Tag: kalau

Kurnia

No Comments

Kurnia
CV Hazna Indonesia/Shasmira

Membangun Indonesia Menjadi Kiblat Fashion Muslim Dunia

Umat Islam semenjak zaman Nabi Muhammad SAW telah menentukan kiblat untuk shalat, menghadap Kabah. Tetapi seiring perjalanan waktu, terjadi pergeseran kiblat umat Islam. Bukan lagi menuju Kabah, tetapi mengarah ke Bandung, Indonesia. Namun jangan salah sangka, karena kiblat yang mengarah ke Bandung bukan untuk shalat dan ibadah yang lain. Kiblat umat Islam ke Kota Kembang adalah tren fashion busana muslim.

Pencetus tren tersebut adalah CV Hazna Indonesia, produsen segala pernak-pernik busana muslim. Mulai kerudung atau jilbab, baju gamis, kopiah, sarung, sajadah, dan lain-lain. Dengan mempekerjakan, 40 staf, 100 penjahit dan 600 pengrajin, Hazna Indonesia dengan brand Shasmira telah hadir di 55 kota di Indonesia. Bahkan, produk busana muslim Haznah Indonesia telah menjangkau Brunei, Singapura, Malaysia dan Bangladesh.

“Ide awalnya dari istri saya untuk membuat kado spesial berupa kerudung sebagai oleh-oleh sepulang ibadah haji. Ternyata kerudung desain istri saya tersebut sangat disukai. Dan, karena kebetulan istri saya berkerudung kami memutuskan untuk mengembangkan produk ini sebagai sebuah bisnis,” kata Kurnia, pemilik dan pendiri CV Hazna Indonesia/Shasmira.

Saat itu, sebenarnya Kurnia sendiri masih bekerja di perusahaan swasta. Ia mencoba membuat beberapa kerudung dengan desain minimalis yang ternyata sangat disukai konsumen saat dilempar ke pasar. Kerudung minimalis segera saja menjadi tren karena terlihat fashionable dan tidak ketinggalan zaman. Dari situ, ia menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar untuk memasarkan desain kerudung miliknya.

Setelah beberapa lama, timbul keyakinan dalam diri Kurnia bahwa bisnis kerudung cukup menjanjikan. Ia kemudian memutuskan untuk berdiri sendiri dan membawa brand sendiri dengan nama Nisa 59. Menyusul kemudian pada bulan Agustus 2007 secara resmi ia meluncurkan brand Shasmira dengan produk yang lebih variatif sehingga dapat diterima bahkan oleh orang-orang yang sebelumnya tidak mengenal jilbab sama sekali.

“Saat ini jilbab bukan hanya sekadar untuk syariah, tetapi sudah menjadi fashionable. Sudah merupakan life syle, sehingga tidak sedikit orang yang sebelumnya tidak pakai jilbab tetapi begitu pakai jilbab menjadi lebih modis dan fashionable. Kedua kita harus menyadari bahwa penduduk Indonesia mayoritas muslim, sehingga itu adalah potensi pasar yang luar biasa. Saya perkirakan Indonesia akan menjadi kiblatnya fashion muslim tingkat dunia,” ungkapnya.

Kurnia sebagai seorang pebisnis, melihat bahwa prospek bisnis busana muslim ke depan cukup menjanjikan. Selain karena mayoritas penduduk Indonesia muslim, kesadaran masyarakat untuk memakai jilbab sangat tinggi. Ia mencontohkan bagaimana daerah-daerah seperti Aceh, Padang, dan Jawa Tengah penggunaan kerudung resmi menjadi aturan daerah. Selain itu, dunia hiburan pun ternyata turut mendongkrak popularitas kerudung dengan seringnya ditayangkan sinetron bernuansa religi.

“Oleh karena itu, kita juga melakukan penetrasi pasar dengan menggunakan sistem keagenan dengan empat tingkatan. Ada agen, member, distributor dan house network. Alhamdulilah kita sudah mampu membangun sekitar 600 jaringan distributor di seluruh Indonesia. Termasuk juga Asia, di Hongkong, Nederland, Brunei, Singapura dan Malaysia. Kita memiliki toko berkonsep kerjasama kemitraan dengan investor yang sekarang sudah berjumlah 55 House of Shasmira,” ujarnya.

Quality Control System

Sebagai tren setter busana muslim dunia, Kurnia memiliki berbagai kiat untuk memperteguh eksistensi produknya. Jaringan pemasaran yang luas dan harga produk yang terjangkau adalah salah satu strategi bisnisnya. Meskipun di pasaran juga beredar produk tanpa merek yang beredar di pasar-pasar tradisional.

“Tetapi kalau kita menaikkan harga sesuai dengan kompetitor, kita akan kalah. Makanya ini harus disiasati dengan mencari solusi alternatif dengan harga yang lebih rendah tetapi kualitasnya sama. Biasanya, itu kita lakukan dengan menembus langsung produksi barang tanpa perantara. Jadi langsung pada sumbernya,” tegasnya.

Selain itu, Kurnia juga terus meningkatkan skill dan kemampuan SDM. Tujuannya agar hasil kerja SDM sesuai program dan harapan perusahaan. Caranya melalui berbagai bimbingan dan pelatihan yang secara berkala diberikan perusahaan kepada seluruh SDM. Ia juga menerapkan sistem yang mampu mengontrol seluruh hasil kerja karyawan.

“Kita menambahkan sistem kontrol dari semua pekerja kita dengan menerapkan sistem QC. Jadi setiap barang yang masuk kita kontrol lagi dan barang yang tidak sesuai kita kembalikan untuk diperbaiki. Kenapa, karena kalau diserahkan kepada mereka tanpa kontrol yang ketat, maka kualitas kita nanti menjadi tidak seragam,” sergahnya.

Apalagi, lanjut Kurnia, meskipun pengguna brand di persaingan bisnis baju muslim jarang, tetapi ia harus tetap waspada. Hingga saat ini, jumlah pengusaha busana muslim sekitar 50-100 pengusaha. Sebuah jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan 200 juta penduduk muslim di Indonesia. “Kita harus bersaing dengan produk lokal seperti di Bukittinggi, tetapi kita harus siap untuk go international,” tegasnya.

Menurut Kurnia, yang patut diwaspadai dalam persaingan usaha busana muslim global adalah kemampuan China dalam memproduksi barang. Produsen China mampu membuat barang sesuai dengan pesanan harga yang diinginkan pelanggan. Dari yang paling mahal sampai termurah mereka mampu membuat dengan desain yang cukup bagus.

“Kita memang bisa menyesuaikan diri dengan mengurangi margin keuntungan. Tetapi produk China dengan harga murah ini cukup berdampak pada pemasaran kami untuk menjangkau kalangan menengah bawah. Kalau kalangan menengah ke atas, mereka pasti akan berpikir dua kali untuk menggunakannya, terkait kualitasnya. Sedangkan masyarakat bawah, tidak terlalu peduli yang penting fungsi dan harga. Masalah kekuatan dan kenyamanan nomor dua,” tuturnya.

Ke depan, Kurnia berharap akan melakukan berbagai pengembangan pemasaran. Salah satnya adalah dengan menempatkan satu orang perwakilan Shasmira pada setiap kota di Indonesia. Ia juga ingin setiap orang Indonesia mengenal produk perusahaan dan tidak terbatas hanya sekadar mengenal tetapi juga membeli dan mereferensikan produk Shasmira kepada orang lain.

“Kita ingin Shasmira tidak hanya dikenal di Indonesia tetapi juga go international. Target itu kita lakukan dengan terus menerus mengembangkan difersifikasi produk itu sendiri, dengan mengikuti tren yang ada di masyarakat. Karena pergantian mode sangat cepat sekali di masyarakat dan mencapai hitungan per bulan. Konsumen itu raja yang berhak menentukan pilihan sesuai keinginan masing-masing,” tegasnya.

Generasi Berpikir “Bisa”

Kurnia menjelaskan arti harfiah shasmira untuk menamakan brand busana muslim besutannya. Shasmira merupakan nama bunga sangat indah yang berasal dari India. Sementara dalam sejarah Islam, Shasmira juga dikenal sebagai pejuang wanita yang gagah berani sehingga identik dengan wanita. Di zaman sekarang pun, ia mendapati kisah tentang Siti Shasmira yang berjuang demi kemajuan anak-anak bangsa di lokasi terpencil.

“Shasmira juga sebuah nama yang unik sehingga mudah diingat. Jadi kalau orang menyebut shasmira, mereka akan mengasosiasikan dengan baju muslim. Saya juga membangun ini dengan penuh perjuangan, tetapi saya berharap agar perusahaan semakin besar dan memberikan kontribusi bagi pemerintah untuk menanggulangi pengangguran. Harapan saya nanti ke depan, anak-anak bisa melanjutkan dan mengembangkan perusahaan ke arah yang lebih baik,” ujarnya.

Di sisi lain, Kurnia berharap agar pemerintah bisa membantu UMKM seperti usahanya. Bantuan yang sangat diharapkan berupa bantuan permodalan yang sangat berguna bagi perusahaan kecil dan menengah seperti CV Hazna Indonesia dengan persyaratan yang mudah. Ia juga berharap agar pemerintah terjun langsung melakukan pembinaan terhadap pengusaha kecil. Tujuannya agar mereka bisa meningkatkan pengetahuan sehingga perusahaan semakin besar dan menyerap banyak tenaga kerja. Dengan begitu, terjadi hubungan saling membutuhkan satu sama lain antara pemerintah dan dunia usaha.

Kurnia mengingatkan, bahwa angkatan kerja setiap tahun selalu bertambah. Sementara peran pemerintah adalah mengubah pola pikir masyarakat, terutama orang tua untuk mengetuk kesadaran generasi muda agar memiliki jiwa entrepreneur. Yakni bagaimana mereka tidak berpikir mencari kerja di mana setelah lulus kuliah, tetapi bagaimana timbul pemikiran untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

“Itu yang harus digalakkan pemerintah, sehingga apabila semua lulusan perguruan tinggi mampu berusaha sendiri, income per capita meningkat, mengikis pengangguran dan lain-lain. Di sisi lain, pemerintah juga harus memfasilitasi kemitraan antara perusahaan besar dengan perusahaan kecil. Setidaknya untuk memperoleh proyek mereka harus membantu pengusaha kecil terlebih dahulu untuk memberikan kesempatan berwira usaha kepada setiap penduduk. Kalau sudah begitu, saya yakin masyarakat Indonesia akan semakin baik di masa mendatang,” ujarnya.

