Tag: Indonesia

Johan Wang

No Comments

Johan Wang
Direktur Utama PT Jocelyn Anugrah Jaya

Mengalami Keajaiban dan Mukjizat Hidup Diwujudkan pada Miracle Agency

Beberapa kali kejadian ajaib dialami oleh Johan Wang, Direktur Utama PT Jocelyn Anugrah Jaya. Kejadian ajaib tersebut selalu berhubungan dengan keselamatan dirinya sehingga nyawanya berada di ujung tanduk. Salah satunya, ketika masih  kuliah tahun 1999, ia terserempet metromini saat naik motor ke kampus. Celakanya, ia jatuh ke kolong truk kontainer yang sedang melaju. Tak ayal, tubuhnya terseret truk kontainer sejauh sepuluh meter.

Meskipun demikian Johan Wang selamat. Ia “hanya” mengalami patah tulang di hampir sekujur tubuhnya. Setelah tergolek di rumah sakit selama satu tahun lamanya, ia dinyatakan sembuh dan bisa beraktivitas seperti sedia kala. Sejak itulah, ia sangat antipati terhadap obat dan dokter. Trauma tersebut terus dibawanya hingga bekerja, menikah dan memiliki anak. Hingga suatu saat, vonis dokter menyatakan dirinya suspect leukemia dan harus menjalani perawatan intensif.

“Ini keajaiban dan mukjizat untuk kali kedua setelah dilindas kontainer. Suami saya dinyatakan menderita leukemia akut saat menjalani pengecekan di Singapura. Peluang untuk sembuh diperkirakan hanya 30 persen kalau tidak segera ditangani. Rumah sakit di sana mengajukan dana Rp1 miliar untuk perawatan suami saya. Tetapi saya bersikeras membawanya pulang ke tanah air,” kata istrinya.

Ia dan suaminya kemudian kembali ke Indonesia untuk menjalani pengobatan herbal. Berbagai macam obat-obatan herbal dari seluruh penjuru nusantara dicoba demi kesembuhan sang suami. Ratusan juta rupiah telah dihabiskan untuk pengobatan yang ternyata tidak membuahkan hasil tersebut.

Bukannya berkurang, leukemia yang diderita Johan Wang semakin parah. Dari hidung dan gusinya terus menerus terjadi pendarahan, sementara di sekujur tubuhnya timbul bercak-bercak besar kemerahan. Ia hanya mampu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa demi kesembuhan suaminya.

“Tuhan memang Maha Baik. Suatu hari, Dia mengirimkan penderita leukemia kronis ke rumah. Orang tersebut menyarankan untuk tetap konsultasi ke dokter sebagai pegangan meskipun menggunakan herbal untuk pengobatan. Kami menurutinya dan mempercayakan pengobatan kepada dokter yang disarankan orang tersebut,” tandasnya.

Johan Wang, kemudian disarankan untuk menjalani kemoterapi di RS Ciptomangunkusumo  oleh dokter tersebut. Satu kali kemoterapi dan menghuni ruang isolasi selama 45 hari tidak menunjukkan hasil maksimal. Mungkin penyebaran sel kanker yang sudah mencapai paru-paru menjadi penyebabnya. Bahkan, sel kanker didiagnosa telah menguasai 90 persen darah yang beredar di tubuh. Dikhawatirkan, apabila sel kanker sudah mencapai otak nyawa Johan  Wang tidak tertolong.

Sekali lagi, Johan Wang harus mengulang proses kemoterapi dan isolasi dari awal. Sang istri hanya diperbolehkan menunggui suaminya dari luar ruangan. Tanpa henti, ia memanjatkan doa untuk kesembuhan Wang sembari mengasuh anaknya yang kala itu belum genap berumur satu tahun. Perlahan namun pasti, tanda-tanda kesembuhan mulai nampak. Setelah satu tahun tergolek di rumah sakit, Johan Wang dinyatakan terbebas dari leukemia.

“Puji Tuhan, ini benar-benar keajaiban dan mukjizat dari-Nya. Kebahagiaan dan rasa syukur tiada tara kami rasakan. Apalagi setelah keluar dari rumah sakit, kita masih mendapat bonus jalan-jalan ke Turki dari Prudential. Semua berkat mukjizat Tuhan, mulai terlindas kontainer sampai sembuh total dari leukemia, tanpa campur tangan Tuhan tidak akan terjadi. Oleh karena itu, saat bulan Januari 2011 membuka perusahaan, kita namakan Miracle Agency,” tuturnya.

Berkat Tuhan pula yang membuat brand Miracle Agency dari perusahaan PT Jocelyn Anugrah Jaya dengan cepat berkembang. Dengan persaudaraan dan pertemanan yang sangat kuat, dalam waktu singkat telah memiliki 1000 agen dengan 110 leader. Bahkan cabang perusahaan pun berdiri tidak hanya di Jakarta, tetapi juga Bangka, Jambi, Sungai Liat, Bandung dan lain-lain. Tidak hanya itu, dari 220 insurance agency di seluruh Indonesia Miracle Agency menduduki peringkat 10 nasional.

Membantu Orang

Awalnya Johan Wang tidak begitu tertarik dengan dunia asuransi. Sebagai perantau dari Jambi dan kuliah di Jakarta, ia indekos di kamar berukuran dua kali tiga meter. Setelah lulus kuliah ia bekerja sebagai staf auditor. Salah satu teman kos Johan bernama Heri, dilihatnya memiliki kehidupan yang lebih baik. Ternyata Heri adalah agen perusahaan asuransi Prudential.

“Suami saya melalui Heri kemudian bergabung dengan Prudential. Meskipun awalnya ia menyangka MLM, tetapi ia berketetapan hati untuk bergabung dan bekerja sebagai agen asuransi. Ia pun resmi mengundurkan diri dari perusahaan lama –meskipun sempat diiming-imingi kenaikan gaji- tetapi ia sudah bulat keputusan untuk bergabung di Prudential. Di sini ia memiliki misi yang luar biasa, yakni membantu orang menyiapkan masa depan mereka,” kisahnya.

Landasan misi mulia tersebut, lanjutnya, membuat karier Johan Wang dengan cepat meroket. Hanya dalam tempo tujuh tahun, ia sudah menduduki posisi paling atas sebagai agency manager (2008). Hampir setiap tahun perusahaan mengeluarkan bonus untuk Johan Wang berupa jalan-jalan ke luar negeri. Selain itu, penghasilan besar dari asuransi membuatnya mampu membeli rumah, mobil dan lain-lain.

Bahkan, saat dinyatakan suspect leukemia pun penghasilan Johan Wang tidak berkurang. Uplink managernya menjamin bahwa usaha sales asuransi yang dijalankannya tetap berjalan seperti biasa. Bisa dibilang, inilah bisnis yang menjadi pasif income sebenarnya. Karena saat Johan sakit, biaya operasional –seperti cicilan rumah, mobil dan biaya hidup keluarga- sebesar Rp60 juta per bulan tertutupi.

“Jadi saya tidak perlu menjual rumah atau asset lain sama sekali. Apalagi, semua biaya pengobatan suami saya benar-benar ditanggung oleh Prudential. Untungnya, perusahaan memiliki kebijaksanaan apabila nasabah menderita penyakit akut seperti kanker, leukemia dan lain-lain, polis diberikan secara cash. Yang lebih menenangkan lagi, saat suami jatuh sakit teman-teman sudah siap menggalang dana. Tetapi berkat Prudential semua telah terbantu,” kisahnya penuh syukur.

Di saat-saat sedang menderita cobaan hidup seperti itu, Johan Wang dan istrinya menyadari siapa teman dan sahabat sejati. Disamping ada yang dengan sukarela memberikan bantuan materi, ada juga yang mengetahui kondisinya lantas meninggalkan pasangan ini begitu saja. ”Kalau lagi senang, semua teman berdatangan tetapi ketika kita jatuh satu per satu meninggalkan kita. Nah, saat Johan sakit itulah baru kelihatan siapa teman-teman kita,” imbuhnya.

Melalui Miracle Agency, pasangan Johan Wang dan istri, membangun kesuksesan bersama. Mereka tidak hanya berpikir untuk kesuksesan pribadi tetapi juga membuat banyak orang sukses. Dengan berbisnis di agen asuransi Prudential kesempatan untuk memperbaiki kehidupan terbuka lebar. Ia mengisahkan bagaimana banyak anak buahnya yang memiliki keinginan kuat untuk maju berhasil meraih impiannya.

Apalagi dalam menjalankan bisnis agen asuransi Prudential relative tidak memerlukan modal sama sekali. Yang diperlukan hanyalah kemauan untuk maju mencapai impian yang dicita-citakan mencapai kehidupan yang lebih baik. Seorang agen hanya dituntut untuk ulet, memiliki tujuan yang jelas dan siap dengan risiko yang sangat kecil.

“Risikonya hanya menghadapi penolakan dari nasabah, itu saja. Dan penolakan akan tidak menjadi masalah kalau kita memiliki goal dan dream. Saya bilang belum ada bisnis seluar biasa Prudential. Tanpa modal, nilainya ratusan juta, hasilnya juga luar biasa, dengan risiko hanya penolakan. Saya dalam kurun waktu tujuh tahun sudah mampu memperoleh income diatas Rp100 juta per bulan. Padahal modal awal hanya Rp6 ribu untuk materai,” tegasnya.

Risiko Penolakan

PT Jocelyn Anugrah Jaya dibawah Johan Wang sebagai Direktur Utama setelah mencapai ranking 10 besar agen asuransi menetapkan untuk masuk 5 besar dalam beberapa tahun ke depan. Tetap bervisi untuk membantu orang mencapai kehidupan lebih baik, perusahaan mengalami akselerasi kemajuan yang sangat pesat. Beberapa bulan berjalan, perusahaan telah mencatatkan omzet rata-rata Rp1,5 miliar per minggu.

“Saya cuma menerapkan kekeluargaan, kekompakan dan lain-lain. Untuk merangsang sales, kita membuat kontes jalan-jalan, ke Hongkong, Phuket dan lain-lain. Atau angpao bagi mereka yang berhasil mendapatkan tiga nasabah. Yang jelas, karena percepatan usaha kita sangat luar biasa, kami yakin tembus sepuluh besar. Pokoknya tetap mengusung visi meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan menjadi lebih tinggi. Bring miracle for every family yaitu memberikan keajaiban bagi setiap agen dan leader yang bernaung dalam Miracle Agency. Sementara bagi nasabah banyak manfaat yang mereka rasakan dari produk-produk Prudential,” tegasnya.

Untuk mencapai visi tersebut, selain mengadakan kontes dan jalan-jalan perusahaan juga memberikan bantuan berupa training dan pelatihan. Tujuannya untuk membekali para agen agar mereka memiliki skill yang cukup untuk menghadapi tantangan ke depan, menguasai produk yang dijual serta motivasi yang tinggi untuk maju. Ibarat handphone, mereka di-charge untuk menambah stamina sebelum terjun dalam persaingan pasar asuransi yang semakin sengit.

Selain itu, Johan Wong menargetkan untuk membawa perusahaan mencapai lima besar agen asuransi di Indonesia. Karena dengan predikat lima besar berarti akan semakin mudah dalam mencari nasabah. Selain itu, banyaknya produk asuransi dari Prudential yang memenuhi kebutuhan nasabah juga memudahkan tugas agen asuransi. Di sisi lain, manfaat asuransi bagi nasabah juga sangat banyak. Mulai merancang masa pensiun, anak sekolah, sakit parah dan lain-lain dapat tercover asuransi.

“Masyarakat harus tahu bahwa setiap tahun selalu ada penyakit baru yang terdeteksi, karena mutasi penyakit semakin beragam. Nah, nasabah kalau sudah sakit, ujung-ujungnya masuk rumah sakit juga. Kenyataannya banyak orang di rumah sakit yang tidak tertolong gara-gara kesulitan dana. Di situlah pentingnya asuransi, kalau terjadi apa-apa tidak perlu menjual asset yang dengan susah payah dikumpulkan,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, secara pekerjaan bekerja sebagai agen asuransi cukup mudah. Bagi agen yunior, untuk mencapai kesuksesan cukup melakukan persis seperti yang dikerjakan oleh para seniornya. Karena para senior telah berpengalaman dan membuktikan bahwa apa yang dikerjakannya dalam bisnis ini telah menghasilkan limpahan materi bagi keluarga.

Selain itu, bagi generasi muda yang belum memiliki pekerjaan tetap, bekerja di perusahaan asuransi seperti Prudential sangat menjanjikan masa depan. Penghasilan sebagai agen asuransi mampu mencukupi kebutuhan hidup, dengan peluang karier yang terbuka lebar serta kesempatan keliling dunia. Agen asuransi juga mempunyai kesempatan untuk memiliki kebebasan financial tidak terbatas dengan keikutsertaannya pada program perusahaan tempatnya bekerja.

“Untuk yang sudah bekerja di Prudential, saya sarankan agar mereka mengikuti sistem saja untuk sukses. Kunci suksesnya cuma copy paste, mengikuti omongan leader karena mereka sudah membuktikan. Seperti saya bisa beli rumah, mobil dan lain-lain yang merupakan hasil dari pekerjaan sebagai agen asuransi. Apalagi untuk ke depan, market kita masih luar biasa. Karena selama masih ada kehidupan –kelahiran, pertumbuhan penduduk dan lain-lain- asuransi akan terus diperlukan. Sementara tenaga pemasaran asuransi pun masih sangat sedikit, dan yang harus diingat adalah risiko pekerjaan ini hanya sekadar penolakan saja,” katanya.

Profil PT Jocelyn Anugrah Jaya

PT Jocelyn Anugrah Jaya merupakan salah satu kantor manager mandiri (Agency) dari PT Prudential Life Assurance yang didirikan pada tanggal 15 April 2010 oleh Bapak Johan sebagai pemilik sekaligus pemimpin perusahaan dan disyahkan dengan akte notaris Hannywati Gunawan, SH, No 34. Perusahaan bergerak di bidang jasa khususnya asuransi jiwa dan mulai beroperasi pada tanggal 3 Januari 2011, beralamat di gedung Permata Kuningan, Jakarta Selatan.

Perusahaan lebih di kenal dengan brand Miracle Agency untuk mempermudah komunikasi antara pihak Prudential (kantor pusat) dengan agency. Karena setiap agency memiliki kode kantor yang berbeda satu dengan lainnya dan bernaung dalam satuan region.

Miracle Agency di bawah pimpinan Johan Wang telah banyak melahirkan leader – leader yang solid dan berkomitmen dari semua tingkatan jenjang karier. Antara lain Unit Manager (UM), Senior Unit Manager (SUM) dan tingkatan yang paling tinggi yaitu Agency Manager (AM). Untuk sebuah agency baru dengan begitu banyaknya leader merupakan suatu kekuatan group yang besar. Selain di Jakarta, Miracle Agency juga memiliki kantor cabang di Bandung, Jambi, Bangka, Pangkalpinang dan Sungai Liat.

Visi dan misi PT Jocelyn Anugrah Jaya

Visi
Menggapai semua kesuksesan dengan satu tujuan demi keberhasilan perusahaan dalam perkembangannya

Misi
Menjadi agency terbaik dan memiliki suatu komitmen untuk berkembang terus dan melampaui semua pengharapan yang ada

Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari misi, Miracle Agency mempunyai landasan sebagai suatu kekuatan dasar berdiri dan berkembangnya perusahaan sebagai berikut:
Semangat untuk menjadi yang terbaik
Organisasi yang memberikan kepada orang lain untuk belajar
Bekerja sebagai suatu keluarga.

Sutar, SE, MM

No Comments

Sutar, SE, MM
Ketua Yayasan Perguruan Ksatrya Lima Satu

Hidup Penuh Tantangan Menuju Kesuksesan

Setiap orang sadar akan perjuangan dalam hidup. Yakni jalan yang harus ditempuh untuk menuju kesuksesan. Di mana setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk mencapainya. Semua tinggal bagaimana upaya yang dilakukan untuk mencapai keinginan tersebut. Selebihnya, ada kuasa Tuhan yang menentukan sukses tidaknya kehidupan seorang manusia.

“Hidup adalah perjuangan, pekerjaan adalah harapan dan kesuksesan merupakan impian manusia di dunia yang penuh dengan dinamika. Semua manusia mengharapkan kehidupan yang layak, pekerjaan yang mapan serta kesuksesan dalam setiap langkahnya. Tetapi impian tinggal impian. Manusia hanya bisa berharap dan berangan-angan untuk kesuksesan hidup karena Allah SWT telah menentukan jalan hidup setiap manusia,” kata Sutar, SE, MM., Ketua Yayasan Perguruan Ksatrya Lima Satu.

Nasib setiap manusia, lanjutnya, sudah tertulis dan tersirat dalam garis kehidupan masing-masing. Setiap manusia tinggal menunggu kapan tepatnya waktu kesuksesan berpihak dalam kehidupannya. Dan, pada detik-detik penantian tersebut manusia harus termasuk berusaha untuk menciptakan dan meraih kesuksesan dalam hidupnya.

Salah satu contoh paling tepat adalah pengalaman hidup Sutar sendiri. Dengan tanpa berhenti berusaha dan bekerja keras, perlahan namun pasti kesuksesan demi kesuksesan diraihnya. Bagaimana tidak, berangkat dari keluarga sederhana dan miskin di kampung halaman, ia berkembang menjadi seorang pendidik yang sukses mengelola tiga buah sekolah.

Perjalanan hidup penuh liku dan perjuangan harus dilalui Sutar sejak kecil. Ia datang ke Jakarta ikut pamannya dengan tujuan melanjutkan sekolah. Di luar jam sekolah, ia membantu pekerjaan sang paman di Yayasan Perguruan Ksatrya. Di yayasan inilah, ia juga menyelesaikan pendidikan menengah atas di SMK Ksatrya.

“Saya awalnya dari nol, datang ke Jakarta ikut paman untuk melanjutkan sekolah. Pagi membantu paman, setelah itu masuk sekolah dan kemudian membantu paman lagi, ikut bekerja di sini. Saya ketemu dengan pengurus, dan sambil bekerja di sini saya bisa menyelesaikan sekolah sampai jenjang S1 dengan biaya sendiri,” tuturnya.

Pendiri yayasan, Prof. DR. RP Soejono sedikit demi sedikit mulai memberikan kepercayaan kepada Sutar. Salah satunya, adalah dengan memberikan dorongan penuh untuk melanjutkan pendidikan S2-nya. Setelah menyelesaikan studi, tugas besar diberikan pendiri yayasan kepadanya, yaitu memimpin yayasan dengan 1400 siswa di dalamnya.

“Ini amanah yang sangat besar untuk mencerdaskan anak bangsa. Mudah-mudahan apa yang kami kerjakan sampai tahun 2015 dapat berjalan dengan lancar. Semoga program-program yang kami canangkan selama masa kepengurusan kami berjalan dengan baik. Begitu juga dengan rintangan dan halangan semoga mampu kami atasi,” kata pria 35 tahun dengan dua orang anak ini.

Bertahun-tahun berkutat di dunia pendidikan, membuat Sutar merasa memiliki kecocokan. Bahkan, seluruh tantangan yang dihadapi selama menekuninya sudah tumbuh menjadi semacam “roh” dalam hidupnya. Ia berharap dengan terjun di dunia pendidikan mampu mengangkat harkat dan martabat keluarga mengingat latar belakang kehidupan keluarganya. “Kebetulan keluarga kami sangat sederhana sehingga bisa seperti ini menjadi kebanggaan orang tua. Karena kami betul-betul orang tidak mampu di kampung,” ungkap dosen STIE Pertiwi dan STIE Muhammadiyah Jakarta ini.

Sutar menjawab kepercayaan yang diberikan kepadanya dengan mencurahkan tenaga dan pikiran untuk kemajuan sekolah serta yayasan yang sangat dicintainya. Di bawah kepemimpinannya, ia berharap yayasan semakin maju dengan fokus utama pada kesejahteraan guru dan karyawan yang lebih baik. ia sadar betul, kesejahteraan merupakan tonggak utama untuk meningkatkan kemajuan sekolah dan Yayasan Perguruan Ksatrya.

