhy lah yang kemudian diangkat menggantikan posisi tersebut. Sebagai wakil direktur medik (yang kemudian menjadi wakil direktur umum yang menangani bidang non medik), ia menguasai hampir semua hal perumahsakitan. Penguasaannya terhadap pengelolaan rumah sakit sudah lengkap saat diangkat sebagai direktur. “Kalau dari pengalaman saya lengkap sekali sehingga hampir tidak ada pertanyaan tentang rumah sakit yang tidak bisa saya jawab,” ungkapnya.

 Dr. Edhy menganggap kegiatan dalam bekerja sebagai suatu pengabdian. Seluruh karyawan diperlakukan sebagai keluarga bukan semata-mata pegawai. Layaknya sebuah keluarga, karyawan adalah anak-anak yang harus dilindungi sementara ia adalah bapak bagi mereka semua. Sikapnya yang melindungi dan kebapakan seperti itulah yang membuat seluruh staf menyayangi dirinya. Bahkan mantan karyawan di Klinik Jalan Gula sampai dengan saat ini masih menjalin tali silaturahmi dengan dr. Edhy.

 “Mereka tidak segan-segan untuk menemui saya. Karena itu kalau menjadi pimpinan sebaiknya tidak sombong karena semua itu adalah amanah Tuhan. Semua karyawan memiliki jasa terhadap keberadaan rumah sakit. Karena dalam pengelolaan rumah sakit team work itu sangat penting,” ujarnya.

 Selain suka tentu saja ada duka. Dalam pekerjaan ini dukanya adalah ketika dicurigai melakukan sesuatu yang tidak dilakukan, dianggap memiliki agenda tersembunyi. “Kadangkala kita sudah kerja keras melakukan yang terbaik tapi kemudian timbul salah paham. ”Itu biasa dalam pekerjaan tapi tetap saja terasa menyedihkan,” imbuhnya.

 Kepada generasi muda, dr. Edhy Listiyo “wanti-wanti” berpesan agar melupakan mimpi menjadi seorang dokter kalau hanya bertujuan sekadar mencari uang belaka. Ia membeberkan bagaimana untuk menjadi seorang dokter harus memiliki keberanian untuk berkorban, yakni mengorbankan waktu dan keluarga. Karena begitu menjadi dokter, semakin sedikit waktu yang bersifat privasi untuk diri sendiri. Begitu juga dengan keluarga yang harus dikorbankan akibat kesibukan tiada henti selama 24 jam penuh sepanjang tahun.

Itu pasti. Ketika pertama kali menjadi dokter jam sebelas atau dua belas malam pintu rumah saya digedor orang itu sudah biasa. Makanya, kalau pilihan jiwamu menjadi penolong, marilah menjadi dokter. Tetapi kalau hanya untuk mencari uang, jangan menjadi dokter. Jadi dokter bagus, jadi pengusaha bagus, tetapi dokter yang menjadi pengusaha menurut saya tidak baik. Selain itu, untuk menjadi dokter yang baik anda harus memiliki jiwa untuk mengasihi orang lain. Kalau tidak, ya tidak usah menjadi dokter, no way,” dr. Edhy Listiyo, MARS, Q.I.A.

Selain memiliki sifat yang telah disebutkan, dr. Edhy juga merupakan pribadi yang bertanggungjawab terhadap keluarga yaitu istri, anak dan cucu. Dr. Edhy Memiliki keluarga yang guyup dan harmonis, dalam hal ini ia menyatakan,” Keluarga yang harmonis harus bisa saling menghargai, saling mengasihi, saling memaafkan, saling memuji, saling mendoakan dan tidak bertengkar karena hal sepele, bila ada masalah besar sebaiknya dilakukan rembukan dengan damai”. Sayang sekali, keluarga harmonis yang menjadi teladan di mata karyawan rumah sakit dan teman-temannya ini harus mengalami duka mendalam, saat istri tersayang dipanggil menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa pada 22 Oktober 2010 silam. Kepergian istri tercinta menghancurkan hati dr. Edhy, ia merasa terpukul sekali ditinggal belahan hatinya. Semoga Tuhan menguatkan dr Edhy, karena saat ini masih banyak pihak yang membutuhkannya.

27 Tahun Mengabdi

 Dr. Edhy Listiyo, MARS, Q.I.A. lahir di Majenang, Cilacap tanggal 13 Maret 1945. Menyandang gelar Dokter Umum pada tanggal 17 Februari 1984 dari Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta.

 Sebelum bergabung dengan RS Adi Husada , ia telah aktif membantu beberapa klinik dan perusahaan di wilayah Jakarta dan Magelang.

 Saat bergabung dengan RS Adi Husada, ia ditempatkan pada unit satelit Jalan Gula Surabaya dan diangkat sebagai Kepala Bagian BPU Jl Gula Surabaya pada tanggal 1 Januari 1986.

 Sebagai dokter, Ia pernah menjalani pendidikan di RSUD Dr. Soetomo – UPF Kardiologi selama tiga bulan kemudian Ia diangkat sebagai Kepala Seksi Klinik Penyakit Jantung RS Adi Husada Undaan Wetan. Selanjutnya jabatan yang diembannya meningkat menjadi Pejabat Kepala Bidang Penunjang Medis RS Adi Husada Undaan Wetan.

 Dr. Edhy masuk ke jajaran top manajemen sejak tanggal 10 November 1995 dengan menduduki posisi sebagai Pejabat Sementara Wadir Medik RS Adi Husada Undaan Wetan. Ia dikukuhkan sebagai Wakil Direktur Medik RS Adi Husada Undaan Wetan satu tahun kemudian. Tahun 1999 diangkat sebagai Wadir Umum & Keuangan RS Adi Husada Undaan Wetan.

 Setelah berhasil menyelesaikan program S2 Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS) di Universitas Airlangga pada tanggal 30 September 1999 dengan mendapatkan predikat lulusan terbaik, karier ayah dua anak dan kakek seorang cucu ini makin berkembang.

Tanggal 1 January 2004, sesuai dengan Struktur Organisasi yang baru, dr. Edhy diangkat sebagai Direktur RS Adi Husada Undaan Wetan. Dengan mengemban Visi Rumah SakitAdi Husada Undaan Wetan Surabaya untuk “Menjadi rumah sakit terpercaya dengan pelayanan kesehatan profesional yang handal dan mampu berkembang secara berkesinambungan, dikenal secara nasional maupun internasional”. Serta bertanggungjawab untuk mensukseskan Misi rumah sakit yaitu Mampu memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik, Selalu berusaha memuaskan customer , Selalu meningkatkan kinerja dan Memiliki lingkungan kerja yang baik sehingga seluruh karyawan menjadi bagian rumah sakit.

Walau dengan beban tanggung jawab yang cukup besar serta kesibukan yang begitu padat, pada tahun 2009, dr. Edhy berhasil mendapat Brevet Mediator dari Mahkamah Agung RI dan pada tahun 2010, ia memperoleh Brevet Qualified Internal Auditor (QIA) dari Institut Pendidikan dan Pelatihan Audit Manajemen dengan mendapatkan predikat lulusan terbaik.

Selain itu, dr. Edhy juga aktif mengikuti seminar kesehatan baik di dalam maupun luar negeri seperti China, Taiwan, Singapura, Malaysia, Thailand dan Filipina. Ia kerapkali diundang sebagai pembicara tentang kesehatan, manajemen rumah sakit, strategi dan lain-lain. Kegiatan lain pria energik ini adalah sebagai Penasehat MeCare di Hong Kong, Executive Council Member of Speciality Committee of Chinese Characteristic Diagnosis and Treatment of World Federation of Chinese Medicine Societies di Beijing dan Kepala Klinik Yayasan Sumber Mulia Jawa Timur.

