Tag: bisa

Putu Darmawan, S.Kom, MM

Putu Darmawan, S.Kom, MM
Direktur AMIK Pakarti Luhur

Terus Berinovasi Untuk Lebih Memasyarakatkan IT

Demi lebih memasyarakatkan IT – sesuatu yang dikerjakannya dengan ikhlas – ia berani menolak tawaran kerja dengan pendapatan yang lebih memadai.

Industri IT (Information Technology) dalam beberapa tahun belakangan ini berkembang dengan pesat. Suatu keadaan yang diperkirakan masih akan terus berlangsung hingga kedepannya. Mengingat vitalnya peran IT dalam segala lini industri dan juga perkembangan IT itu sendiri yang begitu dinamis.

Kebutuhan akan ahli IT pun menjadi tinggi. Sehingga pendidikan-pendidikan yang berbau IT kini pun menjadi tujuan belajar favorit. Dan bukan rahasia lagi kalau pendidikan tinggi yang berkualitas mensyaratkan kemampuan finansial yang kuat dan waktu yang luang.

Lalu bagaimana dengan mereka yang ingin menguasai ilmu IT tapi tidak mempunyai kemampuan finansial yang cukup atau juga tak mempunyai waktu yang luang? Hal inilah yang selalu dipikirkan oleh Putu Darmawan, S.Kom, MM, seorang Konsultan IT & dosen tetap di Universitas Budi Luhur.

Dari kegelisahan, keinginan dan perjuangannya tersebut, pada 26 Oktober 2007, terlahir AMIK (Akademi Manajemen Informatika & Komputer) Pakarti Luhur yang berada di Karawaci. Kampus tersebut pun mulai menyelenggarakan kuliah perdananya pada awal November 2007.

Inovasi-inovasi AMIK Pakarti Luhur

Ide awal untuk mendirikan AMIK Pakarti Luhur pun berasal dari keinginan Universitas Budi Luhur untuk bisa melayani masyarakat secara jauh lebih luas lagi. Terutama masyarakat yang kondisi finansialnya kurang. Hal ini mengingat segmen  peserta kuliah Universitas Budi Luhur yang tergolong menengah ke atas.

“Masuk bayar murah, kualitas setingkat (Universitas) Budi Luhur,” ujar lelaki kelahiran Jakarta, 18 Juni 1972 ini. Baik itu materi, dosen dan berbagai sistem yang diterapkan di Universitas Budi Luhur, diterapkan pula di sini.

Visi  AMIK Pakarti Luhur sendiri ialah: Mencerdaskan masyarakat indonesia sesuai dengan harapan dan cita-cita kemerdekaan yaitu dengan memiliki kemampuan serta skill yang baik, dibekali akhlak dan berbudi pekerti yang luhur sehingga akan menghasilkan dan melahirkan sumber daya manusia yang berakhlak mulia.

Sedangkan misinya: Menyelenggarakan pendidikan bagi semua potensi yang ada di masyarakat; Melahirkan tenaga-tenaga profesional sebanyak-banyaknya; Memberikan pelayanan pada masyarakat sebagai implementasi keperdulian masyarakat; Menumbuhkan kembangkan sikap dan pola pikir secara professional.

Menurut Putu, dalam jangka pendek AMIK Pakarti Luhur berniat untuk mendapatkan akreditasi. Dengan adanya antusiame dari investor yang sudah menyatakan minatnya, ia pun percaya diri bisa mencapainya. Untuk itu, saat ini ia mulai mencari lahan dan mengembangkan fasilitas.

Sementara di bidang akademis sudah banyak yang ia rencanakan. Salah satunya ialah menciptakan program studi – program studi baru. “Tapi untuk sementara ia akan mencoba mencukupi fasilitas bagi mahasiswa,” selanya.

Inovasi pun dilakukan pada sistem belajar mengajar. Mengingat mahasiswanya yang kebanyakan adalah karyawan, Putu berusaha menciptakan sistem belajar mengajar yang bersifat fleksibel. Kegiatan perkuliahan pada AMIK Pakarti Luhur, dibagi atas dua waktu yaitu pagi dan malam hari. Terdapat  perbedaan antara perkuliahan pagi dan malam. Pertama, Perkuliahan pada pagi hari ditujukan bagi para siswa yang baru saja lulus SMA atau karyawan yang bekerja pada shift malam.

Perkuliahan yang dilaksanakan pada malam hari, ditujukan untuk para karyawan. Kedua, perkuliahan pada pagi hari menggunakan sistem semester dan sistem sks sedangkan perkuliahan malam menganut sistem periode dan sistem paket dalam memilih mata kuliah.

Kemudian, ada usaha untuk menjembatani keharusan persentase kehadiran peserta dan kesibukan mereka. Mulai tahun depan, pihak kampus akan memvideokan penjelasan dosen di ruang kelas. Bagi mahasiswa yang tidak dapat menghadiri perkuliahan, maka mereka harus menonton materi tersebut di perpustakaan tanpa terikat jadwal.

Target AMIK Pakarti Luhur untuk saat ini tak muluk-muluk. Ia hanya ingin menjadi Perguruan Tinggi unggulan di bidang IT di daerahnya. Akan tetapi ia pun tak ingin perguruan tinggi lainnya jatuh. Ia ingin sama-sama bersaing, sama-sama maju, berinovasi dan menjadi inspirasi bagi lingkungannya. “Dasarnya dengan meningkatkan kualitas internal lembaga itu sendiri,” jelasnya.

Merasa Tertuntun Untuk Menjadi Pengajar

Putu mengaku terjun ke dunia pendidikan secara tidak sengaja. Setelah menyelesaikan kuliahnya di  Universitas Budi Luhur, ia sempat bingung. Kala itu ia tak punya cita-cita jangka panjang, yang ada pada benaknya pada saat itu adalah secepatnya mendapatkan pekerjaan. “Maklum, saya anak pertama, ingin cepat bisa bantu orang tua,” jelasnya.

Kemudian, ia yang sempat menjadi asisten laboraturium itu diajak bergabung menjadi pengajar di almamaternya pada tahun 1996. “Iseng-iseng saya terima pekerjaan itu,” tambahnya. Awalnya ia ingin memajukan laboraturium yang kondisinya pada saat itu tak disukainya.

Setelah sekian lama, ia ternyata menemukan kesenangan tersendiri di sana. Sebagai orang yang senang selalu bertemu dengan orang lain, ia mengaku gembira bisa bertemu dengan mahasiwa-mahasiswa baru setiap semesternya. Kejadian seperti ini menurutnya mungkin sebuah jalan hidup.

Sulung dari tiga bersaudara dengan latar belakang keluarga seorang pedagang ini merasa menemukan apa yang dicarinya di Universitas Budi Luhur. Ia menemukan kesadaran bahwa yang dibutuhkannya selama ini adalah untuk menjadi seorang pelayan.

Saat karirnya meningkat pada level manajerial, ia merasa semakin nyaman. Disitu ia bisa melayani atasan, sesama dan juga bawahan. “Apa yang dikerjakan dengan keikhlasan akan membawa kita pada kenyamanan,” ujarnya bijak.

Dengan prinsip hidup yang mengalir seperti air, Putu pun terus bekarya di tempat kerjanya. Ia turut merintis dibukanya kelas karyawan di beberapa fakultas di sana. Antara lain, fakultas ekonomi serta fakultas ilmu sosial dan ilmu politik di Universitas Budi Luhur.

Didukung Keluarga Walau Tak Punya Ambisi Pribadi

Ayah dari tiga orang putri ini mengaku tidak mempunyai ambisi pribadi dan hanya fokus pada AMIK Pakarti Luhur. “Awalnya sih sempat pusing memikirkan kebutuhan keluarga,” ungkapnya. Akan tetapi ia lebih memilih untuk bisa terus melayani orang. Sesuatu yang menurutnya dilandasi oleh alasan spritual dirinya pribadi.

Untuk menerapkan ilmunya pada dunia nyata, Putu pun menjadi Konsultan IT di luar. Ia menangani kebutuhan IT tiga buah Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Ahli yang menguasai Berbagai Bahasa Pemrograman seperti VBA, Java, PHP, VB6, linux dan networking ini pun sempat ditawari untuk menjadi manajer IT di perusahaan minyak dengan gaji dollar. Tapi hal itu ditolaknya.

Untung saja ia memiliki keluarga yang mengerti. Pada awal mendirikan AMIK Pakarti Luhur, ia kerap pulang malam bahkan menginap di kantor. Akan tetapi kini tidak lagi. Karena anak sulungnya mulai bersekolah, kini ia pindah ke daerah dekat kampus. Menempati rumah yang baru dibangunnya.

Kepada generasi muda, Putu berpesan agar mereka harus membiasakan diri mempunyai mimpi. Mimpi tersebut harus segera mulai dibangun, paling tidak diawali dari lingkup keluarga. “Dan yang penting harus dilakukan dengan ikhlas,” tuturnya mengingatkan.

Secara individual, ia menginginkan agar anak muda mau mencari sesuatu yang unik. Dan membentuk karakter mereka berdasarakan sifat yang unik tersebut. Karena menurutnya segala sesuatu yang unik itu biasanya akan menjadi istimewa dan diatas rata-rata.

Prof. Dr. Djohar MS

Prof. Dr. Djohar MS
Rektor Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa

Program E-Learning di Indonesia Terganjal Absensi

Model system on line atau yang kita kenal  e-learning merupakan salah satu bagian dari  tuntutan dari pengembangan teknologi computer guna memberikan kemudahan umat  manusia dalam mengakses teknologi IT. Dengan adanya model ini diharapkan kekurangan atau kebuntuan  persoalan komunikasi  dapat terpecahkan. “model on line bisa kita buka dan kita dapatkan naskahnya begitu….. lebih terbuka dan dosen bisa memberikan in-put kepada mahasiswa secara cepat, “ demikian Profesor. Doktor Djohar, Ms, mengungkapkan permasalahan itu.

Memang teknologi IT belakangan ini begitu pesat, sehingga dengan metode belajar e-learning, peserta atau siswa didik  diharapkan dapat menyerap dan menangkap pesan-pesan yang disampaikan guru atau dosen dengan mudah, dan tidak perlu lagi sibuk mencatat atau mendengarkan perkuliahan. Menurut professor Djohar, metode ini bisa memberikan interaksi langsung, yang selama ini terbatas atau mengalami kemacetan komunikasi. “Meski begitu bukan tidak ada kelemahannya dari metode ini.”

Dikatakan, professor Djohar,  anak-anak menjadi subjek dari metode pengajaran metode pengajaran tersebut. Intinya, metode ini memberikan kemudahan kepada siapa pun subjeknya, dan mereka tinggal mengisi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan dalam system on model e-learning  ini, seperti model latihan lks. “memang  ada baik buruknya juga model ini”. Meski system ini sedang ngetrend atau di kalangan pendidikan, bukan berarti tidak ada titik kelemahannya. Setiap program yang dibuat manusia, pasti  ada saja kekurangannya, tapi setidaknya  ini merupakan sebuah terobosan baru bidang IT.

“Untuk informasi teknologi ini lebih cepat, tapi sekali lagi masih ada persoalan loadingnya,”tuturnya. Djohar yang juga rektor universitas sarjanawiyata taman siswa ini menambahkan program ini harus betul-betul terdisain, jadi bukan hanya sekedar memberikan bahan tulisan atau materi ujian kepada mahasiswa, tapi juga metode ini juga menuntut keaktifan dosen atau tenaga pengajar atau instruktur dalam menganalisa atau membuat materi perkuliahan atau pendidikan.

“Jadi dosen bisa memberikan email kepada mahasiswanya, dan begitu sebaliknya, “pungkas Djohar. Selain itu cara ini juga benar-benar sangat efektif dan memangkas waktu yang selama ini sering terkendala oleh berbagai hal pekerjaan lain. Menurutnya, dibutuhkan waktu untuk senantiasa mengontrol atau melihat-lihat email atau bentuk website lainnya dalam rangka mempercepat kinerja. Sistem kerja secara on-line memang telah mengejala saat ini, baik  di kantor-kantor, perusahaan maupun dunia jurnalistik serta pendidikan.

Menurut profesor Djohar, system ini bisa terpakai  tergantung  subjek dan objeknya, kalau memang harus dikerjakan pada saat itu juga, atau by doing, kenapa tidak, tegasnya, dosen bisa menuliskan atau merubah  naskah ujian atau bahan materi perkuliahan secara cepat dan tepat. “Tapi harus ada objeknya.” Cara ini sangat tepat, khususnya bagi pengajaran jarak jauh atau antar pulau dan negara. Dikatakan, metode ini bisa artinya diistilahkan  dengan objek study, bukan lesson study seperti yang selalu dibicarakan.

Profesor Djohar mengatakan metode ini bisa cepat kita dapatkan atau perlukan, tatkala kita memerlukan modul-modul pembelajaran dari dalam dan luar negeri. “Saya banyak memberikan modul-modul perkuliahan ke Malaysia dan negara-negara lain.” Sebenarnya menurut Djohar, kita mestinya bangga dengan modul-modul yang ditulis bangsa sendiri, bukan bangga dengan modul yang ditulis bangsa asing. “Kita ini sama instrument, baik fisik, otak  dan kemampuan yang lainnya. Tuhan memberikan kemampuan yang sama kepada setiap makhluknya, tinggal bagaimana memanfaatkan kelebihan yang diberikan itu untuk membuat bahan-bahan atau modul yang berguna bagi pendidikan ata ilmu pengetahuan.

“Saya ini banyak memberikan modul kepada mahasiswa dan dosen, dengan memanfaatkan teknologi program  e-learning ini. Namun saat ini yang sangat saya sayangkan, ada dosen yang menulis yang semestinya untuk program pascasarjana doctor, tapi menuliskan modulnya diberikan untuk pascasarjana, “ini kan tidak benar.” Semestinya mereka memahami apa yang harus mereka berikan dan tidak menyimpangkannya.

Menurut Djohar, system e-learning baik kalau menempatkan pada tempat yang seharusnya.”Tergantung tempat, situasi dan posisi antar kita, jadi tidak harus begitu begitu.”Tidak boleh ada pemaksaan dari dosen terhadap anak didik atau mahasiswa, system perkuliahan di zaman sekarang dengan teknologi serba tinggi, semestinya perkuliahan bisa dilaksanakan di mana saja, dan kapan saja. “Perkuliahan itu kan bisa dilaksanakan di café, di taman atau di ruangan terbuka, tidak harus di ruang kuliah atau dosen.”

Dengan teknologi serba tinggi, semestinya perkuliahan bisa dilaksanakan di mana saja, dan kapan saja. “Perkuliahan itu kan bisa dilaksanakan di café, di taman atau di ruangan terbuka, tidak harus di ruang kuliah atau dosen.”

Djohar mengungkapkan dibutuhkan peran aktif dari dosen untuk membuat program perkuliahan dengan teknologi on-line ini, artinya dosen dan mahasiswa sama-sama aktif untuk membuka computernya dan menanggapi atau membuah naskah atau modul untuk disampaikan kepada mahasiswa. “Dosen itu harus punya web, dan mereka mahasiswa juga harus punya, kalau tidak sulit untuk menjalankan metode online tersebut, “katanya.

Menurut profesor Djohar, metode ini telah dilakukan di fakultas ekonomi secara keseluruhan dikampusnya universitas sarjanawiyata taman siswa. “Cara ini dapat juga dimanfaatkan mahasiswa untuk melihat nilai-nilai hasil ujiannya, baik ujian tengah semester maupun akhir semester. “Kalau ini tidak dibuka-buka mahasiswa, mereka akan kesulitan mengetahui hasil ujian maupun materi perkuliahan, semestinya dosen juga harus memberitahukan bahwa materi atau hasil ujian telah disampaikan melalui system online computer e-learning, jadi bisa lebih cepat.

“E-learning dan e-library, jadi perpustakaan kita telah digital, apa pun yang diinginkan mahasiswa untuk memperoleh informasi buku atau skripsi dapat dengan cepat diperoleh, “jelasnya. Menurut Djohar dengan mengambil contoh di Manila, Philipina, di negara itu, program dan metode pembelajarannya selain tidak fleksibel juga acapkali berubah-ubah, dan ini menyulitkan mahasiswa dan siswa. “Kalau yang lain-lain sich sama.”

Djohar menambahkan, metode e-learning telah menarik mahasiswa dan dosen untuk saling berkomunikasi dengan baik, dan ini juga memberikan kepercayaan diri mahasiswa, bahwa di era teknologi seperti sekarang, mereka harus bisa mengerti, dan tidak minder. “Sebenarnya program ini sudah lama, hanya saja baru diterapkan baru-baru ini saja.”

“Sejak jadi rektor 2002 sudah menjamur program ini, “jelasnya. Sementara,  bicara teknologi dengan luar negeri tidak ada yang berbeda, sama saja. “Hanya substansinya saja yang berbeda, seperti di Australia, misalnya.”Hal yang sama juga terjadi di Malaysia, dimana pendidikan menjadi yang nomor satu, sehingga mereka lebih maju. Kini, bagaimana antara pendidikan dan pembelajaran seimbang, di Australia, mereka belajar sendiri-sendiri, tapi ini bukan sebuah solusi, sebab di negeri kita ini pendidikan merupakan yang pokok, agar siswa didik dapat belajar etika dan pola tingkah laku yang baik.

Kini tuturnya bagaimana membuat program yang baik, dan dapat mengarahkan anak-anak menjadi mahasiswa yang unggulan. “Namun semua itu kembali kepada substansi materi yang diberikan, apakah muatan pendidikannya dapat diakali ke dalam materi tersebut, dan ini tergantung besar kecilnya juga bobot pendidikan yang dimuatkan ke materi pembelajaran, “pungkasnya Menurutnya lagi, kurangnya pemanfaatan ilmu pengetahuan ke dalam bobot materi yang diberikan kepada mahasiswa, membuat  mereka hanya menerima pengetahuan saja.

Ironinya Administrasi Absensi

Profesor Djohar menjelaskan, kendati di kampus sarjanawiyata taman siswa telah diterapkan metode e-learning, namun para dosennya tetap diwajibkan untuk hadir di ruang perkuliahan, mahasiswa tetap diwajikan untuk absensi. “Jika mereka berhalangan datang, ya saya anggap tidak hadir, “begitu tandasnya. Hal inilah yang menurutnya juga menjadi belenggu bagi pemanfaatan model-model teknologi atau kemacetan IT. Perkuliahan di Indonesia, sulit untuk tidak melupakan administrasi absensi. “Ini merupakan hal yang wajib dilakukan dosen untuk mencatat  kehadiran para mahasiswa, itulah yang membedakan perkuliahan di negeri kita dengan di luar negeri. “Meskipun mahasiswa saya sudah mengirimkan email dan menjawab pertanyaan yang saya berikan dari Jakarta, kalau mahasiswa saya tidak hadir maka saya anggap bolos alias tidak hadir.”Inilah yang membelenggu pendidikan kampus di Indonesia, “tuturnya ironi.

