Category: Profesional

Open Supriadi

No Comments

Open Supriadi
Direktur Utama PDAM Tirta Tarum Karawang

Membenahi PDAM Dengan Komitmen untuk Bekerja Sebaik-baiknya
Banyak pilihan yang dapat diambil generasi muda sekarang setelah menyelesaikan pendidikan SLTA. Bekerja bagi lulusan kejuruan atau melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Namun tidak demikian halnya bagi generasi sebelumnya, mereka tidak memiliki pilihan sebanyak generasi muda sekarang.
Banyak masalah yang membelit kehidupan di masa lalu menjadi penyebabnya. Minimnya infrastruktur dan lembaga pendidikan yang memadai adalah faktor yang sangat dominan. Seperti dialami oleh Open Supriadi pada tahun 1970-an yang mengalami kesulitan dalam melanjutkan pendidikan. Kedua orang tuanya menyuruh menjual sawah untuk biaya pendidikan tinggi, pasca kelulusanya dari SMEA.
“Lulus SMEA saya ingin masuk AKABRI tetapi ternyata tidak bisa. Makanya saya hanya memiliki dua pilihan, melanjutkan sekolah atau mencari pekerjaan. Tetapi ketika disuruh menjual tanah, saya pertimbangkan lagi. Kalau sekolah saya ‘bener’ tidak masalah, tetapi kalau tidak kan kacau. Akhirnya tidak jadi jual tanah dan saya memutuskan untuk mencari pejerjaan,” Kata Direktur Utama PDAM Tirta Tarum Karawang ini.
Open Supriadi tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut karena sejak kecil terbiasa membantu orang tua yang petani sekaligus pedagang dari mengembala itik, kerbau dan bekerja di sawah sepulang sekolah. Berbekal ijazah SMEA, ia bertolak ke jakarta dalam rangka mencari kerja. Tetapi kehidupan ibukota yang sangat keras dengan aroma konsumtif yang kental memaksanya pulang ke kampung halaman.
Sekembalinya di Karawang, Open bekerja sebagai guru ekonomi pertanian dan pendidikan jasmani di SPMA. Setelah dua tahun menjadi guru, ia mendapat tawaran bekerja di Bappeda Karawang. Meskipun honor yang didapatnya sangat kecil, namun komitmennya terhadap pekerjaa sangat tinggi. Baginya, pekerjaan adalah amanah yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
“Komitmen saya, susah atau senang saya akan tetap bekerja sebaik-baiknya. Saya bekerja rangkap karena tetap menjadi guru, hingga akhirnya saya disuruh memilih di Bappeda atau menjadi guru. Saya memilih menjadi pegawai Bappeda dan tahun 1974 dipindahkan ke Dinas PU Karawang. Prinsifnya saya tetap, bekerja dengan baik dimanapun ditempatkan. Sambil bekerja, saya berusaha melanjutkan pendidikan dengan kuliah di FE Universitas Jayabaya, Jurusan Akuntansi, namun S1 diselesaikan di Fakulta Ekonomi universitas Singaperbangsa” kisahnya.
Open terpaksa menunda menyelesaikan kuliahnya karena diminta oleh orang tuanya untuk menikah. Tahun 1977, ia menikah dengan seorang PNS dan menjalani kehidupan dari nol. Ia memutar otak untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan berusaha di luar jam kerja. Salah satunya adalah menjalin kerjasama dengan pihak bank untuk membeli truk melalui fasilitas kredit KMKP/KIK
Sedikit demi sedikit, kehidupan rumah tangga Open semakin membaik. Seiring dengan kelahiran tiga anaknya, kariernya pun semakin meningkat apalagi setelah menyelesaikan pendidikan dan mengajar di Universitas Kabuaten Karawang serta menjabat Pembantu Dekan III dan II. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dengan mengambil S2 bidang keuagan di sebuah perguruan tinggi di Jakarta.
Karier kedinasanya pun ikut terdongkrak. Setelah 12 tahun (1974-1986) di Dinas PU, Open ditarik kembali ke Bappeda. Dari situ, berturut-turut ia meniti karier di kantor Lingkungan Hdup, Dinas Pendapatan Daerah, Bagian Perekonomian, Dinas Lingkungan Hidup dan kembali lagi ke Bagian Perekonomian. Disini , ia sampai memasuki masuk Masa Persiapan Pensiun (MPP) terkait usianya yang sudah memasuki 55 tahun.
“Dalam bekerja saya tetap berpegang pada filosofi , bekerja dengan kemampun terbaik dan tidak pernah memikirkan yang lain-lain. Bulan Mei 2006 saya diminta Bupati untuk memperbaiki PDAM Karawang yang kondisinya cukup amburadul. Pesan Bupati, ‘perbaiki serta sehatkan PDAM’ karena air adalah kebutuhan dasar hidup manusia,” tegasnya. Dan sebelumnya juga memeperbaiki Lembaga Perbankan yaitu BPR BKPD dan LPK milik Pemerintah Daerah Kab. Karawang.
Pesan Bupati tersebut memiliki implikasi yang sangat luas. Apalagi saat itu, kesan terhadap kinerja PDAM Karawang adalah kondisi, pelayanan dan kualitasnya sangat buruk. Saat masuk, ia langsung melaksanakan berbagai evaluasi termasuk “kekuatan” saldo kas untuk membiayai operasional perusahaan. Hitung-hitungan ekonomi menyebutkan syarat perusahaan yang sehat adalah saldo kas mampu membiayai operasional perusahaan selama minimal 45 hari kerja dan idealnya 60 hari kerja.
Mosi Tidak Percaya
Open Supriadi sadar, untuk membenahi kinerja PDAM Tirata Tarum Karawang Tidak bisa serta merta “potong kompas” dengan menaikan tarif. Ia lebih memilih alternatif lain untuk meningkatkan pendapatan perusahaan tanpa harus melakukan investasi. Cara ideal adalah dengan menghentikan tingkat kebocoran/NRW sebesar 46 persen pertahun yang dialami PDAM tersebut. Artinya, kebijakan pertama saat menjabat Direktur Utama PDAM Tirta Tarum Karawang adalah melakukan efisiensi pembiayaan di segala bidang dengan efektif.
“Tetapi efisiensi terkait dengan pembiayaan. Tidak heran ketika saya sosialisasikan kepada karyawan, respon yang diberikan adalah saya didemo dan diberi mosi tidak percaya. Tetapi saya tetap tegar karena sebagai pemimpin harus siap menghadapi  hal-hal seperti itu, sudah resiko. Saya hanya mencoba memahami kenapa mereka demo. Artinya ada sesuatu dibalik semua itu.” Ungkapnya.
Mesikupun demikian, Open mendapat dukungan dari Bupati dan DPRD Karawang. Akhirnya ia mengambil tindakan tegas dengan menerapkan disiplin bagi seluruh pegawai di lingkungan PDAM Tirta Tarum Karawang. Program efisiensi dilanjutkan dengan hasil yang cukup mencengangkan. Dalam tempo delapan bulan, ia berhasil melakukan efisiensi sebesar Rp. 989 juta.
Open tidak puas hanya berhenti sampai disitu dalam menata perusahaan daerah dengan titik tolak produksi air tersebut. Ia kemudian beranjak kebagian distribusi dan produksi, karena untuk melakukan investasi belum memungkinkan. Program yang dijalankan berhasil dengan efektif dalam mendongkrak pendapatan perusahaan. Tahun pertama hanya Rp. 1,5 miliar meningkat menjadi Rp. 1,7 miliar tahun kedua dan Rp. 3 miliar pada tahun keempat. Pelanggan pun meningkat dari 32.000 SR (Sambunga n Rumah) menjadi 48 ribu SR pada tahun 2010.
“Cukup fantastis peningkatanya. Saya juga memikirkan kesejahteraan pegawai, karena bagaimana mereka disuruh bekerja disiplin kalau kesejahteraan terabaikan? Makanya kesejahteraan setahap demi setahap kami perbaiki. Karena efisiensi menghemat pembiayaan lembur, listrik, kimia, sakit dan lain-lain sampai 12 komponen jumlahnya. Saya tata kembali, karena dalam filosofi saya, jika dalam tiga bulan tidak bisa menjebol PDAM saya akan mundur,” ungkapnya.
Alhamdulilah berkat kerja keras dan kebersamaan dalam memperbaiki PDAM hasilnya sudah dapat dirasakan oleh semua pihak diantaranya perbaikan pelayanan, pembayaran utang, PAD dan khususnya perbaikan kesejahteraan karyawan PDAM seperti gaji ke 13, 14 dan 15 serta tunjangan kendaraan, dll.
Dari program-program yang dilaksanakannya, PDAM Tirta Tarum Karawang dinyatakan sehat oleh BPKP pada tahun 2009. Hingga tahun 2010, PDAM Karawang dipercaya untuk membangun infrastruktur air bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah, hibah dari pemerintah Asutralia (AusAID). PDAM Tirta Tarum Karawang berhasil membangun 3000 SR senilai Rp. 8 miliar bagi masyarakat kurang mampu serta tambahan 1000 SR senilai Rp. 2 miliar yang dilokasikan tahun 2011 dengan pengerjaan  jadwal yang ditetapkan. Sebuah prestasi fantastis yang dicapai seorang direktur yang tadinya mendapat mosi tidak percaya dari anak buahnya termasuk dari anggota DPRD Kab. Karawang dan Bupati pun kurang percaya akan mendapatkan bantuan hibah dari pemerintah pusat yang bersumber dari hibah pemerintah Australia sebanyak itu.
“Saya sudah pensiun dari PNS dan hanya konsen bagaimana berbuat terbaik untuk kepentingan orang banyak. Keberhasilan adalah kepuasan tersendiri yang penuh tantangan. Alhamdulilah, tantangan telah menghasilkan kepuasan yang harus disukuri. Jadi di akhir karier ini, saya bersyukur kepada Allah SWT atas karunia dan hidayah yang diberikan. Terlepas Pro dan Kontra, kebenaran adalah milik tuhan dan manusia tempatnya salah. Yang penting kita yakin, apa yang kita lakukan benar, sesuai dan selalu berbuat yang terbaik,” tuturnya penerima Piagam Tanda Kehormatan Presiden RI Satya Lancana Karya Satya 20 dan 30 tahun.
Medirikan LSM
Sukses dengan kehidupan sekarang, Open Supriadi, ingin memberikan sumbangan pemikiran yang berguna bagi masyarakat sekitarnya. Ia berharap, pengalaman dan pemikiran untuk selalu berbuat yang terbaik mampu menggugah masyarakat. Apalagi, banyak potensi yang ada ditengah masyarakat yang kurang mendapat tempat, selagi kesempatan ini ada untuk dimanfaatkan sebaik mungkin dan ia ingin memberdayakan masyarakat dengan potensi yang dimiliki masing-masing.
“setidaknya bisa memberikan kegiatan positif dan produktif sehingga mereka memiliki penghasilan guna memperbaiki daya beli masyarakat . karena demand ada, tinggal kita menyiapkan supply. Obsesi saya setelah berhenti menjadi Direktur Utama akan membentuk LSM Karawang. Saya akan turun dan berjibaku dengan modal yang dimiliki dan filosofi berbuat untuk kepentingan orang banyak. ‘sedikit demi sedikit kita himpun, lama kelamaan akan besar’. Kalau kita mulai dari yang kecil setahap demi setahap akan menjadi kuat, lama kelamaan membesar.  Itulah sebuah harapan dan mudah-mudahan Tuhan yang Maha Esa meridhoinya. Amin
Pria yang mendapat dukungan penuh dari keluarga ini, dalam bekerja tidak bisa begitu saja melepaskan kepada anak buahnya. Ia turut mengawasi jalanya pekerjaan hingga sesuai dengan program yang ditetapkan. Prinsifnya, ketika pekerjaan tidak bisa dilanjutkan oleh anak buahnya, ia sendiri yang mengambil alih.
“Learning by doing harus jalan. Saya tidak bisa mengandalkan anak buah begitu saja. Karena dalam bekerja, tidak dibantu pun saya bisa kerjakan sendiri. Itu resiko dalam pekerjaan sebagai pimpinan. Tidak hanya sekedar memberi perintah. Ketika tidak jalan, kita harus turun tangan menjalankanya,” kata open yang menyempatkan diri menemui keluarga disela-sela jam makan siang ini. “karena hari minggu saya juga kerja, sehingga setelah Dzuhur saya menemui keluarga,” imbuhnya.
Dalam menjalankan tugasnya sebagai pimpinan, pria gila kerja (workaholic) ini menerapkan prinsip keteladanan. Ia tidak hanya mengandalkan kekuasaannya sebagai puncak pimpinan dengan sekedar memeberikan arahan melalui omongan. Contoh langsung dalam berbagai hal mulai selalu ditunjukan dengan mengacu pada pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Ia juga selalu menjalin komunikasi dengan anak buahnya untuk mendapat masukan, ide dan gagasan demi keberhasilan.
Saya terus berusaha, karena manusia itu kan tidak sempurna. Seminggu sekali saya berolahraga bersama mereka, dengan harapan ini menjadi upaya preventif agar kita tidak mudah sakit. Selain itu, kita menjalin komunikasi dengan mereka, termasuk menerima keritik dan saran kepada saya begitu juga sebaliknya. Kita ada K3, Kualitas, Kuantitas dan Kontinuitas,” katanya.
Ketiga hal tersebut terus diupayakan oleh Open Supriadi selaku Dirut PDAM Tirta Tarum Karawang. Untuk menjaga kontinuitas pasokan misalnya, ia melengkapi PDAM dengan genset berkekuatan 500 kilowat. Hal tersebut mencegah terhentinya pasokan air bagi pelanggan saat listrik PLN tiba-tiba mati.
Saya konsisten terhadap konsep dan idealis dengan yang saya  pikirkan. Itu saya buktikan dengan kinerja keuangan, di mana dari 6 cabang dan 10 Unit IKK PDAM Kab. Karawang. Kinerja terbaik dan ketika awal saya masuk kondisinya kurang baik dan kurang sehat. Semua itu tercapai dalam empat tahun karena fokus untuk bekerja,” katanya membeberkan kiat sukses.
Menurut Open, dalam kerja harus dibarengi ketulusan dan keiklasan dengan menyerahkan kepada  Allah SWT hasil pekerjaan tersebut. Tugas manusia hanya berusaha dan Tuhan yang menentukan. Namun yang perlu diingat adalah melakukan kebajikan akan menghasilkan kebajikan dan tindak kejahatan akan menerima kejahatan.” Itu saja yang harus dipegang. Jangan anggap rejeki akan datang sendiri akan tetapi yang harus dilakukan adalah doa, usaha dan ikhlas. Bukankah kenikmatan dan cobaan itu datang dari Tuhan yang Maha Esa?” nasehatnya.
Open Supriadi mengakui bahwa generasi muda sekarang dipenuhi dengan budaya instant. Pengaruh globalisasi telah mengubah mereka menjadi sosok-sosok yang sangat tergantung pada teknologi informasi (TI). Celakanya, pengaruh tersebut sudak merasuk begitu dalam sehingga sangat sulit untuk dibendung. Untuk itu, menyarankan agar orang tua memperkuat keyakinan agama masing-masing dan menularkan kepada anak-anaknya.
Orang tua, lanjut Open, tidak boleh memaksakan kehendak kepada anak-anaknya. Kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan bakat dan keinginan anak harus didukung kearah yang baik. Orang tua harus memotivasi anak untuk mengembangkan potensinya semaksimal mungkin. Meskipun demikian, fungsi kontrol orang tua harus tetap dijalankan sehingga anak tidak salah arah.
“karena proses pembelajaran tidak pernah berakhir dan harus disesuaikan dengan perkembanganya. Karena generasi muda menghadapi sesuatu yang berbeda dari zaman orang tuanya. Jadi tipsnya adalah, pertama pendidikan, kedua contoh dan keteladanan ketiga evaluasi dan kontrol yang terbangun dengan baik. Komunikasi dengan anak harus intensif dan orang tua harus mau berkorban demi anak. Tetapi agama juga perlu, konsisten dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Terus terang, saya merasa belum berhasil mendidik anak,” kata open Supriadi, Direktur Utama PDAM Tirta Tarum Karawang.

Ny Jeveline Lengkong Hilliard

No Comments

Ny Jeveline Lengkong Hilliard
Ketua Yayasan Talitha Cumi

Membangun Yayasan untuk Membangkitkan Spirit Anak Terlantar

Hidup nyaman di luar negeri, tidak membuat Ny Jeveline Lengkong Hilliard melupakan tanah leluhurnya. Setelah lima belas tahun bermukim di Skotlandia, panggilan jiwa untuk pulang ke tanah air sangat kuat. Begitu kuatnya panggilan itu, sehingga ia rela meninggalkan kehidupan mapan dan modern negara maju di kawasan Eropa tersebut.

Tahun 2000, ia bersama sang suami kembali ke Indonesia. Kebetulan keduanya aktif memberikan pelayanan kerohanian gereja, karena suami Ny Jeveline adalah pendeta. Keduanya sering keliling Indonesia untuk memberikan kotbah dan kebaktian bagi umat. Hingga suatu saat, sekitar tahun 2003, ketika memberikan pelayanan di tempat kelahirannya, Kalimantan, Jeveline melihat banyak anak-anak usia sekolah berkeliaran di jalanan.

“Pendeta di sana bilang, kalau mereka kebingungan untuk ‘melempar’ anak-anak tersebut. Kebiasaan di sana, orang tua yang memiliki anak usia sekolah mencari tempat penampungan bagi anaknya. Karena biasanya mereka memiliki anak banyak-banyak. Ibu saya yang tahu kalau saya suka anak kecil mendorong untuk mengurus anak-anak itu,” kata Ketua Yayasan Talitha Cumi ini.

Meskipun awalnya keberatan, Ny Jeveline meminta pertimbangan suaminya. Akhirnya disepakati –setelah melihat anak-anak usia sekolah ditelantarkan dan dijadikan pekerja tambang emas oleh orang tuanya sendiri- untuk mengambil beberapa anak sesuai kemampuannya. Pasangan ini ingin berusaha semaksimal mungkin mengubah nasib anak-anak terlantar tersebut.

Untuk langkah pertama, mereka mengambil 45 anak dan dibawa ke Bogor.  Karena targetnya hanya lima belas anak tetapi membengkak tiga kali lipatnya, Ny Jeveline kebingungan. Untungnya, saat di Skotlandia ia mengambil diploma tentang pengurusan orang jompo, Alzheimer dan lain-lain. Ilmu dari situ dipraktekkan untuk merawat anak-anak tersebut.

“Mungkin Tuhan sudah menunjukkan jalan ke arah ini. Karena saat belajar itu saya sudah tua. Saya iseng saja mengambil diploma karena di Scotland, orang-orang berumur diatas 50 tahun tetapi sekolah lagi, biayanya gratis bahkan malah dibayar. Kita sebagai orang tua dianggap produktif,” kisahnya.

Dari situ, Ny Jeveline tahu betul kapan harus bersikap keras atau lembut terhadap anak-anak. Awalnya sangat susah untuk menerapkan disiplin tinggi kepada anak-anak yang terbiasa hidup seenaknya. Namun, perlahan-lahan pengaruh Mami –begitu Ny Jeveline dipanggil- merasuk ke dalam diri anak-anak tersebut. Mereka yang tadinya hidup tanpa arah yang jelas, kehilangan orientasi masa depan bahkan semangat hidup dan mulai menata pondasi kehidupan masing-masing.

Anak-anak yang tadinya hanya sempat sekolah sampai kelas II atau IV SD, bisa melanjutkan sekolah kembali. Mereka tidak lagi terbebani pekerjaan sebagai penambang, membantu orang tua di ladang atau sekedar bermain bersama teman-teman senasib. Berlindung Yayasan Talitha Cumi membuat mereka -seperti anak-anak seusianya- fokus meretas harapan menuju masa depan yang lebih baik.

“Angkatan pertama sekarang sudah ada yang lulus S1. Tadinya, berbohong, mencuri dan merokok sudah menjadi keseharian mereka karena tanpa pengawasan orang tua yang disiplin. Memang, menurut kita orang Dayak itu sangat malas karena tergantung pada nature, alam. Untuk makan mereka berburu dan  bercocok tanam sedikit. Saya sendiri ada darah Dayak dari nenek saya, seorang anak raja Dayak Tunjung di Kaltim,” kata perempuan berdarah Dayak, Portugis dan Manado ini.

“Kemalasan” orang Dayak sebenarnya disebabkan alam telah menyediakan segala keperluan hidupnya. Kekayaan alam yang luar biasa tersebut membuat mereka tidak pernah kekurangan dalam urusan hajat hidup, seperti makan dan minum. Namun, kemajuan zaman membuat kekayaan alam dieksploitasi dan mereka tersisih serta terpinggirkan di rumahnya sendiri.

Di sisi lain, tradisi Dayak yang dipegang teguh turut memberikan andil dalam memperburuk keadaan. Seperti tradisi bahwa anak perempuan berumur 14 tahun sudah harus menikah dan untuk laki-laki berumur 18 tahun. Akibatnya ketika memasuki usia tersebut, remaja putra dan putri tidak bisa konsentrasi untuk melanjutkan sekolah. Mereka memilih “kabur” dari sekolah dengan berbagai alasan untuk menikah.