Selain jabatan Direktur RS Adi Husada Undaan Wetan, Surabaya yang diembannya, saat ini dr. Edhy adalah Ketua I Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia Jawa Timur, Ketua Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia Jawa Timur, Wakil Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia Tiongkok Jawa Timur, Pengurus IDI Jawa Timur dan Penasehat Ikatan Naturopati Indonesia Jawa Timur. Mengingat hal-hal tersebut maka tak heran apabila dr. Edhy Listiyo, MARS, Q.I.A. termasuk dalam jajaran tokoh kesehatan yang cukup disegani dan berpengaruh di Jawa Timur. 

Drs. Syamsul Bahri TRB, MM, CPA, Ak.

No Comments

Drs. Syamsul Bahri TRB, MM, CPA, Ak.
Pemilik dan Managing Partner KAP SYAMSUL BAHRI TRB & REKAN

Diharapkan Menjadi Pendidik, Besar Sebagai Akuntan Publik

Bagi orang zaman dahulu, profesi sebagai guru alias pendidik adalah pekerjaan sangat mulia dan terhormat. Guru adalah pintu ilmu pengetahuan yang tiada habisnya sehingga posisinya sangat disegani di tengah masyarakat. Seorang guru dijadikan suri tauladan bagi masyarakat sekitarnya. Tidak heran, di berbagai daerah guru sekaligus juga tokoh masyarakat yang diikuti kata-kata dan tingkah lakunya.

Harapan untuk menjadi seorang pendidik “pernah” dilambungkan oleh kakek dan nenek Drs. Syamsul Bahri TRB, MM, CPA, Ak., kepada cucunya tersebut. Setiap libur sekolah dan pulang kampung dari Banda Aceh, pertanyaan apakah sang cucu sudah menjadi guru selalu terlontar. Apalagi ketika cucu kesayangannya tersebut mulai beranjak dewasa, pertanyaan serupa selalu diulang dalam berbagai kesempatan.

“Baik kakek dari pihak ayah maupun ibu, selalu memberikan pertanyaan yang senada, ‘Apa kamu sudah jadi guru?’ Di mata mereka guru adalah profesi mulia meskipun generasi kakek maupun ayah jarang mengecap pendidikan formal yang dikelola kaum kolonial. Akibatnya, mereka buta aksara latin tetapi melek aksara arab yang didapatkan dari pendidikan non-formal. Sejak itu, menjadi guru selalu terpatri di hati saya agar dapat mengabdikan diri kepada masyarakat. Walaupun guru adalah profesi yang tidak memberikan banyak materi, tetapi sangat dihormati masyarakat karena pengabdiannya,” kata Pemilik sekaligus Managing Partner KAP SYAMSUL BAHRI TRB & REKAN ini.

Anak kelima dari sembilan bersaudara pasangan Teuku Radja Badai dan Tjut Syah Indra ini, menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat (SR) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) di kota Banda Aceh. Berbekal dukungan kedua orang tua yang sangat menginginkan agar anak-anaknya dapat menempuh pendidikan setinggi mungkin, ia merantau ke Medan. Tujuannya adalah menuntut ilmu di perguruan tinggi nomor satu di Propinsi Sumatera Utara, yaitu Universitas Sumatera Utara (USU).

Namun bukan jurusan kependidikan yang ditujunya seperti harapan sang kakek. Ia memilih untuk mengambil jurusan kedokteran seperti cita-cita masa kecilnya. Penyebabnya, rasa kemanusiaannya yang tergugah melihat kondisi kampung halamannya tidak memiliki tenaga dokter. Maklum, kampung halamannya di Kecamatan Meureudu (sekarang ibu kota Kabupaten Pidie Jaya) berjarak ± 150 kilometer dari Banda Aceh dan 40 kilometer dari Sigli, sebuah kecamatan pada masa itu yang belum memiliki tenaga dokter.

“Masyarakat di kampung saya kebanyakan petani yang mengandalkan pelayanan kesehatan kepada para mantri, perawat atau bidan yang ada di sekitar mereka. Nah, salah satu mantri kesehatan yang ada di desa kami adalah paman yang sering meminta saya membantu beliau saat liburan di kampung. Hal tersebut memperkuat keinginan saya untuk kuliah di kedokteran menyusul kakak dan saudara sepupu yang telah lebih dalulu kuliah di Fakultas Kedokteran USU, karena profesi ini dapat mengabdikan diri dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” ujarnya.

Tetapi pria yang akrab dipanggil Achun ini harus mengubur impiannya untuk menjadi dokter dalam-dalam. Ia hanya bertahan menjalani perkuliahan di Fakultas Kedokteran USU Medan pada Tingkat pertama saja. Beberapa alasan membuat cita-citanya kandas di tengah jalan, kuliahnya terhenti begitu saja. Putus asa dan frustasi, ia menyalahkan siapa saja yang dianggapnya menghambat cita-citanya. “Mulai SMA dibawah standar, kemampuan financial orang tua kurang, ditambah saya sendiri tidak pandai mendekatkan diri kepada dosen. Bahkan sempat terpikir Tuhan tidak sayang sama saya,” imbuhnya.

Namun, Achun akhirnya tersadar bukan itu penyebab kegagalannya. Melalui introspeksi diri yang mendalam, dengan berkaca pada kondisi orang lain yang lebih parah dari dirinya, ia bangkit dari keterpurukan. Semangat bahwa dirinya bisa berbuat seperti yang dilakukan orang lain terus menggelora. Ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk melakukan semampu yang mungkin dilakukannya.

Pada saat seperti itu, terngiang di telinga Achun petuah-petuah dari kakek tercinta. Salah satu yang paling membantunya bangkit dari keterpurukan adalah nasihat yang berbunyi: “berbuatlah sebisamu jangan dipaksakan”. Dari situ ia sadar, dunia kedokteran bukanlah karier yang tepat baginya. Ia kemudian melirik profesi yang pada saat itu masih langka di masyarakat dan sangat asing baginya, menjadi seorang akuntan, yang nantinya meneruskan berpraktek sebagai akuntan publik.

“Profesi akuntan publik saat itu masih jarang sekali, hanya ada di kota-kota besar saja. Tetapi yang jelas, profesi ini juga dapat mengabdikan diri kepada masyarakat. Bisa membuka praktek untuk melayani orang lain, sama seperti dokter. Tetapi dengan banting stir ini, saya harus kerja keras menekuni sesuatu yang begitu asing. Sesuatu yang belum pernah terbayangkan dan begitu abstrak bagi saya. Tetapi dengan kemauan keras untuk berhasil, saya bertahan,” ujar pengagum pengusaha “nyentrik” Bob Sadino tersebut.

Achun kemudian mengambil kuliah pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi USU. Kurikulum yang berlaku saat itu mahasiswa harus memperoleh ijazah sarjana muda terlebih dahulu sebelum melanjutkan pendidikan tingkat sarjana. Karena akuntansi sejak dahulu hingga sekarang merupakan jurusan favorit, mahasiswanya pun sangat banyak. Dengan dosen “hanya” delapan orang yang bergelar akuntan saat itu, tingkat kelulusannya pun menjadi rendah. Tidak heran mahasiswa yang menamatkan kuliah hingga delapan tahun pun masih dianggap normal. Standar kelulusan sesuai kurikulum saat itu adalah lima tahun, namun mahasiswa yang berhasil menempuh pendidikan lima atau enam tahun dianggap luar biasa.

Setelah memperoleh gelar sarjana muda, Achun mendapat tawaran dari fakultas untuk bergabung menjadi tenaga pengajar. Karena saat itu, FE USU masih kekurangan tenaga pengajar dalam jumlah besar terutama untuk jurusan akuntansi. Teringat kakeknya yang selalu menanyakan kapan dirinya menjadi guru, ia pun menerima tawaran tersebut. Meskipun secara administratif, ia terganjal sistem yang mengharuskan seorang dosen adalah sarjana.