Menurut Djohar, hancurnya pendidikan di Indonesia, lantaran tidak fleksibelnya kampus-kampus yang terdapat di Indonesia, mereka acapkali mengancam dosen yang tidak absensi dengan tidak membayar honor mereka. Inikan sangat ironi, dan merugikan semua pihak. “Bagi kampus ini merupakan sebuah ketentuan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, jika dosen masih mau tetap mengajar, mereka harus ikut aturan kampus, dan tidak mengambil sikap sendiri-sendiri, “jelasnya.

“Ini saya pernah alami, dan tetap saja saya dirugikan, tapi sudahlah, “celotehnya. Model online menurut Djohar cukup efektif, tapi faktor kehadiran siswa, menjadi persoalan besar bagi berjalannya system ini. “Kalau memang mau online,  ya  harus online semuanya, tidak separuh-paruh.”

Profesor Djohar mengatakan sangat menentang system yang membelenggu perkembangan teknologi saat ini. Sistem online telah mendidik kecepatan memperoleh atau akses informasi dengan cepat. “Semestinya lagi, kampus memahami hal itu.” Kalau ingin maju buatlah system yang maju, sebaliknya kalau mundur, “ jangan harap katanya.

Djohar yang tidak setuju kampus mempasung IT, menyarankan agar persoalan  teknologi informasi segera dapat dicarikan jalan keluarnya. Mengingat teknologi komunikasi telah mengajarkan kita untuk mempercepat segala persoalan atau langkah hubungan komunikasi keduabelah pihak, yakni komunikator dan komunikan. “Buat apa ada laptop dan netbook, seandainya kampus memasung perkembangan teknologi komunikasi informasi dengan urusan absensi, “tuturnya mengulang kembali cerita sebelumnya.

Dengan pemanfaatan computer sebagai sarana mempercepat hubungan komunikasi secara langsung, telah memberikan warna tersendiri bagi persoalan manusia. Nyatanya menurut Djohar, pihaknya mendapat banyak cara memberikan pemahaman kepada mahasiswa, baik berupa tulisan maupun gambar-gambar yang dapat dicerna mahasiswa.
“Kalau saya mengajar cukup dengan memberikan gambar-gambar digital dengan modul yang telah saya program terlebih dahulu, “jelasnya. Profesor Djohar juga menceritakan dirinya mengajar di berbagai kampus di negeri dan swasta, serta mendapat honor yang tidak begitu besar. “Kalau di UIN saya mendapat honor yang cukup tinggi, dan ini telah sesuai dengan keringat, dan ilmu yang saya peroleh, “tuturnya.

Ia mengatakan selama mengajar kerap menggunakan teknologi informasi, sehingga tidak sulit atau capai mengeluarkan seluruh tenaga. Cukup dengan memberikan perkuliahan dalam bentuk modul-modul dan email, maka seluruh perkuliahan seselesai.”Saya dengan teknologi, maka saya bisa mengefesiensikan tenaga dan pikiran, “jelasnya. Perkembangan teknologi e-learning telah popular di Indonesia, seyogyanya ini diikuti oleh seluruh kampus lainnya, agar mereka juga maju dan tidak ketinggalan zaman.

Kampus-kampus harus bisa menerapkan teknologi e-learning, atau kalau tidak maka ia akan tertinggal atau paling tidak  belajar dengan melaksanakan study banding  ke  kampus-kampus  yang  telah lebih dahulu menerapkan metode ini. “Ini cukup efektif dan baik, agar teknologi ini berkembang.”Saya memasukan bahan  kuliah ke internet dan mentranfernya ke mahasiswa. Ini tidak lain agar mahasiswa bisa belajar di rumahnya, tanpa harus tertinggal catatan atau pekerjaannya. Sebelum mengirimkan seluruh bahan saya konsep terlebih dahulu, agar tertata dengan baik. Ia mengatakan merasa bangga dengan mahasiswanya yang telah memahami teknologi IT ini, dan berhasil mengantarkan mahasiswa bimbingannya meraih gelar ke sarjanaan secara cum laude.

Model e-learning tidak harus dilakukan di gedung, tapi bisa di sawah, di laut dan di ruang tamu atau rumah. Sekali lagi, profesor Doktor  Djohar Ms, menekankan pentingnya pemanfaatan IT e – learning, khususnya membantu teman-teman yang membutuhkan informasi pihaknya. E-learning menurutnya juga sangat efektif untuk semua orang. Dengan lima fakultas yang ada, diharapkan kampusnya dapat menggunakan system ini secara cepat dan tepat guna. “Khususnya dalam pemanfaatan ketidaktahuan mahasiswa, maupun dalam praktik diskusi dan seminar, “jelasnya mengakhiri perbincangan.

Drs. H. Musman Tholib, M.Ag

Ketua Muhammadiyah Jawa Tengah

Menggunakan Manajemen Silaturahmi dalam Kondisi Apapun

Manusia hidup tidak pernah lepas dari permasalahan. Sejak lahir hingga berkalang tanah, masalah selalu hadir dalam kehidupan. Dari masalah kecil dan remeh temeh hingga masalah besar semua terjadi silih berganti. Hanya manusia dengan kemampuan memecahkan masalah yang berhasil dalam hidupnya.

Adapun cara yang paling ampuh untuk memecahkan masalah adalah menjaga silaturahmi. Melalui silaturahmi, persoalan kecil dapat terpecahkan dan masalah besar terurai. Dengan silaturahmi pula, manusia tidak akan silau oleh pangkat, jabatan dan kedudukan seseorang.

Untuk berhasil dalam hidup, seorang anak muda harus memiliki kemauan belajar yang tinggi. Belajar itu bisa dari buku atau pengalaman orang-orang yang sukses dan orang yang gagal. Kedua hendaklah menjalani manajemen silaturahmi, baik ke dalam maupun keluar. Kalau saling tolong menolong dalam kebersamaan, hasilnya pasti akan sukses,” kata Drs. H. Musman Tholib, M.Ag., Ketua Muhammadiyah Jawa Tengah.

Pria kelahiran Purwodadi Grobogan, 13 Agustus 1944 ini mengungkapkan agar generasi muda tidak mudah marah ketika dikritik. Mereka seharusnya menerima kritikan sebagai upaya untuk membangun dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Karena dari kritikan yang diterima, mereka bisa mawas diri tentang kekurangan atau kelebihan mereka.

Ia mengingatkan, bahwa yang terpenting dalam hidup adalah bagaimana dapat beribadah dengan baik untuk mendapat ridhlo Allah. Apapun pekerjaan, jabatan dan kondisinya, asalkan mendapat ridlho Allah pasti akan selamat dunia akhirat. Karena hal itu merupakan manifestasi dari seorang hamba yang sangat tergantung dari kekuasaan Tuhan sebagai penguasa alam semesta.

Karena itu kita tidak akan silau, minder, dan menghormati orang lain. Kalau salah ya menyadari kesalahannya. Prinsip saya, ‘Pangkat iso minggat, bondho iso lunga’ tetapi silaturahmi harus tetap dijaga. Jangan silau dengan jabatan, pangkat tetapi bekerja dengan baik, karena bekerja itu dinilai oleh Allah bukan manusia saja. Jadi persaudaraan itu harus terjaga dengan baik,” tuturnya.

Priyayi, Santri dan Abangan

Drs. H. Musman Tholib, M.Ag adalah putra pasangan H. Moh. Tholib dan Nartiyah. Kakek dari pihak ibu adalah seorang priyayi yang sangat disegani masyarakat di sekitarnya sekaligus menjabat sebagai Lurah/Kepala Desa. Kehidupan kepala desa saat itu jauh dari nilai-nilai ajaran agama, yang memang tidak lazim saat itu. Sedangkan kakek dari pihak ayah adalah seorang kyai sekaligus pengurus masjid di kampungnya.

Saya lahir di Desa Krangganharjo, Kec. Toroh Kabupaten Purwodadi Grobogan Jawa Tengah. Sejak kecil saya dibesarkan dalam lingkungan keluarga priyayi, santri dan abangan sekaligus. Orang tua saya adalah pegawai KUA sekaligus petani. Saya tepengaruh dengan kehidupan santri, apalagi ayah memiliki mushola sendiri dan kakek adalah pengurus masjid. Sedangkan kakek dari ibu saya adalah Kepala Desa yang agak jauh dengan agama,” kisah suami Hj Siti Taqiyah, BA ini.

Karena condong dengan kehidupan santri, selesai Sekolah Rakyat (SR) Musman mengikuti ujian sekolah PGA (Pendidikan Guru Agama) di Salatiga. Dari seluruh provinsi Jawa Tengah, setiap satu kecamatan hanya dua wakil yang diterima hingga terkumpul 200 siswa. Ia juga merupakan satu di antara 40 orang siswa yang menerima ikatan dinas (ID) dari pemerintah.

Di Salatiga, Musman tinggal di rumah dan menerima dua sisi pendidikan sekaligus. Pagi sekolah di PGAP Negeri Salatiga sebagai persiapan untuk menjadi guru agama Islam. Sementara sore ia belajar mengaji untuk mendalami agama Islam mulai mengkaji Al Quran sampai pelajaran Nahwu Sorof atau gramatika bahasa Arab.

Setelah itu saya meneruskan di PGAA Solo. Saat itu Menag memberikan kesempatan kepada siswa PGAA yang nilainya baik untuk meneruskan pendidikan ke IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saya juga termasuk sehingga mempunyai kesempatan kuliah di IAIN Yogyakarta dengan status tugas belajar hingga sarjana muda. Karena tidak ditugaskan mengajar, akhirnya saya melanjutkan sampai S1,” tandasnya.

Musman menyelesaikan pendidikan di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 1972. Berbagai tawaran datang kepadanya, mulai menjadi Kepala Sekolah Laboratorium PGA pada Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga hingga Dekan di Kalimantan. Semua ditolaknya, apalagi ayahnya juga tidak memberikan izin baginya untuk ke Kalimantan. Meskipun demikian, sebenarnya ia memiliki prinsip untuk tidak mempermasalahkan di mana pun akan ditempatkan.

Di manapun bertugas yang penting bisa ibadah, itu prinsip saya. Kebetulan saya bertugas di Kudus untuk mengajar di SMEAN Kudus. Saat itu, saya mengajak anak-anak untuk meramaikan masjid Jember yang tidak terurus. Alhamdulilah, perlahan-lahan jamaah mulai banyak meskipun lingkungan sekitarnya saat itu dikenal sebagai kampung hitam. Banyak molimo yang berlangsung dengan seenaknya,” tuturnya.

Musman terpanggil untuk membina dan memperbaiki akhlak masyarakat sekitar sekolah. Apalagi situasi keamanan sekolah tidak kondusif karena sering terjadi pencurian. Awalnya, ia mengajak siswa untuk mengadakan berbagai kegiatan yang melibatkan tokoh masyarakat sekitar. Saat pembagian zakat fitrah, misalnya, ia mengajak para tokoh untuk membantu menyalurkan. Hasilnya menakjubkan, sejak itu tidak pernah terjadi pencurian lagi.

Ia semakin akrab dengan masyarakat sekitar saat memperoleh kesempatan untuk membeli sebidang tanah di wilayah tersebut. Ia berniat untuk membangun rumah yang sudah dibelinya dengan tujuan mengubah masyarakat menjadi lebih baik. Ia menanami tanahnya dengan singkong dan pisang. Saat panen tiba, ia mengundang tetangga untuk bersama-sama memanen hasil kebunnya.

Dari situ orang mulai simpati dengan saya dan tidak melakukan pencurian lagi. Begitu juga dengan pembangunan rumah saya yang tidak mengalami apapun meskipun orang lain bisa hilang kusennya. Artinya kalau kita menolong orang itu sebenarnya kita menolong diri sendiri ‘Jika kamu berbuat baik, maka untuk kamu sendiri’. Begitu juga sebaliknya, kalau perbuatan kamu jelek ya untuk kamu sendiri,” tegasnya.

Saat itu, Musman merupakan pria bergelar sarjana (S1) yang kedua di seluruh Kudus. Oleh karena itu, ia diminta untuk mengisi pengajian di Pengadilan Negeri, Badan Pertanahan, Kepolisian dan lain-lain. Ia juga diminta untuk mengisi jabatan Dekan IKIP Muhammadiyah Kudus yang tadinya dijabat oleh Kepala Pengadilan Negeri.

Setelah dua tahun menjadi Dekan, IKIP Muhammadiyah Kudus dilebur dan bergabung dengan FKIP Muhammadiyah Solo (sekarang menjadi UMS). Ia diminta dengan sangat untuk menjadi Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah Kudus. Saat itu, sekolah masuk sore dan ia berinisiatif agar sekolah masuk pagi. Caranya, ia menetapkan calon siswa yang ingin belajar di SMA Muhammadiyah harus membayar uang gedung sebesar Rp.15.000,-

Respon masyarakat justru besar sekali. Saya mendapat 10 kelas sehingga harus pinjam ruangan di SD, dan SMP Muhammadiyah. Atas bantuan seorang pengusaha, akhirnya hanya SMA Muhammadiyah Kudus yang bisa memiliki gedung sekolah bertingkat. Selain itu, kami juga memiliki peralatan laboratorium berkat kerjasama dengan teman-teman UGM,” kata pria yang menjabat sebagai Kasie Urusan Agama Islam Kantor Departemen Agama Kabupaten Kudus dari tahun 1976-1987 ini.

Di bawah kepemimpinan Musman, SMA Muhammadiyah Kudus maju pesat. Berbagai prestasi ditorehkan mulai olahraga -volley dan tennis lapangan- sampai prestasi akademis tidak kalah dengan SMA lain. Berbagai jabatan penting di Kudus –mulai Bupati, Kejari Satpol PP, intelijen, anggota DPRD dan lain-lain- dipegang oleh alumni SMA Muhammadiyah Kudus. “Kebanggaan lainnya, alumni SMA Muhammadiyah yang menjadi anggota DPRD itu berasal dari berbagai partai. Dari PAN, PKS, PDIP dan lain-lain,” imbuhnya.

Sukses sebagai Kepala Seksi, Musman kemudian ditugaskan sebagai Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Cilacap. Ia sekaligus juga menjabat sebagai Sekretaris Wanhat Golkar (Dewan Penasehat Golkar) yang Ketuanya dijabat oleh Bupati Kabupaten Cilacap terkait kebijakan mono loyalitas Presiden Soeharto. Saat itu, ia memanfaatkan posisinya tersebut dengan mengadakan pengajian keliling di kediaman pejabat-pejabat kabupaten. “Jadi saya manfaatkan untuk meningkatkan pemahaman keberagamaan para pejabat sekaligus dalam pengamalannya,” ujarnya.

Dari Cilacap, Musman kemudian ditarik sebagai Kepala Bidang Penerangan Agama Islam Kanwil Provinsi Jawa Tengah (1991-1995). Setelah itu dipercaya untuk menjabat sebagai Kepala Bagian Sekretariat Kanwil Depag Provinsi Jawa Tengah (1995-1999) dan jabatan terakhirnya adalah Kepala Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Depag Provinsi Jawa Tengah. Selama duduk di jabatan struktural, Musman tidak melupakan menggeluti pada dunia pendidikan terutma di Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Musman menjabat pengurus Badan Pelaksana Harian Universitas Muhammadiyah Surakarta selama 2 periode pada saat Rektor dipegang oleh Prof. H. Dochak Latif. Pada tahun 2000, setelah memiliki jabatan funsionaris Lektor dari Kopertis, Musman mengajukan mutasi kepegawaian menjadi Dosen Jurusan Tarbiyah STAIN Surakarta. Ia menyandang jabatan fungsionaris Lektor Kepala terhitung mulai tanggal 1 Juli 2000.

Saya mengajar di STAIN dari tahun 2000 sampai 2009 dan mengambil S2 di UMS Surakarta. Kebetulan saat kuliah saya aktif di senat mahasiswa, bendahara, sekretaris dan lain-lain. Saya juga aktif di Muhammadiyah dan banyak belajar dari tokoh-tokoh Muhammadiyah DIY dan PP Muhammadiyah. Saya sering ikut rapat-rapat organisasi Muhammadiyah. Di organisasi ini, yang paling mengesankan adalah soal kedisiplinan waktu. Segala sesuatu on time dan yang kedua adalah keikhlasan, itu yang paling berharga,” tambahnya.

Membangun Masjid Monumental

Ayah dari tiga anak –Naibul Umam Eko Sakti, S.Ag., M.Si., Arin Fitriani, M.Si, dan Siti Hajar Rahmawati, SE, MA, ini mengungkapkan visi dan misinya dalam memajukan organisasi Muhammadiyah di Jawa Tengah. Secara umum visi yang diusung adalah “Mewujudkan masyarakat Islam yang sebenarnya” yakni bagaimana membuat masyarakat damai dan sejahtera.

Sementara misinya memperdalam dan memperkokoh aqidah Tauhid dan menyebarkan agama Islam berdasar Al Qur’an dan An Sunnah dengan menggunakan akal yang sehat. Serta mewujudkan ajaran Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Semua itu dicapai dengan merealisasikan lewat amal sholeh dalam bentuk amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, sosial kemasyarakatan dan usaha-usaha pertolongan umum lainnya,” tegasnya.

Amal Usaha Muhammadiyah di Jawa Tengah antara lain :

  1. Bidang Pendidikan :

PAUD

TK/ABA

SD

MI

SMP

MTs

SMU

SMK

MA

UNIVERSITAS

SEKOLAH TINGGI/AKADEMI

TPQ

150

1883

192

460

280

110

113

140

17

5

14

70

B. Bidang Kesehatan, Sosial dan Ekonomi

Rumah Sakit

RB/BP/Poliklinik/BKIA

PAY

Non Panti

Rumah Jompo

Penitipan

Tim Perawatan Jenasah

Bank Syariah

Cabang Bank Syariah

BMT/BTM

Koperasi

Toko

Wartel

LAZIS Muhammadiyah

31

99

99

19

4

19

12

1

2

79

59

15

4

73

Dalam periode masa jabatannya, Musman memiliki obsesi yang sangat menarik. Ia ingin Muhammadiyah Jawa Tengah memiliki “sesuatu” yang menyerupai isi di Tugu Monas. Bukan kemegahannya, namun lebih kepada fungsi pembelajaran di dalamnya. Yakni sebuah masjid monumental lengkap dengan menara yang menjadi pusat pembelajaran tentang Islam dan ke-Muhammadiyahan.