“Melalui Yayasan Talitha Cumi saya mencoba membangkitkan spirit mereka. Seperti di Alkitab, Talitha Cumi artinya bangkit anakku bangkit. Mereka harus bangkit untuk mengelola kekayaan daerahnya sendiri. Jangan seperti sekarang, kalau orang datang dan ingin memanfaatkan potensi alam, mereka sudah ‘ngajak’ perang saja,” tandasnya.

Saat ini, lanjut Ny Jeveline, Yayasan Talitha Cumi memiliki beberapa unit kegiatan. Mulai panti asuhan, sekolah –play group hingga SMA- dengan tujuh macam izin kegiatan sosial. Yayasan juga memberikan bantuan dana pendidikan bagi anak-anak terlantar di luar yayasan tanpa memandang agama, suku dan ras. Anak-anak di panti asuhan yayasan juga diajarkan pada setiap menjelang Idul Fitri mengumpulkan beras dan mie untuk dibagi-bagikan kepada saudara-saudaranya yang sedang merayakan hari bahagia tersebut.

“Saya tidak tanggung-tanggung dalam memberikan bantuan. Bahkan rumah kami di Scotland sudah kami jual, agar anak-anak di sini mendapat penghidupan yang layak. Anak-anak dididik disiplin, mandiri, kebersihan, sopan santun dan menghormati orang lain terutama orang tua. Akhirnya setiap anak punya kamar dan satu loker, serta bisa sekolah setinggi mungkin. Saya hanya memberikan sedikit yang saya miliki untuk membantu pemerintah dalam program mencerdaskan bangsa. Saya kutip kata-kata Presiden John F. Kennedy yang berbunyi, ‘jangan tanya apa yang negara bisa berikan padamu, tanyalah apa yang bisa kau berikan kepada negara (Do not ask what the nation can give to you, but ask what can you give to the nation),” tuturnya.

Hidup Susah

Kedermawanan Ny Jeveline Lengkong Hilliard tidak bisa dilepaskan dari kisah pahit masa lalunya. Sejak kecil, ia termasuk “orang susah” yang harus berusaha mencukupi kebutuhannya sendiri. Keluarga besar dengan delapan anak, membuat ia sebagai anak sulung kurang mendapat perhatian dan limpahan kasih sayang.

Apalagi situasi negeri ini yang pada masa kecilnya sangat tidak kondusif. Perang Dunia II baru saja usai dan situasi politik dalam negeri sedang bergolak di mana-mana. Peristiwa Permesta (pemberontakan di Menado dan Padang) serta G30S/PKI menambah situasi tanah air semakin kacau sehingga rakyat tidak terurus karena pemerintah disibukkan urusan politik.

“Sejak kecil saya terbiasa hidup susah. Untuk sekolah saja harus berjalan lima kilometer, tanpa uang saku dan tanpa buku. Untunglah, Tuhan memberikan talenta yang banyak, sehingga saya cepat menyerap apapun yang saya pelajari,” ujarnya.

Selagi SMEA, pada usianya yang ke-18 Ny Jeveline bekerja di Japex dan mampu melakukan inspeksi kapal. Tugasnya antara lain menentukan apakah sebuah kapal diizinkan berlayar atau tidak dengan muatan yang ada di dalamnya. Cita-citanya saat itu adalah menjadi syahbandar wanita pertama di Indonesia.

Namun salah satu pamannya melarang untuk melanjutkan pendidikan kesyahbandaran. Ia justru menyarankan sang keponakan untuk bekerja sebagai pramugari. Saran pamannya diikuti oleh Ny Jeveline dan berkarier sebagai pramugari di Garuda Indonesia Airways pada tahun 1966. Ia juga bekerja menjadi pramugari di maskapai penerbangan milik Belanda, KLM hingga tahun 1970. “Penguasaan bahasa Belanda saya cukup baik, karena terbiasa di rumah,” katanya.

Seolah balas dendam terhadap masa lalunya yang suram, setelah menjadi pramugari Ny Jeveline membeli buku banyak-banyak. Ia juga membeli sepatu sejumlah dua belas pasang karena sebelumnya tidak pernah memiliki sepatu yang layak. “Sebelumnya tidak pernah punya buku dan sepatu, sehingga ketika beli langsung 12 pasang. Saya sudah janji sama Tuhan, gaji pertama akan saya kasih orang tua. Saya diberi satu talenta untuk selalu suka memberi, sama siapapun,” tandasnya.

Setelah menikah, Ny Jeveline beberapa kali menjadi pramugari seasonal untuk pelayanan haji. Tahun 1979, Ny Jeveline berkarier di perhotelan selama lima tahun dengan jabatan terakhir Assistant Public Relation, dibawah arahan bosnya, Rae Sita Supit. Ny Jeveline kemudian keluar untuk menekuni bisnis pemasaran komoditi di Indonesia. Sebelum akhirnya menetap di Skotlandia, ia memegang perwakilan American Airlines di Indonesia.

“Saya kemudian menetap di Skotlandia dan punya rumah makan dengan nama Indonesian  Jev’s  Tea Room. Saya tidak tahu kenapa Tuhan memberikan bermacam-macam bakat kepada saya, sehingga saya lebih mendalami kerohanian,” tuturnya.

Saat memutuskan kembali ke Indonesia dan menekuni kegiatan sosial, ketiga anak Ny Jeveline memprotes keras. Menurut mereka, ayah dan ibunya seharusnya menikmati masa tua dengan tenang. Dari ketiga anaknya, hanya satu anak yang ikut ke Indonesia dan turut membantunya mengurus yayasan, sementara dua anaknya yang lain tetap tinggal di Skotlandia.

“Keliling dunia, tour dengan kapal pesiar dan lain-lain. Itu mau mereka, tetapi saya ini orangnya workaholic banget. Sejak dulu, saat menjadi pramugari saya sering di-grounded oleh dokter penerbangan. Saya dianggap kebanyakan jam terbang karena anytime siap berangkat ke mana-mana. Sampai sekarang umur sudah 66 tahun saya masih workaholic, tetap seperti itu. Karena saya memang diberkati Tuhan dengan berbagai bakat,” ungkapnya penuh syukur.

Generasi Baik

Ny Jeveline merasa rencana jangka pendek ketika memutuskan untuk mendirikan yayasan sudah tercapai. Dengan memiliki sekolah hingga tingkat SMA, ia berencana untuk mendirikan universitas. Ia berharap, untuk mendirikan sekolah pemerintah memberikan fasilitas sosial (fasos) berupa sebidang tanah karena hingga sekarang masih menyewa ruko dengan harga tinggi. Bertempat di ruko sangat tidak sehat bagi para siswa karena ruang geraknya menjadi sangat terbatas.

“Kami sudah usaha tanya sana sini, tapi katanya untuk sekolah swasta tidak dapat fasilitas sosial. Sama seperti yayasan kami, dalam kurun waktu tujuh tahun ini kami belum pernah mendapat bantuan dana dari Depsos. Padahal anak-anak jumlahnya cukup banyak, 98 di dalam dan 24 di luar yang kami bantu dengan beras dan lain-lain. Jika ada kelebihan, agar anak-anak siap pakai saya ingin mendirikan sekolah kejuruan,” katanya.

“Itu kalau ada orang yang mau menangani. Saya juga senang membina olahraga dan sekarang sedang sangat involve dalam penyelenggarakan kejuaraan sepakbola. Kita menjadi promotor Sunday League kerjasaa dengan BRITCHAM (British Chambers of Commerce) yang diikuti 112 SD  di Bogor. Dan kebetulan kompetisi terakhir dihadiri oleh Mr Ian Rush. Pemain sepakbola legendaries Liverpool yang berlangsung di LSB Sumantri Brojonegoro. Sayangnya anak-anak kami hanya juara II, kalah adu penalti,” ujarnya.

Perempuan yang memberikan pelayanan setiap Minggu ini berharap generasi yang berada dalam bimbingannya akan menjadi generasi muda yang jujur dan tulus. “Paling tidak untuk 50 tahun ke depan, akan lahir generasi berikutnya yang sama baiknya. Itu akan terus berkembang dan kita harus mulai dari satu titik,” imbuhnya.

Kepada generasi muda, Ny Jeveline berpesan agar perempuan belajar tentang masalah kewanitaan. Karena masalah tersebut sangat penting bagi kelestarian dan kelangsungan keluarga. Yang apabila mampu memanage dengan baik, keberhasilan akan diraih dalam dua arah.

“Di dalam keluarga berhasil, pasti di luar juga berhasil dengan baik. Karena itu perempuan harus belajar jujur, sama suami dan anak, untuk melahirkan anak-anak yang jujur. Berusaha menopang suami, jangan menjadi konsumtif, jangan saingi suami. Begitu juga suami harus menyayangi istri, kita harus selalu saling terbuka satu sama lain,” kata wanita tegas yang tidak pernah membedakan agama, suku dan ras ini.

Hj. IVA LATIVAH THAHIR

No Comments

Hj. IVA LATIVAH THAHIR
“Mengembangkan Profesi Sekaligus Syiar Islam”

Untuk mencapai sesuatu keberhasilan tidaklah mungkin diperoleh hanya dengan berpangku tangan atau bekerja seadanya artinya harus mau bekerja keras, berusaha maksimal, bersemangat, banyak belajar dan yakin dengan apa yang dikerjakan akan berhasil, dengan di iringi  rasa penuh tanggung jawab. Ketika kerja keras dan usaha yang maksimal telah kita jalani, masih ada hal lain yang tidak bisa diabaikan dan dilupakan oleh manusia untuk mencapai keberhasilan tersebut, yakin berdo’a mengharapkan pertolongan dari Allah SWT. Demikian kunci sukses Hj. Iva Lativah Thahir yang merupakan Owner dari Galeri IVA di dalam menjalani kehidupannya maupun menekuni profesinya sebagai seorang perancang busana muslim.

“Kita harus selalu berusaha untuk memotivasi diri kita sendiri bahwa kita ini mampu untuk mewujudkan apa yang kita inginkan, tentu saja disamping keinginan dan semangat yang kita punya, kita juga harus punya keterampilan, pengetahuan, wawasan, dan kemauan untuk belajar. Kalau orang lain mampu, kenapa kita tidak?!”, ungkap sosok wanita yang saat ini di percaya pula menjabat sebagai Ketua Umum dari Ikatan Perancang Busana Muslim  (IPBM) Jawa Barat, yang selalu ramah dan santun dengan setiap orang.

Menciptakan Busana Muslim yang Santun dan Modis

Dalam ketentuan agama Islam, setiap wanita muslim diwajibkan untuk menutup auratnya. Dengan mengenakan busana yang sesuai sehingga bagian-bagian tubuh yang seharusnya “tidak dipamerkan” dan tetap tersembunyi. Tentu bagi wanita muslim yang taat, penggunaan busana muslim dalam aktivitas sehari-hari merupakan kewajiban.

Apalagi, Indonesia tidak mengenal larangan bagi wanita untuk beraktivitas di luar rumah. Wanita Indonesia bebas melakukan aktivitas seperti bekerja atau sekadar bersosialisasi di luar rumahnya sendiri. Tentu bagi wanita muslim harus pandai-pandai dalam memilih busana yang dikenakannya setiap keluar rumah. Karena syariat Islam mengatur secara ketat, cara berbusana bagi wanita muslim yang benar.

Berbeda dengan busana wanita Arab di tempat Islam berasal, model busana wanita muslim Indonesia disesuaikan dengan budaya asli bangsa ini. Berbagai macam rancangan busana wanita muslim mengambil corak dan bahan dasar dari berbagai etnik dan suku bangsa di Indonesia banyak beredar. Padu-padan antara budaya Islam dan adat istiadat lokal menghasilkan paduan yang harmonis tetapi tidak melanggar ketentuan.

Salah satu perancang busana muslim handal di Indonesia adalah Hj Iva Lativah  atau yang akrab di sapa Iva. Hasil karya wanita asal Bandung ini telah berhasil menembus pasar busana muslim internasional. Artinya, pengakuan terhadap rancangan-rancangan busana muslim yang dihasilkannya bukan hanya di Indonesia tetapi telah diakui dunia. Padahal, semula putri ke-5 pasangan      DR. KH. E.Z. Muttaqien dan  Siti Syamsiah ini “hanya” melaksanakan amanat agama yang sering disampaikan sang ayah.

“Saya menekuni profesi sebagai perancang busana muslim berdasarkan amanat agama yang sering disampaikan ayahanda perihal perlunya wanita muslimah berbusana muslim. Tetapi saya berpikir, busana muslimah itu harus modis sehingga mampu digandrungi kaum wanita, baik tua maupun muda. Saya mendapatkan kepuasan setelah lebih dari 21 tahun rancangan saya bisa memuslimahkan wanita-wanita muslim dengan menggunakan busana muslim yang santun tetapi tetap modis,” kata wanita yang mengambil namanya sendiri, IVA LATIVAH sebagai merek dagang ini.

Wanita yang sempat mengenyam pendidikan di Sastra Inggris Universitas Padjadjaran ini, mulai tergugah jiwa wira usahanya setelah melalui gerbang pernikahan. Sebagai ibu rumah tangga biasa istri seorang PNS, ia mulai menata kehidupan dengan berdagang kecil-kecilan. Pada awalnya, lahan bisnisnya adalah teman-temannya sendiri. Seiring dengan perjalanan waktu, ia melebarkan sayapnya hingga mampu memiliki galeri busana sendiri. Bahkan, galerinya bertempat di Bandung dan Jakarta, dengan hasil rancangan busana mampu menembus hingga manca negara.

“Impian masa kecil saya adalah ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat dan hidup cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari, simple memang. Banyak kenangan yang menjadi motivasi dalam kehidupan ini karena masa kecil yang sangat prihatin di antara 10 bersaudara. Ini menjadi motivasi juga bagi anak-anak dan karyawan saya,” tutur penerima berbagai penghargaan terkait dengan prestasinya dalam rancang busana muslim tersebut, diantaranya    Anugerah Citra Perempuan Indonesia (tahun 2002), Penghargaan  Indonesia Good Professional Selection, Penghargaan Islamic Award, Penghargaan Jimmy’s Enterprise Mas, Penghargaan International Professional Association (tahun 2005), Penghargaan Indonesian Best Designer Of The Year 2006   dari Yayasan Penghargaan Prestasi Indonesia, Penghargaan  Indonesian Best Business & Professional Innovation dari World Achievement Association (tahun 2007) dan masih banyak lagi yang lainnya ini.

Perempuan kelahiran Bandung, 28 Mei 1958 yang banyak mengikuti fashion show di luar negeri ini, menyatakan bahwa penghargaan masyarakat terhadap apa yang dilakukannya terlalu tinggi. Padahal, masih banyak orang-orang lain dengan karya-karya yang jauh lebih hebat dan lebih tinggi dibandingkan dengan apa yang telah diperbuatnya. Namun demikian, apresiasi masyarakat tersebut harus tetap dijaga dan dikembangkan dengan sepenuh hati serta keikhlasan.

Minat Perancang Muda

Dalam menjalankan usaha, Hj Iva Lativah Thahir seperti juga para perancang busana lainnya, mendirikan galeri sebagai sarana “memajang” hasil karyanya. Selain di Bandung, Galeri IVA juga terdapat di Jakarta untuk melayani konsumen ibukota. Banyak suka dan duka telah dialami dalam menjalankan usaha tersebut.

“Terlebih bila harus mengeksplor rancangan-rancangan baru yang sejalan dengan model busana dunia sehingga busana rancangan saya mampu memenuhi trend dunia. Alhamdulilah rancangan busana muslim rancangan saya mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional,” ujar wanita yang sering mengadakan berbagai peragaan busana baik di dalam negeri dan luar negeri seperti,  Bali Fashion Weeks, Hongkong Fashion Weeks, Kuala Lumpur Fashion Weeks,  Fashion Tendance APPMI Jawa Barat,  Myanmar Fashion, Malaysian Islamic Fashion Festival, Maroko Kampoeng Indonesia, Fashion Show di 80th Anniversary Charity Ladies high Tea 2008, Singapore., Cape Town Moslem Fashion Singapore: Ex Chanting Indonesia, Fashion Show di Melbourne,  Fashion Show di Brunei dan Fashion Show di Dubai.

Ke depan, Iva memiliki obsesi untuk menciptakan perancang-perancang muda kreatif. Diharapkan para perancang muda mampu menggunakan bahan dasar hasil produksi budaya masyarakat. Mengingat banyak produk tekstil hasil produksi daerah berdasarkan adat yang memiliki tekstur indah dan langka menunggu dikembangkan lebih lanjut.

Iva mengisahkan bahwa dalam 20 tahun terakhir ia telah menggeluti batik, baik tradisional maupun kontemporer dalam rancangannya. Ia juga “memasukkan” kain sutera sebagai bahan utama rancangan-rancangannya. Ia bersyukur, karya-karya rancangan busana yang dihasilkannya sudah “go international”. Rasa syukurnya semakin membuncah, tatkala menyadari bahwa sekarang telah lahir perancang-perancang muda handal yang memiliki tanggung jawab moral, religi, dan budaya nasional.

“Alhamdulilah…. Harapan saya adalah akan menumbuhkan minat generasi muda berikutnya untuk megikuti jejak langkah saya sebagai perancang busana muslimah yang handal dan dihargai di pasar dunia. Tetapi usaha ini adalah usaha yang membutuhkan talenta, sehingga cukup sulit untuk regenerasi maupun kaderisasi. Yang jelas, usaha ini adalah sebuah profesi yang harus dijalankan secara professional. Bagi saya, sepanjang masih mampu dan berkemampuan akan saya tekuni terus sebagai langkah ibadah,” tuturnya.

Iva yang mendapatkan dukungan penuh dari keluarga ini sangat bersyukur, anak ketiga –Adila Aafiyah- memperlihatkan bakatnya dalam rancang busana.  Kesukaan menggambar yang menjadi modal dasar sebagai perancang telah dimiliki siswi SMA Taruna Bakti ini. Sang anak juga mulai banyak bertanya tentang berbagai macam busana rancangan ibunya. “Terkadang saya suka mengajaknya berdiskusi mengenai warna-warni rancangan busana karya saya. Tampaknya dia memiliki talenta yang kuat,” kata wanita yang mendapat dukungan sepenuhnya dari suami tercinta dan dua anak laki-lakinya, yaitu Muhammad Reva, ST., dan Muhammad Faisal, ST.

Meskipun begitu, Iva tidak memaksakan kehendak bagi masa depan anak-anaknya. Mereka dibebaskan untuk mengembangkan kemampuan berdasarkan bakat atau talentanya masing-masing. Ia bersama sang suami hanya menjadi fasilitator untuk mendukung langkah-langkah yang dilakukan ketiga anaknya. Untuk lebih “mengenal” aktivitas ketiga anaknya, Iva dan keluarga sering melakukan aktivitas bersama-sama sambil mendiskusikan pengalaman mereka di luar rumah. “Terkadang dengan melakukan traveling bersama ke berbagai tempat. Pendidikan anak kita landaskan kepada kemampuannya bukan berdasarkan obsesi kita sebagai orang tua,” imbuh wanita yang murah senyum ini menambahkan.

Dengan begitu, lanjut Iva generasi muda penerus bangsa secara alamiah akan berkembang. Pada perkembangannya, mereka juga akan memiliki kemampuan untuk memimpin bangsa ini. Yang mana untuk mencapai hal tersebut, seluruh komponen bangsa harus memberikan kepercayaan kepada generasi muda untuk memimpin bangsa dan terus mengawalnya. “Allah Maha Perencana bagi bangsa dan negara tercinta ini,” ujarnya.

Hj Iva Lativah menyebutkan bahwa kondisi Indonesia di masa mendatang akan menjadi lebih baik. Dengan kepemilikan atas SDM yang lebih baik dari sekarang ini, nampaknya “Indonesia yang lebih baik” tersebut tidak terbendung. Prioritas di bidang pendidikan dan penciptaan lapangan kerja yang dilakukan pemerintah mempertegas tercapainya tujuan tersebut. Termasuk di dalamnya adalah prioritas dalam bidang pertanian dan hasil usaha tani serta usaha mikro lainnya.

“Semua harus didorong untuk pencapaian kesejahteraan dan penghapusan kemiskinan di Indonesia. Insya Allah Indonesia di masa datang akan lebih baik apabila kita semua berpijak kepada asas budaya bangsa dengan dilandasi syariat agama,” tegas perempuan yang kurang memahami masalah politik ini. “Tetapi paling tidak politisi masa depan akan lebih baik dan memiliki tanggung jawab moral yang tinggi terhadap bangsa dan negara,” tambahnya sambil menutup perbincangan di siang hari yang cerah dengan Tim Profil.

Hermanto Barus, SH, MH

No Comments

Hermanto Barus, SH, MH
Pengacara

Kebenaran Hukum Kalah Dengan Kepentingan Politik

Banyak kalangan menilai penegakan hukum di Indonesia sangat memprihatinkan. Banyak kasus hukum yang melibatkan orang-orang penting di negeri ini dibiarkan terkatung-katung tanpa penyelesaian yang pasti. Sementara kasus yang menimpa orang-orang “kecil” langsung diproses dan mendapat kepastian hukum.

Carut marut penegakan hukum di Indonesia, membuat rasa keadilan masyarakat terkoyak. Pelaku pelanggaran hukum kelas kakap –terutama korupsi- melenggang justru dengan berlindung dibalik penegakan hukum. Bahkan, pelaku tindak pidana yang sudah menjalani vonis mendapat pengurangan hukuman (remisi) yang dengan “baik hati” diberikan pemerintah.

