Tag: hanya

Gartono, SH, MH, DR (ip)

No Comments

Gartono, SH, MH, DR (ip)
Advokat dan Dosen

Pemilu Bukan Pesta Demokrasi Tetapi Seleksi Kepemimpinan

Pemilu Legislatif yang dilakukan setiap lima tahun sekali masih menyisakan tanya. Harapan rakyat membuncah untuk memilih pemimpin yang mampu berbuat siddiq, amanah, fatonah dan tabligh. Memiliki pemimpin dengan sifat-sifat mulia Nabi Muhammad tersebut, membuat rakyat “tenang” menitipkan negara untuk diurus orang yang tepat.

Namun, pada penyelenggaraan pemilu ternyata tidak seindah yang dibayangkan. Karena dalam prakteknya, banyak tindakan-tindakan tidak terpuji yang dilakukan demi memenangkan pemilu. Seperti membagi-bagikan uang, membeli surat suara, menyuap atau pun menggelembungkan jumlah surat suara. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi dalam pemilu legislatif, justru pada saat Pemilihan Kepala Daerah dan Pemilihan Presiden pun  praktek serupa semakin vulgar dilakukan.

“Pemilu disosialisasikan dan dimaknai sebagai ‘Pesta Demokrasi’ sehingga dalam pelaksanaannya adalah hura-hura dan bagi-bagi uang (angpao seperti Imlek) tanpa menggunakan logika dan hati nurani. Akibatnya, hanya orang-orang yang memiliki uang akan terpilih sebagai ‘pemimpin’ yang perilakunya mencuri dan menipu rakyat. Hakekat pemilu adalah proses seleksi kepemimpinan. Yakni memilih pemimpin yang baik, bermoral, berkualitas, jujur, penuh dedikasi dan memiliki integritas tinggi. Itu hakekat pemilu yang benar,” kata Gartono, SH, MH, DR (ip), tokoh Advokat di Bogor.

Oleh karena Pemilu lebih mengutamakan unsur pestanya yang bernuansa fun, sementara unsur  demokrasinya terdistortif. Implikasi dari Pesta Demokrasi tersebut, maka terpilihlah penguasa yang mengendalikan negara untuk kepentingan kelompoknya dan dirinya. Penguasa yang menjadi kaki tangan asing dengan memfasilitasi kepentingannya yakni kemudahan mendapatkan konsesi dan monopoli serta mendapatkan kesetiaan rakyat Indonesia untuk bersedia bekerja dengan upah rendah.

Hal ini tidak lepas dari politik neo colonial yang diterapkan oleh penguasa-komprador yang mana pendidikan berorientasi pada ketersediaan buruh upah rendah dan intelektual yang tidak produktif seperti halnya “politik etis” kolonial Belanda pada awal abad 20.

Keadaan ini sebagai konsekuensi logis dari kegagalan kita ketika pemilu yakni salah memilih “pemimpin”. Karena kebanyakan rakyat telah menjual suara kepada para caleg tukang suap. Konsekuensinya terpilihlah tukang suap yang kemudian menjadi “penguasa oportunis” dengan orientasi memperkaya diri sendiri dan jauh dari seorang patriot yang berjiwa volunteer yang melayani rakyat.

Dengan memiliki pemimpin yang berjiwa patriot dan seorang volunteer -bukan petualang- Gartono yakin bahwa pembangunan Indonesia akan mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Pembangunan yang semula hanya memberikan kesejahteraan bagi segelintir orang akan menjadi merata secara signifikan.

Gartono sangat yakin bahwa bangsa ini mampu menjadi bangsa besar, sejahtera dan bermartabat dengan perubahan di tingkat kepemimpinan. Untuk saat ini diperlukan pemimpin yang memiliki visi dan misi yang jelas bagi masa depan bangsa, bukannya pemimpin oportunis pencari kekuasaan. Untuk itu, diperlukan pembangunan mental dan moral-spiritual melalui revitalisasi peran agama. Dengan demikian maka si miskin dan si melarat sekalipun akan memiliki harga diri dan tidak akan menggadaikan lagi suara kedaulatannya dengan Supermi ketika pemilu, Pilkada maupun Pilpres.

“Ke depan agar kita tidak hanya dikenal sebagai bangsa yang banyak utang dan korup, maka sebagai condito sine quo non bangsa ini harus melaksanakan Trisakti, yakni berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian bidang kebudayaan. Bahwa Trisakti ini ini hanya bisa dilaksanakan oleh pemimpin sejati yang sederhana. Negara kita harus berdikari dengan membiasakan rakyat, dari pejabat rendah sampai presiden harus hidup sederhana. Pokoknya seluruh elemen bangsa harus mau berkorban untuk negara,” ujar pria yang siap menjadi Presiden Republik Indonesia ini. “Insya Allah bilamana ditakdirkan menjadi presiden, saya akan membentuk kabinet yang terdiri dari para patriot dan volunteer yang akan melakukan upaya luar biasa dan bekerja dengan jujur serta tidak takut akan dimakzulkan oleh rakyat. Karena toh, jabatan adalah amanah,” imbuhnya.

Supremasi Hukum

Menurut Garnoto, pemimpin dalam setiap komunitas senantiasa diperlukan keberadaannya. Pemimpin memiliki makna positif yakni seseorang yang mempunyai kelebihan (shidiq, amanah, fatonah dan tabligh) dan menjadi suri tauladan yang dapat diikuti oleh masyarakat yang dipimpinnya. Dalam konsep demokrasi, rekrutmen dan seleksi kepemimpinan dilakukan melalui pemilihan umum. Konsep kepemimpinan di Indonesia bobotnya semakin meningkat secara hierarkis, seperti RT untuk memimpin sekitar 200 orang, RW 1000 orang. Sementara anggota DPR RI yang berjumlah 560 orang adalah pemimpin untuk membuat kebijakan bagi 225 juta penduduk Indonesia.

Memilih anggota DPR RI tentu sama hakekatnya dengan memilih pemimpin dalam skup kecil seperti RT. Di dalam proses pemilihan baik dalam skup kecil maupun besar, harus dihindari praktik jual beli suara. Anggota DPR RI yang terpilih dengan jalan membeli suara bukanlah pemimpin sejati. Karena dia adalah penguasa atau penyuap yang keberadaannya dimodali oleh sponsor atau penyuap – cukong. Akibatnya kebijakan yang diputuskan anggota DPR RI -yang merupakan produk politik dengan konsekuensi hukum- akan menguntungkan bagi dirinya sendiri, kelompoknya, para cukong (sponsor) kampanye dan para pelobi oportunis yang mencari kesempatan. “Kepentingan masyarakat menjadi urutan kesekian”. Fenomena ini tampak jelas dalam konfigurasi dan perilaku kekuasaan Orde Baru dan Rezim Reformasi sekarang baik di eksekutif, legislatif maupun yudikatif.

Kejadian tersebut mengakibatkan sebuah pemilu yang memakan biaya besar hanya menghasilkan penguasa. Akibatnya, hukum tidak lagi menjadi panglima sebagai sarana mewujudkan keadilan dan kebenaran. Tetapi produk hukum akan menjadi komoditi yang bisa diperjualbelikan “seenak udelnya” oleh anggota parlemen.

Dengan berhasil memilih pemimpin atau wakil rakyat melalui pemilu secara jujur dan adil tanpa suap, maka diharapkan aparat penegak hukum yang diseleksi oleh DPR RI seperti Jaksa Agung, KPK, MK, MA dan Komisi Yudisial serta Kapolri pun akan memiliki komitmen mewujudkan supremasi hukum, tanpa tebang pilih. Karena jika hukum sebagai panglima bagi siapapun, niscaya keadilan dapat menyinari bumi pertiwi dan tidak akan terjadi kebohongan publik secara sistematik yang dilakukan oleh Jaksa Agung, KPK, MK, MA dan Komisi Yudisial serta Kapolri seperti halnya dalam kasus “cicak vs buaya”  – Century Gate.

Jejak Rekam

Gartono, SH, MH dilahirkan di kota Bogor, 11 April 1965, merupakan anak pasangan HR. Kunrachmat dan Hj Hudjenah. Sebagai sorang advokat, Gartono menyukai slogan tentang pendobrakan, perjuangan dan penegakan keadilan. Tidak aneh, sebab ia sudah lama malang melintang di dunia kepengacaraan dan pergerakan. Gartono pernah satu kantor dengan advokat ternama, HM Dault dan Muchtar Pakpahan.

Ia juga bergaul dengan tokoh-tokoh garis keras seperti almarhum Prof. Deliar Noer dan Letjen (purn) HR Dharsono, H Ali Sadikin dan Hariman Siregar.

Gartono menamatkan SD dan  SMP di Bogor, tetapi menamatkan SLTA di SMA Muhammadiyah Pekalongan, tetapi lulus di SMA PGRI Kendal, Jawa Tengah. Meskipun pada awalnya bercita-cita menjadi wartawan, tetapi guratan nasib membawanya kuliah selama tujuh tahun di Fakultas Hukum Universitas Pakuan yang diselesaikannya pada tahun 1991 dengan predikat wisudawan terbaik. Ia menyelesaikan pasca sarjana (S2) di UNTAG Jakarta dengan IPK tertinggi. Sekarang menjalani proses pendidikan Strata 3 di universitas yang sama. Berdasarkan prinsip primus inter pares, maka rekan-rekannya sesama pengacara memercayai Gartono sebagai Sekjen Bogor Lawyer Club (BLC) pada tahun 2000.

Saat kuliah, Gartono adalah seorang aktivis pergerakan mahasiswa yang tidak pernah surut semangatnya. Tahun 1987-1989, Gartono terpilih sebagai Ketua Umum Senat Mahasiswa FH UNPAK. Satu tahun kemudian, ia menduduki posisi sebagai Presidium Badan Kontak Mahasiswa se-Jawa Barat dan Koordinator Presidium Senat Mahasiswa UNPAK.

Saat meletus Perang Teluk pada awal tahun 1990-an, Gartono mengibarkan bendera pembelaan terhadap rakyat Irak dengan mengambil posisi sebagai koordinator Komando Solidaritas Indonesia untuk Irak. Dalam rentang waktu 1992-1994, ayah dua putra dan satu putri ini menjadi koordinator Forum Pemurnian Kedaulatan Rakyat Wilayah Jabar dan Koordinator PCPP (Persatuan Cendekiawan Pembangunan Pancasila) Wilayah II Bogor, Gartono juga memegang posisi Ketua DPD GRM (Gerakan Rakyat Marhaen) Jabar.

Minat Gartono sangat luas, termasuk dalam bidang olahraga. Bahkan penggemar musik country ini tidak setengah-setengah dalam menekuni cabang olahraga pencak silat. Terbukti, ia pernah menjadi juara II Lomba Pencak Silat Kelas A se-Bogor tahun 1981. Olahraga renang dan lari pagi merupakan aktivitas yang dijalaninya dengan rutin. Sementara di bidang politik, sebelum menjadi Caleg No 1 DPR RI periode 2009-2014 dari Partai Matahari Bangsa, Gartono adalah kader utama Partai Amanat Nasional (PAN). Bahkan ia pernah terpilih sebagai Ketua DPD PAN Kabupaten Bogor pada tahun 2000. Karakter yang terbuka dan pemberani, sedikit banyak dipengaruhi oleh Bung Karno dan Jenderal Soedirman yang dikaguminya.

Banyak hal yang telah dilakukan Gartono bagi kota Bogor. Ia aktif memantau kinerja birokrat yang diindikasikan terlibat dalam korupsi dengan mendirikan Bogor Corruption Watch (1999). Ia juga melakukan pembelaan terhadap masyarakat miskin melalui LBH Merdeka sejak tahun 1991 yang didirikannya bersama Eggy Sudjana dan Dedi Ekadibrata (mantan tapol). Pada tahun 1998, ketika pengaruh Orba masih kuat mencengkeram, dengan berani Gartono mencalonkan diri sebagai Bupati Bogor bersaing dengan Kolonel Agus Utara Effendy. Pada tahun 2002, Gartono melakukan gugatan class action terhadap Menag RI Said Aqil Husein Al Munawar sehingga ia dijuluki sebagai Pendekar situs Batutulis. Berdasarkan sepak terjangnya tidak heran bilamana pada tahun 2008 Gartono mendapat apresiasi dari koran Jurnal Bogor dengan anugerah Jurnal Bogor Award.

Gartono sangat mencintai keberadaan Kebun Raya Bogor sebagai ikon kota hujan. Gartono sangat terkesan dengan keindahan dan keasrian Kota Bogor yang sangat klasik seperti pada tahun 1970-an. Kenangan masa kecilnya mengingatkan, di kiri kanan jalan protokol Kota Bogor dipenuhi pohon kenari sebagai peneduh jalan. Namun, sebagai warga Bogor, ia menyayangkan mental masyarakat Bogor yang sangat individualis sehingga dengan mudah ditekan penguasa.

Suami dari Ir. Safni ini berharap Kota Bogor bisa dijadikan kota wisata sejarah dan religi di samping wisata belanja. Selain itu, melihat sarana – prasarana dan SDM yang tersedia, Kota Bogor juga berpoensi untuk menjadi kota pelajar dan mahasiswa. Kunci untuk itu, terletak pada bagaimana kebijakan pengelola Kota Bogor, Pemkot dan DPRD. Mereka harus memiliki rasa cinta pada Bogor dan tidak hanya mencari kekayaan melalui jabatan yang diembannya.

Biodata:

Nama                : Gartono, SH, MH, DR (ip)
Tempat tanggal lahir    : Kota Bogor, 11 April 1965
Pendidikan             :
1.    SD Empang III Bogor
2.    SMP Negeri I Bogor
3.    SMA Muhammadiyah Pekalongan/SMA PGRI Kendal
4.    Fakultas Hukum UNPAK
5.    Pasca Sarjana UNTAG Jakarta
6.    Kandidat Doktor UNTAG Jakarta
7.
Pekerjaan             : Advokat
Organisasi            :
1.    Ketua DPP IKADIN 2007 – 2012
2.    Ketua Dewan Kehormatan DPC IKADIN Kab. Bogor
3.    Ketua Peradi Bogor Raya 2009-2012
4.    Sekjen MPS Gerakan Rakyat Marhaen
5.    Sekjen Komnas Pilkada Independen 2007
6.    Ketua Umum Senat Mahasiswa UNPAK 1987-1989
7.    Presidium Badan Kontak Senat Mahasiswa Jawa Barat 1989

Riwayat perjuangan        :
1.    Melakukan Aksi-aksi Pembelaan terhadap Petani Cimacam, Korban Lapangan Golf pada tahun (1989-1992)
2.    Melakukan Aksi-aksi Pembelaan terhadap Korban Waduk Kedungombo pada tahun (1988-1990)
3.    Melakukan Aksi-aksi Pembelaan terhadap Petani Rancamaya, Korban Lapangan Golf pada tahun (1989-1992)

Hj Pocut Haslinda Syahrul

No Comments

Hj Pocut Haslinda Syahrul
Ketua Yayasan Tun Sri Lanang

Perempuan Tidak Usah Menuntut Emansipasi

Tuntutan persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan banyak disuarakan di Indonesia akhir-akhir ini. Banyak aktivis perempuan di Indonesia yang menuntut ruang lebih luas bagi gerakan kaum yang merasa aspirasinya tersumbat tersebut. Padahal, kalau merunut sejarah Indonesia ke belakang peran perempuan Indonesia dalam kehidupan sangat besar. Masyarakat pun, memberikan apresiasi positif terhadap peran perempuan di tengah mereka.

“Kalau melihat ke belakang, kita tidak usah menuntut jender atau emansipasi lagi. Karena sejak zaman dahulu emansipasi perempuan itu sudah ada. kisah kepahlawanan perempuan Aceh yang terkenal itu adalah sejarah, bukan kisah fiktif. Sejak abad ke-5, perempuan Aceh sudah menjadi  Laksaman / raja dengan gelar Sultanah,” kata Hj Pocut Haslinda Syahrul, Ketua Bidang Wanita Taman Iskandar Muda Jakarta.

Meskipun demikian, lanjutnya, perempuan Indonesia tetap harus membekali diri dengan keahliannya  yang dibutuhkan ditengah tengah Masyarakat yang berkembang / maju  .

Perempuan akan mendapatkan haknya tidak bisa begitu saja menuntut persamaan hak tanpa memiliki kesiapan pada diri masing-masing.  Apalagi, tanpa memiliki keahlian atau skill yang memadai, tuntutan persamaan jender justru menjadi boomerang bagi perempuan .Sebaliknya, tanpa tuntutan apapun masyarakat Aceh sudah memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi perempuan untuk mengembangkan diri.

Cut Ida Syahrul, begitu panggilan akrab
perempuan kelahiran Banda Aceh 16 Desember 1945 ini, mengisahkan persamaan gender di Aceh. Di mana sejak abad ke-7, kemampuan perempuan dalam memimpin ikut suaminya membangun  negerinya dan tetap mendidik keturunannya menjadi pewaris wilayah kerajaan yang dikuasi seperti Perlak , Samudra Pasai , Aceh Darussalam

Seperti Meurah Mayang Selundang, ibu yang bijak putri Raja Meurah Jeumpa (seorang peranakan Indocina) di Kabupaten Biureun yang menikah dengan Pangeran Maharaja Syahrial Salman dari Persia. “Mayang Selundang mampu ikut membantu suaminya membangun perlak sebagai bandar khalifah sehingga banyak didatangi pedagang dari semua penjuru . Disamping itu  mendidik ke-4 anaknya dan turun temurun  mendidik anak anak menjadi berhasil. Bahkan  cucunya  Meurah Makhdum  Qhudawi menikah dengan kaum Sayid dari Arab mamapu membangun kerajaan Perlak 5 generasi menjadi Kerajaan Islam Perlak. Jadi, semaju apapun perempuan Aceh dia tidak boleh melupakan kodratnya sebagai perempuan. Mendampingi suami, mengurus rumah tangga dan membimbing anak. Itu yang sejak dahulu sudah menjadi bagian dari perempuan Aceh. Bahkan anak Mayang Selundang itu menjadi leluhur dari Raja-raja di Nusantara,” tuturnya.

Ia mengisahkan, di zaman perang kemerdekaan pun banyak pejuang perempuan Aceh yang berjuang keluar masuk hutan melawan penjajah. Selain nama-nama yang bisa tampil dalam film atau sinetron seperti Cut Nyak Dhien, Laksamana Malahayati masih banyak srikandi Aceh yang sangat berjasa bagi bumi pertiwi. Perempuan gagah berani tersebut antara lain, Pengakuan atas pejuang dan kepemimpinan perempuan Aceh tersebut bahkan diberikan ketika usia mereka masih sangat muda. Seperti Pocut Meuligo yang pada usia 17 tahun sudah diangkat sebagai Panglima Perang dan Uleebalang Samalanga mampu memimpin peperangan bersama tokoh agama / Ulama dan masyarakat menyerang Belanda tampa menyerah tampa mundur , “Pocut Meuligo dengan gagah berani mempertahankan Samalanga dari serangan Belanda selama beberapa tahun. Namun, yang perlu dicatat dan ditiru adalah bahwa segarang apapun perempuan Aceh dia tetap menjalankan tugas sebagai ibu, istri dan mengurus rumah,” ungkapnya.