Dalam periode kepemimpinan saya, harus bisa membangun masjid yang monumental. Tidak hanya sekadar sebagai tempat ibadah, tetapi juga untuk pembelajaran. Di menaranya kita buat diorama, lintas perjalanan tokoh Muhammadiyah dari dahulu sampai sekarang, kemudian CD tuntunan ibadah yang benar juga akan ditampilkan profil masing-masing Daerah Muhammadiyah se Jawa Tengah. Jadi orang yang datang bisa belajar dan sekarang pembangunan terus dalam proses bahkan untuk lantai dasar sudah dapat dimanfaatkan untuk ibadah shalat berjamaah,” ujarnya.

Obsesi lain yang ingin dicapai Musman adalah pengembangan dan pemberdayaan cabang serta ranting Muhammadiyah. Dalam organisasi Muhammadiyah cabang berada di tingkat kecamatan, sementara ranting dan tingkat desa/kelurahan. Menurut hematnya, terjadinya penambahan cabang dan ranting akan membuat Muhammadiyah bertambah amalnya.

Muhammadiyah Wilayah Jawa Tengah sebenarnya memiliki sepuluh program unggulan dalam periode kepengurusannya.

10 Program Unggulan tersebut adalah:

  1. Administrasi penataan perkantoran dari Ranting, Cabang dan Daerah

  2. Zakat, infak dan shadaqoh berjalan dengan benar

  3. Pembangunan masjid monumental

  4. Ketersediaan dana penanggulangan bencana

  5. Menggerakkan potensi-potensi di bidang ekonomi seperti Bank Syariah, BTM Baitul Tamwil Muhammadiyah

  6. Penertiban dan pengamanan asset milik Muhammadiyah

  7. Penyelenggaraan Hari berMuhammadiyah oleh masing-masing Pimpinan Daerah Tingkat Kabupaten/Kotamadya dan puncaknya diselenggarakan tingkat Provinsi

  8. Dan lain-lain

Semua itu bisa terwujud kalau pimpinan Muhammadiyah memiliki ikatan yang kuat. Kalau sudah terjadi ikatan yang kuat, kompak insya Allah Muhammadiyah akan maju. Di Muhammadiyah harus dihindari sikap Jubriyo yakni ujub, kibir dan riya’. Ujub itu bangga diri, riya’ itu pamer dan kibir itu sombong. Meskipun bisa menghasilkan banyak manfaat tetapi dalam agama ketiga hal tersebut harus dihindari. Kemudian jangan dilupakan bahwa perbedaan adalah teman berpikir, persamaan pendapat harus kita wujudkan,” katanya.

Mendirikan MWB Muhammadiyah

Sewaktu sekolah di PGAA Negeri Surakarta, setiap Ahad pagi Musman mempunyai kesempatan mengikuti kuliah pagi yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah Daerah Surakarta. Perkuliahan ini bertempat di gedung Balai Muhammadiyah Keprabon. Sejak itulah, ia mulai mengenal Muhammadiyah secara mendalam.

Dari sana saya mulai mengenal Muhammadiyah. Begitu lulus dari PGAA Negeri Surakarta, sambil menunggu penugasan saya pulang kampung ke desa Krangganharjo. Bersama beberapa pemuda saya mendirikan MWB atau Madrasah Wajib Belajar Muhammadiyah,” kisahnya.

Perkenalanannya dengan Muhammadiyah semakin mendalam setelah mendapat penggilan tugas belajar di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebagai mahasiswa, disamping aktif di organisasi intra anggota Senat Mahasiswa Fak. Tarbiyah, Musman juga memasuki organisasi ekstra yaitu IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah).

Beberapa jabatan penting sempat diemban selama aktif di IMM, antara lain:

  • Di IMM menjabat sebagai Ketua Komisariat IMM Fakultas Tarbiyah tahun 1966.

  • Ketua Korkom IMM IAIN Sunan Kalijaga tahun 1968.

  • Sekretaris Cabang IMM DIY 1970.

  • Sekretaris BPK (Badan Pembina Kader) PP Muhammadiyah (1971-1974).

Di Yogyakarta, saya mendapat pelajaran langsung tentang Islam dan keMuhammadiyahan dari Bapak KH. R Hajid. Beliau merupakan santri dari KHA. Dahlan. Dari para Tokoh Muhammadiyah Kol. H. Junus Anis, KH. Ahmad Badawy, KH. Abdul Mukti, KH. Bakir, K. Hiban Hajid, KH. Ahmad Azhar Basyir, KH. AR. Fakhruddin, Prof. Abdul Kahar Mudzakir, Djindar Tamimy, Mr. Kasman Singodimedjo, Djarnawi Hadikusumo dan ulama-ulama Muhammadiyah lainnya,” terangnya.

Saat bertugas di Kudus tahun 1973, beberapa jabatan penting Drs. H Musman Tholib, M.Ag, di Muhammadiyah antara lain:

  • Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Kudus 2 periode (periode Muktamar 40-41).

Kemudian setelah bertugas di Semarang (ibukota Provinsi Jawa Tengah) Musman diberi amanah sebagai :

  • Sekretaris Majelis Tarjih Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah periode Muktamar 41.

  • Ketua Majelis Tarjih Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah periode Muktamar 42.

  • Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah periode Muktamar 43, 44 dan 45.

  • Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah periode Muktamar 46 (2010-2015).

Susanto Ali

Direktur Utama PT Ciptalestari Ideanusa/ Exatex

Irasional bila kita harus Mengemis, Lakukanlah dengan lebih baik lagi. Analisa Kelebihan dan Kelemahan kita

Pasca krisis moneter melanda perekonomian dunia dan sangat dirasakan di Indonesia, dunia bisnis nyaris runtuh. Banyak perusahaan-perusahaan besar yang terpaksa melakukan PHK besar-besaran untuk mencegah kebangkrutan. Dampak krisis masih dirasakan selama beberapa tahun kemudian karena pemulihan pasca krisis sangat lamban.

Akibatnya, likuiditas pasar sangat rendah sehingga banyak transaksi yang tertunda. Pemilik produk terpaksa harus “menjajakan” dagangan dari pintu ke pintu dengan system pembayaran terhutang. Celakanya, di saat hutang jatuh tempo pembeli akan berusaha mengulur-ulur waktu pembayaran dengan mencari gara gara.

“Tahun 1999, saya menjajakan dagangan dari pintu ke pintu di pasar Tanah Abang dari blok A sampai blok F. Saya sampai mengemis order pada pelanggan, begitu juga dengan tagihannya harus mengemis baru dibayar. Irasional dengan itu, saya membuat perbandingan kenapa di pabrik kain lain tidak begitu. Kemudian saya studi analisis kelebihan dan kelemahan produk saya. Ternyata di pabrik saya lebih banyak kelemahannya daripada keunggulannya, sehingga saya mencari guru-guru untuk menganalisa ini,” Susanto Ali, Direktur Utama PT Ciptalestari Ideanusa/ Exatex

Menurut Santo, urusan mengelola pabrik tekstil yang memproduksi kain seragam dan batik merupakan amanah orang tua, Muhasan Ali dan Tan Giok Khim. Keluarganya sudah mengelola industri ini sejak dirinya masih berada dalam kandungan. Saat itu, ibunya sangat terkenal sebagai pekerja keras dan pakar celup kain di daerah Karet Kuningan. Sayangnya, keahlian tersebut tidak didukung oleh mesin yang mumpuni karena keterbatasan modal dan tempat, meskipun sangat memahami know how dalam menciptakan produk bermutu.

Santo sangat menyadari bahwa dalam dunia industri harus memperhatikan supporters yaitu 5 M (material, mesin, manusia, market dan modal). Terhadap kelima hal tersebut, seorang pengusaha harus menerapkan disiplin tinggi dan akurat dalam bertindak. Bagian per bagian harus saling mendukung dengan harmonis satu sama lain.

“Saya belajar dari guru-guru saya tentang segala hal. Sejak itu pengetahuan saya mulai terbuka. Mereka juga memberikan nasihat dalam pemilihan mesin misalnya yang menganjurkan untuk menggunakan mesin Jerman dibandingkan mesin lainnya. Akhirnya saya pilih dan beli mesin tekstil dari Jerman dengan keunggulan setelah dicuci kain tidak susut dan tidak kusut, warna tidak mudah pudar, Bahkan kain produksi kita tidak menyebabkan iritasi pada kulit yang sensitive sekalipun pada kulit bayi,” kata pria dengan prinsip kerja jujur, adil, bijaksana, setia, tabah dan sederhana ini.

Karyawan adalah Perhiasan

Susanto Ali saat ini mempekerjakan 120 orang SDM di pabriknya. Bungsu dari tujuh bersaudara ini terus meningkatkan keterampilan karyawan. Menurut pria kelahiran Jakarta, 13 April 1974 ini, sebagai pucuk pimpinan perusahaan ia tidak pernah menerapkan PHK kecuali terjadi kasus kriminal.

“Karyawan saya anggap sebagai perhiasan kita. Karena jelas saya tidak bisa hidup tanpa mereka. Skill mereka pun terus dipoles dari yang masih mentah sampai mereka ‘matang’. setelah matang kita tawarkan untuk usaha mandiri. Saya menerapkan prinsip bahwa ketika di pabrik ini kita duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi,” kata suami Diyan Wahyuni ini.

Dalam memajukan pabrik, ayah dua orang putri ini, memperbarui mesin-mesin yang dimiliki dengan mesin yang mendukung penghematan air, listrik, SDM dan chemical. Dengan mengadopsi mesin-mesin yang sangat efisien tersebut ia berhasil mengurangi biaya tinggi sekaligus meningkatkan produktivitas. Semua itu untuk mendukung target produksi, yang terus meningkat setiap tahun.

“Saya berkesimpulan bahwa industri hanya bisa hidup dari repeatabilitas order, bila tidak ada repeatabilitas order industrinya akan pendek umur. Untuk mendapatkan repeatabilitas tersebut, kita harus menjamin kepuasan pembeli. Supporters yang berbisnis dengan kita tidak perlu memakai helm alias tidak akan diketok harganya atau dianiaya. customers juga boleh compare membandingkan dengan produk serupa di pabrik lain, inspeksi proses pemesanan mereka dan lain-lain, sesuai UU Anti Monopoli,” tegasnya.

Dalam menyikapi ketatnya persaingan, Susanto Ali selalu berusaha mengambil hikmah dari setiap kejadian. Termasuk setiap kesulitan yang dihadapinya dengan belajar berpikir positif. Ketika krisis katun akibat ulah spekulan, ia dengan cepat belajar untuk beralih memproduksi kain seragam berbahan T/R . Yang jelas, untuk mempertahankan kualitas agar lebih baik lagi ia mengandalkan mesin-mesin Eropa dengan label GmbH atau AG. Sampai-sampai kalau bukan GmbH/ AG saya tidak confident. Jadi mesin-mesin pabrik ini mayoritas dari Jerman semua. Saking fanatiknya sampai saya bersumpah tidak akan naik mobil Eropa sebelum mayoritas mesin-mesin saya buatan Eropa,” tuturnya.

Santo sadar, bahwa sebuah pabrik tidak bisa dilepaskan mata rantainya dalam produksi. Mulai dari bahan baku yang harus dipilih dan dibeli sampai finishing processing yang cukup complicated semua terhubung dan saling tergantung satu sama lain. Pabrik tekstil juga tergantung pada kredit perbankan untuk membiayai pembelian teknologi maupun biaya produksi.

“Selama ini, perkembangan perusahaan cukup baik. Alhamdulilah tetap jalan, mesin semuanya jalan, karyawan bekerja dengan baik, biaya ter-cover dari penjualan dan lain-lainnya. Dalam tekstil itu ada moto bahwa selama masih ada peradaban tentu masih ada yang menggunakan kain. Bagaimana pun sepinya pasar tentu ada kain yang sedang laris di pasar . Dengannnya kita lengkapi fasilitas permesinan produksi kita. We don’t need too smart, what we need is reality.

Gempuran Produk China

Saat diminta menangani pabrik oleh ayahnya, Santo memiliki visi untuk menyehatkan perusahaan di bidang keuangan, lingkungan dan lainnya. Menjaga dan meningkatkan qualitas produk. Menjaga dan meningkatkan volume output produksi, yang otomatis kita mendapatkan efisiensi dan penghematan biaya produksi. Melakukan dengan lebih baik lagi untuk segala hal yang positif.

Perlahan namun pasti, pabrik berkembang menjadi sehat dalam keuangan dan produknya mulai dilirik pasar. Yang namanya kepercayaan itu tidak boleh minta dipercaya, kepercayaan itu menunjukkan sikap dan penilaian supporters kepada perusahaan kita,” ujarnya.

Menurut Santo, dibukanya pasar bebas yang memungkinkan segala macam produk dunia masuk ke Indonesia justru membawa keuntungan tersendiri. Ia mencontohkan bagaimana produk-produk tekstil asal China yang membanjiri pasaran justru membuat pengusaha Indonesia introspeksi diri. Bagaimana pasar global telah mengancam industri dalam negeri sehingga lebih sadar akan masa depan mereka sendiri.

“Kalau tidak digempur produk China kita tidak sadar, lengah. Malah saya berharap suatu saat kita bisa ekspor ke China. Karena saat ini semua negara mengemis ke China bahkan negara maju seperti Italia sekalipun. Sebenarnya kalau mau Indonesia bisa menjadi negara yang maju asalkan semua orang bekerja, mendapat gaji, punya tabungan sehingga produk apapun akan memiliki pangsa pasarnya. Semua laku karena Indonesian people is the most consumptive people in the world,” tegasnya.

Berbicara mengenai cita-citanya, Susanto Ali mengungkapkan secara sederhana. Ia menginginkan bagaimana kedua putrinya mendapatkan perlakuan yang sama seperti orang tuanya memperlakukan dirinya. Misalnya, ia akan memberikan sebuah restoran untuk anak pertama sebagai ladang usaha. Sementara anak kedua akan mendapatkan sebuah perkebunan sebagai tumpuan masa depan.

“Saya tidak banyak menuntut ini itu, karena saya ini generasi kedua di perusahaan ini. Saya juga tidak mengharuskan anak-anak saya untuk mengelolanya kecuali putri putri saya sendiri yang terpanggil untuk mengelolanya . Makanya saya harus objektif memilih di antara anak-anak saudara saya atau keponakan-keponakan yang benar-benar mumpuni mengendalikan perusahaan ini. Kami kan bertujuh, sehingga dari belasan cucu orang tua saya harus dilihat siapa yang mampu, berkualitas dan mumpuni. Artinya harus mau berkotor-kotor dan berpanas-panas di pabrik ini,” tegas Santo.

Santo hanya menegaskan bahwa keputusan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas produk perusahaan telah final. Bahwa tekstil produksi PT Ciptalestari Ideanusa/exatex adalah tidak susut, tidak kusut, tidak menimbulkan iritasi kulit dan tidak berubah warna. Keputusan tersebut merupakan hasil riset dengan menempatkan diri sebagai konsumen sehingga memahami dengan baik kebutuhan mereka.

“Jadi tidak asal produksi dan jual saja, namun tempatkan diri kita sebagai pembeli dengan empati. Bila kita produksi asal asalan sebenarnya yang rugi bukan hanya pembeli. Namun produsen yang rugi duluan karena pembeli tidak balik lagi. Simple saja, saya tanamkan kain yang kita kirim ke pasar tidak boleh balik namun ordernya harus balik. Bahwa semakin simple akan semakin sedikit kita membuat produk gagal,” ujarnya.

Selain itu, dengan tetap mengandalkan Pasar Tanah Abang untuk melempar produknya, justru permintaan meningkat setiap tahun. Apalagi sejak ia lebih memfokuskan diri pada pembuatan kain seragam dan produk batik. Tanah Abang itu highly competitive and the market place to be. “Di sana multi etnis, dari China, Arab, Padang dan lain-lain. Semuanya memiliki jaringan di seluruh daerah di Indonesia. Jadi kita masuk Tanah Abang berarti produk kita disebarkan di pasar-pasar di seluruh Indonesia dan manca negara. Saya pelajari, industri tekstil yang masuk ke Tanah Abang hartanya tidak berkurang. Itu saja pedomannya,” akunya.

Kepada generasi muda, Susanto Ali berpesan agar bekerja lebih baik lagi, memiliki sifat prihatin dan peduli terhadap sesama. Rela berkorban untuk kepentingan yang lebih luas. Apabila sikap sikap itu dimiliki generasi muda tentu kesejahteraan bangsa tinggal menunggu waktu. Dengan nilai-nilai yang dimiliki membuat bangsa Indonesia akan tumbuh menjadi sebuah negara dengan masyarakat yang semakin baik. Dari kebaikan-kebaikan itulah yang membuat penyelenggaraan negara menjadi maksimal dan efisien. “Tidak ada yang instant dalam dunia ini, karena kalau instant dapatnya tentu instant pula lenyapnya. Jelas, semakin lama kita mendapatkan tentu semakin lama pula kita lenyapnya. Kita harus kembali ke siklus alam,” kata Susanto Ali.

 

SM Panjaitan

Direktur Utama PT Surya Global Security Service

Sukses Menyeluruh Sulit Dicapai

Setiap menjalankan sebuah usaha, diperlukan planning (perencanaan), money (uang), man (manusia), peralatan ditambah dengan strategi yang jitu. Semua itu, digabungkan dalam sebuah pentahapan pencapaian yang terencana sejak memulai (start), lokasi usaha, sampai tujuan terukur yang ingin dicapai. Misalnya, usaha jangka panjang yang terukur antara 5-25 tahun, jangka sedang dalam hitungan 12 bulan sementara jangka pendek maksimal 30 hari.

Meskipun demikian, semua itu tergantung pada sasaran atau target yang ingin dicapai oleh pemilik usaha. Yang jelas, kesuksesan bisa diukur dengan berbagai patokan, mulai sukses dalam bentuk uang, kepemimpinan, kesejahteraan dan lain-lain.

“Untuk sukses secara menyeluruh sangat sulit dijangkau. Karena usaha itu bisnis dengan motto ‘Modal sedikit dengan hasil yang banyak’. Harus tetap sejahtera tetapi tidak melanggar aturan dan berjalan sesuai Undang-Undang dan peraturan. Pengusaha harus berpedoman pada ilmu ekonomi, kepemimpinan dan managerial yang menyesuaikan perkembangan zaman, serta menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi dan canggih. Dia juga harus terus berinovasi untuk mencapai hasil yang lebih baik ke depan sesuai Asta Gatra, ideology, politik, ekonomi, sosial, budaya, agama dan keamanan,” kata SM Panjaitan, Direktur Utama PT Surya Global Security Service.

