Tag: hanya

Nyoman Wana Putra, BA

No Comments

Nyoman Wana Putra, BA
Presiden Direktur PT Taman Sari Wisata Bahari

Perintis Pengembangan Wisata Bahari di Bali

Bali dikenal sebagai tujuan wisata dunia sejak zaman dahulu kala. Keindahan panorama alam dan budaya Bali yang sangat eksotis menjadi daya tarik tersendiri. Tidak heran, di luar negeri Bali bahkan lebih terkenal dari pada Indonesia.

Eksotisme alam dan budaya Bali membuat provinsi ini dijuluki sebagai Pulau Dewata. Setiap daerah di wilayah ini menjadi sangat menarik bagi wisatawan, sehingga “apapun” yang berada di pulau ini bisa “dijual” sebagai daerah tujuan wisata. Tinggal bagaimana pengusaha dan pengelola suatu wilayah mengemasnya menjadi daerah tujuan wisata yang memikat.

“Akhir tahun 1970-an di wilayah Sanur mulai terlihat potensi dan kondisi perekonomian masyarakat semakin membaik. Penggeraknya adalah pembangunan hotel di kawasan PTDC, Nusa Dua. Dengan ekonomi Indonesia yang mulai membaik, Bali dikedepankan sebagai penyangga pariwisata dunia. Melihat peluang tersebut, saya kemudian merintis desa wisata yang memiliki potensi wisata bahari dengan kekayaan terumbu karang dan lautnya,” kata Nyoman Wana Putra, BA, Presiden Direktur PT Taman Sari Wisata Bahari.

Bersama teman-temannya, ia mengembangkan sebuah resort di pulau kecil tempat penyu mendarat dan bertelur. Selain itu, layanan bagi wisatawan untuk melakukan parasailing, snorkeling, diving dan wisata laut lainnya pun disediakan. Dengan semakin majunya perkembangan wisata di wilayah tersebut, ia harus mendatangkan instruktur dari Australia.

Dari Sanur, Nyoman Wana Putra kemudian mengembangkan tujuan wisata baru di Benoa pada tahun 1985. Lulusan ASMI Denpasar ini kemudian membuka dan mengembangkan wisata bahari di wilayah dengan pasir putih dan terumbu karang yang sangat menawan tersebut. Kekayaan alam yang ditawarkan mendapat sambutan hangat dari wisatawan asal Australia, Jepang, Taiwan dan Eropa. “Kalau wisatawan domestik masih sangat jarang. Tetapi belakangan kita juga banyak menerima wisatawan dari Arab,” tuturnya.

Melihat sepak terjang Nyoman Wana Putra yang sangat gigih dalam memperjuangkan wisata, masyarakat di sekitar Benoa memilihnya sebagai Kepala Lingkungan. Dengan mendapat kepercayaan dari masyarakat tersebut, ia terus mengembangkan desa bahari untuk kemajuan pariwisata di daerahnya. Tahun 1992, ia mendirikan PT Taman Sari Wisata Bahari yang fokus pada layanan snorkeling dan restoran.

Perkembangan usaha yang dirintis bersama teman-temannya tersebut berkembang dengan pesat. Karena kesibukannya, Nyoman Wana Putra  memutuskan untuk berhenti sebagai kepala lingkungan pada tahun 2000. Tetapi tidak hanya berhenti di situ, ia berjuang memekarkan lingkungan tempat tinggalnya menjadi satu satu kelurahan baru. Usahanya mendapat dukungan luas dari masyarakat sehingga terbentuklah kelurahan Tanjung Benoa.

“Setelah itu saya bisa konsentrasi untuk menekuni bisnis wisata bahari. Meskipun tampil apa adanya, tetapi masyarakat memilih saya sebagai Wakil Pendesa Adat. Pendesa Adat adalah ketua adat yang sejak sebelum kemerdekaan sudah ada di Bali. Tugas Pendesa Adat memacu dan mendongkrak teman-teman pengusaha untuk terus mengembangkan wisata bahari sehingga dicintai juga oleh wisatawan domestik. Usaha itu menuai hasil sehingga turis domestik tidak merasa berlibur di Bali sebelum merasakan water spot ini,” kata pria yang terpilih sebagai Pendesa Adat sejak tahun 2006 ini.

Dalam menjalankan tugas sebagai Pendesa Adat, Nyoman Wana Putra tidak hanya memacu kemajuan wisata bahari. Ia juga mengupayakan kerukunan antar umat beragama yang berada di wilayah tugasnya. Karena tidak bisa dipungkiri, dengan semakin pesatnya kemajuan wisata yang menggerakkan perekonomian, banyak berdatangan masyarakat dari wilayah lain untuk mencari pekerjaan.

Sebagai warga Bali yang egaliter dan terbuka, Nyoman Wana Putra tidak menampik kehadiran warga pendatang. Bahkan, ia merasa sangat terbantu dengan kehadiran mereka yang bekerja di sektor informal. Tidak heran, ia dan warga Bali lainnya berharap saat Lebarang tiba para pendatang tidak menghabiskan masa liburan mudiknya dengan berlama-lama di kampung halaman masing-masing.

“Wah susah kita kalau mereka tidak ada. Karena kita di sini saling bahu membahu, saling membantu tanpa melihat latar belakang agama sehingga tidak pernah terjadi gesekan. Apalagi, sejak dahulu Tanjung Benoa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh tiga agama, Islam, Hindu dan Buddha,” tegasnya.

Pada hari-hari besar keagamaan masing-masing agama, Nyoman Wana Putra selalu mengadakan koordinasi sehingga tercipta kondisi yang kondusif. Silaturahmi antara pemeluk agama yang berbeda pun tetap terjalin sehingga semua dapat hidup berdampingan secara harmonis. “Kita saling mendoakan tanpa pelecehan. Walaupun kepercayaan berbeda-beda tetapi semua tetap yakin bahwa Tuhan adalah satu. Perasaan seperti itu sudah menjadi milik masyarakat dalam kelurahan Tanjung Benoa,” tandasnya.

Tidak heran, dengan toleransi beragama yang sangat kental seperti itu, perkawinan silang antar agama pun tidak menjadi persoalan yang rumit. Pasangan yang ingin menikah mendapat kebebasan untuk memilih dan berpindah agama sesuai keyakinan masing-masing. Masyarakat tidak pernah mempermasalahkan misalnya seorang pria Islam memperistri wanita Hindu atau sebaliknya. Begitu juga dengan perkawinan antara pemeluk agama yang lain.

“Semua berdasarkan suka sama suka dan cinta-sama cinta. Kita menyadari bahwa cinta itu turun dari Tuhan dan bukan kehendak manusia. Kalau sudah suka sama suka, kita serahkan kepada mereka mau masuk agama apa saja terserah. Itu yang saya bangun di desa adat Tanjung Benoa, bersaudara antara pemeluk Hindu, Buddha dan Islam. Tahun 1970-1976 datang orang-orang dari Flores yang beragama Kristen dan bergabung bersama kami untuk bertahan hidup sampai sekarang,” katanya.

Dukungan Pemerintah Besar

Menurut Nyoman Wana Putra, pemerintah sangat mendukung pengembangan dunia pariwisata di Bali. Apalagi Bali terbukti menjadi tujuan utama wisatawan mancanegara yang mendatangkan devisa yang besar bagi negara. Selain itu, Bali juga tetap menarik bagi kunjungan wisatawan domestik yang ingin menikmati wisata bahari.

“Pemerintah sangat mendukung, terutama pemerintah Badung dan provinsi Bali. Setiap tahun, pengusaha restoran, perhotelan dan pariwisata lainnya mengikuti promosi secara langsung di tingkat nasional maupun internasional.  Kami juga berterima kasih karena stasiun TV juga banyak menayangkan obyek wisata yang kami kelola,” ungkap Ketua DPC Gahawisri (Gabungan Pengusaha Wisata Bahari) Kabupaten Badung ini.

Bantuan pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Badung sangat dirasakan penggiat wisata bahari seperti Nyoman Wana Putra. Melalui lembaga tersebut pengusaha di bidang pariwisata mengetahui kelemahan dan kekurangan masing-masing. Terutama mengenai kekurangan dalam pelayanan yang dirasakan oleh para pengguna jasa di lapangan sehingga dapat dikoreksi untuk perbaikan. “Karena seluruh komplain dari wisatawan ditampung di dinas tersebut,” tambahnya.

Pemerintah juga sangat berperan besar dalam memulihkan kondisi pariwisata Bali pasca serangan Bom Bali I tahun 2001. Selain promosi besar-besaran, pemerintah terutama pihak keamanan mengadakan kerjasama dengan Pecalang atau petugas keamanan adat yang dimiliki setiap desa di Bali. Setelah Bom Bali II tahun 2005, sistem keamanan antara pecalang dan pihak kepolisan semakin ditingkatkan dalam mencegah dan mewaspadai terjadinya serangan teroris.

“Dari situ tercipa sebuah sistem dalam suatu taksu yaitu Taksu Bali yang disebut dengan Pengamanan Pecalang. Di mana Pecalang dilengkapi dengan perlengkapan sarana adat untuk pengamanan. Kita tidak mengadakan sweeping tetapi sidak yang terkesan lebih manusiawi. Yakni pendekatan untuk mengetahui kelengkapan data, keperluan kedatangan ke Bali dan lain-lain,” ungkapnya.

Sidak gabungan, lanjut Nyoman Wana Putra, biasanya dilakukan antara pecalang bersama pihak kepolisian. Pendatang yang jelas tujuannya diajak dan disarankan untuk mengikuti kata pepatah bahwa “di mana bumi dipijak, di situlah langit dijunjung.” Semua itu menunjukkan bahwa warga Tanjung Benoa dan Bali pada umumnya menginginkan kedamaian dan kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Secara khusus, sebagai Pendesa Adat ia memohon kepada para pendatang untuk mengikuti aturan yang disebut Awig-Awig.

“Para pendatang silakan mengais rezeki di wilayah kami, namun tolong menunjukkan identitas yang jelas untuk dicatat. Karena kami menempati wilayah Tanjung Benoa ini dengan mengedepankan kerukunan dan kedamaian. Kami secara rutin mengadakan pertemuan untuk mengevaluasi situasi dan kondisi di daerah kami. Semua perwakilan agama dihadirkan, sehingga sekecil apapun permasalahan kami selesaikan secepatnya. Apapun yang terjadi, apakah itu kematian, kelahiran, perkawinan dan lain-lain, selalu terkontrol serta terkendali,” ujarnya.

Nyoman Wana Putra menerapkan hal tersebut pada perusahaan yang didirikannya, PT Taman Sari Wisata Bahari. Dari 54 SDM yang dipekerjakannya –mulai tingkat manager sampai staf- terdiri dari orang-orang dari seluruh wilayah Indonesia dengan keragaman budaya serta keyakinan yang dianut. Dilandasi oleh kenyataan bahwa Indonesia memiliki pulau yang luar biasa banyak dengan garis pantai yang sangat panjang, memungkinkan untuk mengembangkan potensi wisata bahari lebih besar.

“Itu merupakan potensi yang sangat luar biasa dalam wisata bahari. Makanya, meskipun pendidikan mereka kurang, tetapi kami training agar menjadi bekal sebagai bahan untuk mengembangkan daerah masing-masing. Banyak di antara mereka yang sudah mampu berdiri sendiri setelah kami didik di Bali. Mereka kami didik sebagai kapten, crew driver dan lain-lain. Nah, kalau mereka mampu dan daerah asalnya memungkinkan, mereka akan mengembangkan wisata bahari di daerah sendiri. Syaratnya mereka harus memiliki niat yang baik, jujur dan berkemauan keras untuk belajar,” tegasnya.

Jangan Menjadi Kuli

Sukses mengembangkan wisata bahari, membuat Nyoman Wana Putra berharap dapat melebarkan sayap bisnisnya. Apalagi potensi wisata bahari di Indonesia dengan ribuan pulau sangat menarik untuk dijadikan obyek wisata karena tersebar di seluruh garis pantai Indonesia. Peluang untuk berkembang sangat terbuka lebar dan tidak hanya mengandalkan pulau Bali semata.

“Kita harus mengembangkan pesisir lain di Indonesia sehingga saya bisa membuka cabang di daerah lain. Bahkan kita juga bisa mengembangkan wisata bahari di seluruh Indonesia, karena Indonesia terkenal dengan laut dan terumbu karangnya. Banyak potensi wisata bahari yang bisa kita jual, kenapa kita tidak bisa kembangkan. Karena sumbangan dari pariwisata cukup besar bagi pendapatan negara,” tandasnya.

Dengan pengembangan wisata pantai di seluruh Indonesia, lanjutnya, berarti terjadi pemerataan pembangunan. Kesejahteraan tidak hanya dinikmati oleh masyarakat perkotaan tetapi juga di daerah-daerah. Dengan begitu tidak perlu terjadi masyarakat yang berbondong-bondong menjadi TKI ke luar negeri atau “merantau” ke Jakarta, yang menambah keruwetan ibukota. Majunya pariwisata daerah, juga mencegah pemindahan ibukota negara ke kota lain.

“Karena pemindahan ibukota negara ke luar Jakarta bukan solusi mengatasi permasalahan. Yang penting adalah pemerataan pembangunan sehingga tidak semua orang tertarik untuk mengadu nasib di Jakarta. Kalau di pusat hanya sekadar mencari pengetahuan atau sistem untuk dikembangkan di daerah. Bukan disikapi dengan memindahkan ibukota, kalau begitu kita mundur lagi, dari awal lagi,” ungkapnya.

Pemindahan ibukota, menurut Nyoman Wana Putra akan mengubah tatanan sejarah yang telah dibangun oleh para pendiri bangsa dengan tetesan darah, air mata dan keringat. Indonesia tidak perlu meniru Malaysia yang memindahkan ibukota negaranya, karena memiliki karakter yang berbeda. “Jangan sekali-sekali mengubah jalannya sejarah. Mungkin kita perlu duduk bersama antara pusat dan daerah agar saling memahami keinginan masing-masing,” kata ayah empat anak ini.

Semangat untuk melestarikan sejarah dan budaya sendiri, jelasnya, harus dimiliki oleh generasi muda penerus bangsa. Di tangan mereka terletak masa depan bangsa menuju Indonesia yang lebih baik. Sikap tanpa melupakan sejarah dan budaya Indonesia, generasi muda akan maju dengan karakter bangsa sendiri. Ia berpesan agar setelah memiliki menyelesaikan pendidikan dan memiliki gelar, generasi muda tidak bermimpi untuk menjadi PNS atau karyawan.

“Kembangkan potensi yang ada dalam diri masing-masing. Kalau bisa menjadi raja -meskipun kecil- jangan jadi kuli. Kita dilahirkan dan hidup bukan untuk disiksa, tetapi berdiri di atas kaki sendiri. Dahulu kita hidup di zaman kerajaan, maka kitalah yang sekarang harus berpikir untuk menjadi raja. Mari kita kembangkan apa yang bisa dilakukan dengan menjadi entrepreneur di daerah masing-masing. Pemerintah juga harus menuntun generasi muda sehingga daerah berkembang sehingga kita semua sejahtera,” tegas Nyoman Wana Putra.

PT Taman Sari Wisata Bahari
Jl Konco No 9, Tanjung Benoa, Nusa Dua, Bali
Telp: (0361) 772583
Fax: (0361) 775242
Website: www.balimarinesport.com

DR. H Machmud Yahya

No Comments

DR. H Machmud Yahya
Buah Merah

Pantang Menyerah Karena Dikirim Allah Sebagai Khalifah

Allah SWT menakdirkan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Tugas manusia adalah menguasai dunia bukan dikuasai dunia, mengelola bumi untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan manusia menuju Al Haq Allah Azza Wa Jalla. Semua yang berada di atas bumi, udara, air, tanaman, hewan dan lain-lain serta yang terkandung di dalamnya diperuntukkan bagi kehidupan manusia sebagai bekal pengabdian kepada sang kholiq  Al Haq Allah Azza Wa Jalla.

Meskipun demikian, manusia tidak bisa begitu saja mendapatkan manfaat dari apa yang disediakan Allah di muka bumi tanpa usaha. Memerlukan usaha keras dan perjuangan bagi seorang manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Namun, salah satu ketetapan bahwa manusia untuk mengatur dunia sudah menjadi ketentuan Tuhan yang tidak bisa ditawar lagi dengan dua pilihan usaha kebaikan dan keburukan.

Seperti yang dilakukan oleh DR. H Machmud Yahya, pemilik usaha buah merah. Meskipun pabrik pengolahan buah merahnya baru saja “dibakar” pesaingnya ia tidak menyerah.  Ia bangkit dari kerugian yang mencapai miliaran rupiah itu untuk lebih mengembangkan usaha yang selama ini dijalaninya. Semua dijalaninya apa adanya dengan senang hati, karena yakin AllahSWT telah mengatur semuanya.

“Karena semua itu titipan Allah, meskipun rugi Rp3,7 miliar karena pembakaran pabrik itu, DR. H Machmud tetap ringan tanpa beban. Apalagi DR. H Machmud ini tipe orang yang pantang menyerah, karena merasa dikirim Allah sebagai khalifah dimuka bumi sesuai kedudukannya. Oleh karena itu, DR. H Yahya jalan saja pasti Allah memberi kekuatan. Dan DR. H Yahya tidak akan berhenti sebelum dihentikan. Karena DR. H Yahya tidak mampu berjalan sendiri tanpa ada kekuatan dari Allah SWT, La haulla wala quwata illa billah,” kata pria kelahiran Ponorogo, 6 Juni 1961 ini.

Meskipun tanpa mendapat bantuan dari pemerintah –sebelum dan sesudah pembakaran pabrik- DR.H Machmud jalan terus. Ia merencana-kan untuk membuat ekstrak kapsul buah merah yang lebih sempurna untuk meningkatkan khasiatnya. Memang, buah asli Papua tersebut terbukti mampu menyembuhkan berbagai penyakit, antara lain: Kanker, Ambient, Hipertensi, Stroke dan Jantung Koroner. Buah merah juga mampu menormalkan peredaran darah, gangguan pencernaan; Broonkithis, Hepatitis, Kolesterol, Maag, Asam Urat, Kista Rahim tanpa oprasi, Deabetis Militus Rematik,. Bahkan, buah merah mampu meningkatkan stamina, libido, gairah seksual dan meningkatkan daya tahan tubuh sangat baik untuk kesehatan Ibu Hamil miningkatkan daya ingat anak2 balita hingga lansia, meningkatkan daya tahan tubuh bagi penderita HIV/AIDS.

Sayangnya, minimnya modal dan  bantuan pemerintah –termasuk kredit perbankan- membuat DR.H. Machmud menunda pendirian pabrik ekstraksi buah merah di Tangerang. Ia sangat berharap agar bantuan pemerintah berupa dukungan dan dorongan terhadap usaha yang ditekuninya lebih besar. Agar pengusaha yang giat dan tidak pernah putus asa dalam mengembangkan potensi yang ada di Indonesia seperti dirinya terus bertahan. “Banyak sih yang saya harapkan dari partisipasi pemerintah,” katanya.

Buah Merah Mendunia

DR. H Machmud Yahya mengungkap-kan Khasiat buah merah dalam melawan berbagai penyakit, semakin dikenal orang. Buah yang berasal dari sejenis pohon pandanus conodius ini paling ampuh khasiatnya yang tumbuh di dataran tinggi Papua. Selain khasiat pengobatan, buah merah juga bisa dijadikan produk kosmetik –sebagai penghalus kulit dan pembasmi jerawat- serta sabun mandi.

“Disamping kosmetik, DR. H Macmud Yahya juga bekerjasama dengan produsen obat dari Jerman. DR. H Macmud Yahya diberi kepercayaaan untuk menyiapkan bahan baku berupa buah merah yang dikeringkan dengan menggunakan panas mata hari tidak langsung, untuk menghindari hilangnya sebagian kandungan buah merah, karena pengolahan di Indonesia belum bisa memenuhi kwalitas teknologi pengolahan dan teknologi Jerman lebih unggul maka jerman lebih memilih mendatang-kan bahan baku dari DR. H Machmud yahya yang sudah terpercaya dalam menjaga kualitasnya. Jerman melakukan uji klinis untuk penggunaan buah merah dalam menanggulangi penyakit radang usus hingga infeksi usus dengan cermat sehingga penderita penyakit tersebut dalam penyembuhan tidak perlu dilakukan dengan opresi. Hasilnya sangat baik dan luar biasa, penelitian yang mereka lakukan di Afrika, Malaysia, Pakistan dan India ternyata telah terbukti keberha-silannya hingga 9o% tanpa oprasi ,” produk yang dihasilkan akan di pasarkan tahun ini untuk memenuhi kebutuhan kesehatan warga indonesia terlebih dahulu dan kemudia akan di kembangkan ke manca negara ujar anak keenam dari delapan bersaudara pasangan  H M. Kamaluddin dan Hj Kasrumi ini.

Menurut DR. H Machmud, setelah pihak Jerman  mengakui bahwa potensi buah merah luar biasa dalam penyembuhan infeksi usus. Oleh karena itu ekspor kedua meningkat dari 200 kilogram menjadi 2 ton. Pihak Jerman mempercayai dirinya untuk memasok bahan baku, bahkan pihak jerman langsung  memberikan bantuan dana untuk memenuhi quota. Rencananya, pihak Jerman akan meminta kiriman Buah merah kering secara rutin sebesar 50 ton setiap tahunnya.

Dalam upaya memenuhi quota permintaan pihak jerman, DR. H Machmud  yahya berupaya keras membina petani di Papua. Kepada mereka dijelaskan potensi buah merah di masa mendatang  sangat menjanjikan. DR. H Macmud Yahya meyakinkan, dengan buah merah yang “go interntional” kesejahte-raan petani juga akan terangkat. Apalagi, buah merah dengan khasiat klinis tertinggi hanya bisa ditemukan di Papua.

