DADAN SUPRIATNO, S.ST

No Comments

DADAN SUPRIATNO, S.ST
SMKN 1 Bojonggede

 

 

Keberhasilan Merupakan Buah Kerjasama Semua Pihak

Bila mendengar kata SMK pasti asumsinya adalah sekolah yang dulunya bernama STM, tapi menilik SMKN 1 Bojonggede bila dilihat dari bidang keahlian yang ada maka sepertinya unik. Di sana terdapat 5 bidang keahlian yaitu Mulitimedia, Jasaboga, Akomodasi Perhotelan dan Akuntansi. Dua bidang keahlian bisa digolongkan pada sekolah SMK Pariwisata, yakni Akomodasi Wisata, Perhotelan dan Jasaboga. Untuk bidang keahlian Akuntansi pada masa dulu merupakan bagian dari jurusan Sekolah Menengah Ekonomi tingkat Atas atau yang dikenal dengan SMEA, dan Multimedia yang pada umumnya ada di sekolah menengah kejuruan teknik atau STM. Inilah keunikan yang ada di SMKN 1 Bojonggede, Kabupaten Bogor.

SMKN 1 Bojonggede merupakan sekolah kejuruan negeri di Kabupaten Bogor yang kebetulan sejak Januari 2017 pengelolaannya diserahkan ke Provinsi Jawa Barat. Di sini ada 5 paket keahlian; perhotelan, jasaboga (kuliner), usaha perjalanan wisata, ini kelompok pariwisata, sedang di kelompok bisnis manajemen, ada akutansi, di teknologi ada multimedia. Saat ini siswa dari 5 jurusan ada 1.048 siswa, dipimpin oleh Dadan Supriatno,  S.ST., selaku Kepala Sekolah (Kasek), dibantu oleh 5 Wakil Kasek, yaitu Bidang Kurikulum; Dede Cahyana, M.Pd., Bidang Hubungan Industri; Andi Suhandi, S.Pd., Bidang Sarana Prasarana; Sukamto, S.Pd., Bidang Kesiswaan; Wawan Budiarto, M.Si., ditambah lagi satu Wakil Kasek yang memang dibutuhkan di Bidang Bina Program dan Pengembangan Mutu Sekolah yakni Siti Chodijah Dewi Untari, M.Pd.  Menurut Dadan (begitu kita sapa), jika bicara prestasi sekolah, setelah dirinya diangat menjadi Kepsek ada perkembangan bagus dari nilai kelulusan siswa dibanding tahun sebelumnya, yaitu di tahun 2016 sekolah ini mendapat predikat IPK tertinggi untuk UNBK se-Kabupaten Bogor untuk jenjang SLTA. Sementara untuk prestasi ditingkat nasional, SMKN 1 Bojonggede merupakan sekolah di Kabupaten Bogor yang menjadi sekolah rujukan. Kemudian karena prestasinya selaku Kasek Dadan mendapat kepercayaan dari Pemerintah Pusat untuk masuk dalam kemitraan Kasek, yang tugasnya berbagi ilmu (sharing) dengan Kasek-Kasek yang sekolahnya masuk kategori 3 T (terdepan, terpencil, terbelakang).

Tugas tersebut telah dimulai sejak tahun 2015 dimana saat itu Dadan berbagi ilmu dengan salah seorang Kasek di Sumatera Barat, bertugas selama 10 hari di sana, tepatnya di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat. Lalu tahun 2017 ia mendapat tugas membina salah satu sekolah swasta di daerah Rangkasbitung, Provinsi Banten. Menurutnya, kepercayaan tersebut karena pemerintah melihat SMKN 1 Bojonggede dinilai sudah berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, sudah ada perubahan, sehingga ia diminta membina sekolah yang ada di 3 T.Untuk prestasi siswa, banyak prestasi yang telah diraih oleh siswa-siswinya, baik dari bidang olahraga, kesiswaan, sampai yang berbaris produksi, seperti lomba memasak tingkat Jabodetabek, dimana sekolah ini meraih predikat juara dua. Termasuk juga meraih juara 2 lomba Paskibra se-pulau Jawa. Selain itu, untuk bidang kuliner dan servis  SMK ini selalu ditunjuk mewakili Kaupaten Bogor ikut lomba kompetensi siswa. Bahkan tahun emarin kita menyelenggara lomba LKBB tingkat Jabodetabek, pesertanya ada yang dari Lampung.

Rencana ke depan

Sebagai institusi yang mendapat amanah menjadi sekolah rujukan Dadan menjabarkan untuk ke depannya pihak sekolah akan melakukan, pertama, LSP 1 di sekolah, kedua, harus ada 5 jurusan (telah terwujud), melaksanakan pricing factory, kemudian pengembangan sekolah. Selain itu, melakukan kerjasama dengan perusahaan, dan lembaga di luar negeri, misal, dengan institusi di Malaysia, MoU dengan Imperia Resort, yang mana dalam waktu dekat pihak sekolah akan mengirim 8 siswa ke sana. Istilahnya, bekerja sambil kuliah.

