Tag: bisa

Drs. H Wirsad Yunuswoyo, M.Pd

No Comments

Drs. H Wirsad Yunuswoyo, M.Pd
Kepala Sekolah SMAN 4 Cirebon
Kerja Keras dan Tujuan Yang Jelas Mengangkatnya Berprestasi
Berangkat dari menjadi guru di SMP Negeri 3 Cirebon, Jawa Barat, pada tahun 1978, Drs. Haji Wirsad Yuniuswoyo, M.Pd, yang pegawai negeri sipil dan  kepala sekolah SMAN 4 Cirebon ini mengaku  kalau karier pendidikan gurunya selalu berpindah-pindah sekolah. Sebab satu tahun kemudian tepatnya 1979, guru bidang study matematika ini berpindah kembali ke SMP Negeri 4 Cirebon. “Di SMPN 4 inilah, masa pengabdian saya cukup panjang, “ungkapnya.
Sebab pada tahun 1990, barulah ia berpindah sekolah lagi, atau tepatnya ke SMAN 3 Cirebon. Namun sebelumnya, kata Wirsad, pada tahun 1987,  ia sempat masuk menjadi guru inti PKG (Pemantapan Kerja Guru) sebagai guru inti di bidang  mata pelajaran matematika selama 3 tahun. Bapak tiga anak ini mengaku perjalanannya cukup panjang untuk sampai ke jabatan kepala sekolah.
Program pemantapan kerja guru ini merupakan hasil kerjasama dengan world bank. Hasilnya cukup baik, dan banyak dijadikan model pelatihan oleh guru lingkungan sekolah. Selain itu  PKG juga telah sedikit mengubah paradigma tentang ketakutan siswa pada bidang study matematika, “Artinya ketakutan yang berlebihan itu bisa kita atasi, jadi kalau ada siswa yang nilai matematikanya buruk, itu karena mereka tidak memahami dan mengerti, termasuk kurangnya latihan,“ paparnya.
Menurutnya, berbagai pengalaman yang telah ditimbanya, mulai dari guru teladan Tingkat Jawa Barat, pada tahun 1997 hingga kepada organisasi  persaudaraan haji, sebelum kemudian menjadi kepala sekolah berprestasi di tahun 2007. “Pada tahun 1993 hingga 1996, saya pernah mengabdi menjadi guru di SMAN 6 Cirebon, yang dahulu adalah Sekolah Guru Olahraga (SGO),“ katanya. Bahkan di tahun yang sama, ia sempat mengikuti RECSAM (Regional Education Course Science An Mathematic) di Malaysia selama 6 bulan kemudian menjadi instruktur PKG matematika se-Jawa Barat.
“Sebelum Propinsi Banten meminta memisahkan diri untuk menjadi Propinsi baru dari propinsi Jawa Barat, saya sering mengadakan perjalanan (study banding dan pembinaan kepada guru-guru Matematika) ke daerah tersebut, “ungkapnya. Bukan hanya Serang, Pandeglang, tapi juga hingga ke daerah Lebak dan Cibakung.
Memang pengalaman panjang telah membuatnya banyak menorehkan prestasi akademik. Namun bukan Wirsad, kalau tidak bisa membawa sekolah yang dipimpinnya maju dan berkembang. Dengan bekal berpindah-pindah sekolah, dan pengalaman mengikuti training serta pendidikan leadership, lambat laun bapak yang beristrikan hajjah Yanthi Sri Iryanti ini pun semakin matang. Tak heran, jika ia pun menyelesaikan kembali sekolahnya di program pascasarjana/M.Pd.
Sarjana pertamanya ia selesaikan S1 bidang Matematika. Wajar saja bapak dua putra dan satu putri ini mengenyam banyak bidang prestasi, karena pada tahun 1993 hingga 1998, ia pernah menjadi penulis buku Matematika, yakni Aritmatika untuk SMP-SMA dengan penerbit Intan Pariwara,  Tiga Serangkai, dan Pakaraya serta LKS Matematika. “Sayangnya LKS yang semula merupakan pembelajaran yang dikembangkan oleh negara Inggris untuk memudahkan siswa mempelajari materi pelajaran dengan metoda penemuan, di Indonesia justru dijadikan tempat menulis soal-soal, ini sebuah ironi,” tuturnya dengan nada kecewa.
Karakternya yang kalem dan penuh karismatik, telah membuatnya disenangi berbagai warga sekolah yang dipimpinnya. Tak heran bila ia telah mengikuti berbagai pendidikan yang sifatnya menunjang profesinya. “Kerjasama antar sekolah (sister school) dengan berbagai negara, telah membuatnya makin kaya akan pengetahuan yang didapat. Ia pun kerap bepergian untuk mengadakan studi banding tentang pendidikan pada sekolah di negara yang dikunjunginya.
Namun begitu, tidak dipungkiri pula untuk menjalin kerjasama dengan negara lain seperti China dan Australia. Setelah dipikirkan, Australia merupakan pilihan utama dan solusi yang tepat, mengingat jarak kedua negara ini relative dekat dan tidak membutuhkan biaya yang mahal untuk sampai ke Australia. “Namun begitu, saya sebagai Kepala SMAN 2 Cirebon juga mendapat tawaran untuk bekerja sama dalam rangka sister school di negara Turki. Pada saat ke Turki ada sedikit kemacetan komunikasi, terutama masalah penggunaan bahasa Inggris, mereka/orang Turki lebih senang bicara bahasa Turki, “jelasnya. Namun belum lama beristirahat sepulangnya dari Turki, ia pun mendapat tugas baru menjadi untuk memimpin sebuah sekolah SMAN lagi yaitu SMAN 4 Cirebon.
Panggilan itu pun diterimanya dengan tenang, tanpa terpaksa, apalagi gundah gulana. Baginya jiwa pendidik merupakan nomor satu untuk mengabdi, tantangan di bidang pendidikan. Tantangan itu pun ditanamkan dalam benaknya, dan berusaha untuk menjadikan sekolah yang dipimpinnya menjadi sekolah unggulan dan memiliki prestasi yang menonjol. “Saat ini yang terpenting adalah mutu atau kualitas. Jadi apakah itu sekolah swasta atau negeri, kalau memang kualitasnya bagus, maka ia berhak untuk menjadi sekolah favorit.”
“Semangat, disiplin, serta menerapkan peraturan sekolah kepada warga sekolah, merupakan mutu keharusan,“ ungkapnya. Peraturan yang ketat ini dilakukan, sebagai wujud kasih sayangnya kepada warga sekolah agar mereka hidup teratur jiwa dan raganya. Tidak boleh ada siswa maupun guru terlambat masuk sekolah. Baginya keterlambatan mereka sama saja dengan membuat sekolah menjadi berantakan.
Bapak yang memiliki motto Segala yang akan dilakukan harus jelas tujuannya ini mengaku juga pernah menjadi kepala sekolah  di SMAN 9 Cirebon pada tahun 1999-2001. “Waktu itu sekolah ini masih baru lagi, dan saya ditunjuk untuk menjadi kepala sekolah, Namun biarlah dan ini merupakan tantangan,“ ungkapnya. Sebab katanya, selain harus berhadapan dengan lingkungan yang baru siswa-siswinya, juga kepada masyarakat sekitar. “Hal ini bukan pekerjaan yang mudah, mengingat dibutuhkan sosialisasi yang tinggi, agar masyarakat mau menerima kehadiran sekolah dan isinya.
“Saya terpaksa harus bersikap tenggang rasa dan tidak ketat, maklum lingkungan baru dan sekolah baru, jadi harus dipahami dan dimengerti persoalan mereka.” Namun, bukan begitu juga lembeknya atau membiarkan sekolah tanpa kerjasama dengan masyarakat, Wirsad juga mengaku pernah memberikan semacam ultimatum berupa ancaman kepada masyarakat, agar mau dan  rela membantu sekolah baru tersebut. Sebab jika masyarakat setempat enggan membantu perkembangan sekolah, ia pun mengancam akan melaporkan kepada Walikota untuk memindahkan sekolah tersebut, namun sebaliknya jika mereka membantu dan mendukung sekolah, maka pihaknya akan meminta walikota untuk membuatkan proyek jalan masuk ke sekolah dan desa-desa sekitarnya.
Akhirnya masyarakat yang semula menolak kehadiran sekolah tersebut bersedia mendukungnya dengan menjaga dan melestarikan kawasan sekolah dari aksi vandalisme alias coret-coret, termasuk mengizinkan angkot masuk ke kawasan sekolah. “Semula mereka menolak kehadiran angkot, karena mereka menganggap kehadiran angkot telah mengambil ladang mata pencaharian ojeknya,“ tutur Wirsad.
Ia menambahkan walaupun sebagai guru matematika, namun tidak bisa memaksakan kehendaknya agar siswa-siswi di SMAN 9 menjadi juara matematika, mengingat kemampuan siswa dari desa tersebut kurang mumpuni. Namun setelah melihat badan siswa-siswi sekolah itu  besar-besar, barulah ia berpikir untuk membawa potensi keunggulan tersebut dalam bidang olahraga. “Akhirnya mereka dapat meraih prestasi dengan  menjadi juara cabang atletik, volley ball, di berbagai kompetisi sekolah maupun kejuaraan tingkat daerah,“ ceritanya.
Padahal tempat latihan volley ball pun tidak memadai, tiang net terbuat dari bambu, garis di tanah dari kapur, tapi semangat mereka yang pantang menyerah untuk berprestasi memecutnya untuk meraih juara. Memang bukan hanya cabang atletik, lomba baris berbaris atau paskibraka juga meraih juara. “Tapi ya itu juaranya dalam bidang fisik, tetapi belum ke bidang sains/keilmuan,“ paparnya. Dua tahun menurutnya ia memimpin sekolah di SMAN 9 Cirebon tersebut.
Selanjutnya, kepala sekolah di SMAN 7 Cirebon pada tahun 2001-2007. Ironinya, belum memimpin sekolah, ia sudah mendapat laporan dari kepala kelurahan dan RW setempat bahwa sekolah ini sering tawuran dengan sekolah SMK. Bukan Wirsad kalau tidak bisa mengatasi segala persoalan yang dihadapinya, dengan bekal pengalaman yang banyak memimpin dan mengajar di sekolah, ia pun lalu berpikir untuk  menjembatani dan mengajak berdamai  atau menggalang kerjasama dengan pihak SMK. “Kebetulan kepala sekolah SMKnya adalah adik kelas saya saat kuliah di S2, jadi mudah untuk diajak berkomunikasinya, “paparnya. Setelah keduabelah pihak mengadakan pertemuan, baik guru maupun siswanya, tawuran yang selalu terjadi itu, akhirnya berdamai.
Berturut-turut kepala sekolah di SMAN 3 Cirebon Januari hingga Juni 2008, dan SMAN 2 Cirebon tahun 2008 -2010. Kini perjalanannya sekarang adalah sebagai kepala sekolah di SMAN 4 Cirebon. “Penempatan itu baru diberikan pada bulan Juni 2010, “paparnya.
Banyak liku-liku yang dihadapinya dalam mengabdi sebagai kepala sekolah. Mulai dari membenahi infrastruktur sekolah, hingga kepada bagaimana mensosialisasikan sekolah ke masyarakat, dan mendidik siswa dan guru-guru untuk selalu unggul. “Bayangkan saja di SMAN 3 Cirebon, saya harus memperbaiki sarana dan prasarana olahraga, “ungkapnya.
Selain sebagai kepala sekolah, Haji Wirsad, juga menyempatkan diri untuk memberikan motivasi untuk siswa-siswinya dengan memberikan motto berupa bekerja penuh ihklas sehingga merasa tidak beban, kedua, rajin beribadah, ketiga, semangat, keempat, tidak mudah putus asa, kelima, tanggungjawab dan jujur, keenam, setiap kesempatan jangan ditunda-tunda, dan kesempatan tidak selalu datang dua kali, ketujuh, mengerjakan sesuatu langsung jangan sampai ditunda-tunda, kedelapan, dapatkan informasi secepatnya/duluan, mendapatkan informasi duluan, berarti ilmu pengetahuan kita dapat duluan, dan kesembilan, berserah diri pada Allah. Jika kita menerapkan atas sikap-sikap di atas, insya Allah kita dapat menjadi orang yang sukses.
“Pak Wirsad adalah tipe pekerja keras, terbukti hanya dalam hitungan bulan di SMAN 4 Cirebon sudah banyak yang dibenahi, terutama pada infrastruktur, seperti rehabilitasi laboratorium computer dan ruang PSB (Pusat Sumber Belajar), perbaikan kursi, taman dan sarana prasarana kegiatan ekstrakurikuler,“ jelas Kepala Tata Usaha SMAN 4 Cirebon
Dalam bidang pembinaan kesiswaan, Wirsad yang lahir di Cirebon 29 Juni 1957 ini, juga telah mencanangkan kedisiplinan dengan menggunakan system point, mengadakan apel siaga pada jedah waktu, antara pasca UAS hingga dengan menjelang pembagian raport. “Obsesinya adalah bagaimana agar lulusan siswa-siswi SMAN 4 Cirebon ini dapat berkompetisi dan bersaing di dunia nasional maupun internasional,“ kata Drs. Irman Darojat, Guru SMAN 4 Cirebon.
Menurut Wirsad, visi dalam sekolah ini  adalah bagaimana menjadikan siswa yang bertakwa dan berprestasi. Bertakwa disini, maksudnya kata Wirsad adalah yang berkaitan dengan masalah kecerdasan spiritual, sedangkan berprestasi pengertiannya luas, menyangkut akademisi, non akademis, atau intelegensia, dan berakhlak mulia menjadikan siswa sebagai insan kamil, sopan santun, cerdas, dan berbudi pekerti.
Ditambahkan untuk misi sendiri itu ada lima besar, yakni pertama,  membina keimanan dan meningkatkan ketakwaan, artinya siswa yang masuk sekolah di sini, harus sudah memiliki keimanan dan juga ketakwaan. “Jadi jangan sampai kering begitu.” Kedua, Mengembangkan pendidikan yang berorientasi pada keunggulan, artinya pendidikan itu harus dikembangkan, jangan begitu saja, atau hanya sekedarnya, melainkan bagaiman pendidikan berkualitas. Ketiga, meningkatkan kemampuan dan kecakapan peserta didik, serta membina minat dan bakat secara kreatif, artinya, siswa dituntut untuk mampu dan memiliki ketrampilan, serta minat dan bakat yang baik. Dengan bakat dan minat yang berbeda-beda, diharapkan mereka bisa memilih mana yang sesuai dengan hati nuraninya atau tidak, misalnya mereka ingin memilih kedokteran, “kalau memang arahnya ke sana, maka kita bimbing, begitu pula dengan bakat, jika bakatnya di bidang olahraga, maka kita arahkan ke olahraga, begitu dan seterusnya, “jelas Wirsad. Harapan lainnya adalah bagaimana unsur tersebut bisa mengangkat nama sekolah, sehingga sekolah  bisa unggul. Ternyata misi sekolah ini membuktikan dengan siswa berprestasi di bidang olahraga, seperti silat, tinju dan atletik dan sebagainya. “Mereka ini merupakan atlet-atlet nasional, yang banyak berkiprah membantu dan mengharumkan nama bangsa dan negara di arena internasional, “ungkap Wirsad. Keempat, membina sikap ilmiah, disiplin dan tanggungjawab.
Selain harus menjalankan visi dan misi sekolah, strategi lain yang dikembangkan Wirsad, adalah melakukan pendekatan dengan siswa dan guru. Cara ini cukup efektif, kenyataan banyak siswanya memberikan segudang prestasi dan piala. Begitu pula dengan guru-gurunya,  mereka pun menunjukan kualitas pengajarannya dengan baik. Bahkan Wirsad tak segan-segan membantu mereka untuk mendatangkan para ahli untuk dijadikan nara sumber tukar menukar pikiran atau pendapat “Shearing” guna kemajuan sang guru. Ia pun juga kerap terjun memberikan nasihat dan wejangan, terutama terkait dengan metode belajar mengajar yang bisa dipahami siswa.
Kenyataan sikapnya yang ramah, sopan santun, dan demokratis kepada semua orang, membawa dirinya banyak diminati warga sekolah. ”Mereka mengaku merasa kehilangan jika Pak Wirsad harus pindah sekolah,“ kata Dra. Siti Rochani, Guru Ekonomi. Prinsip Wirsad adalah bagaimana mencontohkan sikapnya yang benar kepada warga sekolah. “Seribu nasihat tidak akan bermanfaat, jika contoh atau sikap yang kita tunjukan tidak sesuai dengan tingkah laku.”
Pola pendekatan dalam bentuk tingkah laku ini, ternyata sangat berpengaruh terhadap kehidupan kepemimpinan Wirsad. Terbukti banyak sekolah yang telah ditinggalkan, saat berkunjung ke tempat itu lagi, ia mengaku mendapat sambutan yang berlebihan. Hal ini tidak terlepas dari peran dan kinerjanya yang dirasakan warga sekolah sebagai hal yang baik dan profesional.
Banyaknya sekolah yang dipimpinnya berkembang dan maju, juga merupakan bukti bahwa kemampuannya dalam mengembangkan sekolah sudah profesional dan managerial. Untuk itu, tidak ada sesuatu hal yang berhasil tanpa dibarengi kerja keras yang sungguh-sungguh. Itulah harapannya kepada semua guru, agar generasi  berikut  bisa mengikuti langkahnya yang baik. Ia berharap siswa dan guru serta orangtua murid memahami konsepsinya akan kemajuan sekolah. Sebab katanya, kepala sekolah hanya jabatan sesaat, selanjutnya mereka yang akan menjalani. Demikian ungkapan Haji Wirsad Yuniuswoyo dalam bincang-bincangnya. Semoga apa yang dicita-citakan untuk kemajuan sekolah dapat terkabulkan, dan generasi muda dapat melanjutkan kegiatannya untuk menjadikan pendidikan yang bermutu.

Drs. Tarwan , MT

No Comments

Drs. Tarwan , MT
Kepala Sekolah Menengah SMK Penerbangan Dirghantara

Terus Membangun Demi Terwujudnya Target Sekolah Unggulan Tahun 2010

Sebelum berhasil meluluskan siswanya, Sekolah Menengah Kejururuan  Penerbangan Dirghantara ( SMK-PD ) telah memperoleh predikat akreditasi “B”. Dengan predikat tersebut kualitas ataupun persyaratan Sekolah  Menengah Penerbangan di Curug ini diakui pihak yang berwenang. Tentu saja ukuran untuk sekolah baru SMK-PD yang baru berdiri tahun 2005 predikat ini sangat membanggakan.

Pada awal berdirinya SMK-PD ini banyak berkonsultasi/ berhubungan dengan SMKN 29 Jakarta, meliputi sistem kurikulum, sistem pembelajaran, tenaga pengajar kebutuhan laboratorium dan lain-lain. Seiring dengan perjalanan waktu SMK-PD dapat Mandiri, artinya diperkenankan melaksanakan Ujian Nasional sendiri. Padahal diperkirakan sebelumnya Ujian Nasional pertama harus bergabung dengan SMK lain yang sesjenis dan  yang terdekat adalah SMK 29 Jakarta, dan apabila hal itu terjadi memerlukan biaya  tak sedikit yang harus ditanggung oleh para siswanya terutama untuk transportasi.