“Produk tersebut sudah dipatenkan di Jerman. Artinya karena sulit masuk ke Indonesia, perusahaan akan memasarkan ke Eropa. Dengan pasar yang terus berkembang mendunia, kebutuhan buah merah semakin tinggi dan terus berkesinambungan. Apalagi kalau rencana membangun pabrik di Indonesia terealisasi, petani buah merah pasti akan menikmati hasilnya. Karena berapapun hasil panen buah merah akan terserap di pabrik tersebut,” ungkapnya.

Apalagi, di wilayah Papua penanaman buah merah tidak terlalu sulit. Karena tumbuh di habitatnya, dalam waktu dua tahun buah merah sudah menghasilkan buah yang siap dipanen . Dengan begitu, pasokan bahan baku tidak akan tersendat dengan kualitas barang terbaik. Yang dilakukan oleh H Machmud adalah menggerakkan potensi para petani untuk menanam buah merah. Mengingat potensinya yang sangat menjanjikan sehingga mampu meningkatkan perekonomian rakyat Papua.

“Kalau saya kerjakan sendiri pasti tidak akan mampu untuk memenuhi Quota yang diminta oleh pihak jerman, tetapi dengan satu keyakinan setiap langkah apapun yang seya kerjakan selalu bergantung dan berharap bantuan dari Allah yang Maha Perkasa lagi maha memberi kekuatan, maka apapun yang saya kerjakan pasti Allah yang selesaikan. Jadi saya tergantung kepada Allah dan merasa bahwa saya hanya ‘diperlakukan’ oleh kehendak-Nya. Setiap hari, apapun yang saya lakukan, yang saya ingat adalah ‘ini adalah pekerjaan Allah’ saya hanya diberi kepercayaan untuk mengurusi buah merah,” tegasnya.

Gali Potensi

DR. H Machmud Yahya, tidak kenal lelah berupaya mengeksploitasi potensi yang ada di tanah air. Minatnya yang beragam, membuat ia menyatu dengan kegiatan yang ingin ditekuni. Selain produksi buah merah, ia juga berkebun emas karena melihat limbah tambang besar di Papua masih terdapat emas yang berkwalitas sedikit demi sedikit mengumpulkan emas hasil pendulang oleh masyarakat papua dan dijadikan mas murni 24karat kemudian di jual dengan harga yang sama dengan harga emas dunia.   DR. H Macmud Yahya juga seorang produsen pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah secara alami. Bahan baku yang melimpah di lingkungannya -tumbuhan, kotoran hewan, dari limbah lain- mendorongnya untuk menekuni usaha ini yang benar-benar dapat meningkatkan pendapatan.

“Hasilnya, kesuburan tanah meningkat dan tanaman menjadi sehat, higienis dan tidak tercemar bahan kimia. Disamping itu, produksi pupuk organik bisa diandalkan untuk menanggulangi permasalahan sampah di Indonesia yang semakin sulit dikendalikan. Pupuk organik digunakan untuk memupuk tambak udang, bandeng, juga untuk ikan darat seperni lele dumbo, ikan gurami, ikan nila, belut dan lain sebagainya, dengan menambah pengembangan mikroba buatan sendiri dari rumen sapi limbah pemotongan hewan. Dengan Tambahan pupuk organik ini manfaatnya meningkatkan hasil panen  karena pupuk organik dapat menumbuhkan pakan alami sehingga mengurangi pakan buatan sampai 30 persen yang harganya relatif mahal,” tutur ayah empat anak hasil perkawinannya dengan Hj Siti Romlah ini.

DR. H Machmud Yahya juga mengembangkan sayap untuk bisnis lebah madu di Papua . Alasannya, biaya produksi bisnis lebah madu sangat kecil dengan keuntungan cukup besar. Penyebabnya, peternak lebah madu tidak pernah memberi makan karena lebah bisa mencari pakan sendiri. Tidak heran, tingkat keuntungan di bisnis ini mencapai 100 persen per tahun.

Dalam menjalankan usaha, DR. H Machmud Yahya juga “menabrak” kebiasaan-kebiasaan yang terjadi di masyarakat. Ini tampak ketika ia berkebun kelengkeng di lahan pinggir pantai yang menurut pandangan masyarakat awam tidak mungkin bisa hidup kalaupun hidup tidak mungkin akan berbuah karena menurut pendapat masyarakan awam klengkeng hanya bisa tumbuh dan berbuah di dataran tinggi. Ia juga menanam kelapa kopyor di saat tanaman kelapa penduduk sekitar terserang hama yang namanya wangwung, ternyata untuk mencegah hama cukup mudah teratasi dengan menggunakan kapur ajaip. Tidak segan-segan, ia terjun ke bisnis pembesaran kayu jati lengkap dengan penjualan bibit jati.

“Saya juga menanam pohon buah naga merah. Pokoknya, saya betul-betul menggali potensi yang ada di Indonesia. Kita menggali potensi apa saja yang tidak wajar menjadi wajar. Mau tidak mau kita harus menggali potensi yang benar-benar bermanfaat. Jadi orang Indonesia ini harus benar-benar kreatif untuk menggali potensi yang ada, hasilnya pasti luar biasa,” tegasnya.

Pada bisnis yang dijalaninya di Rembang, Jawa Tengah itu, H Machmud juga “mendobrak” mitos yang berkembang di tengah masyarakat. Di mana saat itu terdapat sebuah waduk Setampah yang tidak dimanfaatkan untuk pengairan pertanian penduduk karena dianggap angker menakutkan. “Wong Ponorogo” ini kemudian sengaja tinggal selama satu bulan setengah di tepian waduk siang dan malam, ada salah satu warga yang aslinya juga sangat penakut dengan mitos yang ada ikut menemani petualangan DR. H Machmud ya itu  mantan kepala desa Kumendung Rembang dengan bermodalkan tenda untuk berlindung dari panas dan hujan juga untuk tidur diwaktu malam. DR. H Macmud juga menebar bibit  Ikan lele di waduk Setampah  tersebut untuk membuktikan bahwa tidak ada yang angker atau menakutkan.

Masalah baru terjadi saat panen lele tiba. Masyarakat sekitar memprotes  dan mendemo kenapa waduk tersebut dimanfaatkan oleh satu orang saja, pendatang pula. Tetapi pengagum Nabi Muhammad SAW ini dengan tegas menyatakan bahwa apa yang dilakukannya hanyalah memberi contoh saja. Nanti selanjutnya –setelah keangkeran waduk setampah ini ditaklukkan, DR. H Macmud Yaha  mempersilakan masyarakat untuk meneruskan usaha tersebut.

“Saya hanya memberi contoh saja. Lihat dan lakukan apa yang saya lakukan, nanti silakan diteruskan. Akhirnya saya beli tanah di sekitar waduk Setampah seluas enam hektar untuk mengembangkan waduk Setampah sebagai tujuan wisata dan percontohan dalam bidang pertanian terpadu, yaitu pertaniaan, peternakan, Perikanan dan perkebunan organik guna mendukung program pemerintah dalam meningkatkan kesuburan tanah dengan bahan pupuk organik. Jangan berprasangka dahulu, karena saya hanya mengikuti Sabda Nabi Rasulullah Muhammad SAW, ‘Khoirunnaasi anfa’uhum linnas’ yakni sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Kalau saya sudah tidak ada manfaatnya bagi orang lain, lebih baik ‘dimatikan’ saja,” ujarnya.

Khasiat Buah Merah

Buah Merah (Pandanus Conoideus) adalah tanaman khas spesifik atau endemik yang tumbuh di dataran tinggih Papua. Tanaman buah merah termasuk tanaman keluarga pandan dengan pohon menyerupai pandan. Namun tinggi tanaman dapat mencapai 4 m dengan tinggi batang atas cabang sendiri setinggi 1-2 m yang diperkokoh akar-akaran tunjang pada batang sebelah bawah. Bentuk buah berbentuk lonjong dan buah tertutup daun pandan. Buah merah sendiri panjang buahnya mencapai 55 cm diameter 10-15 cm dan bobot mencapai 8-10 kg, warna buah saat matang berwarna merah marun terang.

Adapun penelitian tentang khasiat buah merah pertama kali dilakukan oleh Dosen Universitas Cendrawasih yaitu Drs. I Made Budi M.S, Sebagai ahli gizi dan dosen Universitas Cendrawasih sempat mengamati secara seksama kebiasaan masyarakat tradisional di Wamena, Timika dan desa-desa di kawasan pegunungan Jayawijaya yang mengkonsumsi buah merah sebagai obat cacing, penyakit kebutaan, dan penyakit kulit.

Selain itu pengamatan atas masyarakat lokal berbadan lebih kekar dan berstamina lebih tinggi, pada hal kehidupan sehari-hari secara asli tradisional yang serba terbatas dan terbuka dalam berbusana dalam kondisi alam yang keras serta cuaca cukup dingin di ketinggian pegunungan Jayawijaya. Keistimewaan fisik penduduk lain yakni jarang terkena penyakit degeneratif seperti: hipertensi, diabetes, penyakit jantung dan kanker.

Penyakit yang terbukti dapat disembuhkan oleh khasiat buah merah adalah sebagai berikut:

1.    AIDS
Walaupun para ahli telah bertahun-tahun mencoba membuat obat untuk menyembuhkan AIDS tetap saja obatnya masih belum ditemukan. Kemampuan buah merah menyembuhkan AIDS adalah karena buah merah mengandung tokoferol dan betakaroten yang sangat tinggi. Kedua kandungan ini berfungsi sebagai antioksidan dan dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Tokoferol dan betakaroten akhirnya berkombinasi untuk memecah asam amino yang dibutuhkan oleh virus penyebab AIDS, HIV, sehingga virus tersebut tak dapat melangsungkan hidupnya.

2.    Kanker dan Tumor
Khasiat lain buah merah adalah mengobati kanker dan tumor. Buah merah dapat mengobati kanker karena kandungan tokoferolnya sangat tinggi, yaitu mencapai 11.000 ppm dan betakarotennya mencapai 7.000 ppm. Kedua senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh serta mencegah pembiakan sel-sel kanker.

3.    Stroke dan Darah Tinggi
Stroke disebabkan oleh darah yang membeku dan penyempitan pembuluh darah. Buah merah mengandung tokoferol yang dapat mengencerkan darah dan memperlancar sirkulasi darah sehingga kandungan oksigen dalam darah menjadi normal.

4.    Asam Urat
Asam urat disebabkan karena terganggunya fungsi lever sehingga lever memproduksi asam urat secara berlebihan. Tokoferol dalam buah merah mengencerkan darah dan memperbaiki sistem kerja lever. Sistem kerja lever, setelah diperbaiki, memproduksi kadar asam urat yang normal.

5.    Diabetes Mellitus (Kencing Manis)
Penyakit ini disebabkan karena kelenjar pankreas tidak mampu memproduksi insulin dalam jumlah yang memadai. Akibatnya, kandungan gula dalam darah meningkat. Kandungan tokoferol dalam buah merah memperbaiki kerja pankreas sehingga fungsi pankreas menjadi normal kembali.

6.    Osteoporosis
Disebabkan pengeroposan tulang, osteoporosis disebabkan oleh kekurangan kalsium. Penyakit ini umumnya menyerang mereka yang sudah berusia senja. Buah merah kaya akan kalsium sehingga dapat mencegah dan mengobati osteoporosis. Dalam 100 gram buah merah segar terkandung 54.000 miligram kalsium.

7.    Gangguan Mata
Kandungan betakaroten yang tinggi dalam buah merah dapat mengatasi banyak jenis penyakit mata yang disebabkan kekurangan vitamin A. Betakaroten diserap oleh tubuh dan diolah menjadi vitamin A.

8.    Meningkatkan Kecerdasan
Kandungan omega 3 dan omega 9 dalam buah merah dapat merangsang daya kerja otak dan meningkatkan kecerdasan. Oleh karena itu buah merah cocok untuk dikonsumsi oleh anak-anak.

9.    Meningkatkan Gairah dan Kesuburan
Buah merah, menurut mereka yang mengkonsumsinya, dapat membantu meningkatkan gairah seksual kaum pria. Efek pengobatan bervariasi, ada yang bereaksi setelah 15 menit meminumnya, ada juga yang setelah satu atau dua jam meminumnya.

UNTUK MENDAPATKAN YANG ASLI  PRODUKNYA BUAH MERAH
HUBUNGI KAMI :

DR.H. MACHMUD YAHYA
HP.O81344201309.
TLP, (021)8745392.

Kus Marindi

No Comments

Kus Marindi
PT Intipratama Groups

Perjuangan mengejar mimpi,

Perjalanan hidup Kus Marindi, pemilik PT Intipratama Group sangat panjang dan berliku, hambatan dan perjuangan yang mewarnai hampir di separuh hidupnya dijalani dengan penuh harapan dan keikhlasan. Kesadaran untuk memperjuangkan nasib dan  kehidupannya telah tumbuh sejak dirinya masih belia. Sekolah, saat itu merupakan pintu gerbang untuk membuka cakrawala hidup baru yang lebih baik.

Dilahirkan sebagai anak kedua dari tujuh bersaudara, Kus Marindi dibesarkan dalam lingkungan keluarga petani di sebuah kampung di antara Sungai Bengawan Solo dengan jalan Raya kota Surabaya dan kota Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Rumah tempat dirinya dilahirkan cukup jauh dari jalan beraspal yang ada disekitarnya hanya tambak dan sawah yang terhampar sangat luas. Didaerah tersebut pada masa itu pandangan masyarakat akan pendidikan umum sangat kurang diperhatikan dan lebih cenderung ke Pesantren  (pendidikan agama)

Padahal Bapaknya termasuk orang berpendidikan  pada masanya, sebagai land lord  dan pejabat pamong desa cukup  berpengaruh dikampungnya , setelah behenti bekerja lebih konsentrasi mengelola sawah termasuk tambak dan ladangnya setiap hari hanya bekerja dan bekerja mungkin termasuk kerja maniak sebagai imbalannya secara ekonomi lebih baik  dari tetangganya.
Bahkan masih saya ingat pada saat saya masih kecil banyak sekali orang-orang yang ikut tinggal dirumah, saya pikir mereka tidak digaji hanya ingin menumpang hidup, makan dan tinggal saja.
Maklum masa itu ekonomi sangat sulit.

Tidak heran, setelah lulus dari Sekolah Rakyat S.R. (sekolah Rakyat)  sekarang SD> (Sekolah Dasar) yang tidak jauh dari rumahnya di kampung, saya dilarang melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menegah Pertama (SMP). Karena sekolah tersebut yang paling dekat terletak sekitar sembilan kilometer dari rumah. Orang tua tidak mengizinkan saya melanjutkan sekolah, karena saya diharapkan melanjutkan mengurus sawahnya,” tutur pria kelahiran 13 Maret 1952 ini.
Sebenarnya saya cukup menyadari bahwa Bapak sudah lumayan berumur saat itu karena saat saya dilahirkan umurnya sudah sekitar 40 tahun, maklum termasuk terlambat punya anak tapi begitu lahir anak pertama berturut-turut lahir sampai 7 bersaudara.
Termotivasi oleh kakaknya yang sudah melanjutkan sekolah, Kus Marindi  berusaha dengan segala cara agar mendapatkan kesempatan yang sama. Meskipun terjadi negosiasi  sangat alot, tetapi akhirnya permintaannya untuk bersekolah dikabulkan dengan fasilitas berbeda. Kakaknya sekolah di kota dan indekos karena jarak antara kampung dan sekolahnya cukup jauh sekitar dua puluh kilometer.

Sedangkan Kus Marindi harus menerima untuk sekolah di Sekolah teknik Negeri (STN.) yang terdekat. jaraknya pun terbilang cukup jauh yang harus ditempuhnya dengan sarana transportasi berupa sepeda ‘onthel’. Jalanan yang harus dilewati berupa jalan desa / jalan tanah yang belum diperkeras dengan aspal, sehingga bila musim hujan jadi becek tapi bila musim kemarau seperti layaknya  racing road saja..  Tak jarang sepeda yang seharusnya saya naiki gantian menjadi saya panggul karena tidak mungkin sepeda bisa jalankan.

Kadang terasa sedih sekali, karena di saat anak sebaya saya masih nyenyak tidur dan bermimpi, saya harus berjalan kaki ke sekolah. Selama perjalanan pun, saya tidak memiliki teman dan tanpa bantuan,” ungkapnya.

Perjalanan pulang pun dilaluinya dengan ritme yang sama. Cuaca yang tidak menentu, membuat ia sering salah perkiraan. Akibatnya, seringkali kakinya sakit karena menginjak Lumpur yang telah mongering yang memang  tanpa alas kaki menginjak tanah keras akibat terik sinar matahari. Padahal, ia memperkirakan hari akan turun hujan sehingga tidak menggunakan sepeda. Kus Marindi sering ingin menangis dikarenakan rasa lapar , capek dan panas atau dinginnya hujan hingga baru sampai di rumah rata-rata pukul 16.00.

“Pada masa akhir tahun 1965, saat rame-ramenya peristiwa G30S/PKI masalahnya menjadi lebih runyam. Jalanan menjadi tidak aman bagi orang-orang atau anak-anak yang berjalan di saat petang. Saya tidak mengerti apakah orang tua bisa tidur nyenyak bila saya tidak pulang atau terlambat pulang pada situasi genting seperti itu. Hampir setiap pagi saya jumpai mayat tergeletak di pinggir jalan, di dalam parit, sungai atau di ladang jagung. Memang mengerikan, tapi karena setiap hari saya jalani ya jadi biasa saja tanpa beban apa-apa,” ujarnya.

Menjelang ujian akhir STN., Kus Marindi terserang penyakit typus sangat parah. Ia menjalani perawatan di rumah sakit Lamongan hampir dua bulan lamanya. Bersamaan dengan waktu itu terjadi banjir besar akibat tanggul sungai Bengawan Solo yang jebol sehingga untuk mendapatkan obat untuk saya kakak harus jalan kaki ke Apotik di kota Gresik
Selama saya sakit Bapak hanya bisa mengunjungi saya dirumah sakit  sekali dan baru kali itu saya melihat bapak menangis melihati saya tergelatak sakit tidak berdaya sementara ibu saya tidak sempat sama sekali, saya sudah merasa pesimis tidak dapat menyelesaikan pendidikan STN. Ternyata Tuhan berkehendak lain, ia memberikan kesembuhan dan mampu mengikuti ujian akhir sekolah dengan baik. “Saya sudah berpikir bahwa perjuangan selama ini akan sia-sia.

Pengalaman bersekolah di STN. Yang demikian berat ternyata tidak menyurutkan keinginan untuk melanjutkan kembali walau dengan perjuangan yang tidak kalah beratnya.
Semula saya ingin tinggal bersama Mbah yang memang tinggal di Surabaya sedangkan biayanya akan saya cari sendiri ternyata keinginan saya hanya membuahkan kekecewaan karena mendapat jawaban yang kurang enak didengar, terpaksa cari tempat tinggal bersama orang lain yang gratisan.

Merantau ke Samarinda

Setelah tidak sekolah lagi pada  bulan September tahun 1970, Kus Marindi merasa sudah tidak nyaman lagi untuk hidup dan tinggal dikampung
sedangkan untuk bekerja, ia tidak tahu apa yang bisa dikerjakannya. Kalau pun harus pergi dari kampung halamannya, ia tidak tahu kemana kakinya harus melangkah.
Pada suatu hari ada teman saya bercerita katanya ada temannya yang baru pulang dari Samarinda dan akan balik lagi beberapa hari kemudian. Saya bilang, ingin dikenalkan dengan orang tersebut, karena dari cerita teman saya itu, kayaknya menarik sekali,” ujarnya.

Tidak lama kemudian, Kus Marindi berkenalan dengan tetangga kampungnya yang merantau ke Samarinda tersebut. Setelah berbincang-bincang, ia tahu bahwa orang tersebut menjalankan usaha berjualan rujak (pencok) di Samarinda. Namun, ia berpikir bahwa ada yang salah dari hidup orang yang menurut perkiraannya sudah berumur 50 tahun masih merantau untuk menghidupi keluarga. Tetapi ia tidak berani menanyakan alasannya takut menyinggung perasaan orang tersebut.

Dalam pembicaraan tersebut, keduanya sepakat untuk berangkat bersama-sama ke Samarinda. Tapi Ia merasa aneh karena orang tersebut meminta agar uang ticket naik kapal agar dia yang pegang. Ia memberi tahu bahwa uang tersebut masih menunggu hasil penjualan sepeda miliknya yang selama ini yang setia sebagai sarana transportasi ke sekolah.

Untung Kus Marindi belum menjual sepeda dan menyerahkan uangnya kepada orang tersebut. Karena setelah itu, datang orang bernama Junaidi yang sebelumnya juga tidak dikenalnya datang ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa orang yang akan diikuti ke Samarinda akan menipunya. Junaidi yang tahu rencana jahat orang tersebut menawarkan untuk pergi bersamanya saja.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, Kus Marindi akhirnya setuju untuk berangkat bersama Junaidi. Sehari menjelang keberangkatan, ia menjual  sepeda di pasar sepeda, Pasar Turi, Surabaya seharga Rp. 9.500,00. Dari hasil penjualan tersebut untuk beli tiket kapal kayu di pelabuhan Kalimas seharga Rp. 4,500.00. Sore itu, keduanya langsung naik ke kapal karena rencananya kapal akan berangkat berlayar subuh berikutnya..

“Naik kapal adalah pengalaman pertama saya. Tidak heran, ketika kapal bergoyang-goyang terkena gelombang besar, kepala saya pusing sampai muntah-muntah. Pengalaman sangat tidak menyenangkan ini diperparah dengan bunyi derit dinding kapal. Seolah-olah kapal yang terbuat dari kayu itu akan terbelah dan pecah di tengah laut. Terpikir di otak saya apakah perjalanan ini akan sampai tujuan ?” kenangnya.

