Tag: hanya

Drs. PARLINDUNGAN HUTAHAEAN, MM

No Comments

Drs. PARLINDUNGAN HUTAHAEAN, MM

“Ketekunan dan Penyerahan pada Yang Maha Kuasa Menghasilkan Lebih dari yang Diharapkan”

“Pendidikan adalah jembatan untuk membangun masa depan.  Melalui pendidikan yang baik  pasti akan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, yang menjadi syarat bagi kemajuan suatu bangsa.  Bangsa yang besar dan maju adalah bangsa yang mengutamakan bidang pendidikan di banding bidang  yang lain!!!,” itulah kata yang terucap dari  sosok pria bernama lengkap Drs. Parlindungan Hutahaean, MM  yang kini dipercaya menjabat sebagai Direktur dari Polikteknik Pajajaran Insan Cinta Bangsa (ICB) Bandung, sekaligus Pembina Sekolah Menengah Kejuruan Insan Cinta Bangsa (SMK-ICB).

Mendidik tidaklah serupa dengan mengajar. Seseorang dapat mudah mengajarkan sesuatu kepada orang  lain namun belum tentu dapat memberi didikan yang bermanfaat bagi yang lainnya. Falsafah ini tidaklah omong kosong belaka, melainkan hendaknya bisa  diterapkan dalam keseharian kita. Kata-kata bijak itulah yang telah mendorong  dirinya terjun dan menggeluti bidang pendidikan.  Menurutnya, melalui pendidikan dapat pula ditanamkan nilai-nilai budi pekerti yang sangat membantu seseorang untuk berdisiplin dan memahami kehidupan.

Cita-cita awalnya memang ingin menjadi orang yang berkecimpung di bidang pendidikan. Tapi bukan hanya sebagai pengajar, melainkan juga pendidik. Keberhasilan seorang pendidik, menurutnya, bukan semata-mata jika anak didik-nya  menguasai ilmu yang diberikan, tetapi yang lebih penting adalah secara nyata bisa mengamalkan ilmu itu dibidang tugasnya masing-masing. Karena, ilmu yang tinggi tidak akan ada gunanya kalau jatuh ke tangan orang yang tidak bermoral. Oleh karena itu, tugas seorang pendidik tidak hanya  mengajar, memberikan ilmu namun juga mendidik, membentuk moral peserta didiknya. “Supaya ilmunya itu bisa dimanfaatkan, diamalkan,  yang dengan demikian juga menjadi manfaat bagi guru atau pendidiknya,” ucap peraih Candidate Doctor di bidang Manajemen Pendidikan ini. “Bagi saya, mencerdaskan anak bangsa, khususnya generasi muda merupakan tujuan dari seorang pendidik, dimana tidak bisa dibandingkan dengan sesuatu yang bersifat materi ataupun prestise,” ujarnya menambahkan.

Mengawali  karir sebagai Tenaga Ahli Laboratorium Peledak di PINDAD Bandung (tahun1964), perlahan namun pasti, Parlindungan  biasa akrab  disapa, diangkat sebagai Kepala Laboratorium Pelumas di PINPAD Bandung (tahun 1970), lalu dipercaya sebagai Kepala Laboratorium Pelumas & Coating pada (tahun 1973). Kemudian pada tahun 1974, ia di angkat sebagai Kepala Bengkel Slagkwik di PINDAD. Dan pada (tahun 1976) sebagai Staff Gudang Induk di PINDAD. Setahun kemudian karirnya terus meningkat dimana ia di percaya sebagai Guru Militer Bidang Sosial tepatnya pada tahun 1978 di PUSDIKINT-AD, dan pada tahun 1981, ia mulai menjajakan langkah kakinya di dunia pendidikan dengan di angkat menjadi Guru Militer Golongan V.  Di tahun 1983, ia diangkat sebagai Kepala Guru Militer Pembekalan dan beranjak satu tahun tepatnya pada tahun 1984, Parlindungan diangkat sebagai Asisten Litbangdik dan Asisten Pendidikan Pengajaran di tahun 1985, yang kedua-duanya masih di PUSDIKINT-AD. Lalu pada tahun 1986, pria yang sempat menjadi Anggota DPRD Tk. II Kab. Lebak Jawa Barat pada periode tahun 1987 – 1992 dan Anggota DPRD Tk.II untuk daerah  Kab. Sumedang Jawa Barat  periode tahun 1992 – 1997 ini,  di angkat sebagai Kepala Departemen Makanan PUSDIKBEKANG-AD.

Sebagai Abdi Negara, dan setelah Purnawirawan ia memperoleh berbagai bintang jasa dan penghargaan dari pemerintah, diantaranya: Sapta Lencana Dwidya Sistha pada tahun 1983, Satya Lencana Kesetiaan 24 tahun pada tahun 1993 dan Bintang Eka Pakci Naraya pada tahun 1995. Demikian juga dalam kiprahnya di berbagai bidang pendidikan di masyarakat, pria kelahiran           30 September 1940 ini menerima berbagai penghargaan dari  beberapa Lembaga Swasta, diantaranya; Tahun 2003 menerima 2 Penghargaan sekaligus yaitu sebagai TOP Executive Award dan sebagai International Professional of The Year, di tahun 2004 menerima Penghargaan  Citra Insan Pembangunan Indonesia. Tahun 2005 menerima Penghargaan International Bussiness & Company Award, di tahun 2008 menerima Penghargaan Leadership Award dan di tahun 2009 menerima Penghargaan Professional and Educator Award.

Pengalaman Hidup Membentuk Karakter

Terlahir sebagai anak seorang guru, membuat suami dari Ny. Bonur Parlindungan, SH, MH ini merasakan betapa berat perjuangan orangtuanya sebagai pendidik yang ketika itu harus ditangkap dan di intrograsi oleh Belanda hanya karena membimbing pelajaran kepada sekelompok anak di kampungnya dan dianggap pihak Belanda tidak memiliki ijin dari penguasa. “Saya merasakan kehidupan yang berat takala secara terpaksa saya harus mengungsi dari satu kampung ke kampung lain hanya untuk menghindar dari cengkraman pihak Belanda.” Ujar pria yang ketika kecil merasakan hidup diantara rimbunnya pepohonan hutan di daerahnya. Namun hal itu tidak membuat niatnya surut untuk berbuat sesuatu yang berguna demi kemajuan pendidikan di negeri ini. Ia tetap memutuskan untuk meneruskan jejak langkah kaki kedua orang tuanya sebagai seorang pendidiik.

Bersekolah di Sekolah Rakyat, Parlindungan kecil tidak diperlakukan berbeda dengan murid lainnya walaupun saat ini ayahnya menjabat sebagai kepala Sekolah Sigumpar 2. “Guru-guru yang mengajarnya saat itu, mendidik dengan keras dan tidak pandang bulu”. Namun hal itulah yang diakuinya, membentuk karakter dan kepribadiannya sampai saat ini. Setelah menjalani pendidikan di SMP dan melanjutkannya sampai SMA, Parlindungan muda memutuskan untuk berangkat menuju kota Medan dikarenakan kondisi keamanan yang sedang bergejolak saat itu.

Terdidik Untuk Menjadi Pendidik

Semangat mendidik tidak pernah hilang dalam benak pria  yang satu ini. Hal ini dapat terlihat dari jejak langkah hidupnya, dimana setelah Parlindungan masuk menjadi seorang meliter, ia ditempatkan sebagai guru militer dan pada tahun 1978 terpilih untuk menimba ilmu di USA untuk bidang Supply Management, Management Acquisition dan Logistic Management serta pada tahun 1980 sebagai Observer Training Logistic tepatnya di  Hawai – USA. Dan saat ia kembali ke tanah air  tepatnya pada tahun 1979, sebuah tempat kursus bahasa Inggris bernama International College Laboratory Of English, dipercayakan kepadanya untuk dikelola.  Sehingga  terwujudlah cita-citanya untuk mencerdaskan anak bangsa melalui dunia pendidikan.