Kepada generasi muda, Kurnia berpesan agar mereka menanamkan dalam diri masing-masing bahwa untuk mendapatkan penghasilan tidak harus dengan bekerja. Generasi muda mampu menghasilkan pendapatan dengan cara berkarya, yakni menciptakan sebuah karya yang memiliki nilai jual. Generasi muda juga harus memikirkan bagaimana karya yang tercipta memiliki nilai komersial dengan menggandeng orang lain untuk berkolabarosi.

“Itu akan lebih baik daripada selesai kuliah kemudian melayangkan surat lamaran ke mana-mana dan menunggu. Ini misalnya dilakukan oleh Bill Gates yang meng-create sebuah karya dan mencari mitra untuk membesarkan Microsoft. Oleh karena itu, generasi muda harus selalu berpikir bahwa mereka bisa. Karena berpikir bisa akan merangsang kreativitas, inovasi, dan lain-lain. Sementara kalau berpikir tidak bisa akan mematikan potensi yang dimiliki. Makanya berpikirlah bisa. Saya bisa menjadi pengusaha, saya bisa menghasilkan karya yang baik dan sebagainya,” pungkas Kurnia, pemilik CV Hazna Indonesia.

Johan Wang

No Comments

Johan Wang
Direktur Utama PT Jocelyn Anugrah Jaya

Mengalami Keajaiban dan Mukjizat Hidup Diwujudkan pada Miracle Agency

Beberapa kali kejadian ajaib dialami oleh Johan Wang, Direktur Utama PT Jocelyn Anugrah Jaya. Kejadian ajaib tersebut selalu berhubungan dengan keselamatan dirinya sehingga nyawanya berada di ujung tanduk. Salah satunya, ketika masih  kuliah tahun 1999, ia terserempet metromini saat naik motor ke kampus. Celakanya, ia jatuh ke kolong truk kontainer yang sedang melaju. Tak ayal, tubuhnya terseret truk kontainer sejauh sepuluh meter.

Meskipun demikian Johan Wang selamat. Ia “hanya” mengalami patah tulang di hampir sekujur tubuhnya. Setelah tergolek di rumah sakit selama satu tahun lamanya, ia dinyatakan sembuh dan bisa beraktivitas seperti sedia kala. Sejak itulah, ia sangat antipati terhadap obat dan dokter. Trauma tersebut terus dibawanya hingga bekerja, menikah dan memiliki anak. Hingga suatu saat, vonis dokter menyatakan dirinya suspect leukemia dan harus menjalani perawatan intensif.

“Ini keajaiban dan mukjizat untuk kali kedua setelah dilindas kontainer. Suami saya dinyatakan menderita leukemia akut saat menjalani pengecekan di Singapura. Peluang untuk sembuh diperkirakan hanya 30 persen kalau tidak segera ditangani. Rumah sakit di sana mengajukan dana Rp1 miliar untuk perawatan suami saya. Tetapi saya bersikeras membawanya pulang ke tanah air,” kata istrinya.

Ia dan suaminya kemudian kembali ke Indonesia untuk menjalani pengobatan herbal. Berbagai macam obat-obatan herbal dari seluruh penjuru nusantara dicoba demi kesembuhan sang suami. Ratusan juta rupiah telah dihabiskan untuk pengobatan yang ternyata tidak membuahkan hasil tersebut.

Bukannya berkurang, leukemia yang diderita Johan Wang semakin parah. Dari hidung dan gusinya terus menerus terjadi pendarahan, sementara di sekujur tubuhnya timbul bercak-bercak besar kemerahan. Ia hanya mampu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa demi kesembuhan suaminya.

“Tuhan memang Maha Baik. Suatu hari, Dia mengirimkan penderita leukemia kronis ke rumah. Orang tersebut menyarankan untuk tetap konsultasi ke dokter sebagai pegangan meskipun menggunakan herbal untuk pengobatan. Kami menurutinya dan mempercayakan pengobatan kepada dokter yang disarankan orang tersebut,” tandasnya.

Johan Wang, kemudian disarankan untuk menjalani kemoterapi di RS Ciptomangunkusumo  oleh dokter tersebut. Satu kali kemoterapi dan menghuni ruang isolasi selama 45 hari tidak menunjukkan hasil maksimal. Mungkin penyebaran sel kanker yang sudah mencapai paru-paru menjadi penyebabnya. Bahkan, sel kanker didiagnosa telah menguasai 90 persen darah yang beredar di tubuh. Dikhawatirkan, apabila sel kanker sudah mencapai otak nyawa Johan  Wang tidak tertolong.

Sekali lagi, Johan Wang harus mengulang proses kemoterapi dan isolasi dari awal. Sang istri hanya diperbolehkan menunggui suaminya dari luar ruangan. Tanpa henti, ia memanjatkan doa untuk kesembuhan Wang sembari mengasuh anaknya yang kala itu belum genap berumur satu tahun. Perlahan namun pasti, tanda-tanda kesembuhan mulai nampak. Setelah satu tahun tergolek di rumah sakit, Johan Wang dinyatakan terbebas dari leukemia.

“Puji Tuhan, ini benar-benar keajaiban dan mukjizat dari-Nya. Kebahagiaan dan rasa syukur tiada tara kami rasakan. Apalagi setelah keluar dari rumah sakit, kita masih mendapat bonus jalan-jalan ke Turki dari Prudential. Semua berkat mukjizat Tuhan, mulai terlindas kontainer sampai sembuh total dari leukemia, tanpa campur tangan Tuhan tidak akan terjadi. Oleh karena itu, saat bulan Januari 2011 membuka perusahaan, kita namakan Miracle Agency,” tuturnya.

Berkat Tuhan pula yang membuat brand Miracle Agency dari perusahaan PT Jocelyn Anugrah Jaya dengan cepat berkembang. Dengan persaudaraan dan pertemanan yang sangat kuat, dalam waktu singkat telah memiliki 1000 agen dengan 110 leader. Bahkan cabang perusahaan pun berdiri tidak hanya di Jakarta, tetapi juga Bangka, Jambi, Sungai Liat, Bandung dan lain-lain. Tidak hanya itu, dari 220 insurance agency di seluruh Indonesia Miracle Agency menduduki peringkat 10 nasional.

Membantu Orang

Awalnya Johan Wang tidak begitu tertarik dengan dunia asuransi. Sebagai perantau dari Jambi dan kuliah di Jakarta, ia indekos di kamar berukuran dua kali tiga meter. Setelah lulus kuliah ia bekerja sebagai staf auditor. Salah satu teman kos Johan bernama Heri, dilihatnya memiliki kehidupan yang lebih baik. Ternyata Heri adalah agen perusahaan asuransi Prudential.

“Suami saya melalui Heri kemudian bergabung dengan Prudential. Meskipun awalnya ia menyangka MLM, tetapi ia berketetapan hati untuk bergabung dan bekerja sebagai agen asuransi. Ia pun resmi mengundurkan diri dari perusahaan lama –meskipun sempat diiming-imingi kenaikan gaji- tetapi ia sudah bulat keputusan untuk bergabung di Prudential. Di sini ia memiliki misi yang luar biasa, yakni membantu orang menyiapkan masa depan mereka,” kisahnya.

Landasan misi mulia tersebut, lanjutnya, membuat karier Johan Wang dengan cepat meroket. Hanya dalam tempo tujuh tahun, ia sudah menduduki posisi paling atas sebagai agency manager (2008). Hampir setiap tahun perusahaan mengeluarkan bonus untuk Johan Wang berupa jalan-jalan ke luar negeri. Selain itu, penghasilan besar dari asuransi membuatnya mampu membeli rumah, mobil dan lain-lain.

Bahkan, saat dinyatakan suspect leukemia pun penghasilan Johan Wang tidak berkurang. Uplink managernya menjamin bahwa usaha sales asuransi yang dijalankannya tetap berjalan seperti biasa. Bisa dibilang, inilah bisnis yang menjadi pasif income sebenarnya. Karena saat Johan sakit, biaya operasional –seperti cicilan rumah, mobil dan biaya hidup keluarga- sebesar Rp60 juta per bulan tertutupi.

“Jadi saya tidak perlu menjual rumah atau asset lain sama sekali. Apalagi, semua biaya pengobatan suami saya benar-benar ditanggung oleh Prudential. Untungnya, perusahaan memiliki kebijaksanaan apabila nasabah menderita penyakit akut seperti kanker, leukemia dan lain-lain, polis diberikan secara cash. Yang lebih menenangkan lagi, saat suami jatuh sakit teman-teman sudah siap menggalang dana. Tetapi berkat Prudential semua telah terbantu,” kisahnya penuh syukur.

Di saat-saat sedang menderita cobaan hidup seperti itu, Johan Wang dan istrinya menyadari siapa teman dan sahabat sejati. Disamping ada yang dengan sukarela memberikan bantuan materi, ada juga yang mengetahui kondisinya lantas meninggalkan pasangan ini begitu saja. ”Kalau lagi senang, semua teman berdatangan tetapi ketika kita jatuh satu per satu meninggalkan kita. Nah, saat Johan sakit itulah baru kelihatan siapa teman-teman kita,” imbuhnya.

Melalui Miracle Agency, pasangan Johan Wang dan istri, membangun kesuksesan bersama. Mereka tidak hanya berpikir untuk kesuksesan pribadi tetapi juga membuat banyak orang sukses. Dengan berbisnis di agen asuransi Prudential kesempatan untuk memperbaiki kehidupan terbuka lebar. Ia mengisahkan bagaimana banyak anak buahnya yang memiliki keinginan kuat untuk maju berhasil meraih impiannya.

Apalagi dalam menjalankan bisnis agen asuransi Prudential relative tidak memerlukan modal sama sekali. Yang diperlukan hanyalah kemauan untuk maju mencapai impian yang dicita-citakan mencapai kehidupan yang lebih baik. Seorang agen hanya dituntut untuk ulet, memiliki tujuan yang jelas dan siap dengan risiko yang sangat kecil.

