Tag: kalau

Trisno Alianto

No Comments

Trisno Alianto
PT Mastindo Agung Semesta

Menyuplai Bahan Bangunan Termurah Untuk Indonesia

Setelah meraih gelar Bachelor of Science di sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat, Trisno Alianto memutuskan bekerja di Singapura. Selama enam bulan, ia bekerja di negeri tersebut. Namun, kedua orang tuanya meminta untuk kembali dan bekerja di tanah air. Tujuannya untuk membantu keduanya mengelola perusahaan keluarga yang dimiliki.

“Kami memiliki berbagai usaha seperti pabrik sepatu, pabrik aluminium dan pabrik tekstil. Tetapi akhirnya pada tahun 1998 saya mendirikan Mastindo setelah melihat adanya peluang pasca kerusuhan Mei 1998. Akibat krisis harga property turun dan banyak yang membutuhkan bahan bangunan. Di sisi lain, saya memiliki akses ke China karena pernah bekerja di sana. Makanya, saya terdorong untuk membantu mengimpor kebutuhan material dari China yang lebih murah,” kata pendiri PT Mastindo Agung Semesta ini.

Keberaniannya di tengah krisis moneter yang melumpuhkan sendi-sendi perekonomian tidak lepas dari kejelian pengamatannya. Perekonomian dunia yang jatuh terpuruk ke titik nadlir justru menjadi peluang emas baginya. Tanpa keraguan sedikit pun, ia “melepaskan” diri dari perusahaan keluarga yang ditekuninya selama beberapa tahun. Meskipun demikian, ia tetap menjalin hubungan kerja dengan perusahaan keluarga sebagai induk perusahaan.

Trisno –panggilan akrabnya- bahkan mengabadikan nama kedua orang tuanya menjadi nama perusahaan. “Mastindo itu sebenarnya nama ayah dan ibu saya. MA adalah singkatan Muhadi Alianto, ST adalah Srimurni Tjandra dan saya tambah INDO, Indonesia. Jadilah PT Mastindo Agung Semesta untuk mengimpor barang dari berbagai negara, seperti China, Malaysia dan lain-lain. Tadinya perusahaan mengimpor ATK, handphone dan sekarang spesialis di bahan bangunan,” terangnya.

Sebagai pengusaha, lanjut Trisno, tentu saja banyak kendala yang harus dihadapinya. Ia mencontohkan bagaimana di awal operasional perusahaan dari dalam negeri menghadapi kontrol impor dari pemerintah, bea masuk, pajak dan lain-lain. Sementara dari negara produsen, terutama China kendala yang dihadapinya adalah kesulitan untuk mencari supplier yang terpercaya. Penyebabnya, di China sendiri terjadi perang harga yang mengakibatkan kesulitan mengimpor barang yang benar-benar berkualitas.

Produsen material bangunan di China pada harga berapapun dapat memproduksi sesuai kemampuan. Hanya saja, kualitas dikorbankan untuk mengejar harga yang sangat murah. Akibatnya, konsumen di Indonesia harus kecewa karena membeli barang yang tidak berkualitas. Untuk menyiasatinya, ia berencana membangun pabrik di Jakarta atau Surabaya.

“Kita akan membuat beberapa produk yang dibuat di Indonesia, seperti stainless steel dan mungkin nanti menyusul poly carbonate. Rencananya pabrik akan dibangun di Jakarta atau Surabaya. Sesuai dengan visi kita, ‘Menyuplai bahan bangunan termurah untuk kawasan Indonesia.’ Banyak barang yang murah tetapi kualitasnya kurang. Kalau barang dari China umumnya begitu, harga berapa pun mereka bisa produksi, tanpa jaminan kualitas. Kalau kita produksi di Indonesia harganya bisa murah dengan kualitas yang baik,” tegasnya.

Menurut Trisno, ia sangat optimis bahwa ke depan produksi perusahaan mendapat sambutan dari konsumen di Indonesia. Seiring dengan pembangunan yang semakin meningkat di tanah air, produk perusahaan –baik impor maupun produksi sendiri- akan memenuhi kebutuhan pembangunan. Bahkan untuk sekarang, pelanggan perusahaan seperti kontraktor dan bengkel yang tersebar di Jakarta, Surabaya, Makassar dan Indonesia Timur lainnya menjadi pelanggan setia PT Mastindo Agung Semesta.

“Sebagai importir dan distributor bahan bangunan, kita sudah melayani 23 kota di seluruh Indonesia. Ke depan, kita berencana untuk merakit bahan di Indonesia supaya lebih stabil. Karena kalau impor terus, agak susah mengingat tren di masyarakat juga berubah-ubah. Sementara kita harus menyediakan banyak barang untuk menyiapkan kebutuhan konsumen. Yang penting, pelanggan tidak perlu ke mana-mana mencari bahan yang diperlukannya. Pokoknya, kita one stop shopping untuk material ini,” ungkap pria kelahiran Medan, 15 Februari 1966 ini.

Generasi Muda Kompetitif

Berbicara mengenai generasi muda, Trisno Alianto mengungkapkan optimismenya. Mereka mampu mengembangkan Indonesia menjadi jauh lebih baik lagi. Masa depan Indonesia, tak pelak lagi sangat tergantung dari bagaimana generasi muda mengembangkan kemampuan dan potensinya masing-masing.

“Saya kira, generasi muda sekarang sudah mengenal hi tech yang dikuasianya. Saya yakin generasi muda di masa mendatang akan mampu menguasai Indonesia. Kalau kita sendiri tidak ikut dengan knowledge kita sendiri yang akan susah. Kita mau mencari apa saja, dengan membuka internet semua langsung keluar,” tutur ayah tiga orang putra dari pernikahannya dengan Luciawati Purnomo ini.

Kepada generasi muda, Trisno berpesan agar mereka tidak sekali-kali meninggalkan teknologi. Karena di kemudian hari, persaingan yang terjadi di dunia internasional lebih banyak di bidang teknologi. Oleh karena itu, generasi muda harus tetap menyadari bahwa ke depan persaingan semakin ketat dengan teknologi sebagai kendaraannya.

“Generasi muda ke depan harus lebih kompetitif, karena semua sudah jelas informasinya tinggal bagaimana efisiensi dilakukan. Makanya mulai sekarang kita harus mengikuti teknologi. Dan ini harus diajarkan sejak dini di sekolah,” ungkap pengagum Mao Tse Tong dan John F Kennedy ini.

Untuk itu, Trisno mendukung upaya pemerintah yang memberikan anggaran 20 persen dari APBN bagi pendidikan. Setidaknya pada setiap sekolah tersedia komputer dengan jaringan internet untuk mengenalkan teknologi informasi sejak dini. “Anak-anak harus mengikuti knowledge semaksimal mungkin dengan teknologi ini. Jangan sampai anak-anak kita kalah dari anak-anak di luar negeri. Semuanya meningkat tetapi kita memang kalah cepat dari bangsa lain,” kata anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Meskipun demikian, pria dengan moto “Menyiapkan diri adalah arti dari suatu kehidupan” ini, tidak mempersiapkan anak-anaknya untuk menggantikan posisinya. Ia menyerahkan secara penuh keinginan mereka dalam mengejar cita-cita sesuai dengan kemampuan masing-masing.

“Anak saya ada tiga laki-laki semua, yang paling besar SMA sedangkan yang kecil baru SD. Saya tidak mengarahkan mereka untuk meneruskan usaha ini. Tergantung mereka karena setelah kuliah anak-anak pasti memiliki rencana masing-masing. Semua sudah open, terserah mereka. Yang penting kita sudah siapkan semuanya, mulai sekolah sampai kuliah,” tegas penyuka liburan di Bali, Singapura dan USA ini.

Lima Besar Dunia

Terhadap pemerintah sekarang, Trisno Alianto menyadari kesulitan yang mereka hadapi. Masalah waktu adalah problema terbesar yang dihadapi dunia usaha terhadap kebijakan pemerintah. Ia mencontohkan bagaimana impor barang harus tertunda di Bea Cukai. Sementara di negara seperti Singapura, dalam beberapa hari masalah kepabeanan pasti teratasi.

“Kita tahu kapan barang kita keluar karena prosedurnya sudah tetap. Tetapi memang memerlukan proses yang sangat panjang, meskipun sudah terdapat perubahan yang sangat berarti. Perbaikannya sudah sangat drastis. Contohnya masalah pajak, dari dahulu sistem yang digunakan sudah sangat bagus begitu juga cara meng-handle yang dilakukan dengan baik,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Trisno berharap pemerintah mampu membenahi sektor riil. Karena meskipun secara makro kemajuan perekonomian di Indonesia sangat bagus, tetapi pada sektor riil semuanya hanya sebatas angka. Sementara pemulihan ekonomi tidak mungkin hanya dari satu decision saja dan harus didukung oleh market/pasar dan faktor-faktor lainnya.

Menurut pemilik usaha pergudangan PT Cita Bumi Kendari ini, pemerintah harus melakukan dua hal, menstabilkan nilai kurs rupiah dan menurunkan suku bunga. Karena saat ini, nilai suku bunga perbankan Indonesia merupakan tertinggi di Asia sebesar 14 persen. Padahal, di negara-negara lain suku bunga sudah mencapai di bawah 1 persen. Apabila kedua hal tersebut terwujud, kemajuan perekonomian di Indonesia akan meningkat secara signifikan.

“Indonesia negara yang sangat makmur, semua itu hanya masalah waktu saja. Karena semua bahan tambang ada di bumi Indonesia sehingga kesejahteraan tinggal beberapa langkah lagi. Bahkan, seorang ekonom meramal, nanti tahun 2030 Indonesia akan menjadi top five in the world, lima besar kekuatan ekonomi di belakang China, Brazil, dan India. Saya kira proses menuju itu sangat sulit, karena banyak personal interest yang harus disingkirkan. Tetapi kalau personal interest bisa dikesampingkan, akan lebih mudah untuk menyejahterakan rakyat,” kata Trisno Alianto menutup pembicaraan.

Surungan Sitorus

No Comments

Surungan Sitorus
Direktur Utama PT BPR Mangatur Ganda

Memberikan Pelayanan Terbaik Bagi Nasabah

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa kondisi masyarakat menengah ke bawah di Indonesia masih memprihatinkan. Meskipun memiliki produktivitas yang bisa meningkatkan kesejahteraan, tetapi banyak kendala yang menghalangi. Yang mana, apabila potensi yang mereka miliki dapat dikembangkan, selain meningkatkan kesejahteraan juga membuka lapangan kerja.

Ironisnya, kendala yang menghalangi pengoptimalan produktivitas kalangan tersebut berasal dari birokrasi sektor perbankan yang bertele-tele. Padahal, kehadiran sektor perbankan sangat diperlukan untuk permodalan yang mereka perlukan agar produktivitas semakin meningkat. Akibatnya, banyak di antara masyarakat menengah ke bawah yang enggan berhubungan dengan pihak bank.

“Itulah yang memotivasi saya dalam menekuni pekerjaan ini. Keengganan masyarakat untuk bekerja sama dengan bank, membuat saya berpikir harus menekuni profesi ini. Saya harus mampu memberi pelayanan terbaik bagi nasabah, sehingga mereka akan memilih perusahaan yang saya pimpin untuk mengembangkan usaha,” kata Surungan Sitorus, Direktur Utama PT BPR Mangatur Ganda.

Selain itu, motivasi lain yang meningkatkan semangat Sitorus dalam menekuni usaha ini adalah cita-cita masa kecilnya. Saat masih berada di desa Parsambilan, Kecamatan Silaen Kabupaten –Tobasa, ia bercita-cita menjadi seorang profesional di bidang perbankan. Untuk mewujudkan cita-cita mulia tersebut, setelah lulus SMA 5 Medan tahun 1985, ia menempuh pendidikan D3 di Jurusan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Ia melengkapinya dengan melanjutkan S1 pada Jurusan Manajemen, FE STIE Labuhan Batu.

Meskipun demikian, pria kelahiran 11 Desember 1966 ini, merasa belum puas dengan raihan prestasi selama ini. Sitorus yakin, dengan dukungan dari seluruh komponen terkait dari ruang lingkup perusahaan mampu menghasilkan prestasi yang lebih baik. “Saya yakin dengan profesi yang saya tekuni memiliki kesempatan untuk melahirkan prestasi yang lebih baik lagi. Asalkan mendapat dukungan penuh dari seluruh komponen di perusahaan ini,” tandas pria yang menyelesaikan pendidikan SD dan SMP di kampung halamannya ini.

Dalam menjalani profesi, Sitorus tidak lepas dari perasaan suka dan duka. Seperti juga manusia lain, dalam berkarier masalah tersebut ditambah kendala harus dihadapinya. Ia berbagi pengalaman bahwa perasaan suka biasanya akan datang kalau mampu menyelesaikan pekerjaan yang sulit dengan hasil memuaskan.

“Duka saya adalah ketika karyawan terbaik saya cuti atau sakit padahal tenaganya sangat dibutuhkan. Sedangkan kendala, seperti juga masalah yang dihadapi dunia perbankan lain adalah kredit bermasalah. Apalagi kalau jumlahnya besar dan susah ditagih,” tandasnya.

Sitorus memiliki obsesi untuk mewujudkan impian agar perusahaan dibawah pimpinannya menjadi pilihan dan solusi terbaik bagi masyarakat Labuhan Batu Utara dan sekitarnya. Untuk itu, ia telah menyusun rencana agar pelayanan perusahaan kepada masyarakat semakin meningkat dan tampil menjadi yang terbaik. “Kita harus bekerja lebih professional, supaya mampu menaikkan kepercayaan masyarakat untuk bermitra dengan perusahaan,” tambahnya.

Menyiapkan Pengganti

Surungan Sitorus merasa sangat terbantu dengan peran pemerintah terhadap profesi yang digelutinya. Meskipun secara institusi pemerintah memberi dukungan yang sangat besar, tetapi ruang gerak BPR sangat terbatas. Karena secara struktural perusahaan seperti BPR dibawah pimpinannya memiliki posisi setingkat di bawah bank konvesional.

“Pemerintah, melalui Bank Indonesia melakukan pengawasan rutin satu kali dalam satu tahun. Sebagai pimpinan perusahaan, saya mendapat ilmu dan pengalaman dari pengawasan tersebut. Semua itu bisa langsung saya aplikasikan di perusahaan melalui pimpinan setingkat middle manager, dibawah jenjang saya,” tuturnya.

Menurut Sitorus, peran besar BPR di tengah-tengah masyarakat saat ini harus diakui. Karena BPR telah menjadi solusi terbaik bagi pelaku produksi/usaha yang ingin mengembangkan usahanya, tetapi terganjal oleh ketatnya persyaratan yang ditetapkan oleh bank lain (The five C’S on Credit). “Dengan demikian, BPR telah berkiprah di tengah masyarakat karena syarat-syarat pinjaman yang relatif mudah. Ini sesuai dengan fungsi BPR untuk pertama menghimpun dana masyarakat dalam bentuk tabungan dan deposito. Kedua memberikan pinjaman kepada masyarakat,” ungkapnya.

Sebagai orang yang matang dan besar dalam usaha BPR, Sitorus bertekad untuk terus mengabdikan diri dan menggeluti profesi yang dicintainya tersebut. Ia akan “berhenti” ketika sudah mampu mengkader “sahabat-sahabat-nya” – karyawan maupun karyawati perusahaan- menjadi top leader untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan yang telah dicanangkannya.

Secara khusus, Sitorus telah mempersiapkan langkah-langkah kaderisasi dan regenerasi, sebagai berikut:

Menerapkan prinsip keteladanan, sehingga tim yang dipimpinnya mampu menangkap pelajaran dari contoh yang diberikan pimpinannya tanpa harus berteori panjang lebar
Bagi karyawan atau karyawati potensial, diberi pelatihan baik berupa keterampilan dasar maupun keterampilan manajerial. Seperti pada bulan Juli lalu, sebanyak 12 orang Pimpinan Cabang dan Karyawan telah mengikuti Training Off Management di Hotel JW Mariott Medan dengan instruktur dari Jhon Robert Power (JRP) Jakarta
Sebagai pimpinan, tak segan-segan ia memberi reward bagi karyawan atau karyawati terbaik, sebagai motivasi agar selalu bekerja sungguh-sungguh dan menunjukan prestasi dan kinerja terbaik

“Untuk menyerap informasi yang lebih actual, saya memberi fasilitas berlibur bersama Keluarga Besar BPR Mangatur Ganda. Dengan demikian, keakraban antar karyawan, pimpinan dan keluarganya lebih terjalin. Nah, disela-sela liburan saya bisa melakukan komunikasi lebih intensif, sehingga saya mampu mengenali karakter sahabat-sahabat saya itu, siapa saja yang layak diberi kepercayaan untuk memimpin. Sebab bagi saya, pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang mampu mencetak calon pemimpin berikutnya tanpa ada rasa tersaingi,” ungkapnya.

Sebelum Patah Sudah Tumbuh

Menurut pengamatan Surungan Sitorus, ada beberapa catatan mengenai generasi muda zaman sekarang. Pertama, ia merasa sangat prihatin melihat gaya hidup generasi muda yang mengadopsi gaya hidup penuh hura-hura dan kurang tekun dalam belajar/pendidikan. Selain itu, generasi muda juga cenderung bangga dengan pola hidup mereka yang sangat konsumtif.

Sitorus, mencontohkan bagaimana generasi muda sekarang tergila-gila dan bangga menggunakan sarana komunikasi canggih, Blackberry. Padahal, sejatinya mereka hanyalah diperbudak oleh produk-produk semacam itu. Karena di negara asalnya, penemu Blackberry masih belum puas dengan pencapaian mereka untuk menguasai dunia. Apalagi belakangan terjadi aksi boikot di beberapa negara akibat pembatasan RIM (Research in Motion), produsen Blackberry tersebut.

Disisi lain, Sitorus juga bangga dengan prestasi yang ditorehkan anak-anak muda bangsa ini. Seperti keberhasilan kelompok mahasiswa ITS Surabaya menjuarai ”Festival Mobil Hemat Energi” di Malaysia beberapa waktu lalu. Bahkan di bidang olimpiade science, pelajar Indonesia berkali-kali meraih medali emas, perak, dan perunggu.

“Dengan kondisi tersebut, saya masih mempunyai keyakinan bahwa mereka mampu membawa ‘Tongkat Estafet’ kepemimpinan bangsa di masa mendatang. Hal ini dapat dicapai dengan lebih menitikberatkan pada peran ‘Generasi yang lebih tua’, yaitu dengan memberi mereka keteladanan. Mari kita rangkul mereka supaya komunikasi lebih lancar karena ‘Satu aksi lebih dari seribu teori’. Begitu,” katanya.