Cut Nyak Fakinah, Pocut Meurah Intan dan lain-lain..

Keluarga Pejuang

Hj Pocut Haslinda Syahrul merupakan putri ke-2 dari empat bersaudara pasangan HT Hamid Azwar dan Hj Cut Nyak Djariah Azwar. Cut Ida Syahrul mempunyai 3 (Tiga )  saudara laki-laki  yaitu H.Teuku.SyahrulAzwar,    Teuku.Syaiful Azwar  Teuku .Verdy Azwar.Keluarga ini merantau keluar dari Aceh pada tahun 1947 dan menetap di Bukittinggi. Jabatan sebagai Kepala Intendan untuk seluruh wilayah Sumatera adalah penyebab kedatangan di daerah berhawa sejuk ini. “Ayah kemudian mendirikan perusahaan dan tinggal lama di Bukittinggi.  Zaman Bung Hatta , Bapak Ahmat Tahir , Datok BDB , Haji Taher  Teuku Daud Umur 17 tahun almarhum di Aceh ayahnda Teuku Hamid Azwar banyak pengalaman  dalam mengelola pabrik penggilingan padi miliknya sendiri ,membuat langkah-langkahnya pun menjadi sangat strategis.

Ia, misalnya DiBukittingi  menyewa pesawat untuk menjual batik ke Sungapura. “Pulang dari Singapura membawa plastik untuk di jual di Sumatera. Nah, carter flight ini setelah mendapat keuntungan langsung dibelikan senjata dan lain-lain.
Orang tua kami  merupakan salah satu penyumbang pesawat terbang ke Ridengan nomor Regeter Avro 004 tahun 1947 di Bukittinggi  . Saat itu  bunda saya memberikan emas  milik pribadinya kepada  ayah saya sebanyak   15 kg emas, kita tidak ada pamrih dan hanya tersentak hati  ingin ikut  membangun perekonomian Indonesia lebih baik setelah merdeka , kami cerita ini bukan ria atau bermaksud sombong   namun mudah mudahan anak cucu kita atau genarasi muda sekarang  bisa berbuat lebih baik lagi dalam bentuk apapun  ……..ungkapnya.

Sayangnya, pesawat sumbangan dari Ibunda Cut Nyak Jariah Azwar alias Kemala putri yang diambil dari Thailand jatuh di Malaya‘““““““` dekat gua Hantu .  Saat itu pesawat dikemudikan oleh pasangan pilot dan ko-pilot, Halim Perdana Kusumah – Is Wahyudi yang sekarang namanya diabadikan menjadi pangkalan TNI AU.

Semasa hidup mama  pernah bercerita  sewaktu  Pak Halim mau berangkat ke Thailan untuk ambil Kapal terbang sumbangan dari kita tersebut , ibu dan Bapak Halim masih sempat makan siang dirumah kita depan lapangan di Bukit Tinggi dekat  tidak jauh dari gereja dan Ibu Halim  sedang mengandung dua bulan . Kalau mama bisa  bertemu pasti mama akan cerita peristiwa ini  yang sebenarnya bisa terjadi . Kapal terbang itu dipersiapkan perintah Bung Hatta untuk kunjungan Bung Karno ke Bukittinggi , tapi naas jatuh diGoa Hantu di Malaya , kerangka kerangkanya ada di Musium tersimpan baik dan saya pernah melihatnya

Tidak hanya berhenti di situ langkah ayahnya dalam membantu perjuangan meningkatkan perekonomian di Jakarta  Setelah mendengar anjuran Bung Hatta –proklamator yang berasal dari Bukittinggi- lalu ayah terjun ke dunia bisnis dan mengembangkan sayapnya keluar dan dalam negeri .  Ayah disuruh berhenti dari intendant dan fokus menangani perusahaan CTC (Panca Niaga) yang didirikannya,” kata perempuan yang memiliki idola Cut Nyak Dhien, Pocut Meuligo, Dewi Motik dan Linda Agum Gumelar ini.

Dari Bukittinggi, Teuku Hamid Azwar memboyong keluarganya ke Jakarta tahun 1949 . Di ibukota, ia terus membesarkan perusahaan Panca Niaga  Milik BUMN . Almarhum ayahnda Teuku Hamid Azwar Derektur Pertama di Indonesia BUMN Milik Negara  Dari hanya satu cabang, perusahaan berkembang sangat pesat. Tidak hanya tiga cabang di Jakarta tapi  Aceh, Medan , Bandung , Surabaya , Makassar , Menado , Panca Niaga  BUMN Perusahan milik Negara saat itu mampu melebarkan sayapnya dan membuka cabang di luar negeri  Singapura, Bangkok,Hongkong,Tokyo,NewYork,
Hambrug,London,Amsterdam, Rome dll .

Modal Sejuta

Kesuksesan yang diraih Teuku Hamid Azwar tidak diperoleh cuma-cuma. Memerlukan kerja keras dan upaya terus menerus untuk mencapai semua keberhasilan tersebut. Semangat itu ditularkan kepada anak-anaknya dengan mendidik mereka secara keras penuh disiplin.

“Ayah mendidik anak-anaknya dengan kerasdan disiplin  Ia juga menginginkan pendidikan terbaik bagi kami itu faktor utama  Makanya, kami hanya menyelesaikan pendidikan sampai tingkat SMA di Jakarta. Setelah itu,kami empat saudara  melanjutkan belajar tahun 1963 – 1972 T. Syahrul Azwar  (abang ) melanjutkan  Ke Hamburg ,   Tahun 1965 -1970 saya ( Cut Ida ) melanjutkan ke Hamburg , Paris dan Inggris , 1968 -1970 adik Saya TSyaiful Azwar melanjutkan ke London , dan  Tahun 1972- 1976 Adik saya T Ferdy melanjutkan ke  London Saya bersama kakak sementara dua adik saya di London memperdalam kecantikan / rambut ,” Di Vidal Sason , Molten Brwon , Maike John , Robet Feideng , Alan , Di Paris  Setion art , Antonio , Alexander ,  kisahnya.

Kalu saya mula mula 2 tahun ambil arsitek ditengah jalan, saya putar haluan saya bidang ketrampilan wanita  Kecantikan, make up , Sambut ,Fashion, etiket dimana pada zaman tahun 1970   indonesia membutuhkan  peningkat cara cara yang terbaru  mempercantik wanita tidak berlebihan dan natural sistim yang saya dapati dari jerman   Paris dan london, hingga saya membuka sekolah  kecantikan Ketrampilan wanita dengan nama La Reine Salon, Dicideng Barat , Cokro aminoto , Tengku Tjhik Ditiro , Dan Jaka Sampurna Kali Malang

Tahun 1970, Cut Ida menyelesaikan pendidikan desain dan fashionnya. Ia kemudian pulang ke Indonesia dan mempraktekkan ilmunya dalam make up dan tata rambut. Sementara di Indonesia saat itu sedang berlangsung penyelenggaraan Miss Indonesia, sehingga ia langsung terlibat dalam perhelatan itu. Ia juga membuka salon kecantikan berbarengan dengan orang-orang yang sekarang terkenal di dunia kecantikan, seperti Rudy Hadisuwarno
“Saya juga membuka sekolah kecantikan,” ujarnya.

Setelah melihat upaya gigih yang dilakukan putri keduanya tersebut, Teuku Hamid Azwar merasa sangat puas. Tidak hanya itu, ia kemudian membelikan perlengkapan salon dan kecantikan sebanyak dua kontainer untuk putri tercintanya. “Saya dimodali uang sebesar Rp 1 juta rupiah yang harus dikembalikan dalam tempo enam bulan. Saya kaget dan berusaha keras untuk mengembalikan modal salon yang saya namakan PT . La Reine yang artinya queen, usaha kita bertiga  saya, ibu dan ayahsaya ,” tandasnya.  Untuk melebarkan sayap bisnisnya, Ia juga melayani Make up Pengantin  desain pelaminan, gaun pengantin dan pernak-pernik penikahan lainnya sejak tahun 1976 saya lakukan   Upayanya  kelas kecantikan yang mempunyai siswa dari daerah seluruh  Indonesia bahkan sampai Singapura dan Malaysia pada masa liburan mereka mengambil praktek kecantikan ini cerita lagi muda dan tahun 1970 -1993  . karena saya tetap sebagai ibu rumah tangga juga. Karena setelah anak pertama lahir, empat bulan kemudian sudah hamil lagi. Begitu seterusnya sampai saya mempunyai lima orang anak,” katanya. Anak-anaknya telah mempersembahkan 12 cucu bagi Ida. Bahkan sekarang ia sedang menunggu kelahiran cucu ke-13

“Kita tidak pernah tahu rencana Allah. Dari Riefky 4, Rafly satu, Cut Vita tiga, Cut Dilla tiga anak . Yang kemarin menikah sudah hamil tiga bulan,” ungkapnya bahagia.

Seperti juga sang ayah, Cut Ida juga memberikan pendidikan yang memadai untuk anak-anaknya. Saat masih sekolah menengah, mereka menempuh pendidikan di Yayasan Al Azhar. Kemudian dilanjutkan ke Military Academy Vermont, Boston, USA.  Rafly Master di Boston Universite , Marvi Master . Ia tidak memanjakan anak-anaknya , yang penting, ia telah menyiapkan dana bagi pendidikan mereka yang cukup .

“Seperti yang dilakukan oleh kakek mereka kepada saya. Saya boleh pergi ke Paris atau London saat liburan, tetapi untuk belajar bukan jalan-jalan tapi sampai belajar .

Alhamdulilah semua anak-anak saya berhasil menyelesaikan sekolah dengan baik  dan mendapat sarjana sesuai bidang masing-masing. Dan alhmadulilah mereka  berlima sudah melakukan ibadah Haji untuk bekal nya  dunia dan akhirat .

Nama lengkap T.Riefky di sarjana komunikasi dari Norwich di  Boston,T.Rafly Master dalam bidang komunikasi dari Norwich di Boston USA,Cut Vita Pramadhi dalam bidang desain grafis dari  North Houston di  Boston USA,Cut Dilla dalam bidang desain grafis dari North Houston di Boston USA dan Yang bungsu T.Marfy Marsya Master dalam bidang Accounting di Universitas  Deakin di Melbourne Australia    ” katanya.

Cut Ida Syahrul  sangat bersyukur anak-anaknya berperan aktif dalam melanjutkan perjuangan yang telah dirintis oleh ayah Teuku Syahrul dan kakeknya Teuku Hamid Azwar mudah- mudahan selalau dilindungi Allah SWT apapun jabatannya yang penting jangan ria , tundukan kepala kehadapan Allah SWT mohon perlindungan nya dan mau kerja keras .

Anak tertua, Teuku Riefky Harsya  saat ini menjadi Ketua Komisi III DPR RI untuk periode keanggotaan yang  kedua dari Partai Demokrat. Padahal ayahnya adalah”dedengkot” Partai Golkar .  Sementara anaknya yang lain, Teuku Rafly Pasya  menjadi penasehat / membantu Gubernur Nangroe Aceh Darussalam.

“Pas minta izin kepada ayahnya saat T.Riefky dilamar Partai Demokrat, mereka mendapat nasehat berharga dari ayahnya . Yaitu ‘asalkan untuk Aceh kepala boleh kamu serahkan, karena ayah tidak mungkin kembali ke sana’.untuk mellihat Aceh . Setelah itu mereka sangat fokus untuk mengabdi bagi tanah rencong,” tegasnya.

Sedangkan dua anak perempuannya lulusan design graphic dari North Houston University. “Mengikut bakat saya sementara Riefky  sama Rafly di ilmu komunikasi. Dipersiapkan sebagai kadernya di ANTV ,
Manusia boleh merencanakan allah menentukan lain Ayahnya kan juga pemegang saham di ANTV, kemudian saham kita lepas kepada Bakrie  .

Dengan kesendirian begini, saya betul-betul menjadi panutan hidup anak anak saya.  Dan kesibukan saya sekarang menulis buku sejarah  4 buku yang sudah saya bedah dan luncurkan .

Saya juga mempunyai Butik Baju muslim import baju Muslim  import dan  kreasi sendiri  yang berlokasi di rumah saya di Jalan Tirtayasa Raya 49

Jadi cambukan-cambukan orang tua saya itu benar-benar membekali hidup saya sekarang lahir dan bathin ,” kata Hj. Pocut Haslinda Syahrul MD.

Ir. Leo Nababan

No Comments

Ir. Leo Nababan
Staf Khusus Menko Kesra

Penganut Kristiani yang Menjadi Pengurus Masjid

Kekerasan yang mengatasnamakan agama belakangan ini marak terjadi di Indonesia. Bahkan konflik horizontal terjadi antara para pemeluk agama yang seharusnya hidup berdampingan secara damai. Padahal, sejarah telah membuktikan bahwa bangsa Indonesia dengan berbagai macam budaya, adat, suku dan agama, “pernah” bersatu dan hidup rukun. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika atau berbeda-beda tetapi tetap satu telah menjadi pedoman hidup dan menjadi perekat bangsa sejak ribuan tahun lalu.

Namun, seiring perjalanan waktu sikap seperti itu mulai luntur. Perbedaan yang harusnya menjadi kekuatan dan kekayaan bangsa ini, justru dianggap sebagai kelemahan. Berbagai upaya dipaksakan untuk membuat orang-orang yang berbeda pandangan, mengikuti keyakinan dan aturan-aturan yang dianggap benar oleh sekelompok orang.

Meskipun begitu, tidak semua orang Indonesia berpendapat sama. Di tengah masyarakat banyak sikap-sikap yang menunjukkan bahwa perbedaan-perbedaan dan sekat-sekat telah melebur menjadi satu kesatuan yang harmonis. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Ir. Leo Nababan untuk masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Staf Khusus Menko Kesra tersebut memberikan contoh yang luar biasa bagaimana hidup bermasyarakat. Yakni menjadi pengurus masjid -yang mungkin satu-satunya di Indonesia- meskipun ia sendiri seorang penganut Kristiani taat.

“Agama adalah masalah pribadi, antara manusia dan Tuhan. Kesalahan bangsa ini adalah selalu mencampuradukkan agama dan kehidupan. Itu yang susah, habluminallah dan habluminannas-nya harus seimbang. Saya memang seorang Kristen dan saya bersyukur karena itu. Tetapi saya juga pengurus Masjid Jami’ Al Mukminin di Kayumanis 10, sebagai koordinator pencarian dana pembangunan masjid,” katanya.

Dari sudut pandang Kristiani, Leo Nababan merasa hidupnya tidak berguna apabila mengabaikan nasib tetangganya. Oleh karena itu, ketika melihat kesibukan tetangga-tetangganya yang muslim membangun masjid, ia juga melibatkan diri. Penerimaan warga muslim terhadapnya pun cukup terbuka dan menerimanya sebagai bagian dari kepanitiaan pembangunan masjid. Ia tidak menyia-nyiakan kepercayaan saudara-saudara muslimnya, dan melaksanakan tugasnya dengan baik.

Leo Nababan sangat menyesalkan adanya kelompok-kelompok yang membawa-bawa agama dalam setiap permasalahan. Jumlah penganut paham ini semakin lama membesar dan terang-terangan memaksakan kehendaknya kepada orang lain yang tidak sepaham. Agama telah menjadi bahan konflik, meskipun dalam kitab suci Al Quran jelas-jelas diajarkan bahwa “Bagimu agamamu, bagiku agamaku”.

“Itu adanya pengakuan bahwa ada agama lain selain Islam. Nabi Muhammad pun mengajarkan kasih sayang kepada sesama manusia, apapun agamanya. Saya adalah seorang Kristen yang setuju pembakaran gereja, karena secara logika TIDAK MUNGKIN gereja dibakar asalkan gereja tersebut “tidak menjadi MENARA GADING” bagi masyarakat di sekitarnya. Artinya, gereja membiarkan tetangga-tetangganya miskin dan kelaparan, tetapi malah membangun menara. Tidak mungkin gereja dibakar kalau gereja melihat kondisi tetangganya,” tandasnya.

Menurut Leo, bangsa Indonesia tidak akan marah kalau ada orang yang mengaku sebagai orang Kristen atau agama lainnya. Karena negara juga mengakui agama sah dan Indonesia: Islam, Katolik, Kristen, Buddha, dan Hindu. Sebenarnya bangsa Indonesia sejak zaman dahulu terbiasa hidup damai berdampingan. Hal tersebut tidak hanya sekedar wacana, tetapi benar-benar dipraktekkan dalam hidupnya. Hampir setiap akhir pekan, ia mengajarkan kehidupan yang luas dan damai kepada kedua anaknya.

“Saya mengajaknya ke pesantren (kebetulan saya dekat dengan Pak Kyai, Prof. DR. Achmad Mubarok –Wakil Ketua Umum Partai Demokrat- dan juga Ketua Umum Pondok Pesantren se-Indonesia yang mempunyai Pondok Pesantren di sekitar Jabotabek)  supaya bisa bergaul dengan sesama anak bangsa dan berbagi dengan mereka. Kehidupan bangsa ini harus dimulai dari hal-hal kecil seperti itu,” tuturnya. Leo juga mengkritik pelajaran agama di sekolah, yang harus memisahkan anak-anak beragama lain ketika pelajaran sedang berlangsung. “Secara tidak sadar, kita menitipkan permusuhan sejak kecil,” imbuhnya.

Dunia Inovatif

Ir. Leo Nababan dilahirkan pada 30 Oktober 1962 di Sei Rampah, sebuah desa di pedalaman Sumatera Utara. Ia berasal dari keluarga yang sangat bersahaja, marginal dan golongan bawah. Sang ayah, H. Nababan adalah seorang guru jemaah gereja sementara ibunya, L. Simanjuntak (almh) adalah seorang guru SD. Kedua orang tuanya mendidik Leo dengan disiplin keras dalam segala hal menyangkut kehidupannya.

“Tetapi saya tidak pernah menyesali dilahirkan dari keluarga biasa-biasa saja. Saya terus bersyukur karena Tuhan Yesus Maha Besar dan selalu mengandalkan-Nya dalam hidup saya. Dari perjalanan hidup yang sedemikian itu membuat saya sangat concern dalam kemanusiaan, memperjuangkan kaum marginal, kelas bawah dari mana saya berasal,” tegasnya.

Kaum marginal, lanjutnya, harus dituntun dan diberdayakan dengan memberikan dan membuka lowongan pekerjaan seluas-luasnya. Begitu juga dengan memberikan modal agar mereka bisa membuka usaha dan mampu membangun kemandirian. Untuk itu, ia sangat mendukung program pemerintah dibawah koordinasi Menko Kesra seperti penyaluran kredit melalui KUR, program PNPM dan bantuan beasiswa bagi anak miskin berprestasi. “Pendidikan merupakan salah satu terobosan untuk mengubah orang-orang yang terpinggirkan,” tandasnya.

Di sisi lain, menurut Leo, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar apabila mampu mengelola SDM dan sumber daya alam dengan baik. Karena seiring dengan kemajuan teknologi di era globalisasi, tantangan yang dihadapi bangsa ini ke depan semakin berat. Mendidik SDM handal dan hebat tidak cukup untuk menghadapinya. Apalagi CFTA (China Free Trade Area) dan AFTA (ASEAN Free Trade Area) yang tahun ini mulai berlaku membuat persaingan semakin ketat. Tidak hanya produk dari China dan negara-negara ASEAN yang bebas dipasarkan, tetapi juga pasar tenaga kerja terbuka dan bebas beroperasi di Indonesia.