“Di Indonesia, kebenaran hukum kalah dengan kepentingan politik. Di lapangan, yang terjadi adalah negosiasi sehingga orang yang benar secara materi pun, tidak bisa mendapat kebenaran hukum. Karena hukum masih kalah dengan kekuasaan sehingga lebih berpihak kepada penguasa dan pemilik modal besar. Sikap seperti itu sudah sangat mengakar sehingga sulit untuk mengikisnya,” Hermanto Barus, SH, MH., pakar hukum yang berprofesi sebagai pengacara.

Menurut Barus, “permainan” uang dalam dunia hukum di Indonesia sangat kental. Sejak pertama kali seseorang membuat laporan atas kasusnya, kekuatan uang sudah mulai bermain. Kasus yang dilaporkan akan sia-sia tanpa kelanjutan proses tanpa dana yang mencukupi. Tetapi dana yang jauh lebih besar dibutuhkan ketika laporan tersebut ditindaklanjuti. Bahkan secara terang-terangan, hakim yang menangani kasus gugatan perdata akan menanyakan kesiapan dana yang dimiliki penggugat.

Semua itu, lanjut Barus, sering dialami selama bertahun-tahun bertindak sebagai praktisi hukum. Memiliki perkara di pengadilan tanpa menyiapkan dana mencukupi harus siap untuk kalah. Kemenangan akan semakin jauh apabila berhadapan dengan pemilik dana besar dan tidak terbatas. “Banyak kepentingan terlibat, birokrasi ruwet dan banyak penyimpangan. Kadang kita kasihan kepada orang yang berperkara tetapi tidak punya uang. Bukan apa-apa, kebenaran kalah dengan itu sehingga kita harus siap sakit hati,” katanya.

Simpati terhadap orang-orang yang berperkara tetapi tidak didukung dana, Barus melakukan terobosan brilian. Tujuannya untuk memberikan bantuan kepada mereka yang terpinggirkan tersebut. Caranya, ia tidak menetapkan tariff terhadap jasanya sebelum perkara selesai. Setelah benar-benar menang, hitungan atas jasa pembelaannya baru dilakukan.

Namun cara ini bukan tanpa risiko. Karena tidak terjadi pembayaran selama berperkara, Barus sering menjadi korban penipuan. Jerih payahnya dalam membantu orang yang berperkara tidak dibayar. Tetapi semua diterimanya dengan ikhlas, karena niatnya adalah menolong. Ia menganggap, semua itu bukan rezeki yang diberikan Tuhan kepadanya.

“Mungkin rezeki saya ada pada orang lain, sehingga saya tidak memiliki beban karena itu. Yang penting saya tidak membohongi orang, biarlah saya yang dibohongi. Saya yakin Tuhan akan memberikan jalan lain, jadi saya tidak akan frustasi. Kalau mau kaya pasti akan kaya juga saya dan hidup harus kita nikmati,” katanya.

Dengan mengedepankan perasaan ikhlas, Barus yakin terhadap apa yang dilakukannya. Mengenai masalah rezeki, ia menyerahkan sepenuhnya kepada kuasa Tuhan. Baginya, bekerja sebaik mungkin dan sebenar-benarnya dengan dilandasi sikap terbuka serta jujur dan profesional adalah segalanya. Sementara uang, akan mengikuti dengan sendirinya terkait pekerjaan yang dilakukan dengan baik.

“Saya sih terserah penilaian orang, yang penting keluarga saya sehat-sehat. Saya terus terang kepada klien, kalau benar bilang bener, kalau nggak ya nggak. Dalam menangani kasus, kita harus terbuka dan jujur, meskipun kadang menyakitkan. Karena kalau bohong akan ketahuan dan kalau benar seluruh kemampuan akan kita keluarkan untuk membelanya. Bahkan, sampai ke ujung dunia sekalipun saya bela,” tegas pria kelahiran Medan, 4 April 1965 ini.

Berdasar Pertemanan

Selama menekuni dunia kepengacaraan, Hermanto Barus, SH, MH melakukan dengan sepenuh hati. Ia mengedepankan profesionalisme dalam bekerja untuk penegakan hukum, seperti moto pengacara pada umumnya “meskipun langit runtuh, hukum tetap ditegakkan.”

Masalah uang, tidak pernah menjadi prioritas utama selama menjalankan karier. Bahkan, bisa dikatakan ia tidak pernah mengejar materi dalam setiap kasus yang ditanganinya. Dengan sikap seperti itu, Barus justru banyak mendapatkan klien tanpa harus mempromosikan dirinya. Tidak hanya klien dari dalam negeri, klien juga datang dari warga negara asing.

“Karena pertemanan saja. Mereka yang pernah saya tangani perkaranya akan mereferensikan saya kepada teman-temannya. Kadang testimony mereka dimuat di media massa, padahal saya tidak nyuruh lho. Itu mungkin menjadi wahana promosi bagi saya. Bahkan orang-orang India yang berperkara di sini banyak menggunakan jasa saya. Karena saya tidak pernah mengejar uang, mereka sendiri yang akan menentukannya. Saya hanya bekerja dan bekerja sebaik-baiknya,” tegas suami Emilia Ginting ini.

Dengan idealisme seperti itu, Barus tidak memiliki prasangka apapun terhadap persaingan yang terjadi dalam profesi yang ditekuninya. Ia tetap menjaga hubungan baik di antara para klien yang ditangani dan tidak pernah mengeluhkan masalah rezeki. Dalam menjalani hidup, ia berprinsip harus seimbang antara kepentingan dunia dan akhirat.

“Dengan begitu hidup kita tenang. Kalau kita bawa uang untuk istri dengan perasaan tidak ikhlas hasilnya juga tidak baik. Biar sedikit yang penting nikmat,” imbuh pria yang berasal dari lingkungan PNS tersebut. Anak ke-6 dari tujuh bersaudara pasangan S. Barus dan Tarigan (Almh) ini mengungkapkan keyakinannya atas balasan Tuhan terhadap apa yang dilakukannya. “Saya menanam kebaikan dan Tuhan yang memberikan balasan,” tambahnya.

Barus mengakui, ia sering mengalami tindak penipuan hingga ratusan juta. Tetapi karena semua diterima dengan ikhlas, Tuhan memberikan balasan berlipat ganda. Setelah sepuluh tahun, ia tiba-tiba menerima dana miliaran rupiah dari kasus yang ditanganinya. “Sekarang baru memetik hasilnya jadi kita syukuri saja,” kata ayah dua anak –kelas I SMP dan kelas II SD- tersebut.

Tidak Takut

Sebagai seorang pengacara, Barus menyadari risiko yang harus dihadapinya. Menangani perkara-perkara besar, ia juga harus menghadapi orang-orang besar di belakangnya. Yakni tokoh yang memiliki kekuasaan dan kekuatan untuk menggerakkan orang-orang untuk melindungi kepentingannya. Melalui ormas-ormas tertentu mereka melakukan intimidasi dengan tujuan untuk memenangkan perkara yang dihadapi.

“Saya pernah ditangkap dan diintimidasi karena memimpin di lapangan saat menangani perkara. Tetapi saya tidak takut karena merasa benar, sehingga berani meskipun konglomerat dengan dana tak terbatas yang saya lawan.  Pokoknya saya jalan terus dan memenangkan perkara tersebut,” katanya.

Meskipun demikian, pada saat-saat santai Barus membayangkan bagaimana besarnya risiko yang dihadapi. Ketika ditangkap dan diintimidasi –baik oleh aparat maupun ormas- segala kemungkinan bisa saja terjadi. Apalagi dalam situasi serba “kacau” dan tak terkendali, nyawa adalah taruhannya. “Bisa-bisa nyawa kita yang melayang. Makanya keluarga juga was-was kalau saya menangani perkara yang berat,” tuturnya.

Apalagi, kondisi belantara hukum saat ini jauh lebih besar risikonya. Berbeda dengan zaman dahulu yang lebih terbuka, sekarang sangat tertutup rapat untuk menyiasatinya. Keputusan pemerintah yang membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) adalah salah satu faktor yang membuat “nilai” sebuah kasus hukum semakin tinggi. Namun, bukan berarti tidak bisa ditembus oleh orang-orang yang tergolong dalam barisan “mafia hukum” untuk melakukan jual beli perkara.

“Karena ada KPK, jual beli perkara menjadi lebih tertutup. Tetapi risiko yang besar telah membuat nilainya menjadi sangat tinggi. Tetapi itu juga menjadi dilemma, karena klien kadang juga menginginkannya. Kasihan kan, klien benar-benar habis-habisan. Kalau sudah begitu klien saja yang saya suruh maju,” katanya.

Menurut Barus, meskipun berisiko profesi pengacara bukan tidak menarik untuk digeluti. Secara materi, profesi ini sangat menjanjikan untuk ditekuni asalkan dijalankan secara profesional. Meskipun demikian, ia mengingatkan generasi muda yang ingin terjun ke dunia pengacara untuk tidak mengedepankan uang terlebih dahulu.

“Yang penting jangan sampai mengenal uang di awal. Nanti akan rusak duluan dan menjadi tidak fokus lagi. Jangan berhitung segala sesuatu karena uang. Karena masih muda harus idealis, rakyat kecil harus kita bela, jangan membela orang-orang yang punya uang saja. Orang pintar banyak, tetapi orang jujur jarang,” katanya.

Daftar riwayat hidup
Nama lengkap: Hermanto Barus, SH, MH
Tempat tanggal lahir: Medan, 4 April 1965
Pendidikan Terakhir:
FH Universitas Parahyangan Bandung (S1)
FH Universitas Parahyangan Bandung (S2)
Motto hidup: Hidup dengan apa adanya
Tokoh favorit: Prof. Subekti, SH (Mantan Dekan Unpar) DR. A. Koesdarminta (Mantan Rektor Unpar)

Pengalaman:
Tahun 1992-1998 menjadi asisten advokat Yan Apul & rekan
Tahun 1998 – sekarang mendirikan kantor hukum Hermanto Barus & rekan

Spesialisasi keahlian hukum:
Pidana Umum, Pidana Khusus, Perdata, Perkawinan dan Keluarga, Peradilan Tata Usaha Negara, Peradilan Hak Asasi Manusia, Kepailitan, Hak Atas Kekayaan Intelektual, Pengadilan Hubungan Industrial, Hukum Perusahaan, Keuangan dan Perbankan, Pasar Modal, Penanaman Modal, Tanah dan Properti, Ketenagakerjaan

Perkara yang pernah ditangani:
Perkara penyidik KPK, AKP Suparman
Perkara sengketa tanah di beberapa daerah
Kasus PT Optima Capital Securitas di Mabes Polri
Kasus PT Eshar Indonesia
Kasus PT Bumi Putera Capital Management
Kasus Yayasan Metodis, Medan
Kasus Penggelapan saham Merril Lynch
Dan perkara-perkara lain yang tdi bisa disebutkan

Alamat kantor:
HERMANTO BARUS & REKAN
Gedung Jaya, Lt 7 ruang 702
Jl. MH Thamrin No. 12 Jakarta 10340
Telp   : (021) 31935264
Faks   : (021) 31934014
HP     : 0817434100
Email : hbnrekan@yahoo.co.id

Gartono, SH, MH, DR (ip)

No Comments

Gartono, SH, MH, DR (ip)
Advokat dan Dosen

Pemilu Bukan Pesta Demokrasi Tetapi Seleksi Kepemimpinan

Pemilu Legislatif yang dilakukan setiap lima tahun sekali masih menyisakan tanya. Harapan rakyat membuncah untuk memilih pemimpin yang mampu berbuat siddiq, amanah, fatonah dan tabligh. Memiliki pemimpin dengan sifat-sifat mulia Nabi Muhammad tersebut, membuat rakyat “tenang” menitipkan negara untuk diurus orang yang tepat.

Namun, pada penyelenggaraan pemilu ternyata tidak seindah yang dibayangkan. Karena dalam prakteknya, banyak tindakan-tindakan tidak terpuji yang dilakukan demi memenangkan pemilu. Seperti membagi-bagikan uang, membeli surat suara, menyuap atau pun menggelembungkan jumlah surat suara. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi dalam pemilu legislatif, justru pada saat Pemilihan Kepala Daerah dan Pemilihan Presiden pun  praktek serupa semakin vulgar dilakukan.

“Pemilu disosialisasikan dan dimaknai sebagai ‘Pesta Demokrasi’ sehingga dalam pelaksanaannya adalah hura-hura dan bagi-bagi uang (angpao seperti Imlek) tanpa menggunakan logika dan hati nurani. Akibatnya, hanya orang-orang yang memiliki uang akan terpilih sebagai ‘pemimpin’ yang perilakunya mencuri dan menipu rakyat. Hakekat pemilu adalah proses seleksi kepemimpinan. Yakni memilih pemimpin yang baik, bermoral, berkualitas, jujur, penuh dedikasi dan memiliki integritas tinggi. Itu hakekat pemilu yang benar,” kata Gartono, SH, MH, DR (ip), tokoh Advokat di Bogor.

Oleh karena Pemilu lebih mengutamakan unsur pestanya yang bernuansa fun, sementara unsur  demokrasinya terdistortif. Implikasi dari Pesta Demokrasi tersebut, maka terpilihlah penguasa yang mengendalikan negara untuk kepentingan kelompoknya dan dirinya. Penguasa yang menjadi kaki tangan asing dengan memfasilitasi kepentingannya yakni kemudahan mendapatkan konsesi dan monopoli serta mendapatkan kesetiaan rakyat Indonesia untuk bersedia bekerja dengan upah rendah.

Hal ini tidak lepas dari politik neo colonial yang diterapkan oleh penguasa-komprador yang mana pendidikan berorientasi pada ketersediaan buruh upah rendah dan intelektual yang tidak produktif seperti halnya “politik etis” kolonial Belanda pada awal abad 20.

Keadaan ini sebagai konsekuensi logis dari kegagalan kita ketika pemilu yakni salah memilih “pemimpin”. Karena kebanyakan rakyat telah menjual suara kepada para caleg tukang suap. Konsekuensinya terpilihlah tukang suap yang kemudian menjadi “penguasa oportunis” dengan orientasi memperkaya diri sendiri dan jauh dari seorang patriot yang berjiwa volunteer yang melayani rakyat.

Dengan memiliki pemimpin yang berjiwa patriot dan seorang volunteer -bukan petualang- Gartono yakin bahwa pembangunan Indonesia akan mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Pembangunan yang semula hanya memberikan kesejahteraan bagi segelintir orang akan menjadi merata secara signifikan.

Gartono sangat yakin bahwa bangsa ini mampu menjadi bangsa besar, sejahtera dan bermartabat dengan perubahan di tingkat kepemimpinan. Untuk saat ini diperlukan pemimpin yang memiliki visi dan misi yang jelas bagi masa depan bangsa, bukannya pemimpin oportunis pencari kekuasaan. Untuk itu, diperlukan pembangunan mental dan moral-spiritual melalui revitalisasi peran agama. Dengan demikian maka si miskin dan si melarat sekalipun akan memiliki harga diri dan tidak akan menggadaikan lagi suara kedaulatannya dengan Supermi ketika pemilu, Pilkada maupun Pilpres.

“Ke depan agar kita tidak hanya dikenal sebagai bangsa yang banyak utang dan korup, maka sebagai condito sine quo non bangsa ini harus melaksanakan Trisakti, yakni berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian bidang kebudayaan. Bahwa Trisakti ini ini hanya bisa dilaksanakan oleh pemimpin sejati yang sederhana. Negara kita harus berdikari dengan membiasakan rakyat, dari pejabat rendah sampai presiden harus hidup sederhana. Pokoknya seluruh elemen bangsa harus mau berkorban untuk negara,” ujar pria yang siap menjadi Presiden Republik Indonesia ini. “Insya Allah bilamana ditakdirkan menjadi presiden, saya akan membentuk kabinet yang terdiri dari para patriot dan volunteer yang akan melakukan upaya luar biasa dan bekerja dengan jujur serta tidak takut akan dimakzulkan oleh rakyat. Karena toh, jabatan adalah amanah,” imbuhnya.

Supremasi Hukum

Menurut Garnoto, pemimpin dalam setiap komunitas senantiasa diperlukan keberadaannya. Pemimpin memiliki makna positif yakni seseorang yang mempunyai kelebihan (shidiq, amanah, fatonah dan tabligh) dan menjadi suri tauladan yang dapat diikuti oleh masyarakat yang dipimpinnya. Dalam konsep demokrasi, rekrutmen dan seleksi kepemimpinan dilakukan melalui pemilihan umum. Konsep kepemimpinan di Indonesia bobotnya semakin meningkat secara hierarkis, seperti RT untuk memimpin sekitar 200 orang, RW 1000 orang. Sementara anggota DPR RI yang berjumlah 560 orang adalah pemimpin untuk membuat kebijakan bagi 225 juta penduduk Indonesia.

Memilih anggota DPR RI tentu sama hakekatnya dengan memilih pemimpin dalam skup kecil seperti RT. Di dalam proses pemilihan baik dalam skup kecil maupun besar, harus dihindari praktik jual beli suara. Anggota DPR RI yang terpilih dengan jalan membeli suara bukanlah pemimpin sejati. Karena dia adalah penguasa atau penyuap yang keberadaannya dimodali oleh sponsor atau penyuap – cukong. Akibatnya kebijakan yang diputuskan anggota DPR RI -yang merupakan produk politik dengan konsekuensi hukum- akan menguntungkan bagi dirinya sendiri, kelompoknya, para cukong (sponsor) kampanye dan para pelobi oportunis yang mencari kesempatan. “Kepentingan masyarakat menjadi urutan kesekian”. Fenomena ini tampak jelas dalam konfigurasi dan perilaku kekuasaan Orde Baru dan Rezim Reformasi sekarang baik di eksekutif, legislatif maupun yudikatif.

Kejadian tersebut mengakibatkan sebuah pemilu yang memakan biaya besar hanya menghasilkan penguasa. Akibatnya, hukum tidak lagi menjadi panglima sebagai sarana mewujudkan keadilan dan kebenaran. Tetapi produk hukum akan menjadi komoditi yang bisa diperjualbelikan “seenak udelnya” oleh anggota parlemen.

Dengan berhasil memilih pemimpin atau wakil rakyat melalui pemilu secara jujur dan adil tanpa suap, maka diharapkan aparat penegak hukum yang diseleksi oleh DPR RI seperti Jaksa Agung, KPK, MK, MA dan Komisi Yudisial serta Kapolri pun akan memiliki komitmen mewujudkan supremasi hukum, tanpa tebang pilih. Karena jika hukum sebagai panglima bagi siapapun, niscaya keadilan dapat menyinari bumi pertiwi dan tidak akan terjadi kebohongan publik secara sistematik yang dilakukan oleh Jaksa Agung, KPK, MK, MA dan Komisi Yudisial serta Kapolri seperti halnya dalam kasus “cicak vs buaya”  – Century Gate.

Jejak Rekam

Gartono, SH, MH dilahirkan di kota Bogor, 11 April 1965, merupakan anak pasangan HR. Kunrachmat dan Hj Hudjenah. Sebagai sorang advokat, Gartono menyukai slogan tentang pendobrakan, perjuangan dan penegakan keadilan. Tidak aneh, sebab ia sudah lama malang melintang di dunia kepengacaraan dan pergerakan. Gartono pernah satu kantor dengan advokat ternama, HM Dault dan Muchtar Pakpahan.

Ia juga bergaul dengan tokoh-tokoh garis keras seperti almarhum Prof. Deliar Noer dan Letjen (purn) HR Dharsono, H Ali Sadikin dan Hariman Siregar.

Gartono menamatkan SD dan  SMP di Bogor, tetapi menamatkan SLTA di SMA Muhammadiyah Pekalongan, tetapi lulus di SMA PGRI Kendal, Jawa Tengah. Meskipun pada awalnya bercita-cita menjadi wartawan, tetapi guratan nasib membawanya kuliah selama tujuh tahun di Fakultas Hukum Universitas Pakuan yang diselesaikannya pada tahun 1991 dengan predikat wisudawan terbaik. Ia menyelesaikan pasca sarjana (S2) di UNTAG Jakarta dengan IPK tertinggi. Sekarang menjalani proses pendidikan Strata 3 di universitas yang sama. Berdasarkan prinsip primus inter pares, maka rekan-rekannya sesama pengacara memercayai Gartono sebagai Sekjen Bogor Lawyer Club (BLC) pada tahun 2000.

Saat kuliah, Gartono adalah seorang aktivis pergerakan mahasiswa yang tidak pernah surut semangatnya. Tahun 1987-1989, Gartono terpilih sebagai Ketua Umum Senat Mahasiswa FH UNPAK. Satu tahun kemudian, ia menduduki posisi sebagai Presidium Badan Kontak Mahasiswa se-Jawa Barat dan Koordinator Presidium Senat Mahasiswa UNPAK.

Saat meletus Perang Teluk pada awal tahun 1990-an, Gartono mengibarkan bendera pembelaan terhadap rakyat Irak dengan mengambil posisi sebagai koordinator Komando Solidaritas Indonesia untuk Irak. Dalam rentang waktu 1992-1994, ayah dua putra dan satu putri ini menjadi koordinator Forum Pemurnian Kedaulatan Rakyat Wilayah Jabar dan Koordinator PCPP (Persatuan Cendekiawan Pembangunan Pancasila) Wilayah II Bogor, Gartono juga memegang posisi Ketua DPD GRM (Gerakan Rakyat Marhaen) Jabar.