Sitorus sangat yakin bahwa bangsa Indonesia bisa memercayakan masa depan di tangan generasi penerus. Asalkan dengan bimbingan, dukungan dan perhatian penuh dari generasi sekarang, mereka mampu menjadi nakhoda bangsa ini. Di sisi lain, generasi tua harus mampu menstranfer ilmu, akhlak dan moral yang dimiliki. Demi generasi muda, mereka harus mampu menahan diri untuk tidak korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), anarkisme dan hal-hal buruk lainnya.

“Generasi tua pasti akan berlalu seiring waktu, maka mari kita mempercayakan masa depan di tangan generasi penerus. Kalau perlu kita ubah peribahasa lama, ‘patah tumbuh hilang berganti’ menjadi ‘Sebelum patah sudah tumbuh, sebelum hilang sudah berganti’,” tegasnya.

Sedangkan kondisi Indonesia sendiri, menurut prediksi Sitorus, masih akan mengalami krisis ekonomi sekali lagi. Pendapat ini dilandasi dengan situasi global seperti terjadinya bencana di berbagai negara yang menyebabkan kenaikan harga pangan dunia akibat kegagalan panen dan rusaknya infrastruktur. Di sisi lain, kebijakan pemerintah yang kontra produktif seperti konversi minyak tanah ke gas, pengumuman kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil tangal 16 Agustus 2010, dan lain-lain, semua bermuara pada satu hal yaitu kenaikan harga-harga.

“Indonesia akan kembali dihantam krisis ekonomi babak kedua setelah tahun 1997. Tetapi dengan kondisi sekarang, Indonesia masih bisa tertata dengan baik meskipun dibutuhkan kerja keras dan kesungguhan dari semua pihak. Bidang yang harus diproritaskan adalah sektor riil yang benar-benar ‘Bersentuhan dengan masyarakat yaitu pelaku ekonomi kelompok menengah dan kecil’,” tuturnya.

Sitorus telah membuktikan bahwa sektor ekonomi kelompok kecil dan menengah terbukti mampu bertahan di tengah krisis ekonomi. Ia mengingatkan bagaimana perusahaan-perusahaan besar bertumbangan pada saat krisis moneter 1998, tetapi tidak berarti apa-apa dengan ekonomi kelompok kecil dan menengah yang mampu bertahan dengan baik.

“Semangat itu harus dimiliki oleh generasi muda untuk tetap bertahan di tengah deraan krisis. Pesan saya, raih kesempatan di masa muda, belajarlah dengan sungguh-sunguh, bertemanlah dengan seluruh lapisan masyarakat, gunakan mudamu sebelum datang masa tuamu, manfaatkan masa sehat sebelum masa sakit, TAKE THE CHANCE,” kata pria yang berharap pemerintah memberi kemudahan untuk perijinan membuka usaha penukaran uang (Money Changer) ini. “Karena hingga hari ini, belum dapat terwujut selama BPR berdiri di Labuhan Batu Utara,” tambahnya.

Sitorus sangat bersyukur, dalam menjalani pekerjaan mendapat dukungan sepenuhnya dari keluarga. Anak dan istrinya sangat memahami profesi yang ditekuninya dengan menunjukkan sikap positive thinking meskipun ia sering terlambat pulang ke rumah. Sambutan keluarga tetap hangat karena mereka memahami apa yang dikerjakan oleh ayah dan suaminya untuk kepentingan mereka juga.

“Begitu sampai di depan pintu, anak-anak berebut membawa tas kerja sedangkan si ibu menyediakan air minum untuk saya. Karena anak-anak baru beranjak dewasa, sehingga belum terlihat apakah mereka berminat pada profesi saya atau tidak. Untuk memotivasi mereka saya berusaha menanamkan pengertian, bahwa hanya dengan ketekunan, kerja keras dan kejujuran kita akan menjadi orang sukses. Apabila anak meminta sesuatu, saya tidak langsung memberikan, tetapi saya beri tugas terlabih dahulu. Misalnya memijat kaki dengan hitungan sampai 50 kali, supaya mereka paham bahwa segala sesuatu diperoleh melalui sebuah upaya,” tegasnya.

Biodata singkat

Nama : Surungan Sitorus
Tempat tanggal lahir: Tobasa, 11 Desember 1966
Pekerjaan: Direktur Utama PT BPR Mangatur Ganda

Riwayat pendidikan:
SD Negeri Parsambilan, tahun 1978
SMP Negeri Silaen, tahun 1982
SMA Negeri 5 Medan, tahun 1985
D3 Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Strata 1, STIE Labuhan Batu – Ekonomi/Manajemen

Riwayat Pekerjaan
Tahun 1989 – Marketing koperasi simpan pinjam (selama 2 tahun)
Tahun 1991 – Marketing BPR Mangatur Ganda
Tahun 1996 – Pimpinan Cabang PT BPR DIORI GANDA, Indra Pura – Asahan (SUMUT)
Tahun 1997 – Pimpinan Cabang PT BPR MANGATUR GANDA, Cabang Aek Nabara Labuhan Batu SUMUT
Tahun 1998 – Direktur Operasional PT BPR Mangatur Ganda, Aek Kanopan Labuhan Batu Utara
Tahun 2000 – Direktur Utama PT BPR Mangatur Ganda s/d sekarang

Nusantara Sitepu

No Comments

Nusantara Sitepu
Direktur Utama BPR Solider

Misteri Perjalanan Hidup Putra Karo

Tidak pernah terbayangkan dalam hidup seorang Nusantara Sitepu untuk berkarier di dunia keuangan seperti sekarang. Latar belakang pendidikannya yang beragam, tidak satupun berpijak pada keuangan atau perbankan. Minatnya jauh lebih besar ke dunia kerohanian sehingga memperoleh gelar sarjana teologi dan sempat menjadi dosen.

Pria kelahiran Desa Berastepu, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, 15 Juni 1953 ini menjalani pendidikan Sekolah Dasar di desanya. Ia kemudian melanjutkan ke SMP dan SMA Swasta Seminari di Pematang Siantar. Ia memperoleh gelar sarjana lokal setelah menyelesaikan pendidikan filsafat dan teologi di Seminari Tinggi Parapat/Pematang Siantar (1975-1980).

“Saya merasa perjalanan hidup saya ini suatu misteri. Dari latarbelakang filsafat/teologi menjadi mengurusi uang yang sangat membutuhkan keahlian akuntansi dan keuangan. Terus terang pada mulanya saya harus berjuang keras belajar, karena sadar sekurangnya saya harus memahami pengetahuan dasar seperti jurnal dan neraca. Untungnya, staf dan pegawai saya banyak membantu,” kata Direktur Utama BPR Solider ini.

Ia juga merasa bersyukur, karena pada saat belajar di sekolah menengah memiliki prestasi gemilang dalam mata pelajaran berhitung dan aljabar. Ketika belajar filsafat, salah satu mata kuliah favorit dan memiliki prestasi tertinggi adalah mata kuliah Logika. “Kemampuan berhitung dan logika ini saya rasakan sangat membantu dalam kehidupan umum, termasuk dalam tugas saya memimpin BPR Solider,” imbuh dosen luar biasa di Unika St. Thomas Sumatera Utara untuk mata kuliah MKDU Logika, Agama dan Etika tahun 1984-1993 ini.

Tahun 1997 bersama beberapa temannya, Sitepu mendirikan BPR Solider di Pancur Batu. Selang lima tahun kemudian (2003), ia  diminta untuk ikut duduk menjadi salah satu direksi. Ia banyak belajar di situ saat berada dibawah kepemimpinan direktur utama Sahata Tinambunan SE dan direktur operasional Ir. Todo Pasaribu. Sitepu sendiri menjabat sebagai direktur umum dan keuangan sampai tahun 2007 RUPS menunjuk dirinya untuk menjabat sebagai Direktur Utama, sampai sekarang.

“Di atas semuanya, saya percaya penyelenggaraan Ilahi membuat semuanya  terlaksana dengan baik. Kepercayaan bahwa Tuhan yang menyelenggarakan semuanya, membuat saya yakin bahwa Ia akan memberikan cukup untuk kebutuhan hidup saya. Selain itu saya berprinsip, kalau tidak memiliki kelebihan dalam akuntansi dan keahlian keuangan, sekurang-kurangnya saya bisa mempunyai kelebihan dalam kejujuran dan integritas,” tandasnya.

Menurut Sitepu, pimpinan lembaga keuangan selayaknya bisa menjadi panutan mengenai kejujuran. Namun meskipun kejujuran diatas segalanya, pengetahuan dan keahlian lain sangat diperlukan. Ia mencontohkan, seseorang yang jujur pun akan mengalami kesulitan juga memimpin sebuah lembaga keuangan bila tidak dibekali pengetahuan pembukuan dan akuntansi yang baik.

Sebisa mungkin, Sitepu selalu berpikir jauh ke masa depan. Tidak mau terjebak dalam penyelewengan jabatan selama menjalani karier. Ia tidak ingin anak-anak dan keluarga besarnya menanggung malu akibat ulah yang tidak terpuji. Selain itu, ia sendiri juga tidak ingin didera kepedihan lahir batin pada usia senja yang seharusnya menikmati masa pensiun dengan tenang, damai dan tenteram.

“Sering saya katakan kepada anak-anak dan pegawai saya, mari kita berpikir jangka panjang, jangan sempit dan pendek. Lihatlah, banyak pejabat sekarang pada masa tuanya harus diseret ke pengadilan dan dipenjarakan karena korupsi dan meyeleweng pada masa jabatannya. Kalau saya, saya ingin masa tua yang tenang dan tenteram,” tegasnya. Oleh karena itu, ia tidak mau menanam bom waktu dengan korupsi dan menyelewengkan uang. “Itu berpikir terlalu pendek dan bodoh. Demi uang kita korbankan harga diri dan kedamaian batin, sangat tidak setara,” imbuhnya.

Siap Mundur

Sitepu mempunyai motivasi sangat tinggi untuk menjadikan BPR Solider sebagai BPR yang sehat dan maju. Sebagai seorang pemilik saham, ia memiliki kepentingan agar BPR berjalan dengan baik dan maju, sehingga memberikan keuntungan kepadanya. Di sisi lain, ia juga merasa telah berbuat “sesuatu” bagi masyarakat dan bangsa Indonesia yang dicintainya.

“Melalui usaha ini, saya ikut membangun ekonomi masyarakat dengan fasilitas jasa keuangan perbankan. Suatu kebanggaan bagi saya di antara teman-teman, sekarang dan di masa depan, walaupun kelak tidak lagi menjadi direksi, bahwa saya ikut memiliki sebuah bank. Ini merupakan kesempatan yang masih langka di tengah-tengah masyarakat. Maka saya mau BPR ini tetap tegak dan berkembang, karena ini suatu usaha yang terhormat,” tuturnya.

Sebagai pimpinan BPR, Sitepu sangat bersyukur terhadap perhatian besar pemerintah, dalam hal ini Bank Indonesia. Tanpa memungut biaya sepeserpun BI melakukan pengawasan terhadap BPR supaya tidak terjadi praktek-praktek perbankan yang tidak sehat. Adanya pengawasan dari pemerintah tersebut, membuat dirinya –baik sebagai Direktur Utama maupun sebagai seorang pemilik saham BPR Solider- merasa “nyaman” dalam melaksanakan pekerjaannya.

Sitepu mengakui banyak menemukan kendala dalam menjalankan perusahaan. Tantangan terbesar adalah menjaga tetap terjadi kesatupaduan visi antara para pemegang saham yang saat ini berjumlah 11 orang. Ia yakin asalkan terpelihara, semua itu menjadi modal dasar yang sangat kuat untuk pengembangan perusahaan ke depan. Apalagi dengan tetap berpegang teguh pada visi awal untuk tidak berebut menempatkan “orang-orang awak” dalam jajaran manajerial.

Menurut Sitepu, di perusahaan manapun perilaku KKN seperti itu umumnya bersifat merusak. Hal tersebut akan diperparah apabila di antara pemegang saham yang out of job mulai berebut menjadi komisaris dan merasa dirinya yang paling pantas untuk itu. Ke depan, ia memiliki obsesi agar penggantinya nanti adalah seorang profesional handal yang akan membawa BPR Solider semakin maju dan terdepan.
“Sempat ada pengganti saya seperti tadi, yang didudukkan secara paksa oleh pendukungnya yang kebetulan kuat sahamnya, padahal pada dasarnya dia itu “out of order”, wah berabe-lah”, katanya.

Pemimpin yang baik itu harus mempunyai ‘sense of crisis’. “Nggak perlu bercokol terus. Asal sudah ada penerus-penerus yang professional yang telah siap menjalankan, kita harus siap mundur. Saya sudah menjabat sebagai direksi sejak tahun 2003 dan usia sekarang sudah 57 tahun. Kalau pengganti sudah siap, saya pun siap mundur atau dimundurkan,” tandasnya.

Sebagai seorang pengusaha, Sitepu merasa telah ikut membantu pemerintah. Setidaknya, ia telah turut berupaya mewujudkan good corporate governance di lingkungan pekerjaannya. Ia telah mencoba mewujudkan prinsip-prinsip hidup yang baik, dan prinsip-prinsip bekerja yang baik. Tanpa harus menggembar-gemborkan apa yang dilakukannya, ia terus berkarya.

“Jangan sampai dalam diri kita sendiri keropos dan amburadul. Itu semua hanya menuju kemunafikan kalau kita sendiri tidak lebih dulu menerapkan di lingkungan kita sendiri. Jadi bila di lingkungan kerja kita kita menerapkan prinsip-prinsip kerja yang baik, clean and good corporate governance itu, saya kira kita sudah menyumbang sesuatu yang sangat berharga bagi negeri ini,” ujar pria yang menguasai bahasa Inggris, bahasa Karo, bahasa Toba, dan bahasa Indonesia secara aktif ini. Sementara bahasa Belanda dan bahasa Latin mampu dipahaminya secara pasif.

Berdiri untuk Melayani

Pendirian PT BPR Solider, menurut Sitepu, berawal dari pemikiran seorang tokoh pemimpin Gereja Katolik, P. Fidelis Sihotang OFMCap (alm). Pemikirannya adalah apapun yang dimiliki harus digunakan dan diberdayakan agar berguna untuk orang lain. Beberapa orang yang menurut dia mempunyai uang didekati untuk mensosialisasikan pemikirannya.

“Kata beliau, uang itu kalau kita satukan bisa membuka BPR. Uang kita itu tidak hilang atau habis, bahkan kita akan mendapat imbalan dari hasil usaha itu, sedangkan masyarakat juga ikut menikmati jasanya. Semakin baik dikelola imbalannya semakin besar, dan begitu juga dengan jasanya untuk dinikmati masyarakat. Jadi kena dua kali sekaligus.  Begitu kira-kira pemikiran almarhum P. Fidelis Sihotang, yang memiliki motivasi kental untuk melayani masyarakat dengan dana yang kita punya,” katanya.

Para pendiri PT BPR Solider memiliki visi mewujudkan impian untuk menjadi BPR yang ikut membangun ekonomi masyarakat secara  maksimal. Sedangkan misi yang diusung ialah keberpihakan pada pengusaha kecil dan menengah melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan pendampingan/pembinaan usaha baik perorangan maupun kelompok usaha.

Menurut Sitepu, pemilihan nama “Solider” bukan kebetulan semata, tetapi sangat terkait dengan visi dan misi perusahaan. Dengan motto “Tumbuh dan Berkembang bersama Anda dengan semangat kemitraan”, BPR Solider sadar bahwa tidak akan bisa berkembang sendirian tanpa perkembangan masyarakat sendiri.

“Dengan masyarakat bisa menikmati jasa BPR, barulah BPR akan memperoleh sesuatu. Semakin besar pelayanan BPR kepada masyarakat, semakin besar perkembangan BPR itu sendiri. Langkah yang akan kami lakukan ke depan adalah meningkatkan profesionalisme dan semangat pelayanan. Kalau itu sudah membudaya di antara staf dan seluruh jajaran marketing, BPR Solider akan maju,” tegas Sitepu yang pada tahun 1998 sempat mengikuti rombongan Menteri Agama dr. Tarmizi Tahir ke Washington, AS itu.

Tidak Ingin Menyusahkan Anak

Sebagai orang tua dengan tiga anak, Sitepu mencoba mempersiapkan dengan matang masa depan mereka. Ketiga anaknya diupayakan mendapat pendidikan yang memadai sebagai bekal hidup dan kemandiriannya bagi masa depan. Ia tidak ingin, mereka hidup susah sehingga tidak mampu berbuat baik ataupun membalas budi. Ketakutan lebih besar darinya adalah apabila anak tidak dibekali ilmu pengetahuan yang cukup, hidupnya susah sehingga cenderung berperilaku koruptif.

“Anak tertua kami Sarjana Teknik Industri, sekarang bekerja di satu perusahaan swasta yang bonafide. Anak kedua, perempuan tamat bidan dan bekerja sebagai PNS di satu puskesmas. Anak ketiga, masih kuliah di sebuah perguruan tinggi di Bandung. Di sisi lain kami sendiri membuat persiapan, supaya nanti tidak perlu menyusahkan dan mengganggu anak-anak. Kalau sudah begitu, rumit itu,” kata peraih gelar Sarjana Pendidikan melalui program penyetaraan di STKIP (Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Widya Yuwana Madiun tahun 2003 tersebut.

Sitepu tidak ingin, pada usia tuanya nanti anak-anak harus menanggung biaya hidup orangtua karena orangtua tidak memiliki bekal sendiri. Untuk itu, ia telah mempersiapkan diri dengan baik. Sadar mengandalkan gaji saja tidak cukup, ia berjuang keras dengan usaha-usaha keluarga yang lain, seperti berladang serta usaha-usaha lainnya. “Saya terbantu karena istri juga seorang bidan PNS bekerja di Puskesmas,” ungkapnya.

Melihat perkembangan anak-anaknya, begitu juga pandangan dan pengamatan Sitepu terhadap generasi muda Indonesia, sebagai orang tua, berpendapat sudah seharusnya untuk mempercayakan keberlangsungan bangsa di tangan mereka. Karena bagaimana pun, hal itu akan terjadi secara alami terkait faktor usia yang tidak dapat ditolak.

“Kita harus percaya bahwa mereka mampu. Akan muncul pribadi-pribadi tangguh yang mempunyai kesadaran yang tinggi dan punya jangkauan pemikiran jauh ke depan dan tidak puas dengan kesenangan sesaat. Pasti suatu saat akan muncul generasi muda seperti itu,” tegasnya.