“Bagaimana cara agar guru bisa sejahtera, nanti pelan-pelan akan kami upayakan. Mungkin dengan kenaikan gaji. Kami juga memiliki program jangka panjang untuk perbaikan sarana dan prasarana, yang kami bangun dengan jerih payah kami, keluarga besar Yayasan Perguruan Ksatrya- bersama tim kami sehingga terwujud empat lokal kelas yang representative. Mohon doanya, setelah lebaran ini akan terus kami tingkatkan,” ujarnya.

Peningkatan Mutu SDM

Selama dua tahun memegang jabatan sebagai Ketua Yayasan Perguruan Ksatrya, Sutar mencoba membenahi kualitas SDM. Ia memulai dari tenaga guru yang mengajar di tiga sekolah di bawah yayasan, SMP Ksatrya, SMA Ksatrya dan SMK Ksatrya. Setidaknya, para staf pengajar terus ditingkatkan kompetensinya melalui berbagai pelatihan.

“Ini merupakan hal yang utama dari kegiatan yayasan. Dari segi peningkatan mutu SDM, Bapak dan Ibu guru terus kita pacu. Demikian juga sarana dan prasarana sedikit demi sedikit akan berjalan sesuai dengan keinginan kami serta aturan pemerintah,” ujarnya.

Sutar juga melaksanakan hal serupa terhadap anak didik yang akan menempuh pendidikan pada sekolah-sekolah yang dikelola yayasan. Setelah lolos seleksi, siswa baru akan “digojlok” pada saat liburan semester I. Siswa kelas I akan diajak tour ke daerah dalam rangka observasi siswa baru. Kegiatan yang dilakukan selama tour bukanlah perploncoan melainkan mendidik siswa untuk mandiri.

“Kegiatan di sana banyak, baik yang sosial seperti pasar murah, bakti sosial dan pengobatan masal untuk menunjang kehidupan masyarakat di lokasi tersebut. Itu menjadi ciri khas kami yang unik dan belakangan banyak diikuti oleh sekolah lain,” katanya bangga. Ia juga sangat bangga terkait banyak prestasi yang telah diukir oleh sekolah. “Alhamdulilah prestasinya banyak sekali, apalagi kalau dilihat dari pialanya. Karena dari segi ekskul kita tidak terhitung banyaknya,” imbuhnya.

Prestasi yang ditorehkan, lanjutnya, membuat animo masyarakat untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah yang dikelola yayasan sangat tinggi. Bahkan, SMK Ksatrya terbilang sangat maju sehingga harus “menolak” siswa yang mendaftar. Dengan tiga jurusan yang dimiliki –perkantoran, manajemen bisnis dan akuntansi- banyak siswa yang tidak tertampung. “Itupun, ruangan yang tadinya aula terpaksa dialihfungsikan menjadi kelas,” ujarnya.

Dibantu 150 orang staf dan guru, Sutar terus berusaha meningkatkan kemajuan dan kualitas sekolah. Untuk itu, ia mengembangkan budaya kekeluargaan di antara para guru dan staf di lingkungan yayasan. Semua dilandasi dengan tetap mengedepankan moto, Trisila Ksatrya yakni pendidikan, pengajaran dan kekeluargaan. “Ketiga hal itu kita rangkum seperti ungkapan Jawa, makan tidak makan asal ngumpul,” tambahnya.

Untuk menciptakan situasi kekeluargaan yang kondusif, Sutar sebagai ketua yayasan sering “turun ke bawah” untuk melayani para staf dan guru. Ia tidak menjalin hubungan atasan bawahan, tetapi mengembangkan hubungan antara keluarga sendiri. “Mungkin ada bedanya antara kami saat ngumpul, becanda dan lain-lain. pokoknya secara profesional kami bisa membedakannya,” tuturnya.

Sister School

Sebagai ketua yayasan yang mengelola sekolah swasta, Sutar SE, MM sadar betul besarnya persaingan yang dihadapi. Selain menghadapi sekolah negeri yang mendapat fasilitas lengkap dari pemerintah, ia juga bersaing dengan sekolah swasta lain bertaraf internasional. Untuk itu, ia mengedepankan pelayanan kepada masyarakat sebagai konsumen.

“Karena produk kami jasa, ya kami mengutamakan pelayanan kepada konsumen. Makanya kami melayani dengan baik masyarakat sekitar sini yang berurusan dengan kami. Mungkin mulai dari segi tata usahanya, fasilitas dan lain-lain,” katanya.

Selain itu, demi kemajuan sekolah ia juga mengadakan kerjasama dengan lembaga pendidikan lain. Ia juga menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan di sekitar sekolah untuk kepentingan “magang” siswa atau praktek kerja lapangan (PKL). Uniknya, setelah lulus banyak siswa praktek yang diterima bekerja di perusahaan tempatnya magang.

“Itu salah satu prestasi juga bagi kami. Karena kami terus berusaha meningkatkan mutu sekolah. Salah satunya kami mengadakan program sister school dengan SMK Negeri 14 dan setiap minggu anak-anak mengikuti pelatihan di BLK milik Depnaker,” terangnya.

Menurut Sutar, sister school merupakan semacam pertukaran pelajar antar sekolah. Salah satu manfaatnya adalah menunjang kekurangan sekolah sekaligus melihat perbandingan kualitas pelajar antar sekolah. Ia mencontohkan, sister school dengan SMKN 14 yang berstandar internasional dan ber-ISO, membuat siswa SMK Ksatrya bisa menggunakan fasilitas sekolah tersebut.

“Antusias sekali pertukaran pelajar seperti itu, karena besar manfaatnya bagi sekolah swasta seperti kami. Karena kami semuanya dikerjakan sendiri, dibiayai sendiri dan kalau pun maju, ya kami maju sendiri. Pokoknya bagaimana kami mengolah sekolah swasta agar tidak ketinggalan. Semua itu harus diawali dari diri sendiri,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah juga memberikan perhatian kepada sekolah swasta sehingga tidak terjadi sekolah swasta yang ditutup atau bahkan roboh dimakan usia. Tetapi dengan kerja keras, selama 58 tahun yayasan berhasil mempertahankan sekolah agar tidak gulung tikar. “Kami masih bisa berdiri dengan modal sendiri. Kami membangun tiga lantai dengan dana dari kami sendiri tanpa bantuan dari pemerintah. Kami juga memiliki visi jangka pendek untuk membuat nyaman sekolah ini dengan membangun sarana yang memadai,” tambah ketua yayasan yang membuka pintu selama 24 jam bagi para pengajar ini.

Menyikapi carut marut dunia pendidikan, Sutar menyatakan bahwa dunia pendidikan Indonesia ketinggalan dari negara lain. Bahkan, jika dibandingkan dengan Malaysia yang dahulu banyak mengirimkan pelajar dan mahasiswa ke Indonesia pun, masih jauh tertinggal. Kondisi sekarang justru terbalik, karena pelajar dan mahasiswa Indonesia banyak yang menuntut ilmu ke negara tersebut.

“Pemerintah sebenarnya tidak tahu persis kondisi di lapangan seperti apa dalam membenahi kualitas pendidikan. Hal tersebut diperparah dengan pejabat-pejabat kita yang menetapkan standar kelulusan yang terlihat sangat dipaksakan. Akibatnya, banyak sekolah di Jakarta banyak tidak siap seperti terlihat pada tingkat kelulusan UN yang sangat memprihatinkan. Kondisi tersebut semakin parah di daerah-daerah pedalaman seperti Papua, NTT dan lain-lain. Itulah gambaran dunia pendidikan yang diperjuangkan oleh pahlawan tanpa tanda jasa,” kata Sutar, SE, MM.

Profil Yayasan Perguruan Ksatrya Lima Satu

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang dibutuhkan masyarakat saat ini. Terutama dalam menyongsong era globalisasi yang penuh dengan persaingan tak terkecuali dalam pendidikan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Yayasan Perguruan Ksatrya telah mempersiapkan diri menjadi wadah yang tepat bagi putra-putri kita untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu dalam ilmu pengetahuan umum dan dilengkapi ilmu agama sehingga dapat mencetak generasi muda yang berwawasan global serta unggul dalam IPTEK dan IMTAQ.

Yayasan Perguruan Ksatrya merupakan lembaga pendidikan yang didirikan sejak tahun 19Lima Satu oleh Prof. DR. RP Soejono dkk, hingga kini terus mengembangkan sarana dan prasarana pendidikan antara lain dengan membangun gedung tiga lantai dan dua lantai serta dua laboratorium komputer terbaru (P4) dilengkapi sistem jaringan (LAN) dan internet, laboratorium IPA, ruang multimedia, sarana olahraga, perpustakaan serta kegiatan ekstra kurikuler antara lain Paripurna, serba daya, Paskibra, futsal, basket dan lain-lain. Pendidikan agama yang diberikan kepada siswa antara lain baca tulis Al Quran dan sholat berjamaah yang didampingi oleh para guru.

Yayasan Perguruan Ksatrya Lima Satu mengelola tiga sekolah, yakni:

SMA Ksatrya
Memiliki dua jurusan IPA dan IPS serta terakreditasi “A”

Visi
Terwujudnya kehidupan yang religius, cerdas dan bermartabat
Misi
1.    Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianutnya sehingga menjadi lebih arif dalam berperilaku
2.    Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif sehingga siswa dapat berkembang secara optimal sesuai potensi yang dimilikinya
3.    Menumbuhkan rasa percaya diri sehingga siswa berani dan mampu menghadapi tantangan

SMK Ksatrya
Memiliki tiga studi keahlian, Perkantoran, Bisnis Manajemen dan Akuntasi, serta terakreditasi “B”
Visi
Menjadikan SMK Ksatrya sebagai wahana layanan pendidikan yang menghasilkan tamatan yang beriman, bertakwa dan professional, berjiwa wira usaha serta berdaya kompetisi global

Misi
1.    Meningkatkan kualitas layanan pendidikan melalui peningkatan pembelajaran secara efektif dan menyenangkan
2.    Menumbuhkembangkan sikap disiplin dalam belajar
3.    Menumbuhkembangkan sikap saling menghormati, menghargai dan memiliki tata karma
4.    Menumbuhkembangkan sikap rajin dan konsisten dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianut
5.    Meningkatkan daya saing yang berwawasan kecakapan hidup

SMP Ksatrya
Visi
Unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan iman dan takwa

Misi
1.    Menciptakan generasi muda yang berbakat dan berakhlak mulia
2.    Meningkatkan mutu pembelajaran dan hasil belajar
3.    Mengembangkan potensi siswa yang berlandaskan keimanan dan ketakwaan

Fasilitas dan Sarana Pendidikan
1.    Sarana praktek ibadah (mushola)
2.    Gedung sekolah tiga lantai milik sendiri
3.    Lapangan dan fasiltias olahraga yang lengkap
4.    Staf pengajar yang profesional di bidangnya
5.    Perpustakaan
6.    Laboratorium komputer terbaru (P4) dan full AC serta dilengkapi dengan LAN dan internet
7.    Laboratorium bahasa
8.    Tempat parkir luas
9.    Koperasi
10.    Kantin

DR. H Sugihanto Hasanuddien, MA

No Comments

DR. H Sugihanto Hasanuddien, MA
Rektor Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Mewujudkan Perguruan Tinggi yang Lebih Unggul, Maju dan Bermakna

“Jabatan Rektor bukanlah anugerah, ganjaran, apalagi kenikmatan akan tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan” adalah motto yang diusung DR. H Sugihanto Hasanuddien, MA., saat maju dalam pemilihan Rektor Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo periode 2010 – 2014. Pencalonan ini adalah untuk yang kedua kali setelah pada periode 1998 – 2002 jabatan rektor juga diemban pria kelahiran Ponorogo, 7 Juli 1950 ini.

“Saya terpanggil untuk berbagi pengalaman atas perjalanan panjang dalam kesertaan membantu INSURI Ponorogo sejak 1979 sampai sekarang. Harapan saya, bersama keluarga besar INSURI mewujudkan perguruan tinggi yang lebih unggul, maju dan bermakna bagi kita semua,” kata alumni Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Untuk itu, lanjutnya, perlu ikhtiar yang kuat bersama stakeholder INSURI agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Untuk itu, dalam pencalonan sebagai rektor ia, menyusun program pertumbuhan dan perkembangan INSURI pada lima hal, yaitu institusi, sosial, budaya, ekonomi dan politik. Keberhasilan dalam mengembangkan INSURI akan memberikan kontribusi besar pada pencapaian tujuan pembangunan nasional secara keseluruhan.

Dalam perspektif institusi, jelasnya, pengembangan INSURI melalui niat dan tekad bersama Sivitas Akademika yang terdiri atas Pimpinan, dosen, karyawan, mahasiswa serta alumni. Semua harus memiliki orientasi ke masa depan, mensinergikan individu-kelompok-institusi, komunikasi organisasi yang efektif, mengintegrasikan “tri dharma perguruan tinggi” dan menghasilkan lulusan yang unggul, berkualitas serta kompetitif. Dari situ diharapkan akan memicu lahirnya berbagai inspirasi dan inovasi yang bermanfaat bagi bangsa Indonesia.

Dalam perspektif sosial, INSURI akan melahirkan insan-insan akademis yang mempunyai peranan penting dalam proses perubahan sosial di masyarakat. Oleh karena itu, INSURI diharapkan dapat memberikan sumbangan penting pada upaya menumbuhkan kepemimpinan yang arif berbasis individu, kelompok dan institusi.

Dalam perspektif budaya, INSURI merupakan institusi penting dan medium yang efektif untuk mengajarkan norma, mensosialisasikan nilai dan menanamkan etos di kalangan warga kampus. Dalam konteks ini, INSURI dapat menjadi simpul penting untuk membangun kesadaran kolektif (collective conscience) sebagai warga kampus serta mengukuhkan ikatan-ikatan sosial dengan mitra strategis dari Pondok Pesantren, Pemerintah Pusat/Daerah, komunitas akademis dan masyarakat.

Dalam perspektif ekonomi, INSURI diharapkan akan menghasilkan manusia-manusia yang handal untuk menjadi subyek penggerak pembangunan ekonomi nasional. Dalam konteks ini, Tri Sivitas Akademika INSURI harus berperan sebagai pusat penelitian dan pengembangan (research and development) yang diharapkan dapat mengantarkan umat Islam untuk meraih keunggulan dalam persaingan global.

Dalam perspektif politik, INSURI harus mampu mengembangkan kapasitas individu untuk menjadi warga negara yang baik (good citizen) yang memiliki kesadaran akan hak dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena itu INSURI ke depan akan melahirkan lapisan masyarakat akademis yang kemudian membentuk critical mass yang menjadi elemen pokok dalam upaya membangun masyarakat madani, yang bertumpu pada golongan masyarakat kelas menengah terdidik yang menjadi pilar utama civil society sebagai salah satu tiang penyangga bagi upaya perwujudan pembangunan masyarakat demokratis.

Membangun Kampus

Pak Giek –panggilan akrabnya- sejak masih  menjadi mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya sudah aktif di organisasi kemahasiswaan. Aktivitasnya meliputi organisasi intra maupun ekstra kampus. Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel Surabaya dijabat ayah empat anak dari pernikahannya dengan Hj Umi Parwatie pada tahun 1972 – 1974. Ia juga menjabat sebagai Sekjen Dewan Mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya selama dua periode (1974 – 1978).

“Satu tahun setelah lulus sarjana (1979), saya menjadi dosen INSURI Ponorogo sampai sekarang. Saya pernah menduduki jabatan Pembantu Rektor I Bidang Akademis (1996-1998), kemudian menjadi Rektor periode I (1998-2002) dan diangkat kembali menjadi Rektor untuk periode II tahun 2010-2014,” tutur anak ke sembilan dari sebelas bersaudara pasangan H Koesnodimoelyo dan Hj Misinem ini.

Setelah berhasil memangku jabatan Rektor Periode II, kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain:

⦁    Menambah sarana dan prasarana (bangunan) ruang kuliah berlantai dua sebanyak dua lokal. Proyek ini selesai dan sudah dimanfaatkan pada semester genap 2010/2011 sekarang sedang ditambah dan sedang dikerjakan sebanyak dua lokal dengan harapan selesai pada tahun ajaran baru 2011/2012

⦁    Melengkapi dan mengoptimalkan penggunaan laboratorium “micro teaching” dan pusat laboratorium komputer untuk perkuliahan PPL-1 Fakultas Tarbiyah, Dakwah dan Syari’yah
⦁    Membeli dan mengoperasionalkan seperangkat alat laboratorium bahasa sebagai realisasi orang “multi lingual” khususnya bahasa Arab dan bahasa Inggris
⦁    Menambah seperangkat LCD permanent pada empat lokal ruang kuliah, sebagai media pembelajaran berbasis IT (teknologi informasi)
⦁    Mengadakan olimpiade akuntansi bagi siswa SMA-SMK dan MA negeri maupun swasta se-ex Karesidenan Madiun yang diikuti oleh 42 team/regu
⦁    Menjadi penyelenggara musyawarah nasional Forum Komunikasi mahasiswa Fakultas Dakwah se-wilayah Jawa Timur dan NTB

Dalam memimpin INSURI Ponorogo, Pak Giek berpegang  pada visi dan misi yang diajukannya saat mencalonkan diri sebagai Rektor. Adapun visi dan misinya adalah sebagai berikut:
Visi
Mewujudkan INSURI sebagai jendela bagi masyarakat untuk melihat perkembangan Islam dengan mengintegrasikan pendidikan pesantren (keislaman) dan modern (keilmuan)
Misi
⦁    Menumbuhkan kepemimpinan akademik yang arif berbasis individu, kelompok dan institusi
⦁    Menjadikan INSURI sebagai simpul penting dan jejaring kerjasama dengan mitra strategis dari pesantren, pemerintah (pusat/daerah), komunitas akademis dan masyarakat
⦁    Meningkatkan kebutuhan peralatan penunjang riset, memperbaharui fisik lingkungan kampus dan meningkatkan kenyamanan sebagai tempat belajar
⦁    Mengembangkan dan melaksanakan manajemen INSURI yang akuntabel, profesional dan produktif berlandaskan azas manfaat dalam system tata kelola terpadu

Dengan visi dan misi tersebut, diharapkan INSURI dapat melahirkan lebih banyak lagi alumni yang akan menjadi pemimpin berwawasan keislaman  dan peka terhadap persoalan sosial.

“Selama ini, alumni INSURI banyak yang menjadi aktivis dalam politik, sosial dan juga organisasi sosial kemasyarakatan/keagamaan. Kita harapkan mereka inilah yang memberikan partisipasi aktif dalam membangun clean government. Untuk itu, di masa depan kita akan banyak melakukan advokasi bagi pesantren dan madrasah sehingga terjadi mobilisasi intelektual, termasuk menjadi sumber pengembangan dan jendela ilmu agama Islam dengan dunia luar, utamanya dengan dunia internasional,” tegasnya.

Program-program Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

A. Program S1

Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo berkomitmen untuk berkiprah dalam pengembangan keilmuan Islam berwawasan kebudayaan dan kebangsaan dan siap mencetak sarjana muslim, cendekia, dan profesional agar mampu memenuhi tuntutan global ke arah terwujudnya kesejahteraan dan kebahagiaan dunia akhirat.