Minat Gartono sangat luas, termasuk dalam bidang olahraga. Bahkan penggemar musik country ini tidak setengah-setengah dalam menekuni cabang olahraga pencak silat. Terbukti, ia pernah menjadi juara II Lomba Pencak Silat Kelas A se-Bogor tahun 1981. Olahraga renang dan lari pagi merupakan aktivitas yang dijalaninya dengan rutin. Sementara di bidang politik, sebelum menjadi Caleg No 1 DPR RI periode 2009-2014 dari Partai Matahari Bangsa, Gartono adalah kader utama Partai Amanat Nasional (PAN). Bahkan ia pernah terpilih sebagai Ketua DPD PAN Kabupaten Bogor pada tahun 2000. Karakter yang terbuka dan pemberani, sedikit banyak dipengaruhi oleh Bung Karno dan Jenderal Soedirman yang dikaguminya.

Banyak hal yang telah dilakukan Gartono bagi kota Bogor. Ia aktif memantau kinerja birokrat yang diindikasikan terlibat dalam korupsi dengan mendirikan Bogor Corruption Watch (1999). Ia juga melakukan pembelaan terhadap masyarakat miskin melalui LBH Merdeka sejak tahun 1991 yang didirikannya bersama Eggy Sudjana dan Dedi Ekadibrata (mantan tapol). Pada tahun 1998, ketika pengaruh Orba masih kuat mencengkeram, dengan berani Gartono mencalonkan diri sebagai Bupati Bogor bersaing dengan Kolonel Agus Utara Effendy. Pada tahun 2002, Gartono melakukan gugatan class action terhadap Menag RI Said Aqil Husein Al Munawar sehingga ia dijuluki sebagai Pendekar situs Batutulis. Berdasarkan sepak terjangnya tidak heran bilamana pada tahun 2008 Gartono mendapat apresiasi dari koran Jurnal Bogor dengan anugerah Jurnal Bogor Award.

Gartono sangat mencintai keberadaan Kebun Raya Bogor sebagai ikon kota hujan. Gartono sangat terkesan dengan keindahan dan keasrian Kota Bogor yang sangat klasik seperti pada tahun 1970-an. Kenangan masa kecilnya mengingatkan, di kiri kanan jalan protokol Kota Bogor dipenuhi pohon kenari sebagai peneduh jalan. Namun, sebagai warga Bogor, ia menyayangkan mental masyarakat Bogor yang sangat individualis sehingga dengan mudah ditekan penguasa.

Suami dari Ir. Safni ini berharap Kota Bogor bisa dijadikan kota wisata sejarah dan religi di samping wisata belanja. Selain itu, melihat sarana – prasarana dan SDM yang tersedia, Kota Bogor juga berpoensi untuk menjadi kota pelajar dan mahasiswa. Kunci untuk itu, terletak pada bagaimana kebijakan pengelola Kota Bogor, Pemkot dan DPRD. Mereka harus memiliki rasa cinta pada Bogor dan tidak hanya mencari kekayaan melalui jabatan yang diembannya.

Biodata:

Nama                : Gartono, SH, MH, DR (ip)
Tempat tanggal lahir    : Kota Bogor, 11 April 1965
Pendidikan             :
1.    SD Empang III Bogor
2.    SMP Negeri I Bogor
3.    SMA Muhammadiyah Pekalongan/SMA PGRI Kendal
4.    Fakultas Hukum UNPAK
5.    Pasca Sarjana UNTAG Jakarta
6.    Kandidat Doktor UNTAG Jakarta
7.
Pekerjaan             : Advokat
Organisasi            :
1.    Ketua DPP IKADIN 2007 – 2012
2.    Ketua Dewan Kehormatan DPC IKADIN Kab. Bogor
3.    Ketua Peradi Bogor Raya 2009-2012
4.    Sekjen MPS Gerakan Rakyat Marhaen
5.    Sekjen Komnas Pilkada Independen 2007
6.    Ketua Umum Senat Mahasiswa UNPAK 1987-1989
7.    Presidium Badan Kontak Senat Mahasiswa Jawa Barat 1989

Riwayat perjuangan        :
1.    Melakukan Aksi-aksi Pembelaan terhadap Petani Cimacam, Korban Lapangan Golf pada tahun (1989-1992)
2.    Melakukan Aksi-aksi Pembelaan terhadap Korban Waduk Kedungombo pada tahun (1988-1990)
3.    Melakukan Aksi-aksi Pembelaan terhadap Petani Rancamaya, Korban Lapangan Golf pada tahun (1989-1992)

Ali Leonardi Nakamura, SH, SE, MBA

No Comments

Ali Leonardi Nakamura, SH, SE, MBA
Managing Associate ALI LEONARDI N, SH, SE, MBA & ASSOCIATES
Advocate – Legal Consultant – Attorney – Solicitor

Menjadi Kantor Advocate Dengan Reputasi Terbaik di Sumatera Utara dan Indonesia

Berdiri pada tahun 1993, ALI LEONARDI N., S.H., S.E., MBA. & ASSOCIATES pada awalnya menangani kasus-kasus pidana dan perdata. Seiring perkembangan dunia usaha maupun reformasi hukum, pelayanan ditingkatkan untuk memenuhi permintaan klien yang sangat majemuk. Sang pendiri, Ali Leonardi Nakamura, SH, SE, MBA memutuskan, lembaganya harus memposisikan diri dan memperluas serta meningkatkan bidang pelayanan hukum secara maksimal di seluruh Indonesia.

“Kami melayani client kami baik dari segi pemahaman hukum maupun peraturan di Indonesia sekaligus melakukan perlindungan hukum baik dalam bidang bisnis maupun kepentingan hukum lainnya. Kami, ALI  LEONARDI  N., S.H., S.E., MBA. & ASSOCIATES bangga menjadi salah satu kantor Advocate dengan reputasi terbaik di Sumatera Utara dan Indonesia. Di mana kasus-kasus besar yang mendapat perhatian publik di Indonesia selalu ditangani secara professional dan memuaskan,” katanya.

Melalui service dan pendekatan secara personal touch, Ali memberikan kenyamanan dan kerahasiaan klien. Ali senantiasa menjalin kehangatan serta membina hubungan baik dengan klien, sehingga setelah berjalan sekian lama, reputasi dan kepercayaan dari ratusan perusahaan besar dan kecil, baik industri maupun trading berhasil diperoleh.

Klien yang datang ke kantor ALI  LEONARDI  N., S.H., S.E., MBA. & ASSOCIATES, disambut dengan tata ruang modern minimalis. Berbagai elemen tradisional diolah hingga menghadirkan estetika yang unik. Ruang kantor tampak elegan dengan komposisi yang simple, namun unik, apik dan bersih. Dilengkapi dengan full air conditioned plasma lingkungan kantor tercipta suasana yang nyaman dan memanjakan bagi klien.

Selain itu, kantor dilengkapi dengan fasilitas computer, teknologi yang up to date, ruang meeting yang nyaman, dan dukungan Media Digital serta para Advocate dan staff yang ramah, professional dan energik. Sebagai garda depan dalam pelayanan klien, ruang kantor merupakan wadah interaksi antara lembaga dan klien, sehingga sudah selayaknya estetika penampilan interior ruangan diperhatikan. Karena, ruang yang nyaman dan menarik (eye catching), secara psikologis mampu menciptakan kehangatan dan kenyamanan bagi siapapun yang berada di dalamnya.

Sekilas Profile Ali Leonardi Nakamura, SH, SE, MBA

Ali Leonardi Nakamura, SH, SE, MBA lahir di Pulau Halang, Kab Bengkalis Riau, 14 Juni 1966. Pengacara handal ini berdarah blasteran Jepang – Chinese dengan marga Nakamura. Ia menyelesaikan pendidikan S1 pada dua bidang sekaligus secara bersamaan, yaitu: S1 Fakultas Hukum Universitas Dharmawangsa Medan tahun 1990 dan S1 Fakultas Ekonomi Universitas Dharma Agung Medan tahun 1990. Sementara Pendidikan S2 berasal dari Pasca Sarjana Ekonomi, Jakarta Institute of Management Studies tahun 1999.

Pendidikan non formal yang diikuti Ali Leonardi N antara lain:
Pendidikan Perbankan tahun 1987
Pendidikan Akuntansi tahun 1983 – 1984
Lokakarya Management Personalia-IPMS tahun 1992
Pelatihan Management Mutu ISO 9000 Series tahun 1997 dan 1998
serta berbagai Seminar Hukum sejak tahun 1985 – sekarang.

Tujuan hidup atau the meaning of life yang dipegang teguh oleh Ali Leonardi N adalah “Tujuan hidup adalah hidup yang punya tujuan agar bermakna dan menjadi berguna untuk orang lain (sosial)”. Sedangkan agar selalu eksis dalam menjalani karier dan profesinya, ia menegaskan perlunya beberapa hal yang harus dikuasai. “Selain kecerdasan akal diperlukan juga kecerdasan emosional dan spiritual, kemampuan beradaptasi, inisiatif, optimisme dan ketangguhan,” ungkapnya.

Ali Leonardi Nakamura mengungkapkan dirinya selalu menerapkan bagaimana berusaha “Merangkul Client menjadi Partner”. Dengan cara dan strategi seperti ini, klien tidak merasa sedang berurusan dengan pengacara secara legal dan formal. Tetapi klien justru berhubungan dengan seorang partner, rekan kerja yang hangat dan ramah sehingga segala problematika yang dihadapinya diutarakan dengan jujur dan menyeluruh, layaknya curhat dengan seorang sahabat. Di dunia kepengacaraan, kejujuran dan keterbukaan klien akan memudahkan pengacara untuk menyusun langkah-langkah pembelaan bagi kliennya.

“Prinsip leadership saya adalah ‘Memanfaatkan kelemahan menjadi kekuatan dengan tidak menjadikan karyawan sebagai Superman tapi menjadi Superteam untuk mencapai tujuan perusahaan’. Adapun visi saya ’Selalu berorientasi pada tujuan akhir terhadap setiap langkah yang dibuat secara optimal dan disiplin, memiliki kendali diri dan sosial. Serta senantiasa belajar dari lingkungan dan selalu ambil hikmahnya atau positif thinking,” tandasnya.

Para Advocate maupun staff yang tergabung di ALI  LEONARDI  N, SH, SE, MBA & ASSOCIATES adalah Advocate yang mempunyai dedikasi dan keahlian sesuai dengan bidangnya masing-masing. “Klien dapat berkonsultasi langsung dengan para advocate maupun staff kami serta dapat juga mempergunakan akses yang dimiliki oleh TEAM kami secara proporsional dan professional,” tegasnya.

Berikut ini daftar Associate yang tergabung dalam ALI LEONARDI N., SH, SE, MBA & ASSOCIATES:
Ali  Leonardi  N., S.H., S.E., MBA.
Karle Sitanggang, S.H.
Pramudya Eka Wijaya Tarigan, S.H.
Budi Abdullah, S.Ag., S.H.
Johan, S.H., M.M., M.H.
Erly Marliah, S.H.
Nurafni, S.E.
Hamsan Siregar, S.Pd.
Vera Adrian S., S.H.

Organisasi dan Badan Hukum

Ketua Umum    : Perkumpulan Kinologi Indonesia (Perkin) Sumatera Utara Periode tahun 1997 s/d 2003
Wakil Ketua: Dewan Pimpinan Daerah Sumatera Utara Patriot Bela Bangsa (PBB)
Wakil Ketua: Ikatan Alumni Universitas Dharmawangsa (IKADHA) periode 2000-2003 dan periode 2003 s/d sekarang
Ketua Bidang Hukum: Partai Demokrasi Perbaruan DPD Sumatera Utara
Ketua Bidang Hukum : Patriot Bela Bangsa DPD Sumatera Utara
Ketua Bidang Hukum: AR Center Calon Walikota Medan Period ke 2 tahun 2005
Dewan Pakar: Pujakesuma DPD Medan
Ketua Bidang Hukum: Yayasan Rokan Jaya
Pengurus: Lion Clubs Medan Metropolitan periode 2008 – 2009 Charter 3rd Vice President
Ketua Bidang Hukum: Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) cabang Medan
Komisaris Utama: – PT. Kharimantara Indonesia: – PT. Cimeric Indonesia – PT Digital Media Indonesia
Wakil Ketua Medan Lawyers Club periode 2011 – 2015

Pengalaman Penanganan Perkara

Penanganan kasus-kasus PT. Adam Skyconnection Airlines (Adam Air) secara Nasional di  seluruh Cabang di Indonesia)
Kasus PHK massal PT. Cakra Compact (PMA Singapore) – Medan
Kasus PHK massal PT. Healthcare Glovindo (PMA Malaysia) – Medan
Kasus PHK massal PT. Fulijaya toothbrush Indonesia (PMA Malaysia) – Medan
Kasus PHK massal PT. Baja Utama Wirasta Inti (BUWI Group)  – Medan
Kasus PHK massal PT. Indotechno Multi Industri – Tanjung Morawa
Kasus Narkoba, Graham CP (WN Australia)
Kasus Pemalsuan Merek Tanaka & Precision Tooling, PT. SCM (Jakarta, Manado, Gorontalo, Ngawi, Gombong, Jambi)
Kasus Penikaman di Palladium Plaza – Medan
Kasus Pembunuhan Pengusaha Muda di Capital Building – Medan
Kasus Tanker Terbakar di Sungai Siak dan KM Intan 9 – Pekanbaru
Kasus Palang Merah Perancis  (French Red Cross) di Aceh
Kasus Perceraian BRIAN DW, WN Australia
Kasus Sengketa Tanah CV. Paluh Jaya – Paluh Kurau Hamparan Perak
Kasus Sengketa Tanah dan Rumah,  di Kompleks Jati – Medan
Kasus Trafficking Jaringan International  di Rohir – Bagansiapiapi
Kasus Sengketa Tug Boat WN Singapore

“Saat ini, ALI LEONARDI N, SH, SE, MBA & ASSOCIATES merupakan Legal Consultant atau Penasehat Hukum Tetap bagi 200 perusahaan. Perusahaan-perusahaan tersebut bergerak dalam bidang Trading, Industri, PMA, PMDN di berbagai daerah, seperti di Pulau Jawa -Jakarta, Tangerang, Sumatera Barat  – Padang, Kepulauan Riau, Pekan Baru – Dumai dan Bagan Batu, Sumatera Utara – Medan, Tanjung Morawa, Binjai, Stabat, Pangkalan Berandan, dan Langkat,” kata Ali Leonardi Nakamura, SH, SE, MBA seperti email-nya kepada PPBI.

Achmad Subianto

No Comments

Achmad Subianto
Pendiri Gemar (Gerakan Memakmurkan Masjid)

Mengurus Masjid dan Zakat

Setelah memasuki masa pensiun, Achmad Subianto mendapati masih banyak pekerjaan yang harus ditanganinya. Sekitar 10 aktivitas -termasuk di FAPI (Federasi Perasuransian Indonesia), DPN Korpri, PWRI (Persatuan Wredatama Republik Indonesia)- sehingga waktu 24 jam yang diberikan Tuhan dirasa tidak cukup untuk mengerjakan kegiatan-kegiatannya. Apalagi, seluruh aktivitas tersebut harus dikerjakan sendiri karena tidak bisa diwakilkan.

Untuk itu, ia terpaksa mendisposisi dirinya sendiri terkait kecukupan waktu mengerjakan seluruh kegiatannya yang sangat tidak memadai. Lalu, ia memutuskan untuk hanya fokus mengerjakan tiga kegiatan saja, yakni Gerakan Memakmurkan Masjid, Zakat dan Jaminan Sosial. Khusus kegiatan terakhir, ia merasa mendapatkan amanah khusus dari Presiden Megawati dan Presiden SBY yang harus diselesaikan. Untuk keperluan tersebut, saat ini ia sedang sibuk menyusun buku “Sistem Jaminan Sosial Nasional” sebagai persembahan bagi Ibu Pertiwi, yang telah diluncurkan pada 16 Agustus 2010 di Flores Room Hotel Borobudur bertepatan dengan milad 11 Yayaan Kanum. Yayasan yang digagasnya dan didirikan oleh 17 pribadi muslim, bersama penandatanganan MOU antara Yayasan Kanum, Baznas dan paguyuban napi dengan Ketua Prof. DR. Ir. Rahadi Ramelan, MSc, ME.

Ketertarikannya untuk menulis buku SJSN karena ternyata tidak semua orang Indonesia memahami mengenai SJSN yang ternyata telah membawa negara barat menjadi maju dan makmur tersebut. Ketika mengunjungi China –seperti perintah Rasulullah SAW “Belajar ke negeri China”- ia banyak belajar mengenai SJS China yang dibangun berdasarkan lima Pilar Bank Dunia dimulai tahun 1997. China membangun pertama kali NSSF (National Social Security Fund) dengan CEO mantan Menteri Keuangan China. Saat itu, Indonesia sedang dilanda krisis moneter akibat ulah George Soros.

Menurut Achmad Subianto, Indonesia harus mengikuti jejak China untuk membangun SSJN dengan Pola Lima Pilar. Jangan sampai Jaminan Sosial dilihat sebagai beban atau benalu dan sebuah energi sia-sia. Tetapi sebenarnya Jaminan Sosial merupakan sumber energi dana pembiayaan pembangunan jangka panjang bagi kemajuan dan kemakmuran negara.

Achmad Subianto mencatat bahwa penggunaan Sistem Chili tidak bisa diterapkan di Indonesia. Penyebabnya, terjadi lonjakan penduduk sehingga Indonesia menduduki peringkat 4 dunia dengan 235 juta jiwa. Sementara Chili memiliki penduduk yang relatif lebih sedikit sehingga sistem berjalan dengan baik. Ia menolak berkomentar apakah lonjakan kenaikan penduduk menjadi peringkat empat dunia tersebut merupakan kesuksesan atau kegagalan bagi republik yang sangat dicintainya ini.

Ia sangat bersyukur dapat mengunjungi dan melihat China, negeri tirai bambu, negeri asal tokoh-tokoh komik yang sangat digemarinya sejak kecil. Karena ia adalah penggemar fanatik komik dengan tokoh Sun Go Kong, Kungfu Boy dan Sin Jin Kui yang selalu setia diikutinya, baik dalam bentuk komik, film maupun tayangan TV.

Terkait dengan aktivitas Gerakan Memakmurkan Masjid, Achmad -group pertama Depkeu belajar komputer di tahun 1970-an- merasa pengetahuannya tentang IT sangat bermanfaat. Yakni ketika berusaha menggabungkan sistem zakat dengan masjid untuk mewujudkan perintah Allah SWT dalam surat At Taubah, ayat 18; “Sesungguhnya yang akan memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat di masjid dan tidak takut kepada siapapun selain Allah, maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Tiada henti, Achmad mengucap syukur Alhamdulilah kepada Allah SWT, karena ia berhasil membuat sistem informasi zakat dibantu Thio –putranya yang lulusan Mac Quary, Sidney- menyusun sistem ALMS. Arti dalam bahasa philanthropy/ kedermawanan adalah shadaqah yaitu zakat, infak dan sedekah. Dengan sistem ALMS ini masjid akan mengeluarkan Kartu Jemaah Masjid (KJM) untuk jemaah dan muzakinya dan Kartu Dhuafa (KD) untuk Mustahiq yang akan mendapat shadaqah.

Sistem KJM ini dapat juga berfungsi sebagai Kartu NPWZ (Nomor Pokok Wajib Zakat) yang diilhami ketika ikut membangun sistem perpajakan NPWP dibawah Koordinasi PAIK dengan Ketua Kartono Gunawan, MSc. Dengan telah adanya KJM maka sebenarnya tidak perlu lagi menggunakan NPWP karena KJM sendiri dapat berfungsi sebagai NPWZ. Kemudian sistem BSZ (Bukti Setor Zakat) bisa digunakan sebagai kartu diskon pajak. Rekening dengan nomor akhir 555 diperuntukkan zakat sementara nomor 777 untuk zakat dan sedekah.

Ternyata, lanjut Achmad, meskipun pasca pensiun hanya menjalani tiga aktivitas tetapi kegiatannya justru semakin banyak. Ia memahami teori “gali sumur” bahwa setiap aktivitas di bumi ini jika dikerjakan secara tekun dan profesional akan menghasilkan kegiatan yang justru bertambah besar. Contohnya adalah ketika menggali sebuah sumur artesis, diawali dengan tanah, lumpur atau batu dan sedikit air. Semakin dalam, air yang didapat semakin banyak dan pada puncaknya akan keluar air yang sangat bersih, jernih, bening dan menyembur dengan kuat.

Begitu juga kegiatan dan ilmu yang ditekuni secara aktif dan intensif akan berdampak sangat besar, luar biasa dan tidak akan berhenti. Apabila dalam pengerjaannya disertai perasaan ikhlas, meski kadang harus mundur satu langkah tetap harus diterima. Karena hal seperti itu justru akan menghasilkan kegiatan yang semakin besar dan memberikan lompatan besar jauh ke masa depan. Achmad Subianto mengenalnya sebagai rumus 1/0 = tak terhingga, yang sangat diyakini kebenarannya, rumus ini dipahami dari dosennya di Undip Semarang, Drs. Soehardi, dosen Ekonomi Makro.