Optimisme Sitepu tidak hanya terhadap generasi muda. Pendapatnya kurang lebih sama mengenai kondisi Indonesia di masa mendatang. Dengan berlandaskan pada sikap optimis, ia yakin ke depan Indonesia akan semakin baik. Dasar pemikiran yang melandasi keyakinannya adalah hakekat manusia yang mempunyai dua kecenderungan hakiki dalam diri masing-masing, kebaikan atau kejahatan, bersifat sosial atau egoisme.

Dalam pandangan Sitepu, kecenderungan baik akan menang atas kecenderungan buruk seiring dengan semakin tingginya kesadaran manusia. Kondisi tersebut semakin nyata dan berkembang dengan melihat kemajuan bangsa-bangsa lain, yang dengan sendirinya semakin meningkatkan pendidikan dan wawasan.

“Lihatlah sekarang sudah muncul banyak gerakan-gerakan perbaikan. Nanti partai-partai atau pemimpin yang hanya membohongi rakyat tidak akan laku lagi. Semakin lama rakyat semakin pandai, semakin kritis, dan semakin sadar juga. Dalam hal itu saya sangat optimis walau mungkin masih lama waktunya. Mengenai prioritas untuk mencapainya, maka tegas saya katakan, pendidikan, dengan porsi yang signifikan untuk pendidikan nilai-nilai,” kata Sitepu menegaskan.

Ir. Russel Tambunan, MBA

No Comments

Ir. Russel Tambunan, MBA
PT Agrifish Consultama Investment

Membina dan Mencetak Pengusaha Mandiri

Setiap pengusaha selalu berharap keuntungan besar dari usaha yang dijalaninya. Berbagai cara digunakan untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya bagi perusahaan. Kadang, pengusaha bahkan melakukan kegiatan yang digolongkan sebagai pelanggaran hukum demi mewujudkan cita-citanya.

Namun, di antara pengusaha yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, masih ada pengusaha berhati mulia. Pengusaha seperti ini tidak hanya memikirkan kepentingan sendiri tetapi juga kesejahteraan bagi orang lain. Salah satunya, Ir. Russel Tambunan, MBA yang berusaha sekuat tenaga mengangkat kehidupan orang-orang di sekitarnya. Dalam salah satu perusahaan net-work marketing yang didirikannya, Ia memiliki 20 ribu orang  marketer yang diharapkan mampu menjadi pengusaha mandiri.

“Menjadi tanggung jawab saya lah untuk membina mereka”. Kepada mereka saya sering mengatakan bahwa untuk menjadi pengusaha mandiri, harus penuh semangat, disiplin, ulet, fokus dan tidak boleh cengeng. Bersama-sama kita mencoba menjadi orang yang benar-benar mandiri, berkembang dan maju. Saat ini saya fokus terhadap pembinaan mereka ini sehingga nantinya mampu membuka usaha baru mandiri,” kata Presiden Direktur PT Agrifish Consultama Investment ini.

Keinginan dan cita-citanya untuk mencetak entrepreneur di Indonesia terinspirasi oleh konglomerat yang melakukan hal serupa. Ia mencontohkan bagaimana Ciputra, Surya Paloh, Sampurna, Lippo atau Abu Rizal Bakrie dengan dana dan kesempatan  yang dimiliki, sebagian diperuntukkan untuk  mengkader dan mencetak pengusaha baru. Terciptanya pengusaha atau entrepreneur baru akan sangat memudahkan membangun Indonesia dan mensejahterakan bangsa.

Apalagi, jumlah pengusaha di Indonesia masih sangat kecil dan hanya mencapai dua persen dari jumlah penduduk. Idealnya, agar tercipta kesejahteraan yang merata di segala lapisan masyarakat, jumlah pengusaha minimal tujuh persen dari total jumlah penduduk. Kondisi ini jauh berbeda dari Singapura, Jepang dan negara-negara maju lainnya. Ia berharap, lebih banyak lagi pengusaha baru yang lahir sehingga tercipta kesejahteraan yang diinginkan seluruh lapisan masyarakat.

“Proses pengkaderan harus terus terjadi, sehingga banyak pengusaha baru dan mandiri di seluruh Indonesia”. Dalam membangun Indonesia kita harus memiliki banyak pengusaha sehingga tidak kalah dari negara lain. Yang penting, semua harus bergerak bersama-sama dengan semangat saling percaya dilandasi niat baik. Tetapi niat baik saja tanpa pengetahuan dan keterampilan menjadi mubazir, tidak sampai pada tujuan. Saya berharap, mudah-mudahan di sisa hidup saya, banyak orang terbantu dan menjadi pengusaha-pengusaha muda sehingga saya bisa “merasa puas dan merasa berguna” diakhir karir saya, ungkapnya.

Pria kelahiran Tarutung, 10 Desember 1955 ini mengungkapkan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada konglomerat yang berperan terhadap kepentingan orang banyak. Apalagi mereka yang mendedikasikan diri bergerak di bidang pendidikan yang merupakan salah satu titik lemah bangsa kita. Sesuatu yang juga dilakukan oleh konglomerat dunia seperti Bill Gates yang telah memberikan begitu banyak dari keuntungan bisnisnya untuk kesejahteraan, kesehatan dan pendidikan bagi penduduk miskin dan terlantar di seluruh dunia. “Saya mungkin tidak bisa mencapai seperti itu tetapi saya berusaha agar apa yang saya lakukan memiliki arti bagi orang banyak,” imbuhnya.

Memperbaiki Diri

Ir. Russel Tambunan, MBA menyelesaikan pendidikan SD-SMP di Sumatera Utara. Sedangkan pendidikan SMA di Tanjung Pinang, Riau. Selepas SMA, ia kemudian melanjutkan pendidikan di  Sekolah Tinggi  Perikanan (STP) Jakarta.

“Saya lulus tahun 1979 dan langsung bekerja di perusahaan ekspor impor makanan, PT Semarang Cold Storage & Industri, Semarang selama lima tahun. Dari situ saya kemudian kembali ke Jakarta dan bekerja di Djayanti Group – Devisi Perikanan. Karier saya di sini cukup lama hingga mencapai posisi Direktur Utama disalah satu anak perusahaan selama enam tahun. Sebelumnya selama tujuh tahun saya menjabat sebagai Direktur,” ungkapnya.

Tidak hanya dalam karier Russel menonjol. Ia terus berusaha untuk meningkatkan pendidikan dan pengetahuan yang dimilikinya. Tahun 1985, ia kembali ke kampus untuk mengambil Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan di Fakultas Perikanan Unibraw, Malang. Dalam tempo dua tahun, ia berhasil meraih gelar Insinyur. Tidak puas sampai di situ, ia mengejar gelar MBA di Monash University – Melbourne, Australia yang berhasil diselesaikannya pada tahun 1999.

Dengan kemampuan luar biasa yang dimilikinya, Russel kemudian mendirikan perusahaan sendiri. Sambil terus berkarier sebagai profesional di Djayanti Group, diam-diam ia mendirikan perusahaan sendiri pada tahun 1994. Perusahaan pertama yang didirikannya adalah PT Agrifish Consultama Investment yang bergerak dibidang konsultan manajemen dan investasi. Setahun kemudian, ia mendirikan satu perusahaan lagi yang bergerak di bidang perikanan.

Tangan dinginnya dalam menangani perusahaan membuahkan hasil yang cukup gemilang. Perkembangan perusahaan mengalami kemajuan pesat sehingga tahun 2005, ia mendirikan perusahaan pelayaran. Tidak berhenti di situ, ia kemudian mendirikan PT Bangun Mandiri Wisesa tahun 2008 yang bergerak dibidang perdagangan dan impor – ekspor. Satu tahun kemudian, ia mendirikan PT Tama Sarana Development yang bergerak di bidang jasa konstruksi dan penyewaan alat-alat berat. Perusahaan terakhirnya, yang sekarang sedang dikembangkannya adalah perusahaan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Perusahaan ini sangat disenanginya karena banyak berhubungan dengan masyarakat dari golongan bawah yang kemungkinan bisa dikader menjadi pengusaha baru kecil dan menengah sebelun nantinya menjadi pengusaha besar.

“Sebagai pengusaha, saya juga tidak luput menghadapi kendala yang harus diatasi. Salah satunya adalah masalah kelesuan ekonomi yang kadang susah untuk diprediksi, masalah lain juga birokrasi yang menurut saya harus terus ditingkatkan khususnya masalah simplifikasi aturan dan kecepatan sehingga dengan aturan yang simple dan cepat dengan sendirinya menghasilkan efisiensi dan dapat bersaing dengan perusahaan lainnya khususnya perusahaan di luar negeri.  Pemerintah kita bisa saja belajar dari pemerintah Negara maju lainnya agar bisa semakin baik, cepat dan kalau bisa lebih baik dari Negara pesaing kita.  Makanya baik kita sebagai pengusaha maupun pemerintah kita harus terus belajar dan memperbaiki diri,” ujarnya.

Menurut Russel, dalam memperbaiki diri harus introspeksi dengan tanpa mencari-cari kesalahan orang atau pihak lain. Untuk membangun Indonesia semua pihak harus saling membantu satu sama lain. Apalagi karena sama-sama bertujuan untuk kesejahteraan bangsa sehingga tidak ada gunanya untuk saling menyalahkan. Di sisi lain, ia juga berharap agar pemerintah terus mengadakan penelitian mendalam sehingga dalam mengambil keputusan pemerintah menggunakan data tepat dan terbaru. Pemerintah harus terus menerus menerjunkan tim untuk melihat kondisi sebenarnya di lapangan. Dengan demikian “Peraturan yang dikeluarkan pemerintah tepat sasaran dan langsung mendukung kegiatan pengembangan para pengusaha”. Karena kalau peraturan dibuat kebanyakan berdasarkan teori pengetahuan dan perasaan birokrat saja dan pembuatannya juga terlalu lama,  sehingga begitu keluar selain tidak kena sasaran sudah terlambat dari dinamika kemajuan dilapangan dan akhirnya menjadi kontra produktif.

Kendala lain secara internal dari sisi pengusaha kadang ada miss planning karena sebagai pengusaha saya kadang terlalu menggebu-gebu. Tetapi bagi saya semua itu adalah pelajaran untuk terus memperbaiki diri, karena seorang pengusaha harus terus maju, tidak boleh menyerah dan harus tetap tenang dengan prediksi yang bagus dalam mengambil keputusan,” tambahnya.

Ke depan, Russel berharap agar perusahaan miliknya semakin maju dan berkembang. Bahkan, kalau mungkin berkembang menjadi perusahaan terbaik dan terbesar dibidangnya, dan kalau sempat menjadi perusahaan konglomerat baik local maupun internasional. Setidaknya, ia telah menyampaikan kepada anak-anaknya akan impiannya tersebut. Menjadi tugas anak-anaknya untuk meneruskan dan mewujudkan cita-citanya tersebut.

Saya memiliki 2 anak dari istri saya Ritha Frida SH. Anak saya yang pertama Allen Lawrence Tambunan sekarang masih mahasiswa di Fakultas Teknik Industri, di Swiss German Univercity. Sedangkan anak kedua saya masih kecil, Athina Theresia Tambunan, sekolah di St Pieter International School. Selagi masih muda, saya berharap agar mereka mendengarkan saya untuk meneruskan perusahaan ini. Saya memberikan gambaran tentang kondisi dan ke depannya bagaimana, sehingga langkah mereka semakin mudah dan fokus,” tegasnya.

Belajar dari China

Sebagai pemilik beberapa perusahaan sekaligus, Ir. Russel Tambunan, MBA berpendapat bahwa dunia usaha sekarang tidak bisa terlepas dari pasar bebas dan globalisasi. Pengaruhnya terhadap seluruh sendi kehidupan sangat terasa sehingga diperlukan kearifan dan kejelian dalam menyikapinya. Untuk menyiasatinya, ia menyarankan agar belajar dari negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi yang muncul belakangan.

“Kita tidak perlu malu belajar dari perusahaan-perusahaan yang sudah berprestasi dan maju”. Contohnya kita tidak perlu malu belajar dari China, bagaimana mereka mampu memproduksi barang yang menguasai dunia. Sewaktu saya tour ke Eropa dan Amerika, banyak sekali barang kebutuhan rumah tangga, barang fashion dan souvenir adalah buatan China. Oleh karena itu, kita mesti belajar dari China. Selain dari pada China saya juga melihat kemajuan luar biasa dari India. Untuk itu juga kita perlu belajar dari sana, karena memiliki karakter yang serupa. Negara yang berpenduduk banyak tetapi menghasilkan produk bermutu sekaligus murah,” tuturnya.

Menurut Russel, produk China saat ini sudah membanjiri seluruh negara di dunia termasuk Eropa dan Amerika Serikat. Dengan situasi serupa, India juga telah berubah menjadi kekuatan ekonomi baru menggeser negara produsen yang lain. Karena alasan itulah, ia menyarankan agar Indonesia lebih baik mencontoh kedua negara tersebut dibandingkan Negara Eropa atau Amerika karena bisa lebih cepat dan lebih sesuai dengan karakteristik Indonesia yang berpenduduk banyak.

Hanya pada masalah pendidikan, Russel menyarankan untuk tetap mengacu pada sistem pendidikan Amerika atau Eropa. Kualitas pendidikan di wilayah tersebut masih tetap jauh lebih bermutu dibandingkan di negara-negara Asia. Untuk itu, pemerintah harus berani mengirimkan sebanyak-banyaknya anak-anak bangsa yang pandai untuk menyerap ilmu dari luar negeri. Pemerintah harus mau dan berusaha menyediakan dana besar untuk keperluan ini karena pada akhirnya juga untuk kepentingan dan kemajuan bangsa.

“Intinya pendidikan adalah hal yang penting dan urgen” Karena untuk meningkatkan kualitas manusia di suatu negara, pendidikan adalah hal yang paling utama dan sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, pendidikan harus diutamakan, ditingkatkan dan membuka diri untuk pendidikan dari luar negeri. Dengan pendidikan dan pengalaman banyak di luar negeri, manusia Indonesia akan mempunyai pengetahuan dan komparasi yang banyak sehingga bisa memilih yang terbaik,” tandasnya. Beliau memberikan contoh suatu negara yang cukup maju akhir-akhir ini yaitu Malaysia. Malaysia banyak memiliki putra putri yang berpendidikan tinggi di luar negeri. Anak muda Malaisya banyak sekolah di Inggris karena sangat didukung oleh pemerintahnya sekaligus didukung oleh pemerintah Inggris yang merasa ikut betanggung jawab atas kemajuan Negara bekas jajahannya.

Pengusaha yang tertarik untuk terjun ke dunia politik ini, menganjurkan perbaikan pendidikan secara terus memerus dan utama. Pendidikan juga harus memperhatikan pendidikan entrepreneur. Sudah seharusnya pendidikan entrepreneur digalakkan pada setiap tingkatan pendidikan. Ia mengingatkan, secara statistik, entrepreneur di Indonesia baru mencapai 2 persen sementara Singapura sudah 7 persen dari jumlah penduduk.

Tidak diragukan lagi, lanjutnya, dalam membangun sebuah negara semua warga negara harus memiliki pengetahuan yang memadai. Oleh karena itu, ia sangat setuju dengan alokasi dana sebesar 20 persen dari APBN untuk pendidikan. Karena memang, kebutuhan untuk memajukan pendidikan sangat mendesak dilakukan. Diharapkan, ketika semua warga negara terdiri dari orang-orang pintar, maka sangat mudah dalam mengatur dan membangun negara.

“Pendidikan memang memerlukan biaya apalagi untuk bangsa yang besar ini”. Oleh karena itu, salah satu solusinya adalah dengan menciptakan sebanyak mungkin entrepreneur baru. Saya berharap, pengusaha sukses bisa menciptakan pengusaha-pengusaha baru sebanyak-banyaknya. Dan, selagi ada waktu saya akan terus menerus berusaha untuk menciptakan sebanyak mungkin pengusaha baru yang mandiri dan yang lebih hebat dari saya. Semua saya lakukan untuk kepentingan bersama, membangun bersama dan sukses bersama. Itulah yang akan saya lakukan, mentransfer pengetahuan dalam membangun manusia Indonesia, bangsa dan negara,” kata Ir. Russel Tambunan, MBA.

Motto perusahaan saya adalah: “ Solid – Growth and Worth”, sementara motto pribadinya adalah “ Do My Best, beyond is God Will”

Rudy F Subarkah

No Comments

Rudy F Subarkah
General Manager Puncak Pass Resort

Resort Bernuansa Heritage yang Berguna Untuk Masyarakat

Ribut-ribut masalah pelestarian lingkungan di wilayah Puncak dan sekitarnya sebagai daerah tangkapan air, tidak melibatkan Puncak Pass Resort. Di saat sebagian pengelola resort beramai-ramai memanfaatkan seluruh lahan miliknya –bahkan kadang mengokupasi tanah negara- Puncak Pass tidak demikian. Sejak berdiri tahun 1928, pengelola menerapkan kebijakan untuk tidak sekalipun melakukan kegiatan yang dapat merusak lingkungan.

Di antaranya adalah dengan memanfaatkan sebagian dari lahan yang difungsikan untuk keperluan usaha. Sebagian besar lainnya dibiarkan menjadi hutan dan pelestarian kehidupan flora serta fauna, sekaligus menjadi landsekap yang memperindah Puncak Pass Resort. Tidak heran, di usianya yang hampir satu abad, Puncak Pass Resort tetap menawarkan keindahan dan eksotisme suasana pegunungan yang asri dan nyaman.

“Sesuai dengan visi dan misi Puncak Pass Resort, kita ingin menjadikan resort yang bernuansa heritage dan berguna untuk masyarakat. Puncak Pass sangat peduli dengan perlindungan alam bahkan bekerja sama dengan BKSDA menangkarkan rusa serta membiakkan burung langka. Bahkan dari 5,6 hektar lahan, yang kita gunakan paling cuma 10 persen, sisanya tetap dibiarkan menjadi hutan,” kata Rudy F Subarkah, General Manager  Puncak Pass Resort.

Yayasan Dharma Karya Mandiri (YDKM) sebagai Puncak Pass Resort adalah suatu yayasan yang awalnya didirikan oleh para pejuang kemerdekaan tahun 1945 yang memiliki visi “Berjuang Tanpa Akhir”. Meskipun satu per satu generasi founder yayasan meninggal dunia, tetapi semangat tersebut terus dipertahankan. Bahkan, lama kelamaan perkembangan yayasan mengarah pada bagaimana mengupayakan kesejahteraan masyarakat.