Pengusaha sukses, lanjutnya, tidak akan tergantung kepada nasib. Ia sangat tergantung pada kegigihan, keuletan, ketekunan, kedisplinan, ketelitian dan kecermatan di segala hal. Pengusaha yang sukses memiliki selektivitas dan prioritas dalam mengambil keputusan, memahami kebutuhan pasar serta perkiraan tentang masa depan. Tentu saja, semua itu melalui perhitungan yang sangat matang, berdasarkan angka-angka sehingga bisa menentukan sasaran-sasaran tambahan. Yakni melalui usaha mendapat inovasi baru dan bukan sekadar “coba-coba”. Kalau pun dilakukan hanya “coba-coba” tetapi melalui perhitungan menurut teori penelitian.

Menurut Panjaitan, seorang pengusaha adalah sekaligus pemimpin, yang mengerahkan orang lain untuk mewujudkan gagasan dan idenya. Pengusaha yang pemimpin, menduduki salah satu golongan dalam kategori umum manusia yang terdiri atas empat kategori. Kategori pertama adalah orang yang tidak tahu kalau dirinya tahu. Kedua orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu sehingga selalu menjadi penghalang. Ketiga orang yang tahu kalau dirinya tahu dan keempat orang yang tahu dirinya tidak tahu.

“Apabila dua kategori terakhir berada dalam diri satu orang, maka dialah yang akan menjadi pemimpin. Karena dia mampu memberdayakan sumber daya yang ada –manusia, uang dan alat- mampu menggerakkan, memotivasi, menuntun dan membimbing. Dia juga mampu memberdayakan uang, mampu menempatkan orang dengan tepat sesuai kapasitas masing-masing. Bahkan, seorang pemimpin bisa membuat orang yang dinilai bodoh menjadi sangat ahli di bidangnya,” tegasnya.

Seorang pemimpin, jelas Panjaitan, memiliki keyakinan bahwa Tuhan tidak menciptakan manusia bodoh. Masing-masing manusia dalam keyakinan pemimpin telah mendapat porsi tugas, fungsi dan peranan yang tidak persis sama. Untuk itulah, seorang pemimpin menciptakan sistem yang berupa suatu kesatuan yang utuh, terdiri dari banyak unsur yang saling mempengaruhi dan saling membutuhkan. Masing-masing orang memiliki talenta yang membutuhkan kompetensi hasil belajar latihan dalam berbagai tingkatan. Semua itu dapat ditentukan oleh seorang pemimpin melalui kriteria-kriteria tertentu yang jelas dan terukur.

Seorang pemimpin perusahaan, menurut Panjaitan, harus bijak dalam menerima kritikan positif. Dia tidak boleh terlalu fanatif terhadap sebuah pendapat dan mengabaikan saran-saran yang berasal dari anak buahnya. Seorang pemimpin harus mempertimbangkan sebelum memutuskan, tidak egois, fleksibel, luwes dan energik. Selain itu, pemimpin harus gampang menyesuaikan diri, lembut tetapi prinsip dan keyakinan harus tercapai.

“Seorang pemimpin itu harus seperti air, yang selalu mengalir, merembes atau menguap tetapi selalu mencapai laut. Itulah tujuan sebenarnya dari air yang tidak dapat dibendung oleh apapun sebelum mencapai laut sebagai tujuan akhir. Tidak ada yang dapat menghentikan gerakan tersebut bahkan kalau perlu tsunami menggerakkan air. Seperti itulah pengusaha sukses menurut pandangan saya,” ungkapnya.

Seorang pengusaha sukses, imbuhnya, adalah orang yang sukses dalam penggunaan uang (money) dan menikmati hasilnya. Dia juga sukses menggerakkan orang (man) dengan kesejahteraan rohani dan batin. Pengusaha yang sukses juga berhasil dalam memaksimalkan penggunaan alat, profesional dan proporsional, tepat guna dan berhasil guna. Artinya pengusaha sukses harus berguna bagi orang banyak dan bukan keuntungan pribadi atau kelompok saja.

Memerlukan Inovasi

Dalam memimpin perusahaan, menurut Panjaitan akan sangat berbeda dengan pimpinan dalam kemiliteran. Kalau dalam kemiliteran garis komando sangat jelas penanggung jawab antara yang dipimpin dengan pimpinan, pengusaha tidak bisa melakukannya. Pimpinan di militer lebih gampang mengendalikan anak buahnya terkait adanya garis komando tersebut. Sementara pimpinan perusahaan tidak memiliki hubungan yang tegas dengan para karyawan yang dipekerjakannya.

“Kedudukan antara pemilik perusahaan dan karyawan relative sejajar. Karyawan hanya takut dipecat atau dikeluarkan dari pekerjaan oleh kekuasaan sehingga tanggung jawabnya kurang. Kebanyakan karyawan ingin bekerja sesedikit mungkin dengan hasil semaksimal mungkin dengan berbagai dalih atau alasan. Karyawan tidak sadar bahwa mereka ikut pemilik perusahaan dengan saham tenaga. Oleh karena itu, bagi pimpinan perusahaan harus mencari cara dan strategi atau formula yang paling baik dan terus melakukan inovasi yang berkesinambungan,” tandasnya.

Sebenarnya, kemajuan atau kemunduran sebuah usaha merupakan sebuah kejadian biasa dan normal. Seperti grafik dalam kehidupan di dunia ini, kenaikan atau penurunan adalah sesuatu yang wajar. Yang penting, tujuan akhirnya adalah tercapainya sasaran yang telah direncanakan. Kemajuan atau kemunduran sebuah perusahaan, yang mengetahui dengan pasti adalah pimpinan atau pemilik perusahaan. Pencapaian kemajuan perusahaan sampai 65 persen akan dinilai berhasil pada tahapan jangka pendek, sedang dan panjang. Meskipun demikian, angka 100 persen pencapaian dalam bisnis bukan tidak mungkin terjadi.

Seorang pengusaha, jelasnya, dapat melatih indera penciuman terhadap peluang bisnis di sekitarnya. Salah satu latihan yang paling berguna adalah dengan melatih panca indera untuk penguasaan terhadap informasi. Karena ketika informasi sudah dikuasai, bisa diibaratkan seorang pengusaha telah menguasai dunia. Semua itu bisa diperoleh melalui olah pikir dari membaca, baik ilmu pengetahuan maupun media massa. Kemudian banyak melihat, mendengar, merasa dan mencium sehingga banyak pengalaman, baik media massa, elektronik dan lain-lain.

“Kemudian kita harus menguasai banyak bahasa. Kemudian olah fisik atau olahraga juga menggunakan otak. Kalau sudah pintar, bijak melalui olah fakir tentu membutuhkan fisik yang sehat. Orang pintar juga harus dengan fisik yang sehat dan kuat. Bila ini dimiliki seseorang, kami yakin indera penciuman di bidang usaha atau bisnis pasti tajam. Bahkan mereka akan mampu secara otomatis mencium peluang usaha yang baik untuk bisnis di masa depan,” tegasnya.

Menarik Becak

SM Panjaitan adalah seorang purnawirawan polisi berpangkat Komisaris Polisi. Ia telah menjalani tugas panjang di kepolisian selama 37 tahun 10 bulan dari pangkat terendah, Bharada pada tahun 1969 (14 Februari 1970, resmi menjadi polisi). Selama bertugas di kepolisian, ia menjalani pendidikan kedinasan sampai 14 kali untuk meningkatkan kompetensinya sebagai petugas yang mengabdi kepada masyarakat. Setelah pensiun pada tahun 2006 (30 Desember 2006), ia mengisi masa pensiun dan membuka usaha pada bulan Oktober 2008.

Saat menjalankan tugas sebagai polisi, Panjaitan menyadari bahwa pekerjaan adalah amanah dari Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, ia harus mengutamakan tugas di atas segalanya. Adapun tugas mengurus anak dan keluarga diserahkan sepenuhnya kepada istri tercinta. Di luar tugas, barulah tenaga, pikiran dan seluruh potensi yang ada dikerahkan untuk mencari penghasilan yang halal.

“Saya pernah menarik beca dari tahun 1976-1977, mencatak dan memasok sol sepatu, mandor angkot, beternak, membuat ember dari tong aspal dan lain-lain. Semua itu saya kerjakan di luar tugas kepolisian untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karena saat itu, adik-adik datang dari kampung dan kebetulan saya tinggal di luar asrama. Nah, saat saya berpangkat sersan dan menjadi komandan regu maka saya harus masuk asrama. Terpaksa, kegiatan di luar saya hentikan demi kelancaran tugas dan karier. Meskipun secara penghasilan banyak berkurang, tetapi itu peraturan yang harus ditaati,” kisahnya.

Panjaitan tentu saja harus mematuhi aturan yang berlaku di asrama sehingga tidak bisa menjalankan bisnisnya di luar jam kerja. Ia terikat peraturan asrama yang bahkan untuk keluar asrama pun harus mendapat izin dari Ka. Asrama kecuali untuk kepentingan tugas. Di sini ia banyak belajar bagaimana tugas dan kriteria pimpinan militer atau kepolisian yang penuh disiplin. Pimpinan militer (perwira) bagaikan martil, yang menokok paku adalah bintara –penghubung antara atas dan bawah- sedangkan yang dipalu adalah bawahan (tamtama( yang banyak menjadi satu agar kuat dan tahan. “Pemimpin militer memimpin prajurit yang telah dilatih tegas dan keras dalam disiplin dan tanggung jawab. Jadi baik yang memimpin maupun yang dipimpin sama-sama keras,” ujarnya.

Pengalaman disiplin di kepolisian, sedikit banyak dipraktekkan Panjaitan dalam mengendalikan perusahaan. Ia berharap perusahaan yang dipimpinnya menjadi sarana mendapatkan manusia yang sejahtera, bertanggung jawab dan berguna bagi kesejahteraan keluarganya. Baginya, bekerja merupakan pengalaman berharga dan menjadi ilmu yang dapat digunakan untuk dijadikan ilmu pengetahuan bagi para staf dan karyawan perusahaan. Setidaknya, para karyawan mampu mengembangkan perusahaan sesuai perkembangan zaman karena mereka lah penggerak dan motor perusahaan.

Panjaitan sadar, sedikit banyak usaha yang digelutinya sekarang adalah merupakan bagian dari program pemerintah. Untuk itu, ia berharap agar pemerintah turut campur tangan mengenai masa depan perusahaan. Yakni dalam hal perencanaan, man, money, peralatan dan produk hukum serta peraturan dengan batasan-batasan tertentu. Kemajuan perusahaan akan memberikan andil dalam mensejahterakan rakyat sedangkan kemundurannya berakibat sebaliknya.

“Sebagai pemimpin, saya harus menggugah dan memotivasi karyawan atau generasi muda. Saya juga berkewajiban mendorong dari belakang dengan menjadi contoh di depan, bersikap adil dan bijaksana, berusaha memberi pandangan visi ke depan agar jangan jalan di tempat. Namun, sekarang semua itu menjadi sangat terbatas, hanya di lingkungan kerja saja. Akibat kesibukan pekerjaan yang sangat padat, membuat saya harus membatasi aktivitas di tempat lain,” kata SM Panjaitan.

 

E. Kurniawan, S.Si MT

PT Indonesian Environment Consultant

Masalah Lingkungan dan Manusia Menjadi Passion Dalam Bisnis

Lingkungan hidup sebagai karunia dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan ruang bagi kehidupan dalam segala aspek dan matranya.
Manusia dengan kemampuan berpikir dan kepekaan emosinnya merupakan mahluk yang mumpuni di bumi ini. Telah menjadi sifat manusia untuk selalu meningkatkan taraf hidup, sehingga ia melakukan berbagai inovasi yang dapat mempermudah dan meningkatkan kehidupannya. Hal ini dimungkinkan oleh karena tangannya yang dapat membuat alat (prehensile hands) dan matanya yang stereoskopik, sehingga ia dapat melakukan konseptualisasi dan mengimplementasikan konsepnya.
Dalam rangka meningkatkan taraf hidup dan kehidupan dalam perateknya haruslah dapat memperhatikan aspek lingkungan dalam proses produksinya secara sungguh-sungguh dengan tujuan akhir adalah tersediannya sumber daya alam yang lestari.
PT. Indonesia Environment Consultant hadir dalam rangka mewujudkan terciptanya penyelarasan antara imperatif peningkatan taraf hidup dan kehidupan dan kewajiban moral untuk mewujudkan lingkungan yang lestari dengan mengusung satu visi besar kedepan yaitu Menjadi perusahaan Green Business terbaik di Indonesia dan sebagai mitra bagi institusi lain dalam upaya menciptakan Planet bumi yang lestari.

“Menurut saya, setiap manusia lahir dimuka bumi ini pasti punya alasan tertentu, oleh karena itu saya sangat menyadari bahwa Tunah SWT menciptakan saya dimuka bumi ini untuk 2 (dua) alasan yaitu manusia dan lingkungan. Oleh karena itu tidak berlebihan jika saya memilih manusia dan lingkungan menjadi passionnya hidup saya. Saya berharap dengan segala apa yang telah saya miliki dapat memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia dan pelestarian fungsi lingkungan. Untuk saat ini kegiatan dan aktivitas yang saya kerjakan selalu terkait di kedua koridor tersebut yaitu lingkungan dan manusia termasuk didalamnya menjalankan aktivitas bisnis yang saya lakukan. Mungkin nanti, sesudah semua berjalan sesuai harapkan akan mengembangkan ke ranah yang lain terutama untuk kegiatan bisnis dibidang lainnya,” ujar E. Kurniawan, President Director/CEO PT Indonesian Environment Consultant.

Enang –panggilan akrabnya- adalah lulusan S1 Jurusan Biologi Lingkungan di Universitas Sriwijaya tahun 2001. Setelah lulus, selama dua bulan bekerja di sebuah bank internasional, Citibank NA. Ketika perusahaan otomotif terkemuka, PT. Astra Internasional Tbk membuka lowongan pekerjaan ia melamar dan diterima di PT. Astra International-Toyota Cabang Sudirman dan cabang Ambasador Jakarta. Di tempat inilah, ia belajar mengenai ilmu bisnis, filosofi perusahaan dan lain-lain, yang akhirnya diimplementasikan di perusahaan sekarang.

Meskipun demikian, sembari bekerja Enang tetap menyimpan cita-cita besarnya, ia mengumpulkan modal untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Setelah lulus tes di Program Megister Teknik Lingkungan ITB Bandung, ia memutuskan keluar dari PT. Astra International Tbk. Semua orang terhenyak mendengar keputusan yang sangat radikal tersebut. Dari orang tua, saudara, tetangga dan sahabat-sahabatnya keheranan. Bagaimana mungkin, pada usianya yang baru 25 tahun dan memiliki penghasilan cukup baik ditinggalkan begitu saja untuk mengejar sesuatu yang tidak pasti.

“Cukup besar tentangan saat itu. Tetapi saya katakan, mungkin inilah jalan hidup yang digariskan Tuhan. Saya berjanji kepada orang tua dan saudara-saudara untuk tidak akan mengganggu hidup mereka dan tetap akan menjalankan peran saya sesuai harapan dan ekspetasi mereka. Makanya, demi cita-cita akhirnya saya keluar dari Astra.

Ketika setelah keluar dari Astra dan hampir satu bulan saya tidak bekerja di Astra rupanya Tuhan justru memberikan jalan terbaik karena atasan menyuruh saya bekerja part time di Auto 2000 Pasteur Bandung. Masih ingat pada waktu itu ketika wawancara dengan kepala cabang di Auto 2000 Pasteur justru atasnnya tersebut sangat mendukung sekolah saya. Ia bahkan mau menerima saya dengan syarat agar saya fokus kepada kuliah menjadi hal utama, bukan pekerjaan. Wah, ini memang rezeki untuk ku, bukan syarat itu,” katanya.

Enang menyelesaikan kuliahnya selama hampir dua tahun yaitu pada 2004-2006. Selama masa perkuliahan perjuangan berat harus dijalani karena menjalankan dua aktivitas sekaligus yaitu kuliah sambil bekerja. Sempet ia berpikir kuliah di program masternya saat ini tentunya tidak akan terlalu berat seperti program sarjana, namun rupannya beliau keliru aktifitas diperkuliahan justru menyita pikiran dan tenaga cukup besar sehingga diperlukan effort yang cukup besar untuk mengatur semuanya agar aktifitas perkuliahan dan bekerjanya tetap berjalan dengan baik. Aktifitas sehari-hari terkadang kuliah dimulai jam 7 pagi sampai dengan jam 1 siang lalu dilanjutkan dengan pergi kekantor untuk jalankan aktifitas pekerjaannya pulang pada malam harinya, dan dilanjutkan dengan mengerjakan tugas-tugas perkuliahan yang terkadang harus begadang semalaman untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut, kadang saat itu ia berfikir ini terlalu berat, tapi ia disadarkan bahwa semua akan indah pada waktunya, kilahnya.

Di ujung Akhir perkuliahnnya, saatnya ia disadarkan kembali untuk memilih jalan hidup yang menjadi cita-cita dan mimpinya dengan menggunakan kontrak hidup “berani” ia benar-benar menggunakannya untuk keluar dari perusahaan otomotif tersebut yang hampir 5 tahun membesarkannya. Sayangnya, ia harus menanggung “masalah besar” karena ketika setelah beberapa saat mengajukan diri untuk keluar suatu masalah membelitnya. Permasalahannya dengan customernya, membuat ia harus kehilangan seluruh tabungan yang dikumpulkannya selama bekerja, bukan hanya itu bahkan dia merasa disinilah titik terendah yang pernah dialaminya.

“Itu sebagai kompensasi dan mungkin itu juga resiko yang harus saya bayar untuk mendapatkan mimpi saya kelak. Tinggallah saya yang sudah keluar dari perusahaan, tak punya pekerjaan dan hanya menyisakan uang Rp49 ribu di rekening. Disinilah saya mendapat pelajaran yang sangat berharga. Bahwa ketika kita berani bermimpi, kita tidak hanya siap menghadapi risiko. Tetapi kita bahkan harus berani membayar risiko dari apa yang dicita-citakan apapun itu, karena saya percaya untuk mendapatkan sesuatu yang luar biasa tidak bisa ditempuh dengan cara yang biasa yang kebanyakan orang dilakukan,” ungkapnya.