Hal tersebut pernah dialami Achmad saat terpaksa diberhentikan dari pekerjaan oleh atasannya akibat arogansi pimpinan, yang semua perlakuannya diterima dengan ikhlas. Imbalannya, meskipun harus kehilangan pekerjaan tetapi tidak perlu menunggu beberapa lama ia justru mendapatkan pekerjaan dengan kedudukan lebih tinggi. Bahkan kedudukannya tersebut lebih luas cakupannya, lebih banyak peluangnya dan lebih besar kekuasaannya.

Tidak Ada Merger dalam SJSN

Putra Cilacap kelahiran 16 Agustus 1946 ini mengungkapkan, semangat dalam penyusunan RUU Sistem Jaminan Sosial yang kemudian menjadi UU No 40 Tahun 2004 mengenai Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), adalah bahwa badan penyelenggara jaminan sosial tetap eksis dan tidak ada merger atau penggabungan badan pengelola. UU itu sendiri dibuat dengan terburu-buru sehingga memiliki kebaikan dan kelemahan sekaligus.

Namun, dengan status Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS), keberadaan badan ini patut didukung daripada berstatus perseroan yang selama ini cenderung sangat merugikan peserta. Apabila menggabungkan semua badan penyelenggara menjadi satu adalah kebijakan yang arogan dan menyesatkan.

Di awal pembahasan RUU JSN terdapat usulan dari Tim SJSN waktu itu untuk melebur badan penyelenggara yang sudah ada, yaitu PT Taspen, PT Asabri, dan PT Jamsostek. Usulan ini mendapat tentangan, baik dari DPN Korpri, PWRI, BUMN maupun para pekerja swasta anggota Serikat Karyawan BUMN dan Swasta. Dengan demikian, dengan UU No 40 Tahun 2004 tidak ada lagi persoalan merger.

Dalam penyusunan draf RUU SJSN di Sekneg, Lambock Nahattand yang mewakili Seswapres memberikan pandangan dalam penyusunan SJSN bahwa UU yang disusun merupakan payung sekaligus menggambarkan sistemnya, tanpa menggabungkan lembaga yang telah ada.

Anehnya, meski telah ada arahan seperti itu, dalam pembahasan masih saja terdengar usulan untuk menggabungkan Taspen, Asabri, dan Jamsostek. Bahkan, panitia pun masih memasukkan hal tersebut dalam RUU SJSN. Ini keanehan yang ditemukan Achmad Subianto selama pembahasan draf RUU SJSN. Terkesan, terjadi pemaksaan kehendak untuk memuluskan usulan tersebut.

Apalagi belakangan terkuak bahwa dalam membangun dan menyusun RUU itu juga memanfaatkan pinjaman lunak dan bantuan konsultan dari Jerman. Karena itu, sudah dipastikan ada upaya untuk “menjermankan” sistem jaminan sosial Indonesia dengan mengikuti kehendak konsultan dari negara pemberi bantuan.

Achmad sangat bersyukur, dalam pertemuan pembahasan penyusunan RUU SJSN di Hotel Horison, Ancol, Jakarta, Menko Kesra M Jusuf Kalla (waktu itu) memberikan arahan agar badan penyelenggara tetap seperti yang ada, tidak ada merger. SJSN harus mencerminkan ciri Indonesia. Pernyataan Menko Kesra itu didukung oleh Tjarda Mochtar (mantan direksi Jamsostek) dan anggota DPR (ketika itu) Djamal Doa. Jadi, ketika RUU SJSN ini disahkan menjadi UU pada masa kabinet Presiden Megawati Soekarnoputri dan diteruskan ke Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) I di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), persoalan merger sudah tidak dibicarakan lagi.

Sistem Lima Pilar

Ketika menjadi peserta Asia Pension Roundtable III di Beijing, 9-10 November 2005, Achmad mendengar penjelasan mengenai lima pilar jaminan sosial versi Bank Dunia yang dipresentasikan oleh Ketua NSSF, mantan Menkeu China dan pejabat NSSF lainnya. China mulai melakukan reformasi jaminan sosial tahun 1997 dengan membangun jaminan sosial untuk warga negaranya, mengikuti pola Bank Dunia dengan sistem tiga pilar.

Selanjutnya tahun 2005, Bank Dunia merekomendasikan tambahan dua pilar lainnya, yaitu sumber dukungan berupa jaminan rumah dan kesehatan sebagai pilar keempat dan terakhir pilar zero, no contributory poverty alleviation. Dengan demikian, sejak saat itu di China berlaku five pillar systems of social security.

Dengan adanya beberapa sistem jaminan sosial di Indonesia, maka perlu dilakukan harmonisasi. Jika mengacu pada China, maka “rumah SJSN” usulan M Jusuf Kalla dapat digambarkan sebagai berikut. Pilar pertama, meliputi jaminan sosial nasional dasar/nasional-daerah (Jamsosnasda). Pilar kedua, jaminan sosial untuk para professional dengan profesi PNS, TNI, pekerja swasta, dan BUMN.

Pilar ketiga, jaminan sosial untuk individual yang telah ada undang-undangnya yaitu antara lain asuransi. Pilar keempat, jaminan sosial untuk jaminan spesifik, misalnya kesehatan, perumahan, pendidikan, tabungan untuk ibadah haji dan lain-lain. Sedangkan “pilar zero” mencakup bantuan sosial yang selama ini sudah diberikan oleh Depsos, seperti jaring pengaman sosial (JPS) dan bantuan tunai langsung (BLT). Untuk pilar kesatu sampai keempat, para peserta memberikan iuran, ditambah dari pemberi kerja/majikan. Sedangkan untuk “pilar zero” sepenuhnya merupakan bantuan pemerintah.

Berdasarkan rumah SJSN, maka BPJS yang harus ada akan terdiri dari BPJS Jamsosnasda untuk seluruh warga negara, BPJS PNS untuk pegawai negeri sipil, BPJS TNI untuk angkatan bersenjata, BPJS badan usaha milik negara (BUMN) untuk pegawainya, dan BPJS Jamsostek untuk pegawai swasta. Adapun Askes dan Bapertarum merupakan pelengkap.

Sejak awal, Achmad menegaskan, tidak ada merger di antara ketiga lembaga yang ada karena misi dan karakteristiknya masing-masing berbeda. Ia menyampaikan, jika mau memergerkan Taspen, misalnya, maka harus ditanya dulu 4,6 juta PNS, apakah mereka mau untuk digabung? Sebab, meskipun Taspen itu BUMN, uang Taspen bukan uang pemerintah, tetapi uang PNS yang dipotong dari daftar gaji mereka untuk pembayaran pensiunnya. Demikian pula Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI), perlu ditanya pendapatnya terkait dengan 1,6 juta para pensiunan yang uangnya dikelola PT Taspen. Hal yang serupa dengan TNI yang asuransi sosialnya dikelola Asabri.

Dalam merumuskan pembentukan SJSN, seyogianya perlu berpedoman pada peranan pemerintah. Peranan pemerintah, antara lain, selaku penyelenggara administrasi negara (administrator), selaku pemberi kerja, selaku regulator, selaku kreditur, dan selaku pemegang saham.

Dalam menjalankan roda pemerintahan, misalnya, pemerintah mempekerjakan seseorang menjadi pegawainya. Dalam hal ini pemerintah bertindak selaku pemberi kerja. Kewajibannya, antara lain, menyelenggarakan kesejahteraan bagi para pegawainya dalam hal ini PNS dan TNI. Untuk itu, dibentuk PT Taspen dan PT Asabri untuk memberikan jaminan sosialnya yang disesuaikan dengan penghasilan masing-masing.

Dengan pembentukan BUMN, pemerintah bertindak sebagai pemegang saham. Dalam kaitan dengan penyelenggaraan usaha perasuransian, negara mempunyai beberapa BUMN, misalnya PT Pusri, PT PLN, dan PT Perkebunan. Untuk jaminan sosialnya, pemerintah membentuk PT Jamsostek, sedangkan untuk pensiun masing-masing BUMN membentuk dana pensiun sendiri atau bergabung dalam DPLK.

Meski UU SJSN -dibuat pada era pemerintahan Megawati Soekarnoputri- masih memiliki kelemahan, tapi itu merupakan amanat UUD 1945. Pemerintahan SBY-JK, ketika itu telah menyetujui. Karena itu, seyogianya diimplementasikan secara benar oleh pemerintahan SBY-Boediono sebagai jaminan sosial untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Tetap Berjalan

Implementasi UU No 40/2010 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) tidak harus menggerus peran empat badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS) yang ada saat ini, yakni PT Jamsostek, PT Askes, PT Taspen, dan PT Asabri. Keempat BPJS tersebut menyatakan kesiapan menjalankan tugas tambahan dalam program jaminan sosial jika diamanatkan oleh pemerintah.

Saat ini keempat BPJS sudah menyelenggarakan program jaminan sosial untuk pekerja formal sektor swasta, pegawai negeri sipil (PNS), dan TNI/Polri. Dari lima program jaminan sosial yang disyaratkan untuk dilaksanakan, keempat BPJS itu baru melaksanakan empat program, yakni jaminan kecelakaan kerja (JKK), jaminan kematian (JK), jaminan hari tua (JHT), dan jaminan pemeliharaan kesehatan (JPK).

Sementara, untuk jaminan pensiun, baru diselenggarakan PT Taspen dan PT Asabri untuk PNS serta TNI/Polri. Sementara, pekerja formal yang program jaminan sosialnya diselenggarakan PT Jamsostek belum mendapatkan jaminan pensiun.

Keempat BPJS yang berstatus PT (Persero) dapat melaksanakan program jaminan sosial sesuai UU SJSN. Dalam hal ini, pemerintah menempatkannya sebagai BUMN dengan penugasan khusus. Ini juga sudah disampaikan Menteri BUMN melalui surat No S-135/MBU/2010 kepada Presiden dan Wakil Presiden RI yakni penugasan khusus kepada BUMN untuk menyelenggarakan fungsi kemanfaatan umum, termasuk untuk program jaminan sosial.

Sesuai dengan prinsip-prinsip SJSN, operasional BPJS harus berdasarkan prinsip-prinsip korporasi yang sehat. Tentunya dengan optimalisasi pengelolaan dana untuk manfaat sebesar-besarnya kepada peserta. Seperti diketahui, PT Askes dengan peserta sekitar 96,2 juta orang memiliki aset Rp10 triliun, PT Asabri mempunyai 1,1 juta peserta dengan aset sekitar Rp11 triliun, PT Jamsostek mencatat kepesertaan 8,9 juta orang beraset Rp90 triliun, serta PT Taspen dengan 2 juta peserta beraset Rp60 triliun.

Biodata singkat:

Nama         : Achmad Subianto

Tempat dan tanggal lahir: Cilacap, 16 Agustus 1946

Aktivitas:
Ketua Gerakan Memakmurkan Masjid
Ketua Komisi Pengawas BAZNAS 2005-2011
Penasehat ISEI Cabang Jakarta 2001-2011
Ketua Umum Fokkus, Babinrohis Pusat
Mantan bendahara DPN KORPRI 2004-2009
Mantan Ketua IV PWRI 2003-2009
Ketua Umum Federasi Perasuransian Indonesia 2003
Ketua Umum Asosiasi Jaminan Sosial dan Jaminan Sosial 2000-2008
Direktur Utama PT Taspen 2000-2008

Todung Mulya Lubis

No Comments

Tampan dan kaya, tetapi  bukannya bermain mata dengan artis-artis cantik. Malah membela (Si) Marsinah, buruh wanita yang di mata rezim militeristis Suharto harus mati dan didiamkan. Dia besar karena perjuangannya membela hak-hak asasi manusia dari mereka yang tertindas. Sikap hidup seperti itu membuat Todung menjadi sebuah paradoks. Semestinya dia hidup gemerlap sebagaima kehidupan yang selalu diasosiakan film-film murah atau sinetron. Todung jauh dari gambaran hidup seperti itu. Dia tidak terbawa arus yang melambung dalam kemewahan. Tidak main golf yang sekali main green fee-nya bisa Rp 250.000. Dia bina tubuhnya dengan sepeda stasioner, jalan kaki, dan vitamin C dosis tinggi. Makan sekedar memenuhi kebutuhan untuk bertahan hidup. Dia doyan makanan kampung, berlauk tempe dan tahu. Steak yang disuguhkan restoran-restoran mahal bukan seleranya. Dan dia tak tertarik mampir ke situ.

Sosoknya sebagai pengacara akan selalu dikenang, terutama ketika dia mengalahkan mantan Presiden Suharto dalam perkara tokoh rezim Orde Baru itu versus majalah TIME. Dia mencatat kemenangan dalam perkara itu sebagai puncak pencapain kariernya. Walau dia sempat menghadapi teror, diikuti, dan kantornya digarong untuk mendapatkan dokumen yang berkaitan dengan perkara yang dia tangani. ”Itu kemenangan yang monumental. Karena Suharto tak pernah terkalahkan selama ini,” katanya berbagi kemenangan dengan Dolorosa Sinaga, Martin Aleida, Hotman J. Lumban Gaoldari TAPIAN, yang mengunjunginya Jumat, 1 Muharram, 18 Desember 2009 lalu, di rumahnya yang besar dan nyaman di Cinere, Jakarta Selatan.

Kemewahan jam tangan berlapis emas yang melingkar di pergelangannya, juga dua handphone blackberry yang digenggamnya lenyap daya tariknya dibandingkan dengan kaos katun berwarna hitam dengan tulisan yang menantang persis di jantungnya: ”Saya Cicak Berani Lawan Buaya.”

Dalam pergulatannya untuk memenangkan kasus TIME melawan Suharto, berbagai macam teror yang dia terima dalam bentuk telepon, surat, SMS sampai ancaman fisik. ”Saya hanya pasrah kepada yang di Atas. Kalau tidak merasa melakukan kesalahan tidak perlu takut,” katanya. Dia bilang, semua orang yang punya keterikatan seperti dia akan mengalami ancaman serupa. Selama tiga tahun dia tak boleh bepergian ke luar negeri, paspornya dirampas. Dilarang memberikan ceramah maupun mengajar. ”Kantor saya dihancurkan, termasuk file-file saya,” katanya. Suharto marah karena dia terlalu keras, membela tahanan politik, termasuk membela Jenderal H.R. Dharsono, mantan panglima Siliwangi yang membangkang terhadap kekuasaan.

Sebenarnya, cita-cita Todung adalah diplomat. Dia terbuai oleh angan-angannya itu. Sedari duduk di bangku sekolah dasar dia tenggelam membaca biografi orang-orang besar, seperti biografi presiden pertama Amerika Serikat, George Washington, juga Thomas Jefferson, dan Benjamin Franklin. Tetapi, apa mau dikata, bukan dia yang berkuasa atas nasibnya sendiri. Dan, kalaupun cita-citanya untuk menjadi seorang diplomat memang kesampaian, barangkali, jejak yang ditinggalkannya dalam sejarah mungkin tak sebesar seperti sekarang.

Dia hanya akan dikenang sebagai seorang diplomat yang tak berdaya dari sebuah negara yang terus-menerus didera malu di dunia internasional, terutama di bidang hak-hak asasi manusia.
Amerika Serikat dan Aceh menjadi penentu jalan hidupnya. Selain karier, dia punya hubungan khusus dan kebetulan dengan negara adikuasi itu. Sama-sama merayakan ulangtahun 4 Juli (dia lahir di Muara Botung, Tapanuli Selatan, 60 tahun yang lalu.) Todung belajar ilmu hukum di Harvard University dan memperoleh gelar Ph.D in law dengan promotor Profesor Daniel S. Lev, seorang yang sangat berwibawa di bidang politik hukum Indonesia. Sarjana yang berkebangsaan Amerika Serikat itu, adalah guru dan sahabat baginya, dalam suka maupun duka.

Sementara orang Aceh yang ikut menempa dirinya adalah Yap Thiam Hien, pendekar hukum yang tak gepeng oleh linggis kediktatoran Suharto. Pengacara inilah yang dengan keyakinan hukum dan hati nuraninya, yang melebihi advokat lain ketika itu, membela mereka yang dituduh aparat hukum Orde Suharto terlibat dalam Gerakan Tigapuluh September 1965, terutama Dr. Subandrio, wakil perdana menteri dalam pemerintahan Sukarno.

Kemilau keteladanan Yap, mengilhami Todung untuk mendirikan Yap Thiam Hien Award, sebagai penghargaan tertinggi bagi mereka yang berprestasi besar dalam mempertahankan hak-hak asasi manusia. Sebagai sebuah kata, Todung berarti payung. Mulya adalah mulia. Ketetapan hatinya ibarat payung yang tetap berkembang walau diterpa angin atau hujan. Banyak yang menentangnya ketika mengadopsi nama yang terdiri dari tiga kata itu, tersebab Yap adalah Tionghoa (atau Cina, kata orang yang ingin merendahkan derajat golongan minoritas itu). Lagipula, Yap ’kan seorang Kristen!?

Ada dua orang lagi yang takkan dia lupakan. Ayahnya, Sati Lubis, orang yang pertama-tama mendidik anak kedua dari tujuh bersaudara ini mengenai demokrasi dengan membiarkannya besar mengikuti pilihan hatinya sendiri. Sati adalah salah seorang pendiri Antar Lintas Sumatera (ALS), perusahaan angkutan yang menghubungkan kota-kota di Sumatera dengan Jawa. Todung terpesona pada Mahatma Gandhi, sosok yang jujur, sederhana, dan anti-kekerasan.

Jalan hidup Todung menunjukkan bahwa tajamnya kepekaan perasaan menentukan jalan hidup. Katanya, dia mulai memasuki kehidupan melalui seni. Dulu, semasa masih di sekolah menengah atas, dan tak lama sesudahnya, dia sering menulis puisi, cerita pendek, dan main teater. ”Di sinilah kepekaan saya sebagai manusia diasah,” ucapnya dalam sebuah wawancara. Bersama penyair wanita Rayani Sriwidodo dia menerbitkan antologi puisi ”Pada Sebuah Lorong,” tahun 1968. Dia seangkatan dengan Sutardji Calzoum Bachri dan Abdul Hadi W.M.

Mereka tekun, ulet, dan terus berkarya. Sementara saya tidak. Saya masuk fakultas hukum. Saya tidak bisa total. Menjadi seniman juga membutuhkan komitmen yang solid,” katanya.

Ketika masih duduk di bangku universitas, dia sudah menjadi seorang aktivis. Protes terhadap pembangunan Taman Mini Indonesia merupakan debut awalnya sebagai seorang pembangkang kekuasaan. Dia termasuk yang beranggapan peningkatan taraf hidup guru dan pelayanan publik yang baik lebih mendesak daripada sebuah taman yang cuma sekedar tiruan dari apa yang telah dikerjakan di Muangthai.

Menjelang kuliah hukumnya selesai di Universitas Insdonesia (lulus tahun 1974), Todung magang di Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, dengan jabatan terakhir sebagai Direktur Bidang Nonlitigasi. Memandang jauh ke depan, dia beranggapan masalah hak-hak asasi manusia akan menjadi masalah mendesak. ”Ketika di Amerika, saya lihat laporan tentang negara kita (di bidang hak-hak asasi manusia) dibuat orang asing,” katanya mengenang. Todung kemudian terdorong untuk mendirikan divisi hak-hak asasi manusia di LBH. Tahun 1979, untuk pertama kali, LBH menerbitkan laporan tentang keadaan hak-hask asasi manusia di Indonesia, yang menjadi asal-mula laporan serupa yang diterbitkan secara rutin sampai sekarang.

Todong merasa berhutang budi pada LBH, yang disebutnya sebagai almamaternya yang kedua. Lembaga bantuan hukum itulah katanya yang membuka mata dan hatinya untuk bergumul secara lebih intens dengan soal-soal hukum, soal-soal keadilan. ”Dan saya kira pada akhirnya itu yang membawa saya sampai pada posisi seperti sekarang,” katanya. Di sini dia juga menyaksikan bagaimana Fauzi, temannya sesama mahasiswa yang dia masuk ke LBH, menjadi seorang yang kemudian menggugah kesadarannya tentang betapa agungnya perjuangan yang seseorang tak mengenal pamrih. Fauzi bergerak untuk menyadarkan buruh tentang ha-hak mereka dengan mengunjungi mereka dari rumah-ke-rumah. Jauh dari gemerlap publikasi. Fauzi meninggal karena sakit. Ketika membacakan elegi untuk Fauzi, sebagai salah seorang penerima Yap Thiam Hien Award, Todung kelihatan menangis di atas panggung Hotel Borobudur, di mana acara itu berlangsung pertengahan Desember lalu.

Jalan yang dia tempuh memang tidak mudah, tetapi nasib baik menyertai Todung. Gerakan mahasiswa yang menuntut perubahan terhadap jalan yang ditempuh pemerintah, yang menyebabkan ketimpangan sosial yang parah, mencapai puncaknya 15 Januari 1974. Simbol-simbol Jepang, yang dituduh mengeduk keuntungan dari keadaan perekonomian Indonesia waktu itu, menjadi sasaran. Gedung Astra di Jalan Sudirman, Jakarta, dibakar. Juga Pasar Senen. ”Orde Baru mengalami krisis yang hampir-hampir tidak mampu diatasinya. Terjadi vakum kekuasaan beberapa jam yang seharusnya sangat memungkinkan kudeta,” tulis sosiolog Daniel Dhakidae dalam pengantar ”Dari Kediktatoran sampai Miss Saigon,” sebuah kumpulan wawancara berbagai media dengan TODUNG MULYA LUBIS.