Bermodalkan predikat akreditasi, dapat membantu sekolah dalam menyampaikan beberapa hal dan kendala yang dihadapi oleh sekolah kepada masyarakat. Dengan kerja keras dan berbagai upaya, akhirnya sedikit demi sedikit fasilitas sekolah dapat dilengkapi. Lulusan pertama SMK-PD adalah 73 orang siswa, sebagian besar sudah diterima dan bekerja di maskapai penerbangan dan sebagian melanjutkan studi. Tidak tahu kenapa anak-anak kami cepat terserap oleh pasar”kata Drs. Tarwan, MT, Kepala Sekolah SMK Penerbangan Dirghantara.

Tidak hanya berhenti disitu, tahun berikutnya bahkan beberapa maskapai penerbangan nasional mendatangi SMK-PD, dengan tujuan  merekrut dan mengikat siswa sebelum mereka “ diambil” oleh perusahaan lain setelah lulus sekolah. Tahun  2009/2010 GMF dapat merekrut 16 siswa, sebagian sedang mengikuti proses rekrut Lion Air. Sementara lulusan umumnya direkrut melalui jalur normal di berbagai maskapai penerbangan, sebagian lainya melanjutkan ke Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI-Curug), Universitas Nurtanio ( UNUR –Bandung ) dan lainnya.

Kepada siswa yang sudah lulus, Tarwan panggilan akrabnya berpesan agar mereka agar tidak pernah berhenti belajar. Lulus dari SMK bukan berarti tugas anda telah selesai, justeru tugas lebih besar telah menanti didepan kita. Mereka akan menghadapi dunia penerbangan yang sebenarnya, yaitu dunia yang tidak mentolerir kesalahan sedikitpun, yang bisa berakibat fatal.

“Mereka harus terus belajar dan belajar.Tantangan di dunia penerbangan relatif berat, karena teknologi penerbangan selalu berkembang dan akan

terus berkembang . Kami mendidik sesuai   dengan kemampuan yang kami miliki, dan kami akui masih banyak lubang yang kitaenahi. benahi” kata pria kelahiran Purwokerto, 12 Agustus 1948 ini
Tarwan sadar, sebagai lembaga pendidikan  baru, baik secara fisik maupun sofware masih banyak kekurangan. Untuk itu  secara operasional setiap saat sekolah melakukan perbaikan-perbaikan yang dirasakan  mendesak, tidak tanggung-tanggung ia merencanakan menjadi SMK Penerbangan Dirghantara Curug sebagai SMK Penerbangan Unggulan pada tahun 2020.

Saat ini, Tarwan sedang membangun kesamaan visi dari semua unsur yang ada di sekolah. Tidak bosan bosanya ia mensosialisasikan secara terus menerus agar komitmen dari semua unsur dapat terbangun. Karena syarat untuk mencapai target menjadi sekolah unggulan tahun 2020 salah satunya adalah adanya komitmen dari semua unsur, sumber daya uang dan sumber daya lainya.

Sebagai sekolah yang ingin mendapatkan predikat sekolah Unggulan, Tarwan telah membuat suatu program semacam master plan dari tahun 2010 – 2020.
Tahun 2010, berkonsentrasi pada pembangunan prasarana/fisik untuk kesiapan akreditasi ulang, membuka kompetensi keahlian baru ( Instrumen Avionic Pesawat Udara ) untuk meningkatkan kinerja.
Tahun 2011, SMK-PD berkonsentrasi untuk pembenahan administrasi guru, administrasi perkantoran, administrasi pembelajaran, dan juga persiapan administrasi ulang ( 2 ) dengan sasaran mendapatkan predikat “A”
Tahun 2012, SMK-PD konsentrasi pada pelaksanaan akreditasi ulang, pembinaan tenaga kependidikan, peninjauan struktur organisasi guna meningkatkan kualitas pembelajaran.
Tahun 2013, SMK-PD kembali konsentrasi pada pembangunan prasarana / fisik lanjutan , pengadaan sarana pendidikan lanjutan dan mengajukan usulan Sekolah Standar Nasional ( SSN )
Tahun 2015, SMK-PD konsentrasi pada implementasi SSN, pemantapan SSN, penerapan ISO, usulan Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) , SBI untuk menuju Sekolah Unggulan
Tahun 2020, diharapkan target yang dicanangkan  SMK-PD bisa tercapai  kalau tak ada perubahan kebijakan yang mendasar, menjadi Sekolah Unggulan di Indonesia.

“ Semua itu memang perlu kerja keras dan perjuangan berat. Karena sistem dalam sekolah ini belum satu jalan,  maka masih perlu pembenahan . Sebenarnya untuk mencapai SSN persyaratan  hampir memenuhi, yaitu tinggal kelengkapan peralatan  plus pengajar dengan bahasa inggris hanya  beberapa orang, untuk ISO dengan  syarat tertib administrasi tidak terlalu masalah kalau memang kita ingin komitmen

Komitmen menjalankanya. Kemudian seperti diuraikan diatas setelah SSN, ditingkatkan RSBI yang mensyaratkan guru yang mengajar dengan pengantar bahasa Inggris lebih banyak lagi. Bagi kami hal ini tidak terlalu bermasalah, karena sebagian pengajar kami yang notabene dosen STPI terbiasa mengajar siswa dari negara asing, yakinnya.

Semua rancanan yang disusun Tarwan dimaksudkan untuk membangun SDM penerbangan yang handal dalam menghadapi globalisasi. Disamping membekali ketrampilan teknis, lulusan SMK Penerbangan Dirghantara diharapkan mampu berbahasa Inggris dengan lancar. Rencananya, ia ingin merekrut tenaga pengajar dengan penguasaan bahara Arab. Mengingat sekarang ini di era globalisasi persaingan tenaga kerja sangat ketat dari seluruh penjuru dunia.

“Jadi kalau bisa tidak hanya bahasa Inggris tetapi bahasa asing lainnya juga, karena peluang bidang ini masih sangat terbuka lebar. Kalau kita mampu mencetak lulusan yang qualified di luar negeri masih banyak yang bisa  menampungnya. Dari pada kita mengirim TKI yang non ketrampilan, mendingan mengirim yang begitu kan . Maka saya berangan-angan merekrut lulusan dari Madrasah, kita didik dan kita kirim ke luar negeri, beherja sama dengan Depnaker. Peluang besar di bisnis bidang penerbangan untuk orang-orang kompeten dan punya sikap,”tandasnya.

Jajaran Perintis

Drs. Tarwan, MT, sebelumnya  sebagai salah satu Instruktur Sekolah Tinggggi Indonesia (STPI), pada tahun 1987 ditugaskan sebagai pengajar Mekanika Teknik pada Jurusan Teknik Penerbangan. Ia juga ditugaskan sebagai tenaga fungsional sebagai Pimpinan Instalasi Teknik Umum.

Tahun 1996, Tarwan mendapat kesempatan untuk melanjutkan  pendidikan pada jenjang Magister(S2) di ITB jurusan yang diambilnya sesuai dengan pekerjaan sehari-hari berkutat didunia penerbangan. Magister Teknik  diselesaikan pada tahun 1998, masih tetap mengajar. Kemudian  ditugaskan sebagai Kepala Sup Penyusunan Program kurang lebih selama setahun. Selanjutnya diberikan kesempatan sebagai Kepala Balai Diklat Penerbangan di Palembang( akhir 2000 s/d akhir 2004.

Anak keempat dari empat bersaudara pasangan Sumardi dan Rakyah (almh) kemudian ditugaskan sebagai dosen tetap di STPI dengan pangkat Lektor Kepala. Tugas ini memberinya banyak waktu luang pada sore hari yang dimanfaatkan untuk mengabdi kepada masyarakat. Salah satunya ikut bergabung sebagai  staf pengajar pada SMK  dilingkungan Curug.

Secara resmi SMK Penerbangan Dirghantara berdiri pada tahun 2005 berlokasi  di kompleks STPI Curug. Sejak awal ia ditugasi sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum kemudian merangkap  sebagai Pelaksana Teknis Operasional (PTO) SMK-PD ( 2008-2009). Pekerjaan yang dilakukanya laksana Kepala Sekolah, karena Kepala Sekolah sudah sepuh hanya saja PTO tak berwenang menandatangani surat-surat resmi. Baru pada bulan Maret 2010  Tarwan kemudian diangkat sebagai Kepala Sekolah SMK-PD secara definitif.

“Visi kami para lulusan SMK Penerbangan Dirghantara Curug, handal dibidangnya masing-masing. Visi yang kita usung adalah “ Menyiapkan teknisi handal dibidang Mesin dan Rangka Pesawat Udara, Instrument dan Avionic Pesawat Udara, berdisiplin, bertanggung jawab dan bermartabat, target kami

terutama ingin membina anak didik agar tangguh, kreatif dan bertanggung jawab dilapangan sesuai bidangnya masing-masing”ungkap ayah empat anak hasil pernikahannya dengan Theresia Haryatun ini.

Oleh karena itu SMK Penerbangan Dirghantara dibawah kepemimpinan Tarwan pada pembinaan sikap yang salah satunya adalah disiplin. Sebagai tolok ukur atau tepatnya cermin adalah Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia ( STPI ) Curug Tangerang, walaupun secara umum belum mencapai kondisi yang menyerupai dalam cermin, tetapi upaya menumbuhkan sikap tersebut terus dilakukan, apalagi sebagian adalah dosen STPI.
“Kita mencoba  menekankan sikap disiplin sebagai budaya yang harus dilaksanakan . Disamping itu sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku kami juaga mengupayakan beberapa type mesin sebagai sarana pelatihan. Meskipun  kita hanya beli mesin bekas karena harga mesin baru mahal dan tak terjangkau , karena kita harus memiliki guna memenuhi persyaratan. Karena predikat akreditasi kita baru “B” nanti kita ingin meningkat menjadi “A”. Kita sedang berupaya untuk bisa memiliki pesawat/mesin yang untuk praktek, bisa juga diterbangkan”ujar pemilik motto ‘Semua yang dihadapi dijalani dengan ikhlas’ ini menguraikan harapanya.

Masuk Angkatan Laut.

Awalnya Drs. Tarwan, MT tidak sedikitpun bercita-cita mejadi guru. Sebagai anak petani biasa, lebih tertarik menjadi tentara. Karena pada saat itu masuk AKABRI ( Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ) masih relatif mudah, tak perlu koneksi maupun persyaratan lai, semua berdasarkan atas prestasi dan kemampuan masing-masing secara obyektif.

“Sejak kecil saya ingin masuk Angkatan Laut, itu cita-cita saya karena pakaianya putih rapi dan kalau berbaris bagus. Tetapi orang tua punya pepatah Jawa “ mangan ora mangan anggere kumpul” maka saya mendaftar sekolah yang relatif dekat rumah. Pada saat itu yang sejalan dengan lulusan STM adalah APTN ( Akademi Pendidikan Teknologi Negeri ) yang lulusanya menjadi calon guru STM dan berubah menjadi ATN ( Akademi Teknologi Negeri ) sementara saya sendiri tidak senang menjadi guru. Karena pada saat itu menjadi guru relatif mudah ( untuk mengisi lowongan karena banyak guru tersangkut G.30 SS/PKI ), sehingga bila punya Ijasah setinggkat SLTP, kita ikut kursus beberapa bulan sudah bisa jadi guru ( SR). Jadi saat itu menurut saya profesi guru kurang menantang” tuturnya.

Setelah lulus dari Akademi Teknologi tahun 1974, Tarwan kemudian “merantau” ke Tangerang. Saat itu kota satelit Jakarta ini sedang giat pembangunan pabrik secara besar-besaran. Ia bekerja dibidang pemasangan mesin dan kemudian bekerja pada suatu perusahaan di Tangerang, dengan jabatan Kepala Seksi Maintenance Produksi hingga memiliki anak. Tahun 1978, ia mulai berpikir sesuai dengan karakternya yang tidak bisa berspekulasi, karena bekerja di swasta terasa pasang surut, sehingga kurang tenang, maka mencari peluang untuk menjadi PNS, karena walaupun gaji kecil  tetapi kontinyu.

Tarwan kemudian mencoba mendaftarkan diri ke Departemen Perhubungan yang saat itu membuka lowongan. Ia diterima dan ditempatkan di Curug sebagai Instruktur. Artinya  profesi yang selama ini dihindari dan dianggap kurang menantang akhirnya harus dijalani. Awalnya ia bertugas sebagai seorang Instruktur hanya sebatas  tanggung jawab pekerjaan saja. Namun lambat laun ia sangat menikmati dan enjoy sebagai guru.

“Karena setiap hari mengajar dan merasa enjoy tadi, sekarang bahkan saya ingin menularkan pengetahuan yang saya miliki kepada orang lain . Jadi guru senang bila melihat siswa-siswanya lebih maju menjadi orang yang bermanfaat. Filosofi hidup saya adalah “bekerja apa yang saya bisa kerjakan dengan kesungguhan dan keikhlasan”, kata pria yang tidak suka bawa pekerjaan kerumah ini.

Sebagai pimpinan di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Swasta, Tarwan merasa perhatian pemerintah masih terbatas. Dengan dana APBN 20 persen, perhatian kepada sekolah swasta masih tetap kecil. Ia mengibaratkan masih terasa dianak tirikan  sedangkan sekolah negeri dianak emaskan.

“Ini masih kurang adil, mestinya sekolah swasta agak lebih diperhatikan lagi. Harusnya ada keseimbangan, meskipun sekarang sudah mulai menerima bantuan terkesan sekadarnya saja” kata pria yang terkesan awet muda ini. Ia membocorkan rahasia awet muda yang dimilikinya, yaitu tidak pernah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. “ Saya tidak bisa hati saya berdebar-debar. Pokoknya saya bersyukur dengan hidup apa adanya seperti  sekarang ini” imbuhnya.

Mengakhiri pembicaraan, Tarwan berpesan kepada generasi muda agar bersungguh –sungguh dalam mengembangkan bakatnya . Setiap bakat merupakan anugerah Tuhan, apapun bentuknya tidak boleh disia-siakan dan harus ditekuni. Sebisa mungkin orang tua tidak memaksakan kehendak yang tidak sesuai dengan bakat anak” cukup mengarahkan dan menunjangnya.” Yang nantinya malah bisa kontra produktif dan dapat menghancurkan masa depan si anak “ Pokoknya talent atau bakat apapun bagus asalkan ditekuni dengan sungguh-sungguh. Semua harus dilakukan dengan benar-benar dan secara total, yang Insya Allah hasilnya akan optimal” tegasnya.

Sutar, SE, MM

No Comments

Sutar, SE, MM
Ketua Yayasan Perguruan Ksatrya Lima Satu

Hidup Penuh Tantangan Menuju Kesuksesan

Setiap orang sadar akan perjuangan dalam hidup. Yakni jalan yang harus ditempuh untuk menuju kesuksesan. Di mana setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk mencapainya. Semua tinggal bagaimana upaya yang dilakukan untuk mencapai keinginan tersebut. Selebihnya, ada kuasa Tuhan yang menentukan sukses tidaknya kehidupan seorang manusia.

“Hidup adalah perjuangan, pekerjaan adalah harapan dan kesuksesan merupakan impian manusia di dunia yang penuh dengan dinamika. Semua manusia mengharapkan kehidupan yang layak, pekerjaan yang mapan serta kesuksesan dalam setiap langkahnya. Tetapi impian tinggal impian. Manusia hanya bisa berharap dan berangan-angan untuk kesuksesan hidup karena Allah SWT telah menentukan jalan hidup setiap manusia,” kata Sutar, SE, MM., Ketua Yayasan Perguruan Ksatrya Lima Satu.

Nasib setiap manusia, lanjutnya, sudah tertulis dan tersirat dalam garis kehidupan masing-masing. Setiap manusia tinggal menunggu kapan tepatnya waktu kesuksesan berpihak dalam kehidupannya. Dan, pada detik-detik penantian tersebut manusia harus termasuk berusaha untuk menciptakan dan meraih kesuksesan dalam hidupnya.

Salah satu contoh paling tepat adalah pengalaman hidup Sutar sendiri. Dengan tanpa berhenti berusaha dan bekerja keras, perlahan namun pasti kesuksesan demi kesuksesan diraihnya. Bagaimana tidak, berangkat dari keluarga sederhana dan miskin di kampung halaman, ia berkembang menjadi seorang pendidik yang sukses mengelola tiga buah sekolah.

Perjalanan hidup penuh liku dan perjuangan harus dilalui Sutar sejak kecil. Ia datang ke Jakarta ikut pamannya dengan tujuan melanjutkan sekolah. Di luar jam sekolah, ia membantu pekerjaan sang paman di Yayasan Perguruan Ksatrya. Di yayasan inilah, ia juga menyelesaikan pendidikan menengah atas di SMK Ksatrya.

“Saya awalnya dari nol, datang ke Jakarta ikut paman untuk melanjutkan sekolah. Pagi membantu paman, setelah itu masuk sekolah dan kemudian membantu paman lagi, ikut bekerja di sini. Saya ketemu dengan pengurus, dan sambil bekerja di sini saya bisa menyelesaikan sekolah sampai jenjang S1 dengan biaya sendiri,” tuturnya.

Pendiri yayasan, Prof. DR. RP Soejono sedikit demi sedikit mulai memberikan kepercayaan kepada Sutar. Salah satunya, adalah dengan memberikan dorongan penuh untuk melanjutkan pendidikan S2-nya. Setelah menyelesaikan studi, tugas besar diberikan pendiri yayasan kepadanya, yaitu memimpin yayasan dengan 1400 siswa di dalamnya.

“Ini amanah yang sangat besar untuk mencerdaskan anak bangsa. Mudah-mudahan apa yang kami kerjakan sampai tahun 2015 dapat berjalan dengan lancar. Semoga program-program yang kami canangkan selama masa kepengurusan kami berjalan dengan baik. Begitu juga dengan rintangan dan halangan semoga mampu kami atasi,” kata pria 35 tahun dengan dua orang anak ini.

Bertahun-tahun berkutat di dunia pendidikan, membuat Sutar merasa memiliki kecocokan. Bahkan, seluruh tantangan yang dihadapi selama menekuninya sudah tumbuh menjadi semacam “roh” dalam hidupnya. Ia berharap dengan terjun di dunia pendidikan mampu mengangkat harkat dan martabat keluarga mengingat latar belakang kehidupan keluarganya. “Kebetulan keluarga kami sangat sederhana sehingga bisa seperti ini menjadi kebanggaan orang tua. Karena kami betul-betul orang tidak mampu di kampung,” ungkap dosen STIE Pertiwi dan STIE Muhammadiyah Jakarta ini.

Sutar menjawab kepercayaan yang diberikan kepadanya dengan mencurahkan tenaga dan pikiran untuk kemajuan sekolah serta yayasan yang sangat dicintainya. Di bawah kepemimpinannya, ia berharap yayasan semakin maju dengan fokus utama pada kesejahteraan guru dan karyawan yang lebih baik. ia sadar betul, kesejahteraan merupakan tonggak utama untuk meningkatkan kemajuan sekolah dan Yayasan Perguruan Ksatrya.

“Bagaimana cara agar guru bisa sejahtera, nanti pelan-pelan akan kami upayakan. Mungkin dengan kenaikan gaji. Kami juga memiliki program jangka panjang untuk perbaikan sarana dan prasarana, yang kami bangun dengan jerih payah kami, keluarga besar Yayasan Perguruan Ksatrya- bersama tim kami sehingga terwujud empat lokal kelas yang representative. Mohon doanya, setelah lebaran ini akan terus kami tingkatkan,” ujarnya.

Peningkatan Mutu SDM

Selama dua tahun memegang jabatan sebagai Ketua Yayasan Perguruan Ksatrya, Sutar mencoba membenahi kualitas SDM. Ia memulai dari tenaga guru yang mengajar di tiga sekolah di bawah yayasan, SMP Ksatrya, SMA Ksatrya dan SMK Ksatrya. Setidaknya, para staf pengajar terus ditingkatkan kompetensinya melalui berbagai pelatihan.