Dalam perjalan berlayar tersebut berkenalan dengan seorang ibu yang berprofesi sebagai pedagang sayur antar pulau asal kota Malang. Pedagang tersebut manyanyai saya tujuan saya ke Samarinda dan saya bilang tidak punya siapa-siapa.
Akirnya menawari megajak saya kembali dan bekerja bersamanya di Malang daripada harus melanjutkan perjalan yang tidak jelas tujuannya.
Tetapi tekat saya sudah bulat ingin pergi jauh dari kampung halaman. Ibu tersebut sangat baik dan menawari untuk tinggal bersama saudaranya yang menetap di Samarinda,” tambahnya.

Tetapi Kus Marindi memilih untuk tetap bersama dengan Junaidi yang memang dari awal sudah bersamanya dan akan mencari tetangganya yang menjadi trasmigran pada tahun 1960 an  yang kabarnya sekarang berjualan palawija di Pasar Pagi Samarinda.
Setelah ketema kami diajak kerumahnya dan ternyata di rumahnya telah  menampung banyak orang-orang satu daerah. Mereka pada umumnya bekerja di sektor non formal seperti berdagang pencok, minyak tanah, sayur mayur, makanan dan lain-lain seperti pada umum pekerjaan orang-orang dari daerah tersebut.

Kus Marindi yang tidak memiliki pengalaman dan sedikit pendidikan, akhirnya bekerja membantu ibu induk semangnya di pasar pagi. Pekerjaan yang dilakukannya adalah mengangkat barang dagangannya, baik milik induk semangnya maupun orang lain. Ia merasa sangat mudah mencari uang di kota itu, karena untuk pekerjaan yang dikerjakan dengan asal-asalan dan mengandalkan tenaga saja upahnya cukup tinggi. “Dalam satu hari, saya bisa mendapatkan uang antara Rp. 5,000.00 sampai Rp. 6.000,00. Bahkan yang sudah pengalaman bisa mendapatkan lebih banyak lagi. Dalam sekejap, saya merasa menjadi jutawan karena setiap hari bisa manabung rata-rata Rp. 5.000,00. Itu lebih tinggi dari harga tiket kapal Surabaya ke Samarinda yang hanya Rp. 4.500,00 per orang,” katanya.
Ekonomi Samarinda saat itu memang sedang booming dikarenakan penebangan hutan yang sedang  marak lyar biasa dengan istilah banjir kap.

Bila mau turun keair mengangkat keranjang-keranjang bekas sayur yang dibuang ke Sungai Mahakam didalamnya pun yakin mendapatkan ikan sepat yang sangat besar dibandingkan dengan yang pernah saya lihat di Jawa.
Pada suatu hari salah satu dari teman yang tinggal bersama kedatangan isterinya dari kampong, mungkin dia sedang tidak punya uang padahal dia perlu duwit untuk keperluan keluarganya, rupanya sasaran pertama yang diincar adalah tabungan saya.
Ia sangat kecewa dan memutuskan untuk mencari pekerjaan lain, karena meskipun menghasilkan uang banyak, tetapi merasa bukan itu yang dicarinya jauh-jauh ke Samarinda.

Ia kemudian bekerja di perusahaan yang sedang mencari karyawan untuk pekerjaan survey perminyakan di daerah Sangkulirang, 500 km ke arah utara dari Samarinda. Sejak itu, ia mulai mengenal ganasnya rimba Kalimantan yang masih perawan. Hutan yang dikenalnya di pulau Jawa hanyalah semak-semak, namun hutan di sini sangat lebat sehingga cahaya matahari pun tidak mampu menembus dasar hutan.

“Pengalaman hidup dan bekerja di hutan seperti digigit pacet dan terkena malaria adalah pengalaman yang dialami setiap orang. Bahkan sempat terpikir, apakah saya pernah melihat kampung halaman saya lagi ? Genap satu tahun saya merasa hutan bukan tempat untuk mencari pengalaman yang baik. Saya memutuskan pindah ke Balikpapan dan mencari tetangga yang telah hijrah pada saat saya masih berumur 3 tahun dan tinggal di perumahan Pelabuhan Balikpapan. Saya ikut tinggal bersamanya untuk sementara waktu,” kisahnya.

Awal bekerja di Balikpapan adalah pengalaman paling pahit yang pernah dilaluinya. Ia diajak temannya untuk mengangkat pasir ke truk dengan upah Rp. 500,00 per hari. Kus Marindi hanya mampu bertahan satu hari dan malamnya, malaria kambuh kembali. Yang paling menyedihkan, gajinya yang  Rp. 500,00 itu dipinjam temannya dan tidak pernah dikembalikan.

Hari-hari berikutnya, Kus Marindi bekerja serabutan. Ia membantu temannya menjual gorengan, belajar kerja sebagai tukang las, menjadi penjaga malam dan bermacam-macam pekerjaan tidak tetap lainnya. Baru pada awal Januari 1972, ia kembali mendapat pekerjaan di perusahaan survey perminyakan. Kali ini ditempatkan sebagai tenaga helper atau pembantu pekerjaan kasar di PT  Delta Explorasi.

Walau hanya sebagai helper perasaan saya pekerjaan ini adalah pekerjaan terbaik yang bisa saya dapatkan hingga tahun 1974.
Mungkin karena jenuh dan tidak ada pengalaman baru, saya meminta izin keluar untuk mencari pekerjaan lainnya yang lebih menantang,” tuturnya.

Berbekal ijazah mengetik, Kus Marindi diterima bekerja di perusahaan pelayaran. Di sini, ia merasa menemukan pekerjaan yang sesuai dengan minatnya meskipun bergaji kecil. Ia sangat menyukai pekerjaan tersebut meskipun ketika terjadi pengurangan karyawan pada tahun 1976, ia adalah orang pertama yang diberhentikan.

“Jadi pengangguran selama kurang lebih 6 bulan akhirnya saya dapat pekerjaan di EMKU yang beroperasi di pelabuhan udara Sepinggan, Balikpapan. Gajinya lebih kecil lagi, tetapi saya merasa sangat senang dengan pekerjaan itu. Walau gaji kecil saya merasa bisa ketemu dengan banyak orang termasuk orang-orang asing yang berhubungan dengan import / export barang keperluan perminyakan,” tegasnya.
Saat orang-orang lain naik pesawat udara masih merupakan mimpi saya sudah keliling Indonesia bahkan keluar Negeri tanpa bayar tiket karena terbang dengan charter flight perusahaan.
Pada masa ini mungkin karena punya dana dan waktu saya ingin kembali menyelesaikan pendidikan saya yang terbegkelai.

Jalan Kesuksesan Terbuka

Kus Marindi menemukan jalan menuju sukses ketika terjadi kebakaran (blowout) di sebuah rig (sumur minyak) milik PT Total Indonesie di daerah Tunu, Samarinda. Kebakaran hebat itu terus berkobar hingga berhari-hari lamanya karena perusahaan tidak memiliki stock material pemadaman api. Untuk memadamkan kebakaran tersebut, material harus didatangkan dari Singapura.

“Saya diundang oleh orang bule dari PT Haliburton Indonesia untuk meng-handle pengiriman material pemadaman api dari Singapura ke Balikpapan menggunakan pesawat terbang. Saya sampaikan kepadanya bahwa saya tidak punya capital untuk pekerjaan tersebut. Lha, material yang diangkut jumlahnya mencapai sekitar 20 flight, tentu butuh dana besar untuk mebayar charter flight maupun import duty nya. Sementara saya nggak punya apa-apa,” katanya.  Itu terjadi pada tahun 1984.

Rupanya, Allah mulai memberikan jalan hidup yang lebih baik baginya. Sekian lama Kus menjalani kehidupan yang pas-pasan, tiba saatnya membuka cakrawala baru. Si bule, tetap memintanya membuat rincian perhitungan biaya yang diperlukan untuk proyek tersebut. Antara percaya dan tidak, semalam suntuk, tidak tidur  ia menghitung kebutuhan dana dan menuangkannya dalam sebuah proposal.

“Pagi harinya, saya kembali bertemu dengan si bule tersebut dengan rasa pesimis dan tidak tahu apa yang dipikirkan oleh sibule ternyata proposal saya disetujui.  Bahkan dia meminta  untuk segera memulai pengirimannya,” tegasnya.

Proyek perdana ini dikerjakan Kus Marindi selama kurang lebih 10 hari. Selama itu, ia bekerja keras siang malam berangkat pagi pulang pagi untuk memastikan pekerjaan selesai tepat pada waktunya. Hingga akhirnya, semua barang material pemadaman kebakaran rig sampai di Balikpapan dan diserahkan kepada PT Haliburton Indonesia. Meskipun sangat lelah dan capek, ia sangat puas karena klien pertama pada proyek pertamanya juga sangat puas.
Setelah semua clear saat itu saya bisa membeli mobil pertama saya.

Kesuksesan menggarap proyek tersebut, membuka jalan lebih luas bagi perjalanan karier Kus Marindi. Tak berapa lama, ia mendapat telepon dan tawaran kerjasama dari perusahaan jasa kargo, Airmark Group dari Singapura. Perusahaan tersebut menawarkan dirinya untuk menjadi agen di Balikpapan dan sekitarnya. Tawaran tersebut diterimanya dengan ragu tetapi  juga sangat berminat.

“Awalnya dipenuhi perasaan ragu, apakah saya mampu mengelola bisnis sendiri atau tidak. Tetapi menurut saya, ini tantangan menarik yang tidak boleh disia-siakan. Di perusahaan pertama yang saya dirikan bersama adik ipar, adik ipar saya menjadi direktur. Ternyata keberuntungan saya disini, usaha saya maju dan tumbuh dengan sangat baik, berkembang ke usaha peternakan, percetakan dan lain-lain,” ungkapnya. Usahanya terus berkembang dan tahun 1988, ia membentuk  PT Intipratama groups dengan bidang usaha utama berfokus ke logistik. “Meskipun ada juga perusahaan yang tidak berhubungan, tetapi tetap saling mendukung,” imbuhnya.

Kembali terulang saat itu rasa ingin tahu saya, apa yang dpelajari dipendiidikn tinggi terutana saya merasa tidak tahu formalnya ilmu managemen, ternyata apa yang diajarkan sudah saya kerjakan bahkan saya merasa lebih expert dari pada dosennya.

Hampir semua orang berbicara kalau mau bisnis harus ada modal dari pengalaman saya mengatakan untuk berbisnis modal utama adalah kerja keras, jujur, konsisten terhadap tujuan, kalau dipercaya orang lain modal akan ikut mengalir.

Saat ini, kegiatan usaha yang dikelola Kus Marindi dan berjalan dengan sangat baik meliputi SPBU, pabrikasi dengan bendera PT Intipratama Global Teknik, custom clearance, transportasi darat, laut dan udara dan pergudangan dengan PT Intipratama Mulyasantika. Kemudian ada juga Perusahaan Bongkar Muat (PBM) PT Intipratama Global Services dan terakhir yang dalam project PT Intipratama Bandar Kariangau, mengelola terminal Cargo / pelabuhan khusus.

“Walaupun ada beberapa usaha yang terpaksa ditutup karena tidak mamadai antara hasil dan kesibukannya. Seperti percetakan, peternakan , supplyer secara keseluruhan semua berjalan dengan sangat sehat dan tanpa / belum ada  pinjaman dari pihak manapun termasuk pihak Bank. Sebagai penutup, saya mengucapkan terima kasih kepada Allah Yang Maha Esa. Kau telah memberikan yang terbaik padaku semoga hikmah ini bisa bermanfaat buat keluarga, masyarakat dan negara,” katanya.

Kurnia

No Comments

Kurnia
CV Hazna Indonesia/Shasmira

Membangun Indonesia Menjadi Kiblat Fashion Muslim Dunia

Umat Islam semenjak zaman Nabi Muhammad SAW telah menentukan kiblat untuk shalat, menghadap Kabah. Tetapi seiring perjalanan waktu, terjadi pergeseran kiblat umat Islam. Bukan lagi menuju Kabah, tetapi mengarah ke Bandung, Indonesia. Namun jangan salah sangka, karena kiblat yang mengarah ke Bandung bukan untuk shalat dan ibadah yang lain. Kiblat umat Islam ke Kota Kembang adalah tren fashion busana muslim.

Pencetus tren tersebut adalah CV Hazna Indonesia, produsen segala pernak-pernik busana muslim. Mulai kerudung atau jilbab, baju gamis, kopiah, sarung, sajadah, dan lain-lain. Dengan mempekerjakan, 40 staf, 100 penjahit dan 600 pengrajin, Hazna Indonesia dengan brand Shasmira telah hadir di 55 kota di Indonesia. Bahkan, produk busana muslim Haznah Indonesia telah menjangkau Brunei, Singapura, Malaysia dan Bangladesh.

“Ide awalnya dari istri saya untuk membuat kado spesial berupa kerudung sebagai oleh-oleh sepulang ibadah haji. Ternyata kerudung desain istri saya tersebut sangat disukai. Dan, karena kebetulan istri saya berkerudung kami memutuskan untuk mengembangkan produk ini sebagai sebuah bisnis,” kata Kurnia, pemilik dan pendiri CV Hazna Indonesia/Shasmira.

Saat itu, sebenarnya Kurnia sendiri masih bekerja di perusahaan swasta. Ia mencoba membuat beberapa kerudung dengan desain minimalis yang ternyata sangat disukai konsumen saat dilempar ke pasar. Kerudung minimalis segera saja menjadi tren karena terlihat fashionable dan tidak ketinggalan zaman. Dari situ, ia menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar untuk memasarkan desain kerudung miliknya.

Setelah beberapa lama, timbul keyakinan dalam diri Kurnia bahwa bisnis kerudung cukup menjanjikan. Ia kemudian memutuskan untuk berdiri sendiri dan membawa brand sendiri dengan nama Nisa 59. Menyusul kemudian pada bulan Agustus 2007 secara resmi ia meluncurkan brand Shasmira dengan produk yang lebih variatif sehingga dapat diterima bahkan oleh orang-orang yang sebelumnya tidak mengenal jilbab sama sekali.

“Saat ini jilbab bukan hanya sekadar untuk syariah, tetapi sudah menjadi fashionable. Sudah merupakan life syle, sehingga tidak sedikit orang yang sebelumnya tidak pakai jilbab tetapi begitu pakai jilbab menjadi lebih modis dan fashionable. Kedua kita harus menyadari bahwa penduduk Indonesia mayoritas muslim, sehingga itu adalah potensi pasar yang luar biasa. Saya perkirakan Indonesia akan menjadi kiblatnya fashion muslim tingkat dunia,” ungkapnya.

Kurnia sebagai seorang pebisnis, melihat bahwa prospek bisnis busana muslim ke depan cukup menjanjikan. Selain karena mayoritas penduduk Indonesia muslim, kesadaran masyarakat untuk memakai jilbab sangat tinggi. Ia mencontohkan bagaimana daerah-daerah seperti Aceh, Padang, dan Jawa Tengah penggunaan kerudung resmi menjadi aturan daerah. Selain itu, dunia hiburan pun ternyata turut mendongkrak popularitas kerudung dengan seringnya ditayangkan sinetron bernuansa religi.

“Oleh karena itu, kita juga melakukan penetrasi pasar dengan menggunakan sistem keagenan dengan empat tingkatan. Ada agen, member, distributor dan house network. Alhamdulilah kita sudah mampu membangun sekitar 600 jaringan distributor di seluruh Indonesia. Termasuk juga Asia, di Hongkong, Nederland, Brunei, Singapura dan Malaysia. Kita memiliki toko berkonsep kerjasama kemitraan dengan investor yang sekarang sudah berjumlah 55 House of Shasmira,” ujarnya.

Quality Control System

Sebagai tren setter busana muslim dunia, Kurnia memiliki berbagai kiat untuk memperteguh eksistensi produknya. Jaringan pemasaran yang luas dan harga produk yang terjangkau adalah salah satu strategi bisnisnya. Meskipun di pasaran juga beredar produk tanpa merek yang beredar di pasar-pasar tradisional.

“Tetapi kalau kita menaikkan harga sesuai dengan kompetitor, kita akan kalah. Makanya ini harus disiasati dengan mencari solusi alternatif dengan harga yang lebih rendah tetapi kualitasnya sama. Biasanya, itu kita lakukan dengan menembus langsung produksi barang tanpa perantara. Jadi langsung pada sumbernya,” tegasnya.

Selain itu, Kurnia juga terus meningkatkan skill dan kemampuan SDM. Tujuannya agar hasil kerja SDM sesuai program dan harapan perusahaan. Caranya melalui berbagai bimbingan dan pelatihan yang secara berkala diberikan perusahaan kepada seluruh SDM. Ia juga menerapkan sistem yang mampu mengontrol seluruh hasil kerja karyawan.

“Kita menambahkan sistem kontrol dari semua pekerja kita dengan menerapkan sistem QC. Jadi setiap barang yang masuk kita kontrol lagi dan barang yang tidak sesuai kita kembalikan untuk diperbaiki. Kenapa, karena kalau diserahkan kepada mereka tanpa kontrol yang ketat, maka kualitas kita nanti menjadi tidak seragam,” sergahnya.

Apalagi, lanjut Kurnia, meskipun pengguna brand di persaingan bisnis baju muslim jarang, tetapi ia harus tetap waspada. Hingga saat ini, jumlah pengusaha busana muslim sekitar 50-100 pengusaha. Sebuah jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan 200 juta penduduk muslim di Indonesia. “Kita harus bersaing dengan produk lokal seperti di Bukittinggi, tetapi kita harus siap untuk go international,” tegasnya.

Menurut Kurnia, yang patut diwaspadai dalam persaingan usaha busana muslim global adalah kemampuan China dalam memproduksi barang. Produsen China mampu membuat barang sesuai dengan pesanan harga yang diinginkan pelanggan. Dari yang paling mahal sampai termurah mereka mampu membuat dengan desain yang cukup bagus.

“Kita memang bisa menyesuaikan diri dengan mengurangi margin keuntungan. Tetapi produk China dengan harga murah ini cukup berdampak pada pemasaran kami untuk menjangkau kalangan menengah bawah. Kalau kalangan menengah ke atas, mereka pasti akan berpikir dua kali untuk menggunakannya, terkait kualitasnya. Sedangkan masyarakat bawah, tidak terlalu peduli yang penting fungsi dan harga. Masalah kekuatan dan kenyamanan nomor dua,” tuturnya.

Ke depan, Kurnia berharap akan melakukan berbagai pengembangan pemasaran. Salah satnya adalah dengan menempatkan satu orang perwakilan Shasmira pada setiap kota di Indonesia. Ia juga ingin setiap orang Indonesia mengenal produk perusahaan dan tidak terbatas hanya sekadar mengenal tetapi juga membeli dan mereferensikan produk Shasmira kepada orang lain.

“Kita ingin Shasmira tidak hanya dikenal di Indonesia tetapi juga go international. Target itu kita lakukan dengan terus menerus mengembangkan difersifikasi produk itu sendiri, dengan mengikuti tren yang ada di masyarakat. Karena pergantian mode sangat cepat sekali di masyarakat dan mencapai hitungan per bulan. Konsumen itu raja yang berhak menentukan pilihan sesuai keinginan masing-masing,” tegasnya.

Generasi Berpikir “Bisa”

Kurnia menjelaskan arti harfiah shasmira untuk menamakan brand busana muslim besutannya. Shasmira merupakan nama bunga sangat indah yang berasal dari India. Sementara dalam sejarah Islam, Shasmira juga dikenal sebagai pejuang wanita yang gagah berani sehingga identik dengan wanita. Di zaman sekarang pun, ia mendapati kisah tentang Siti Shasmira yang berjuang demi kemajuan anak-anak bangsa di lokasi terpencil.

“Shasmira juga sebuah nama yang unik sehingga mudah diingat. Jadi kalau orang menyebut shasmira, mereka akan mengasosiasikan dengan baju muslim. Saya juga membangun ini dengan penuh perjuangan, tetapi saya berharap agar perusahaan semakin besar dan memberikan kontribusi bagi pemerintah untuk menanggulangi pengangguran. Harapan saya nanti ke depan, anak-anak bisa melanjutkan dan mengembangkan perusahaan ke arah yang lebih baik,” ujarnya.

Di sisi lain, Kurnia berharap agar pemerintah bisa membantu UMKM seperti usahanya. Bantuan yang sangat diharapkan berupa bantuan permodalan yang sangat berguna bagi perusahaan kecil dan menengah seperti CV Hazna Indonesia dengan persyaratan yang mudah. Ia juga berharap agar pemerintah terjun langsung melakukan pembinaan terhadap pengusaha kecil. Tujuannya agar mereka bisa meningkatkan pengetahuan sehingga perusahaan semakin besar dan menyerap banyak tenaga kerja. Dengan begitu, terjadi hubungan saling membutuhkan satu sama lain antara pemerintah dan dunia usaha.

Kurnia mengingatkan, bahwa angkatan kerja setiap tahun selalu bertambah. Sementara peran pemerintah adalah mengubah pola pikir masyarakat, terutama orang tua untuk mengetuk kesadaran generasi muda agar memiliki jiwa entrepreneur. Yakni bagaimana mereka tidak berpikir mencari kerja di mana setelah lulus kuliah, tetapi bagaimana timbul pemikiran untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

“Itu yang harus digalakkan pemerintah, sehingga apabila semua lulusan perguruan tinggi mampu berusaha sendiri, income per capita meningkat, mengikis pengangguran dan lain-lain. Di sisi lain, pemerintah juga harus memfasilitasi kemitraan antara perusahaan besar dengan perusahaan kecil. Setidaknya untuk memperoleh proyek mereka harus membantu pengusaha kecil terlebih dahulu untuk memberikan kesempatan berwira usaha kepada setiap penduduk. Kalau sudah begitu, saya yakin masyarakat Indonesia akan semakin baik di masa mendatang,” ujarnya.

Kepada generasi muda, Kurnia berpesan agar mereka menanamkan dalam diri masing-masing bahwa untuk mendapatkan penghasilan tidak harus dengan bekerja. Generasi muda mampu menghasilkan pendapatan dengan cara berkarya, yakni menciptakan sebuah karya yang memiliki nilai jual. Generasi muda juga harus memikirkan bagaimana karya yang tercipta memiliki nilai komersial dengan menggandeng orang lain untuk berkolabarosi.

