Tag: agar

Elnino M. Husein Mohi

No Comments

Elnino M. Husein Mohi
Anggota DPD-RI, Gorontalo

Sebuah Kisah Perlawanan Terhadap Money Politics

Seantero Provinsi Gorontalo tercengang. Penghujung April 2009, ketika penghitungan suara calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI mulai mendekati final. Para elit lokal tersentak. Nyaris tiada seorang pun yang percaya dengan munculnya nama Elnino M. Husein Mohi di peringkat ketiga di antara 19 tokoh besar dan konglomerat Gorontalo yang jadi calon anggota DPD-RI. Dia, secara mengejutkan, bahkan memenangkan Pemilu Legislatif tanpa sedikit pun melakukan pelanggaran peraturan Pemilu.

Elnino. Dia bukan orang kaya. Bukan pula politisi, bukan elit, bukan pejabat—bahkan bukan keluarga pejabat, bukan tokoh lokal. Pemuda bertubuh kecil berkulit gelap itu hanyalah seorang wartawan. Hanya seorang aktifis. Maka hampir tidak ada yang percaya, dengan tabungan pribadinya sebesar Rp. 2,5 juta, Elnino meraih hampir 50 ribu suara atau 9% dari total pemilih Gorontalo.

Sungguh tidak mungkin dengan dana segitu Elnino mampu menjangkau wilayah Gorontalo—yang luasnya lebih dari 12 ribu kilometer persegi—di masa kampanye. Tim Pemenangan Elnino menyadari kendala itu. Dengan usaha keras dan cara yang simpatik, mereka mengumpulkan sumbangan dari ribuan sahabat Elnino. “Dalam waktu 9 bulan, kami berhasil mengumpulkan cukup banyak, totalnya Rp. 55.545.000. Jumlah itu kami laporkan ke KPUD dan Panwaslu,” ungkap Thariq Modanggu, Ketua Tim Pemenangan Elnino.

Mungkin itu adalah ongkos politik termurah, karena bila dibagi dengan jumlah suara Elnino akan mendapatkan rata-rata sekitar Rp. 1100 per suara. Uang itu bukan dibagi-bagi ke pemilih, melainkan untuk biaya bensin dan sewa kendaraan berkeliling Gorontalo, biaya administrasi kelengkapan syarat calon, biaya iklan radio, pencetakan baliho, stiker, leaflet untuk alat kampanye, dll.

Bagi Elnino dan para sahabatnya, pada hakikatnya setiap individu tidak menginginkan praktek money politics. “Tidak satu orang pun, sejatinya, yang mau menjual suaranya. Tidak ada yang nuraninya memilih seseorang hanya karena sudah diberi sesuatu. Orang memilih seorang caleg atau calon pemimpin pasti bukan semata-mata karena uang, mesti ada alasan lain,” tutur Elnino.

Hanya saja, sekarang ini sebagian besar rakyat telah bersikap masa bodoh dan apatis terhadap “pesta demokrasi”. Padahal, triliunan rupiah uang negara/rakyat dihabiskan untuk event tersebut. Di mata sebagian besar rakyat, wakilnya di parlemen tidak memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan mereka. Yang benar-benar nyata dan bisa dinikmati rakyat hanyalah ketika mereka membagi-bagikan uang, sembako, dll.

Kenapa rakyat mau money politics, menjual suaranya? Karena menurut rakyat, semua Caleg/Cabup/Cawali/Cagub…semuanya tidak bisa dipercaya. Jadi, daripada memilih seseorang tanpa dapat apa-apa, ya sudah…pilih saja yang sudah memberi sesuatu. Toh siapa pun yang kita pilih, nasib kita begini-begini saja. Begitu pikiran sebagian besar rakyat. Sangat apatis, putus asa.

Apatisme itulah yang berusaha dikikis habis oleh Elnino dan para sahabatnya—kelompok intelektual muda Gorontalo yang terdiri dari para aktifis pemuda, mahasiswa, dosen, wartawan dan PNS. Mereka mencoba membuktikan kepada rakyat, bahwa tidak semua calon tidak bisa dipercaya, bahwa pasti ada di antara calon yang masih memiliki kecerdasan dan nurani. Pasti ada yang masih pantas untuk mengemban kepercayaan orang banyak sesuai kewenangan institusionalnya.

PERJUANGAN NILAI LOKAL

Setahun sebelum Pemilu, April 2008, Elnino bersama puluhan sahabatnya bersepakat untuk memberikan warna lain dalam Pemilu 2009, yaitu dengan melakukan gerakan pencerahan politik hingga ke desa-desa. Targetnya adalah menjadikan para opinion leaders di tingkat desa memahami nilai-nilai demokrasi berdasarkan nilai-nilai luhur Gorontalo.

Nilai-nilai luhur Gorontalo itu sendiri bermuara pada empat nilai utama ; kecerdasan, akhlak, kekeluargaan dan persahabatan. Keempat nilai inilah yang menciptakan Empat Zaman Keemasan Gorontalo—dikenal dalam sejarah daerah tersebut dengan “Ilomata Wopato”—sebelum masuknya penjajah Belanda. (Masa kepemimpinan Ilahudu 1382-1427, Matolodulakiki 1550-1580, Eyato-Popa 1673-1677 dan Botutihe 1728-1755). Empat Zaman dimana para raja/presiden dan pejabat negara Gorontalo Serikat dipilih secara demokratis dengan pertimbangan empat nilai luhur tersebut.

Jadi, seseorang menjadi raja/presiden di Gorontalo dipilih oleh rakyat karena yang bersangkutan adalah orang yang paling cerdas, akhlaknya paling bagus, rasa kekeluargaan dan persahabatannya paling tinggi. Tidak ada pertimbangan uang atau pemberian atau sogokan dalam bentuk apa pun ketika memilih penyelenggara negara! Itulah jati diri orang Gorontalo.

“Sebetulnya nilai-nilai luhur tersebut sifatnya universal. Ada di semua suku. Ada di semua bangsa di dunia ini. Hanya saja, perkembangan zaman belakangan ini yang menjadikan kita di Indonesia semakin melupakan nilai-nilai lokal…yang sebetulnya universal itu, kita semakin materialistik…bahkan ketika negara-negara maju mulai meninggalkan budaya materialistik,” papar Elnino.

Dari desa ke desa, Elnino dkk membawa laptop dan LCD pinjaman. Mereka presentasi menjelaskan tentang nilai-nilai tersebut. Mereka bicara dalam tiga konteks; sejarah peradaban bangsa-bangsa di dunia, perkembangan nasional, dan terutama nilai-nilai lokal tersebut.

“Kami jelaskan bahwa peradaban yang maju seperti Mesir, Yunani, Romawi di jaman lama, serta Amerika, Eropa, Jepang, Korea, China, India di jaman baru, semuanya memiliki budaya yang bersandar pada supremasi intelektual, supremasi ilmu pengetahuan dan bukan supremasi uang atau kekuasaan,” ujarnya.

POLITIK PENCERAHAN

Pada Juni 2008 Elnino didaulat oleh kelompoknya untuk menjadi calon anggota DPD. Non partai. Alasannya ada tiga. Pertama, sebagai tindakan konkrit dalam politik. “Elnino harus menjadi contoh calon legislatif. Dia mesti terikat dengan nilai-nilai yang dikampanyekan. Dia harus memberi teladan, bagaimana menjadi calon. Dia mesti memberi contoh sikap calon yang kalah bila dia kalah atau memberi contoh bagaimana seharusnya wakil rakyat bila dia menang,” papar Ketua Tim Pemenangan, Thariq Modanggu.

Kedua, perjuangan nilai harus ikut masuk ke semua partai politik. “Bila Elnino menjadi calon anggota DPR, maka akan sulit bagi kami untuk masuk ke semua kalangan di Gorontalo karena dibatasi secara psikologis oleh dinding parpol. Karena itu, dia kami calonkan ke DPD-RI dan slogan yang kami pakai untuk menghindari benturan dengan parpol adalah “Apa pun partainya, Elnino DPD-nya”. Itu membuatnya jadi inklusif,” tutur Thariq.

Alasan ketiga, bahwa pencalonan adalah pengabdian. “Tidak ada target kami untuk menang. Kami hanya ingin mengukur sejauh mana efektifitas gerakan pencerahan politik ini. Pencalonan Elnino itu sendiri adalah pengabdian kami. Jadi, kami bergerak tanpa beban sama sekali,” kata Thariq yang juga seorang dosen itu.

Selama 11 bulan, Elnino dkk hanya sempat mendatangi 192 dari total 585 desa yang ada di Gorontalo. Di setiap desa pun Elnino hanya berdiskusi tidak lebih dari 12 orang. “Biasanya di setiap pertemuan atau tiap desa kami hanya mengundang dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh kunci saja ; aparatur desa, guru, imam, tokoh pemuda desa. Biasanya tidak lebih dari dua belas orang saja,” kisah Elnino.

Uniknya, di setiap kesempatan presentasi, Elnino nyaris tak pernah meminta untuk dipilih. Mengapa? “Dua latar kenapa tak minta dipilih. Pertama, alasan yang terdengar klasik, yaitu nabi kita tidak menganjurkan memberi jabatan kepada yang meminta. Kedua, dalam komunikasi pun akan terasa sangat tidak elegan bila kita minta dipilih. Nggak sreg gitu…rasanya kayak pengemis jabatan,” jawab Elnino.

Luar biasa akibat politik yang diperoleh Elnino dan para sahabatnya. Mereka bukan saja memperoleh pemilih atau pendukung di desa-desa yang mereka datangi, tetapi bahkan membuat para tokoh desa secara sukarela dan militan menjadi juru kampanye mereka secara informal. Tak heran bila di antara tokoh-tokoh desa itu ada juga yang sukarela menyumbangkan bantuan logistik untuk kampanye Elnino.

Berbasis kampus serta dibantu oleh para wartawan, ribuan sahabatnya dan tokoh-tokoh desa, Elnino M. Husein Mohi membalikkan asumsi di Gorontalo bahwa politik hanya milik orang berduit. Kini semakin banyak orang-orang muda Gorontalo yang mengkader dirinya sendiri untuk menjadi pemimpin. Mereka terorganisir dengan baik dalam organisasi-organisasi pemuda dan mahasiswa. Mereka ingin menjadi Elnino-Elnino baru yang akan mencerdaskan masyarakatnya, bukan hanya di bidang politik, tapi juga di bidang lainnya.

IDE DI DPD

Merasa dipilih melalui jalan yang “benar”, membuat Elnino memiliki beban yang cukup berat untuk membuktikan bahwa masyarakat tidak salah pilih. Hanya saja ia menghadapi kendala besar terkait minimnya wewenang DPD-RI, yakni hanya sekedar mengusulkan ke DPR-RI. Agar tidak mengecewakan konstituen, ia melaporkan seluruh usulannya di DPD-RI ke daerah pemilihannya.

Salah satu konsep penting yang sedang diperjuangkan Elnino adalah mengenai sistem otonomi daerah. “Semestinya struktur pemerintahan daerah di seluruh Indonesia bisa meniru struktur Pemda DKI Jakarta. Lebih produktif untuk membangun bangsa,” tutur Elnino.

Seperti kita ketahui, di Jakarta, hanya gubernur yang dipilih langsung oleh rakyat. Bupati/walikota ditunjuk oleh gubernur. Hanya ada DPRD Provinsi, tidak ada DPRD Kabupaten/Kota. Artinya, 15 juta penduduk Jakarta ditangani oleh hanya 102 pejabat politik, yaitu gubernur, wakil gubernur dan 100 anggota DPRD Provinsi. “Bandingkan dengan Gorontalo yang penduduknya hanya 1 juta jiwa, ditangani oleh tujuh kepala daerah, tujuh wakil kepala daerah dan 215 anggota DPRD Prov/Kab/Kota. Sangat tidak efisien,” papar Elnino yang pernah menguraikan idenya tersebut beserta berbagai alasannya dalam artikel di Koran Jakarta, detik.com, dll.

Elnino juga melontarkan ide untuk memindahkan ibukota negara ke luar Pulau Jawa. “Jakarta sudah tidak representatif lagi untuk kelancaran urusan pemerintahan, karna kota ini sudah terlanjur menjadi pusat segala-galanya; ekonomi, budaya, ilmu pengetahuan, pemerintahan, dll. Jadi, ada baiknya urusan pemerintahan negara ini dipusatkan di tempat lain. Kalau perlu, ke luar Pulau Jawa untuk membuktikan bahwa bangsa ini benar-benar satu kesatuan, juga bahwa orang Jawa—walaupun mayoritas—tetap rela ibukota pindah ke pulau lain,” paparnya.

Sedangkan mengenai peraturan Pilkada, Elnino mengusulkan agar calon bertahan (incumbent) diharuskan cuti besar di luar tanggungan negara selama 3 bulan sebelum hari pencoblosan. Ini untuk menghindari penggunaan asset maupun aparatur pemerintah daerah dalam kampanye.

Seperti para senator lainnya, Elnino merasa harus berusaha melakukan perubahan konstitusi. Salah satu alasannya adalah kewenangan DPD-RI yang belum seperti idealnya. “Sekarang ini DPD-RI seperti majelis rendah, hanya mengusulkan ke DPR. Mestinya DPD diberi kewenangan yang sama dengan DPR, menetapkan dan mengesahkan undang-undang, walaupun hanya untuk bidang-bidang tertentu,” ungkapnya.

Ide-ide seperti di atas tentu akan mendapatkan tantangan yang berat. Banyak kepentingan yang harus dilanggar bila ide-ide tersebut menjadi kenyataan. “Tapi bagi saya, soal berhasil atau tidak, tidak masalah. Yang penting konstituen tahu bahwa saya serius berpikir dan bekerja untuk bangsa ini. Toh saya tetap meyakini, ide-ide itu akan menjadi nyata, walaupun mungkin harus menunggu 10-15 tahun lagi,” tuturnya.

SENATOR TINGGAL DI ASRAMA MAHASISWA

Lain lagi beban moral yang wajib ditanggung Elnino. Terpilih secara murni, bahkan tak mengeluarkan ongkos yang besar, Elnino menciptakan sistem untuk mengelola seluruh uang yang diperoleh dari DPD agar dapat bermanfaat bagi konstituennya rakyat Gorontalo. “Tidak elok sebetulnya bila digembar-gemborkan soal ini. Tetapi secara garis besar, seluruh pemasukan dari DPD masuk ke Tim-9, dulu adalah Tim Pemenangan Elnino, lalu Tim-9 inilah yang memanfaatkan dana tersebut untuk menggaji Elnino, menyusun program kerakyatan dan melaksanakannya,” beber Thariq Modanggu yang saat ini menjadi Ketua Tim-9 tersebut.

Sejak dilantik 1 Oktober 2009, hingga saat buku ini diterbitkan, Elnino masih menginap di Asrama Mahasiswa Gorontalo, Jl. Salemba Tengah no. 29. Sebetulnya dia sendiri risih dengan kondisi itu. “Soal tinggal di asrama sih saya sudah biasa. Sejak SMA tinggal di asrama, hingga dua tahun lalu juga tinggal di asrama ini waktu kuliah S2 di UI. Tetapi kadang saya risih karena ada saja orang yang menganggap saya sok suci, sok miskin, hehe…,” ungkap pria murah senyum itu.

DARI TUKANG BECAK, INGIN JADI DUBES

Elnino adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara. Bapaknya, Mustapa Mohi adalah seorang guru, sedangkan ibunya, Hadjari Ismail Lebie adalah seorang perawat. Kehidupan masa kecilnya cukup menderita karena sang ayah meninggal saat kelas tiga SMP dan disusul ibunda ketika SMA. Untungnya, Elnino dianugerahi Tuhan kecerdasan otak luar biasa yang membuatnya mampu melanjutkan pendidikan berkat beasiswa.

“Dari tujuh saudara yang lain, saya paling tinggi sekolahnya. Sejak SMP, SMA Don Bosco Pondok Indah dan SMA Lab School di Jakarta, sampai kuliah di STT Telkom Bandung. Semua biaya sekolah saya dapatkan dari beasiswa yang berasal dari orang-orang Gorontalo yang sukses di Jakarta,” kisahnya.

Di samping beasiswa ia juga harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi di perantauan ia hidup sebatang kara, sehingga harus berjuang sendirian. Saat SMA di Jakarta, Elnino sempat mengamen, menjadi kenek bus kota dan tukang antar koran.

Perjuangan serupa dijalaninya saat menempuh pendidikan tinggi di STT Telkom Bandung, yang juga dibiayai “beasiswa”. “Saya sempat menjadi penarik becak di kampus, karena beasiswa hanya cukup untuk biaya kuliah. STT kan mahal, sekitar Rp 750 ribu per semester sedangkan biaya hidup saya Rp 50 ribu sendiri. Saya berhenti menarik becak setelah semester III karena malu sama adik kelas. Becak saya jual dan mulai usaha sablon,” jelasnya.

Untuk membiayai kuliah, Elnino mengajukan “proposal” kepada orang-orang kaya Gorontalo di Jakarta. Dari merekalah biaya kuliah yang lumayan besar tersebut didapatnya hingga menyelesaikan pendidikan. Memasuki semester VIII, Elnino sudah mulai “kaya” karena memiliki usaha di bidang sablon dan wartel. Sebagai mahasiswa perantauan dengan biaya sendiri, ia mampu membeli motor, TV dan buku-buku referensi.

Beroleh gelar Sarjana Teknik dari STT Telkom (1998), Elnino kembali ke kampung halaman dan bekerja sebagai wartawan. Meskipun mendapat tentangan dari saudara-saudaranya yang menghendakinya menjadi PNS, ia jalan terus. Ia beranggapan profesi wartawan adalah paling terhormat di antara pekerjaan lain.

“Tersinggung saya ketika dibilang sekolah tinggi ‘cuma’ menjadi wartawan. Makanya ketika kakak meminta ijazah saya didaftarkan jadi PNS, tidak saya kasih. Bagi saya, wartawan adalah profesi yang sangat terhormat,” kata Redaktur Eksekutif Radar Gorontalo ini.

Ditanya tentang cita-citanya kedepan, Elnino hanya menjawa pendek sambil tersenyum simpul, “Duta Besar.” Dubes di mana maunya? “Di Spanyol, hehehe. Anak saya akan bisa berbahasa Inggris, Spanyol, Indonesia dan Gorontalo. Saya sendiri bisa menonton pertandingan Real Madrid vs Barcelona setiap hari, gratis pula,” katanya sembari bercanda.

KEINGINAN LUHUR

Menurut Elnino, permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia bersumber dari tidak diamalkannya UUD 1945 secara konsekwen. Di mana dalam Pembukaan UUD’45 termaktub kalimat “Atas berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur…”. Tanpa keinginan luhur, maka faktor Tuhan menjadi nihil. “Tanpa niatan luhur, korupsi di mana-mana, bahkan terjadi ‘penjajahan’ dari pihak luar negeri. Pelaksanaan sistem otonomi, sistem ketatanegaraan dan undang-undang, semua kacau balau. Dari pusat hingga daerah,” tegasnya.

Dia juga mengimbau, agar orang-orang cerdas, para cerdik-pandai, yang mengkampanyekan moralitas jangan hanya diam di kampus. Mereka tidak boleh hanya berteriak-teriak menyoroti kesalahan sistem tanpa harus terlibat di dalam sistem.

“Jangan hanya menikmati status sebagai intelektual, independen dan hanya menjadi pengamat. Mari rame-rame masuk partai, menjadi anggota DPR, DPRD, atau sekalian mencalonkan diri jadi kepala daerah. Minimal seperti saya, jadi calon anggota DPD. Jangan sampai karena orang baik tidak berminat mengambil alih kekuasaan, maka kekuasaan jatuh ke tangan orang jahat. Tapi… mungkin juga mereka takut kalah dalam pencalonan, padahal pencalonan itu sendiri adalah pengabdian,” ungkapnya.