Dari situ, Enang kemudian membangun perusahaan setahap demi setahap. Modal awalnya adalah semangat karena selepas dari Astra dan harus menghabiskan seluruh tabungan di akhir kariernya, ia tidak memiliki dana sama sekali. Hanya keinginan dan cita-cita yang membuatnya membangun perusahaan yakni melalui passion di bidang lingkungan dan sesekali menjalankan aktifitas lainnya seperti menjadi fasilitator dan co trainer di lembaga training untuk memuaskan hasratnya di passion lainnya terkait manusia.

“Saya merasa dikirimkan Tuhan untuk dua tujuan, lingkungan dan manusia. Tidak untuk orang lain makanya saya ambil risiko dan membangun ini. Dari berkantor ikut orang sekarang sudah memiliki kantor yang layak. Saat ini kami berkantor di Menara Hijau Building MT Haryono Jakarta. Tahun pertama dan kedua perusahaan berjalan, saya tidak pernah berbicara tentang manajemen, tetapi lebih banyak kepada value dan budaya corporate. Karena saya menganggap pondasi perusahaan terletak pada velue dan budaya corporate, katanya.

Keberanian dan Komitmen

Indonesian Environment Consultant memulai dengan membangun bisnis lingkungan berawal sebagai konsultan. Belakangan, IEC juga memasuki bisnis dalam kategori services di bidang lingkungan. Tahun 2012, ia ingin membuat award untuk teknologi lingkungan yang hasilnya akan diimplementasikan dalam industrial scale.

“Mungkin akan kita bangun bersama sponsor. Tujuan kita adalah membangun industri yang berbasis green business, kelak kita berharap akan menjadi pusat inkubasi bisnis untuk Greeen Technology. IEC nanti akan terjun ke pengolahan limbah, manufaktur dan energi,” kata finalis Teknopreuneur Award dan New Ventures Indonesia ini.

Menilik kembali perjalanan IEC, Enang menjelaskan bahwa perusahaan yang didirikannya menjadikan tekad sebagai modal utamanya dan dalam menjalankan usahannya adalah spirit sebagai motor dalam menggerakan roda perusahaan sesuai yang dikehendaki. Dengan spirit itu akan mudah meningkatkan kepercayaan dari para kolega yang disertai dengan filosofi penjualan spirit power selling yakni menjual by spirit. Jadi rahasianya adalah menyampaikan spirit yang dimiliki kepada calon pelanggan,” tuturnya.

Setiap perusahaan memiliki cara yang tersendiri untuk tumbuh dan berkembang, begitu juga dengan IEC ketika tahun-tahun awal focus terhadap value dan budaya corporate baru satu tahun belakangan fokus terhadap manajeman dan profit. Meskipun demikian, sebagai pemilik Enang sangat bersyukur karena semua itu sesuai harapannya dan semua perjalanan itu terasa indah lebih dari yang dibayangkan sebelumnya. Bagi pengagum Bung Karno ini, membangun pondasi bisnis yang kuat lebih berguna daripada harus untung dahulu. Dengan memiliki bisnis yang kuat dan akhirnya menguntungkan, berarti ia telah menjawab dan menepis keraguan orang tua dan saudara-saudaranya saat keluar dari Astra.

“Butuh pemahaman yang kuat terhadap proses berjalan dan siap menerima dinamika yang akan terjadi dalam membangun usaha ini. Hobinya naik gunung sewaktu kuliah telah memberinya pelajaran berharga, bahwa kita haruslah tetap fokus terhadap tujuan, dimana tujuan utama kita naik gunung untuk tiba di puncak dan pulang kembali ke rumah dengan selamat. Saya mengumpamakan dalam hidup sama seperti kita mendaki gunung sering sekali kita temukan jalan teramat terjal dan curam dengan segala liku dan kelok tetapi kalau ditelusuri lebih jauh bukankah semua itu menjadi sahabat setia yang akan menuntun kita menuju puncak untuk tiba tepat esok pagi.

Dalam meraih mimpi membutuhkan keberanian dan komitmen. Tidak cukup hanya keberanian untuk mengambil keputusan-keputusan besar tapi harus memiliki komitmen yang jelas dengan segala resiko yang siap dibayar bukan diterima. Ini bukan tentang apa yang kita bisa tetapi apa yang kita mau. Ini baru gentle,” tegasnya.

Enang yang dibesarkan dari dunia pendidikan –ayahnya Kepala Sekolah SMP ibunya Kepala Sekolah SD- meyakini bahwa power of spirit adalah modal utama. Spirit yang luar biasa sudah cukup untuk membangun perusahaan, meniti karier atau mengejar impian untuk hidup lebih baik. Karena dengan spirit, segala sesuatu baik kondisi baik atau buruk, senang atau susah akan dihadapi dengan besar hati.

“Hambatan itu bukan ketika susah saja lho, bahkan kesenangan juga bisa menjadi hambatan dalam meraih cita-cita kita. Contohnya saya pernah ditawari headhunter untuk menjadi vice president di perusahaan UK tentunya dengan gaji yang cukup menggiurkan. Disinilah kembali saya diuji untuk mengambil keputusan besar dalam menentukan pilihan. Setelah melalui shalat istikharah dan lain-lain, saya putuskan untuk tetap di sini. Karena menurut saya ini bukan tentang uang semata, tetapi menjalankan passion saya yang membuat saya lebih memberi nilai besar pada diri saya, inilah sebuah pilihan walaupun terkadang pilihan tersebut terasa tak popular, tetapi keyakinan yang besar untuk tiba pada cita-cita luhur mengantarkan saya untuk mengambil keputusan besar untuk tetap menjalankan dan mengendalikan perusahaan yang menjadi passionnya,” jelasnya.

Enang sangat bersyukur, perusahaan yang dikembangkan melalui power of spirit tersebut mulai menuai harapan. Ini membuat semangatnya semakin terbakar untuk membangun perusahaan menjadi lebih baik lagi. Apalagi dengan permasalahan lingkungan di Indonesia yang sangat banyak dan regulasi semakin ketat, akan menjadi modal cukup untuk menjalankan green business yang dijalaninya dan pada waktunya nanti uang akan datang dengan sendirinya.

“Saya sangat beryukur bisa seperti ini karena orang-orang di sekitar saya,
orang tua, sahabat, guru-guru spiritual dan lain-lain untuk memastikan agar saya menjalani semua ini dengan sungguh-sungguh. Balik lagi perumpamaan seperti naik gunung, semua tidak bisa dilakukan sendiri tetapi diperlukan rekan-rekan dimana disitu kita biasa saling support, selain itu sama halnya naik gunung ataupun pada saat meraih cita-cita kita perlu untuk istirahat sejenak untuk mencapai puncak tapi ingat jangan lama karena akan buat tubuh ini beku selanjutnya jalan lagi kalau perlu berlari agar cepat sampai di puncak gunung,” tuturnya.

Nikmati Proses

Pilihan Enang untuk menggeluti bisnis lingkungan atau Green Business tidak lepas dari latar belakang pendidikan dan pengalamannya. Pria kelahiran Bogor, 27 Juli 1978 ini, menggabungkan pengalaman sebagai karyawan dan latar belakang pendidikan Teknik Lingkungan ITB yang akan membuat sebuah bisnis berjalan dengan baik membuat penguasaha muda bungsu delapan bersaudara ini tetap dapat memberikan solusi dan kontribusi terhadap permasalahan lingkungan sangat prima.

“Alhamdulilah, prospek usaha ini pun ke depan sangat bagus. Karena hanya sedikit perusahaan seperti ini. Ditambah, sebagai mantan karyawan Astra yang bisa mengerti bagaimana Astra membangun business serta alumni Teknik Lingkungan ITB yang mengerti lingkungan, sehingga perpaduannya cocok dan klop mudah-mudahan akan menjadi modal besar untuk mengantarkan IEC menjadi salah satu perusahaan besar dinegeri ini,” kata anak pasangan H. E Padma (alm) dan H.R. Djulaeha ini.

Ke depan, Enang memiliki cita-cita untuk menjadikan perusahaan miliknya tidak kalah dengan perusahaan lain. Bahkan, cita-citanya menjadikan Indonesia Environment Consultant (IEC) memiliki brand yang kuat seperti IBM dan Microsoft. Di mana brand-brand itu telah memiliki nama besar dan memberikan kontribusi besar dengan produk yang dikeluarkan perusahaan tersebut.

“Saya mempunyai cita-cita, ke depan seperti perusahaan-perusahaan tersebut, ketika orang mengingat lingkungan maka nama IEC langsung disebut. Bahkan nanti saya berharap, IEC bukan lagi Indonesian Environment Consultant tetapi Indonesian Environment Corporation,” sebagai Holding Company harapnya.

Untuk saat ini, IEC mengerjakan proyek-proyek seperti studi lingkungan, AMDAL, desain CSR, Water Treatment yang lengkap dengan konstruksinya dan mengerjakan project-project Green Property. Kedepan IEC akan menjadi Green Incubator untuk para pebisnis lingkungan dan membangun projek-projek yang berbasis lingkungan seperti peyedia energy renewable seperti pembangkit tenaga mikrohidro.

Enang merasa diuntungkan dengan semakin tingginya kesadaran terhadap kelestarian lingkungan dari berbagai pihak. Selain pemerintah, masyarakat dan perusahaan juga memiliki kesadaran yang meningkat. Termasuk perusahaan vendor yang akan memilih perusahaan-perusahaan yang peduli terhadap lingkungan untuk memproduksi produk yang dihasilkan.

Setelah berhasil dengan passion-nya pada lingkungan dan manusia, Enang telah menetapkan tujuan hidup yang pasti. Suatu saat, ia nanti akan menyumbangkan tenaga dan pemikiran kepada penyelenggara negara. Bukan sebagai politikus, tetapi dengan berbekal keahlian dan pengetahuan yang dimiliki serta passionnya dibidang lingkungan dan manusia berharap dapat berkontribusi untuk kesejahteraan rakyat dan kelestarian lingkungan. “Tentu setelah saya melahirkan karya-karya yang bermanfaat dan terbaik, bagi khalayak,” imbuhnya.

Bagi generasi muda, Enang mengingatkan pada suatu hal yang harus dimiliki untuk mencapai kesuksesan. Pertama adalah menikmati proses yang sedang dijalankannya. Apapun itu, bagaimana kondisi yang dihadapi semua tidak lepas dari proses. Ibaratnya, seseorang yang ingin menjadi seseorang yang “luar biasa” dan pastilah dia melakukan sesuatu yang luar biasa juga, bukan melakukan hal biasa yang kebanyakan orang lakukan.

Selain itu, setiap orang harus memiliki keberanian untuk bertransformasi menjadi manusia lebih baik, baik menjadi seseorang yang berani, seseorang yang penuh cinta, seseorang yang jujur atau apapun itu, berharap akan menuntun kita menuju mimpi yang dicita-citakanya, mimpi hanya akan menjadi milik mereka yang percaya akan dirinya. Satuhal lagi Ketika mulai berjalan melenceng dari tujuan hidup yang dicita-citakan, generasi muda harus kembali pada track yang sudah ditentukannya sendiri. Tanpa itu, kesuksesan akan semakin jauh dari jangkauan dan generasi muda akan menjadi orang yang sangat biasa.

“Generasi muda harus belajar menikmati proses, meskipun itu berat. Mereka harus membayar lebih -waktu dan apa saja- untuk memperoleh sesuatu yang lebih banyak. Kemudian, alangkah baiknya jika kita memiliki komitmen hidup sendiri. Seperti saya dengan kontrak hidup “Berani”. Jadi ketika merasa takut, saya ingatkan diri sendiri bahwa ‘Mr Enang kontrak hidup Anda adalah berani, menjadi laki-laki yang berani, bagaimana sih….?’ Intinya jikalau kita ingin menjadi orang yang lebih, harus dibayar dengan cara yang lebih juga. Sekali lagi Tidak ada orang luar biasa tetapi melakukan usaha seperti apa yang biasa dilakukan orang. “I need to believe that something extra ordinary is possible.” Saya percaya sesuatu yang luar biasa akan terjadi pada orang yang bersungguh-sungguh. Bukan hanya pada diri saya sendiri tapi pada mereka yang percaya akan mimpinya.’ tegasnya.

Thomas Aquino Bima Priadi

Country Manager PT ESRI Indonesia

Lulusan Teknik Sipil yang Pakar IT

Bangsa Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan setara dengan bangsa lain. Bahkan sejak dahulu kala, sejarah Indonesia telah menunjukkan kebesarannya sebagai sebuah bangsa yang disegani. Kalau sekarang terjadi kemunduran yang mengakibatkan ketinggalan, tentu sebuah kesalahan telah terjadi pada bangsa ini.

Padahal, bukan hanya Malaysia yang beberapa dekade sebelumnya mengirimkan ribuan pemuda untuk digembleng di Indonesia. Mereka inilah yang menjadi cikal bakal kesejahteraan negeri jiran tersebut belakangan ini. Tidak hanya itu, negara semaju Jepang pun pernah menggunakan jasa pemuda Indonesia dalam industri teknologi informasi (IT/information technology).

Salah satunya adalah saya yang mendapat kesempatan dari Prof. BJ Habibie yang memiliki gagasan membangun industri IT Indonesia bagi pasar asing. Waktu itu beliau dapat challenge dari Jepang untuk mengisi programmer di sana yang sangat kekurangan. Saat itu, Habibie merekrut sarjana dari berbagai disiplin ilmu untuk dididik IT di IPTN. Setelah itu, kami dikirim untuk job training di IBM Jepang. Selesai job training itu, kami bekerja di Jepang untuk mengerjakan beberapa proyek,” kata Thomas Aquino Bima Priadi, Country Manager PT ESRI Indonesia.

Seiring perjalanan waktu, lanjutnya, banyak industri Jepang yang melakukan relokasi proyeknya ke Indonesia. Para programmer yang asli Indonesia menjadi tumpuan harapan untuk menggarap proyek-proyek perusahaan Jepang di sini. Selain itu, para programmer juga memiliki kesempatan untuk mengerjakan proyek-proyek bagi pasar perusahaan lokal.

Saat itu, Bima –panggilan akrabnya- harus dihadapkan pada kenyataan bahwa ia harus memilih bidang IT yang menjadi minatnya. Sebagai lulusan teknik sipil FT UGM Yogyakarta, ia sangat berminat pada engineering. Meskipun demikian perkenalannya dengan sistem informasi geografi telah membuat dirinya jatuh cinta dan berminat untuk mengembangkan sistem ini di tanah air.

Saya memang tidak memiliki pengalaman di bidang ini. karena Ketika lulusan dari Teknik Sipil UGM Yogyakarta, Tetapi market bidang konstruksi saat itu kurang bagus, sehingga saya banting stir ke bidang IT yang belum sepenuhnya berkembang seperti sekarang. Ketika mengenal sistem informasi geografi, saya jatuh cinta dan bertekad menekuni usaha di bidang ini karena yakin berpeluang besar akan tumbuh dengan baik,” tegasnya.

Bima menyadari bahwa tantangan di bidang ini adalah minimnya data yang tersedia. Buktinya, banyak proyek yang tidak berlanjut karena data spasial yang dibutuhkan tidak tersedia. Akibatnya, banyak proyek perusahaan yang terpaksa tidak diselesaikan karena harus berinvestasi dalam jumlah besar untuk mengumpulkan data spasial ini.

Oleh karena itu, saya mengadakan koordinasi dengan lembaga penyedia data agar kebutuhan terhadap data selalu tersedia ketika diperlukan. Saya juga bertukar gagasan untuk mendorong kemajuan sistem informasi geografi di Indonesia. Saya berharap, tidak ada lagi proyek di Indonesia yang gagal diselesaikan karena ketersediaan data sangat minim,” tegasnya.

Standar IT Indonesia

Thomas Aquino Bima Priadi menuturkan PT ESRI Indonesia memiliki visi menyebarkan software ESRI menjadi acuan utama teknologi GIS di Indionesia. Ia berharap, teknologi ini dapat dipergunakan oleh seluruh lembaga, baik pemerintah maupun swasta.

Pertama menjadi standar yang dibutuhkan, kedua kita mampu menjadi bagian dari dunia teknologi informasi Indonesia. Kita ingin perusahaan menjadi leader dan standar sehingga siapapun nanti akan mengacu kepada perusahaan kita,” tegasnya.

Ke depan, lanjutnya, ESRI Indonesia ingin membangun SDM Indonesia. Utamanya SDM yang diperlukan untuk membangun dunia IT, khususnya didalam bidang Sistim Informasi Geografi di Indonesia. Upaya yang ditempuh adalah mencoba berkolaborasi dengan beberapa perguruan tinggi. Dengan pertimbangan, bahwa perguruan tinggi memiliki knowledge yang diperlukan sementara perusahaan memiliki teknologi.

Itu yang harus kita gabungkan dan menjadi simpul-simpul kemajuan dunia IT Indonesia. Mereka juga harus mampu menangkap respon dan kebutuhan-kebutuhan IT dunia. Sementara ini yang kami sudah mengawali upaya kerjasama dengan kami adalah ITB dan UI. Sedangkan di timur, ITS Surabaya dan Unhas Makassar, sementara ke barat kita sudah kerjasama dengan Unsyah Banda Aceh,” tandasnya.

Pria kelahiran Purworejo, 1 April 1962 ini mengungkapkan rasa syukurnya atas dukungan keluarga yang sangat luar biasa terhadap karier yang ditekuninya selama ini. Sang istri, Dr. Banon Lupi Edi (dokter di rumah sakit Harapan Bunda) dan kedua anaknya tidak pernah mengajukan komplain atas kesibukan suami dan ayahnya. Meskipun harus ditinggal pagi-pagi dan kembali ke rumah dini hari, mereka menerima kondisi tersebut.

Saya pulang ke rumah paling cepat pukul sembilan malam. Tidak jarang malah pukul dua pagi, jadi mereka semua sudah tidur. Tetapi bagi saya justru itulah dukungan luar biasa dari keluarga karena mereka memberikan pengertian terhadap kesibukan saya. Oleh karena itu, terhadap pengorbanann dan kerelaan mereka itu tidak akan saya sia-siakan. Keluarga telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berkembang semaksimal mungkin,” imbuh anak kedua dari lima bersaudaran pasangan Petrus Suyoso (Alm.) dan Henrica Sri Adiarti.

 Berbicara mengenai generasi muda, Thomas Aquino Bima Priadi mengungkapkan bahwa generasi muda sekarang lebih lengkap fasilitasnya. Apalagi bila dibandingkan dengan kondisi generasi muda di zamannya yang minim akses ke mana-mana. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi generasi muda untuk tidak bisa mempelajari dan memanfaatkan segala sesuatu di sekelilingnya agar menjadi lebih hebat lagi.