Visi
Terbentuknya Sarjana Muslim yang berkualitas, berakhlakul karimah dan mampu menjawab tantangan zaman.
Misi
1.    Menyelenggarakan pendidikan akademik dan profesional untuk mewujudkan manusia yang berkualitas, beramal ilmiah dan berilmu amaliah
2.    Menyelenggarakan Pendidikan Islam yang dapat meningkatkan kualitas iman taqwa, berakhlakul karimah dan memiliki wawasan luas
3.    Membina kompetensi ideal menuju kemandirian dalam kehidupan pribadi maupun bersama-sama
4.    Menyelenggarakan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara efektif, efisien dan menyeluruh agar tercipta Sumber Daya Manusia yang berkompetensi kompetitif di era global

Tujuan
Menyiapkan insan Indonesia yang memiliki keunggulan dan kompetensi:
1.    Intelektual dan profesional
2.    Moral keislaman
3.    Kemandirian
4.    Tri Dharma Perguruan Tinggi, sehingga mampu berkompetisi dalam merespon perubahan dan perkembangan masyarakat dalam perspektif global tanpa kehilangan jati diri

Program Studi
Fakultas Tarbiyah
1.    Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) – Terakreditasi (B)
2.    Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) – Terakreditasi (B)
3.    Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Diniyah (PGMI) – Terakreditasi (B)
4.    Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) – Terakreditasi (C)

Fakultas Syariah
– Program Studi Muamalah/Hukum Ekonomi Islam – Terakreditasi (B)

Fakultas Dakwah
– Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) – Terakreditasi (B)

Akademi Analis Farmasi dan Makanan (D3) — Terakreditasi (B)
Biaya pendidikan
Cukup terjangkau oleh setiap calon mahasiswa dan dibayar dengan system Triwulan (September, Desember, Maret dan Juni)

Penyelenggaraan pendidikan
1.    Menggunakan system satuan kredit semester (SKS) dengan waktu tempuh 8 semester (jenjang S1)
2.    Menerima mahasiswa transfer dari program Diploma dan Sarjana Muda ke semua prodi kecuali prodi PGMI

Fasilitas
1.    Tenaga pengajar dengan kualifikasi S2 dan S3
2.    Ruang perkuliahan yang representative dilengkapi dengan LCD
3.    Perpustakaan yang representative
4.    Laboratorium komputer, micro teaching, dakwah dan bahasa yang didukung teknologi elektronik dan audio visual
5.    Gratis akses internet sepanjang hari (free hot spot area)
6.    Kegiatan mahasiswa yang mampu menunjang minat dan bakat mahasiswa
7.    Letak kampus yang strategis dan mudah dijangkau

B. Program S2

Profil
Dengan menyadari adanya kebutuhan akan SDM kependidikan di lingkungan Ponorogo dan sekitarnya, yang lebih berkualitas, kompetitif dan profesional, INSURI Ponorogo sebagai lembaga pendidikan tinggi berupaya memenuhi tuntutan tersebut dengan menyelenggarakan pendidikan jenjang S2 (Program Magister Pendidikan Islam dengan 2 (dua) konsentrasi yaitu Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dan Pendidikan Agama Islam (PAI).

Tujuan diselenggarakannya program ini adalah untuk menghasilkan lulusan Magister Pendidikan Islam yang memiliki wawasan keilmuan manajemen pendidikan Islam yang humanis-inklusif dan mampu memecahkan berbagai masalah persoalan pendidikan dalam teori dan praktik, serta memiliki kemampuan metodologis dan sistematis dalam mengembangkan serta mengaktualisasikan diri dalam komunitas lokal, nasional dan internasional.

Kompetensi lulusan
1.    Menguasai teori dan praktik Manajemen Pendidikan Islam dan Pendidikan Agama Islam
2.    Memiliki kecakapan untuk mengembangkan Manajemen Pendidikan Islam dan Pendidikan Agama Islam baik pada aspek teoritis dan praktis
3.    Memiliki sikap kecendekiawanan dan integrasi keilmuan di era globalisasi
4.    Mampu mengaktualisasikan diri dalam berbagai forum baik ilmiah maupun di tengah masyarakat
5.    Memiliki keterampilan dalam meneliti masalah-masalah yang terkait dengan pendidikan Islam

Dosen Pengampu
Dosen yang terlibat langsung dalam proses belajar mengajar adalah dosen yang telah menyandang gelar Professor atau minimal Doktor yang mempunyai kapasitas keilmuan secara nasional maupun internasional, antara lain:

1.    Prof. K. Yudian Wahyudi, PhD (Alumnus S3 Harvard University USA)
2.    Prof. Dr. Muslimin Ibrahim, MA (Guru Besar UNESA Surabaya)
3.    Prof. Dr. H. Muhaimin, MA (Guru Besar UIN Malang)
4.    Prof. Dr. H. Khusnurridhlo, MPd (Ketua STAIN Jember)
5.    Prof. Dr. Sa’dun Akbar, MPd (Guru Besar Universitas Negeri Malang)
6.    Prof. Dr. H. Imam Bawani, MA (Guru Besar IAIN Sunan Ampel Surabaya)
7.    Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadhal, MPd (Direktur Pendidikan Dasar Kemendiknas)
8.    Prof. Dr. H. Imam Fuadi, MA (Guru Besar STAIN Tulungagung)
9.    Dr. H. M. Suyudi, MAg (Direktur Pascasarjana INSURI)
10.    Dr. H. Hobri, MPd (Dosen Universitas Jember)
11.    Dr. H. Abdul Munip, MAg (Dosen UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)
12.    Dr. Hj. Hanun Asrorah, MAg (Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya)

Fasilitas
1.    Ruang perkuliahan yang representative dilengkapi dengan LCD dan AC
2.    Perpustakaan yang representative
3.    Laboratorium komputer, micro teaching
4.    Gratis akses internet sepanjang hari (free hot spot area)
5.    Ruang seminar

Prof. Drs. John A Titaley, Th.D

No Comments

Prof. Drs. John A Titaley, Th.D
Rektor Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga

Indonesia Mini Universitas Kristen Satya Wacana

Sejak berdiri pada tahun 1956, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga telah mengusung semangat nasionalisme dan kebangsaan. Ini nampak dalam sejarah kelahirannya setelah kepulangan para guru dari sekolah-sekolah yang ada pulang ke negeri Belanda, pengadaan guru adalah kebutuhan. Oleh karena itu, didirikanlah Universitas Kristen Satya Wacana untuk memenuhi kebutuhan guru dengan nama Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Kristen Indonesia (PTPG-KI).

UKSW merupakan perguruan tinggi yang didukung oleh gereja-gereja dari Nias sampai Papua yang mengirimkan warganya dari seluruh penjuru tanah air untuk belajar di UKSW. Pada perkembangan berikutnya, UKSW tidak hanya mempersiapkan calon guru saja. Beberapa fakultas dan jurusan unggulan lainnya kemudian berdiri.

“Sebenarnya tahun 50-an itu kita baru belajar sebagai bangsa. Dengan mengundang mahasiswa dari berbagai daerah, UKSW berharap untuk mempersatukan bangsa melalui perkenalan mahasiswa. Kita berkeinginan agar universitas ini menjadi miniature Indonesia, sehingga disebut Indonesia Mini. Mahasiswa berasal dari Sumatera sampai Papua, sehingga sekaligus membina hubungan secara nasional yang humanis. Karena itu visinya ingin menciptakan pemimpin-pemimpin yang berwawasan nasional,” kata Prof. John A Titaley, Rektor Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.

Selain itu, UKSW juga berupaya mendidik mahasiswa sebagai calon-calon pemimpin masyarakat dan gereja di daerahnya masing-masing. Juga  untuk melakukan penelitian di bidang agama, terutama hubunggan antara iman Kristen dan ilmu pengetahuan. Juga menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat untuk menciptakan komunitas akademis yang kritis, kreatif, prinsipiil dan non-konformis. Apalagi dalam lingkungan iman Kristen unsur pluralisme belum secara luas dipahami dan dikembangkkan.

Mahasiswa dan dosen yang direkrut, dengan sengaja berasal dari berbagai gereja pendukung agar supaya benar-benar tercipta Indonesia Mini. Gereja melihat semua itu sebagai sumbangan untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Namun, saat tahun-tahun pertama di Salatiga sering terjadi ketegangan kecil antar suku bangsa. Namun semua itu merupakan bagian dari proses pembelajaran sebagai satu bangsa.

“Tahun 80-90an kita mulai mengenal gagasan pluralisme, makanya untuk itulah program pascasarjana dala bidang keagamaan membuka kesempatan bagi mahasiswa dari berbagai agama untuk belajar di UKSW. Kita menyebutnya Program Pasca Sarjana Sosiologi Agama. Ini memang universitas Kristen, tetapi kita mengajarkan agama dengan mempertimbangkan realitas sosial sosialnya dan tidak dilihat dari sisi doktrinalnya. Agama dalam pendidikan ini  tetap dilihat sebagai realitas kemasyarakan yang memiliki unsur-unsur budaya dan kemayarakatan di dalamnya. Bukan semata-mata soal ketuhanan saja,” tegasnya.

Tujuan dari program tersebut adalah membuat umat beragama realistik, bahwa meskipun memiliki agama yang berbeda tetapi sebenarnya tujuannya satu, bergumul tentang kehidupannya yang diyakininya melibatkan Tuhan yang Maha Kuasa. Dengan tujuan yang sama seperti itu, timbul pertanyaan kenapa harus beragama secara eksklusif tanpa mengindahkan agama lain. Oleh karena itu, UKSW mengembangkan pemahaman agama berdimensi sosial yang didengungkan sejak tahun 80-an dengan program Pasca Sarjana Sosiologi Agama.

Pihak universitas, ingin menjadikan UKSW dan Indonesia yang memiliki berbagai etnis, agama dan bahasa, untuk bertemu dan belajar hidup bersama. Semua itu akan berguna ketika mahasiswa selesai belajar, mereka mampu menjadi pemimpin-pemimpin yang memiliki pengalaman kebersamaan sebagai bangsa, baik dari sisi budaya maupun agama. Diharapkan, ketika mereka pulang ke daerah masing-masing dan menjadi pemimpin, dosen, guru, dan apapun profesi yang digeluti, wawasan tersebut diterapkan.
“Kami ingin ada yang melakukan program seperti itu dengan sengaja. Memang ada UKI di Jakarta, Petra di Surabaya, Universitas Kristen di Manado, Kupang, dan Ambon, serta Universitas Maranatha di Bandung. Tetapi kita mencoba melakukan sesuatu sebagai kontribusi umat Kristiani dalam mendukung persatuan dan kesatuan bangsa. Sejauh ini nasionalisme sangat nyata di sini lewat pertemuan intensif antar mahasiswa dari berbagai suku yang kadang berlanjut ke jenjang pernikahan. Salatiga sendiri, sekarang dikenal sebagai Kota Indonesia Mini karena kedatangan mahasiswa dari seluruh Indonesia sehingga menjadi sangat nasionalis. Apalagi penduduknya menerima kondisi tersebut,” ungkapnya.

Karakter Unggul

Menurut Prof. John Titaley, keunggulan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga yang menarik calon mahasiswa untuk menempuh pendidikan di sini sangat banyak. Sepuluh tahun yang lalu, UKSW dikenal sebagai universitas dengan fakultas ekonomi dan elektero yang unggul. Namun, peta kekuatan itu sekarang menjadi merata seiring dengan kemajuan zaman dan penambahan tenaga pendidik (dosen).

“Tetapi memang yang seperti itu musiman. Jadi kalau ditanya yang menjadi ciri khas, UKSW adalah universitas yang membimbing mahasiswa menjadi nasionalis, humanis dan pluralis. Dalam arti kita ingin alumni universitas ini berbeda dari universitas lain karena memiliki karakter unggul. Akhir-akhir ini kita mengadakan program pendidikan yang mengacu ke arah situ. Bisa dilihat, kalau ada gereja yang mendukung universitas ini memiliki banyak alumni yang menjadi pemimpin di daerahnya,” tukasnya.

Sebagai pakar pendidikan, Prof. John menyoroti masalah mendasar pendidikan di Indonesia. Menurut pandangannya, meskipun alokasi dana pendidikan mencapai 20 persen dari APBN tetapi tidak menyentuh substansi permasalahannya. Salah satunya adalah pendidikan di Indonesia belum memberikan keterampilan belajar yang mendasar atau basic learning skill. Ia mencontohkan saat menempuh pendidikan di USA, anak sulungnya yang kelas III SD mampu membuat sebuah paper walaupun hanya setebal lima halaman. Di Indonesia kemampuan ini baru diajarkan ketika anak sudah di kelas III SMA.

Namun, jelasnya, untuk memiliki kemampuan menulis paper di kelas II SD tidak semudah membalik telapak tangan. Sejak TK di USA itu, anaknya sudah dilatih membuat kalimat yang baik di sekolah. Guru-gurunya setiap hari mewajibkan anak didiknya menulis sepuluh kata yang harus dipakai membuat kalimat. Begitu masuk kelas I, mulai dilatih untuk menyusun kalimat dalam satu paragraph. Kelas II, latihan ditingkatkan dengan mencari informasi dan belajar membuka kamus, ensiklopedi dan informasi lapangan.

“Kombinasi dalam menuangkan informasi dalam kalimat dengan pengumpulan data dari berbagai sumber itulah yang dikembangkan pada saat kelas III. Sayangnya, kita tidak memiliki keterampilan seperti itu dan baru mengajarkan menulis buku pada kelas III SMA. Itu permasalahan kita, pendidikan tidak memberikan keterampilan belajar yang mendasar. Akibatnya di universitas, kita kesulitan untuk menyuruh mereka mencari informasi yang diperlukan. Mereka hanya sekadar duduk saja saat kuliah, sampai mereka menjadi sarjana berbekal hasil kuliah saja,” ungkapnya.

Dengan dana besar dari kementerian pendidikan nasional dan yang dipenuhi pakar di bidangnya, seharusnya pendidikan Indonesia menjadi lebih maju. Meskipun demikian, Prof. John tidak terlalu optimis terjadi perubahan signifikan di dunia pendidikan. Salah satu yang selalu dikritiknya adalah pendidikan agama di sekolah. Sejak akhir tahun 1960an, pendidikan agama yang diberikan di sekolah hanya untuk agama yang dianut siswa, tanpa pengetahuan agama lain. Padahal diluar agamanya, masih ada agama lain dengan kebiasaan, ritual dan pengikut yang berbeda-beda.

“Saya melihat sistem pendidikan nasional tidak mendidik anak Indonesia menjadi orang Indonesia. Salah satunya, saat belajar agama, dia hanya tahu agamanya sendiri, sehingga ketika keluar dari sekolah, dia baru tahu kalau diluar dirinya ternyata ada orang Indonesia lain yang memeluk agama berbeda. Jadi, pendidikan agama tidak menyiapkan anak Indonesia untuk hidup di tengah keragaman Indonesia. Seharusnya sistem pendidikan Indonesia membentuk anak Indonesia menjadi orang Indonesia yang beragam itu. Sayangnya, tidak ada upaya serius dari pemerintah untuk mengubah sistem pendidikan nasional. Mereka harus belajar dari para pendiri bangsa yang memiliki wawasan begitu luas ketika membentuk negara ini tahun 1945,” tandasnya.

Namun, Prof. John merasakan dukungan yang luar biasa dari Pemerintah Kota Salatiga. Keberadaan kampus UKSW –dan dua perguruan tinggi lainnya- merupakan salah satu penggerak roda perekonomian kota berhawa sejuk tersebut. Karena awalnya, Salatiga hanyalah sebuah kotamadya dengan wilayah satu kecamatan saja. Tetapi sejak tahun 1992, pemerintah memperluas wilayah Salatiga dengan menambahkan 12 desa di empat kecamatan.

“Di Salatiga ada tiga perguruan tinggi, yaitu UKSW, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo yang kemudian menjadi STAIN dan STIE AMA, milik Pemkot Salatiga. Kehadiran UKSW sejak tahun 1956 telah menjadikan Salatiga sebuah kota perguruan tinggi, dengan 150 ribu penduduknya kini, termasuk 12 ribu mahasiswa. Kalau 10 ribu dari 12 ribu mahasiswa UKSW berasal dari luar kota Salatiga dikirimi uang sebesar Rp 1juta setiap bulannya, maka akan masuk uang sebesar Rp10 miliar ke kota Salatiga. Artinya, kehadiran kita juga berpengaruh terhadap perekonomian di Salatiga. Tdaklah mengherankan kalauantara  Salatiga dan Satya Wacana terdapat satu kesatuan yang sulit dipisahkan,” ungkapnya.

Kiprah Putra Papua

Prof. DR. John A Titaley lahir di Sorong 19 Juni 1950 dan ke Ambon saat berusia sembilan tahun menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat (SR) di Saparua, SMP di Ambon dan SMA di Surabaya. Tahun 1970 ia melanjutkan pendidikan di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.

“Tetapi karena kesibukan organisasi, saya baru selesai tahun 1978. Jadi saya aktif di Dewan Mahasiswa dan juga Senat Mahasiswa Fakultas Teologi UKSW dari tahun 1971-1978. Setelah selesai sarjana, saya diminta mengajar di Fakultas Teologi kemudian saya melanjutkan studi doktor di Graduate Thelogical Union (GTU) yang berafilisasi dengan University of California (UC)  Berkeley Amerika Serikat. Setelah selesai tahun 1991, saya kembali mengajar di UKSW,” tegasnya.

Kariernya sebagai pengajar di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga sangat cemerlang. Sejak menjadi dosen biasa di almamaternya tahun 1979, ia juga tercatat sebagai guru besar di berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Ia menjadi pengajar di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta dan Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.

Sementara di luar negeri, ia adalah Visiting Scholar pada Summer Program Advanced PastoraL Studies  di San Francisco Theological Seminary (SFTS), San Anselmo, USA, Visiting Professor pada Graduate Theological Union (GTU), Berkeley, USA dan Research Fellow pada Temple University dan Louisville Presbyterian Theological Seminary (LPTS) di Louisville, Kentucky, USA dengan Beasiswa Program Akademik Recharging DIKTI.

Semua prestasi yang diraihnya, tidak lepas dari perhatiannya terhadap pluralitas dalam beragama yang bisa disejajarkan dengan Gus Dur, Frans Magnis Suseno dan tokoh-tokoh lainnya. Tidak heran, apabila pengidola Sukarno ini memiliki obsesi besar tentang pluralisme. Ia berpendapat bahwa bangsa Indonesia yang memiliki keragaman budaya, suku dan agama ini sejak dahulu sudah sangat pluralis, sehingga amat disayangkan, apabila belakangan semangat pluralisme itu semakin memudar dalam diri para pemimpin bangsa masa kini.

“Pluralisme adalah tanggung jawab bersama karena kita adalah bangsa yang sangat pluralis. Sebagai orang yang bergelut dengan teologi agama, keinginan saya adalah menghasilkan lulusan Pasca Sarjana dengan wawasan pluralistik. Karena negara ini memerlukan tokoh-tokoh agama dengan wawasan pluralisme yang luas,” ungkapnya.

Prof. John yang mengusung motto “Mengajar dengan Teladan” ini menyerukan agar lembaga-lembaga pendidikan keagamaan membuka diri untuk mengajarkan pluralisme bagi mahasiswa. Tugas lembaga pendidikan keagamaan tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan bagi mahasiswa. Lembaga pendidikan keagamaan harus menyelipkan semangat pluralisme di antara ilmu pengetahuan sektarian yang diajarkan.

“Saya berharap agar lembaga-lembaga keagamaan nanti memiliki arah seperti itu. Masa depan kita ada di generasi muda kita yang menghargai pluralisme. Kalau kita tidak mendidik calon pemimpin agama yang pluralis, masa depan kita akan suram. Itu obsesi saya,” kata pria 60 tahun ini.

Menurut putra ketiga dari lima bersaudara pasangan Robert Titaley dan Lien Tho ini memiliki tugas berat mendidik generasi muda di era keterbukaan informasi. Panutan generasi muda sekarang bukan lagi guru atau orang tua, karena mereka bisa mendapatkan semua kebutuhannya melalui internet. Generasi muda sekarang menjadi lebih longgar, permisif dan lebih bebas menyampaikan pendapat-pendapatnya yang celakanya tidak hormat dan tidak memiliki tata krama menurut generasi sebelumnya.

“Memang kita hidup di era seperti itu. Menjadi tugas kita untuk menuntun mereka agar bisa memilih secara tepat. Terutama untuk menyadarkan mereka bahwa meskipun dunia ini menjadi satu tetapi kita sebagai bangsa memiliki ciri-ciri tersendiri. Kita di Indonesia harus merumuskan identitas itu,” ungkapnya.

Prof. John menyadarkan mahasiswa dan dosen di UKSW mengenai kondisi tersebut. Mahasiswa bisa belajar banyak melalui internet dan dosen harus memahami ketika informasi yang dimiliki mahasiswa lebih banyak dari dirinya. Karena internet adalah wahana bebas dan terbuka yang dapat diakses oleh semua orang.

“Misi UKSW adalah menjalin kerjasama antara dosen dan mahasiswa. Harus kita sadarkan bahwa mahasiswa bukan orang yang kosong otaknya. Oleh karena itu, dalam pertemuan di dalam kelas diharapkan terjadi dialog yang seimbang antara dosen dan mahasiswa. Karena informasi bisa didapatkan dengan membuka internet,” tegas pendeta yang ditugaskan gereja mengadakan pelayanan di bidang pendidikan ini. “Jadi saya bukan pendeta di gereja,” tambahnya.