Dibawah kepemimpinannya dalam waktu hitungan bulan, International Collage  Bandung terus berkembang. Kursus yang tadinya hanya membuka kursus Bahasa Inggris saja, ia kembangkan dengan membuka jurusan-jurusan baru, diantaranya; kursus Bahasa Jepang, Bahasa Belanda, Mengetik, Tata Buku dan Akuntansi. Melalui tangan dinginnya, maka International Collage Bandung  mendapat kemajuan. Terbukti setahun kemudian berdirilah Lembaga Pendidikan Sekretaris Program 6 bulan. Kemudian pendidikan administrasi, Accounting, Perhotelan, Perbankan dan Jurnalistik, dimana semuanya melalui program  1 tahun.

Dari awal berdirinya lembaga ini telah memiliki gedung dan labotarium sendiri, namun lembaga pendidikan ini semuanya bersifat pendidikan luar sekolah. Sehingga keinginan untuk memformalkan baru terwujud pada tahun 1986 dengan terbentuknya Yayasan. Melalui Yayasan ini, maka berdirilah secara berturut-turut Pendidikan Formal. Dimulai dengan mendirikan SMIP pada tahun 1989, di lanjutkan pada tahun 1991 STM, tahun 1993 SMEA, tahun 1993 Politeknik, tahun 1997 Program Sertifikasi, tahun 2002 SMA dan pada tahun 2005 ini pengajuan program Diploma IV.

Hingga saat ini Lembaga Pendidikan yang dipimpin oleh Drs. Parlindungan Hutahaean, MM ini, telah menyerap lebih dari 50 staff akamedika, 220 guru dan dosen serta + 2.500 siswa dan mahasiswa. Dimana Lembaga pendidikan ini telah melahirkan lebih kurang 11.400 alumni yang telah tersebar diseluruh pelosok Nusantara dan bahkan diluar negeri.

Kebanggaannya terhadap bangsa dan negara ditunjukkannya dengan perbuatan. Hal ini dapat terlihat dengan begitu banyaknya alumni yang telah berhasil, baik di pekerjaannya maupun berwiraswasta. Terlebih Lembaga kami saat ini telah dapat menyediakan lapangan pekerjaan untuk + 290 orang sebagai kegiatan yang bermanfaat dan itu merupakan komitmen sejak awal. Namun, disisi lain, pria yang menikah pada tahun 1968 ini menyayangkan perekonomian Negara yang tidak stabil sehingga berpengaruh terhadap keuangan orang tua murid, yang mengakibatkan mereka jadi sulit membayar iuran sekolah ( SPP ). Tidak Cuma itu, Ia pun  menyayangkan ketertinggalan Indonesia di bidang pendidikan terutama begitu banyak kasus berhentinya siswa atau anak didik dari sekolah hanya karena tidak memiliki daya juang atau ketidakmampuan membiayai sekolahnya.

Parlindungan Hutahaean dan Keluarga

Keluarga merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari keseharian Parlindungan, hal ini terbukti dari dukungan istri dan putra-putrinya dalam membantu menjalankan Lembaga pendidikan yang dipimpinnya hingga saat ini. Sang istri tercinta, Ny. Bonur Parlindungan, SH., MH., (Candidate Doctor di bidang Manajemen Pendidikan), yang juga menjabat sebagai Ketua dari  Yayasan Insan Cinta Bangsa senantiasa menyempatkan diri terjun dan melihat langsung kondisi tugas-tugas pada masih-masing unit pendidikan yang ada dilingkungan  ICB.

Demikian juga tak mau ketinggalan, putra-putrinya selalu memberikan dukungan bagi pengembangan unit-unit pendidikan yang ada di lembaganya, mereka banyak memberikan masukan-masukan baik secara langsung maupun melalui diskusi by internet karena sebagian dari mereka sedang berada di luar negeri, bahkan diantara putra-putrinya sangking ingin membantu mengembangkan lembaga pendidikan orang tuanya, ada yang sampai mengirim bantuan peralatan pendidikan untuk menunjang sarana prasarana lembaga sebagai bentuk dukungannya.

Bakat mengajar di lingkungan keluarganya hampir melekat pada setiap anggota keluarga, hal ini dapat terlihat dan dibuktikan dengan ikut sertanya mereka mengajar sebagai tenaga pendidik pada lembaga yang dimilikinya dan bahkan pada event-event tertentu, mereka ikut andil memberikan pelatihan-pelatihan pengembangan bagi staff di lingkungan Yayasan  Insan Cinta Bangsa.

Dukungannya terhadap tumbuh kembang anak-anaknya pun dapat terlihat lewat keberhasilan Parlindungan dalam membesarkan putra-putrinya khususnya dalam menyelesaikan pendidikan, dimana mereka  telah berhasil dan sukses meraih berbagai gelar pendidikan baik di dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini dapat terlihat dari gelar pendidkan yang mereka miliki, diantaranya, Ir. Robert PM. Hutahaean, MM., dan sang istri Ir. Meita P. Simangunsong, MM., (Candidat Doktor Ilmu Manajemen), Winbert PM. Hutahaean, S.IP, MA., dan istrinya Daisy Pasaribu, S.Sos., (seorang Diplomat dan bertugas di Canada), kemudian anaknya yang ketiga Elfrida Hutahaean, S.Sos., dan anak yang ke empat  Elyana Hutahaean, S.IP, MA., (meraih gelar dan bekerja di Australia) dan si bungsu Ir. Limbert PM.Hutahaean, MA., saat ini sedang menempuh S3 di Sunderland University dan istrinya Ai Permanasari, SH., sedang menempuh S2 di Glasgow –  Inggris.

Generasi Muda dan Perkembangan Pendidikan

Sebagai salah satu tokoh panutan Generasi Muda, Drs. Parlindungan Hutahaean, MM., mengakui betapa besarnya potensial generasi muda dalam membangun kehidupannya, oleh karena itu kita sebagai generasi yang lebih senior wajib memberikan contoh dan tauladan kepada generasi muda. Jangan pernah bosan untuk membina semangat generasi muda dalam berbangsa dan bernegara.

Cukup memprihatinkan memang, jika kita mengamati perkembangan ekspresi generasi muda yang dipengaruhi lingkungan yang kurang baik. Mereka kerap kali berkata-kata dan bertingkah laku kasar. Namun, dengan bimbingan yang baik niscaya mereka bisa berkembang menjadi generasi penerus yang nantinya akan memimpin bangsa ini.

Hal ini pun tidak jauh dari perkembangan pendidikan di Negara ini yang secara umum masih tertinggal jika dibandingkan dengan Negara-negara lain. Ada beberapa sekolah, yang secara fasilitas sudah mencukupi tapi dari segi pendidikannya belum efektif. Bahkan secara nasional, perkembangan pendidikan masih belum merata sehingga timbul kesan hanya mereka yang memiliki kemampuan secara ekonomis mampu memperoleh pendidikan yang layak.

Tumbuh sebagai warga Negara yang bangga berbangsa dan bernegara Indonesia, lulusan Sekolah Sigumpar 1 ini pun selalu membaktikan hidupnya demi kemajuan pendidikan Indonesia “Dunia pendidikan sudah melekat pada dirinya sejak saya kecil oleh karena itu, hingga saat ini dan sepanjang Tuhan YME masih mengijinkan saya untuk bekerja, maka saya akan berkomitmen untuk terus mengabdi dilingkungan pendidikan. Filosofi pendidikan yang mengatakan bahwa “pendidikan sepanjang hayat”  menginspirasi saya untuk tidak akan pernah berhenti mendidik, long life education,” imbuhnya..

Pemerintah dan Dunia Pendidikan

Ber-visi dan misi-kan “Kebutuhan pendidikan pasti akan terus berkembang, maju terus tanpa pernah merasa bosan. Diharapkan melalui pendidikan, hidup manusia akan lebih baik dan sejahtera” pria yang ramah dan sangat santun dengan setiap orang ini, berusaha dengan segenap kekuatannya untuk memajukan perkembangan pendidikan di Indonesia, namun tak bisa dipungkiri peranan pemerintah sangatlah dibutuhkan. Ia berharap pemerintah dapat menyediakan sekolah Negara yang sepenuhnya di biayai oleh negara khususnya bagi keluarga yang tidak mampu. Pemberian beasiswa dinilainya jalan terbaik untuk meningkatkan perkembangan pendidikan, khususnya bagi orang yang kurang mampu agar mereka dapat menyelesaikan pendidikannya pada tinggat dasar, menengah bahkan pendidikan tinggi sekalipun.