“Risikonya hanya menghadapi penolakan dari nasabah, itu saja. Dan penolakan akan tidak menjadi masalah kalau kita memiliki goal dan dream. Saya bilang belum ada bisnis seluar biasa Prudential. Tanpa modal, nilainya ratusan juta, hasilnya juga luar biasa, dengan risiko hanya penolakan. Saya dalam kurun waktu tujuh tahun sudah mampu memperoleh income diatas Rp100 juta per bulan. Padahal modal awal hanya Rp6 ribu untuk materai,” tegasnya.

Risiko Penolakan

PT Jocelyn Anugrah Jaya dibawah Johan Wang sebagai Direktur Utama setelah mencapai ranking 10 besar agen asuransi menetapkan untuk masuk 5 besar dalam beberapa tahun ke depan. Tetap bervisi untuk membantu orang mencapai kehidupan lebih baik, perusahaan mengalami akselerasi kemajuan yang sangat pesat. Beberapa bulan berjalan, perusahaan telah mencatatkan omzet rata-rata Rp1,5 miliar per minggu.

“Saya cuma menerapkan kekeluargaan, kekompakan dan lain-lain. Untuk merangsang sales, kita membuat kontes jalan-jalan, ke Hongkong, Phuket dan lain-lain. Atau angpao bagi mereka yang berhasil mendapatkan tiga nasabah. Yang jelas, karena percepatan usaha kita sangat luar biasa, kami yakin tembus sepuluh besar. Pokoknya tetap mengusung visi meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan menjadi lebih tinggi. Bring miracle for every family yaitu memberikan keajaiban bagi setiap agen dan leader yang bernaung dalam Miracle Agency. Sementara bagi nasabah banyak manfaat yang mereka rasakan dari produk-produk Prudential,” tegasnya.

Untuk mencapai visi tersebut, selain mengadakan kontes dan jalan-jalan perusahaan juga memberikan bantuan berupa training dan pelatihan. Tujuannya untuk membekali para agen agar mereka memiliki skill yang cukup untuk menghadapi tantangan ke depan, menguasai produk yang dijual serta motivasi yang tinggi untuk maju. Ibarat handphone, mereka di-charge untuk menambah stamina sebelum terjun dalam persaingan pasar asuransi yang semakin sengit.

Selain itu, Johan Wong menargetkan untuk membawa perusahaan mencapai lima besar agen asuransi di Indonesia. Karena dengan predikat lima besar berarti akan semakin mudah dalam mencari nasabah. Selain itu, banyaknya produk asuransi dari Prudential yang memenuhi kebutuhan nasabah juga memudahkan tugas agen asuransi. Di sisi lain, manfaat asuransi bagi nasabah juga sangat banyak. Mulai merancang masa pensiun, anak sekolah, sakit parah dan lain-lain dapat tercover asuransi.

“Masyarakat harus tahu bahwa setiap tahun selalu ada penyakit baru yang terdeteksi, karena mutasi penyakit semakin beragam. Nah, nasabah kalau sudah sakit, ujung-ujungnya masuk rumah sakit juga. Kenyataannya banyak orang di rumah sakit yang tidak tertolong gara-gara kesulitan dana. Di situlah pentingnya asuransi, kalau terjadi apa-apa tidak perlu menjual asset yang dengan susah payah dikumpulkan,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, secara pekerjaan bekerja sebagai agen asuransi cukup mudah. Bagi agen yunior, untuk mencapai kesuksesan cukup melakukan persis seperti yang dikerjakan oleh para seniornya. Karena para senior telah berpengalaman dan membuktikan bahwa apa yang dikerjakannya dalam bisnis ini telah menghasilkan limpahan materi bagi keluarga.

Selain itu, bagi generasi muda yang belum memiliki pekerjaan tetap, bekerja di perusahaan asuransi seperti Prudential sangat menjanjikan masa depan. Penghasilan sebagai agen asuransi mampu mencukupi kebutuhan hidup, dengan peluang karier yang terbuka lebar serta kesempatan keliling dunia. Agen asuransi juga mempunyai kesempatan untuk memiliki kebebasan financial tidak terbatas dengan keikutsertaannya pada program perusahaan tempatnya bekerja.

“Untuk yang sudah bekerja di Prudential, saya sarankan agar mereka mengikuti sistem saja untuk sukses. Kunci suksesnya cuma copy paste, mengikuti omongan leader karena mereka sudah membuktikan. Seperti saya bisa beli rumah, mobil dan lain-lain yang merupakan hasil dari pekerjaan sebagai agen asuransi. Apalagi untuk ke depan, market kita masih luar biasa. Karena selama masih ada kehidupan –kelahiran, pertumbuhan penduduk dan lain-lain- asuransi akan terus diperlukan. Sementara tenaga pemasaran asuransi pun masih sangat sedikit, dan yang harus diingat adalah risiko pekerjaan ini hanya sekadar penolakan saja,” katanya.

Profil PT Jocelyn Anugrah Jaya

PT Jocelyn Anugrah Jaya merupakan salah satu kantor manager mandiri (Agency) dari PT Prudential Life Assurance yang didirikan pada tanggal 15 April 2010 oleh Bapak Johan sebagai pemilik sekaligus pemimpin perusahaan dan disyahkan dengan akte notaris Hannywati Gunawan, SH, No 34. Perusahaan bergerak di bidang jasa khususnya asuransi jiwa dan mulai beroperasi pada tanggal 3 Januari 2011, beralamat di gedung Permata Kuningan, Jakarta Selatan.

Perusahaan lebih di kenal dengan brand Miracle Agency untuk mempermudah komunikasi antara pihak Prudential (kantor pusat) dengan agency. Karena setiap agency memiliki kode kantor yang berbeda satu dengan lainnya dan bernaung dalam satuan region.

Miracle Agency di bawah pimpinan Johan Wang telah banyak melahirkan leader – leader yang solid dan berkomitmen dari semua tingkatan jenjang karier. Antara lain Unit Manager (UM), Senior Unit Manager (SUM) dan tingkatan yang paling tinggi yaitu Agency Manager (AM). Untuk sebuah agency baru dengan begitu banyaknya leader merupakan suatu kekuatan group yang besar. Selain di Jakarta, Miracle Agency juga memiliki kantor cabang di Bandung, Jambi, Bangka, Pangkalpinang dan Sungai Liat.

Visi dan misi PT Jocelyn Anugrah Jaya

Visi
Menggapai semua kesuksesan dengan satu tujuan demi keberhasilan perusahaan dalam perkembangannya

Misi
Menjadi agency terbaik dan memiliki suatu komitmen untuk berkembang terus dan melampaui semua pengharapan yang ada

Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari misi, Miracle Agency mempunyai landasan sebagai suatu kekuatan dasar berdiri dan berkembangnya perusahaan sebagai berikut:
Semangat untuk menjadi yang terbaik
Organisasi yang memberikan kepada orang lain untuk belajar
Bekerja sebagai suatu keluarga.

A. Hj Yusroren Elizabeth

No Comments

A. Hj Yusroren Elizabeth
Direktur Utama PT Tazakka Ceria Wisata dan PT Yus Jun Mahir Group

Menciptakan Dream Demi Masa Depan Lebih Baik

Jangan pernah meremehkan impian, bahkan yang paling tidak masuk akal sekalipun. Dengan tetap bermimpi, manusia akan terus berjuang dalam mewujudkan impiannya. Tetapi, diperlukan kerja keras dan tidak berputus asa dalam upaya menjadikan impian sebagai kenyataan. Begitu seterusnya, setelah satu impian tercapai kemudian menciptakan impian yang lain.

“Saya selalu mempunyai dream dan membuat impian itu menjadi kenyataan. Misalnya tahun sekian saya harus begini, tahun sekian harus punya itu, dan lain-lain. Semua itu akan memicu dan memotivasi untuk terus berusaha dan berjuang mencapai dream-dream dalam hidup kita. Jangan karena Anda wanita kemudian takut untuk mempunyai mimpi. Bermimpilah, toh impian itu tidak harus beli, gratis. Jadi wujudkan mimpi-mimpi kita demi masa depan yang lebih baik. Yakinlah bahwa Allah itu maha adil,” kata Hj Yusroren Elizabeth, Direktur Utama PT Tazakka Ceria Wisata.

Perempuan yang akrab dipanggil Yus ini mengisahkan rahasia sukses yang telah dicapainya berkat impian-impian yang tanpa henti diperjuangkannya. Dilandasi kepasrahan dan keihlasan dalam menghadapi kehidupan, ditambah keyakinan agama yang kuat, langkahnya dalam bisnis tak terbendung. Ia sukses membesarkan perusahaan yang bergerak dalam penyedia jasa tour dan travel khusus haji dan umrah sejak tahun 2002.

Perempuan kelahiran Palembang, 10 Mei 1970 ini, meyakini Tuhan telah menentukan rezeki bagi umatnya. Apapun yang dikerjakan manusia pasti akan mendapat balasan setimpal dari-Nya. Sebagai manusia, ia juga memperbanyak perasaan syukur atas segala anugerah yang diberikan Tuhan. Semua itu, membuat perasaan ikhlas semakin mewarnai setiap ucapan dan tindakannya sehari-hari.

“Kalau sudah memiliki perasaan ikhlas dalam diri kita, yang ada hanya dream dan target. Di otak saya tidak ada perasaan bersaing, sehingga tidak memiliki jawaban pertanyaan bagaimana mengatasi persaingan. Bagi saya rezeki digerakkan oleh Allah tanpa harus bersaing dengan orang lain. Tidak ada kamus persaingan dalam hidup saya, yang ada hanyalah dream-dream dan target,” ujarnya.

Perasaan ikhlas membuat Yus lebih fokus terhadap pekerjaan yang ditekuni dan mengejar impian dan target-target yang telah ditetapkan. Ia mengembangkan perusahaan hingga mampu melakukan ekspansi usaha di bidang keagenan, entertainment, dan interior design dengan bendera PT Yus Jun Mahir Group.

“Kalau kita bersyukur, pasti nyaman menjalani kehidupan. Kita harus berdoa untuk menggapai rezeki yang ada di langit, disertai usaha keras. Apapun kalau sudah ada jalannya, sudah pas track-nya, pasti kita enak karena tinggal menjalani,” ungkapnya. Menurut ia, semua tergantung kepantasan terhadap rezeki yang akan diberikan Tuhan. Selama masih pantas, rezeki bisa diharapkan kehadirannya. “Kalau yang tidak pantas jangan diharapkan, pokoknya yang sepantasnya saja,” imbuhnya.