“Ini merupakan hal yang utama dari kegiatan yayasan. Dari segi peningkatan mutu SDM, Bapak dan Ibu guru terus kita pacu. Demikian juga sarana dan prasarana sedikit demi sedikit akan berjalan sesuai dengan keinginan kami serta aturan pemerintah,” ujarnya.

Sutar juga melaksanakan hal serupa terhadap anak didik yang akan menempuh pendidikan pada sekolah-sekolah yang dikelola yayasan. Setelah lolos seleksi, siswa baru akan “digojlok” pada saat liburan semester I. Siswa kelas I akan diajak tour ke daerah dalam rangka observasi siswa baru. Kegiatan yang dilakukan selama tour bukanlah perploncoan melainkan mendidik siswa untuk mandiri.

“Kegiatan di sana banyak, baik yang sosial seperti pasar murah, bakti sosial dan pengobatan masal untuk menunjang kehidupan masyarakat di lokasi tersebut. Itu menjadi ciri khas kami yang unik dan belakangan banyak diikuti oleh sekolah lain,” katanya bangga. Ia juga sangat bangga terkait banyak prestasi yang telah diukir oleh sekolah. “Alhamdulilah prestasinya banyak sekali, apalagi kalau dilihat dari pialanya. Karena dari segi ekskul kita tidak terhitung banyaknya,” imbuhnya.

Prestasi yang ditorehkan, lanjutnya, membuat animo masyarakat untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah yang dikelola yayasan sangat tinggi. Bahkan, SMK Ksatrya terbilang sangat maju sehingga harus “menolak” siswa yang mendaftar. Dengan tiga jurusan yang dimiliki –perkantoran, manajemen bisnis dan akuntansi- banyak siswa yang tidak tertampung. “Itupun, ruangan yang tadinya aula terpaksa dialihfungsikan menjadi kelas,” ujarnya.

Dibantu 150 orang staf dan guru, Sutar terus berusaha meningkatkan kemajuan dan kualitas sekolah. Untuk itu, ia mengembangkan budaya kekeluargaan di antara para guru dan staf di lingkungan yayasan. Semua dilandasi dengan tetap mengedepankan moto, Trisila Ksatrya yakni pendidikan, pengajaran dan kekeluargaan. “Ketiga hal itu kita rangkum seperti ungkapan Jawa, makan tidak makan asal ngumpul,” tambahnya.

Untuk menciptakan situasi kekeluargaan yang kondusif, Sutar sebagai ketua yayasan sering “turun ke bawah” untuk melayani para staf dan guru. Ia tidak menjalin hubungan atasan bawahan, tetapi mengembangkan hubungan antara keluarga sendiri. “Mungkin ada bedanya antara kami saat ngumpul, becanda dan lain-lain. pokoknya secara profesional kami bisa membedakannya,” tuturnya.

Sister School

Sebagai ketua yayasan yang mengelola sekolah swasta, Sutar SE, MM sadar betul besarnya persaingan yang dihadapi. Selain menghadapi sekolah negeri yang mendapat fasilitas lengkap dari pemerintah, ia juga bersaing dengan sekolah swasta lain bertaraf internasional. Untuk itu, ia mengedepankan pelayanan kepada masyarakat sebagai konsumen.

“Karena produk kami jasa, ya kami mengutamakan pelayanan kepada konsumen. Makanya kami melayani dengan baik masyarakat sekitar sini yang berurusan dengan kami. Mungkin mulai dari segi tata usahanya, fasilitas dan lain-lain,” katanya.

Selain itu, demi kemajuan sekolah ia juga mengadakan kerjasama dengan lembaga pendidikan lain. Ia juga menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan di sekitar sekolah untuk kepentingan “magang” siswa atau praktek kerja lapangan (PKL). Uniknya, setelah lulus banyak siswa praktek yang diterima bekerja di perusahaan tempatnya magang.

“Itu salah satu prestasi juga bagi kami. Karena kami terus berusaha meningkatkan mutu sekolah. Salah satunya kami mengadakan program sister school dengan SMK Negeri 14 dan setiap minggu anak-anak mengikuti pelatihan di BLK milik Depnaker,” terangnya.

Menurut Sutar, sister school merupakan semacam pertukaran pelajar antar sekolah. Salah satu manfaatnya adalah menunjang kekurangan sekolah sekaligus melihat perbandingan kualitas pelajar antar sekolah. Ia mencontohkan, sister school dengan SMKN 14 yang berstandar internasional dan ber-ISO, membuat siswa SMK Ksatrya bisa menggunakan fasilitas sekolah tersebut.

“Antusias sekali pertukaran pelajar seperti itu, karena besar manfaatnya bagi sekolah swasta seperti kami. Karena kami semuanya dikerjakan sendiri, dibiayai sendiri dan kalau pun maju, ya kami maju sendiri. Pokoknya bagaimana kami mengolah sekolah swasta agar tidak ketinggalan. Semua itu harus diawali dari diri sendiri,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah juga memberikan perhatian kepada sekolah swasta sehingga tidak terjadi sekolah swasta yang ditutup atau bahkan roboh dimakan usia. Tetapi dengan kerja keras, selama 58 tahun yayasan berhasil mempertahankan sekolah agar tidak gulung tikar. “Kami masih bisa berdiri dengan modal sendiri. Kami membangun tiga lantai dengan dana dari kami sendiri tanpa bantuan dari pemerintah. Kami juga memiliki visi jangka pendek untuk membuat nyaman sekolah ini dengan membangun sarana yang memadai,” tambah ketua yayasan yang membuka pintu selama 24 jam bagi para pengajar ini.

Menyikapi carut marut dunia pendidikan, Sutar menyatakan bahwa dunia pendidikan Indonesia ketinggalan dari negara lain. Bahkan, jika dibandingkan dengan Malaysia yang dahulu banyak mengirimkan pelajar dan mahasiswa ke Indonesia pun, masih jauh tertinggal. Kondisi sekarang justru terbalik, karena pelajar dan mahasiswa Indonesia banyak yang menuntut ilmu ke negara tersebut.

“Pemerintah sebenarnya tidak tahu persis kondisi di lapangan seperti apa dalam membenahi kualitas pendidikan. Hal tersebut diperparah dengan pejabat-pejabat kita yang menetapkan standar kelulusan yang terlihat sangat dipaksakan. Akibatnya, banyak sekolah di Jakarta banyak tidak siap seperti terlihat pada tingkat kelulusan UN yang sangat memprihatinkan. Kondisi tersebut semakin parah di daerah-daerah pedalaman seperti Papua, NTT dan lain-lain. Itulah gambaran dunia pendidikan yang diperjuangkan oleh pahlawan tanpa tanda jasa,” kata Sutar, SE, MM.

Profil Yayasan Perguruan Ksatrya Lima Satu

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang dibutuhkan masyarakat saat ini. Terutama dalam menyongsong era globalisasi yang penuh dengan persaingan tak terkecuali dalam pendidikan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Yayasan Perguruan Ksatrya telah mempersiapkan diri menjadi wadah yang tepat bagi putra-putri kita untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu dalam ilmu pengetahuan umum dan dilengkapi ilmu agama sehingga dapat mencetak generasi muda yang berwawasan global serta unggul dalam IPTEK dan IMTAQ.

Yayasan Perguruan Ksatrya merupakan lembaga pendidikan yang didirikan sejak tahun 19Lima Satu oleh Prof. DR. RP Soejono dkk, hingga kini terus mengembangkan sarana dan prasarana pendidikan antara lain dengan membangun gedung tiga lantai dan dua lantai serta dua laboratorium komputer terbaru (P4) dilengkapi sistem jaringan (LAN) dan internet, laboratorium IPA, ruang multimedia, sarana olahraga, perpustakaan serta kegiatan ekstra kurikuler antara lain Paripurna, serba daya, Paskibra, futsal, basket dan lain-lain. Pendidikan agama yang diberikan kepada siswa antara lain baca tulis Al Quran dan sholat berjamaah yang didampingi oleh para guru.

Yayasan Perguruan Ksatrya Lima Satu mengelola tiga sekolah, yakni:

SMA Ksatrya
Memiliki dua jurusan IPA dan IPS serta terakreditasi “A”

Visi
Terwujudnya kehidupan yang religius, cerdas dan bermartabat
Misi
1.    Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianutnya sehingga menjadi lebih arif dalam berperilaku
2.    Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif sehingga siswa dapat berkembang secara optimal sesuai potensi yang dimilikinya
3.    Menumbuhkan rasa percaya diri sehingga siswa berani dan mampu menghadapi tantangan

SMK Ksatrya
Memiliki tiga studi keahlian, Perkantoran, Bisnis Manajemen dan Akuntasi, serta terakreditasi “B”
Visi
Menjadikan SMK Ksatrya sebagai wahana layanan pendidikan yang menghasilkan tamatan yang beriman, bertakwa dan professional, berjiwa wira usaha serta berdaya kompetisi global

Misi
1.    Meningkatkan kualitas layanan pendidikan melalui peningkatan pembelajaran secara efektif dan menyenangkan
2.    Menumbuhkembangkan sikap disiplin dalam belajar
3.    Menumbuhkembangkan sikap saling menghormati, menghargai dan memiliki tata karma
4.    Menumbuhkembangkan sikap rajin dan konsisten dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianut
5.    Meningkatkan daya saing yang berwawasan kecakapan hidup

SMP Ksatrya
Visi
Unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan iman dan takwa

Misi
1.    Menciptakan generasi muda yang berbakat dan berakhlak mulia
2.    Meningkatkan mutu pembelajaran dan hasil belajar
3.    Mengembangkan potensi siswa yang berlandaskan keimanan dan ketakwaan

Fasilitas dan Sarana Pendidikan
1.    Sarana praktek ibadah (mushola)
2.    Gedung sekolah tiga lantai milik sendiri
3.    Lapangan dan fasiltias olahraga yang lengkap
4.    Staf pengajar yang profesional di bidangnya
5.    Perpustakaan
6.    Laboratorium komputer terbaru (P4) dan full AC serta dilengkapi dengan LAN dan internet
7.    Laboratorium bahasa
8.    Tempat parkir luas
9.    Koperasi
10.    Kantin

Drs. Sugiyarto, MPd

No Comments

Drs. Sugiyarto, MPd
Kepala Sekolah SMKN 4 SURAKARTA

Wirausaha Solusi Tepat Bagi Lulusan Siswa SMK

Sejak kecil bercita-cita ingin berkarier guru, membuat sugiyarto kecil, bersemangat untuk  maju meraih obsesinya tersebut, kendati setelah dewasa obsesinya itu ditujukan untuk membawa SMK Negeri 4 Surakarta berkembang dan  menjadi idola siswa dan guru. Bagaimana penuturannya memimpin sekolah kejuruan berstandar RSBI ini, berikut ceritanya :

“Sejak dulu memang saya ingin menjadi guru atau pendidik, “ungkapnya. Tak heran jika sugiyarto mampu membawa dan mengangkat  SMK Negeri 4 Surakarta sebagai sebuah sekolah kejuruan  favorit di kota bengawan ini. Memang masih butuh perjuangan panjang, buktinya bapak dua anak ini mengaku merasa belum puas jika belum menjadikan sekolah ini bertambah besar. Saat ini Sugiyarto telah menjadikan sekolah yang dahulu kelasnya hanya  21 kelas,  sekarang telah bertambah menjadi 33 kelas. Obsesinya ke depan adalah 36 kelas. Suatu tantangan, semangat dan harapan yang luar biasa, bila dibandingkan dengan karier dan cita-citanya dahulu.

Menurutnya, SMKN 4 Surakarta sejak tahun 2006  telah menekankan kepada seluruh siswanya untuk belajar berwirausaha . Tantangan ke depannya  dibutuhkan senjata yaitu kerja keras, berupa optimalisasi peran  seluruh elemen sekolah yang berjumlah 1.126 siswa, tak terkecuali pesuruh sekolah untuk bahu membahu membawa nama dan lulusan SMKN 4 Surakarta  diterima masyarakat dan perusahaan dengan baik. “Tantangan nyata, karena semua Program Studi Keahlian yang ada di SMKN 4 Surakarta yaitu Tata Boga (Jasa boga dan pastry), Tata kecantikan (Hair dresser dan Skin care), Tata busana (Busana Butik) dan Akomodasi Perhotelan menyangkut kebutuhan  manusia yang tak pernah kering, “pungkasnya.

SMKN 4 Surakarta mempunyai siswa yang 90 % adalah perempuan, dan kebanyakan berasal dari kalangan keluarga menengah kebawah. Wajar jika Sugiyarto selalu memotivasi mereka untuk senantiasa bangkit dengan tidak mengharapkan sekolah serba gratis. Artinya, jika ada siswa yang tak mampu membayar keperluan sekolah, diajak untuk  berwirausaha dengan modal dari sekolah.

Pekerjaan rumah lainnya adalah mengupayakan siswanya yang menolak untuk bekerja di luar kota,  dengan  menciptakan wirausaha. Pola  inilah yang tengah digodok pihaknya terus menerus agar siswa tetap termotivasi  untuk bekerja mandiri. “Standarnya jangan sampai siswa tidak punya kemampuan berwirausaha di rumah, dan beralih jadi pengangguran, dan ini jangan sampai terjadi, “tegas kepala sekolah.

Guna mengantisipasi semua problem tersebut itulah, Sugiyarto berobsesi membentuk laboratorium entrepreneur di kota Surakarta ini yang diberi nama “EntrepreneurshipLab SMKN 4 Solo”
Obsesinya ini sudah dirintis mulai awal tahun 2010 yang lalu dengan membuat Pilot Project EntrepreneurshipLab untuk kelas XI Boga 4, dengan menggandeng mitra Tenaga Ahli (Expert) dari DED (German Development Service) yang sekarang berganti nama menjadi GIZ- Develompment Service dan 2 orang  mentor dari industri yang memiliki kepedulian dengan dunia pendidikan serta Team Work yang terdiri dari guru kewirausahaan dan guru produktif. “Saat ini usaha mereka sudah berjalan dan sudah menjadi mitra kerja Business Centre yang ada di SMKN4 Surakarta dan mentor mentor dari industri.” Diharapkan modal yang diberikan kepada tiap grup sebesar 1 juta rupiah (Rp. 500.000 untuk modal kerja dan Rp. 500.000 untuk pembelian peralatan kecil) sudah dapat dikembalikan di bulan februari 2011 ini. Karena Pilot Project EntrepreneurshipLab untuk kelas XI Boga 4 akan berakhir bulan Februari 2011 “ Inilah nilai plusnya, dan ini harus berjalan terus dan punya tanggungjawab sendiri,” paparnya.
Sugiyarto mengatakan dengan entrepreneurship diharapkan siswa-siswa dapat belajar menjadi pengusaha, bukan pekerja. Ide-ide ini akan semakin memecut siswa agar selalu berpikir bahwa enterprenership adalah solusi mandiri mereka. Untuk itu program enterprenership juga diterapkan untuk Program Studi Tata Busana yang akan launching pada tanggal 28 Februari 2011 dengan tetap menggandeng Expert dari GIZ- Develompment Service dan 2 orang  mentor dari industri.
Teori Sugiyarto benar, karena dengan mengajak seluruh siswa mandiri dan senantiasa berpikir positif untuk berkembang, diharapkan mereka bisa menjadi masyarakat wirausahawan profesional.
Kini harapan Sugiyarto adalah bagaimana menjadikan SMKN 4 Surakarta  ini juga berbudaya lingkungan.
“Lulusan dari SMKN 4 Surakarta bisa bekerja di mana saja, gaji minimal sesuai UMK, “katanya. Memang ada juga sich, tuturnya anak yang bekerja di bawah UMK, tapi saya menganjurkan agar mereka tidak bekerja di perusahaan yang gajinya di bawah UMK. “Kalau ada kedapatan siswa bekerja dengan gaji di bawah UMK mereka dipindahkan ke industri lain.”
Penanganan lulusan SMKN 4 Surakarta dikelola dengan baik oleh BKK (Bursa Tenaga Khusus) SMKN4 Surakarta yang setiap tahun kebanjiran permintaan tenaga kerja oleh banyak industri di wilayah Jawa Tengah, DIY, Jabodetabek dan bahkan dari luar negeri. Semua seleksi rekruitment tenaga kerja dilakukan di SMKN 4 Surakarta sebelum siswa melaksanakan Ujian Nasional.  Pihak industri terkait yang datang ke SMKN 4 Surakarta, sehingga kebanyakan siswa belum lulus Ujian Nasional tapi mereka sudah punya tempat di Industri.
Jadi tidak ada cerita, lulusan SMKN 4 Surakarta keluar masuk industri cari lowongan kerja. Karena setiap tahunnya justru masih banyak permintaan tenaga kerja dari beberapa industri tetapi SMKN 4 Surakarta sudah kehabisan lulusan yang belum bekerja. Artinya penyerapan lulusan SMKN 4 Surakarta di Industri yang relevan sudah mencapai 100 %.
Memang tidak semua lulusan SMKN 4 Surakarta langsung bekerja, karena ada beberapa dari mereka yang melanjutkan sekolah (kuliah) dengan mendapatkan beasiswa dari Industri maupun PMDK dari perguruan tinggi negeri di wilayah DIY dan Jateng.
Untuk masalah beasiswa dari Industri ini, SMKN 4 Surakarta menjalin kerja sama dengan IGTC Bogor (International Garment Training Centre) yang setiap tahunnya pihak IGTC Bogor datang ke SMKN 4 Surakarta mengadakan seleksi bagi siswa kelas XII untuk mendapatkan beasiswa belajar di IGTC Bogor setelah lulus dari SMKN 4 Surakarta selama 1 tahun. Beasiswa ini meliputi biaya kuliah, asrama dan makan.
Materi test dari IGTC Bogor semuanya dalam bahasa inggris, karena IGTC adalah lembaga pelatihan bertaraf internasional.

Tantangan semakin berat, setelah sekolah SMKN 4 Surakarta diberi lebel RSBI sejak Juli 2010 yang lalu, sebab masih ada program yang harus digapainya, terutama peningkatan sumber daya manusia, dan  pola pikir global.  “Pikiran yang kolot harus diubah, kalau tidak, maka akan terjebak  dengan perubahan  yang ada, jadi bagi mereka yang tidak mau berubah harus mengerti, bahkan guru harus bisa mengefektifkan dirinya dengan jalan belajar lebih giat lagi akan kemajuan teknologi modern, bahkan kalau perlu sekolah ke luar negeri, “tegasnya.
Sugiyarto mengatakan untuk mengikat jalinan kerjasama dengan seluruh elemen sekolah agar lebih erat lagi, ia biasanya menjadikan mereka sebagai kolega.

SMKN 4 Surakarta juga memiliki Business Centre (BC) Sparta yang bergerak dibidang Catering, Pastry, Butik, Salon Kecantikan, Laundry dan juga Hotel dengan kapasitas  4 kamar ber -AC yang melayani customer dari luar SMKN 4 Surakarta. Semua pegawai Business Centre Sparta SMKN 4 Surakarta adalah alumni dari sekolah ini juga.
Khusus untuk Salon Kecantikan Sparta sudah memiliki beberapa pelanggan dari pejabat setempat. Dan untuk pastry (spesialis kue-kue kering), biasanya booming produk terjadi setiap menjelang idul fitri dan natal. Hal ini yang dimanfaatkan oleh sebagian siswa besar SMKN 4 Surakarta untuk bekerja part time setelah pulang sekolah dengan mendapatkan penghasilan yang bervariatif sesuai dengan jam terbangnya.
“Workshop di masing-masing Program Studi Keahlian sudah menggunakan peralatan teknologi tinggi sesuai standart Industri. Hal ini dikarenakan semua workshop yang ada di SMKN 4 Surakarta sudah diverifikasi oleh LSP Lisensi menjadi TUK (Tempat Uji Kompetensi) Bidang Garment, Tata Kecantikan Rambut dan Tata Kecantikan Kulit, Restourant dan Akomodasi Perhotelan, yang dapat digunakan untuk pelaksanaan Ujian Kompetensi Keahlian dari semua Instansi yang membutuhkan.
Sehingga diharapkan semua lulusan SMKN 4 Surakarta tidak akan canggung bekerja di Industri yang sudah menggunakan peralatan modern “ demikian penjelasan bapak satu istri  yang juga bekerja dengan profesi  pendidik ini.