Di samping itu juga kerjasama dengan hotel-hotel berbintang di tanah air. Lebih jauh diterangkan oleh Dadan, pemerintah Kabupaten Bogor, melalui SK Bupati telah menunjuk SMKN 1 Bojonggedem menjadi Pusat Penyelenggara Kegiatan Pendidikan Kejuruan untuk bidang pariwisata, juga sebagai pusat kegiatan pelatihan untuk jenjang SLT atau umum.  Menurut Dadan, semua pihak, mulai dari Pemerintah Pusat, Pemprov hingga Pamkab/Kota, termasuk warga sekolah, berkeinginan, pertama, lulusan SMK bisa terakomodir saat mau bekerja atau terakomodir di perguruan tinggi pada saat mau melanjutkan kuliah. Selain itu, mereka mempunyai kompetensi jika mereka ingin wirausaha. Baginya, untuk SMK bisa dikatakan sukses kalau yang 3 itu (bisa bekerja, melanjutkan kuliah, wirausaha) tercapai. Jadi, bukan hanya lulus 100 persen. Jaman sekarang lulus sekolah itu bisa dikatakan mudah, karena yang meluluskan sekolahnya sendiri bukan pemerintah. Tapi yang sulit itu bagaimana para lulusan terakomodir di perusahaan, baik di dalam atau luar negeri, bisa melanjutan kuliah sesuai ilmu yang mereka geluti, atau bisa juga mandiri asalkan mereka punya kemampuan ilmu maupun modal. “Alhamdulillah, secara bertahap, tahun kemarin (2016) kita berhasil meloloskan satu anak bekerja di Jepang untuk jasa boga. Sebenarnya ada 3 tapi yang dua ada kendala. Seleksinya ketat pakai instrument Jepang. Mudah-mudahan berikutnya bertambah,’ ungkap Dadan.

Membina SDM

Keberhasilan institusi sekolah bukan semata prestasi Kasek saja, karena ini sebuah sistem dimana satu sama lain saling berhubungan. Jadi, au Dadan,  keberhasilan SMKN 1 Bojonggede merupakan buah dari kerjasama semua pihak, baik dari guru, wali kelas, wakasek, dan sebagainya termasuk di dalamnya tenaga kependidikan yang dalam hal ini staf, sekuriti, karyawan TU. Sebagai Kasek tugasnya banyak, antara lain, sebagai pembina, sebagai leader, sebagai motivator, dan itu dilakukannya sesuai kondisi-situasi. Walau tak selalu formal tapi Dadan selalu bersikap ke arah sana (membina dan memotivasi). Demikian caranya dalam membina SDM-nya. Lain daripada itu, terus melakukan inovasi, mengajak semua karyawan untuk selalu berubah seiring perkembangan jaman. Di samping itu, agar sekolahnya tetap unggul dan tetap mendapat kepercayaan masyarakat pihaknya tentu harus tetap konsekuen dengan visi dan misi sekolah. Selalu berinovasi untuk kemajuan sekolah.

Inovasi-inovasi yang dilakukan untuk kemajuan sekolah antara lain akan mengadakan expo yang terkait, pertama, sistem informasi menajemen sekolah. Walau masih banyak resistensi karena satu dan lain hal, sekolah mencoba memberlakukan finger-print online, sehingga secara teknis orangtua siswa bisa melihat anaknya apakah masuk sekolah atau tidak melalui aplikasi. Kedua,  dalam mengembangkan kreatifitas, mulai Januari 2018 sekolah mempunyai tv-streaming dengan Nesabo TV-streaming. Nantinya jika ada kagiatan di hotel akan di-shooting oleh siswa multimedia, kemudian diviralkan melalui tv-streaming. Juga semua kegiatan di sekolah akan di-upload dan disiarkan.

Sekolah juga akan melakukan priecing factory, yang tujuannya untuk pembentukan karakter siswa. Setiap bidang keahlian diwakili beberapa anak. Program ini bekerjasama dengan Bank Jabar dan mewajibkan setiap anak menabung. Siswa akuntansi diberi tugas mencatat dan seminggu sekali Bank Jabar datang ke sekolah mengambil setoran tabungan siswa.  Saat ini perkembangannya cukup bagus,  siswa sudah mau menabung, memiliki buku tabungan dan atm sendiri. Rencana lainnya membuat kartu siswa berlogo Bank Jabar, dimana atm merangkap kartu siswa. Iuran sekolah juga disetor langsung ke rekening bank. Selain itu, orangtua siswa bisa melihat info-info sekolah melalui aplikasi yang diberi nama SimBa. “Kita juga peduli lingkungan dan kita sudah lama (sejak 2014) sistem evaluasi kita memakai computer base training, jadi kita tak memakai kertas. Sehingga dapat kepercayaan Pemkab Bogor mengadakan UNBK SMA, Paket, Paket B, termasuk uji kompetensi guru yang wilayah di sini,” tutur Dadan. Disinggung soal persaingan, Dadan mengatakan itu hal wajar, itu dinamika hidup. Tapi jangan membuat kita diam, stagnan. Adanya kompetitor harusnya membuat kita dinamis. Sekolah itu, jelasnya, sebetulnya pergaulan yang direncanakan, teorganisasi. Jadi, agar tetap mendapat kepercayaan dari masyarakat kita komitmen dengan apa yang direncanakan. Menurutnya, masyarakat sekarang sudah pinter, kalau janji-janji tak buktinya itu bahaya, dan yang paling sulit itu mempertanggjawabkan kepercayaan masyarakat terhadap kita.