“Itu akan lebih baik daripada selesai kuliah kemudian melayangkan surat lamaran ke mana-mana dan menunggu. Ini misalnya dilakukan oleh Bill Gates yang meng-create sebuah karya dan mencari mitra untuk membesarkan Microsoft. Oleh karena itu, generasi muda harus selalu berpikir bahwa mereka bisa. Karena berpikir bisa akan merangsang kreativitas, inovasi, dan lain-lain. Sementara kalau berpikir tidak bisa akan mematikan potensi yang dimiliki. Makanya berpikirlah bisa. Saya bisa menjadi pengusaha, saya bisa menghasilkan karya yang baik dan sebagainya,” pungkas Kurnia, pemilik CV Hazna Indonesia.

Johan Wang

No Comments

Johan Wang
Direktur Utama PT Jocelyn Anugrah Jaya

Mengalami Keajaiban dan Mukjizat Hidup Diwujudkan pada Miracle Agency

Beberapa kali kejadian ajaib dialami oleh Johan Wang, Direktur Utama PT Jocelyn Anugrah Jaya. Kejadian ajaib tersebut selalu berhubungan dengan keselamatan dirinya sehingga nyawanya berada di ujung tanduk. Salah satunya, ketika masih  kuliah tahun 1999, ia terserempet metromini saat naik motor ke kampus. Celakanya, ia jatuh ke kolong truk kontainer yang sedang melaju. Tak ayal, tubuhnya terseret truk kontainer sejauh sepuluh meter.

Meskipun demikian Johan Wang selamat. Ia “hanya” mengalami patah tulang di hampir sekujur tubuhnya. Setelah tergolek di rumah sakit selama satu tahun lamanya, ia dinyatakan sembuh dan bisa beraktivitas seperti sedia kala. Sejak itulah, ia sangat antipati terhadap obat dan dokter. Trauma tersebut terus dibawanya hingga bekerja, menikah dan memiliki anak. Hingga suatu saat, vonis dokter menyatakan dirinya suspect leukemia dan harus menjalani perawatan intensif.

“Ini keajaiban dan mukjizat untuk kali kedua setelah dilindas kontainer. Suami saya dinyatakan menderita leukemia akut saat menjalani pengecekan di Singapura. Peluang untuk sembuh diperkirakan hanya 30 persen kalau tidak segera ditangani. Rumah sakit di sana mengajukan dana Rp1 miliar untuk perawatan suami saya. Tetapi saya bersikeras membawanya pulang ke tanah air,” kata istrinya.

Ia dan suaminya kemudian kembali ke Indonesia untuk menjalani pengobatan herbal. Berbagai macam obat-obatan herbal dari seluruh penjuru nusantara dicoba demi kesembuhan sang suami. Ratusan juta rupiah telah dihabiskan untuk pengobatan yang ternyata tidak membuahkan hasil tersebut.

Bukannya berkurang, leukemia yang diderita Johan Wang semakin parah. Dari hidung dan gusinya terus menerus terjadi pendarahan, sementara di sekujur tubuhnya timbul bercak-bercak besar kemerahan. Ia hanya mampu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa demi kesembuhan suaminya.

“Tuhan memang Maha Baik. Suatu hari, Dia mengirimkan penderita leukemia kronis ke rumah. Orang tersebut menyarankan untuk tetap konsultasi ke dokter sebagai pegangan meskipun menggunakan herbal untuk pengobatan. Kami menurutinya dan mempercayakan pengobatan kepada dokter yang disarankan orang tersebut,” tandasnya.

Johan Wang, kemudian disarankan untuk menjalani kemoterapi di RS Ciptomangunkusumo  oleh dokter tersebut. Satu kali kemoterapi dan menghuni ruang isolasi selama 45 hari tidak menunjukkan hasil maksimal. Mungkin penyebaran sel kanker yang sudah mencapai paru-paru menjadi penyebabnya. Bahkan, sel kanker didiagnosa telah menguasai 90 persen darah yang beredar di tubuh. Dikhawatirkan, apabila sel kanker sudah mencapai otak nyawa Johan  Wang tidak tertolong.

Sekali lagi, Johan Wang harus mengulang proses kemoterapi dan isolasi dari awal. Sang istri hanya diperbolehkan menunggui suaminya dari luar ruangan. Tanpa henti, ia memanjatkan doa untuk kesembuhan Wang sembari mengasuh anaknya yang kala itu belum genap berumur satu tahun. Perlahan namun pasti, tanda-tanda kesembuhan mulai nampak. Setelah satu tahun tergolek di rumah sakit, Johan Wang dinyatakan terbebas dari leukemia.

“Puji Tuhan, ini benar-benar keajaiban dan mukjizat dari-Nya. Kebahagiaan dan rasa syukur tiada tara kami rasakan. Apalagi setelah keluar dari rumah sakit, kita masih mendapat bonus jalan-jalan ke Turki dari Prudential. Semua berkat mukjizat Tuhan, mulai terlindas kontainer sampai sembuh total dari leukemia, tanpa campur tangan Tuhan tidak akan terjadi. Oleh karena itu, saat bulan Januari 2011 membuka perusahaan, kita namakan Miracle Agency,” tuturnya.

Berkat Tuhan pula yang membuat brand Miracle Agency dari perusahaan PT Jocelyn Anugrah Jaya dengan cepat berkembang. Dengan persaudaraan dan pertemanan yang sangat kuat, dalam waktu singkat telah memiliki 1000 agen dengan 110 leader. Bahkan cabang perusahaan pun berdiri tidak hanya di Jakarta, tetapi juga Bangka, Jambi, Sungai Liat, Bandung dan lain-lain. Tidak hanya itu, dari 220 insurance agency di seluruh Indonesia Miracle Agency menduduki peringkat 10 nasional.

Membantu Orang

Awalnya Johan Wang tidak begitu tertarik dengan dunia asuransi. Sebagai perantau dari Jambi dan kuliah di Jakarta, ia indekos di kamar berukuran dua kali tiga meter. Setelah lulus kuliah ia bekerja sebagai staf auditor. Salah satu teman kos Johan bernama Heri, dilihatnya memiliki kehidupan yang lebih baik. Ternyata Heri adalah agen perusahaan asuransi Prudential.

“Suami saya melalui Heri kemudian bergabung dengan Prudential. Meskipun awalnya ia menyangka MLM, tetapi ia berketetapan hati untuk bergabung dan bekerja sebagai agen asuransi. Ia pun resmi mengundurkan diri dari perusahaan lama –meskipun sempat diiming-imingi kenaikan gaji- tetapi ia sudah bulat keputusan untuk bergabung di Prudential. Di sini ia memiliki misi yang luar biasa, yakni membantu orang menyiapkan masa depan mereka,” kisahnya.

Landasan misi mulia tersebut, lanjutnya, membuat karier Johan Wang dengan cepat meroket. Hanya dalam tempo tujuh tahun, ia sudah menduduki posisi paling atas sebagai agency manager (2008). Hampir setiap tahun perusahaan mengeluarkan bonus untuk Johan Wang berupa jalan-jalan ke luar negeri. Selain itu, penghasilan besar dari asuransi membuatnya mampu membeli rumah, mobil dan lain-lain.

Bahkan, saat dinyatakan suspect leukemia pun penghasilan Johan Wang tidak berkurang. Uplink managernya menjamin bahwa usaha sales asuransi yang dijalankannya tetap berjalan seperti biasa. Bisa dibilang, inilah bisnis yang menjadi pasif income sebenarnya. Karena saat Johan sakit, biaya operasional –seperti cicilan rumah, mobil dan biaya hidup keluarga- sebesar Rp60 juta per bulan tertutupi.

“Jadi saya tidak perlu menjual rumah atau asset lain sama sekali. Apalagi, semua biaya pengobatan suami saya benar-benar ditanggung oleh Prudential. Untungnya, perusahaan memiliki kebijaksanaan apabila nasabah menderita penyakit akut seperti kanker, leukemia dan lain-lain, polis diberikan secara cash. Yang lebih menenangkan lagi, saat suami jatuh sakit teman-teman sudah siap menggalang dana. Tetapi berkat Prudential semua telah terbantu,” kisahnya penuh syukur.

Di saat-saat sedang menderita cobaan hidup seperti itu, Johan Wang dan istrinya menyadari siapa teman dan sahabat sejati. Disamping ada yang dengan sukarela memberikan bantuan materi, ada juga yang mengetahui kondisinya lantas meninggalkan pasangan ini begitu saja. ”Kalau lagi senang, semua teman berdatangan tetapi ketika kita jatuh satu per satu meninggalkan kita. Nah, saat Johan sakit itulah baru kelihatan siapa teman-teman kita,” imbuhnya.

Melalui Miracle Agency, pasangan Johan Wang dan istri, membangun kesuksesan bersama. Mereka tidak hanya berpikir untuk kesuksesan pribadi tetapi juga membuat banyak orang sukses. Dengan berbisnis di agen asuransi Prudential kesempatan untuk memperbaiki kehidupan terbuka lebar. Ia mengisahkan bagaimana banyak anak buahnya yang memiliki keinginan kuat untuk maju berhasil meraih impiannya.

Apalagi dalam menjalankan bisnis agen asuransi Prudential relative tidak memerlukan modal sama sekali. Yang diperlukan hanyalah kemauan untuk maju mencapai impian yang dicita-citakan mencapai kehidupan yang lebih baik. Seorang agen hanya dituntut untuk ulet, memiliki tujuan yang jelas dan siap dengan risiko yang sangat kecil.

“Risikonya hanya menghadapi penolakan dari nasabah, itu saja. Dan penolakan akan tidak menjadi masalah kalau kita memiliki goal dan dream. Saya bilang belum ada bisnis seluar biasa Prudential. Tanpa modal, nilainya ratusan juta, hasilnya juga luar biasa, dengan risiko hanya penolakan. Saya dalam kurun waktu tujuh tahun sudah mampu memperoleh income diatas Rp100 juta per bulan. Padahal modal awal hanya Rp6 ribu untuk materai,” tegasnya.

Risiko Penolakan

PT Jocelyn Anugrah Jaya dibawah Johan Wang sebagai Direktur Utama setelah mencapai ranking 10 besar agen asuransi menetapkan untuk masuk 5 besar dalam beberapa tahun ke depan. Tetap bervisi untuk membantu orang mencapai kehidupan lebih baik, perusahaan mengalami akselerasi kemajuan yang sangat pesat. Beberapa bulan berjalan, perusahaan telah mencatatkan omzet rata-rata Rp1,5 miliar per minggu.

“Saya cuma menerapkan kekeluargaan, kekompakan dan lain-lain. Untuk merangsang sales, kita membuat kontes jalan-jalan, ke Hongkong, Phuket dan lain-lain. Atau angpao bagi mereka yang berhasil mendapatkan tiga nasabah. Yang jelas, karena percepatan usaha kita sangat luar biasa, kami yakin tembus sepuluh besar. Pokoknya tetap mengusung visi meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan menjadi lebih tinggi. Bring miracle for every family yaitu memberikan keajaiban bagi setiap agen dan leader yang bernaung dalam Miracle Agency. Sementara bagi nasabah banyak manfaat yang mereka rasakan dari produk-produk Prudential,” tegasnya.

Untuk mencapai visi tersebut, selain mengadakan kontes dan jalan-jalan perusahaan juga memberikan bantuan berupa training dan pelatihan. Tujuannya untuk membekali para agen agar mereka memiliki skill yang cukup untuk menghadapi tantangan ke depan, menguasai produk yang dijual serta motivasi yang tinggi untuk maju. Ibarat handphone, mereka di-charge untuk menambah stamina sebelum terjun dalam persaingan pasar asuransi yang semakin sengit.

Selain itu, Johan Wong menargetkan untuk membawa perusahaan mencapai lima besar agen asuransi di Indonesia. Karena dengan predikat lima besar berarti akan semakin mudah dalam mencari nasabah. Selain itu, banyaknya produk asuransi dari Prudential yang memenuhi kebutuhan nasabah juga memudahkan tugas agen asuransi. Di sisi lain, manfaat asuransi bagi nasabah juga sangat banyak. Mulai merancang masa pensiun, anak sekolah, sakit parah dan lain-lain dapat tercover asuransi.

“Masyarakat harus tahu bahwa setiap tahun selalu ada penyakit baru yang terdeteksi, karena mutasi penyakit semakin beragam. Nah, nasabah kalau sudah sakit, ujung-ujungnya masuk rumah sakit juga. Kenyataannya banyak orang di rumah sakit yang tidak tertolong gara-gara kesulitan dana. Di situlah pentingnya asuransi, kalau terjadi apa-apa tidak perlu menjual asset yang dengan susah payah dikumpulkan,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, secara pekerjaan bekerja sebagai agen asuransi cukup mudah. Bagi agen yunior, untuk mencapai kesuksesan cukup melakukan persis seperti yang dikerjakan oleh para seniornya. Karena para senior telah berpengalaman dan membuktikan bahwa apa yang dikerjakannya dalam bisnis ini telah menghasilkan limpahan materi bagi keluarga.

Selain itu, bagi generasi muda yang belum memiliki pekerjaan tetap, bekerja di perusahaan asuransi seperti Prudential sangat menjanjikan masa depan. Penghasilan sebagai agen asuransi mampu mencukupi kebutuhan hidup, dengan peluang karier yang terbuka lebar serta kesempatan keliling dunia. Agen asuransi juga mempunyai kesempatan untuk memiliki kebebasan financial tidak terbatas dengan keikutsertaannya pada program perusahaan tempatnya bekerja.

“Untuk yang sudah bekerja di Prudential, saya sarankan agar mereka mengikuti sistem saja untuk sukses. Kunci suksesnya cuma copy paste, mengikuti omongan leader karena mereka sudah membuktikan. Seperti saya bisa beli rumah, mobil dan lain-lain yang merupakan hasil dari pekerjaan sebagai agen asuransi. Apalagi untuk ke depan, market kita masih luar biasa. Karena selama masih ada kehidupan –kelahiran, pertumbuhan penduduk dan lain-lain- asuransi akan terus diperlukan. Sementara tenaga pemasaran asuransi pun masih sangat sedikit, dan yang harus diingat adalah risiko pekerjaan ini hanya sekadar penolakan saja,” katanya.

Profil PT Jocelyn Anugrah Jaya

PT Jocelyn Anugrah Jaya merupakan salah satu kantor manager mandiri (Agency) dari PT Prudential Life Assurance yang didirikan pada tanggal 15 April 2010 oleh Bapak Johan sebagai pemilik sekaligus pemimpin perusahaan dan disyahkan dengan akte notaris Hannywati Gunawan, SH, No 34. Perusahaan bergerak di bidang jasa khususnya asuransi jiwa dan mulai beroperasi pada tanggal 3 Januari 2011, beralamat di gedung Permata Kuningan, Jakarta Selatan.

Perusahaan lebih di kenal dengan brand Miracle Agency untuk mempermudah komunikasi antara pihak Prudential (kantor pusat) dengan agency. Karena setiap agency memiliki kode kantor yang berbeda satu dengan lainnya dan bernaung dalam satuan region.

Miracle Agency di bawah pimpinan Johan Wang telah banyak melahirkan leader – leader yang solid dan berkomitmen dari semua tingkatan jenjang karier. Antara lain Unit Manager (UM), Senior Unit Manager (SUM) dan tingkatan yang paling tinggi yaitu Agency Manager (AM). Untuk sebuah agency baru dengan begitu banyaknya leader merupakan suatu kekuatan group yang besar. Selain di Jakarta, Miracle Agency juga memiliki kantor cabang di Bandung, Jambi, Bangka, Pangkalpinang dan Sungai Liat.

Visi dan misi PT Jocelyn Anugrah Jaya

Visi
Menggapai semua kesuksesan dengan satu tujuan demi keberhasilan perusahaan dalam perkembangannya

Misi
Menjadi agency terbaik dan memiliki suatu komitmen untuk berkembang terus dan melampaui semua pengharapan yang ada

Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari misi, Miracle Agency mempunyai landasan sebagai suatu kekuatan dasar berdiri dan berkembangnya perusahaan sebagai berikut:
Semangat untuk menjadi yang terbaik
Organisasi yang memberikan kepada orang lain untuk belajar
Bekerja sebagai suatu keluarga.

A. Hj Yusroren Elizabeth

No Comments

A. Hj Yusroren Elizabeth
Direktur Utama PT Tazakka Ceria Wisata dan PT Yus Jun Mahir Group

Menciptakan Dream Demi Masa Depan Lebih Baik

Jangan pernah meremehkan impian, bahkan yang paling tidak masuk akal sekalipun. Dengan tetap bermimpi, manusia akan terus berjuang dalam mewujudkan impiannya. Tetapi, diperlukan kerja keras dan tidak berputus asa dalam upaya menjadikan impian sebagai kenyataan. Begitu seterusnya, setelah satu impian tercapai kemudian menciptakan impian yang lain.

“Saya selalu mempunyai dream dan membuat impian itu menjadi kenyataan. Misalnya tahun sekian saya harus begini, tahun sekian harus punya itu, dan lain-lain. Semua itu akan memicu dan memotivasi untuk terus berusaha dan berjuang mencapai dream-dream dalam hidup kita. Jangan karena Anda wanita kemudian takut untuk mempunyai mimpi. Bermimpilah, toh impian itu tidak harus beli, gratis. Jadi wujudkan mimpi-mimpi kita demi masa depan yang lebih baik. Yakinlah bahwa Allah itu maha adil,” kata Hj Yusroren Elizabeth, Direktur Utama PT Tazakka Ceria Wisata.

Perempuan yang akrab dipanggil Yus ini mengisahkan rahasia sukses yang telah dicapainya berkat impian-impian yang tanpa henti diperjuangkannya. Dilandasi kepasrahan dan keihlasan dalam menghadapi kehidupan, ditambah keyakinan agama yang kuat, langkahnya dalam bisnis tak terbendung. Ia sukses membesarkan perusahaan yang bergerak dalam penyedia jasa tour dan travel khusus haji dan umrah sejak tahun 2002.

Perempuan kelahiran Palembang, 10 Mei 1970 ini, meyakini Tuhan telah menentukan rezeki bagi umatnya. Apapun yang dikerjakan manusia pasti akan mendapat balasan setimpal dari-Nya. Sebagai manusia, ia juga memperbanyak perasaan syukur atas segala anugerah yang diberikan Tuhan. Semua itu, membuat perasaan ikhlas semakin mewarnai setiap ucapan dan tindakannya sehari-hari.

“Kalau sudah memiliki perasaan ikhlas dalam diri kita, yang ada hanya dream dan target. Di otak saya tidak ada perasaan bersaing, sehingga tidak memiliki jawaban pertanyaan bagaimana mengatasi persaingan. Bagi saya rezeki digerakkan oleh Allah tanpa harus bersaing dengan orang lain. Tidak ada kamus persaingan dalam hidup saya, yang ada hanyalah dream-dream dan target,” ujarnya.

Perasaan ikhlas membuat Yus lebih fokus terhadap pekerjaan yang ditekuni dan mengejar impian dan target-target yang telah ditetapkan. Ia mengembangkan perusahaan hingga mampu melakukan ekspansi usaha di bidang keagenan, entertainment, dan interior design dengan bendera PT Yus Jun Mahir Group.

“Kalau kita bersyukur, pasti nyaman menjalani kehidupan. Kita harus berdoa untuk menggapai rezeki yang ada di langit, disertai usaha keras. Apapun kalau sudah ada jalannya, sudah pas track-nya, pasti kita enak karena tinggal menjalani,” ungkapnya. Menurut ia, semua tergantung kepantasan terhadap rezeki yang akan diberikan Tuhan. Selama masih pantas, rezeki bisa diharapkan kehadirannya. “Kalau yang tidak pantas jangan diharapkan, pokoknya yang sepantasnya saja,” imbuhnya.

Single Parent

Hj Yusroren Elizabeth selama empat tahun tinggal di Kairo, Mesir bersama mantan suami. Saat krisis moneter melanda dunia tahun 1998, ia kembali ke tanah air. “Sejak itu saya terpacu untuk membesarkan Tazakka dan menjadi orang tua tunggal atau single parent bagi anak-anak,” kisahnya.

Ditinggalkan orang yang dicintai tidak membuat Yus jatuh terpuruk dalam keputusasaan. Ia bangkit, berdiri tegak dan berjuang membesarkan perusahaan. Secara bersamaan, ia berusaha mengimbangi pertumbuhan psikologis ketiga buah hatinya. Karena bagaimana pun, kehadiran sosok seorang ayah sangat diperlukan dalam mendidik anak. Untunglah, anak-anaknya mendukung langkah sang ibu dan menjadi kekuatan luar biasa baginya. Yus telah bertransformasi menjalankan peran sebagai seorang ibu, ayah, dan pemimpin perusahaan sekaligus.

Semua hinaan dan makian akibat peristiwa tersebut dihadapi Yus dengan tenang. Ia merasa hinaan tersebut pantas untuk perempuan seperti dirinya yang “melepaskan” suaminya dengan wanita lain. Tetapi semua dihadapi dengan tenang, karena baginya hinaan yang dialami Nabi Muhammad SAW jauh lebih berat. Sebagai manusia biasa, ujian yang dihadapinya memang berat namun tidak menyurutkan langkahnya untuk maju.

“Apapun hinaan dan makian yang dialamatkan orang kepada saya, jawaban saya adalah Alhamdulilah Wasyukurillah, itu menjadi pegangan saya. Sepahit apapun yang diberikan Allah kepada saya semua saya syukuri dengan mengucap Alhamdulilah. Saya mungkin pantas untuk dihina tetapi justru itulah yang menjadi cambuk bagi saya untuk bangkit,” ungkapnya. Mengenai ujian yang diterima, Yus merasa dimuliakan Tuhan dengan ujian-ujian berat yang dihadapinya. Karena dengan ujian yang berat justru akan memberikan kekuatan. “Emas pasti diuji, kalau perak sudah pasti orang tidak mau repot-repot mengujinya,” imbuhnya.