Elnino kembali mengingatkan bahwa semua peradaban maju karena supremasi ilmu pengetahuan di segala bidang, termasuk dalam politik. Uang hanyalah akibat dari diterapkannya ilmu pengetahuan pada sebuah negara. Dengan mengedepankan supremasi ilmu pengetahuan, bangsa Indonesia tidak akan lagi menjadi bangsa kuli. Bahkan bukan tidak mungkin  melebihi Amerika dan negara adidaya lainnya, mengingat besarnya potensi yang dimiliki bangsa ini.

BIODATA

Elnino M. Husein Mohi
Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Komite I : Bidang Otonomi Daerah, Hubungan Pusat-Daerah, Pemekaran Daerah, Politik Lokal – Pilkada.

TTL : Gorontalo, 30 Oktober 1974
Alamat : Jl. Barito No. 38, BulotadaA Timur, Kota Utara, Kota Gorontalo. Website : www.elnino.web.id.
Orang tua : Mustapa Mohi (alm), Hadjari Ismail Lebie (almh)
Isteri : Umin Kango, S.Pd
Anak : Nun Farida Aryani (6 thn), Alif Lam Mohi (3 thn), Elnino Mustafa Hussein Mohi (1 thn)

PENDIDIKAN:
“Leadership and Language Training”, SILC, University of Arkansas at Fayetteville, USA (2007)
Universitas Indonesia, Program Pascasarjana Manajemen Komunikasi Politik (2007).
STT Telkom, Bandung. Jurusan Teknik dan Manajemen Industri (1998)
SMU Negeri 81 Labschool, Jakarta Timur (1993)
SMP Negeri 6 Gorontalo (1990)
SDN II Ayula, Tapa, Gorontalo (1987)

ORGANISASI:
1.    Ketua Majelis Sinergi Kalam Ikatan Cendekiawan Muslim se Indonesia (Masika-ICMI) Wilayah Gorontalo.
2.    Perwakilan Yayasan Suharso Monoarfa (Sumo Foundation) untuk Provinsi Gorontalo.
3.    Sekretaris The Presnas Centre. (Himpunan para mantan pejuang pembentukan Provinsi Gorontalo)
4.    Wakil Ketua Aliansi Pengawal Perjuangan Provinsi Gorontalo (AP3G).
5.    Anggota Kehormatan Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Gorontalo.
6.    Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Gorontalo (2003-2005)

PEKERJAAN
1.    Redaktur Eksekutif Harian Tribun Gorontalo (sekarang Radar Gorontalo).
2.    Redaktur Harian Gorontalo Post (2001-2002)
3.    Pemimpin Redaksi “Habari Lo Lipu” (media sosialisasi perjuangan pembentukan provinsi Gorontalo, 1999-2001)

BUKU KARYA TULIS
Media Politik vs. Politik Media. (draft, diambil dari intisari thesis S-2)
Abad Besar Gorontalo. 2003. Presnas Publishing. Gorontalo. (Ditulis bersama Alim S. Niode)
Walikota Medi. 2002. Presnas Publishing. Gorontalo.
Juga menjadi kontributor, penyunting atau editor dalam 9 buku lainnya, yakni ; Moodelo (Medi Botutihe, 2006), Mahligai Bertabur Cinta (Zulhelmi Alting, 2005), Menggagas Masa Depan Gorontalo (Funco Tanipu dkk, 2004), Gorontalo Serambi Madinah (Medi Botutihe, 2003), Nani Wartabone (Tim Diknas, 2003),  Negarawan Dari Desa (La Ode Aman, 2003),  Anda dan Pemilu 2004 (KPU Provinsi Gorontalo, 2003), Sang Deklarator (Hardi Nurdin, 2002), Paradigma Baru Industri Pangan Indonesia (Thamrin Djafar, 1999)

PENGHARGAAN DAN BEASISWA
Piagam “Arkansas Ambassador” (Duta Arkansas) dari Gubernur Arkansas, Amerika Serikat (2007)
Piagam “Pejuang Pembentukan Provinsi” dari Gubernur Gorontalo (2001)
Nominator “Man of The Year—2003” versi Harian Gorontalo Post
International Fellowship Program—Ford Foundation, Amerika Serikat (2005-2007)
Beasiswa Yayasan 23 Januari ’42 (1993-1998)
Beasiswa “Program Habibie” dari Pemda Kodya Gorontalo (1990-1993).

Drs. Winardi, MBA

No Comments

Drs. Winardi, MBA
Presiden Direktur PT BTS Cargo

Menjadi Diri Sendiri Untuk Membangun Perusahaan

Dalam kondisi serba kekurangan, seorang kreatif mampu menemukan jalan keluar terbaik. Berbagai cara digunakan untuk menyiasati permasalahan kehidupan yang dihadapinya. Perjuangan keras tak kenal lelah selama bertahun-tahun untuk mengubah nasib akan menghasilkan kesuksesan yang mengubah jalan hidup.

Gambaran singkat seperti itulah jalan hidup yang ditempuh Drs. Winardi, MBA. Terus berusaha dan berjuang untuk memperbaiki kehidupan keluarga terus dilakukannya. Bahkan sejak meninggalnya sang ayah pada usianya yang ke-15, bersama keempat saudaranya yang lain, ia berusaha membantu kehidupan keluarga.

“Kami membantu ibu yang berjuang sendirian membesarkan kelima anaknya. Kita melakukan pekerjaan apa saja untuk membantu keluarga, karena tidak mau terlalu menyusahkan orang tua. Semua itu kami lakukan atas kemauan sendiri semata-mata untuk membantu perjuangan ibu,” kata Presiden Direktur PT BTS Cargo ini.

Winardi dan empat saudaranya (dua orang laki-laki dan dua orang perempuan) bekerja serabutan dengan harapan memperoleh penghasilan. Ia sendiri baru benar-benar terjun ke pekerjaan “formal” setelah lulus dari SMA. Saat itu, ia diterima bekerja di sebuah perusahaan biro perjalanan selama tiga tahun.

Lepas dari biro perjalanan, ia kemudian bekerja di sebuah perusahaan kimia sebagai marketing. Mengendarai scooter butut, ia keliling dari kota-kota untuk menawarkan produk perusahaan tempatnya bekerja. Meskipun cukup melelahkan, ia melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Baginya perjuangan hidup untuk keluarganya jauh lebih penting dari sekadar rasa lelahnya.

“Ke manapun akan saya kejar, karena kita harus berjuang dengan penuh tanggung jawab. Tetapi saya sebenarnya tidak mempunyai impian dan cita-cita untuk menjadi apapun. Semua mengalir begitu saja, karena saya ingin menjadi diri sendiri tetapi bertanggung jawab terhadap apa yang saya lakukan,” tuturnya.

Setelah sekian lama berkutat sebagai karyawan, Winardi memperoleh kesempatan yang mengubah jalan hidupnya. Sebuah perusahaan travel bangkrut dan hampir tutup sehingga pemilik menjual seluruh sahamnya. Bersama keluarga dan dukungan teman, ia memberanikan diri untuk membeli perusahaan tersebut.

Meskipun saat itu usianya masih sangat muda, namun Winardi memiliki keyakinan yang tinggi. Apalagi, dalam menjalankan perusahaan barunya ia benar-benar hanya bermodal “dengkul” sehingga selain sebagai pemilik, ia juga yang menjadi pekerja. Namun, ia yakin bahwa dengan ketekunan dan kemauan yang tinggi, setiap orang “bisa” mewujudkan keinginan dan cita-citanya.

“Dengan kemauan yang betul-betul kita jalankan, akhirnya pelan-pelan perusahaan biro perjalanan menanjak. Dari hanya satu ruko, kemudian meningkat menjadi dua ruko dan seterusnya. Banyak kendala yang kami hadapi, tetapi semua kan tergantung bagaimana kita menyikapinya. Kalau dibilang kendala ya menjadi kendala, tetapi kalau tidak ya bukan kendala. Tergantung bagaimana pola pikir kita,” ungkapnya.

Perusahaan Winardi mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Dari perusahaan travel, ia kemudian merambah bidang usaha cargo, pendidikan, penerbangan dan lain-lain. Bidang pendidikan sangat lengkap dari berbagai jenjang, mulai TK, SD, SMP dan SMA sampai Perguruan Tinggi.

Untuk mengenang jasa orang tuanya, Winardi menggunakannya sebagai nama perusahaan. Salah satunya adalah penamaan perusahaan cargo, PT BTS Cargo yang merupakan singkatan dari Buana Trans Seantero. Sebenarnya, nama tersebut adalah julukan bagi sang ibu di kalangan keluarga dan teman-temannya.

“Ibu saya dipanggil BATAK SO oleh keluarga dan teman-temannya. Karena dulu, julukan atau panggilan ayah oleh rekan-rekannya adalah BATAK sehingga ibu saya menjadi BATAK SO. Dari nama tersebutlah saya singkat menjadi BTS dan nama perusahaan diberi BTS Cargo,” kisahnya.

Winardi mengakui bahwa kegigihan keluarganya dalam membangun perusahaan adalah semata-mata berkat Tuhan. Tanpa-Nya, seluruh usaha yang dilakukannya menjadi tidak berarti. Meskipun sering jatuh bangun, ia tidak pernah berputus asa dan selalu yakin bahwa Tuhan akan membantu memecahkan masalah yang dihadapinya.

“Tuhan memang Maha Baik”, ujar WInardi yang mempunyai 4 orang anak, 1 laki-laki dan 3 perempuan ini. “Hal ini yang saya tekankan kepada anak-anak, agar mereka memiliki kemauan sendiri, tanpa harus disuruh dan mengerjakan apa yang mereka suka kerjakan. Karena jika kita memaksakan kehendak kepada anak, belum tentu dia suka dan mau melakukannya. Jadi mereka melakukannya dengan penuh suka cita sehingga pekerjaan itu tidak menjadi beban bagi mereka,” tegasnya.

Tidak Memiliki Cita-Cita

Memimpin perusahaan dengan berbagai bidang usaha, Drs. Winardi, MBA memiliki motivasi dalam dirinya sendiri. Motivasi paling penting adalah keinginan untuk membuktikan bahwa ketika orang lain mampu, ia juga bisa melakukan hal serupa. Dan memiliki berbagai bidang usaha, sebenarnya bukanlah cita-citanya. Tetapi itu pemberian Tuhan.

“Semua datang dan terjadi begitu saja dengan sendirinya. Saya bahkan tidak memiliki cita-cita. Karena kalau mempunyai cita-cita tetapi kita tidak menekuninya pasti tidak akan tercapai. Tetapi jika kita tekun dan kita jalankan sebagai mana mestinya, apa saja cita-cita dan keinginan kita pasti tercapai,” kata pria yang mengaku puas dengan pemberian Tuhan kepadanya ini.

Namun demikian, meskipun puas atas pencapaiannya, Winardi tidak akan pernah berhenti. Ia terus berjalan dan mengembangkan perusahaan agar memberikan kebaikan bagi umat manusia. Sambil menjalankan usaha, ia terus menerus mengucapkan syukur atas segala karunia dan kesuksesan yang diberikan Tuhan kepada dirinya dan keluarga.

Winardi menyadari, tanpa berkat Tuhan kesuksesan tidak akan hadir dalam hidupnya. Karena sebenarnya setiap manusia diberkati Tuhan untuk mencapai kesuksesan dengan profesi masing-masing. Selama manusia mampu mengatasi kendala, rintangan dan tantangan, serta kemauan untuk sukses Tuhan tidak akan menghalangi.

“Simple saja, yang penting ada kemauan karena siapapun bisa asalkan memiliki kemauan kuat untuk sukses. Kesuksesan itu merupakan milik semua orang. Boleh saja kita membaca buku tentang kiat sukses, tetapi semua tergantung pada kemauan masing-masing. Apa yang ada di buku bukan jaminan kesuksesan kalau karakter manusianya sendiri pemalas. Semua tergantung kemauan sendiri dan tekad yang kuat. Mereka juga jangan terlalu mengikuti orang lain karena memiliki bakat berbeda-beda,” tegasnya.

Bahkan, Winardi juga menegaskan bahwa dalam kamus bisnisnya tidak ada kompetitor. Setidaknya, kompetitor bukanlah menjadi prioritas untuk dikhawatirkan. Apa yang disebut kompetitor oleh orang lain, baginya adalah relasi yang mungkin akan menjalin kerjasama dengan perusahaan. Bukan tidak mungkin pula, perusahaan miliknya akan menjalin kerjasama dengan pesaingnya sendiri.

Dengan begitu, lanjutnya, ia bebas dari kepusingan dan membebani hidup dalam arena kompetisi. Tidak heran, Winardi bahkan tidak memiliki rencana pasti untuk masa depan perusahaan. Ia juga tidak memaksakan obsesi muluk-muluk untuk meraih impian dalam hidupnya. “Bagi saya hidup itu simple, kebahagiaan adalah hal paling utama dalam hidup saya. Apa yang saya mau lakukan ya lakukan saja. Ibaratnya, saya ingin perusahaan menjadi nomor satu, ya harus saya wujudkan menjadi perusahaan nomor satu. Just do it,” imbuhnya.

Karyawan Bukan Aset

Sebagai seorang pimpinan, Winardi menerapkan sistem kekeluargaan dalam menjalin hubungan dengan karyawan. Dengan sistem kekeluargaan, ia dapat langsung melihat dan memantau hasil kinerja karyawan. Sosoknya yang rendah hati dan jarang marah membuat anak buahnya sangat menyayangi dirinya. Meskipun apabila membuat kesalahan, mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Bagi Winardi, karyawan sudah menjadi bagian dari perusahaan yang bersama-sama mengupayakan kemajuan perusahaan. Antara karyawan dan pimpinan harus satu hati demi kesejahteraan bersama. Untuk itu, ia tidak pernah menganggap karyawan-karyawan sebagai asset perusahaan.

“Saya tidak pernah bilang itu pegawai tetapi anggota. Saya tidak bisa bilang pegawai sebagai asset, karena mereka tidak bisa kita “pelihara” sampai tua. Kalau asset itu seperti komputer, kendaraan dan lain-lain, yang dibeli dari hasil usaha dan dapat menghasilkan dan menguntungkan perusahaan. Sementara SDM, bisa melakukan manipulasi dan merugikan bukan menguntungkan perusahaan. Jadi tidak ada loyal customer, loyal employee, dan lain-lain sehingga yang tepat SDM adalah partner,” tegasnya.

(Revisi hlm 4 alinea 2)
Saya tidak pernah mengatakan karyawan saya adalah pegawai tetapi “anggota”. Dan semua orang mengatakan bahwa SDM itu asset, bagi saya SDM bukan asset tetapi partner saya dalam bekerja, karena kita sama-sama berjuang untuk memajukan perusahaan.
“Anggota” tidak bisa di “keep”, makin dipoles,  makin bagus, makin pintar malah semakin parah. INI FAKTA. Kita tidak bisa memelihara mereka sampai tua. Mereka bisa beralih ke perusahaan lain karena mendapatkan pekerjaan  dengan mendapatkan gaji yang lebih tinggi misalnya, apakah itu dikatakan ASSET????

Bagi saya yang dikatakan asset misalnya seperti komputer, kendaraan, karena dibeli dari hasil usaha dan dapat menghasilkan dan menguntungkan perusahaan. Sementara SDM yang melakukan manipulasi misalnya, malah merugikan dan bukan memajukan perusahaan. Apakah itu dikatakan ASSET????
“Dan kenapa SDM dikatakan asset sementara SDM itu kan manusia, bukan benda. Mungkin dikatakan SDM sebagai “asset” hanya sebagai arti kiasan, tetapi menurut saya tidak layak kalau SDM dikatakan “asset”.
Saya rasa lebih tepat SDM itu dikatakan PARTNER”.

Selama menjalankan usaha yang berkembang besar, Winardi selalu mengedepankan untuk bekerja keras. Ia bahkan tidak pernah memikirkan harapannya tentang perusahaan ke depan, baik jangka panjang maupun pendek. Keyakinannya adalah bahwa selama perusahaan mengikuti perkembangan zaman tidak akan mengalami kehancuran. Bahkan ia tidak memiliki rencana apapun tentang masa depan perusahaan.

“Just do it saja. Tidak ada rencana dan harapan jangka apapun. Yang penting saya mau, itu saja. Kalau sekarang saya mau memiliki hotel tetapi belum dikasih sama Yang Diatas, berarti itu yang terbaik. Pokoknya dalam hidup saya itu, plan do made planning. Lakukan yang bisa dilakukan, yang penting tidak membahayakan dan merugikan orang lain,” kata pemilik motto “Kesuksesan itu Milik Semua Orang” ini.

Winardi menegaskan bahwa agar setiap manusia ingin hidup berbahagia. Salah satu cara yang paling ampuh sesuai dengan pengalamannya adalah dengan membahagiakan kedua orang tua. Karena atas doa orang tualah, cita-cita dan harapan seorang anak akan diwujudkan oleh Tuhan. Bahkan, Tuhan menjamin restu orang tua akan membuat langkah-langkah seorang anak sangat mudah menjalani hidup. “Tidak ada yang mustahil dan tidak bisa. Just do it,” imbuhnya.

Begitu juga dalam menghadapi era globalisasi dan perdagangan bebas saat ini. Menurut Winardi tidak perlu ketakutan berlebihan terhadap datangnya era tersebut. Ia mencontohkan bagaimana zaman dahulu kantor menggunakan mesin ketik untuk menuliskan laporan perusahaan. Seiring perkembangan zaman, mesin ketik berganti dengan komputer atau laptop dan tidak menimbulkan masalah berarti.

Winardi hanya mengingatkan bagaimana perhatian pemerintah terhadap rakyatnya. Karena di tengah perkembangan zaman globalisasi, rakyat hanya mampu menjerit menyuarakan penderitaan yang dialami. Sementara pemerintah terkadang cenderung mengabaikan dan kurang menanggapi keinginan masyarakat. Padahal, banyak sekali yang harus dibenahi untuk mendorong rakyat agar mampu bersaing di dunia global.

“Pemerintah harus memiliki kabinet yang mampu untuk memperbaiki masing-masing sektor dalam arti kata sudah paham, mengetahui dan mengerti betul akan bidangnya. Selama ini yang dipersiapkan untuk duduk di kabinet kan orang-orang politik. Tetapi akibatnya, sedikit-sedikit digoyang oleh saingan politiknya sehingga kalau mau menyalahkan pemerintah juga tidak bisa. Itu harus dibenahi secepatnya,” tambahnya.

PENDAPAT PERIHAL PEMERINTAHAN SEKARANG).

Semua juga sudah tahu bagaimana dengan pemerintahan kita saat ini. Perubahan sudah ada tetapi masih pada sektor tertentu, masih banyak yang perlu dibenahi.
Kelemahan pemerintah kita sampai saat ini bahwa masih kurang cepat dan tanggap dalam membenahi yang seharusnya dibenahi.  Jika sudah terjadi baru sibuk untuk berbenah.
Menurut saya pemerintah harus memiliki kabinet-kabinet yang mampu untuk memperbaiki masing-masing sektor dalam arti kata sudah paham, mengetahui dan mengerti betul akan bidangnya. Segalanya harus dibenahi. Tidak sibuk mengurus masalah politik terus. Sedikit digoyang sudah menanggapi masalah politik yang ada.
Mau menyalahkan pemerintah, juga tidak bisa karena jadi pemerintah juga tidak gampang. Yang perlu saat ini adalah semua jajaran/masyarakat harus kerjasama dan segala sesuatunya harus cepat dibenahi.

Winardi berpendapat bahwa generasi muda sekarang harus memiliki pola pikir yang global. Mereka tidak boleh melepaskan diri dari ajaran agamanya masing-masing. Generasi muda harus menyadari bahwa agama mampu membantu mengubah pola pikir dan karakter mereka. Selain itu, generasi muda juga harus memiliki kesadaran dan kemauan untuk berjuang demi kebaikan semua umat manusia.