Suami dari Ida Imam dan ayah dua anak ini mengungkapkan kebahagiannya terhadap dukungan keluarga yang sangat besar. Akibat kesibukannya yang sangat menyita waktu, bersama-sama mereka memutuskan agar sang isteri  tidak bekerja. Pasangan ini sepakat bahwa perhatian terhadap anak-anak sangat penting bagi masa depan mereka. Karena sadar, bahwa mereka hanya memiliki sisa hidup dengan anak sampai lulus SMA saja.

“Kalau dia melanjutkan pendidikan di UKSW, masih bisa bertemu empat lima tahun. Tetapi kalau di tempat lain, dia akan menjadi orang lain. Jadi karena waktunya singkat hanya sampai 17-18 tahun, makanya kalau masih ada waktu bersama mereka kenapa tidak dimanfaatkan? Kami merasa kalau dengan didampingi ibunya, mereka merasa hidup mereka menjadi lebih berarti dan mandiri. Dan kami bersyukur, setelah selesai dari UKSW anak sulung saya ke Amerika dan adiknya menyusul setelah SMA,” kata Prof. Drs. John A Titaley, Th.D.

Biodata Singkat
Nama                 :
Prof. Drs. John A Titaley, Th.D
Tempat dan tanggal lahir    :
Sorong, 19 Juni 1950
Status Pernikahan        :
Menikah dengan Ida Imam, tanggal 24 Januari 1981
Anak-anak            :
Vina, lahir 12 Mei 1982 di Salatiga;
Ivan, lahir 29 November 1990 di San Francisco
Kewarganegaraan        :
Indonesia
Keanggotaan Gereja    :
Ditahbiskan sebagai Pelayan Firman dan Sakramen pada Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Tamansari Jl. Jend. Sudirman 1 SALATIGA 50711 INDONESIA 1 Juni 1986.

Jabatan Akademik
2001 – sekarang – Guru Besar dalam Ilmu Teologi Fakultas Teologi UKSW Jl. Diponegoro 52-60 SALATIGA  50711  INDONESIA

2000 –2006 – Guru Besar Luar Biasa Sosiologi Agama di Center for Religious and Cross-cultural Studies Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Pendidikan
Th.D., Graduate Theological Union (GTU), Berkeley, dan San Francisco Theological Seminary (SFTS), San Anselmo dalam bidang Inter-Area Studies (Perjanjian Lama dan Agama dan Masyarakat)
Drs. (Sarjana dalam Ilmu Teologi), Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana
1974 B.Th. (Sarjana Muda), Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana

Pengalaman Mengajar
a. Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga
2001 –     Guru Bear dalam Ilmu Teologi
1991 – 2001 Dosen Teologi dan Sosiologi
1978 – 1991 Dosen Teologi

b. Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta 1991 – 1996
Dosen Luar Biasa dalam Ilmu Teologi dan Sosiologi PPs Teologi

c. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 2000 – 2006
Guru Besar Luar Biasa dalam Ilmu Teologi dan Sosiologi  CRCS

d. Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta 2002
Guru Besar Luar Biasa PPs Agama dan Filsafat

e. Visiting Scholar (Mengajar dan Meneiliti)
1993 – Mengajar Summer Program Advanced PastoraL Studies  di San Francisco Theological Seminary, San Anselmo, USA

2006 – Visiting Professor pada Graduate Theological Union, Berkeley, USA

2009 – Research Fellow pada Temple University dan Presbyterian Louisville Theological Seminary di Louisville, Kentucky, USA dengan Beasiswa Program Akademik Recharging DIKTI

Jabatan Administratif
a.    Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga
2009        Rektor
2009 – 2009    Dekan Fakultas Teologi
2007 – 2009     Kaprogdi PPs (S2 dan S3) Sosiologi Agama
2007 –     Ketua Pusat Studi Agama-Agama Asli Indonesia (PSAAI)
2001 – 2005    Rektor
1995 – 2001    Dirktur PPs
1998 – 2001    Dekan Fakultas Teologi
1991 – 1995    Kaprogdi PPs Agama dan Masyarakat
1983 – 1986    Pembantu Rektor urusan Kemahasiswaan
1978 – 1983    Sekretaris Fakultas Teologi
1977 – 1978    Ketua Umum Dewan Mahasiswa
1976 – 1977    Wakil Ketua Umum Dewan Mahasiswa
1973 – 1975    Ketua III Dewan Mahasiswa
1970 – 1972    Sekretaris Senat Mahasiswa Fakultas Teologi

Afiliasi Professional
a. Perhimpunan Sekolah Teologi di Indonesia (Persetia), Jakarta

1998 – 2002    Terpilih Ulang sebagai Ketua
1994 – 1998    Ketua
1982 – 1986    Sekretaris

b.Yayasan  Bina Darma, Salatiga
1996     – 2001 Anggota
1997     – 1986 Sekretaris

c. Institute for Advanced Studies in Asian Cultures and Theologies (IASACT) United Board for Christian Higher Education in Asia (UBCHEA), Hong Kong 2004 – Advisor

d. Yayasan Perguruan Tinggi (Yaperti) GPM, Ambon
2008 – 2010    Ketua Pembina

f. Association for Theological Education in South East Asia (ATESEA), Manila 2009 –    Executice Committee, Member.

Penghargaan    :
Alumnus of the Year dari
Graduate Theological Union, Berkeley, USA 2002.

H. Hardjani HS

No Comments

H. Hardjani HS
Ketua Cabang Muhammadiyah Cileungsi

Sentralisasi Manajemen Muhammadiyah Cileungsi Sangat Strategis untuk Pengembangan SDM

Upaya meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan terus dilakukan oleh Muhammadiyah Cabang Cileungsi. Yayasan ini mengelola pendidikan mulai Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, SMP, SMK, SMA dan Perguruan Tinggi. Sesuai dengan ayat Alquran bahwa “Orang yang berilmu akan ditinggikan derajatnya”, Yayasan berusaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia umumnya dan masyarakat Cileungsi khususnya.

Caranya, Muhammadiyah mencoba memberikan pendidikan berbiaya murah bagi anak-anak usia sekolah dari tingkat terendah sampai tertinggi. Meskipun upaya tersebut terkendala minimnya dana –yayasan tidak mempunyai sumber dana tetap dari donatur yang pasti- tetapi berbagai cara digunakan untuk menyiasati kendala tersebut. Seperti subsidi silang dari siswa mampu kepada siswa tidak mampu melalui biaya pendidikan, Muhammadiyah juga memberikan beasiswa bagi siswa berprestasi dan kurang mampu.

“Untuk mencapai biaya relative murah itu belum bisa full, karena tidak ada bantuan dari manapun. Kita mencari uang sendiri, memanfaatkan uangnya sendiri. Untuk sampai ke situ, sistem pendidikan di sini menggunakan sistem sentralisasi. Artinya mulai dari TK hingga PT manajemennya adalah satu, tidak sekolah per sekolah. Sehingga untuk pengaturan kepegawaian, kesejahteraan dan lain-lain berada dalam satu manajemen,” kata H Hardjani HS., Ketua Cabang Muhammadiyah Cileungsi.

Menurut Hardjani, pihak yayasan selain memberikan beasiswa dalam jumlah besar juga mencarikan dana bagi orang-orang yang tidak mampu, fakir miskin dan yatim piatu. Kepada mereka bahkan diberikan pembebasan biaya sekolah apabila dipandang benar-benar tidak mampu. Yayasan juga memberikan keringanan biaya hingga 50 persen bagi keluarga karyawan. Hal tersebut merupakan bagian dari sistem Sentralisasi Manajemen Muhammadiyah Cileungsi.

Hardjani menjelaskan, Muhammadiyah memiliki kegiatan pendidikan, kesehatan, sosial dan lain-lain, di mana antara kegiatan satu dengan yang lain saling menguatkan. Dengan begitu, meskipun tanpa bantuan pemerintah mampu membantu meringankan tugas dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Terbukti, selain guru dan karyawan berjumlah 350 orang, juga tumbuhnya entrepreneur baru di sekitar yayasan. Yakni orang-orang yang mengais rezeki dengan berjualan di sekitar sekolah yang disiapkan tempat, listrik dan air bersih.

“Jadi visi saya adalah bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan Muhammadiyah Cileungsi dengan menggunakan sistem manajemen secara sentral. Dengan sistem ini, meskipun biaya pendidikan relative murah, tetap prestasi tidak kalah. Alhamdulilah siswa SD menjadi juara lukis untuk Jawa Barat dan masuk Olimpiade Matematika tingkat Nasional. Artinya dengan kondisi seadanya prestasi kita cukup membanggakan,” kata pria kelahiran Magelang, 19 September 1958 ini.

Belajar Sampai China

Menurut H Hardjani HS, kemajuan teknologi yang pesat tidak terlalu berdampak buruk bagi dunia pendidikan. Tinggal bagaimana teknologi tersebut diaplikasikan pada dunia pendidikan. Meskipun harus diakui bahwa penggunaan teknologi sangat tergantung pada siapa penggunannya. Oleh karena itu teknologi pendidikan harus benar-benar dipahami pengguaannya. Tetapi bagaimanapun kehadiran teknologi dalam pendidikan tidak perlu ditakutkan.

“Teknologi seperti pisau, kalau dipakai dengan baik menjadi baik kalau dipakai jelek ya menjadi jelek. Contohnya pisau dapur kalau dipakai untuk masak ya bagus, tetapi kalau untuk nodong ya berbahaya. Begitu juga dengan teknologi, semua tergantung pada penggunaannnya. Makanya kita di sini, melengkapi teknologi dari semua tingkatan mulai TK hingga PT, yang menjadi bagian dari sarana,” katanya.

Hardjani mengakui adanya perbedaan dalam sistem pendidikan di Indonesia dan luar negeri yang cukup jauh cara pandangnya. Di luar negeri sekolah memiliki pelajaran yang sangat terspesialisasi menjadi empat mata pelajaran. Sementara di Indonesia 17 mata pelajaran harus diketahui siswa. Dengan empat pelajaran, siswa di luar negeri sangat menguasai spesialisasinya. Sementara di Indonesia, siswa “tahu” segala macam pengetahuan meskipun tidak “bisa” mengaplikasikannya.

Sistem kualitas tersebut, lanjut Hardjani, membedakan antara pendidikan di Indonesia dan luar negeri. Apalagi, target sistem yang berubah-ubah dari legislator pendidikan di Indonesia membuat perubahan yang signifikan. Ia mencontohkan bagaimana sistem UAN yang diterapkan sekarang, di mana banyak siswa harus mengulang ujian. Kejadian ini, merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas lulusan pendidikan di Indonesia.

“Selama ini kita berorientasi pada kuantitas yang merupakan target orde baru dalam pemberantasan buta aksara. Sementara di era Reformasi ini sudah mulai mengutamakan kualitas. Memang ada yang tidak setuju, tetapi sistem UAN sudah dilakukan sejak Indonesia merdeka hingga tahun 1977. Ketika Orba berkuasa UAN dihapus karena perbedaan target tersebut,” tandasnya.

Padahal, lanjutnya, seorang muslim -sesuai dengan sunah Rasul- diwajibkan untuk belajar bahkan hingga ke negeri China. Sunah tersebut bahkan bisa diartikan secara harfiah melihat kondisi negeri China belakangan ini yang menjadi kekuatan ekonomi baru. China dalam waktu singkat telah tumbuh menjadi negara berpengaruh setelah Amerika Serikat dan Jepang. Kemampuan seperti yang ditunjukkan bangsa China berasal dari sifat mereka yang pantang menyerah, pekerja keras, prihatin dan pintar berdagang.

“Sabda Rasulullah, ‘Belajarlah meskipun harus sampai ke negeri China’ benar-benar terbukti melihat kondisinya sekarang. Sunah Rasul yang lain menyatakan bahwa, 80 persen rezeki yang diturunkan Allah adalah perdagangan, sementara yang lain hanya bernilai 20 persen saja. Tetapi semua orang Indonesia mengejar yang 20 persen dan meninggalkan yang 80 persen. Entrepreneurship baru wacana dan belum benar-benar dilakukan. Jadi kalau mau maju, jadikan sekolah sebagai pengetahuan dan setelah lulus diarahkan sebagai entrepreneur,” ujar pria yang bercita-cita menjadikan Cileungsi sebagai kota pelajar, terutama di daerah Bogor timur ini.

Hardjani memberikan catatan bagi bangsa Indonesia untuk mengejar ketertinggalan dunia pendidikan di Indonesia. Yakni mengamalkan sunah Rasul untuk belajar sampai negeri China dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Karena umat Islam sudah dibekali dengan surat Al Ash’r yang mengingatkan pentingnya waktu karena tidak dapat terulang kembali. Sementara yang terjadi di Indonesia yang mayoritas beragama Islam malah meninggalkan perintah Islam. “Kalau orang-orang di luar negeri menggunakan Al Quran untuk dilaksanakan harian. Sementara di Indonesia kitab ini hanya digunakan sebagai bahan bacaan dan tidak dilaksanakan,” katanya.

Di sisi lain, lanjutnya, perintah Al Quran dalam Al Insyiro sangat jelas, yakni memerintahkan setiap manusia untuk bekerja keras. “Kalau selesai pekerjaan yang satu pekerjaan yang lain harus dilakukan. Dan setiap melakukan pekerjaan itu pasti ada kesulitan, tetapi dibalik kesulitan itu pasti ada kemudahan”. “Masalahnya orang Indonesia tidak pernah mau bersulit-sulit, maunya yang enak-enak saja. Artinya apa yang ada di konsep Islam itu semua dipakai oleh Barat, sehingga Barat lebih maju daripada kita,” imbuhnya.

Hijrah untuk Berubah

H Hardjani HS merasa terbantu dengan adanya BOS, BOM dan RKB yang diprogramkan pemerintah. Meskipun untuk itu harus berusaha “mengejar” kepada pihak pemerintah agar program tersebut. Menurut Hardjani, seharusnya pemerintah yang harus datang ke sekolah-sekolah dalam rangka mensukseskan program yang dirancangnya.

Hal ini dirasakan berbeda ketika Yayasan yang diketuai Hardjani memperoleh bantuan dari United Way di USA. Meskipun berkantor di Illinois, USA tetapi mendatangi sekolah-sekolah di seluruh dunia –termasuk Cileungsi- untuk memberikan bantuan. Bahkan ketika kesepakatan untuk me-launching program tersebut, pihak donatur jauh-jauh datang dari USA.

“Jam empat subuh mereka masih di Singapura padahal acara kita jam sembilan pagi. Tetapi mereka sudah memiliki komitmen sehingga jam sembilan tepat perwakilannya sudah datang untuk meresmikannya. Sementara pejabat kita, jam sebelas baru datang di sini, padahal tinggalnya hanya di Cibinong. Jadi  komitmen waktu itu yang di antara kita tidak terlaksana dengan baik. Menganggap pejabat yang harus dilayani,” ungkap Karyawan Teladan Provinsi Jawa Barat Tahun 2000 ini.

Untuk mengatasi hal tersebut, ia mengingatkan, bahwa -dalam bahasa Rasullulah- bangsa Indonesia harus hijrah dan setiap saat berubah. Bangsa Indonesia jangan menggunakan manajemen beton yang kokoh dan tidak bisa diubah-ubah. “Kita harus hijrah untuk berubah. Kita harus mengikuti jejak Rasul dengan meniru sifat-sifat baiknya yakni amanah, fatonah, siddiq dan tablig. Karena banyak orang Islam yang tidak menggunakan ilmunya,” tuturnya.

Ia berharap, agar aturan pemerintah segera diimplementasikan seperti pemberian BOS dan bantuan-bantuan lainnya. Setidaknya, buku sekolah digunakan sistem seperti zaman dahulu yang tidak diperjualbelikan dan dapat dipergunakan oleh generasi berikutnya. Kebijakan tersebut sangat berguna untuk mendukung pendidikan murah karena mengurangi biaya pembelian buku.

Kepada generasi muda, Hardjani berpesan berpikir sebagai umat Islam yang rahmatan lil’alamin yang tidak membedakan suku, ras, agama dan lain-lain. Dengan pola pemikiran seperti itu, generasi muda akan berusaha untuk berbuat baik bagi kepentingan orang lain. ia mencontohkan, pada saat berusia 24 tahun, ia sudah terjun ke dunia pendidikan. Visinya saat itu adalah untuk menyejahterakan masyarakat melalui pendidikan.

“Bukan warisan. Karena kalau warisan akan habis dibagi-bagi, sementara dengan berpendidikan anak keturunan dari pemilik warisan tidak akan menjual warisannya. Karena anak-anaknya berusaha untuk mendapatkan rezeki Tuhan yang 80 persen bukannya membagi-bagi warisan leluhurnya,” ujarnya.

Setelah 26 tahun, buah pemikiran Hardjani telah berhasil menanggulangi pengangguran meskipun dalam skala kecil. Selain 350 guru, karyawan dan pedagang yang bangkit karena Yayasan Perguruan Muhammadiyah beroperasi. Masyarakat yang ada di sekitar yayasan pun dibantu untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi. Artinya, dari segi tenaga kerja dan sosial, Yayasan Perguruan Muhammadiyah telah membantu pemerintah.

“Artinya kalau PCM Cileungsi saja bisa memberikan lapangan kerja bagi 500 orang, dengan 5000 siswa, maka seandainya dalam satu kecamatan ada 10 orang yang pola pikirnya (mindset) seperti saya, di Indonesia tidak ada pengangguran lagi. Bahkan pengangguran intelektual pun tidak ada. Kita menggaji karyawan di sini pun sudah lebih dari UMK, lengkap dengan jaminan sosial, kalau secara umum kesejahteraan karyawan sudah relative cukup. Standar,” katanya.

Adapun visi yang dipegang teguh Hardjani selama ini adalah melaksanakan surat Al Maa’uun (Q.S:107) dan surat Al ‘Ashr (Q.S:103). Dalam surat Al Maa’uun terkandung perintah untuk mengentaskan kemiskinan. Dimana dalam mengentaskan kemiskinan bukan dengan membagi-bagikan uang, tetapi memberikan ilmu pengetahuan. Artinya dengan membekali ilmu, kemiskinan dengan sendirinya tidak ada. Sementara surat Al ‘Ashar mengharuskan manusia untuk menghargai waktu dengan sebaik-baiknya. Ia melihat, bangsa Indonesia belum dapat menghargai waktu dengan baik.

Ia melukiskan pengalaman saat membuat sekolah yang tidak mau menunda-nunda waktu untuk memulai. Apa yang menjadi keinginannya langsung dikerjakan terlebih dahulu dan diperbaiki sambil berjalan, tanpa harus menunggu hal-hal yang ideal. Karena ia sadar kalau menunggu yang ideal –seperti kecukupan dana dan bantuan dari pemerintah– cita-citanya tidak dapat berjalan.

“Kalau saya yang penting punya niat, akan saya tanamkan. Kalau sudah punya tekat saya tanamkan terlebih dahulu, meskipun nggak punya duit harus mulai. Karena bisa sambil jalan, sambil menghimpun dana. Visi saya melaksanakan amanah kedua surat tersebut yang menyangkut IPOLEKSOSBUDHANKAM. Kedua surat itu yang menjadi pegangan saya dan sekaligus menjadi visi saya,” katanya.

Sedangkan mengenai misi yang diembannya, Hardjani menyebut pengentasan kemiskinan melalui pendidikan dan kesehatan. “Karena itu, saya menyelenggarakan pendidikan dari TK sampai Perguruan Tinggi (TK:5 unit, SD: 2 unit, SMP: 2 unit, SMA: 1 unit, SMK: 3 unit, Sekolah Tinggi Teknologi Muhammadiyah Cileungsi, Asrama Yatim Piatu Al-Maun: 2 Unit) yang diharapkan berguna untuk kesejahteraan masyarakat. Untuk kesehatan, mulai pengobatan gratis sampai rumah sakit. Itu misi saya,” kata pria yang berkantor di dua tempat sekaligus ini. Pagi di salah satu perusahaan semen di kawasan Bogor Timur, kemudian malam hari dan hari libur berkantor di Pimpinan Cabang Muhammadiyah Cileungsi.