“Makanya saya mengajak bangsa Indonesia untuk kreatif, karena tantangan ke depan bukan lagi SDM yang hebat. Tetapi SDM inovatif dan kreatif yang akan menjadi andalan bangsa ini ke depan. Kita tidak bisa menutup mata, adanya kemungkinan bahwa negara kita hanya sekadar menjadi pasar dunia luar. Saya minta dengan sangat untuk memacu generasi muda agar berkepribadian dan berjati diri, tetapi juga memiliki inovasi dan kreativitas, agar diakui bangsa lain,” tegas pria 48 tahun yang sudah mengunjungi 36 negara ini.

Leo berharap, bangsa Indonesia tidak bersedih hati dan meratapi kondisinya yang terpuruk sekarang ini. Indonesia adalah negara besar yang “hanya” memerlukan pengelolaan yang benar. Seluruh elemen bangsa harus menatap masa depan yang cemerlang dan melupakan kepahitan masa lalu. Jangan pernah menyesal telah menjadi bangsa Indonesia dan harus bangga karenanya. Kuncinya, harus menggembleng generasi muda menjadi generasi kreatif dan inovatif di era globalisasi ini.

“Saya tegaskan sekali lagi, bangsa ini harus menatap masa depan cemerlang. Dengan catatan bahwa nasionalisme harus terus, jangan menyesali kita ini orang Indonesia dan jangan merendahkan bangsa sendiri. Di rumah saya pasang foto besar saat berkunjung ke Eropa, sepatu saya disemir oleh orang bule. Ini merupakan rangsangan bagi bangsa bahwa jangan menganggap orang bule segalanya. Itu mental bangsa terjajah, toh kenyataannya, sepatu orang Melayu bisa disemir oleh bule,” tegasnya.

Tiga C

Perjalanan panjang Ir. Leo Nababan sebagai anak kampung termarjinalkan yang berhasil menaklukkan berbagai rintangan pantas dijadikan teladan. Sederet prestasi gemilang telah diukir oleh ayah dua anak hasil pernikahannya dengan Dr. Fabiola Alvisi Latu Batara ini. Tokoh Batak insipiratif ini pada usia 35 tahun telah menjadi anggota MPR RI. Kini, tanpa pernah menjadi PNS sebelumnya saat usianya 47 tahun diangkat sebagai pejabat Eselon IB di Kantor Menko Kesra.

Meskipun begitu, alumnus Lemhanas RI KRA XXXIX tahun 2006 ini tidak pernah sombong. Justru sikap yang selalu ditampilkan adalah kerendah hatian, selalu menaruh kepedulian serta penuh kasih kepada sesama. Latar belakang sebagai orang marjinal yang pernah menjadi penggembala kerbau dan itik (parmahan) selalu terbawa.

Pria cerdas yang sejak SD hingga SMA selalu menjadi juara kelas ini, diterima di Institute Pertanian Bogor (IPB) tanpa tes tetapi menyelesaikan studi S1 di Universitas Diponegoro, Semarang. Ia adalah peserta terbaik pertama Penataran Kewaspadaan Nasional (Tarpadnas) Pemuda Tingkat Nasional (1994), terbaik pertama International Standard Learning System (Effective Communications and Interpersonal Relation Skill, 1997), 10 besar terbaik Penataran P4 Pemuda Tingkat Nasional (1995) dan mendapat penghargaan KRA – XXXIX Lemhanas RI (Republik Indonesia) tahun 2006.

“Ketika masuk Lemhanas, terjadi pemikiran-pemikiran yang komprehensif integral tanpa memandang suku, agama dan lain-lain. Itu yang selalu membuat dalam menjalankan hidup saya selalu memberikan hal-hal yang the best bagi bangsa Indonesia. Apapun yang terbaik bagi bangsa ini harus kita berikan dengan setulus hati. Mindset berpikir kita pun harus diubah dan sebagai nasionalis tulen, saya harus berpikir pada kepentingan bangsa,” ujarnya.

Aktivitas berorganisasi dijalani Leo Nababan sejak usia belia. Di Bogor, ia masuk senat dan menjadi salah satu pendiri Gerakan Mahasiswa Kosgoro hingga sampai pada posisi Sekjen DPP Mahasiswa Kosgoro. Leo juga pernah menjabat Ketua DPP AMPI yang membawanya sebagai Wakil Sekjen DPP Partai Golongan Karya. Selain itu, Leo juga pernah bekerja di beberapa perusahaan swasta nasional, dari staf direksi, direktur humas hingga komisaris. Sedangkan, di jajaran lembaga negara, Leo pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menpora, Staf Khusus Ketua DPR RI dan sekarang Staf Khusus Menko Kesra, Agung Laksono.

“Ada tiga c yang harus dipegang dalam menjalani kehidupan. Yakni, capability, capital dan connection yang harus sinergis dalam membangun kehidupan. Kemudian tiga hal untuk mencapai sukses adalah mengandalkan Tuhan dalam hidup, bekerja kerja keras meningkatkan kapabilitas dan membangun jaringan seluas mungkin,” tegasnya.

Leo sangat bersyukur, selain capability dan capital, Tuhan juga memberkati dirinya dengan connection/jaringan yang kuat. Memanfaatkan jaringan secara positif, akan mempercepat akselerasi kesuksesan seseorang. Kemudian yang tidak kalah penting adalah intensitas dalam mempertahankan dan memelihara hubungan baik pada jaringan yang sudah terbentuk. Semua itu didapat dari aktivitas berorganisasi yang sangat intensif.

“Saya terus belajar dan lewat organisasi membuka jaringan. Saya berhubungan dengan Pak Agung Laksono itu sudah 18 tahun. Dari sejak beliau memegang jabatan sebagai Sekjen Kosgoro, sementara saya Sekjen Mahasiswa Kosgoro, hubungan tersebut terus terjalin. Dalam interaksi intensif seperti itu, terjadi inovasi berpikir, bergaul dan saya menjadi andalan beliau. Bagi saya, beliau adalah guru, bagaikan buku yang tidak pernah habis saya baca setiap hari,” ungkapnya.

Ke depan, Leo Nababan memiliki obsesi untuk membangun patung Tuhan Yesus tertinggi di dunia di Pulau Samosir. Rencananya ia juga akan membangun patung Nommensen di seberangnya. Namun, ia tidak menargetkan kapan terwujudnya impian tersebut. Ia menyerahkan sepenuhnya obsesi tersebut pada kuasa Tuhan Yang Maha Esa. “Biar Tuhan yang tentukan waktu yang tepat. Puji Tuhan karena memang saya mengandalkan Dia dalam hidup saya,” tambahnya.

Leo sangat menyesalkan pudarnya kepedulian generasi muda Batak atas budayanya sendiri. Jangankan mengikuti pesta-pesta adat, menggunakan bahasa Batak pun generasi muda sudah enggan. Ia sangat khawatir terhadap kepunahan budaya Batak akibat ketidakpedulian tersebut.

Leo Nababan mencontohkan bagaimana bangsa Jepang berhasil dalam hal ini. Setinggi apapun ilmu dan teknologi yang dikuasai, mereka tetap “kembali” menggunakan budayanya sendiri. Sementara orang-orang Batak dan bangsa Indonesia umumnya sudah unang lupa adati.

“Saya mencoba melestarikannya kepada kedua anak saya. Meskipun mereka sekolah internasional dengan bahasa pengantar bahasa Inggris dan Mandarin, sementara ibunya dari Manado, saya mengajari mereka bahasa Batak. Saya juga ajak mereka ke pesta adat Batak dan bergereja di HKBP Menteng. Kalau bukan generasi muda, bisa punah adat itu,” kata penerbit buku “Manghobasi Ulaon Adat Batak” ini.

Jacob Jack Ospara, M.Th

No Comments

Jacob Jack Ospara, M.Th
Anggota DPD Provinsi Maluku

Mengajak Rakyat Maluku Bersama-sama Membangun Bangsa

Kalau ada yang melenggang ke Senayan bukan untuk mencari uang, Jacob Jack Ospara, M.Th adalah orangnya. Karena sebagai senator anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Provinsi Maluku, sangat memungkinkan untuk menggelembungkan pundi-pundi uangnya.

Sebaliknya yang dilakukan Jack –sebutan akrab baginya- adalah tetap menjaga dan melindungi idealismenya yang ditawarkan saat kampanye pemilihan senator, yakni dengan menyuarakan jeritan hati rakyat Maluku yang meskipun sudah 64 tahun bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Pembangunan baik yang dilakukan pemerintahan Orde Baru maupun Reformasi belum dapat menjawab realitas dan pergumulan rakyat Maluku.

Menurut Jack, dalam kampanye pemilihan, ia tidak menyuruh rakyat untuk memilih dirinya, tetapi mengajak rakyat untuk bersama-sama membangun bangsa dan negara dengan segala sumber daya yang mereka miliki untuk mewujudkan masyarakat Maluku yang sejahtera dan berkeadilan.

Jack merasa apa yang dilakukan wakil rakyat sekarang –baik di DPR maupun DPD- mengagung-agungkan ungkapan “vox populi vox dei”. Ungkapan yang berarti suara rakyat suara Tuhan yang sering diteriakkan saat kampanye tersebut, dipandang sinis olehnya. Bagi Jack, ungkapan tersebut hanya slogan belaka karena dipakai untuk memobilisasi massa dan merangsang semangat rakyat pemilik hak suara. Namun, segera setelah berhasil duduk sebagai anggota dewan yang terhormat mrg dengan serta merta menafikan kepentingan rakyat dan lebih mengutamakan kepentingan keluarga, kelompok atau golongan masing-masing.

Lembaga legislatif yang seharusnya berfungsi sebagai alat kontrol pemerintah dalam menyusun dan membuat kebijakan semakin mudah ditawar dan dikendalikan. Hal inilah yang bagi kalangan LSM, media dan pengamat politik yang kritis menjuluki lembaga legislatif sebagai “tukang stempel”, akibat mereka sering meloloskan kebijakan-kebijakan yang tidak humanis dan pro rakyat.

“Negara kita dalam keadaan sakit, baik mental maupun moral. Sebagian besar dari kita sudah kehilangan sense of crisis dan cinta kasih kepada bangsa dan negaranya. Banyak dari mereka yang telah mengubah jubah dan singgasananya sebagai wakil rakyat serta melupakan khittah kemanusiaannya. Mereka menjadi seperti serigala-serigala politik yang hanya mengandalkan kekuatan, tidak ada nurani, tidak ada akal sehat, bahkan tak peduli yang kuat itu lacur. Mereka tidak lagi peduli pada kepentingan rakyat jelata yang hampir sebagian besar masih berkutat dengan masalah perut,” ujarnya.

Jack Ospara terpanggil untuk mengabdikan diri berbekal pengalaman dan ilmu pengetahuan yang sudah dialaminya selama puluhan tahun. Pengabdian dan perhatiannya yang sangat besar terhadap tanah leluhur itulah yang mengantarkannya menjadi seorang wakil rakyat utusan daerah atau anggota DPD-RI. “Saya hanya mengemukakan apa yang terbaik untuk dilaksanakan di negeri ini. Sesuai dengan visi saya, Menjadi Wakil daerah yang dapat dipercaya, Jujur, Terbuka, Memperjuangkan Pembangunan Daerah yang Adil dan Bermartabat bagi Kesejahteraan Masyarakat Penghuni Wilayah Seribu Pulau, Berdasarkan Kasih,” imbuhnya.

Menurut Jack Ospara, ada empat macam kasih yang mendasari kondisi tersebut. Yakni kasih Agape yang merupakan kasih tanpa syarat dan sanggup berkorban untuk sesama. Artinya dalam membantu tidak boleh membeda-bedakan agama, suku atau ras. Kasih agape adalah cinta kasih pemberian Tuhan yang paling hakiki.

Kedua adalah kasih Eros, yakni kasih yang dilandasi nafsu seperti keindahan, kekayaan, kecantikan dan lain-lain yang mengandung unsur kenikmatan di dalamnya. Ketiga adalah kasih Filos yakni filosofi, mengasihi dan mencintai teman. Keempat adalah kasih Storgos, yakni kasih yang memiliki ikatan yang erat seperti antara kasih orang tua.

“Ketiga kasih –Eros, Filos dan Storgos- tidak memiliki kekuatan penghubung relasi antar manusia dalam keluarga dan masyarakat bila tidak diikat dengan Agape. Tanpa kasih Agape, akan sulit membangun kebersamaan, persaudaraan, pertemanan dan kesesamaan dengan orang lain. Ini artinya bahwa kalau mau mengasihi rakyat Maluku ya harus mencintai Maluku. Mau membangun Indonesia ya harus mencintai rakyat Indonesia,” tegasnya.

Belajar, Belajar dan Belajar

Menurut Jacob Jack Ospara, M.Th., ketertarikan untuk terjun memperjuangkan suara rakyat Maluku telah terasah dan terbentuk karena keyakinan pada agama yang dianutnya. Dalam ajaran Kristen, kasih Agape Tuhan Yesus mengasihi setiap orang tanpa memandang agama, suku atau ras. Bahkan bila dalam gereja dibentuk apa yang disebut sinode dalam organisasinya, itu mengisyaratkan semua elemen; para pendeta, tua-tua, maupun anggota jemaat, wajib berjalan bersamaan, bergandengan tangan melayani, mengasihi dan berbuat sesuai karunia Tuhan memlihara dan mempertahankan kehidupan manusia dan masyarakat.

“Sinode berasal dari dua kata Yunani ‘sun’ artinya bersama-sama dan ‘nodes’ yang berarti jalan. Sinode atau ‘sunnodos’ artinya semua warga gereja berjalan bersama-sama dan melayani bersama. Tahun 1974 saya diangkat sebagai Sekretaris Departemen yang membidani pendidikan, penanganan pembangunan dan kesejahteraan sosial. Penerjemahan tugasnya mengarah pada manajemen pembangunan yang menggabungkan teologi dan masalah-masalah sosial yang berkembang di masyarakat. Realisasi dari karya Tuhan itu harus diwujudkan tidak hanya di rumah namun juga di masjid, gereja, rumah sakit, dan lain-lain,” tandasnya.

Jack adalah orang pertama, pada tahun 1975 yang menggagas pembentukan organisasi persatuan gereja rakyat Maluku. Untuk keperluan itu ia mengundang istri Menhan/Pangab RI, Ibu Yohanna Nasution dan Ibu Sri Sudarsono (adik BJ Habibie) ke Ambon untuk melihat dan bersentuhan langsung dengan realitas kehidupan rakyat Maluku.

Kepada mereka Jack menjelaskan bahwa kondisi susah yang dialami tersebut tidak pandang agama. Penganut agama Kristen, sama-sama menderita seperti saudara-saudaranya yang beragama Islam. Begitu juga sebaliknya, kondisi umat Muslim pun tidak jauh berbeda. Ini menjadi bukti bahwa Tuhan tidak pernah membedakan manusia, hanya manusia sendiri yang mengkotak-kotakkannya.

“Yang namanya kelaparan, kemiskinan tentunya dapat terjadi oleh semua umat manusia, tidak ada perbedaan agama baik Kristen, Muslim, Hindu, Budha, tidak juga ada pembedaan ras tionghoa, kulit hitam, Asia, Eropa dan lain-lain. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa masalah kemanusiaan itu sifatnya universal, kelaparan, kemiskinan, kemelaratan, penderitaan karena konflik dapat terjadi dan dialami oleh semua lapisan masyarakat. Namun, dibalik semua itu bahwa orang yang memaknai dan memahami agama secara baik tidak akan terjebak dalam fundamentalisme agama dan primordialisme yang kebablasan,” kata murid ulama besar Buya Hamka ini.

Jack yang berkawan karib dengan pemikir Islam Indonesia, almarhum Nurcholis Madjid ini memberikan ajaran kepada generasi muda untuk terus belajar dan tidak pernah berhenti menjadi manusia pembelajar. Dengan mempelajari segala hal, baik formal, informal dan mengacu pada pengalaman di masyarakat generasi muda akan memperoleh bekal yang baik untuk kehidupannya sendiri. Kalau itu yang terjadi maka bangsa Indonesia sendiri sangat beruntung memiliki generasi muda yang bermutu untuk memperbaiki kondisi sekarang.

“Pesan saya kepada generasi muda hanya satu, yakni belajar, belajar dan belajar. Belajar baik secara formal, informal dan pengalaman di masyarakat. Karena apa, hanya dengan belajar kita bisa membentuk diri kita sebagai pribadi yang baik. Setiap peristiwa yang dialami adalah kesempatan yang baik untuk belajar. Mengenal orang dari berbagai suku dan agama adalah pengalaman yang baik,” ujarnya.

Sekilas Jacob Jack Ospara

Jacob Jack Ospara lahir di Nuwewang, 18 Mei 1947, dari pasangan Hosea Ospara dan Isabela Lepit. Kehidupan pedesaan di perbatasan wilayah Kabupaten Maluku Barat Daya dan wilayah Timor Leste membuat “blue print” tentang kehidupan marginal yang dialami manusia terpatri abadi dalam pikirannya. Spirit untuk memerangi perlakuan diskriminatif tersebut kemudian mewarnai perjalanan hidup ayah tiga anak Maya, Hoberth dan Ari hasil perkawinannya dengan Maria Itje Wenno tersebut.

Meskipun orang tuanya hanya mengenyam pendidikan sampai kelas III Sekolah Rakyat (Volks School), namun tidak menyurutkan niatnya untuk memberikan pendidikan terbaik bagi putranya. Maka ketika berumur enam tahun, Jack bersekolah di SR GPM Nuwewang dan dilanjutkan ke SMP Negeri Wonreli, Pulau-Pulau Kisar. Di sini pula, pemikiran-pemikiran Jack semakin terasah. Pergaulannya yang luas dengan pemahaman terhadap dan pengenalan terhadap adat istiadat, bahasa dan budaya daerah lain menjadi dasar pembentukan kepribadiannya.

Jack yang semasa sekolah tidak dibiayai orang tua justru tidak merasa miris, bahkan sebaliknya hal tersebut menjadi semangat baginya untuk tetap berdaya hidup. Dalam proses panjang kehidupannya, secara sadar ia mengakui bahwa karakter kebangsaan dan kepribadiannya tidak lepas dari peran serta tiga orang polisi dengan latar belakang dan budaya berbeda yang ikut membiayai sekolahnya.

Proses pembentukan kepribadian itu semakin terlihat ketika Jack meneruskan sekolah di SMA Negeri 2 Ambon tahun 1963-1966. Gejolak politik tanah air terkait adanya perjuangan pembebasan Papua (Irian Barat waktu itu) dengan Trikora serta penumpasan pemberontakan PKI, semakin memotivasi semangat kebangsaannya. Ia aktif kegiatan sosial politik yang dikoordinir oleh organisasi-organisasi yang bersifat nasional seperti GSKI (Gerakan Siswa Kristen Indonesia). Jack juga aktif melakukan dialog intensif dengan siswa-siswa yang tergabung dalam GSNI (Gerakan Siswa Nasional Indonesia).