Yus juga berhasil membesarkan anak-anaknya tanpa bantuan dari keluarganya sendiri ataupun keluarga suami. “Satu sen pun dia tidak memberikan nafkah untuk membesarkan anak-anak. Maka saya katakan kepada anak-anak, bahwa Allah telah memberikan rezeki yang mencukupi melalui Mama. Berarti kalian tidak perlu minta kepada Papa,” tambahnya.

Yus yakin, selama manusia berusaha pasti Allah akan memberikan rezeki yang melimpah. Maka dengan brand Tazakka yang sudah dipunyai, ia bekerja memutar otak. Ia memperhatikan kebutuhan jamaah hingga sedetail mungkin sehingga mereka puas dengan pelayanan perusahaan. Tingkat kepuasan yang tinggi dari jamaah yang menggunakan jasanya telah berkembang menjadi keuntungan bagi perusahaan.

Keberhasilan yang telah berhasil diraih, menurut Yus tidak lepas dari manajemen yang diterapkan bungsu delapan bersaudara pasangan H M Noeh dan Hj Yamah ini. Apalagi dasar pendidikannya berasal dari seni bukan ekonomi, alat ukur yang digunakannya pun tidak kaku. “Kepuasan jauh lebih penting daripada sekadar materi. Apapun hasil yang dikerjakan tetap saya terima dan selalu ada rezeki untuk anak-anak. Berapapun keuntungan saya selalu bersyukur agar Allah melipatgandakan nikmat yang kita terima. Seperti  janji-Nya di dalam kitab suci Alquran,” kata perempuan yang menyebut “Baitullah, Rumah Allah” sebagai tempat liburan favoritnya ini.

Terjun Langsung

Sebagai pimpinan PT Tazakka Ceria Wisata, Hj Yusroren Elizabeth tidak segan-segan untuk terjun langsung menghadapi jamaah. Tidak hanya secara administrative tetapi bahkan menjadi pembimbing jamaah haji dan umrah. Selain itu, ia dengan senang hati menyelesaikan masalah yang ditimbulkan oleh tindakan staf-stafnya.

“Kalau ada masalah dengan jamaah, bukan staf yang ‘dikorbankan’ seperti dalam permainan catur. Tetapi saya terjun langsung menghadapi dan menyelesaikannya. Karena staf saya kan tidak bisa langsung action membuat keputusan, sedangkan saya bisa,” katanya.

Yus juga dianugerahi Tuhan dengan kemampuan hebat dalam berkomunikasi. Ia mampu dengan cepat akrab dengan orang lain serta mampu mencairkan suasana. Dengan menerapkan “Manajemen Ibu”, semua karyawan mulai dari office boy hingga jabatan tinggi dianggap sebagai kerabat/saudara. Kepercayaan juga diberikan kepada seluruh karyawan untuk bertanggung jawab terhadap tugas masing-masing. Mereka disadarkan bahwa tanggung jawab terhadap pekerjaan akan kembali kepada mereka dalam bentuk kesejahteraan.

Dampaknya, lanjut Yus, para karyawan yang diperlakukan sebagai keluarga dengan kepercayaan dan tanggung jawab bekerja sebaik-baiknya. Mereka berusaha memberikan kontribusi maksimal bagi kemajuan perusahaan. Apalagi dalam setiap kesempatan membuka usaha baru, para karyawan selalu terlibat di dalamnya. “Bahkan pengeluaran satu rupiah pun ada laporannya. Ini merupakan bentuk rasa memiliki pada karyawan,” terangnya.

Yus merasa sangat bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan kepada dirinya. Tiga anak yang soleh, karyawan yang baik dan usaha yang terus maju pesat. Keikhlasan yang melandasinya dalam bekerja membuat dirinya nyaman dan tidak pernah mengeluh. Semua dijalani dengan penuh syukur atas segala kelebihan yang diberikan Tuhan, tanpa harus komplain terhadap pemberian-Nya.

“Semua orang diberikan kelebihan, tinggal bagaimana kita meng-explore-nya. Yang penting kita bekerja jangan pernah berputus asa, karena rezeki Tuhan yang akan mengatur. Kita harus bekerja di jalan Allah, jujur, bersyukur dan lurus dalam menjalani kehidupan, serta tetap optimis. Jangan komplain terhadap apa yang terjadi dengan kita, karena membuat hidup tidak nyaman. Kalau dijalani dengan bersyukur pasti jauh lebih nikmat, apapun yang Allah berikan,” tukasnya.

Menurut Yus, apapun yang dihadapi manusia adalah jalan Tuhan yang sudah ditentukan. Manusia yang ikhlas dan menerima yang telah digariskan serta tetap berusaha bersungguh-sungguh menjalaninya akan diberikan jalan terbaik. Ia mencontohkan bagaimana dirinya yang terpaksa menjalani sesuatu yang halal tetapi dibenci Allah, perceraian.

Namun justru dari situ, Yus bangkit dan membuktikan bahwa perempuan juga mampu berkarya. Perempuan tanpa “suami” mampu memberikan manfaat bagi sesamanya dengan membuka lapangan kerja yang luas. Perempuan juga mampu membesarkan anak-anaknya sendirian dengan prestasi mengesankan. Begitu juga beberapa perusahaan yang berada dibawah kendalinya, semua maju pesat. Bagaikan Raja Midas, semua yang disentuhnya menjadi emas dan menambah pundi-pundi kekayaannya.

“Saya mencari berkahnya saja, tidak ada sedikit pun niat untuk dipuji nanti malah jadi kufur. Saya tidak pernah berpikir tentang margin keuntungan, yang penting saya berbuat sebaik-sebaiknya. Sisanya Allah yang akan memutuskan. Bagi saya hidup adalah bagaimana kita menyikapinya. Kalau kita mengambil senang, setiap hari isinya senang melulu. Kalau mau susah, ya susah setiap hari. Allah tidak berharap terhadap apapun yang dilakukan manusia. Ibadah yang kita lakukan adalah untuk kita sendiri di akherat, bukan untuk kepentingan-Nya,” ujarnya.

Oleh karena itu, Yus sangat patuh terhadap perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Semua yang dijalani hingga saat ini tidak lepas dari campur tangan Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, kesuksesan yang telah diraihnya saat ini tidak lepas dari doa ibunya. Ia mengikuti perintah-perintah ibunya seperti yang diajarkan Rasulullah SAW.

“Saya sukses seperti sekarang karena doa ibu-ibu saya. Dari kecil saya tidak pernah bilang “ah” kepada ibu saya, makanya saya sukses seperti ini. Doa mereka yang membuat saya seperti ini, berasal dari: Ibu Hj Yamah, ibu kandung saya di Bengkulu, Ibu Hj Ba’a Hasan, ibu saya di Jambi dan Nenek Keke, ibu saya yang ada di Jakarta. Semua mendoakan keberhasilan dan Alhamdulilah, doa-doa mereka dikabulkan Allah,” katanya penuh syukur.

Boks
Hj Yusroren Elizabeth di mata mereka

Berikut adalah pendapat, kesaksian dan opini orang-orang yang mengenal sosok Direktur Utama PT Tazakka Ceria Wisata ini. Beberapa kesamaan dalam diri ibu tiga anak ini menurut mereka adalah semangat pantang menyerah, ketangguhan, keseriusan dalam bekerja dan empatinya yang tinggi.

Di sisi lain, sebagai wanita karier, Hj Yusroren Elizabeth benar-benar merepresentasikan seorang muslimah yang patut diteladani tanpa harus menanggalkan kodratnya sebagai perempuan. Berikut penuturan selengkapnya:

Ustadz H Hasan Bisri, Spd.i., MMpd., (Tokoh masyarakat dan pembimbing jamaah)
“Memuaskan Jamaah”

Saya berharap agar Ibu bersama Tazakka tetap mempertahankan kepuasan dan pelayanan terhadap jamaah. Begitu juga dengan bimbingan yang juga berhasil memuaskan jamaah. Karena sampai saat ini belum ada komplain dari jamaah yang harus dipertahankan. Malah sebaliknya banyak jamaah yang membawa jamaah lain untuk menggunakan jasa Tazakka. Pesan saya pertahankan dan tingkatkan pelayanan kepada jamaah.

Jacky, Manager YuStore Jambi
“Sosok yang sangat keibuan”

Sosok Ibu Yusro adalah seorang perempuan yang sangat keibuan. Meskipun datang hanya satu bulan sekali tetapi selalu fokus pada permasalahan di Jambi. Saat hadir seluruh bertanya kepada setiap karyawan segala permasalahan yang dihadapi.

Karena Yustore adalah agen resmi satu-satunya di Jambi maka mendapat dukungan dari Pemda Jambi dan media massa melalui para wartawannya. Bekerja sama dengan Indosat dan XL untuk servis juga karena sekarang pengguna Blackberry sudah amat banyak, begitu pula di Jambi dan hanya satu-satunya.

Dewi Anggraini, SH (Ibu rumah tangga-berhaji dengan Tazakka)
“Ibu Yusro sangat detail”

Sebelum menggunakan jasa Tazakka survey dulu ke travel yang lain dan akhirnya memilih Tazakka karena rekomendasi dari seorang teman yang puas setelah melakukan ibadah haji dengan travel Tazakka. Lalu saya mencoba melihat company profile dan melihat ustadz-nya bagus, lalu datang ke kantor Tazakka dan merasa surprise karena pemiliknya adalah seorang perempuan yang sangat ramah.

Keramahan ditunjukkan saat pelaksanaan ibadah, Ibu Yusro turun langsung dan amat sangat detail. Mulai dari katering, penginapan dan lain-lain benar-benar diperhatikan sehingga jamaah merasa sangat nyaman. Penginapan sangat dekat dengan Kabah dan dengan harga yang relative murah/standar tetapi fasilitasnya bagus banget. Katering pun tidak pernah telat berkat sentuhan penanganan seorang ibu seperti beliau.

Saya sangat terinspirasi dengan langkah-langkah Ibu Yusro, masih muda, perempuan dan penampilannya sangat fashionable. Selain sangat detail dan sabar -apalagi terhadap jemaah yang sudah tua- Ibu Yusro tidak sungkan untuk memijat jamaah tersebut. Jika di antara jemaah ada yang ulang tahun, pasti mendapat surprise darinya.

Menurut saya, Ibu Yusro adalah perempuan yang keren (fashionable), luar biasa, ramah sekali, setiap jamaah disapa dan tidak ada batasan antara jemaah dan pemilik dan tidak sungkan untuk bertanya kepada jemaah, ada yang bisa dibantu dan lain-lain. Karena itu, jangankan perempuan laki-laki juga sungkan karena beliau sangat berwibawa. Ibu Yusro pandai mendidik anak-anaknya sehingga menjadi anak yang pintar dan sopan, meskipun seorang single parent. Saya berharap Tazakka diperluas cabangnya tidak hanya di Jakarta dan Jambi saja. Yang menarik dari Ibu Yusro adalah selalu minta doa, dengan berkata, “Mohon doanya ya Ibu-ibu, Bapak-bapak.”

Dina Evangelista de Laura, Sophie Martin Marketing Communication Manager
(berhaji dengan Tazakka bersama suami dan ibu kandung)
“Tak ada keluhan dari Ibu saya”

Tadinya saya takut mengecewakan Ibu saya yang sudah beberapa kali pergi haji dan umrah. Ibu saya susah banget dalam melayani sehingga saya takut dibanding-bandingkan dengan travel lain. Ternyata Ibu saya puas dengan pelayanan Tazakka yang sangat professional. Penerbangan on time, katering sangat bagus sehingga saya sempat naik beberapa kilo karena makan teratur dan cocok dengan selera.

Bahkan pada hal-hal kecil pun Ibu Yusro sangat care dengan kebutuhan jemaah. Pada saat makan, saya pernah bilang,”Ibu Yusro kayaknya enak enak nih kalau ada sambal botol.” Pada saat jam makan berikutnya sambal botol sudah tersedia dalam menu makan.

Dalam buku panduan pun dibekali kalimat-kalimat dalam bahasa Arab sehari-hari yang simple tetapi penting. Seperti di mana toilet, harganya berapa dan lain-lain. Dalam buku panduan juga diberikan hal-hal yang harus dibawa misalnya sedang musim dingin harus membawa mantel, kaos kaki dan lain-lain. Intinya “Everybody happy” makanya saya tidak ragu-ragu untuk merekomendasikan Tazakka kepada teman-teman.

Cuk FK (Sutradara)
“No Complain”

Sejak menggunakan jasa Tazakka, saya menjadi ingin pergi haji lagi dan lagi. Karena pelayanan yang diberikan sangat memuaskan sehingga tidak ada komplain sama sekali. No complain deh pokoknya, makanya saya berani merekomendasikan kepada yang lain. Saya berharap jamaah bertambah banyak, pelayanan jauh lebih baik lagi dari yang sudah baik. Keep spirit and smile always.

Sosok Ibu Yusro menurut saya sangat ramah, jamaah selalu mencarinya apabila terjadi sesuatu. Karena beliau tidak memberikan batasan dan asik-asik saja, jadinya jamaah tidak sungkan meminta bantuannya. Beliau ini perempuan hebat yang kalau sudah bicara tidak bisa diputus, malah kalau diputus kita kehilangan inti pembicaraan.

Dwiyantora Junanda Fadhillah (Operational Ticketing PT Tazakka Ceria Wisata)
“Unik dan Beda”

Ibu Yusro menerapkan manajemen yang unik dan berbeda dengan mengedepankan sistem kekeluargaan. Ibu sekaligus juga bertindak sebagai guru dan memberikan kepercayaan kepada para karyawan. Tetapi justru karena kepercayaan itulah yang membuat kami bersemangat untuk tidak mengecewakannya atau mengkhianatinya.

Bayangkan saja, saya baru bergabung satu tahun tetapi sudah diberi tanggung jawab yang sangat vital. Beliau tidak pernah mengorbankan kami untuk kepentingan perusahaan. Misalnya terjadi permasalahan dan kami tidak mampu mengatasi, mentok maka Ibu akan turun tangan menyelesaikan permasalahan. Dan biasanya, kalau Ibu sudah “turun” tidak ada masalah yang tidak selesai.

Menurut saya, Ibu adalah seorang perempuan yang mempunyai keinginan, kemauan, impian dan harapan yang tinggi. Kemauan Ibu sangat keras untuk bangkit dan maju, itulah yang diharapkan dari Tazakka. Ibu meskipun seorang ibu, tetapi tidak pernah mencampuradukkan masalah rumah tangga dan pekerjaan. Makanya saya yakin, selama semangat Ibu masih seperti itu, Tazakka akan lebih maju. Begitu juga dengan usaha-usaha Ibu yang lain.

Qurnia Kartika (Manager Umum PT Tazakka Ceria Wisata)
“Manajemen kekeluargaan”

Ibu Yusro menerapkan manajemen kekeluargaan sehingga semua karyawan sudah dianggap anak olehnya. Ibu Yusro selalu menempatkan posisinya sebagai seorang pemimpin yang baik. Jika ada permasalahan kita selalu diberi kepercayaan untuk mengatasinya terlebih dahulu. Kalau sudah tidak bisa diselesaikan, barulah Ibu yang turun tangan mengatasinya.

Selama tiga tahun bekerja dengan Ibu, saya sebagai karyawan lebih banyak mengalami suka dibandingkan dengan duka. Karena kita merasa nyaman bekerja dengan Ibu, bekerja bersama-sama dan saling mendukung satu sama lain. Memang Ibu juga marah kalau pekerjaan kita menimbulkan masalah, tetapi Ibu juga memberikan jalan keluar dari permasalahan yang kita timbulkan. Dari situlah kita belajar, karena begitu sudah paham terhadap permasalahan dan cara mengatasinya, Ibu sudah tidak marah lagi. Saya berharap semoga jamaah yang pergi haji atau umrah lewat Tazakka semakin banyak.

Fauzie Muliawan (Staf Umum)
“Nyaman dalam suasana kekeluargaan”

Tiga tahun di Tazakka saya menemukan kenyamanan di tempat bekerja yang penuh dengan suasana kekeluargaan, tenang dan tanpa keluhan sedikit pun. Ibu Yusro bagi kami para karyawan bagaikan kakak, orang tua, sekaligus seorang ibu karena saking akrabnya. Tidak heran, Ibu adalah tempat kami curhat terhadap masalah yang kami hadapi, tidak hanya pekerjaan tetapi juga masalah pribadi. Alhamdulilah selama bergabung di sini tidak ada kekurangan yang saya temukan.

Kami sebagai karyawan malah sering sharing kalau ada apa-apa baru disampaikan ke Ibu. Yang terbaik bagi karyawan pasti akan ditindaklanjuti dan Ibu memberi kepercayaan kepada karyawan tidak pernah separuh-separuh tetapi 100 persen. Di perusahaan ini tidak ada batasan antara karyawan dan atasan. Saya berharap, semua tambah maju khususnya usaha-usaha Ibu yang lain. Yang mana kami selalu dilibatkan pada usaha baru Ibu diluar Tazakka.

Aaron Ardian Cholis (Putera pertama)
Ossama Cholis (Putera kedua)
Muhammad Haitsyam Cholis (Putera ketiga)
“Mama hebat, tangguh dan luar biasa”

Mama adalah sosok seorang Ibu yang hebat dan luar biasa. Selalu mendukung keinginan anak-anaknya. Termasuk keinginan saya sebagai anak pertama yang ingin berkecimpung di dunia entertainment mendapat dukungan Mama. Kami bertiga merasa lebih nyaman sekarang dengan tidak kehadiran ayah di antara kami. Lebih bebas tetapi harus bertanggung jawab terhadap kebebasan itu. Mama tidak pernah memaksakan kehendaknya terhadap kami.

Mama itu enak diajak curhat masalah yang kami hadapi. Dari masalah sekolah, teman-teman bahkan sampai masalah “cewek” sekalipun. Meskipun Mama sangat sibuk, tetapi Mama jago membagi waktu. Ketika kami perlukan, Mama selalu ada untuk kami. Mama mengajari kami untuk selalu bersyukur terhadap apa yang telah kami terima.

Kami sering diajak Mama ke tempat kerjanya sehingga kami tahu dan mengerti bagaimana Mama bekerja. Selain itu, setiap tiga bulan sekali kami diajak Mama untuk menyertai jamaah sehingga kami semakin paham apa yang dilakukan Mama.

Meskipun single parent dalam membesarkan kami ketiga anaknya, tetapi “as long as, we happy” dengan hanya berempat saja. Kami bisa melewatkan waktu bersama-sama, makan-makan, menyanyi dan jalan-jalan. Hingga saat ini belum kepikiran untuk mempunyai pengganti papa lagi. Kami menikmati kebersamaan ini.

Tahun depan, saya akan kulaih di UCLA, Amerika Serikat. Sedangkan Ossama akan ke SIngapura untuk melanjutkan sekolah SMP-nya, sementara bungsu di rumah menjaga Mama. Jadi Mama tidak usah khawatir, masih ada tiga jagoan yang selalu siap menjaga Mama. Terima kasih, Mama.

Sekilas PT Tazakka Ceria Wisata

Profil Perusahaan

Segala puji milik Allah SWT Rab semesta alam, atas limpahan karunianya sehingga sampai dengan hari ini kita masih dalam keadaan beriman kepadaNya, serta nikmat persaudaraan diantara kita. Sholawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah saw pembawa Risalah Illahi yang memberikan suri tauladan kepada umatnya untuk saling menyayangi diantara mereka serta tetap menjaga silaturahim.

Tazakka Tour adalah Biro Perjalanan Umrah dan Haji Eksekutif yang mempunyai komitmen: Membimbing dan mengantarkan jamaah haji beribadah dengan khusyuk dan sesuai sunnah Rasulullah saw.

Kebenaran dan ketetapan pelaksanaan haji dan umrah sesuai dengan sunnah Rasulullah saw adalah merupakan salah satu syarat mutlak untuk mendapatkan ibadah haji dan umrah yang mabrur.

Berhaji adalah melaksanakan seluruh manasik haji sesuai tuntunan Rasulullah saw. Karena itu pengetahuan tentang tuntunan Haji sesuai Sunnah Rasulullah saw merupakan sesuatu yang harus dipersiapkan agar tidak menjadi ibadah yang kosong nilai.

Sejarah

Tazakka Tour didirikan pada tanggal 18 September 2002 di Jakarta oleh Hj. Yusro dan H. M. Cholis Daud, Lc. Dengan motivasi untuk mengantarkan jama’ah kembali kefitrahnya, kembali suci sesuai dengan makna “Tazakka“.

Berdasarkan motivasi tersebut Tazakka Tour bertekad untuk menjadi pelayan tamu Allah, sungguh terhormat menjadi pelayan tamu Allah, untuk itu Tazakka Tour berupaya semaksimal mungkin menghantarkan tamu Allah dengan ikhlas dan tawakal kepada ibadah yang diterima (mabruur) menuju keridhaan-Nya sepanjang masa.

Visi

Menjadi biro penyelenggara Ibadah Haji dan Umrah yang mengantarkan jamaah beribadah khusuk dan benar sesuai Sunnah Rasulullah saw yang di bangun atas kesadaran dan pemahaman yang benar.