“Generasi muda juga harus memiliki ilmu yang tinggi. Kesimpulan saya, lakukan yang terbaik. Jangan lihat orang lain harus dilihat pada diri sendiri dan jangan sekalipun mengikuti orang lain. Itu juga saya tekankan pada anak-anak saya sembari memberikan dorongan kepada mereka untuk mengembangkan bakat dan minat masing-masing. Saya tidak pernah mengekang kegiatan mereka selama masih positif. Karena sebagai keluarga, kami saling mendukung dan bekerja dalam satu team,” ungkap Drs. Winardi, MBA menutup pembicaraan.

Surungan Sitorus

No Comments

Surungan Sitorus
Direktur Utama PT BPR Mangatur Ganda

Memberikan Pelayanan Terbaik Bagi Nasabah

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa kondisi masyarakat menengah ke bawah di Indonesia masih memprihatinkan. Meskipun memiliki produktivitas yang bisa meningkatkan kesejahteraan, tetapi banyak kendala yang menghalangi. Yang mana, apabila potensi yang mereka miliki dapat dikembangkan, selain meningkatkan kesejahteraan juga membuka lapangan kerja.

Ironisnya, kendala yang menghalangi pengoptimalan produktivitas kalangan tersebut berasal dari birokrasi sektor perbankan yang bertele-tele. Padahal, kehadiran sektor perbankan sangat diperlukan untuk permodalan yang mereka perlukan agar produktivitas semakin meningkat. Akibatnya, banyak di antara masyarakat menengah ke bawah yang enggan berhubungan dengan pihak bank.

“Itulah yang memotivasi saya dalam menekuni pekerjaan ini. Keengganan masyarakat untuk bekerja sama dengan bank, membuat saya berpikir harus menekuni profesi ini. Saya harus mampu memberi pelayanan terbaik bagi nasabah, sehingga mereka akan memilih perusahaan yang saya pimpin untuk mengembangkan usaha,” kata Surungan Sitorus, Direktur Utama PT BPR Mangatur Ganda.

Selain itu, motivasi lain yang meningkatkan semangat Sitorus dalam menekuni usaha ini adalah cita-cita masa kecilnya. Saat masih berada di desa Parsambilan, Kecamatan Silaen Kabupaten –Tobasa, ia bercita-cita menjadi seorang profesional di bidang perbankan. Untuk mewujudkan cita-cita mulia tersebut, setelah lulus SMA 5 Medan tahun 1985, ia menempuh pendidikan D3 di Jurusan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Ia melengkapinya dengan melanjutkan S1 pada Jurusan Manajemen, FE STIE Labuhan Batu.

Meskipun demikian, pria kelahiran 11 Desember 1966 ini, merasa belum puas dengan raihan prestasi selama ini. Sitorus yakin, dengan dukungan dari seluruh komponen terkait dari ruang lingkup perusahaan mampu menghasilkan prestasi yang lebih baik. “Saya yakin dengan profesi yang saya tekuni memiliki kesempatan untuk melahirkan prestasi yang lebih baik lagi. Asalkan mendapat dukungan penuh dari seluruh komponen di perusahaan ini,” tandas pria yang menyelesaikan pendidikan SD dan SMP di kampung halamannya ini.

Dalam menjalani profesi, Sitorus tidak lepas dari perasaan suka dan duka. Seperti juga manusia lain, dalam berkarier masalah tersebut ditambah kendala harus dihadapinya. Ia berbagi pengalaman bahwa perasaan suka biasanya akan datang kalau mampu menyelesaikan pekerjaan yang sulit dengan hasil memuaskan.

“Duka saya adalah ketika karyawan terbaik saya cuti atau sakit padahal tenaganya sangat dibutuhkan. Sedangkan kendala, seperti juga masalah yang dihadapi dunia perbankan lain adalah kredit bermasalah. Apalagi kalau jumlahnya besar dan susah ditagih,” tandasnya.

Sitorus memiliki obsesi untuk mewujudkan impian agar perusahaan dibawah pimpinannya menjadi pilihan dan solusi terbaik bagi masyarakat Labuhan Batu Utara dan sekitarnya. Untuk itu, ia telah menyusun rencana agar pelayanan perusahaan kepada masyarakat semakin meningkat dan tampil menjadi yang terbaik. “Kita harus bekerja lebih professional, supaya mampu menaikkan kepercayaan masyarakat untuk bermitra dengan perusahaan,” tambahnya.

Menyiapkan Pengganti

Surungan Sitorus merasa sangat terbantu dengan peran pemerintah terhadap profesi yang digelutinya. Meskipun secara institusi pemerintah memberi dukungan yang sangat besar, tetapi ruang gerak BPR sangat terbatas. Karena secara struktural perusahaan seperti BPR dibawah pimpinannya memiliki posisi setingkat di bawah bank konvesional.

“Pemerintah, melalui Bank Indonesia melakukan pengawasan rutin satu kali dalam satu tahun. Sebagai pimpinan perusahaan, saya mendapat ilmu dan pengalaman dari pengawasan tersebut. Semua itu bisa langsung saya aplikasikan di perusahaan melalui pimpinan setingkat middle manager, dibawah jenjang saya,” tuturnya.

Menurut Sitorus, peran besar BPR di tengah-tengah masyarakat saat ini harus diakui. Karena BPR telah menjadi solusi terbaik bagi pelaku produksi/usaha yang ingin mengembangkan usahanya, tetapi terganjal oleh ketatnya persyaratan yang ditetapkan oleh bank lain (The five C’S on Credit). “Dengan demikian, BPR telah berkiprah di tengah masyarakat karena syarat-syarat pinjaman yang relatif mudah. Ini sesuai dengan fungsi BPR untuk pertama menghimpun dana masyarakat dalam bentuk tabungan dan deposito. Kedua memberikan pinjaman kepada masyarakat,” ungkapnya.

Sebagai orang yang matang dan besar dalam usaha BPR, Sitorus bertekad untuk terus mengabdikan diri dan menggeluti profesi yang dicintainya tersebut. Ia akan “berhenti” ketika sudah mampu mengkader “sahabat-sahabat-nya” – karyawan maupun karyawati perusahaan- menjadi top leader untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan yang telah dicanangkannya.

Secara khusus, Sitorus telah mempersiapkan langkah-langkah kaderisasi dan regenerasi, sebagai berikut:

Menerapkan prinsip keteladanan, sehingga tim yang dipimpinnya mampu menangkap pelajaran dari contoh yang diberikan pimpinannya tanpa harus berteori panjang lebar
Bagi karyawan atau karyawati potensial, diberi pelatihan baik berupa keterampilan dasar maupun keterampilan manajerial. Seperti pada bulan Juli lalu, sebanyak 12 orang Pimpinan Cabang dan Karyawan telah mengikuti Training Off Management di Hotel JW Mariott Medan dengan instruktur dari Jhon Robert Power (JRP) Jakarta
Sebagai pimpinan, tak segan-segan ia memberi reward bagi karyawan atau karyawati terbaik, sebagai motivasi agar selalu bekerja sungguh-sungguh dan menunjukan prestasi dan kinerja terbaik

“Untuk menyerap informasi yang lebih actual, saya memberi fasilitas berlibur bersama Keluarga Besar BPR Mangatur Ganda. Dengan demikian, keakraban antar karyawan, pimpinan dan keluarganya lebih terjalin. Nah, disela-sela liburan saya bisa melakukan komunikasi lebih intensif, sehingga saya mampu mengenali karakter sahabat-sahabat saya itu, siapa saja yang layak diberi kepercayaan untuk memimpin. Sebab bagi saya, pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang mampu mencetak calon pemimpin berikutnya tanpa ada rasa tersaingi,” ungkapnya.

Sebelum Patah Sudah Tumbuh

Menurut pengamatan Surungan Sitorus, ada beberapa catatan mengenai generasi muda zaman sekarang. Pertama, ia merasa sangat prihatin melihat gaya hidup generasi muda yang mengadopsi gaya hidup penuh hura-hura dan kurang tekun dalam belajar/pendidikan. Selain itu, generasi muda juga cenderung bangga dengan pola hidup mereka yang sangat konsumtif.

Sitorus, mencontohkan bagaimana generasi muda sekarang tergila-gila dan bangga menggunakan sarana komunikasi canggih, Blackberry. Padahal, sejatinya mereka hanyalah diperbudak oleh produk-produk semacam itu. Karena di negara asalnya, penemu Blackberry masih belum puas dengan pencapaian mereka untuk menguasai dunia. Apalagi belakangan terjadi aksi boikot di beberapa negara akibat pembatasan RIM (Research in Motion), produsen Blackberry tersebut.

Disisi lain, Sitorus juga bangga dengan prestasi yang ditorehkan anak-anak muda bangsa ini. Seperti keberhasilan kelompok mahasiswa ITS Surabaya menjuarai ”Festival Mobil Hemat Energi” di Malaysia beberapa waktu lalu. Bahkan di bidang olimpiade science, pelajar Indonesia berkali-kali meraih medali emas, perak, dan perunggu.

“Dengan kondisi tersebut, saya masih mempunyai keyakinan bahwa mereka mampu membawa ‘Tongkat Estafet’ kepemimpinan bangsa di masa mendatang. Hal ini dapat dicapai dengan lebih menitikberatkan pada peran ‘Generasi yang lebih tua’, yaitu dengan memberi mereka keteladanan. Mari kita rangkul mereka supaya komunikasi lebih lancar karena ‘Satu aksi lebih dari seribu teori’. Begitu,” katanya.

Sitorus sangat yakin bahwa bangsa Indonesia bisa memercayakan masa depan di tangan generasi penerus. Asalkan dengan bimbingan, dukungan dan perhatian penuh dari generasi sekarang, mereka mampu menjadi nakhoda bangsa ini. Di sisi lain, generasi tua harus mampu menstranfer ilmu, akhlak dan moral yang dimiliki. Demi generasi muda, mereka harus mampu menahan diri untuk tidak korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), anarkisme dan hal-hal buruk lainnya.

“Generasi tua pasti akan berlalu seiring waktu, maka mari kita mempercayakan masa depan di tangan generasi penerus. Kalau perlu kita ubah peribahasa lama, ‘patah tumbuh hilang berganti’ menjadi ‘Sebelum patah sudah tumbuh, sebelum hilang sudah berganti’,” tegasnya.

Sedangkan kondisi Indonesia sendiri, menurut prediksi Sitorus, masih akan mengalami krisis ekonomi sekali lagi. Pendapat ini dilandasi dengan situasi global seperti terjadinya bencana di berbagai negara yang menyebabkan kenaikan harga pangan dunia akibat kegagalan panen dan rusaknya infrastruktur. Di sisi lain, kebijakan pemerintah yang kontra produktif seperti konversi minyak tanah ke gas, pengumuman kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil tangal 16 Agustus 2010, dan lain-lain, semua bermuara pada satu hal yaitu kenaikan harga-harga.

“Indonesia akan kembali dihantam krisis ekonomi babak kedua setelah tahun 1997. Tetapi dengan kondisi sekarang, Indonesia masih bisa tertata dengan baik meskipun dibutuhkan kerja keras dan kesungguhan dari semua pihak. Bidang yang harus diproritaskan adalah sektor riil yang benar-benar ‘Bersentuhan dengan masyarakat yaitu pelaku ekonomi kelompok menengah dan kecil’,” tuturnya.

Sitorus telah membuktikan bahwa sektor ekonomi kelompok kecil dan menengah terbukti mampu bertahan di tengah krisis ekonomi. Ia mengingatkan bagaimana perusahaan-perusahaan besar bertumbangan pada saat krisis moneter 1998, tetapi tidak berarti apa-apa dengan ekonomi kelompok kecil dan menengah yang mampu bertahan dengan baik.

“Semangat itu harus dimiliki oleh generasi muda untuk tetap bertahan di tengah deraan krisis. Pesan saya, raih kesempatan di masa muda, belajarlah dengan sungguh-sunguh, bertemanlah dengan seluruh lapisan masyarakat, gunakan mudamu sebelum datang masa tuamu, manfaatkan masa sehat sebelum masa sakit, TAKE THE CHANCE,” kata pria yang berharap pemerintah memberi kemudahan untuk perijinan membuka usaha penukaran uang (Money Changer) ini. “Karena hingga hari ini, belum dapat terwujut selama BPR berdiri di Labuhan Batu Utara,” tambahnya.

Sitorus sangat bersyukur, dalam menjalani pekerjaan mendapat dukungan sepenuhnya dari keluarga. Anak dan istrinya sangat memahami profesi yang ditekuninya dengan menunjukkan sikap positive thinking meskipun ia sering terlambat pulang ke rumah. Sambutan keluarga tetap hangat karena mereka memahami apa yang dikerjakan oleh ayah dan suaminya untuk kepentingan mereka juga.

“Begitu sampai di depan pintu, anak-anak berebut membawa tas kerja sedangkan si ibu menyediakan air minum untuk saya. Karena anak-anak baru beranjak dewasa, sehingga belum terlihat apakah mereka berminat pada profesi saya atau tidak. Untuk memotivasi mereka saya berusaha menanamkan pengertian, bahwa hanya dengan ketekunan, kerja keras dan kejujuran kita akan menjadi orang sukses. Apabila anak meminta sesuatu, saya tidak langsung memberikan, tetapi saya beri tugas terlabih dahulu. Misalnya memijat kaki dengan hitungan sampai 50 kali, supaya mereka paham bahwa segala sesuatu diperoleh melalui sebuah upaya,” tegasnya.

Biodata singkat

Nama : Surungan Sitorus
Tempat tanggal lahir: Tobasa, 11 Desember 1966
Pekerjaan: Direktur Utama PT BPR Mangatur Ganda

Riwayat pendidikan:
SD Negeri Parsambilan, tahun 1978
SMP Negeri Silaen, tahun 1982
SMA Negeri 5 Medan, tahun 1985
D3 Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Strata 1, STIE Labuhan Batu – Ekonomi/Manajemen

Riwayat Pekerjaan
Tahun 1989 – Marketing koperasi simpan pinjam (selama 2 tahun)
Tahun 1991 – Marketing BPR Mangatur Ganda
Tahun 1996 – Pimpinan Cabang PT BPR DIORI GANDA, Indra Pura – Asahan (SUMUT)
Tahun 1997 – Pimpinan Cabang PT BPR MANGATUR GANDA, Cabang Aek Nabara Labuhan Batu SUMUT
Tahun 1998 – Direktur Operasional PT BPR Mangatur Ganda, Aek Kanopan Labuhan Batu Utara
Tahun 2000 – Direktur Utama PT BPR Mangatur Ganda s/d sekarang

Nusantara Sitepu

No Comments

Nusantara Sitepu
Direktur Utama BPR Solider

Misteri Perjalanan Hidup Putra Karo

Tidak pernah terbayangkan dalam hidup seorang Nusantara Sitepu untuk berkarier di dunia keuangan seperti sekarang. Latar belakang pendidikannya yang beragam, tidak satupun berpijak pada keuangan atau perbankan. Minatnya jauh lebih besar ke dunia kerohanian sehingga memperoleh gelar sarjana teologi dan sempat menjadi dosen.

Pria kelahiran Desa Berastepu, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, 15 Juni 1953 ini menjalani pendidikan Sekolah Dasar di desanya. Ia kemudian melanjutkan ke SMP dan SMA Swasta Seminari di Pematang Siantar. Ia memperoleh gelar sarjana lokal setelah menyelesaikan pendidikan filsafat dan teologi di Seminari Tinggi Parapat/Pematang Siantar (1975-1980).

“Saya merasa perjalanan hidup saya ini suatu misteri. Dari latarbelakang filsafat/teologi menjadi mengurusi uang yang sangat membutuhkan keahlian akuntansi dan keuangan. Terus terang pada mulanya saya harus berjuang keras belajar, karena sadar sekurangnya saya harus memahami pengetahuan dasar seperti jurnal dan neraca. Untungnya, staf dan pegawai saya banyak membantu,” kata Direktur Utama BPR Solider ini.

Ia juga merasa bersyukur, karena pada saat belajar di sekolah menengah memiliki prestasi gemilang dalam mata pelajaran berhitung dan aljabar. Ketika belajar filsafat, salah satu mata kuliah favorit dan memiliki prestasi tertinggi adalah mata kuliah Logika. “Kemampuan berhitung dan logika ini saya rasakan sangat membantu dalam kehidupan umum, termasuk dalam tugas saya memimpin BPR Solider,” imbuh dosen luar biasa di Unika St. Thomas Sumatera Utara untuk mata kuliah MKDU Logika, Agama dan Etika tahun 1984-1993 ini.

Tahun 1997 bersama beberapa temannya, Sitepu mendirikan BPR Solider di Pancur Batu. Selang lima tahun kemudian (2003), ia  diminta untuk ikut duduk menjadi salah satu direksi. Ia banyak belajar di situ saat berada dibawah kepemimpinan direktur utama Sahata Tinambunan SE dan direktur operasional Ir. Todo Pasaribu. Sitepu sendiri menjabat sebagai direktur umum dan keuangan sampai tahun 2007 RUPS menunjuk dirinya untuk menjabat sebagai Direktur Utama, sampai sekarang.

“Di atas semuanya, saya percaya penyelenggaraan Ilahi membuat semuanya  terlaksana dengan baik. Kepercayaan bahwa Tuhan yang menyelenggarakan semuanya, membuat saya yakin bahwa Ia akan memberikan cukup untuk kebutuhan hidup saya. Selain itu saya berprinsip, kalau tidak memiliki kelebihan dalam akuntansi dan keahlian keuangan, sekurang-kurangnya saya bisa mempunyai kelebihan dalam kejujuran dan integritas,” tandasnya.

Menurut Sitepu, pimpinan lembaga keuangan selayaknya bisa menjadi panutan mengenai kejujuran. Namun meskipun kejujuran diatas segalanya, pengetahuan dan keahlian lain sangat diperlukan. Ia mencontohkan, seseorang yang jujur pun akan mengalami kesulitan juga memimpin sebuah lembaga keuangan bila tidak dibekali pengetahuan pembukuan dan akuntansi yang baik.

Sebisa mungkin, Sitepu selalu berpikir jauh ke masa depan. Tidak mau terjebak dalam penyelewengan jabatan selama menjalani karier. Ia tidak ingin anak-anak dan keluarga besarnya menanggung malu akibat ulah yang tidak terpuji. Selain itu, ia sendiri juga tidak ingin didera kepedihan lahir batin pada usia senja yang seharusnya menikmati masa pensiun dengan tenang, damai dan tenteram.

“Sering saya katakan kepada anak-anak dan pegawai saya, mari kita berpikir jangka panjang, jangan sempit dan pendek. Lihatlah, banyak pejabat sekarang pada masa tuanya harus diseret ke pengadilan dan dipenjarakan karena korupsi dan meyeleweng pada masa jabatannya. Kalau saya, saya ingin masa tua yang tenang dan tenteram,” tegasnya. Oleh karena itu, ia tidak mau menanam bom waktu dengan korupsi dan menyelewengkan uang. “Itu berpikir terlalu pendek dan bodoh. Demi uang kita korbankan harga diri dan kedamaian batin, sangat tidak setara,” imbuhnya.

Siap Mundur

Sitepu mempunyai motivasi sangat tinggi untuk menjadikan BPR Solider sebagai BPR yang sehat dan maju. Sebagai seorang pemilik saham, ia memiliki kepentingan agar BPR berjalan dengan baik dan maju, sehingga memberikan keuntungan kepadanya. Di sisi lain, ia juga merasa telah berbuat “sesuatu” bagi masyarakat dan bangsa Indonesia yang dicintainya.