Single Parent

Hj Yusroren Elizabeth selama empat tahun tinggal di Kairo, Mesir bersama mantan suami. Saat krisis moneter melanda dunia tahun 1998, ia kembali ke tanah air. “Sejak itu saya terpacu untuk membesarkan Tazakka dan menjadi orang tua tunggal atau single parent bagi anak-anak,” kisahnya.

Ditinggalkan orang yang dicintai tidak membuat Yus jatuh terpuruk dalam keputusasaan. Ia bangkit, berdiri tegak dan berjuang membesarkan perusahaan. Secara bersamaan, ia berusaha mengimbangi pertumbuhan psikologis ketiga buah hatinya. Karena bagaimana pun, kehadiran sosok seorang ayah sangat diperlukan dalam mendidik anak. Untunglah, anak-anaknya mendukung langkah sang ibu dan menjadi kekuatan luar biasa baginya. Yus telah bertransformasi menjalankan peran sebagai seorang ibu, ayah, dan pemimpin perusahaan sekaligus.

Semua hinaan dan makian akibat peristiwa tersebut dihadapi Yus dengan tenang. Ia merasa hinaan tersebut pantas untuk perempuan seperti dirinya yang “melepaskan” suaminya dengan wanita lain. Tetapi semua dihadapi dengan tenang, karena baginya hinaan yang dialami Nabi Muhammad SAW jauh lebih berat. Sebagai manusia biasa, ujian yang dihadapinya memang berat namun tidak menyurutkan langkahnya untuk maju.

“Apapun hinaan dan makian yang dialamatkan orang kepada saya, jawaban saya adalah Alhamdulilah Wasyukurillah, itu menjadi pegangan saya. Sepahit apapun yang diberikan Allah kepada saya semua saya syukuri dengan mengucap Alhamdulilah. Saya mungkin pantas untuk dihina tetapi justru itulah yang menjadi cambuk bagi saya untuk bangkit,” ungkapnya. Mengenai ujian yang diterima, Yus merasa dimuliakan Tuhan dengan ujian-ujian berat yang dihadapinya. Karena dengan ujian yang berat justru akan memberikan kekuatan. “Emas pasti diuji, kalau perak sudah pasti orang tidak mau repot-repot mengujinya,” imbuhnya.

Yus juga berhasil membesarkan anak-anaknya tanpa bantuan dari keluarganya sendiri ataupun keluarga suami. “Satu sen pun dia tidak memberikan nafkah untuk membesarkan anak-anak. Maka saya katakan kepada anak-anak, bahwa Allah telah memberikan rezeki yang mencukupi melalui Mama. Berarti kalian tidak perlu minta kepada Papa,” tambahnya.

Yus yakin, selama manusia berusaha pasti Allah akan memberikan rezeki yang melimpah. Maka dengan brand Tazakka yang sudah dipunyai, ia bekerja memutar otak. Ia memperhatikan kebutuhan jamaah hingga sedetail mungkin sehingga mereka puas dengan pelayanan perusahaan. Tingkat kepuasan yang tinggi dari jamaah yang menggunakan jasanya telah berkembang menjadi keuntungan bagi perusahaan.

Keberhasilan yang telah berhasil diraih, menurut Yus tidak lepas dari manajemen yang diterapkan bungsu delapan bersaudara pasangan H M Noeh dan Hj Yamah ini. Apalagi dasar pendidikannya berasal dari seni bukan ekonomi, alat ukur yang digunakannya pun tidak kaku. “Kepuasan jauh lebih penting daripada sekadar materi. Apapun hasil yang dikerjakan tetap saya terima dan selalu ada rezeki untuk anak-anak. Berapapun keuntungan saya selalu bersyukur agar Allah melipatgandakan nikmat yang kita terima. Seperti  janji-Nya di dalam kitab suci Alquran,” kata perempuan yang menyebut “Baitullah, Rumah Allah” sebagai tempat liburan favoritnya ini.

Terjun Langsung

Sebagai pimpinan PT Tazakka Ceria Wisata, Hj Yusroren Elizabeth tidak segan-segan untuk terjun langsung menghadapi jamaah. Tidak hanya secara administrative tetapi bahkan menjadi pembimbing jamaah haji dan umrah. Selain itu, ia dengan senang hati menyelesaikan masalah yang ditimbulkan oleh tindakan staf-stafnya.

“Kalau ada masalah dengan jamaah, bukan staf yang ‘dikorbankan’ seperti dalam permainan catur. Tetapi saya terjun langsung menghadapi dan menyelesaikannya. Karena staf saya kan tidak bisa langsung action membuat keputusan, sedangkan saya bisa,” katanya.

Yus juga dianugerahi Tuhan dengan kemampuan hebat dalam berkomunikasi. Ia mampu dengan cepat akrab dengan orang lain serta mampu mencairkan suasana. Dengan menerapkan “Manajemen Ibu”, semua karyawan mulai dari office boy hingga jabatan tinggi dianggap sebagai kerabat/saudara. Kepercayaan juga diberikan kepada seluruh karyawan untuk bertanggung jawab terhadap tugas masing-masing. Mereka disadarkan bahwa tanggung jawab terhadap pekerjaan akan kembali kepada mereka dalam bentuk kesejahteraan.

Dampaknya, lanjut Yus, para karyawan yang diperlakukan sebagai keluarga dengan kepercayaan dan tanggung jawab bekerja sebaik-baiknya. Mereka berusaha memberikan kontribusi maksimal bagi kemajuan perusahaan. Apalagi dalam setiap kesempatan membuka usaha baru, para karyawan selalu terlibat di dalamnya. “Bahkan pengeluaran satu rupiah pun ada laporannya. Ini merupakan bentuk rasa memiliki pada karyawan,” terangnya.

Yus merasa sangat bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan kepada dirinya. Tiga anak yang soleh, karyawan yang baik dan usaha yang terus maju pesat. Keikhlasan yang melandasinya dalam bekerja membuat dirinya nyaman dan tidak pernah mengeluh. Semua dijalani dengan penuh syukur atas segala kelebihan yang diberikan Tuhan, tanpa harus komplain terhadap pemberian-Nya.

“Semua orang diberikan kelebihan, tinggal bagaimana kita meng-explore-nya. Yang penting kita bekerja jangan pernah berputus asa, karena rezeki Tuhan yang akan mengatur. Kita harus bekerja di jalan Allah, jujur, bersyukur dan lurus dalam menjalani kehidupan, serta tetap optimis. Jangan komplain terhadap apa yang terjadi dengan kita, karena membuat hidup tidak nyaman. Kalau dijalani dengan bersyukur pasti jauh lebih nikmat, apapun yang Allah berikan,” tukasnya.

Menurut Yus, apapun yang dihadapi manusia adalah jalan Tuhan yang sudah ditentukan. Manusia yang ikhlas dan menerima yang telah digariskan serta tetap berusaha bersungguh-sungguh menjalaninya akan diberikan jalan terbaik. Ia mencontohkan bagaimana dirinya yang terpaksa menjalani sesuatu yang halal tetapi dibenci Allah, perceraian.

Namun justru dari situ, Yus bangkit dan membuktikan bahwa perempuan juga mampu berkarya. Perempuan tanpa “suami” mampu memberikan manfaat bagi sesamanya dengan membuka lapangan kerja yang luas. Perempuan juga mampu membesarkan anak-anaknya sendirian dengan prestasi mengesankan. Begitu juga beberapa perusahaan yang berada dibawah kendalinya, semua maju pesat. Bagaikan Raja Midas, semua yang disentuhnya menjadi emas dan menambah pundi-pundi kekayaannya.

“Saya mencari berkahnya saja, tidak ada sedikit pun niat untuk dipuji nanti malah jadi kufur. Saya tidak pernah berpikir tentang margin keuntungan, yang penting saya berbuat sebaik-sebaiknya. Sisanya Allah yang akan memutuskan. Bagi saya hidup adalah bagaimana kita menyikapinya. Kalau kita mengambil senang, setiap hari isinya senang melulu. Kalau mau susah, ya susah setiap hari. Allah tidak berharap terhadap apapun yang dilakukan manusia. Ibadah yang kita lakukan adalah untuk kita sendiri di akherat, bukan untuk kepentingan-Nya,” ujarnya.

Oleh karena itu, Yus sangat patuh terhadap perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Semua yang dijalani hingga saat ini tidak lepas dari campur tangan Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, kesuksesan yang telah diraihnya saat ini tidak lepas dari doa ibunya. Ia mengikuti perintah-perintah ibunya seperti yang diajarkan Rasulullah SAW.

“Saya sukses seperti sekarang karena doa ibu-ibu saya. Dari kecil saya tidak pernah bilang “ah” kepada ibu saya, makanya saya sukses seperti ini. Doa mereka yang membuat saya seperti ini, berasal dari: Ibu Hj Yamah, ibu kandung saya di Bengkulu, Ibu Hj Ba’a Hasan, ibu saya di Jambi dan Nenek Keke, ibu saya yang ada di Jakarta. Semua mendoakan keberhasilan dan Alhamdulilah, doa-doa mereka dikabulkan Allah,” katanya penuh syukur.

Boks
Hj Yusroren Elizabeth di mata mereka

Berikut adalah pendapat, kesaksian dan opini orang-orang yang mengenal sosok Direktur Utama PT Tazakka Ceria Wisata ini. Beberapa kesamaan dalam diri ibu tiga anak ini menurut mereka adalah semangat pantang menyerah, ketangguhan, keseriusan dalam bekerja dan empatinya yang tinggi.

Di sisi lain, sebagai wanita karier, Hj Yusroren Elizabeth benar-benar merepresentasikan seorang muslimah yang patut diteladani tanpa harus menanggalkan kodratnya sebagai perempuan. Berikut penuturan selengkapnya:

Ustadz H Hasan Bisri, Spd.i., MMpd., (Tokoh masyarakat dan pembimbing jamaah)
“Memuaskan Jamaah”

Saya berharap agar Ibu bersama Tazakka tetap mempertahankan kepuasan dan pelayanan terhadap jamaah. Begitu juga dengan bimbingan yang juga berhasil memuaskan jamaah. Karena sampai saat ini belum ada komplain dari jamaah yang harus dipertahankan. Malah sebaliknya banyak jamaah yang membawa jamaah lain untuk menggunakan jasa Tazakka. Pesan saya pertahankan dan tingkatkan pelayanan kepada jamaah.