“Maka jadilah saya pegawai negeri berstatus tenaga administrasi yang bertugas di bidang akademik. Yang jelas, saya terpanggil karena teringat keinginan kakek yang mengharapkan cucu-cucunya mengabdikan dirinya menjadi guru, melayani masyarakat walaupun penghasilan tidak seberapa. Nah, jadilah saya asisten dosen,” kisah penyuka liburan di pantai atau pegunungan tersebut.

Disamping menjadi asisten dosen, Achun juga bekerja magang sebagai tenaga auditor di beberapa kantor akuntan publik (KAP). Dengan bekerja di KAP, ia memiliki penghasilan tambahan disamping mengajar. Di sini, ia tidak hanya memperoleh penghasilan yang memadai, tetapi juga tambahan ilmu pengetahuan yang sangat berguna bagi kariernya kelak.

“Pokoknya, selain masalah finansial tidak menjadi problem lagi, saya juga dapat ilmunya. Malah kucuran dari orang tua hanya bersifat insidentil saja, kalau butuh baru minta. Sangat puas bisa menikmati hasil keringat sendiri, di samping dapat meringankan beban orang tua yang sudah kurang begitu produktif lagi,” tuturnya.

Menekuni Profesi

Akhirnya Drs. Syamsul Bahri TRB berhasil menyelesaikan gelar sarjana akuntansi dan secara resmi menjadi tenaga pengajar di almamaternya, Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara. Bersama enam rekannya sesama staf pengajar FE USU, ia kemudian mendirikan Kantor Akuntan Publik (KAP). Dengan pertimbangan komersiil, sengaja nama KAP mengambil nama salah seorang pendiri yang telah memiliki dua gelar master akuntansi.

Sepuluh tahun kemudian, enam rekan sepakat untuk memecah perusahan menjadi dua KAP sehingga masing-masing KAP memiliki tiga partner. Pertimbangan melakukan hal tersebut adalah asumsi bahwa enam orang ahli terlalu ramai untuk satu persekutuan perdata. Hasilnya luar biasa, karena setelah memisahkan diri tumbuh tekad dan tantangan baru untuk berkembang dan berhasil.

“Dengan tekat untuk berbuat semampu yang bisa kita capai, ternyata hasilnya luar biasa. Hanya dalam tempo tiga tahun, kerja keras kami melampaui apa yang kami kerjakan sepuluh tahun bersama enam rekan KAP terdahulu. Dalam tiga tahun pertama operasi kami mampu membeli sebuah ruko tiga lantai untuk kantor di daerah yang berpotensi untuk berkembang. Kami juga mampu mengerjakan proyek-proyek besar sendiri maupun dengan konsorsium bersama KAP lain,” katanya.

Achun mengakui bahwa dalam menekuni bidang akuntan publik cukup banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah datang dari penilaian masyarakat terhadap profesi AP terkait kasus-kasus yang terjadi, baik di dalam negeri maupun negara-negara besar lainnya. Akibatnya, untuk sekadar memperoleh kepercayaan masyarakat adalah pekerjaan rumah yang sangat berat bagi akuntan publik.

Sedangkan kendala intern terjadi akibat penumpukan pekerjaan yang biasa terjadi pada akhir atau awal tahun. Pada saat-saat seperti itu, intensitas pekerjaan sangat tinggi sehingga memerlukan tenaga lapangan yang banyak.  Sementara pada pertengahan tahun, pekerjaan yang diperoleh bahkan tidak mencukupi untuk didistribusikan kepada staf auditor yang terlanjur direkrut.

“Oleh karena itu, perputaran tenaga auditor di lapangan menjadi tinggi. Ini membuat KAP akan terkuras energinya untuk mendidik tenaga junior setiap tahun. Karena setelah mapan dan memiliki ‘nama’ mereka akan mencari pekerjaan yang dianggap lebih favorit. Biasanya, staf auditor belum merasa bangga dengan status mereka di KAP, walau secara finansial hal ini sudah dapat disetarakan dengan profesi yang lebih favorit lainnya,” ungkap ayah empat anak ini.

Kendala lain adalah pemerintah sebagai pemegang regulasi mengeluarkan aturan-aturan yang tidak banyak membantu dunia AP. Akibat peraturan-peraturan yang ada belum mendorong profesi akuntan publik ke posisi yang lebih baik. Tidak heran, apabila dikaji lebih dalam profesi AP masih harus menempuh jalan panjang untuk bisa berkembang sebagaimana mestinya. Banyak tantangan yang harus dihadapi dan dipecahkan masalah yang timbul agar profesi AP mampu mencapai posisi ideal di tengah masyarakat.

Di sisi lain, lanjut Achun, minat untuk menekuni pekerjaan sebagai akuntan publik sangat kecil. Tidak terjadi penambahan jumlah Akuntan Publik (AP) secara signifikan dari tahun ke tahun. Data yang dibeberkannya menunjukkan sesuatu yang mencengangkan dalam profesi AP. Dari sekitar 230 juta jiwa penduduk Indonesia, hanya 905 orang yang berprofesi sebagai akuntan publik. Angka ini jauh ketinggalan dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN bahkan dengan Filipina sekalipun.

Data yang dilansir oleh Media Investor Daily, 4 Agustus 2010, halaman 1, menunjukkan bahwa Singapura memiliki AP 15.120 orang dengan jumlah penduduk hanya 5 juta jiwa, Filipina 15.020 AP dengan penduduk 88 juta jiwa, Thailand 6.070 AP dengan penduduk 66 juta jiwa, Malaysia 2.460 AP dengan penduduk 25 juta jiwa dan Vietnam 1.500 AP dengan penduduk 85 juta jiwa.

“Selain itu, RUU Akuntan Publik yang saat ini sedang digodok oleh Pemerintah dan DPR, juga belum memihak kepada pengembangan dunia usaha. Disamping pandangan masyarakat kepada akuntan publik sendiri secara umum masih kurang baik. Seolah-olah AP adalah tukang yang siap mengerjakan sesuatu sebagai barang tempahan, pesanan sesuai selera konsumen. Ini merupakan tantangan bagi AP untuk merubah image negatif ini ke gambaran yang lebih objektif,” imbuhnya.

Padahal, lanjut Achun, harus diakui bahwa kebutuhan dunia usaha akan peran Akuntan Publik untuk memberikan opini sebagai pihak yang independen untuk berbagai keperluan tidak bisa dihindari. Faktor ini menyebabkan banyak kelompok kepentingan yang membuat kebijakan sendiri-sendiri untuk memilih AP yang menurut mereka memenuhi spesifikasi/ persyaratan kelompok masing-masing. Ia mencontohkan, keberadaan AP-Bapepam, AP perbankan, AP BPK dan lain-lain, yang untuk dapat memenuhi syarat dimaksud memerlukan biaya dan waktu sehingga membuat harga pokok jasa akuntan menjadi tinggi.

“Ketidak jelasan masa depan akuntan publik membuat generasi muda mempunyai minat yang rendah untuk menekuni bidang ini.  Hal ini terlihat dari kecilnya minat mengikuti Pendidikan Profesi Akuntansi (PPA) dan Ujian Sertifikasi Akuntansi Publik (Certified Public Accountant : CPA),” keluhnya.