Hal terpenting lainnya adalah bagaimana caranya pemerintah dapat memberikan pendidikan yang bermutu, yaitu program pendidikan yang berkualitas, baik dari segi programnya, prosesnya, peralatannya maupun staf pengajarnya sehingga nantinya dapat menghasilkan anak didik yang berkualitas yang akhirnya dapat berguna bagi bangsa dan negara ini.

“Tidak seperti bidang-bidang usaha yang lain, kami mengelola usaha pendidikan dengan model berwirausaha, artinya segala sesuatu yang akan kita lakukan harus kita hitung dengan cermat agar memberikan hasil yang baik dan berkualitas. Usaha di bidang pendidikan merupakan usaha jangka panjang yang harus mengedepankan mutu dan kualitas pengajaran. Penciptaan pengajaran yang bermutu dan berkualitas tentunya tidak bisa instan tetapi harus berkesinambungan ” Ujar pria yang murah senyum ini.

“Pendidikan yang berorientasi pada enterpreneurship atau kewiraswastaan adalah berjuang demi kemajuan dan mampu mengabdikan diri kepada masyarakat sebagai wujud pendidikan dan setiap anak didik nantinya diharapkan memiliki tekad dan kemampuan sendiri untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang makin meningkat dan memperluas lapangan kerja”. Konsep inilah yang sekarang sedang kita usung menjadi acuan untuk mengembangkan program-program pendidikan di Lembaga kami, baik di tingkat menengah kejuruan maupun di pendidikan tinggi.

Ia pun menambahkan, dalam kiprahnya setiap perguruan tinggi di Indonesia harus mampu berperan dan memberikan kontribusinya dalam membangun Intellectual Quotient, Emotional Quotient dan Spiritual Quotient kepada setiap mahasiswanya, hal ini dapat diwijudkan dalam meramu kurikulum yang berbasis kepada pembentukan kompetensi yang berfokus pada skill (keterampilan), Knowledge (Pengetahuan) dan Attitude ( Perilaku).

Seseorang yang hanya bisa mengajar tapi ajarannya tidak mendidik maka hasilnya bisa menyesatkan anak didik. Setiap pendidik  harus mampu mengajar sesuai dengan tugasnya dan apapun yang diajarkannya harus bersifat mendidik. Untuk itu seluruh pendidik diharapkan dapat terus meningkatkan kemampuan dan keterampilan serta meningkatkan pengetahuan mereka demi kemajuan bangsa, pendidik harus memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negaranya, karena lewat tangan para pendidiklah, anak didik yang tangguh, cerdas dan berguna bagi bangsa depan bangsa dan negara ini dapat diciptakan. Maju tidaknya bangsa ini bisa ditentukan oleh para pendidik.

“Pendidikan formal terkadang menjadikan orang mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Namun hal itu akan berjalan lebih baik jika disertai pendidikan non formal, seperti pendidikan ahlak, budi pekerti, sopan santun, kedisiplinan dan tanggung jawab. Dasar-dasar norma tersebut akan membentuk kepribadian diri seseorang sehingga meraih sukses dan mudah menyesuaikan diri ditengah masyarakat.

Demikian juga dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, mereka harus mampu dan mau menyesuaikan diri dengan perubahan dan perkembangan zaman, seperti halnya perkembangan teknologi dan informasi yang dapat diaplikasikan dalam penerapan metode pengajaran dan mereka pun dapat mengikuti pelatihan-pelatihan tentang penggunaan teknologi atau perkembangan informasi. Jangan sampai seorang pendidik nantinya tertinggal oleh anak didiknya dalam penggunaan teknologi informasi yang terus berkembang.

Mata pelajaran yang diberikan pun harus memiliki muatan-muatan pengembangan kepribadian, kemampuan keilmuan dan keterampilan, kemampuan berkarya, kemampuan perilaku berkarya, kemampuan hidup bermasyarakat. Jika hal itu dilakukan maka lulusan perguruan tinggi yang dihasilkan dapat lebih berdaya guna di tengah masyarakat.”Kualitas suatu Negara dapat tercermin dari sistem pendidikan dan hasil dari pendidikan itu sendiri. Tentu untuk mencapai hasil yang diinginkan tidak semudah membalikkan telapak tangan, dibutuhkan dedikasi, pengorbanan dan keinginan yang kuat dari para pendidik itu sendiri maupun dan semua pihak.”

Obsesi di Masa Depan

Bagi pria berusia 69 tahun ini, hidup di tentukan oleh pendidikan. Hasil didapatkan dari bekerja dan untuk bisa bekerja dibutuhkan keahlian, karena itu ia berobsesi dapat menuntun anak didiknya menghadapi persaingan di dunia pendidikan saat ini dengan latihan, pengajaran dan kepemimpinan, karena kita hidup dalam dunia usaha dimana jiwa entrepreneur harus diterapkan dalam diri setiap anak didiknya.

“Kita harus menanamkan sifat senang memberi kontribusi kepada masyarakat tanpa pamrih, walau tetap berjiwa entrepreneur yaitu berjiwa win win solution (kedua pihak merasa diuntungkan),” ucap pria yang selalu menerapkan system pengajaran yang bijak dengan tidak mengucapkan ‘kamu salah’ atau ‘ jangan lakukan’ itu. ”Kita harus percaya kalau anak didik kita bisa melewati kompetisi ini. Dengan begitu, rasa percaya diri mereka bisa terlatih sejak dini  dan lihat saja apa yang mungkin terjadi nanti,” ujarnya menutup pembicaraan dengan Tim Profil.

Kombes Pol. Drs. Siswandi

No Comments

Kanit II Direktorat IV Bareskrim Polri

Indonesia Pangsa Narkotika Dunia

Peredaran narkotika dan obat-obatan (narkoba) semakin meluas belakangan ini. Maraknya bisnis narkoba tidak lepas dari besarnya perputaran uang haram di dalamnya. Tidak tanggung-tanggung, menurut laporan lembaga PBB, United Nation Office on Drug and Crime (UNODC), nilai perdagangan narkoba tahun 2003 mencapai US $ 322 miliar. Angka tersebut lebih besar dibandingkan dengan Gross Domestic Product (GDP) 88 persen negara-negara di dunia. Sedangkan di Indonesia, tercatat sebesar Rp12 triliun dihasilkan dari perdagangan narkoba.

Meskipun demikian, besaran uang yang dihasilkan tidak sebanding dengan kerusakan yang ditimbulkan. Karena dampak penyalahgunaan narkotika sangat luas. Tidak hanya terbatas pada kerusakan fisik dan mental tetapi juga ketenangan kehidupan dalam keluarga, meresahkan masyarakat dan terjadinya pelanggaran hukum. Dampak nyata yang dapat dilihat langsung dari pengguna narkoba adalah perubahan perilaku (malas, melawan, membantah, berbohong, dan lain-lain), kriminalitas, prostitusi, keluarga hancur, putus sekolah, penyakit AIDS, HIV sampai meninggal dunia.

Pemakai narkoba berubah menjadi orang egois, eksklusif, paranaoid, jahat dan asosial. Tuntutan kebutuhan fisik tersebut membuat sebagian besar pengguna narkoba mengalami kerusakan mental dan moral. Banyak pengguna yang untuk memenuhi kebutuhan terhadap narkoba menjadi pelacur, penipu, penjahat dan pembunuh. Kejahatan yang dilakukan pun tidak pandang bulu, bisa menimpa teman, sahabat, saudara bahkan orang tua kandungnya sendiri.

“Kondisi fisik yang lemah membuat mereka malas yang berujung menjadi bodoh dan miskin. Akan menjadi semakin berbahaya ketika orang miskin memiliki kebutuhan mahal karena mereka akan menjadi jahat. Ini akan menjadi ancaman bagi masyarakat, menjadi penyakit dan malapetakan bagi bangsa. Pemakai narkoba tidak hanya mengalami gangguan kesehatan, tetapi juga datangnya penyakit menular,” kata Kombes Pol. Siswandi, dalam bukunya “Pangsa Narkotika Dunia Indonesia”.