Yang perlu dilakukan adalah membantu memotivasi dan mengarahkan generasi muda agar kehidupan mereka lebih pasti dalam menatap masa depan. Generasi muda sekarang boleh saja menyukai yang serba instant karena sesuai dengan zamannya. Namun mereka juga tidak boleh mengabaikan proses yang harus dilakukan secara bertahap untuk memperoleh sesuatu. Diharapkan proses tersebut memiliki value bagi mereka sendiri, organisasi, masyarakat dan lain-lain,” tandasnya.

Tergantung Teknologi

Menurut Thomas Aquino Bima Priadi, banyak perusahaan sejenis yang menjalankan usaha di Indonesia. Tentu saja, semua perusahaan IT sangat mengandalkan kemajuan teknologi masing-masing karena itulah “jualan” perusahaan. Begitu juga dengan persaingan di dalam usaha ini tidak lepas dari kecanggihan teknologi yang ditanamkan pada produk IT.

Semua tergantung teknologi. Jadi bagaimana sebuah perusahaan memiliki teknologi yang cukup mumpuni sehingga mampu bersaing secara sehat. Tetapi yang jelas kita berpikir jangka panjang sehingga bisa dilihat sebagai mitra pemerintah yang sangat konsisten,” ungkap penyuka liburan di kampung halaman ini.

 Saat ini, lanjut penerima Most Strategic Win Tahun 2011 dari ESRI Inc. ini, dunia IT sekarang sudah menjadi bagian dari gaya hidup setiap manusia. Bisa dikatakan, umat manusia di muka bumi ini tidak bisa dilepaskan hidupnya dari sarana yang berhubungan dengan IT. Oleh karena itu, mau tidak mau-suka tidak suka, meskipun berlatar belakang pendidikan teknik sipil, dunia IT diselaminya.

Akhirnya saya mempunyai passion dalam bisnis ini. Meskipun awalnya memang berbagai kesulitan saya hadapi. Karena awalnya saya tidak pernah dididik di situ, bukan di set-up untuk itu. Tetapi saya diberi kesempatan, sehingga untuk masuk ke situ juga saya nikmati. Meskipun terjadi gap yang sangat berat, karena teman-teman yang lain sudah lebih dahulu menguasai kondisi dengan baik,” ungkapnya.

PT ESRI Indonesia di bawah pimpinan Thomas Aquino Bima Priadi sebagai Country Manager memiliki klien hampir seluruh kementerian di Indonesia. Beberapa perusahaan perminyakan dan perkebunan kelapa sawit juga turut menjadi klien perusahaan dalam masalah teknologi Sistim Informasi Geografi (SIG). Semua itu, membuktikan eksistensi perusahaan yang semakin dikenal sebagai penyedia jasa IT, khususnya SIG, terkemuka di Indonesia.

Di samping itu, Bima memiliki misi pribadi untuk menjadikan Indonesia sebagai penguasa informasi bagi dirinya sendiri tentang bangsa dan Negara Indonesia dan seluruh kekayaan yang terkandung di dalamnya. Karena dari sisi informasi, justru orang lain yang menjadi penguasa yang menurutnya sangat tidak bagus. Seharusnya, informasi tersebut menjadi sebuah hal yang sangat penting bagi setiap orang di Indonesia. Jangan sampai informasi-informasi yang sangat penting disediakan asing untuk keuntungan mereka sendiri dan bukan keuntungan bangsa kita.

 “Banyak informasi yang dikuasai oleh pribadi-pribadi sehingga kurang dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Seperti bank-bank Indonesia itu berlangganan informasi intelijen perbankan dari Malaysia, Hongkong, dan lain-lain. Padahal sumber informasi dari lembaga kita sendiri seperti BPS dan lain-lain. Ditambah sedikit pengolahan informasi, mereka jual kembali kepada kita dengan harga mahal. Oleh karena itu, sebenarnya bangsa Indonesia sangat dirugikan karena keuntungan akan datang kepada investor asing yang seharusnya dinikmati bangsa ini,” kata Thomas Aquino Bima Priadi.

Tjindra Parma Wignyoprayitno

No Comments

Rektor Universitas Jakarta
Antara Birokrat dan Perguruan Tinggi
Banyak cara untuk mengisi tujuan dari kemerdekaan negeri ini, salah satunya adalah dengan berusaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan bekerja keras dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengisinya, maka kemerdekaan yang telah di perjuangkan oleh para pahlawan pendahulu kita dari penindasan penjajah tak tersia-siakan. Untuk mengisi kemerdekaan itu, salah satunya adalah menyelenggarakan pendidikan yang baik, dan pengelolaan yang super profesional, sehingga rakyat yang dulu tertinggal pendidikannya dapat mengenyam dan menikmati, serta mengejarnya. Dengan demikian, tidak ada lagi rakyat yang bodoh, atau dibodoh-bodohi orang atau penjajah, karena mereka telah ‘melek’ dari ketertidurannya selama ini.
Adalah Tjindra Parma Wignyoprayitno ( 62 th ), seorang mantan birokrat dari Departemen Pekerjaan Umum, yang memiliki tujuan tersebut. Sebagai Rektor Universitas Jakarta yang baru, ia berharap amanat UUD 1945 tersebut dapat mengisi sisa hidupnya. Untuk itulah ia mengaku terpanggil untuk menjalankan amanah itu dengan terjun di bidang pendidikan tinggi. “Saya memang sejak tahun 1974 telah bergelut di dunia pendidikan tinggi, hal itu dirintisnya sebagai asisten dosen luar biasa di salah satu Universitas Negeri terbesar di Asia Tenggara Universitas Indonesia, atau tepat di fakultas hukum UI, “ungkapnya.
Ditambahkan Tjindra, sejak itulah mulai 1975, ia berkecimpung sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi, sebut saja Universitas Jakarta, Ibnu Chaldun, Universitas 17 Agustus 1945, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Jakarta dan sebagainya. Karier dan kompetisi yang ketat, dan berbagai pertimbangan lainnya, terutama hidup di Jakarta, telah membuatnya kemudian- memilih untuk bermuara di salah satu Departemen yakni PUTL, atau Pekerjaan Umum DAN Tenaga Listrik. Di sinilah, ia mengabdikan diri hingga masa pensiun 2009. ”Saya mempertimbangkan kehidupan di Jakarta, memilih Kementrian PU, dan bertugas selama 34 tahun, “ceritanya.
Tjindra menjelaskan, meski kegiatan birokrasi begitu padatnya, namun pekerjaan awalnya sebagai dosen tetap dijalankan. Hal itu dilakukan Tjindra pada saat selepas jam kantor alias sore hari “ jalan jalan sore “ hilaknya , namun ia mengaku sempat membolos dari kantor, tatkala ada kegiatan mengampu mata kuliah di pagi hari. “Curi-curi waktu itu tidak lain adalah demi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa juga, “pungkasnya. Sebagai Rektor di Universitas Jakarta, ia mengatakan aktif kegiatan di kampus ini sejak 1978, Kala itu kampusnya berdomisili di Pulo Mas, Jakarta dan Tangerang, atau tepatnya dibelakang Rutan. “Tak heran jika mahasiswanya kebanyakan berasal dari Rumah Tahanan dan orang-orang sekitar Rutan.”
Perjuangan waktu itu untuk menuju Tangerang begitu kerasnya, bayangkan menurutnya, ia harus bolak balik Pulo Mas dan Tangerang, dengan kondisi macet dan padat merayap. Barulah pada tahun 2000, ia mengaku mendapat mandat dan tanggung jawab untuk memegang posisi jabatan Dekan di Fakultas Hukum Universitas Jakarta. Pada saat itu, ia harus menggantikan posisi Profesor DR. Loebby Lukman, SH, MH yang naik posisi jabatan menjadi Rektor Universitas Jakarta (UNIJA). Barulah tahun 2010, kembali naik dan dipercaya untuk memimpin perguruan tinggi UNIJA sebagai Rektor menggantikan posisi Profesor Loebby Lukman.
Dalam kiprahnya membangun kampus UNIJA, Tjindra Parma, menuturkan pertama yang dilakukan adalah dengan merombak susunan cabinet kampusnya, yakni mengganti atau memperbaharui seluruh dekan yang berada di bawah jajarannya. Hal ini penting guna membangun sinergi dan koordinasi serta kepercayaan. Periode awal yang berat ini berhasil dijalaninya dengan baik, semua itu tidak terlepas dari elit bawahannya yang ditunjuk masing-masing untuk memimpin empat Fakultas, yakni Fakultas Hukum dipimpin Dekan Arif Hartanto (mantan pejabat di Garuda Indonesia), Fakultas Teknik, Iwan Nusyirwan yang juga mantan Dirjen SDA, Fakultas Ilmu Administrasi Niaga, Dekan Abdul Malik (pejabat PU), dan Fakultas FISIP, dengan Dekan, Triyadi, mantan pejabat birokrat Imigrasi.
Sejarah lahirnya kampus UNIJA sendiri, bermula dari usaha pendahulu mereka yang ingin menjadikan masyarakat sekitarnya khususnya etnis Betawi cerdas dan mandiri. Tak heran jika hanya bermodal dua Fakultas semula yang ada, yakni Fakultas Ilmu Administrasi Niaga dan Fakultas Teknik. Menurut Tjindra Parma, pada awalnya yang menonjol di Universitas Jakarta, ialah Fakultas Ilmu Administrasi Niaga dan Fakultas Teknik jurusan Sipil dan Arsitektur. Dua fakultas inilah yang semula dibuka dan merupakan fakultas tertua. Saat ini keduanya sedang dalam proses penelitian Badan Akreditasi Nasional (BAN).
Jumlah mahasiswa di UNIJA mencapai 500 orang, meliputi 300 mahasiswa Fakultas Hukum dan sisanya masuk di masing-masing tiga fakultas lainnya. Ia mengaku tuntutan zaman telah membuat perguruan tinggi ini mengembangkan atau membuka kembali beberapa fakultas. Fakultas yang telah terakreditasi B yakni Fakultas Hukum. Akreditasi itu dicapainya pada Mei 2011. Tjindra mengatakan, meski Fakultas ini tergolong baru, tapi animo masyarakat yang besar untuk memasuki dunia pendidikan di bidang hukum, menjadikan UNIJA melebarkan sayapnya untuk membuka Fakultas baru. “Ramainya Fakultas Hukum, karena banyak mahasiswa yang berasal dari berbagai Kementrian dan instansi terkait membutuhkan pemahaman tentang hukum. Mereka kebanyakan berasal dari D-3 bidang Imigrasi, Pemasyarakatan, TNI, Polri, Kantor-kantor Pengacara, dan Notaris. “
Mereka menurut Parma, menjalani kuliah sore hari, sepulang dari kegiatan rutin kantornya. Ia berharap akan banyak lagi mahasiswa lain yang masuk ke UNIJA, mengingat biaya SPP masuk ke UNIJA tidak besar, dan tidak dimintai biaya gedung. “Kami punya motto, yakni cepat, dekat dan murah,”tuturnya. UNIJA sendiri saat ini telah memiliki infrastruktur berupa bangunan, ruang kuliah dengan gedung berlantai 4, berada di tengah Jakarta dan berposisi di Pulo Mas, Jakarta.
Berbekal semua itulah, ia yakin kampusnya akan banyak memiliki mahasiswa, apalagi dalam penyusunan kurikulum, dibenarkan mahasiswa kuliah lebih cepat atau kurang dari 4 tahun. “Dari D-3 bisa lebih cepat, dan mahasiswa butuh 2 tahun untuk menyelesaikan kuliah S-1, “katanya. Namun begitu, Parma yang memiliki 3 anak ini ( drh Retty ,ing Adechar ST dan Dhanny ) merasa sedikit pesimis untuk mengenjot target mahasiswa masuk ke UNIJA, mengingat di wilayah yang sama juga terdapat kampus-kampus besar, seperti Universitas Trisakti, Jayabaya, dan Mpu Tantular. “Kesulitan kita adalah banyaknya kampus di sini, seperti STIE Indonesia, Universitas Jayabaya, Trisakti, Mpu Tantular artinya timbul persaingan juga. “ungkapnya.
Namun ia yakin, banyaknya kemudahan yang diperoleh mahasiswa atau lulusan SMA/SMK yang masuk ke UNIJA, terutama yang ingin cepat bekerja dan ingin melanjutkan kembali kuliah S-1 nya, peluang itu tetap ada dan semoga tercapai target.
Parma juga mengaku mengalami kendala dalam akreditasi fakultasnya.”Assesornya sedikit sekali, sementara kampus begitu banyak dan tersebar di seluruh Indonesia, jadinya saat dilakukan penelitian dan survey, biasanya mereka mengambil hari libur, dan kita tidak bisa meminta waktu lain, “katanya.
Parma menambahkan kembali, uniknya UNIJA saat ini mendapat julukan sebagai universitas atau kampus mantan pejabat tinggi. “Mungkin karena seluruh pimpinannya berasal dari mantan birokrat atau pejabat tinggi, sehingga masyarakat sekitar atau para mahasiswa menilai UNIJA sebagai kampus pejabat tinggi, “tuturnya.
Wajar jika UNIJA mendapat julukan atau panggilan kampus pejabat tinggi, mengingat pimpinan fakultasnya yang baru adalah pejabat dan mantan pejabat pemerintah. Untuk itulah ia optimis pimpinan yang baru ini bisa menjalankan roda perguruan tinggi. “Dengan mereka mantan pejabat tinggi diharapkan mereka bisa menghimbau teman-teman atau koleganya untukmengajak anak buahnya kuliah di UNIJA. Jaringan inilah yang diharapkan dapat mengisi kelas-kelas mahasiswa di seluruh fakultas, “katanya.
Ia menuturkan sebenarnya Perguruan Tinggi Swasta itu hidup dari mahasiswa, jadi kalau tidak ada mahasiswa, maka, perkuliahan tidak akan berjalan. “Jadi kami menanamkan kepada seluruh dosen untuk senantiasa untuk tidak henti-hentinya mengingatkan mahasiswa agar menjadi sarjana yang memiliki jiwa kebangsaan dan nilai-nilai lebih, dan bukan intelektual penipu dan koruptor, “tuturnya.
Ia menambahkan juga bukan berarti mahasiswa banyak, tapi kualitas minimalis, tapi mahasiswa banyak, kalau dapat seluruhnya berpotensi.” Orang pintar banyak yang ditangkap, lantaran gara-gara tidak punya integritas yang memadai,” tegasnya. Mereka seperti itu , karena tidak punya rasa percaya diri yang tinggi, dan kerjanya senang menipu.
Menanggapi pertanyaan seputar rutinitas pertemuannya dengan mahasiswa, Tjindra Parma mengatakan hampir setiap Sabtu ia ketemu mahasiswa, sebab selain sebagai Rektor ia juga berkesempatan untuk mengampu mahasiswa pula. “Saya sering berdialog dengan dosen , termasuk Dekan. Mahasiswa itu inti dari perguruan tinggi, jadi kalo tidak ada mahasiswa, bagaimana juga kelanjutan dari perguruan tinggi ini,” paparnya.
Dengan kondisi adanya beberapa fakultas yang belum memiliki akreditasi, ia mengaku sedikit nelangsa, pasalnya ada perintah atau penegasan dari sebagian instansi pemerintah untuk tidak mengizinkan pegawainya kuliah di perguruan tinggi yang memiliki akreditasi C. “ Ini kan kurang adil dan tidak bijak, “ujarnya. “Memang ada persoalan dari instansi pemerintah . Mereka melarang agar pegawainya tidak kuliah di Perguruan Tinggi yang mempunyai akreditasi C atau belum terakreditasi. Mereka meminta pegawainya kuliah di Perguruan tinggi yang memiliki akreditasi B atau A.”
Rektor Unija memaparkan Visi dan Misi Unija. Visi UNIJA adalah Pertama, menjadikan UNIJA sebuah universitas yang mampu menghasilkan SDM yang profesional dibidangnya. Kedua, bertakwa dan mampu berperan aktif dalam membangun bangsa dan menyesuaikan diri dengan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni dalam lingkungan global. “Memajukan seni, bukan saja hanya science dan teknologi.” Sedangkan Misi UNIJA adalah pertama, melaksanakan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat agar peserta didik menjadi manusia berkualitas, profesional, bertakwa dan entrepreneur.Kedua, menyebarkan ilmu pengetahuan dan teknologi,humaniora untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat secara nasional. Ketiga, menjadikan universitas yang mandiri dan berkelanjutan punya tata kelola yang baik.
Sementara obsesi UNIJA adalah ingin berperan aktif dalam mengemban tugas negara memajukan pendidikan dan mencerdaskan kehidupan berbangsa. “untuk itu kita ingin tenaga pengajar yang ada di sini terdiri dari tenaga yang memang profesional, berbudi luhur, disiplin, rendah hati, bekerjasama dan tanggungjawab. “Unija tanggap dan peka terhadap IPTEK”
Selain itu juga UNIJA melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler ke masyarakat. Dengan peduli terhadap masyarakat yang terkena musibah, dekat dengan kehidupan agama. Itulah yang menjadikan UNIJA dalam promosinya sebagai kampus yang keren dan unggulan, karena memiliki citra yang baik di masyarakat dan kalangan profesional lainnya. Tjindra Parma yang sibuk ini mengaku bisa membagi waktu untuk keluarga dan dirinya, meski ada juga yang menanyakan pekerjaan dan kritik dari anaknya.”Anak dan istri saya telah memahami pekerjaan ayahnya, Jadi mereka memahami dan mendukungnya, Apalagi saya juga memberikan waktu Sabtu dan Minggu, meski kerap juga waktu tersebut dipakai untuk Resepsi dan undangan lainnya, “ungkapnya.

Ir. H SugiSugiatmo Kasmungin, MT., PhD

No Comments

Ketua Jurusan Teknik Perminyakan Universitas Trisakti

Goodwill Pemerintah Diperlukan untuk Mengurangi Impor Minyak

Kebutuhan Indonesia terhadap sumber energi minyak bumi cukup tinggi. Sayangnya, pasokan energi tak terbarukan ini dari dalam negeri sangat kurang sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan nasional. Padahal, selama ini Indonesia memiliki sumur-sumur minyak yang sangat potensial dan dapat memenuhi pasokan kebutuhan energi konsumsi nasional.