Untuk itulah, Sugiyarto membuka pendaftaran penerimaan  siswa di SMKN 4 Surakarta dengan 2 cara, yakni dengan melihat nilai  ujian nasional yang dibobot terlebih dahulu sesuai dengan peraturan yang berlaku, seperti bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Sosial, dan yang kedua adalah dengan teknik wawancara dan psikotes. Tujuan dari cara yang kedua ini adalah untuk menseleksi atau menyaring motivasi dan minat mereka terhadap bidang yang mereka inginkan, termasuk juga masalah kesehatan siswa. “Jangan sampai ambil jurusan tata boga, tapi mereka tidak memiliki tinggi dan berat badan yang proporsional, ini kan kurang baik ya, “ujarnya.

Menghadapi era global

Menghadapi era globalisasi sekarang ini, Sugiyarto mengingatkan dampak negatifnya. Untuk mencegah dampak yang kurang baik, ia meminta seluruh jajaran di sekolahnya untuk bersikap disiplin dan tepat waktu, hal ini penting untuk meningkatkan etos kerja. “Untuk menghargai orang lain, dan tidak boleh terlambat, “ujarnya. Untuk mengawasi semua unsur tersebut, pihaknya mengaku telah membentuk tim PPKS (Pembimbing Prestasi Karakter Siswa).

“PPKS ini dibimbing 2 orang, yaitu wali kelas dan guru pendamping. Tujuannya adalah  mendidik siswa agar tidak terlambat, bagi siswa yang terlambat menunggu di luar kelas dan mendapat punishment membersihkan areal sekolah sesuai pembagian tim PPKS.

Sugiyarto menambahkan, pihaknya menerapkan disiplin masuk sekolah pukul 07.00 pagi, namun pukul 06.45 WIB diharapkan siswa sudah berada di sekolah untuk melakukan kegiatan patut diri yang meliputi kegiatan mengatur ruang kelas agar bersih dan rapih. “Jarak dijaga antara meja dan kursi, serta mengabsensi siswa.” Sedangkan untuk penilaian pelajaran, pihaknya juga menerapkan pola mengulang kembali bagi siswa yang ketahuan menyontek pekerjaan temannya. Hal ini penting untuk mendidik siswa agar berkelakuan yang baik,  disiplin, bekerja keras serta mau berusaha.”

Sementara filosofinya, ialah berpikir positif terhadap semua orang. Makanya target jangka pendek sekolahnya,adalah bagaimana menciptakan siswa didiknya dapat lebih berinovatif, tersalurkan di setiap bidang pekerjaan dan mampu bersaing dalam mendapatkan peluang kerja serta mampu berkompetisi dalam bidang kejuruan.

“Kami juga giat untuk mengikuti lomba-lomba yang diadakan sekolah lain atau perusahaan, Alhamdulillah kami sering menyabet juara, “ujarnya.

“Saat ini SMKN4 Surakarta sudah menjalin dengan kurang lebih sekitar 80 perusahaan yang siap membantu siswa dalam pelaksanaan On The Job Training (OJT) “jelasnya.

Dukungan Keluarga

Menanggapi dukungan keluarga terhadap profesinya, Sugiyarto mengatakan tidak ada masalah. “Jam berapa pun ia keluar rumah, istri dan anaknya tidak mengeluhkan.” Sebab istrinya juga adalah seorang guru dan  pendidik, jadi mengerti benar, pekerjaan dan  profesi yang diembannya.“ Menjawab bagaimana tanggapannya tentang peran pemerintah terhadap SMK, Sugiyarto mengatakan saat ini pemerintah telah memberikan input yang begitu besar terhadap perkembangan SMK, hanya saja memang masih banyak kekurangan yang ada, dan ini tugas dari masyarakat untuk memperbaiki kekurangan yang ada di SMK di seluruh Indonesia.
“Masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki, “ujarnya. Maklum,  tidak ada suatu makhluk yang sempurna, apalagi lembaga atau institusi di muka bumi ini,  tapi juga  bukan suatu alasan yang dapat dibuat-buat dari dasar  ketidak sempurnaan itu yang  membuat kita tidak berdaya, justru karena ketidakberdayaan itulah yang harus jadi potensi dalam diri siswa dan keluarganya untuk bangkit meraih cita-cita yang diinginkan mereka. “anak-anak yang orangtuanya punya banyak anak dan tidak mampu diharapkan bisa memunculkan potensiya, “tuturnya.

Sugiyarto mengatakan sekolahnya kini telah melengkapi segala kebutuhan peralatan untuk digunakan siswanya, alat-alat tersebut merupakan bantuan atau subsidi dari berbagai pihak untuk diberdayakan dan melengkapi berbagai peralatan yang sudah ada.

Jangka Panjang

Untuk program jangka panjang,  pihaknya menginginkan sekolah ini semakin besar. Targetnya adalah membuka kelas baru dari   33 kelas yang ada menjadi 36 kelas,  dengan harapan  jumlah  murid semakin banyak dan berkualitas. Kini jumlah siswa yang terdaftar di SMKN 4 Surakarta   telah mencapai 1.126 siswa “ Dengan semakin besarnya jumlah siswa yang terdaftar di sekolah ini, diharapkan SMKN 4 Surakarta menjadi sekolah unggulan di kemudian hari, “Jelas bapak dua putri yang sudah menginjak bangku kuliah ini.

Mengimbangi semua itu, Sugiyarto juga mengingatkan guru-guru SMKN 4 Surakarta untuk bisa menjadi assesor. Untuk itu pula, pihaknya bekerjasama dengan LEC, mengadakan training atau pelatihan bagi guru-guru dan menjadi bagian dari proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas bagi siswa dalam bidang bahasa Inggris, apalagi Sugiyarto mengaku juga seorang sarjana pendidikan bahasa Inggris. Inilah yang harus dipikirkan seluruh guru untuk maju. Tuntutan Sister School merupakan kewajiban bagi setiap guru untuk meningkatkan kompetensi keahliannya.

Sebagai Kepala SMKN 4 Surakarta, Sugiyarto bekerja sesuai dengan Visi, Misi dan Tujuan sekolah yang telah ditetapkan. Berikut ini visi, misi dan tujuan SMKN 4 Surakarta;

Visi
Terwjudnya SMK bertaraf Internasional dan berbudaya lingkungan

Misi
Menyiapkan lulusan yang siap kerja, cerdas, kompetitif dan berkepribadian luhur.
Mengembangkan potensi sekolah yang berwawasan lingkungan dan bernuansa industri
Menyiapkan wirausahawan yang handal
Mengembangkan semangat keuanggulan dan kompetisi yang positif
Meningkatkan pengalaman ajaran agama yang dianut dan budaya bangsa sebagai sumber kearifan dalam bertindak

Tujuan
Menghasilkan tamatan yang cerdas, terampil dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlak mulia
Membekali peserta didik untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan akademik serta dasar-dasar keahlian yang kuat dan benar, melalui pembelajaran normatif, Adaftif dan Produktif
Menyiapkan peserta didik untuk memasuki duania kerja yang professional dan berwawasan wirausaha untuk memasuki dunia kerja
Memberikan pengalaman yang sesunggunya agar peserta didik menguasai kaahlian produktif berstandar budaya industri yang berorientasi kepada standart mutu, nilai-nilai ekonomi serta membentuk etos kerja yang tinggi, produktif dan kompetitif.
Mewujudkan sekolah menjadi SMK berstandar Nasional/Internasional.

Menanggapi pertanyaan anak muda sekarang ini, Sugiyarto, mengatakan  perlu pembimbingan untuk hadapi realita roda zaman. “Zaman saya dulu tahun 70-an, bertindak seperti itu sudah bagus, tapi kini tindakan itu harus segera diperbaiki, sekolah itu merupakan karakter, tinggal bagaimana menjadi siswa berkarakter yang baik, tidak instan.

Untuk itulah sudah menjadi tanggungjawab para orangtua, masyarakat dan pendidik harus sama-sama duduk satu meja untuk membicarakan generasi muda ini. “

Sedangkan masalah pendidikan seks, ia menyarankan untuk perlunya bimbingan orangtua, masyarakat dan pendidik. “Biar si anak melihat dari awal hingga akhir, sehingga tidak separuh-paruh mereka mendapatkan informasi tentang seks, hingga sampai akibatnya, “tegas kepala sekolah yang membawahi 98 guru dan karyawan administrasi lainnya. Dengan mereka mengenal seluk beluk semua itu, maka setelah lulus sekolah mereka mendapatkan bekal akhir yang baik.

Ekstrakurikuler di SMKN 4 Surakarta, antara lain pramuka, palang merah remaja, Pasukan Inti (paskibra), fashion show/modelling dan olahraga. “Biasanya ekskul dilaksanakan sore hari, “ujarnya. Mengakhiri perbincangan, Sugiyarto, mengatakan bahwa obsesinya kini adalah bagaimana membawa sekolah ini bisa besar dan menjadi idola semua orang. “ Bagi saya, menjadi kepala sekolah sekarang ini sudah merupakan anugrah yang besar, jadi tidak ada lagi target yang muluk-muluk untuk mengapai cita-cita.”

Sugiyarto menambahkan baginya tidak ada kesibukan lain, selain mengurus sekolah, termasuk untuk urusan bermain politik. “Politik tidak bisa, hanya organisasi sosial dan pendidikan “ungkap kepala SMKN 4 Surakarta ini.  Pesannya bagi generasi muda adalah mumpung masih muda kesempatan jangan sampai dihilangkan begitu saja, apa saja bisa dilakukan saat muda. “Kerja yang benar dan yang penting halal, itulah yang disarankan ke siswa.”

Drs. PARLINDUNGAN HUTAHAEAN, MM

No Comments

Drs. PARLINDUNGAN HUTAHAEAN, MM

“Ketekunan dan Penyerahan pada Yang Maha Kuasa Menghasilkan Lebih dari yang Diharapkan”

“Pendidikan adalah jembatan untuk membangun masa depan.  Melalui pendidikan yang baik  pasti akan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, yang menjadi syarat bagi kemajuan suatu bangsa.  Bangsa yang besar dan maju adalah bangsa yang mengutamakan bidang pendidikan di banding bidang  yang lain!!!,” itulah kata yang terucap dari  sosok pria bernama lengkap Drs. Parlindungan Hutahaean, MM  yang kini dipercaya menjabat sebagai Direktur dari Polikteknik Pajajaran Insan Cinta Bangsa (ICB) Bandung, sekaligus Pembina Sekolah Menengah Kejuruan Insan Cinta Bangsa (SMK-ICB).

Mendidik tidaklah serupa dengan mengajar. Seseorang dapat mudah mengajarkan sesuatu kepada orang  lain namun belum tentu dapat memberi didikan yang bermanfaat bagi yang lainnya. Falsafah ini tidaklah omong kosong belaka, melainkan hendaknya bisa  diterapkan dalam keseharian kita. Kata-kata bijak itulah yang telah mendorong  dirinya terjun dan menggeluti bidang pendidikan.  Menurutnya, melalui pendidikan dapat pula ditanamkan nilai-nilai budi pekerti yang sangat membantu seseorang untuk berdisiplin dan memahami kehidupan.

Cita-cita awalnya memang ingin menjadi orang yang berkecimpung di bidang pendidikan. Tapi bukan hanya sebagai pengajar, melainkan juga pendidik. Keberhasilan seorang pendidik, menurutnya, bukan semata-mata jika anak didik-nya  menguasai ilmu yang diberikan, tetapi yang lebih penting adalah secara nyata bisa mengamalkan ilmu itu dibidang tugasnya masing-masing. Karena, ilmu yang tinggi tidak akan ada gunanya kalau jatuh ke tangan orang yang tidak bermoral. Oleh karena itu, tugas seorang pendidik tidak hanya  mengajar, memberikan ilmu namun juga mendidik, membentuk moral peserta didiknya. “Supaya ilmunya itu bisa dimanfaatkan, diamalkan,  yang dengan demikian juga menjadi manfaat bagi guru atau pendidiknya,” ucap peraih Candidate Doctor di bidang Manajemen Pendidikan ini. “Bagi saya, mencerdaskan anak bangsa, khususnya generasi muda merupakan tujuan dari seorang pendidik, dimana tidak bisa dibandingkan dengan sesuatu yang bersifat materi ataupun prestise,” ujarnya menambahkan.

Mengawali  karir sebagai Tenaga Ahli Laboratorium Peledak di PINDAD Bandung (tahun1964), perlahan namun pasti, Parlindungan  biasa akrab  disapa, diangkat sebagai Kepala Laboratorium Pelumas di PINPAD Bandung (tahun 1970), lalu dipercaya sebagai Kepala Laboratorium Pelumas & Coating pada (tahun 1973). Kemudian pada tahun 1974, ia di angkat sebagai Kepala Bengkel Slagkwik di PINDAD. Dan pada (tahun 1976) sebagai Staff Gudang Induk di PINDAD. Setahun kemudian karirnya terus meningkat dimana ia di percaya sebagai Guru Militer Bidang Sosial tepatnya pada tahun 1978 di PUSDIKINT-AD, dan pada tahun 1981, ia mulai menjajakan langkah kakinya di dunia pendidikan dengan di angkat menjadi Guru Militer Golongan V.  Di tahun 1983, ia diangkat sebagai Kepala Guru Militer Pembekalan dan beranjak satu tahun tepatnya pada tahun 1984, Parlindungan diangkat sebagai Asisten Litbangdik dan Asisten Pendidikan Pengajaran di tahun 1985, yang kedua-duanya masih di PUSDIKINT-AD. Lalu pada tahun 1986, pria yang sempat menjadi Anggota DPRD Tk. II Kab. Lebak Jawa Barat pada periode tahun 1987 – 1992 dan Anggota DPRD Tk.II untuk daerah  Kab. Sumedang Jawa Barat  periode tahun 1992 – 1997 ini,  di angkat sebagai Kepala Departemen Makanan PUSDIKBEKANG-AD.

Sebagai Abdi Negara, dan setelah Purnawirawan ia memperoleh berbagai bintang jasa dan penghargaan dari pemerintah, diantaranya: Sapta Lencana Dwidya Sistha pada tahun 1983, Satya Lencana Kesetiaan 24 tahun pada tahun 1993 dan Bintang Eka Pakci Naraya pada tahun 1995. Demikian juga dalam kiprahnya di berbagai bidang pendidikan di masyarakat, pria kelahiran           30 September 1940 ini menerima berbagai penghargaan dari  beberapa Lembaga Swasta, diantaranya; Tahun 2003 menerima 2 Penghargaan sekaligus yaitu sebagai TOP Executive Award dan sebagai International Professional of The Year, di tahun 2004 menerima Penghargaan  Citra Insan Pembangunan Indonesia. Tahun 2005 menerima Penghargaan International Bussiness & Company Award, di tahun 2008 menerima Penghargaan Leadership Award dan di tahun 2009 menerima Penghargaan Professional and Educator Award.

Pengalaman Hidup Membentuk Karakter

Terlahir sebagai anak seorang guru, membuat suami dari Ny. Bonur Parlindungan, SH, MH ini merasakan betapa berat perjuangan orangtuanya sebagai pendidik yang ketika itu harus ditangkap dan di intrograsi oleh Belanda hanya karena membimbing pelajaran kepada sekelompok anak di kampungnya dan dianggap pihak Belanda tidak memiliki ijin dari penguasa. “Saya merasakan kehidupan yang berat takala secara terpaksa saya harus mengungsi dari satu kampung ke kampung lain hanya untuk menghindar dari cengkraman pihak Belanda.” Ujar pria yang ketika kecil merasakan hidup diantara rimbunnya pepohonan hutan di daerahnya. Namun hal itu tidak membuat niatnya surut untuk berbuat sesuatu yang berguna demi kemajuan pendidikan di negeri ini. Ia tetap memutuskan untuk meneruskan jejak langkah kaki kedua orang tuanya sebagai seorang pendidiik.

Bersekolah di Sekolah Rakyat, Parlindungan kecil tidak diperlakukan berbeda dengan murid lainnya walaupun saat ini ayahnya menjabat sebagai kepala Sekolah Sigumpar 2. “Guru-guru yang mengajarnya saat itu, mendidik dengan keras dan tidak pandang bulu”. Namun hal itulah yang diakuinya, membentuk karakter dan kepribadiannya sampai saat ini. Setelah menjalani pendidikan di SMP dan melanjutkannya sampai SMA, Parlindungan muda memutuskan untuk berangkat menuju kota Medan dikarenakan kondisi keamanan yang sedang bergejolak saat itu.

Terdidik Untuk Menjadi Pendidik

Semangat mendidik tidak pernah hilang dalam benak pria  yang satu ini. Hal ini dapat terlihat dari jejak langkah hidupnya, dimana setelah Parlindungan masuk menjadi seorang meliter, ia ditempatkan sebagai guru militer dan pada tahun 1978 terpilih untuk menimba ilmu di USA untuk bidang Supply Management, Management Acquisition dan Logistic Management serta pada tahun 1980 sebagai Observer Training Logistic tepatnya di  Hawai – USA. Dan saat ia kembali ke tanah air  tepatnya pada tahun 1979, sebuah tempat kursus bahasa Inggris bernama International College Laboratory Of English, dipercayakan kepadanya untuk dikelola.  Sehingga  terwujudlah cita-citanya untuk mencerdaskan anak bangsa melalui dunia pendidikan.

Dibawah kepemimpinannya dalam waktu hitungan bulan, International Collage  Bandung terus berkembang. Kursus yang tadinya hanya membuka kursus Bahasa Inggris saja, ia kembangkan dengan membuka jurusan-jurusan baru, diantaranya; kursus Bahasa Jepang, Bahasa Belanda, Mengetik, Tata Buku dan Akuntansi. Melalui tangan dinginnya, maka International Collage Bandung  mendapat kemajuan. Terbukti setahun kemudian berdirilah Lembaga Pendidikan Sekretaris Program 6 bulan. Kemudian pendidikan administrasi, Accounting, Perhotelan, Perbankan dan Jurnalistik, dimana semuanya melalui program  1 tahun.

Dari awal berdirinya lembaga ini telah memiliki gedung dan labotarium sendiri, namun lembaga pendidikan ini semuanya bersifat pendidikan luar sekolah. Sehingga keinginan untuk memformalkan baru terwujud pada tahun 1986 dengan terbentuknya Yayasan. Melalui Yayasan ini, maka berdirilah secara berturut-turut Pendidikan Formal. Dimulai dengan mendirikan SMIP pada tahun 1989, di lanjutkan pada tahun 1991 STM, tahun 1993 SMEA, tahun 1993 Politeknik, tahun 1997 Program Sertifikasi, tahun 2002 SMA dan pada tahun 2005 ini pengajuan program Diploma IV.