Misi

Mendorong kemantapan calon jamaah untuk menunaikan ibadah umrah/haji secara benar dan sempurna untuk mencapai ibadah yang mabruur
Mengembangkan penyelenggaraan program perjalanan ibadah umrah/haji yang unik, pembimbing ibadah yang siqah, serta pelayanan yang amanah
Mengembagkan karyawan profesional-amanah untuk melayani jamaah secara profesional dan amanah
Mengembangkan ukhuwah Islamiyah, silaturrahim, ta’awanu ‘alal birri wa taqwa untuk mencapai kehidupan yang rahmatan lil ‘alamiin

Keistimewaan
Pelayanan Optimal
Bimbingan Ibadah Berkesinambungan

Tujuan Didirikan
Mengelola usaha penyelengaraan perjalanan ibadah yang berdimensi dua kebaikan
Menjadi salah satu sumber pendapatan yang halalan-thayyibah
Menjadi pintu masuk untuk mengembangkan berbagai usaha lain yang berkaitan

Legal Dokumen
Notaris Elliza Asmawel, SH., No. C.603 H.03.02.TH.2000
SK. Menkeh. RI No. C-155.HT.03.01-TH 2002
Notaris Nelly Sylviana, SH
SIU BPU, Kpts. Dirjen Pariwisata No. 503.11/23/SK/PAR/IV/2004.  16 April 2004
S.K. Menag. RI. No. D / 341 tentang penetapan Biro Perjalanan Umumsebagai penyelengara perjalanan Umrah, tanggal 31 Agustus 2004
NPWP No. 02.173.868.7-017.000
TDP No. 090316338884

Asosiasi
ASITA (Association of the Indonesian Tours & Travel Agency)
AMPHURI (Asosiasi Muslim Penyelengara Haji & Umrah Republik Indonesia)

Prinsip Kerja
Amanah
Praktis
Obyektif
Terbuka

Manajemen
Penasehat: Ustd. H Hasan Bisri, Sag., H Teddy Herdyana
Direktur Utama: Hj Yusroren Elizabeth
Pembimbing Ibadah: Ustd. H Mochtar Husain, Lc

PT Tazakka Ceria Wisata
Kantor Pusat
Ruko Mega Kalimalang, Jl KH Noer Alie No 25 Bekasi
Telp. (021) 88962292, 88965995, Fax. (021) 88962292
HP. 08788397266 – 081808102323
Website: www.tazakka.com
Email: yusroelizabeth@tazakkatour.com

Kantor Cabang Jambi
Jl A Rahman Saleh
Pasir Putih Beringin, Jambi Selatan
Phone: (0741) 7837302 – 7837304

Drs. H Wirsad Yunuswoyo, M.Pd

No Comments

Drs. H Wirsad Yunuswoyo, M.Pd
Kepala Sekolah SMAN 4 Cirebon
Kerja Keras dan Tujuan Yang Jelas Mengangkatnya Berprestasi
Berangkat dari menjadi guru di SMP Negeri 3 Cirebon, Jawa Barat, pada tahun 1978, Drs. Haji Wirsad Yuniuswoyo, M.Pd, yang pegawai negeri sipil dan  kepala sekolah SMAN 4 Cirebon ini mengaku  kalau karier pendidikan gurunya selalu berpindah-pindah sekolah. Sebab satu tahun kemudian tepatnya 1979, guru bidang study matematika ini berpindah kembali ke SMP Negeri 4 Cirebon. “Di SMPN 4 inilah, masa pengabdian saya cukup panjang, “ungkapnya.
Sebab pada tahun 1990, barulah ia berpindah sekolah lagi, atau tepatnya ke SMAN 3 Cirebon. Namun sebelumnya, kata Wirsad, pada tahun 1987,  ia sempat masuk menjadi guru inti PKG (Pemantapan Kerja Guru) sebagai guru inti di bidang  mata pelajaran matematika selama 3 tahun. Bapak tiga anak ini mengaku perjalanannya cukup panjang untuk sampai ke jabatan kepala sekolah.
Program pemantapan kerja guru ini merupakan hasil kerjasama dengan world bank. Hasilnya cukup baik, dan banyak dijadikan model pelatihan oleh guru lingkungan sekolah. Selain itu  PKG juga telah sedikit mengubah paradigma tentang ketakutan siswa pada bidang study matematika, “Artinya ketakutan yang berlebihan itu bisa kita atasi, jadi kalau ada siswa yang nilai matematikanya buruk, itu karena mereka tidak memahami dan mengerti, termasuk kurangnya latihan,“ paparnya.
Menurutnya, berbagai pengalaman yang telah ditimbanya, mulai dari guru teladan Tingkat Jawa Barat, pada tahun 1997 hingga kepada organisasi  persaudaraan haji, sebelum kemudian menjadi kepala sekolah berprestasi di tahun 2007. “Pada tahun 1993 hingga 1996, saya pernah mengabdi menjadi guru di SMAN 6 Cirebon, yang dahulu adalah Sekolah Guru Olahraga (SGO),“ katanya. Bahkan di tahun yang sama, ia sempat mengikuti RECSAM (Regional Education Course Science An Mathematic) di Malaysia selama 6 bulan kemudian menjadi instruktur PKG matematika se-Jawa Barat.
“Sebelum Propinsi Banten meminta memisahkan diri untuk menjadi Propinsi baru dari propinsi Jawa Barat, saya sering mengadakan perjalanan (study banding dan pembinaan kepada guru-guru Matematika) ke daerah tersebut, “ungkapnya. Bukan hanya Serang, Pandeglang, tapi juga hingga ke daerah Lebak dan Cibakung.
Memang pengalaman panjang telah membuatnya banyak menorehkan prestasi akademik. Namun bukan Wirsad, kalau tidak bisa membawa sekolah yang dipimpinnya maju dan berkembang. Dengan bekal berpindah-pindah sekolah, dan pengalaman mengikuti training serta pendidikan leadership, lambat laun bapak yang beristrikan hajjah Yanthi Sri Iryanti ini pun semakin matang. Tak heran, jika ia pun menyelesaikan kembali sekolahnya di program pascasarjana/M.Pd.
Sarjana pertamanya ia selesaikan S1 bidang Matematika. Wajar saja bapak dua putra dan satu putri ini mengenyam banyak bidang prestasi, karena pada tahun 1993 hingga 1998, ia pernah menjadi penulis buku Matematika, yakni Aritmatika untuk SMP-SMA dengan penerbit Intan Pariwara,  Tiga Serangkai, dan Pakaraya serta LKS Matematika. “Sayangnya LKS yang semula merupakan pembelajaran yang dikembangkan oleh negara Inggris untuk memudahkan siswa mempelajari materi pelajaran dengan metoda penemuan, di Indonesia justru dijadikan tempat menulis soal-soal, ini sebuah ironi,” tuturnya dengan nada kecewa.
Karakternya yang kalem dan penuh karismatik, telah membuatnya disenangi berbagai warga sekolah yang dipimpinnya. Tak heran bila ia telah mengikuti berbagai pendidikan yang sifatnya menunjang profesinya. “Kerjasama antar sekolah (sister school) dengan berbagai negara, telah membuatnya makin kaya akan pengetahuan yang didapat. Ia pun kerap bepergian untuk mengadakan studi banding tentang pendidikan pada sekolah di negara yang dikunjunginya.
Namun begitu, tidak dipungkiri pula untuk menjalin kerjasama dengan negara lain seperti China dan Australia. Setelah dipikirkan, Australia merupakan pilihan utama dan solusi yang tepat, mengingat jarak kedua negara ini relative dekat dan tidak membutuhkan biaya yang mahal untuk sampai ke Australia. “Namun begitu, saya sebagai Kepala SMAN 2 Cirebon juga mendapat tawaran untuk bekerja sama dalam rangka sister school di negara Turki. Pada saat ke Turki ada sedikit kemacetan komunikasi, terutama masalah penggunaan bahasa Inggris, mereka/orang Turki lebih senang bicara bahasa Turki, “jelasnya. Namun belum lama beristirahat sepulangnya dari Turki, ia pun mendapat tugas baru menjadi untuk memimpin sebuah sekolah SMAN lagi yaitu SMAN 4 Cirebon.
Panggilan itu pun diterimanya dengan tenang, tanpa terpaksa, apalagi gundah gulana. Baginya jiwa pendidik merupakan nomor satu untuk mengabdi, tantangan di bidang pendidikan. Tantangan itu pun ditanamkan dalam benaknya, dan berusaha untuk menjadikan sekolah yang dipimpinnya menjadi sekolah unggulan dan memiliki prestasi yang menonjol. “Saat ini yang terpenting adalah mutu atau kualitas. Jadi apakah itu sekolah swasta atau negeri, kalau memang kualitasnya bagus, maka ia berhak untuk menjadi sekolah favorit.”
“Semangat, disiplin, serta menerapkan peraturan sekolah kepada warga sekolah, merupakan mutu keharusan,“ ungkapnya. Peraturan yang ketat ini dilakukan, sebagai wujud kasih sayangnya kepada warga sekolah agar mereka hidup teratur jiwa dan raganya. Tidak boleh ada siswa maupun guru terlambat masuk sekolah. Baginya keterlambatan mereka sama saja dengan membuat sekolah menjadi berantakan.
Bapak yang memiliki motto Segala yang akan dilakukan harus jelas tujuannya ini mengaku juga pernah menjadi kepala sekolah  di SMAN 9 Cirebon pada tahun 1999-2001. “Waktu itu sekolah ini masih baru lagi, dan saya ditunjuk untuk menjadi kepala sekolah, Namun biarlah dan ini merupakan tantangan,“ ungkapnya. Sebab katanya, selain harus berhadapan dengan lingkungan yang baru siswa-siswinya, juga kepada masyarakat sekitar. “Hal ini bukan pekerjaan yang mudah, mengingat dibutuhkan sosialisasi yang tinggi, agar masyarakat mau menerima kehadiran sekolah dan isinya.
“Saya terpaksa harus bersikap tenggang rasa dan tidak ketat, maklum lingkungan baru dan sekolah baru, jadi harus dipahami dan dimengerti persoalan mereka.” Namun, bukan begitu juga lembeknya atau membiarkan sekolah tanpa kerjasama dengan masyarakat, Wirsad juga mengaku pernah memberikan semacam ultimatum berupa ancaman kepada masyarakat, agar mau dan  rela membantu sekolah baru tersebut. Sebab jika masyarakat setempat enggan membantu perkembangan sekolah, ia pun mengancam akan melaporkan kepada Walikota untuk memindahkan sekolah tersebut, namun sebaliknya jika mereka membantu dan mendukung sekolah, maka pihaknya akan meminta walikota untuk membuatkan proyek jalan masuk ke sekolah dan desa-desa sekitarnya.
Akhirnya masyarakat yang semula menolak kehadiran sekolah tersebut bersedia mendukungnya dengan menjaga dan melestarikan kawasan sekolah dari aksi vandalisme alias coret-coret, termasuk mengizinkan angkot masuk ke kawasan sekolah. “Semula mereka menolak kehadiran angkot, karena mereka menganggap kehadiran angkot telah mengambil ladang mata pencaharian ojeknya,“ tutur Wirsad.
Ia menambahkan walaupun sebagai guru matematika, namun tidak bisa memaksakan kehendaknya agar siswa-siswi di SMAN 9 menjadi juara matematika, mengingat kemampuan siswa dari desa tersebut kurang mumpuni. Namun setelah melihat badan siswa-siswi sekolah itu  besar-besar, barulah ia berpikir untuk membawa potensi keunggulan tersebut dalam bidang olahraga. “Akhirnya mereka dapat meraih prestasi dengan  menjadi juara cabang atletik, volley ball, di berbagai kompetisi sekolah maupun kejuaraan tingkat daerah,“ ceritanya.
Padahal tempat latihan volley ball pun tidak memadai, tiang net terbuat dari bambu, garis di tanah dari kapur, tapi semangat mereka yang pantang menyerah untuk berprestasi memecutnya untuk meraih juara. Memang bukan hanya cabang atletik, lomba baris berbaris atau paskibraka juga meraih juara. “Tapi ya itu juaranya dalam bidang fisik, tetapi belum ke bidang sains/keilmuan,“ paparnya. Dua tahun menurutnya ia memimpin sekolah di SMAN 9 Cirebon tersebut.
Selanjutnya, kepala sekolah di SMAN 7 Cirebon pada tahun 2001-2007. Ironinya, belum memimpin sekolah, ia sudah mendapat laporan dari kepala kelurahan dan RW setempat bahwa sekolah ini sering tawuran dengan sekolah SMK. Bukan Wirsad kalau tidak bisa mengatasi segala persoalan yang dihadapinya, dengan bekal pengalaman yang banyak memimpin dan mengajar di sekolah, ia pun lalu berpikir untuk  menjembatani dan mengajak berdamai  atau menggalang kerjasama dengan pihak SMK. “Kebetulan kepala sekolah SMKnya adalah adik kelas saya saat kuliah di S2, jadi mudah untuk diajak berkomunikasinya, “paparnya. Setelah keduabelah pihak mengadakan pertemuan, baik guru maupun siswanya, tawuran yang selalu terjadi itu, akhirnya berdamai.
Berturut-turut kepala sekolah di SMAN 3 Cirebon Januari hingga Juni 2008, dan SMAN 2 Cirebon tahun 2008 -2010. Kini perjalanannya sekarang adalah sebagai kepala sekolah di SMAN 4 Cirebon. “Penempatan itu baru diberikan pada bulan Juni 2010, “paparnya.
Banyak liku-liku yang dihadapinya dalam mengabdi sebagai kepala sekolah. Mulai dari membenahi infrastruktur sekolah, hingga kepada bagaimana mensosialisasikan sekolah ke masyarakat, dan mendidik siswa dan guru-guru untuk selalu unggul. “Bayangkan saja di SMAN 3 Cirebon, saya harus memperbaiki sarana dan prasarana olahraga, “ungkapnya.
Selain sebagai kepala sekolah, Haji Wirsad, juga menyempatkan diri untuk memberikan motivasi untuk siswa-siswinya dengan memberikan motto berupa bekerja penuh ihklas sehingga merasa tidak beban, kedua, rajin beribadah, ketiga, semangat, keempat, tidak mudah putus asa, kelima, tanggungjawab dan jujur, keenam, setiap kesempatan jangan ditunda-tunda, dan kesempatan tidak selalu datang dua kali, ketujuh, mengerjakan sesuatu langsung jangan sampai ditunda-tunda, kedelapan, dapatkan informasi secepatnya/duluan, mendapatkan informasi duluan, berarti ilmu pengetahuan kita dapat duluan, dan kesembilan, berserah diri pada Allah. Jika kita menerapkan atas sikap-sikap di atas, insya Allah kita dapat menjadi orang yang sukses.
“Pak Wirsad adalah tipe pekerja keras, terbukti hanya dalam hitungan bulan di SMAN 4 Cirebon sudah banyak yang dibenahi, terutama pada infrastruktur, seperti rehabilitasi laboratorium computer dan ruang PSB (Pusat Sumber Belajar), perbaikan kursi, taman dan sarana prasarana kegiatan ekstrakurikuler,“ jelas Kepala Tata Usaha SMAN 4 Cirebon
Dalam bidang pembinaan kesiswaan, Wirsad yang lahir di Cirebon 29 Juni 1957 ini, juga telah mencanangkan kedisiplinan dengan menggunakan system point, mengadakan apel siaga pada jedah waktu, antara pasca UAS hingga dengan menjelang pembagian raport. “Obsesinya adalah bagaimana agar lulusan siswa-siswi SMAN 4 Cirebon ini dapat berkompetisi dan bersaing di dunia nasional maupun internasional,“ kata Drs. Irman Darojat, Guru SMAN 4 Cirebon.
Menurut Wirsad, visi dalam sekolah ini  adalah bagaimana menjadikan siswa yang bertakwa dan berprestasi. Bertakwa disini, maksudnya kata Wirsad adalah yang berkaitan dengan masalah kecerdasan spiritual, sedangkan berprestasi pengertiannya luas, menyangkut akademisi, non akademis, atau intelegensia, dan berakhlak mulia menjadikan siswa sebagai insan kamil, sopan santun, cerdas, dan berbudi pekerti.
Ditambahkan untuk misi sendiri itu ada lima besar, yakni pertama,  membina keimanan dan meningkatkan ketakwaan, artinya siswa yang masuk sekolah di sini, harus sudah memiliki keimanan dan juga ketakwaan. “Jadi jangan sampai kering begitu.” Kedua, Mengembangkan pendidikan yang berorientasi pada keunggulan, artinya pendidikan itu harus dikembangkan, jangan begitu saja, atau hanya sekedarnya, melainkan bagaiman pendidikan berkualitas. Ketiga, meningkatkan kemampuan dan kecakapan peserta didik, serta membina minat dan bakat secara kreatif, artinya, siswa dituntut untuk mampu dan memiliki ketrampilan, serta minat dan bakat yang baik. Dengan bakat dan minat yang berbeda-beda, diharapkan mereka bisa memilih mana yang sesuai dengan hati nuraninya atau tidak, misalnya mereka ingin memilih kedokteran, “kalau memang arahnya ke sana, maka kita bimbing, begitu pula dengan bakat, jika bakatnya di bidang olahraga, maka kita arahkan ke olahraga, begitu dan seterusnya, “jelas Wirsad. Harapan lainnya adalah bagaimana unsur tersebut bisa mengangkat nama sekolah, sehingga sekolah  bisa unggul. Ternyata misi sekolah ini membuktikan dengan siswa berprestasi di bidang olahraga, seperti silat, tinju dan atletik dan sebagainya. “Mereka ini merupakan atlet-atlet nasional, yang banyak berkiprah membantu dan mengharumkan nama bangsa dan negara di arena internasional, “ungkap Wirsad. Keempat, membina sikap ilmiah, disiplin dan tanggungjawab.
Selain harus menjalankan visi dan misi sekolah, strategi lain yang dikembangkan Wirsad, adalah melakukan pendekatan dengan siswa dan guru. Cara ini cukup efektif, kenyataan banyak siswanya memberikan segudang prestasi dan piala. Begitu pula dengan guru-gurunya,  mereka pun menunjukan kualitas pengajarannya dengan baik. Bahkan Wirsad tak segan-segan membantu mereka untuk mendatangkan para ahli untuk dijadikan nara sumber tukar menukar pikiran atau pendapat “Shearing” guna kemajuan sang guru. Ia pun juga kerap terjun memberikan nasihat dan wejangan, terutama terkait dengan metode belajar mengajar yang bisa dipahami siswa.
Kenyataan sikapnya yang ramah, sopan santun, dan demokratis kepada semua orang, membawa dirinya banyak diminati warga sekolah. ”Mereka mengaku merasa kehilangan jika Pak Wirsad harus pindah sekolah,“ kata Dra. Siti Rochani, Guru Ekonomi. Prinsip Wirsad adalah bagaimana mencontohkan sikapnya yang benar kepada warga sekolah. “Seribu nasihat tidak akan bermanfaat, jika contoh atau sikap yang kita tunjukan tidak sesuai dengan tingkah laku.”
Pola pendekatan dalam bentuk tingkah laku ini, ternyata sangat berpengaruh terhadap kehidupan kepemimpinan Wirsad. Terbukti banyak sekolah yang telah ditinggalkan, saat berkunjung ke tempat itu lagi, ia mengaku mendapat sambutan yang berlebihan. Hal ini tidak terlepas dari peran dan kinerjanya yang dirasakan warga sekolah sebagai hal yang baik dan profesional.
Banyaknya sekolah yang dipimpinnya berkembang dan maju, juga merupakan bukti bahwa kemampuannya dalam mengembangkan sekolah sudah profesional dan managerial. Untuk itu, tidak ada sesuatu hal yang berhasil tanpa dibarengi kerja keras yang sungguh-sungguh. Itulah harapannya kepada semua guru, agar generasi  berikut  bisa mengikuti langkahnya yang baik. Ia berharap siswa dan guru serta orangtua murid memahami konsepsinya akan kemajuan sekolah. Sebab katanya, kepala sekolah hanya jabatan sesaat, selanjutnya mereka yang akan menjalani. Demikian ungkapan Haji Wirsad Yuniuswoyo dalam bincang-bincangnya. Semoga apa yang dicita-citakan untuk kemajuan sekolah dapat terkabulkan, dan generasi muda dapat melanjutkan kegiatannya untuk menjadikan pendidikan yang bermutu.

Drs. Tarwan , MT

No Comments

Drs. Tarwan , MT
Kepala Sekolah Menengah SMK Penerbangan Dirghantara

Terus Membangun Demi Terwujudnya Target Sekolah Unggulan Tahun 2010

Sebelum berhasil meluluskan siswanya, Sekolah Menengah Kejururuan  Penerbangan Dirghantara ( SMK-PD ) telah memperoleh predikat akreditasi “B”. Dengan predikat tersebut kualitas ataupun persyaratan Sekolah  Menengah Penerbangan di Curug ini diakui pihak yang berwenang. Tentu saja ukuran untuk sekolah baru SMK-PD yang baru berdiri tahun 2005 predikat ini sangat membanggakan.

Pada awal berdirinya SMK-PD ini banyak berkonsultasi/ berhubungan dengan SMKN 29 Jakarta, meliputi sistem kurikulum, sistem pembelajaran, tenaga pengajar kebutuhan laboratorium dan lain-lain. Seiring dengan perjalanan waktu SMK-PD dapat Mandiri, artinya diperkenankan melaksanakan Ujian Nasional sendiri. Padahal diperkirakan sebelumnya Ujian Nasional pertama harus bergabung dengan SMK lain yang sesjenis dan  yang terdekat adalah SMK 29 Jakarta, dan apabila hal itu terjadi memerlukan biaya  tak sedikit yang harus ditanggung oleh para siswanya terutama untuk transportasi.

Bermodalkan predikat akreditasi, dapat membantu sekolah dalam menyampaikan beberapa hal dan kendala yang dihadapi oleh sekolah kepada masyarakat. Dengan kerja keras dan berbagai upaya, akhirnya sedikit demi sedikit fasilitas sekolah dapat dilengkapi. Lulusan pertama SMK-PD adalah 73 orang siswa, sebagian besar sudah diterima dan bekerja di maskapai penerbangan dan sebagian melanjutkan studi. Tidak tahu kenapa anak-anak kami cepat terserap oleh pasar”kata Drs. Tarwan, MT, Kepala Sekolah SMK Penerbangan Dirghantara.