Menurut Siswandi, kerusakan yang tidak kalah berbahaya adalah gangguan psikologis serta kerusakan mental dan moral. Seorang anggota keluarga menjadi pengguna narkoba akan menimbulkan beragam masalah bagi keluarga tersebut. Awalnya masalah psikologis berupa gangguan keharmonisan rumah tangga karena muncul rasa malu pada anggota keluarga yang lain kepada tetangga dan masyarakat.

Dari masalah psikologis akan berkembang menjadi masalah ekonomi, ketika keluarga memutuskan untuk merehabilitasi anggota keluarga yang terjerumus ke lembah narkoba. Upaya mengembalikan anggota keluarga ke jalan yang benar ini memakan waktu dan biaya yang sangat besar. Padahal, keluarga telah kehilangan barang-barang berharga akibat pengguna narkoba mencuri dan menjualnya untuk memenuhi ketergantungan terhadap narkoba.

Masalah ekonomi yang ditimbulkan akibat kenekatan pengguna narkoba bisa menghancurkan keluarga. Tidak hanya sekadar terkurasnya harta benda –baik yang dicuri maupun untuk rehabilitasi- tetapi bisa berujung kekerasan dalam rumah tangga. Mulai tingkat perkelahian, pemaksaan, penganiayaan dan yang lebih tragis terjadi pembunuhan sesama anggota keluarga.

Selain itu, penyalahgunaan narkoba juga bisa mengakibatkan perceraian, anak terlantar, putusnya hubungan asmara, putus sekolah dan lain-lain. Intinya, masalah narkotika akan merembet kepada masalah-masalah lain yang lebih luas dan berbahaya seperti kriminalitas, prostitusi, korupsi, kolusi, nepotisme dan lain-lain.

Bila kerusakan tatanan kehidupan meluas ke seluruh pelosok negeri, pembangunan akan terhambat, kemiskinan meluas, kekacauan merata dan kejahatan muncul di mana-mana. “Jika demkian, sekeras apapun usaha kita membangun negara, kehancuran bangsa ini tinggal menunggu waktu. Intinya, narkotika dapat membunuh anak bangsa,” tegasnya.

Negeri Seribu Pintu

Melihat begitu besarnya uang yang beredar di dunia narkoba, bisnis ini sudah menggurita di seluruh dunia sejak puluhan tahun lalu. Nama-nama besar mafia dunia tidak bisa dilepaskan dari bisnis narkoba, meskipun mungkin berkedok usaha yang secara hukum resmi dan legal. Sementara di Indonesia, bisnis narkoba telah tumbuh sejak zaman penjajahan Belanda. Saat itu, bahkan narkoba merupakan bisnis yang legal sesuai hukum Belanda.

Pasca kemerdekaan bisnis narkoba di Indonesia dilarang secara hukum. Meskipun demikian, beberapa “pemain” tetap melakukan bisnis narkoba secara sembunyi-sembunyi. Apalagi barang haram berupa ganja bisa ditemukan secara alami di wilayah Sumatera seperti Aceh, Jawa dan daerah lainnya. Selain itu, pertumbuhan penduduk Indonesia yang sangat cepat, menjadikan negeri ini sebagai target pangsa narkoba dunia.

Di sisi lain, jalan untuk memasukkan narkoba ke Indonesia pun terbuka lebar. Meskipun jalur penerbangan udara relative tertutup karena ketatnya penjagaan petugas, namun Indonesia memiliki 17.840 pulau besar dan kecil. Artinya, Indonesia memiliki garis pantai yang sangat panjang (95.181 kilometer dan terpanjang di dunia) dengan beberapa pelabuhan saja yang diawasi petugas. Inilah celah yang bisa dimanfaatkan oleh penyelundup narkoba disamping perbatasan dengan negara lain.

“Dunia internasional mengakui potensi kekayaan Indonesia sebagai sebuah kekuatan yang luar biasa. Sejak dahulu, Indonesia menjadi ‘target serbu’ negara luar yang hendak berkuasa atas negeri kepulauan ini. Tetapi sebagai negara kepulauan dengan segala potensinya memang menguntungkan di satu sisi. Tetapi sekaligus merugikan karena menjadi peluang bagi penyelundupan narkoba. Artinya, seluruh pesisir Indonesia menjadi puntu masuk datangnya barang atau orang dari luar negeri,” ujarnya.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki 39 pelabuhan laut yang terbuka bagi perdagangan internasional. Selain itu, banyak pelabuhan laut yang dikelola secara tradisional oleh masyarakat setempat. Meskipun demikian, kedua pelabuhan –baik internasional maupun tradisional- menjadi sarana untuk penyelundupan narkoba secara efektif sehingga memerlukan pengawasan intensif aparat.

Di daratan, Indonesia berbatasan langsung dengan tiga negara pada 47 kecamatan. Yakni 19 kecamatan berbatasan langsung dengan Malaysia, 17 kecamatan berbatasan dengan Papua New Guinea dan 10 kecamatan berbatasan langsung dengan Timor Leste. Masing-masing perbatasan memiliki karakteristik tersendiri terkait permasalahan pelintas batas serta arus keluar masuk barang.

Pintu masuk peredaran narkoba lainnya adalah bandar udara yang berjumlah 22 di seluruh Indonesia. Beberapa bandara langsung didarati pesawat dari luar negeri tanpa harus transit di Bandara Soekarno Hatta sebagai bandara internasional utama. Dari sinilah, beberapa kali petugas berhasil menggagalkan upaya penyelundupan narkoba dari sindikat luar negeri ke Indonesia. Oleh karena itu, saat ini 10 bandara mendapatkan pengawasan prioritas terkait penyelundupan narkoba.

Pertanyaannya, mengapa Indonesia menjadi surga bagi para pemasok narkoba internasional? Padahal, secara ekonomi penduduk Indonesia masih kalah sejahtera dibandingkan dengan penduduk negara-negara di sekitarnya. Artinya daya beli rakyat Indonesia masih rendah daripada penduduk Malaysia, Thailand apalagi Singapura.

Jawabannya, perbandingan harga antara pasaran narkoba dunia dan Indonesia tidak tanggung-tanggung, mencapai 2000 persen. Artinya untuk harga Rp600 ribu per gram shabu di Iran, orang Indonesia berani membayar Rp2 juta. Sementara di Malaysia barang yang sama hanya dihargai maksimal Rp360 ribu saja setiap gram-nya. Begitu juga dengan heroin yang di Kolombia per gram hanya Rp38.700 di Indonesia mencapai Rp2 juta.

Dengan semakin meningkatnya pengguna narkoba di Indonesia -dari 3,2 juta tahun 2004 menjadi 3,6 juta tahun 2010- Indonesia adalah benar-benar surga bagi para mafia narkoba internasional. Tidak heran, segala cara digunakan untuk menyelundupkan narkoba ke Indonesia.

Indonesia Bebas Narkoba Tahun 2015

Peredaran narkoba harus diperangi sampai ke akar-akarnya. Seperti juga telah dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Hari Anti Narkotika International (HUT HANI) tahun 2006, “Negara tidak boleh kalah melawan penjahat apalagi SIndikat Narkotika”. Oleh karena itu, perang terhadap narkotika setara dengan perang melawan korupsi dan terorisme. Sebab, fakta akibat kejahatan narkotika setiap hari 50 anak Indonesia meninggal dunia.

Dengan begitu, perang terhadap narkotika merupakan perang seluruh rakyat Indonesia. Persoalan narkotika telah dikaji dari berbagai aspek, mulai kesehatan dan psikologis semuanya berbahaya bagi kehidupan. Tidak hanya jumlah korban yang terus meningkat tetapi juga dampak sistemik dari penggunaan narkoba tidak pada tempatnya yang mengakibatkan rusaknya generasi muda. Dikhawatirkan, dampak narkoba ke depan akan mengancam kedaulatan negara.