Hingga saat ini Lembaga Pendidikan yang dipimpin oleh Drs. Parlindungan Hutahaean, MM ini, telah menyerap lebih dari 50 staff akamedika, 220 guru dan dosen serta + 2.500 siswa dan mahasiswa. Dimana Lembaga pendidikan ini telah melahirkan lebih kurang 11.400 alumni yang telah tersebar diseluruh pelosok Nusantara dan bahkan diluar negeri.

Kebanggaannya terhadap bangsa dan negara ditunjukkannya dengan perbuatan. Hal ini dapat terlihat dengan begitu banyaknya alumni yang telah berhasil, baik di pekerjaannya maupun berwiraswasta. Terlebih Lembaga kami saat ini telah dapat menyediakan lapangan pekerjaan untuk + 290 orang sebagai kegiatan yang bermanfaat dan itu merupakan komitmen sejak awal. Namun, disisi lain, pria yang menikah pada tahun 1968 ini menyayangkan perekonomian Negara yang tidak stabil sehingga berpengaruh terhadap keuangan orang tua murid, yang mengakibatkan mereka jadi sulit membayar iuran sekolah ( SPP ). Tidak Cuma itu, Ia pun  menyayangkan ketertinggalan Indonesia di bidang pendidikan terutama begitu banyak kasus berhentinya siswa atau anak didik dari sekolah hanya karena tidak memiliki daya juang atau ketidakmampuan membiayai sekolahnya.

Parlindungan Hutahaean dan Keluarga

Keluarga merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari keseharian Parlindungan, hal ini terbukti dari dukungan istri dan putra-putrinya dalam membantu menjalankan Lembaga pendidikan yang dipimpinnya hingga saat ini. Sang istri tercinta, Ny. Bonur Parlindungan, SH., MH., (Candidate Doctor di bidang Manajemen Pendidikan), yang juga menjabat sebagai Ketua dari  Yayasan Insan Cinta Bangsa senantiasa menyempatkan diri terjun dan melihat langsung kondisi tugas-tugas pada masih-masing unit pendidikan yang ada dilingkungan  ICB.

Demikian juga tak mau ketinggalan, putra-putrinya selalu memberikan dukungan bagi pengembangan unit-unit pendidikan yang ada di lembaganya, mereka banyak memberikan masukan-masukan baik secara langsung maupun melalui diskusi by internet karena sebagian dari mereka sedang berada di luar negeri, bahkan diantara putra-putrinya sangking ingin membantu mengembangkan lembaga pendidikan orang tuanya, ada yang sampai mengirim bantuan peralatan pendidikan untuk menunjang sarana prasarana lembaga sebagai bentuk dukungannya.

Bakat mengajar di lingkungan keluarganya hampir melekat pada setiap anggota keluarga, hal ini dapat terlihat dan dibuktikan dengan ikut sertanya mereka mengajar sebagai tenaga pendidik pada lembaga yang dimilikinya dan bahkan pada event-event tertentu, mereka ikut andil memberikan pelatihan-pelatihan pengembangan bagi staff di lingkungan Yayasan  Insan Cinta Bangsa.

Dukungannya terhadap tumbuh kembang anak-anaknya pun dapat terlihat lewat keberhasilan Parlindungan dalam membesarkan putra-putrinya khususnya dalam menyelesaikan pendidikan, dimana mereka  telah berhasil dan sukses meraih berbagai gelar pendidikan baik di dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini dapat terlihat dari gelar pendidkan yang mereka miliki, diantaranya, Ir. Robert PM. Hutahaean, MM., dan sang istri Ir. Meita P. Simangunsong, MM., (Candidat Doktor Ilmu Manajemen), Winbert PM. Hutahaean, S.IP, MA., dan istrinya Daisy Pasaribu, S.Sos., (seorang Diplomat dan bertugas di Canada), kemudian anaknya yang ketiga Elfrida Hutahaean, S.Sos., dan anak yang ke empat  Elyana Hutahaean, S.IP, MA., (meraih gelar dan bekerja di Australia) dan si bungsu Ir. Limbert PM.Hutahaean, MA., saat ini sedang menempuh S3 di Sunderland University dan istrinya Ai Permanasari, SH., sedang menempuh S2 di Glasgow –  Inggris.

Generasi Muda dan Perkembangan Pendidikan

Sebagai salah satu tokoh panutan Generasi Muda, Drs. Parlindungan Hutahaean, MM., mengakui betapa besarnya potensial generasi muda dalam membangun kehidupannya, oleh karena itu kita sebagai generasi yang lebih senior wajib memberikan contoh dan tauladan kepada generasi muda. Jangan pernah bosan untuk membina semangat generasi muda dalam berbangsa dan bernegara.

Cukup memprihatinkan memang, jika kita mengamati perkembangan ekspresi generasi muda yang dipengaruhi lingkungan yang kurang baik. Mereka kerap kali berkata-kata dan bertingkah laku kasar. Namun, dengan bimbingan yang baik niscaya mereka bisa berkembang menjadi generasi penerus yang nantinya akan memimpin bangsa ini.

Hal ini pun tidak jauh dari perkembangan pendidikan di Negara ini yang secara umum masih tertinggal jika dibandingkan dengan Negara-negara lain. Ada beberapa sekolah, yang secara fasilitas sudah mencukupi tapi dari segi pendidikannya belum efektif. Bahkan secara nasional, perkembangan pendidikan masih belum merata sehingga timbul kesan hanya mereka yang memiliki kemampuan secara ekonomis mampu memperoleh pendidikan yang layak.

Tumbuh sebagai warga Negara yang bangga berbangsa dan bernegara Indonesia, lulusan Sekolah Sigumpar 1 ini pun selalu membaktikan hidupnya demi kemajuan pendidikan Indonesia “Dunia pendidikan sudah melekat pada dirinya sejak saya kecil oleh karena itu, hingga saat ini dan sepanjang Tuhan YME masih mengijinkan saya untuk bekerja, maka saya akan berkomitmen untuk terus mengabdi dilingkungan pendidikan. Filosofi pendidikan yang mengatakan bahwa “pendidikan sepanjang hayat”  menginspirasi saya untuk tidak akan pernah berhenti mendidik, long life education,” imbuhnya..

Pemerintah dan Dunia Pendidikan

Ber-visi dan misi-kan “Kebutuhan pendidikan pasti akan terus berkembang, maju terus tanpa pernah merasa bosan. Diharapkan melalui pendidikan, hidup manusia akan lebih baik dan sejahtera” pria yang ramah dan sangat santun dengan setiap orang ini, berusaha dengan segenap kekuatannya untuk memajukan perkembangan pendidikan di Indonesia, namun tak bisa dipungkiri peranan pemerintah sangatlah dibutuhkan. Ia berharap pemerintah dapat menyediakan sekolah Negara yang sepenuhnya di biayai oleh negara khususnya bagi keluarga yang tidak mampu. Pemberian beasiswa dinilainya jalan terbaik untuk meningkatkan perkembangan pendidikan, khususnya bagi orang yang kurang mampu agar mereka dapat menyelesaikan pendidikannya pada tinggat dasar, menengah bahkan pendidikan tinggi sekalipun.

Hal terpenting lainnya adalah bagaimana caranya pemerintah dapat memberikan pendidikan yang bermutu, yaitu program pendidikan yang berkualitas, baik dari segi programnya, prosesnya, peralatannya maupun staf pengajarnya sehingga nantinya dapat menghasilkan anak didik yang berkualitas yang akhirnya dapat berguna bagi bangsa dan negara ini.

“Tidak seperti bidang-bidang usaha yang lain, kami mengelola usaha pendidikan dengan model berwirausaha, artinya segala sesuatu yang akan kita lakukan harus kita hitung dengan cermat agar memberikan hasil yang baik dan berkualitas. Usaha di bidang pendidikan merupakan usaha jangka panjang yang harus mengedepankan mutu dan kualitas pengajaran. Penciptaan pengajaran yang bermutu dan berkualitas tentunya tidak bisa instan tetapi harus berkesinambungan ” Ujar pria yang murah senyum ini.

“Pendidikan yang berorientasi pada enterpreneurship atau kewiraswastaan adalah berjuang demi kemajuan dan mampu mengabdikan diri kepada masyarakat sebagai wujud pendidikan dan setiap anak didik nantinya diharapkan memiliki tekad dan kemampuan sendiri untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang makin meningkat dan memperluas lapangan kerja”. Konsep inilah yang sekarang sedang kita usung menjadi acuan untuk mengembangkan program-program pendidikan di Lembaga kami, baik di tingkat menengah kejuruan maupun di pendidikan tinggi.

Ia pun menambahkan, dalam kiprahnya setiap perguruan tinggi di Indonesia harus mampu berperan dan memberikan kontribusinya dalam membangun Intellectual Quotient, Emotional Quotient dan Spiritual Quotient kepada setiap mahasiswanya, hal ini dapat diwijudkan dalam meramu kurikulum yang berbasis kepada pembentukan kompetensi yang berfokus pada skill (keterampilan), Knowledge (Pengetahuan) dan Attitude ( Perilaku).

Seseorang yang hanya bisa mengajar tapi ajarannya tidak mendidik maka hasilnya bisa menyesatkan anak didik. Setiap pendidik  harus mampu mengajar sesuai dengan tugasnya dan apapun yang diajarkannya harus bersifat mendidik. Untuk itu seluruh pendidik diharapkan dapat terus meningkatkan kemampuan dan keterampilan serta meningkatkan pengetahuan mereka demi kemajuan bangsa, pendidik harus memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negaranya, karena lewat tangan para pendidiklah, anak didik yang tangguh, cerdas dan berguna bagi bangsa depan bangsa dan negara ini dapat diciptakan. Maju tidaknya bangsa ini bisa ditentukan oleh para pendidik.

“Pendidikan formal terkadang menjadikan orang mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Namun hal itu akan berjalan lebih baik jika disertai pendidikan non formal, seperti pendidikan ahlak, budi pekerti, sopan santun, kedisiplinan dan tanggung jawab. Dasar-dasar norma tersebut akan membentuk kepribadian diri seseorang sehingga meraih sukses dan mudah menyesuaikan diri ditengah masyarakat.

Demikian juga dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, mereka harus mampu dan mau menyesuaikan diri dengan perubahan dan perkembangan zaman, seperti halnya perkembangan teknologi dan informasi yang dapat diaplikasikan dalam penerapan metode pengajaran dan mereka pun dapat mengikuti pelatihan-pelatihan tentang penggunaan teknologi atau perkembangan informasi. Jangan sampai seorang pendidik nantinya tertinggal oleh anak didiknya dalam penggunaan teknologi informasi yang terus berkembang.

Mata pelajaran yang diberikan pun harus memiliki muatan-muatan pengembangan kepribadian, kemampuan keilmuan dan keterampilan, kemampuan berkarya, kemampuan perilaku berkarya, kemampuan hidup bermasyarakat. Jika hal itu dilakukan maka lulusan perguruan tinggi yang dihasilkan dapat lebih berdaya guna di tengah masyarakat.”Kualitas suatu Negara dapat tercermin dari sistem pendidikan dan hasil dari pendidikan itu sendiri. Tentu untuk mencapai hasil yang diinginkan tidak semudah membalikkan telapak tangan, dibutuhkan dedikasi, pengorbanan dan keinginan yang kuat dari para pendidik itu sendiri maupun dan semua pihak.”

Obsesi di Masa Depan

Bagi pria berusia 69 tahun ini, hidup di tentukan oleh pendidikan. Hasil didapatkan dari bekerja dan untuk bisa bekerja dibutuhkan keahlian, karena itu ia berobsesi dapat menuntun anak didiknya menghadapi persaingan di dunia pendidikan saat ini dengan latihan, pengajaran dan kepemimpinan, karena kita hidup dalam dunia usaha dimana jiwa entrepreneur harus diterapkan dalam diri setiap anak didiknya.

“Kita harus menanamkan sifat senang memberi kontribusi kepada masyarakat tanpa pamrih, walau tetap berjiwa entrepreneur yaitu berjiwa win win solution (kedua pihak merasa diuntungkan),” ucap pria yang selalu menerapkan system pengajaran yang bijak dengan tidak mengucapkan ‘kamu salah’ atau ‘ jangan lakukan’ itu. ”Kita harus percaya kalau anak didik kita bisa melewati kompetisi ini. Dengan begitu, rasa percaya diri mereka bisa terlatih sejak dini  dan lihat saja apa yang mungkin terjadi nanti,” ujarnya menutup pembicaraan dengan Tim Profil.

H. Dudit L. Sugiharto, S. Sos., MM

No Comments

H. Dudit L. Sugiharto, S. Sos., MM
Ketua Yayasan Bhakti Tunas Husada

“Menjadi STIKes Unggulan di Jawa Barat”

Dari sekian banyak Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) di Jawa Barat, prestasi yang ditorehkan STIKes Bhakti Tunas Husada Tasikmalaya patut mendapat acungan jempol. Berdiri sejak april 2004, STIKes Bhakti Tunas Husada merupakan gabungan dari Akademik Perawat (Akper) dan Akademik Analis Kesehatan (AAK) di bawah naungan Yayasan Bhakti Tunas Husada. Dalam tempo lima tahun, tercatat berbagai prestasi dari sekolah tinggi yang digagas oleh H. Iyus Ruswadi tersebut.

“Alhamdulilah, tahun 2009 sesuai dengan visi kami “Menjadi STIKes Unggulan di Jawa Barat”, kami menjadi lembaga pendidikan yang pertama di Indonesia yang mendapat lisensi dari BNSP. Dimana STIKes Bhakti Tunas Husada menjadi LSP dan tempat uji kompetensi untuk Bidang Administrasi pekerjaan Analis dan Keperawatan se-Indonesia. Tahun 2010, kami memperoleh penghargaan sebagai peraih pengelola administrasi keuangan terbaik, administrasi akademik terbaik dan perpustakaan ketiga terbaik, semuanya pada tingkat provinsi Jawa Barat, “ kata H. Dudit L. Sugiharto, S.Sos., MM, Ketua Yayasan Bhakti Tunas Husada.

Selain itu, sejak tahun 2008 STIKes Bhakti Tunas Husada telah menggunakan multimedia dalam sistem pembelajaran. Dan setiap sudut kampus, mahasiswa bebas mengakses internet karena tersedia hotspot di lingkkungan kampus. Untuk mempermudah dosen dalam menjalankan aktivitas mengajar, pihak kampus menyediakan notebook yang dapat dibayar kredit tanpa bungan. Semua itu dimaksudkan agar dosen dapat memberikan pelayanan terbaik serta terjalin komunikasi yang intensif antara dosen dan mahasiswa.

Bagi mahasiswa yang berprestasi, STIKes menyiapkan sederet kemudahan dan fasilitas pendukung bagi aktivitas mereka. Mahasiswa dengan IPK 3,5 ke atas mendapatkan beasiswa dari Yayasan. Sementara bagi mahasiswa yang aktif berorganisasi baik di tingkat nasional maupun regional, selain mendapat beasiswa aktif organisasi juga memperoleh mobil sebagai fasilitas operasional. “Ini untuk amanah dan efisiensi bagi mereka juga, Karena bagi STIKes mahasiswa bukan objek, tetapi subjek,” imbuhnya.

Dudit mengisahkan, sebelum sebesar sekarang, STIKes Bhakti Tunas Husada berawal ketika H. Iyus Ruswadi (Alm), sebagai kepala SPK ingin mendirikan mesjid. Namun, karena tidak memiliki dana ia terpaksa mencari bantuan ke berbagai pihak. Persyaratan untuk mendapatkan bantuan, ia harus membentuk yayasan sehingga berdirilah Yayasan Bhakti Tunas Husada pada November 1988. Setelah mesjid berdiri, barulah terpikir untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Sejak itulah, lanjutnya, disusun AD/ART yayasan pada tanggal 5 Desember 1988 dengan susunan pengurus sebagai berikut : Ketua H. Iyus Ruswadi, H. Mulyana Sekretaris, Arifin Bendahara, dengan anggota dr. Sadeli bersama tujuh orang lainnya. Namun berbagai konflik kepentingan menghiasi perjalanan yayasan sehingga meskipun bangunan pusat pelayanan sudah berdiri tetapi tidak bisa beroperasi. Akhirnya, bangunan tersebut beralih fungsi menjadi Akademik Keperawatan (Akper) berdasarkan SK Mendiknas Tahun 1993.

Tahun 1996, kisahnya, yayasan menambah satu lembaga lagi yakni Akademik Analis Kesehatan (AAK). Disusul kemudian pada tahun 1998 berdiri DUKM sampai tahun 2010 dibubarkan, kemudian Balai Pengobatan (BP) BTH didirikan. Tahun 2003, yayasan mendirikan Panti Asuhan Amanah Bhakti Tunas Husada, karena H. Iyus Ruswadi yatim sejak kelas tiga SD. Perasaan perih yang dirasakannya akibat hidup kekurangan karena yatim, membuat H. Iyus Ruswadi sangat ingin melihat anak-anak bangsa bisa menjadi orang dan berkiprah bagi bangsa, agama dan negara.

“Saya bergabung di sini sejak tahun 1996 dan digembleng langsung oleh beliau. Setelah beliau meninggal pada 15 Februari 2006 saya diangkat sebagai caretaker  ketua yayasan pada 18 Februari 2006, April 2006  secara resmi diangkat sebagai ketua yayasan. Semenjak menjabat, saya kemudian membenahi yayasan yang saat itu masih menggunakan kapasitas kepemimpinan beliau yang mapan dan berwibawa. Sementara saya sebagai pengganti pada usia 36 tahun, mengembangkan konsep yang berbeda dengan latar belakang saya sebagai sarjana marketing dari S1 sampai S2,” ujarnya.

Berdoa Lebih Keras

Dalam mengelola yayasan, H. Dudit L. Sugiharto, S.Sos., MM., banyak terinspirasi dari H. Iyus Ruswadi. Bagaimana menjalankan roda organisasi dengan amanah adalah salah satunya. Terus menerus melakukan perbaikan disegala bidang merupakan salah satu terobosan berlian yang dilakukan pria kelahiran Tasikmalaya, 22 Februari 1970 ini. Mulai bidang akademik, peraturan kepegawaian, statuta pendidikan serta fasilitas lainnya mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman.
“Semua itu merupakan sebuah prestasi bersama dan bukan hasil kerja saya saja. Yang jelas, keyakinan saya berawal dari konsep Do The Best For Allah, dengan 7 nilai ilahiyah yaitu jujur, tanggung jawab, kerjasama, visioner, disiplin, adil dan peduli. Itu kami terapkan, karena semua orang tahu masalah tidak akan pernah hilang selama kita hidup. Seperti yang dikatakan Kang Erbe Sentanu pencetus Quantum Ikhlas, yang paling penting dilakukan manusia bukan bekerja keras tetapi berdoa lebih keras,”tandasnya.

Tidak heran, dengan keyakinan tersebut, ia tidak pernah lepas shalat Tahajud dan Duha setiap hari. Dampak yang dirasakannya adalah dalam menghadapi berbagai kesulitan Allah selalu memberikan jalan keluar yang terbaik.

“Ini belum sempurna, masih banyak kekurangan karena saya juga belum apa-apa. Tetapi yang jelas, dengan komitmen yang kami sepakati bersama menjadi tanggung jawab kita meskipun masih banyak kekurangan,” tambahnya. “Saya tidak bisa sembarangan memilih orang karena harus amanah. Tetapi Alhamdulilah, di sini semua transparan. Penggunaan uang dapat terpantau dengan jelas,” imbuhnya.