Untuk memecahkan masalah tersebut, Achun sangat berharap terjadinya perubahan besar pada profesi yang digelutinya saat ini. Ia sadar, keinginannya tidak mungkin terwujud tanpa dukungan dari berbagai pihak, utamanya lembaga legislatif dan eksekutif dalam menetapkan regulasi pada profesi ini. Ia mengakui, peran Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) sebagai wadah para akuntan publik sudah cukup baik. Ia berharap agar peran IAPI di masa mendatang terus ditingkatkan agar profesi ini dapat dihargai sebagaimana mestinya.

“Selain itu, terjadinya persaingan yang kurang sehat antar KAP, pemahaman masyarakat terhadap peran AP dalam dunia usaha serta berbagai pihak yang terkait dengan kelanjutan profesi ini sangat diperlukan. Karena profesi akuntan publik di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan, di mana umur akuntan publik yang aktif mayoritas dikuasi oleh AP yang berumur diatas 51 tahun sebesar 64 persen. Usia AP antara 41 – 50 tahun sebesar 25 persen dan usia 26 – 40 tahun hanya 11 persen. Semua itu, kalau tidak ditangani dengan serius profesi ini hanya tinggal kenangan,” katanya.

Menghargai Orang Lain

Selama menjalani kariernya, Achun merasa mendapat dukungan penuh dari keluarga. Istri dan keempat anaknya, sangat mendukung dan mengerti atas profesi suami dan ayahnya. Bahkan, tumbuh rasa kebanggaan dari anak-anaknya terhadap profesi sang ayah. Tidak heran, dua dari empat anaknya mengikuti jejak ayahnya dan menempuh pendidikan untuk menjadi akuntan.

“Sedangkan anak tertua meneruskan cita-cita ayahnya yang gagal menjadi dokter. Si bungsu, sebagai satu-satunya anak perempuan masih duduk di kelas tiga SMA dan belum menentukan pilihan profesi apa yang nantinya akan dijalani. Yang jelas, naik turunnya keberhasilan KAP terus mendapat support keluarga secara positif,” tegas suami Radhiatun Mardiah, SE, MSi tersebut.

Dukungan keluarga yang besar, sudah dirasakan Achun sejak awal. Ayah dan ibu sangat berkeinginan agar anak-anaknya dapat menyelesaikan pendidikan setinggi-tingginya. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat dan merasakan bagaimana upaya kedua orang tuanya dalam membiayai pendidikan keluarga besarnya. Tujuannya hanya satu, supaya semua anak-anak dan kemenakan-kemenakannya mampu menyelesaikan studi serta meraih cita-cita masing-masing.

“Untungnya, kehidupan keluarga kami tergolong berkecukupan dibanding saudara-saudara ayah maupun ibu. Meskipun tidak tergolong kaya raya tetapi bisa digolongkan keluarga berada. Ayah adalah seorang pedagang yang berkemauan keras, dan selalu tidak puas sebelum berhasil mewujudkan apa yang ingin dicapainya. Walaupun pada akhirnya ada beberapa anaknya tidak berhasil meraih gelar sarjana,” katanya.

Achun masih teringat bagaimana ayah dan kakeknya menanamkan sikap untuk menghargai orang lain. Petuah yang disampaikan secara turun temurun tersebut dimaksudkan agar timbul penghargaan dari orang lain karena mereka juga merasa dihargai. Meskipun pesannya sangat sederhana, tetapi baginya cukup sulit untuk diterapkan. Kesulitan yang paling berat baginya adalah untuk menghargai waktu bagi diri sendiri.

“Kalau memposisikan diri kita menjadi orang lain yang waktunya dikorbankan untuk kepentingan kita, akan kita sadari betapa naifnya kita. Makanya, sampai seusia sekarang saya masih terus belajar bagaimana dapat mengelola waktu dengan baik,” kata pria kelahiran Takeungon, Aceh Tengah, 7 Juli 1951 ini.

Dalam menjalani kehidupan baik untuk diri sendiri, keluarga, atau masyarakat Achun memiliki slogan sebagai pegangan. Slogan tersebut berbunyi; “Buatlah sesuatu yang bermanfaat, sekecil apapun itu dan semampu kita mewujudkannya untuk diri sendiri maupun orang lain. Jangan menilai segala sesuatu dari apa yang akan kita peroleh tetapi apa yang telah kita perbuat”.

“Dengan mengamalkan ini, kita akan memperoleh kepuasan tersendiri. Bahwa  kita sebenarnya bermanfaat, memiliki potensi yang berguna untuk diri sendiri maupun orang lain. Ini yang selalu saya tekankan kepada keluarga maupun karyawan dalam menjalani kehidupan. Dengan bermodalkan hal ini, akan lebih mudah untuk mencapai cita-cita serta memperoleh ketenangan hidup,” kata Drs. Syamsul Bahri TRB, MM, CPA, Ak.

Ruslan Effendy

No Comments

Ruslan Effendy
Ketua Koperasi Jasa Marga Bhakti I

Pengurus Tidak Boleh Memiliki Kepentingan di Koperasi

Usaha bersama dengan semangat kerakyatan yang kental adalah “roh” dari koperasi. Bentuk usaha yang menjadi “soko guru” perekonomian bangsa tersebut bertujuan untuk menyejahterakan rakyat, utamanya anggota koperasi. Sebagai pilar perekonomian, koperasi yang dikelola dengan baik akan memberikan manfaat yang besar. Tidak hanya bagi anggota koperasi tetapi juga masyarakat di sekitarnya.

Namun sebuah koperasi hanya bisa menjadi tumpuan perekonomian apabila dikelola dengan baik. Untuk mengelola koperasi memerlukan orang-orang yang benar-benar kompeten, menguasai bidang perkoperasian dan memiliki naluri bisnis yang tajam. Selain itu, seorang pengurus koperasi harus tahu akan dibawa ke mana koperasi yang berada dibawah kendalinya.

“Sebagai pengurus koperasi harus memahami perkoperasian dengan baik. Memahami UU Perkoperasian, aturan-aturannya, bentuk, anggota dan tujuan pendirian koperasi. Satu catatan untuk pengurus koperasi adalah mereka tidak boleh memiliki kepentingan di dalam koperasi. Kalau itu dilakukan koperasi akan maju karena itu tidak gampang, memerlukan mental yang kuat,” kata Ruslan Effendy, Ketua Koperasi Jasa Marga Bhakti I.

Mental yang kuat dipelukan untuk mencegah pengurus “bermain” dalam pengelolaan bisnis koperasi. Karena koperasi sebagai institusi bisnis memiliki peluang-peluang besar untuk mendatangkan keuntungan besar yang sangat “menggoda” iman. Salah-salah, pengurus koperasi yang tidak kuat mental akan menggunakan kesempatan tersebut bagi keuntungannya sendiri. Bisa dikatakan tidak mudah menjadi pengurus yang tetap bertahan tanpa kepentingan di koperasi.

Selain itu, lanjutnya, pengurus koperasi juga harus “open” kepada keluarga. Karena sifat kepengurusan di koperasi lebih banyak sosial yang tidak banyak mendatangkan materi. Sementara tugas sebagai pengurus koperasi sangat menyita waktu kebersamaan dengan keluarga. Apalagi bagi pengurus koperasi yang “merangkap” sebagai karyawan seperti dirinya, memerlukan waktu ekstra untuk melaksanakan kedua tugasnya.

“Kegiatan koperasi dari Senin sampai Jumat, Sabtu untuk kuliah. Sementara tugas di PT Jasa Marga tidak mengenal waktu, bahkan hari libur nasional pun kami tetap masuk. Nah, keluarga yang melihat kesibukan luar biasa yang kami lakukan akan menuntut sebagai kompensasinya. Karena mereka merasa tidak mendapat apa-apa,” ujarnya. Ia bersyukur, mendapat kepercayaan sepenuhnya dari keluarga. Sang istri, Mardahlena dan anak-anaknya tidak keberatan ia hanya menyisihkan waktu beberapa saat bersama mereka. “Mereka memahami meskipun saya pergi pagi dan pulang pagi. Mungkin beberapa tahun lagi saya akan melepaskan semuanya dan lebih fokus pada keluarga,” imbuhnya.