Fakta yang terkumpul dari lapangan, terungkap maraknya peredaran narkoba di Indonesia tidak lepas dari 12 unsur yang memudahkan barang haram tersebut beredar dan berkembang. Peluang tersebut menjadi faktor kunci yang mendorong sindikat narkotika internasional menjadikan Indonesia sebagai pangsa dengan populasi 230 juta jiwa. Adapun 12 peluang dan penyebab masuknya narkoba ke Indonesia adalah:

1. Banyaknya Pintu Masuk
Faktor geografis Indonesia sebagai negara kepulauan menyebabkan banyak celah yang memudahkan sindikat narkotika internasional masuk ke wilayah nusantara. Caranya lewat tiga pintu masuk yang tersedia, darat, laut dan udara dengan komposisi terbanyak lewat laut, disusul darat dan udara.

2. Murahnya Harga Kurir
Penyelundupan narkoba di Indonesia turut melibatkan WNI sebagai kurir kebanyakan akibat masalah ekonomi yang menderanya. Celakanya upah yang mereka terima sangat mudah dan tidak sepadan dengan risiko yang harus mereka hadapi ketika tertangkap.

3. Mudahnya Merekrut Kurir
Selain murah, kurir Indonesia juga sangat mudah direkrut. Iming-iming bepergian ke luar negeri, memacari sampai menikahi, adalah cara termudah untuk memperoleh kurir.

4. Mudahnya Membentuk Jaringan
Kejahatan narkoba adalah kejahatan terorganisir yang sangat rapi dan melibatkan banyak orang. Sistem kurir, membuat tidak hanya antar kurir tidak saling mengenal, juga antara kurir dengan bosnya tidak pernah terjadi pertemuan. Kurir hanya mengenal orang yang merekrutnya sehingga ketika tertangkap jaringan terputus.

5. Tingginya Harga Jual
Harga jual narkoba di Indonesia yang sangat tinggi membuat sindikat narkoba internasional tertarik menjual dagangannya di sini. Motif keuntungan akibat harga selangit mendorong sindikat dengan segala cara berusaha memasukkan narkoba ke Indonesia.

6. Mudahnya Mencari Tempat Tinggal
Indonesia menjadi surga bagi para pengedar narkoba internasional karena sangat mudah mencari tempat tinggal. Saat ini, demi mengagungkan privasi rumah, apartemen, hotel sampai kos-kosan tidak peduli dengan aktivitas penyewa.

7. Tingginya Jumlah Penduduk
Narkoba tetaplah sebuah bisnis, sehingga sesuai analisis bisnis Indonesia merupakan target pasar yang sangat menarik. Jumlah penduduk yang besar dengan daya beli dan selera tinggi pada tingkat atas menjadi sasaran pemasaran barang haram tersebut.

8. Penerapan Sanksi Hukum Kurang Maksimal
Meskipun Indonesia negara hukum dan menjadikan hukum sebagai panglima tertinggi, tetapi masih memerlukan pengawasan dalam penerapan sanksi hukum bagi terpidana. Banyak kasus hukum besar yang mendapat sanksi kecil dan sebaliknya kasus-kasus hukum kecil justru memperoleh sanksi yang maksimal.

9. Kurang Memiliki Kepastian Hukum
Tindak pidana narkotika di Indonesia diatur dalam UU No. 5 1997 tentang psikotropika, dan UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika, yang mengatur semua hal terkait dengan hukuman dan vonis pelaku kejahatan narkotika. Sayangnya dalam penerapannya tidak ada kepastian hukum sehingga banyak terpidana mati narkoba yang tidak kunjung dieksekusi bahkan memperoleh pengampunan atau pengurangan hukum.

10. Terbatasnya Peralatan dan Kurangnya SDM
Perlindungan terhadap keselamatan masyarakat Indonesia terkait narkoba sejatinya didukung oleh sumber daya manusia (SDM) dan peralatan yang kuat. Sayangnya, sumber daya yang dimiliki kepolisian masih sangat minim pengetahuan narkotika dalam menghadapi sindikat narkotika yang terus mencari modus operandi baru.

11. Lemahnya Pengawasan di Pintu Masuk
Kebanggaan sebagai negara dengan belasan ribu pulau memang patut disyukuri. Namun, jangan sampai kekayaan itu membuat bangsa Indonesia terlena sehingga bisa digunakan sebagai pintu masuk bagi sindikat narkoba internasional untuk memasukkan narkoba ke Indonesia.

12. Tingginya Ego Sektoral
Penanggulangan bahaya narkoba masih terkendala adanya egosentrisme sektoral antar instansi yang terlibat di dalam penanganan narkotika. Mulai petugas Bea dan Cukai, BNN dan Kepolisian Republik Indonesia, semua berjalan sesuai tupoksi masing-masing. Meskipun terkadang ego sektoral membuat penyidikan yang dilakukan pihak kepolisian menjadi gagal.

Melihat kenyataan tersebut, diperlukan good will dan political will dari seluruh elemen untuk pemberantasan peredaran narkoba. Dari 12 peluang tersebarnya narkoba tersebut jelas terlihat bahwa Indonesia sangat sulit untuk keluar dari cengkeraman jerat narkotika. Masih memerlukan upaya keras, tegas dan terus menerus untuk mewujudkan Indonesia yang bersih dari narkoba.

“Memang Indonesia Bebas Narkoba Tahun 2015 telah dicanangkan. Begitu juga negara-negara ASEAN yang bebas dari peredaran dan penyalahgunaan narkoba. Sebagai bagian dari Polri, saya harus tunduk, patuh serta berkomitmen mensukseskan agenda nasional tersebut. Hanya niat dan keinginan saja yang memampukan kita melawan sindikat narkoba. Karena sejak wacana 2015 bebas narkoba, justru peredaran narkoba di Indonesia semakin tinggi. Dari negara transit menjadi negara tujuan, makanya saat inilah kita harus menentukan apakah kita serius menjadikan 2015 sesuai agenda atau justru menjadi kartel,” tegasnya.

Spesialis Jaringan West Africa

Kombes Pol Siswandi dikenal memiliki spesialisasi pada pengungkapan jaringan narkoba kulit hitam asal Afrika Barat (West Africa). Puluhan pengedar narkoba asal Afrika Barat telah berhasil dibekuk pria kelahiran Medan, 5 Juli 1959 ini. Dalam catatannya, fenomena yang terjadi dalam sindikat peredaran narkoba di Indonesia adalah penggunaan kurir wanita asal Indonesia. Data yang dimiliki instansinya menyebutkan bahwa sejak tahun 2006-2007, tercatat sebanyak 12 wanita Indonesia yang dijadikan kurir jaringan narkoba. Dalam struktur perdagangan narkoba terdiri dari pengedar, pemilik dan kurir.

Beragam profesi direkrut jaringan sindikat narkoba internasional untuk menjadi kurir. Mulai pelajar, ibu rumah tangga, orang yang terjerat hutang sampai nenek-nenek yang memiliki beban domestik direkrut menjadi kurir. Apalagi, karena dalam kondisi terpaksa seperti itu membuat bayaran untuk merekrut kurir di Indonesia sangat murah. Sungguh tidak sebanding dengan taruhan hukuman mati yang akan menimpa mereka dibandingkan dengan nilai narkoba yang harus diantarnya.

Belakangan, jaringan sindikat narkoba asal Afrika Barat merekrut kurir dari negara target yang biasanya wanita. Digunakannya kurir wanita, karena mereka memiliki masalah yang sangat kompleks, yakni beban domestik rumah tangga seperti urusan ekonomi dan anak-anak.