Jacky, Manager YuStore Jambi
“Sosok yang sangat keibuan”

Sosok Ibu Yusro adalah seorang perempuan yang sangat keibuan. Meskipun datang hanya satu bulan sekali tetapi selalu fokus pada permasalahan di Jambi. Saat hadir seluruh bertanya kepada setiap karyawan segala permasalahan yang dihadapi.

Karena Yustore adalah agen resmi satu-satunya di Jambi maka mendapat dukungan dari Pemda Jambi dan media massa melalui para wartawannya. Bekerja sama dengan Indosat dan XL untuk servis juga karena sekarang pengguna Blackberry sudah amat banyak, begitu pula di Jambi dan hanya satu-satunya.

Dewi Anggraini, SH (Ibu rumah tangga-berhaji dengan Tazakka)
“Ibu Yusro sangat detail”

Sebelum menggunakan jasa Tazakka survey dulu ke travel yang lain dan akhirnya memilih Tazakka karena rekomendasi dari seorang teman yang puas setelah melakukan ibadah haji dengan travel Tazakka. Lalu saya mencoba melihat company profile dan melihat ustadz-nya bagus, lalu datang ke kantor Tazakka dan merasa surprise karena pemiliknya adalah seorang perempuan yang sangat ramah.

Keramahan ditunjukkan saat pelaksanaan ibadah, Ibu Yusro turun langsung dan amat sangat detail. Mulai dari katering, penginapan dan lain-lain benar-benar diperhatikan sehingga jamaah merasa sangat nyaman. Penginapan sangat dekat dengan Kabah dan dengan harga yang relative murah/standar tetapi fasilitasnya bagus banget. Katering pun tidak pernah telat berkat sentuhan penanganan seorang ibu seperti beliau.

Saya sangat terinspirasi dengan langkah-langkah Ibu Yusro, masih muda, perempuan dan penampilannya sangat fashionable. Selain sangat detail dan sabar -apalagi terhadap jemaah yang sudah tua- Ibu Yusro tidak sungkan untuk memijat jamaah tersebut. Jika di antara jemaah ada yang ulang tahun, pasti mendapat surprise darinya.

Menurut saya, Ibu Yusro adalah perempuan yang keren (fashionable), luar biasa, ramah sekali, setiap jamaah disapa dan tidak ada batasan antara jemaah dan pemilik dan tidak sungkan untuk bertanya kepada jemaah, ada yang bisa dibantu dan lain-lain. Karena itu, jangankan perempuan laki-laki juga sungkan karena beliau sangat berwibawa. Ibu Yusro pandai mendidik anak-anaknya sehingga menjadi anak yang pintar dan sopan, meskipun seorang single parent. Saya berharap Tazakka diperluas cabangnya tidak hanya di Jakarta dan Jambi saja. Yang menarik dari Ibu Yusro adalah selalu minta doa, dengan berkata, “Mohon doanya ya Ibu-ibu, Bapak-bapak.”

Dina Evangelista de Laura, Sophie Martin Marketing Communication Manager
(berhaji dengan Tazakka bersama suami dan ibu kandung)
“Tak ada keluhan dari Ibu saya”

Tadinya saya takut mengecewakan Ibu saya yang sudah beberapa kali pergi haji dan umrah. Ibu saya susah banget dalam melayani sehingga saya takut dibanding-bandingkan dengan travel lain. Ternyata Ibu saya puas dengan pelayanan Tazakka yang sangat professional. Penerbangan on time, katering sangat bagus sehingga saya sempat naik beberapa kilo karena makan teratur dan cocok dengan selera.

Bahkan pada hal-hal kecil pun Ibu Yusro sangat care dengan kebutuhan jemaah. Pada saat makan, saya pernah bilang,”Ibu Yusro kayaknya enak enak nih kalau ada sambal botol.” Pada saat jam makan berikutnya sambal botol sudah tersedia dalam menu makan.

Dalam buku panduan pun dibekali kalimat-kalimat dalam bahasa Arab sehari-hari yang simple tetapi penting. Seperti di mana toilet, harganya berapa dan lain-lain. Dalam buku panduan juga diberikan hal-hal yang harus dibawa misalnya sedang musim dingin harus membawa mantel, kaos kaki dan lain-lain. Intinya “Everybody happy” makanya saya tidak ragu-ragu untuk merekomendasikan Tazakka kepada teman-teman.

Cuk FK (Sutradara)
“No Complain”

Sejak menggunakan jasa Tazakka, saya menjadi ingin pergi haji lagi dan lagi. Karena pelayanan yang diberikan sangat memuaskan sehingga tidak ada komplain sama sekali. No complain deh pokoknya, makanya saya berani merekomendasikan kepada yang lain. Saya berharap jamaah bertambah banyak, pelayanan jauh lebih baik lagi dari yang sudah baik. Keep spirit and smile always.

Sosok Ibu Yusro menurut saya sangat ramah, jamaah selalu mencarinya apabila terjadi sesuatu. Karena beliau tidak memberikan batasan dan asik-asik saja, jadinya jamaah tidak sungkan meminta bantuannya. Beliau ini perempuan hebat yang kalau sudah bicara tidak bisa diputus, malah kalau diputus kita kehilangan inti pembicaraan.

Dwiyantora Junanda Fadhillah (Operational Ticketing PT Tazakka Ceria Wisata)
“Unik dan Beda”

Ibu Yusro menerapkan manajemen yang unik dan berbeda dengan mengedepankan sistem kekeluargaan. Ibu sekaligus juga bertindak sebagai guru dan memberikan kepercayaan kepada para karyawan. Tetapi justru karena kepercayaan itulah yang membuat kami bersemangat untuk tidak mengecewakannya atau mengkhianatinya.

Bayangkan saja, saya baru bergabung satu tahun tetapi sudah diberi tanggung jawab yang sangat vital. Beliau tidak pernah mengorbankan kami untuk kepentingan perusahaan. Misalnya terjadi permasalahan dan kami tidak mampu mengatasi, mentok maka Ibu akan turun tangan menyelesaikan permasalahan. Dan biasanya, kalau Ibu sudah “turun” tidak ada masalah yang tidak selesai.

Menurut saya, Ibu adalah seorang perempuan yang mempunyai keinginan, kemauan, impian dan harapan yang tinggi. Kemauan Ibu sangat keras untuk bangkit dan maju, itulah yang diharapkan dari Tazakka. Ibu meskipun seorang ibu, tetapi tidak pernah mencampuradukkan masalah rumah tangga dan pekerjaan. Makanya saya yakin, selama semangat Ibu masih seperti itu, Tazakka akan lebih maju. Begitu juga dengan usaha-usaha Ibu yang lain.

Qurnia Kartika (Manager Umum PT Tazakka Ceria Wisata)
“Manajemen kekeluargaan”

Ibu Yusro menerapkan manajemen kekeluargaan sehingga semua karyawan sudah dianggap anak olehnya. Ibu Yusro selalu menempatkan posisinya sebagai seorang pemimpin yang baik. Jika ada permasalahan kita selalu diberi kepercayaan untuk mengatasinya terlebih dahulu. Kalau sudah tidak bisa diselesaikan, barulah Ibu yang turun tangan mengatasinya.

Selama tiga tahun bekerja dengan Ibu, saya sebagai karyawan lebih banyak mengalami suka dibandingkan dengan duka. Karena kita merasa nyaman bekerja dengan Ibu, bekerja bersama-sama dan saling mendukung satu sama lain. Memang Ibu juga marah kalau pekerjaan kita menimbulkan masalah, tetapi Ibu juga memberikan jalan keluar dari permasalahan yang kita timbulkan. Dari situlah kita belajar, karena begitu sudah paham terhadap permasalahan dan cara mengatasinya, Ibu sudah tidak marah lagi. Saya berharap semoga jamaah yang pergi haji atau umrah lewat Tazakka semakin banyak.

Fauzie Muliawan (Staf Umum)
“Nyaman dalam suasana kekeluargaan”

Tiga tahun di Tazakka saya menemukan kenyamanan di tempat bekerja yang penuh dengan suasana kekeluargaan, tenang dan tanpa keluhan sedikit pun. Ibu Yusro bagi kami para karyawan bagaikan kakak, orang tua, sekaligus seorang ibu karena saking akrabnya. Tidak heran, Ibu adalah tempat kami curhat terhadap masalah yang kami hadapi, tidak hanya pekerjaan tetapi juga masalah pribadi. Alhamdulilah selama bergabung di sini tidak ada kekurangan yang saya temukan.

Kami sebagai karyawan malah sering sharing kalau ada apa-apa baru disampaikan ke Ibu. Yang terbaik bagi karyawan pasti akan ditindaklanjuti dan Ibu memberi kepercayaan kepada karyawan tidak pernah separuh-separuh tetapi 100 persen. Di perusahaan ini tidak ada batasan antara karyawan dan atasan. Saya berharap, semua tambah maju khususnya usaha-usaha Ibu yang lain. Yang mana kami selalu dilibatkan pada usaha baru Ibu diluar Tazakka.

Aaron Ardian Cholis (Putera pertama)
Ossama Cholis (Putera kedua)
Muhammad Haitsyam Cholis (Putera ketiga)
“Mama hebat, tangguh dan luar biasa”

Mama adalah sosok seorang Ibu yang hebat dan luar biasa. Selalu mendukung keinginan anak-anaknya. Termasuk keinginan saya sebagai anak pertama yang ingin berkecimpung di dunia entertainment mendapat dukungan Mama. Kami bertiga merasa lebih nyaman sekarang dengan tidak kehadiran ayah di antara kami. Lebih bebas tetapi harus bertanggung jawab terhadap kebebasan itu. Mama tidak pernah memaksakan kehendaknya terhadap kami.

Mama itu enak diajak curhat masalah yang kami hadapi. Dari masalah sekolah, teman-teman bahkan sampai masalah “cewek” sekalipun. Meskipun Mama sangat sibuk, tetapi Mama jago membagi waktu. Ketika kami perlukan, Mama selalu ada untuk kami. Mama mengajari kami untuk selalu bersyukur terhadap apa yang telah kami terima.