Melalui Puncak Pass Resort, yayasan telah memberikan sumbangsih yang besar kepada masyarakat sekitar. Tidak hanya dalam upaya pelestarian lingkungan, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat. Setidaknya, beberapa orang karyawan resort berasal dari masyarakat yang tinggal di sekitar resort. Bukan itu saja, para pekerja tersebut bahkan telah diturunkan dari generasi ke generasi.

“Dari segi sejarah, bisa dibilang ini karyawan warisan. Yakni dari ayah dan kakeknya yang sebelumnya juga menjadi karyawan di sini. Maklum resort ini sudah ada sejak tahun 1928 sehingga tidak heran ada yang mendapat pasangan dari sini. Dari situ kemudian anaknya meneruskan karier bapaknya, begitu seterusnya,” ujarnya. Saat ini, dengan 27 unit resort dan restoran, Puncak Pass mempekerjakan 127 orang karyawan. “Ini bisa dikatakan padat karya, karena memerlukan tenaga perawatan yang sangat banyak. Dari kamar, taman, hewan sampai hutan,” imbuhnya.

Sejarah Puncak Pass Resort, tidak bisa dilepaskan dari masa penjajahan Belanda. Para petinggi Belanda tadinya menjadikan Puncak Pass Resort sebagai sarana peristirahatan dalam perjalanan antara Bandung dan Jakarta. Infrastruktur dan kendaraan sebagai sarana mobilitas masih sangat kurang sehingga diperlukan waktu yang cukup lama untuk melintasinya. Puncak merupakan wilayah di tengah-tengah antara kedua kota tersebut yang tepat untuk dijadikan tempat beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Setelah penjajahan Belanda berakhir, atas pemikiran Muhammad Yamin untuk memberikan “kail” bagi keberlangsungan Yayasan Dana Kesejahteraan Mahasiswa, cikal bakal YDKM sekarang ini. Pembelian resort oleh yayasan pada tahun 1954, selain untuk menampung dan mengkaryakan Tentara Pelajar (TP) juga dipergunakan membiayai pendidikan bagi mantan TP yang berprestasi. Hasilnya, beberapa orang yang dibiayai Yayasan pernah mewarnai kehidupan di republik ini di bidang pendidikan, kemiliteran dan lain-lain.

“Salah satunya adalah Ketua Yayasan YKDM Prof. Widagdo. Dahulu, Muhammad Yamin selalu mampir kalau sedang menuju Bandung karena jalanan masih sangat sulit. Kalau sekarang, pengabdian Yayasan sudah tidak kepada mantan TP tetapi kepada masyarakat umum. Melalui rekomendasi dari DIKTI kita juga memberikan beasiswa bagi mahasiswa berprestasi dari seluruh Indonesia. Sejak tahun 2010, yayasan berubah nama menjadi Yayasan Dana Kesejahteraan Mandiri dan tidak terfokus kepada beasiswa bagi mahasiswa saja. Sekarang lebih kepada award yang kita berikan kepada mahasiswa dan umum,” tegasnya.

Mantan Chef

Rudy Fachruddin Subarkah mulai aktif di Puncak Pass Resort sejak 1 Maret 2008, menggantikan pendahulunya Yoen Wachyu. Pria kelahiran Bandung, 19 April 1964 ini telah malang melintang di dunia hospitality industries sejah menamatkan studinya di Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata Bandung dalam program studi Hotel Managemen pada tahun 1993.

Berbagai jenjang pendidikan dan latihan formal dalam bidang keahlian perhotelan telah diikutinya sejak tahun 1985 – 1986 yang dimulai dengan Food Production, dilanjutkan pada 1987-1988 dan terakhir pada 1992-1993 dalam program studi Manajemen Hotel. Latihan kerja dan magang dalam mempraktekan ilmu dan teori yang didapatnya dari bangku kuliah yang diikutinya sejak tahun 1986 di restoran Oasis Jakarta, Makassar Golden Hotel, Makassar, Star Ship Atlantic, Florida-Amerika Serikat, Glossy Restaurant-Bandung, Movenpick Paradeplatz Restaurant, Zurich-Swiss.

Rudy juga pernah bekerja di King’s Hotel-Palembang, Sheraton Inn, Timika, Lido Lakes Hotel, Bogor, Radisson Makassar, Makassar, Treva International Hotel Jakarta, Quality Hotel Yogyakarta dan Quality Hotel Gorontalo. Jenjang karier profesional pilihan hidupnya dimulai dari bawah langsung berhubungan dengan bidang keahlian spesialisasinya dalam food & beverage sebagai cook hingga tingkat eksekutif yang bersifat managerial umum sebagai General Manager.

“Karier saya sebenarnya Chef, tukang masak. Terus meningkat sampai sekarang menjadi GM sejah tahun 2006 di Gorontalo. Visi saya simple saja, ingin membuat semua yang dekat dengan saya menjadi senang. Bagi keluarga maupun orang-orang yang mengenal saya sebisa mungkin menjadi senang berkat kehadiran saya. Saya yakin, kesenangan yang kita berikan kepada orang lain, pasti kembali kepada kita. Kalau mau dapat cobalah memberi terlebih dahulu meskipun kecil,” tandasnya.

Saat ini, Rudy mengandalkan keikhlasan sebagai patokan masa depannya. Selama masih diberikan kehidupan oleh Tuhan semua kemungkinan bisa terjadi. Dengan dilandasi semangat ikhlas, suami Vera Napitupulu ini berharap mampu mewujudkan cita-cita dan keinginannya. Ikhlas memiliki makna yang sangat luas, mulai jujur, ridhlo dan lain-lain. “Di sisi lain, ikhlas bukan pasrah. Kalau kita miskin terus mengandalkan pasrah ya kacau. Jadi hidup adalah ibadah dan ibadah harus dijalani dengan ikhlas. Dua itu saja, sulitnya minta ampun,” imbuhnya.

Ayah satu anak yang mendapat dukungan penuh keluarga ini, sangat bersyukur atas kehidupan yang diberikan Tuhan kepadanya. Dengan istri yang satu almamater, membuat komunikasi pasangan ini tidak terjadi hambatan yang berarti. Termasuk ketika istrinya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga setelah kelahiran anaknya yang saat ini sudah kelas tiga SMP.

Kepada generasi muda, Rudy berpesan agar mereka terus mengembangkan diri menjadi lebih baik. Ia meyakini bahwa dengan generasi penerus yang baik, masa depan bangsa juga akan menjadi lebih baik. Asalkan generasi muda memiliki dorongan yang kuat dalam dirinya untuk maju, masa depan bangsa akan berada di tangan yang benar.

“Tetapi yang menjadi permasalahan mungkin pengaruh lingkungan sekitarnya. Generasi muda jangan dijejali dengan pikiran negative, tetapi harus optimis. Tuhan tidak akan menghancurkan dan yang merusak adalah generasi kita sendiri. Jadi tinggal bagaimana kita mengarahkannya, selama masih wajar kita anggap biasa. Sebagai orang tua, kita tinggal membimbing dan mengarahkan,” tegasnya.

Rahmatullah Sidik

No Comments

Rahmatullah Sidik
Presiden Direktur “Rahmatan Lil Alamin” – PT Happy Prima Wisata

Selalu Menjadi Pelayan Tamu Allah

Semangat untuk terus maju dan berkembang harus dimiliki oleh setiap manusia. Pengorbanan dan cobaan yang berat, harus dilalui manusia-manusia yang ingin menggapai kesuksesan dalam hidup. Dengan dilandasi semangat belajar yang tinggi untuk mencari jalan keluar dari permasalahan, tangga menuju sukses semakin dekat.

Semua itu harus dilandasi semangat pantang menyerah dan kerja keras untuk mewujudkannya. Tanpa itu, jangan berharap keajaiban dari Allah yang mengubah kegagalan menjadi kesuksesan. Seperti juga yang dialami oleh sosok pengusaha Rahmatullah Sidik dalam mengelola perusahaan jasa perjalanan haji dan umrah. Berbekal pengalaman menjadi guide jemaah haji dan umrah saat masih kuliah di Al Azhar, Kairo, ia belajar dan mencari tahu operasional penyelenggaraan haji dan umrah.

“Karena untuk mencapai kesuksesan memerlukan pengorbanan yang berat. Saat masih kuliah di Al Azhar, saya selalu membantu tamu-tamu Allah dalam pelaksanaan ibadah haji. Pada tahun 1996, saya kembali ke Indonesia dan berniat untuk melayani tamu Allah yang beribadah di sana. Karena saya tidak mempunyai pengalaman operasional di Indonesia seperti pengurusan visa, paspor atapun tentang hal lain berkaitan dengan umrah dan haji. Karena urusan saya di sana hanyalah menjadi guide umrah dan haji,” kata Presiden Direktur “Rahmatan Lil Alamin” – PT Happy Prima Wisata ini.

Tekad dan niat yang bulat untuk melayani tamu Allah, memempertemukannya dengan seorang sahabat seselam alumni Al Azhar. Sahabatnya tersebut mengajak dirinya untuk bergabung di perusahaan penyelenggara umrah dan haji. Di sana, ia memulai karier sebagai marketing pada tahun 1998. Ia memulainya dengan belajar teori marketing karena harus banyak bertemu dengan klien calon jemaah haji dan umrah.

Disamping itu, Rahmat –panggilan akrabnya- juga harus sering bertemu dengan para kyai, majelis taklim dan masyarakat pada umumnya. Dengan penguasaan agama yang mumpuni, mudah saja baginya untuk masuk ke lingkungan tersebut dan memberikan materi umrah dan haji. Dari situ, ia memberikan pemahaman dan kesadaran untuk melaksanakan ibadah umrah dan haji. Ia mengakui, pada tahun 1998-1999 adalah fase pertama dalam hidupnya dengan banyaknya ujian yang harus dilalui.

Salah satu yang hampir mengubur cita-citanya untuk menjadi pelayan tamu Allah adalah kematian ayahnya. Usaha ayahnya di bidang perdagangan tidak ada penerusnya sehingga masa depan keluarga besarnya terancam. Apalagi saat itu, adik-adiknya masih memerlukan biaya pendidikan. Meskipun berperang dalam dilemma, tanggung jawab memanggilnya untuk mengambil alih bisnis almarhum ayahnya.

“Saya melihat dari segi mudharat dan manfaatnya, lebih condong ke usaha yang ditinggalkan orang tua. Akhirnya saya tinggalkan pekerjaan di travel umrah dan haji, masuk ke bidang perniagaan. Alhamdulilah, tahun 1999 mencapai kemajuan dan cukup berhasil bagi orang seusia saya waktu itu, 24 tahun. Karena keberhasilan saya tidak didukung oleh keilmuan agama tentang penggunaan uang, mungkin Allah sayang sama saya. Rezeki melimpah itu kemudian diambil kembali melalui seorang klien sehingga saya jatuh bangkrut,” ujarnya.

Semua itu, lanjutnya, berdasarkan pada latar belakang pendidikan berlandaskan agama yang sangat kental. Sejak SD hingga SMA ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren yang kemudian dilanjutkan dengan Universitas Al Azhar, perguruan tinggi yang dikenal sebagai pencetak ilmuwan muslim. Di dunianya tersebut, semua dibangun berlandaskan kepercayaan belaka. Tidak ada istrilah hitam di atas putih, akte notaris dan perjanjian lainnya.

Namun ternyata di dunia “nyata” kondisi ideal tersebut tidak berjalan sebagai mana mestinya. Banyak orang dilandasi bermacam-macam kepentingan siap mengambil kesempatan. Orang-orang “benar” dan baik seperti Rahmat adalah mangsa empuk bagi mereka sehingga mudah ditipu. Akibatnya, ia mengalami kerugian hingga mencapai ratusan juta.

“Selama satu tahun kondisi saya sempat drop.  Tetapi karena pondasi agama saya kuat, Alhamdulilah saya bangkit dan kembali ke niat awal untuk melayani tamu allah. Tahun 1999, saya masuk PT Happy Prima Wisata dan dipercaya sebagai Manager Marketing. Karena niatan dan skill saya juga mencari jaringan umrah dan haji, makanya Alhamdulilah sampai 2004 saya mengelola jemaah yang cukup banyak,” tuturnya.

Pembicaraan dengan Ustadz Quraish Shihab mengenai tatanan kehidupan di masa mendatang membawa angin segar bagi Rahmat. Senior di Al Azhar itu sudah dianggapnya sebagai orang tua serta tempat berkeluh kesah dan berdiskusi. Kesimpulan dari pembicaraan dengan Ustadz Quraish Shihab mengenai kendala yang dihadapi calon jemaah haji dan umrah yakni “mampu” sebagai syaratnya, kemudian didiskusikan dengan ustadz-ustadz lainnya.

“Kita tempuh jalan untuk memotivasi orang-orang yang tadinya tidak mampu menjadi mampu berangkat ke tanah suci. Akhirnya muncul konsep ta’awun atau tolong menolong yakni memberikan motivasi kepada saudara-saudara yang berniat tulus melaksanakan ibadah umrah atau haji tetapi terbatas karena materi. Kita angkat mereka menjadi orang mampu untuk berangkat ke sana, dengan cara membantu kami sebagai penyelenggara umrah dan haji. Yakni mencari calon-calon hamba Allah, seperti marketing freelance,” jelas pengagum Emha Ainun Nadjib ini.

Konsep yang mulai diterapkan dan berjalan pada tahun 2005 tersebut mulai menuai hasil satu tahun kemudian. Kejadian-kejadian yang tidak mungkin terjadi di mata manusia bermunculan sebagai keajaiban karena kehendak Allah. Ia mencontohkan bagaimana seorang supir taksi yang secara logika tidak mungkin menjadi tamu Allah -karena untuk menutupi biaya hidup anak istrinya saja kurang- tahun 2006 bergabung dan satu tahun kemudian sudah terlihat tanda-tanda kemampuan taraf hidup.

“Yang tadinya membawa uang untuk anak istrinya perhari Rp20-30 ribu menjadi satu hingga lima juta rupiah per satu minggu. Karena kita berikan profit share bagi orang yang membawa calon jemaah. Hingga akhirnya, dengan menangis berurai air mata, akhirnya ia berhasil bersujud di depan Ka’bah, kiblat umat Islam seluruh dunia. Alhamdilah,” katanya.

Berkat konsep yang mulia tersebut, tahun 2008 salah seorang pemilik perusahaan menjual sahamnya kepada Rahmat. Akhirnya secara resmi, PT Happy Prima Wisata Travel menjadi miliknya sebagai pemegang saham tunggal. Ia sangat bersyukur karena niatnya untuk menjadi pelayan dan penjamu tamu-tamu Allah kesampaian. Tidak tanggung-tanggung, Allah memberinya kesempatan memiliki perusahaan yang mengurusi pelayanan haji dan umrah, sesuai cita-citanya.

“Saya kemudian mengubah image PT Happy Wisata Travel dengan merk dagang Rahmatan Lil Alamin Tour & Travel. Niat saya adalah ibadah kepada Allah dan memegang amanah yang diberikan calon tamu Allah untuk menjadi tamu Allah di Mekah dan Medinah. Saya juga berusaha memberikan pelayanan yang terbaik dengan membuktikan janji-janji kita kepada jemaah. Seperti hotel-hotel terdekat dengan Masjidil Haram, air zam-zam sepuluh liter, makanan Indonesia dan lain-lain, semua kita penuhi,” tegasnya.

Konsep Ta’awun

Sebagai pengelola biro perjalanan haji dan umrah, Rahmat menetapkan harga yang tidak murah untuk layanannya. Ia tidak khawatir dengan paket harga murah yang ditawarkan biro-biro perjalanan lain. Pengalaman selama sepuluh tahun (1998-2008), sangat terlihat bahwa dengan paket murah pelayanannya pun tergolong murah. Dampaknya, tujuan seluruh umat muslim dalam melaksanakan ibadah haji atau umrah dengan nyaman tidak tercapai.

“Padahal mereka sudah mengumpulkan uang untuk berangkat ke tanah suci selama bertahun-tahun. Tetapi karena tergiur harga murah, saat beribadah mereka menjadi tidak nyaman. Kalau Rahmatan Lil Alamin selalu ingin memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah, hingga jemaah mencapai tingkat kenyamanan yang optimal dalam menjalankan ibadah,” ujar pria yang menyebut Saudi Arabia sebagai tempat liburan favoritnya ini.

Menurut Rahmat, tingkat kenyamanan dalam beribadah sangat tergantung kepada akomodasi jemaah selama di tanah suci. Dengan harga yang dibayarkan, Rahmatan Lil Alamin memberikan akomodasi terbaik dan paling dekat dengan Masjidi Haram. Dengan demikian, jemaah tidak mengalami hambatan dalam beribadah sesuai keinginannya. Rahmatan Lil Alamin juga memberikan layanan makanan sesuai dengan selera orang Indonesia.

Berbeda dari biro lain, Rahmatan Lil Alamin menerapkan rasio pembimbing jemaah (mutawif) yang lebih besar. Apabila perusahaan lain perbandingannya 40 jemaah dibimbing seorang mutawif, Rahmatan Lil Alamin satu mutawif membimbing 20 jemaah. “Jadi ketika jemaah ingin diantarkan ke mana-mana ada yang mengantar. Pelayanan seperti itu, tidak bisa dibeli dengan harga murah karena terkait kenyamanan yang tidak bisa dinilai dengan uang. Tetapi sebenarnya harga kita berada di tengah-tengah, mahal tidak murah pun juga tidak,” imbuhnya.

Meskipun demikian, Rahmat tidak pernah mempromosikan usahanya di media massa. Iklan merupakan “barang” yang tidak terlalu dipedulikannya karena ia lebih suka melakukan pendekatan langsung kepada calon jemaah. Apalagi, pasar yang dituju perusahaan adalah orang-orang daerah di luar Jakarta. Hingga saat ini, cabang produk tersebar dari provinsi Aceh sampai Sulawesi.

Rahmat menjelaskan, untuk merekrut calon jemaah perusahaan menerapkan sistem hubungan pertemanan atau mitra ta’awun. Sistem ini berjalan berkat adanya profit sharing bagi mitra yang berhasil mengajak jemaah untuk bergabung dalam urusan haji dan umrah di perusahaan. Selain itu, pada saat mitra berhasil mengajak jemaah dengan jumlah yang ditargetkan, mitra berhak untuk berangkat menunaikan ibadah haji atau umrah tanpa harus menambah biaya.