Winita E. Kusnandar

No Comments

CEO Kusnandar & Co.

Menolak Profesi Femininmi, Menjalani Profesi Menantang dan Memiliki Otorisasi

Sosok Winita E Kusnandar sangat berbeda dengan perempuan di zamannya. Pada masa kecilnya, kebanyakan perempuan memiliki cita-cita menjadi guru, dosen, akuntan atau PNS yang lebih sesuai dengan kodratnya. Tetapi ia memiliki pandangan lain mengenai masa depannya. Ia tidak tertarik untuk pekerjaan-pekerjaan yang didominasi oleh perempuan dan menginginkan sesuatu yang lebih menantang.

“Cita-cita awal adalah menjadi Kowad atau profesi lain yang tidak feminin, yang dapat memberi posisi dalam profesi dan otorisasi. Saya terinspirasi oleh Hakim Agung Sri Widowati, SH, pada waktu itu merupakan satu-satunya Hakim perempuan di PN Solo. Jadi pada waktu itu prinsipnya asal bukan profesi yang di dominasi perempuan, tetapi profesi yang menantang. Dan, profesi hukum yang saat itu masih didominasi kaum pria menjadi pilihan,” kata CEO Kusnandar & Co ini.

Di sisi lain, lanjutnya, profesi hukum sangat membutuhkan keuletan, keberanian, strategi yang jitu dan solidaritas yang kuat. Selain itu, dibutuhkan juga intelegensia yang tinggi, sehingga sangat menantang karena secara empirik perempuan, bukan hanya pria, juga dapat eksis memberikan kontribusi bagi penegakan hukum. Untuk sampai pada posisi seperti sekarang ini, ia harus melalui perjalanan panjang. Sesaat setelah memasuki bangku kuliah di Fakultas Hukum Universitas Parahyangan, ia sudah magang di sebuah kantor hukum di Jakarta, yaitu Delma Yuzar Advocate & Solicitor, Legal Consultant.

Di kantor hukum ini, Winita mempelajari praktek hukum pada perusahaan multinasional seperti Caltex Pacific dan The Chase Manhattan Bank N.A. Pengalaman magang menambah pengetahuannya terutama seputar Producton Sharing Contract (PSC). Itu sebabnya ia mengambil masalah PSC untuk menyusun skripsinya. Setelah empat tahun menjalani magang di sela-sela kesibukannya kuliah Winita berhasil menyandang gelar Sarjana Hukum.

Mengikuti kelulusannya, ia tertarik untuk menambah pengetahuannya di bidang notariat. Di tahun itu pula, ia bergabung di Kantor Notaris Kartini Muljadi. Setahun kemudian, ia bergabung di kantor hukum milik pengacara kondang Adnan Buyung Nasution. Ia terjun menangani perkara pidana dan perdata. “Di sini saya merasa mendapat tantangan untuk mandiri. Saya harus jungkir balik dan belajar dari kesalahan sendiri,” katanya.

Berbekal pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya, Winita memberanikan diri membuka kantor hukum sendiri. Ia mendapat dukungan kuat dari seorang pengusaha multinasional, Jan Darmadi. Diawaki pula oleh seorang asisten pengacara, seorang sekretaris, seorang yang mengurus keuangan, dan seorang office boy, ia mendirikan Kusnandar & Co.pada tahun 1980.

Masih di awal berdirinya Kusnandar & Co., Winita kemudian menawarkan konsep pelayanan satu atap. “Konsep one stop service ini dilatarbelakangi oleh sistem kerja klien yang datang ke kantor kami. Mereka membawa berbagai permasalahan yang satu sama lain memiliki keterkaitan. Mulai masalah korporasi, industri keuangan, investasi, tenaga kerja asing, maupun lokal, IPR, sampai litigasi,” katanya. Dengan pelayanan satu atap, lanjutnya, segala aspek kebutuhan klien bisa ditangani, baik tingkat primer maupun sekunder. Mereka tak perlu ke tempat lain untuk pemenuhan kebutuhan selanjutnya.

Kusnandar & Co. memiliki berbagai divisi, yaitu Foreign Investment Division, Banking and Finance Division, Tax Division, Land Division, Real Estate Division, Capital Market Division, Labor Division, Intellectual Property Division, Immigration Division, dan Admiralty and Litigation Division. “Selain mampu melayani kebutuhan klien secara total, konsep yang ditawarkan ini memberi nilai tambah bagi pemecahan suatu masalah. Pelayanan satu atap ini menghasilkan pengalaman yang berguna untuk meninjau suatu masalah hukum dari berbagai segi,” katanya.

Untuk tujuan mengembangkan diri sekaligus promosi, Winita aktif mengikuti berbagai pendidikan singkat berupa kursus atau seminar, baik di dalam maupun luar negeri. Selain sebagai peserta, kadang ia turun sebagai pembicara, moderator, atau pembanding. Pendidikan non-formalnya antara lain konsultan HKI, konsultan pasar modal, kurator, pengacara kepailitan, pengacara arbitrase, dan penerjemah tersumpah. Winita juga aktif di berbagai organisasi profesi internasional ini, yaitu Advoc Asia Pasific, ASEAN Intellectual Property Association, Inter-Pacific bar Association (IPBA), Singapore Arbitration Center (SIAC), Asia Law Hongkong, International Bar Association di Amerika Serikat dan Inggris, Chartered Institute of Arbitration dan seterusnya.

Dalam mengelola Law Firm, Winita menganut prinsip etos dan etika kerja yang tinggi, ulet, disiplin, bertanggung jawab dan penuh kehati-hatian (prudent). Selain itu, ia juga menjalin kerjasama dengan beberapa law firm asing terkemuka baik di Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Hong Kong dan Singapura. Semakin meningkatnya tuntutan pelayanan jasa hukum dari masyarakat, maka perlu meningkatkan mutu layanan kepada klien dan berusaha menciptakan one-stop-service (pelayanan satu atap).

“Dengan sistem one-stop-service, pelayanan kepada klien sangat efektif sebab klien yang datang akan dilayani ataupun diperiksa segala aspek yang sekiranya diperlukan atau untuk setiap kebutuhannya, baik tingkat primer ataupun sekunder. Klien tidak perlu lagi ke tempat lain bila membutuhkan jasa pelayanan selanjutnya. Untuk itu, selain melayani jasa hukum, kami juga melayani jasa lain termasuk yang berkaitan dengan pajak, keuangan, manajemen, SDM hingga pengurusan dokumen, perijinan dan sworn translator,” tuturnya.

Mengembangkan dan Menegakkan Hukum

Kusnandar & Co dibawah pimpinan Winita telah menjalani kerjasama dengan banyak instansi pemerintah. Hampir semua instansi pemerintah terkait bekerjasama dengan memberikan informasi yang diperlukan dalam menjalankan layanan hukum. Winita sebagai kuasa hukum dalam berperkara dengan perjuangan yang menganut etika hukum yang tinggi sehingga senantiasa independen dan terbebas dari segala pengaruh politis atau lainnya.

“Dalam menjalankan profesi kami, tidak pernah sekalipun kami membiarkan praktek maupun pribadi kami tersandera oleh siapapun dan dalam bentuk apapun. Baik oleh pemerintah, quasi pemerintah atau organisasi manapun, bahkan Bank Dunia sekalipun, karena kami juga menjadi rekanan kerja mereka,” ujarnya.

Law Faiirm yang dikelola Winita memberikan nilai tambah dengan mengandalkan dan menerapkan manajemen pengelolaan. Adapun metode pelayanan yang digunakan selalu mengutamakan kepentingan klien di atas segalanya dengan konfidentialitas yang tinggi tanpa mengurangi etika profesi. Setiap produk hukum yang diterbitkan oleh kantor Winita selalu merupakan produk hukum yang komprehensif, professional dan dapat diandalkan karena dikeluarkan setelah melalui beberapa fase yang penuh kehati-hatian.

Winita menjamin, produk hukum terbitan Kusnanda & Co merupakan produk hukum yang integrated/terpadu antara ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku/normative dengan preseden-preseden/praktek yang terjadi. “Lawyer kami, dalam membuat opini hukum atau produk hukum lainnya, selalu berpedoman kepada (i) hasil review peraturan yang berlaku maupun (ii) hasil riset di lapangan termasuk instansi terkait dan (iii) analisa hukum yang independen dan mendalam,” imbuhnya.

Dengan menggunakan jasa law firm milik Winita, sebuah perusahaan klien akan memperoleh banyak keuntungan. Antara lain memperoleh advise antisipasi risiko, menciptakan harmonisasi hubungan kerja, menjamin legalitas dan validitas suatu kegiatan usaha. “Kerjasama baik melalui kontraktual maupun suatu entitas baik antara pihak lokal maupun dengan pihak luar negeri. Memperoleh bantuan hukum untuk proteksi klien ataupun mempertahankan hak klien,” tambahnya.

Saat ini, Kusnandar & Co pimpinan Winita mampu untuk menangani berbagai jasa, sebagai berikut: Foreign Investment & Trade, Banking & Multi-Finance, Capital Market & Securities, Merger-Acquisition-Consolidation & Restructuring, Land/Property Conveyance, Realty Development & Construction, Natural Resources & Plantation, dan IPR Mark, Patent, Copyright, Trade Secret, Industrial Design & Integrated Circuit. Layanan lain adalah Labour, Industrial Relation Union (CLA), Civil-Commercial- Criminal Litigation, Local & Overseas Arbitration/Mediation,Official Receivers & Administers, Liquidation & Bankruptcy.

“Kita juga melayani Tax Review & Maintenance, Accounting Service, Sworn Translation serta Litigasi, Mediasi & Arbitrasi dan Hubungan Industrial, Tata Usaha Negara,” kata Winita. Selain itu, dalam menjalankan law firm dengan beragam jasa yang ditawarkan, ia tetap mengusung misi yang sangat luhur bagi bangsa ini. “Misi saya membantu mengembangkan dan menegakkan hukum dengan benar agar Indonesia mendapat tempat yang terhormat dan dihormati oleh berbagai bangsa dan negara di dunia,” tambahnya.

Perempuan Warga Kelas Dua

Berbicara mengenai kesetaraan gender di Indonesia, Winita mengutip UU No. 2/2008 tentang Partai Politik. Di mana telah dibuka kesempatan bagi perempuan dengan kuota 30%. Bukan hanya untuk pendirian partai politik, tetapi juga pada aturan kepengurusan partai politik pada setiap tingkatan dan dalam menentukan bakal calon anggota legislatif. Untuk itu semua, diperlukan rekonstruksi budaya guna mereduksi dominasi pria.

“Namun demikian, permasalahan perempuan tidak terlepas dari kondisi budaya atau konstruksi sosial itu sendiri. Apalagi masyarakat Indonesia telah terlanjur menganut budaya patrilineal yang sering kali memposisikan perempuan sebagai warga kelas dua. Khususnya di dalam keluarga,” tegas perempuan yang akan mengabdikan diri dengan terus menggeluti profesi lawyer sampai tidak berguna lagi ini.

Perempuan Indonesia, lanjut Winita, telah turut berkiprah mensukseskan pembangunan nasional baik di sektor ekonomi, bisnis, pendidikan dan kesehatan bahkan pemerintahan. Jabatan dalam pemerintahan seperti walikota perempuan, bupati perempuan, anggota parlemen perempuan dan sebagainya, sudah jamak di Indonesia.

Menurut Winita, pemerintah mempunyai peranan penting di dalam menentukan peran perempuan Indonesia. Misalnya, mengambil langkah afirmatif untuk merekrut lebih banyak lagi perempuan di tempat kerja. Untuk itu, otoritas publik perlu proaktif mengumpulkan dan menyediakan data maupun indikator tentang gender. Sudah seharusnya, kaum perempuan patut menuntut kesetaraan gender dalam segala bidang.

“Banyak perempuan yang berlindung dibalik konsep pemikiran pasif bukan pro-aktif sekadar agar mereka dapat terus menikmati dan tidak perlu meninggalkan zona nyaman, comfort zone yang dinikmatinya. Mereka merasa tidak perlu mempunyai identitas sendiri, hak dan kewajiban serta independensi sendiri dan tidak merasa perlu meniti prestasi di luar rumah tangga atau keluarganya. Mereka cukup puas menerima dan menikmati zona nyaman meskipun harus hidup dengan segala ketergantungan pada pendamping hidupnya,” tandasnya.

Sebagai pengelola firma hukum, Winita juga mempersiapkan kaderisasi dan regenerasi. Winita memberi kesempatan kepada generasi penerus untuk ikut berkiprah bahkan dalam menentukan kebijakan. Di era saat ini, manusia hidup dalam sebuah ekonomi yang berbasis pengetahuan (knowledge economy) dengan masyarakat yang sudah seharusnya berpengetahuan setara (knowledge society).

Menurut Winita, daya dan kemampuan kreativitas yang tinggi di masyarakat memaksa siapapun harus dapat memecahkan masalah sesuai dengan pengetahuannya. “Apalagi masyarakat sekarang telah berkembang pesat. Agar dapat memecahkan masalah dengan tingkat kecerdasan yang setara atau berimbang –ingenuity- mau tidak mau kita harus menciptakan generasi penerus dengan kualitas ini. Itu jika kita tidak ingin gagal,” cetusnya.

Winita menyatakan dirinya merasa puas atas praktek hukum yang dijalaninya selama ini. Apalagi kantor law firma Kusnandarr & Co yang didirikannya sudah mendunia dikenal di berbagai belahan dunia. Firma hukum ibu dari Arno Rizaldi, Andro Rinaldi, Andrio Rivaldi dan Axa Rivani dan 10 (sepuluh) anak asuh yang tinggal bersamanya ini, memiliki layanan yang telah diterima oleh banyak perusahaan, nasional maupun internasional. “Terutama yang menjadi bagian dari Fortune 500, Legal 500 bahkan International Who’s Who Professional, tahun 1997, 2006-2007, 2010-2011. Kemudian Great Minds of the 21st Century 2009, ABI Fellow 2009 serta menjadi acuan Bank Dunia dan masuk dalam database Wikipidea,” imbuh istri Dipl. Ing. Heru Setiawan ini.

Menurut alumnus Program Diploma King’s College – University of London, Program Sarjana Fakultas Hukum Unpar, Program Master of Business Administration – University of Leicester, dan Program Doktoral Universitas Indonesia ini, law firm miliknya memiliki banyak saingan. Saat ini, terdaftar di Legal 500 sejumlah 59 firma hukum, 30 diantaranya khusus Legal Consultant dan 29 sisanya Litigator.

“Meskipun kantor kami lebih banyak menangani masalah hukum sebagai Legal Consultant tetapi kami juga menangani litigasi di lembaga yudisial sebagai Litigator. Legal 500 adalah buku, berisikan data dari law firm-law firm terkemuka di seluruh dunia dan kantor hukum kami dua kali dinobatkan sebagai Recommended Law Firm untuk Banking, Finance and Restructuring dan Intellectual Property Tahun 2004 dan Intellectual Property tahun 2010,” kata Winita E Kusnandar.

 

 

Felicia Wiyanti Wowor

No Comments

Owner AMBATIK

Melestarikan Budaya Indonesia Dengan Menekuni Batik

Di tengah kekhawatiran lunturnya nasionalisme generasi muda, terdapat beberapa pengecualian. Prasangka bahwa generasi muda sudah meninggalkan budaya sendiri terpatahkan oleh mereka yang dengan tekun melestarikannya. Beberapa di antaranya, bahkan memantapkan diri membuka usaha yang berhubungan dengan budaya Indonesia.

Salah satunya adalah pemilik AMBATIK, Felicia Wiyanti Wowor. Di usianya yang masih belia, -kelahiran Jakarta, 18 Februari 1984- telah melahirkan beragam karya yang menunjukkan kecintaan terhadap Indonesia. Media yang digunakannya adalah budaya asli Indonesia yang pernah diklaim Malaysia, batik. Melalui karyanya, ia menunjukkan kepada dunia bahwa batik adalah budaya Indonesia yang bahkan anak muda pun sudah menggunakannya.

“Batik adalah warisan asli Indonesia. Mungkin karena orang tua saya penggemar batik sekaligus pendidik, mereka ingin warisan Indonesia itu tidak hilang. Salah satu caranya adalah ditularkan kepada anak-anaknya termasuk saya. Awalnya sih, karena saya lulusan desain, mama minta dibuatkan baju berbahan dasar batik. Lama kelamaan, saya senang juga karena berbeda dari batik-batik yang biasa. Akhirnya, setelah melalui berbagai observasi sebelumnya saya memutuskan untuk membuka usaha ini,” katanya.

Fini –lulusan D3 Fashion Design & Pattern Making ESMOD Jakarta- mendirikan AMBATIK tahun 2009. Dengan dukungan kedua orang tuanya –Frans Endy Wowor dan Maryam Harwanti Siregar- yang mengelola sebuah sekolah, usahanya mulai berjalan. Desain hasil karyanya diminati berbagai kalangan, baik tua maupun muda. Apalagi, sebagai anak muda kreasinya pun sangat sesuai dengan selera generasi muda yang bisa digunakan untuk menghadiri pesta, bekerja maupun aktivitas sehari-hari lainnya.

Strategi untuk merangkul generasi muda, yang diterapkan Fini sangat jitu. Menampilkan desain busana warna-warni digabungkan dengan berbagai aksesori entik lainnya, menjadikan desainnya sangat disukai. Ia sadar, budaya asli warisan bangsa ini harus dilestarikan di tengah gencarnya budaya luar yang masuk ke Indonesia. Karena di era globalisasi, tidak ada sekat antara satu negara dengan negara lainnya.
“Akibat globalisasi, anak-anak muda mendapat budaya lain. Oleh karena itu, saya berusaha supaya anak-anak Indonesia tetap tahu Indonesia. Salah satunya melalui media ini untuk membantu mempertahankan budaya kita sendiri. Kita tahu anak muda suka fashion maka ini sangat membantu dengan mengikuti kemauan mereka. Globalisasi membuat semua bisa masuk, sehingga kalau tidak ketat mempertahankan akan terlibas budaya lain. Jangan sampai karena interested terhadap budaya kita, orang lain yang memanfaatkannya,” tuturnya.

Selamatkan Pengrajin

Dengan menekuni batik, Fini Wowor tidak hanya sekadar membangun usahanya sendiri. Seiring dengan semakin maju dan banyaknya desain yang dikerjakannya, ia juga memerlukan bahan-bahan yang tidak bisa dibuatnya sendiri. Salah satunya adalah kain batik yang harus dibelinya dari para pengrajin batik. Langkah untuk membeli dari pengrajin tersebut berdampak luas karena kehidupan mereka terselamatkan.

“Saya harus hunting mencari kain batik untuk desain saya. Kadang pengrajin juga datang kepada saya untuk menawarkan kain batik produk mereka. Karena mereka juga senang, produknya digunakan yang berarti mereka bisa terus berproduksi lagi. Artinya batik tetap lestari menjadi warisan budaya Indonesia,” kata sulung dari empat bersaudara yang mendapat dukungan penuh keluarga ini.

Terkait dengan hal tersebut, Fini menyerukan kepada para penggemar batik di Indonesia untuk menggunakan batik tulis. Selain kualitasnya sangat bagus, penggunaan batik tulis akan membuat pengrajin tidak kekurangan pekerjaan. Dengan menggunakan produk batik tulis, artinya lapangan perekonomian akan terus terbuka bari para pengrajin batik.

Untuk itu, Fini juga berkeinginan mengembangkan AMBATIK dengan cakupan yang lebih luas. Selain berbagai pameran di dalam negeri, ia juga ingin membangun sebuah gallery untuk memajang karya-karyanya. Obsesi lainnya adalah membangun website sehingga produk hasil ciptaannya dikenal luas di seluruh dunia. “Sementara, ini yang sedang benar-benar dipikirkan. Pekerjaan saya bukan ini saja, karena untuk kontrolnya semua masih saya sendiri,” imbuh putri pasangan pendidik ini.

Sebagai generasi muda, Fini mengajak sesama generasi muda untuk menjadi entrepreneur seperti dirinya. Karena dengan menjadi entrepreneur sejak muda, bisa mengubah Indonesia menjadi lebih sejahtera. “Cari apa yang mereka senang, hobi dan bagaimana bisa membantu Indonesia ke depan. Bagaimana cara membangun Indonesia agar menjadi lebih baik,” tambahnya.