Kami sering diajak Mama ke tempat kerjanya sehingga kami tahu dan mengerti bagaimana Mama bekerja. Selain itu, setiap tiga bulan sekali kami diajak Mama untuk menyertai jamaah sehingga kami semakin paham apa yang dilakukan Mama.

Meskipun single parent dalam membesarkan kami ketiga anaknya, tetapi “as long as, we happy” dengan hanya berempat saja. Kami bisa melewatkan waktu bersama-sama, makan-makan, menyanyi dan jalan-jalan. Hingga saat ini belum kepikiran untuk mempunyai pengganti papa lagi. Kami menikmati kebersamaan ini.

Tahun depan, saya akan kulaih di UCLA, Amerika Serikat. Sedangkan Ossama akan ke SIngapura untuk melanjutkan sekolah SMP-nya, sementara bungsu di rumah menjaga Mama. Jadi Mama tidak usah khawatir, masih ada tiga jagoan yang selalu siap menjaga Mama. Terima kasih, Mama.

Sekilas PT Tazakka Ceria Wisata

Profil Perusahaan

Segala puji milik Allah SWT Rab semesta alam, atas limpahan karunianya sehingga sampai dengan hari ini kita masih dalam keadaan beriman kepadaNya, serta nikmat persaudaraan diantara kita. Sholawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah saw pembawa Risalah Illahi yang memberikan suri tauladan kepada umatnya untuk saling menyayangi diantara mereka serta tetap menjaga silaturahim.

Tazakka Tour adalah Biro Perjalanan Umrah dan Haji Eksekutif yang mempunyai komitmen: Membimbing dan mengantarkan jamaah haji beribadah dengan khusyuk dan sesuai sunnah Rasulullah saw.

Kebenaran dan ketetapan pelaksanaan haji dan umrah sesuai dengan sunnah Rasulullah saw adalah merupakan salah satu syarat mutlak untuk mendapatkan ibadah haji dan umrah yang mabrur.

Berhaji adalah melaksanakan seluruh manasik haji sesuai tuntunan Rasulullah saw. Karena itu pengetahuan tentang tuntunan Haji sesuai Sunnah Rasulullah saw merupakan sesuatu yang harus dipersiapkan agar tidak menjadi ibadah yang kosong nilai.

Sejarah

Tazakka Tour didirikan pada tanggal 18 September 2002 di Jakarta oleh Hj. Yusro dan H. M. Cholis Daud, Lc. Dengan motivasi untuk mengantarkan jama’ah kembali kefitrahnya, kembali suci sesuai dengan makna “Tazakka“.

Berdasarkan motivasi tersebut Tazakka Tour bertekad untuk menjadi pelayan tamu Allah, sungguh terhormat menjadi pelayan tamu Allah, untuk itu Tazakka Tour berupaya semaksimal mungkin menghantarkan tamu Allah dengan ikhlas dan tawakal kepada ibadah yang diterima (mabruur) menuju keridhaan-Nya sepanjang masa.

Visi

Menjadi biro penyelenggara Ibadah Haji dan Umrah yang mengantarkan jamaah beribadah khusuk dan benar sesuai Sunnah Rasulullah saw yang di bangun atas kesadaran dan pemahaman yang benar.

Misi

Mendorong kemantapan calon jamaah untuk menunaikan ibadah umrah/haji secara benar dan sempurna untuk mencapai ibadah yang mabruur
Mengembangkan penyelenggaraan program perjalanan ibadah umrah/haji yang unik, pembimbing ibadah yang siqah, serta pelayanan yang amanah
Mengembagkan karyawan profesional-amanah untuk melayani jamaah secara profesional dan amanah
Mengembangkan ukhuwah Islamiyah, silaturrahim, ta’awanu ‘alal birri wa taqwa untuk mencapai kehidupan yang rahmatan lil ‘alamiin

Keistimewaan
Pelayanan Optimal
Bimbingan Ibadah Berkesinambungan

Tujuan Didirikan
Mengelola usaha penyelengaraan perjalanan ibadah yang berdimensi dua kebaikan
Menjadi salah satu sumber pendapatan yang halalan-thayyibah
Menjadi pintu masuk untuk mengembangkan berbagai usaha lain yang berkaitan

Legal Dokumen
Notaris Elliza Asmawel, SH., No. C.603 H.03.02.TH.2000
SK. Menkeh. RI No. C-155.HT.03.01-TH 2002
Notaris Nelly Sylviana, SH
SIU BPU, Kpts. Dirjen Pariwisata No. 503.11/23/SK/PAR/IV/2004.  16 April 2004
S.K. Menag. RI. No. D / 341 tentang penetapan Biro Perjalanan Umumsebagai penyelengara perjalanan Umrah, tanggal 31 Agustus 2004
NPWP No. 02.173.868.7-017.000
TDP No. 090316338884

Asosiasi
ASITA (Association of the Indonesian Tours & Travel Agency)
AMPHURI (Asosiasi Muslim Penyelengara Haji & Umrah Republik Indonesia)

Prinsip Kerja
Amanah
Praktis
Obyektif
Terbuka

Manajemen
Penasehat: Ustd. H Hasan Bisri, Sag., H Teddy Herdyana
Direktur Utama: Hj Yusroren Elizabeth
Pembimbing Ibadah: Ustd. H Mochtar Husain, Lc

PT Tazakka Ceria Wisata
Kantor Pusat
Ruko Mega Kalimalang, Jl KH Noer Alie No 25 Bekasi
Telp. (021) 88962292, 88965995, Fax. (021) 88962292
HP. 08788397266 – 081808102323
Website: www.tazakka.com
Email: yusroelizabeth@tazakkatour.com

Kantor Cabang Jambi
Jl A Rahman Saleh
Pasir Putih Beringin, Jambi Selatan
Phone: (0741) 7837302 – 7837304