“Orang-orang yang bergabung dengan kita sebagai mitra ta’awun diberikan bekal keilmuwan tentang umrah dan haji. Kemudian mereka kita berikan kantong-kantong jemaah Allah dimana mereka bisa masuk dan mengajak bergabung dengan kita. Dengan pola itu Alhamdulilah target selalu tercapai meskipun kita tidak ‘jualan’ dengan harga murah,” tegasnya. Hingga memasuki tahun 2010, Rahmatan Lil Alamin telah memberangkatkan 1000 jemaah umrah. “Jemaah haji kuota 123 kuota,” imbuhnya.

Semua prestasi yang telah dilakukan perusahaan, membuat obsesi Rahmat semakin mendekati kenyataan. Obsesi yang menjadi mimpinya adalah memberangkatkan orang-orang yang ingin berangkat haji atau umrah dengan konsep ta’awun. Keberhasilan mereka untuk berangkat haji atau umrah merupakan kebahagiaan terbesar baginya.

“Obsesi terbesar saya itu, memberangkatkan orang-orang yang seratus persen ingin ke Baitullah,” tutur pria yang menciptakan merk dagang PT Happy Wisata Travel dengan Rahmatan Lil Alamin agar tampak lebih Islami tersebut. Nama tersebut didapatnya setelah melalui diskusi panjang dengan seorang ustadz, tetapi tidak berkaitan sama sekali dengan namanya sendiri. “Jam dua pagi, seolah-olah ada yang memberi bisikan kalau nama yang tepat adalah Rahmatan Lil Alamin. Dan terbukti, memberikan rahmat bagi masyarakat di Indonesia,” tambahnya.

Tukang Koran

Rahmatullah Sidik, lahir di Jakarta 5 Juni 1976 sebagai anak keempat dari enam bersaudara pasangan H Ruslan dan Hj Maemunah. Pada umur 25 tahun, ia menikah dengan Susi Yusianti yang telah memberinya tiga orang anak, seorang anak laki-laki dan dua anak perempuan. Ia merasa -kalau sekarang dianggap sukses- keberhasilannya tidak pernah lepas dari peran keluarga.

Menurut Rahmat, dukungan keluarga terutama dari istrinya sangat besar. Ia mengisahkan bagaimana harus jatuh bangun memberikan usaha, tetapi sang istri tetap memberikan motivasi dan dukungan yang sangat besar dan berarti baginya. Pada saat dirinya jatuh ke titik terendah setelah usaha dagangnya bangkrut, tidak terdengar keluhan sedikit pun darinya. Padahal, saat itu istrinya sedang hamil anak pertama dan terpaksa harus makan hanya dengan garam.

“Alhamdulilah, saya mendapatkan istri solekah. Sesuai sunah rasul, saya menikah di umur 25 tahun. Sejak saat itu istri selaku pendamping hidup selalu mendukung saya terutama materi. Tidak ada istilah punya uang abang disayang, tidak ada uang abang ditendang,” kisahnya.

Setelah usaha dagangnya bangkrut, Rahmat mengalami kejatuhan secara psikologis. Selama satu tahun, jiwanya drop dan merasa terpuruk dengan kondisinya. Meskipun demikian, ia tidak menyerah begitu saja dan mengalihkan usaha ke bidang lain. Tetapi, ia belum berani kembali ke pekerjaan semula di bidang umrah dan haji karena tidak percaya diri, terpuruk dan ingin menyendiri.

“Sebenarnya banyak teman yang mengajak bergabung. Semua saya tolak dan memilih untuk menjadi tukang koran saja. Dengan menjadi tukang koran, penghasilan saya antara Rp10 – 20 ribu per hari. Jam kerjanya juga singkat, berangkat subuh dan jam tujuh atau delapan pulang. Tetapi saya yakin orang yang selalu berusaha dari titik bermasalahan, 99 persen akan kembali lagi. Apalagi istri tetap setia menanti,” ujarnya.

Pelajaran yang didapat Rahmat dari pengalaman tersebut adalah sebagai manusia tidak boleh sekali pun menjadi “kufur” nikmat Allah. Apabila rezeki berlimpah yang diberikan Allah tidak digunakan sebaik-baiknya, maka akan diambil kembali oleh-Nya. Hal ini pernah dilakukannya saat memperoleh kesuksesan dalam bisnis perniagaan di saat usianya baru menginjak 24 tahun.

Materi berlimpah dari usaha yang berjalan sukses membuat Rahmat terlena. Dari hasil perniagaan peninggalan orang tua, ia mampu memiliki segala macam kebutuhan hidup. Mulai rumah lengkap dengan isinya, motor, mobil dan kemewahan hidup lainnya. Ia menjadi sombong dan melalui salah seorang klien, Allah mengambil semuanya. Rahmat jatuh dalam kemiskinan dan hanya menyisakan iman dan motivasi dari sang istri.

“Subhanallah, istri saya tetap setia dan selalu memberikan motivasi untuk suaminya. Ia tidak pernah menuntut materi dan menerima saja meskipun harus makan dengan garam. Istri paham betul bahwa semua itu adalah ujian dari Allah dan terus mendorong saya untuk berusaha bangkit lagi. Katanya, ‘Apapun yang akan menjadi milik kita, pasti akan kembali’. Dengan iman dan motivasi, ditambah istri yang selalu memberikan semangat, saya bangkit,” ujarnya.

Semangat tersebut, membuat Rahmat tidak “malu-malu” lagi untuk kembali menekuni dunia travel haji dan umrah. Ia kembali fokus untuk berusaha kembali ke jalan semula, melayani tamu-tamu Allah yang ingin mengunjungi Baitullah. Lepas dari semua itu, dalam melayani tamu Allah diniatkan semata-mata untuk ibadah. Tugasnya hanyalah memegang amanah calon tamu Allah untuk menjembatani menuju Baitullah.

“Sebagai manusia harus berusaha. Karena Allah sudah memberikan garis hidup kepada manusia, tetapi bisa saja garis tersebut terputus. Kalau orang itu tidak mau berusaha. Bisa saja orang itu garis hidupnya bagus, tetapi karena tidak mau berusaha, ya jadi jelek dan putus. Makanya jangan sekali-kali kita lepas dari doa dan usaha,” ungkapnya.

Berkaca dari pengalaman yang pernah dijalaninya, Rahmat memiliki pesan untuk generasi muda sekarang. Beberapa catatan yang harus generasi muda menurut Rahmat adalah:
Jangan pernah berputus asa, selalu berjuang untuk hidup dan menggapai ridhlo Illahi
Jangan pernah melihat ke atas untuk hal duniawi, tetapi lihatlah ke atas untuk ilmu. Kalau duniawi tidak pernah habis, sementara ilmu akan termotivasi untuk mencari ilmu terus
Jangan selalu mengeluh mengenai pekerjaan, yang namanya sedang dibawah selalu menghadapi cobaan. Jadikan pekerjaan untuk dinikmati, apapun ujian dan cobaan, harus dijalani dan tidak mengeluh karena akan menurunkan semangat kerja
Jangan mengeluh tentang hasil yang didapat dari pekerjaan itu. Karena dengan memperkarakan hasil akibatnya akan menurunkan semangat kerja

“Serahkan kepada Allah untuk menggapai cita-cita, untuk menggapai kemenangan dunia akhirat. Pesan kyai saya di Ponpes, kalau kita ingin menggapai cita-cita, pertama harus dibekali dengan ilmu. Kedua jangan pernah menengok ke kiri dan ke kanan. Ketiga jangan pernah mendengar dari kuping kiri dan kuping kanan. Artinya pada saat cita-cita ada di depan kamu, gapai itu. Jangan pernah melihat atau mendengar dari kiri-kanan, karena itu gangguan yang membuat cita-cita berantakan. Pokoknya, gapai dulu cita-cita itu, setelah diraih, barulah melihat kiri kanan dan mendengar dari kuping kiri kanan,” katanya menutup pembicaraan.

Ir. Purnomo Hariprianto

No Comments

Ir. Purnomo Hariprianto
Direktur PT Citra Gemilang Apik

Memberikan Solusi Terbaik Dengan Harga Kompetitif

Memasuki pasar bebas 2010, persaingan di dunia usaha semakin keras. Antar perusahaan saling bersaing satu sama lain untuk bertahan hidup. Kondisi tersebut memaksa perusahaan untuk memeras otak mencari jalan keluar agar tetap survive. Hanya perusahaan penuh inovasi yang mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan.

Apalagi pasar bebas juga memberikan kebebasan kepada setiap perusahaan untuk beroperasi di belahan dunia manapun. Globalisasi telah menyatukan dunia sekaligus menjadikannya sebagai pasar antar negara dari produk yang dihasilkan suatu negara. Untuk memenangkan persaingan yang berada pada taraf tertinggi, memerlukan siasat yang tepat dan jitu.

“Namanya juga bisnis, persaingan pasti ada. Namun orang pasti akan melihat kompetensi perusahaan tersebut. Nah, kita sendiri harus paham apa yang dibutuhkan customer dan memberikan solusi yang terbaik dengan biaya yang wajar. Itu solusi yang kami berikan,” kata Ir. Purnomo Hariprianto, Direktur PT Citra Gemilang Apik.

Pelajaran berharga yang diperoleh Purnomo –panggilan akrabnya- dari bekerja bersama expert asing, membuat ia mampu memberikan pilihan terbaik bagi customer di tanah air. Pengetahuan terhadap behavior, attitude, adat istiadat dan karakter masyarakat Indonesia sangat beragam. Antara satu daerah dengan daerah lainnya memberikan pendekatan yang berbeda.

Penguasaan atas keberagaman masyarakat Indonesia inilah yang menjadi pegangan untuk memenangkan persaingan dengan perusahaan dari luar negeri. Karena mereka kurang tahu akan karakter masyarakat kita, sehingga ada yang kurang pas pada saat pengoperasian.

Kontraktor asing datang dengan spesifikasi untuk pola operasi yang seusai dengan karakter masyrakat di negara asalnya. Di negara kita karakter masyarakatnya berbeda, hal ini kita masukkan dalam input desain. Sehingga hasil pekerjaan kita disamping mempunyai keandalan, juga membuat operator mudah memahami dan nyaman dalam bekerja.

Secara definisi, Purnomo menjelaskan adanya masyarakat agraris, industri dan informasi. Masyarakat agraris adalah masyarakat tradisional yang menggantungkan hidup secara alamiah (nature). Masyarakat industri adalah masyarakat yang sudah bisa mengelola potensi di sekelilingnya untuk kepentingan ekonomis. Sedangkan masyarakat informasi menggunakan teknologi informasi di manapun berada. “Masalahnya ketiga golongan masyarakat ini muncul bersamaan di Indonesia. Itu yang harus kita pahami,” tegasnya.

Menurut Purnomo kondisi seperti itulah yang menjadi dasar keyakinannya bahwa perusahaannya serta perusahaan lokal Indonesia mampu bersaing menyambut pasar. Apalagi pasar bebas juga memberikan nilai yang sama terhadap harga total material atau komponen. Artinya, yang membedakan antara satu produk dengan produk yang lainnya terletak pada perusahaan yang memberikan nilai tambah dan keunggulan pada produknya. “Kalau harga hardware komputer di seluruh dunia sama, yang membedakan adalah software yang ditanam di dalamnya,” tandasnya.

Murni Bangsa Indonesia

Ir. Purnomo Hariprianto adalah lulusan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang tahun 1988. Sulung dari lima bersaudara pasangan Suwarno dan Sundari ini setelah kuliah bekerja di PT Bisma Indra di Surabaya. Perusahaan rekayasa rancang bangun dan manufacture  tersebut memberikan dasar profesionalitas yang baik bagi kariernya di kemudian hari.

“Di situ, saya pertama kali bekerja langsung bertemu expert dari negara lain. Karakter bekerja terbentuk di situ, seperti bagaimana bekerja, mempersiapkan dokumen, satu hasil karya dalam menghasilkan pekerjaan yang benar, mudah di-maintenance dan lain-lain. Pokoknya kami dapat ilmu dari expert-expert tersebut,” ungkapnya.

Dari Surabaya, Purnomo kemudian bergabung dengan PT LEN Industri di Bandung. Kali ini, ia bekerja pada tim dalam bidang sistem persinyalan dan traksi. Setelah 12 tahun bekerja di perusahaan ini, ia diajak rekannya untuk mendirikan perusahaan dengan fokus pada system integrator di bidang DC traction substation untuk sistem perkeretaapian.

Purnomo menjelaskan bahwa DC traction substation sudah ada sejak zaman Belanda. Secara prinsip antara substation zaman dahulu dengan sekarang masih sama. Hanya saja, dengan kemajuan teknologi seperti sekarang ini perusahaan mengeluarkan suatu model substation yang baru, mudah dirawat dan bersifat smart.

“Artinya alat itu bisa memberitahu keadaan dirinya sendiri. Bagaimana kondisinya apakah rusak, terjadi masalah di mana, dia bisa melaporkan dengan detail. Semua engineering dan integrasi alat ini murni tenaga asli Indonesia sendiri. Meskipun memang pada saat ini  kita membeli barang dari luar, karena keterbatasan peralatan dan perlengkapan yang secara ekonomis lebih menguntungkan membeli. Karena kalau kita produksi di sini, memerlukan investasi yang sangat mahal, sementara pekerjaan yang kami kerjakan belum besar,” ujarnya.

Menurut Purnomo, komponen yang khusus adalah High Speed Ciruit Breaker, HSCB. Komponen ini memiliki sifat yang sangat khusus, yakni dapat memutus arus dengan sangat cepat apabila terjadi gangguan. Partner perusahaan kami adalah Secheron, Swiss, yang memiliki pabrik di Ceko. Secheron sudah seratus tahun lebih mengembangkan teknologi ini, sejak 1879. Artinya, perusahaan tersebut telah membuat komponen yang sejenis sejak lebih dari satu abad.

“Makanya kita putuskan untuk membeli dari mereka dan sekaligus kami menjadi distributor di Indonesia. Untuk itu, kami diberi otoritas begitu barang sampai di sini bisa di re-engineering dan digabungkan dengan unit apapun sesuai dengan desain kita. Makanya total substation yang kami kerjakan di Jakarta merupakan desain dari kita,” tutur suami Erna Sri Sugesti, seorang dosen di Intitut Teknologi Telkom Bandung ini.

Purnomo mengakui, ia bertanggung jawab terhadap electrical engineering secara keseluruhan dari substation produk perusahaan. Meskipun untuk bagian yang lain perusahaan menggandeng kerjasama dengan perusahaan lain di Indonesia. Kerjasama ini telah menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan dengan kualitas yang unggul karena setiap perusahaan bekerja sesuai dengan kompetensi masing-masing.

Menurut Purnomo, kerjasama seperti inilah yang membuat produk-produk dari China dibanderol dengan harga murah. Orang-orang di negeri tirai bambu tersebut bekerja sesuai dengan keahlian dan kompetensi masing-masing. Perusahaan besar tinggal memesan dan menggabungkan hasil kerja perusahaan lain untuk keperluan produksinya. Teknik ini berguna untuk menyiasati tingginya biaya investasi apabila semua dikerjakan sendiri dari hulu ke hilir.

“Biarkan masing-masing bekerja sesuai dengan kompetensinya. Kami juga seperti itu, menggabungkan perusahaan lain sesuai dengan keahlian masing-masing. Jadi kita sudah punya jaringan yang siap membantu pekerjaan kita dan kami sangat mengutamakan pembentukan partnership ini. Karena kami juga ingin, kalau perusahaan ini tumbuh mereka juga tumbuh bersama kami,” tuturnya.

Dukungan Pemerintah Besar

Ir. Purnomo Hariprianto menjelaskan bahwa saat ini terjalin kerjasama harmonis antara perusahaan dengan pemerintah Indonesia. Di mana pemerintah melalui Departemen Perhubungan adalah sedang giat mengembangkan perkerataapian di Indonesia. Untuk saat ini, peralatan produksi perusahaan diperuntukkan bagi sistem kereta rel listrik (KRL) sehingga hanya untuk wilayah Jabodetabek saja.

“Tetapi tidak menutup kemungkinan pemerintah mengembangkan KRL ke Bandung, Surabaya, Medan dan lain-lain. Karena saat ini moda angkutan kereta api tetap yang paling murah, massal ribuan orang terangkut secara serentak, hemat, tidak polusi dan tidak macet,” ujarnya.

Kerjasama yang terjalin antara perusahaan dengan pemerintah, menurut Purnomo, saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Bahkan kalau ditelusuri lebih jauh bisa menguntungkan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Karena pemerintah membutuhkan kontraktor untuk membangun infrastruktur, sementara perusahaan menawarkan jasanya untuk kelangsungan usaha. Dengan memberikan proyek kepada perusahaan Indonesia, artinya dana yang dikeluarkan pemerintah untuk membangun infrastruktur akan kembali ke masyarakat.

“Tidak hanya infrastruktur yang dimanfaatkan, bahkan dana yang dikeluarkan untuk membangunnya pun kembali ke orang Indonesia sendiri. Jadi tidak dibawa keluar negeri karena dikerjakan oleh kontraktor asing, karena SDM kita pun sudah mampu. Itu merupakan bentuk dukungan pemerintah yang cukup bagus bagi kami yang diberi kesempatan untuk maju dengan diberi pekerjaan. Tetapi semua tetap dalam koridor yang benar, artinya kami juga ikut tender segala,” tuturnya.

Perusahaan dalam group PT Citra Gemilang Apik, lanjut Purnomo, juga menjalin kerjasama dengan PT INKA yang merupakan integrator kereta api di Indonesia. Sementara kompetensi perusahaan di bidang electrical untuk membangun jaringan catenary dan substation. “Jadi ketika PT INKA membutuhkan kontraktor yang sesuai dengan kompetensi kami, mereka menghubungi kami. Begitu,” katanya mengenai kerjasama dengan perusahaan yang berpusat di Madiun tersebut.

Meskipun menghadapi pasar bebas, Purnomo tetap optimis dan berharap generasi muda mengikuti jejaknya. Ia mengimbau agar mereka memiliki kompetensi tertentu yang bisa dijadikan tumpuan menyongsong masa depan. Mereka juga tidak boleh egois dengan mengerjakan semua hal secara sendirian tanpa mengikut setakan orang lain. Karena untuk sukses, generasi muda muda harus menjalin jaringan/network seluas-luasnya.