Tren Meningkat

Setelah menyelesaikan pendidikan tahun 2005, Fini sempat membantu di sekolah yang dikelola ayah dan ibunya. Sambil terus mencari-cari celah untuk memulai usaha, ia ikut mengelolanya. Saat itu, ibunya adalah guru sekaligus Kepala Sekolah sehingga sering mendapat hadiah berupa kain batik. Pemberi hariah rupanya tahun kalau ibunya adalah penggemar batik.

“Apalagi di Indonesia sekarang ini juga sudah mulai meningkat trend penggunaan batik. Dari awal saya tertarik dalam bidang itu, hanya untuk masuk ke dunia bisnis ini banyak pertimbangan. Meskipun batik bisa dipakai orang tua, anak muda dan segala segmenlah,” ungkapnya.

Dalam rancangan-rancangannya, Fini membuat batik menjadi pantas dikenakan siapa saja tanpa memandang usia. Tua maupun muda, pantas mengenakan baju hasil rancangan designer muda ini. Yang tua menjadi semakin berwibawa, sementara yang muda tetap tampil ceria tanpa harus kelihatan tua. “Ini salah satu cara menarik minat anak muda berbatik. Mereka tetap keren, tidak menjadi tua dan kemudaannya tetap terlihat,” kata designer yang hanya mendesain satu model dengan beberapa ukuran ini.

Menurut Fini Wowor, AMBATIK atau membuat batik terinspirasi dari derasnya arus globalisasi di Indonesia. Semua itu mengakibatkan generasi muda Indonesia lebih memilih untuk membeli barang-barang bermerk internasional dan menunda pembelian merk lokal, yang lambat laun akan melenyapkan warisan budaya Indonesia yang salah satunya adalah batik. Sayangnya, produk batik dengan kualitas tinggi sangat sulit ditemukan di Jakarta.

Saat ini, generasi muda lebih memilih untuk membeli produk fashion luar negeri yang outletnya bertebaran di Jakarta. Sedangkan batik menjadi produk massal yang berharga murah dengan kualitas seadanya dan tidak memiliki nilai eksklusifitas. Ketika produk fashion batik yang bagus dan bermutu ditemukan, penerimaan pasar masih kurang bagus. Karena masih langkanya desainer baju-baju batik di tanah air.

Setelah memulai AMBATIK dua tahun lalu, Fini membeli berbagai jenis batik dari pembatik-pembatik tradisional di Yogyakarta dan Lasem. Ia mulai mendesain baju batik untuk para bisnismen, pembicara, guru, ibu-ibu dan teman-temannya yang membutuhkan baju batik dengan desain yang sesuai (baju-baju formal tetapi bukan kebaya). Setelah satu tahun berjalan, Fini mulai mendesain baju-baju “umum” berbahan batik seperti celana, atasan, rok, dan baju-baju. Hasil karyanya dipromosikan kepada teman-temannya, orang tua dan keluarga dengan respon yang sangat bagus.

Produk AMBATIK terbuat dari batik tulis atau batik cap yang memiliki keunikan tersendiri. Kisaran harga produk Ambatik –bukan produk massal tetapi terbatas- berada pada rentang antara Rp500 ribu sampai Rp1.200.000,-. “Sebagai orang Indonesia, saya bangga memiliki warisan budaya yang memiliki nilai artistik tinggi. Saya percaya, dengan keunikan dan desain inovatif terhadap warisan budaya ini, generasi mendatang akan mengapresiasi dan dengan bangga menggunakan batik sebagai busananya,” katanya.

 

Kombes Pol. Drs. Siswandi

No Comments

Kanit II Direktorat IV Bareskrim Polri

Indonesia Pangsa Narkotika Dunia

Peredaran narkotika dan obat-obatan (narkoba) semakin meluas belakangan ini. Maraknya bisnis narkoba tidak lepas dari besarnya perputaran uang haram di dalamnya. Tidak tanggung-tanggung, menurut laporan lembaga PBB, United Nation Office on Drug and Crime (UNODC), nilai perdagangan narkoba tahun 2003 mencapai US $ 322 miliar. Angka tersebut lebih besar dibandingkan dengan Gross Domestic Product (GDP) 88 persen negara-negara di dunia. Sedangkan di Indonesia, tercatat sebesar Rp12 triliun dihasilkan dari perdagangan narkoba.

Meskipun demikian, besaran uang yang dihasilkan tidak sebanding dengan kerusakan yang ditimbulkan. Karena dampak penyalahgunaan narkotika sangat luas. Tidak hanya terbatas pada kerusakan fisik dan mental tetapi juga ketenangan kehidupan dalam keluarga, meresahkan masyarakat dan terjadinya pelanggaran hukum. Dampak nyata yang dapat dilihat langsung dari pengguna narkoba adalah perubahan perilaku (malas, melawan, membantah, berbohong, dan lain-lain), kriminalitas, prostitusi, keluarga hancur, putus sekolah, penyakit AIDS, HIV sampai meninggal dunia.

Pemakai narkoba berubah menjadi orang egois, eksklusif, paranaoid, jahat dan asosial. Tuntutan kebutuhan fisik tersebut membuat sebagian besar pengguna narkoba mengalami kerusakan mental dan moral. Banyak pengguna yang untuk memenuhi kebutuhan terhadap narkoba menjadi pelacur, penipu, penjahat dan pembunuh. Kejahatan yang dilakukan pun tidak pandang bulu, bisa menimpa teman, sahabat, saudara bahkan orang tua kandungnya sendiri.

“Kondisi fisik yang lemah membuat mereka malas yang berujung menjadi bodoh dan miskin. Akan menjadi semakin berbahaya ketika orang miskin memiliki kebutuhan mahal karena mereka akan menjadi jahat. Ini akan menjadi ancaman bagi masyarakat, menjadi penyakit dan malapetakan bagi bangsa. Pemakai narkoba tidak hanya mengalami gangguan kesehatan, tetapi juga datangnya penyakit menular,” kata Kombes Pol. Siswandi, dalam bukunya “Pangsa Narkotika Dunia Indonesia”.

Menurut Siswandi, kerusakan yang tidak kalah berbahaya adalah gangguan psikologis serta kerusakan mental dan moral. Seorang anggota keluarga menjadi pengguna narkoba akan menimbulkan beragam masalah bagi keluarga tersebut. Awalnya masalah psikologis berupa gangguan keharmonisan rumah tangga karena muncul rasa malu pada anggota keluarga yang lain kepada tetangga dan masyarakat.

Dari masalah psikologis akan berkembang menjadi masalah ekonomi, ketika keluarga memutuskan untuk merehabilitasi anggota keluarga yang terjerumus ke lembah narkoba. Upaya mengembalikan anggota keluarga ke jalan yang benar ini memakan waktu dan biaya yang sangat besar. Padahal, keluarga telah kehilangan barang-barang berharga akibat pengguna narkoba mencuri dan menjualnya untuk memenuhi ketergantungan terhadap narkoba.

Masalah ekonomi yang ditimbulkan akibat kenekatan pengguna narkoba bisa menghancurkan keluarga. Tidak hanya sekadar terkurasnya harta benda –baik yang dicuri maupun untuk rehabilitasi- tetapi bisa berujung kekerasan dalam rumah tangga. Mulai tingkat perkelahian, pemaksaan, penganiayaan dan yang lebih tragis terjadi pembunuhan sesama anggota keluarga.

Selain itu, penyalahgunaan narkoba juga bisa mengakibatkan perceraian, anak terlantar, putusnya hubungan asmara, putus sekolah dan lain-lain. Intinya, masalah narkotika akan merembet kepada masalah-masalah lain yang lebih luas dan berbahaya seperti kriminalitas, prostitusi, korupsi, kolusi, nepotisme dan lain-lain.

Bila kerusakan tatanan kehidupan meluas ke seluruh pelosok negeri, pembangunan akan terhambat, kemiskinan meluas, kekacauan merata dan kejahatan muncul di mana-mana. “Jika demkian, sekeras apapun usaha kita membangun negara, kehancuran bangsa ini tinggal menunggu waktu. Intinya, narkotika dapat membunuh anak bangsa,” tegasnya.

Negeri Seribu Pintu

Melihat begitu besarnya uang yang beredar di dunia narkoba, bisnis ini sudah menggurita di seluruh dunia sejak puluhan tahun lalu. Nama-nama besar mafia dunia tidak bisa dilepaskan dari bisnis narkoba, meskipun mungkin berkedok usaha yang secara hukum resmi dan legal. Sementara di Indonesia, bisnis narkoba telah tumbuh sejak zaman penjajahan Belanda. Saat itu, bahkan narkoba merupakan bisnis yang legal sesuai hukum Belanda.

Pasca kemerdekaan bisnis narkoba di Indonesia dilarang secara hukum. Meskipun demikian, beberapa “pemain” tetap melakukan bisnis narkoba secara sembunyi-sembunyi. Apalagi barang haram berupa ganja bisa ditemukan secara alami di wilayah Sumatera seperti Aceh, Jawa dan daerah lainnya. Selain itu, pertumbuhan penduduk Indonesia yang sangat cepat, menjadikan negeri ini sebagai target pangsa narkoba dunia.

Di sisi lain, jalan untuk memasukkan narkoba ke Indonesia pun terbuka lebar. Meskipun jalur penerbangan udara relative tertutup karena ketatnya penjagaan petugas, namun Indonesia memiliki 17.840 pulau besar dan kecil. Artinya, Indonesia memiliki garis pantai yang sangat panjang (95.181 kilometer dan terpanjang di dunia) dengan beberapa pelabuhan saja yang diawasi petugas. Inilah celah yang bisa dimanfaatkan oleh penyelundup narkoba disamping perbatasan dengan negara lain.

“Dunia internasional mengakui potensi kekayaan Indonesia sebagai sebuah kekuatan yang luar biasa. Sejak dahulu, Indonesia menjadi ‘target serbu’ negara luar yang hendak berkuasa atas negeri kepulauan ini. Tetapi sebagai negara kepulauan dengan segala potensinya memang menguntungkan di satu sisi. Tetapi sekaligus merugikan karena menjadi peluang bagi penyelundupan narkoba. Artinya, seluruh pesisir Indonesia menjadi puntu masuk datangnya barang atau orang dari luar negeri,” ujarnya.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki 39 pelabuhan laut yang terbuka bagi perdagangan internasional. Selain itu, banyak pelabuhan laut yang dikelola secara tradisional oleh masyarakat setempat. Meskipun demikian, kedua pelabuhan –baik internasional maupun tradisional- menjadi sarana untuk penyelundupan narkoba secara efektif sehingga memerlukan pengawasan intensif aparat.

Di daratan, Indonesia berbatasan langsung dengan tiga negara pada 47 kecamatan. Yakni 19 kecamatan berbatasan langsung dengan Malaysia, 17 kecamatan berbatasan dengan Papua New Guinea dan 10 kecamatan berbatasan langsung dengan Timor Leste. Masing-masing perbatasan memiliki karakteristik tersendiri terkait permasalahan pelintas batas serta arus keluar masuk barang.

Pintu masuk peredaran narkoba lainnya adalah bandar udara yang berjumlah 22 di seluruh Indonesia. Beberapa bandara langsung didarati pesawat dari luar negeri tanpa harus transit di Bandara Soekarno Hatta sebagai bandara internasional utama. Dari sinilah, beberapa kali petugas berhasil menggagalkan upaya penyelundupan narkoba dari sindikat luar negeri ke Indonesia. Oleh karena itu, saat ini 10 bandara mendapatkan pengawasan prioritas terkait penyelundupan narkoba.

Pertanyaannya, mengapa Indonesia menjadi surga bagi para pemasok narkoba internasional? Padahal, secara ekonomi penduduk Indonesia masih kalah sejahtera dibandingkan dengan penduduk negara-negara di sekitarnya. Artinya daya beli rakyat Indonesia masih rendah daripada penduduk Malaysia, Thailand apalagi Singapura.

Jawabannya, perbandingan harga antara pasaran narkoba dunia dan Indonesia tidak tanggung-tanggung, mencapai 2000 persen. Artinya untuk harga Rp600 ribu per gram shabu di Iran, orang Indonesia berani membayar Rp2 juta. Sementara di Malaysia barang yang sama hanya dihargai maksimal Rp360 ribu saja setiap gram-nya. Begitu juga dengan heroin yang di Kolombia per gram hanya Rp38.700 di Indonesia mencapai Rp2 juta.

Dengan semakin meningkatnya pengguna narkoba di Indonesia -dari 3,2 juta tahun 2004 menjadi 3,6 juta tahun 2010- Indonesia adalah benar-benar surga bagi para mafia narkoba internasional. Tidak heran, segala cara digunakan untuk menyelundupkan narkoba ke Indonesia.

Indonesia Bebas Narkoba Tahun 2015

Peredaran narkoba harus diperangi sampai ke akar-akarnya. Seperti juga telah dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Hari Anti Narkotika International (HUT HANI) tahun 2006, “Negara tidak boleh kalah melawan penjahat apalagi SIndikat Narkotika”. Oleh karena itu, perang terhadap narkotika setara dengan perang melawan korupsi dan terorisme. Sebab, fakta akibat kejahatan narkotika setiap hari 50 anak Indonesia meninggal dunia.

Dengan begitu, perang terhadap narkotika merupakan perang seluruh rakyat Indonesia. Persoalan narkotika telah dikaji dari berbagai aspek, mulai kesehatan dan psikologis semuanya berbahaya bagi kehidupan. Tidak hanya jumlah korban yang terus meningkat tetapi juga dampak sistemik dari penggunaan narkoba tidak pada tempatnya yang mengakibatkan rusaknya generasi muda. Dikhawatirkan, dampak narkoba ke depan akan mengancam kedaulatan negara.

Fakta yang terkumpul dari lapangan, terungkap maraknya peredaran narkoba di Indonesia tidak lepas dari 12 unsur yang memudahkan barang haram tersebut beredar dan berkembang. Peluang tersebut menjadi faktor kunci yang mendorong sindikat narkotika internasional menjadikan Indonesia sebagai pangsa dengan populasi 230 juta jiwa. Adapun 12 peluang dan penyebab masuknya narkoba ke Indonesia adalah:

1. Banyaknya Pintu Masuk
Faktor geografis Indonesia sebagai negara kepulauan menyebabkan banyak celah yang memudahkan sindikat narkotika internasional masuk ke wilayah nusantara. Caranya lewat tiga pintu masuk yang tersedia, darat, laut dan udara dengan komposisi terbanyak lewat laut, disusul darat dan udara.

2. Murahnya Harga Kurir
Penyelundupan narkoba di Indonesia turut melibatkan WNI sebagai kurir kebanyakan akibat masalah ekonomi yang menderanya. Celakanya upah yang mereka terima sangat mudah dan tidak sepadan dengan risiko yang harus mereka hadapi ketika tertangkap.

3. Mudahnya Merekrut Kurir
Selain murah, kurir Indonesia juga sangat mudah direkrut. Iming-iming bepergian ke luar negeri, memacari sampai menikahi, adalah cara termudah untuk memperoleh kurir.

4. Mudahnya Membentuk Jaringan
Kejahatan narkoba adalah kejahatan terorganisir yang sangat rapi dan melibatkan banyak orang. Sistem kurir, membuat tidak hanya antar kurir tidak saling mengenal, juga antara kurir dengan bosnya tidak pernah terjadi pertemuan. Kurir hanya mengenal orang yang merekrutnya sehingga ketika tertangkap jaringan terputus.

5. Tingginya Harga Jual
Harga jual narkoba di Indonesia yang sangat tinggi membuat sindikat narkoba internasional tertarik menjual dagangannya di sini. Motif keuntungan akibat harga selangit mendorong sindikat dengan segala cara berusaha memasukkan narkoba ke Indonesia.

6. Mudahnya Mencari Tempat Tinggal
Indonesia menjadi surga bagi para pengedar narkoba internasional karena sangat mudah mencari tempat tinggal. Saat ini, demi mengagungkan privasi rumah, apartemen, hotel sampai kos-kosan tidak peduli dengan aktivitas penyewa.

7. Tingginya Jumlah Penduduk
Narkoba tetaplah sebuah bisnis, sehingga sesuai analisis bisnis Indonesia merupakan target pasar yang sangat menarik. Jumlah penduduk yang besar dengan daya beli dan selera tinggi pada tingkat atas menjadi sasaran pemasaran barang haram tersebut.

8. Penerapan Sanksi Hukum Kurang Maksimal
Meskipun Indonesia negara hukum dan menjadikan hukum sebagai panglima tertinggi, tetapi masih memerlukan pengawasan dalam penerapan sanksi hukum bagi terpidana. Banyak kasus hukum besar yang mendapat sanksi kecil dan sebaliknya kasus-kasus hukum kecil justru memperoleh sanksi yang maksimal.

9. Kurang Memiliki Kepastian Hukum
Tindak pidana narkotika di Indonesia diatur dalam UU No. 5 1997 tentang psikotropika, dan UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika, yang mengatur semua hal terkait dengan hukuman dan vonis pelaku kejahatan narkotika. Sayangnya dalam penerapannya tidak ada kepastian hukum sehingga banyak terpidana mati narkoba yang tidak kunjung dieksekusi bahkan memperoleh pengampunan atau pengurangan hukum.

10. Terbatasnya Peralatan dan Kurangnya SDM
Perlindungan terhadap keselamatan masyarakat Indonesia terkait narkoba sejatinya didukung oleh sumber daya manusia (SDM) dan peralatan yang kuat. Sayangnya, sumber daya yang dimiliki kepolisian masih sangat minim pengetahuan narkotika dalam menghadapi sindikat narkotika yang terus mencari modus operandi baru.

11. Lemahnya Pengawasan di Pintu Masuk
Kebanggaan sebagai negara dengan belasan ribu pulau memang patut disyukuri. Namun, jangan sampai kekayaan itu membuat bangsa Indonesia terlena sehingga bisa digunakan sebagai pintu masuk bagi sindikat narkoba internasional untuk memasukkan narkoba ke Indonesia.

12. Tingginya Ego Sektoral
Penanggulangan bahaya narkoba masih terkendala adanya egosentrisme sektoral antar instansi yang terlibat di dalam penanganan narkotika. Mulai petugas Bea dan Cukai, BNN dan Kepolisian Republik Indonesia, semua berjalan sesuai tupoksi masing-masing. Meskipun terkadang ego sektoral membuat penyidikan yang dilakukan pihak kepolisian menjadi gagal.

Melihat kenyataan tersebut, diperlukan good will dan political will dari seluruh elemen untuk pemberantasan peredaran narkoba. Dari 12 peluang tersebarnya narkoba tersebut jelas terlihat bahwa Indonesia sangat sulit untuk keluar dari cengkeraman jerat narkotika. Masih memerlukan upaya keras, tegas dan terus menerus untuk mewujudkan Indonesia yang bersih dari narkoba.

“Memang Indonesia Bebas Narkoba Tahun 2015 telah dicanangkan. Begitu juga negara-negara ASEAN yang bebas dari peredaran dan penyalahgunaan narkoba. Sebagai bagian dari Polri, saya harus tunduk, patuh serta berkomitmen mensukseskan agenda nasional tersebut. Hanya niat dan keinginan saja yang memampukan kita melawan sindikat narkoba. Karena sejak wacana 2015 bebas narkoba, justru peredaran narkoba di Indonesia semakin tinggi. Dari negara transit menjadi negara tujuan, makanya saat inilah kita harus menentukan apakah kita serius menjadikan 2015 sesuai agenda atau justru menjadi kartel,” tegasnya.

Spesialis Jaringan West Africa

Kombes Pol Siswandi dikenal memiliki spesialisasi pada pengungkapan jaringan narkoba kulit hitam asal Afrika Barat (West Africa). Puluhan pengedar narkoba asal Afrika Barat telah berhasil dibekuk pria kelahiran Medan, 5 Juli 1959 ini. Dalam catatannya, fenomena yang terjadi dalam sindikat peredaran narkoba di Indonesia adalah penggunaan kurir wanita asal Indonesia. Data yang dimiliki instansinya menyebutkan bahwa sejak tahun 2006-2007, tercatat sebanyak 12 wanita Indonesia yang dijadikan kurir jaringan narkoba. Dalam struktur perdagangan narkoba terdiri dari pengedar, pemilik dan kurir.