Puluhan aktivis ditangkap dan dihukum waktu itu. Todung seharusnya merasakan risiko dari kesejajaran pikiran dan kegiatannya dengan tokoh-tokoh yang terlibat dalam gerakan tersebut, tapi keajaiban menyelamatkannya. Sepanjang Desember 1973 sampai 14 Januari 1974, dia mengikuti ”Asia Pacific Student Leaders Program,” untuk mengenal Amerika Serikat yang diselenggarakan oleh Departremen Luar Negeri negara itu. Dia berada kembali di Indonesia pada saat gerakan mahasiswa di Jakarta, Bandung, Yogyakarta sudah sampai di puncaknya. ”Dengan demikian namanya mungkin tidak terlalu sering masuk ke dalam catatan para agen intelijen Orde Baru,” kata Daniel dalam pengantarnya.

Selama 18 tahun lamanya dia mengabdi untuk penegakan hukum melalui LBH. Lembaga ini jugalah yang membuka pintu jodohnya. Ketika bertugas selama enam bulan di Surabaya, untuk manangani kasus penggusuran, dia bertemu dengan Dokter Gigi Damiyati Soendoro. Setelah berpacaran selama lima bulan, mereka melangsungkan pernikahan 5 Juni 1983. Lengkaplah sudah yang diberikan LBH kepadanya. Jalan baru terbuka di depannya. Todung harus mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Lantas dia mendirikan kantor pengacara Lubis Santosa & Maulana.

Dia tidak mengatakan ada batas waktu untuk pengabdian. Ada masa untuk terbang tinggi-tinggi, entah ke mana. Dia telah menemukan kesempatan yang baik untuk mengatakan: ”Saya ini sudah kerja selama 18 tahun di LBH. Saya pikir itu sudah cukup lama. Saya kira saya sudah membayar sumbangan sosial saya kepada masyarakat, kepada bangsa.” Sudah saatnya dia memberikan arti yang lebih besar bagi landasan yang turut dia bangun. Dunia aktivis tidak seluruhnya dia lupakan. Sementara hoki-nya sebagai seorang profesional juga membawa keberuntungan. Dia tak suka pada pertanyaan yang menyangkut penghasilannya. Tapi, diperkirakan Todung menerima legal fee antara $375 sampai $550 per jam.

Tapi tak semua kasus membuat koceknya tambah menggelembung. Menjadi mesin uang bukan pilihannya. Ada sesuatu dalam hidup ini yang ingin dia capai. Integritas. Yang dia rambah sejak dia mengenal tulis-menulis, dan malahan menjadi wartawan ”Indonesia Raya” dan ”Sinar Harapan.” Tidak semuanya harus dihitung dengan uang. Katakanlah kasus yang menyangkut pers dan perkara politik. Dan dia bukanlah pengacara yang turut dalam koor besar para advokat ”hitam” yang disindir publik dengan plesetan, ”Maju Tak Gentar Membela Yang Bayar!”

Ketika memenangkan Jeffrey Winters melawan Menko Ginanjar Kartasasmita, guru besar ekonomi asal Amerika Serikat itu bertanya, ”Berapa utang saya pada Anda?” Jawab Todung: ”Tarif saya dalam dolar, sekian per jam.”
”Kok tinggi sekali?”
”Saya memang mahal.”
”Ya, sudah, kalau begitu, saya tidak bayar.”
”Nggak apa-apa!”
Sebagai imbalan jasanya, Jeffrey membelikan satu stel jas. Tetapi, apa mau dikata, begitu dicoba, jas itu kedodoran!
Pengabdian yang panjang, popularitas yang mengawang, kemapaman finansial yang sudah tercapai, apakah itu puncak yang menjadi obsesi Anda? Todung tidak kaget dengan pertanyaan yang diajukan tim TAPIAN. Dia sudah siap dengan jawaban tentang rencanya untuk meletakkan dasar yang lebih kuat lagi pada landasan yang sudah dia bangun selama dia menjadi aktivis.

Usia saya sudah 60. Sudah waktunya fading out. Saya ini sudah tidak seratus persen pengacara. Jadi, saya keliling, berkhotbah untuk penegakan hukum, untuk transparansi. Masalah yang dihadapi kantor saya, ada sekitar 30 lawyer yang menangani.”
Baginya, penegakan hukum kita sekarang carut-marut. Pasal pencemaran nama baik, sekarang tidak boleh lagi dipertahankan, harus dicabut, paling tidak teman-teman media mengatakan itu. Kesadaran baru ini menguatkan gerakan untuk tumbuhnya good governance, tata-kelola pemerintahan yang baik, dan tata kelola perusahan swasta yang baik.

Pada kasus Prita ada unsur kolusi di sana. Kemarin baru terungkap bahwa selama ini jaksa-jaksa yang menangani perkara itu mendapat check up gratis dari Rumah Sakit Omni International.
Apa itu korupsi? Mencuri itu ’kan dalam bahasa yang lain adalah korupsi. Korupsi itu ada dua kategori. Korupsi karena kebutuhan, atau corruption by needs. Orang korupsi karena tidak punya pendapatan yang memandai. Pegawai negeri yang hanya menerima gaji Rp 600.000 atau satu juta rupiah, tetapi punya anak empat. Bagaimana pun dia tidak bisa hidup satu bulan dari uang tersebut. Dia pasti melakukan korupsi kecil-kecilan, karena korupsi besar dia tidak mungkin lakukan. Dia tidak dalam posisi mengeluarkan izin yang memerlukan sebuah tanda tangan yang bisa dijadikan uang.

Orang-orang kecil mungkin tidak tahu apa yang dia lakukan. Jadi mungkin juga dia beranggapan masa’ hanya mencuri semangka bisa dipenjara. Nah, hal semacam ini bisa terjadi. Jaksa dan hakim harus punya rasa keadilan dalam menghadapi kasus-kasus seperti ini.
Korupsi kategori kedua adalah korupsi gede-gedean, corruption by greed atau korupsi karena rakus. Ini dilakukan oleh pejabat-pejabat yang mengeluarkan izin usaha. Nah, ini adalah korupsi karena memiliki kekuasaan. Korupsi yang terjadi karena kuasa yang diberikan tanpa kontrol.

Korupsi juga bisa dilakukan oleh mereka yang punya knowledge, punya pengetahuan. Misalnya, dengan mengotak-atik teknologi, dengan memindahkan uang dari rekening yang satu ke rekening yang lain. Dengan kemampuan menggoreng saham, mereka bisa menghasilkan uang yang banyak. Dan dengan kemampuan membuat proposal yang baik ke satu instansi pemerintah daerah, seseorang bisa mendapat satu proyek. Nah, ini semua adalah korupsi gede-gedean.

Kalau dilihat dari perspektif hukum, hukum di Indonesia ini kan tidak satu. Apakah penduduk di kampung, orang yang buta huruf, bisa mengerti hukum? Yang mereka tahu hanya hukum adat mereka yang tidak tertulis itu, yang merupakan warisan nenek-moyang mereka. Dengan sikap seperti itu, mereka tidak menganggap hal itu mencuri. Nah, ketika menghadapi kenyataan seperti ini, hakim kan mestinya arif dan bijaksana. Orang yang hanya mencuri kakao masa’ harus dihukum. Orang yang mencuri semangka itu tidak layak dihukum karena masalah ini ada acuannya dalam hukum adat setempat.

Pendidikan kita kan belum bisa memberikan pencerahan dan kesadaran bahwa ada hak dan kewajiban kita di dalam hukum. Itu dalam perspektif yang sangat sederhana. Soal Prita, dia tidak lagi orang yang miskin sama sekali, dan dia pasti tahu hukum. Dia orang yang terdidik yang memamfaatkan teknologi dalam memperjuangkan haknya, tetapi kemudian dijebloskan ke dalam penjara.

Fenomena terjadi adalah ketika simpati publik mendukung dia. Kasus hukum Bibiet dan Chandra dalah puncak dari gunung es permasalahan hukum kita, carut-marut hukum kita. Selama ini KPK memberantas korupsi dengan berani. Tetapi, karena adanya kepentingan, maka muncul kriminalisasi terhadap KPK.

Ketika saya masuk dalam Tim-8, kita panggil semua yang berkaitan. Ternyata tuduhan terhadap Bibiet dan Chandra tidak menemukan bukti bahwa mereka menyalahgunakan wewenang dan menerima suap. Maka, tidak ada pilihan lain kecuali harus membebaskan mereka berdua. Tetapi, puncak penghinaan terhadap nalar kita adalah ketika seorang Anggodo bisa mengatur kejaksaan dan kepolisian. Dan, nyatanya, sampai saat ini Anggodo belum juga ditangkap. Padahal, tidak harus ada laporan dari siapa pun, polisi sudah bisa menangkapnya dengan fakta-fakta yang ada. Tetapi, alasan polisi untuk tidak menangkapnya karena tidak ada yang melapor.

Sambil menunjukkan foto Anggodo dalam pakaian resmi sebagai sindiran facebookers, Todung menganggap pengakuan Anggodo dalam rekaman yang diperdengarkan Mahkamah Konstitusi merupakan penghinaan terhadap korps kepolisian. Perkembangan yang menarik dari gerakan ”Parlemen dunia maya” ini adalah tiada ideologi. Ada dari Islam garis keras, Muhammadiyah, NU, Kristen dan siapa saja. ”Parlemen dunia maya” ini sangat kuat, bisa menghimpun jutaan facebookers. Walaupun di lapangan barangkali mereka hanya bisa menghimpun seribu orang, karena masalah penghimpunan massa di lapangan sudah lain soalnya.

Carut-marut penegakan hukum ini menjadi dosa kolektif kita, tidak boleh mempersalahakan satu pihak. Wartawan pun juga ada yang menyalahgunakan profesinya. Kita tahu beberapa wartawan yang menjadi calo hukum. Di daerah, halaman surat kabar bisa dibeli. Jadi, ada juga dosa wartawan.

Angin dan badai ketidakadilan tidak akan ada ujungnya. Karena itu payung-payung yang mulia di bidang hukum tumbuhlah lebih banyak lagi. Dan, Todung Mulya Lubis janganlah tinggalkan medanmu …

 

Ir. Dodid Murdhohardono, MSc

No Comments

Kepala Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan

Konsisten dengan cita-citanya untuk keluar dari kota kelahiran, membuat Ir. Dodid Murdhohardono, MSc, pria kelahiran Kota Pelajar, Yogyakarta 29 September 1955 ini memilih merantau ke Bandung, Jawa Barat. Pilihan karier yang diambilnya adalah menjadi seorang pegawai negeri sipil (PNS).

“Saya alumni UGM tahun 1974 dan Alhamdulilah lulus tahun 1981, sejak 1981 itu saya diterima sebagai pegawai harian dan diangkat sebagai PNS tahun 1983 sampai sekarang,” kata Kepala Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan ini.

Dodid –panggilan akrabnya- sangat bersyukur atas pekerjaan yang didapatnya tersebut. Ia pun menekuninya dengan sepenuh hati atas karunia Tuhan yang dianugerahkan kepada dirinya. Apalagi mengingat masa kecilnya yang sangat sederhana karena berasal dari keluarga tidak mampu semakin memacu semangat kerjanya.

Perlahan namun pasti, jenjang karier Dodid pun meningkat setapak demi setapak. Setelah resmi menjadi PNS, ia kemudian diangkat menjadi Kepala Seksi. Berkat ketekunan dan kepintarannya, jabatannya terus naik. Puncaknya sejak satu tahun terakhir, ia menjabat sebagai Kepala Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan.

“Saya sebenarnya berasal dari keluarga tidak mampu. Sejak SMP saya membantu orang tua bekerja sebagai penjahit. Pekerjaan menjahit terus saya jalani sampai saya mahasiswa. Kalau mahasiswa zaman dahulu lulusnya lama sekali sudah wajar, tetapi saya lebih lama karena ditambah dengan ketiadaan biaya sehingga saya harus ikut proyek dosen terlebih dahulu. Karena kalau mengandalkan ikut kerja di orang tua sudah tidak ‘nutut’ lagi. Akibatnya thesis saya baru selesai setelah tiga tahun” tegasnya.

Menurut Dodid, ketertarikannya kepada Ilmu Geologi tidak lepas dari kecintaannya kepada alam dan lingkungan. Tidak heran, sejak SMA ia sudah tergabung dalam kegiatan pecinta alam dan sangat menggemari kemping serta kegiatan luar ruangan lainnya. Hal inilah yang membuat ia tidak pernah mengeluh ketika harus bertugas di lapangan selama beberapa hari atau bulan. Begitu juga dengan keluarganya yang menjadi terbiasa ketika harus ditinggal selama beberapa bulan ke luar Jawa untuk melaksanakan tugas.

“Alhamdulilah, karena kita orang geologi keluarga juga mendukung dan terbiasa ketita ditinggalkan berminggu-minggu di lapangan. Dulu malah hitungannya bulanan baru pulang ke rumah. Dahulu kita membantu Departemen Transmigrasi ke Sumatera atau Kalimantan itu bisa tiga bulan baru pulang. Kalau sekarang tinggal satu atau dua hari sehingga sudah tidak masalah,” kata ayah lima orang anak dari pernikahannya dengan Mara Romdonah ini.

Ir. Dodid Murdhohardono, MSc menungkapkan bahwa sesuai dengan tugas dan fungsinya, Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan bersifat inventarisasi data dan penelitian. Tetapi sejak berubah nama, tugas lembaga yang dipimpinnya semakin berat.

“Kita memiliki tiga bidang tugas, yaitu air tanah, geologi teknik dan geologi lingkungan. Dalam bidang air tanah mempunyai tugas inventarisasi dan penelitian air tanah serta kebijakan dalam pengelolaan air tanah di seluruh Indonesia. Dalam mengatasi beberapa kendala pada pembangunan infrastruktur maupun bangunan strategis, bidang geologi teknik mempunyai tugas untuk memmecahkan permasalahan tersebut. Karena selama ini UU Penataan Ruang dan Peraturan Pemerintah mengenai Tata Ruang dari sektor ESDM sering tidak terakomodir dalam Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi maupun Kabupaten/Kota sehingga dari bidag geologi lingkungan mempunyai tugas untuk memberikan substansi sektor ESDM pada revisi tata ruang nasional, provinsi mapun kabupaten/kota,” tandasnya.

“Tahun ini diharapkan 290 Perda Tata Ruang dapat diselesaikan revisinya, di dalamnya sektor ESDM harus memasukan kawasan peruntukan pertambangan (KPP) dalam setiap RTRW, karena kalau KPP tidak terakomodir dalam setiap RTRW, maka kegiatan ESDM di provinsi dan kabupaten/kota tidak akan bisa dilaksanakan,” tegasnya.

Permukaan Air Tanah Turun

Dodid menjelaskan salah satu tugasnya adalah menjaga ketersediaan air tanah. Dengan proses terbentuknya air tanah yang mencapai ratusan bahkan ribuan tahun sampai bisa diambil di mata air atau di sumur, kekritisan air bersih di perkotaan bisa dibilang menjadi persoalan yang sering terjadi. Saat ini di kota-kota besar sudah mengalami kekritisan air bersih, sementara di daerah itu kekeringan sudah secara rutin terjadi setiap tahun. Akibatnya, permukaan air tanah semakin turun yang menimbulkan daya rusak, karena diambil dalam jumlah besar secara terus menerus oleh industri dan masyarakat, air tanah semakin tergedradasi dan menyebabkan air laut masuk menggantikan posisi air tanah.

Efek lainnya dari pengambilan air tanah secara terus menerus adalah permukaan tanah yang turun, di Jakarta penurunan permukaan tanah mencapai kecepatan yang sangat mengkhawatirkan. Seperti Kemayoran dengan kecepatan sekitar 4 cm per tahun sementara Cengkareng setiap tahun permukaan tanah melesak sedalam 9-10 cm.

“Oleh karenanya banjir di Jakarta menjadi sulit diantisipasi. Oleh karena itu, karena permukaan tanah sudah tidak bisa dinaikkan lagi kita harus mengerem penurunan itu. Salah satunya adalah dengan membatasi pengambilan air tanahnya, karena itu menjadi penyebab penurunan permukaan tanah. Yaitu, sebelumnya pada pori-pori tanah ada air tanah tetapi setelah diambil air tanahnya maka tekanan air porinya menjadi berkurang dan tanah mengalami pemampatan. Inilah daya rusak air tanah, mulai penurunan muka tanah, infiltrasi air laut dan lain-lain,” tegasnya.

Menurut Dodid, kondisi serupa tidak hanya terjadi di Jakarta saja, tetapi juga Semarang dan Bandung. Di Semarang bahkan jauh lebih parah karena termasuk jenis tanah muda yang baru terbentuk ratusan tahun yang lalu. Ditambah adanya luapan air laut atau rob yang menyebabkan rata-rata penurunan tanah mencapai 9 cm per tahun di panati Semarang ke arah timur.

Sedangkan yang terjadi di Bandung -menurut pendapat ahli geologi merupakan tanah lunak yang mengalami pemampatan dengan kecepatan penurunan tanahnya mencapai 6 cm per tahun. Salah satu akibatnya, Sungai Citarum terus membanjiri wilayah Bandung Selatan setiap tahun di musim penghujan. “Kalau kita harus mengatasi masalah ini harus dilakukan secara holistic. Ya menanggulangi banjir, penurunan muka air tanah, kemudian reboisasi di daerah hulu juga harus dilakukan,” imbuhnya.

Saran yang diberikan kepada masyarakat di wilayah Jakarta dan Semarang adalah untuk mengoptimalkan PDAM dengan melakukan treatment dari air permukaan menjadi air bersih. Karena air tanah sudah semakin tergedradasi dan membahayakan bagi lingkungan. Sebagai seorang ahli, setiap dua tahun sekali instansi yang dia pimpin memetakan daerah konservasi air tanah untuk menetapkan zona rawan, kritis atau masih aman.

“Di Jakarta, kerusakan sudah terjadi di wilayah Pulogadung, Kamal dan Kota. Jadi kita beritahukan ke Pemda, bahwa dalam sampai kedalaman tertentu sudah tidak boleh ada bor baru sesuai dengan tingkat kerusakannya. Mungkin yang boleh diambil hanya di kedalaman di bawah 250 meter,” tegasnya.

Menurut putra ketiga pasangan R Sutrisno Hadiwinoto dan Mursidah ini, sebenarnya semua permukaan tanah menjadi daerah resapan air, khususnya dengan tanah berkontur pasir. Dalam kasus ini, hanya tanah lempung yang tidak bisa menyerap tanah sehingga harus dibor terlebih dahulu untuk mengetahui lapisan pasir dalam membuat sumur resapan. “Kalau tanah lempung percuma karena tidak mampu menyerap air.

Kita juga berharap pemda memiliki saluran resapan, seperti saluran irigasi yang tidak tertutup. Kita juga sarankan untuk membuat kolam resapan untuk permukaan, kemudian kita harus buat sumur resapan dalam. Kalau di Jakarta di situ yang masih bagus kita buat sumur resapan dalam, kita bor dan disalurkan ke dalam tanah secara gravitasi,” kata pengagum Bung Karno ini.

Dodid menambahkan, sejak tahun 1995 selain tugas regulasi dan inventarisasi, lembaga yang dipimpinnya juga diharuskan menyediakan air bersih di daerah sulit air. Kita tahun ini diminta menyediakan air bersih mulai dari Gunung Kidul sampai Nusa Tenggara Timur yang berbatasan dengan Timor Leste. “Kalau semua tugas sudah dapat terlaksana dengan baik sudah menjadi satu kebanggaan tersendiri. Karena tugas kita meliputi seluruh Indonesia yang meskipun tidak terkenal, tetapi tugasnya cukup berat,” ujarnya.

Ir. Dodid Mudhohardono, MSc meminta kepada generasi muda untuk melihat semua kegiatan, baik penambangan, pengambilan air tanah, minyak atau gas dari sisi lingkungan. Karena dengan begitu, pembangunan khususnya di sektor ESDM terus berkelanjutan. Mengingat kegiatan-kegiatan pertambangan selalu mengubah lingkungan yang ada.

Sementara bagi orang luar, kegiatan pertambangan mempunyai image jelas merusak lingkungan. Sehingga bagaimana kita mengubah fungsi dan peruntukan wilayah tersebut, dan setelah selesai kegiatan penambangan kita kembalikan atau dilakukan reklamasi, meskipun tidak kembali seperti semula, tetapi kita atur sesuai lingkungan yang ada. Makanya kementerian ESDM tidak hanya menggarap tambang, tetapi juga perencanaan paska penambangan,” imbuhnya.

Sekilas Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan (PAG)

Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan (PAG) adalah salah satu unit kerja di bawah Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. PAG mempunyai latar belakang sejarah sejak tahun 1978 dengan nama Direktorat Geologi Tata Lingkungan. Tahun 2001 berubah nama menjadi Direktorat Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan. Pada tahun 2005 berubah nama menjadi Pusat Lingkungan Geologi dengan perubahan tugas yang bertitikberat ke arah penelitian dan pelayanan. Dan terakhir pada tahun 2010 berubah nama lagi menjadi Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan.