Tidak hanya berhenti disitu, tahun berikutnya bahkan beberapa maskapai penerbangan nasional mendatangi SMK-PD, dengan tujuan  merekrut dan mengikat siswa sebelum mereka “ diambil” oleh perusahaan lain setelah lulus sekolah. Tahun  2009/2010 GMF dapat merekrut 16 siswa, sebagian sedang mengikuti proses rekrut Lion Air. Sementara lulusan umumnya direkrut melalui jalur normal di berbagai maskapai penerbangan, sebagian lainya melanjutkan ke Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI-Curug), Universitas Nurtanio ( UNUR –Bandung ) dan lainnya.

Kepada siswa yang sudah lulus, Tarwan panggilan akrabnya berpesan agar mereka agar tidak pernah berhenti belajar. Lulus dari SMK bukan berarti tugas anda telah selesai, justeru tugas lebih besar telah menanti didepan kita. Mereka akan menghadapi dunia penerbangan yang sebenarnya, yaitu dunia yang tidak mentolerir kesalahan sedikitpun, yang bisa berakibat fatal.

“Mereka harus terus belajar dan belajar.Tantangan di dunia penerbangan relatif berat, karena teknologi penerbangan selalu berkembang dan akan

terus berkembang . Kami mendidik sesuai   dengan kemampuan yang kami miliki, dan kami akui masih banyak lubang yang kitaenahi. benahi” kata pria kelahiran Purwokerto, 12 Agustus 1948 ini
Tarwan sadar, sebagai lembaga pendidikan  baru, baik secara fisik maupun sofware masih banyak kekurangan. Untuk itu  secara operasional setiap saat sekolah melakukan perbaikan-perbaikan yang dirasakan  mendesak, tidak tanggung-tanggung ia merencanakan menjadi SMK Penerbangan Dirghantara Curug sebagai SMK Penerbangan Unggulan pada tahun 2020.

Saat ini, Tarwan sedang membangun kesamaan visi dari semua unsur yang ada di sekolah. Tidak bosan bosanya ia mensosialisasikan secara terus menerus agar komitmen dari semua unsur dapat terbangun. Karena syarat untuk mencapai target menjadi sekolah unggulan tahun 2020 salah satunya adalah adanya komitmen dari semua unsur, sumber daya uang dan sumber daya lainya.

Sebagai sekolah yang ingin mendapatkan predikat sekolah Unggulan, Tarwan telah membuat suatu program semacam master plan dari tahun 2010 – 2020.
Tahun 2010, berkonsentrasi pada pembangunan prasarana/fisik untuk kesiapan akreditasi ulang, membuka kompetensi keahlian baru ( Instrumen Avionic Pesawat Udara ) untuk meningkatkan kinerja.
Tahun 2011, SMK-PD berkonsentrasi untuk pembenahan administrasi guru, administrasi perkantoran, administrasi pembelajaran, dan juga persiapan administrasi ulang ( 2 ) dengan sasaran mendapatkan predikat “A”
Tahun 2012, SMK-PD konsentrasi pada pelaksanaan akreditasi ulang, pembinaan tenaga kependidikan, peninjauan struktur organisasi guna meningkatkan kualitas pembelajaran.
Tahun 2013, SMK-PD kembali konsentrasi pada pembangunan prasarana / fisik lanjutan , pengadaan sarana pendidikan lanjutan dan mengajukan usulan Sekolah Standar Nasional ( SSN )
Tahun 2015, SMK-PD konsentrasi pada implementasi SSN, pemantapan SSN, penerapan ISO, usulan Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) , SBI untuk menuju Sekolah Unggulan
Tahun 2020, diharapkan target yang dicanangkan  SMK-PD bisa tercapai  kalau tak ada perubahan kebijakan yang mendasar, menjadi Sekolah Unggulan di Indonesia.

“ Semua itu memang perlu kerja keras dan perjuangan berat. Karena sistem dalam sekolah ini belum satu jalan,  maka masih perlu pembenahan . Sebenarnya untuk mencapai SSN persyaratan  hampir memenuhi, yaitu tinggal kelengkapan peralatan  plus pengajar dengan bahasa inggris hanya  beberapa orang, untuk ISO dengan  syarat tertib administrasi tidak terlalu masalah kalau memang kita ingin komitmen

Komitmen menjalankanya. Kemudian seperti diuraikan diatas setelah SSN, ditingkatkan RSBI yang mensyaratkan guru yang mengajar dengan pengantar bahasa Inggris lebih banyak lagi. Bagi kami hal ini tidak terlalu bermasalah, karena sebagian pengajar kami yang notabene dosen STPI terbiasa mengajar siswa dari negara asing, yakinnya.

Semua rancanan yang disusun Tarwan dimaksudkan untuk membangun SDM penerbangan yang handal dalam menghadapi globalisasi. Disamping membekali ketrampilan teknis, lulusan SMK Penerbangan Dirghantara diharapkan mampu berbahasa Inggris dengan lancar. Rencananya, ia ingin merekrut tenaga pengajar dengan penguasaan bahara Arab. Mengingat sekarang ini di era globalisasi persaingan tenaga kerja sangat ketat dari seluruh penjuru dunia.

“Jadi kalau bisa tidak hanya bahasa Inggris tetapi bahasa asing lainnya juga, karena peluang bidang ini masih sangat terbuka lebar. Kalau kita mampu mencetak lulusan yang qualified di luar negeri masih banyak yang bisa  menampungnya. Dari pada kita mengirim TKI yang non ketrampilan, mendingan mengirim yang begitu kan . Maka saya berangan-angan merekrut lulusan dari Madrasah, kita didik dan kita kirim ke luar negeri, beherja sama dengan Depnaker. Peluang besar di bisnis bidang penerbangan untuk orang-orang kompeten dan punya sikap,”tandasnya.

Jajaran Perintis

Drs. Tarwan, MT, sebelumnya  sebagai salah satu Instruktur Sekolah Tinggggi Indonesia (STPI), pada tahun 1987 ditugaskan sebagai pengajar Mekanika Teknik pada Jurusan Teknik Penerbangan. Ia juga ditugaskan sebagai tenaga fungsional sebagai Pimpinan Instalasi Teknik Umum.

Tahun 1996, Tarwan mendapat kesempatan untuk melanjutkan  pendidikan pada jenjang Magister(S2) di ITB jurusan yang diambilnya sesuai dengan pekerjaan sehari-hari berkutat didunia penerbangan. Magister Teknik  diselesaikan pada tahun 1998, masih tetap mengajar. Kemudian  ditugaskan sebagai Kepala Sup Penyusunan Program kurang lebih selama setahun. Selanjutnya diberikan kesempatan sebagai Kepala Balai Diklat Penerbangan di Palembang( akhir 2000 s/d akhir 2004.

Anak keempat dari empat bersaudara pasangan Sumardi dan Rakyah (almh) kemudian ditugaskan sebagai dosen tetap di STPI dengan pangkat Lektor Kepala. Tugas ini memberinya banyak waktu luang pada sore hari yang dimanfaatkan untuk mengabdi kepada masyarakat. Salah satunya ikut bergabung sebagai  staf pengajar pada SMK  dilingkungan Curug.

Secara resmi SMK Penerbangan Dirghantara berdiri pada tahun 2005 berlokasi  di kompleks STPI Curug. Sejak awal ia ditugasi sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum kemudian merangkap  sebagai Pelaksana Teknis Operasional (PTO) SMK-PD ( 2008-2009). Pekerjaan yang dilakukanya laksana Kepala Sekolah, karena Kepala Sekolah sudah sepuh hanya saja PTO tak berwenang menandatangani surat-surat resmi. Baru pada bulan Maret 2010  Tarwan kemudian diangkat sebagai Kepala Sekolah SMK-PD secara definitif.

“Visi kami para lulusan SMK Penerbangan Dirghantara Curug, handal dibidangnya masing-masing. Visi yang kita usung adalah “ Menyiapkan teknisi handal dibidang Mesin dan Rangka Pesawat Udara, Instrument dan Avionic Pesawat Udara, berdisiplin, bertanggung jawab dan bermartabat, target kami

terutama ingin membina anak didik agar tangguh, kreatif dan bertanggung jawab dilapangan sesuai bidangnya masing-masing”ungkap ayah empat anak hasil pernikahannya dengan Theresia Haryatun ini.

Oleh karena itu SMK Penerbangan Dirghantara dibawah kepemimpinan Tarwan pada pembinaan sikap yang salah satunya adalah disiplin. Sebagai tolok ukur atau tepatnya cermin adalah Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia ( STPI ) Curug Tangerang, walaupun secara umum belum mencapai kondisi yang menyerupai dalam cermin, tetapi upaya menumbuhkan sikap tersebut terus dilakukan, apalagi sebagian adalah dosen STPI.
“Kita mencoba  menekankan sikap disiplin sebagai budaya yang harus dilaksanakan . Disamping itu sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku kami juaga mengupayakan beberapa type mesin sebagai sarana pelatihan. Meskipun  kita hanya beli mesin bekas karena harga mesin baru mahal dan tak terjangkau , karena kita harus memiliki guna memenuhi persyaratan. Karena predikat akreditasi kita baru “B” nanti kita ingin meningkat menjadi “A”. Kita sedang berupaya untuk bisa memiliki pesawat/mesin yang untuk praktek, bisa juga diterbangkan”ujar pemilik motto ‘Semua yang dihadapi dijalani dengan ikhlas’ ini menguraikan harapanya.

Masuk Angkatan Laut.

Awalnya Drs. Tarwan, MT tidak sedikitpun bercita-cita mejadi guru. Sebagai anak petani biasa, lebih tertarik menjadi tentara. Karena pada saat itu masuk AKABRI ( Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ) masih relatif mudah, tak perlu koneksi maupun persyaratan lai, semua berdasarkan atas prestasi dan kemampuan masing-masing secara obyektif.

“Sejak kecil saya ingin masuk Angkatan Laut, itu cita-cita saya karena pakaianya putih rapi dan kalau berbaris bagus. Tetapi orang tua punya pepatah Jawa “ mangan ora mangan anggere kumpul” maka saya mendaftar sekolah yang relatif dekat rumah. Pada saat itu yang sejalan dengan lulusan STM adalah APTN ( Akademi Pendidikan Teknologi Negeri ) yang lulusanya menjadi calon guru STM dan berubah menjadi ATN ( Akademi Teknologi Negeri ) sementara saya sendiri tidak senang menjadi guru. Karena pada saat itu menjadi guru relatif mudah ( untuk mengisi lowongan karena banyak guru tersangkut G.30 SS/PKI ), sehingga bila punya Ijasah setinggkat SLTP, kita ikut kursus beberapa bulan sudah bisa jadi guru ( SR). Jadi saat itu menurut saya profesi guru kurang menantang” tuturnya.

Setelah lulus dari Akademi Teknologi tahun 1974, Tarwan kemudian “merantau” ke Tangerang. Saat itu kota satelit Jakarta ini sedang giat pembangunan pabrik secara besar-besaran. Ia bekerja dibidang pemasangan mesin dan kemudian bekerja pada suatu perusahaan di Tangerang, dengan jabatan Kepala Seksi Maintenance Produksi hingga memiliki anak. Tahun 1978, ia mulai berpikir sesuai dengan karakternya yang tidak bisa berspekulasi, karena bekerja di swasta terasa pasang surut, sehingga kurang tenang, maka mencari peluang untuk menjadi PNS, karena walaupun gaji kecil  tetapi kontinyu.

Tarwan kemudian mencoba mendaftarkan diri ke Departemen Perhubungan yang saat itu membuka lowongan. Ia diterima dan ditempatkan di Curug sebagai Instruktur. Artinya  profesi yang selama ini dihindari dan dianggap kurang menantang akhirnya harus dijalani. Awalnya ia bertugas sebagai seorang Instruktur hanya sebatas  tanggung jawab pekerjaan saja. Namun lambat laun ia sangat menikmati dan enjoy sebagai guru.

“Karena setiap hari mengajar dan merasa enjoy tadi, sekarang bahkan saya ingin menularkan pengetahuan yang saya miliki kepada orang lain . Jadi guru senang bila melihat siswa-siswanya lebih maju menjadi orang yang bermanfaat. Filosofi hidup saya adalah “bekerja apa yang saya bisa kerjakan dengan kesungguhan dan keikhlasan”, kata pria yang tidak suka bawa pekerjaan kerumah ini.

Sebagai pimpinan di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Swasta, Tarwan merasa perhatian pemerintah masih terbatas. Dengan dana APBN 20 persen, perhatian kepada sekolah swasta masih tetap kecil. Ia mengibaratkan masih terasa dianak tirikan  sedangkan sekolah negeri dianak emaskan.

“Ini masih kurang adil, mestinya sekolah swasta agak lebih diperhatikan lagi. Harusnya ada keseimbangan, meskipun sekarang sudah mulai menerima bantuan terkesan sekadarnya saja” kata pria yang terkesan awet muda ini. Ia membocorkan rahasia awet muda yang dimilikinya, yaitu tidak pernah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. “ Saya tidak bisa hati saya berdebar-debar. Pokoknya saya bersyukur dengan hidup apa adanya seperti  sekarang ini” imbuhnya.

Mengakhiri pembicaraan, Tarwan berpesan kepada generasi muda agar bersungguh –sungguh dalam mengembangkan bakatnya . Setiap bakat merupakan anugerah Tuhan, apapun bentuknya tidak boleh disia-siakan dan harus ditekuni. Sebisa mungkin orang tua tidak memaksakan kehendak yang tidak sesuai dengan bakat anak” cukup mengarahkan dan menunjangnya.” Yang nantinya malah bisa kontra produktif dan dapat menghancurkan masa depan si anak “ Pokoknya talent atau bakat apapun bagus asalkan ditekuni dengan sungguh-sungguh. Semua harus dilakukan dengan benar-benar dan secara total, yang Insya Allah hasilnya akan optimal” tegasnya.

Drs. Sugiyarto, MPd

No Comments

Drs. Sugiyarto, MPd
Kepala Sekolah SMKN 4 SURAKARTA

Wirausaha Solusi Tepat Bagi Lulusan Siswa SMK

Sejak kecil bercita-cita ingin berkarier guru, membuat sugiyarto kecil, bersemangat untuk  maju meraih obsesinya tersebut, kendati setelah dewasa obsesinya itu ditujukan untuk membawa SMK Negeri 4 Surakarta berkembang dan  menjadi idola siswa dan guru. Bagaimana penuturannya memimpin sekolah kejuruan berstandar RSBI ini, berikut ceritanya :

“Sejak dulu memang saya ingin menjadi guru atau pendidik, “ungkapnya. Tak heran jika sugiyarto mampu membawa dan mengangkat  SMK Negeri 4 Surakarta sebagai sebuah sekolah kejuruan  favorit di kota bengawan ini. Memang masih butuh perjuangan panjang, buktinya bapak dua anak ini mengaku merasa belum puas jika belum menjadikan sekolah ini bertambah besar. Saat ini Sugiyarto telah menjadikan sekolah yang dahulu kelasnya hanya  21 kelas,  sekarang telah bertambah menjadi 33 kelas. Obsesinya ke depan adalah 36 kelas. Suatu tantangan, semangat dan harapan yang luar biasa, bila dibandingkan dengan karier dan cita-citanya dahulu.

Menurutnya, SMKN 4 Surakarta sejak tahun 2006  telah menekankan kepada seluruh siswanya untuk belajar berwirausaha . Tantangan ke depannya  dibutuhkan senjata yaitu kerja keras, berupa optimalisasi peran  seluruh elemen sekolah yang berjumlah 1.126 siswa, tak terkecuali pesuruh sekolah untuk bahu membahu membawa nama dan lulusan SMKN 4 Surakarta  diterima masyarakat dan perusahaan dengan baik. “Tantangan nyata, karena semua Program Studi Keahlian yang ada di SMKN 4 Surakarta yaitu Tata Boga (Jasa boga dan pastry), Tata kecantikan (Hair dresser dan Skin care), Tata busana (Busana Butik) dan Akomodasi Perhotelan menyangkut kebutuhan  manusia yang tak pernah kering, “pungkasnya.

SMKN 4 Surakarta mempunyai siswa yang 90 % adalah perempuan, dan kebanyakan berasal dari kalangan keluarga menengah kebawah. Wajar jika Sugiyarto selalu memotivasi mereka untuk senantiasa bangkit dengan tidak mengharapkan sekolah serba gratis. Artinya, jika ada siswa yang tak mampu membayar keperluan sekolah, diajak untuk  berwirausaha dengan modal dari sekolah.

Pekerjaan rumah lainnya adalah mengupayakan siswanya yang menolak untuk bekerja di luar kota,  dengan  menciptakan wirausaha. Pola  inilah yang tengah digodok pihaknya terus menerus agar siswa tetap termotivasi  untuk bekerja mandiri. “Standarnya jangan sampai siswa tidak punya kemampuan berwirausaha di rumah, dan beralih jadi pengangguran, dan ini jangan sampai terjadi, “tegas kepala sekolah.

Guna mengantisipasi semua problem tersebut itulah, Sugiyarto berobsesi membentuk laboratorium entrepreneur di kota Surakarta ini yang diberi nama “EntrepreneurshipLab SMKN 4 Solo”
Obsesinya ini sudah dirintis mulai awal tahun 2010 yang lalu dengan membuat Pilot Project EntrepreneurshipLab untuk kelas XI Boga 4, dengan menggandeng mitra Tenaga Ahli (Expert) dari DED (German Development Service) yang sekarang berganti nama menjadi GIZ- Develompment Service dan 2 orang  mentor dari industri yang memiliki kepedulian dengan dunia pendidikan serta Team Work yang terdiri dari guru kewirausahaan dan guru produktif. “Saat ini usaha mereka sudah berjalan dan sudah menjadi mitra kerja Business Centre yang ada di SMKN4 Surakarta dan mentor mentor dari industri.” Diharapkan modal yang diberikan kepada tiap grup sebesar 1 juta rupiah (Rp. 500.000 untuk modal kerja dan Rp. 500.000 untuk pembelian peralatan kecil) sudah dapat dikembalikan di bulan februari 2011 ini. Karena Pilot Project EntrepreneurshipLab untuk kelas XI Boga 4 akan berakhir bulan Februari 2011 “ Inilah nilai plusnya, dan ini harus berjalan terus dan punya tanggungjawab sendiri,” paparnya.
Sugiyarto mengatakan dengan entrepreneurship diharapkan siswa-siswa dapat belajar menjadi pengusaha, bukan pekerja. Ide-ide ini akan semakin memecut siswa agar selalu berpikir bahwa enterprenership adalah solusi mandiri mereka. Untuk itu program enterprenership juga diterapkan untuk Program Studi Tata Busana yang akan launching pada tanggal 28 Februari 2011 dengan tetap menggandeng Expert dari GIZ- Develompment Service dan 2 orang  mentor dari industri.
Teori Sugiyarto benar, karena dengan mengajak seluruh siswa mandiri dan senantiasa berpikir positif untuk berkembang, diharapkan mereka bisa menjadi masyarakat wirausahawan profesional.
Kini harapan Sugiyarto adalah bagaimana menjadikan SMKN 4 Surakarta  ini juga berbudaya lingkungan.
“Lulusan dari SMKN 4 Surakarta bisa bekerja di mana saja, gaji minimal sesuai UMK, “katanya. Memang ada juga sich, tuturnya anak yang bekerja di bawah UMK, tapi saya menganjurkan agar mereka tidak bekerja di perusahaan yang gajinya di bawah UMK. “Kalau ada kedapatan siswa bekerja dengan gaji di bawah UMK mereka dipindahkan ke industri lain.”
Penanganan lulusan SMKN 4 Surakarta dikelola dengan baik oleh BKK (Bursa Tenaga Khusus) SMKN4 Surakarta yang setiap tahun kebanjiran permintaan tenaga kerja oleh banyak industri di wilayah Jawa Tengah, DIY, Jabodetabek dan bahkan dari luar negeri. Semua seleksi rekruitment tenaga kerja dilakukan di SMKN 4 Surakarta sebelum siswa melaksanakan Ujian Nasional.  Pihak industri terkait yang datang ke SMKN 4 Surakarta, sehingga kebanyakan siswa belum lulus Ujian Nasional tapi mereka sudah punya tempat di Industri.
Jadi tidak ada cerita, lulusan SMKN 4 Surakarta keluar masuk industri cari lowongan kerja. Karena setiap tahunnya justru masih banyak permintaan tenaga kerja dari beberapa industri tetapi SMKN 4 Surakarta sudah kehabisan lulusan yang belum bekerja. Artinya penyerapan lulusan SMKN 4 Surakarta di Industri yang relevan sudah mencapai 100 %.
Memang tidak semua lulusan SMKN 4 Surakarta langsung bekerja, karena ada beberapa dari mereka yang melanjutkan sekolah (kuliah) dengan mendapatkan beasiswa dari Industri maupun PMDK dari perguruan tinggi negeri di wilayah DIY dan Jateng.
Untuk masalah beasiswa dari Industri ini, SMKN 4 Surakarta menjalin kerja sama dengan IGTC Bogor (International Garment Training Centre) yang setiap tahunnya pihak IGTC Bogor datang ke SMKN 4 Surakarta mengadakan seleksi bagi siswa kelas XII untuk mendapatkan beasiswa belajar di IGTC Bogor setelah lulus dari SMKN 4 Surakarta selama 1 tahun. Beasiswa ini meliputi biaya kuliah, asrama dan makan.
Materi test dari IGTC Bogor semuanya dalam bahasa inggris, karena IGTC adalah lembaga pelatihan bertaraf internasional.

Tantangan semakin berat, setelah sekolah SMKN 4 Surakarta diberi lebel RSBI sejak Juli 2010 yang lalu, sebab masih ada program yang harus digapainya, terutama peningkatan sumber daya manusia, dan  pola pikir global.  “Pikiran yang kolot harus diubah, kalau tidak, maka akan terjebak  dengan perubahan  yang ada, jadi bagi mereka yang tidak mau berubah harus mengerti, bahkan guru harus bisa mengefektifkan dirinya dengan jalan belajar lebih giat lagi akan kemajuan teknologi modern, bahkan kalau perlu sekolah ke luar negeri, “tegasnya.
Sugiyarto mengatakan untuk mengikat jalinan kerjasama dengan seluruh elemen sekolah agar lebih erat lagi, ia biasanya menjadikan mereka sebagai kolega.