“Kompetensi dan network adalah kunci sukses. Kalau modal dana, asalkan memiliki network pasti akan ada yang membantu. Karena itu dibutuhkan keberanian untuk memulainya. Jangan bingung dan berpikir bagaimana mendapatkan modal atau capital. Yang jelas, modal sudah kita bawa ke mana-mana. Yaa.. keahlian itu adalah kapital kita untuk maju dan sukses. Jangan disia-siakan,” ujar pria yang bercita-cita menjadi insinyur ini memotivasi generasi muda. “Kalau menjadi pengusaha dan profesional hanyalah jalan untuk mencari nafkah saja,” imbuhnya menutup pembicaraan.

Nyoman Wana Putra, BA

No Comments

Nyoman Wana Putra, BA
Presiden Direktur PT Taman Sari Wisata Bahari

Perintis Pengembangan Wisata Bahari di Bali

Bali dikenal sebagai tujuan wisata dunia sejak zaman dahulu kala. Keindahan panorama alam dan budaya Bali yang sangat eksotis menjadi daya tarik tersendiri. Tidak heran, di luar negeri Bali bahkan lebih terkenal dari pada Indonesia.

Eksotisme alam dan budaya Bali membuat provinsi ini dijuluki sebagai Pulau Dewata. Setiap daerah di wilayah ini menjadi sangat menarik bagi wisatawan, sehingga “apapun” yang berada di pulau ini bisa “dijual” sebagai daerah tujuan wisata. Tinggal bagaimana pengusaha dan pengelola suatu wilayah mengemasnya menjadi daerah tujuan wisata yang memikat.

“Akhir tahun 1970-an di wilayah Sanur mulai terlihat potensi dan kondisi perekonomian masyarakat semakin membaik. Penggeraknya adalah pembangunan hotel di kawasan PTDC, Nusa Dua. Dengan ekonomi Indonesia yang mulai membaik, Bali dikedepankan sebagai penyangga pariwisata dunia. Melihat peluang tersebut, saya kemudian merintis desa wisata yang memiliki potensi wisata bahari dengan kekayaan terumbu karang dan lautnya,” kata Nyoman Wana Putra, BA, Presiden Direktur PT Taman Sari Wisata Bahari.

Bersama teman-temannya, ia mengembangkan sebuah resort di pulau kecil tempat penyu mendarat dan bertelur. Selain itu, layanan bagi wisatawan untuk melakukan parasailing, snorkeling, diving dan wisata laut lainnya pun disediakan. Dengan semakin majunya perkembangan wisata di wilayah tersebut, ia harus mendatangkan instruktur dari Australia.

Dari Sanur, Nyoman Wana Putra kemudian mengembangkan tujuan wisata baru di Benoa pada tahun 1985. Lulusan ASMI Denpasar ini kemudian membuka dan mengembangkan wisata bahari di wilayah dengan pasir putih dan terumbu karang yang sangat menawan tersebut. Kekayaan alam yang ditawarkan mendapat sambutan hangat dari wisatawan asal Australia, Jepang, Taiwan dan Eropa. “Kalau wisatawan domestik masih sangat jarang. Tetapi belakangan kita juga banyak menerima wisatawan dari Arab,” tuturnya.

Melihat sepak terjang Nyoman Wana Putra yang sangat gigih dalam memperjuangkan wisata, masyarakat di sekitar Benoa memilihnya sebagai Kepala Lingkungan. Dengan mendapat kepercayaan dari masyarakat tersebut, ia terus mengembangkan desa bahari untuk kemajuan pariwisata di daerahnya. Tahun 1992, ia mendirikan PT Taman Sari Wisata Bahari yang fokus pada layanan snorkeling dan restoran.

Perkembangan usaha yang dirintis bersama teman-temannya tersebut berkembang dengan pesat. Karena kesibukannya, Nyoman Wana Putra  memutuskan untuk berhenti sebagai kepala lingkungan pada tahun 2000. Tetapi tidak hanya berhenti di situ, ia berjuang memekarkan lingkungan tempat tinggalnya menjadi satu satu kelurahan baru. Usahanya mendapat dukungan luas dari masyarakat sehingga terbentuklah kelurahan Tanjung Benoa.

“Setelah itu saya bisa konsentrasi untuk menekuni bisnis wisata bahari. Meskipun tampil apa adanya, tetapi masyarakat memilih saya sebagai Wakil Pendesa Adat. Pendesa Adat adalah ketua adat yang sejak sebelum kemerdekaan sudah ada di Bali. Tugas Pendesa Adat memacu dan mendongkrak teman-teman pengusaha untuk terus mengembangkan wisata bahari sehingga dicintai juga oleh wisatawan domestik. Usaha itu menuai hasil sehingga turis domestik tidak merasa berlibur di Bali sebelum merasakan water spot ini,” kata pria yang terpilih sebagai Pendesa Adat sejak tahun 2006 ini.

Dalam menjalankan tugas sebagai Pendesa Adat, Nyoman Wana Putra tidak hanya memacu kemajuan wisata bahari. Ia juga mengupayakan kerukunan antar umat beragama yang berada di wilayah tugasnya. Karena tidak bisa dipungkiri, dengan semakin pesatnya kemajuan wisata yang menggerakkan perekonomian, banyak berdatangan masyarakat dari wilayah lain untuk mencari pekerjaan.

Sebagai warga Bali yang egaliter dan terbuka, Nyoman Wana Putra tidak menampik kehadiran warga pendatang. Bahkan, ia merasa sangat terbantu dengan kehadiran mereka yang bekerja di sektor informal. Tidak heran, ia dan warga Bali lainnya berharap saat Lebarang tiba para pendatang tidak menghabiskan masa liburan mudiknya dengan berlama-lama di kampung halaman masing-masing.

“Wah susah kita kalau mereka tidak ada. Karena kita di sini saling bahu membahu, saling membantu tanpa melihat latar belakang agama sehingga tidak pernah terjadi gesekan. Apalagi, sejak dahulu Tanjung Benoa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh tiga agama, Islam, Hindu dan Buddha,” tegasnya.

Pada hari-hari besar keagamaan masing-masing agama, Nyoman Wana Putra selalu mengadakan koordinasi sehingga tercipta kondisi yang kondusif. Silaturahmi antara pemeluk agama yang berbeda pun tetap terjalin sehingga semua dapat hidup berdampingan secara harmonis. “Kita saling mendoakan tanpa pelecehan. Walaupun kepercayaan berbeda-beda tetapi semua tetap yakin bahwa Tuhan adalah satu. Perasaan seperti itu sudah menjadi milik masyarakat dalam kelurahan Tanjung Benoa,” tandasnya.

Tidak heran, dengan toleransi beragama yang sangat kental seperti itu, perkawinan silang antar agama pun tidak menjadi persoalan yang rumit. Pasangan yang ingin menikah mendapat kebebasan untuk memilih dan berpindah agama sesuai keyakinan masing-masing. Masyarakat tidak pernah mempermasalahkan misalnya seorang pria Islam memperistri wanita Hindu atau sebaliknya. Begitu juga dengan perkawinan antara pemeluk agama yang lain.

“Semua berdasarkan suka sama suka dan cinta-sama cinta. Kita menyadari bahwa cinta itu turun dari Tuhan dan bukan kehendak manusia. Kalau sudah suka sama suka, kita serahkan kepada mereka mau masuk agama apa saja terserah. Itu yang saya bangun di desa adat Tanjung Benoa, bersaudara antara pemeluk Hindu, Buddha dan Islam. Tahun 1970-1976 datang orang-orang dari Flores yang beragama Kristen dan bergabung bersama kami untuk bertahan hidup sampai sekarang,” katanya.

Dukungan Pemerintah Besar

Menurut Nyoman Wana Putra, pemerintah sangat mendukung pengembangan dunia pariwisata di Bali. Apalagi Bali terbukti menjadi tujuan utama wisatawan mancanegara yang mendatangkan devisa yang besar bagi negara. Selain itu, Bali juga tetap menarik bagi kunjungan wisatawan domestik yang ingin menikmati wisata bahari.

“Pemerintah sangat mendukung, terutama pemerintah Badung dan provinsi Bali. Setiap tahun, pengusaha restoran, perhotelan dan pariwisata lainnya mengikuti promosi secara langsung di tingkat nasional maupun internasional.  Kami juga berterima kasih karena stasiun TV juga banyak menayangkan obyek wisata yang kami kelola,” ungkap Ketua DPC Gahawisri (Gabungan Pengusaha Wisata Bahari) Kabupaten Badung ini.

Bantuan pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Badung sangat dirasakan penggiat wisata bahari seperti Nyoman Wana Putra. Melalui lembaga tersebut pengusaha di bidang pariwisata mengetahui kelemahan dan kekurangan masing-masing. Terutama mengenai kekurangan dalam pelayanan yang dirasakan oleh para pengguna jasa di lapangan sehingga dapat dikoreksi untuk perbaikan. “Karena seluruh komplain dari wisatawan ditampung di dinas tersebut,” tambahnya.

Pemerintah juga sangat berperan besar dalam memulihkan kondisi pariwisata Bali pasca serangan Bom Bali I tahun 2001. Selain promosi besar-besaran, pemerintah terutama pihak keamanan mengadakan kerjasama dengan Pecalang atau petugas keamanan adat yang dimiliki setiap desa di Bali. Setelah Bom Bali II tahun 2005, sistem keamanan antara pecalang dan pihak kepolisan semakin ditingkatkan dalam mencegah dan mewaspadai terjadinya serangan teroris.

“Dari situ tercipa sebuah sistem dalam suatu taksu yaitu Taksu Bali yang disebut dengan Pengamanan Pecalang. Di mana Pecalang dilengkapi dengan perlengkapan sarana adat untuk pengamanan. Kita tidak mengadakan sweeping tetapi sidak yang terkesan lebih manusiawi. Yakni pendekatan untuk mengetahui kelengkapan data, keperluan kedatangan ke Bali dan lain-lain,” ungkapnya.

Sidak gabungan, lanjut Nyoman Wana Putra, biasanya dilakukan antara pecalang bersama pihak kepolisian. Pendatang yang jelas tujuannya diajak dan disarankan untuk mengikuti kata pepatah bahwa “di mana bumi dipijak, di situlah langit dijunjung.” Semua itu menunjukkan bahwa warga Tanjung Benoa dan Bali pada umumnya menginginkan kedamaian dan kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Secara khusus, sebagai Pendesa Adat ia memohon kepada para pendatang untuk mengikuti aturan yang disebut Awig-Awig.

“Para pendatang silakan mengais rezeki di wilayah kami, namun tolong menunjukkan identitas yang jelas untuk dicatat. Karena kami menempati wilayah Tanjung Benoa ini dengan mengedepankan kerukunan dan kedamaian. Kami secara rutin mengadakan pertemuan untuk mengevaluasi situasi dan kondisi di daerah kami. Semua perwakilan agama dihadirkan, sehingga sekecil apapun permasalahan kami selesaikan secepatnya. Apapun yang terjadi, apakah itu kematian, kelahiran, perkawinan dan lain-lain, selalu terkontrol serta terkendali,” ujarnya.

Nyoman Wana Putra menerapkan hal tersebut pada perusahaan yang didirikannya, PT Taman Sari Wisata Bahari. Dari 54 SDM yang dipekerjakannya –mulai tingkat manager sampai staf- terdiri dari orang-orang dari seluruh wilayah Indonesia dengan keragaman budaya serta keyakinan yang dianut. Dilandasi oleh kenyataan bahwa Indonesia memiliki pulau yang luar biasa banyak dengan garis pantai yang sangat panjang, memungkinkan untuk mengembangkan potensi wisata bahari lebih besar.

“Itu merupakan potensi yang sangat luar biasa dalam wisata bahari. Makanya, meskipun pendidikan mereka kurang, tetapi kami training agar menjadi bekal sebagai bahan untuk mengembangkan daerah masing-masing. Banyak di antara mereka yang sudah mampu berdiri sendiri setelah kami didik di Bali. Mereka kami didik sebagai kapten, crew driver dan lain-lain. Nah, kalau mereka mampu dan daerah asalnya memungkinkan, mereka akan mengembangkan wisata bahari di daerah sendiri. Syaratnya mereka harus memiliki niat yang baik, jujur dan berkemauan keras untuk belajar,” tegasnya.

Jangan Menjadi Kuli

Sukses mengembangkan wisata bahari, membuat Nyoman Wana Putra berharap dapat melebarkan sayap bisnisnya. Apalagi potensi wisata bahari di Indonesia dengan ribuan pulau sangat menarik untuk dijadikan obyek wisata karena tersebar di seluruh garis pantai Indonesia. Peluang untuk berkembang sangat terbuka lebar dan tidak hanya mengandalkan pulau Bali semata.

“Kita harus mengembangkan pesisir lain di Indonesia sehingga saya bisa membuka cabang di daerah lain. Bahkan kita juga bisa mengembangkan wisata bahari di seluruh Indonesia, karena Indonesia terkenal dengan laut dan terumbu karangnya. Banyak potensi wisata bahari yang bisa kita jual, kenapa kita tidak bisa kembangkan. Karena sumbangan dari pariwisata cukup besar bagi pendapatan negara,” tandasnya.

Dengan pengembangan wisata pantai di seluruh Indonesia, lanjutnya, berarti terjadi pemerataan pembangunan. Kesejahteraan tidak hanya dinikmati oleh masyarakat perkotaan tetapi juga di daerah-daerah. Dengan begitu tidak perlu terjadi masyarakat yang berbondong-bondong menjadi TKI ke luar negeri atau “merantau” ke Jakarta, yang menambah keruwetan ibukota. Majunya pariwisata daerah, juga mencegah pemindahan ibukota negara ke kota lain.

“Karena pemindahan ibukota negara ke luar Jakarta bukan solusi mengatasi permasalahan. Yang penting adalah pemerataan pembangunan sehingga tidak semua orang tertarik untuk mengadu nasib di Jakarta. Kalau di pusat hanya sekadar mencari pengetahuan atau sistem untuk dikembangkan di daerah. Bukan disikapi dengan memindahkan ibukota, kalau begitu kita mundur lagi, dari awal lagi,” ungkapnya.

Pemindahan ibukota, menurut Nyoman Wana Putra akan mengubah tatanan sejarah yang telah dibangun oleh para pendiri bangsa dengan tetesan darah, air mata dan keringat. Indonesia tidak perlu meniru Malaysia yang memindahkan ibukota negaranya, karena memiliki karakter yang berbeda. “Jangan sekali-sekali mengubah jalannya sejarah. Mungkin kita perlu duduk bersama antara pusat dan daerah agar saling memahami keinginan masing-masing,” kata ayah empat anak ini.

Semangat untuk melestarikan sejarah dan budaya sendiri, jelasnya, harus dimiliki oleh generasi muda penerus bangsa. Di tangan mereka terletak masa depan bangsa menuju Indonesia yang lebih baik. Sikap tanpa melupakan sejarah dan budaya Indonesia, generasi muda akan maju dengan karakter bangsa sendiri. Ia berpesan agar setelah memiliki menyelesaikan pendidikan dan memiliki gelar, generasi muda tidak bermimpi untuk menjadi PNS atau karyawan.

“Kembangkan potensi yang ada dalam diri masing-masing. Kalau bisa menjadi raja -meskipun kecil- jangan jadi kuli. Kita dilahirkan dan hidup bukan untuk disiksa, tetapi berdiri di atas kaki sendiri. Dahulu kita hidup di zaman kerajaan, maka kitalah yang sekarang harus berpikir untuk menjadi raja. Mari kita kembangkan apa yang bisa dilakukan dengan menjadi entrepreneur di daerah masing-masing. Pemerintah juga harus menuntun generasi muda sehingga daerah berkembang sehingga kita semua sejahtera,” tegas Nyoman Wana Putra.

PT Taman Sari Wisata Bahari
Jl Konco No 9, Tanjung Benoa, Nusa Dua, Bali
Telp: (0361) 772583
Fax: (0361) 775242
Website: www.balimarinesport.com

DR. H Machmud Yahya

No Comments

DR. H Machmud Yahya
Buah Merah

Pantang Menyerah Karena Dikirim Allah Sebagai Khalifah

Allah SWT menakdirkan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Tugas manusia adalah menguasai dunia bukan dikuasai dunia, mengelola bumi untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan manusia menuju Al Haq Allah Azza Wa Jalla. Semua yang berada di atas bumi, udara, air, tanaman, hewan dan lain-lain serta yang terkandung di dalamnya diperuntukkan bagi kehidupan manusia sebagai bekal pengabdian kepada sang kholiq  Al Haq Allah Azza Wa Jalla.

Meskipun demikian, manusia tidak bisa begitu saja mendapatkan manfaat dari apa yang disediakan Allah di muka bumi tanpa usaha. Memerlukan usaha keras dan perjuangan bagi seorang manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Namun, salah satu ketetapan bahwa manusia untuk mengatur dunia sudah menjadi ketentuan Tuhan yang tidak bisa ditawar lagi dengan dua pilihan usaha kebaikan dan keburukan.

Seperti yang dilakukan oleh DR. H Machmud Yahya, pemilik usaha buah merah. Meskipun pabrik pengolahan buah merahnya baru saja “dibakar” pesaingnya ia tidak menyerah.  Ia bangkit dari kerugian yang mencapai miliaran rupiah itu untuk lebih mengembangkan usaha yang selama ini dijalaninya. Semua dijalaninya apa adanya dengan senang hati, karena yakin AllahSWT telah mengatur semuanya.

“Karena semua itu titipan Allah, meskipun rugi Rp3,7 miliar karena pembakaran pabrik itu, DR. H Machmud tetap ringan tanpa beban. Apalagi DR. H Machmud ini tipe orang yang pantang menyerah, karena merasa dikirim Allah sebagai khalifah dimuka bumi sesuai kedudukannya. Oleh karena itu, DR. H Yahya jalan saja pasti Allah memberi kekuatan. Dan DR. H Yahya tidak akan berhenti sebelum dihentikan. Karena DR. H Yahya tidak mampu berjalan sendiri tanpa ada kekuatan dari Allah SWT, La haulla wala quwata illa billah,” kata pria kelahiran Ponorogo, 6 Juni 1961 ini.

Meskipun tanpa mendapat bantuan dari pemerintah –sebelum dan sesudah pembakaran pabrik- DR.H Machmud jalan terus. Ia merencana-kan untuk membuat ekstrak kapsul buah merah yang lebih sempurna untuk meningkatkan khasiatnya. Memang, buah asli Papua tersebut terbukti mampu menyembuhkan berbagai penyakit, antara lain: Kanker, Ambient, Hipertensi, Stroke dan Jantung Koroner. Buah merah juga mampu menormalkan peredaran darah, gangguan pencernaan; Broonkithis, Hepatitis, Kolesterol, Maag, Asam Urat, Kista Rahim tanpa oprasi, Deabetis Militus Rematik,. Bahkan, buah merah mampu meningkatkan stamina, libido, gairah seksual dan meningkatkan daya tahan tubuh sangat baik untuk kesehatan Ibu Hamil miningkatkan daya ingat anak2 balita hingga lansia, meningkatkan daya tahan tubuh bagi penderita HIV/AIDS.