“Melalui usaha ini, saya ikut membangun ekonomi masyarakat dengan fasilitas jasa keuangan perbankan. Suatu kebanggaan bagi saya di antara teman-teman, sekarang dan di masa depan, walaupun kelak tidak lagi menjadi direksi, bahwa saya ikut memiliki sebuah bank. Ini merupakan kesempatan yang masih langka di tengah-tengah masyarakat. Maka saya mau BPR ini tetap tegak dan berkembang, karena ini suatu usaha yang terhormat,” tuturnya.

Sebagai pimpinan BPR, Sitepu sangat bersyukur terhadap perhatian besar pemerintah, dalam hal ini Bank Indonesia. Tanpa memungut biaya sepeserpun BI melakukan pengawasan terhadap BPR supaya tidak terjadi praktek-praktek perbankan yang tidak sehat. Adanya pengawasan dari pemerintah tersebut, membuat dirinya –baik sebagai Direktur Utama maupun sebagai seorang pemilik saham BPR Solider- merasa “nyaman” dalam melaksanakan pekerjaannya.

Sitepu mengakui banyak menemukan kendala dalam menjalankan perusahaan. Tantangan terbesar adalah menjaga tetap terjadi kesatupaduan visi antara para pemegang saham yang saat ini berjumlah 11 orang. Ia yakin asalkan terpelihara, semua itu menjadi modal dasar yang sangat kuat untuk pengembangan perusahaan ke depan. Apalagi dengan tetap berpegang teguh pada visi awal untuk tidak berebut menempatkan “orang-orang awak” dalam jajaran manajerial.

Menurut Sitepu, di perusahaan manapun perilaku KKN seperti itu umumnya bersifat merusak. Hal tersebut akan diperparah apabila di antara pemegang saham yang out of job mulai berebut menjadi komisaris dan merasa dirinya yang paling pantas untuk itu. Ke depan, ia memiliki obsesi agar penggantinya nanti adalah seorang profesional handal yang akan membawa BPR Solider semakin maju dan terdepan.
“Sempat ada pengganti saya seperti tadi, yang didudukkan secara paksa oleh pendukungnya yang kebetulan kuat sahamnya, padahal pada dasarnya dia itu “out of order”, wah berabe-lah”, katanya.

Pemimpin yang baik itu harus mempunyai ‘sense of crisis’. “Nggak perlu bercokol terus. Asal sudah ada penerus-penerus yang professional yang telah siap menjalankan, kita harus siap mundur. Saya sudah menjabat sebagai direksi sejak tahun 2003 dan usia sekarang sudah 57 tahun. Kalau pengganti sudah siap, saya pun siap mundur atau dimundurkan,” tandasnya.

Sebagai seorang pengusaha, Sitepu merasa telah ikut membantu pemerintah. Setidaknya, ia telah turut berupaya mewujudkan good corporate governance di lingkungan pekerjaannya. Ia telah mencoba mewujudkan prinsip-prinsip hidup yang baik, dan prinsip-prinsip bekerja yang baik. Tanpa harus menggembar-gemborkan apa yang dilakukannya, ia terus berkarya.

“Jangan sampai dalam diri kita sendiri keropos dan amburadul. Itu semua hanya menuju kemunafikan kalau kita sendiri tidak lebih dulu menerapkan di lingkungan kita sendiri. Jadi bila di lingkungan kerja kita kita menerapkan prinsip-prinsip kerja yang baik, clean and good corporate governance itu, saya kira kita sudah menyumbang sesuatu yang sangat berharga bagi negeri ini,” ujar pria yang menguasai bahasa Inggris, bahasa Karo, bahasa Toba, dan bahasa Indonesia secara aktif ini. Sementara bahasa Belanda dan bahasa Latin mampu dipahaminya secara pasif.

Berdiri untuk Melayani

Pendirian PT BPR Solider, menurut Sitepu, berawal dari pemikiran seorang tokoh pemimpin Gereja Katolik, P. Fidelis Sihotang OFMCap (alm). Pemikirannya adalah apapun yang dimiliki harus digunakan dan diberdayakan agar berguna untuk orang lain. Beberapa orang yang menurut dia mempunyai uang didekati untuk mensosialisasikan pemikirannya.

“Kata beliau, uang itu kalau kita satukan bisa membuka BPR. Uang kita itu tidak hilang atau habis, bahkan kita akan mendapat imbalan dari hasil usaha itu, sedangkan masyarakat juga ikut menikmati jasanya. Semakin baik dikelola imbalannya semakin besar, dan begitu juga dengan jasanya untuk dinikmati masyarakat. Jadi kena dua kali sekaligus.  Begitu kira-kira pemikiran almarhum P. Fidelis Sihotang, yang memiliki motivasi kental untuk melayani masyarakat dengan dana yang kita punya,” katanya.

Para pendiri PT BPR Solider memiliki visi mewujudkan impian untuk menjadi BPR yang ikut membangun ekonomi masyarakat secara  maksimal. Sedangkan misi yang diusung ialah keberpihakan pada pengusaha kecil dan menengah melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan pendampingan/pembinaan usaha baik perorangan maupun kelompok usaha.

Menurut Sitepu, pemilihan nama “Solider” bukan kebetulan semata, tetapi sangat terkait dengan visi dan misi perusahaan. Dengan motto “Tumbuh dan Berkembang bersama Anda dengan semangat kemitraan”, BPR Solider sadar bahwa tidak akan bisa berkembang sendirian tanpa perkembangan masyarakat sendiri.

“Dengan masyarakat bisa menikmati jasa BPR, barulah BPR akan memperoleh sesuatu. Semakin besar pelayanan BPR kepada masyarakat, semakin besar perkembangan BPR itu sendiri. Langkah yang akan kami lakukan ke depan adalah meningkatkan profesionalisme dan semangat pelayanan. Kalau itu sudah membudaya di antara staf dan seluruh jajaran marketing, BPR Solider akan maju,” tegas Sitepu yang pada tahun 1998 sempat mengikuti rombongan Menteri Agama dr. Tarmizi Tahir ke Washington, AS itu.

Tidak Ingin Menyusahkan Anak

Sebagai orang tua dengan tiga anak, Sitepu mencoba mempersiapkan dengan matang masa depan mereka. Ketiga anaknya diupayakan mendapat pendidikan yang memadai sebagai bekal hidup dan kemandiriannya bagi masa depan. Ia tidak ingin, mereka hidup susah sehingga tidak mampu berbuat baik ataupun membalas budi. Ketakutan lebih besar darinya adalah apabila anak tidak dibekali ilmu pengetahuan yang cukup, hidupnya susah sehingga cenderung berperilaku koruptif.

“Anak tertua kami Sarjana Teknik Industri, sekarang bekerja di satu perusahaan swasta yang bonafide. Anak kedua, perempuan tamat bidan dan bekerja sebagai PNS di satu puskesmas. Anak ketiga, masih kuliah di sebuah perguruan tinggi di Bandung. Di sisi lain kami sendiri membuat persiapan, supaya nanti tidak perlu menyusahkan dan mengganggu anak-anak. Kalau sudah begitu, rumit itu,” kata peraih gelar Sarjana Pendidikan melalui program penyetaraan di STKIP (Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Widya Yuwana Madiun tahun 2003 tersebut.

Sitepu tidak ingin, pada usia tuanya nanti anak-anak harus menanggung biaya hidup orangtua karena orangtua tidak memiliki bekal sendiri. Untuk itu, ia telah mempersiapkan diri dengan baik. Sadar mengandalkan gaji saja tidak cukup, ia berjuang keras dengan usaha-usaha keluarga yang lain, seperti berladang serta usaha-usaha lainnya. “Saya terbantu karena istri juga seorang bidan PNS bekerja di Puskesmas,” ungkapnya.

Melihat perkembangan anak-anaknya, begitu juga pandangan dan pengamatan Sitepu terhadap generasi muda Indonesia, sebagai orang tua, berpendapat sudah seharusnya untuk mempercayakan keberlangsungan bangsa di tangan mereka. Karena bagaimana pun, hal itu akan terjadi secara alami terkait faktor usia yang tidak dapat ditolak.

“Kita harus percaya bahwa mereka mampu. Akan muncul pribadi-pribadi tangguh yang mempunyai kesadaran yang tinggi dan punya jangkauan pemikiran jauh ke depan dan tidak puas dengan kesenangan sesaat. Pasti suatu saat akan muncul generasi muda seperti itu,” tegasnya.

Optimisme Sitepu tidak hanya terhadap generasi muda. Pendapatnya kurang lebih sama mengenai kondisi Indonesia di masa mendatang. Dengan berlandaskan pada sikap optimis, ia yakin ke depan Indonesia akan semakin baik. Dasar pemikiran yang melandasi keyakinannya adalah hakekat manusia yang mempunyai dua kecenderungan hakiki dalam diri masing-masing, kebaikan atau kejahatan, bersifat sosial atau egoisme.

Dalam pandangan Sitepu, kecenderungan baik akan menang atas kecenderungan buruk seiring dengan semakin tingginya kesadaran manusia. Kondisi tersebut semakin nyata dan berkembang dengan melihat kemajuan bangsa-bangsa lain, yang dengan sendirinya semakin meningkatkan pendidikan dan wawasan.

“Lihatlah sekarang sudah muncul banyak gerakan-gerakan perbaikan. Nanti partai-partai atau pemimpin yang hanya membohongi rakyat tidak akan laku lagi. Semakin lama rakyat semakin pandai, semakin kritis, dan semakin sadar juga. Dalam hal itu saya sangat optimis walau mungkin masih lama waktunya. Mengenai prioritas untuk mencapainya, maka tegas saya katakan, pendidikan, dengan porsi yang signifikan untuk pendidikan nilai-nilai,” kata Sitepu menegaskan.

Ir. Russel Tambunan, MBA

No Comments

Ir. Russel Tambunan, MBA
PT Agrifish Consultama Investment

Membina dan Mencetak Pengusaha Mandiri

Setiap pengusaha selalu berharap keuntungan besar dari usaha yang dijalaninya. Berbagai cara digunakan untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya bagi perusahaan. Kadang, pengusaha bahkan melakukan kegiatan yang digolongkan sebagai pelanggaran hukum demi mewujudkan cita-citanya.

Namun, di antara pengusaha yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, masih ada pengusaha berhati mulia. Pengusaha seperti ini tidak hanya memikirkan kepentingan sendiri tetapi juga kesejahteraan bagi orang lain. Salah satunya, Ir. Russel Tambunan, MBA yang berusaha sekuat tenaga mengangkat kehidupan orang-orang di sekitarnya. Dalam salah satu perusahaan net-work marketing yang didirikannya, Ia memiliki 20 ribu orang  marketer yang diharapkan mampu menjadi pengusaha mandiri.

“Menjadi tanggung jawab saya lah untuk membina mereka”. Kepada mereka saya sering mengatakan bahwa untuk menjadi pengusaha mandiri, harus penuh semangat, disiplin, ulet, fokus dan tidak boleh cengeng. Bersama-sama kita mencoba menjadi orang yang benar-benar mandiri, berkembang dan maju. Saat ini saya fokus terhadap pembinaan mereka ini sehingga nantinya mampu membuka usaha baru mandiri,” kata Presiden Direktur PT Agrifish Consultama Investment ini.

Keinginan dan cita-citanya untuk mencetak entrepreneur di Indonesia terinspirasi oleh konglomerat yang melakukan hal serupa. Ia mencontohkan bagaimana Ciputra, Surya Paloh, Sampurna, Lippo atau Abu Rizal Bakrie dengan dana dan kesempatan  yang dimiliki, sebagian diperuntukkan untuk  mengkader dan mencetak pengusaha baru. Terciptanya pengusaha atau entrepreneur baru akan sangat memudahkan membangun Indonesia dan mensejahterakan bangsa.

Apalagi, jumlah pengusaha di Indonesia masih sangat kecil dan hanya mencapai dua persen dari jumlah penduduk. Idealnya, agar tercipta kesejahteraan yang merata di segala lapisan masyarakat, jumlah pengusaha minimal tujuh persen dari total jumlah penduduk. Kondisi ini jauh berbeda dari Singapura, Jepang dan negara-negara maju lainnya. Ia berharap, lebih banyak lagi pengusaha baru yang lahir sehingga tercipta kesejahteraan yang diinginkan seluruh lapisan masyarakat.

“Proses pengkaderan harus terus terjadi, sehingga banyak pengusaha baru dan mandiri di seluruh Indonesia”. Dalam membangun Indonesia kita harus memiliki banyak pengusaha sehingga tidak kalah dari negara lain. Yang penting, semua harus bergerak bersama-sama dengan semangat saling percaya dilandasi niat baik. Tetapi niat baik saja tanpa pengetahuan dan keterampilan menjadi mubazir, tidak sampai pada tujuan. Saya berharap, mudah-mudahan di sisa hidup saya, banyak orang terbantu dan menjadi pengusaha-pengusaha muda sehingga saya bisa “merasa puas dan merasa berguna” diakhir karir saya, ungkapnya.

Pria kelahiran Tarutung, 10 Desember 1955 ini mengungkapkan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada konglomerat yang berperan terhadap kepentingan orang banyak. Apalagi mereka yang mendedikasikan diri bergerak di bidang pendidikan yang merupakan salah satu titik lemah bangsa kita. Sesuatu yang juga dilakukan oleh konglomerat dunia seperti Bill Gates yang telah memberikan begitu banyak dari keuntungan bisnisnya untuk kesejahteraan, kesehatan dan pendidikan bagi penduduk miskin dan terlantar di seluruh dunia. “Saya mungkin tidak bisa mencapai seperti itu tetapi saya berusaha agar apa yang saya lakukan memiliki arti bagi orang banyak,” imbuhnya.

Memperbaiki Diri

Ir. Russel Tambunan, MBA menyelesaikan pendidikan SD-SMP di Sumatera Utara. Sedangkan pendidikan SMA di Tanjung Pinang, Riau. Selepas SMA, ia kemudian melanjutkan pendidikan di  Sekolah Tinggi  Perikanan (STP) Jakarta.

“Saya lulus tahun 1979 dan langsung bekerja di perusahaan ekspor impor makanan, PT Semarang Cold Storage & Industri, Semarang selama lima tahun. Dari situ saya kemudian kembali ke Jakarta dan bekerja di Djayanti Group – Devisi Perikanan. Karier saya di sini cukup lama hingga mencapai posisi Direktur Utama disalah satu anak perusahaan selama enam tahun. Sebelumnya selama tujuh tahun saya menjabat sebagai Direktur,” ungkapnya.

Tidak hanya dalam karier Russel menonjol. Ia terus berusaha untuk meningkatkan pendidikan dan pengetahuan yang dimilikinya. Tahun 1985, ia kembali ke kampus untuk mengambil Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan di Fakultas Perikanan Unibraw, Malang. Dalam tempo dua tahun, ia berhasil meraih gelar Insinyur. Tidak puas sampai di situ, ia mengejar gelar MBA di Monash University – Melbourne, Australia yang berhasil diselesaikannya pada tahun 1999.

Dengan kemampuan luar biasa yang dimilikinya, Russel kemudian mendirikan perusahaan sendiri. Sambil terus berkarier sebagai profesional di Djayanti Group, diam-diam ia mendirikan perusahaan sendiri pada tahun 1994. Perusahaan pertama yang didirikannya adalah PT Agrifish Consultama Investment yang bergerak dibidang konsultan manajemen dan investasi. Setahun kemudian, ia mendirikan satu perusahaan lagi yang bergerak di bidang perikanan.

Tangan dinginnya dalam menangani perusahaan membuahkan hasil yang cukup gemilang. Perkembangan perusahaan mengalami kemajuan pesat sehingga tahun 2005, ia mendirikan perusahaan pelayaran. Tidak berhenti di situ, ia kemudian mendirikan PT Bangun Mandiri Wisesa tahun 2008 yang bergerak dibidang perdagangan dan impor – ekspor. Satu tahun kemudian, ia mendirikan PT Tama Sarana Development yang bergerak di bidang jasa konstruksi dan penyewaan alat-alat berat. Perusahaan terakhirnya, yang sekarang sedang dikembangkannya adalah perusahaan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Perusahaan ini sangat disenanginya karena banyak berhubungan dengan masyarakat dari golongan bawah yang kemungkinan bisa dikader menjadi pengusaha baru kecil dan menengah sebelun nantinya menjadi pengusaha besar.

“Sebagai pengusaha, saya juga tidak luput menghadapi kendala yang harus diatasi. Salah satunya adalah masalah kelesuan ekonomi yang kadang susah untuk diprediksi, masalah lain juga birokrasi yang menurut saya harus terus ditingkatkan khususnya masalah simplifikasi aturan dan kecepatan sehingga dengan aturan yang simple dan cepat dengan sendirinya menghasilkan efisiensi dan dapat bersaing dengan perusahaan lainnya khususnya perusahaan di luar negeri.  Pemerintah kita bisa saja belajar dari pemerintah Negara maju lainnya agar bisa semakin baik, cepat dan kalau bisa lebih baik dari Negara pesaing kita.  Makanya baik kita sebagai pengusaha maupun pemerintah kita harus terus belajar dan memperbaiki diri,” ujarnya.

Menurut Russel, dalam memperbaiki diri harus introspeksi dengan tanpa mencari-cari kesalahan orang atau pihak lain. Untuk membangun Indonesia semua pihak harus saling membantu satu sama lain. Apalagi karena sama-sama bertujuan untuk kesejahteraan bangsa sehingga tidak ada gunanya untuk saling menyalahkan. Di sisi lain, ia juga berharap agar pemerintah terus mengadakan penelitian mendalam sehingga dalam mengambil keputusan pemerintah menggunakan data tepat dan terbaru. Pemerintah harus terus menerus menerjunkan tim untuk melihat kondisi sebenarnya di lapangan. Dengan demikian “Peraturan yang dikeluarkan pemerintah tepat sasaran dan langsung mendukung kegiatan pengembangan para pengusaha”. Karena kalau peraturan dibuat kebanyakan berdasarkan teori pengetahuan dan perasaan birokrat saja dan pembuatannya juga terlalu lama,  sehingga begitu keluar selain tidak kena sasaran sudah terlambat dari dinamika kemajuan dilapangan dan akhirnya menjadi kontra produktif.

Kendala lain secara internal dari sisi pengusaha kadang ada miss planning karena sebagai pengusaha saya kadang terlalu menggebu-gebu. Tetapi bagi saya semua itu adalah pelajaran untuk terus memperbaiki diri, karena seorang pengusaha harus terus maju, tidak boleh menyerah dan harus tetap tenang dengan prediksi yang bagus dalam mengambil keputusan,” tambahnya.

Ke depan, Russel berharap agar perusahaan miliknya semakin maju dan berkembang. Bahkan, kalau mungkin berkembang menjadi perusahaan terbaik dan terbesar dibidangnya, dan kalau sempat menjadi perusahaan konglomerat baik local maupun internasional. Setidaknya, ia telah menyampaikan kepada anak-anaknya akan impiannya tersebut. Menjadi tugas anak-anaknya untuk meneruskan dan mewujudkan cita-citanya tersebut.

Saya memiliki 2 anak dari istri saya Ritha Frida SH. Anak saya yang pertama Allen Lawrence Tambunan sekarang masih mahasiswa di Fakultas Teknik Industri, di Swiss German Univercity. Sedangkan anak kedua saya masih kecil, Athina Theresia Tambunan, sekolah di St Pieter International School. Selagi masih muda, saya berharap agar mereka mendengarkan saya untuk meneruskan perusahaan ini. Saya memberikan gambaran tentang kondisi dan ke depannya bagaimana, sehingga langkah mereka semakin mudah dan fokus,” tegasnya.

Belajar dari China

Sebagai pemilik beberapa perusahaan sekaligus, Ir. Russel Tambunan, MBA berpendapat bahwa dunia usaha sekarang tidak bisa terlepas dari pasar bebas dan globalisasi. Pengaruhnya terhadap seluruh sendi kehidupan sangat terasa sehingga diperlukan kearifan dan kejelian dalam menyikapinya. Untuk menyiasatinya, ia menyarankan agar belajar dari negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi yang muncul belakangan.