Masalah-masalah kompleks yang dihadapi (sebagian) wanita Indonesia tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh sindikat narkoba Afrika Barat. Apalagi, mind set wanita Indonesia terhadap orang-orang yang berasal dari Afrika Barat sangat baik. Adapun faktor yang membuat wanita Indonesia kepincut jaringan narkoba Afrika Barat dan dijadikan kurir, antara lain:

1. Warga Afrika Barat dinilai memiliki komitmen dan setia sebagai teman
2. Memiliki kemampuan seks yang sangat hebat
3. Memiliki kemampuan persuasi dalam memperdaya dengan berbagai janji-janji maupun imbalan bila berhasil dalam berbisnis
4. Merasa memiliki kebanggaan apabila bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris serta jalan bersama dengan orang-orang West Africa (sehingga berpeluang besar untuk satu kamar dan berbuntut dijadikan istri maupun wanita simpanan)

Keempat faktor inilah yang tanpa disadari dimanfaatkan oleh jaringan narkoba West Afrika, sehingga dengan mudah bisa beroperasi di Indonesia melalui bantuan kurir wanita pribumi. Beberapa siasat dilakukan oleh jaringan ini untuk menjebak beberapa wanita Indonesia yang tidak bisa dihindari, antara lain:

1. Orang-orang West Africa meminjam nomor rekening, ATM serta nomor PIN ATM dengan alasan untuk berbisnis. Para wanita tersebut dijanjikan akan menerima imbalan dari keuntungan bisnisnya (tanpa disadari wanita tersebut akan memberikan ATM berikut nomor PIN-nya)
2. Untuk menjadi guide dan teman West Africa yang notabene bertempat tinggal dalam satu kamar dan berlanjut sampai dijadikan istri maupun wanita simpanan
3. Setelah tinggal sekamar dan dijadikan istri atau wanita simpanan, apabila dengan cara baik-baik tidak bisa dijadikan kurir, maka kemudian dicari-cari kesalahannya untuk dijadikan sebagai ancaman agar bersedia dijadikan kurir dalam sindikat narkoba

Tips Untuk Wanita
Menghindari Jebakan Sindikat Narkoba Afrika Barat

 Hindari ajakan, rayuan dengan janji-janji dengan imbalan maupun dijadikan istri, apalagi gendakan agar tidak tertangkap
 Jangan sekali-kali meminjamkan ATM berikut nomor rekening serta nomor PIN ATM. Walaupun dengan berbagai alasan dan iming-iming janji apapun, karena semua kasus di dalam jaringan sindikat narkoba West Africa menggunakan ATM dengan nama wanita
 Jangan sekali-kali membawa, mengangkut maupun mengambil barang, baik paket, koper, tas dan lain-lain, karena semua kasus narkoba seluruh kurir yang membawa barang narkoba
 Hindari atau tolak bila WN West Africa ingin tahu dan kenal keluarga. Hal tersebut dapat mencegah pemberian apapun oleh sindikat narkoba kepada keluarga (ada kasus yang karena orangtuanya tidak bisa menolak sehingga anaknya diperbolehkan untuk disuruh mengambil koper di luar negeri, yang notabene koper tersebut berisikan heroin)
 Yang paling mujarab, hindari ingin kenal terhadap orang-orang West Africa sebelum mengetahui secara pasti dan jelas identitas, status maupun pekerjaannya di Indonesia. Alangkah lebih baik, konsultasikan dulu kepada instansi yang berwenang (polisi, imigrasi dan instansi lain). Sebagai contoh kasus, jangankan hanya gendaan yang mereka korbankan untuk dijadikan kurir sindikat narkoba, bahkan istri pun mereka korbankan untuk masuk dalam sindikat narkoba. Contoh kasus tersangka Elis Suginah dengan barang bukti 50 gram heroin. Ia menjadi istri West Africa yang sedang hamil 8 bulan dikorbankan untuk mengantarkan heroin sehingga tertangkap dan sampai melahirkan suaminya (WN Nigeria) tidak pernah muncul

Tips untuk Masyarakat
Dalam Upaya Mengungkap Sindikat Narkoba Afrika Barat
1. Apabila ada warga Negara Afrika Barat yang bertempat tinggal sebagai tetangga maupun menjadi warga setempat (karena kontrak, kost dan lain-lain). Tanya dulu identitas yang lengkap dan statusnya sebagai apa (bekerja sama dengan RT/RW, lurah dan camat)
2. Fotocopy dokumen-dokumen yang ada dan dilihat dulu paspor aslinya. Sehingga fotocopy dokumen-dokumen tersebut ada di tingkat RT/RW, kelurahan dan kecamatan (biasanya tidak memiliki paspor asli)
3. Catat dan laporkan kepada aparat setempat bila ada WNA Afrika Barat yang melakukan aktifitas tidak jelas, seperti pergi pagi dan pulang pagi, pergi sore pulang pagi, kehidupan mewah pekerjaan tidak jelas, naik mobil gonta-ganti dan sebagainya
4. Jangan berikan peluang dan kesempatan lingkungan, tempat tinggal tersebut dijadikan basis jaringan Afrika Barat
5. Laporkan segera kepada petugas setempat kalau ada hal-hal yang mencurigakan (paling tidak sudah mencegah, serta berpartisipasi aktif membantu petugas dalam memberantas sindikat narkoba Afrika Barat)

Biodata:

Nama : Drs. Siswandi
Pangkat/NRP: Kombes Pol/59070990
Tempat/Lahir: Medan, 05 Juli 1959
Jabatan : Kepala Unit II
Kesatuan : DIT IV/TP.NARKOBA DAN K.T – BARESKRIM POLRI
No. HP : 0857 1870 0000
Kantor/fax : 021 – 80877403

Riwayat Jabatan:
1. Inspektur Muda Akademi Kepolisian
2. Kapolsek Way Jepara Res Lampung Tengah SUMBAGSEL
3. Ka KPPP Panjang Polwil Lampung Polda SUMBAGSEL
4. Kapolsek Tj Karang Barat Polwil Wil Lampung SUMBAGSEL
5. Kasat Serse Resta Bandar Lampung Polda SUMBAGSEL
6. DIK/Mahasiswa PTIK Angkatan 28 TH. 1991
7. Kasat Serse Res Probolinggo Polda JATIM
8. Kasat Serse Res Surabaya Selatan Polda JATIM
9. Kasubbagin Ops. Serse Ek Dit Serse Polda JATIM
10. Pabandya Skamtibmas Mabes ABRI
11. Kanit Narkotik Ditserse Polda Metro Jaya
12. DIK/Mahasiswa Sespim Pol Angkatan 34 TH. 1997
13. Kabag Narkotik Ditserse Polda KALTIM
14. Kasat VC Dit Pidum Korserse Polri
15. Kasat Serse Polwiltabes Bandung Polda JABAR
16. Kapolresta Cirebon Polda JABAR
17. Kasubag Min Korta Sespati Polri Sespimpol Lembang Bandung DIK Sespati Angkatan 16 TH. 2009
18. Kanit II DIT.IV/TP Narkoba dan KT Bareskrim Februari 2006- sekarang

Penugasan luar negeri:
1. China
2. Hongkong
3. Malaysia
4. Singapura
5. Philipina
6. Kamboja
7. Thailang
8. Korea Selatan
9. Jepang
10. Vietnam
11. Belanda
12. Perancis

Penghargaan:

1. Tahun 2008
International Professional Award 2008
Dalam Kategori Best Professional Yang Ditandatangani Oleh Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi R.I., Menteri Kebudayaan Dan Pariwisata R.I. Serta Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan R.I. Tanggal 23 Mei 2008.

2. Tahun 2009
Indonesian Professional And Educator Award 2009
Dari Lembaga Prestasi Indonesia Yang Ditanda Tangani Oleh Director Of Indonesia Strategic Institute (Irham Putra, MSi) Dan Chairman Of Organizing Commite (Fenita Hidayat).

3. Tahun 2010
Indonesian Quality Development Award
Kategori As The Best Professional Of The Year, Yang Ditandatangani Oleh Menko Kesra R.I. Dr. H.R Agung Laksono Serta Menteri Kebudayaan Dan Pariwisata R.I. Ir. Jero Wacik, SE. Tanggal 12 Feb 2010.

 

Jacob Jack Ospara, M.Th

No Comments

Anggota DPD Provinsi Maluku

Mengajak Rakyat Maluku Bersama-sama Membangun Bangsa

Kalau ada yang melenggang ke Senayan bukan untuk mencari uang, Jacob Jack Ospara, M.Th adalah orangnya. Karena sebagai senator anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Provinsi Maluku, sangat memungkinkan untuk menggelembungkan pundi-pundi uangnya.

Sebaliknya yang dilakukan Jack –sebutan akrab baginya- adalah tetap menjaga dan melindungi idealismenya yang ditawarkan saat kampanye pemilihan senator, yakni dengan menyuarakan jeritan hati rakyat Maluku yang meskipun sudah 64 tahun bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Pembangunan baik yang dilakukan pemerintahan Orde Baru maupun Reformasi belum dapat menjawab realitas dan pergumulan rakyat Maluku.