Sayangnya, minimnya modal dan  bantuan pemerintah –termasuk kredit perbankan- membuat DR.H. Machmud menunda pendirian pabrik ekstraksi buah merah di Tangerang. Ia sangat berharap agar bantuan pemerintah berupa dukungan dan dorongan terhadap usaha yang ditekuninya lebih besar. Agar pengusaha yang giat dan tidak pernah putus asa dalam mengembangkan potensi yang ada di Indonesia seperti dirinya terus bertahan. “Banyak sih yang saya harapkan dari partisipasi pemerintah,” katanya.

Buah Merah Mendunia

DR. H Machmud Yahya mengungkap-kan Khasiat buah merah dalam melawan berbagai penyakit, semakin dikenal orang. Buah yang berasal dari sejenis pohon pandanus conodius ini paling ampuh khasiatnya yang tumbuh di dataran tinggi Papua. Selain khasiat pengobatan, buah merah juga bisa dijadikan produk kosmetik –sebagai penghalus kulit dan pembasmi jerawat- serta sabun mandi.

“Disamping kosmetik, DR. H Macmud Yahya juga bekerjasama dengan produsen obat dari Jerman. DR. H Macmud Yahya diberi kepercayaaan untuk menyiapkan bahan baku berupa buah merah yang dikeringkan dengan menggunakan panas mata hari tidak langsung, untuk menghindari hilangnya sebagian kandungan buah merah, karena pengolahan di Indonesia belum bisa memenuhi kwalitas teknologi pengolahan dan teknologi Jerman lebih unggul maka jerman lebih memilih mendatang-kan bahan baku dari DR. H Machmud yahya yang sudah terpercaya dalam menjaga kualitasnya. Jerman melakukan uji klinis untuk penggunaan buah merah dalam menanggulangi penyakit radang usus hingga infeksi usus dengan cermat sehingga penderita penyakit tersebut dalam penyembuhan tidak perlu dilakukan dengan opresi. Hasilnya sangat baik dan luar biasa, penelitian yang mereka lakukan di Afrika, Malaysia, Pakistan dan India ternyata telah terbukti keberha-silannya hingga 9o% tanpa oprasi ,” produk yang dihasilkan akan di pasarkan tahun ini untuk memenuhi kebutuhan kesehatan warga indonesia terlebih dahulu dan kemudia akan di kembangkan ke manca negara ujar anak keenam dari delapan bersaudara pasangan  H M. Kamaluddin dan Hj Kasrumi ini.

Menurut DR. H Machmud, setelah pihak Jerman  mengakui bahwa potensi buah merah luar biasa dalam penyembuhan infeksi usus. Oleh karena itu ekspor kedua meningkat dari 200 kilogram menjadi 2 ton. Pihak Jerman mempercayai dirinya untuk memasok bahan baku, bahkan pihak jerman langsung  memberikan bantuan dana untuk memenuhi quota. Rencananya, pihak Jerman akan meminta kiriman Buah merah kering secara rutin sebesar 50 ton setiap tahunnya.

Dalam upaya memenuhi quota permintaan pihak jerman, DR. H Machmud  yahya berupaya keras membina petani di Papua. Kepada mereka dijelaskan potensi buah merah di masa mendatang  sangat menjanjikan. DR. H Macmud Yahya meyakinkan, dengan buah merah yang “go interntional” kesejahte-raan petani juga akan terangkat. Apalagi, buah merah dengan khasiat klinis tertinggi hanya bisa ditemukan di Papua.

“Produk tersebut sudah dipatenkan di Jerman. Artinya karena sulit masuk ke Indonesia, perusahaan akan memasarkan ke Eropa. Dengan pasar yang terus berkembang mendunia, kebutuhan buah merah semakin tinggi dan terus berkesinambungan. Apalagi kalau rencana membangun pabrik di Indonesia terealisasi, petani buah merah pasti akan menikmati hasilnya. Karena berapapun hasil panen buah merah akan terserap di pabrik tersebut,” ungkapnya.

Apalagi, di wilayah Papua penanaman buah merah tidak terlalu sulit. Karena tumbuh di habitatnya, dalam waktu dua tahun buah merah sudah menghasilkan buah yang siap dipanen . Dengan begitu, pasokan bahan baku tidak akan tersendat dengan kualitas barang terbaik. Yang dilakukan oleh H Machmud adalah menggerakkan potensi para petani untuk menanam buah merah. Mengingat potensinya yang sangat menjanjikan sehingga mampu meningkatkan perekonomian rakyat Papua.

“Kalau saya kerjakan sendiri pasti tidak akan mampu untuk memenuhi Quota yang diminta oleh pihak jerman, tetapi dengan satu keyakinan setiap langkah apapun yang seya kerjakan selalu bergantung dan berharap bantuan dari Allah yang Maha Perkasa lagi maha memberi kekuatan, maka apapun yang saya kerjakan pasti Allah yang selesaikan. Jadi saya tergantung kepada Allah dan merasa bahwa saya hanya ‘diperlakukan’ oleh kehendak-Nya. Setiap hari, apapun yang saya lakukan, yang saya ingat adalah ‘ini adalah pekerjaan Allah’ saya hanya diberi kepercayaan untuk mengurusi buah merah,” tegasnya.

Gali Potensi

DR. H Machmud Yahya, tidak kenal lelah berupaya mengeksploitasi potensi yang ada di tanah air. Minatnya yang beragam, membuat ia menyatu dengan kegiatan yang ingin ditekuni. Selain produksi buah merah, ia juga berkebun emas karena melihat limbah tambang besar di Papua masih terdapat emas yang berkwalitas sedikit demi sedikit mengumpulkan emas hasil pendulang oleh masyarakat papua dan dijadikan mas murni 24karat kemudian di jual dengan harga yang sama dengan harga emas dunia.   DR. H Macmud Yahya juga seorang produsen pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah secara alami. Bahan baku yang melimpah di lingkungannya -tumbuhan, kotoran hewan, dari limbah lain- mendorongnya untuk menekuni usaha ini yang benar-benar dapat meningkatkan pendapatan.

“Hasilnya, kesuburan tanah meningkat dan tanaman menjadi sehat, higienis dan tidak tercemar bahan kimia. Disamping itu, produksi pupuk organik bisa diandalkan untuk menanggulangi permasalahan sampah di Indonesia yang semakin sulit dikendalikan. Pupuk organik digunakan untuk memupuk tambak udang, bandeng, juga untuk ikan darat seperni lele dumbo, ikan gurami, ikan nila, belut dan lain sebagainya, dengan menambah pengembangan mikroba buatan sendiri dari rumen sapi limbah pemotongan hewan. Dengan Tambahan pupuk organik ini manfaatnya meningkatkan hasil panen  karena pupuk organik dapat menumbuhkan pakan alami sehingga mengurangi pakan buatan sampai 30 persen yang harganya relatif mahal,” tutur ayah empat anak hasil perkawinannya dengan Hj Siti Romlah ini.

DR. H Machmud Yahya juga mengembangkan sayap untuk bisnis lebah madu di Papua . Alasannya, biaya produksi bisnis lebah madu sangat kecil dengan keuntungan cukup besar. Penyebabnya, peternak lebah madu tidak pernah memberi makan karena lebah bisa mencari pakan sendiri. Tidak heran, tingkat keuntungan di bisnis ini mencapai 100 persen per tahun.

Dalam menjalankan usaha, DR. H Machmud Yahya juga “menabrak” kebiasaan-kebiasaan yang terjadi di masyarakat. Ini tampak ketika ia berkebun kelengkeng di lahan pinggir pantai yang menurut pandangan masyarakat awam tidak mungkin bisa hidup kalaupun hidup tidak mungkin akan berbuah karena menurut pendapat masyarakan awam klengkeng hanya bisa tumbuh dan berbuah di dataran tinggi. Ia juga menanam kelapa kopyor di saat tanaman kelapa penduduk sekitar terserang hama yang namanya wangwung, ternyata untuk mencegah hama cukup mudah teratasi dengan menggunakan kapur ajaip. Tidak segan-segan, ia terjun ke bisnis pembesaran kayu jati lengkap dengan penjualan bibit jati.

“Saya juga menanam pohon buah naga merah. Pokoknya, saya betul-betul menggali potensi yang ada di Indonesia. Kita menggali potensi apa saja yang tidak wajar menjadi wajar. Mau tidak mau kita harus menggali potensi yang benar-benar bermanfaat. Jadi orang Indonesia ini harus benar-benar kreatif untuk menggali potensi yang ada, hasilnya pasti luar biasa,” tegasnya.

Pada bisnis yang dijalaninya di Rembang, Jawa Tengah itu, H Machmud juga “mendobrak” mitos yang berkembang di tengah masyarakat. Di mana saat itu terdapat sebuah waduk Setampah yang tidak dimanfaatkan untuk pengairan pertanian penduduk karena dianggap angker menakutkan. “Wong Ponorogo” ini kemudian sengaja tinggal selama satu bulan setengah di tepian waduk siang dan malam, ada salah satu warga yang aslinya juga sangat penakut dengan mitos yang ada ikut menemani petualangan DR. H Machmud ya itu  mantan kepala desa Kumendung Rembang dengan bermodalkan tenda untuk berlindung dari panas dan hujan juga untuk tidur diwaktu malam. DR. H Macmud juga menebar bibit  Ikan lele di waduk Setampah  tersebut untuk membuktikan bahwa tidak ada yang angker atau menakutkan.

Masalah baru terjadi saat panen lele tiba. Masyarakat sekitar memprotes  dan mendemo kenapa waduk tersebut dimanfaatkan oleh satu orang saja, pendatang pula. Tetapi pengagum Nabi Muhammad SAW ini dengan tegas menyatakan bahwa apa yang dilakukannya hanyalah memberi contoh saja. Nanti selanjutnya –setelah keangkeran waduk setampah ini ditaklukkan, DR. H Macmud Yaha  mempersilakan masyarakat untuk meneruskan usaha tersebut.

“Saya hanya memberi contoh saja. Lihat dan lakukan apa yang saya lakukan, nanti silakan diteruskan. Akhirnya saya beli tanah di sekitar waduk Setampah seluas enam hektar untuk mengembangkan waduk Setampah sebagai tujuan wisata dan percontohan dalam bidang pertanian terpadu, yaitu pertaniaan, peternakan, Perikanan dan perkebunan organik guna mendukung program pemerintah dalam meningkatkan kesuburan tanah dengan bahan pupuk organik. Jangan berprasangka dahulu, karena saya hanya mengikuti Sabda Nabi Rasulullah Muhammad SAW, ‘Khoirunnaasi anfa’uhum linnas’ yakni sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Kalau saya sudah tidak ada manfaatnya bagi orang lain, lebih baik ‘dimatikan’ saja,” ujarnya.

Khasiat Buah Merah

Buah Merah (Pandanus Conoideus) adalah tanaman khas spesifik atau endemik yang tumbuh di dataran tinggih Papua. Tanaman buah merah termasuk tanaman keluarga pandan dengan pohon menyerupai pandan. Namun tinggi tanaman dapat mencapai 4 m dengan tinggi batang atas cabang sendiri setinggi 1-2 m yang diperkokoh akar-akaran tunjang pada batang sebelah bawah. Bentuk buah berbentuk lonjong dan buah tertutup daun pandan. Buah merah sendiri panjang buahnya mencapai 55 cm diameter 10-15 cm dan bobot mencapai 8-10 kg, warna buah saat matang berwarna merah marun terang.

Adapun penelitian tentang khasiat buah merah pertama kali dilakukan oleh Dosen Universitas Cendrawasih yaitu Drs. I Made Budi M.S, Sebagai ahli gizi dan dosen Universitas Cendrawasih sempat mengamati secara seksama kebiasaan masyarakat tradisional di Wamena, Timika dan desa-desa di kawasan pegunungan Jayawijaya yang mengkonsumsi buah merah sebagai obat cacing, penyakit kebutaan, dan penyakit kulit.

Selain itu pengamatan atas masyarakat lokal berbadan lebih kekar dan berstamina lebih tinggi, pada hal kehidupan sehari-hari secara asli tradisional yang serba terbatas dan terbuka dalam berbusana dalam kondisi alam yang keras serta cuaca cukup dingin di ketinggian pegunungan Jayawijaya. Keistimewaan fisik penduduk lain yakni jarang terkena penyakit degeneratif seperti: hipertensi, diabetes, penyakit jantung dan kanker.

Penyakit yang terbukti dapat disembuhkan oleh khasiat buah merah adalah sebagai berikut:

1.    AIDS
Walaupun para ahli telah bertahun-tahun mencoba membuat obat untuk menyembuhkan AIDS tetap saja obatnya masih belum ditemukan. Kemampuan buah merah menyembuhkan AIDS adalah karena buah merah mengandung tokoferol dan betakaroten yang sangat tinggi. Kedua kandungan ini berfungsi sebagai antioksidan dan dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Tokoferol dan betakaroten akhirnya berkombinasi untuk memecah asam amino yang dibutuhkan oleh virus penyebab AIDS, HIV, sehingga virus tersebut tak dapat melangsungkan hidupnya.

2.    Kanker dan Tumor
Khasiat lain buah merah adalah mengobati kanker dan tumor. Buah merah dapat mengobati kanker karena kandungan tokoferolnya sangat tinggi, yaitu mencapai 11.000 ppm dan betakarotennya mencapai 7.000 ppm. Kedua senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh serta mencegah pembiakan sel-sel kanker.

3.    Stroke dan Darah Tinggi
Stroke disebabkan oleh darah yang membeku dan penyempitan pembuluh darah. Buah merah mengandung tokoferol yang dapat mengencerkan darah dan memperlancar sirkulasi darah sehingga kandungan oksigen dalam darah menjadi normal.

4.    Asam Urat
Asam urat disebabkan karena terganggunya fungsi lever sehingga lever memproduksi asam urat secara berlebihan. Tokoferol dalam buah merah mengencerkan darah dan memperbaiki sistem kerja lever. Sistem kerja lever, setelah diperbaiki, memproduksi kadar asam urat yang normal.

5.    Diabetes Mellitus (Kencing Manis)
Penyakit ini disebabkan karena kelenjar pankreas tidak mampu memproduksi insulin dalam jumlah yang memadai. Akibatnya, kandungan gula dalam darah meningkat. Kandungan tokoferol dalam buah merah memperbaiki kerja pankreas sehingga fungsi pankreas menjadi normal kembali.

6.    Osteoporosis
Disebabkan pengeroposan tulang, osteoporosis disebabkan oleh kekurangan kalsium. Penyakit ini umumnya menyerang mereka yang sudah berusia senja. Buah merah kaya akan kalsium sehingga dapat mencegah dan mengobati osteoporosis. Dalam 100 gram buah merah segar terkandung 54.000 miligram kalsium.

7.    Gangguan Mata
Kandungan betakaroten yang tinggi dalam buah merah dapat mengatasi banyak jenis penyakit mata yang disebabkan kekurangan vitamin A. Betakaroten diserap oleh tubuh dan diolah menjadi vitamin A.

8.    Meningkatkan Kecerdasan
Kandungan omega 3 dan omega 9 dalam buah merah dapat merangsang daya kerja otak dan meningkatkan kecerdasan. Oleh karena itu buah merah cocok untuk dikonsumsi oleh anak-anak.

9.    Meningkatkan Gairah dan Kesuburan
Buah merah, menurut mereka yang mengkonsumsinya, dapat membantu meningkatkan gairah seksual kaum pria. Efek pengobatan bervariasi, ada yang bereaksi setelah 15 menit meminumnya, ada juga yang setelah satu atau dua jam meminumnya.

UNTUK MENDAPATKAN YANG ASLI  PRODUKNYA BUAH MERAH
HUBUNGI KAMI :

DR.H. MACHMUD YAHYA
HP.O81344201309.
TLP, (021)8745392.

Kus Marindi

No Comments

Kus Marindi
PT Intipratama Groups

Perjuangan mengejar mimpi,

Perjalanan hidup Kus Marindi, pemilik PT Intipratama Group sangat panjang dan berliku, hambatan dan perjuangan yang mewarnai hampir di separuh hidupnya dijalani dengan penuh harapan dan keikhlasan. Kesadaran untuk memperjuangkan nasib dan  kehidupannya telah tumbuh sejak dirinya masih belia. Sekolah, saat itu merupakan pintu gerbang untuk membuka cakrawala hidup baru yang lebih baik.

Dilahirkan sebagai anak kedua dari tujuh bersaudara, Kus Marindi dibesarkan dalam lingkungan keluarga petani di sebuah kampung di antara Sungai Bengawan Solo dengan jalan Raya kota Surabaya dan kota Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Rumah tempat dirinya dilahirkan cukup jauh dari jalan beraspal yang ada disekitarnya hanya tambak dan sawah yang terhampar sangat luas. Didaerah tersebut pada masa itu pandangan masyarakat akan pendidikan umum sangat kurang diperhatikan dan lebih cenderung ke Pesantren  (pendidikan agama)

Padahal Bapaknya termasuk orang berpendidikan  pada masanya, sebagai land lord  dan pejabat pamong desa cukup  berpengaruh dikampungnya , setelah behenti bekerja lebih konsentrasi mengelola sawah termasuk tambak dan ladangnya setiap hari hanya bekerja dan bekerja mungkin termasuk kerja maniak sebagai imbalannya secara ekonomi lebih baik  dari tetangganya.
Bahkan masih saya ingat pada saat saya masih kecil banyak sekali orang-orang yang ikut tinggal dirumah, saya pikir mereka tidak digaji hanya ingin menumpang hidup, makan dan tinggal saja.
Maklum masa itu ekonomi sangat sulit.