Drs. H Wirsad Yunuswoyo, M.Pd

No Comments

Drs. H Wirsad Yunuswoyo, M.Pd
Kepala Sekolah SMAN 4 Cirebon
Kerja Keras dan Tujuan Yang Jelas Mengangkatnya Berprestasi
Berangkat dari menjadi guru di SMP Negeri 3 Cirebon, Jawa Barat, pada tahun 1978, Drs. Haji Wirsad Yuniuswoyo, M.Pd, yang pegawai negeri sipil dan  kepala sekolah SMAN 4 Cirebon ini mengaku  kalau karier pendidikan gurunya selalu berpindah-pindah sekolah. Sebab satu tahun kemudian tepatnya 1979, guru bidang study matematika ini berpindah kembali ke SMP Negeri 4 Cirebon. “Di SMPN 4 inilah, masa pengabdian saya cukup panjang, “ungkapnya.
Sebab pada tahun 1990, barulah ia berpindah sekolah lagi, atau tepatnya ke SMAN 3 Cirebon. Namun sebelumnya, kata Wirsad, pada tahun 1987,  ia sempat masuk menjadi guru inti PKG (Pemantapan Kerja Guru) sebagai guru inti di bidang  mata pelajaran matematika selama 3 tahun. Bapak tiga anak ini mengaku perjalanannya cukup panjang untuk sampai ke jabatan kepala sekolah.
Program pemantapan kerja guru ini merupakan hasil kerjasama dengan world bank. Hasilnya cukup baik, dan banyak dijadikan model pelatihan oleh guru lingkungan sekolah. Selain itu  PKG juga telah sedikit mengubah paradigma tentang ketakutan siswa pada bidang study matematika, “Artinya ketakutan yang berlebihan itu bisa kita atasi, jadi kalau ada siswa yang nilai matematikanya buruk, itu karena mereka tidak memahami dan mengerti, termasuk kurangnya latihan,“ paparnya.
Menurutnya, berbagai pengalaman yang telah ditimbanya, mulai dari guru teladan Tingkat Jawa Barat, pada tahun 1997 hingga kepada organisasi  persaudaraan haji, sebelum kemudian menjadi kepala sekolah berprestasi di tahun 2007. “Pada tahun 1993 hingga 1996, saya pernah mengabdi menjadi guru di SMAN 6 Cirebon, yang dahulu adalah Sekolah Guru Olahraga (SGO),“ katanya. Bahkan di tahun yang sama, ia sempat mengikuti RECSAM (Regional Education Course Science An Mathematic) di Malaysia selama 6 bulan kemudian menjadi instruktur PKG matematika se-Jawa Barat.
“Sebelum Propinsi Banten meminta memisahkan diri untuk menjadi Propinsi baru dari propinsi Jawa Barat, saya sering mengadakan perjalanan (study banding dan pembinaan kepada guru-guru Matematika) ke daerah tersebut, “ungkapnya. Bukan hanya Serang, Pandeglang, tapi juga hingga ke daerah Lebak dan Cibakung.
Memang pengalaman panjang telah membuatnya banyak menorehkan prestasi akademik. Namun bukan Wirsad, kalau tidak bisa membawa sekolah yang dipimpinnya maju dan berkembang. Dengan bekal berpindah-pindah sekolah, dan pengalaman mengikuti training serta pendidikan leadership, lambat laun bapak yang beristrikan hajjah Yanthi Sri Iryanti ini pun semakin matang. Tak heran, jika ia pun menyelesaikan kembali sekolahnya di program pascasarjana/M.Pd.
Sarjana pertamanya ia selesaikan S1 bidang Matematika. Wajar saja bapak dua putra dan satu putri ini mengenyam banyak bidang prestasi, karena pada tahun 1993 hingga 1998, ia pernah menjadi penulis buku Matematika, yakni Aritmatika untuk SMP-SMA dengan penerbit Intan Pariwara,  Tiga Serangkai, dan Pakaraya serta LKS Matematika. “Sayangnya LKS yang semula merupakan pembelajaran yang dikembangkan oleh negara Inggris untuk memudahkan siswa mempelajari materi pelajaran dengan metoda penemuan, di Indonesia justru dijadikan tempat menulis soal-soal, ini sebuah ironi,” tuturnya dengan nada kecewa.
Karakternya yang kalem dan penuh karismatik, telah membuatnya disenangi berbagai warga sekolah yang dipimpinnya. Tak heran bila ia telah mengikuti berbagai pendidikan yang sifatnya menunjang profesinya. “Kerjasama antar sekolah (sister school) dengan berbagai negara, telah membuatnya makin kaya akan pengetahuan yang didapat. Ia pun kerap bepergian untuk mengadakan studi banding tentang pendidikan pada sekolah di negara yang dikunjunginya.
Namun begitu, tidak dipungkiri pula untuk menjalin kerjasama dengan negara lain seperti China dan Australia. Setelah dipikirkan, Australia merupakan pilihan utama dan solusi yang tepat, mengingat jarak kedua negara ini relative dekat dan tidak membutuhkan biaya yang mahal untuk sampai ke Australia. “Namun begitu, saya sebagai Kepala SMAN 2 Cirebon juga mendapat tawaran untuk bekerja sama dalam rangka sister school di negara Turki. Pada saat ke Turki ada sedikit kemacetan komunikasi, terutama masalah penggunaan bahasa Inggris, mereka/orang Turki lebih senang bicara bahasa Turki, “jelasnya. Namun belum lama beristirahat sepulangnya dari Turki, ia pun mendapat tugas baru menjadi untuk memimpin sebuah sekolah SMAN lagi yaitu SMAN 4 Cirebon.
Panggilan itu pun diterimanya dengan tenang, tanpa terpaksa, apalagi gundah gulana. Baginya jiwa pendidik merupakan nomor satu untuk mengabdi, tantangan di bidang pendidikan. Tantangan itu pun ditanamkan dalam benaknya, dan berusaha untuk menjadikan sekolah yang dipimpinnya menjadi sekolah unggulan dan memiliki prestasi yang menonjol. “Saat ini yang terpenting adalah mutu atau kualitas. Jadi apakah itu sekolah swasta atau negeri, kalau memang kualitasnya bagus, maka ia berhak untuk menjadi sekolah favorit.”
“Semangat, disiplin, serta menerapkan peraturan sekolah kepada warga sekolah, merupakan mutu keharusan,“ ungkapnya. Peraturan yang ketat ini dilakukan, sebagai wujud kasih sayangnya kepada warga sekolah agar mereka hidup teratur jiwa dan raganya. Tidak boleh ada siswa maupun guru terlambat masuk sekolah. Baginya keterlambatan mereka sama saja dengan membuat sekolah menjadi berantakan.
Bapak yang memiliki motto Segala yang akan dilakukan harus jelas tujuannya ini mengaku juga pernah menjadi kepala sekolah  di SMAN 9 Cirebon pada tahun 1999-2001. “Waktu itu sekolah ini masih baru lagi, dan saya ditunjuk untuk menjadi kepala sekolah, Namun biarlah dan ini merupakan tantangan,“ ungkapnya. Sebab katanya, selain harus berhadapan dengan lingkungan yang baru siswa-siswinya, juga kepada masyarakat sekitar. “Hal ini bukan pekerjaan yang mudah, mengingat dibutuhkan sosialisasi yang tinggi, agar masyarakat mau menerima kehadiran sekolah dan isinya.
“Saya terpaksa harus bersikap tenggang rasa dan tidak ketat, maklum lingkungan baru dan sekolah baru, jadi harus dipahami dan dimengerti persoalan mereka.” Namun, bukan begitu juga lembeknya atau membiarkan sekolah tanpa kerjasama dengan masyarakat, Wirsad juga mengaku pernah memberikan semacam ultimatum berupa ancaman kepada masyarakat, agar mau dan  rela membantu sekolah baru tersebut. Sebab jika masyarakat setempat enggan membantu perkembangan sekolah, ia pun mengancam akan melaporkan kepada Walikota untuk memindahkan sekolah tersebut, namun sebaliknya jika mereka membantu dan mendukung sekolah, maka pihaknya akan meminta walikota untuk membuatkan proyek jalan masuk ke sekolah dan desa-desa sekitarnya.
Akhirnya masyarakat yang semula menolak kehadiran sekolah tersebut bersedia mendukungnya dengan menjaga dan melestarikan kawasan sekolah dari aksi vandalisme alias coret-coret, termasuk mengizinkan angkot masuk ke kawasan sekolah. “Semula mereka menolak kehadiran angkot, karena mereka menganggap kehadiran angkot telah mengambil ladang mata pencaharian ojeknya,“ tutur Wirsad.
Ia menambahkan walaupun sebagai guru matematika, namun tidak bisa memaksakan kehendaknya agar siswa-siswi di SMAN 9 menjadi juara matematika, mengingat kemampuan siswa dari desa tersebut kurang mumpuni. Namun setelah melihat badan siswa-siswi sekolah itu  besar-besar, barulah ia berpikir untuk membawa potensi keunggulan tersebut dalam bidang olahraga. “Akhirnya mereka dapat meraih prestasi dengan  menjadi juara cabang atletik, volley ball, di berbagai kompetisi sekolah maupun kejuaraan tingkat daerah,“ ceritanya.
Padahal tempat latihan volley ball pun tidak memadai, tiang net terbuat dari bambu, garis di tanah dari kapur, tapi semangat mereka yang pantang menyerah untuk berprestasi memecutnya untuk meraih juara. Memang bukan hanya cabang atletik, lomba baris berbaris atau paskibraka juga meraih juara. “Tapi ya itu juaranya dalam bidang fisik, tetapi belum ke bidang sains/keilmuan,“ paparnya. Dua tahun menurutnya ia memimpin sekolah di SMAN 9 Cirebon tersebut.
Selanjutnya, kepala sekolah di SMAN 7 Cirebon pada tahun 2001-2007. Ironinya, belum memimpin sekolah, ia sudah mendapat laporan dari kepala kelurahan dan RW setempat bahwa sekolah ini sering tawuran dengan sekolah SMK. Bukan Wirsad kalau tidak bisa mengatasi segala persoalan yang dihadapinya, dengan bekal pengalaman yang banyak memimpin dan mengajar di sekolah, ia pun lalu berpikir untuk  menjembatani dan mengajak berdamai  atau menggalang kerjasama dengan pihak SMK. “Kebetulan kepala sekolah SMKnya adalah adik kelas saya saat kuliah di S2, jadi mudah untuk diajak berkomunikasinya, “paparnya. Setelah keduabelah pihak mengadakan pertemuan, baik guru maupun siswanya, tawuran yang selalu terjadi itu, akhirnya berdamai.
Berturut-turut kepala sekolah di SMAN 3 Cirebon Januari hingga Juni 2008, dan SMAN 2 Cirebon tahun 2008 -2010. Kini perjalanannya sekarang adalah sebagai kepala sekolah di SMAN 4 Cirebon. “Penempatan itu baru diberikan pada bulan Juni 2010, “paparnya.
Banyak liku-liku yang dihadapinya dalam mengabdi sebagai kepala sekolah. Mulai dari membenahi infrastruktur sekolah, hingga kepada bagaimana mensosialisasikan sekolah ke masyarakat, dan mendidik siswa dan guru-guru untuk selalu unggul. “Bayangkan saja di SMAN 3 Cirebon, saya harus memperbaiki sarana dan prasarana olahraga, “ungkapnya.
Selain sebagai kepala sekolah, Haji Wirsad, juga menyempatkan diri untuk memberikan motivasi untuk siswa-siswinya dengan memberikan motto berupa bekerja penuh ihklas sehingga merasa tidak beban, kedua, rajin beribadah, ketiga, semangat, keempat, tidak mudah putus asa, kelima, tanggungjawab dan jujur, keenam, setiap kesempatan jangan ditunda-tunda, dan kesempatan tidak selalu datang dua kali, ketujuh, mengerjakan sesuatu langsung jangan sampai ditunda-tunda, kedelapan, dapatkan informasi secepatnya/duluan, mendapatkan informasi duluan, berarti ilmu pengetahuan kita dapat duluan, dan kesembilan, berserah diri pada Allah. Jika kita menerapkan atas sikap-sikap di atas, insya Allah kita dapat menjadi orang yang sukses.
“Pak Wirsad adalah tipe pekerja keras, terbukti hanya dalam hitungan bulan di SMAN 4 Cirebon sudah banyak yang dibenahi, terutama pada infrastruktur, seperti rehabilitasi laboratorium computer dan ruang PSB (Pusat Sumber Belajar), perbaikan kursi, taman dan sarana prasarana kegiatan ekstrakurikuler,“ jelas Kepala Tata Usaha SMAN 4 Cirebon
Dalam bidang pembinaan kesiswaan, Wirsad yang lahir di Cirebon 29 Juni 1957 ini, juga telah mencanangkan kedisiplinan dengan menggunakan system point, mengadakan apel siaga pada jedah waktu, antara pasca UAS hingga dengan menjelang pembagian raport. “Obsesinya adalah bagaimana agar lulusan siswa-siswi SMAN 4 Cirebon ini dapat berkompetisi dan bersaing di dunia nasional maupun internasional,“ kata Drs. Irman Darojat, Guru SMAN 4 Cirebon.
Menurut Wirsad, visi dalam sekolah ini  adalah bagaimana menjadikan siswa yang bertakwa dan berprestasi. Bertakwa disini, maksudnya kata Wirsad adalah yang berkaitan dengan masalah kecerdasan spiritual, sedangkan berprestasi pengertiannya luas, menyangkut akademisi, non akademis, atau intelegensia, dan berakhlak mulia menjadikan siswa sebagai insan kamil, sopan santun, cerdas, dan berbudi pekerti.
Ditambahkan untuk misi sendiri itu ada lima besar, yakni pertama,  membina keimanan dan meningkatkan ketakwaan, artinya siswa yang masuk sekolah di sini, harus sudah memiliki keimanan dan juga ketakwaan. “Jadi jangan sampai kering begitu.” Kedua, Mengembangkan pendidikan yang berorientasi pada keunggulan, artinya pendidikan itu harus dikembangkan, jangan begitu saja, atau hanya sekedarnya, melainkan bagaiman pendidikan berkualitas. Ketiga, meningkatkan kemampuan dan kecakapan peserta didik, serta membina minat dan bakat secara kreatif, artinya, siswa dituntut untuk mampu dan memiliki ketrampilan, serta minat dan bakat yang baik. Dengan bakat dan minat yang berbeda-beda, diharapkan mereka bisa memilih mana yang sesuai dengan hati nuraninya atau tidak, misalnya mereka ingin memilih kedokteran, “kalau memang arahnya ke sana, maka kita bimbing, begitu pula dengan bakat, jika bakatnya di bidang olahraga, maka kita arahkan ke olahraga, begitu dan seterusnya, “jelas Wirsad. Harapan lainnya adalah bagaimana unsur tersebut bisa mengangkat nama sekolah, sehingga sekolah  bisa unggul. Ternyata misi sekolah ini membuktikan dengan siswa berprestasi di bidang olahraga, seperti silat, tinju dan atletik dan sebagainya. “Mereka ini merupakan atlet-atlet nasional, yang banyak berkiprah membantu dan mengharumkan nama bangsa dan negara di arena internasional, “ungkap Wirsad. Keempat, membina sikap ilmiah, disiplin dan tanggungjawab.
Selain harus menjalankan visi dan misi sekolah, strategi lain yang dikembangkan Wirsad, adalah melakukan pendekatan dengan siswa dan guru. Cara ini cukup efektif, kenyataan banyak siswanya memberikan segudang prestasi dan piala. Begitu pula dengan guru-gurunya,  mereka pun menunjukan kualitas pengajarannya dengan baik. Bahkan Wirsad tak segan-segan membantu mereka untuk mendatangkan para ahli untuk dijadikan nara sumber tukar menukar pikiran atau pendapat “Shearing” guna kemajuan sang guru. Ia pun juga kerap terjun memberikan nasihat dan wejangan, terutama terkait dengan metode belajar mengajar yang bisa dipahami siswa.
Kenyataan sikapnya yang ramah, sopan santun, dan demokratis kepada semua orang, membawa dirinya banyak diminati warga sekolah. ”Mereka mengaku merasa kehilangan jika Pak Wirsad harus pindah sekolah,“ kata Dra. Siti Rochani, Guru Ekonomi. Prinsip Wirsad adalah bagaimana mencontohkan sikapnya yang benar kepada warga sekolah. “Seribu nasihat tidak akan bermanfaat, jika contoh atau sikap yang kita tunjukan tidak sesuai dengan tingkah laku.”
Pola pendekatan dalam bentuk tingkah laku ini, ternyata sangat berpengaruh terhadap kehidupan kepemimpinan Wirsad. Terbukti banyak sekolah yang telah ditinggalkan, saat berkunjung ke tempat itu lagi, ia mengaku mendapat sambutan yang berlebihan. Hal ini tidak terlepas dari peran dan kinerjanya yang dirasakan warga sekolah sebagai hal yang baik dan profesional.
Banyaknya sekolah yang dipimpinnya berkembang dan maju, juga merupakan bukti bahwa kemampuannya dalam mengembangkan sekolah sudah profesional dan managerial. Untuk itu, tidak ada sesuatu hal yang berhasil tanpa dibarengi kerja keras yang sungguh-sungguh. Itulah harapannya kepada semua guru, agar generasi  berikut  bisa mengikuti langkahnya yang baik. Ia berharap siswa dan guru serta orangtua murid memahami konsepsinya akan kemajuan sekolah. Sebab katanya, kepala sekolah hanya jabatan sesaat, selanjutnya mereka yang akan menjalani. Demikian ungkapan Haji Wirsad Yuniuswoyo dalam bincang-bincangnya. Semoga apa yang dicita-citakan untuk kemajuan sekolah dapat terkabulkan, dan generasi muda dapat melanjutkan kegiatannya untuk menjadikan pendidikan yang bermutu.