“Dari satu juta barel minyak bumi produksi nasional, pemerintah Indonesia hanya memiliki 40 persen saja, sisanya milik asing. Akibatnya, kita harus impor dari Singapura sebesar 600 – 700 ribu barel karena kebutuhan kita 1,3 juta barel per hari. Sebenarnya kalau pemerintah mempunyai goodwill terhadap kebijakan perminyakan dengan benar, kita dapat mengurangi impor BBM dengan membangun kilang baru dan meningkatkan kapasitas kilang,” kata Ir. H Sugiatmo Kasmungin, MT., PhD Ketua Jurusan Teknik Perminyakan Universitas Trisakti.

Sebagai ahli reservoir EOR – Enhanced Oil Recovery (peningkatan produksi minyak bumi), Sugiatmo memahami dengan baik seluk beluk dunia perminyakan di Indonesia. Banyak sumber ladang minyak yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri. Sayangnya, kekurangan dana dan tidak adanya kebijakan pemerintah yang tepat membuat peluang tersebut diambil investor dari luar negeri.

Meskipun demikian, Sugiatmo memahami kenapa bangsa Indonesia harus menerima kondisi tersebut. Mahalnya biaya untuk mengeksplorasi satu sumur minyak yang mencapai lima belas juta dolar saja, membuat perusahaan minyak sekelas Pertamina harus berpikir ulang untuk mencari sumur minyak sendiri dan membuka main set untuk kelas dunia.

“Dalam mencari minyak perlu modal tetapi kita tidak mempunyainya. Karena dana hasil pertambangan digunakan untuk keperluan lain, bukan untuk pertambangan itu sendiri. Sebenarnya, SDM dan sumber daya alam kita tidak kekurangan. Dengan dukungan tekonologi serta modal yang sebenarnya ada seharusnya Indonesia tidak terpuruk seperti sekarang,” jelasnya.

Sugiatmo menegaskan perlunya kebijakan politik pemerintah untuk mendukung kemajuan dunia pertambangan khusunya perminyakan di Indonesia. Salah satunya adalah regulasi perizinan pertambangan yang sering menghambat eksplorasi. Karena lamanya proses perizinan operasi pengeboran yang mengakibatkan semakin membengkaknya biaya yang harus dikeluarkan perusahaan pertambangan.

“Pengurusan izin pertambangan memerlukan waktu satu tahun karena melalui Kementerian Kehutanan, bupati dan lain-lain. Artinya perusahaan pertambangan selain mengeluarkan pembiayaan satu sumur yang cukup besar, juga harus mengeluarkan biaya ekstra besar untuk perizinan saja. Jadi mereka harus menanggung biaya yang membengkak semakin besar,” ujarnya.

Keluarga Perminyakan

Ir. H Sugiatmo Kasmungin, MT., PhD lahir di Balikpapan, sebuah kota kecil di Kalimantan yang terkenal sebagai ladang minyak terbesar di Indonesia. Sedangkan leluhurnya berasal dari Cepu, wilayah kaya minyak yang dieksplorasi sejak zaman penjajahan Belanda. Keluarganya pindah ke Sanga – Sanga (99) setelah sang ayah dipindahtugaskan ke sana.

“Jadi saya berasal dari keluarga perminyakan, karena dari nenek moyang bekerja di bidang perminyakan semua. Saya menghabiskan masa kecil sampai SMA di Balikpapan. Setelah itu, saya masuk Usakti tahun 1981 dan selesai tahun 1988. Sejak tahun 1984 saya menjadi asisten mahasiswa dan diangkat sebagai dosen tetap setelah lulus kuliah,” ujarnya.

Tahun 1991, Sugiatmo -masih seorang dosen muda- mendapat tugas belajar S2 yang mampu diselesaikan pada tahun 1994. Dua tahun kemudian, ia memperoleh kesempatan belajar lagi ke Malaysia. Di sini, ia belajar mengenai bidang keahlian teknik reservoir khususnya di bidang EOR – Enhanced Oil Recovery, yang sangat dibutuhkan Indonesia dalam meningkatkan produksi minyak. Yakni mendorong minyak yang tersisa di reservoir untuk diangkat ke permukaan.

“Saya memprakarsai berdirinya laboratorium di Universitas Trisakti meskipun menemukan sangat banyak kendala, terutama biaya dan tempat. Karena pembangunan laboratorium membutuhkan biaya yang sangat besar. Tetapi yang jelas kalau ingin maju kita harus disiplin, kerja keras, jujur dan toleransi, kerjasama dan komunikasi untuk menghindari kesalahpahaman,” tegasnya.

Dengan kesibukannya yang sangat menyita waktu -Sugiatmo harus stand by di kampus pukul enam pagi- ia tidak memiliki waktu yang leluasa dengan keluarga. Apalagi keluarganya sebagian besar tinggal di Yogyakarta karena ikut dengan sang istri yang berprofesi sama dengan dirinya, menjadi dosen. Saat ini istrinya adalah Ketua Program Studi Kedokteran Gigi FKG Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

“Jadi istri saya lebih pinter. Yang jelas, bagi kami yang penting adalah terus membina komunikasi keluarga sehingga saya pagi-pagi sudah harus telepon menanyakan kabar berita. Karena anak saya masih kecil-kecil dan memerlukan perhatian khusus. Karena kami sesama pendidik, jadi kami sudah tahu sama tahu sehingga saling mengerti kelebihan dan kekurangan pasangan,” tegas pria yang bangga mendidik orang menjadi berhasil tersebut. “Itu kebanggaan tersendiri bagi saya. Untuk saya sendiri, kalau nanti sudah bebas financial dan waktu, saya ingin membuka café segar ‘Wong Mandiri’ saja,” imbuhnya.

Terbiasa menghadapi generasi muda –jurusan perminyakan memiliki mahasiswa sekitar 1200 orang- membuat Sugiatmo sangat memahami mereka. Bagaimana dinamika kehidupan generasi muda bagi bangsa dan negara harus menjadi skala prioritas. Karena Indonesia yang sebenarnya sangat kaya raya harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran bersama.

“Tetapi dalam kekayaan itu harus memilah-milah mana yang penting dan harus kita dahulukan. Kita harus mampu berkontribusi mensejahterakan bangsa dengan kekayaan alam dimiliki negara ini. Oleh karena itu, apakah kekayaan alam tersebut bisa menjadi sumber kebahagiaan atau malapetaka, semua tergantung bagaimana kita mengolahnya. Intinya, kita itu kaya tetapi miskin jiwa karena kita tidak pandai dalam mengelola dan mengolah,” tegasnya.

Apalagi, lanjutnya, secara kualitas SDM Indonesia juga tidak kalah dengan bangsa lain. Sugiatmo telah membuktikan sendiri dalam berbagai seminar di luar negeri yang pernah diikutinya membuktikan hal tersebut. Bahkan saat ia tugas belajar di Malaysia, justru dirinya yang melengkapi fasilitas berdirinya laboratorium EOR di universitas bergengsi tersebut dengan biaya dari universitas. “Jadi secara kualitas kita tidak kalah dalam hal skill SDM. Hanya saja diperlukan peningkatan kompetensi SDM secara terus menerus agar kita tidak ketinggalan,” tambahnya.

Orientasi Kurikulum: Masa Depan

Sejak menjabat sebagai Ketua Program Studi Teknik Perminyakan tahun 2006, Dr. Sugiatmo Kasmungin telah membawa iklim perubahan berbagai kemajuan. Meskipun demikian, ia mengakui kemajuan yang dicapai tidak lepas dari usaha dan kerja keras semua pihak.

“Kami taat peraturan yang telah ditetapkan universitas. Setiap event profesi kita selalu melibatkan sivitas akademika, sehingga sosialisasi program studi dapat berjalan dengan baik. Pertumbuhan mahasiswa begitu pesat, sehingga diperlukan perubahan cara berpikir komprehensif bagaimana memajukan program studi dengan benar agar tidak ketinggalan dengan universitas lain,” tandasnya.

Program Studi Teknik Perminyakan mengalami peningkatan animo mahasiswa dari tahun ke tahun. Tahun 2007 mahasiswa yang diterima sebanyak 154 dan berhasil meluluskan 144 mahasiswa. Tahun 2008 mahasiswa baru meningkat menjadi 186 dan meluluskan 177 mahasiswa, tahun 2009, 289 mahasiswa baru dan 143 lulusan. Sedangkan tahun 2010 menerima 305 mahasiswa baru, 151 lulusan dan tahun 2011 program studi Teknik Perminyakan mampu menampung 375 mahasiswa dan meluluskan 152 sarjana teknik perminyakan.

Berbicara mengenai akreditasi, Sugiatmo mengakui belum memuaskan berbagai pihak. Karena Jurusan Teknik Perminyakan memiliki akreditasi B tetap pada tahun 2011 ini. Ia mengakui banyak faktor yang menentukan meskipun secara penilaian terdapat peningkatan. Hal tersebut terlihat dari angka penilaian yang mengalami peningkatan dari 316 tahun 2006 menjadi 321 pada tahun 2011.

Menurut Sugiatmo, kondisi tersebut terkait dengan dukungan bidang akademik, karya ilmiah dan kegiatan kemahasiswaan dan alumni. Untuk itu diperlukan peningkatkan akreditasi yang memerlukan investasi sarana dan prasarana pendidikan, penambahan dosen baru dan peningkatan jenjang kepangkatan akademik dosen.

“Staf pengajar umumnya telah memiliki sertifikasi dosen dan pengalaman di bidang teknik perminyakan lebih dari 10 tahun. Seperti diketahui bahwa untuk lulus S-1 program studi teknik perminyakan mempunyai beban 144 SKS yang harus ditempuh selama 8 semester,” ujarnya.

Kompetensi lulusan sarjana teknik perminyakan diarahkan kepada lima bidang kompetensi yaitu: teknik reservoir, teknik pemboran, teknik produksi, teknik penilaian formasi dan pengelolaan lapangan. Semua itu dilakukan secara bertahap sejak mahasiwa semester dua yang harus mengikuti kuliah lapangan minyak dan gas bumi. Pada semester 6 mahasiswa akan dibekali kerja praktek dilanjutkan semester 7 masuk studio pengembangan lapangan dan semester 8 akan menjalani tugas akhir.

“Pada tahun ini, akan dibagi per satu kelas dihuni oleh 40-50 orang mahasiswa. Tetapi tergantung dengan kondisi yang ada sehingga setiap pelajaran terdapat 7-8 kelas paralel yang dikoordinasikan oleh seorang dosen koordinator mata kuliah pengampu dengan kepakaran sama,” ungkapnya.

Metode pengajaran di Jurusan Teknik Perminyakan membuat IPK lulusannya pun terus meningkat. Dari rata-rata 2.8 menjadi 3.0 dan mendekati target universitas meskipun secara individu terdapat mahasiswa angkatan 2006 yang lulus dengan nilai 3.81. Dari laporan EPSBED tiap angkatan juga menunjukkan terdapat mahasiswa dengan prestasi mengilap. “Bahkan angkatan 2009 sudah ada yang dibooking untuk magang di perusahaan minyak. Tiap tahun program studi meluluskan sekitar 140-180 orang atau sekitar 50-80% dari in take mahasiswa tiap tahun,” imbuhnya.

Menurut Sugiatmo, semua itu tidak lepas dari kurikulum berorientasi pemikiran ke depan. Apalagi di era global sekarang ini permasalahan harus diselesaikan secara team dan sangat cocok di dunia perminyakan. Dengan catatan, dalam sebuah team diperlukan orang-orang yang menguasai benar dengan masalah dan bagaimana menyelesaikan masalahnya tersebut. Untuk itu kurikulum program studi pada semester 7 diberikan mata kuliah pengembangan lapangan minyak dan gas bumi.

“Dalam satu team terdapat delapan mahasiswa yang diberikan suatu persoalan lapangan. Disini secara tak langsung mahasiswa belajar dan berpikir secara terpadu dalam memutuskan, merencanakan, menganaliasa dan memecahkan persoalan pengembangan lapangan menyangkut pengembangan engineering dan soft skills. Ini termasuk kurikulum yang berorientasi pemikiran global,” tandasnya.

Selain itu, lanjutnya, Jurusan Teknik Perminyakan selalu terbuka dan proaktif terhadap alumni dan stakeholder. Karena lulusan program studi sebanyak 2300 orang telah tersebar di seluruh belahan dunia ini dan bekerja di berbagai perusahaan minyak. Melalui mailing list, universitas selalu memberikan informasi yang baik untuk kemajuan bersama, seperti mengundang alumni untuk memberikan kuliah tamu tiap bulan, sharing pengembangan soft skills dan trik mencari kerja serta berprestasi di bidang perminyakan.

“Untuk lebih meningkatkan mutu akademik, kami secara team berusaha melakukan kerja sama dengan Kementerian Sumber dan Energi, BP Migas, Dirjen Migas, Pertamina, DPR, Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Meksiko. Mereka kami undang, baik sebagai nara sumber ataupun partisipasi dalam kegiatan hulu migas,” kata Ir. H Sugiatmo Kasmungin, MT., PhD.

Muhammad Kadafi, SH., MH

No Comments

Rektor Universitas Malahayati

Melatih dan Mengembangkan Jiwa Leadership Serta Entrepreneurship Mahasiswa

Seorang pengusaha atau entrepreneur harus memiliki dua karakter yang membedakannya dari orang-orang biasa. Kedua karakter tersebut membuat pola dan cara berpikir pengusaha dalam menilai perkembangan di sekelilingnya menjadi berbeda. Perbedaan itulah yang membuat seorang entrepreneur selalu memperoleh keuntungan yang menjadikan mereka sebagai orang sukses dan terpandang.

Kedua karakter tersebut harus dimiliki oleh orang-orang yang bercita-cita menjadi entrepreneur. Sifat atau karakter yang harus dimiliki entrepreneur tersebut tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus melalui pembelajaran dan pelatihan yang berkesinambungan. Kedua karakter tersebut yaitu; pertama kreatif (creative) adalah kemampuan mengembangkan ide dan cara-cara baru dalam memecahkan masalah dan menemukan peluang (thinking new things). Kedua inovatif (innovative) adalah kemampuan menerapkan kreativitas dalam rangka memecahkan masalah dan menemukan peluang (doing new things).

“Sebagai seorang pendidik saya mengajarkan mahasiswa untuk senantiasa melatih dan mengembangkan jiwa entrepreneur dan leadership mereka dengan aktif mengikuti pelatihan, training, seminar, dan symposium yang berkenaan dengan pengembangan diri. Selain itu, saya mewajibkan kepada seluruh mahasiswa untuk mengikuti dan berperan aktif dalam organisasi-organisasi kemahasiswaan yang ada di universitas ini tanpa menomorduakan kuliah atau belajar mereka. Dengan begitu saya yakin mahasiswa akan memiliki jiwa kepemimpinan yang baik dan secara tidak langsung jiwa entrepreneur juga terbentuk,” kata Muhammad Kadafi, SH., MH., Rektor Universitas Malahayati Bandar Lampung.

Menurut Kadafi, pendidikan berorientasi entrepreneurship mutlak dibutuhkan pada saat ini. Mengingat semakin sempit dan susahnya lapangan kerja akhir-akhir ini Dengan berwawasan entrepreneur seorang mahasiswa akan lebih siap menghadapi pasar kerja dibandingkan mereka yang tidak memiliki jiwa entrepreneurship. Sesorang yang memiliki jiwa entrepreneur senantiasa mendayagunakan semua kemampuan yang dimiliki untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan. “Hebatnya, orang-orang seperti ini tidak pernah menggantungkan tujuan hidupnya tersebut kepada orang lain. Berfikir kreatif dan inovatif menjadi modal dasar dari seorang entrepreneur,” tegas pemuda kelahiran Aceh Besar, 8 Oktober 1983 ini.

”World Class University”

Dalam usia masih sangat muda, Muhammad Kadafi, SH., MH, telah memiliki pengalaman matang di dunia pendidikan. Berawal dari memegang jabatan kecil di universitas, perlahan naik menjadi Rektor Universitas Malahayati. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Yayasan di salah satu universitas swasta terkemuka di Aceh.

Sebagai pengajar, banyak pengalaman yang telah dialami Kadafi. Ia memiliki dedikasi, profesionalisme dan kredibilitas sebagai dosen dalam menciptakan lulusan berkualitas mumpuni. Meskipun mengajar dengan honor kecil dan tuntutan kerja serta tinggi, semua dijalani sebagai pengalaman berharga yang sangat berkesan mendalam.

“Dalam hidup ini, saya memiliki obsesi yang masih melekat di benak saya, yakni untuk membuat Universitas Malahayati menjadi ‘World Class University’ dalam waktu dekat. Untuk mewujudkan ‘World Class Univesity’ ada tiga standar yang harus dicapai, yaitu;
 Keberhasilan dalam merekrut SDM terbaik seperti dosen, staf, karyawan dan mahasiswa,
 Kemampuan universitas dalam mengelola dan menghimpun dana dengan sukses,
 Manajemen universitas yang baik yang dilakukan secara profesional, efektif dan efisien.
Sehingga SDM yang dimiliki mampu dimanfaatkan untuk pelayanan pendidikan yang terbaik,” imbuhnya.

Kadafi mengungkapkan tingginya persaingan di bidang pendidikan tidak bisa dielakkan oleh penyelenggara pendidikan. Namun, persaingan membuat semua pihak yang berkutat di dalamnya berusaha untuk meningkatkan kualitas masing-masing. Sebagai pengelola perguruan tinggi swasta, ia sadar bahwa tanpa peningkatan mutu, kualitas pembelajaran serta penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, universitas swasta akan kehilangan mahasiswa. Mahasiswa yang belajar di universitas atau perguruan tinggi swasta pasti memiliki tujuan yang sama yaitu memilih universitas favorit, berkualitas, lengkap dengan sarana dan prasarana, berskala internasional dan memiliki prospek kerja yang jelas setelah lulus.

“Untuk itu kami setiap waktu selalu memperbaiki kekurangan yang ada seperti sarana dan prasarana kampus, lab, ruang belajar, sarana olahraga dan kemahasiswaan. Disamping itu pula perbaikan dibidang pelayanan dan mutu kualitas pendidikan makin hari makin ditingkatkan. Selain itu juga kami sedang mempersiapkan untuk ‘world class university’ dan sudah barang tentu kerjasama dengan universitas luar negeri dibutuhkan dalam hal ini,” ujar Vice Director RS. Bintang Amin Husada tersebut.