Tidak heran, setelah lulus dari Sekolah Rakyat S.R. (sekolah Rakyat)  sekarang SD> (Sekolah Dasar) yang tidak jauh dari rumahnya di kampung, saya dilarang melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menegah Pertama (SMP). Karena sekolah tersebut yang paling dekat terletak sekitar sembilan kilometer dari rumah. Orang tua tidak mengizinkan saya melanjutkan sekolah, karena saya diharapkan melanjutkan mengurus sawahnya,” tutur pria kelahiran 13 Maret 1952 ini.
Sebenarnya saya cukup menyadari bahwa Bapak sudah lumayan berumur saat itu karena saat saya dilahirkan umurnya sudah sekitar 40 tahun, maklum termasuk terlambat punya anak tapi begitu lahir anak pertama berturut-turut lahir sampai 7 bersaudara.
Termotivasi oleh kakaknya yang sudah melanjutkan sekolah, Kus Marindi  berusaha dengan segala cara agar mendapatkan kesempatan yang sama. Meskipun terjadi negosiasi  sangat alot, tetapi akhirnya permintaannya untuk bersekolah dikabulkan dengan fasilitas berbeda. Kakaknya sekolah di kota dan indekos karena jarak antara kampung dan sekolahnya cukup jauh sekitar dua puluh kilometer.

Sedangkan Kus Marindi harus menerima untuk sekolah di Sekolah teknik Negeri (STN.) yang terdekat. jaraknya pun terbilang cukup jauh yang harus ditempuhnya dengan sarana transportasi berupa sepeda ‘onthel’. Jalanan yang harus dilewati berupa jalan desa / jalan tanah yang belum diperkeras dengan aspal, sehingga bila musim hujan jadi becek tapi bila musim kemarau seperti layaknya  racing road saja..  Tak jarang sepeda yang seharusnya saya naiki gantian menjadi saya panggul karena tidak mungkin sepeda bisa jalankan.

Kadang terasa sedih sekali, karena di saat anak sebaya saya masih nyenyak tidur dan bermimpi, saya harus berjalan kaki ke sekolah. Selama perjalanan pun, saya tidak memiliki teman dan tanpa bantuan,” ungkapnya.

Perjalanan pulang pun dilaluinya dengan ritme yang sama. Cuaca yang tidak menentu, membuat ia sering salah perkiraan. Akibatnya, seringkali kakinya sakit karena menginjak Lumpur yang telah mongering yang memang  tanpa alas kaki menginjak tanah keras akibat terik sinar matahari. Padahal, ia memperkirakan hari akan turun hujan sehingga tidak menggunakan sepeda. Kus Marindi sering ingin menangis dikarenakan rasa lapar , capek dan panas atau dinginnya hujan hingga baru sampai di rumah rata-rata pukul 16.00.

“Pada masa akhir tahun 1965, saat rame-ramenya peristiwa G30S/PKI masalahnya menjadi lebih runyam. Jalanan menjadi tidak aman bagi orang-orang atau anak-anak yang berjalan di saat petang. Saya tidak mengerti apakah orang tua bisa tidur nyenyak bila saya tidak pulang atau terlambat pulang pada situasi genting seperti itu. Hampir setiap pagi saya jumpai mayat tergeletak di pinggir jalan, di dalam parit, sungai atau di ladang jagung. Memang mengerikan, tapi karena setiap hari saya jalani ya jadi biasa saja tanpa beban apa-apa,” ujarnya.

Menjelang ujian akhir STN., Kus Marindi terserang penyakit typus sangat parah. Ia menjalani perawatan di rumah sakit Lamongan hampir dua bulan lamanya. Bersamaan dengan waktu itu terjadi banjir besar akibat tanggul sungai Bengawan Solo yang jebol sehingga untuk mendapatkan obat untuk saya kakak harus jalan kaki ke Apotik di kota Gresik
Selama saya sakit Bapak hanya bisa mengunjungi saya dirumah sakit  sekali dan baru kali itu saya melihat bapak menangis melihati saya tergelatak sakit tidak berdaya sementara ibu saya tidak sempat sama sekali, saya sudah merasa pesimis tidak dapat menyelesaikan pendidikan STN. Ternyata Tuhan berkehendak lain, ia memberikan kesembuhan dan mampu mengikuti ujian akhir sekolah dengan baik. “Saya sudah berpikir bahwa perjuangan selama ini akan sia-sia.

Pengalaman bersekolah di STN. Yang demikian berat ternyata tidak menyurutkan keinginan untuk melanjutkan kembali walau dengan perjuangan yang tidak kalah beratnya.
Semula saya ingin tinggal bersama Mbah yang memang tinggal di Surabaya sedangkan biayanya akan saya cari sendiri ternyata keinginan saya hanya membuahkan kekecewaan karena mendapat jawaban yang kurang enak didengar, terpaksa cari tempat tinggal bersama orang lain yang gratisan.

Merantau ke Samarinda

Setelah tidak sekolah lagi pada  bulan September tahun 1970, Kus Marindi merasa sudah tidak nyaman lagi untuk hidup dan tinggal dikampung
sedangkan untuk bekerja, ia tidak tahu apa yang bisa dikerjakannya. Kalau pun harus pergi dari kampung halamannya, ia tidak tahu kemana kakinya harus melangkah.
Pada suatu hari ada teman saya bercerita katanya ada temannya yang baru pulang dari Samarinda dan akan balik lagi beberapa hari kemudian. Saya bilang, ingin dikenalkan dengan orang tersebut, karena dari cerita teman saya itu, kayaknya menarik sekali,” ujarnya.

Tidak lama kemudian, Kus Marindi berkenalan dengan tetangga kampungnya yang merantau ke Samarinda tersebut. Setelah berbincang-bincang, ia tahu bahwa orang tersebut menjalankan usaha berjualan rujak (pencok) di Samarinda. Namun, ia berpikir bahwa ada yang salah dari hidup orang yang menurut perkiraannya sudah berumur 50 tahun masih merantau untuk menghidupi keluarga. Tetapi ia tidak berani menanyakan alasannya takut menyinggung perasaan orang tersebut.

Dalam pembicaraan tersebut, keduanya sepakat untuk berangkat bersama-sama ke Samarinda. Tapi Ia merasa aneh karena orang tersebut meminta agar uang ticket naik kapal agar dia yang pegang. Ia memberi tahu bahwa uang tersebut masih menunggu hasil penjualan sepeda miliknya yang selama ini yang setia sebagai sarana transportasi ke sekolah.

Untung Kus Marindi belum menjual sepeda dan menyerahkan uangnya kepada orang tersebut. Karena setelah itu, datang orang bernama Junaidi yang sebelumnya juga tidak dikenalnya datang ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa orang yang akan diikuti ke Samarinda akan menipunya. Junaidi yang tahu rencana jahat orang tersebut menawarkan untuk pergi bersamanya saja.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, Kus Marindi akhirnya setuju untuk berangkat bersama Junaidi. Sehari menjelang keberangkatan, ia menjual  sepeda di pasar sepeda, Pasar Turi, Surabaya seharga Rp. 9.500,00. Dari hasil penjualan tersebut untuk beli tiket kapal kayu di pelabuhan Kalimas seharga Rp. 4,500.00. Sore itu, keduanya langsung naik ke kapal karena rencananya kapal akan berangkat berlayar subuh berikutnya..

“Naik kapal adalah pengalaman pertama saya. Tidak heran, ketika kapal bergoyang-goyang terkena gelombang besar, kepala saya pusing sampai muntah-muntah. Pengalaman sangat tidak menyenangkan ini diperparah dengan bunyi derit dinding kapal. Seolah-olah kapal yang terbuat dari kayu itu akan terbelah dan pecah di tengah laut. Terpikir di otak saya apakah perjalanan ini akan sampai tujuan ?” kenangnya.

Dalam perjalan berlayar tersebut berkenalan dengan seorang ibu yang berprofesi sebagai pedagang sayur antar pulau asal kota Malang. Pedagang tersebut manyanyai saya tujuan saya ke Samarinda dan saya bilang tidak punya siapa-siapa.
Akirnya menawari megajak saya kembali dan bekerja bersamanya di Malang daripada harus melanjutkan perjalan yang tidak jelas tujuannya.
Tetapi tekat saya sudah bulat ingin pergi jauh dari kampung halaman. Ibu tersebut sangat baik dan menawari untuk tinggal bersama saudaranya yang menetap di Samarinda,” tambahnya.

Tetapi Kus Marindi memilih untuk tetap bersama dengan Junaidi yang memang dari awal sudah bersamanya dan akan mencari tetangganya yang menjadi trasmigran pada tahun 1960 an  yang kabarnya sekarang berjualan palawija di Pasar Pagi Samarinda.
Setelah ketema kami diajak kerumahnya dan ternyata di rumahnya telah  menampung banyak orang-orang satu daerah. Mereka pada umumnya bekerja di sektor non formal seperti berdagang pencok, minyak tanah, sayur mayur, makanan dan lain-lain seperti pada umum pekerjaan orang-orang dari daerah tersebut.

Kus Marindi yang tidak memiliki pengalaman dan sedikit pendidikan, akhirnya bekerja membantu ibu induk semangnya di pasar pagi. Pekerjaan yang dilakukannya adalah mengangkat barang dagangannya, baik milik induk semangnya maupun orang lain. Ia merasa sangat mudah mencari uang di kota itu, karena untuk pekerjaan yang dikerjakan dengan asal-asalan dan mengandalkan tenaga saja upahnya cukup tinggi. “Dalam satu hari, saya bisa mendapatkan uang antara Rp. 5,000.00 sampai Rp. 6.000,00. Bahkan yang sudah pengalaman bisa mendapatkan lebih banyak lagi. Dalam sekejap, saya merasa menjadi jutawan karena setiap hari bisa manabung rata-rata Rp. 5.000,00. Itu lebih tinggi dari harga tiket kapal Surabaya ke Samarinda yang hanya Rp. 4.500,00 per orang,” katanya.
Ekonomi Samarinda saat itu memang sedang booming dikarenakan penebangan hutan yang sedang  marak lyar biasa dengan istilah banjir kap.

Bila mau turun keair mengangkat keranjang-keranjang bekas sayur yang dibuang ke Sungai Mahakam didalamnya pun yakin mendapatkan ikan sepat yang sangat besar dibandingkan dengan yang pernah saya lihat di Jawa.
Pada suatu hari salah satu dari teman yang tinggal bersama kedatangan isterinya dari kampong, mungkin dia sedang tidak punya uang padahal dia perlu duwit untuk keperluan keluarganya, rupanya sasaran pertama yang diincar adalah tabungan saya.
Ia sangat kecewa dan memutuskan untuk mencari pekerjaan lain, karena meskipun menghasilkan uang banyak, tetapi merasa bukan itu yang dicarinya jauh-jauh ke Samarinda.

Ia kemudian bekerja di perusahaan yang sedang mencari karyawan untuk pekerjaan survey perminyakan di daerah Sangkulirang, 500 km ke arah utara dari Samarinda. Sejak itu, ia mulai mengenal ganasnya rimba Kalimantan yang masih perawan. Hutan yang dikenalnya di pulau Jawa hanyalah semak-semak, namun hutan di sini sangat lebat sehingga cahaya matahari pun tidak mampu menembus dasar hutan.

“Pengalaman hidup dan bekerja di hutan seperti digigit pacet dan terkena malaria adalah pengalaman yang dialami setiap orang. Bahkan sempat terpikir, apakah saya pernah melihat kampung halaman saya lagi ? Genap satu tahun saya merasa hutan bukan tempat untuk mencari pengalaman yang baik. Saya memutuskan pindah ke Balikpapan dan mencari tetangga yang telah hijrah pada saat saya masih berumur 3 tahun dan tinggal di perumahan Pelabuhan Balikpapan. Saya ikut tinggal bersamanya untuk sementara waktu,” kisahnya.

Awal bekerja di Balikpapan adalah pengalaman paling pahit yang pernah dilaluinya. Ia diajak temannya untuk mengangkat pasir ke truk dengan upah Rp. 500,00 per hari. Kus Marindi hanya mampu bertahan satu hari dan malamnya, malaria kambuh kembali. Yang paling menyedihkan, gajinya yang  Rp. 500,00 itu dipinjam temannya dan tidak pernah dikembalikan.

Hari-hari berikutnya, Kus Marindi bekerja serabutan. Ia membantu temannya menjual gorengan, belajar kerja sebagai tukang las, menjadi penjaga malam dan bermacam-macam pekerjaan tidak tetap lainnya. Baru pada awal Januari 1972, ia kembali mendapat pekerjaan di perusahaan survey perminyakan. Kali ini ditempatkan sebagai tenaga helper atau pembantu pekerjaan kasar di PT  Delta Explorasi.

Walau hanya sebagai helper perasaan saya pekerjaan ini adalah pekerjaan terbaik yang bisa saya dapatkan hingga tahun 1974.
Mungkin karena jenuh dan tidak ada pengalaman baru, saya meminta izin keluar untuk mencari pekerjaan lainnya yang lebih menantang,” tuturnya.

Berbekal ijazah mengetik, Kus Marindi diterima bekerja di perusahaan pelayaran. Di sini, ia merasa menemukan pekerjaan yang sesuai dengan minatnya meskipun bergaji kecil. Ia sangat menyukai pekerjaan tersebut meskipun ketika terjadi pengurangan karyawan pada tahun 1976, ia adalah orang pertama yang diberhentikan.

“Jadi pengangguran selama kurang lebih 6 bulan akhirnya saya dapat pekerjaan di EMKU yang beroperasi di pelabuhan udara Sepinggan, Balikpapan. Gajinya lebih kecil lagi, tetapi saya merasa sangat senang dengan pekerjaan itu. Walau gaji kecil saya merasa bisa ketemu dengan banyak orang termasuk orang-orang asing yang berhubungan dengan import / export barang keperluan perminyakan,” tegasnya.
Saat orang-orang lain naik pesawat udara masih merupakan mimpi saya sudah keliling Indonesia bahkan keluar Negeri tanpa bayar tiket karena terbang dengan charter flight perusahaan.
Pada masa ini mungkin karena punya dana dan waktu saya ingin kembali menyelesaikan pendidikan saya yang terbegkelai.

Jalan Kesuksesan Terbuka

Kus Marindi menemukan jalan menuju sukses ketika terjadi kebakaran (blowout) di sebuah rig (sumur minyak) milik PT Total Indonesie di daerah Tunu, Samarinda. Kebakaran hebat itu terus berkobar hingga berhari-hari lamanya karena perusahaan tidak memiliki stock material pemadaman api. Untuk memadamkan kebakaran tersebut, material harus didatangkan dari Singapura.

“Saya diundang oleh orang bule dari PT Haliburton Indonesia untuk meng-handle pengiriman material pemadaman api dari Singapura ke Balikpapan menggunakan pesawat terbang. Saya sampaikan kepadanya bahwa saya tidak punya capital untuk pekerjaan tersebut. Lha, material yang diangkut jumlahnya mencapai sekitar 20 flight, tentu butuh dana besar untuk mebayar charter flight maupun import duty nya. Sementara saya nggak punya apa-apa,” katanya.  Itu terjadi pada tahun 1984.

Rupanya, Allah mulai memberikan jalan hidup yang lebih baik baginya. Sekian lama Kus menjalani kehidupan yang pas-pasan, tiba saatnya membuka cakrawala baru. Si bule, tetap memintanya membuat rincian perhitungan biaya yang diperlukan untuk proyek tersebut. Antara percaya dan tidak, semalam suntuk, tidak tidur  ia menghitung kebutuhan dana dan menuangkannya dalam sebuah proposal.

“Pagi harinya, saya kembali bertemu dengan si bule tersebut dengan rasa pesimis dan tidak tahu apa yang dipikirkan oleh sibule ternyata proposal saya disetujui.  Bahkan dia meminta  untuk segera memulai pengirimannya,” tegasnya.

Proyek perdana ini dikerjakan Kus Marindi selama kurang lebih 10 hari. Selama itu, ia bekerja keras siang malam berangkat pagi pulang pagi untuk memastikan pekerjaan selesai tepat pada waktunya. Hingga akhirnya, semua barang material pemadaman kebakaran rig sampai di Balikpapan dan diserahkan kepada PT Haliburton Indonesia. Meskipun sangat lelah dan capek, ia sangat puas karena klien pertama pada proyek pertamanya juga sangat puas.
Setelah semua clear saat itu saya bisa membeli mobil pertama saya.

Kesuksesan menggarap proyek tersebut, membuka jalan lebih luas bagi perjalanan karier Kus Marindi. Tak berapa lama, ia mendapat telepon dan tawaran kerjasama dari perusahaan jasa kargo, Airmark Group dari Singapura. Perusahaan tersebut menawarkan dirinya untuk menjadi agen di Balikpapan dan sekitarnya. Tawaran tersebut diterimanya dengan ragu tetapi  juga sangat berminat.

“Awalnya dipenuhi perasaan ragu, apakah saya mampu mengelola bisnis sendiri atau tidak. Tetapi menurut saya, ini tantangan menarik yang tidak boleh disia-siakan. Di perusahaan pertama yang saya dirikan bersama adik ipar, adik ipar saya menjadi direktur. Ternyata keberuntungan saya disini, usaha saya maju dan tumbuh dengan sangat baik, berkembang ke usaha peternakan, percetakan dan lain-lain,” ungkapnya. Usahanya terus berkembang dan tahun 1988, ia membentuk  PT Intipratama groups dengan bidang usaha utama berfokus ke logistik. “Meskipun ada juga perusahaan yang tidak berhubungan, tetapi tetap saling mendukung,” imbuhnya.

Kembali terulang saat itu rasa ingin tahu saya, apa yang dpelajari dipendiidikn tinggi terutana saya merasa tidak tahu formalnya ilmu managemen, ternyata apa yang diajarkan sudah saya kerjakan bahkan saya merasa lebih expert dari pada dosennya.

Hampir semua orang berbicara kalau mau bisnis harus ada modal dari pengalaman saya mengatakan untuk berbisnis modal utama adalah kerja keras, jujur, konsisten terhadap tujuan, kalau dipercaya orang lain modal akan ikut mengalir.

Saat ini, kegiatan usaha yang dikelola Kus Marindi dan berjalan dengan sangat baik meliputi SPBU, pabrikasi dengan bendera PT Intipratama Global Teknik, custom clearance, transportasi darat, laut dan udara dan pergudangan dengan PT Intipratama Mulyasantika. Kemudian ada juga Perusahaan Bongkar Muat (PBM) PT Intipratama Global Services dan terakhir yang dalam project PT Intipratama Bandar Kariangau, mengelola terminal Cargo / pelabuhan khusus.

“Walaupun ada beberapa usaha yang terpaksa ditutup karena tidak mamadai antara hasil dan kesibukannya. Seperti percetakan, peternakan , supplyer secara keseluruhan semua berjalan dengan sangat sehat dan tanpa / belum ada  pinjaman dari pihak manapun termasuk pihak Bank. Sebagai penutup, saya mengucapkan terima kasih kepada Allah Yang Maha Esa. Kau telah memberikan yang terbaik padaku semoga hikmah ini bisa bermanfaat buat keluarga, masyarakat dan negara,” katanya.