Untuk itu, Ruslan sedang menggodok sistem yang menetapkan honor dan target pengurus Koperasi JMB I. Dengan standar yang jelas dan pasti, seorang pengurus koperasi memiliki kejelasan tentang hak dan kewajibannya. “Jangan sampai anggota punya target, tetapi pengurus tidak punya kebebasan gerak dan honor yang pasti,” tegasnya.

Adu Bidding

Dalam tiga periode kepemimpinannya, Ruslan Effendy belakangan membawa koperasi berkiprah “keluar” dan lebih fokus pada penawaran jasa outsourcing dan investasi. Meskipun untuk itu, koperasi harus berhadapan langsung dengan sektor swasta yang lebih berorientasi keuntungan. Karena itu, diperlukan strategi yang tepat untuk memainkan peran dalam ketatnya persaingan bisnis.

“Kalau kurang punya strategi sudah pasti kita akan kalah. Makanya kita kemudian banyak ikut tender pengadaan, terutama di lingkungan PT Jasa Marga. Kita bekerja sama dengan perbankan untuk pendanaannya, karena rasanya berat kalau pakai dana sendiri. Kita juga bekerja sama dengan perusahaan otomotif seperti PT Astra Internasional dalam pengadaan kendaraan. Kerjasama seperti inilah, yang membuat kita berani ‘adu bidding’ dengan perusahaan swasta,” tuturnya.

Menurut Ruslan, dukungan dari pihak luar seperti itulah yang harus dipertahankan oleh koperasi. Apalagi di tengah persaingan global yang semakin sengit, pengurus koperasi harus “cerdas” mengembangkan koperasinya. Kalau hanya berkutat pada satu unit usaha saja koperasi tidak akan berkembang. Seperti diatur dalam UU Koperasi, disebutkan bahwa koperasi bisa mengembangkan usaha seluas-luasnya. Dengan mengembangkan diri, koperasi akan mampu memenuhi kebutuhan anggota yang setiap tahun bertambah dan meningkat.

“Tentu memerlukan kebijakan pengurus untuk mendorong dan memotivasi perkembangan koperasi. Koperasi kita sendiri sudah menerapkan sistem penggajian yang sangat rapi, naik secara gradual dan sistematis. Nah, kalau tidak diimbangi dengan pengembangan usaha atau usahanya mandeg, mungkin untuk menggaji karyawan sudah suli. Koperasi bisa hancur,” tandasnya.
Strategi yang diterapkan Ruslan adalah dengan membuat publik percaya atas kiprah Koperasi Jasa Marga Bhakti I. Selain itu, koperasi harus tetap menjaga hubungan baik dengan anggota maupun mitra usaha. Untuk ekspansi usaha, koperasi mendirikan anak perusahaan sebagai sarana memperlancar penetrasi bisnis. Ia mencontohkan, bagaimana koperasi bersama perusahaan “maju bersama” dalam proses penawaran lelang sebuah proyek.

“Ini strategi kita, bukan curang. Saya tahu strategi ini banyak digunakan orang dalam sebuah lelang. Saya pernah mendapati bahwa lima perusahaan lawan lelang saya, pemiliknya hanya satu orang. Dari pengalaman saya, kalau tidak mengikuti sistem seperti itu koperasi tidak akan pernah menang. Meskipun proyek tersebut berasal dari Jasa Marga,” tegasnya.

Efek Keseimbangan

Ruslan Effendy menuturkan, Koperasi Jasa Marga Bhakti I memiliki dua seksi usaha, anggota dan non-anggota. Seksi usaha anggota lebih mengedepankan sisi sosial, yang meliputi penyediaan barang-barang kebutuhan anggota, simpan pinjam dan waserba (warung serba ada). Koperasi juga melayani usaha penyediaan barang bagi anggota mulai kendaraan roda dua, roda empat bahkan sampai kredit perumahan.

“Bahkan pembuatan SIM dan STNK pun kita fasilitasi. Pokoknya setiap keinginan anggota untuk memenuhi kebutuhannya, kita usahakan untuk dapat direalisasikan. Unit usaha ini tidak mengambil keuntungan dan lebih bersifat sosial. Untuk itu, kami memberikan subsidi yang didatangkan dari kegiatan non anggota,” tuturnya.

Unit usaha non anggota yang dijalankan koperasi, lanjut Ruslan, meliputi bisnis yang cukup besar. Karena induknya pengelola jalan tol, koperasi memiliki unit usaha armada derek jalan tol. Kemudian rental kendaraan dengan kekuatan 60 armada mobil keluaran terbaru siap disewakan kepada anggota dan umum. Selain itu, koperasi memiliki usaha service AC, pemasangan dan pemeliharaan lengkap dengan teknisi untuk urusan pendingin ruangan tersebut. Usaha lain yang dijalankan adalah unit fotokopi dan ATK, jasa cleaning service dan jasa outsourcing untuk pekerjaan-pekerjaan sipil yang bersifat tidak rutin, seperti pembuatan marka jalan dan lain-lain. Koperasi juga memiliki unit usaha bengkel di beberapa lokasi yang cukup mendatangkan pendapatan memadai.

“Untuk pekerjaan-pekerjaan yang bersifat bisnis pengurus turun langsung. Karena kalau kita pakai manajer, nanti pengurus tidak terlibat langsung dan santai-santai saja,” katanya.

Meskipun begitu, disadari bahwa dengan tidak menggunakan manajer koperasi akan menyalahi ketentuan perundangan. Karena sudah diatur dalam UU, bahwa koperasi karyawan yang berkembang besar harus menggunakan jasa manager dalam pengelolaannya. Sementara Koperasi Jasa Marga Bahkti I memiliki 565 anggota dengan aset sekitar Rp 18 miliar dan dikelola oleh tiga orang pengurus merangkap sebagai manajer. “Pembagian tugas manajerial berkaitan dengan anggota ditangani bendahara, kegiatan bisnis sekretaris, tetapi semua keputusan berada di tangan ketua koperasi. Bukannya kita tidak percaya manajer, tetapi cukup susah mengubah budaya bangsa kita ini,” ungkapnya.

Meskipun tanpa manajer, lanjut Ruslan, koperasi mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi anggota. Program baru yang diluncurkannya adalah memberikan pinjaman lunak bagi anggota untuk meneruskan kuliah hingga selesai. Biaya kuliah -di universitas manapun- akan dilunasi oleh koperasi dan anggota tinggal mencicil pinjaman tanpa bunga tersebut setiap bulan. Setiap anggota memiliki satu hak untuk mendapatkan pinjaman tersebut yang bisa digunakan untuk anggota tersebut atau keluarganya.

“Idenya datang dari seringnya anggota meminjam untuk biaya kuliah, dengan begini anggota tidak perlu pusing tiap enam bulan sekali memikirkannya. Koperasi juga memberikan beasiswa dari tingkat SD-SMA, yang diberikan setiap bulan November kepada lebih dari 30 orang, sehubungan dengan Ultah Jasa Marga cabang Tangerang. Beasiswa ini berpatokan pada nilai yang diperoleh siswa yakni bagi anak-anak dengan nilai rata-rata di atas 8,” ungkanya.

Ke depan, koperasi akan terus harus mengembangkan sayap utamanya kepemilikan aset tak bergerak. Karena selama ini koperasi banyak mempunyai aset bergerak seperti kendaraan baik operasional maupun yang disewakan. Sebagai ketua, Ruslan ingin membuat aset-aset tidak bergerak diperbanyak di masa-masa mendatang. Dalam waktu dekat koperasi akan membuat kontrakkan dengan fasilitas lengkap terdiri dari minimal 40 kamar, dengan lokasi yang strategis dan harga sewa rendah. Pendapatan koperasi akan diperoleh dari toko kebutuhan hidup yang berada di tengah areal kontrakkan, listrik, keamanan dan lain-lain.