“Kita tidak perlu malu belajar dari perusahaan-perusahaan yang sudah berprestasi dan maju”. Contohnya kita tidak perlu malu belajar dari China, bagaimana mereka mampu memproduksi barang yang menguasai dunia. Sewaktu saya tour ke Eropa dan Amerika, banyak sekali barang kebutuhan rumah tangga, barang fashion dan souvenir adalah buatan China. Oleh karena itu, kita mesti belajar dari China. Selain dari pada China saya juga melihat kemajuan luar biasa dari India. Untuk itu juga kita perlu belajar dari sana, karena memiliki karakter yang serupa. Negara yang berpenduduk banyak tetapi menghasilkan produk bermutu sekaligus murah,” tuturnya.

Menurut Russel, produk China saat ini sudah membanjiri seluruh negara di dunia termasuk Eropa dan Amerika Serikat. Dengan situasi serupa, India juga telah berubah menjadi kekuatan ekonomi baru menggeser negara produsen yang lain. Karena alasan itulah, ia menyarankan agar Indonesia lebih baik mencontoh kedua negara tersebut dibandingkan Negara Eropa atau Amerika karena bisa lebih cepat dan lebih sesuai dengan karakteristik Indonesia yang berpenduduk banyak.

Hanya pada masalah pendidikan, Russel menyarankan untuk tetap mengacu pada sistem pendidikan Amerika atau Eropa. Kualitas pendidikan di wilayah tersebut masih tetap jauh lebih bermutu dibandingkan di negara-negara Asia. Untuk itu, pemerintah harus berani mengirimkan sebanyak-banyaknya anak-anak bangsa yang pandai untuk menyerap ilmu dari luar negeri. Pemerintah harus mau dan berusaha menyediakan dana besar untuk keperluan ini karena pada akhirnya juga untuk kepentingan dan kemajuan bangsa.

“Intinya pendidikan adalah hal yang penting dan urgen” Karena untuk meningkatkan kualitas manusia di suatu negara, pendidikan adalah hal yang paling utama dan sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, pendidikan harus diutamakan, ditingkatkan dan membuka diri untuk pendidikan dari luar negeri. Dengan pendidikan dan pengalaman banyak di luar negeri, manusia Indonesia akan mempunyai pengetahuan dan komparasi yang banyak sehingga bisa memilih yang terbaik,” tandasnya. Beliau memberikan contoh suatu negara yang cukup maju akhir-akhir ini yaitu Malaysia. Malaysia banyak memiliki putra putri yang berpendidikan tinggi di luar negeri. Anak muda Malaisya banyak sekolah di Inggris karena sangat didukung oleh pemerintahnya sekaligus didukung oleh pemerintah Inggris yang merasa ikut betanggung jawab atas kemajuan Negara bekas jajahannya.

Pengusaha yang tertarik untuk terjun ke dunia politik ini, menganjurkan perbaikan pendidikan secara terus memerus dan utama. Pendidikan juga harus memperhatikan pendidikan entrepreneur. Sudah seharusnya pendidikan entrepreneur digalakkan pada setiap tingkatan pendidikan. Ia mengingatkan, secara statistik, entrepreneur di Indonesia baru mencapai 2 persen sementara Singapura sudah 7 persen dari jumlah penduduk.

Tidak diragukan lagi, lanjutnya, dalam membangun sebuah negara semua warga negara harus memiliki pengetahuan yang memadai. Oleh karena itu, ia sangat setuju dengan alokasi dana sebesar 20 persen dari APBN untuk pendidikan. Karena memang, kebutuhan untuk memajukan pendidikan sangat mendesak dilakukan. Diharapkan, ketika semua warga negara terdiri dari orang-orang pintar, maka sangat mudah dalam mengatur dan membangun negara.

“Pendidikan memang memerlukan biaya apalagi untuk bangsa yang besar ini”. Oleh karena itu, salah satu solusinya adalah dengan menciptakan sebanyak mungkin entrepreneur baru. Saya berharap, pengusaha sukses bisa menciptakan pengusaha-pengusaha baru sebanyak-banyaknya. Dan, selagi ada waktu saya akan terus menerus berusaha untuk menciptakan sebanyak mungkin pengusaha baru yang mandiri dan yang lebih hebat dari saya. Semua saya lakukan untuk kepentingan bersama, membangun bersama dan sukses bersama. Itulah yang akan saya lakukan, mentransfer pengetahuan dalam membangun manusia Indonesia, bangsa dan negara,” kata Ir. Russel Tambunan, MBA.

Motto perusahaan saya adalah: “ Solid – Growth and Worth”, sementara motto pribadinya adalah “ Do My Best, beyond is God Will”

Ir. Purnomo Hariprianto

No Comments

Ir. Purnomo Hariprianto
Direktur PT Citra Gemilang Apik

Memberikan Solusi Terbaik Dengan Harga Kompetitif

Memasuki pasar bebas 2010, persaingan di dunia usaha semakin keras. Antar perusahaan saling bersaing satu sama lain untuk bertahan hidup. Kondisi tersebut memaksa perusahaan untuk memeras otak mencari jalan keluar agar tetap survive. Hanya perusahaan penuh inovasi yang mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan.

Apalagi pasar bebas juga memberikan kebebasan kepada setiap perusahaan untuk beroperasi di belahan dunia manapun. Globalisasi telah menyatukan dunia sekaligus menjadikannya sebagai pasar antar negara dari produk yang dihasilkan suatu negara. Untuk memenangkan persaingan yang berada pada taraf tertinggi, memerlukan siasat yang tepat dan jitu.

“Namanya juga bisnis, persaingan pasti ada. Namun orang pasti akan melihat kompetensi perusahaan tersebut. Nah, kita sendiri harus paham apa yang dibutuhkan customer dan memberikan solusi yang terbaik dengan biaya yang wajar. Itu solusi yang kami berikan,” kata Ir. Purnomo Hariprianto, Direktur PT Citra Gemilang Apik.

Pelajaran berharga yang diperoleh Purnomo –panggilan akrabnya- dari bekerja bersama expert asing, membuat ia mampu memberikan pilihan terbaik bagi customer di tanah air. Pengetahuan terhadap behavior, attitude, adat istiadat dan karakter masyarakat Indonesia sangat beragam. Antara satu daerah dengan daerah lainnya memberikan pendekatan yang berbeda.

Penguasaan atas keberagaman masyarakat Indonesia inilah yang menjadi pegangan untuk memenangkan persaingan dengan perusahaan dari luar negeri. Karena mereka kurang tahu akan karakter masyarakat kita, sehingga ada yang kurang pas pada saat pengoperasian.

Kontraktor asing datang dengan spesifikasi untuk pola operasi yang seusai dengan karakter masyrakat di negara asalnya. Di negara kita karakter masyarakatnya berbeda, hal ini kita masukkan dalam input desain. Sehingga hasil pekerjaan kita disamping mempunyai keandalan, juga membuat operator mudah memahami dan nyaman dalam bekerja.

Secara definisi, Purnomo menjelaskan adanya masyarakat agraris, industri dan informasi. Masyarakat agraris adalah masyarakat tradisional yang menggantungkan hidup secara alamiah (nature). Masyarakat industri adalah masyarakat yang sudah bisa mengelola potensi di sekelilingnya untuk kepentingan ekonomis. Sedangkan masyarakat informasi menggunakan teknologi informasi di manapun berada. “Masalahnya ketiga golongan masyarakat ini muncul bersamaan di Indonesia. Itu yang harus kita pahami,” tegasnya.

Menurut Purnomo kondisi seperti itulah yang menjadi dasar keyakinannya bahwa perusahaannya serta perusahaan lokal Indonesia mampu bersaing menyambut pasar. Apalagi pasar bebas juga memberikan nilai yang sama terhadap harga total material atau komponen. Artinya, yang membedakan antara satu produk dengan produk yang lainnya terletak pada perusahaan yang memberikan nilai tambah dan keunggulan pada produknya. “Kalau harga hardware komputer di seluruh dunia sama, yang membedakan adalah software yang ditanam di dalamnya,” tandasnya.

Murni Bangsa Indonesia

Ir. Purnomo Hariprianto adalah lulusan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang tahun 1988. Sulung dari lima bersaudara pasangan Suwarno dan Sundari ini setelah kuliah bekerja di PT Bisma Indra di Surabaya. Perusahaan rekayasa rancang bangun dan manufacture  tersebut memberikan dasar profesionalitas yang baik bagi kariernya di kemudian hari.

“Di situ, saya pertama kali bekerja langsung bertemu expert dari negara lain. Karakter bekerja terbentuk di situ, seperti bagaimana bekerja, mempersiapkan dokumen, satu hasil karya dalam menghasilkan pekerjaan yang benar, mudah di-maintenance dan lain-lain. Pokoknya kami dapat ilmu dari expert-expert tersebut,” ungkapnya.

Dari Surabaya, Purnomo kemudian bergabung dengan PT LEN Industri di Bandung. Kali ini, ia bekerja pada tim dalam bidang sistem persinyalan dan traksi. Setelah 12 tahun bekerja di perusahaan ini, ia diajak rekannya untuk mendirikan perusahaan dengan fokus pada system integrator di bidang DC traction substation untuk sistem perkeretaapian.

Purnomo menjelaskan bahwa DC traction substation sudah ada sejak zaman Belanda. Secara prinsip antara substation zaman dahulu dengan sekarang masih sama. Hanya saja, dengan kemajuan teknologi seperti sekarang ini perusahaan mengeluarkan suatu model substation yang baru, mudah dirawat dan bersifat smart.

“Artinya alat itu bisa memberitahu keadaan dirinya sendiri. Bagaimana kondisinya apakah rusak, terjadi masalah di mana, dia bisa melaporkan dengan detail. Semua engineering dan integrasi alat ini murni tenaga asli Indonesia sendiri. Meskipun memang pada saat ini  kita membeli barang dari luar, karena keterbatasan peralatan dan perlengkapan yang secara ekonomis lebih menguntungkan membeli. Karena kalau kita produksi di sini, memerlukan investasi yang sangat mahal, sementara pekerjaan yang kami kerjakan belum besar,” ujarnya.

Menurut Purnomo, komponen yang khusus adalah High Speed Ciruit Breaker, HSCB. Komponen ini memiliki sifat yang sangat khusus, yakni dapat memutus arus dengan sangat cepat apabila terjadi gangguan. Partner perusahaan kami adalah Secheron, Swiss, yang memiliki pabrik di Ceko. Secheron sudah seratus tahun lebih mengembangkan teknologi ini, sejak 1879. Artinya, perusahaan tersebut telah membuat komponen yang sejenis sejak lebih dari satu abad.

“Makanya kita putuskan untuk membeli dari mereka dan sekaligus kami menjadi distributor di Indonesia. Untuk itu, kami diberi otoritas begitu barang sampai di sini bisa di re-engineering dan digabungkan dengan unit apapun sesuai dengan desain kita. Makanya total substation yang kami kerjakan di Jakarta merupakan desain dari kita,” tutur suami Erna Sri Sugesti, seorang dosen di Intitut Teknologi Telkom Bandung ini.

Purnomo mengakui, ia bertanggung jawab terhadap electrical engineering secara keseluruhan dari substation produk perusahaan. Meskipun untuk bagian yang lain perusahaan menggandeng kerjasama dengan perusahaan lain di Indonesia. Kerjasama ini telah menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan dengan kualitas yang unggul karena setiap perusahaan bekerja sesuai dengan kompetensi masing-masing.

Menurut Purnomo, kerjasama seperti inilah yang membuat produk-produk dari China dibanderol dengan harga murah. Orang-orang di negeri tirai bambu tersebut bekerja sesuai dengan keahlian dan kompetensi masing-masing. Perusahaan besar tinggal memesan dan menggabungkan hasil kerja perusahaan lain untuk keperluan produksinya. Teknik ini berguna untuk menyiasati tingginya biaya investasi apabila semua dikerjakan sendiri dari hulu ke hilir.

“Biarkan masing-masing bekerja sesuai dengan kompetensinya. Kami juga seperti itu, menggabungkan perusahaan lain sesuai dengan keahlian masing-masing. Jadi kita sudah punya jaringan yang siap membantu pekerjaan kita dan kami sangat mengutamakan pembentukan partnership ini. Karena kami juga ingin, kalau perusahaan ini tumbuh mereka juga tumbuh bersama kami,” tuturnya.

Dukungan Pemerintah Besar

Ir. Purnomo Hariprianto menjelaskan bahwa saat ini terjalin kerjasama harmonis antara perusahaan dengan pemerintah Indonesia. Di mana pemerintah melalui Departemen Perhubungan adalah sedang giat mengembangkan perkerataapian di Indonesia. Untuk saat ini, peralatan produksi perusahaan diperuntukkan bagi sistem kereta rel listrik (KRL) sehingga hanya untuk wilayah Jabodetabek saja.

“Tetapi tidak menutup kemungkinan pemerintah mengembangkan KRL ke Bandung, Surabaya, Medan dan lain-lain. Karena saat ini moda angkutan kereta api tetap yang paling murah, massal ribuan orang terangkut secara serentak, hemat, tidak polusi dan tidak macet,” ujarnya.

Kerjasama yang terjalin antara perusahaan dengan pemerintah, menurut Purnomo, saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Bahkan kalau ditelusuri lebih jauh bisa menguntungkan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Karena pemerintah membutuhkan kontraktor untuk membangun infrastruktur, sementara perusahaan menawarkan jasanya untuk kelangsungan usaha. Dengan memberikan proyek kepada perusahaan Indonesia, artinya dana yang dikeluarkan pemerintah untuk membangun infrastruktur akan kembali ke masyarakat.

“Tidak hanya infrastruktur yang dimanfaatkan, bahkan dana yang dikeluarkan untuk membangunnya pun kembali ke orang Indonesia sendiri. Jadi tidak dibawa keluar negeri karena dikerjakan oleh kontraktor asing, karena SDM kita pun sudah mampu. Itu merupakan bentuk dukungan pemerintah yang cukup bagus bagi kami yang diberi kesempatan untuk maju dengan diberi pekerjaan. Tetapi semua tetap dalam koridor yang benar, artinya kami juga ikut tender segala,” tuturnya.

Perusahaan dalam group PT Citra Gemilang Apik, lanjut Purnomo, juga menjalin kerjasama dengan PT INKA yang merupakan integrator kereta api di Indonesia. Sementara kompetensi perusahaan di bidang electrical untuk membangun jaringan catenary dan substation. “Jadi ketika PT INKA membutuhkan kontraktor yang sesuai dengan kompetensi kami, mereka menghubungi kami. Begitu,” katanya mengenai kerjasama dengan perusahaan yang berpusat di Madiun tersebut.

Meskipun menghadapi pasar bebas, Purnomo tetap optimis dan berharap generasi muda mengikuti jejaknya. Ia mengimbau agar mereka memiliki kompetensi tertentu yang bisa dijadikan tumpuan menyongsong masa depan. Mereka juga tidak boleh egois dengan mengerjakan semua hal secara sendirian tanpa mengikut setakan orang lain. Karena untuk sukses, generasi muda muda harus menjalin jaringan/network seluas-luasnya.

“Kompetensi dan network adalah kunci sukses. Kalau modal dana, asalkan memiliki network pasti akan ada yang membantu. Karena itu dibutuhkan keberanian untuk memulainya. Jangan bingung dan berpikir bagaimana mendapatkan modal atau capital. Yang jelas, modal sudah kita bawa ke mana-mana. Yaa.. keahlian itu adalah kapital kita untuk maju dan sukses. Jangan disia-siakan,” ujar pria yang bercita-cita menjadi insinyur ini memotivasi generasi muda. “Kalau menjadi pengusaha dan profesional hanyalah jalan untuk mencari nafkah saja,” imbuhnya menutup pembicaraan.

Nyoman Wana Putra, BA

No Comments

Nyoman Wana Putra, BA
Presiden Direktur PT Taman Sari Wisata Bahari

Perintis Pengembangan Wisata Bahari di Bali

Bali dikenal sebagai tujuan wisata dunia sejak zaman dahulu kala. Keindahan panorama alam dan budaya Bali yang sangat eksotis menjadi daya tarik tersendiri. Tidak heran, di luar negeri Bali bahkan lebih terkenal dari pada Indonesia.

Eksotisme alam dan budaya Bali membuat provinsi ini dijuluki sebagai Pulau Dewata. Setiap daerah di wilayah ini menjadi sangat menarik bagi wisatawan, sehingga “apapun” yang berada di pulau ini bisa “dijual” sebagai daerah tujuan wisata. Tinggal bagaimana pengusaha dan pengelola suatu wilayah mengemasnya menjadi daerah tujuan wisata yang memikat.

“Akhir tahun 1970-an di wilayah Sanur mulai terlihat potensi dan kondisi perekonomian masyarakat semakin membaik. Penggeraknya adalah pembangunan hotel di kawasan PTDC, Nusa Dua. Dengan ekonomi Indonesia yang mulai membaik, Bali dikedepankan sebagai penyangga pariwisata dunia. Melihat peluang tersebut, saya kemudian merintis desa wisata yang memiliki potensi wisata bahari dengan kekayaan terumbu karang dan lautnya,” kata Nyoman Wana Putra, BA, Presiden Direktur PT Taman Sari Wisata Bahari.

Bersama teman-temannya, ia mengembangkan sebuah resort di pulau kecil tempat penyu mendarat dan bertelur. Selain itu, layanan bagi wisatawan untuk melakukan parasailing, snorkeling, diving dan wisata laut lainnya pun disediakan. Dengan semakin majunya perkembangan wisata di wilayah tersebut, ia harus mendatangkan instruktur dari Australia.

Dari Sanur, Nyoman Wana Putra kemudian mengembangkan tujuan wisata baru di Benoa pada tahun 1985. Lulusan ASMI Denpasar ini kemudian membuka dan mengembangkan wisata bahari di wilayah dengan pasir putih dan terumbu karang yang sangat menawan tersebut. Kekayaan alam yang ditawarkan mendapat sambutan hangat dari wisatawan asal Australia, Jepang, Taiwan dan Eropa. “Kalau wisatawan domestik masih sangat jarang. Tetapi belakangan kita juga banyak menerima wisatawan dari Arab,” tuturnya.

Melihat sepak terjang Nyoman Wana Putra yang sangat gigih dalam memperjuangkan wisata, masyarakat di sekitar Benoa memilihnya sebagai Kepala Lingkungan. Dengan mendapat kepercayaan dari masyarakat tersebut, ia terus mengembangkan desa bahari untuk kemajuan pariwisata di daerahnya. Tahun 1992, ia mendirikan PT Taman Sari Wisata Bahari yang fokus pada layanan snorkeling dan restoran.

Perkembangan usaha yang dirintis bersama teman-temannya tersebut berkembang dengan pesat. Karena kesibukannya, Nyoman Wana Putra  memutuskan untuk berhenti sebagai kepala lingkungan pada tahun 2000. Tetapi tidak hanya berhenti di situ, ia berjuang memekarkan lingkungan tempat tinggalnya menjadi satu satu kelurahan baru. Usahanya mendapat dukungan luas dari masyarakat sehingga terbentuklah kelurahan Tanjung Benoa.

“Setelah itu saya bisa konsentrasi untuk menekuni bisnis wisata bahari. Meskipun tampil apa adanya, tetapi masyarakat memilih saya sebagai Wakil Pendesa Adat. Pendesa Adat adalah ketua adat yang sejak sebelum kemerdekaan sudah ada di Bali. Tugas Pendesa Adat memacu dan mendongkrak teman-teman pengusaha untuk terus mengembangkan wisata bahari sehingga dicintai juga oleh wisatawan domestik. Usaha itu menuai hasil sehingga turis domestik tidak merasa berlibur di Bali sebelum merasakan water spot ini,” kata pria yang terpilih sebagai Pendesa Adat sejak tahun 2006 ini.