Visi Pusat Lingkungan Geologi
Mejadi institusi rujukan dalam bidang penelitian, penyelidikan, dan pemberian rekomendasi serta penyediaan, pengelolaan dan pelayanan yang terpercaya dalam mewujudkan pengelolaaan air tanah, pengelolaan pengawasan pertambangan, penataan ruang, dan pengembangan wilayah berbasis geologi lingkungan.
Misi Pusat Lingkungan Geologi

1. Mewujudkan informasi geologi lingkungan, geologi teknik dan air tanah yang handal serta rujukan untuk rekomendasi penyusunan kebijakan dan pengaturan, pedoman dan prosedur penelitian implementasi pengelolaan tata ruang dan lingkungan
2. Mencapai rekomendasi geologi lingkungan, geologi teknik dan air tanah yang dipergunakan dalam setiap penyusunan tata ruang, pengelolaan lingkungan dan air tanah, rekontruksii dan rehabilitasi lingkungan pasca bencana
3. Mencapai pelayanan informasi bidang geologi lingkungan, geologi teknik dan air tanah yang efektif, memuaskan pelanggan dan menjangkau masyarakat luas
4. Menjadikan sumber daya manusia dan organisasi sebai rujukan terpercaya dan mitra terdepan dalam bidang penelitian dan pelayanan informasi geologi lingkungan, geologi teknik dan air tanah

Sumber Daya Manusia
Dengan kekuatan lebih kurang 150 tenaga ahli, Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan telah menghasilkan beberapa produk yang antara lain berupa Peta Hidrogeologi skala 1 : 250.000, Peta Konservasi Airtanah skala 1 : 100.000, Peta Geologi Teknik skala 1 : 100.000, Peta Gerakan Tanah skala 1 : 100.000 dan Peta Geologi Lingkungan skala 1 : 100.000.

Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan juga telah banyak melaksanakan beberapa proyek kerjasama teknik dalam bidang Geologi Lingkungan, Geologi Teknik dan Air Tanah baik dengan lembaga atau instansi dalam negeri seperti: Kantor Menteri Lingkungan Hidup, Bapedal dan Bapedalda, Departemen Pekerjaan umum, Bappeda, Dinas Pertambangan, Dinas Sosial, Dinas kebersihan dan Pertamanan maupun lembaga internasional seperti : BGR (Jerman), USGS (Amerika Serikat), AMF (Australia), AQUATER (Italia), GSJ, JICA, SEC dan ERSDAC (Jepang), ITC (Belanda), SGU (Swedia) serta CCOP. Dalam rangka ikut membantu dunia pendidikan, Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan menerima kerja praktek bagi pelajar dan mahasiswa dari berbagai Sekolah dan Perguruan Tinggi baik dalam maupun luar negeri untuk bidang komputer, SIG dan geologi.

 

DR. Ir. Cahyono Agus Dwi Koranto, M.Agr.Sc

No Comments

Kepala KP4 Universitas Gajah Mada Yogyakarta

Pendidik Adalah Agent of Change dan Penentu Kualitas Sumber Daya Manusia

Di belahan dunia manapun, peran seorang pendidik sangat penting. Meskipun sistem pendidikan suatu bangsa dirancang dengan canggih dan modern, tanpa pendidik tidak bisa diaplikasikan dengan baik. Sebaliknya, rancangan sistem pendidikan yang sederhana pun akan menjadi hebat ketika disampaikan oleh seorang pendidik yang handal.

Pentingnya seorang pendidik dalam memajukan sebuah bangsa telah dibuktikan oleh Jepang. Negara yang pernah luluh lantak pada Perang Dunia II (tahun 1942-1945) dan hancur karena tsunami 2010 tersebut dengan cepat bangkit menjadi kekuatan ekonomi nomor satu dunia. Usai PD II, Kaisar Jepang yang mengetahui kehancuran akibat perang tidak pernah menanyakan jumlah korban di pihaknya. Pertanyaan pertama yang terlontar adalah berapa jumlah guru yang tersisa untuk mendidik generasi muda mengejar ketertinggalan.

Hasilnya menakjubkan, Jepang tumbuh menjadi negara yang sangat perkasa. Ekspansi yang dilakukan terhadap bangsa-bangsa lain tidak lagi berupa invasi pasukan bersenjata. Jepang “hanya” membanjiri seluruh pelosok dunia, dari negara maju sampai terbelakang, dengan produk-produk yang dihasilkan industrinya. Dari produk elektronik sampai otomotif, industri Jepang berhasil menggusur produsen ternama dari Eropa dan Amerika. Semua itu, dihasilkan oleh lembaga pendidikan, sistem pendidikan dan tenaga pendidik handal yang dimiliki Negeri Matahari Terbit.

“Profesi sebagai pendidik sangat mulia, karena menjadi agent of change dan penentu kualitas sumber daya manusia yang diberi amanah oleh Allah SWT sebagai khalifah di bumi ini. Ilmu yang disampaikan kepada anak didik akan menjadi amal jariyah dan diamalkan secara nyata untuk kemakmuran rakyat dan bangsa. Sebagai dosen, kita mempunyai kesempatan luas untuk menimba ilmu sampai derajat tertinggi di negara maju. Ini juga merupakan amanat pemeluk agama Islam, agar menuntut ilmu meski sampai negeri yang tak mengenal agama, seperti China,” kata DR. Ir. Cahyono Agus Dwi Koranto, M.AGR.SC.

Kepala KP4 Universitas Gajah Mada Yogyakarta ini menegaskan bahwa negara-negara maju berhasil membangun bangsanya berdasarkan ilmu pengetahuan. Yang mana, ilmu pengetahuan sangat krusial dan nyata bagi percepatan kemajuan bangsa. Namun, ilmu pengetahuan hanya menjadi sebatas pajangan di rak-rak buku ketika tidak ada pendidik untuk “merangsang” generasi muda mempelajarinya. Oleh karena itu, salah satu motivasi dirinya menjadi seorang dosen adalah agar mempunyai mempunyai peran dan mampu berkontribusi nyata dalam pembangunan bangsa. “Saya ingin mempunyai peran dan kontribusi nyata,” tegasnya.

Cahyono, merasa bersyukur dapat berkiprah di lembaga pendidikan tinggi dengan jabatan fungsional. Karena akan memungkinkan baginya untuk secara leluasa namun penuh tanggung jawab mengembangkan seluruh potensi dan kemampuannya secara optimal. Selain itu, dunia pendidikan memiliki hambatan struktural dan birokrasi yang tidak seketat pada instansi pemerintah lainnya. Bahkan, kenaikan pangkat yang biasanya sangat tergantung urutan dan kedekatan pada atasan, tidak berlaku di dunia pendidikan.

“Dengan jabatan fungsional dosen, maka penilaian dan kenaikan pangkat lebih didasarkan pada kinerja Tridarma Perguruan Tinggi yang ditekuni. Kesempatan untuk mengembangkan diri maupun orang lain akan terbuka lebar. Kreativitas, inovasi, pengembangan serta kontribusi diri pada bangsa dan negara dapat dikembangkan lintas sektoral tanpa batas sesuai potensi diri tanpa terlalu tergantung pada faktor atasan dan birokrasi. Meskipun demikian, semua masih dalam koridor aturan yang berlaku,” tegasnya.

Dekat Dengan Ibunda

DR. Ir. Cahyono Agus DK M.Sc menikah di Klaten pada tanggal 24 Desember 1993 dengan Ratih Subekti, SH. Dari pernikahannya, pasangan ini dikarunia dua orang anak, Imamuddin Jati Wicaksono (SMAN 2 Yogyakarta) dan Pita Asih Bekti Cahyani (masih di SMPN 1 Yogyakarta). Sebagai orang tua Cahyono tidak pernah memaksa kedua anaknya untuk belajar keras agar nilainya bagus. Kepada mereka hanya dijelaskan pengertian bagaimana arti penting belajar bagi masa depannya sendiri.

“Mereka sadar dengan sendirinya tanpa harus disuruh-suruh. Dalam hal cita-cita, saya tidak pernah memaksa kelak akan menjadi apa. Yang penting saya mengarahkan agar cita-citanya tercapai. Karena setiap anak mempunyai potensi masing-masing, seperti putra pertama beliau yang dari TK sudah kelihatan bakatnya di bidang teknologi tinggi serta berkeinginan menjadi pilot pesawat terbang. Maka yang bisa saya lakukan adalah dengan selalu mendukungnya,” ujarnya.

Anak pertamanya pernah mendapatkan penghargaan dalam finalis lomba Karya Tulis dengan tema “Sanitasi Untuk Kehidupan Yang Lebih Baik”, yang diselenggarakan oleh Departemen Pekerjaan Umum RI tahun 2008. Selanjutnya, pada tahun 2009, mendapatkan medali emas dalam lomba National Young Innovator Awards ke-2 (NYIA II) yang diselenggarakan LIPI Jakarta. Tahun ini, sulungnya tersebut sedang mengikuti NYIA IV LIPI. Putranya memiliki hobi fotografi dan pernah menjadi juara I lomba foto di sekolahnya pada tahun 2011 ini.

Sedangkan anak kedua, lebih menyenangi bidang sosial, kebudayaan dan kesehatan. Meskipun baru sekolah pada tingkat SLTP tetapi kegiatanya cukup menyita waktu. Mulai aktif sebagai pengurus PMR (Palang Merah Remaja), Dewan Penggalang Pramuka sampai ekstrakurikuler tarian tradisional selalu diikuti di sekolah. Bahkan, tahun 2011 ini pernah meraih Juara I Lomba Tari di sekolah.

Cahyono banyak belajar dari ayahnya, Rubijo Rachmad Wijono -seorang anggota TNI AU- dalam memberikan didikan kuat dalam hal kedisiplinan serta rasa syukur. Masa kecilnya yang indah dihabiskan untuk membantu tugas-tugas rumah tangga. Sebagai anak tertua, ia tidak segan-segan untuk membantu ibunya, Sundariyah, belanja di pasar. Tanpa malu-malu, ia membeli segala sesuatu yang telah dicatatkan ibunya. Ia bahkan menyiapkan seluruh bahan masakan agar selepas tugas bekerja di Kantor Pos, ibunya tidak terlalu capai.

“Saya sangat dekat dengan ibunda, namun sayang belum bisa banyak membalas kebaikannya, karena wafat pada tahun 1997. Ketika ayah pensiun dan mengisi hari tuanya dengan membuka toko kelontong kecil di dekat rumah, saya sering menemani ibu berjualan di warung kalau tidak praktikum. Kadang saya mengantarkan minyak tanah ke pelanggan dengan menggunakan sepeda butut yang saya punyai. Sebagai anak lelaki tertua, setiap sore juga mendapat tugas menimba air sumur dan mengisi bak mandi. Maka ketika saya mendapatkan rapelan beasiswa saat semester V uangnya dipakai untuk membeli pompa air listrik. Tugas saya menjadi lebih ringan,” terangnya.

Menurut Cahyono, profesi di bidang pendidikan tidak akan pernah mati dan terhenti. Prinsip “life long education” juga menjadi bagian komitmen pribadi yang dipegangnya dengan teguh. Ia telah menetapkan, bahwa setelah purna tugas nanti akan tetap mengabdi pada bangsa, negara dan masyarakat Indonesia tanpa henti. Seperti dalam ajaran agama yang dianutnya bahwa ”amal yang tidak putus meskipun kita sudah meninggal adalah amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh dan solehah”.

Cahyono selalu berusaha untuk melaksanakan prinsip yang dipegangnya tersebut dengan sebaik-baiknya. Contohnya dalam proses pembelajaran dan konsultasi dengan para mahasiswa dapat dilakukan setiap waktu dan tempat. Ia juga “melayani” mahasiswa yang konsultasi melalui berbagai multi media, seperti e-learning, web, email, SMS maupun media lain. Di samping itu, ia juga ringan tangan dalam membantu orang-orang yang mengalami kesusaha seperti tsunami di Aceh, tanggul Situ Gintung yang jebol maupun Gempa Bantul, Yogyakarta.

Perbaikan Kualitas SDM

Berbicara mengenai kehidupan berbangsa, menurut DR. Ir. Cahyono Agus DK M.Sc., Indonesia saat ini baru melaksanakan reformasi saja. Namun, reformasi tersebut belum benar-benar total dalam pelaksaannya. Untuk itu, ia berpesan kepada generasi muda agar memilih lingkungan pergaulan dan pendidikan yang baik, selalu gigih berjuang, jangan mudah patah semangat dan tergoda hal-hal yang menyesatkan. Pendidikan (formal, nonformal dan informal) diharapkan mampu menyisipkan wawasan dan konsep secara luas, mendalam dan futuristik tentang lingkungan global dengan memberi kesadaran dan kemampuan kepada semua orang, utamanya generasi mendatang untuk berkontribusi lebih baik bagi pengembangan berkelanjutan.

“Generasi muda harus sadar tentang tanggung jawab individu yang harus dikontribusikan, yang menghormati hak-hak orang lain, alam dan diversitas, serta dapat menentukan pilihan/keputusan yang bertanggung-jawab, dan mampu mengartikulasikan semua itu dalam tindakan nyata. Kita harus ikut bersama mempunyai komitmen untuk berkontribusi dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik, dunia yang lebih aman-nyaman bagi kita semua, baik sekarang maupun di masa mendatang bagi anak cucu kita,” pesannya.

Sosok DR. Ir. Cahyono Agus DK M.Sc selaku kepala/pengelola KP4 UGM tidak hanya sekadar berpesan tetapi juga mencontohkan dengan tindakan nyata. Seperti bagaimana KP4 UGM yang berkat kepemimpinannya menjadi maju dan berkembang pesat. Diharapkan, KP4 UGM kelak bisa menjadi unsur penunjang universitas terkemuka di Indonesia itu, terutama dalam pengembangan Sustainable Life and Environment. Tentu menjadi salah satu kebanggaan bangsa Indonesia memiliki DR. Ir. Cahyono Agus DK M.Sc dengan ilmu yang tinggi dan telah mengabdikan diri untuk negara Indonesia agar tidak tertinggal dari negara lain.

Cahyono sangat menyayangkan, Indonesia yang mempunyai sumber daya alam melimpah tetapi belum dikelola dengan optimal. Penyebabnya, kualitas sumber daya manusia (SDM) yang belum baik. Selama ini, Indonesia dikelola berdasarkan ”resource based development” yang mengandalkan eksploitasi kekayaan alam melimpah tetapi tanpa sistem yang baik. Penambangan dan pemanenan sumber daya alam Indonesia yang berlebihan dan tidak mengindahkan lingkungan dan sosial budaya setempat, telah mengakibatkan kerusakan lingkungan yang amat parah dan kesengsaraan rakyat jelata.

Keuntungan dan kesejahteraan hanya dinikmati oleh segelintir orang penentu kebijakan atau bahkan lebih parah oleh orang asing. Untuk itu, kekayaan alam Indonesia harus dikelola berdasarkan “knowledge based development” sehingga mempunyai nilai tambah dan mampu menyejahterakan masyarakat secara keseluruhan. Peran Perguruan Tinggi didalam melakukan inovasi teknologi dan menyediakan sumber daya manusia yang handal diharapkan mampu mempercepat pencapaian kesejahteraan masyarakat yang adil dan beradab di Indonesia.

Menurut pengamatan Cahyono, saat ini banyak generasi muda yang terjun dalam kancah politik tanpa bekal dan pengalaman yang cukup. Euforia dan sistem politik Indonesia telah memberi kesempatan akses seluasnya kepada setiap warga negara untuk berpolitik praktis, asal melalui saluran partai politik yang legal. Namun demikian, karena sistem politik yang terbentuk belum optimal, maka upaya jalan pintas dan instan para pelaku politik praktis melalui “money politik, KKN, ancaman, pelanggaran etika moral, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, aji mumpung dan sebagainya” justru tumbuh subur dalam sistem politik Indonesia.

“Sistem regenerasi kader dan perekrutan yang tidak optimal, justru semakin memperburuk kehidupan bertata negara kita. Era reformasi justru menumbuh-suburkan dan memperluas perilaku korup pada seluruh pelaku politik, sebagaimana dilansir oleh Transparansi Indonesia. Untuk itu, pendidikan politik dan kaderisasi harus dilakukan secara berjenjang dan memberikan wawasan ‘Sustainable Development’ agar sinergisme aspek ekonomi, aspek lingkungan dan aspek sosial budaya dapat terjadi secara harmonis,” ungkapnya.

Cahyono menegaskan agar politik uang yang merajalela harus dipangkas dan digantikan dengan sistem yang mampu memaksa para pelaku politik berkontribusi nyata bagi perbaikan sistem tata negara dan kehidupan yang lebih baik. Nurani yang masih tersisa dalam setiap insan politik perlu dimunculkan dan dijadikan landasan etika moral berpolitik yang amanah dan bertanggung jawab. Pendidikan terstruktur secara formal, informal dan non formal tentang pengembangan karakter, akhlak mulia, etika, tepo seliro harus diajarkan dan menjadi dasar bertindaknya para penguasa, pengusaha, penegak hukum, pemimpin dan seluruh masyarakat.

Perjalanan Karier

Cahyono Agus adalah sulung dari pasangan Rubijo Rachmad Wijono dan Sundariyah. Lahir pada tanggal 10 Maret 1965, Cahyono dibesarkan dalam situasi penuh disiplin ala militer. Maklum, ayahnya adalah seorang prajurit TNI AU yang mengamalkan Sapta Marga dengan penuh tanggung jawab. Meskipun demikian, ayahnya juga yang selalu menekankan kepada putra-putrinya bahwa pendidikan itu sangat penting, sehingga mereka harus memprioritaskan kepentingan sekolah.

“Orang tua berpesan bahwa mereka tidak dapat mewariskan harta, namun akan mempersiapkan agar kami, anak-anaknya, mempunyai bekal ilmu yang memadai. Dengan ilmu tersebut, maka kami bisa mendapatkan harta, harkat dan martabat yang lebih baik untuk diterapkan bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat,” tegasnya.

Cahyono menyelesaikan pendidikan formal di SD Taman Siswa Ibu Pawiyatan Yogyakarta, kemudian SMP N 2 Yogyakarta, dilanjutkan SMA N 3 (3 Bhe Padmanaba) Yogyakarta. Pendidikan S1 ditempuh di Universitas Gadjah Mada serta mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan program Master dan Doktor di Tokyo Jepang. Pada tahun 2003 pernah mendapat juara 2 Kontes Thesis seluruh Jepang dan tahun 2008 meraih penghargaan sebagai dosen DPL terbaik di UGM. Tahun 2011 ini, Cahyono sedang diusulkan dalam jabatan Guru Besar atau Profesor bidang Ilmu Tanah Hutan pada Fakultas Kehutanan UGM, sehingga diharapkan akan menjadi profesor termuda di fakultasnya.

Cahyono Agus pernah memenangkan kompetisi dana hibah penelitian RUK-IV, RUT XII, Hibah Bersaing, Hibah Kompetensi dari Ditjen Pendidikan Tinggi Depdiknas. Hasil penelitiannya telah dipublikasikan pada berbagai pertemuan ilmiah/seminar internasional di Malaysia, Thailand, Philiphines, Finlandia, Jepang, Hongkong, Amerika, Australia dsb. Beberapa papernya juga dipublikasikan di jurnal internasional seperti New Forest, Forest Environment, Indonesian Journal of Agricultural Sciences, Journal of the Japanese Forest Society, TROPICS, International Journal of Environment, maupun Journal of Japanese Institute of Energy dan sebagainya.

Beberapa buku ilmiah populer yang pernah ditulisnya adalah: “Pengelolaan Bahan organik: Peran dalam Kehidupan dan Lingkungan”, “Pertanian Terpadu untuk mendukung Kedaulatan Pangan Nasional”, dan “Tanaman Langka Indonesia di KP4 UGM”. Bersama para penulis lain yang pernah belajar di Jepang, ikut menulis Buku non fiksi berjudul “La Tahzan for Student”, yang berisi kisah-kisah inspiratif dan perjuangan pelajar Indonesia di Jepang, menjadi buku terlaris terbitan Mizan dan direncanakan akan difilmkan. Tulisan populernya juga beberapa kali dimuat di media cetak di Yogyakarta. Pada tahun 2011 ini, terpilih menjadi salah satu Profil Pendidik dalam buku “Citra Prestasi Indonesia 2020: Pemikiran, Konsep & Stretegi Pribadi Berprestasi”.

Pada tahun 2005-2008, diangkat menjadi Kepala Bidang Tanaman Pertanian KP4 UGM dan diangkat menjadi Kepala KP4 UGM untuk masa jabatan tahun 2008-2012. Pernah menjabat sebagai Direktur Eksekutif PHK-A3 Fakultas Kehutanan, Koordinator program SP4 KP4 UGM, Koordinator Program PBI (Program Pengembangan Ilmu) KP4 UGM, Direktur Eksekutif PSF (Presidential Scholarship Fund) UGM, Direktur Eksekutif program kerjasama KP4 UGM-UNDP (United Nation Development Program), Direktur Eksekutif program kerjasama KP4 UGM-AIP (Australian Indonesian Partnership), Koordinator program kerjasama KP4 UGM dengan IOM (International Organization for Migration). Saat ini, menjabat sebagai Direktur Eksekutif I_MHERE (Indonesia Managing Higher Education for Relevancy & Efficiency) komponen B2c UGM untuk periode 2009-2012 dan Direktur Eksekutif Kerjasama pemanfaatan hasil penelitian dengan KPWN Kemenhut RI mulai 2010.