Terkait banyaknya sekolah tinggi sejenis, Dudit menyikapinya sebagai mitra sejajar. Ia pun menganggap persaingan merupakan hal yang wajar asalkan persaingan disikapi dengan sehat. Pada prinsipnya, ketika mahasiswa merasa puas saat menempuh pendidikan di STIKes BTH akan membawa nama baik kampusnya dimata masyarakat. Begitu juga sebaliknya, kesan buruk akan dikeluarkan ketika mahasiswa tidak puas terhadap kampus dimana dia menempuh pendidikan.

Menyikapi kondisi tersebut, Dudit menyiapkan segala sesuatunya dengan baik. Selain menetapkan disiplin tinggi, fasilitas multimedia bagi dosen dan mahasiswa. Dibimbing oleh 32 dosen lulusan S1, S2 dan S3, membuat mahasiswa tingkat akhir sebelum prosesi wisuda direkrut perusahaan-perusahaan yang membutuhkan.

“Selain beasiswa yang jumlahnya bisa dua kali lipat dari mahasiswa di perguruan tinggi lain. Kepada dosen berprestasi pun diberikan reward atas prestasinya. Ada tunjangan gaji serta peraih dosen terbaik atau pegawai terbaik memiliki kesempatan untuk umrah dan haji atas biaya yayasan. Pendidik itu pertanggungjawabannya langsung kepada Allah sehingga wajar bagi mereka menerima penghargaan seperti itu,” katanya.

Dudit juga membuat berbagai terobosan terkait sistematika perkuliahan. Salah satunya adalah membuat kartu mahasiswa sebagai ATM, kartu registrasi, kode akses, kartu absensi, parkir dan lain-lain, bekerja sama dengan sebuah bank nasional. Semua itu dilakukan untuk mempermudah mahasiswa dalam menjalankan aktivitas di kampus STIKes BTH Tasikmalaya. Dengan jumlah mahasiswa 722 orang saat ini, kualitas alumnus sangat diutamakan sehingga banyak diantara mereka yang diterima bekerja di luar negeri seperti Kuwait, Jepang, Arab Saudi dan lain-lain.

“Masyarakat juga mengakui kredibelitas STIKes BTH Tasikmalaya, mahasiswa baru yang daftar ke  kita yang tidak lulus, kita rekomendasikan ke perguruan tinggi lain yang sejenis. Begitu juga dengan anak-anak panti asuhan yang tadinya kucel dan dekil, sekarang menjadi bersih, rajin dan layak untuk bersekolah,” kata suami dari Dewiyani  Dahlia, YRS. ST MT ini.

Sekilas STIKes BTH Tasikmalaya

Sejarah
Tanggal 27 April 2004 keluar SK Mendiknas RI No. 60/D/O/2004 tentang Pendirian Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes BTH) dengan tiga Program Studi : DIII Keperawatan, DIII Analis Kesehatan dan S1 Farmasi. Dengan demikian, Akper BTH dan AAK berubah status menjadi program studi di STIKes BTH, ditambah satu program studi yang baru yaitu S1 Farmasi.

Visi
Visi STIKes BTH Tasikmalaya adalah Menjadi STIKes Unggulan di Jawa Barat.

Misi
Menyelenggarakan Tridharma Perguruan Tinggi yang bermutu untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan berdaya saing.

Tujuan
Mewujudkan tata kelola institusi yang otonom, transparan dan akuntabel.
Menghasilkan lulusan yang berkompeten, berahlak mulia, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta memiliki keunggulan.
Memperluas keilmuan dan pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan.

Filsafat dan Nilai
Filsafat STIKes BTH Tasikmalaya berlandaskan Pancasila dan Undang – Undang Dasar 1945 serta seiring Visi Yayasan yaitu “Mensyukuri nikmat Allah dengan mewujudkan suatu entaitas yang bermanfaat sebagai perwujudan ibadah”. Nilai yang dianut STIKes BTH adalah Jujur, Tanggung Jawab, Visioner, Disiplin, Kerjasama, Adil, Peduli.
Identitas
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bhakti Tunas Husada Tasikmalaya berdiri berdasarkan SK Mendiknas No. 60/D/O/2004 tanggal 27 April 2004 yang berlokasi di Jalan Cilolohan No. 36 Tasikmalaya 46115, Tlp. (0265)334740, Fax (0265)327225.

Program Studi

DIII Keperawatan
Terakreditasi BAN PT No. 017/BAN-PT/Ak- VI/DpHII/XII/2005
Pada Program Studi ini, mahasiswa diarahkan agar memiliki kemampuan dibidang pelayanan asuhan keperawatan serta mampu melakukan segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan dasar manusia. Selain itu mahasiswa diajarkan pula tentang keperawatan medikal bedah, jiwa, anak, komunitas, maternitas dan berbagai ilmu pendukung lainnya. Pola pengajaran dilakukan dengan teori dan praktek di kelas, laboratorium, bahkan diberbagai rumah sakit serta puskesmas secara langsung.

DIII Analis Kesehatan
Terakreditasi BAN PT No. 016/BAN-PT/Ak-VI/DpHII/XII/2006
Mahasiswa Program Studi ini diarahkan untuk menjadi seorang analis kesehatan di laboratorium atau tempat lainnya. Keahliannya yang akan dimiliki di antaranya mampu melakukan pemeriksaan klinis atau kimia sebagai penunjang diagnosa dokter, atau sebagai tenaga ahli di laboratorium perusahaan penghasil produk farmasi, kosmetik atau makanan. Pengetahuan dasar yang diajarkan meliputi ilmu kimia, biologi serta berbagai ilmu pendukung lainnya. Pola pengajaran meliputi kegiatan teori, praktek di laboratorium atau berupa kunjungan ke berbagai industri.

S1 Farmasi
Terakreditasi BAN PT No. 010/BAN-PT/Ak-VI/S1/2007
Lulusan Program Studi ini diarahkan untuk menciptakan sarjana yang professional dibidang farmasi . Bidang keilmuan farmasi ini terdiri atas 5 bagian yaitu Kimia Farmasi, Teknologi Formulasi, Bahan Alam Farmasi, Farmakologi dan Ilmu Dasar /Ilmu Tambahan. Tiap-tiap bagian merupakan ilmu yang berhubungan atau kelompok keilmuan dan terapan dibidang farmasi. Bagian-bagian ini meliputi teori, praktek dan penelitian. Lulusan Program Studi ini dapat melanjutkan pendidikan berikutnya untuk menjadi apoteker atau melanjutkan jenjang S2 Farmasi.

Sarana dan Prasarana

STIKes BTH Tasikmalaya berdiri di atas tanah seluas 20727 m², dilengkapi dengan laboratorium praktek yang memadai, perpustakaan, free internet, mushola dan sarana lainnya untuk kegiatan kemahasiswaan, olah raga, kesenian dan koperasi. Khusus bagi mahasiswa keperawatan tersedia asrama yang terletak di lingkungan kampus, selain itu tersedia pula tempat parkir yang luas, menjadikan STIKes BTH menjadi tempat belajar yang representative.

Seluruh ruang kelas yang ada telah dilengkapi dengan LCD Projector, yang akan memudahkan para pengajar dan mahasiswa untuk melakukan proses belajar secara interaktif dan efisien.

Sistem Informasi kemahasiswaan tersedia pada On Line Information Booth (MISTer IT) yang dapat dimanfaatkan setiap saat oleh mahasiswa untuk melakukan pengecekan progress belajar, nilai, jadwal dan informasi penting lainnya. Keunggulan
Perpustakaan yang dimiliki STIKes BTH Tasikmaya dilengkapi dengan ribuan buku elektronik (e-book) dan ratusan buku contoh lainnya yang dapat dijadikan referensi. Berbagai jurnal baik dari dalam dan luar negeri tersedia cukup, juga dapat diakses  gratis melalui koneksi internet yang tersedia secara gratis pula.
Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STIKes BTH Tasikmalaya telah bekerja sama dengan berbagai pihak, menyelenggarakan berbagai kegiatan sepeti bakti sosial, pengobatan gratis, penyembelihan hewan qurban dan lainnya.

STIKes BTH Tasaikmalaya memberikan pembebasan biaya semester bagi mahasiswa yang berprestasi untuk masing-masing angkatan dan program studi. Selain itu pemberian beasiswa dari Kopertis Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, serta berbagai institusi swasta lainnya juga menjadi agenda rutin STIKes BTH Tasikmalaya.

Lulusan STIKes BTH Tasikmalaya telah bekerja di berbagai instansi baik pemerintah (75% lulusan telah diangkat PNS) maupun swasta seperti RSP Pertamina, RS Pondok Indah serta berbagai laboratorium terkemuka serta perusahaan-perusahaan farmasi berskala besar.

Bagi mahasiswa analis dan keperawatan, sebelum lulus akan mengikuti Uji Kompetensi Laboratorium Dasar yang diselenggarakan oleh LSP BTH yang telah bersertifikat BNSP. Untuk pelaksanaannya, STIKes BTH Tasikmalaya telah memiliki Tempat Uji Kompetensi (TUK) bagi profesi Analis Kesehatan dan Keperawatan.

Rencana Strategis STIKes BTH Tasikmalaya Tahun 2011 – 2015

Dalam 6 (enam) tahun perjalanannya STIKes BTH Tasikmalaya telah berupaya melejitkan potensi dirinya dalam rangka mencapai visinya sebagai “STIKes Unggulan di Jawa Barat”. Program pengembangan STIKes BTH telah dirancang melalui Perencanaan Strategi (Renstra) secara periodik yang disusun setiap 5 tahun. Renstra terakhir yang berlaku untuk periode 2006-2010 telah dilaksanakan dan dievaluasi.

Untuk kesinambungan program maka telah disusun Renstra periode berikutnya tahun 2011-2015 yang berorientasi pada pengalaman masa lalu, keadaan saat ini dan prospek ke depan. Sejalan dengan Visi maka Misi STIKes BTH adalah “Menyelenggarakan Tridharma Perguruan Tinggi yang bermutu untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan berdaya saing”, sedangkan tujuan STIKes BTH adalah :
Mewujudkan tata kelola institusi yang otonom, transparan dan akuntabel.
Menghasilkan lulusan yang berkompeten, berahlak mulia, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta memiliki keunggulan.
Memperluas keilmuan dan pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan.
Penyusunan Renstra 2011 – 2015 dilakukan secara kooperatif, koordinatif dan sistematik melalui analisa SWOT untuk menganalisa lingkungan internal berupa fakto-faktor yang menjadi kekuatan (Strength) dan kelemahan (Weakness) yang dimiliki STIKes BTH, serta lingkungan eksternal berupa factor-faktor yang menjadi peluang (Opportunity) dan ancaman (Threath) yang dihadapi STIKes BTH.

Berdasarkan hasil analisa SWOT maka ditetapkan formulasi strategi yang digunakan atas unsur kekuatan dan peluang (S-O), strategi atas unsur kekuatan dan ancaman (S-T), strategi atas unsur kekuatan dan peluang (W-O), dan strategi atas unsur kelamahan dan ancaman (W-T). Selanjutnya ditentukan strategis yang dipilih untuk pengembangan STIKes BTH periode 2011-2015 adalah sebagai berikut :
Membangun dan mengoptimalkan sistem manajemen akademik, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.
Membangun sistem manajemen dan optimalisasi pengembangan SDM.
Membangun dan optimalisasi implementasi SPMI, PDPT dan LSP.
Membangun sistem manajemen keuangan yang handal.
Membangun sistem manajemen sarana dan prasarana.
Meningkatkan promosi dan pencitraan institusi.
Menggali sumber dana di luar mahasiswa.
Meningkatkan hard skill dan soft skill lulusan.
Membuka program studi baru.

Felicia Wiyanti Wowor

No Comments

Owner AMBATIK

Melestarikan Budaya Indonesia Dengan Menekuni Batik

Di tengah kekhawatiran lunturnya nasionalisme generasi muda, terdapat beberapa pengecualian. Prasangka bahwa generasi muda sudah meninggalkan budaya sendiri terpatahkan oleh mereka yang dengan tekun melestarikannya. Beberapa di antaranya, bahkan memantapkan diri membuka usaha yang berhubungan dengan budaya Indonesia.

Salah satunya adalah pemilik AMBATIK, Felicia Wiyanti Wowor. Di usianya yang masih belia, -kelahiran Jakarta, 18 Februari 1984- telah melahirkan beragam karya yang menunjukkan kecintaan terhadap Indonesia. Media yang digunakannya adalah budaya asli Indonesia yang pernah diklaim Malaysia, batik. Melalui karyanya, ia menunjukkan kepada dunia bahwa batik adalah budaya Indonesia yang bahkan anak muda pun sudah menggunakannya.

“Batik adalah warisan asli Indonesia. Mungkin karena orang tua saya penggemar batik sekaligus pendidik, mereka ingin warisan Indonesia itu tidak hilang. Salah satu caranya adalah ditularkan kepada anak-anaknya termasuk saya. Awalnya sih, karena saya lulusan desain, mama minta dibuatkan baju berbahan dasar batik. Lama kelamaan, saya senang juga karena berbeda dari batik-batik yang biasa. Akhirnya, setelah melalui berbagai observasi sebelumnya saya memutuskan untuk membuka usaha ini,” katanya.

Fini –lulusan D3 Fashion Design & Pattern Making ESMOD Jakarta- mendirikan AMBATIK tahun 2009. Dengan dukungan kedua orang tuanya –Frans Endy Wowor dan Maryam Harwanti Siregar- yang mengelola sebuah sekolah, usahanya mulai berjalan. Desain hasil karyanya diminati berbagai kalangan, baik tua maupun muda. Apalagi, sebagai anak muda kreasinya pun sangat sesuai dengan selera generasi muda yang bisa digunakan untuk menghadiri pesta, bekerja maupun aktivitas sehari-hari lainnya.

Strategi untuk merangkul generasi muda, yang diterapkan Fini sangat jitu. Menampilkan desain busana warna-warni digabungkan dengan berbagai aksesori entik lainnya, menjadikan desainnya sangat disukai. Ia sadar, budaya asli warisan bangsa ini harus dilestarikan di tengah gencarnya budaya luar yang masuk ke Indonesia. Karena di era globalisasi, tidak ada sekat antara satu negara dengan negara lainnya.
“Akibat globalisasi, anak-anak muda mendapat budaya lain. Oleh karena itu, saya berusaha supaya anak-anak Indonesia tetap tahu Indonesia. Salah satunya melalui media ini untuk membantu mempertahankan budaya kita sendiri. Kita tahu anak muda suka fashion maka ini sangat membantu dengan mengikuti kemauan mereka. Globalisasi membuat semua bisa masuk, sehingga kalau tidak ketat mempertahankan akan terlibas budaya lain. Jangan sampai karena interested terhadap budaya kita, orang lain yang memanfaatkannya,” tuturnya.

Selamatkan Pengrajin

Dengan menekuni batik, Fini Wowor tidak hanya sekadar membangun usahanya sendiri. Seiring dengan semakin maju dan banyaknya desain yang dikerjakannya, ia juga memerlukan bahan-bahan yang tidak bisa dibuatnya sendiri. Salah satunya adalah kain batik yang harus dibelinya dari para pengrajin batik. Langkah untuk membeli dari pengrajin tersebut berdampak luas karena kehidupan mereka terselamatkan.

“Saya harus hunting mencari kain batik untuk desain saya. Kadang pengrajin juga datang kepada saya untuk menawarkan kain batik produk mereka. Karena mereka juga senang, produknya digunakan yang berarti mereka bisa terus berproduksi lagi. Artinya batik tetap lestari menjadi warisan budaya Indonesia,” kata sulung dari empat bersaudara yang mendapat dukungan penuh keluarga ini.

Terkait dengan hal tersebut, Fini menyerukan kepada para penggemar batik di Indonesia untuk menggunakan batik tulis. Selain kualitasnya sangat bagus, penggunaan batik tulis akan membuat pengrajin tidak kekurangan pekerjaan. Dengan menggunakan produk batik tulis, artinya lapangan perekonomian akan terus terbuka bari para pengrajin batik.

Untuk itu, Fini juga berkeinginan mengembangkan AMBATIK dengan cakupan yang lebih luas. Selain berbagai pameran di dalam negeri, ia juga ingin membangun sebuah gallery untuk memajang karya-karyanya. Obsesi lainnya adalah membangun website sehingga produk hasil ciptaannya dikenal luas di seluruh dunia. “Sementara, ini yang sedang benar-benar dipikirkan. Pekerjaan saya bukan ini saja, karena untuk kontrolnya semua masih saya sendiri,” imbuh putri pasangan pendidik ini.

Sebagai generasi muda, Fini mengajak sesama generasi muda untuk menjadi entrepreneur seperti dirinya. Karena dengan menjadi entrepreneur sejak muda, bisa mengubah Indonesia menjadi lebih sejahtera. “Cari apa yang mereka senang, hobi dan bagaimana bisa membantu Indonesia ke depan. Bagaimana cara membangun Indonesia agar menjadi lebih baik,” tambahnya.

Tren Meningkat

Setelah menyelesaikan pendidikan tahun 2005, Fini sempat membantu di sekolah yang dikelola ayah dan ibunya. Sambil terus mencari-cari celah untuk memulai usaha, ia ikut mengelolanya. Saat itu, ibunya adalah guru sekaligus Kepala Sekolah sehingga sering mendapat hadiah berupa kain batik. Pemberi hariah rupanya tahun kalau ibunya adalah penggemar batik.

“Apalagi di Indonesia sekarang ini juga sudah mulai meningkat trend penggunaan batik. Dari awal saya tertarik dalam bidang itu, hanya untuk masuk ke dunia bisnis ini banyak pertimbangan. Meskipun batik bisa dipakai orang tua, anak muda dan segala segmenlah,” ungkapnya.

Dalam rancangan-rancangannya, Fini membuat batik menjadi pantas dikenakan siapa saja tanpa memandang usia. Tua maupun muda, pantas mengenakan baju hasil rancangan designer muda ini. Yang tua menjadi semakin berwibawa, sementara yang muda tetap tampil ceria tanpa harus kelihatan tua. “Ini salah satu cara menarik minat anak muda berbatik. Mereka tetap keren, tidak menjadi tua dan kemudaannya tetap terlihat,” kata designer yang hanya mendesain satu model dengan beberapa ukuran ini.

Menurut Fini Wowor, AMBATIK atau membuat batik terinspirasi dari derasnya arus globalisasi di Indonesia. Semua itu mengakibatkan generasi muda Indonesia lebih memilih untuk membeli barang-barang bermerk internasional dan menunda pembelian merk lokal, yang lambat laun akan melenyapkan warisan budaya Indonesia yang salah satunya adalah batik. Sayangnya, produk batik dengan kualitas tinggi sangat sulit ditemukan di Jakarta.

Saat ini, generasi muda lebih memilih untuk membeli produk fashion luar negeri yang outletnya bertebaran di Jakarta. Sedangkan batik menjadi produk massal yang berharga murah dengan kualitas seadanya dan tidak memiliki nilai eksklusifitas. Ketika produk fashion batik yang bagus dan bermutu ditemukan, penerimaan pasar masih kurang bagus. Karena masih langkanya desainer baju-baju batik di tanah air.

Setelah memulai AMBATIK dua tahun lalu, Fini membeli berbagai jenis batik dari pembatik-pembatik tradisional di Yogyakarta dan Lasem. Ia mulai mendesain baju batik untuk para bisnismen, pembicara, guru, ibu-ibu dan teman-temannya yang membutuhkan baju batik dengan desain yang sesuai (baju-baju formal tetapi bukan kebaya). Setelah satu tahun berjalan, Fini mulai mendesain baju-baju “umum” berbahan batik seperti celana, atasan, rok, dan baju-baju. Hasil karyanya dipromosikan kepada teman-temannya, orang tua dan keluarga dengan respon yang sangat bagus.