Masa SMA yang penuh pergolakan untuk mempertahankan eksistensi Negara Indonesia dari rongrongan PKI ditutup Jack dengan meneruskan pendidikan seperti yang dicita-citakannya, menjadi Pendeta. Di sisi lain, ia sebenarnya juga terpanggil untuk mengabdikan diri pada nusa dan bangsa dengan mengikuti wajib militer sukarela. Namun, setelah melalui perenungan yang dalam, cita-cita masa kecilnya lebih kuat memanggil. Jack kemudian meneruskan kuliah di Institut Teologi Gereja Protestan Maluku tahun 1967. Dua tahun kemudian, Jack dikirim ke Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta untuk menyelesaikan pendidikan sarjananya.

Semasa mahasiswa, Jack Ospara adalah aktivis yang banyak melakukan kegiatan-kegiatan organisasi kemahasiswaan dengan sikap yang militant. Ia bahkan menjadi anggota Dewan Mahasiswa dan aktif di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) cabang Ambon. Saat kuliah di STT Jakarta, Jack juga menjadi anggota Dewan Mahasiswa di kampus tersebut. Pada kesempatan inilah ia berkesempatan untuk melakukan dialog intesif dengan mahasiswa-mahasiswa dari Universitas Pancasila, Universitas Kristen Indonesia, STTF Driyarkara dan SAIN Syarief Hidayatullah. Aktivitas inilah yang mempertemukannya dengan Prof. DR. Hamka dan Nurcholis Madjid, dua sosok pemikir Islam terkemuka Indonesia.

“Pengalaman tersebut telah memperkaya sekaligus memperluas wawasan saya. Ini sangat berguna ketika saya menjabat di Gereja Protestan Maluku dan mengabdi di tengah masyarakat. Karena saya harus berhubungan dengan berbagai kalangan dalam lingkungan masyarakat,” tegasnya.

Berikut ini adalah aktivitas-aktivitas Jacob Jack Ospara, M.Th:

⦁    Pendiri Musyawarah Perguruan Swasta (MPS) Daerah Maluku (tahun 1971)
⦁    Pendiri Badan Koordinasi Kegiatan Masyarakat Kesejahteraan Sosial Provinsi Maluku
⦁    Pendiri Yayasan Bina Asih Leleani Ambon (tahun 1983)
⦁    Aktif menjadi Pengurus Pusat SOIna (Special Olympics  Indonesia) sebagai Sekretaris Jenderal (2006-sekarang)
⦁    Aktif di bidang Pendidikan Kristen sebagai Ketua III Majelis Pendidikan Kristen seluruh Indonesia
⦁    Ketua FKKFAC Provinsi Maluku (tahun 2006-sekarang) dan Penasehat HWPCI Provinsi Maluku (tahun 2007-sekarang)
⦁    Ketua Umum Lembaga Pengembangan Pesparawi Provinsi Maluku (tahun 1998 – sekarang)
⦁    Pekerjaan di gereja dan Perguruan Tinggi
1.    Pendeta/Penghentar Jemaat GPM di Saparua Tiouw (1973-1974)
2.    Sekretaris Klasis GPM PP Lease (1974-1975)
3.    Sekretaris Departemen Diakonia/Anggota Badan Pekerja Sinode GPM (Masa Bhakti 1974-1976 [1982])
4.    Wakil Sekretaris Umum BPH Sinode GPM (tahun 1982-1986)
5.    Sekretaris Umum BPH Sinode GPM (tahun 1986-1990)
6.    Dosen Fakultas Filsafat UKIM Ambon (tahun 1990 – sekarang)
7.    Pendiri dan Pimpinan Lembaga Kesejahteraan Anak dan Keluarga Inahaha (tahun 1983-1990)
8.    Dosen Agama Kristen pada FKIP Unpatti Ambon dan PGSLP Ambon (1977-1988)
9.    Penyuluh Agama Kristen di Lingkungan Bidang Bimas Kristen Kanwil Depag Provinsi Maluku (1976-1986)
Setelah terpilih sebagai Anggota DPD Provinsi Ambon, Jacob Jack Ospara berkomitmen untuk membangun daerah dan masyarakat Maluku dengan mengedepankan Visi dan Misi, yaitu:

Visi
Menjadi Wakil daerah yang dapat dipercaya, Jujur, Terbuka, Memperjuangkan Pembangunan Daerah yang Adil dan Bermartabat bagi Kesejahteraan Masyarakat Penghuni Wilayah Seribu Pulau, Berdasarkan Kasih

Misi
1.    Memperjuangkan pemanfaatan sumber daya manusia (human resources) dan sumber daya alam (natural resources) guna mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat
2.    Mengawal implementasi yang konsisten dan konsekuen semua perundangan dan peraturan negara guna menjamin pembangunan berbagai sektor berlangsung dengan transparan, akuntabel dan berkesinambungan demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat
3.    Memperjuangkan terwujudnya otonomi khusus bagi Maluku sebagai Provinsi Kepulauan yang memiliki karakteristik laut – pulau
4.    Memperjuangkan pengamalan nilai-nilai dasar Pancasila sebagai Falsafah Hidup bangsa Indonesia serta penyelenggaraan negara berdasarkan UUD 1945 secara fleksibel, dengan memanfaatkan kearifan lokal (local wisdom) sebagai pengejawantahan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat
5.    Memperjuangkan terbukanya komunikasi sosial, politik dan kemasyarakatan antara pemerintah pusat dan daerah serta menjamin tetap tumbuhnya iklim demokrasi yang memungkinkan aspirasi daerah dan wilayah dihormati, dihargai serta diwujudkan dengan adil dan transparan.

Elnino M. Husein Mohi

No Comments

Elnino M. Husein Mohi
Anggota DPD-RI, Gorontalo

Sebuah Kisah Perlawanan Terhadap Money Politics

Seantero Provinsi Gorontalo tercengang. Penghujung April 2009, ketika penghitungan suara calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI mulai mendekati final. Para elit lokal tersentak. Nyaris tiada seorang pun yang percaya dengan munculnya nama Elnino M. Husein Mohi di peringkat ketiga di antara 19 tokoh besar dan konglomerat Gorontalo yang jadi calon anggota DPD-RI. Dia, secara mengejutkan, bahkan memenangkan Pemilu Legislatif tanpa sedikit pun melakukan pelanggaran peraturan Pemilu.

Elnino. Dia bukan orang kaya. Bukan pula politisi, bukan elit, bukan pejabat—bahkan bukan keluarga pejabat, bukan tokoh lokal. Pemuda bertubuh kecil berkulit gelap itu hanyalah seorang wartawan. Hanya seorang aktifis. Maka hampir tidak ada yang percaya, dengan tabungan pribadinya sebesar Rp. 2,5 juta, Elnino meraih hampir 50 ribu suara atau 9% dari total pemilih Gorontalo.

Sungguh tidak mungkin dengan dana segitu Elnino mampu menjangkau wilayah Gorontalo—yang luasnya lebih dari 12 ribu kilometer persegi—di masa kampanye. Tim Pemenangan Elnino menyadari kendala itu. Dengan usaha keras dan cara yang simpatik, mereka mengumpulkan sumbangan dari ribuan sahabat Elnino. “Dalam waktu 9 bulan, kami berhasil mengumpulkan cukup banyak, totalnya Rp. 55.545.000. Jumlah itu kami laporkan ke KPUD dan Panwaslu,” ungkap Thariq Modanggu, Ketua Tim Pemenangan Elnino.

Mungkin itu adalah ongkos politik termurah, karena bila dibagi dengan jumlah suara Elnino akan mendapatkan rata-rata sekitar Rp. 1100 per suara. Uang itu bukan dibagi-bagi ke pemilih, melainkan untuk biaya bensin dan sewa kendaraan berkeliling Gorontalo, biaya administrasi kelengkapan syarat calon, biaya iklan radio, pencetakan baliho, stiker, leaflet untuk alat kampanye, dll.

Bagi Elnino dan para sahabatnya, pada hakikatnya setiap individu tidak menginginkan praktek money politics. “Tidak satu orang pun, sejatinya, yang mau menjual suaranya. Tidak ada yang nuraninya memilih seseorang hanya karena sudah diberi sesuatu. Orang memilih seorang caleg atau calon pemimpin pasti bukan semata-mata karena uang, mesti ada alasan lain,” tutur Elnino.

Hanya saja, sekarang ini sebagian besar rakyat telah bersikap masa bodoh dan apatis terhadap “pesta demokrasi”. Padahal, triliunan rupiah uang negara/rakyat dihabiskan untuk event tersebut. Di mata sebagian besar rakyat, wakilnya di parlemen tidak memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan mereka. Yang benar-benar nyata dan bisa dinikmati rakyat hanyalah ketika mereka membagi-bagikan uang, sembako, dll.

Kenapa rakyat mau money politics, menjual suaranya? Karena menurut rakyat, semua Caleg/Cabup/Cawali/Cagub…semuanya tidak bisa dipercaya. Jadi, daripada memilih seseorang tanpa dapat apa-apa, ya sudah…pilih saja yang sudah memberi sesuatu. Toh siapa pun yang kita pilih, nasib kita begini-begini saja. Begitu pikiran sebagian besar rakyat. Sangat apatis, putus asa.

Apatisme itulah yang berusaha dikikis habis oleh Elnino dan para sahabatnya—kelompok intelektual muda Gorontalo yang terdiri dari para aktifis pemuda, mahasiswa, dosen, wartawan dan PNS. Mereka mencoba membuktikan kepada rakyat, bahwa tidak semua calon tidak bisa dipercaya, bahwa pasti ada di antara calon yang masih memiliki kecerdasan dan nurani. Pasti ada yang masih pantas untuk mengemban kepercayaan orang banyak sesuai kewenangan institusionalnya.

PERJUANGAN NILAI LOKAL

Setahun sebelum Pemilu, April 2008, Elnino bersama puluhan sahabatnya bersepakat untuk memberikan warna lain dalam Pemilu 2009, yaitu dengan melakukan gerakan pencerahan politik hingga ke desa-desa. Targetnya adalah menjadikan para opinion leaders di tingkat desa memahami nilai-nilai demokrasi berdasarkan nilai-nilai luhur Gorontalo.

Nilai-nilai luhur Gorontalo itu sendiri bermuara pada empat nilai utama ; kecerdasan, akhlak, kekeluargaan dan persahabatan. Keempat nilai inilah yang menciptakan Empat Zaman Keemasan Gorontalo—dikenal dalam sejarah daerah tersebut dengan “Ilomata Wopato”—sebelum masuknya penjajah Belanda. (Masa kepemimpinan Ilahudu 1382-1427, Matolodulakiki 1550-1580, Eyato-Popa 1673-1677 dan Botutihe 1728-1755). Empat Zaman dimana para raja/presiden dan pejabat negara Gorontalo Serikat dipilih secara demokratis dengan pertimbangan empat nilai luhur tersebut.

Jadi, seseorang menjadi raja/presiden di Gorontalo dipilih oleh rakyat karena yang bersangkutan adalah orang yang paling cerdas, akhlaknya paling bagus, rasa kekeluargaan dan persahabatannya paling tinggi. Tidak ada pertimbangan uang atau pemberian atau sogokan dalam bentuk apa pun ketika memilih penyelenggara negara! Itulah jati diri orang Gorontalo.

“Sebetulnya nilai-nilai luhur tersebut sifatnya universal. Ada di semua suku. Ada di semua bangsa di dunia ini. Hanya saja, perkembangan zaman belakangan ini yang menjadikan kita di Indonesia semakin melupakan nilai-nilai lokal…yang sebetulnya universal itu, kita semakin materialistik…bahkan ketika negara-negara maju mulai meninggalkan budaya materialistik,” papar Elnino.

Dari desa ke desa, Elnino dkk membawa laptop dan LCD pinjaman. Mereka presentasi menjelaskan tentang nilai-nilai tersebut. Mereka bicara dalam tiga konteks; sejarah peradaban bangsa-bangsa di dunia, perkembangan nasional, dan terutama nilai-nilai lokal tersebut.

“Kami jelaskan bahwa peradaban yang maju seperti Mesir, Yunani, Romawi di jaman lama, serta Amerika, Eropa, Jepang, Korea, China, India di jaman baru, semuanya memiliki budaya yang bersandar pada supremasi intelektual, supremasi ilmu pengetahuan dan bukan supremasi uang atau kekuasaan,” ujarnya.

POLITIK PENCERAHAN

Pada Juni 2008 Elnino didaulat oleh kelompoknya untuk menjadi calon anggota DPD. Non partai. Alasannya ada tiga. Pertama, sebagai tindakan konkrit dalam politik. “Elnino harus menjadi contoh calon legislatif. Dia mesti terikat dengan nilai-nilai yang dikampanyekan. Dia harus memberi teladan, bagaimana menjadi calon. Dia mesti memberi contoh sikap calon yang kalah bila dia kalah atau memberi contoh bagaimana seharusnya wakil rakyat bila dia menang,” papar Ketua Tim Pemenangan, Thariq Modanggu.

Kedua, perjuangan nilai harus ikut masuk ke semua partai politik. “Bila Elnino menjadi calon anggota DPR, maka akan sulit bagi kami untuk masuk ke semua kalangan di Gorontalo karena dibatasi secara psikologis oleh dinding parpol. Karena itu, dia kami calonkan ke DPD-RI dan slogan yang kami pakai untuk menghindari benturan dengan parpol adalah “Apa pun partainya, Elnino DPD-nya”. Itu membuatnya jadi inklusif,” tutur Thariq.

Alasan ketiga, bahwa pencalonan adalah pengabdian. “Tidak ada target kami untuk menang. Kami hanya ingin mengukur sejauh mana efektifitas gerakan pencerahan politik ini. Pencalonan Elnino itu sendiri adalah pengabdian kami. Jadi, kami bergerak tanpa beban sama sekali,” kata Thariq yang juga seorang dosen itu.

Selama 11 bulan, Elnino dkk hanya sempat mendatangi 192 dari total 585 desa yang ada di Gorontalo. Di setiap desa pun Elnino hanya berdiskusi tidak lebih dari 12 orang. “Biasanya di setiap pertemuan atau tiap desa kami hanya mengundang dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh kunci saja ; aparatur desa, guru, imam, tokoh pemuda desa. Biasanya tidak lebih dari dua belas orang saja,” kisah Elnino.

Uniknya, di setiap kesempatan presentasi, Elnino nyaris tak pernah meminta untuk dipilih. Mengapa? “Dua latar kenapa tak minta dipilih. Pertama, alasan yang terdengar klasik, yaitu nabi kita tidak menganjurkan memberi jabatan kepada yang meminta. Kedua, dalam komunikasi pun akan terasa sangat tidak elegan bila kita minta dipilih. Nggak sreg gitu…rasanya kayak pengemis jabatan,” jawab Elnino.

Luar biasa akibat politik yang diperoleh Elnino dan para sahabatnya. Mereka bukan saja memperoleh pemilih atau pendukung di desa-desa yang mereka datangi, tetapi bahkan membuat para tokoh desa secara sukarela dan militan menjadi juru kampanye mereka secara informal. Tak heran bila di antara tokoh-tokoh desa itu ada juga yang sukarela menyumbangkan bantuan logistik untuk kampanye Elnino.

Berbasis kampus serta dibantu oleh para wartawan, ribuan sahabatnya dan tokoh-tokoh desa, Elnino M. Husein Mohi membalikkan asumsi di Gorontalo bahwa politik hanya milik orang berduit. Kini semakin banyak orang-orang muda Gorontalo yang mengkader dirinya sendiri untuk menjadi pemimpin. Mereka terorganisir dengan baik dalam organisasi-organisasi pemuda dan mahasiswa. Mereka ingin menjadi Elnino-Elnino baru yang akan mencerdaskan masyarakatnya, bukan hanya di bidang politik, tapi juga di bidang lainnya.

IDE DI DPD

Merasa dipilih melalui jalan yang “benar”, membuat Elnino memiliki beban yang cukup berat untuk membuktikan bahwa masyarakat tidak salah pilih. Hanya saja ia menghadapi kendala besar terkait minimnya wewenang DPD-RI, yakni hanya sekedar mengusulkan ke DPR-RI. Agar tidak mengecewakan konstituen, ia melaporkan seluruh usulannya di DPD-RI ke daerah pemilihannya.

Salah satu konsep penting yang sedang diperjuangkan Elnino adalah mengenai sistem otonomi daerah. “Semestinya struktur pemerintahan daerah di seluruh Indonesia bisa meniru struktur Pemda DKI Jakarta. Lebih produktif untuk membangun bangsa,” tutur Elnino.

Seperti kita ketahui, di Jakarta, hanya gubernur yang dipilih langsung oleh rakyat. Bupati/walikota ditunjuk oleh gubernur. Hanya ada DPRD Provinsi, tidak ada DPRD Kabupaten/Kota. Artinya, 15 juta penduduk Jakarta ditangani oleh hanya 102 pejabat politik, yaitu gubernur, wakil gubernur dan 100 anggota DPRD Provinsi. “Bandingkan dengan Gorontalo yang penduduknya hanya 1 juta jiwa, ditangani oleh tujuh kepala daerah, tujuh wakil kepala daerah dan 215 anggota DPRD Prov/Kab/Kota. Sangat tidak efisien,” papar Elnino yang pernah menguraikan idenya tersebut beserta berbagai alasannya dalam artikel di Koran Jakarta, detik.com, dll.

Elnino juga melontarkan ide untuk memindahkan ibukota negara ke luar Pulau Jawa. “Jakarta sudah tidak representatif lagi untuk kelancaran urusan pemerintahan, karna kota ini sudah terlanjur menjadi pusat segala-galanya; ekonomi, budaya, ilmu pengetahuan, pemerintahan, dll. Jadi, ada baiknya urusan pemerintahan negara ini dipusatkan di tempat lain. Kalau perlu, ke luar Pulau Jawa untuk membuktikan bahwa bangsa ini benar-benar satu kesatuan, juga bahwa orang Jawa—walaupun mayoritas—tetap rela ibukota pindah ke pulau lain,” paparnya.

Sedangkan mengenai peraturan Pilkada, Elnino mengusulkan agar calon bertahan (incumbent) diharuskan cuti besar di luar tanggungan negara selama 3 bulan sebelum hari pencoblosan. Ini untuk menghindari penggunaan asset maupun aparatur pemerintah daerah dalam kampanye.

Seperti para senator lainnya, Elnino merasa harus berusaha melakukan perubahan konstitusi. Salah satu alasannya adalah kewenangan DPD-RI yang belum seperti idealnya. “Sekarang ini DPD-RI seperti majelis rendah, hanya mengusulkan ke DPR. Mestinya DPD diberi kewenangan yang sama dengan DPR, menetapkan dan mengesahkan undang-undang, walaupun hanya untuk bidang-bidang tertentu,” ungkapnya.

Ide-ide seperti di atas tentu akan mendapatkan tantangan yang berat. Banyak kepentingan yang harus dilanggar bila ide-ide tersebut menjadi kenyataan. “Tapi bagi saya, soal berhasil atau tidak, tidak masalah. Yang penting konstituen tahu bahwa saya serius berpikir dan bekerja untuk bangsa ini. Toh saya tetap meyakini, ide-ide itu akan menjadi nyata, walaupun mungkin harus menunggu 10-15 tahun lagi,” tuturnya.