Beragam profesi direkrut jaringan sindikat narkoba internasional untuk menjadi kurir. Mulai pelajar, ibu rumah tangga, orang yang terjerat hutang sampai nenek-nenek yang memiliki beban domestik direkrut menjadi kurir. Apalagi, karena dalam kondisi terpaksa seperti itu membuat bayaran untuk merekrut kurir di Indonesia sangat murah. Sungguh tidak sebanding dengan taruhan hukuman mati yang akan menimpa mereka dibandingkan dengan nilai narkoba yang harus diantarnya.

Belakangan, jaringan sindikat narkoba asal Afrika Barat merekrut kurir dari negara target yang biasanya wanita. Digunakannya kurir wanita, karena mereka memiliki masalah yang sangat kompleks, yakni beban domestik rumah tangga seperti urusan ekonomi dan anak-anak.

Masalah-masalah kompleks yang dihadapi (sebagian) wanita Indonesia tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh sindikat narkoba Afrika Barat. Apalagi, mind set wanita Indonesia terhadap orang-orang yang berasal dari Afrika Barat sangat baik. Adapun faktor yang membuat wanita Indonesia kepincut jaringan narkoba Afrika Barat dan dijadikan kurir, antara lain:

1. Warga Afrika Barat dinilai memiliki komitmen dan setia sebagai teman
2. Memiliki kemampuan seks yang sangat hebat
3. Memiliki kemampuan persuasi dalam memperdaya dengan berbagai janji-janji maupun imbalan bila berhasil dalam berbisnis
4. Merasa memiliki kebanggaan apabila bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris serta jalan bersama dengan orang-orang West Africa (sehingga berpeluang besar untuk satu kamar dan berbuntut dijadikan istri maupun wanita simpanan)

Keempat faktor inilah yang tanpa disadari dimanfaatkan oleh jaringan narkoba West Afrika, sehingga dengan mudah bisa beroperasi di Indonesia melalui bantuan kurir wanita pribumi. Beberapa siasat dilakukan oleh jaringan ini untuk menjebak beberapa wanita Indonesia yang tidak bisa dihindari, antara lain:

1. Orang-orang West Africa meminjam nomor rekening, ATM serta nomor PIN ATM dengan alasan untuk berbisnis. Para wanita tersebut dijanjikan akan menerima imbalan dari keuntungan bisnisnya (tanpa disadari wanita tersebut akan memberikan ATM berikut nomor PIN-nya)
2. Untuk menjadi guide dan teman West Africa yang notabene bertempat tinggal dalam satu kamar dan berlanjut sampai dijadikan istri maupun wanita simpanan
3. Setelah tinggal sekamar dan dijadikan istri atau wanita simpanan, apabila dengan cara baik-baik tidak bisa dijadikan kurir, maka kemudian dicari-cari kesalahannya untuk dijadikan sebagai ancaman agar bersedia dijadikan kurir dalam sindikat narkoba

Tips Untuk Wanita
Menghindari Jebakan Sindikat Narkoba Afrika Barat

 Hindari ajakan, rayuan dengan janji-janji dengan imbalan maupun dijadikan istri, apalagi gendakan agar tidak tertangkap
 Jangan sekali-kali meminjamkan ATM berikut nomor rekening serta nomor PIN ATM. Walaupun dengan berbagai alasan dan iming-iming janji apapun, karena semua kasus di dalam jaringan sindikat narkoba West Africa menggunakan ATM dengan nama wanita
 Jangan sekali-kali membawa, mengangkut maupun mengambil barang, baik paket, koper, tas dan lain-lain, karena semua kasus narkoba seluruh kurir yang membawa barang narkoba
 Hindari atau tolak bila WN West Africa ingin tahu dan kenal keluarga. Hal tersebut dapat mencegah pemberian apapun oleh sindikat narkoba kepada keluarga (ada kasus yang karena orangtuanya tidak bisa menolak sehingga anaknya diperbolehkan untuk disuruh mengambil koper di luar negeri, yang notabene koper tersebut berisikan heroin)
 Yang paling mujarab, hindari ingin kenal terhadap orang-orang West Africa sebelum mengetahui secara pasti dan jelas identitas, status maupun pekerjaannya di Indonesia. Alangkah lebih baik, konsultasikan dulu kepada instansi yang berwenang (polisi, imigrasi dan instansi lain). Sebagai contoh kasus, jangankan hanya gendaan yang mereka korbankan untuk dijadikan kurir sindikat narkoba, bahkan istri pun mereka korbankan untuk masuk dalam sindikat narkoba. Contoh kasus tersangka Elis Suginah dengan barang bukti 50 gram heroin. Ia menjadi istri West Africa yang sedang hamil 8 bulan dikorbankan untuk mengantarkan heroin sehingga tertangkap dan sampai melahirkan suaminya (WN Nigeria) tidak pernah muncul

Tips untuk Masyarakat
Dalam Upaya Mengungkap Sindikat Narkoba Afrika Barat
1. Apabila ada warga Negara Afrika Barat yang bertempat tinggal sebagai tetangga maupun menjadi warga setempat (karena kontrak, kost dan lain-lain). Tanya dulu identitas yang lengkap dan statusnya sebagai apa (bekerja sama dengan RT/RW, lurah dan camat)
2. Fotocopy dokumen-dokumen yang ada dan dilihat dulu paspor aslinya. Sehingga fotocopy dokumen-dokumen tersebut ada di tingkat RT/RW, kelurahan dan kecamatan (biasanya tidak memiliki paspor asli)
3. Catat dan laporkan kepada aparat setempat bila ada WNA Afrika Barat yang melakukan aktifitas tidak jelas, seperti pergi pagi dan pulang pagi, pergi sore pulang pagi, kehidupan mewah pekerjaan tidak jelas, naik mobil gonta-ganti dan sebagainya
4. Jangan berikan peluang dan kesempatan lingkungan, tempat tinggal tersebut dijadikan basis jaringan Afrika Barat
5. Laporkan segera kepada petugas setempat kalau ada hal-hal yang mencurigakan (paling tidak sudah mencegah, serta berpartisipasi aktif membantu petugas dalam memberantas sindikat narkoba Afrika Barat)

Biodata:

Nama : Drs. Siswandi
Pangkat/NRP: Kombes Pol/59070990
Tempat/Lahir: Medan, 05 Juli 1959
Jabatan : Kepala Unit II
Kesatuan : DIT IV/TP.NARKOBA DAN K.T – BARESKRIM POLRI
No. HP : 0857 1870 0000
Kantor/fax : 021 – 80877403

Riwayat Jabatan:
1. Inspektur Muda Akademi Kepolisian
2. Kapolsek Way Jepara Res Lampung Tengah SUMBAGSEL
3. Ka KPPP Panjang Polwil Lampung Polda SUMBAGSEL
4. Kapolsek Tj Karang Barat Polwil Wil Lampung SUMBAGSEL
5. Kasat Serse Resta Bandar Lampung Polda SUMBAGSEL
6. DIK/Mahasiswa PTIK Angkatan 28 TH. 1991
7. Kasat Serse Res Probolinggo Polda JATIM
8. Kasat Serse Res Surabaya Selatan Polda JATIM
9. Kasubbagin Ops. Serse Ek Dit Serse Polda JATIM
10. Pabandya Skamtibmas Mabes ABRI
11. Kanit Narkotik Ditserse Polda Metro Jaya
12. DIK/Mahasiswa Sespim Pol Angkatan 34 TH. 1997
13. Kabag Narkotik Ditserse Polda KALTIM
14. Kasat VC Dit Pidum Korserse Polri
15. Kasat Serse Polwiltabes Bandung Polda JABAR
16. Kapolresta Cirebon Polda JABAR
17. Kasubag Min Korta Sespati Polri Sespimpol Lembang Bandung DIK Sespati Angkatan 16 TH. 2009
18. Kanit II DIT.IV/TP Narkoba dan KT Bareskrim Februari 2006- sekarang

Penugasan luar negeri:
1. China
2. Hongkong
3. Malaysia
4. Singapura
5. Philipina
6. Kamboja
7. Thailang
8. Korea Selatan
9. Jepang
10. Vietnam
11. Belanda
12. Perancis

Penghargaan:

1. Tahun 2008
International Professional Award 2008
Dalam Kategori Best Professional Yang Ditandatangani Oleh Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi R.I., Menteri Kebudayaan Dan Pariwisata R.I. Serta Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan R.I. Tanggal 23 Mei 2008.

2. Tahun 2009
Indonesian Professional And Educator Award 2009
Dari Lembaga Prestasi Indonesia Yang Ditanda Tangani Oleh Director Of Indonesia Strategic Institute (Irham Putra, MSi) Dan Chairman Of Organizing Commite (Fenita Hidayat).

3. Tahun 2010
Indonesian Quality Development Award
Kategori As The Best Professional Of The Year, Yang Ditandatangani Oleh Menko Kesra R.I. Dr. H.R Agung Laksono Serta Menteri Kebudayaan Dan Pariwisata R.I. Ir. Jero Wacik, SE. Tanggal 12 Feb 2010.

 

Ir. Leo Nababan

No Comments

Staf Khusus Menko Kesra

Penganut Kristiani yang Menjadi Pengurus Masjid

Kekerasan yang mengatasnamakan agama belakangan ini marak terjadi di Indonesia. Bahkan konflik horizontal terjadi antara para pemeluk agama yang seharusnya hidup berdampingan secara damai. Padahal, sejarah telah membuktikan bahwa bangsa Indonesia dengan berbagai macam budaya, adat, suku dan agama, “pernah” bersatu dan hidup rukun. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika atau berbeda-beda tetapi tetap satu telah menjadi pedoman hidup dan menjadi perekat bangsa sejak ribuan tahun lalu.

Namun, seiring perjalanan waktu sikap seperti itu mulai luntur. Perbedaan yang harusnya menjadi kekuatan dan kekayaan bangsa ini, justru dianggap sebagai kelemahan. Berbagai upaya dipaksakan untuk membuat orang-orang yang berbeda pandangan, mengikuti keyakinan dan aturan-aturan yang dianggap benar oleh sekelompok orang.

Meskipun begitu, tidak semua orang Indonesia berpendapat sama. Di tengah masyarakat banyak sikap-sikap yang menunjukkan bahwa perbedaan-perbedaan dan sekat-sekat telah melebur menjadi satu kesatuan yang harmonis. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Ir. Leo Nababan untuk masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Staf Khusus Menko Kesra tersebut memberikan contoh yang luar biasa bagaimana hidup bermasyarakat. Yakni menjadi pengurus masjid -yang mungkin satu-satunya di Indonesia- meskipun ia sendiri seorang penganut Kristiani taat.

“Agama adalah masalah pribadi, antara manusia dan Tuhan. Kesalahan bangsa ini adalah selalu mencampuradukkan agama dan kehidupan. Itu yang susah, habluminallah dan habluminannas-nya harus seimbang. Saya memang seorang Kristen dan saya bersyukur karena itu. Tetapi saya juga pengurus Masjid Jami’ Al Mukminin di Kayumanis 10, sebagai koordinator pencarian dana pembangunan masjid,” katanya.

Dari sudut pandang Kristiani, Leo Nababan merasa hidupnya tidak berguna apabila mengabaikan nasib tetangganya. Oleh karena itu, ketika melihat kesibukan tetangga-tetangganya yang muslim membangun masjid, ia juga melibatkan diri. Penerimaan warga muslim terhadapnya pun cukup terbuka dan menerimanya sebagai bagian dari kepanitiaan pembangunan masjid. Ia tidak menyia-nyiakan kepercayaan saudara-saudara muslimnya, dan melaksanakan tugasnya dengan baik.

Leo Nababan sangat menyesalkan adanya kelompok-kelompok yang membawa-bawa agama dalam setiap permasalahan. Jumlah penganut paham ini semakin lama membesar dan terang-terangan memaksakan kehendaknya kepada orang lain yang tidak sepaham. Agama telah menjadi bahan konflik, meskipun dalam kitab suci Al Quran jelas-jelas diajarkan bahwa “Bagimu agamamu, bagiku agamaku”.

“Itu adanya pengakuan bahwa ada agama lain selain Islam. Nabi Muhammad pun mengajarkan kasih sayang kepada sesama manusia, apapun agamanya. Saya adalah seorang Kristen yang setuju pembakaran gereja, karena secara logika TIDAK MUNGKIN gereja dibakar asalkan gereja tersebut “tidak menjadi MENARA GADING” bagi masyarakat di sekitarnya. Artinya, gereja membiarkan tetangga-tetangganya miskin dan kelaparan, tetapi malah membangun menara. Tidak mungkin gereja dibakar kalau gereja melihat kondisi tetangganya,” tandasnya.

Menurut Leo, bangsa Indonesia tidak akan marah kalau ada orang yang mengaku sebagai orang Kristen atau agama lainnya. Karena negara juga mengakui agama sah dan Indonesia: Islam, Katolik, Kristen, Buddha, dan Hindu. Sebenarnya bangsa Indonesia sejak zaman dahulu terbiasa hidup damai berdampingan. Hal tersebut tidak hanya sekedar wacana, tetapi benar-benar dipraktekkan dalam hidupnya. Hampir setiap akhir pekan, ia mengajarkan kehidupan yang luas dan damai kepada kedua anaknya.

“Saya mengajaknya ke pesantren (kebetulan saya dekat dengan Pak Kyai, Prof. DR. Achmad Mubarok –Wakil Ketua Umum Partai Demokrat- dan juga Ketua Umum Pondok Pesantren se-Indonesia yang mempunyai Pondok Pesantren di sekitar Jabotabek) supaya bisa bergaul dengan sesama anak bangsa dan berbagi dengan mereka. Kehidupan bangsa ini harus dimulai dari hal-hal kecil seperti itu,” tuturnya. Leo juga mengkritik pelajaran agama di sekolah, yang harus memisahkan anak-anak beragama lain ketika pelajaran sedang berlangsung. “Secara tidak sadar, kita menitipkan permusuhan sejak kecil,” imbuhnya.

Dunia Inovatif

Ir. Leo Nababan dilahirkan pada 30 Oktober 1962 di Sei Rampah, sebuah desa di pedalaman Sumatera Utara. Ia berasal dari keluarga yang sangat bersahaja, marginal dan golongan bawah. Sang ayah, H. Nababan adalah seorang guru jemaah gereja sementara ibunya, L. Simanjuntak (almh) adalah seorang guru SD. Kedua orang tuanya mendidik Leo dengan disiplin keras dalam segala hal menyangkut kehidupannya.

“Tetapi saya tidak pernah menyesali dilahirkan dari keluarga biasa-biasa saja. Saya terus bersyukur karena Tuhan Yesus Maha Besar dan selalu mengandalkan-Nya dalam hidup saya. Dari perjalanan hidup yang sedemikian itu membuat saya sangat concern dalam kemanusiaan, memperjuangkan kaum marginal, kelas bawah dari mana saya berasal,” tegasnya.

Kaum marginal, lanjutnya, harus dituntun dan diberdayakan dengan memberikan dan membuka lowongan pekerjaan seluas-luasnya. Begitu juga dengan memberikan modal agar mereka bisa membuka usaha dan mampu membangun kemandirian. Untuk itu, ia sangat mendukung program pemerintah dibawah koordinasi Menko Kesra seperti penyaluran kredit melalui KUR, program PNPM dan bantuan beasiswa bagi anak miskin berprestasi. “Pendidikan merupakan salah satu terobosan untuk mengubah orang-orang yang terpinggirkan,” tandasnya.

Di sisi lain, menurut Leo, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar apabila mampu mengelola SDM dan sumber daya alam dengan baik. Karena seiring dengan kemajuan teknologi di era globalisasi, tantangan yang dihadapi bangsa ini ke depan semakin berat. Mendidik SDM handal dan hebat tidak cukup untuk menghadapinya. Apalagi CFTA (China Free Trade Area) dan AFTA (ASEAN Free Trade Area) yang tahun ini mulai berlaku membuat persaingan semakin ketat. Tidak hanya produk dari China dan negara-negara ASEAN yang bebas dipasarkan, tetapi juga pasar tenaga kerja terbuka dan bebas beroperasi di Indonesia.

“Makanya saya mengajak bangsa Indonesia untuk kreatif, karena tantangan ke depan bukan lagi SDM yang hebat. Tetapi SDM inovatif dan kreatif yang akan menjadi andalan bangsa ini ke depan. Kita tidak bisa menutup mata, adanya kemungkinan bahwa negara kita hanya sekadar menjadi pasar dunia luar. Saya minta dengan sangat untuk memacu generasi muda agar berkepribadian dan berjati diri, tetapi juga memiliki inovasi dan kreativitas, agar diakui bangsa lain,” tegas pria 48 tahun yang sudah mengunjungi 36 negara ini.

Leo berharap, bangsa Indonesia tidak bersedih hati dan meratapi kondisinya yang terpuruk sekarang ini. Indonesia adalah negara besar yang “hanya” memerlukan pengelolaan yang benar. Seluruh elemen bangsa harus menatap masa depan yang cemerlang dan melupakan kepahitan masa lalu. Jangan pernah menyesal telah menjadi bangsa Indonesia dan harus bangga karenanya. Kuncinya, harus menggembleng generasi muda menjadi generasi kreatif dan inovatif di era globalisasi ini.

“Saya tegaskan sekali lagi, bangsa ini harus menatap masa depan cemerlang. Dengan catatan bahwa nasionalisme harus terus, jangan menyesali kita ini orang Indonesia dan jangan merendahkan bangsa sendiri. Di rumah saya pasang foto besar saat berkunjung ke Eropa, sepatu saya disemir oleh orang bule. Ini merupakan rangsangan bagi bangsa bahwa jangan menganggap orang bule segalanya. Itu mental bangsa terjajah, toh kenyataannya, sepatu orang Melayu bisa disemir oleh bule,” tegasnya.

Tiga C

Perjalanan panjang Ir. Leo Nababan sebagai anak kampung termarjinalkan yang berhasil menaklukkan berbagai rintangan pantas dijadikan teladan. Sederet prestasi gemilang telah diukir oleh ayah dua anak hasil pernikahannya dengan Dr. Fabiola Alvisi Latu Batara ini. Tokoh Batak insipiratif ini pada usia 35 tahun telah menjadi anggota MPR RI. Kini, tanpa pernah menjadi PNS sebelumnya saat usianya 47 tahun diangkat sebagai pejabat Eselon IB di Kantor Menko Kesra.

Meskipun begitu, alumnus Lemhanas RI KRA XXXIX tahun 2006 ini tidak pernah sombong. Justru sikap yang selalu ditampilkan adalah kerendah hatian, selalu menaruh kepedulian serta penuh kasih kepada sesama. Latar belakang sebagai orang marjinal yang pernah menjadi penggembala kerbau dan itik (parmahan) selalu terbawa.

Pria cerdas yang sejak SD hingga SMA selalu menjadi juara kelas ini, diterima di Institute Pertanian Bogor (IPB) tanpa tes tetapi menyelesaikan studi S1 di Universitas Diponegoro, Semarang. Ia adalah peserta terbaik pertama Penataran Kewaspadaan Nasional (Tarpadnas) Pemuda Tingkat Nasional (1994), terbaik pertama International Standard Learning System (Effective Communications and Interpersonal Relation Skill, 1997), 10 besar terbaik Penataran P4 Pemuda Tingkat Nasional (1995) dan mendapat penghargaan KRA – XXXIX Lemhanas RI (Republik Indonesia) tahun 2006.

“Ketika masuk Lemhanas, terjadi pemikiran-pemikiran yang komprehensif integral tanpa memandang suku, agama dan lain-lain. Itu yang selalu membuat dalam menjalankan hidup saya selalu memberikan hal-hal yang the best bagi bangsa Indonesia. Apapun yang terbaik bagi bangsa ini harus kita berikan dengan setulus hati. Mindset berpikir kita pun harus diubah dan sebagai nasionalis tulen, saya harus berpikir pada kepentingan bangsa,” ujarnya.