Produk AMBATIK terbuat dari batik tulis atau batik cap yang memiliki keunikan tersendiri. Kisaran harga produk Ambatik –bukan produk massal tetapi terbatas- berada pada rentang antara Rp500 ribu sampai Rp1.200.000,-. “Sebagai orang Indonesia, saya bangga memiliki warisan budaya yang memiliki nilai artistik tinggi. Saya percaya, dengan keunikan dan desain inovatif terhadap warisan budaya ini, generasi mendatang akan mengapresiasi dan dengan bangga menggunakan batik sebagai busananya,” katanya.

 

Kombes Pol. Drs. Siswandi

No Comments

Kanit II Direktorat IV Bareskrim Polri

Indonesia Pangsa Narkotika Dunia

Peredaran narkotika dan obat-obatan (narkoba) semakin meluas belakangan ini. Maraknya bisnis narkoba tidak lepas dari besarnya perputaran uang haram di dalamnya. Tidak tanggung-tanggung, menurut laporan lembaga PBB, United Nation Office on Drug and Crime (UNODC), nilai perdagangan narkoba tahun 2003 mencapai US $ 322 miliar. Angka tersebut lebih besar dibandingkan dengan Gross Domestic Product (GDP) 88 persen negara-negara di dunia. Sedangkan di Indonesia, tercatat sebesar Rp12 triliun dihasilkan dari perdagangan narkoba.

Meskipun demikian, besaran uang yang dihasilkan tidak sebanding dengan kerusakan yang ditimbulkan. Karena dampak penyalahgunaan narkotika sangat luas. Tidak hanya terbatas pada kerusakan fisik dan mental tetapi juga ketenangan kehidupan dalam keluarga, meresahkan masyarakat dan terjadinya pelanggaran hukum. Dampak nyata yang dapat dilihat langsung dari pengguna narkoba adalah perubahan perilaku (malas, melawan, membantah, berbohong, dan lain-lain), kriminalitas, prostitusi, keluarga hancur, putus sekolah, penyakit AIDS, HIV sampai meninggal dunia.

Pemakai narkoba berubah menjadi orang egois, eksklusif, paranaoid, jahat dan asosial. Tuntutan kebutuhan fisik tersebut membuat sebagian besar pengguna narkoba mengalami kerusakan mental dan moral. Banyak pengguna yang untuk memenuhi kebutuhan terhadap narkoba menjadi pelacur, penipu, penjahat dan pembunuh. Kejahatan yang dilakukan pun tidak pandang bulu, bisa menimpa teman, sahabat, saudara bahkan orang tua kandungnya sendiri.

“Kondisi fisik yang lemah membuat mereka malas yang berujung menjadi bodoh dan miskin. Akan menjadi semakin berbahaya ketika orang miskin memiliki kebutuhan mahal karena mereka akan menjadi jahat. Ini akan menjadi ancaman bagi masyarakat, menjadi penyakit dan malapetakan bagi bangsa. Pemakai narkoba tidak hanya mengalami gangguan kesehatan, tetapi juga datangnya penyakit menular,” kata Kombes Pol. Siswandi, dalam bukunya “Pangsa Narkotika Dunia Indonesia”.

Menurut Siswandi, kerusakan yang tidak kalah berbahaya adalah gangguan psikologis serta kerusakan mental dan moral. Seorang anggota keluarga menjadi pengguna narkoba akan menimbulkan beragam masalah bagi keluarga tersebut. Awalnya masalah psikologis berupa gangguan keharmonisan rumah tangga karena muncul rasa malu pada anggota keluarga yang lain kepada tetangga dan masyarakat.

Dari masalah psikologis akan berkembang menjadi masalah ekonomi, ketika keluarga memutuskan untuk merehabilitasi anggota keluarga yang terjerumus ke lembah narkoba. Upaya mengembalikan anggota keluarga ke jalan yang benar ini memakan waktu dan biaya yang sangat besar. Padahal, keluarga telah kehilangan barang-barang berharga akibat pengguna narkoba mencuri dan menjualnya untuk memenuhi ketergantungan terhadap narkoba.

Masalah ekonomi yang ditimbulkan akibat kenekatan pengguna narkoba bisa menghancurkan keluarga. Tidak hanya sekadar terkurasnya harta benda –baik yang dicuri maupun untuk rehabilitasi- tetapi bisa berujung kekerasan dalam rumah tangga. Mulai tingkat perkelahian, pemaksaan, penganiayaan dan yang lebih tragis terjadi pembunuhan sesama anggota keluarga.

Selain itu, penyalahgunaan narkoba juga bisa mengakibatkan perceraian, anak terlantar, putusnya hubungan asmara, putus sekolah dan lain-lain. Intinya, masalah narkotika akan merembet kepada masalah-masalah lain yang lebih luas dan berbahaya seperti kriminalitas, prostitusi, korupsi, kolusi, nepotisme dan lain-lain.

Bila kerusakan tatanan kehidupan meluas ke seluruh pelosok negeri, pembangunan akan terhambat, kemiskinan meluas, kekacauan merata dan kejahatan muncul di mana-mana. “Jika demkian, sekeras apapun usaha kita membangun negara, kehancuran bangsa ini tinggal menunggu waktu. Intinya, narkotika dapat membunuh anak bangsa,” tegasnya.

Negeri Seribu Pintu

Melihat begitu besarnya uang yang beredar di dunia narkoba, bisnis ini sudah menggurita di seluruh dunia sejak puluhan tahun lalu. Nama-nama besar mafia dunia tidak bisa dilepaskan dari bisnis narkoba, meskipun mungkin berkedok usaha yang secara hukum resmi dan legal. Sementara di Indonesia, bisnis narkoba telah tumbuh sejak zaman penjajahan Belanda. Saat itu, bahkan narkoba merupakan bisnis yang legal sesuai hukum Belanda.

Pasca kemerdekaan bisnis narkoba di Indonesia dilarang secara hukum. Meskipun demikian, beberapa “pemain” tetap melakukan bisnis narkoba secara sembunyi-sembunyi. Apalagi barang haram berupa ganja bisa ditemukan secara alami di wilayah Sumatera seperti Aceh, Jawa dan daerah lainnya. Selain itu, pertumbuhan penduduk Indonesia yang sangat cepat, menjadikan negeri ini sebagai target pangsa narkoba dunia.

Di sisi lain, jalan untuk memasukkan narkoba ke Indonesia pun terbuka lebar. Meskipun jalur penerbangan udara relative tertutup karena ketatnya penjagaan petugas, namun Indonesia memiliki 17.840 pulau besar dan kecil. Artinya, Indonesia memiliki garis pantai yang sangat panjang (95.181 kilometer dan terpanjang di dunia) dengan beberapa pelabuhan saja yang diawasi petugas. Inilah celah yang bisa dimanfaatkan oleh penyelundup narkoba disamping perbatasan dengan negara lain.

“Dunia internasional mengakui potensi kekayaan Indonesia sebagai sebuah kekuatan yang luar biasa. Sejak dahulu, Indonesia menjadi ‘target serbu’ negara luar yang hendak berkuasa atas negeri kepulauan ini. Tetapi sebagai negara kepulauan dengan segala potensinya memang menguntungkan di satu sisi. Tetapi sekaligus merugikan karena menjadi peluang bagi penyelundupan narkoba. Artinya, seluruh pesisir Indonesia menjadi puntu masuk datangnya barang atau orang dari luar negeri,” ujarnya.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki 39 pelabuhan laut yang terbuka bagi perdagangan internasional. Selain itu, banyak pelabuhan laut yang dikelola secara tradisional oleh masyarakat setempat. Meskipun demikian, kedua pelabuhan –baik internasional maupun tradisional- menjadi sarana untuk penyelundupan narkoba secara efektif sehingga memerlukan pengawasan intensif aparat.

Di daratan, Indonesia berbatasan langsung dengan tiga negara pada 47 kecamatan. Yakni 19 kecamatan berbatasan langsung dengan Malaysia, 17 kecamatan berbatasan dengan Papua New Guinea dan 10 kecamatan berbatasan langsung dengan Timor Leste. Masing-masing perbatasan memiliki karakteristik tersendiri terkait permasalahan pelintas batas serta arus keluar masuk barang.

Pintu masuk peredaran narkoba lainnya adalah bandar udara yang berjumlah 22 di seluruh Indonesia. Beberapa bandara langsung didarati pesawat dari luar negeri tanpa harus transit di Bandara Soekarno Hatta sebagai bandara internasional utama. Dari sinilah, beberapa kali petugas berhasil menggagalkan upaya penyelundupan narkoba dari sindikat luar negeri ke Indonesia. Oleh karena itu, saat ini 10 bandara mendapatkan pengawasan prioritas terkait penyelundupan narkoba.

Pertanyaannya, mengapa Indonesia menjadi surga bagi para pemasok narkoba internasional? Padahal, secara ekonomi penduduk Indonesia masih kalah sejahtera dibandingkan dengan penduduk negara-negara di sekitarnya. Artinya daya beli rakyat Indonesia masih rendah daripada penduduk Malaysia, Thailand apalagi Singapura.

Jawabannya, perbandingan harga antara pasaran narkoba dunia dan Indonesia tidak tanggung-tanggung, mencapai 2000 persen. Artinya untuk harga Rp600 ribu per gram shabu di Iran, orang Indonesia berani membayar Rp2 juta. Sementara di Malaysia barang yang sama hanya dihargai maksimal Rp360 ribu saja setiap gram-nya. Begitu juga dengan heroin yang di Kolombia per gram hanya Rp38.700 di Indonesia mencapai Rp2 juta.

Dengan semakin meningkatnya pengguna narkoba di Indonesia -dari 3,2 juta tahun 2004 menjadi 3,6 juta tahun 2010- Indonesia adalah benar-benar surga bagi para mafia narkoba internasional. Tidak heran, segala cara digunakan untuk menyelundupkan narkoba ke Indonesia.

Indonesia Bebas Narkoba Tahun 2015

Peredaran narkoba harus diperangi sampai ke akar-akarnya. Seperti juga telah dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Hari Anti Narkotika International (HUT HANI) tahun 2006, “Negara tidak boleh kalah melawan penjahat apalagi SIndikat Narkotika”. Oleh karena itu, perang terhadap narkotika setara dengan perang melawan korupsi dan terorisme. Sebab, fakta akibat kejahatan narkotika setiap hari 50 anak Indonesia meninggal dunia.

Dengan begitu, perang terhadap narkotika merupakan perang seluruh rakyat Indonesia. Persoalan narkotika telah dikaji dari berbagai aspek, mulai kesehatan dan psikologis semuanya berbahaya bagi kehidupan. Tidak hanya jumlah korban yang terus meningkat tetapi juga dampak sistemik dari penggunaan narkoba tidak pada tempatnya yang mengakibatkan rusaknya generasi muda. Dikhawatirkan, dampak narkoba ke depan akan mengancam kedaulatan negara.

Fakta yang terkumpul dari lapangan, terungkap maraknya peredaran narkoba di Indonesia tidak lepas dari 12 unsur yang memudahkan barang haram tersebut beredar dan berkembang. Peluang tersebut menjadi faktor kunci yang mendorong sindikat narkotika internasional menjadikan Indonesia sebagai pangsa dengan populasi 230 juta jiwa. Adapun 12 peluang dan penyebab masuknya narkoba ke Indonesia adalah:

1. Banyaknya Pintu Masuk
Faktor geografis Indonesia sebagai negara kepulauan menyebabkan banyak celah yang memudahkan sindikat narkotika internasional masuk ke wilayah nusantara. Caranya lewat tiga pintu masuk yang tersedia, darat, laut dan udara dengan komposisi terbanyak lewat laut, disusul darat dan udara.

2. Murahnya Harga Kurir
Penyelundupan narkoba di Indonesia turut melibatkan WNI sebagai kurir kebanyakan akibat masalah ekonomi yang menderanya. Celakanya upah yang mereka terima sangat mudah dan tidak sepadan dengan risiko yang harus mereka hadapi ketika tertangkap.

3. Mudahnya Merekrut Kurir
Selain murah, kurir Indonesia juga sangat mudah direkrut. Iming-iming bepergian ke luar negeri, memacari sampai menikahi, adalah cara termudah untuk memperoleh kurir.

4. Mudahnya Membentuk Jaringan
Kejahatan narkoba adalah kejahatan terorganisir yang sangat rapi dan melibatkan banyak orang. Sistem kurir, membuat tidak hanya antar kurir tidak saling mengenal, juga antara kurir dengan bosnya tidak pernah terjadi pertemuan. Kurir hanya mengenal orang yang merekrutnya sehingga ketika tertangkap jaringan terputus.

5. Tingginya Harga Jual
Harga jual narkoba di Indonesia yang sangat tinggi membuat sindikat narkoba internasional tertarik menjual dagangannya di sini. Motif keuntungan akibat harga selangit mendorong sindikat dengan segala cara berusaha memasukkan narkoba ke Indonesia.

6. Mudahnya Mencari Tempat Tinggal
Indonesia menjadi surga bagi para pengedar narkoba internasional karena sangat mudah mencari tempat tinggal. Saat ini, demi mengagungkan privasi rumah, apartemen, hotel sampai kos-kosan tidak peduli dengan aktivitas penyewa.

7. Tingginya Jumlah Penduduk
Narkoba tetaplah sebuah bisnis, sehingga sesuai analisis bisnis Indonesia merupakan target pasar yang sangat menarik. Jumlah penduduk yang besar dengan daya beli dan selera tinggi pada tingkat atas menjadi sasaran pemasaran barang haram tersebut.

8. Penerapan Sanksi Hukum Kurang Maksimal
Meskipun Indonesia negara hukum dan menjadikan hukum sebagai panglima tertinggi, tetapi masih memerlukan pengawasan dalam penerapan sanksi hukum bagi terpidana. Banyak kasus hukum besar yang mendapat sanksi kecil dan sebaliknya kasus-kasus hukum kecil justru memperoleh sanksi yang maksimal.

9. Kurang Memiliki Kepastian Hukum
Tindak pidana narkotika di Indonesia diatur dalam UU No. 5 1997 tentang psikotropika, dan UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika, yang mengatur semua hal terkait dengan hukuman dan vonis pelaku kejahatan narkotika. Sayangnya dalam penerapannya tidak ada kepastian hukum sehingga banyak terpidana mati narkoba yang tidak kunjung dieksekusi bahkan memperoleh pengampunan atau pengurangan hukum.

10. Terbatasnya Peralatan dan Kurangnya SDM
Perlindungan terhadap keselamatan masyarakat Indonesia terkait narkoba sejatinya didukung oleh sumber daya manusia (SDM) dan peralatan yang kuat. Sayangnya, sumber daya yang dimiliki kepolisian masih sangat minim pengetahuan narkotika dalam menghadapi sindikat narkotika yang terus mencari modus operandi baru.

11. Lemahnya Pengawasan di Pintu Masuk
Kebanggaan sebagai negara dengan belasan ribu pulau memang patut disyukuri. Namun, jangan sampai kekayaan itu membuat bangsa Indonesia terlena sehingga bisa digunakan sebagai pintu masuk bagi sindikat narkoba internasional untuk memasukkan narkoba ke Indonesia.

12. Tingginya Ego Sektoral
Penanggulangan bahaya narkoba masih terkendala adanya egosentrisme sektoral antar instansi yang terlibat di dalam penanganan narkotika. Mulai petugas Bea dan Cukai, BNN dan Kepolisian Republik Indonesia, semua berjalan sesuai tupoksi masing-masing. Meskipun terkadang ego sektoral membuat penyidikan yang dilakukan pihak kepolisian menjadi gagal.

Melihat kenyataan tersebut, diperlukan good will dan political will dari seluruh elemen untuk pemberantasan peredaran narkoba. Dari 12 peluang tersebarnya narkoba tersebut jelas terlihat bahwa Indonesia sangat sulit untuk keluar dari cengkeraman jerat narkotika. Masih memerlukan upaya keras, tegas dan terus menerus untuk mewujudkan Indonesia yang bersih dari narkoba.

“Memang Indonesia Bebas Narkoba Tahun 2015 telah dicanangkan. Begitu juga negara-negara ASEAN yang bebas dari peredaran dan penyalahgunaan narkoba. Sebagai bagian dari Polri, saya harus tunduk, patuh serta berkomitmen mensukseskan agenda nasional tersebut. Hanya niat dan keinginan saja yang memampukan kita melawan sindikat narkoba. Karena sejak wacana 2015 bebas narkoba, justru peredaran narkoba di Indonesia semakin tinggi. Dari negara transit menjadi negara tujuan, makanya saat inilah kita harus menentukan apakah kita serius menjadikan 2015 sesuai agenda atau justru menjadi kartel,” tegasnya.

Spesialis Jaringan West Africa

Kombes Pol Siswandi dikenal memiliki spesialisasi pada pengungkapan jaringan narkoba kulit hitam asal Afrika Barat (West Africa). Puluhan pengedar narkoba asal Afrika Barat telah berhasil dibekuk pria kelahiran Medan, 5 Juli 1959 ini. Dalam catatannya, fenomena yang terjadi dalam sindikat peredaran narkoba di Indonesia adalah penggunaan kurir wanita asal Indonesia. Data yang dimiliki instansinya menyebutkan bahwa sejak tahun 2006-2007, tercatat sebanyak 12 wanita Indonesia yang dijadikan kurir jaringan narkoba. Dalam struktur perdagangan narkoba terdiri dari pengedar, pemilik dan kurir.

Beragam profesi direkrut jaringan sindikat narkoba internasional untuk menjadi kurir. Mulai pelajar, ibu rumah tangga, orang yang terjerat hutang sampai nenek-nenek yang memiliki beban domestik direkrut menjadi kurir. Apalagi, karena dalam kondisi terpaksa seperti itu membuat bayaran untuk merekrut kurir di Indonesia sangat murah. Sungguh tidak sebanding dengan taruhan hukuman mati yang akan menimpa mereka dibandingkan dengan nilai narkoba yang harus diantarnya.

Belakangan, jaringan sindikat narkoba asal Afrika Barat merekrut kurir dari negara target yang biasanya wanita. Digunakannya kurir wanita, karena mereka memiliki masalah yang sangat kompleks, yakni beban domestik rumah tangga seperti urusan ekonomi dan anak-anak.