SENATOR TINGGAL DI ASRAMA MAHASISWA

Lain lagi beban moral yang wajib ditanggung Elnino. Terpilih secara murni, bahkan tak mengeluarkan ongkos yang besar, Elnino menciptakan sistem untuk mengelola seluruh uang yang diperoleh dari DPD agar dapat bermanfaat bagi konstituennya rakyat Gorontalo. “Tidak elok sebetulnya bila digembar-gemborkan soal ini. Tetapi secara garis besar, seluruh pemasukan dari DPD masuk ke Tim-9, dulu adalah Tim Pemenangan Elnino, lalu Tim-9 inilah yang memanfaatkan dana tersebut untuk menggaji Elnino, menyusun program kerakyatan dan melaksanakannya,” beber Thariq Modanggu yang saat ini menjadi Ketua Tim-9 tersebut.

Sejak dilantik 1 Oktober 2009, hingga saat buku ini diterbitkan, Elnino masih menginap di Asrama Mahasiswa Gorontalo, Jl. Salemba Tengah no. 29. Sebetulnya dia sendiri risih dengan kondisi itu. “Soal tinggal di asrama sih saya sudah biasa. Sejak SMA tinggal di asrama, hingga dua tahun lalu juga tinggal di asrama ini waktu kuliah S2 di UI. Tetapi kadang saya risih karena ada saja orang yang menganggap saya sok suci, sok miskin, hehe…,” ungkap pria murah senyum itu.

DARI TUKANG BECAK, INGIN JADI DUBES

Elnino adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara. Bapaknya, Mustapa Mohi adalah seorang guru, sedangkan ibunya, Hadjari Ismail Lebie adalah seorang perawat. Kehidupan masa kecilnya cukup menderita karena sang ayah meninggal saat kelas tiga SMP dan disusul ibunda ketika SMA. Untungnya, Elnino dianugerahi Tuhan kecerdasan otak luar biasa yang membuatnya mampu melanjutkan pendidikan berkat beasiswa.

“Dari tujuh saudara yang lain, saya paling tinggi sekolahnya. Sejak SMP, SMA Don Bosco Pondok Indah dan SMA Lab School di Jakarta, sampai kuliah di STT Telkom Bandung. Semua biaya sekolah saya dapatkan dari beasiswa yang berasal dari orang-orang Gorontalo yang sukses di Jakarta,” kisahnya.

Di samping beasiswa ia juga harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi di perantauan ia hidup sebatang kara, sehingga harus berjuang sendirian. Saat SMA di Jakarta, Elnino sempat mengamen, menjadi kenek bus kota dan tukang antar koran.

Perjuangan serupa dijalaninya saat menempuh pendidikan tinggi di STT Telkom Bandung, yang juga dibiayai “beasiswa”. “Saya sempat menjadi penarik becak di kampus, karena beasiswa hanya cukup untuk biaya kuliah. STT kan mahal, sekitar Rp 750 ribu per semester sedangkan biaya hidup saya Rp 50 ribu sendiri. Saya berhenti menarik becak setelah semester III karena malu sama adik kelas. Becak saya jual dan mulai usaha sablon,” jelasnya.

Untuk membiayai kuliah, Elnino mengajukan “proposal” kepada orang-orang kaya Gorontalo di Jakarta. Dari merekalah biaya kuliah yang lumayan besar tersebut didapatnya hingga menyelesaikan pendidikan. Memasuki semester VIII, Elnino sudah mulai “kaya” karena memiliki usaha di bidang sablon dan wartel. Sebagai mahasiswa perantauan dengan biaya sendiri, ia mampu membeli motor, TV dan buku-buku referensi.

Beroleh gelar Sarjana Teknik dari STT Telkom (1998), Elnino kembali ke kampung halaman dan bekerja sebagai wartawan. Meskipun mendapat tentangan dari saudara-saudaranya yang menghendakinya menjadi PNS, ia jalan terus. Ia beranggapan profesi wartawan adalah paling terhormat di antara pekerjaan lain.

“Tersinggung saya ketika dibilang sekolah tinggi ‘cuma’ menjadi wartawan. Makanya ketika kakak meminta ijazah saya didaftarkan jadi PNS, tidak saya kasih. Bagi saya, wartawan adalah profesi yang sangat terhormat,” kata Redaktur Eksekutif Radar Gorontalo ini.

Ditanya tentang cita-citanya kedepan, Elnino hanya menjawa pendek sambil tersenyum simpul, “Duta Besar.” Dubes di mana maunya? “Di Spanyol, hehehe. Anak saya akan bisa berbahasa Inggris, Spanyol, Indonesia dan Gorontalo. Saya sendiri bisa menonton pertandingan Real Madrid vs Barcelona setiap hari, gratis pula,” katanya sembari bercanda.

KEINGINAN LUHUR

Menurut Elnino, permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia bersumber dari tidak diamalkannya UUD 1945 secara konsekwen. Di mana dalam Pembukaan UUD’45 termaktub kalimat “Atas berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur…”. Tanpa keinginan luhur, maka faktor Tuhan menjadi nihil. “Tanpa niatan luhur, korupsi di mana-mana, bahkan terjadi ‘penjajahan’ dari pihak luar negeri. Pelaksanaan sistem otonomi, sistem ketatanegaraan dan undang-undang, semua kacau balau. Dari pusat hingga daerah,” tegasnya.

Dia juga mengimbau, agar orang-orang cerdas, para cerdik-pandai, yang mengkampanyekan moralitas jangan hanya diam di kampus. Mereka tidak boleh hanya berteriak-teriak menyoroti kesalahan sistem tanpa harus terlibat di dalam sistem.

“Jangan hanya menikmati status sebagai intelektual, independen dan hanya menjadi pengamat. Mari rame-rame masuk partai, menjadi anggota DPR, DPRD, atau sekalian mencalonkan diri jadi kepala daerah. Minimal seperti saya, jadi calon anggota DPD. Jangan sampai karena orang baik tidak berminat mengambil alih kekuasaan, maka kekuasaan jatuh ke tangan orang jahat. Tapi… mungkin juga mereka takut kalah dalam pencalonan, padahal pencalonan itu sendiri adalah pengabdian,” ungkapnya.

Elnino kembali mengingatkan bahwa semua peradaban maju karena supremasi ilmu pengetahuan di segala bidang, termasuk dalam politik. Uang hanyalah akibat dari diterapkannya ilmu pengetahuan pada sebuah negara. Dengan mengedepankan supremasi ilmu pengetahuan, bangsa Indonesia tidak akan lagi menjadi bangsa kuli. Bahkan bukan tidak mungkin  melebihi Amerika dan negara adidaya lainnya, mengingat besarnya potensi yang dimiliki bangsa ini.

BIODATA

Elnino M. Husein Mohi
Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Komite I : Bidang Otonomi Daerah, Hubungan Pusat-Daerah, Pemekaran Daerah, Politik Lokal – Pilkada.

TTL : Gorontalo, 30 Oktober 1974
Alamat : Jl. Barito No. 38, BulotadaA Timur, Kota Utara, Kota Gorontalo. Website : www.elnino.web.id.
Orang tua : Mustapa Mohi (alm), Hadjari Ismail Lebie (almh)
Isteri : Umin Kango, S.Pd
Anak : Nun Farida Aryani (6 thn), Alif Lam Mohi (3 thn), Elnino Mustafa Hussein Mohi (1 thn)

PENDIDIKAN:
“Leadership and Language Training”, SILC, University of Arkansas at Fayetteville, USA (2007)
Universitas Indonesia, Program Pascasarjana Manajemen Komunikasi Politik (2007).
STT Telkom, Bandung. Jurusan Teknik dan Manajemen Industri (1998)
SMU Negeri 81 Labschool, Jakarta Timur (1993)
SMP Negeri 6 Gorontalo (1990)
SDN II Ayula, Tapa, Gorontalo (1987)

ORGANISASI:
1.    Ketua Majelis Sinergi Kalam Ikatan Cendekiawan Muslim se Indonesia (Masika-ICMI) Wilayah Gorontalo.
2.    Perwakilan Yayasan Suharso Monoarfa (Sumo Foundation) untuk Provinsi Gorontalo.
3.    Sekretaris The Presnas Centre. (Himpunan para mantan pejuang pembentukan Provinsi Gorontalo)
4.    Wakil Ketua Aliansi Pengawal Perjuangan Provinsi Gorontalo (AP3G).
5.    Anggota Kehormatan Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Gorontalo.
6.    Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Gorontalo (2003-2005)

PEKERJAAN
1.    Redaktur Eksekutif Harian Tribun Gorontalo (sekarang Radar Gorontalo).
2.    Redaktur Harian Gorontalo Post (2001-2002)
3.    Pemimpin Redaksi “Habari Lo Lipu” (media sosialisasi perjuangan pembentukan provinsi Gorontalo, 1999-2001)

BUKU KARYA TULIS
Media Politik vs. Politik Media. (draft, diambil dari intisari thesis S-2)
Abad Besar Gorontalo. 2003. Presnas Publishing. Gorontalo. (Ditulis bersama Alim S. Niode)
Walikota Medi. 2002. Presnas Publishing. Gorontalo.
Juga menjadi kontributor, penyunting atau editor dalam 9 buku lainnya, yakni ; Moodelo (Medi Botutihe, 2006), Mahligai Bertabur Cinta (Zulhelmi Alting, 2005), Menggagas Masa Depan Gorontalo (Funco Tanipu dkk, 2004), Gorontalo Serambi Madinah (Medi Botutihe, 2003), Nani Wartabone (Tim Diknas, 2003),  Negarawan Dari Desa (La Ode Aman, 2003),  Anda dan Pemilu 2004 (KPU Provinsi Gorontalo, 2003), Sang Deklarator (Hardi Nurdin, 2002), Paradigma Baru Industri Pangan Indonesia (Thamrin Djafar, 1999)

PENGHARGAAN DAN BEASISWA
Piagam “Arkansas Ambassador” (Duta Arkansas) dari Gubernur Arkansas, Amerika Serikat (2007)
Piagam “Pejuang Pembentukan Provinsi” dari Gubernur Gorontalo (2001)
Nominator “Man of The Year—2003” versi Harian Gorontalo Post
International Fellowship Program—Ford Foundation, Amerika Serikat (2005-2007)
Beasiswa Yayasan 23 Januari ’42 (1993-1998)
Beasiswa “Program Habibie” dari Pemda Kodya Gorontalo (1990-1993).

Drs. Winardi, MBA

No Comments

Drs. Winardi, MBA
Presiden Direktur PT BTS Cargo

Menjadi Diri Sendiri Untuk Membangun Perusahaan

Dalam kondisi serba kekurangan, seorang kreatif mampu menemukan jalan keluar terbaik. Berbagai cara digunakan untuk menyiasati permasalahan kehidupan yang dihadapinya. Perjuangan keras tak kenal lelah selama bertahun-tahun untuk mengubah nasib akan menghasilkan kesuksesan yang mengubah jalan hidup.

Gambaran singkat seperti itulah jalan hidup yang ditempuh Drs. Winardi, MBA. Terus berusaha dan berjuang untuk memperbaiki kehidupan keluarga terus dilakukannya. Bahkan sejak meninggalnya sang ayah pada usianya yang ke-15, bersama keempat saudaranya yang lain, ia berusaha membantu kehidupan keluarga.

“Kami membantu ibu yang berjuang sendirian membesarkan kelima anaknya. Kita melakukan pekerjaan apa saja untuk membantu keluarga, karena tidak mau terlalu menyusahkan orang tua. Semua itu kami lakukan atas kemauan sendiri semata-mata untuk membantu perjuangan ibu,” kata Presiden Direktur PT BTS Cargo ini.

Winardi dan empat saudaranya (dua orang laki-laki dan dua orang perempuan) bekerja serabutan dengan harapan memperoleh penghasilan. Ia sendiri baru benar-benar terjun ke pekerjaan “formal” setelah lulus dari SMA. Saat itu, ia diterima bekerja di sebuah perusahaan biro perjalanan selama tiga tahun.

Lepas dari biro perjalanan, ia kemudian bekerja di sebuah perusahaan kimia sebagai marketing. Mengendarai scooter butut, ia keliling dari kota-kota untuk menawarkan produk perusahaan tempatnya bekerja. Meskipun cukup melelahkan, ia melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Baginya perjuangan hidup untuk keluarganya jauh lebih penting dari sekadar rasa lelahnya.

“Ke manapun akan saya kejar, karena kita harus berjuang dengan penuh tanggung jawab. Tetapi saya sebenarnya tidak mempunyai impian dan cita-cita untuk menjadi apapun. Semua mengalir begitu saja, karena saya ingin menjadi diri sendiri tetapi bertanggung jawab terhadap apa yang saya lakukan,” tuturnya.

Setelah sekian lama berkutat sebagai karyawan, Winardi memperoleh kesempatan yang mengubah jalan hidupnya. Sebuah perusahaan travel bangkrut dan hampir tutup sehingga pemilik menjual seluruh sahamnya. Bersama keluarga dan dukungan teman, ia memberanikan diri untuk membeli perusahaan tersebut.

Meskipun saat itu usianya masih sangat muda, namun Winardi memiliki keyakinan yang tinggi. Apalagi, dalam menjalankan perusahaan barunya ia benar-benar hanya bermodal “dengkul” sehingga selain sebagai pemilik, ia juga yang menjadi pekerja. Namun, ia yakin bahwa dengan ketekunan dan kemauan yang tinggi, setiap orang “bisa” mewujudkan keinginan dan cita-citanya.

“Dengan kemauan yang betul-betul kita jalankan, akhirnya pelan-pelan perusahaan biro perjalanan menanjak. Dari hanya satu ruko, kemudian meningkat menjadi dua ruko dan seterusnya. Banyak kendala yang kami hadapi, tetapi semua kan tergantung bagaimana kita menyikapinya. Kalau dibilang kendala ya menjadi kendala, tetapi kalau tidak ya bukan kendala. Tergantung bagaimana pola pikir kita,” ungkapnya.

Perusahaan Winardi mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Dari perusahaan travel, ia kemudian merambah bidang usaha cargo, pendidikan, penerbangan dan lain-lain. Bidang pendidikan sangat lengkap dari berbagai jenjang, mulai TK, SD, SMP dan SMA sampai Perguruan Tinggi.

Untuk mengenang jasa orang tuanya, Winardi menggunakannya sebagai nama perusahaan. Salah satunya adalah penamaan perusahaan cargo, PT BTS Cargo yang merupakan singkatan dari Buana Trans Seantero. Sebenarnya, nama tersebut adalah julukan bagi sang ibu di kalangan keluarga dan teman-temannya.

“Ibu saya dipanggil BATAK SO oleh keluarga dan teman-temannya. Karena dulu, julukan atau panggilan ayah oleh rekan-rekannya adalah BATAK sehingga ibu saya menjadi BATAK SO. Dari nama tersebutlah saya singkat menjadi BTS dan nama perusahaan diberi BTS Cargo,” kisahnya.

Winardi mengakui bahwa kegigihan keluarganya dalam membangun perusahaan adalah semata-mata berkat Tuhan. Tanpa-Nya, seluruh usaha yang dilakukannya menjadi tidak berarti. Meskipun sering jatuh bangun, ia tidak pernah berputus asa dan selalu yakin bahwa Tuhan akan membantu memecahkan masalah yang dihadapinya.

“Tuhan memang Maha Baik”, ujar WInardi yang mempunyai 4 orang anak, 1 laki-laki dan 3 perempuan ini. “Hal ini yang saya tekankan kepada anak-anak, agar mereka memiliki kemauan sendiri, tanpa harus disuruh dan mengerjakan apa yang mereka suka kerjakan. Karena jika kita memaksakan kehendak kepada anak, belum tentu dia suka dan mau melakukannya. Jadi mereka melakukannya dengan penuh suka cita sehingga pekerjaan itu tidak menjadi beban bagi mereka,” tegasnya.

Tidak Memiliki Cita-Cita

Memimpin perusahaan dengan berbagai bidang usaha, Drs. Winardi, MBA memiliki motivasi dalam dirinya sendiri. Motivasi paling penting adalah keinginan untuk membuktikan bahwa ketika orang lain mampu, ia juga bisa melakukan hal serupa. Dan memiliki berbagai bidang usaha, sebenarnya bukanlah cita-citanya. Tetapi itu pemberian Tuhan.

“Semua datang dan terjadi begitu saja dengan sendirinya. Saya bahkan tidak memiliki cita-cita. Karena kalau mempunyai cita-cita tetapi kita tidak menekuninya pasti tidak akan tercapai. Tetapi jika kita tekun dan kita jalankan sebagai mana mestinya, apa saja cita-cita dan keinginan kita pasti tercapai,” kata pria yang mengaku puas dengan pemberian Tuhan kepadanya ini.

Namun demikian, meskipun puas atas pencapaiannya, Winardi tidak akan pernah berhenti. Ia terus berjalan dan mengembangkan perusahaan agar memberikan kebaikan bagi umat manusia. Sambil menjalankan usaha, ia terus menerus mengucapkan syukur atas segala karunia dan kesuksesan yang diberikan Tuhan kepada dirinya dan keluarga.

Winardi menyadari, tanpa berkat Tuhan kesuksesan tidak akan hadir dalam hidupnya. Karena sebenarnya setiap manusia diberkati Tuhan untuk mencapai kesuksesan dengan profesi masing-masing. Selama manusia mampu mengatasi kendala, rintangan dan tantangan, serta kemauan untuk sukses Tuhan tidak akan menghalangi.

“Simple saja, yang penting ada kemauan karena siapapun bisa asalkan memiliki kemauan kuat untuk sukses. Kesuksesan itu merupakan milik semua orang. Boleh saja kita membaca buku tentang kiat sukses, tetapi semua tergantung pada kemauan masing-masing. Apa yang ada di buku bukan jaminan kesuksesan kalau karakter manusianya sendiri pemalas. Semua tergantung kemauan sendiri dan tekad yang kuat. Mereka juga jangan terlalu mengikuti orang lain karena memiliki bakat berbeda-beda,” tegasnya.

Bahkan, Winardi juga menegaskan bahwa dalam kamus bisnisnya tidak ada kompetitor. Setidaknya, kompetitor bukanlah menjadi prioritas untuk dikhawatirkan. Apa yang disebut kompetitor oleh orang lain, baginya adalah relasi yang mungkin akan menjalin kerjasama dengan perusahaan. Bukan tidak mungkin pula, perusahaan miliknya akan menjalin kerjasama dengan pesaingnya sendiri.

Dengan begitu, lanjutnya, ia bebas dari kepusingan dan membebani hidup dalam arena kompetisi. Tidak heran, Winardi bahkan tidak memiliki rencana pasti untuk masa depan perusahaan. Ia juga tidak memaksakan obsesi muluk-muluk untuk meraih impian dalam hidupnya. “Bagi saya hidup itu simple, kebahagiaan adalah hal paling utama dalam hidup saya. Apa yang saya mau lakukan ya lakukan saja. Ibaratnya, saya ingin perusahaan menjadi nomor satu, ya harus saya wujudkan menjadi perusahaan nomor satu. Just do it,” imbuhnya.