Dengan program-program tersebut tidak heran banyak anggota yang sayang melepaskan keanggotaannya meskipun dimutasi ke daerah lain. Banyak manfaat yang diberikan koperasi Jasa Marga Bhakti I dibawah kepemimpinan Ruslan Effendi bagi anggota. Bahkan saat lebaran, koperasi mengadakan bazar dan anggota memperoleh uang tunai serta voucher belanja, untuk digunakan membeli keperluan menyambut hari raya. Koperasi juga menyediakan angkutan antar jemput bagi anggota untuk membawa hasil belanjanya tersebut.

“Anggota yang dimutasi tetapi sayang melepas keanggotaannya, membuat pernyataan kalau tidak mau keluar dari keanggotaan koperasi. Kita angkat mereka sebagai anggota luar biasa. Bahkan kita merubah Aanggaran Dasar, yakni ketika anggota berhenti dari keanggotaan, ia tetap mendapatkan haknya dari dana cadangan,” katanya. Prinsipnya, saat tercatat sebagai anggota asset koperasi hanya ratusan juta, sehingga akan tidak adil ketika 20 tahun kemudian seorang anggota yang keluar hanya mendapatkan uang pokok saja. Padahal asset koperasi telah berkembang menjadi puluhan miliar. “Karena saya pernah belajar efek keseimbangan dan itu saya berikan di koperasi ini,” imbuhnya.

ISO Koperasi

Memasuki tahun 2010, Ruslan Effendy memiliki rencana besar untuk pengembangan koperasi. Seiring dengan diterapkannya ASEAN Free Trade Area (AFTA) dan China Free Trade Area (CFTA), ia mencoba sebuah sistem di Koperasi Jasa Marga Bhakti I yang sangat kuat. Dengan sistem yang kuat tersebut, siapapun yang akan menggantikannya kelak akan mampu membawa koperasi semakin maju.

“Untuk itu saya sedang berusaha agar koperasi bisa memperoleh ISO. Kalau sistem sudah bagus, siapapun yang masuk tidak menimbulkan masalah, karena kita sudah siap. Jadi bukan hanya kaderisasi orang, tetapi juga penguatan sistem. Memang membutuhkan biaya besar, tetapi mau tidak mau koperasi di Indonesia itu harus di-ISO-kan. Karena untuk jangka panjang saya yakin sangat berguna,” ujarnya.

Oleh karena itu, sebelum Ruslan mengakhiri masa jabatan sebagai ketua koperasi untuk ketiga kalinya, ia memantapkan sistem. Semua itu belajar dari pengalamannya saat pertama kali mengemban amanat sebagai ketua. Ia saat itu tidak tahu apapun mengenai perkoperasian. Hanya dengan kemauan kuat dan kesadaran untuk belajar –melalui berbagai pelatihan- ia mampu membesarkan Koperasi Jasa Marga Bhakti I. Dari koperasi karyawan yang “amburadul” disulap menjadi koperasi beraset belasan miliar yang akan terus tumbuh membesar.

“Kalau sekarang koperasi sudah cukup besar. Saya khawatir begitu saya tinggalkan nanti anggota bertanya-tanya mengenai koperasinya. Kalau sistem sudah terbentuk dan mantap, begitu saya meninggalkan koperasi tidak akan menimbulkan masalah. Saya tidak ingin koperasi ini menjadi hancur seperti tahun 1998 lalu,” katanya. Ruslan mengungkapkan bahwa dengan sistem yang tertata rapi, kepengurusan bisa diserahkan kepada siapa saja. “Kemampuan manajerial pengurus akan digembleng melalui pelatihan-pelatihan,” imbuh penyuka liburan di Malang dan Bali ini.

Drs. Paulus Yohanes Sumino, MM, OFS

No Comments

Drs. Paulus Yohanes Sumino, MM, OFS
Pria Jawa yang Membangun Papua Melalui Kaderisasi Kepemimpinan
Salah satu saksi hidup perjuangan Papua adalah tokoh satu ini. Sebagai aktifis gereja, ia memasuki Papua -saat itu Irian Barat- tahun 1970 menyusuk pamannya yang telah lebih dulu menjadi sukarelawan di sana. Belakangan, sang paman yang tadinya sukarelawan guru melihat peluang di Irian beralih profesi sebagai pengusaha.
Ketertarikan Drs. Paulus Yohanes Sumino, MM, OFS karena aktivitas sosial masyarakat Papua saat itu. Ia membayangkan, dengan perekonomi- an di Jawa pasca pemberontakan G30S/PKI yang sangat buruk, apalagi di daerah luar Jawa seperti Papua. Paulus yang saat itu sudah bekerja di Surabayadengan gaji yang sudah “aman”, memutuskan pergi ke Bumi Cenderawasih guna membantu saudara-saudaranya.
“Saya keluar dari Surabaya dengan gaji yang safety. Tetapi karena ada ide, saya tetap menuju ke sana. Menggunakan kapal laut, saya bertolak ke Papua yang memakan waktu 21 hari. Saking lamanya, berat badan saya sempat turun sampai 10kg. Selama di Jayapura saya bekerja dengan om saya

sebagai distributor film. Kerja siang malam dan bersemangat karena mendapat uang banyak membuat saya melupakan kesehatan.  Saya harus operasi usus buntu,” kata pemilik CV. Widya Mandala ini.
Padahal lanjutnya, selama masih kuliah di Madiun ia tidak pernah jatuh sakit. Namun, faktor lingkungan dan kerja keras yang dilakukannya membuat tubuhnya tidak mampu mendukung padatnya aktivitas yang dilakukan pria kelahiran Magetan, 1 Desember 1948 ini. Saat berada di rumah sakit itulah ia bertemu dengan pastur yang mengisahkan mengenai tugas pelayanan yang dijalaninya di pedalaman Papua.
Tersentuh oleh kisah pastur tersebut, Paulus menyampaikan keinginannya untuk turut memberikan pelayanan kepada umat. Ia sadar, selama ini yang dilakukan di bumi Papua adalah bekerja berdasarkan nilai-nilai uang belaka. Berbeda saat dirinya bekerja di Surabaya yang lebih banyak menyandarkan pada nilai moral dan pelayanan kepada Tuhan. Meskipun demikian, kisah-kisah yang diceritakan saudaranya mengenai suku pedalaman Papua, pada detik terakhir ia membatalkan kepergiannya.