SMKN 4 Surakarta juga memiliki Business Centre (BC) Sparta yang bergerak dibidang Catering, Pastry, Butik, Salon Kecantikan, Laundry dan juga Hotel dengan kapasitas  4 kamar ber -AC yang melayani customer dari luar SMKN 4 Surakarta. Semua pegawai Business Centre Sparta SMKN 4 Surakarta adalah alumni dari sekolah ini juga.
Khusus untuk Salon Kecantikan Sparta sudah memiliki beberapa pelanggan dari pejabat setempat. Dan untuk pastry (spesialis kue-kue kering), biasanya booming produk terjadi setiap menjelang idul fitri dan natal. Hal ini yang dimanfaatkan oleh sebagian siswa besar SMKN 4 Surakarta untuk bekerja part time setelah pulang sekolah dengan mendapatkan penghasilan yang bervariatif sesuai dengan jam terbangnya.
“Workshop di masing-masing Program Studi Keahlian sudah menggunakan peralatan teknologi tinggi sesuai standart Industri. Hal ini dikarenakan semua workshop yang ada di SMKN 4 Surakarta sudah diverifikasi oleh LSP Lisensi menjadi TUK (Tempat Uji Kompetensi) Bidang Garment, Tata Kecantikan Rambut dan Tata Kecantikan Kulit, Restourant dan Akomodasi Perhotelan, yang dapat digunakan untuk pelaksanaan Ujian Kompetensi Keahlian dari semua Instansi yang membutuhkan.
Sehingga diharapkan semua lulusan SMKN 4 Surakarta tidak akan canggung bekerja di Industri yang sudah menggunakan peralatan modern “ demikian penjelasan bapak satu istri  yang juga bekerja dengan profesi  pendidik ini.

Untuk itulah, Sugiyarto membuka pendaftaran penerimaan  siswa di SMKN 4 Surakarta dengan 2 cara, yakni dengan melihat nilai  ujian nasional yang dibobot terlebih dahulu sesuai dengan peraturan yang berlaku, seperti bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Sosial, dan yang kedua adalah dengan teknik wawancara dan psikotes. Tujuan dari cara yang kedua ini adalah untuk menseleksi atau menyaring motivasi dan minat mereka terhadap bidang yang mereka inginkan, termasuk juga masalah kesehatan siswa. “Jangan sampai ambil jurusan tata boga, tapi mereka tidak memiliki tinggi dan berat badan yang proporsional, ini kan kurang baik ya, “ujarnya.

Menghadapi era global

Menghadapi era globalisasi sekarang ini, Sugiyarto mengingatkan dampak negatifnya. Untuk mencegah dampak yang kurang baik, ia meminta seluruh jajaran di sekolahnya untuk bersikap disiplin dan tepat waktu, hal ini penting untuk meningkatkan etos kerja. “Untuk menghargai orang lain, dan tidak boleh terlambat, “ujarnya. Untuk mengawasi semua unsur tersebut, pihaknya mengaku telah membentuk tim PPKS (Pembimbing Prestasi Karakter Siswa).

“PPKS ini dibimbing 2 orang, yaitu wali kelas dan guru pendamping. Tujuannya adalah  mendidik siswa agar tidak terlambat, bagi siswa yang terlambat menunggu di luar kelas dan mendapat punishment membersihkan areal sekolah sesuai pembagian tim PPKS.

Sugiyarto menambahkan, pihaknya menerapkan disiplin masuk sekolah pukul 07.00 pagi, namun pukul 06.45 WIB diharapkan siswa sudah berada di sekolah untuk melakukan kegiatan patut diri yang meliputi kegiatan mengatur ruang kelas agar bersih dan rapih. “Jarak dijaga antara meja dan kursi, serta mengabsensi siswa.” Sedangkan untuk penilaian pelajaran, pihaknya juga menerapkan pola mengulang kembali bagi siswa yang ketahuan menyontek pekerjaan temannya. Hal ini penting untuk mendidik siswa agar berkelakuan yang baik,  disiplin, bekerja keras serta mau berusaha.”

Sementara filosofinya, ialah berpikir positif terhadap semua orang. Makanya target jangka pendek sekolahnya,adalah bagaimana menciptakan siswa didiknya dapat lebih berinovatif, tersalurkan di setiap bidang pekerjaan dan mampu bersaing dalam mendapatkan peluang kerja serta mampu berkompetisi dalam bidang kejuruan.

“Kami juga giat untuk mengikuti lomba-lomba yang diadakan sekolah lain atau perusahaan, Alhamdulillah kami sering menyabet juara, “ujarnya.

“Saat ini SMKN4 Surakarta sudah menjalin dengan kurang lebih sekitar 80 perusahaan yang siap membantu siswa dalam pelaksanaan On The Job Training (OJT) “jelasnya.

Dukungan Keluarga

Menanggapi dukungan keluarga terhadap profesinya, Sugiyarto mengatakan tidak ada masalah. “Jam berapa pun ia keluar rumah, istri dan anaknya tidak mengeluhkan.” Sebab istrinya juga adalah seorang guru dan  pendidik, jadi mengerti benar, pekerjaan dan  profesi yang diembannya.“ Menjawab bagaimana tanggapannya tentang peran pemerintah terhadap SMK, Sugiyarto mengatakan saat ini pemerintah telah memberikan input yang begitu besar terhadap perkembangan SMK, hanya saja memang masih banyak kekurangan yang ada, dan ini tugas dari masyarakat untuk memperbaiki kekurangan yang ada di SMK di seluruh Indonesia.
“Masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki, “ujarnya. Maklum,  tidak ada suatu makhluk yang sempurna, apalagi lembaga atau institusi di muka bumi ini,  tapi juga  bukan suatu alasan yang dapat dibuat-buat dari dasar  ketidak sempurnaan itu yang  membuat kita tidak berdaya, justru karena ketidakberdayaan itulah yang harus jadi potensi dalam diri siswa dan keluarganya untuk bangkit meraih cita-cita yang diinginkan mereka. “anak-anak yang orangtuanya punya banyak anak dan tidak mampu diharapkan bisa memunculkan potensiya, “tuturnya.

Sugiyarto mengatakan sekolahnya kini telah melengkapi segala kebutuhan peralatan untuk digunakan siswanya, alat-alat tersebut merupakan bantuan atau subsidi dari berbagai pihak untuk diberdayakan dan melengkapi berbagai peralatan yang sudah ada.

Jangka Panjang

Untuk program jangka panjang,  pihaknya menginginkan sekolah ini semakin besar. Targetnya adalah membuka kelas baru dari   33 kelas yang ada menjadi 36 kelas,  dengan harapan  jumlah  murid semakin banyak dan berkualitas. Kini jumlah siswa yang terdaftar di SMKN 4 Surakarta   telah mencapai 1.126 siswa “ Dengan semakin besarnya jumlah siswa yang terdaftar di sekolah ini, diharapkan SMKN 4 Surakarta menjadi sekolah unggulan di kemudian hari, “Jelas bapak dua putri yang sudah menginjak bangku kuliah ini.

Mengimbangi semua itu, Sugiyarto juga mengingatkan guru-guru SMKN 4 Surakarta untuk bisa menjadi assesor. Untuk itu pula, pihaknya bekerjasama dengan LEC, mengadakan training atau pelatihan bagi guru-guru dan menjadi bagian dari proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas bagi siswa dalam bidang bahasa Inggris, apalagi Sugiyarto mengaku juga seorang sarjana pendidikan bahasa Inggris. Inilah yang harus dipikirkan seluruh guru untuk maju. Tuntutan Sister School merupakan kewajiban bagi setiap guru untuk meningkatkan kompetensi keahliannya.

Sebagai Kepala SMKN 4 Surakarta, Sugiyarto bekerja sesuai dengan Visi, Misi dan Tujuan sekolah yang telah ditetapkan. Berikut ini visi, misi dan tujuan SMKN 4 Surakarta;

Visi
Terwjudnya SMK bertaraf Internasional dan berbudaya lingkungan

Misi
Menyiapkan lulusan yang siap kerja, cerdas, kompetitif dan berkepribadian luhur.
Mengembangkan potensi sekolah yang berwawasan lingkungan dan bernuansa industri
Menyiapkan wirausahawan yang handal
Mengembangkan semangat keuanggulan dan kompetisi yang positif
Meningkatkan pengalaman ajaran agama yang dianut dan budaya bangsa sebagai sumber kearifan dalam bertindak

Tujuan
Menghasilkan tamatan yang cerdas, terampil dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlak mulia
Membekali peserta didik untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan akademik serta dasar-dasar keahlian yang kuat dan benar, melalui pembelajaran normatif, Adaftif dan Produktif
Menyiapkan peserta didik untuk memasuki duania kerja yang professional dan berwawasan wirausaha untuk memasuki dunia kerja
Memberikan pengalaman yang sesunggunya agar peserta didik menguasai kaahlian produktif berstandar budaya industri yang berorientasi kepada standart mutu, nilai-nilai ekonomi serta membentuk etos kerja yang tinggi, produktif dan kompetitif.
Mewujudkan sekolah menjadi SMK berstandar Nasional/Internasional.

Menanggapi pertanyaan anak muda sekarang ini, Sugiyarto, mengatakan  perlu pembimbingan untuk hadapi realita roda zaman. “Zaman saya dulu tahun 70-an, bertindak seperti itu sudah bagus, tapi kini tindakan itu harus segera diperbaiki, sekolah itu merupakan karakter, tinggal bagaimana menjadi siswa berkarakter yang baik, tidak instan.

Untuk itulah sudah menjadi tanggungjawab para orangtua, masyarakat dan pendidik harus sama-sama duduk satu meja untuk membicarakan generasi muda ini. “

Sedangkan masalah pendidikan seks, ia menyarankan untuk perlunya bimbingan orangtua, masyarakat dan pendidik. “Biar si anak melihat dari awal hingga akhir, sehingga tidak separuh-paruh mereka mendapatkan informasi tentang seks, hingga sampai akibatnya, “tegas kepala sekolah yang membawahi 98 guru dan karyawan administrasi lainnya. Dengan mereka mengenal seluk beluk semua itu, maka setelah lulus sekolah mereka mendapatkan bekal akhir yang baik.

Ekstrakurikuler di SMKN 4 Surakarta, antara lain pramuka, palang merah remaja, Pasukan Inti (paskibra), fashion show/modelling dan olahraga. “Biasanya ekskul dilaksanakan sore hari, “ujarnya. Mengakhiri perbincangan, Sugiyarto, mengatakan bahwa obsesinya kini adalah bagaimana membawa sekolah ini bisa besar dan menjadi idola semua orang. “ Bagi saya, menjadi kepala sekolah sekarang ini sudah merupakan anugrah yang besar, jadi tidak ada lagi target yang muluk-muluk untuk mengapai cita-cita.”

Sugiyarto menambahkan baginya tidak ada kesibukan lain, selain mengurus sekolah, termasuk untuk urusan bermain politik. “Politik tidak bisa, hanya organisasi sosial dan pendidikan “ungkap kepala SMKN 4 Surakarta ini.  Pesannya bagi generasi muda adalah mumpung masih muda kesempatan jangan sampai dihilangkan begitu saja, apa saja bisa dilakukan saat muda. “Kerja yang benar dan yang penting halal, itulah yang disarankan ke siswa.”

H. Saiful Bahri M. Ya’kub

No Comments

H. Saiful Bahri M. Ya’kub
Pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Saef ed Daulah, Cipondoh Kota Tangerang

Mengelola Ponpes Dilandasi Semangat Ikhlas, Pengabdian dan Kemandirian

Dalam kegiatan sosial, dituntut pengorbanan besar dari para penggiatnya. Mereka harus rela memberikan segala macam yang dipunyai untuk menggerakkan apa yang sudah dimulainya. Meskipun di mata masyarakat terlihat banyak donatur, tetapi sebenarnya para penggiat tersebut yang paling banyak mengeluarkan dana.

Salah satunya adalah kegiatan sosial dalam bentuk pendidikan berupa sekolah di bawah naungan Yayasan Pondon Pesantren Saef ed Daulah. Para siswa di Yayasan yang terletak di Cipondoh, Kota Tangerang tersebut sama sekali tidak dipungut biaya. Bahkan sekolah untuk saat ini lebih memfokuskan pada anak-anak kurang mampu yang tidak dapat mengakses pendidikan formal.

“Dalam kegiatan sosial, banyak orang menyangka dana orang lain datang kepada kita. Tetapi sebenarnya kebanyakan uang kitalah yang keluar. Makanya kami banyak mengirimkan proposal kepada Tuhan Yang Maha Esa,” kelakar H. Saiful Bahri M. Ya’kub, Pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Saef ed Daulah.

Yayasan Pondok Pesantren Saef ed Daulah yang berdiri sejak tahun 1998 ini, memang membebaskan uang sekolah bagi anak didiknya. Sekarang Yayasan menyelenggarakan pendidikan pada tingkat Raudhlotul Atfal (TK) dan Madrasah Ibtidaiyah (SD). Rencananya ke depan akan membuka pendidikan MTs atau jenjang pendidikan setingkat SLTP.

Untuk sementara, pendanaan dan pembiayaan sekolah didapat dari donatur, kantong pribadi dan bantuan pemerintah. Tetapi dengan keyakinan besar terhadap apa yang dilakukan di jalan Allah pasti mendapat jalan keluar, kelanjutan Yayasan Pondok Pesantren tetap bertahan. “Yang penting kita nggak terlalu susah,” tambahnya.

Pondok Pesantren Saef ed Daulah sendiri, lanjutnya, terbentuk dari kecil. Awalnya hanya berupa Taman Pendidikan Al Quran (TPA) untuk anak-akak kampung. Seiring perjalanan waktu, masyarakat dan orang tua siswa TPA meminta untuk pendirian sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI). Pada awal pendirian, sekolah dibanjiri murid yang ingin belajar. Tetapi lama kelamaan murid semakin menyusut karena berbagai faktor.

Baginya, merosotnya jumlah siswa harus disikapi dengan bijak. Karena penurunan semacam itu bisa terjadi kepada siapa saja dulu ada yang datang, bilang kalau mau siswanya banyak lagi nih pakai ini dijamin banyak lagi. Jawab saya, “Gak usahlah orang lagi diuji kok. Semua itu merupakan ujian dari Tuhan dalam menjalankan perintah-Nya. “Tetapi bagi saya yang penting adalah kita bangun dengan ikhlas, penuh kesabaran serta semangat kemandirian,” ujar ustadz H. Syaiful.

Pedang Negara

Ayah dua anak ini memberikan penjelasan mengenai nama pondok pesantren yang dipimpinnya “Saef ed Daulah yang senantiasa dipertanyakan orang. Ia menjelaskan bahwa Saef ed Daulah diambil dari nama pejuang. Saat ia masih belajar di IAIN Syarief Hidyatullah Fakultas Adab Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, ia sangat gemar membaca puisi-puisi Arab. Suatu saat ia sangat asyik membaca buku Balaghoh yang memuat syair indah Mutanabi. Salah satu bunyi syair tersebut adalah “Idza I’tala saifuddaulah I’talati Al-Ardhu”.

“Artinya apabila Saef ed Daulah menangis, maka seluruh penduduk bumi menangis. Saya terpana mendengarnya, karena kalau diartikan secara harfiah orang akan ngeri mendengarnya, karena saef ed daulah adalah pedang negeri. Tetapi ketika saya telusuri, ternyata saefuddaulah itu memang mulia. Makanya saya gunakan untuk nama ponpes ini. Tidak ada kaitannya dengan nama saya lho,” katanya.

Hasil penelusurannya yang cermat menyebutkan bahwa Saef ed Daulah adalah pejuang untuk orang-orang lemah. Yakni ketika di zaman kekuasaan kekhalifahan Baghdad, dikisahkan bahwa para penguasa dan pejabat saat itu sangat sibuk dengan persoalan politik. Semuanya berjuang untuk merebut kursi kekuasaan bagi kepentingan kelompok atau golongan masing-masing. Di antara mereka berada pada taraf saling mengkafirkan dan kelompok merupakan pihak yang paling benar.

Akibatnya, kehidupan dan pendidikan orang-orang lemah kurang mendapat perhatian dan terabaikan. Kondisi itulah yang menyebabkan kemunculan seorang dermawan bernama Saef ed Daulah. Dengan panggilan jiwa dan tanggung jawab moral untuk berjuang membela dan memerhatikan kehidupan serta pendidikan orang-orang lemah (dhuafa) yang terabaikan.

“Saef ed Daulah dengan ilmu dan kekayaannya disertai dengan kedermawanannya berjuang untuk orang-orang lemah. Oleh karena itu sangat pantas ketika dia dipanggil Allah, seluruh penduduk menangis. Nah berangkat dari sini nama Yayasan Saef ed Daulah terilhami, sebuah nama yang sangat baik. Meskipun begitu, tidak ada kaitannya sama sekali dengan nama saya. Mungkin persamaannya adalah Syaiful-nya kali tapi bedanya Bahri dan Daulah-nya,” canda ustadz yang tidak “jaim” ini.

Membangun Tanpa Merusak

Rasululah SAW bersabda, ”Agama dibangun di atas kebersihan.”  Wajar kiranya apabila setiap muslim yang taat, setiap hari tidak pernah lepas dari kegiatan kebersihan. Oleh karena itu, pokok pertama dalam Islam adalah lestarinya hubungan kepada sesama makhluk. Di mana seorang muslim mampu mengejawantahkan serta menauladani kemahasucian Allah dalam kehidupan. Allah SWT itu Maha Suci, Islam itu bersih yang dibangun di atas kebersihan, maka kewajiban orang Islamlah untuk menjaga dan memelihara kesucian dan kebersihan tersebut.

Kebersihan yang dimaksud adalah kebersihan lahir dan batin. Kebersihan lahir adalah cerminan kebersihan jiwa maka beruntunglah orang-orang yang senantiasa membersihkan jiwanya dan merugilah orang-orang yang mengotorinya. Prinsip kebersihan ini harus dijadikan tradisi dalam berbagai aspek kehidupan manusia, baik pada jasmaninya, pakaiannya, makanannya dan lingkungannya. “Dan hendaklah kalian menyucikan pakaian kalian, kebersihan lahiriyah adalah salah satu bagian dari kebersihan ruhani.”

Tema kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia dengan lingkungan dan sesamanya. Hubungan interaksi itu harus harmonis sesuai petunjuk-petunjuk Allah dengan memperhatikan perkembangan sesuai dengan lingkungannya. Manusia, dilarang berlaku sewenang-wenang manakala dirinya mampu. Karena itu, Islam mengundang para penganutnya untuk membangun tanpa merusak. Ini sesuai makna kata Islam dan tauladan Nabi Muhammad SAW, maka dapatlah dipahami bahwa landasan berpijak guna tercapainya kelestarian lingkungan adalah sebagai berikut:
1.    Tidak seorang muslim yang menananm atau menyemaikan tumbuh-tumbuhan, kecuali buah atau hasilnya dimakan burung atau manusia. Yang demikian itu adalah shodaqoh baginya.
2.    Barang siapa yang memperbaiki (menyuburkan) tanah bukan untuk seseorang, maka ia berhak memanfaatkan tanah itu
3.    Hindarilah dua macam kutukan, yaitu membuang kotoran di jalan dan di tempat orang berteduh
4.    Janganlah ada di antara kamu yang membuang air kecil pada air yang tergenang, kemudian mandi pula di sana.

Kelahirannya yang bersih dan setiap manusia dilahirkan suci (fitrah) dan bi’tsahnya juga mengajak manusia untuk bersih atau suci lahir batin. Suci, yang disembah hanya Allah SWT, menggantungkan asa hanya kepada-Nya, membersihkan hati untuk tulus dan ikhlas dalam beribadah dan beramal, tidak dipenuhi sedikit pun harapan dan asa hanya selain kepada-Nya. Kemudian dengan kesucian batin akan melahirkan ketenteraman dan kedamaian dalam lingkungan, tidak terkotori oleh apapun yang akan menyebabkan dosa pada kehidupan manusia. Rasulullah menyatakan sabdanya, ”Kebanyakan siksa kubur karena baul (buang air seni).”

Biodata:

Nama            : H. Saiful Bahri M. Ya’kub
Tempat tinggal lahir: Tangerang, 25 Juli 1970
Alamat        : Jl. KH. Hasyim Ashari Gg H Halimah Rt 002/01
Kel. Poris Plawad Utara Kec. Cipondoh Kota Tangerang
Kegiatan     :
Pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Saef ed Daulah Cipondoh Kota Tangerang

Riwayat Pendidikan:
1.    SD Negeri Plawad V Pagi
2.    MI Asy-Syukuriyah Sore 3. MTs NU Buntet Pesantren Cirebon
3.    MA NU Buntet Pesantren Cirebon
4.    Pondok Pesantren Buntet Pesantren Cirebon
5.    Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta
6.    S1 IAIN Syarief Hidayatullah Jakarta, Fakultas Adab Jurusan Bahasa dan Sastra Arab
7.    S1 STAI Fatahilah Serpong, Prode Pendidikan Agama Islam
8.    S2 Sekolah Tinggi Manajemen IMMI Jakarta, Program Pasca Sarjana Konsentrasi Manajemen Pendidikan (tesis)

Riwayat Pengabdian:
1.    Tenaga pendidik Pondok Pesantren Al-Inayah Gunung Sindur Bogor, (bidang  studi bahasa Arab dan bahasa Inggris) tahun 1991-1993
2.    Tenaga pendidik MTs Darul Muqorrobin Kunciran (bidang studi bahasa Arab, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia) tahun 1993-1996
3.    Tenaga pendidik Pondok Pesantren Darus Sa’dah Tangerang (bidang studi bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Indonesia dan Ilmu Balaghoh) tahun 1997-1999