Karyawan Bukan Aset

Sebagai seorang pimpinan, Winardi menerapkan sistem kekeluargaan dalam menjalin hubungan dengan karyawan. Dengan sistem kekeluargaan, ia dapat langsung melihat dan memantau hasil kinerja karyawan. Sosoknya yang rendah hati dan jarang marah membuat anak buahnya sangat menyayangi dirinya. Meskipun apabila membuat kesalahan, mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Bagi Winardi, karyawan sudah menjadi bagian dari perusahaan yang bersama-sama mengupayakan kemajuan perusahaan. Antara karyawan dan pimpinan harus satu hati demi kesejahteraan bersama. Untuk itu, ia tidak pernah menganggap karyawan-karyawan sebagai asset perusahaan.

“Saya tidak pernah bilang itu pegawai tetapi anggota. Saya tidak bisa bilang pegawai sebagai asset, karena mereka tidak bisa kita “pelihara” sampai tua. Kalau asset itu seperti komputer, kendaraan dan lain-lain, yang dibeli dari hasil usaha dan dapat menghasilkan dan menguntungkan perusahaan. Sementara SDM, bisa melakukan manipulasi dan merugikan bukan menguntungkan perusahaan. Jadi tidak ada loyal customer, loyal employee, dan lain-lain sehingga yang tepat SDM adalah partner,” tegasnya.

(Revisi hlm 4 alinea 2)
Saya tidak pernah mengatakan karyawan saya adalah pegawai tetapi “anggota”. Dan semua orang mengatakan bahwa SDM itu asset, bagi saya SDM bukan asset tetapi partner saya dalam bekerja, karena kita sama-sama berjuang untuk memajukan perusahaan.
“Anggota” tidak bisa di “keep”, makin dipoles,  makin bagus, makin pintar malah semakin parah. INI FAKTA. Kita tidak bisa memelihara mereka sampai tua. Mereka bisa beralih ke perusahaan lain karena mendapatkan pekerjaan  dengan mendapatkan gaji yang lebih tinggi misalnya, apakah itu dikatakan ASSET????

Bagi saya yang dikatakan asset misalnya seperti komputer, kendaraan, karena dibeli dari hasil usaha dan dapat menghasilkan dan menguntungkan perusahaan. Sementara SDM yang melakukan manipulasi misalnya, malah merugikan dan bukan memajukan perusahaan. Apakah itu dikatakan ASSET????
“Dan kenapa SDM dikatakan asset sementara SDM itu kan manusia, bukan benda. Mungkin dikatakan SDM sebagai “asset” hanya sebagai arti kiasan, tetapi menurut saya tidak layak kalau SDM dikatakan “asset”.
Saya rasa lebih tepat SDM itu dikatakan PARTNER”.

Selama menjalankan usaha yang berkembang besar, Winardi selalu mengedepankan untuk bekerja keras. Ia bahkan tidak pernah memikirkan harapannya tentang perusahaan ke depan, baik jangka panjang maupun pendek. Keyakinannya adalah bahwa selama perusahaan mengikuti perkembangan zaman tidak akan mengalami kehancuran. Bahkan ia tidak memiliki rencana apapun tentang masa depan perusahaan.

“Just do it saja. Tidak ada rencana dan harapan jangka apapun. Yang penting saya mau, itu saja. Kalau sekarang saya mau memiliki hotel tetapi belum dikasih sama Yang Diatas, berarti itu yang terbaik. Pokoknya dalam hidup saya itu, plan do made planning. Lakukan yang bisa dilakukan, yang penting tidak membahayakan dan merugikan orang lain,” kata pemilik motto “Kesuksesan itu Milik Semua Orang” ini.

Winardi menegaskan bahwa agar setiap manusia ingin hidup berbahagia. Salah satu cara yang paling ampuh sesuai dengan pengalamannya adalah dengan membahagiakan kedua orang tua. Karena atas doa orang tualah, cita-cita dan harapan seorang anak akan diwujudkan oleh Tuhan. Bahkan, Tuhan menjamin restu orang tua akan membuat langkah-langkah seorang anak sangat mudah menjalani hidup. “Tidak ada yang mustahil dan tidak bisa. Just do it,” imbuhnya.

Begitu juga dalam menghadapi era globalisasi dan perdagangan bebas saat ini. Menurut Winardi tidak perlu ketakutan berlebihan terhadap datangnya era tersebut. Ia mencontohkan bagaimana zaman dahulu kantor menggunakan mesin ketik untuk menuliskan laporan perusahaan. Seiring perkembangan zaman, mesin ketik berganti dengan komputer atau laptop dan tidak menimbulkan masalah berarti.

Winardi hanya mengingatkan bagaimana perhatian pemerintah terhadap rakyatnya. Karena di tengah perkembangan zaman globalisasi, rakyat hanya mampu menjerit menyuarakan penderitaan yang dialami. Sementara pemerintah terkadang cenderung mengabaikan dan kurang menanggapi keinginan masyarakat. Padahal, banyak sekali yang harus dibenahi untuk mendorong rakyat agar mampu bersaing di dunia global.

“Pemerintah harus memiliki kabinet yang mampu untuk memperbaiki masing-masing sektor dalam arti kata sudah paham, mengetahui dan mengerti betul akan bidangnya. Selama ini yang dipersiapkan untuk duduk di kabinet kan orang-orang politik. Tetapi akibatnya, sedikit-sedikit digoyang oleh saingan politiknya sehingga kalau mau menyalahkan pemerintah juga tidak bisa. Itu harus dibenahi secepatnya,” tambahnya.

PENDAPAT PERIHAL PEMERINTAHAN SEKARANG).

Semua juga sudah tahu bagaimana dengan pemerintahan kita saat ini. Perubahan sudah ada tetapi masih pada sektor tertentu, masih banyak yang perlu dibenahi.
Kelemahan pemerintah kita sampai saat ini bahwa masih kurang cepat dan tanggap dalam membenahi yang seharusnya dibenahi.  Jika sudah terjadi baru sibuk untuk berbenah.
Menurut saya pemerintah harus memiliki kabinet-kabinet yang mampu untuk memperbaiki masing-masing sektor dalam arti kata sudah paham, mengetahui dan mengerti betul akan bidangnya. Segalanya harus dibenahi. Tidak sibuk mengurus masalah politik terus. Sedikit digoyang sudah menanggapi masalah politik yang ada.
Mau menyalahkan pemerintah, juga tidak bisa karena jadi pemerintah juga tidak gampang. Yang perlu saat ini adalah semua jajaran/masyarakat harus kerjasama dan segala sesuatunya harus cepat dibenahi.

Winardi berpendapat bahwa generasi muda sekarang harus memiliki pola pikir yang global. Mereka tidak boleh melepaskan diri dari ajaran agamanya masing-masing. Generasi muda harus menyadari bahwa agama mampu membantu mengubah pola pikir dan karakter mereka. Selain itu, generasi muda juga harus memiliki kesadaran dan kemauan untuk berjuang demi kebaikan semua umat manusia.

“Generasi muda juga harus memiliki ilmu yang tinggi. Kesimpulan saya, lakukan yang terbaik. Jangan lihat orang lain harus dilihat pada diri sendiri dan jangan sekalipun mengikuti orang lain. Itu juga saya tekankan pada anak-anak saya sembari memberikan dorongan kepada mereka untuk mengembangkan bakat dan minat masing-masing. Saya tidak pernah mengekang kegiatan mereka selama masih positif. Karena sebagai keluarga, kami saling mendukung dan bekerja dalam satu team,” ungkap Drs. Winardi, MBA menutup pembicaraan.

Trisno Alianto

No Comments

Trisno Alianto
PT Mastindo Agung Semesta

Menyuplai Bahan Bangunan Termurah Untuk Indonesia

Setelah meraih gelar Bachelor of Science di sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat, Trisno Alianto memutuskan bekerja di Singapura. Selama enam bulan, ia bekerja di negeri tersebut. Namun, kedua orang tuanya meminta untuk kembali dan bekerja di tanah air. Tujuannya untuk membantu keduanya mengelola perusahaan keluarga yang dimiliki.

“Kami memiliki berbagai usaha seperti pabrik sepatu, pabrik aluminium dan pabrik tekstil. Tetapi akhirnya pada tahun 1998 saya mendirikan Mastindo setelah melihat adanya peluang pasca kerusuhan Mei 1998. Akibat krisis harga property turun dan banyak yang membutuhkan bahan bangunan. Di sisi lain, saya memiliki akses ke China karena pernah bekerja di sana. Makanya, saya terdorong untuk membantu mengimpor kebutuhan material dari China yang lebih murah,” kata pendiri PT Mastindo Agung Semesta ini.

Keberaniannya di tengah krisis moneter yang melumpuhkan sendi-sendi perekonomian tidak lepas dari kejelian pengamatannya. Perekonomian dunia yang jatuh terpuruk ke titik nadlir justru menjadi peluang emas baginya. Tanpa keraguan sedikit pun, ia “melepaskan” diri dari perusahaan keluarga yang ditekuninya selama beberapa tahun. Meskipun demikian, ia tetap menjalin hubungan kerja dengan perusahaan keluarga sebagai induk perusahaan.

Trisno –panggilan akrabnya- bahkan mengabadikan nama kedua orang tuanya menjadi nama perusahaan. “Mastindo itu sebenarnya nama ayah dan ibu saya. MA adalah singkatan Muhadi Alianto, ST adalah Srimurni Tjandra dan saya tambah INDO, Indonesia. Jadilah PT Mastindo Agung Semesta untuk mengimpor barang dari berbagai negara, seperti China, Malaysia dan lain-lain. Tadinya perusahaan mengimpor ATK, handphone dan sekarang spesialis di bahan bangunan,” terangnya.

Sebagai pengusaha, lanjut Trisno, tentu saja banyak kendala yang harus dihadapinya. Ia mencontohkan bagaimana di awal operasional perusahaan dari dalam negeri menghadapi kontrol impor dari pemerintah, bea masuk, pajak dan lain-lain. Sementara dari negara produsen, terutama China kendala yang dihadapinya adalah kesulitan untuk mencari supplier yang terpercaya. Penyebabnya, di China sendiri terjadi perang harga yang mengakibatkan kesulitan mengimpor barang yang benar-benar berkualitas.

Produsen material bangunan di China pada harga berapapun dapat memproduksi sesuai kemampuan. Hanya saja, kualitas dikorbankan untuk mengejar harga yang sangat murah. Akibatnya, konsumen di Indonesia harus kecewa karena membeli barang yang tidak berkualitas. Untuk menyiasatinya, ia berencana membangun pabrik di Jakarta atau Surabaya.

“Kita akan membuat beberapa produk yang dibuat di Indonesia, seperti stainless steel dan mungkin nanti menyusul poly carbonate. Rencananya pabrik akan dibangun di Jakarta atau Surabaya. Sesuai dengan visi kita, ‘Menyuplai bahan bangunan termurah untuk kawasan Indonesia.’ Banyak barang yang murah tetapi kualitasnya kurang. Kalau barang dari China umumnya begitu, harga berapa pun mereka bisa produksi, tanpa jaminan kualitas. Kalau kita produksi di Indonesia harganya bisa murah dengan kualitas yang baik,” tegasnya.

Menurut Trisno, ia sangat optimis bahwa ke depan produksi perusahaan mendapat sambutan dari konsumen di Indonesia. Seiring dengan pembangunan yang semakin meningkat di tanah air, produk perusahaan –baik impor maupun produksi sendiri- akan memenuhi kebutuhan pembangunan. Bahkan untuk sekarang, pelanggan perusahaan seperti kontraktor dan bengkel yang tersebar di Jakarta, Surabaya, Makassar dan Indonesia Timur lainnya menjadi pelanggan setia PT Mastindo Agung Semesta.

“Sebagai importir dan distributor bahan bangunan, kita sudah melayani 23 kota di seluruh Indonesia. Ke depan, kita berencana untuk merakit bahan di Indonesia supaya lebih stabil. Karena kalau impor terus, agak susah mengingat tren di masyarakat juga berubah-ubah. Sementara kita harus menyediakan banyak barang untuk menyiapkan kebutuhan konsumen. Yang penting, pelanggan tidak perlu ke mana-mana mencari bahan yang diperlukannya. Pokoknya, kita one stop shopping untuk material ini,” ungkap pria kelahiran Medan, 15 Februari 1966 ini.

Generasi Muda Kompetitif

Berbicara mengenai generasi muda, Trisno Alianto mengungkapkan optimismenya. Mereka mampu mengembangkan Indonesia menjadi jauh lebih baik lagi. Masa depan Indonesia, tak pelak lagi sangat tergantung dari bagaimana generasi muda mengembangkan kemampuan dan potensinya masing-masing.

“Saya kira, generasi muda sekarang sudah mengenal hi tech yang dikuasianya. Saya yakin generasi muda di masa mendatang akan mampu menguasai Indonesia. Kalau kita sendiri tidak ikut dengan knowledge kita sendiri yang akan susah. Kita mau mencari apa saja, dengan membuka internet semua langsung keluar,” tutur ayah tiga orang putra dari pernikahannya dengan Luciawati Purnomo ini.

Kepada generasi muda, Trisno berpesan agar mereka tidak sekali-kali meninggalkan teknologi. Karena di kemudian hari, persaingan yang terjadi di dunia internasional lebih banyak di bidang teknologi. Oleh karena itu, generasi muda harus tetap menyadari bahwa ke depan persaingan semakin ketat dengan teknologi sebagai kendaraannya.

“Generasi muda ke depan harus lebih kompetitif, karena semua sudah jelas informasinya tinggal bagaimana efisiensi dilakukan. Makanya mulai sekarang kita harus mengikuti teknologi. Dan ini harus diajarkan sejak dini di sekolah,” ungkap pengagum Mao Tse Tong dan John F Kennedy ini.

Untuk itu, Trisno mendukung upaya pemerintah yang memberikan anggaran 20 persen dari APBN bagi pendidikan. Setidaknya pada setiap sekolah tersedia komputer dengan jaringan internet untuk mengenalkan teknologi informasi sejak dini. “Anak-anak harus mengikuti knowledge semaksimal mungkin dengan teknologi ini. Jangan sampai anak-anak kita kalah dari anak-anak di luar negeri. Semuanya meningkat tetapi kita memang kalah cepat dari bangsa lain,” kata anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Meskipun demikian, pria dengan moto “Menyiapkan diri adalah arti dari suatu kehidupan” ini, tidak mempersiapkan anak-anaknya untuk menggantikan posisinya. Ia menyerahkan secara penuh keinginan mereka dalam mengejar cita-cita sesuai dengan kemampuan masing-masing.

“Anak saya ada tiga laki-laki semua, yang paling besar SMA sedangkan yang kecil baru SD. Saya tidak mengarahkan mereka untuk meneruskan usaha ini. Tergantung mereka karena setelah kuliah anak-anak pasti memiliki rencana masing-masing. Semua sudah open, terserah mereka. Yang penting kita sudah siapkan semuanya, mulai sekolah sampai kuliah,” tegas penyuka liburan di Bali, Singapura dan USA ini.

Lima Besar Dunia

Terhadap pemerintah sekarang, Trisno Alianto menyadari kesulitan yang mereka hadapi. Masalah waktu adalah problema terbesar yang dihadapi dunia usaha terhadap kebijakan pemerintah. Ia mencontohkan bagaimana impor barang harus tertunda di Bea Cukai. Sementara di negara seperti Singapura, dalam beberapa hari masalah kepabeanan pasti teratasi.

“Kita tahu kapan barang kita keluar karena prosedurnya sudah tetap. Tetapi memang memerlukan proses yang sangat panjang, meskipun sudah terdapat perubahan yang sangat berarti. Perbaikannya sudah sangat drastis. Contohnya masalah pajak, dari dahulu sistem yang digunakan sudah sangat bagus begitu juga cara meng-handle yang dilakukan dengan baik,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Trisno berharap pemerintah mampu membenahi sektor riil. Karena meskipun secara makro kemajuan perekonomian di Indonesia sangat bagus, tetapi pada sektor riil semuanya hanya sebatas angka. Sementara pemulihan ekonomi tidak mungkin hanya dari satu decision saja dan harus didukung oleh market/pasar dan faktor-faktor lainnya.

Menurut pemilik usaha pergudangan PT Cita Bumi Kendari ini, pemerintah harus melakukan dua hal, menstabilkan nilai kurs rupiah dan menurunkan suku bunga. Karena saat ini, nilai suku bunga perbankan Indonesia merupakan tertinggi di Asia sebesar 14 persen. Padahal, di negara-negara lain suku bunga sudah mencapai di bawah 1 persen. Apabila kedua hal tersebut terwujud, kemajuan perekonomian di Indonesia akan meningkat secara signifikan.

“Indonesia negara yang sangat makmur, semua itu hanya masalah waktu saja. Karena semua bahan tambang ada di bumi Indonesia sehingga kesejahteraan tinggal beberapa langkah lagi. Bahkan, seorang ekonom meramal, nanti tahun 2030 Indonesia akan menjadi top five in the world, lima besar kekuatan ekonomi di belakang China, Brazil, dan India. Saya kira proses menuju itu sangat sulit, karena banyak personal interest yang harus disingkirkan. Tetapi kalau personal interest bisa dikesampingkan, akan lebih mudah untuk menyejahterakan rakyat,” kata Trisno Alianto menutup pembicaraan.

Nusantara Sitepu

No Comments

Nusantara Sitepu
Direktur Utama BPR Solider

Misteri Perjalanan Hidup Putra Karo

Tidak pernah terbayangkan dalam hidup seorang Nusantara Sitepu untuk berkarier di dunia keuangan seperti sekarang. Latar belakang pendidikannya yang beragam, tidak satupun berpijak pada keuangan atau perbankan. Minatnya jauh lebih besar ke dunia kerohanian sehingga memperoleh gelar sarjana teologi dan sempat menjadi dosen.

Pria kelahiran Desa Berastepu, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, 15 Juni 1953 ini menjalani pendidikan Sekolah Dasar di desanya. Ia kemudian melanjutkan ke SMP dan SMA Swasta Seminari di Pematang Siantar. Ia memperoleh gelar sarjana lokal setelah menyelesaikan pendidikan filsafat dan teologi di Seminari Tinggi Parapat/Pematang Siantar (1975-1980).

“Saya merasa perjalanan hidup saya ini suatu misteri. Dari latarbelakang filsafat/teologi menjadi mengurusi uang yang sangat membutuhkan keahlian akuntansi dan keuangan. Terus terang pada mulanya saya harus berjuang keras belajar, karena sadar sekurangnya saya harus memahami pengetahuan dasar seperti jurnal dan neraca. Untungnya, staf dan pegawai saya banyak membantu,” kata Direktur Utama BPR Solider ini.

Ia juga merasa bersyukur, karena pada saat belajar di sekolah menengah memiliki prestasi gemilang dalam mata pelajaran berhitung dan aljabar. Ketika belajar filsafat, salah satu mata kuliah favorit dan memiliki prestasi tertinggi adalah mata kuliah Logika. “Kemampuan berhitung dan logika ini saya rasakan sangat membantu dalam kehidupan umum, termasuk dalam tugas saya memimpin BPR Solider,” imbuh dosen luar biasa di Unika St. Thomas Sumatera Utara untuk mata kuliah MKDU Logika, Agama dan Etika tahun 1984-1993 ini.

Tahun 1997 bersama beberapa temannya, Sitepu mendirikan BPR Solider di Pancur Batu. Selang lima tahun kemudian (2003), ia  diminta untuk ikut duduk menjadi salah satu direksi. Ia banyak belajar di situ saat berada dibawah kepemimpinan direktur utama Sahata Tinambunan SE dan direktur operasional Ir. Todo Pasaribu. Sitepu sendiri menjabat sebagai direktur umum dan keuangan sampai tahun 2007 RUPS menunjuk dirinya untuk menjabat sebagai Direktur Utama, sampai sekarang.