“Meskipun tiket sudah di tangan, saya membatalkan kepergian ke Sentani. Saya melarikan diri dari Keuskupan. Mungkin Tuhan melihat keraguan dalam diri saya sehingga Dia memberikan sakit malaria. Saya dirawat dan pada kesempatan itu menimbang-nimbang langkah, apakah harus tinggal atau mengabdi di pedalaman. Saya terus menggali motivasi, apakah jalan yang saya tempuh sudah tepat atau belum. Akhirnya saya berangkat ke pedalaman menjadi sukarelawan di gereja Katolik dengan fokus pada pendidikan dan kesejahteraan sosial,” ujarnya.
Di pedalaman, Paulus mengajar di sebuah SD milik misionaris. Setelah memiliki kelulusan, gereja sepakat untuk mendirikan SMP agar bisa menampung semangat belajar anak-anak tersebut. Ia sebagai aktifis gereja ikut membidani berdirinya sekolah yang juga mendapat bantuan dari pemerintah berupa guru-guru PNS tersebut. Meskipun sebenarnya mereka guru SD, tetapi yang ingin memiliki pendapatan tambahan bisa mengajar di SMP. Gereja juga membuka asrama yang diperuntukkan bagi para siswa.
“Sesuai pengalaman saya memegang asrama. Puji syukur Alhamdulilah, anak-anak yang saya didik di asrama

berhasil menjadi orang berkualitas.  Mereka diantaranya ada yang menjadi ketua MRP, bupati, anggota DPRD, polisi, tentara, pegawai negeri dan pejabat. Saya mengajar di sana dengan kondisi masyarakat yang memang sangat berbeda. Pekerjaan saya adalah mendampingi pastur mengunjungi penduduk dari kampung ke kampung dan mengajari mereka bercocok tanam serta masak-memasak,” tegasnya.
Pertobatan Nasional
Sebagai anggota DPD dari Papua, Paulus dengan sangat berani memperjuangkan konstituen yang memilihnya. Selama satu tahun duduk di lembaga tersebut, ia merasa tidak terbebani oleh apapun dan tidak tunduk kepada siapapun. Berbeda dengan kalau dirinya menjadi anggota DPR mewakili rakyat yang tersandera kepentingan partai pengusungnya. Ia mencontoh-kan bagaimana anggota DPR di Pansus Century atau Gayus yang tidak bisa bertindak sesuai hati nurani.
“Karena kepentingan yang di atas mereka berlawanan dengan nilai dan hati nurani. Kalau orientasi nilai kebenaran pasti sama, tetapi orientasi kekuasaan dan uang pasti berbeda, itu yang terjadi. Makanya, kita harus mengadakan pertobatan nasional,

karena nilai-nilai kejujuran dan keadilan sudah terbunuh dan mati. Mau masuk PNS, bupati, gubernur, semua harus bayar. Kalau kita jujur pada nilai, inilah pembunuhan terhadap nilai yang mengakibatkan nurani kita tumpul dan mati. Tidak heran kalau benih korupsi menjadi tumbuh subur di banyak tempat,” tuturnya.
Disinilah sebenarnya, jelas Paulus, bahaya terbesar bagi Indonesia. Ia tidak merasa heran ketika para tokoh lintas agama menyampaikan seruan kepada pemerintah. Artinya, ada sesuatu yang terjadi di masyarakat seperti bendungan besar yang siap meledak. Yakni rasa keadilan, kejujuran dan kemanusiaan yang tidak ada serta keserakahan yang sangat dominan.
Paulus sangat menyayangkan bagaimana Indonesia yang berlandaskan Pancasila kalah jauh dari China yang komunis. China banyak menerapkan humanisme hubungan antara rakyat dan pemerintah. Ia mencontohkan pemerintah China yang memberikan “ganti untung” bagi masyarakat yang lahannya terkena proyek pemerintah. Sementara di Indonesia, pemerintah selalu memberikan “ganti rugi” kepada

rakyatnya sendiri tanpa ada solusi yang pasti.
“Negara dan rakyat kita menjadi korban karena para pemimpin mengingkari nilai kerakyatan, faktanya seperti itu. Coba sekarang masalah pertanahan, di mana tanah rakyat yang diambil dengan sembarang itu harus dikembalikan. Dahulu karena sangat berkuasa, pemerintah menindas rakyat semena-mena. Begitu juga dengan kebijakan penetapan UMR, yang memposisikan rakyat sebagai orang miskin. Yakni dalam kondisi minimal, setidaknya minimal bisa makan. Ini yang membuat nurani saya terusik setiap membicarakan masalah nilai-nilai bangsa ini. Karena di Indonesia karyawan tidak dihargai, hanya dianggap sebagai mesin dan alat produksi saja. Mestinya buruh dan karyawan harus dinilai sebagai aset perusahaan, sebagai share holder, maka kesejahteraan harus berkorealsi positif dengan keuntungan perusahaan,” tegasnya.
Pria yang mendapat dukungan penuh keluarga ini, mengungkapkan pentingnya generasi muda dalam membangkitkan kembali nilai-nilai kebangsaan. Mereka juga harus memiliki keberanian untuk menegakkan nilai-nilai tersebut. Karena saat ini bangsa Indonesia

memerlukan waktu satu generasi lagi untuk mengembalikan nilai-nilai tersebut. Harus diakui bahwa para pemimpin sekarang lebih berorientasi pada material daripada moral.
“Orang sekarang menggunakan agama sebagai cap pembenaran diri dalam mendukung nilai-nilai yang dirusaknya sendiri. Semua orang Indonesia beragama dan percaya pada Tuhan tapi tidak menyembah Allah dalam Kebenaran dan Roh yang Kudus. Agama lebih sebagai pakaian politik dan alat pencitraan diri daripada sebagai jalan menuju ke Surga. Lihatlah pelanggaran sumpah jabatan yang melahirkan pejabat-pejabat korup karena kehilangan Roh dan Nilai. Banyak orang yang seakan-akan agamawis, tetapi sebenarnya merupakan pembenaran terhadap nilai-nilai yang menindas nuraninya sendiri. Makanya diperlukan keberanian generasi muda untuk bangkit dari sisi nilai. Tetapi kadang kita juga over acting sehingga bukan bagaimana sebuah masalah diperbaiki, tetapi justru dibebani dengan masalah baru,” ungkapnya.
Membentuk Kaderisasi
Drs. Paulus Yohanes Sumino, MM, OFS terus melanjutkan langkah untuk mengabdikan diri bagi kepentingan

masyarakat Papua. Beberapa kali tawaran untuk menjadi PNS saat terbentuk pemerintah administratif baru ditolaknya. Ia tetap memilih untuk melayani masyarakat melalui gereja. Ia sempat bersinggungan dengan dunia politik saat salah satu Pastur menjadi anggota DPRD, Pastur Michael Chosmas Angkur, OFM (sekarang menjadi Mgr. Michael Chosmas Angkur, OFM – Uskup Bogor). Saat itulah sebelum Pastur bersidang di gedung DPRD, ia sering berdiskusi membicarakan kondisi bangsa Indonesia.
“Saya kemudian diminta pastur untuk masuk ke dunia politik, membantu DPRD Jayawijaya yang baru saja terbentuk. Karena saya dulu juga mantan anggota dewan mahasiswa sehingga terbiasa dalam organisasi. Saya membantu bagaimana berorganisasi, rapat, dan lain-lain. Tahun 1975-an, saya membuat kaderisasi karena harus diby pass untuk menyiapkan SDM. Kalau harus dibiarkan berkembang secara alamiah, terlalu lama. Kaderisasi saya pilih untuk mempercepat proses penyiapan SDM menjadi pemimpin lokal,” tandasnya.
Tahun 1973 – 1974 dibentuk KNPI dan sebagai tokoh pemuda, Paulus dipercaya menjabat sebagai Ketua