Terhadap masyarakat Dadan berkomentar, memilih sekolah itu tak gampang. Masyarakat, meski tak semua, kadang terbuai oleh janji-janji melalui poster, spanduk, banner. Sebagai salah seorang garda pelaksana pendidikan di SMK Dadan mengingatkan masyarakat hendaknya cerdik dalam memilih, mengikuti perkembangan informasi, baik dari pemerintah atau dari yang lain, dicermati dulu dengan baik. Dadan menganalogikan, misal kalau mau jualan kita harus inovasi, jangan diam, ikuti perkembangan, lakukan perubahan, walaupun perubahan itu sedikit tapi itu juga sudah perubahan. Menurut para ahli, tekan Dadan, orang Indonesia itu “masih banyak yang tak mau berubah”, tak mau mengikuti perubahan. Enjoy dengan yang sudah ada.

Menutup pembicaraan Dadan mengingatkan UU pendidikan mengamanatkan bahwa. keberhasilan pendidikan bukan semata tanggungjawab sekolah. Dalam UU diatur pendidikan itu tanggungjawab bersama, antara pemerintah, dalam hal ini institusi sekolah sebagai bagian dari pemerintah, dan masyarakat. SMK itu ada kaitan dengan dunia industry, dan dikuatkan dengan Inpres. Ini bisa berhasil bila semua memiliki komitmen;  sekolah, orangtua siswa, masyarakat, dunia kerja. Apalagi di abad MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) ini, ada lebih kurang 108 sektor jasa. Kalau tidak disikapi dengan baik, nanti yang menguasai pasar kerja bisa orang Thailand, Vietnam. Masyarakat Indonesia sepertinya belum siap. Padahal, menurut Dadan, dunia pendidikan sudah siap dan sudah mencoba. Contohnya, dengan memakai digital, komputerisasi dalam pelajaran, ujian. Juga secara bertahap mencoba mengikuti teknologi, meskipun masih ada kesenjangan antara teknologi yang ada di sekolah dan yang di luar sekolah.

Sekilas tentang Dadan

Pria ini dilahirkan di Cianjur, Jawa Barat, 4 Juni 1964. Pendidikannya dari SD-SMP diselesaikan di Cianjur. Kemudian SLTA di Bandung, sekolah di STM, tahun 1983, lalu melanjutkan kuliah ke IKIP Bandung (sekarang UPI), dan ke Politeknik TDC Bandung. Pertama bekerja sebagai PNS ditempatkan di Provinsi Banten, tahun 1995. Kemudian pindah ke Kota Bogor tahun 1999, mengabdikan diri di Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor. Tahun 2012 ikut seleksi Kasek dan lulus 2 tahun kemudian, tepatnya tanggal 14 September 2014, lalu diberi amanah memimpin SMKN 1 Bojonggede.

Menurut Dadan, kerja itu syaratnya harus fokus. Misalkan menjadi guru tapi tak fokus dan hanya sebatas menggugurkan kewajiban tentu tak akan punya dinamika. Tapi kalau fokus atau mencintai pekerjaan, walaupun menurut orang lain susah, tetap akan nikmat. “Saya ini sudah di atas 20 tahun kecimpung di dunia pendidikan, dulu menjadi guru saya nikmati profesi guru, sehingga bisa memotivasi diri dan Alhamdulillah kemudian bisa menjadi editor buku di salah satu percetakan,” ungapnya.  Selain sebagai pendidik pria ini juga aktif dalam organisasi seperti menjadi Ketua MGMP, ketrampilan otomotif Prov Jawa Barat (1997). Lalu tahun berikutnya karena mukim di Bogor, didaulat menjadi Ketua MGMP Otomotif Kabupaten Bogor. Baginya, manusia hidup itu jangan melanggar ketentuan hukum positif dan juga hukum Allah. Intinya, bekerjalah dengan fokus dan jangan sekali-kali melakukan tindakan yang melanggar hukum, karena syarat menjadi sukses itu mempunyai komitmen dan jujur. [] (baguspram)