“Di atas semuanya, saya percaya penyelenggaraan Ilahi membuat semuanya  terlaksana dengan baik. Kepercayaan bahwa Tuhan yang menyelenggarakan semuanya, membuat saya yakin bahwa Ia akan memberikan cukup untuk kebutuhan hidup saya. Selain itu saya berprinsip, kalau tidak memiliki kelebihan dalam akuntansi dan keahlian keuangan, sekurang-kurangnya saya bisa mempunyai kelebihan dalam kejujuran dan integritas,” tandasnya.

Menurut Sitepu, pimpinan lembaga keuangan selayaknya bisa menjadi panutan mengenai kejujuran. Namun meskipun kejujuran diatas segalanya, pengetahuan dan keahlian lain sangat diperlukan. Ia mencontohkan, seseorang yang jujur pun akan mengalami kesulitan juga memimpin sebuah lembaga keuangan bila tidak dibekali pengetahuan pembukuan dan akuntansi yang baik.

Sebisa mungkin, Sitepu selalu berpikir jauh ke masa depan. Tidak mau terjebak dalam penyelewengan jabatan selama menjalani karier. Ia tidak ingin anak-anak dan keluarga besarnya menanggung malu akibat ulah yang tidak terpuji. Selain itu, ia sendiri juga tidak ingin didera kepedihan lahir batin pada usia senja yang seharusnya menikmati masa pensiun dengan tenang, damai dan tenteram.

“Sering saya katakan kepada anak-anak dan pegawai saya, mari kita berpikir jangka panjang, jangan sempit dan pendek. Lihatlah, banyak pejabat sekarang pada masa tuanya harus diseret ke pengadilan dan dipenjarakan karena korupsi dan meyeleweng pada masa jabatannya. Kalau saya, saya ingin masa tua yang tenang dan tenteram,” tegasnya. Oleh karena itu, ia tidak mau menanam bom waktu dengan korupsi dan menyelewengkan uang. “Itu berpikir terlalu pendek dan bodoh. Demi uang kita korbankan harga diri dan kedamaian batin, sangat tidak setara,” imbuhnya.

Siap Mundur

Sitepu mempunyai motivasi sangat tinggi untuk menjadikan BPR Solider sebagai BPR yang sehat dan maju. Sebagai seorang pemilik saham, ia memiliki kepentingan agar BPR berjalan dengan baik dan maju, sehingga memberikan keuntungan kepadanya. Di sisi lain, ia juga merasa telah berbuat “sesuatu” bagi masyarakat dan bangsa Indonesia yang dicintainya.

“Melalui usaha ini, saya ikut membangun ekonomi masyarakat dengan fasilitas jasa keuangan perbankan. Suatu kebanggaan bagi saya di antara teman-teman, sekarang dan di masa depan, walaupun kelak tidak lagi menjadi direksi, bahwa saya ikut memiliki sebuah bank. Ini merupakan kesempatan yang masih langka di tengah-tengah masyarakat. Maka saya mau BPR ini tetap tegak dan berkembang, karena ini suatu usaha yang terhormat,” tuturnya.

Sebagai pimpinan BPR, Sitepu sangat bersyukur terhadap perhatian besar pemerintah, dalam hal ini Bank Indonesia. Tanpa memungut biaya sepeserpun BI melakukan pengawasan terhadap BPR supaya tidak terjadi praktek-praktek perbankan yang tidak sehat. Adanya pengawasan dari pemerintah tersebut, membuat dirinya –baik sebagai Direktur Utama maupun sebagai seorang pemilik saham BPR Solider- merasa “nyaman” dalam melaksanakan pekerjaannya.

Sitepu mengakui banyak menemukan kendala dalam menjalankan perusahaan. Tantangan terbesar adalah menjaga tetap terjadi kesatupaduan visi antara para pemegang saham yang saat ini berjumlah 11 orang. Ia yakin asalkan terpelihara, semua itu menjadi modal dasar yang sangat kuat untuk pengembangan perusahaan ke depan. Apalagi dengan tetap berpegang teguh pada visi awal untuk tidak berebut menempatkan “orang-orang awak” dalam jajaran manajerial.

Menurut Sitepu, di perusahaan manapun perilaku KKN seperti itu umumnya bersifat merusak. Hal tersebut akan diperparah apabila di antara pemegang saham yang out of job mulai berebut menjadi komisaris dan merasa dirinya yang paling pantas untuk itu. Ke depan, ia memiliki obsesi agar penggantinya nanti adalah seorang profesional handal yang akan membawa BPR Solider semakin maju dan terdepan.
“Sempat ada pengganti saya seperti tadi, yang didudukkan secara paksa oleh pendukungnya yang kebetulan kuat sahamnya, padahal pada dasarnya dia itu “out of order”, wah berabe-lah”, katanya.

Pemimpin yang baik itu harus mempunyai ‘sense of crisis’. “Nggak perlu bercokol terus. Asal sudah ada penerus-penerus yang professional yang telah siap menjalankan, kita harus siap mundur. Saya sudah menjabat sebagai direksi sejak tahun 2003 dan usia sekarang sudah 57 tahun. Kalau pengganti sudah siap, saya pun siap mundur atau dimundurkan,” tandasnya.

Sebagai seorang pengusaha, Sitepu merasa telah ikut membantu pemerintah. Setidaknya, ia telah turut berupaya mewujudkan good corporate governance di lingkungan pekerjaannya. Ia telah mencoba mewujudkan prinsip-prinsip hidup yang baik, dan prinsip-prinsip bekerja yang baik. Tanpa harus menggembar-gemborkan apa yang dilakukannya, ia terus berkarya.

“Jangan sampai dalam diri kita sendiri keropos dan amburadul. Itu semua hanya menuju kemunafikan kalau kita sendiri tidak lebih dulu menerapkan di lingkungan kita sendiri. Jadi bila di lingkungan kerja kita kita menerapkan prinsip-prinsip kerja yang baik, clean and good corporate governance itu, saya kira kita sudah menyumbang sesuatu yang sangat berharga bagi negeri ini,” ujar pria yang menguasai bahasa Inggris, bahasa Karo, bahasa Toba, dan bahasa Indonesia secara aktif ini. Sementara bahasa Belanda dan bahasa Latin mampu dipahaminya secara pasif.

Berdiri untuk Melayani

Pendirian PT BPR Solider, menurut Sitepu, berawal dari pemikiran seorang tokoh pemimpin Gereja Katolik, P. Fidelis Sihotang OFMCap (alm). Pemikirannya adalah apapun yang dimiliki harus digunakan dan diberdayakan agar berguna untuk orang lain. Beberapa orang yang menurut dia mempunyai uang didekati untuk mensosialisasikan pemikirannya.

“Kata beliau, uang itu kalau kita satukan bisa membuka BPR. Uang kita itu tidak hilang atau habis, bahkan kita akan mendapat imbalan dari hasil usaha itu, sedangkan masyarakat juga ikut menikmati jasanya. Semakin baik dikelola imbalannya semakin besar, dan begitu juga dengan jasanya untuk dinikmati masyarakat. Jadi kena dua kali sekaligus.  Begitu kira-kira pemikiran almarhum P. Fidelis Sihotang, yang memiliki motivasi kental untuk melayani masyarakat dengan dana yang kita punya,” katanya.

Para pendiri PT BPR Solider memiliki visi mewujudkan impian untuk menjadi BPR yang ikut membangun ekonomi masyarakat secara  maksimal. Sedangkan misi yang diusung ialah keberpihakan pada pengusaha kecil dan menengah melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan pendampingan/pembinaan usaha baik perorangan maupun kelompok usaha.

Menurut Sitepu, pemilihan nama “Solider” bukan kebetulan semata, tetapi sangat terkait dengan visi dan misi perusahaan. Dengan motto “Tumbuh dan Berkembang bersama Anda dengan semangat kemitraan”, BPR Solider sadar bahwa tidak akan bisa berkembang sendirian tanpa perkembangan masyarakat sendiri.

“Dengan masyarakat bisa menikmati jasa BPR, barulah BPR akan memperoleh sesuatu. Semakin besar pelayanan BPR kepada masyarakat, semakin besar perkembangan BPR itu sendiri. Langkah yang akan kami lakukan ke depan adalah meningkatkan profesionalisme dan semangat pelayanan. Kalau itu sudah membudaya di antara staf dan seluruh jajaran marketing, BPR Solider akan maju,” tegas Sitepu yang pada tahun 1998 sempat mengikuti rombongan Menteri Agama dr. Tarmizi Tahir ke Washington, AS itu.

Tidak Ingin Menyusahkan Anak

Sebagai orang tua dengan tiga anak, Sitepu mencoba mempersiapkan dengan matang masa depan mereka. Ketiga anaknya diupayakan mendapat pendidikan yang memadai sebagai bekal hidup dan kemandiriannya bagi masa depan. Ia tidak ingin, mereka hidup susah sehingga tidak mampu berbuat baik ataupun membalas budi. Ketakutan lebih besar darinya adalah apabila anak tidak dibekali ilmu pengetahuan yang cukup, hidupnya susah sehingga cenderung berperilaku koruptif.

“Anak tertua kami Sarjana Teknik Industri, sekarang bekerja di satu perusahaan swasta yang bonafide. Anak kedua, perempuan tamat bidan dan bekerja sebagai PNS di satu puskesmas. Anak ketiga, masih kuliah di sebuah perguruan tinggi di Bandung. Di sisi lain kami sendiri membuat persiapan, supaya nanti tidak perlu menyusahkan dan mengganggu anak-anak. Kalau sudah begitu, rumit itu,” kata peraih gelar Sarjana Pendidikan melalui program penyetaraan di STKIP (Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Widya Yuwana Madiun tahun 2003 tersebut.

Sitepu tidak ingin, pada usia tuanya nanti anak-anak harus menanggung biaya hidup orangtua karena orangtua tidak memiliki bekal sendiri. Untuk itu, ia telah mempersiapkan diri dengan baik. Sadar mengandalkan gaji saja tidak cukup, ia berjuang keras dengan usaha-usaha keluarga yang lain, seperti berladang serta usaha-usaha lainnya. “Saya terbantu karena istri juga seorang bidan PNS bekerja di Puskesmas,” ungkapnya.

Melihat perkembangan anak-anaknya, begitu juga pandangan dan pengamatan Sitepu terhadap generasi muda Indonesia, sebagai orang tua, berpendapat sudah seharusnya untuk mempercayakan keberlangsungan bangsa di tangan mereka. Karena bagaimana pun, hal itu akan terjadi secara alami terkait faktor usia yang tidak dapat ditolak.

“Kita harus percaya bahwa mereka mampu. Akan muncul pribadi-pribadi tangguh yang mempunyai kesadaran yang tinggi dan punya jangkauan pemikiran jauh ke depan dan tidak puas dengan kesenangan sesaat. Pasti suatu saat akan muncul generasi muda seperti itu,” tegasnya.

Optimisme Sitepu tidak hanya terhadap generasi muda. Pendapatnya kurang lebih sama mengenai kondisi Indonesia di masa mendatang. Dengan berlandaskan pada sikap optimis, ia yakin ke depan Indonesia akan semakin baik. Dasar pemikiran yang melandasi keyakinannya adalah hakekat manusia yang mempunyai dua kecenderungan hakiki dalam diri masing-masing, kebaikan atau kejahatan, bersifat sosial atau egoisme.

Dalam pandangan Sitepu, kecenderungan baik akan menang atas kecenderungan buruk seiring dengan semakin tingginya kesadaran manusia. Kondisi tersebut semakin nyata dan berkembang dengan melihat kemajuan bangsa-bangsa lain, yang dengan sendirinya semakin meningkatkan pendidikan dan wawasan.

“Lihatlah sekarang sudah muncul banyak gerakan-gerakan perbaikan. Nanti partai-partai atau pemimpin yang hanya membohongi rakyat tidak akan laku lagi. Semakin lama rakyat semakin pandai, semakin kritis, dan semakin sadar juga. Dalam hal itu saya sangat optimis walau mungkin masih lama waktunya. Mengenai prioritas untuk mencapainya, maka tegas saya katakan, pendidikan, dengan porsi yang signifikan untuk pendidikan nilai-nilai,” kata Sitepu menegaskan.

Ir. Russel Tambunan, MBA

No Comments

Ir. Russel Tambunan, MBA
PT Agrifish Consultama Investment

Membina dan Mencetak Pengusaha Mandiri

Setiap pengusaha selalu berharap keuntungan besar dari usaha yang dijalaninya. Berbagai cara digunakan untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya bagi perusahaan. Kadang, pengusaha bahkan melakukan kegiatan yang digolongkan sebagai pelanggaran hukum demi mewujudkan cita-citanya.

Namun, di antara pengusaha yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, masih ada pengusaha berhati mulia. Pengusaha seperti ini tidak hanya memikirkan kepentingan sendiri tetapi juga kesejahteraan bagi orang lain. Salah satunya, Ir. Russel Tambunan, MBA yang berusaha sekuat tenaga mengangkat kehidupan orang-orang di sekitarnya. Dalam salah satu perusahaan net-work marketing yang didirikannya, Ia memiliki 20 ribu orang  marketer yang diharapkan mampu menjadi pengusaha mandiri.

“Menjadi tanggung jawab saya lah untuk membina mereka”. Kepada mereka saya sering mengatakan bahwa untuk menjadi pengusaha mandiri, harus penuh semangat, disiplin, ulet, fokus dan tidak boleh cengeng. Bersama-sama kita mencoba menjadi orang yang benar-benar mandiri, berkembang dan maju. Saat ini saya fokus terhadap pembinaan mereka ini sehingga nantinya mampu membuka usaha baru mandiri,” kata Presiden Direktur PT Agrifish Consultama Investment ini.

Keinginan dan cita-citanya untuk mencetak entrepreneur di Indonesia terinspirasi oleh konglomerat yang melakukan hal serupa. Ia mencontohkan bagaimana Ciputra, Surya Paloh, Sampurna, Lippo atau Abu Rizal Bakrie dengan dana dan kesempatan  yang dimiliki, sebagian diperuntukkan untuk  mengkader dan mencetak pengusaha baru. Terciptanya pengusaha atau entrepreneur baru akan sangat memudahkan membangun Indonesia dan mensejahterakan bangsa.

Apalagi, jumlah pengusaha di Indonesia masih sangat kecil dan hanya mencapai dua persen dari jumlah penduduk. Idealnya, agar tercipta kesejahteraan yang merata di segala lapisan masyarakat, jumlah pengusaha minimal tujuh persen dari total jumlah penduduk. Kondisi ini jauh berbeda dari Singapura, Jepang dan negara-negara maju lainnya. Ia berharap, lebih banyak lagi pengusaha baru yang lahir sehingga tercipta kesejahteraan yang diinginkan seluruh lapisan masyarakat.

“Proses pengkaderan harus terus terjadi, sehingga banyak pengusaha baru dan mandiri di seluruh Indonesia”. Dalam membangun Indonesia kita harus memiliki banyak pengusaha sehingga tidak kalah dari negara lain. Yang penting, semua harus bergerak bersama-sama dengan semangat saling percaya dilandasi niat baik. Tetapi niat baik saja tanpa pengetahuan dan keterampilan menjadi mubazir, tidak sampai pada tujuan. Saya berharap, mudah-mudahan di sisa hidup saya, banyak orang terbantu dan menjadi pengusaha-pengusaha muda sehingga saya bisa “merasa puas dan merasa berguna” diakhir karir saya, ungkapnya.

Pria kelahiran Tarutung, 10 Desember 1955 ini mengungkapkan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada konglomerat yang berperan terhadap kepentingan orang banyak. Apalagi mereka yang mendedikasikan diri bergerak di bidang pendidikan yang merupakan salah satu titik lemah bangsa kita. Sesuatu yang juga dilakukan oleh konglomerat dunia seperti Bill Gates yang telah memberikan begitu banyak dari keuntungan bisnisnya untuk kesejahteraan, kesehatan dan pendidikan bagi penduduk miskin dan terlantar di seluruh dunia. “Saya mungkin tidak bisa mencapai seperti itu tetapi saya berusaha agar apa yang saya lakukan memiliki arti bagi orang banyak,” imbuhnya.

Memperbaiki Diri

Ir. Russel Tambunan, MBA menyelesaikan pendidikan SD-SMP di Sumatera Utara. Sedangkan pendidikan SMA di Tanjung Pinang, Riau. Selepas SMA, ia kemudian melanjutkan pendidikan di  Sekolah Tinggi  Perikanan (STP) Jakarta.

“Saya lulus tahun 1979 dan langsung bekerja di perusahaan ekspor impor makanan, PT Semarang Cold Storage & Industri, Semarang selama lima tahun. Dari situ saya kemudian kembali ke Jakarta dan bekerja di Djayanti Group – Devisi Perikanan. Karier saya di sini cukup lama hingga mencapai posisi Direktur Utama disalah satu anak perusahaan selama enam tahun. Sebelumnya selama tujuh tahun saya menjabat sebagai Direktur,” ungkapnya.

Tidak hanya dalam karier Russel menonjol. Ia terus berusaha untuk meningkatkan pendidikan dan pengetahuan yang dimilikinya. Tahun 1985, ia kembali ke kampus untuk mengambil Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan di Fakultas Perikanan Unibraw, Malang. Dalam tempo dua tahun, ia berhasil meraih gelar Insinyur. Tidak puas sampai di situ, ia mengejar gelar MBA di Monash University – Melbourne, Australia yang berhasil diselesaikannya pada tahun 1999.

Dengan kemampuan luar biasa yang dimilikinya, Russel kemudian mendirikan perusahaan sendiri. Sambil terus berkarier sebagai profesional di Djayanti Group, diam-diam ia mendirikan perusahaan sendiri pada tahun 1994. Perusahaan pertama yang didirikannya adalah PT Agrifish Consultama Investment yang bergerak dibidang konsultan manajemen dan investasi. Setahun kemudian, ia mendirikan satu perusahaan lagi yang bergerak di bidang perikanan.

Tangan dinginnya dalam menangani perusahaan membuahkan hasil yang cukup gemilang. Perkembangan perusahaan mengalami kemajuan pesat sehingga tahun 2005, ia mendirikan perusahaan pelayaran. Tidak berhenti di situ, ia kemudian mendirikan PT Bangun Mandiri Wisesa tahun 2008 yang bergerak dibidang perdagangan dan impor – ekspor. Satu tahun kemudian, ia mendirikan PT Tama Sarana Development yang bergerak di bidang jasa konstruksi dan penyewaan alat-alat berat. Perusahaan terakhirnya, yang sekarang sedang dikembangkannya adalah perusahaan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Perusahaan ini sangat disenanginya karena banyak berhubungan dengan masyarakat dari golongan bawah yang kemungkinan bisa dikader menjadi pengusaha baru kecil dan menengah sebelun nantinya menjadi pengusaha besar.