Menurut Jack, dalam kampanye pemilihan, ia tidak menyuruh rakyat untuk memilih dirinya, tetapi mengajak rakyat untuk bersama-sama membangun bangsa dan negara dengan segala sumber daya yang mereka miliki untuk mewujudkan masyarakat Maluku yang sejahtera dan berkeadilan.

Jack merasa apa yang dilakukan wakil rakyat sekarang –baik di DPR maupun DPD- mengagung-agungkan ungkapan “vox populi vox dei”. Ungkapan yang berarti suara rakyat suara Tuhan yang sering diteriakkan saat kampanye tersebut, dipandang sinis olehnya. Bagi Jack, ungkapan tersebut hanya slogan belaka karena dipakai untuk memobilisasi massa dan merangsang semangat rakyat pemilik hak suara. Namun, segera setelah berhasil duduk sebagai anggota dewan yang terhormat mrg dengan serta merta menafikan kepentingan rakyat dan lebih mengutamakan kepentingan keluarga, kelompok atau golongan masing-masing.

Lembaga legislatif yang seharusnya berfungsi sebagai alat kontrol pemerintah dalam menyusun dan membuat kebijakan semakin mudah ditawar dan dikendalikan. Hal inilah yang bagi kalangan LSM, media dan pengamat politik yang kritis menjuluki lembaga legislatif sebagai “tukang stempel”, akibat mereka sering meloloskan kebijakan-kebijakan yang tidak humanis dan pro rakyat.

“Negara kita dalam keadaan sakit, baik mental maupun moral. Sebagian besar dari kita sudah kehilangan sense of crisis dan cinta kasih kepada bangsa dan negaranya. Banyak dari mereka yang telah mengubah jubah dan singgasananya sebagai wakil rakyat serta melupakan khittah kemanusiaannya. Mereka menjadi seperti serigala-serigala politik yang hanya mengandalkan kekuatan, tidak ada nurani, tidak ada akal sehat, bahkan tak peduli yang kuat itu lacur. Mereka tidak lagi peduli pada kepentingan rakyat jelata yang hampir sebagian besar masih berkutat dengan masalah perut,” ujarnya.

Jack Ospara terpanggil untuk mengabdikan diri berbekal pengalaman dan ilmu pengetahuan yang sudah dialaminya selama puluhan tahun. Pengabdian dan perhatiannya yang sangat besar terhadap tanah leluhur itulah yang mengantarkannya menjadi seorang wakil rakyat utusan daerah atau anggota DPD-RI. “Saya hanya mengemukakan apa yang terbaik untuk dilaksanakan di negeri ini. Sesuai dengan visi saya, Menjadi Wakil daerah yang dapat dipercaya, Jujur, Terbuka, Memperjuangkan Pembangunan Daerah yang Adil dan Bermartabat bagi Kesejahteraan Masyarakat Penghuni Wilayah Seribu Pulau, Berdasarkan Kasih,” imbuhnya.

Menurut Jack Ospara, ada empat macam kasih yang mendasari kondisi tersebut. Yakni kasih Agape yang merupakan kasih tanpa syarat dan sanggup berkorban untuk sesama. Artinya dalam membantu tidak boleh membeda-bedakan agama, suku atau ras. Kasih agape adalah cinta kasih pemberian Tuhan yang paling hakiki.

Kedua adalah kasih Eros, yakni kasih yang dilandasi nafsu seperti keindahan, kekayaan, kecantikan dan lain-lain yang mengandung unsur kenikmatan di dalamnya. Ketiga adalah kasih Filos yakni filosofi, mengasihi dan mencintai teman. Keempat adalah kasih Storgos, yakni kasih yang memiliki ikatan yang erat seperti antara kasih orang tua.

“Ketiga kasih –Eros, Filos dan Storgos- tidak memiliki kekuatan penghubung relasi antar manusia dalam keluarga dan masyarakat bila tidak diikat dengan Agape. Tanpa kasih Agape, akan sulit membangun kebersamaan, persaudaraan, pertemanan dan kesesamaan dengan orang lain. Ini artinya bahwa kalau mau mengasihi rakyat Maluku ya harus mencintai Maluku. Mau membangun Indonesia ya harus mencintai rakyat Indonesia,” tegasnya.

Belajar, Belajar dan Belajar

Menurut Jacob Jack Ospara, M.Th., ketertarikan untuk terjun memperjuangkan suara rakyat Maluku telah terasah dan terbentuk karena keyakinan pada agama yang dianutnya. Dalam ajaran Kristen, kasih Agape Tuhan Yesus mengasihi setiap orang tanpa memandang agama, suku atau ras. Bahkan bila dalam gereja dibentuk apa yang disebut sinode dalam organisasinya, itu mengisyaratkan semua elemen; para pendeta, tua-tua, maupun anggota jemaat, wajib berjalan bersamaan, bergandengan tangan melayani, mengasihi dan berbuat sesuai karunia Tuhan memlihara dan mempertahankan kehidupan manusia dan masyarakat.

“Sinode berasal dari dua kata Yunani ‘sun’ artinya bersama-sama dan ‘nodes’ yang berarti jalan. Sinode atau ‘sunnodos’ artinya semua warga gereja berjalan bersama-sama dan melayani bersama. Tahun 1974 saya diangkat sebagai Sekretaris Departemen yang membidani pendidikan, penanganan pembangunan dan kesejahteraan sosial. Penerjemahan tugasnya mengarah pada manajemen pembangunan yang menggabungkan teologi dan masalah-masalah sosial yang berkembang di masyarakat. Realisasi dari karya Tuhan itu harus diwujudkan tidak hanya di rumah namun juga di masjid, gereja, rumah sakit, dan lain-lain,” tandasnya.

Jack adalah orang pertama, pada tahun 1975 yang menggagas pembentukan organisasi persatuan gereja rakyat Maluku. Untuk keperluan itu ia mengundang istri Menhan/Pangab RI, Ibu Yohanna Nasution dan Ibu Sri Sudarsono (adik BJ Habibie) ke Ambon untuk melihat dan bersentuhan langsung dengan realitas kehidupan rakyat Maluku.

Kepada mereka Jack menjelaskan bahwa kondisi susah yang dialami tersebut tidak pandang agama. Penganut agama Kristen, sama-sama menderita seperti saudara-saudaranya yang beragama Islam. Begitu juga sebaliknya, kondisi umat Muslim pun tidak jauh berbeda. Ini menjadi bukti bahwa Tuhan tidak pernah membedakan manusia, hanya manusia sendiri yang mengkotak-kotakkannya.

“Yang namanya kelaparan, kemiskinan tentunya dapat terjadi oleh semua umat manusia, tidak ada perbedaan agama baik Kristen, Muslim, Hindu, Budha, tidak juga ada pembedaan ras tionghoa, kulit hitam, Asia, Eropa dan lain-lain. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa masalah kemanusiaan itu sifatnya universal, kelaparan, kemiskinan, kemelaratan, penderitaan karena konflik dapat terjadi dan dialami oleh semua lapisan masyarakat. Namun, dibalik semua itu bahwa orang yang memaknai dan memahami agama secara baik tidak akan terjebak dalam fundamentalisme agama dan primordialisme yang kebablasan,” kata murid ulama besar Buya Hamka ini.

Jack yang berkawan karib dengan pemikir Islam Indonesia, almarhum Nurcholis Madjid ini memberikan ajaran kepada generasi muda untuk terus belajar dan tidak pernah berhenti menjadi manusia pembelajar. Dengan mempelajari segala hal, baik formal, informal dan mengacu pada pengalaman di masyarakat generasi muda akan memperoleh bekal yang baik untuk kehidupannya sendiri. Kalau itu yang terjadi maka bangsa Indonesia sendiri sangat beruntung memiliki generasi muda yang bermutu untuk memperbaiki kondisi sekarang.