KNPI sampai tahun 1978. Pada kesempatan itu, ia memimpin kaderisasi yang sebelumnya tidak pernah ada. Paulus meluncurkan bebagai program untuk keperluan keseimbangan bagi generasi muda Papua serta mempercepat pemahaman terhadap perubahan yang terjadi di sekelilingnya. Di antaranya adalah pengenalan terhadap uang, rumah sehat, makanan sehat, dan lain-lain.
Saat itu lanjutnya, pastur memperkenalkan perapian dengan cerobong asap seperti di Eropa. Karena rumah adat di Papua, honai, mengakibatkan asap tidak bisa keluar rumah sehingga penghuninya mengidap ISPA akut. Perlahan-lahan, sebagai tokoh pemuda pada tahun 1982, ia berhasil mendamaikan dan menyatukan suku di sana. Posisinya sebagai pengurus Golkar membuatnya cepat dikenal baik di pemerintahan maupun di tengah masyarakat.
Menghentikan Perang Suku
“Di Wamena, saya sering mengadakan kaderisasi. Saya bina dan komunikasi-kan semua itu, meskipun saat itu tidak ada alat komunikasi apapun.  Tahun 1977 saya menjadi anggota DPRD sehingga mendapat tempat yang lebih formal untuk mengadakan

pembaharuan yang lebih radikal dengan tetap mengedepankan nilai kemanusiaan. Berbeda dengan pemerintah yang melakukan pendekatan radikal dengan operasi militer yang meskipun baik tetapi menindas nilai kemanusiaan. Seperti operasi koteka, karena dianggap orang berkoteka itu rendah dan tidak cocok,” tuturnya.
Sedangkan Golkar dan misionaris, menggunakan pendekatan pendidikan melalui sistem nilai terlebih dahulu. Semua itu dilakukan secara perlahan-lahan sampai mereka sendiri merasa membutuhkan seperti penggunaan baju di tengah cuaca dingin sebagai penghangat badan. Misionaris juga memiliki suster yang ditugaskan untuk mendidik generasi muda perempuan agar hidupnya lebih bernilai. Intinya, misionaris melakukan perubahan melalui pendidikan dan penamaan nilai-nilai kehidupan, sementara pemerintah melakukan perubahan secara radikal melalui program yang sering terjadi benturan kekerasan.
Akibatnya, misionaris menjadi tempat perlindungan masyarakat dari tekanan pemerintah. Sebagai aktifis gereja, Paulus sering berbicara lantang mengenai perubahan yang harus dilakukan secara manusiawi, bukan militeristik. Untuk kepentingan itu, ia

memperluas kaderisasi nilai-nilai tersebut di kalangan generasi muda baik swasta maupun pemerintahan. Oleh karena itu, ia semakin dikenal dan diterima masyarakat yang sangat berguna untuk membangun Golkar di Papua, saya menjadi direktur.
“Saya mengawinkan antara nilai misionaris dan Golkar yang baik dan berguna bagi masyarakat, melalui nilai-nilai yang baik. Tetapi semua itu malah menimbulkan kecemburuan di kalangan anggota DPRD dari ABRI (sekarang TNI). Saya dicurigai ingin menjadi ketua DPRD. Padahal saya tidak ingin menjadi pemimpin, tetapi menciptakan pemimpin sehingga saya membuat program kaderisasi. Tetapi karena saya memiliki pengaruh besar baik di masyarakat maupun pemerintahan, saya menjadi pimpinan informal untuk pendidikan dan pelatihan kader Golkar bekerja sama dengan ABRI. Saya lakukan kaderisasi untuk mencetak pemimpin,” kata sulung dari tiga bersaudara pasangan Petrus Sukardi dan Maria Sukini tersebut.
Akibat kecemburuan tersebut, Paulus sempat ditahan tanpa pernah diadili. Ia dituduh menghina (alm) Presiden Soeharto. Ia mengalami betapa kejinya rezim terdahulu yang menyandera

orang-orang yang vokal dan kritis. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah tokoh-tokoh yang berkuasa itu memiliki wawasan yang sangat sempit sehingga menterjemahkan kondisi masyarakat dengan sangat berbeda. Akibatnya, orang-orang sipil yang kritis dan cinta negara tetapi tidak setuju dengan cara-cara mereka, harus dikorbankan.
Setelah bebas, Paulus membina organisasi kepemudaan AMPI untuk menciptakan kader dan aktif dalam kepengurusan GOLKAR. Bersama Bapak Yapto Suryosumarno dan Bapak Yorris Raweyai, ia mendirikan organisasi pemuda underbow Golkar yang sangat fenomenal di tanah air, Pemuda Pancasila di Papua. Selain itu, ia juga mengkader pengusaha kecil di Wamena agar mereka mampu mandiri dalam wadah KUKMI.
“Tahun 1982 saya terpilih menjadi anggota DPRD. Sebenarnya tahun itu juga ia dinyatakan menang dan tinggal dilantik tetapi dipaksa mundur oleh gubernur. Meskipun saat itu saya dibela oleh Bapak Mayjen. Amir Soemartono. Setelah ada pembicaraan antara Jakarta dan Irian Jaya (sekarang Papua), saya disuruh turun (red-keluar) dari Wamena. Tetapi saya sudah terikat betul dengan masyarakat Wamena. Ketika ada gerakan OPM di
sana, beberapa kader saya lari ke hutan karena ketakutan terhadap OPM dan tentara. Saat keluar dari hutan, mereka diciduk tentara. Saya minta kebebasan mereka yang berakibat catatan hitam sebagai pembela OPM bagi saya,” tandasnya.
Ketika reformasi di tubuh Golkar, Paulus berada di depan memimpin perubahan. Tahun 1999, ia dicalonkan sebagai anggota DPRP bagi Golkar Papua dan bertahan selama dua periode. Sebenarnya ia masih bisa terpilih untuk ketiga kalinya. Namun, jiwanya yang ingin menciptakan pemimpin membuatnya memberikan jalan bagi yang lebih muda, yang dipersiapkan secara sungguh-sungguh.
Selama dua periode sebagai anggota DPRP, Paulus menjadi Ketua Komisi B (membidangi ekonomi), ia meletakkan pondasi dasar bagi perekonomian rakyat Papua. Paulus membidani lahirnya Perdasus Perekonomian Rakyat, pemanfaatan hutan, dan lain-lain, sehingga setelah dua periode ia merasa selesai dan mengundurkan diri dari dunia politik. Ia memilih jalur Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Papua sebagai sarana menyalurkan aspirasi rakyat Papua ke pemerintah pusat di Jakarta.
“Saya sepuluh tahun menjadi Ketua Komisi B di DPRP Papua, tidak pernah menggunakan fasilitas negara. Saya memang mendapat mobil dinas, tetapi tetap menggunakan mobil pribadi meskipun mobil tersebut sudah berusia tua. Kalau rusak mobil saya perbaiki sendiri dan enaknya ketika masa jabatan berakhir, mobil saya serahkan ke negara. Tidak harus menahan-nahan, karena tidak pernah memakai. Di sinilah nilai ajarannya,” ungkapnya.
Sebenarnya Paulus sangat menyayang-kan dan tidak setuju perubahan Golkar menjadi partai. Karena ia menyadari cita-cita awal pendirian Golkar adalah untuk mengkaryakan Indonesia tanpa menjadi ideologi. Membentuk masyarakat kekaryaan Indonesia dimana masyarakat dibagi atas kekaryaan bukan atas ideologi dan partai politik. Sesuai dengan cita-cita, Golkar boleh bubar asalkan Pancasila terus dan Pembukaan UUD 1945 tetap menjadi ajaran nilai-nilai kebangsaan. Menurut Paulus, Golkar sekarang sudah menyimpang dari tujuan awalnya yang tidak menghendaki partai sampai jauh menjangkau masyarakat desa.
“Seharusnya partai cukup di kabupaten saja. Makanya saya happy di DPD meskipun saya tetap kader Golkar,
tetapi bukan Golkar sekarang yang cenderung pragmatis. Anti korupsi bukanlah nilai, tetapi bukan juga untuk diperjualbelikan. Jadi ketika Pemberantasan korupsi sudah menabrak kekuasaan dan uang banyak, maka terjadilah negosiasi yang berujung damai. Semua bisa dibeli, dan ini secara politik sudah membudayakan dan membenarkan nilai-nilai yang salah. Ketika memperjuangkan nilai yang salah, di situlah martabat menjadi hilang. Uang hanya diperlukan bukan untuk tujuan,” sesal Drs. Paulus Yohanes Sumino, MM, OFS menutup kisahnya.