“Sebagai pengusaha, saya juga tidak luput menghadapi kendala yang harus diatasi. Salah satunya adalah masalah kelesuan ekonomi yang kadang susah untuk diprediksi, masalah lain juga birokrasi yang menurut saya harus terus ditingkatkan khususnya masalah simplifikasi aturan dan kecepatan sehingga dengan aturan yang simple dan cepat dengan sendirinya menghasilkan efisiensi dan dapat bersaing dengan perusahaan lainnya khususnya perusahaan di luar negeri.  Pemerintah kita bisa saja belajar dari pemerintah Negara maju lainnya agar bisa semakin baik, cepat dan kalau bisa lebih baik dari Negara pesaing kita.  Makanya baik kita sebagai pengusaha maupun pemerintah kita harus terus belajar dan memperbaiki diri,” ujarnya.

Menurut Russel, dalam memperbaiki diri harus introspeksi dengan tanpa mencari-cari kesalahan orang atau pihak lain. Untuk membangun Indonesia semua pihak harus saling membantu satu sama lain. Apalagi karena sama-sama bertujuan untuk kesejahteraan bangsa sehingga tidak ada gunanya untuk saling menyalahkan. Di sisi lain, ia juga berharap agar pemerintah terus mengadakan penelitian mendalam sehingga dalam mengambil keputusan pemerintah menggunakan data tepat dan terbaru. Pemerintah harus terus menerus menerjunkan tim untuk melihat kondisi sebenarnya di lapangan. Dengan demikian “Peraturan yang dikeluarkan pemerintah tepat sasaran dan langsung mendukung kegiatan pengembangan para pengusaha”. Karena kalau peraturan dibuat kebanyakan berdasarkan teori pengetahuan dan perasaan birokrat saja dan pembuatannya juga terlalu lama,  sehingga begitu keluar selain tidak kena sasaran sudah terlambat dari dinamika kemajuan dilapangan dan akhirnya menjadi kontra produktif.

Kendala lain secara internal dari sisi pengusaha kadang ada miss planning karena sebagai pengusaha saya kadang terlalu menggebu-gebu. Tetapi bagi saya semua itu adalah pelajaran untuk terus memperbaiki diri, karena seorang pengusaha harus terus maju, tidak boleh menyerah dan harus tetap tenang dengan prediksi yang bagus dalam mengambil keputusan,” tambahnya.

Ke depan, Russel berharap agar perusahaan miliknya semakin maju dan berkembang. Bahkan, kalau mungkin berkembang menjadi perusahaan terbaik dan terbesar dibidangnya, dan kalau sempat menjadi perusahaan konglomerat baik local maupun internasional. Setidaknya, ia telah menyampaikan kepada anak-anaknya akan impiannya tersebut. Menjadi tugas anak-anaknya untuk meneruskan dan mewujudkan cita-citanya tersebut.

Saya memiliki 2 anak dari istri saya Ritha Frida SH. Anak saya yang pertama Allen Lawrence Tambunan sekarang masih mahasiswa di Fakultas Teknik Industri, di Swiss German Univercity. Sedangkan anak kedua saya masih kecil, Athina Theresia Tambunan, sekolah di St Pieter International School. Selagi masih muda, saya berharap agar mereka mendengarkan saya untuk meneruskan perusahaan ini. Saya memberikan gambaran tentang kondisi dan ke depannya bagaimana, sehingga langkah mereka semakin mudah dan fokus,” tegasnya.

Belajar dari China

Sebagai pemilik beberapa perusahaan sekaligus, Ir. Russel Tambunan, MBA berpendapat bahwa dunia usaha sekarang tidak bisa terlepas dari pasar bebas dan globalisasi. Pengaruhnya terhadap seluruh sendi kehidupan sangat terasa sehingga diperlukan kearifan dan kejelian dalam menyikapinya. Untuk menyiasatinya, ia menyarankan agar belajar dari negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi yang muncul belakangan.

“Kita tidak perlu malu belajar dari perusahaan-perusahaan yang sudah berprestasi dan maju”. Contohnya kita tidak perlu malu belajar dari China, bagaimana mereka mampu memproduksi barang yang menguasai dunia. Sewaktu saya tour ke Eropa dan Amerika, banyak sekali barang kebutuhan rumah tangga, barang fashion dan souvenir adalah buatan China. Oleh karena itu, kita mesti belajar dari China. Selain dari pada China saya juga melihat kemajuan luar biasa dari India. Untuk itu juga kita perlu belajar dari sana, karena memiliki karakter yang serupa. Negara yang berpenduduk banyak tetapi menghasilkan produk bermutu sekaligus murah,” tuturnya.

Menurut Russel, produk China saat ini sudah membanjiri seluruh negara di dunia termasuk Eropa dan Amerika Serikat. Dengan situasi serupa, India juga telah berubah menjadi kekuatan ekonomi baru menggeser negara produsen yang lain. Karena alasan itulah, ia menyarankan agar Indonesia lebih baik mencontoh kedua negara tersebut dibandingkan Negara Eropa atau Amerika karena bisa lebih cepat dan lebih sesuai dengan karakteristik Indonesia yang berpenduduk banyak.

Hanya pada masalah pendidikan, Russel menyarankan untuk tetap mengacu pada sistem pendidikan Amerika atau Eropa. Kualitas pendidikan di wilayah tersebut masih tetap jauh lebih bermutu dibandingkan di negara-negara Asia. Untuk itu, pemerintah harus berani mengirimkan sebanyak-banyaknya anak-anak bangsa yang pandai untuk menyerap ilmu dari luar negeri. Pemerintah harus mau dan berusaha menyediakan dana besar untuk keperluan ini karena pada akhirnya juga untuk kepentingan dan kemajuan bangsa.

“Intinya pendidikan adalah hal yang penting dan urgen” Karena untuk meningkatkan kualitas manusia di suatu negara, pendidikan adalah hal yang paling utama dan sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, pendidikan harus diutamakan, ditingkatkan dan membuka diri untuk pendidikan dari luar negeri. Dengan pendidikan dan pengalaman banyak di luar negeri, manusia Indonesia akan mempunyai pengetahuan dan komparasi yang banyak sehingga bisa memilih yang terbaik,” tandasnya. Beliau memberikan contoh suatu negara yang cukup maju akhir-akhir ini yaitu Malaysia. Malaysia banyak memiliki putra putri yang berpendidikan tinggi di luar negeri. Anak muda Malaisya banyak sekolah di Inggris karena sangat didukung oleh pemerintahnya sekaligus didukung oleh pemerintah Inggris yang merasa ikut betanggung jawab atas kemajuan Negara bekas jajahannya.

Pengusaha yang tertarik untuk terjun ke dunia politik ini, menganjurkan perbaikan pendidikan secara terus memerus dan utama. Pendidikan juga harus memperhatikan pendidikan entrepreneur. Sudah seharusnya pendidikan entrepreneur digalakkan pada setiap tingkatan pendidikan. Ia mengingatkan, secara statistik, entrepreneur di Indonesia baru mencapai 2 persen sementara Singapura sudah 7 persen dari jumlah penduduk.

Tidak diragukan lagi, lanjutnya, dalam membangun sebuah negara semua warga negara harus memiliki pengetahuan yang memadai. Oleh karena itu, ia sangat setuju dengan alokasi dana sebesar 20 persen dari APBN untuk pendidikan. Karena memang, kebutuhan untuk memajukan pendidikan sangat mendesak dilakukan. Diharapkan, ketika semua warga negara terdiri dari orang-orang pintar, maka sangat mudah dalam mengatur dan membangun negara.

“Pendidikan memang memerlukan biaya apalagi untuk bangsa yang besar ini”. Oleh karena itu, salah satu solusinya adalah dengan menciptakan sebanyak mungkin entrepreneur baru. Saya berharap, pengusaha sukses bisa menciptakan pengusaha-pengusaha baru sebanyak-banyaknya. Dan, selagi ada waktu saya akan terus menerus berusaha untuk menciptakan sebanyak mungkin pengusaha baru yang mandiri dan yang lebih hebat dari saya. Semua saya lakukan untuk kepentingan bersama, membangun bersama dan sukses bersama. Itulah yang akan saya lakukan, mentransfer pengetahuan dalam membangun manusia Indonesia, bangsa dan negara,” kata Ir. Russel Tambunan, MBA.

Motto perusahaan saya adalah: “ Solid – Growth and Worth”, sementara motto pribadinya adalah “ Do My Best, beyond is God Will”

Ir. Purnomo Hariprianto

No Comments

Ir. Purnomo Hariprianto
Direktur PT Citra Gemilang Apik

Memberikan Solusi Terbaik Dengan Harga Kompetitif

Memasuki pasar bebas 2010, persaingan di dunia usaha semakin keras. Antar perusahaan saling bersaing satu sama lain untuk bertahan hidup. Kondisi tersebut memaksa perusahaan untuk memeras otak mencari jalan keluar agar tetap survive. Hanya perusahaan penuh inovasi yang mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan.

Apalagi pasar bebas juga memberikan kebebasan kepada setiap perusahaan untuk beroperasi di belahan dunia manapun. Globalisasi telah menyatukan dunia sekaligus menjadikannya sebagai pasar antar negara dari produk yang dihasilkan suatu negara. Untuk memenangkan persaingan yang berada pada taraf tertinggi, memerlukan siasat yang tepat dan jitu.

“Namanya juga bisnis, persaingan pasti ada. Namun orang pasti akan melihat kompetensi perusahaan tersebut. Nah, kita sendiri harus paham apa yang dibutuhkan customer dan memberikan solusi yang terbaik dengan biaya yang wajar. Itu solusi yang kami berikan,” kata Ir. Purnomo Hariprianto, Direktur PT Citra Gemilang Apik.

Pelajaran berharga yang diperoleh Purnomo –panggilan akrabnya- dari bekerja bersama expert asing, membuat ia mampu memberikan pilihan terbaik bagi customer di tanah air. Pengetahuan terhadap behavior, attitude, adat istiadat dan karakter masyarakat Indonesia sangat beragam. Antara satu daerah dengan daerah lainnya memberikan pendekatan yang berbeda.

Penguasaan atas keberagaman masyarakat Indonesia inilah yang menjadi pegangan untuk memenangkan persaingan dengan perusahaan dari luar negeri. Karena mereka kurang tahu akan karakter masyarakat kita, sehingga ada yang kurang pas pada saat pengoperasian.

Kontraktor asing datang dengan spesifikasi untuk pola operasi yang seusai dengan karakter masyrakat di negara asalnya. Di negara kita karakter masyarakatnya berbeda, hal ini kita masukkan dalam input desain. Sehingga hasil pekerjaan kita disamping mempunyai keandalan, juga membuat operator mudah memahami dan nyaman dalam bekerja.

Secara definisi, Purnomo menjelaskan adanya masyarakat agraris, industri dan informasi. Masyarakat agraris adalah masyarakat tradisional yang menggantungkan hidup secara alamiah (nature). Masyarakat industri adalah masyarakat yang sudah bisa mengelola potensi di sekelilingnya untuk kepentingan ekonomis. Sedangkan masyarakat informasi menggunakan teknologi informasi di manapun berada. “Masalahnya ketiga golongan masyarakat ini muncul bersamaan di Indonesia. Itu yang harus kita pahami,” tegasnya.

Menurut Purnomo kondisi seperti itulah yang menjadi dasar keyakinannya bahwa perusahaannya serta perusahaan lokal Indonesia mampu bersaing menyambut pasar. Apalagi pasar bebas juga memberikan nilai yang sama terhadap harga total material atau komponen. Artinya, yang membedakan antara satu produk dengan produk yang lainnya terletak pada perusahaan yang memberikan nilai tambah dan keunggulan pada produknya. “Kalau harga hardware komputer di seluruh dunia sama, yang membedakan adalah software yang ditanam di dalamnya,” tandasnya.

Murni Bangsa Indonesia

Ir. Purnomo Hariprianto adalah lulusan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang tahun 1988. Sulung dari lima bersaudara pasangan Suwarno dan Sundari ini setelah kuliah bekerja di PT Bisma Indra di Surabaya. Perusahaan rekayasa rancang bangun dan manufacture  tersebut memberikan dasar profesionalitas yang baik bagi kariernya di kemudian hari.

“Di situ, saya pertama kali bekerja langsung bertemu expert dari negara lain. Karakter bekerja terbentuk di situ, seperti bagaimana bekerja, mempersiapkan dokumen, satu hasil karya dalam menghasilkan pekerjaan yang benar, mudah di-maintenance dan lain-lain. Pokoknya kami dapat ilmu dari expert-expert tersebut,” ungkapnya.

Dari Surabaya, Purnomo kemudian bergabung dengan PT LEN Industri di Bandung. Kali ini, ia bekerja pada tim dalam bidang sistem persinyalan dan traksi. Setelah 12 tahun bekerja di perusahaan ini, ia diajak rekannya untuk mendirikan perusahaan dengan fokus pada system integrator di bidang DC traction substation untuk sistem perkeretaapian.

Purnomo menjelaskan bahwa DC traction substation sudah ada sejak zaman Belanda. Secara prinsip antara substation zaman dahulu dengan sekarang masih sama. Hanya saja, dengan kemajuan teknologi seperti sekarang ini perusahaan mengeluarkan suatu model substation yang baru, mudah dirawat dan bersifat smart.

“Artinya alat itu bisa memberitahu keadaan dirinya sendiri. Bagaimana kondisinya apakah rusak, terjadi masalah di mana, dia bisa melaporkan dengan detail. Semua engineering dan integrasi alat ini murni tenaga asli Indonesia sendiri. Meskipun memang pada saat ini  kita membeli barang dari luar, karena keterbatasan peralatan dan perlengkapan yang secara ekonomis lebih menguntungkan membeli. Karena kalau kita produksi di sini, memerlukan investasi yang sangat mahal, sementara pekerjaan yang kami kerjakan belum besar,” ujarnya.

Menurut Purnomo, komponen yang khusus adalah High Speed Ciruit Breaker, HSCB. Komponen ini memiliki sifat yang sangat khusus, yakni dapat memutus arus dengan sangat cepat apabila terjadi gangguan. Partner perusahaan kami adalah Secheron, Swiss, yang memiliki pabrik di Ceko. Secheron sudah seratus tahun lebih mengembangkan teknologi ini, sejak 1879. Artinya, perusahaan tersebut telah membuat komponen yang sejenis sejak lebih dari satu abad.

“Makanya kita putuskan untuk membeli dari mereka dan sekaligus kami menjadi distributor di Indonesia. Untuk itu, kami diberi otoritas begitu barang sampai di sini bisa di re-engineering dan digabungkan dengan unit apapun sesuai dengan desain kita. Makanya total substation yang kami kerjakan di Jakarta merupakan desain dari kita,” tutur suami Erna Sri Sugesti, seorang dosen di Intitut Teknologi Telkom Bandung ini.

Purnomo mengakui, ia bertanggung jawab terhadap electrical engineering secara keseluruhan dari substation produk perusahaan. Meskipun untuk bagian yang lain perusahaan menggandeng kerjasama dengan perusahaan lain di Indonesia. Kerjasama ini telah menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan dengan kualitas yang unggul karena setiap perusahaan bekerja sesuai dengan kompetensi masing-masing.

Menurut Purnomo, kerjasama seperti inilah yang membuat produk-produk dari China dibanderol dengan harga murah. Orang-orang di negeri tirai bambu tersebut bekerja sesuai dengan keahlian dan kompetensi masing-masing. Perusahaan besar tinggal memesan dan menggabungkan hasil kerja perusahaan lain untuk keperluan produksinya. Teknik ini berguna untuk menyiasati tingginya biaya investasi apabila semua dikerjakan sendiri dari hulu ke hilir.

“Biarkan masing-masing bekerja sesuai dengan kompetensinya. Kami juga seperti itu, menggabungkan perusahaan lain sesuai dengan keahlian masing-masing. Jadi kita sudah punya jaringan yang siap membantu pekerjaan kita dan kami sangat mengutamakan pembentukan partnership ini. Karena kami juga ingin, kalau perusahaan ini tumbuh mereka juga tumbuh bersama kami,” tuturnya.

Dukungan Pemerintah Besar

Ir. Purnomo Hariprianto menjelaskan bahwa saat ini terjalin kerjasama harmonis antara perusahaan dengan pemerintah Indonesia. Di mana pemerintah melalui Departemen Perhubungan adalah sedang giat mengembangkan perkerataapian di Indonesia. Untuk saat ini, peralatan produksi perusahaan diperuntukkan bagi sistem kereta rel listrik (KRL) sehingga hanya untuk wilayah Jabodetabek saja.

“Tetapi tidak menutup kemungkinan pemerintah mengembangkan KRL ke Bandung, Surabaya, Medan dan lain-lain. Karena saat ini moda angkutan kereta api tetap yang paling murah, massal ribuan orang terangkut secara serentak, hemat, tidak polusi dan tidak macet,” ujarnya.

Kerjasama yang terjalin antara perusahaan dengan pemerintah, menurut Purnomo, saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Bahkan kalau ditelusuri lebih jauh bisa menguntungkan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Karena pemerintah membutuhkan kontraktor untuk membangun infrastruktur, sementara perusahaan menawarkan jasanya untuk kelangsungan usaha. Dengan memberikan proyek kepada perusahaan Indonesia, artinya dana yang dikeluarkan pemerintah untuk membangun infrastruktur akan kembali ke masyarakat.

“Tidak hanya infrastruktur yang dimanfaatkan, bahkan dana yang dikeluarkan untuk membangunnya pun kembali ke orang Indonesia sendiri. Jadi tidak dibawa keluar negeri karena dikerjakan oleh kontraktor asing, karena SDM kita pun sudah mampu. Itu merupakan bentuk dukungan pemerintah yang cukup bagus bagi kami yang diberi kesempatan untuk maju dengan diberi pekerjaan. Tetapi semua tetap dalam koridor yang benar, artinya kami juga ikut tender segala,” tuturnya.

Perusahaan dalam group PT Citra Gemilang Apik, lanjut Purnomo, juga menjalin kerjasama dengan PT INKA yang merupakan integrator kereta api di Indonesia. Sementara kompetensi perusahaan di bidang electrical untuk membangun jaringan catenary dan substation. “Jadi ketika PT INKA membutuhkan kontraktor yang sesuai dengan kompetensi kami, mereka menghubungi kami. Begitu,” katanya mengenai kerjasama dengan perusahaan yang berpusat di Madiun tersebut.

Meskipun menghadapi pasar bebas, Purnomo tetap optimis dan berharap generasi muda mengikuti jejaknya. Ia mengimbau agar mereka memiliki kompetensi tertentu yang bisa dijadikan tumpuan menyongsong masa depan. Mereka juga tidak boleh egois dengan mengerjakan semua hal secara sendirian tanpa mengikut setakan orang lain. Karena untuk sukses, generasi muda muda harus menjalin jaringan/network seluas-luasnya.

“Kompetensi dan network adalah kunci sukses. Kalau modal dana, asalkan memiliki network pasti akan ada yang membantu. Karena itu dibutuhkan keberanian untuk memulainya. Jangan bingung dan berpikir bagaimana mendapatkan modal atau capital. Yang jelas, modal sudah kita bawa ke mana-mana. Yaa.. keahlian itu adalah kapital kita untuk maju dan sukses. Jangan disia-siakan,” ujar pria yang bercita-cita menjadi insinyur ini memotivasi generasi muda. “Kalau menjadi pengusaha dan profesional hanyalah jalan untuk mencari nafkah saja,” imbuhnya menutup pembicaraan.