“Pesan saya kepada generasi muda hanya satu, yakni belajar, belajar dan belajar. Belajar baik secara formal, informal dan pengalaman di masyarakat. Karena apa, hanya dengan belajar kita bisa membentuk diri kita sebagai pribadi yang baik. Setiap peristiwa yang dialami adalah kesempatan yang baik untuk belajar. Mengenal orang dari berbagai suku dan agama adalah pengalaman yang baik,” ujarnya.

Sekilas Jacob Jack Ospara

Jacob Jack Ospara lahir di Nuwewang, 18 Mei 1947, dari pasangan Hosea Ospara dan Isabela Lepit. Kehidupan pedesaan di perbatasan wilayah Kabupaten Maluku Barat Daya dan wilayah Timor Leste membuat “blue print” tentang kehidupan marginal yang dialami manusia terpatri abadi dalam pikirannya. Spirit untuk memerangi perlakuan diskriminatif tersebut kemudian mewarnai perjalanan hidup ayah tiga anak Maya, Hoberth dan Ari hasil perkawinannya dengan Maria Itje Wenno tersebut.

Meskipun orang tuanya hanya mengenyam pendidikan sampai kelas III Sekolah Rakyat (Volks School), namun tidak menyurutkan niatnya untuk memberikan pendidikan terbaik bagi putranya. Maka ketika berumur enam tahun, Jack bersekolah di SR GPM Nuwewang dan dilanjutkan ke SMP Negeri Wonreli, Pulau-Pulau Kisar. Di sini pula, pemikiran-pemikiran Jack semakin terasah. Pergaulannya yang luas dengan pemahaman terhadap dan pengenalan terhadap adat istiadat, bahasa dan budaya daerah lain menjadi dasar pembentukan kepribadiannya.

Jack yang semasa sekolah tidak dibiayai orang tua justru tidak merasa miris, bahkan sebaliknya hal tersebut menjadi semangat baginya untuk tetap berdaya hidup. Dalam proses panjang kehidupannya, secara sadar ia mengakui bahwa karakter kebangsaan dan kepribadiannya tidak lepas dari peran serta tiga orang polisi dengan latar belakang dan budaya berbeda yang ikut membiayai sekolahnya.

Proses pembentukan kepribadian itu semakin terlihat ketika Jack meneruskan sekolah di SMA Negeri 2 Ambon tahun 1963-1966. Gejolak politik tanah air terkait adanya perjuangan pembebasan Papua (Irian Barat waktu itu) dengan Trikora serta penumpasan pemberontakan PKI, semakin memotivasi semangat kebangsaannya. Ia aktif kegiatan sosial politik yang dikoordinir oleh organisasi-organisasi yang bersifat nasional seperti GSKI (Gerakan Siswa Kristen Indonesia). Jack juga aktif melakukan dialog intensif dengan siswa-siswa yang tergabung dalam GSNI (Gerakan Siswa Nasional Indonesia).

Masa SMA yang penuh pergolakan untuk mempertahankan eksistensi Negara Indonesia dari rongrongan PKI ditutup Jack dengan meneruskan pendidikan seperti yang dicita-citakannya, menjadi Pendeta. Di sisi lain, ia sebenarnya juga terpanggil untuk mengabdikan diri pada nusa dan bangsa dengan mengikuti wajib militer sukarela. Namun, setelah melalui perenungan yang dalam, cita-cita masa kecilnya lebih kuat memanggil. Jack kemudian meneruskan kuliah di Institut Teologi Gereja Protestan Maluku tahun 1967. Dua tahun kemudian, Jack dikirim ke Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta untuk menyelesaikan pendidikan sarjananya.

Semasa mahasiswa, Jack Ospara adalah aktivis yang banyak melakukan kegiatan-kegiatan organisasi kemahasiswaan dengan sikap yang militant. Ia bahkan menjadi anggota Dewan Mahasiswa dan aktif di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) cabang Ambon. Saat kuliah di STT Jakarta, Jack juga menjadi anggota Dewan Mahasiswa di kampus tersebut. Pada kesempatan inilah ia berkesempatan untuk melakukan dialog intesif dengan mahasiswa-mahasiswa dari Universitas Pancasila, Universitas Kristen Indonesia, STTF Driyarkara dan SAIN Syarief Hidayatullah. Aktivitas inilah yang mempertemukannya dengan Prof. DR. Hamka dan Nurcholis Madjid, dua sosok pemikir Islam terkemuka Indonesia.

“Pengalaman tersebut telah memperkaya sekaligus memperluas wawasan saya. Ini sangat berguna ketika saya menjabat di Gereja Protestan Maluku dan mengabdi di tengah masyarakat. Karena saya harus berhubungan dengan berbagai kalangan dalam lingkungan masyarakat,” tegasnya.

Berikut ini adalah aktivitas-aktivitas Jacob Jack Ospara, M.Th:

 Pendiri Musyawarah Perguruan Swasta (MPS) Daerah Maluku (tahun 1971)
 Pendiri Badan Koordinasi Kegiatan Masyarakat Kesejahteraan Sosial Provinsi Maluku
 Pendiri Yayasan Bina Asih Leleani Ambon (tahun 1983)
 Aktif menjadi Pengurus Pusat SOIna (Special Olympics Indonesia) sebagai Sekretaris Jenderal (2006-sekarang)
 Aktif di bidang Pendidikan Kristen sebagai Ketua III Majelis Pendidikan Kristen seluruh Indonesia
 Ketua FKKFAC Provinsi Maluku (tahun 2006-sekarang) dan Penasehat HWPCI Provinsi Maluku (tahun 2007-sekarang)
 Ketua Umum Lembaga Pengembangan Pesparawi Provinsi Maluku (tahun 1998 – sekarang)
 Pekerjaan di gereja dan Perguruan Tinggi
1. Pendeta/Penghentar Jemaat GPM di Saparua Tiouw (1973-1974)
2. Sekretaris Klasis GPM PP Lease (1974-1975)
3. Sekretaris Departemen Diakonia/Anggota Badan Pekerja Sinode GPM (Masa Bhakti 1974-1976 [1982])
4. Wakil Sekretaris Umum BPH Sinode GPM (tahun 1982-1986)
5. Sekretaris Umum BPH Sinode GPM (tahun 1986-1990)
6. Dosen Fakultas Filsafat UKIM Ambon (tahun 1990 – sekarang)
7. Pendiri dan Pimpinan Lembaga Kesejahteraan Anak dan Keluarga Inahaha (tahun 1983-1990)
8. Dosen Agama Kristen pada FKIP Unpatti Ambon dan PGSLP Ambon (1977-1988)
9. Penyuluh Agama Kristen di Lingkungan Bidang Bimas Kristen Kanwil Depag Provinsi Maluku (1976-1986)
Setelah terpilih sebagai Anggota DPD Provinsi Ambon, Jacob Jack Ospara berkomitmen untuk membangun daerah dan masyarakat Maluku dengan mengedepankan Visi dan Misi, yaitu:

Visi
Menjadi Wakil daerah yang dapat dipercaya, Jujur, Terbuka, Memperjuangkan Pembangunan Daerah yang Adil dan Bermartabat bagi Kesejahteraan Masyarakat Penghuni Wilayah Seribu Pulau, Berdasarkan Kasih

Misi
1. Memperjuangkan pemanfaatan sumber daya manusia (human resources) dan sumber daya alam (natural resources) guna mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat
2. Mengawal implementasi yang konsisten dan konsekuen semua perundangan dan peraturan negara guna menjamin pembangunan berbagai sektor berlangsung dengan transparan, akuntabel dan berkesinambungan demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat
3. Memperjuangkan terwujudnya otonomi khusus bagi Maluku sebagai Provinsi Kepulauan yang memiliki karakteristik laut – pulau
4. Memperjuangkan pengamalan nilai-nilai dasar Pancasila sebagai Falsafah Hidup bangsa Indonesia serta penyelenggaraan negara berdasarkan UUD 1945 secara fleksibel, dengan memanfaatkan kearifan lokal (local wisdom) sebagai pengejawantahan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat
5. Memperjuangkan terbukanya komunikasi sosial, politik dan kemasyarakatan antara pemerintah pusat dan daerah serta menjamin tetap tumbuhnya iklim demokrasi yang memungkinkan aspirasi daerah dan wilayah dihormati, dihargai serta diwujudkan dengan adil dan transparan