Dalam menjalankan tugas sebagai Pendesa Adat, Nyoman Wana Putra tidak hanya memacu kemajuan wisata bahari. Ia juga mengupayakan kerukunan antar umat beragama yang berada di wilayah tugasnya. Karena tidak bisa dipungkiri, dengan semakin pesatnya kemajuan wisata yang menggerakkan perekonomian, banyak berdatangan masyarakat dari wilayah lain untuk mencari pekerjaan.

Sebagai warga Bali yang egaliter dan terbuka, Nyoman Wana Putra tidak menampik kehadiran warga pendatang. Bahkan, ia merasa sangat terbantu dengan kehadiran mereka yang bekerja di sektor informal. Tidak heran, ia dan warga Bali lainnya berharap saat Lebarang tiba para pendatang tidak menghabiskan masa liburan mudiknya dengan berlama-lama di kampung halaman masing-masing.

“Wah susah kita kalau mereka tidak ada. Karena kita di sini saling bahu membahu, saling membantu tanpa melihat latar belakang agama sehingga tidak pernah terjadi gesekan. Apalagi, sejak dahulu Tanjung Benoa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh tiga agama, Islam, Hindu dan Buddha,” tegasnya.

Pada hari-hari besar keagamaan masing-masing agama, Nyoman Wana Putra selalu mengadakan koordinasi sehingga tercipta kondisi yang kondusif. Silaturahmi antara pemeluk agama yang berbeda pun tetap terjalin sehingga semua dapat hidup berdampingan secara harmonis. “Kita saling mendoakan tanpa pelecehan. Walaupun kepercayaan berbeda-beda tetapi semua tetap yakin bahwa Tuhan adalah satu. Perasaan seperti itu sudah menjadi milik masyarakat dalam kelurahan Tanjung Benoa,” tandasnya.

Tidak heran, dengan toleransi beragama yang sangat kental seperti itu, perkawinan silang antar agama pun tidak menjadi persoalan yang rumit. Pasangan yang ingin menikah mendapat kebebasan untuk memilih dan berpindah agama sesuai keyakinan masing-masing. Masyarakat tidak pernah mempermasalahkan misalnya seorang pria Islam memperistri wanita Hindu atau sebaliknya. Begitu juga dengan perkawinan antara pemeluk agama yang lain.

“Semua berdasarkan suka sama suka dan cinta-sama cinta. Kita menyadari bahwa cinta itu turun dari Tuhan dan bukan kehendak manusia. Kalau sudah suka sama suka, kita serahkan kepada mereka mau masuk agama apa saja terserah. Itu yang saya bangun di desa adat Tanjung Benoa, bersaudara antara pemeluk Hindu, Buddha dan Islam. Tahun 1970-1976 datang orang-orang dari Flores yang beragama Kristen dan bergabung bersama kami untuk bertahan hidup sampai sekarang,” katanya.

Dukungan Pemerintah Besar

Menurut Nyoman Wana Putra, pemerintah sangat mendukung pengembangan dunia pariwisata di Bali. Apalagi Bali terbukti menjadi tujuan utama wisatawan mancanegara yang mendatangkan devisa yang besar bagi negara. Selain itu, Bali juga tetap menarik bagi kunjungan wisatawan domestik yang ingin menikmati wisata bahari.

“Pemerintah sangat mendukung, terutama pemerintah Badung dan provinsi Bali. Setiap tahun, pengusaha restoran, perhotelan dan pariwisata lainnya mengikuti promosi secara langsung di tingkat nasional maupun internasional.  Kami juga berterima kasih karena stasiun TV juga banyak menayangkan obyek wisata yang kami kelola,” ungkap Ketua DPC Gahawisri (Gabungan Pengusaha Wisata Bahari) Kabupaten Badung ini.

Bantuan pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Badung sangat dirasakan penggiat wisata bahari seperti Nyoman Wana Putra. Melalui lembaga tersebut pengusaha di bidang pariwisata mengetahui kelemahan dan kekurangan masing-masing. Terutama mengenai kekurangan dalam pelayanan yang dirasakan oleh para pengguna jasa di lapangan sehingga dapat dikoreksi untuk perbaikan. “Karena seluruh komplain dari wisatawan ditampung di dinas tersebut,” tambahnya.

Pemerintah juga sangat berperan besar dalam memulihkan kondisi pariwisata Bali pasca serangan Bom Bali I tahun 2001. Selain promosi besar-besaran, pemerintah terutama pihak keamanan mengadakan kerjasama dengan Pecalang atau petugas keamanan adat yang dimiliki setiap desa di Bali. Setelah Bom Bali II tahun 2005, sistem keamanan antara pecalang dan pihak kepolisan semakin ditingkatkan dalam mencegah dan mewaspadai terjadinya serangan teroris.

“Dari situ tercipa sebuah sistem dalam suatu taksu yaitu Taksu Bali yang disebut dengan Pengamanan Pecalang. Di mana Pecalang dilengkapi dengan perlengkapan sarana adat untuk pengamanan. Kita tidak mengadakan sweeping tetapi sidak yang terkesan lebih manusiawi. Yakni pendekatan untuk mengetahui kelengkapan data, keperluan kedatangan ke Bali dan lain-lain,” ungkapnya.

Sidak gabungan, lanjut Nyoman Wana Putra, biasanya dilakukan antara pecalang bersama pihak kepolisian. Pendatang yang jelas tujuannya diajak dan disarankan untuk mengikuti kata pepatah bahwa “di mana bumi dipijak, di situlah langit dijunjung.” Semua itu menunjukkan bahwa warga Tanjung Benoa dan Bali pada umumnya menginginkan kedamaian dan kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Secara khusus, sebagai Pendesa Adat ia memohon kepada para pendatang untuk mengikuti aturan yang disebut Awig-Awig.

“Para pendatang silakan mengais rezeki di wilayah kami, namun tolong menunjukkan identitas yang jelas untuk dicatat. Karena kami menempati wilayah Tanjung Benoa ini dengan mengedepankan kerukunan dan kedamaian. Kami secara rutin mengadakan pertemuan untuk mengevaluasi situasi dan kondisi di daerah kami. Semua perwakilan agama dihadirkan, sehingga sekecil apapun permasalahan kami selesaikan secepatnya. Apapun yang terjadi, apakah itu kematian, kelahiran, perkawinan dan lain-lain, selalu terkontrol serta terkendali,” ujarnya.

Nyoman Wana Putra menerapkan hal tersebut pada perusahaan yang didirikannya, PT Taman Sari Wisata Bahari. Dari 54 SDM yang dipekerjakannya –mulai tingkat manager sampai staf- terdiri dari orang-orang dari seluruh wilayah Indonesia dengan keragaman budaya serta keyakinan yang dianut. Dilandasi oleh kenyataan bahwa Indonesia memiliki pulau yang luar biasa banyak dengan garis pantai yang sangat panjang, memungkinkan untuk mengembangkan potensi wisata bahari lebih besar.

“Itu merupakan potensi yang sangat luar biasa dalam wisata bahari. Makanya, meskipun pendidikan mereka kurang, tetapi kami training agar menjadi bekal sebagai bahan untuk mengembangkan daerah masing-masing. Banyak di antara mereka yang sudah mampu berdiri sendiri setelah kami didik di Bali. Mereka kami didik sebagai kapten, crew driver dan lain-lain. Nah, kalau mereka mampu dan daerah asalnya memungkinkan, mereka akan mengembangkan wisata bahari di daerah sendiri. Syaratnya mereka harus memiliki niat yang baik, jujur dan berkemauan keras untuk belajar,” tegasnya.

Jangan Menjadi Kuli

Sukses mengembangkan wisata bahari, membuat Nyoman Wana Putra berharap dapat melebarkan sayap bisnisnya. Apalagi potensi wisata bahari di Indonesia dengan ribuan pulau sangat menarik untuk dijadikan obyek wisata karena tersebar di seluruh garis pantai Indonesia. Peluang untuk berkembang sangat terbuka lebar dan tidak hanya mengandalkan pulau Bali semata.

“Kita harus mengembangkan pesisir lain di Indonesia sehingga saya bisa membuka cabang di daerah lain. Bahkan kita juga bisa mengembangkan wisata bahari di seluruh Indonesia, karena Indonesia terkenal dengan laut dan terumbu karangnya. Banyak potensi wisata bahari yang bisa kita jual, kenapa kita tidak bisa kembangkan. Karena sumbangan dari pariwisata cukup besar bagi pendapatan negara,” tandasnya.

Dengan pengembangan wisata pantai di seluruh Indonesia, lanjutnya, berarti terjadi pemerataan pembangunan. Kesejahteraan tidak hanya dinikmati oleh masyarakat perkotaan tetapi juga di daerah-daerah. Dengan begitu tidak perlu terjadi masyarakat yang berbondong-bondong menjadi TKI ke luar negeri atau “merantau” ke Jakarta, yang menambah keruwetan ibukota. Majunya pariwisata daerah, juga mencegah pemindahan ibukota negara ke kota lain.

“Karena pemindahan ibukota negara ke luar Jakarta bukan solusi mengatasi permasalahan. Yang penting adalah pemerataan pembangunan sehingga tidak semua orang tertarik untuk mengadu nasib di Jakarta. Kalau di pusat hanya sekadar mencari pengetahuan atau sistem untuk dikembangkan di daerah. Bukan disikapi dengan memindahkan ibukota, kalau begitu kita mundur lagi, dari awal lagi,” ungkapnya.

Pemindahan ibukota, menurut Nyoman Wana Putra akan mengubah tatanan sejarah yang telah dibangun oleh para pendiri bangsa dengan tetesan darah, air mata dan keringat. Indonesia tidak perlu meniru Malaysia yang memindahkan ibukota negaranya, karena memiliki karakter yang berbeda. “Jangan sekali-sekali mengubah jalannya sejarah. Mungkin kita perlu duduk bersama antara pusat dan daerah agar saling memahami keinginan masing-masing,” kata ayah empat anak ini.

Semangat untuk melestarikan sejarah dan budaya sendiri, jelasnya, harus dimiliki oleh generasi muda penerus bangsa. Di tangan mereka terletak masa depan bangsa menuju Indonesia yang lebih baik. Sikap tanpa melupakan sejarah dan budaya Indonesia, generasi muda akan maju dengan karakter bangsa sendiri. Ia berpesan agar setelah memiliki menyelesaikan pendidikan dan memiliki gelar, generasi muda tidak bermimpi untuk menjadi PNS atau karyawan.

“Kembangkan potensi yang ada dalam diri masing-masing. Kalau bisa menjadi raja -meskipun kecil- jangan jadi kuli. Kita dilahirkan dan hidup bukan untuk disiksa, tetapi berdiri di atas kaki sendiri. Dahulu kita hidup di zaman kerajaan, maka kitalah yang sekarang harus berpikir untuk menjadi raja. Mari kita kembangkan apa yang bisa dilakukan dengan menjadi entrepreneur di daerah masing-masing. Pemerintah juga harus menuntun generasi muda sehingga daerah berkembang sehingga kita semua sejahtera,” tegas Nyoman Wana Putra.

PT Taman Sari Wisata Bahari
Jl Konco No 9, Tanjung Benoa, Nusa Dua, Bali
Telp: (0361) 772583
Fax: (0361) 775242
Website: www.balimarinesport.com

Kus Marindi

No Comments

Kus Marindi
PT Intipratama Groups

Perjuangan mengejar mimpi,

Perjalanan hidup Kus Marindi, pemilik PT Intipratama Group sangat panjang dan berliku, hambatan dan perjuangan yang mewarnai hampir di separuh hidupnya dijalani dengan penuh harapan dan keikhlasan. Kesadaran untuk memperjuangkan nasib dan  kehidupannya telah tumbuh sejak dirinya masih belia. Sekolah, saat itu merupakan pintu gerbang untuk membuka cakrawala hidup baru yang lebih baik.

Dilahirkan sebagai anak kedua dari tujuh bersaudara, Kus Marindi dibesarkan dalam lingkungan keluarga petani di sebuah kampung di antara Sungai Bengawan Solo dengan jalan Raya kota Surabaya dan kota Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Rumah tempat dirinya dilahirkan cukup jauh dari jalan beraspal yang ada disekitarnya hanya tambak dan sawah yang terhampar sangat luas. Didaerah tersebut pada masa itu pandangan masyarakat akan pendidikan umum sangat kurang diperhatikan dan lebih cenderung ke Pesantren  (pendidikan agama)

Padahal Bapaknya termasuk orang berpendidikan  pada masanya, sebagai land lord  dan pejabat pamong desa cukup  berpengaruh dikampungnya , setelah behenti bekerja lebih konsentrasi mengelola sawah termasuk tambak dan ladangnya setiap hari hanya bekerja dan bekerja mungkin termasuk kerja maniak sebagai imbalannya secara ekonomi lebih baik  dari tetangganya.
Bahkan masih saya ingat pada saat saya masih kecil banyak sekali orang-orang yang ikut tinggal dirumah, saya pikir mereka tidak digaji hanya ingin menumpang hidup, makan dan tinggal saja.
Maklum masa itu ekonomi sangat sulit.

Tidak heran, setelah lulus dari Sekolah Rakyat S.R. (sekolah Rakyat)  sekarang SD> (Sekolah Dasar) yang tidak jauh dari rumahnya di kampung, saya dilarang melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menegah Pertama (SMP). Karena sekolah tersebut yang paling dekat terletak sekitar sembilan kilometer dari rumah. Orang tua tidak mengizinkan saya melanjutkan sekolah, karena saya diharapkan melanjutkan mengurus sawahnya,” tutur pria kelahiran 13 Maret 1952 ini.
Sebenarnya saya cukup menyadari bahwa Bapak sudah lumayan berumur saat itu karena saat saya dilahirkan umurnya sudah sekitar 40 tahun, maklum termasuk terlambat punya anak tapi begitu lahir anak pertama berturut-turut lahir sampai 7 bersaudara.
Termotivasi oleh kakaknya yang sudah melanjutkan sekolah, Kus Marindi  berusaha dengan segala cara agar mendapatkan kesempatan yang sama. Meskipun terjadi negosiasi  sangat alot, tetapi akhirnya permintaannya untuk bersekolah dikabulkan dengan fasilitas berbeda. Kakaknya sekolah di kota dan indekos karena jarak antara kampung dan sekolahnya cukup jauh sekitar dua puluh kilometer.

Sedangkan Kus Marindi harus menerima untuk sekolah di Sekolah teknik Negeri (STN.) yang terdekat. jaraknya pun terbilang cukup jauh yang harus ditempuhnya dengan sarana transportasi berupa sepeda ‘onthel’. Jalanan yang harus dilewati berupa jalan desa / jalan tanah yang belum diperkeras dengan aspal, sehingga bila musim hujan jadi becek tapi bila musim kemarau seperti layaknya  racing road saja..  Tak jarang sepeda yang seharusnya saya naiki gantian menjadi saya panggul karena tidak mungkin sepeda bisa jalankan.

Kadang terasa sedih sekali, karena di saat anak sebaya saya masih nyenyak tidur dan bermimpi, saya harus berjalan kaki ke sekolah. Selama perjalanan pun, saya tidak memiliki teman dan tanpa bantuan,” ungkapnya.

Perjalanan pulang pun dilaluinya dengan ritme yang sama. Cuaca yang tidak menentu, membuat ia sering salah perkiraan. Akibatnya, seringkali kakinya sakit karena menginjak Lumpur yang telah mongering yang memang  tanpa alas kaki menginjak tanah keras akibat terik sinar matahari. Padahal, ia memperkirakan hari akan turun hujan sehingga tidak menggunakan sepeda. Kus Marindi sering ingin menangis dikarenakan rasa lapar , capek dan panas atau dinginnya hujan hingga baru sampai di rumah rata-rata pukul 16.00.

“Pada masa akhir tahun 1965, saat rame-ramenya peristiwa G30S/PKI masalahnya menjadi lebih runyam. Jalanan menjadi tidak aman bagi orang-orang atau anak-anak yang berjalan di saat petang. Saya tidak mengerti apakah orang tua bisa tidur nyenyak bila saya tidak pulang atau terlambat pulang pada situasi genting seperti itu. Hampir setiap pagi saya jumpai mayat tergeletak di pinggir jalan, di dalam parit, sungai atau di ladang jagung. Memang mengerikan, tapi karena setiap hari saya jalani ya jadi biasa saja tanpa beban apa-apa,” ujarnya.

Menjelang ujian akhir STN., Kus Marindi terserang penyakit typus sangat parah. Ia menjalani perawatan di rumah sakit Lamongan hampir dua bulan lamanya. Bersamaan dengan waktu itu terjadi banjir besar akibat tanggul sungai Bengawan Solo yang jebol sehingga untuk mendapatkan obat untuk saya kakak harus jalan kaki ke Apotik di kota Gresik
Selama saya sakit Bapak hanya bisa mengunjungi saya dirumah sakit  sekali dan baru kali itu saya melihat bapak menangis melihati saya tergelatak sakit tidak berdaya sementara ibu saya tidak sempat sama sekali, saya sudah merasa pesimis tidak dapat menyelesaikan pendidikan STN. Ternyata Tuhan berkehendak lain, ia memberikan kesembuhan dan mampu mengikuti ujian akhir sekolah dengan baik. “Saya sudah berpikir bahwa perjuangan selama ini akan sia-sia.

Pengalaman bersekolah di STN. Yang demikian berat ternyata tidak menyurutkan keinginan untuk melanjutkan kembali walau dengan perjuangan yang tidak kalah beratnya.
Semula saya ingin tinggal bersama Mbah yang memang tinggal di Surabaya sedangkan biayanya akan saya cari sendiri ternyata keinginan saya hanya membuahkan kekecewaan karena mendapat jawaban yang kurang enak didengar, terpaksa cari tempat tinggal bersama orang lain yang gratisan.

Merantau ke Samarinda

Setelah tidak sekolah lagi pada  bulan September tahun 1970, Kus Marindi merasa sudah tidak nyaman lagi untuk hidup dan tinggal dikampung
sedangkan untuk bekerja, ia tidak tahu apa yang bisa dikerjakannya. Kalau pun harus pergi dari kampung halamannya, ia tidak tahu kemana kakinya harus melangkah.
Pada suatu hari ada teman saya bercerita katanya ada temannya yang baru pulang dari Samarinda dan akan balik lagi beberapa hari kemudian. Saya bilang, ingin dikenalkan dengan orang tersebut, karena dari cerita teman saya itu, kayaknya menarik sekali,” ujarnya.

Tidak lama kemudian, Kus Marindi berkenalan dengan tetangga kampungnya yang merantau ke Samarinda tersebut. Setelah berbincang-bincang, ia tahu bahwa orang tersebut menjalankan usaha berjualan rujak (pencok) di Samarinda. Namun, ia berpikir bahwa ada yang salah dari hidup orang yang menurut perkiraannya sudah berumur 50 tahun masih merantau untuk menghidupi keluarga. Tetapi ia tidak berani menanyakan alasannya takut menyinggung perasaan orang tersebut.

Dalam pembicaraan tersebut, keduanya sepakat untuk berangkat bersama-sama ke Samarinda. Tapi Ia merasa aneh karena orang tersebut meminta agar uang ticket naik kapal agar dia yang pegang. Ia memberi tahu bahwa uang tersebut masih menunggu hasil penjualan sepeda miliknya yang selama ini yang setia sebagai sarana transportasi ke sekolah.