Dalam menjaring mahasiswa, Kadafi menyadari pentingnya iklan atau promosi di media masa. Tetapi yang lebih penting lagi adalah bentuk pelayanan universitas kepada masyarakat yang masuk dalam Tri Darma Perguruan Tinggi. Aspek-aspek dari praktek Tri Darma Perguruan Tinggi menjadi sarana efektif untuk sosialisasi tentang kualitas, kredibilitas dan eksistensi perguruan tinggi. Program pelayanan terhadap masyarakat secara langsung misalnya, pengadaan acara-acara publik di Universitas Malahayati, pengadaan lomba, seminar, loka karya dan konferensi baik tingkat pelajar maupun mahasiswa yang menjadi agenda rutin kampus.

Menurut Ketua Yayasan Abulyatama Aceh ini, pendidik bukan sekadar pengajar melainkan mendidik para peserta didik (siswa, mahasiswa) agar “menjadi manusia”. Tugas mengajar yang dilakukan seorang pengajar tidak boleh terlepas dari tugas mendidik. Tentu saja, terdapat bahaya yang besar bila kegiatan mengajar yang dilakukan pengajar terlepas dari tugas mendidik terhadap para siswa. Secara ideal, diharapkan tugas mengajar yang dilakukan guru harus menyatu dengan tugas mendidik.

Mengajar, lanjutnya, dalam arti sempit cenderung memiliki konotasi kegiatan teknis, yaitu menyampaikan pengetahuan yang dimiliki guru kepada para siswa. Begitupun metode mengajar, cenderung memiliki konotasi teknis, yaitu cara-cara yang efektif untuk menyampaikan pengetahuan dari guru ke siswa. Sedangkan mendidik cenderung memiliki arti yang luas dan lebih mendalam, yaitu sebagai kegiatan mengembangkan potensi manusiawi yang hidup dalam diri setiap siswa yang harus dapat berkembang secara utuh dan optimal.

Kecenderungan dalam mendidik, jelas Kadafi, adalah berkaitan dengan pengembangan kepribadian. Mendidik berarti mengembangkan moralitas kejujuran, semangat kerja keras, kemandirian, kreativitas, ketabahan hati dalam menghadapi permasalahan peserta didik. Mereka juga dididik dan ditempa untuk tidak mudah putus asa, menghargai pekerjaan, toleransi dan kerjasama dengan orang lain, berpikir logis dan kritis, kerendahan hati dan kasih sayang.

“Ungkapan: ‘dalam mengajar guru harus tidak melupakan tugas mendidik’ memiliki makna yang dalam dan luas. Dalam mengajar guru jangan hanya bersifat teknis-mekanis, yaitu menyampaikan mata pelajaran saja. Tetapi lebih dari itu, guru harus berani menghidupkan ruh-ruh potensi manusiawi yang hidup dalam diri siswa, seperti kemandirian, kreativitas, moralitas kejujuran, semangat kerja keras, dan lain-lain,” tegas Direktur Kadafi Speed Shop ini.

Pemerintah Mendukung

Putra keempat dari enam bersaudara pasangan DR (HC) H. Rusli Bintang dan Dra. Rosnati Syech ini mengungkapkan besarnya peranan pemerintah dalam dunia pendidikan. Tidak hanya alokasi dana pendidikan dari APBN yang meningkat drastis menjadi 20 persen, tetapi pemerintah juga telah membuat regulasi, kebijakan dan program-program yang disesuaikan dengan kebutuhan saat ini.

Regulasi pemerintah tentang minimal wajib pasca sarjana (S2) bagi pengajar atau dosen di perguruan tinggi memiliki dampak positif untuk peningkatan mutu pendidikan. Kebijakan pemerintah yang dicanangkan oleh Mendiknas untuk mendorong PTS atau PTN berkelas dunia yang mengacu pada pasar bebas di era globalisasi. Pemerintah juga membuat program HIBAH kepada PTN maupun PTS dalam peningkatan sarana dan prasarana perkuliahan.

“Perlu kita ketahui bahwa mengacu pada peraturan pemerintah dalam otonomi pendidikan baik swasta maupun negeri, menjadi kebijakan perguruan tinggi swasta maupun negeri itu sendiri untuk mengelola dengan baik sistem maupun manajemen kurikulum pendidikan yang ada. Di sisi lain setiap perguruan tinggi dituntut untuk dapat mencapai standar pendidikan yang ditetapkan pemerintah,” ungkapnya.

Oleh karena itu, jelasnya, akan menjadi problem setiap perguruan tinggi negeri maupun swasta, di pusat maupun di daerah dalam pencapain standar tersebut. Untuk itu, diperlukan suatu proses penyampaian informasi mengenai program-program pendidikan yang dapat memacu proses pendidikan agar ilmu pengetahuan dapat terserap dan diterima peserta didik dengan baik. “Untuk itu saya akan tetap berjuang serta mengabdikan diri, agar cita-cita bangsa Indonesia umumnya bisa terwujud demi kemajuan pendidikan di Indonesia yang semakin baik,” tambahnya.

Kadafi melihat belum maksimalnya kontribusi pendidikan tinggi dalam membangun Intellectual Quotient, Emotional Quotient, dan Spiritual Quotient bangsa Indonesia. Penyebabnya, pendidikan tinggi di Indonesia pada dasarnya mengacu pada peningkatan mutu dan kualitas peserta didik dalam hal intelektual, mental dan spiritual. Dalam pelaksanaannya, pendidikan di Indonesai hanya mengedepankan perkembangan kecerdasan Intelektual (IQ) semata dan seringkali melupakan pentingnya kecerdasan emosional serta spiritual.

“Perlu diketaui, tingkat kesuksesan seseorang lebih banyak dipengaruhi oleh kecerdasan emosional. Sebagai contoh seorang yang kuat intelektualnya tetapi lemah emosional dan spiritualnya akan menjadi seorang yang otoriter. Contoh lain akan pentingnya Intellectual Quotient, Emotional Quotient, dan Spiritual Quotient adalah dalam pembentukan entrepreneur yang sejati. Seorang entrepreneur yang sejati akan menyeimbangkan ketiga unsur tersebut. Pada intinya ke depan pendidikan di Indonesia harus menyeimbangkan perkembangan ketiga unsur tersebut demi tercipta SDM yang berkualitas dan memiliki daya saing yang tinggi di kancah internasional,” tuturnya.

Minim Dukungan Politik

Sebagai penyelenggara pendidikan, Kadafi merasakan dunia pendidikan di Indonesia semakin berkembang. Selain dukungan dana 20 persen dana APBN untuk pendidikan, sejak lama pemerintah telah mencanangkan program wajib belajar sembilan tahun. Program ini membuat tingkat pendidikan di Indonesia meningkat dan mampu menekan tingkat angka tenaga kerja yeng tidak memiliki keahlian dan pendidikan dasar. Namun, cukup disayangkan bahwa program-program yang dijalankan pemerintah menjadi tidak maksimal akibat adanya pihak atau oknum yang tidak bertanggung jawab. Contohnya, pendanaan untuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS) banyak mengalami korupsi dimana-mana.

“Untuk kebijakan politik yang berdampak langsung terhadap dunia pendidikan masih bisa dibilang minim. Terlihat dari system penerimaan pegawai negeri sipil (PNS) dan honorer yang masih belum transparan hingga saat ini. Pemerintah seharusnya meninjau ulang terhadap kebijakan-kebijakan yang berkenaan langsung dengan system pendidikan yang ada, sebagai contoh tentang kurikulum yang diterapkan di Indonesia. Kurikulum dan segala kebijakan yang ada masih sebatas konseptual tapi belum aplikatif, seperti Kurikulum Berbasis Kompetensi yang aplikasinya masih mengedepankan konsep atau teori ketimbang aplikasi teori tersebut,” tuturnya.

Menurut Kadafi, Indonesia membutuhkan pendidikan yang sanggup melahirkan generasi yang siap menjalin pengetahuan berbasis integritas, mengejar pengetahuan untuk kemajuan bangsa dan mengembangkannya pengetahuan tersebut untuk bangsanya sendiri. Langkah awal yang harus ditempuh adalah menekankan pendidikan tiga tahun sesudah sekolah dasar untuk kewarganegaraan, pembentukan karakter, dan kehidupan bersama dalam masyarakat.

“Seperti yang diterapkan Jepang, sehingga ketika siswa memasuki jenjang menengah atas dan Perguruan Tinggi, siswa memiliki rasa cinta, berkarakter dan perilaku yang bertujuan untuk kemajuan bangsa. Untuk itu diperlukan kondisi ekonomi, politik, hukum, dan keamanan sangat berpengaruh terhadap jalannya proses pendidikan. Kondisi ekonomi yang stabil, politik yang santun, tertib dan elegan, supremasi hukum yang tegak dan tidak memihak akan menciptakan keamanan masyarakat. Pada akhirnya akan berdampak pada sektor pedidikan yang berkualitas,” tuturnya.

Secara berkelakar, Kadafi berandai-andai menjadi Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Seandainya menjabat Mendiknas, ia akan menyarankan kepada petinggi eksekutif dan legislatif agar alokasi anggaran APBN untuk pendidikan tidak hanya 20 persen, jika memungkinkan 50 persen bahkan kalau bisa lebih. Karena pendidikan harus menjadi prioritas utama dengan anggaran yg besar. Ia yakin, dengan anggaran sebesar itu, semua program pendidikan akan terealisasi. “Seperti yang pernah terjadi di Uzbeckistan. Hanya dalam satu dasawarsa jumlah sarjana yang dihasilkan di negara tersebut melebihi Perancis. Hebat,” ujarnya sembari tertawa.

Meskipun dalam kondisi pendidikan seperti sekarang, Kadafi tetap yakin bahwa generasi muda akan mampu melanjutkan ‘tongkat estafet’ kepemimpinan bangsa. Keyakinan tersebut dilandasi adanya keinginan pemerintah untuk memperbaiki kondisi pendidikan di Indonesia yang semakin intensif dilakukan. Semua itu dilakukan untuk menyiapkan kualitas generasi muda sebagai tulang punggung negara yang akan membawa kemajuan dan kesejahteraan bangsa di masa mendatang.

“Kalau pemudanya berkualitas maka berkualitas juga negara tersebut dan kalau pemudanya tidak berkualitas maka nasib negara tersebut pasti akan mengalami kemunduran. Dalam hal ini kita harus optimis bahwa pemuda sekarang sebagai generasi penerus bangsa akan mampu menjawab tantangan zaman. Untuk itu kita harus mempersiapkan mereka dengan kualitas pendidikan yang baik agar kelak mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan ini di masa yang akan datang,” kata Muhammad Kadafi, SH, MH.
Sekilas Universitas Malahayati

Latar belakang pendirian Universitas Malahayati dimulai saat Rusli Bintang, putra sulung pasangan Bintang Amin dan Halimah yang lahir pada hari Jum’at 28 April 1950. Beliau dikenal sebagai seorang usahawan yang cukup sukses, selain itu juga dikenal sebagai pendiri Yayasan dan Universitas Abulyatama Aceh.

Beliau adalah figur seorang anak yatim yang sukses dalam mengarungi kehidupannya. Sukses yang dicapai tersebut dibangun dari kerja keras dan tekat pantang menyerah. Sukses yang diraihnya sama sekali tidak membuat beliau takabur, tinggi hati dan lupa terhadap sesamanya.

Salah satu wujud kepedulian H. Rusli Bintang terhadap sesamanya adalah peran aktif di dunia pendidikan mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi. Sangat disadari oleh beliau bahwa pendidikan saat ini sangat diperlukan oleh masyarakat sebagai salah satu sarana pengembangan diri agar kelak mereka mampu mempertahankan hidup dan pengembangan kehidupan dengan sebaik-baiknya. Niat baik inilah yang mendorong beliau untuk mendirikan Yayasan Alih Teknologi (ALTEK) dan Universitas Malahayati di Bandar Lampung.

Yayasan ALTEK Bandar Lampung berdiri tanggal 20 Juni 1992 yang tertuang dalam Akte Notaris Nomor 114 tahun 1994. Didirikan dengan tujuan umum untuk mengembangkan dan mewujudkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas tinggi melalui jalur pendidikan tinggi.

Adapun tujuan khusus yang hendak diwujudkan oleh Yayasan ALTEK adalah:
 Membina, mengembangkan, dan menghasilkan peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkualitas, mandiri, bertanggung jawab, dan dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional
 Membina, mengembangkan, dan menghasilkan para pendidik dan karyawan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berkualitas, mandiri, bertanggungjawab dan dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional

Sebagai tindak lanjut untuk mewujudkan tujuan umum dan tujuan khusus, Yayasan ALTEK mendirikan suatu perguruan tinggi yang diberi nama UNIVERSITAS MALAHAYATI. Universitas Malahayati didirikan berdasarkan SK. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Rl No.02/D/0/1994 tanggal 28 Januari 1994.

Nama Malahayati diambil dari nama seorang panglima perang wanita berasal dari Aceh, yaitu Laksamana Malahayati. Malahayati merupakan figur seorang wanita Aceh yang cerdas, memiliki semangat juang tinggi, berani, tegas, ulet, tangguh, dan bertanggung jawab, yang senantiasa dilandasi oleh sinar keimanan dan ketaqwaan sesuai dengan ajaran Islam. Atas keperwiraannya itu Laksamana Malahayati dianugrahi gelar sebagai Pahlawan Nasional.

Untuk menghormati dan melanjutkan semangat juang Malahayati tersebut Perguruan Tinggi ini diberi nama Universitas Malahayati yang bertekat bulat untuk ikut serta secara nyata dalam pembangunan nasional bersama-sama, seiring dan sejalan dengan perguruan tinggi lain yang lebih awal hadir di Provinsi Lampung. Sebagai kiprah awal Universitas Malahayati, pada tahun ajaran 1994/1995 dibuka tiga fakultas pelopor dan satu akademi. Ketiga fakultas tersebut adalah:
1. Fakultas Kedokteran
2. Fakultas Teknik dengan empat jurusan: Teknik Mesin, Teknik Sipil, Teknik Manajemen Industri, dan Teknik Lingkungan
3. Fakultas Ekonomi dengan dua jurusan: Akuntansi dan Manajemen, sedangkan akademi yang dibuka adalah Akademi Keperawatan

Pada tahun 2002 didirikan Fakultas Kesehatan Masyarakat berdasarkan SK Dikti: No.137/D/T/2002, dan pada tahun 2004, sesuai dengan surat izin No. 44/0/D/T/2004 DIKTI tanggal 12 November 2004, Universitas Malahayati membuka Program Studi Keperawatan Strata Satu (S-1) yang ditempatkan di bawah Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati.

Pengadaan fakultas-fakultas itu melalui pertimbangan rasional yang matang, seperti pengadaan Fakultas-fakultas Bidang llmu Kesehatan dilakukan dengan pertimbangan antara lain untuk mengantisipasi dan memenuhi tenaga dokter dan para medis yang saat ini masih dirasakan kurang, pengadaan Fakultas Teknik tiada lain untuk mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan tenaga ahli di bidang teknologi canggih, sementara pengadaan Fakultas Ekonomi tiada lain untuk mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan tenaga ahli di bidang Akutansi dan Manajemen yang mampu menciptakan serta memperluas lapangan pekerjaan.

Yayasan ALTEK juga menyediakan beasiswa bagi calon mahasiswa dan mahasiswa Universitas Malahayati yang berprestasi dan berpotensi yang berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ada pun program ini bertujuan untuk:

 Ikut serta membantu memecahkan masalah-masalah yang ada di lingkungan masyarakat sesuai dengan kapasitas yang dimiliki
 Mengupayakan program penempatan kerja bagi peserta didik

Tujuan Universitas Malahayati adalah:
 Membentuk manusia Indonesia seutuhnya, senat jasmani dan rohani, memiliki
 pengetahuan dan keterampilan, kreatit dan bertanggung jawab, beriman dan bertaqwa kepadaTuhan Yang Maha Esa, serta berjiwa Pancasila
 Mengembangkan dan menyebarluaskan Ilmu Pengetahuan dalam bidang-bidang Kedokteran, Ilmu-ilmu Sosial, llmu-iimu Alam, Teknologi dan seni
 Menyiapkan sarjana yang Pancasilais, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, berpengetahuan luas dan bertanggung jawab untuk mengabdi, kepada bangsa, negara dan agama

Universitas Malahayati, sejak tahun Akademik 1996/1997 telah memiliki dan menernpati kampus sendiri yang terletak di atas perbukitan yang sejuk, nyaman dengan pemandangan yang indah ke arah Ibu Kota Provinsi. Lingkungan yang asri ini sangat mendukung proses belajar dan mengajar

Visi – misi Universitas Malahayati
 Untuk menciptakan manusia yang sehat, dengan pikiran sehat dan tubuh. Dikaruniai dengan pengetahuan, kreativitas dan keterampilan. Menanamkan dengan nilai-nilai tanggung jawab, iman dan kepercayaan yang lebih besar
 Untuk mengembangkan dan menyebarkan pengetahuan ilmiah di bidang kedokteran,ilmu sosial dan lingkungan serta seni dan teknologi
 Untuk mempersiapkan lulusan yang memiliki iman dan keyakinan yang kuat dengan pengetahuan yang luas, sehingga mereka akan berguna masyarakat bangsa dan agama

Program-program yang ada di Universitas Malahayati antara lain yaitu:
 Beasiswa untuk anak yatim piatu
 Santunan tehadap anak yatim yang diadakan setiap 2 kali dalam sebulan dan pada acara-acara yang diadakan oleh universitas malahayati.
 Program wajib asrama bagi seluruh mahasiswa/i Universitas Malahayati
 Program wajib mengikuti English for matriculation
 Progam pertukaran pelajar ke luar negeri
 Program beasiswa bagi dosen Universitas Malahayati
 Program standarisasi penjamin mutu bagi staf dan dosen dilingkungan Universitas Malahayati
 Program kunjungan belajar baik dosen maupun mahasiwa keluar negeri (comparative study program)
 Program kejasama dengan universitas luar negeri dalam bidang science dan research

Biodata Singkat:

Nama : Muhammad Kadafi
Tempat dan tanggal lahir: Aceh Besar, 8 Oktober 1983
Nama orang tua:
Ayah DR (HC) H. Rusli Bintang
Ibu Dra. Rosnati Syech
Anak ke-4 dari 6 Bersaudara

Pendidikan:

 2010 – hingga sekarang, Universitas Diponegoro, program doktor ilmu hukum.
 2007 – 2009 Lampung University, Lampung Law Masters
 2002 – 2006 Lampung University, Lampung
 Majoring: S1, Law/the best graduates of law faculty
 1998- 2001 Senior High School at SMA Negeri 9 Bandar Lampung
 1995 – 1998 Junior High School at SMP Negeri 1 Banda Aceh
 1989 – 1995 Elementary School at Madrasah Ibtidaiyah Negeri I Banda Aceh