Masalah-masalah kompleks yang dihadapi (sebagian) wanita Indonesia tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh sindikat narkoba Afrika Barat. Apalagi, mind set wanita Indonesia terhadap orang-orang yang berasal dari Afrika Barat sangat baik. Adapun faktor yang membuat wanita Indonesia kepincut jaringan narkoba Afrika Barat dan dijadikan kurir, antara lain:

1. Warga Afrika Barat dinilai memiliki komitmen dan setia sebagai teman
2. Memiliki kemampuan seks yang sangat hebat
3. Memiliki kemampuan persuasi dalam memperdaya dengan berbagai janji-janji maupun imbalan bila berhasil dalam berbisnis
4. Merasa memiliki kebanggaan apabila bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris serta jalan bersama dengan orang-orang West Africa (sehingga berpeluang besar untuk satu kamar dan berbuntut dijadikan istri maupun wanita simpanan)

Keempat faktor inilah yang tanpa disadari dimanfaatkan oleh jaringan narkoba West Afrika, sehingga dengan mudah bisa beroperasi di Indonesia melalui bantuan kurir wanita pribumi. Beberapa siasat dilakukan oleh jaringan ini untuk menjebak beberapa wanita Indonesia yang tidak bisa dihindari, antara lain:

1. Orang-orang West Africa meminjam nomor rekening, ATM serta nomor PIN ATM dengan alasan untuk berbisnis. Para wanita tersebut dijanjikan akan menerima imbalan dari keuntungan bisnisnya (tanpa disadari wanita tersebut akan memberikan ATM berikut nomor PIN-nya)
2. Untuk menjadi guide dan teman West Africa yang notabene bertempat tinggal dalam satu kamar dan berlanjut sampai dijadikan istri maupun wanita simpanan
3. Setelah tinggal sekamar dan dijadikan istri atau wanita simpanan, apabila dengan cara baik-baik tidak bisa dijadikan kurir, maka kemudian dicari-cari kesalahannya untuk dijadikan sebagai ancaman agar bersedia dijadikan kurir dalam sindikat narkoba

Tips Untuk Wanita
Menghindari Jebakan Sindikat Narkoba Afrika Barat

 Hindari ajakan, rayuan dengan janji-janji dengan imbalan maupun dijadikan istri, apalagi gendakan agar tidak tertangkap
 Jangan sekali-kali meminjamkan ATM berikut nomor rekening serta nomor PIN ATM. Walaupun dengan berbagai alasan dan iming-iming janji apapun, karena semua kasus di dalam jaringan sindikat narkoba West Africa menggunakan ATM dengan nama wanita
 Jangan sekali-kali membawa, mengangkut maupun mengambil barang, baik paket, koper, tas dan lain-lain, karena semua kasus narkoba seluruh kurir yang membawa barang narkoba
 Hindari atau tolak bila WN West Africa ingin tahu dan kenal keluarga. Hal tersebut dapat mencegah pemberian apapun oleh sindikat narkoba kepada keluarga (ada kasus yang karena orangtuanya tidak bisa menolak sehingga anaknya diperbolehkan untuk disuruh mengambil koper di luar negeri, yang notabene koper tersebut berisikan heroin)
 Yang paling mujarab, hindari ingin kenal terhadap orang-orang West Africa sebelum mengetahui secara pasti dan jelas identitas, status maupun pekerjaannya di Indonesia. Alangkah lebih baik, konsultasikan dulu kepada instansi yang berwenang (polisi, imigrasi dan instansi lain). Sebagai contoh kasus, jangankan hanya gendaan yang mereka korbankan untuk dijadikan kurir sindikat narkoba, bahkan istri pun mereka korbankan untuk masuk dalam sindikat narkoba. Contoh kasus tersangka Elis Suginah dengan barang bukti 50 gram heroin. Ia menjadi istri West Africa yang sedang hamil 8 bulan dikorbankan untuk mengantarkan heroin sehingga tertangkap dan sampai melahirkan suaminya (WN Nigeria) tidak pernah muncul

Tips untuk Masyarakat
Dalam Upaya Mengungkap Sindikat Narkoba Afrika Barat
1. Apabila ada warga Negara Afrika Barat yang bertempat tinggal sebagai tetangga maupun menjadi warga setempat (karena kontrak, kost dan lain-lain). Tanya dulu identitas yang lengkap dan statusnya sebagai apa (bekerja sama dengan RT/RW, lurah dan camat)
2. Fotocopy dokumen-dokumen yang ada dan dilihat dulu paspor aslinya. Sehingga fotocopy dokumen-dokumen tersebut ada di tingkat RT/RW, kelurahan dan kecamatan (biasanya tidak memiliki paspor asli)
3. Catat dan laporkan kepada aparat setempat bila ada WNA Afrika Barat yang melakukan aktifitas tidak jelas, seperti pergi pagi dan pulang pagi, pergi sore pulang pagi, kehidupan mewah pekerjaan tidak jelas, naik mobil gonta-ganti dan sebagainya
4. Jangan berikan peluang dan kesempatan lingkungan, tempat tinggal tersebut dijadikan basis jaringan Afrika Barat
5. Laporkan segera kepada petugas setempat kalau ada hal-hal yang mencurigakan (paling tidak sudah mencegah, serta berpartisipasi aktif membantu petugas dalam memberantas sindikat narkoba Afrika Barat)

Biodata:

Nama : Drs. Siswandi
Pangkat/NRP: Kombes Pol/59070990
Tempat/Lahir: Medan, 05 Juli 1959
Jabatan : Kepala Unit II
Kesatuan : DIT IV/TP.NARKOBA DAN K.T – BARESKRIM POLRI
No. HP : 0857 1870 0000
Kantor/fax : 021 – 80877403

Riwayat Jabatan:
1. Inspektur Muda Akademi Kepolisian
2. Kapolsek Way Jepara Res Lampung Tengah SUMBAGSEL
3. Ka KPPP Panjang Polwil Lampung Polda SUMBAGSEL
4. Kapolsek Tj Karang Barat Polwil Wil Lampung SUMBAGSEL
5. Kasat Serse Resta Bandar Lampung Polda SUMBAGSEL
6. DIK/Mahasiswa PTIK Angkatan 28 TH. 1991
7. Kasat Serse Res Probolinggo Polda JATIM
8. Kasat Serse Res Surabaya Selatan Polda JATIM
9. Kasubbagin Ops. Serse Ek Dit Serse Polda JATIM
10. Pabandya Skamtibmas Mabes ABRI
11. Kanit Narkotik Ditserse Polda Metro Jaya
12. DIK/Mahasiswa Sespim Pol Angkatan 34 TH. 1997
13. Kabag Narkotik Ditserse Polda KALTIM
14. Kasat VC Dit Pidum Korserse Polri
15. Kasat Serse Polwiltabes Bandung Polda JABAR
16. Kapolresta Cirebon Polda JABAR
17. Kasubag Min Korta Sespati Polri Sespimpol Lembang Bandung DIK Sespati Angkatan 16 TH. 2009
18. Kanit II DIT.IV/TP Narkoba dan KT Bareskrim Februari 2006- sekarang

Penugasan luar negeri:
1. China
2. Hongkong
3. Malaysia
4. Singapura
5. Philipina
6. Kamboja
7. Thailang
8. Korea Selatan
9. Jepang
10. Vietnam
11. Belanda
12. Perancis

Penghargaan:

1. Tahun 2008
International Professional Award 2008
Dalam Kategori Best Professional Yang Ditandatangani Oleh Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi R.I., Menteri Kebudayaan Dan Pariwisata R.I. Serta Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan R.I. Tanggal 23 Mei 2008.

2. Tahun 2009
Indonesian Professional And Educator Award 2009
Dari Lembaga Prestasi Indonesia Yang Ditanda Tangani Oleh Director Of Indonesia Strategic Institute (Irham Putra, MSi) Dan Chairman Of Organizing Commite (Fenita Hidayat).

3. Tahun 2010
Indonesian Quality Development Award
Kategori As The Best Professional Of The Year, Yang Ditandatangani Oleh Menko Kesra R.I. Dr. H.R Agung Laksono Serta Menteri Kebudayaan Dan Pariwisata R.I. Ir. Jero Wacik, SE. Tanggal 12 Feb 2010.

 

Lolok Sudjatmiko

No Comments

Chairman PT. Niaga Sapta Samudera

Kepuasan Batin Menekuni Bisnis Angkutan Laut

Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang mempunyai lebih dari 17 ribu pulau besar dan kecil dan mempunyai garis pantai lebih dari 8 juta KM merupakan negara dengan garis pantai terpanjang ke 2 setelah Canada, membuat transportasi laut antar pulau di Indonesia mempunyai peran yang sangat penting dan akan menjadi sektor yang dominan. Penggunaan pesawat terbang memang praktis dan cepat, tetapi daya angkut yang terbatas untuk mobilitas orang dan barang menjadi kurang efektif dan mahal.

Angkutan menggunakan kapal adalah solusi yang paling tepat untuk Indonesia yang paling tepat untuk Indonesia. Kapasitas angkut kapal yang massal baik orang maupun barang membuat moda transportasi ini seharusnya bisa menjadi andalan tumpuan dalam pengembangan pembangunan. Namun, minimnya infrastruktur yang di sediakan pemerintah membuat industri angkutan laut Indonesia sedikit terhambat. Padahal, nenek moyang bangsa ini di kenal sebagai pelaut yang tangguh.

“Angkutan Laut di Indonesia sekarang semakin diperlukan. Pertumbuhan penduduk yang semakin cepat membuat pulau-pulau kecil pun mulai berpenghuni. Untuk mobilitas mereka diperlukan angkutan kapal yang memadai. Kendalanya, banyak infrastruktur yang kurang mendukung angkutan laut modern di beberapa daerah. Misalnya pelabuhan yang di bangun ala kadarnya sehingga tidak dapat di sandari kapal-kapal besi di atas 800 DWT. Keberadaan armada tradisional yang menjadi tulang punggung transportasi lokal bagi orang dan barang di daerah, berkembang apa adanya dan masih sangat perlu pembinaan dan dukungan dari Pemerintah” kata Lolok Sudjatmiko, Chairman PT. Niaga Sapta Samudera.

Wakil Ketua Umum DPP INSA periode 2008-2011 ini berharap, organisasinya mampu membantu masyarakat di daerah terpencil. Seperti bagaimana memberikan nilai tambah terhadap hasil pertanian atau perkebunan di daerah terpencil dengan membawa keluar dari wilayah tersebut. Ia mengusulkan agar hasil pertanian di angkut oleh kapal-kapal tradisional ke suatu titik pelabuhan. Pada lokasi yang sudah di tentukan menunggu kapal-kapal INSA yang lebih besar untuk di angkut ke daerah lain atau luar negeri sehingga nilai jualnya menjadi tinggi.

Menurut Djatmiko panggilan akrabnya, pemerintah perlu mengembangkan angkutan laut sebaik mungkin. Sebagai negara kepulauan, sudah selayaknya kalau lalu lintas laut di wilayah Indonesia mendapat perhatian lebih.

“Saya tertarik menggeluti bisnis angkutan laut salah satunya karena faktor geografis negara kita. Dengan penyebaran penduduk yang tersebar di mana-mana. Semua itu bias di jangkau dengan angkutan laut, karena angkutan laut itu merupakan angkutan massal yang tidak dipunyai oleh moda angkutan lain seperti angkutan darat maupun udara,” ungkapnya.

Di sisi lain, Djatmiko yang senang traveling mengaku bangga dengan usaha yang dilakukannya. Selain bekerja, ia juga berkesempatan untuk mengunjungi pulau-pulau besar dan kecil di seluruh wilayah Indonesia. Meskipun demikian, ia juga harus siap menanggung risiko bisnis angkutan laut seperti pengaruh anomaly cuaca yang tidak bias diprediksi belakangan ini.

“Kendala lain dalam bisnis angkutan laut adalah kurang terkoordinirnya pelayanan antar lembaga baik lembaga swasta maupun lembaga pemerintah, contohnya beberapa peraturan bahkan undang-undang masih diartikan dan di terapkan secara ego sektoral, sehingga membuat kebingungan para pengusaha pelayaran. Kurang fokusnya pemerintah dalam mengembangkan dan memperbaiki sarana dan prasarana pelabuhan, adalah salah satu penyebab ekonomi biaya tinggi di sector transportasi laut. Dengan harapan suatu saat kalau dukungan pemerintah sudah baik, saya percaya transportasi laut akan menjadi primadona. Yang jelas segala kelebihan dan kekurangan yang ada saya memiliki kepuasan batindengan berkiprah di bisnis angkutan laut,” tegasnya.

Laporan Harian

Sebagai pengelola perusahaan tongkang dan tugboat, Djatmiko memiliki kiat sendiri menghadapi persaingan. Selain mengutamakan service, perusahaan miliknya juga memberikan layanan lebih baik kepada pelanggan. Salah satunya adalah dengan memberikan laporan berkala terhadap pemilik barang shipper yang mempercayakan pengirimannya. Tujuannya, pelanggan mengetahui dengan pasti proses pengiriman barang miliknya.

“Bisnis tongkang dan tugboat ini bias diibaratkan tanpa managemen pun sudah jalan, namun pengalaman saya yang pernah bekerja di beberapa perusahaan pelayaran besar yang di manage dengan baik, menggerakan saya agar berusaha mengaplikasikannya di perusahaan sendiri. Makanya meskipun perusahaan tongkang dan tugboat jarang memberikan laporan harian dan keterbukaan akses informasi kepada penyewa, tetapi menjadi keharusan di perusahaan kami, itu salah satunya” tegasnya.

Meskipun masih berkutat di bisnis kapal tongkang dan tugboat, Djatmiko menargetkan di masa mendatang memiliki armada kapal yang lebih besar. Saat ini, dengan tongkang dan tugboat jangkauan layanan yang diberikan baru berkisar Negara-negara ASEAN. Sementara kapal besar mampu mengjangkau seluruh dunia. Untuk itu, ia sedang menyiapkan SDM yang akan mengoperasionalkan kapal besar di kantornya dalam waktu yang tidak lama lagi.

Di perusahaan yang didirikan tahun 2005 tersebut, Djatmiko baru memiliki delapan set tongkang dan tugboat. Ia merencanakan, tahun ini armadanya bertambah 4-5 set dan akan di pertahankan pertumbuhan perusahaan setiap tahun. Untuk jangka panjang, ia akan terjun di armada kapal lebih yang lebih besar dengan membeli dan mengoperasikan kapal-kapal type Handy Max dan Pana Max. Seperti juga nama perusahaan PT. Niaga Sapta Samudera yang memiliki harapan suatu saat nati armadanya akan mengarungi tujuh samudera di dunia ini demi kejayaan armada Merah Putih.

“Harapan saya, kapal-kapal Merah Putih kami akan bias mengarungi tujuh samudera dan menyinggahi lima benua. Saya memulai usaha ini tahun 2005 dengan secara intensif mencarter kapal. Baru tahun 2008 saya mulai membangun armada kapalsendiri sampai sekarang. Dengan dukungan karyawan darat sekitar 20 orang dan di laut sekitar 80 orang karena setiap tugboat dioperasikan oleh 10 orang,” ujarnya. Dalam menjalin gubungan dengan karyawan. Djatmiko tetap menggunakan jalur hirarki untuk urusan rutinitas pekerjaan, “Tetapi diluar kedinasan kita harus kembali sebagai makhluk Tuhan yang saling menghormati, saling memberi dan menjalankan aspek sosiallainnya,” imbuhnya.

Keinginan memiliki kapal besar seperti bulker, tanker dan lain-lain, menurut Djatmiko tidak lepas dari keinginannya untuk meberi sumbangsih bagi Negara. Karena dalam jangka panjang, ia merasa tidak puas apabila hanya berkutat di bisnis tongkang dan tugboat saja. Apalagi, sebagai Wakil Ketua Umum INSA ia sangat paham seperti di gariskan dalam AD/ART organisasi tersebut. “Keberadaan organisasi inimembantu anggota mencapai tujuan yang lebih baik. Kemudian membantu infrastruktur dan non infrastruktur di seluruh Indonesia,” tambahnya.

Masuk Militer

Sebetulnya, Lolok Sudjatmiko tidak memiliki latar belakang kelautan sama sekali, Bahkan ia lahir di Kota Kediriyang jauh dari laut dan dibesarkan di Bandung. Orang tuanya, Lasmijan W. Sudjatmiko dan Sutati adalah anggota kesatuan TNI Angkatan Udara. Selepas SMA di Bandung, anak kedua dari tiga bersaudara ini memilih untuk tidak mendaftarkan diri di perguruan tinggi mana pun dan langsung memilih Akademi Maritim Indonesia untuk belajar dasar-dasar Manajemen Pelayaran Niaga.

“Karena saya menolak keinginan orang tua yang men-drill saya untuk masuk militer. Makanya saya masuk Akademi Maritim Indonesia yang berhasil saya selesaikan tahun 1998. Saya sempat meneruskan sebentar di CaliforniaMaritime Academy, Valejo, California melalui program khusus bagi mahasiswa/taruna asing,” kisahnya.

Tahun 1990, Djatmiko kemudian bergabung di PT. Gesury Group. Perusahaan ini merupakan perusahaan pelayaran yang cukup besar dan terkenal di tanah air dan di Dunia hingga akhir tahun 2002.

Keinginan untuk berkiprah di dunia angkutan laut yang memiliki jangkauan luas membuat Djatmiko mengundurkan diri. Bersama ibeberapa orang rekan mendirikan usaha sendiri di bidang tongkang dan tugboat tahun 2005. Menurut perhitungannya, untuk belajar bisnis di dunia pelayaran dengan memulai dari tongkang dan tugboat sangat bagus untuk belajar.

“Untuk entry di bisnis pelayaran niaga, tongkang dan tugboat bagus untuk belajar. Harapan saya ke depan perusahaan terus maju hingga mempunyai kapal-kapal yang bias melayani barang-barang ekspor ke luar negeri. Saya yakin, kedepan bisnis angkatan laut akan lebih mendominasi sebagai alat distribusi di tanah air. Ini bisa kita lihat, meskipun Surabaya-Madura memiliki jembatan Suramadu tetapi feri tetap penuh. Begitu juga dengan jalur Merak dan Bakaehuni, kapal berapapun beroperasi di sana tetap kurang,” tegas suami Rumiris Hermina dengan tiga anak ini.

Lolok Sudjatmiko sangat berterima kasih atas dukungan keluarga yang luar biasa terhadap kariernya. Pria kelahiran Kediri, 01 Februari 1967 ini telah menanamkan kepada keluarga bahwa perusahaan adalah sumber kehidupan bagi masa depan keluarga sehingga ia tidak bisa main-main. Ia harus total membesarkan perusahaan demi masa depan mereka semua.

“Sejauh ini, langka-langka saya mendapat dukungan dari keluarga. Istri dan ketiga anak saya, dua perempuan dan satu laki-laki, pertama SMP kelas II, ke-II SD kelas VI dan terakhir SD kelas II mendukung karier saya. Untuk itu pada hari-hari kerja saya bisa mencurahkan perhatian saya ke perusahaan, tetapi kalau hari Sabtu saya tidak jarang mencurahkan waktu saya untuk bermain bersama keluarga. Kalau hari Minggu saya dari pagi sampai sore full ke gereja menunggu anak-anak. Setiap pagi saya sempatkan untuk mengantar anak sekolah dan pada hari-hari libur terkadang juga mengajak mereka berkunjung ke kapal kalau lagi dok,” kisahnya.

Dengan begitu, Djatmiko berharap agar setiap saat masih bisa memantau perkembangan anak-anaknya. Jangan sampai kejadian seperti yang dialami oleh beberapa orang temannya yang karena kesibukan menjadi tidak mengenal sifat dan kehidupan anaknya sendiri. Ia berharap, suatu saat salah seorang anaknyaakan mewarisi bakatnya untuk meneruskan usaha ini. “Mudah-mudahan saja. Saya percayakan perawatan anak-anak kepada istrinya. Nanti kalau dua-duanya sibuk malah repot,” tambahnya.

Kepada generasi muda, Lolok Sudjatmiki berpesan agar mereka memberikan yang terbaik kepada Bangsa dan Negara. Kalau memiliki sebuah cita-cita mereka harus total dan berjuang untuk mewujudkannya. Seperti dirinya yang terjun di bisnis angkutan laut, mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kemajuan transportasi laut dan sector kemaritiman lainnya di Indonesia.

“Kalau perlu, apapun harus dikobarkan untuk meraih cita-cita kita, sepanjang pengorbanan itu dapat di pertanggung jawabkan di muka Hukum, terlebih di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Selain itu, kita harus jujur terhadap pemerintah dalam membayar segala kewajiban sebagai warga Negara, jujur kepada mitra kerja kita, jujur terhadap diri sendiri dan keluarga,” kata Lolok Sudjatmiko.