Untung Kus Marindi belum menjual sepeda dan menyerahkan uangnya kepada orang tersebut. Karena setelah itu, datang orang bernama Junaidi yang sebelumnya juga tidak dikenalnya datang ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa orang yang akan diikuti ke Samarinda akan menipunya. Junaidi yang tahu rencana jahat orang tersebut menawarkan untuk pergi bersamanya saja.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, Kus Marindi akhirnya setuju untuk berangkat bersama Junaidi. Sehari menjelang keberangkatan, ia menjual  sepeda di pasar sepeda, Pasar Turi, Surabaya seharga Rp. 9.500,00. Dari hasil penjualan tersebut untuk beli tiket kapal kayu di pelabuhan Kalimas seharga Rp. 4,500.00. Sore itu, keduanya langsung naik ke kapal karena rencananya kapal akan berangkat berlayar subuh berikutnya..

“Naik kapal adalah pengalaman pertama saya. Tidak heran, ketika kapal bergoyang-goyang terkena gelombang besar, kepala saya pusing sampai muntah-muntah. Pengalaman sangat tidak menyenangkan ini diperparah dengan bunyi derit dinding kapal. Seolah-olah kapal yang terbuat dari kayu itu akan terbelah dan pecah di tengah laut. Terpikir di otak saya apakah perjalanan ini akan sampai tujuan ?” kenangnya.

Dalam perjalan berlayar tersebut berkenalan dengan seorang ibu yang berprofesi sebagai pedagang sayur antar pulau asal kota Malang. Pedagang tersebut manyanyai saya tujuan saya ke Samarinda dan saya bilang tidak punya siapa-siapa.
Akirnya menawari megajak saya kembali dan bekerja bersamanya di Malang daripada harus melanjutkan perjalan yang tidak jelas tujuannya.
Tetapi tekat saya sudah bulat ingin pergi jauh dari kampung halaman. Ibu tersebut sangat baik dan menawari untuk tinggal bersama saudaranya yang menetap di Samarinda,” tambahnya.

Tetapi Kus Marindi memilih untuk tetap bersama dengan Junaidi yang memang dari awal sudah bersamanya dan akan mencari tetangganya yang menjadi trasmigran pada tahun 1960 an  yang kabarnya sekarang berjualan palawija di Pasar Pagi Samarinda.
Setelah ketema kami diajak kerumahnya dan ternyata di rumahnya telah  menampung banyak orang-orang satu daerah. Mereka pada umumnya bekerja di sektor non formal seperti berdagang pencok, minyak tanah, sayur mayur, makanan dan lain-lain seperti pada umum pekerjaan orang-orang dari daerah tersebut.

Kus Marindi yang tidak memiliki pengalaman dan sedikit pendidikan, akhirnya bekerja membantu ibu induk semangnya di pasar pagi. Pekerjaan yang dilakukannya adalah mengangkat barang dagangannya, baik milik induk semangnya maupun orang lain. Ia merasa sangat mudah mencari uang di kota itu, karena untuk pekerjaan yang dikerjakan dengan asal-asalan dan mengandalkan tenaga saja upahnya cukup tinggi. “Dalam satu hari, saya bisa mendapatkan uang antara Rp. 5,000.00 sampai Rp. 6.000,00. Bahkan yang sudah pengalaman bisa mendapatkan lebih banyak lagi. Dalam sekejap, saya merasa menjadi jutawan karena setiap hari bisa manabung rata-rata Rp. 5.000,00. Itu lebih tinggi dari harga tiket kapal Surabaya ke Samarinda yang hanya Rp. 4.500,00 per orang,” katanya.
Ekonomi Samarinda saat itu memang sedang booming dikarenakan penebangan hutan yang sedang  marak lyar biasa dengan istilah banjir kap.

Bila mau turun keair mengangkat keranjang-keranjang bekas sayur yang dibuang ke Sungai Mahakam didalamnya pun yakin mendapatkan ikan sepat yang sangat besar dibandingkan dengan yang pernah saya lihat di Jawa.
Pada suatu hari salah satu dari teman yang tinggal bersama kedatangan isterinya dari kampong, mungkin dia sedang tidak punya uang padahal dia perlu duwit untuk keperluan keluarganya, rupanya sasaran pertama yang diincar adalah tabungan saya.
Ia sangat kecewa dan memutuskan untuk mencari pekerjaan lain, karena meskipun menghasilkan uang banyak, tetapi merasa bukan itu yang dicarinya jauh-jauh ke Samarinda.

Ia kemudian bekerja di perusahaan yang sedang mencari karyawan untuk pekerjaan survey perminyakan di daerah Sangkulirang, 500 km ke arah utara dari Samarinda. Sejak itu, ia mulai mengenal ganasnya rimba Kalimantan yang masih perawan. Hutan yang dikenalnya di pulau Jawa hanyalah semak-semak, namun hutan di sini sangat lebat sehingga cahaya matahari pun tidak mampu menembus dasar hutan.

“Pengalaman hidup dan bekerja di hutan seperti digigit pacet dan terkena malaria adalah pengalaman yang dialami setiap orang. Bahkan sempat terpikir, apakah saya pernah melihat kampung halaman saya lagi ? Genap satu tahun saya merasa hutan bukan tempat untuk mencari pengalaman yang baik. Saya memutuskan pindah ke Balikpapan dan mencari tetangga yang telah hijrah pada saat saya masih berumur 3 tahun dan tinggal di perumahan Pelabuhan Balikpapan. Saya ikut tinggal bersamanya untuk sementara waktu,” kisahnya.

Awal bekerja di Balikpapan adalah pengalaman paling pahit yang pernah dilaluinya. Ia diajak temannya untuk mengangkat pasir ke truk dengan upah Rp. 500,00 per hari. Kus Marindi hanya mampu bertahan satu hari dan malamnya, malaria kambuh kembali. Yang paling menyedihkan, gajinya yang  Rp. 500,00 itu dipinjam temannya dan tidak pernah dikembalikan.

Hari-hari berikutnya, Kus Marindi bekerja serabutan. Ia membantu temannya menjual gorengan, belajar kerja sebagai tukang las, menjadi penjaga malam dan bermacam-macam pekerjaan tidak tetap lainnya. Baru pada awal Januari 1972, ia kembali mendapat pekerjaan di perusahaan survey perminyakan. Kali ini ditempatkan sebagai tenaga helper atau pembantu pekerjaan kasar di PT  Delta Explorasi.

Walau hanya sebagai helper perasaan saya pekerjaan ini adalah pekerjaan terbaik yang bisa saya dapatkan hingga tahun 1974.
Mungkin karena jenuh dan tidak ada pengalaman baru, saya meminta izin keluar untuk mencari pekerjaan lainnya yang lebih menantang,” tuturnya.

Berbekal ijazah mengetik, Kus Marindi diterima bekerja di perusahaan pelayaran. Di sini, ia merasa menemukan pekerjaan yang sesuai dengan minatnya meskipun bergaji kecil. Ia sangat menyukai pekerjaan tersebut meskipun ketika terjadi pengurangan karyawan pada tahun 1976, ia adalah orang pertama yang diberhentikan.

“Jadi pengangguran selama kurang lebih 6 bulan akhirnya saya dapat pekerjaan di EMKU yang beroperasi di pelabuhan udara Sepinggan, Balikpapan. Gajinya lebih kecil lagi, tetapi saya merasa sangat senang dengan pekerjaan itu. Walau gaji kecil saya merasa bisa ketemu dengan banyak orang termasuk orang-orang asing yang berhubungan dengan import / export barang keperluan perminyakan,” tegasnya.
Saat orang-orang lain naik pesawat udara masih merupakan mimpi saya sudah keliling Indonesia bahkan keluar Negeri tanpa bayar tiket karena terbang dengan charter flight perusahaan.
Pada masa ini mungkin karena punya dana dan waktu saya ingin kembali menyelesaikan pendidikan saya yang terbegkelai.

Jalan Kesuksesan Terbuka

Kus Marindi menemukan jalan menuju sukses ketika terjadi kebakaran (blowout) di sebuah rig (sumur minyak) milik PT Total Indonesie di daerah Tunu, Samarinda. Kebakaran hebat itu terus berkobar hingga berhari-hari lamanya karena perusahaan tidak memiliki stock material pemadaman api. Untuk memadamkan kebakaran tersebut, material harus didatangkan dari Singapura.

“Saya diundang oleh orang bule dari PT Haliburton Indonesia untuk meng-handle pengiriman material pemadaman api dari Singapura ke Balikpapan menggunakan pesawat terbang. Saya sampaikan kepadanya bahwa saya tidak punya capital untuk pekerjaan tersebut. Lha, material yang diangkut jumlahnya mencapai sekitar 20 flight, tentu butuh dana besar untuk mebayar charter flight maupun import duty nya. Sementara saya nggak punya apa-apa,” katanya.  Itu terjadi pada tahun 1984.

Rupanya, Allah mulai memberikan jalan hidup yang lebih baik baginya. Sekian lama Kus menjalani kehidupan yang pas-pasan, tiba saatnya membuka cakrawala baru. Si bule, tetap memintanya membuat rincian perhitungan biaya yang diperlukan untuk proyek tersebut. Antara percaya dan tidak, semalam suntuk, tidak tidur  ia menghitung kebutuhan dana dan menuangkannya dalam sebuah proposal.

“Pagi harinya, saya kembali bertemu dengan si bule tersebut dengan rasa pesimis dan tidak tahu apa yang dipikirkan oleh sibule ternyata proposal saya disetujui.  Bahkan dia meminta  untuk segera memulai pengirimannya,” tegasnya.

Proyek perdana ini dikerjakan Kus Marindi selama kurang lebih 10 hari. Selama itu, ia bekerja keras siang malam berangkat pagi pulang pagi untuk memastikan pekerjaan selesai tepat pada waktunya. Hingga akhirnya, semua barang material pemadaman kebakaran rig sampai di Balikpapan dan diserahkan kepada PT Haliburton Indonesia. Meskipun sangat lelah dan capek, ia sangat puas karena klien pertama pada proyek pertamanya juga sangat puas.
Setelah semua clear saat itu saya bisa membeli mobil pertama saya.

Kesuksesan menggarap proyek tersebut, membuka jalan lebih luas bagi perjalanan karier Kus Marindi. Tak berapa lama, ia mendapat telepon dan tawaran kerjasama dari perusahaan jasa kargo, Airmark Group dari Singapura. Perusahaan tersebut menawarkan dirinya untuk menjadi agen di Balikpapan dan sekitarnya. Tawaran tersebut diterimanya dengan ragu tetapi  juga sangat berminat.

“Awalnya dipenuhi perasaan ragu, apakah saya mampu mengelola bisnis sendiri atau tidak. Tetapi menurut saya, ini tantangan menarik yang tidak boleh disia-siakan. Di perusahaan pertama yang saya dirikan bersama adik ipar, adik ipar saya menjadi direktur. Ternyata keberuntungan saya disini, usaha saya maju dan tumbuh dengan sangat baik, berkembang ke usaha peternakan, percetakan dan lain-lain,” ungkapnya. Usahanya terus berkembang dan tahun 1988, ia membentuk  PT Intipratama groups dengan bidang usaha utama berfokus ke logistik. “Meskipun ada juga perusahaan yang tidak berhubungan, tetapi tetap saling mendukung,” imbuhnya.

Kembali terulang saat itu rasa ingin tahu saya, apa yang dpelajari dipendiidikn tinggi terutana saya merasa tidak tahu formalnya ilmu managemen, ternyata apa yang diajarkan sudah saya kerjakan bahkan saya merasa lebih expert dari pada dosennya.

Hampir semua orang berbicara kalau mau bisnis harus ada modal dari pengalaman saya mengatakan untuk berbisnis modal utama adalah kerja keras, jujur, konsisten terhadap tujuan, kalau dipercaya orang lain modal akan ikut mengalir.

Saat ini, kegiatan usaha yang dikelola Kus Marindi dan berjalan dengan sangat baik meliputi SPBU, pabrikasi dengan bendera PT Intipratama Global Teknik, custom clearance, transportasi darat, laut dan udara dan pergudangan dengan PT Intipratama Mulyasantika. Kemudian ada juga Perusahaan Bongkar Muat (PBM) PT Intipratama Global Services dan terakhir yang dalam project PT Intipratama Bandar Kariangau, mengelola terminal Cargo / pelabuhan khusus.

“Walaupun ada beberapa usaha yang terpaksa ditutup karena tidak mamadai antara hasil dan kesibukannya. Seperti percetakan, peternakan , supplyer secara keseluruhan semua berjalan dengan sangat sehat dan tanpa / belum ada  pinjaman dari pihak manapun termasuk pihak Bank. Sebagai penutup, saya mengucapkan terima kasih kepada Allah Yang Maha Esa. Kau telah memberikan yang terbaik padaku semoga hikmah ini bisa bermanfaat buat keluarga, masyarakat dan negara,” katanya.

Kurnia

No Comments

Kurnia
CV Hazna Indonesia/Shasmira

Membangun Indonesia Menjadi Kiblat Fashion Muslim Dunia

Umat Islam semenjak zaman Nabi Muhammad SAW telah menentukan kiblat untuk shalat, menghadap Kabah. Tetapi seiring perjalanan waktu, terjadi pergeseran kiblat umat Islam. Bukan lagi menuju Kabah, tetapi mengarah ke Bandung, Indonesia. Namun jangan salah sangka, karena kiblat yang mengarah ke Bandung bukan untuk shalat dan ibadah yang lain. Kiblat umat Islam ke Kota Kembang adalah tren fashion busana muslim.

Pencetus tren tersebut adalah CV Hazna Indonesia, produsen segala pernak-pernik busana muslim. Mulai kerudung atau jilbab, baju gamis, kopiah, sarung, sajadah, dan lain-lain. Dengan mempekerjakan, 40 staf, 100 penjahit dan 600 pengrajin, Hazna Indonesia dengan brand Shasmira telah hadir di 55 kota di Indonesia. Bahkan, produk busana muslim Haznah Indonesia telah menjangkau Brunei, Singapura, Malaysia dan Bangladesh.

“Ide awalnya dari istri saya untuk membuat kado spesial berupa kerudung sebagai oleh-oleh sepulang ibadah haji. Ternyata kerudung desain istri saya tersebut sangat disukai. Dan, karena kebetulan istri saya berkerudung kami memutuskan untuk mengembangkan produk ini sebagai sebuah bisnis,” kata Kurnia, pemilik dan pendiri CV Hazna Indonesia/Shasmira.

Saat itu, sebenarnya Kurnia sendiri masih bekerja di perusahaan swasta. Ia mencoba membuat beberapa kerudung dengan desain minimalis yang ternyata sangat disukai konsumen saat dilempar ke pasar. Kerudung minimalis segera saja menjadi tren karena terlihat fashionable dan tidak ketinggalan zaman. Dari situ, ia menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar untuk memasarkan desain kerudung miliknya.

Setelah beberapa lama, timbul keyakinan dalam diri Kurnia bahwa bisnis kerudung cukup menjanjikan. Ia kemudian memutuskan untuk berdiri sendiri dan membawa brand sendiri dengan nama Nisa 59. Menyusul kemudian pada bulan Agustus 2007 secara resmi ia meluncurkan brand Shasmira dengan produk yang lebih variatif sehingga dapat diterima bahkan oleh orang-orang yang sebelumnya tidak mengenal jilbab sama sekali.

“Saat ini jilbab bukan hanya sekadar untuk syariah, tetapi sudah menjadi fashionable. Sudah merupakan life syle, sehingga tidak sedikit orang yang sebelumnya tidak pakai jilbab tetapi begitu pakai jilbab menjadi lebih modis dan fashionable. Kedua kita harus menyadari bahwa penduduk Indonesia mayoritas muslim, sehingga itu adalah potensi pasar yang luar biasa. Saya perkirakan Indonesia akan menjadi kiblatnya fashion muslim tingkat dunia,” ungkapnya.

Kurnia sebagai seorang pebisnis, melihat bahwa prospek bisnis busana muslim ke depan cukup menjanjikan. Selain karena mayoritas penduduk Indonesia muslim, kesadaran masyarakat untuk memakai jilbab sangat tinggi. Ia mencontohkan bagaimana daerah-daerah seperti Aceh, Padang, dan Jawa Tengah penggunaan kerudung resmi menjadi aturan daerah. Selain itu, dunia hiburan pun ternyata turut mendongkrak popularitas kerudung dengan seringnya ditayangkan sinetron bernuansa religi.

“Oleh karena itu, kita juga melakukan penetrasi pasar dengan menggunakan sistem keagenan dengan empat tingkatan. Ada agen, member, distributor dan house network. Alhamdulilah kita sudah mampu membangun sekitar 600 jaringan distributor di seluruh Indonesia. Termasuk juga Asia, di Hongkong, Nederland, Brunei, Singapura dan Malaysia. Kita memiliki toko berkonsep kerjasama kemitraan dengan investor yang sekarang sudah berjumlah 55 House of Shasmira,” ujarnya.

Quality Control System

Sebagai tren setter busana muslim dunia, Kurnia memiliki berbagai kiat untuk memperteguh eksistensi produknya. Jaringan pemasaran yang luas dan harga produk yang terjangkau adalah salah satu strategi bisnisnya. Meskipun di pasaran juga beredar produk tanpa merek yang beredar di pasar-pasar tradisional.

“Tetapi kalau kita menaikkan harga sesuai dengan kompetitor, kita akan kalah. Makanya ini harus disiasati dengan mencari solusi alternatif dengan harga yang lebih rendah tetapi kualitasnya sama. Biasanya, itu kita lakukan dengan menembus langsung produksi barang tanpa perantara. Jadi langsung pada sumbernya,” tegasnya.

Selain itu, Kurnia juga terus meningkatkan skill dan kemampuan SDM. Tujuannya agar hasil kerja SDM sesuai program dan harapan perusahaan. Caranya melalui berbagai bimbingan dan pelatihan yang secara berkala diberikan perusahaan kepada seluruh SDM. Ia juga menerapkan sistem yang mampu mengontrol seluruh hasil kerja karyawan.

“Kita menambahkan sistem kontrol dari semua pekerja kita dengan menerapkan sistem QC. Jadi setiap barang yang masuk kita kontrol lagi dan barang yang tidak sesuai kita kembalikan untuk diperbaiki. Kenapa, karena kalau diserahkan kepada mereka tanpa kontrol yang ketat, maka kualitas kita nanti menjadi tidak seragam,” sergahnya.

Apalagi, lanjut Kurnia, meskipun pengguna brand di persaingan bisnis baju muslim jarang, tetapi ia harus tetap waspada. Hingga saat ini, jumlah pengusaha busana muslim sekitar 50-100 pengusaha. Sebuah jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan 200 juta penduduk muslim di Indonesia. “Kita harus bersaing dengan produk lokal seperti di Bukittinggi, tetapi kita harus siap untuk go international,” tegasnya.

Menurut Kurnia, yang patut diwaspadai dalam persaingan usaha busana muslim global adalah kemampuan China dalam memproduksi barang. Produsen China mampu membuat barang sesuai dengan pesanan harga yang diinginkan pelanggan. Dari yang paling mahal sampai termurah mereka mampu membuat dengan desain yang cukup bagus.

“Kita memang bisa menyesuaikan diri dengan mengurangi margin keuntungan. Tetapi produk China dengan harga murah ini cukup berdampak pada pemasaran kami untuk menjangkau kalangan menengah bawah. Kalau kalangan menengah ke atas, mereka pasti akan berpikir dua kali untuk menggunakannya, terkait kualitasnya. Sedangkan masyarakat bawah, tidak terlalu peduli yang penting fungsi dan harga. Masalah kekuatan dan kenyamanan nomor dua,” tuturnya.

Ke depan, Kurnia berharap akan melakukan berbagai pengembangan pemasaran. Salah satnya adalah dengan menempatkan satu orang perwakilan Shasmira pada setiap kota di Indonesia. Ia juga ingin setiap orang Indonesia mengenal produk perusahaan dan tidak terbatas hanya sekadar mengenal tetapi juga membeli dan mereferensikan produk Shasmira kepada orang lain.