Aktivitas berorganisasi dijalani Leo Nababan sejak usia belia. Di Bogor, ia masuk senat dan menjadi salah satu pendiri Gerakan Mahasiswa Kosgoro hingga sampai pada posisi Sekjen DPP Mahasiswa Kosgoro. Leo juga pernah menjabat Ketua DPP AMPI yang membawanya sebagai Wakil Sekjen DPP Partai Golongan Karya. Selain itu, Leo juga pernah bekerja di beberapa perusahaan swasta nasional, dari staf direksi, direktur humas hingga komisaris. Sedangkan, di jajaran lembaga negara, Leo pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menpora, Staf Khusus Ketua DPR RI dan sekarang Staf Khusus Menko Kesra, Agung Laksono.

“Ada tiga c yang harus dipegang dalam menjalani kehidupan. Yakni, capability, capital dan connection yang harus sinergis dalam membangun kehidupan. Kemudian tiga hal untuk mencapai sukses adalah mengandalkan Tuhan dalam hidup, bekerja kerja keras meningkatkan kapabilitas dan membangun jaringan seluas mungkin,” tegasnya.

Leo sangat bersyukur, selain capability dan capital, Tuhan juga memberkati dirinya dengan connection/jaringan yang kuat. Memanfaatkan jaringan secara positif, akan mempercepat akselerasi kesuksesan seseorang. Kemudian yang tidak kalah penting adalah intensitas dalam mempertahankan dan memelihara hubungan baik pada jaringan yang sudah terbentuk. Semua itu didapat dari aktivitas berorganisasi yang sangat intensif.

“Saya terus belajar dan lewat organisasi membuka jaringan. Saya berhubungan dengan Pak Agung Laksono itu sudah 18 tahun. Dari sejak beliau memegang jabatan sebagai Sekjen Kosgoro, sementara saya Sekjen Mahasiswa Kosgoro, hubungan tersebut terus terjalin. Dalam interaksi intensif seperti itu, terjadi inovasi berpikir, bergaul dan saya menjadi andalan beliau. Bagi saya, beliau adalah guru, bagaikan buku yang tidak pernah habis saya baca setiap hari,” ungkapnya.

Ke depan, Leo Nababan memiliki obsesi untuk membangun patung Tuhan Yesus tertinggi di dunia di Pulau Samosir. Rencananya ia juga akan membangun patung Nommensen di seberangnya. Namun, ia tidak menargetkan kapan terwujudnya impian tersebut. Ia menyerahkan sepenuhnya obsesi tersebut pada kuasa Tuhan Yang Maha Esa. “Biar Tuhan yang tentukan waktu yang tepat. Puji Tuhan karena memang saya mengandalkan Dia dalam hidup saya,” tambahnya.

Leo sangat menyesalkan pudarnya kepedulian generasi muda Batak atas budayanya sendiri. Jangankan mengikuti pesta-pesta adat, menggunakan bahasa Batak pun generasi muda sudah enggan. Ia sangat khawatir terhadap kepunahan budaya Batak akibat ketidakpedulian tersebut.

Leo Nababan mencontohkan bagaimana bangsa Jepang berhasil dalam hal ini. Setinggi apapun ilmu dan teknologi yang dikuasai, mereka tetap “kembali” menggunakan budayanya sendiri. Sementara orang-orang Batak dan bangsa Indonesia umumnya sudah unang lupa adati.

“Saya mencoba melestarikannya kepada kedua anak saya. Meskipun mereka sekolah internasional dengan bahasa pengantar bahasa Inggris dan Mandarin, sementara ibunya dari Manado, saya mengajari mereka bahasa Batak. Saya juga ajak mereka ke pesta adat Batak dan bergereja di HKBP Menteng. Kalau bukan generasi muda, bisa punah adat itu,” kata penerbit buku “Manghobasi Ulaon Adat Batak” ini.

 

Jacob Jack Ospara, M.Th

No Comments

Anggota DPD Provinsi Maluku

Mengajak Rakyat Maluku Bersama-sama Membangun Bangsa

Kalau ada yang melenggang ke Senayan bukan untuk mencari uang, Jacob Jack Ospara, M.Th adalah orangnya. Karena sebagai senator anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Provinsi Maluku, sangat memungkinkan untuk menggelembungkan pundi-pundi uangnya.

Sebaliknya yang dilakukan Jack –sebutan akrab baginya- adalah tetap menjaga dan melindungi idealismenya yang ditawarkan saat kampanye pemilihan senator, yakni dengan menyuarakan jeritan hati rakyat Maluku yang meskipun sudah 64 tahun bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Pembangunan baik yang dilakukan pemerintahan Orde Baru maupun Reformasi belum dapat menjawab realitas dan pergumulan rakyat Maluku.

Menurut Jack, dalam kampanye pemilihan, ia tidak menyuruh rakyat untuk memilih dirinya, tetapi mengajak rakyat untuk bersama-sama membangun bangsa dan negara dengan segala sumber daya yang mereka miliki untuk mewujudkan masyarakat Maluku yang sejahtera dan berkeadilan.

Jack merasa apa yang dilakukan wakil rakyat sekarang –baik di DPR maupun DPD- mengagung-agungkan ungkapan “vox populi vox dei”. Ungkapan yang berarti suara rakyat suara Tuhan yang sering diteriakkan saat kampanye tersebut, dipandang sinis olehnya. Bagi Jack, ungkapan tersebut hanya slogan belaka karena dipakai untuk memobilisasi massa dan merangsang semangat rakyat pemilik hak suara. Namun, segera setelah berhasil duduk sebagai anggota dewan yang terhormat mrg dengan serta merta menafikan kepentingan rakyat dan lebih mengutamakan kepentingan keluarga, kelompok atau golongan masing-masing.

Lembaga legislatif yang seharusnya berfungsi sebagai alat kontrol pemerintah dalam menyusun dan membuat kebijakan semakin mudah ditawar dan dikendalikan. Hal inilah yang bagi kalangan LSM, media dan pengamat politik yang kritis menjuluki lembaga legislatif sebagai “tukang stempel”, akibat mereka sering meloloskan kebijakan-kebijakan yang tidak humanis dan pro rakyat.

“Negara kita dalam keadaan sakit, baik mental maupun moral. Sebagian besar dari kita sudah kehilangan sense of crisis dan cinta kasih kepada bangsa dan negaranya. Banyak dari mereka yang telah mengubah jubah dan singgasananya sebagai wakil rakyat serta melupakan khittah kemanusiaannya. Mereka menjadi seperti serigala-serigala politik yang hanya mengandalkan kekuatan, tidak ada nurani, tidak ada akal sehat, bahkan tak peduli yang kuat itu lacur. Mereka tidak lagi peduli pada kepentingan rakyat jelata yang hampir sebagian besar masih berkutat dengan masalah perut,” ujarnya.

Jack Ospara terpanggil untuk mengabdikan diri berbekal pengalaman dan ilmu pengetahuan yang sudah dialaminya selama puluhan tahun. Pengabdian dan perhatiannya yang sangat besar terhadap tanah leluhur itulah yang mengantarkannya menjadi seorang wakil rakyat utusan daerah atau anggota DPD-RI. “Saya hanya mengemukakan apa yang terbaik untuk dilaksanakan di negeri ini. Sesuai dengan visi saya, Menjadi Wakil daerah yang dapat dipercaya, Jujur, Terbuka, Memperjuangkan Pembangunan Daerah yang Adil dan Bermartabat bagi Kesejahteraan Masyarakat Penghuni Wilayah Seribu Pulau, Berdasarkan Kasih,” imbuhnya.

Menurut Jack Ospara, ada empat macam kasih yang mendasari kondisi tersebut. Yakni kasih Agape yang merupakan kasih tanpa syarat dan sanggup berkorban untuk sesama. Artinya dalam membantu tidak boleh membeda-bedakan agama, suku atau ras. Kasih agape adalah cinta kasih pemberian Tuhan yang paling hakiki.

Kedua adalah kasih Eros, yakni kasih yang dilandasi nafsu seperti keindahan, kekayaan, kecantikan dan lain-lain yang mengandung unsur kenikmatan di dalamnya. Ketiga adalah kasih Filos yakni filosofi, mengasihi dan mencintai teman. Keempat adalah kasih Storgos, yakni kasih yang memiliki ikatan yang erat seperti antara kasih orang tua.

“Ketiga kasih –Eros, Filos dan Storgos- tidak memiliki kekuatan penghubung relasi antar manusia dalam keluarga dan masyarakat bila tidak diikat dengan Agape. Tanpa kasih Agape, akan sulit membangun kebersamaan, persaudaraan, pertemanan dan kesesamaan dengan orang lain. Ini artinya bahwa kalau mau mengasihi rakyat Maluku ya harus mencintai Maluku. Mau membangun Indonesia ya harus mencintai rakyat Indonesia,” tegasnya.

Belajar, Belajar dan Belajar

Menurut Jacob Jack Ospara, M.Th., ketertarikan untuk terjun memperjuangkan suara rakyat Maluku telah terasah dan terbentuk karena keyakinan pada agama yang dianutnya. Dalam ajaran Kristen, kasih Agape Tuhan Yesus mengasihi setiap orang tanpa memandang agama, suku atau ras. Bahkan bila dalam gereja dibentuk apa yang disebut sinode dalam organisasinya, itu mengisyaratkan semua elemen; para pendeta, tua-tua, maupun anggota jemaat, wajib berjalan bersamaan, bergandengan tangan melayani, mengasihi dan berbuat sesuai karunia Tuhan memlihara dan mempertahankan kehidupan manusia dan masyarakat.

“Sinode berasal dari dua kata Yunani ‘sun’ artinya bersama-sama dan ‘nodes’ yang berarti jalan. Sinode atau ‘sunnodos’ artinya semua warga gereja berjalan bersama-sama dan melayani bersama. Tahun 1974 saya diangkat sebagai Sekretaris Departemen yang membidani pendidikan, penanganan pembangunan dan kesejahteraan sosial. Penerjemahan tugasnya mengarah pada manajemen pembangunan yang menggabungkan teologi dan masalah-masalah sosial yang berkembang di masyarakat. Realisasi dari karya Tuhan itu harus diwujudkan tidak hanya di rumah namun juga di masjid, gereja, rumah sakit, dan lain-lain,” tandasnya.

Jack adalah orang pertama, pada tahun 1975 yang menggagas pembentukan organisasi persatuan gereja rakyat Maluku. Untuk keperluan itu ia mengundang istri Menhan/Pangab RI, Ibu Yohanna Nasution dan Ibu Sri Sudarsono (adik BJ Habibie) ke Ambon untuk melihat dan bersentuhan langsung dengan realitas kehidupan rakyat Maluku.

Kepada mereka Jack menjelaskan bahwa kondisi susah yang dialami tersebut tidak pandang agama. Penganut agama Kristen, sama-sama menderita seperti saudara-saudaranya yang beragama Islam. Begitu juga sebaliknya, kondisi umat Muslim pun tidak jauh berbeda. Ini menjadi bukti bahwa Tuhan tidak pernah membedakan manusia, hanya manusia sendiri yang mengkotak-kotakkannya.

“Yang namanya kelaparan, kemiskinan tentunya dapat terjadi oleh semua umat manusia, tidak ada perbedaan agama baik Kristen, Muslim, Hindu, Budha, tidak juga ada pembedaan ras tionghoa, kulit hitam, Asia, Eropa dan lain-lain. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa masalah kemanusiaan itu sifatnya universal, kelaparan, kemiskinan, kemelaratan, penderitaan karena konflik dapat terjadi dan dialami oleh semua lapisan masyarakat. Namun, dibalik semua itu bahwa orang yang memaknai dan memahami agama secara baik tidak akan terjebak dalam fundamentalisme agama dan primordialisme yang kebablasan,” kata murid ulama besar Buya Hamka ini.

Jack yang berkawan karib dengan pemikir Islam Indonesia, almarhum Nurcholis Madjid ini memberikan ajaran kepada generasi muda untuk terus belajar dan tidak pernah berhenti menjadi manusia pembelajar. Dengan mempelajari segala hal, baik formal, informal dan mengacu pada pengalaman di masyarakat generasi muda akan memperoleh bekal yang baik untuk kehidupannya sendiri. Kalau itu yang terjadi maka bangsa Indonesia sendiri sangat beruntung memiliki generasi muda yang bermutu untuk memperbaiki kondisi sekarang.

“Pesan saya kepada generasi muda hanya satu, yakni belajar, belajar dan belajar. Belajar baik secara formal, informal dan pengalaman di masyarakat. Karena apa, hanya dengan belajar kita bisa membentuk diri kita sebagai pribadi yang baik. Setiap peristiwa yang dialami adalah kesempatan yang baik untuk belajar. Mengenal orang dari berbagai suku dan agama adalah pengalaman yang baik,” ujarnya.

Sekilas Jacob Jack Ospara

Jacob Jack Ospara lahir di Nuwewang, 18 Mei 1947, dari pasangan Hosea Ospara dan Isabela Lepit. Kehidupan pedesaan di perbatasan wilayah Kabupaten Maluku Barat Daya dan wilayah Timor Leste membuat “blue print” tentang kehidupan marginal yang dialami manusia terpatri abadi dalam pikirannya. Spirit untuk memerangi perlakuan diskriminatif tersebut kemudian mewarnai perjalanan hidup ayah tiga anak Maya, Hoberth dan Ari hasil perkawinannya dengan Maria Itje Wenno tersebut.

Meskipun orang tuanya hanya mengenyam pendidikan sampai kelas III Sekolah Rakyat (Volks School), namun tidak menyurutkan niatnya untuk memberikan pendidikan terbaik bagi putranya. Maka ketika berumur enam tahun, Jack bersekolah di SR GPM Nuwewang dan dilanjutkan ke SMP Negeri Wonreli, Pulau-Pulau Kisar. Di sini pula, pemikiran-pemikiran Jack semakin terasah. Pergaulannya yang luas dengan pemahaman terhadap dan pengenalan terhadap adat istiadat, bahasa dan budaya daerah lain menjadi dasar pembentukan kepribadiannya.

Jack yang semasa sekolah tidak dibiayai orang tua justru tidak merasa miris, bahkan sebaliknya hal tersebut menjadi semangat baginya untuk tetap berdaya hidup. Dalam proses panjang kehidupannya, secara sadar ia mengakui bahwa karakter kebangsaan dan kepribadiannya tidak lepas dari peran serta tiga orang polisi dengan latar belakang dan budaya berbeda yang ikut membiayai sekolahnya.

Proses pembentukan kepribadian itu semakin terlihat ketika Jack meneruskan sekolah di SMA Negeri 2 Ambon tahun 1963-1966. Gejolak politik tanah air terkait adanya perjuangan pembebasan Papua (Irian Barat waktu itu) dengan Trikora serta penumpasan pemberontakan PKI, semakin memotivasi semangat kebangsaannya. Ia aktif kegiatan sosial politik yang dikoordinir oleh organisasi-organisasi yang bersifat nasional seperti GSKI (Gerakan Siswa Kristen Indonesia). Jack juga aktif melakukan dialog intensif dengan siswa-siswa yang tergabung dalam GSNI (Gerakan Siswa Nasional Indonesia).

Masa SMA yang penuh pergolakan untuk mempertahankan eksistensi Negara Indonesia dari rongrongan PKI ditutup Jack dengan meneruskan pendidikan seperti yang dicita-citakannya, menjadi Pendeta. Di sisi lain, ia sebenarnya juga terpanggil untuk mengabdikan diri pada nusa dan bangsa dengan mengikuti wajib militer sukarela. Namun, setelah melalui perenungan yang dalam, cita-cita masa kecilnya lebih kuat memanggil. Jack kemudian meneruskan kuliah di Institut Teologi Gereja Protestan Maluku tahun 1967. Dua tahun kemudian, Jack dikirim ke Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta untuk menyelesaikan pendidikan sarjananya.

Semasa mahasiswa, Jack Ospara adalah aktivis yang banyak melakukan kegiatan-kegiatan organisasi kemahasiswaan dengan sikap yang militant. Ia bahkan menjadi anggota Dewan Mahasiswa dan aktif di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) cabang Ambon. Saat kuliah di STT Jakarta, Jack juga menjadi anggota Dewan Mahasiswa di kampus tersebut. Pada kesempatan inilah ia berkesempatan untuk melakukan dialog intesif dengan mahasiswa-mahasiswa dari Universitas Pancasila, Universitas Kristen Indonesia, STTF Driyarkara dan SAIN Syarief Hidayatullah. Aktivitas inilah yang mempertemukannya dengan Prof. DR. Hamka dan Nurcholis Madjid, dua sosok pemikir Islam terkemuka Indonesia.

“Pengalaman tersebut telah memperkaya sekaligus memperluas wawasan saya. Ini sangat berguna ketika saya menjabat di Gereja Protestan Maluku dan mengabdi di tengah masyarakat. Karena saya harus berhubungan dengan berbagai kalangan dalam lingkungan masyarakat,” tegasnya.

Berikut ini adalah aktivitas-aktivitas Jacob Jack Ospara, M.Th:

 Pendiri Musyawarah Perguruan Swasta (MPS) Daerah Maluku (tahun 1971)
 Pendiri Badan Koordinasi Kegiatan Masyarakat Kesejahteraan Sosial Provinsi Maluku
 Pendiri Yayasan Bina Asih Leleani Ambon (tahun 1983)
 Aktif menjadi Pengurus Pusat SOIna (Special Olympics Indonesia) sebagai Sekretaris Jenderal (2006-sekarang)
 Aktif di bidang Pendidikan Kristen sebagai Ketua III Majelis Pendidikan Kristen seluruh Indonesia
 Ketua FKKFAC Provinsi Maluku (tahun 2006-sekarang) dan Penasehat HWPCI Provinsi Maluku (tahun 2007-sekarang)
 Ketua Umum Lembaga Pengembangan Pesparawi Provinsi Maluku (tahun 1998 – sekarang)
 Pekerjaan di gereja dan Perguruan Tinggi
1. Pendeta/Penghentar Jemaat GPM di Saparua Tiouw (1973-1974)
2. Sekretaris Klasis GPM PP Lease (1974-1975)
3. Sekretaris Departemen Diakonia/Anggota Badan Pekerja Sinode GPM (Masa Bhakti 1974-1976 [1982])
4. Wakil Sekretaris Umum BPH Sinode GPM (tahun 1982-1986)
5. Sekretaris Umum BPH Sinode GPM (tahun 1986-1990)
6. Dosen Fakultas Filsafat UKIM Ambon (tahun 1990 – sekarang)
7. Pendiri dan Pimpinan Lembaga Kesejahteraan Anak dan Keluarga Inahaha (tahun 1983-1990)
8. Dosen Agama Kristen pada FKIP Unpatti Ambon dan PGSLP Ambon (1977-1988)
9. Penyuluh Agama Kristen di Lingkungan Bidang Bimas Kristen Kanwil Depag Provinsi Maluku (1976-1986)
Setelah terpilih sebagai Anggota DPD Provinsi Ambon, Jacob Jack Ospara berkomitmen untuk membangun daerah dan masyarakat Maluku dengan mengedepankan Visi dan Misi, yaitu:

Visi
Menjadi Wakil daerah yang dapat dipercaya, Jujur, Terbuka, Memperjuangkan Pembangunan Daerah yang Adil dan Bermartabat bagi Kesejahteraan Masyarakat Penghuni Wilayah Seribu Pulau, Berdasarkan Kasih

Misi
1. Memperjuangkan pemanfaatan sumber daya manusia (human resources) dan sumber daya alam (natural resources) guna mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat
2. Mengawal implementasi yang konsisten dan konsekuen semua perundangan dan peraturan negara guna menjamin pembangunan berbagai sektor berlangsung dengan transparan, akuntabel dan berkesinambungan demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat
3. Memperjuangkan terwujudnya otonomi khusus bagi Maluku sebagai Provinsi Kepulauan yang memiliki karakteristik laut – pulau
4. Memperjuangkan pengamalan nilai-nilai dasar Pancasila sebagai Falsafah Hidup bangsa Indonesia serta penyelenggaraan negara berdasarkan UUD 1945 secara fleksibel, dengan memanfaatkan kearifan lokal (local wisdom) sebagai pengejawantahan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat
5. Memperjuangkan terbukanya komunikasi sosial, politik dan kemasyarakatan antara pemerintah pusat dan daerah serta menjamin tetap tumbuhnya iklim demokrasi yang memungkinkan aspirasi daerah dan wilayah dihormati, dihargai serta diwujudkan dengan adil dan transparan