Sosok yang satu ini populer sebagai ketua partai – Dr. H. Wiranto, SH

No Comments

Sosok yang satu ini populer sebagai ketua partai serta juga bekas Jenderal di Masa Reformasi. Jenderal TNI Dr. H. Wiranto, SH lahir di Yogyakarta pada 4 April 1947. Beliau merupakan tokoh militer Indonesia serta seorang politikus. Beliau menjabat untuk Panglima TNI pada periode 1998 hingga 1999. Sehabis tuntas masa jabatan,

WIRANTO

Profil

Jenderal TNI (Purn.) Dr. H. Wiranto, S.H., S.I.P., M.M. lahir di Kota YogyakartaDIY4 April 1947; umur 73 tahun ]adalah politikus Indonesia dan tokoh militer Indonesia. Saat ini ia menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) sejak 13 Desember 2019. Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan pada reshuffle Kabinet Kerja kedua menggantikan Luhut Binsar Panjaitan hingga 20 Oktober 2019. Wiranto juga pernah menjabat Panglima TNI periode 1998–1999.

Setelah menyelesaikan jabatannya sebagai Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat pada periode 20062010, dia kembali terpilih untuk masa jabatan yang kedua (20102015) dan kembali terpilih lagi pada periode 20152020 pada Munas II Hanura yang diadakan pada 13–15 Februari di SoloJawa Tengah.

Ayahnya, RS Wirowijoto adalah seorang guru sekolah dasar, dan ibunya bernama Suwarsijah. Pada usia satu bulan, Wiranto dibawa pindah oleh orang tuanya ke Surakarta akibat agresi Belanda yang menyerang kota Yogyakarta. Di Surakarta inilah ia kemudian bersekolah hingga menamatkan Sekolah Menengah Atas (SMA Negeri 4 Surakarta).

Karier militer

Wiranto pernah menjadi ajudan Presiden Soeharto tahun 19871991. Setelah sebagai ajudan presiden, karier militer Wiranto semakin menanjak ketika ditunjuk sebagai Kepala Staf Kodam JayaPangdam JayaPangkostrad, dan KASAD.

Selepas KASAD, ia ditunjuk Presiden Soeharto menjadi Panglima ABRI (sekarang Panglima TNI) pada Maret 1998.

Selepas menjadi Panglima ABRI, ia diangkat menjadi Menteri Koordinator Politik dan Keamanan di bawah kepemimpinan Abdurrahman Wahid. Namun kemudian mengundurkan diri sesuai dengan Surat Resmi yang dikirimkan dan mendapat balasan dari Gusdur. Pada 26 Agustus 2003, ia meluncurkan buku otobiografi dengan judul Bersaksi di Tengah Badai yang berisi tentang fakta yang mendukung bahwa Indonesia dan TNI sebagai “Unity” tidak pernah melakukan perencanaan melakukan pelanggaran HAM.

Setelah memenangi konvensi Partai Golkar atas Ketua Umum Partai Golkar Ir. Akbar Tandjung, ia melaju sebagai kandidat presiden pada 2004. Bersama pasangan kandidat wakil presiden Salahuddin Wahid, langkahnya terganjal pada babak pertama karena menempati urutan ketiga dalam Pilpres 2004.

Saat menjadi Panglima ABRI, Wiranto berada dalam berbagai masa transisi. Salah satu proses yang harus dihadapi antara lain adalah saat Timor Timur ingin melepaskan diri dari Republik Indonesia. Saat itu kebijakan dari Presiden Habibie adalah melaksanakan referendum sesuai dengan permintaan beberapa negara yang diuntungkan dengan pisahnya Timor Timur terlepas. Wiranto yang saat itu menjabat menjalankan tugasnya sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Terdapat tuduhan seperti adanya pembakaran rumah penduduk oleh milisi pro dan anti kemerdekaan atas perintah dari Wiranto sebagai Panglima tertinggi saat itu, namun tidak terbukti.

Setelah purna tugas kemiliteran, Wiranto dua kali menjadi menteri pada era Presiden Gus Dur, dan kembali menajadi menteri pada era Presiden Joko Widodo.