“Kita ingin Shasmira tidak hanya dikenal di Indonesia tetapi juga go international. Target itu kita lakukan dengan terus menerus mengembangkan difersifikasi produk itu sendiri, dengan mengikuti tren yang ada di masyarakat. Karena pergantian mode sangat cepat sekali di masyarakat dan mencapai hitungan per bulan. Konsumen itu raja yang berhak menentukan pilihan sesuai keinginan masing-masing,” tegasnya.

Generasi Berpikir “Bisa”

Kurnia menjelaskan arti harfiah shasmira untuk menamakan brand busana muslim besutannya. Shasmira merupakan nama bunga sangat indah yang berasal dari India. Sementara dalam sejarah Islam, Shasmira juga dikenal sebagai pejuang wanita yang gagah berani sehingga identik dengan wanita. Di zaman sekarang pun, ia mendapati kisah tentang Siti Shasmira yang berjuang demi kemajuan anak-anak bangsa di lokasi terpencil.

“Shasmira juga sebuah nama yang unik sehingga mudah diingat. Jadi kalau orang menyebut shasmira, mereka akan mengasosiasikan dengan baju muslim. Saya juga membangun ini dengan penuh perjuangan, tetapi saya berharap agar perusahaan semakin besar dan memberikan kontribusi bagi pemerintah untuk menanggulangi pengangguran. Harapan saya nanti ke depan, anak-anak bisa melanjutkan dan mengembangkan perusahaan ke arah yang lebih baik,” ujarnya.

Di sisi lain, Kurnia berharap agar pemerintah bisa membantu UMKM seperti usahanya. Bantuan yang sangat diharapkan berupa bantuan permodalan yang sangat berguna bagi perusahaan kecil dan menengah seperti CV Hazna Indonesia dengan persyaratan yang mudah. Ia juga berharap agar pemerintah terjun langsung melakukan pembinaan terhadap pengusaha kecil. Tujuannya agar mereka bisa meningkatkan pengetahuan sehingga perusahaan semakin besar dan menyerap banyak tenaga kerja. Dengan begitu, terjadi hubungan saling membutuhkan satu sama lain antara pemerintah dan dunia usaha.

Kurnia mengingatkan, bahwa angkatan kerja setiap tahun selalu bertambah. Sementara peran pemerintah adalah mengubah pola pikir masyarakat, terutama orang tua untuk mengetuk kesadaran generasi muda agar memiliki jiwa entrepreneur. Yakni bagaimana mereka tidak berpikir mencari kerja di mana setelah lulus kuliah, tetapi bagaimana timbul pemikiran untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

“Itu yang harus digalakkan pemerintah, sehingga apabila semua lulusan perguruan tinggi mampu berusaha sendiri, income per capita meningkat, mengikis pengangguran dan lain-lain. Di sisi lain, pemerintah juga harus memfasilitasi kemitraan antara perusahaan besar dengan perusahaan kecil. Setidaknya untuk memperoleh proyek mereka harus membantu pengusaha kecil terlebih dahulu untuk memberikan kesempatan berwira usaha kepada setiap penduduk. Kalau sudah begitu, saya yakin masyarakat Indonesia akan semakin baik di masa mendatang,” ujarnya.

Kepada generasi muda, Kurnia berpesan agar mereka menanamkan dalam diri masing-masing bahwa untuk mendapatkan penghasilan tidak harus dengan bekerja. Generasi muda mampu menghasilkan pendapatan dengan cara berkarya, yakni menciptakan sebuah karya yang memiliki nilai jual. Generasi muda juga harus memikirkan bagaimana karya yang tercipta memiliki nilai komersial dengan menggandeng orang lain untuk berkolabarosi.

“Itu akan lebih baik daripada selesai kuliah kemudian melayangkan surat lamaran ke mana-mana dan menunggu. Ini misalnya dilakukan oleh Bill Gates yang meng-create sebuah karya dan mencari mitra untuk membesarkan Microsoft. Oleh karena itu, generasi muda harus selalu berpikir bahwa mereka bisa. Karena berpikir bisa akan merangsang kreativitas, inovasi, dan lain-lain. Sementara kalau berpikir tidak bisa akan mematikan potensi yang dimiliki. Makanya berpikirlah bisa. Saya bisa menjadi pengusaha, saya bisa menghasilkan karya yang baik dan sebagainya,” pungkas Kurnia, pemilik CV Hazna Indonesia.

Johan Wang

No Comments

Johan Wang
Direktur Utama PT Jocelyn Anugrah Jaya

Mengalami Keajaiban dan Mukjizat Hidup Diwujudkan pada Miracle Agency

Beberapa kali kejadian ajaib dialami oleh Johan Wang, Direktur Utama PT Jocelyn Anugrah Jaya. Kejadian ajaib tersebut selalu berhubungan dengan keselamatan dirinya sehingga nyawanya berada di ujung tanduk. Salah satunya, ketika masih  kuliah tahun 1999, ia terserempet metromini saat naik motor ke kampus. Celakanya, ia jatuh ke kolong truk kontainer yang sedang melaju. Tak ayal, tubuhnya terseret truk kontainer sejauh sepuluh meter.

Meskipun demikian Johan Wang selamat. Ia “hanya” mengalami patah tulang di hampir sekujur tubuhnya. Setelah tergolek di rumah sakit selama satu tahun lamanya, ia dinyatakan sembuh dan bisa beraktivitas seperti sedia kala. Sejak itulah, ia sangat antipati terhadap obat dan dokter. Trauma tersebut terus dibawanya hingga bekerja, menikah dan memiliki anak. Hingga suatu saat, vonis dokter menyatakan dirinya suspect leukemia dan harus menjalani perawatan intensif.

“Ini keajaiban dan mukjizat untuk kali kedua setelah dilindas kontainer. Suami saya dinyatakan menderita leukemia akut saat menjalani pengecekan di Singapura. Peluang untuk sembuh diperkirakan hanya 30 persen kalau tidak segera ditangani. Rumah sakit di sana mengajukan dana Rp1 miliar untuk perawatan suami saya. Tetapi saya bersikeras membawanya pulang ke tanah air,” kata istrinya.

Ia dan suaminya kemudian kembali ke Indonesia untuk menjalani pengobatan herbal. Berbagai macam obat-obatan herbal dari seluruh penjuru nusantara dicoba demi kesembuhan sang suami. Ratusan juta rupiah telah dihabiskan untuk pengobatan yang ternyata tidak membuahkan hasil tersebut.

Bukannya berkurang, leukemia yang diderita Johan Wang semakin parah. Dari hidung dan gusinya terus menerus terjadi pendarahan, sementara di sekujur tubuhnya timbul bercak-bercak besar kemerahan. Ia hanya mampu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa demi kesembuhan suaminya.

“Tuhan memang Maha Baik. Suatu hari, Dia mengirimkan penderita leukemia kronis ke rumah. Orang tersebut menyarankan untuk tetap konsultasi ke dokter sebagai pegangan meskipun menggunakan herbal untuk pengobatan. Kami menurutinya dan mempercayakan pengobatan kepada dokter yang disarankan orang tersebut,” tandasnya.

Johan Wang, kemudian disarankan untuk menjalani kemoterapi di RS Ciptomangunkusumo  oleh dokter tersebut. Satu kali kemoterapi dan menghuni ruang isolasi selama 45 hari tidak menunjukkan hasil maksimal. Mungkin penyebaran sel kanker yang sudah mencapai paru-paru menjadi penyebabnya. Bahkan, sel kanker didiagnosa telah menguasai 90 persen darah yang beredar di tubuh. Dikhawatirkan, apabila sel kanker sudah mencapai otak nyawa Johan  Wang tidak tertolong.

Sekali lagi, Johan Wang harus mengulang proses kemoterapi dan isolasi dari awal. Sang istri hanya diperbolehkan menunggui suaminya dari luar ruangan. Tanpa henti, ia memanjatkan doa untuk kesembuhan Wang sembari mengasuh anaknya yang kala itu belum genap berumur satu tahun. Perlahan namun pasti, tanda-tanda kesembuhan mulai nampak. Setelah satu tahun tergolek di rumah sakit, Johan Wang dinyatakan terbebas dari leukemia.

“Puji Tuhan, ini benar-benar keajaiban dan mukjizat dari-Nya. Kebahagiaan dan rasa syukur tiada tara kami rasakan. Apalagi setelah keluar dari rumah sakit, kita masih mendapat bonus jalan-jalan ke Turki dari Prudential. Semua berkat mukjizat Tuhan, mulai terlindas kontainer sampai sembuh total dari leukemia, tanpa campur tangan Tuhan tidak akan terjadi. Oleh karena itu, saat bulan Januari 2011 membuka perusahaan, kita namakan Miracle Agency,” tuturnya.

Berkat Tuhan pula yang membuat brand Miracle Agency dari perusahaan PT Jocelyn Anugrah Jaya dengan cepat berkembang. Dengan persaudaraan dan pertemanan yang sangat kuat, dalam waktu singkat telah memiliki 1000 agen dengan 110 leader. Bahkan cabang perusahaan pun berdiri tidak hanya di Jakarta, tetapi juga Bangka, Jambi, Sungai Liat, Bandung dan lain-lain. Tidak hanya itu, dari 220 insurance agency di seluruh Indonesia Miracle Agency menduduki peringkat 10 nasional.

Membantu Orang

Awalnya Johan Wang tidak begitu tertarik dengan dunia asuransi. Sebagai perantau dari Jambi dan kuliah di Jakarta, ia indekos di kamar berukuran dua kali tiga meter. Setelah lulus kuliah ia bekerja sebagai staf auditor. Salah satu teman kos Johan bernama Heri, dilihatnya memiliki kehidupan yang lebih baik. Ternyata Heri adalah agen perusahaan asuransi Prudential.

“Suami saya melalui Heri kemudian bergabung dengan Prudential. Meskipun awalnya ia menyangka MLM, tetapi ia berketetapan hati untuk bergabung dan bekerja sebagai agen asuransi. Ia pun resmi mengundurkan diri dari perusahaan lama –meskipun sempat diiming-imingi kenaikan gaji- tetapi ia sudah bulat keputusan untuk bergabung di Prudential. Di sini ia memiliki misi yang luar biasa, yakni membantu orang menyiapkan masa depan mereka,” kisahnya.

Landasan misi mulia tersebut, lanjutnya, membuat karier Johan Wang dengan cepat meroket. Hanya dalam tempo tujuh tahun, ia sudah menduduki posisi paling atas sebagai agency manager (2008). Hampir setiap tahun perusahaan mengeluarkan bonus untuk Johan Wang berupa jalan-jalan ke luar negeri. Selain itu, penghasilan besar dari asuransi membuatnya mampu membeli rumah, mobil dan lain-lain.

Bahkan, saat dinyatakan suspect leukemia pun penghasilan Johan Wang tidak berkurang. Uplink managernya menjamin bahwa usaha sales asuransi yang dijalankannya tetap berjalan seperti biasa. Bisa dibilang, inilah bisnis yang menjadi pasif income sebenarnya. Karena saat Johan sakit, biaya operasional –seperti cicilan rumah, mobil dan biaya hidup keluarga- sebesar Rp60 juta per bulan tertutupi.

“Jadi saya tidak perlu menjual rumah atau asset lain sama sekali. Apalagi, semua biaya pengobatan suami saya benar-benar ditanggung oleh Prudential. Untungnya, perusahaan memiliki kebijaksanaan apabila nasabah menderita penyakit akut seperti kanker, leukemia dan lain-lain, polis diberikan secara cash. Yang lebih menenangkan lagi, saat suami jatuh sakit teman-teman sudah siap menggalang dana. Tetapi berkat Prudential semua telah terbantu,” kisahnya penuh syukur.

Di saat-saat sedang menderita cobaan hidup seperti itu, Johan Wang dan istrinya menyadari siapa teman dan sahabat sejati. Disamping ada yang dengan sukarela memberikan bantuan materi, ada juga yang mengetahui kondisinya lantas meninggalkan pasangan ini begitu saja. ”Kalau lagi senang, semua teman berdatangan tetapi ketika kita jatuh satu per satu meninggalkan kita. Nah, saat Johan sakit itulah baru kelihatan siapa teman-teman kita,” imbuhnya.

Melalui Miracle Agency, pasangan Johan Wang dan istri, membangun kesuksesan bersama. Mereka tidak hanya berpikir untuk kesuksesan pribadi tetapi juga membuat banyak orang sukses. Dengan berbisnis di agen asuransi Prudential kesempatan untuk memperbaiki kehidupan terbuka lebar. Ia mengisahkan bagaimana banyak anak buahnya yang memiliki keinginan kuat untuk maju berhasil meraih impiannya.

Apalagi dalam menjalankan bisnis agen asuransi Prudential relative tidak memerlukan modal sama sekali. Yang diperlukan hanyalah kemauan untuk maju mencapai impian yang dicita-citakan mencapai kehidupan yang lebih baik. Seorang agen hanya dituntut untuk ulet, memiliki tujuan yang jelas dan siap dengan risiko yang sangat kecil.

“Risikonya hanya menghadapi penolakan dari nasabah, itu saja. Dan penolakan akan tidak menjadi masalah kalau kita memiliki goal dan dream. Saya bilang belum ada bisnis seluar biasa Prudential. Tanpa modal, nilainya ratusan juta, hasilnya juga luar biasa, dengan risiko hanya penolakan. Saya dalam kurun waktu tujuh tahun sudah mampu memperoleh income diatas Rp100 juta per bulan. Padahal modal awal hanya Rp6 ribu untuk materai,” tegasnya.

Risiko Penolakan

PT Jocelyn Anugrah Jaya dibawah Johan Wang sebagai Direktur Utama setelah mencapai ranking 10 besar agen asuransi menetapkan untuk masuk 5 besar dalam beberapa tahun ke depan. Tetap bervisi untuk membantu orang mencapai kehidupan lebih baik, perusahaan mengalami akselerasi kemajuan yang sangat pesat. Beberapa bulan berjalan, perusahaan telah mencatatkan omzet rata-rata Rp1,5 miliar per minggu.

“Saya cuma menerapkan kekeluargaan, kekompakan dan lain-lain. Untuk merangsang sales, kita membuat kontes jalan-jalan, ke Hongkong, Phuket dan lain-lain. Atau angpao bagi mereka yang berhasil mendapatkan tiga nasabah. Yang jelas, karena percepatan usaha kita sangat luar biasa, kami yakin tembus sepuluh besar. Pokoknya tetap mengusung visi meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan menjadi lebih tinggi. Bring miracle for every family yaitu memberikan keajaiban bagi setiap agen dan leader yang bernaung dalam Miracle Agency. Sementara bagi nasabah banyak manfaat yang mereka rasakan dari produk-produk Prudential,” tegasnya.

Untuk mencapai visi tersebut, selain mengadakan kontes dan jalan-jalan perusahaan juga memberikan bantuan berupa training dan pelatihan. Tujuannya untuk membekali para agen agar mereka memiliki skill yang cukup untuk menghadapi tantangan ke depan, menguasai produk yang dijual serta motivasi yang tinggi untuk maju. Ibarat handphone, mereka di-charge untuk menambah stamina sebelum terjun dalam persaingan pasar asuransi yang semakin sengit.

Selain itu, Johan Wong menargetkan untuk membawa perusahaan mencapai lima besar agen asuransi di Indonesia. Karena dengan predikat lima besar berarti akan semakin mudah dalam mencari nasabah. Selain itu, banyaknya produk asuransi dari Prudential yang memenuhi kebutuhan nasabah juga memudahkan tugas agen asuransi. Di sisi lain, manfaat asuransi bagi nasabah juga sangat banyak. Mulai merancang masa pensiun, anak sekolah, sakit parah dan lain-lain dapat tercover asuransi.

“Masyarakat harus tahu bahwa setiap tahun selalu ada penyakit baru yang terdeteksi, karena mutasi penyakit semakin beragam. Nah, nasabah kalau sudah sakit, ujung-ujungnya masuk rumah sakit juga. Kenyataannya banyak orang di rumah sakit yang tidak tertolong gara-gara kesulitan dana. Di situlah pentingnya asuransi, kalau terjadi apa-apa tidak perlu menjual asset yang dengan susah payah dikumpulkan,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, secara pekerjaan bekerja sebagai agen asuransi cukup mudah. Bagi agen yunior, untuk mencapai kesuksesan cukup melakukan persis seperti yang dikerjakan oleh para seniornya. Karena para senior telah berpengalaman dan membuktikan bahwa apa yang dikerjakannya dalam bisnis ini telah menghasilkan limpahan materi bagi keluarga.

Selain itu, bagi generasi muda yang belum memiliki pekerjaan tetap, bekerja di perusahaan asuransi seperti Prudential sangat menjanjikan masa depan. Penghasilan sebagai agen asuransi mampu mencukupi kebutuhan hidup, dengan peluang karier yang terbuka lebar serta kesempatan keliling dunia. Agen asuransi juga mempunyai kesempatan untuk memiliki kebebasan financial tidak terbatas dengan keikutsertaannya pada program perusahaan tempatnya bekerja.

“Untuk yang sudah bekerja di Prudential, saya sarankan agar mereka mengikuti sistem saja untuk sukses. Kunci suksesnya cuma copy paste, mengikuti omongan leader karena mereka sudah membuktikan. Seperti saya bisa beli rumah, mobil dan lain-lain yang merupakan hasil dari pekerjaan sebagai agen asuransi. Apalagi untuk ke depan, market kita masih luar biasa. Karena selama masih ada kehidupan –kelahiran, pertumbuhan penduduk dan lain-lain- asuransi akan terus diperlukan. Sementara tenaga pemasaran asuransi pun masih sangat sedikit, dan yang harus diingat adalah risiko pekerjaan ini hanya sekadar penolakan saja,” katanya.

Profil PT Jocelyn Anugrah Jaya

PT Jocelyn Anugrah Jaya merupakan salah satu kantor manager mandiri (Agency) dari PT Prudential Life Assurance yang didirikan pada tanggal 15 April 2010 oleh Bapak Johan sebagai pemilik sekaligus pemimpin perusahaan dan disyahkan dengan akte notaris Hannywati Gunawan, SH, No 34. Perusahaan bergerak di bidang jasa khususnya asuransi jiwa dan mulai beroperasi pada tanggal 3 Januari 2011, beralamat di gedung Permata Kuningan, Jakarta Selatan.

Perusahaan lebih di kenal dengan brand Miracle Agency untuk mempermudah komunikasi antara pihak Prudential (kantor pusat) dengan agency. Karena setiap agency memiliki kode kantor yang berbeda satu dengan lainnya dan bernaung dalam satuan region.

Miracle Agency di bawah pimpinan Johan Wang telah banyak melahirkan leader – leader yang solid dan berkomitmen dari semua tingkatan jenjang karier. Antara lain Unit Manager (UM), Senior Unit Manager (SUM) dan tingkatan yang paling tinggi yaitu Agency Manager (AM). Untuk sebuah agency baru dengan begitu banyaknya leader merupakan suatu kekuatan group yang besar. Selain di Jakarta, Miracle Agency juga memiliki kantor cabang di Bandung, Jambi, Bangka, Pangkalpinang dan Sungai Liat.

Visi dan misi PT Jocelyn Anugrah Jaya

Visi
Menggapai semua kesuksesan dengan satu tujuan demi keberhasilan perusahaan dalam perkembangannya

Misi
Menjadi agency terbaik dan memiliki suatu komitmen untuk berkembang terus dan melampaui semua pengharapan yang ada

Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari misi, Miracle Agency mempunyai landasan sebagai suatu kekuatan dasar berdiri dan berkembangnya perusahaan sebagai berikut:
Semangat untuk menjadi yang terbaik
Organisasi yang memberikan kepada orang lain untuk belajar
Bekerja sebagai suatu keluarga.