Cahyono juga aktif terlibat sebagai Reviewer DPT (Dewan Pendidikan Tinggi) Ditjen Dikti bidang PHK (Program Hibah Kompetisi), maupun sebagai Reviewer pada DP2M Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) bidang Akreditasi jurnal ilmiah, Reviewer Ditjen Dikti bidang Penelitian, KKN PPM, disamping sebagai Reviewer penelitian di tingkat Fakultas Kehutanan maupun UGM mulai tahun 2005 sampai sekarang. Saat ini masih aktif sebagai editor pada ‘Jurnal Ilmu Kehutanan’ yang diterbitkan oleh Fakultas Kehutanan UGM dan ‘Jurnal Hutan Tanaman’ yang diterbitkan oleh Balitbang, Kementerian Kehutanan RI.

Profil KP4 UGM

Indonesia adalah negara agraris sehingga pertanian telah menjadi “way of life” dan sumber kehidupan masyarakat. Namun masyarakat mempunyai paradigma pola pikir lama, bahwa pertanian hanya untuk dikonsumsi sendiri. Perlu terobosan baru bahwa pertanian multi-fungsi, artinya dari pertanian bisa sebagai pemasok utama sandang, pangan dan papan bagi seluruh makhluk hidup di dunia. Juga sebagai konservasi alam berkelanjutan, wisata agro, penghasil bio-farmaka dan bio-energi.

Untuk itu, KP4 (Kebun Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan Pertanian/University Farm) UGM Yogyakarta mengembangkan Integrated Farming based Agribussiness System for Sustainable Life and Environment (sistem agribisnis berbasis pertanian terpadu untuk kehidupan dan lingkungan hidup berkelanjutan) yang diharapkan menjadi salah satu alternatif pengelolaan lahan, memakmurkan petani dan pengejawantahan RPPK (Revitaliasi Pertanian, Perikanan and Kehutanan) yang dicanangkan Presiden SBY Juni 2005 lalu.

Disini KP4 UGM seluas 35 hektar didirikan pertama kali tahun 1975 dengan bantuan dari Rockefeller Foundation, USA. Saat ini, proses serta sarana prasarana untuk pembelajaran tentang kehidupan dan lingkungan hidup yang lebih baik, dapat dilakukan langsung di University Farm ini. Para mahasiswa, dosen, pelajar, peneliti, wisatawan dari luar negeri (Jepang, Nambia, Korea dsb) maupun dalam negeri (PT, SMA, SMP, SD, TK, pebisnis, pemda, masyarakat awam dsb) juga pernah melihat langsung dan sangat terkesan dengan konsep EfSD (Eduaction for Sustainable Development, pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan) yang dikembangkan.

Di sisi lain, terjadi perubahan paradigma baru dari Tri Darma Perguruan Tinggi. Dari yang tadinya hanya meliputi pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat yang berdiri sendiri-sendiri akan disinergiskan menjadi research based learning and servives (pendidikan dan pengabdian berbasis penelitian) Kurikulum berbasis kompetensi yang dikembangkan UGM mengharuskan pada mahasiswa agar dapat mengerti (Learn to know), mengerjakan sendiri (Learn to do), menjadi aktor (Learn to be) dan bekerja bersama (Learn to work together), sehingga lulusannya mempunyai kompetensi (competence), komitmen (committment), keberpihakan (compassion), dan nurani (conscience) terhadap masyarakat awam.

KP4 sebagai university farm UGM yang mempunyai visi sebagai universitas riset akan diberdayakan sepenuhnya sebagai wahana untuk tranfer pengetahuan (Transfer of knowledge), ketrampilan (Transfer of skills) dan nilai-nilai luhur (Transfer of values) di bidang pertanian terpadu dengan praktek langsung di lapangan.

Cahyono Agus menerapkan sistem manejemen modern di KP4 UGM dengan memberdayakan 6M (man, money, material, method, machine, management), yang SERBA TEPAT (tepat orang, tepat waktu, tepat cara, tepat tempat, tepat sasaran, tepat bentuk, tepat tujuan), melalui KERJA optimal (kerja keras, kerja cerdas, kerja sama, kerja benar, kerja iklas) dengan cara 4K (komunikatif, koordinatif, konsolidatif dan konstruktif) yang KNPI (kreatif, normatif, produktif dan inovatif) perlu terus diupayakan, MULAI MO-LIMO (mulai dari sekarang, mulai diri sendiri, mulai dari yang sederhana, mulai dari tempat kita dan mulai dengan yang ada) agar revitalisasi pertanian dan lingkungan benar-benar menjadikan adanya kenyamanan hidup yang berkelanjutan bagi petani dan seluruh kehidupan di bumi ini.

Dr. Ir. Cahyono Agus DK, M.Sc selaku direktur membawahi 38 karyawan/staff tetap, sejak tahun 2008 mempunyai peran sangat penting untuk kemajuan dan keberhasilan dari KP4 maupun UGM. Sejak beliau menjabat sebagai kepala KP4, telah berhasil mengembangkan:
1. Program Pengembangan “Program bantuan rumah sementara bagi korban gempa Bantul” sumber dana UNDP (United nation Development Program) dan Bappenas RI jumlah dana Rp. 250.000.000,00 (Dua ratus lima puluh juta rupiah) tahun 2008. Telah berhasil memfasilitasi 125 rumah tinggal sementara yang materialnya dapat digunakan untuk membangun rumah permanen. Pemberdayaan masyarakat dilakukan bersama mahasiswa KKN Internasional dari UGM dan Korea Selatan.
2. Program Pengembangan Bidang Ilmu UGM “Peningkatan Kapasitas KP4 UGM” sumber dana APBN-P Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Depdiknas jumlah dana Rp. 2.667.920.000,00 (Dua milyar enam ratus enam puluh tujuh juta sembilan ratus dua puluh ribu rupiah) tahun 2008. Telah berhasil mengembangkan sistem informasi dan data base tanah, lahan dan iklim, Peningkatan pelayanan pendidikan dan penelitian, Peningkatan keamanan proses dan materi penelitian maupun unit usaha, Pengembangan agribisnis berbasis Integrated Farming , dan Peningkatan mobilitas dan sarana transportasi.
3. Program livelihood AIP (Australian Indonesia Partnership) “ Pemberdayaan industri rumah tangga kecil dan kerajinan sebagai upaya pemulihan sumber kehidupan korban gempa di Desa Trimulyo, Jetis, Bantul” sumber dana AIP (Australian Indonesia Partnership) jumlah dana Rp. 928.000.000,00 (Sembilan ratus dua puluh delapan juta rupiah) Juli 2008. Telah Memulihkan dan perbaikan sumber kehidupan masyarakat pasca gempa di Kalurahan Trimulyo,Jetis, Bantul melalui pengembangan industri kecil rumah tangga agar terdapat peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyrakat berkelanjutan serta penurunan tingkat kemiskinan. Pemberdayaan masyarakat dilakukan bersama mahasiswa KKN Internasional dari UGM dan Korea Selatan, secara berkelanjutan selama 3 periode KKN.
4. Program I_MHERE (Indonesian Managing Higher Education for Relevancy and Efficiency) component B2c sumber dana World Bank dan Kemendiknas dengan dana US$ 3.000.000 (setara dengan Rp. 30.000.000.000, tiga puluh milyar) ditambah dana pendamping sekitar Rp. 5.000.000.000 (lima milyar). Program yang berlangsung tahun 2009-2012 ini dimaksudkan untuk membentuk pusat-pusat unggulan di bidang EfSD (Education for Sustainable Development, pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan) yang juga melibatkan Fakutas Biologi, Fakultas Kehutanan dan Fakultas Farmasi UGM.
5. PSF (Presidensial Scholarship Fund) UGM dengan sumber dana dari Ditjen Dikti untuk memberikan beasiswa bagi 39 kandidat doktor dari 4 pusat unggulan di lingkungan UGM. Program ini selanjutnya diintegrasikan dengan program beasiswa lainnya di lingkungan Ditjen Dikti.

Penelitian Unggulan Layak Publikasi, Layak Paten dan Layak Bisnis di KP4 UGM.

Dibawah Koordinasi oleh Wakil Rektor Senior Bidang Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UGM Yogyakarta dengan dana dari DIPA, berhasil membuat program 10 GAMA. Program penelitian dan pengembangan unggulan pertanian dan peternakan ini telah dipublikasikan di media ilmiah nasional maupun internasional.

Beberapa penelitian juga sedang didaftarkan paten, PVT (perlindungan varitas Tanaman). Rintisan kerjasama dengan KPWN Kemenhut, Kementrian Pertanian, Kementrian ESDM, Kementrian Koperasi, Kementrian Daerah Tertinggal¸ telah dilakukan KP4 untuk melakukan kerjasama pemanfaatan hasil penelitian bagi program kemakmuran masyarakat secara profesional. Program itu diantaranya adalah :
1. GAMA ANGGREK: Perakitan dan Perbanyakan Klonal Kultivar Unggul GAMA Anggrek Phalaenopsis-Vanda-Dencrobium. Penelitian ini bertujuan mendapatkan kultivar baru Gama Anggrek hasil persilangan anggrek lokal. Hasilnya diperoleh kultivar baru “GAMA ANGGREK” yang unggul, sering berbunga, tahan lama, unik, indah, tidak mudah layu dan bernilai jual tinggi.
2. GAMA BIOGAS: Pemurnian biogas metana dengan teknik absorbsi untuk pengemasan dalam tabung bertekanan. Penelitian ini bertujuan memanfaatkan limbah peternakan dan pertanian untuk menghasilkan biogas murni yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif, untuk memasak dan penerangan maupun menggerakan kendaraan bermotor. Hasilnya berupa produk “GAMA BIOGAS” dengan kemurnian tinggi yang praktis, ekonomis, dan marketable. Inovasi ini sangat ramah lingkungan karena mengubah metana yang merupakan emiter karbon berbahaya menjadi sumber energi alternatif terbarukan yang mampu mengurangi pemanasan global.
3. GAMA KARBON: Peningkatan serapan karbon dalam pola tanam tadah hujan pengukuran tingkat emisi-siklus karbon baseline dan benchmark. Penelitian ini bertujuan untuk pengembangan baseline dalam penghitungan emisi gas rumah kaca (CO2) yang berkontribusi besar dalam Global Warming pada sektor pertanian, melalui (i) Teknik pengukuran emisi (CO2), (ii) Informasi mengenai perilaku emisi gas rumah kaca, beserta faktor pengendali lingkungan, dan fisiologi, (iii) Menjadi baseline untuk kegiatan pengamatan tingakat emisi CO2 lebih lanjut, (iv) Inisiasi dalam pemodelan mengenai kemampuan serapan karbon dari beberapa tipe pola tanam tadah hujan. Hasilnya berupa Model emisi “GAMA KARBON” pada sektor pertanian terpadu.
4. GAMA TANI TERPADU: Pengelolaan hara terpadu dalam pertanian terpadu yang berkelanjutan, bertujuan : Pengelolaan hara terpadu menggunakan bahan organik untuk meningkatkan kualitas lahan dan produktivitas lahan serta mensinergiskan pertumbuhan tanaman dalam sistem pertanian terpadu. Hasilnya berupa Pengembangan “GAMA TANI TERPADU” sebagai model Agribisnis berbasis pertanian terpadu untuk kehidupan dan lingkungan hidup yang lebih baik.
5. GAMA SOYA: Optimalisasi diversifikasi produk olahan kedelai hitam lokal sebagai makanan dan pengembangan daging sintetis dan tahu sehat. Tujuan penelitian adalah melakukan perubahan orientasi dan postioning kedelai hitam dari bahan baku olahan pangan biasa menjadi produk olahan pangan kesehatan yang berupa pengembangan Daging Sintetis dan Tahu Sehat yang kaya serat, antosianin, dan isoflavon. Hasilnya berupa pengembangan teknologi pengolahan pasca panen kedelai hitam “GAMA SOYA” menjadi “Daging Sintetis” dan “Tahu Sehat” yang Kaya serat, antosianin, dan isoflavon.
6. GAMA MELON: Pengembangan Melon Varietas Baru “Gama Melon”. Tujuan penelitian adalah: (i) Mengetahui keseragaman dan kestabilan karakter fenotip buah dan benih “Melodi Gama-Basket” sebagai melon unggul yang tahan terhadap penyakit (virus dan jamur tepung), ii) Memperoleh benih melon unggul tahan penyakit serta mempunyai karakter fenotip buah yang unik, seragam, dan stabil sebagai benih melon komersial. Hasilnya: Pengembangan varian melon baru “GAMA MELON” yang unggul, manis, marketable, sehat, dan tahan hama penyakit, tanpa insektisida
7. GAMA AYAM: Peningkatan performance ayam lokal melalui perakitan sumber genetik. Tujuan penelitian adalah mendapatkan karakter fenotip (F1) yaitu warna bulu dan berat badan serta area dan jumlah miofiber otot Pectoralis thoracicus ayam (F1) persilangan antara ayam pelung dengan ayam Parent Stock Broiler Strain Coob-500 sebagai alat identifikasi potensi ayam lokal tipe daging. Hasilnya: Pengembangan “GAMA AYAM” hasil persilangan ayam pelung dan broiler, yang mempunyai daging baik dan pertumbuhan cepat
8. GAMA JAGUNG: Pengembangan Varietas Jagung Unggul “Gama Jagung”. Tujuannya adalah mengembangkan potensi varietas jagung lokal Madura dengan pemuliaan sehingga menghasilkan jagung yang mengandung gen penyandi ketahanan terhadap virus dan kandungan protein tinggi. Hasilnya: Pengembangan varietas baru “Gama Jagung” hasil persilangan jagung lokal Madura yang unggul, mempunyai umur pendek, tinggi dan ukuran sedang
9. GAMA PADI: Pengembangan Teknologi Budidaya Padi Hemat air, Perakitan Kultivar Padi Tahan Kering. Tujuannya mengembangkan teknologi budidaya padi hemat air dengan merakit kultivar padi tahan kering dengan pendekatan koleksi, penyaringan dan percobaan. Hasilnya: Pengembangan kultivar baru “Gama Padi” yang unggul, tahan kering, produksi tinggi, dan marketable
10. GAMA SAPI BALI: Peningkatan mutu genetis sapi bali sebagai ternak potong dan plasma nutfah nasional dengan penerapan bioteknologi pakan dan reproduksi. Tujuannya meningkatkan mutu genetis sapi bali sebagai plasma nutfah nasional maupun sebagai sapi potong dilakukan dengan perbaikan pakan, serta penerapan bioteknologi reproduksi. Hasilnya: Pengembangan mutu genetik sapi lokal “Gama Sapi Bali” yang unggul, pertumbuhan cepat

Visi dan misi KP4 UGM
Visi
Menjadi unsur penunjang universitas terbaik di Asia Tenggara di bidang pendidikan, penelitian dan pengembangan pertanian, makluk hidup maupun lingkungan
Misi
Peran aktif dalam upaya mewujudkan pengelolaan pertanian Indonesia secara berkelanjutan dalam hal produktivitas, diversitas biologi dan kualitas lingkungan maupun kehidupan

Fasilitas di KP4 UGM
 Lahan seluas 35 ha, Rumah kaca 4 unit, Laboratorium dan Lantai jemur, Perumaham dan Guest house 5 unit, Traktor besar 2 unit dan Traktor tangan 5 unit, Alat Prosesing hasil Pertanian, Kendaraan 5 unit, Mushola, Camping Ground, Sarana outbond dan sebagainya
Pengembangan yang dilakukan KP4 UGM
 Laboratorium Daur Ulang Sampah (LDUS). LDUS yang dikembangkan oleh KP4 UGM merupakan bentuk pengembangan fasilitas dan pemanfaatan berbasisi EfSD (Education for Sustainable Development). Daur ulang sampah adalah proses untuk menjadikan suatu bahan baru dengan tujuan mencegah adanya sampah yang tidak dimanfaatkan yang sebenarnya dapat menjadi sesuatu yang berguna, mengurangi polusi, kerusakan lahan, dan emisi gas methane. Pengelolaan sampah organik (daun) untuk dijadikan pupuk organik melalui proses pengomposan. Untuk sementara cakupan pengelolaan sampah meliputi lingkungan UGM serta lingkungan sekitar
 Outbond. Outbond yang dikembangkan oleh KP4 UGM merupakan kegiatan outbond berbasis EfSD (Education for Sustainable Development) yang mana tercipta suasana pembelajaran yang menyenangkan dan aplikatif. Konsep outbond berbasis EfSD ini yang nantinya dikembangkan sebagai center of excellent EfSD tingkat Nasional di KP4 UGM sehingga menunjang adanya program eco-edu-tourism KP4 UGM

Fasilitas outbond yang dimiliki oleh KP4 UGM meliputi:
 Lahan camping ground (± 2 Ha) yang dilengkapi dengan fasilitas MCK (kamar mandi), paket outbond flyingfox bagi anak-anak dan dewasa, showroom (masih dalam pengembangan).
 Guest house (3 unit)
 IM-HERE (Indonesia Managing Higher Education for Relevance and Efficiency), merupakan kegiatan pengembangan di KP4 UGM yang didanai oleh Word Bank yang diperoleh melalui competitive proposal. KP4 UGM memperoleh 2 (dua) kali periode IM-HERE yaitu:
1. IM-HERE b.2b, pengembangan image building dan pengembangan networking KP4 UGM
2. IM-HERE b.2c, melalui kegiatan ini KP4 UGM bekerjasama dengan Fakultas Biologi, Fakultas Kehutanan dan Fakultas Farmasi

Bidang peternakan yang ada di KP4 saat ini mempunyai sapi peranakan Ongole (PO) sebanyak 46 ekor (32 ekor jantan dan 14 ekor betina), pedet PO betina 5 ekor, Sapi perah betina 8 ekor dan pedet perah 1 ekor. Sedangkan Kambing yang dimiliki ada 30 ekor jenis Bligon (4 jantan dan 26 betina), kambing peranakan Etawa (PE) betina ada 10 ekor. Pengembangan bidang peternakan tidak hanya budidaya ternak namun dikembangkan teknologi peningkatan nutrisi pakan yaitu burger pakan sapi dan ikan. Feses sapi yang mana merupakan penghasil methane terbanyak dimanfaatkan sebagai energi biogas yang nantinya digunakan sebagai bahan bakar kompor maupun listrik. Selain feses, urine sapi juga dimanfaatkan sebagai pupuk cair (Liquid Bio Fertilizer) yang dapat menggantikan sebagian pupuk kimia. Teknologi ini dikembangkan guna memperpanjang rantai biologi sehingga diharapkan tidak ada sesuatu yang menjadi sampah atau tidak dimanfaatkan.
Biodata
I. Pribadi
1. Nama Lengkap : Dr. Ir. Cahyono Agus Dwi Koranto, M.Agr.Sc
2. Nama Panggilan : Cahyono
3. Tempat Tanggal Lahir : Yogyakarta, 10 Maret 1965,
4. Pendidikan Terakhir : Program Doktor
5. Tokoh Favorit :
6. Prinsip /Motto Hidup :
 amal yang tidak putus meskipun kita sudah meninggal adalah amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh/ah”
• 6 Kerja (Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas, Kerja Cepat, Kerja Sama, Kerja Benar),
• Serba Tepat (Tepat Cara, Tepat Bentuk, Tepat Situasi, Tepat Kondisi, Tepat Sasaran, Tepat Tujuan, Tepat Tempat, Tepat Waktu, Tepat Orang,)
• KNPI (Kreatif, Normatif, Profesional, Inovatif),
• K3 (Komunikasi, Koordinasi, Konsolidasi),
• Mulai Mo limo (mulai dari diri sendiri, mulai dengan yang ada, mulai dari sekarang, mulai dari tempat ini, mulai dengan cara yang sederhana),
• Pemberdayaan 6M (man, money, material, method, machine, management)

7. Tempat Liburan : Wisata alam

Motto dalam membina Keluarga :
Setiap anak mempunyai bakat dan keunggulan sendiri-sendiri, biarkan berkembang sesuai dengan hati nurani, kita tinggal memfasilitasi dan mendukung agar cita cita anak bias diraih secara optimal

II. Perusahaan/ lembaga
1. Perusahaan / Lembaga yang dimiliki saat ini :
a. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada
Sebagai Dosen
b. Kebun Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan Pertanian (KP4) UGM
Sebagai Kepala
c. Kost Putri Amanah Jl Golo, sebagai pemilik
d. Pondok Makan “Sambal NGASEM” sebagai pemilik
2. Tanggal & tahun pendirian : 2001
4. Jumlah Staff ( karyawan ) : 44 Orang.
5. Penghargaan yang pernah diterima
a Wisudawan terbaik Fakultas Pertanian UGM 1989
b. Dosen DPL terbaik di UGM Tahun 2008
c. Kontes Thesis seluruh Jepang Tahun 2003
6 Kerjasama khusus yang pernah dilakukan
a. United Nation Development Program
b. Australia-Indonesia Partnership
c. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Kementrian Pendidikan Nasional
d. KPWN Kementrian Kehutanan
e. Kementrian Kehutanan