Drs. Tarwan , MT

No Comments

Drs. Tarwan , MT
Kepala Sekolah Menengah SMK Penerbangan Dirghantara

Terus Membangun Demi Terwujudnya Target Sekolah Unggulan Tahun 2010

Sebelum berhasil meluluskan siswanya, Sekolah Menengah Kejururuan  Penerbangan Dirghantara ( SMK-PD ) telah memperoleh predikat akreditasi “B”. Dengan predikat tersebut kualitas ataupun persyaratan Sekolah  Menengah Penerbangan di Curug ini diakui pihak yang berwenang. Tentu saja ukuran untuk sekolah baru SMK-PD yang baru berdiri tahun 2005 predikat ini sangat membanggakan.

Pada awal berdirinya SMK-PD ini banyak berkonsultasi/ berhubungan dengan SMKN 29 Jakarta, meliputi sistem kurikulum, sistem pembelajaran, tenaga pengajar kebutuhan laboratorium dan lain-lain. Seiring dengan perjalanan waktu SMK-PD dapat Mandiri, artinya diperkenankan melaksanakan Ujian Nasional sendiri. Padahal diperkirakan sebelumnya Ujian Nasional pertama harus bergabung dengan SMK lain yang sesjenis dan  yang terdekat adalah SMK 29 Jakarta, dan apabila hal itu terjadi memerlukan biaya  tak sedikit yang harus ditanggung oleh para siswanya terutama untuk transportasi.

Bermodalkan predikat akreditasi, dapat membantu sekolah dalam menyampaikan beberapa hal dan kendala yang dihadapi oleh sekolah kepada masyarakat. Dengan kerja keras dan berbagai upaya, akhirnya sedikit demi sedikit fasilitas sekolah dapat dilengkapi. Lulusan pertama SMK-PD adalah 73 orang siswa, sebagian besar sudah diterima dan bekerja di maskapai penerbangan dan sebagian melanjutkan studi. Tidak tahu kenapa anak-anak kami cepat terserap oleh pasar”kata Drs. Tarwan, MT, Kepala Sekolah SMK Penerbangan Dirghantara.

Tidak hanya berhenti disitu, tahun berikutnya bahkan beberapa maskapai penerbangan nasional mendatangi SMK-PD, dengan tujuan  merekrut dan mengikat siswa sebelum mereka “ diambil” oleh perusahaan lain setelah lulus sekolah. Tahun  2009/2010 GMF dapat merekrut 16 siswa, sebagian sedang mengikuti proses rekrut Lion Air. Sementara lulusan umumnya direkrut melalui jalur normal di berbagai maskapai penerbangan, sebagian lainya melanjutkan ke Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI-Curug), Universitas Nurtanio ( UNUR –Bandung ) dan lainnya.

Kepada siswa yang sudah lulus, Tarwan panggilan akrabnya berpesan agar mereka agar tidak pernah berhenti belajar. Lulus dari SMK bukan berarti tugas anda telah selesai, justeru tugas lebih besar telah menanti didepan kita. Mereka akan menghadapi dunia penerbangan yang sebenarnya, yaitu dunia yang tidak mentolerir kesalahan sedikitpun, yang bisa berakibat fatal.

“Mereka harus terus belajar dan belajar.Tantangan di dunia penerbangan relatif berat, karena teknologi penerbangan selalu berkembang dan akan

terus berkembang . Kami mendidik sesuai   dengan kemampuan yang kami miliki, dan kami akui masih banyak lubang yang kitaenahi. benahi” kata pria kelahiran Purwokerto, 12 Agustus 1948 ini
Tarwan sadar, sebagai lembaga pendidikan  baru, baik secara fisik maupun sofware masih banyak kekurangan. Untuk itu  secara operasional setiap saat sekolah melakukan perbaikan-perbaikan yang dirasakan  mendesak, tidak tanggung-tanggung ia merencanakan menjadi SMK Penerbangan Dirghantara Curug sebagai SMK Penerbangan Unggulan pada tahun 2020.

Saat ini, Tarwan sedang membangun kesamaan visi dari semua unsur yang ada di sekolah. Tidak bosan bosanya ia mensosialisasikan secara terus menerus agar komitmen dari semua unsur dapat terbangun. Karena syarat untuk mencapai target menjadi sekolah unggulan tahun 2020 salah satunya adalah adanya komitmen dari semua unsur, sumber daya uang dan sumber daya lainya.

Sebagai sekolah yang ingin mendapatkan predikat sekolah Unggulan, Tarwan telah membuat suatu program semacam master plan dari tahun 2010 – 2020.
Tahun 2010, berkonsentrasi pada pembangunan prasarana/fisik untuk kesiapan akreditasi ulang, membuka kompetensi keahlian baru ( Instrumen Avionic Pesawat Udara ) untuk meningkatkan kinerja.
Tahun 2011, SMK-PD berkonsentrasi untuk pembenahan administrasi guru, administrasi perkantoran, administrasi pembelajaran, dan juga persiapan administrasi ulang ( 2 ) dengan sasaran mendapatkan predikat “A”
Tahun 2012, SMK-PD konsentrasi pada pelaksanaan akreditasi ulang, pembinaan tenaga kependidikan, peninjauan struktur organisasi guna meningkatkan kualitas pembelajaran.
Tahun 2013, SMK-PD kembali konsentrasi pada pembangunan prasarana / fisik lanjutan , pengadaan sarana pendidikan lanjutan dan mengajukan usulan Sekolah Standar Nasional ( SSN )
Tahun 2015, SMK-PD konsentrasi pada implementasi SSN, pemantapan SSN, penerapan ISO, usulan Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) , SBI untuk menuju Sekolah Unggulan
Tahun 2020, diharapkan target yang dicanangkan  SMK-PD bisa tercapai  kalau tak ada perubahan kebijakan yang mendasar, menjadi Sekolah Unggulan di Indonesia.

“ Semua itu memang perlu kerja keras dan perjuangan berat. Karena sistem dalam sekolah ini belum satu jalan,  maka masih perlu pembenahan . Sebenarnya untuk mencapai SSN persyaratan  hampir memenuhi, yaitu tinggal kelengkapan peralatan  plus pengajar dengan bahasa inggris hanya  beberapa orang, untuk ISO dengan  syarat tertib administrasi tidak terlalu masalah kalau memang kita ingin komitmen

Komitmen menjalankanya. Kemudian seperti diuraikan diatas setelah SSN, ditingkatkan RSBI yang mensyaratkan guru yang mengajar dengan pengantar bahasa Inggris lebih banyak lagi. Bagi kami hal ini tidak terlalu bermasalah, karena sebagian pengajar kami yang notabene dosen STPI terbiasa mengajar siswa dari negara asing, yakinnya.

Semua rancanan yang disusun Tarwan dimaksudkan untuk membangun SDM penerbangan yang handal dalam menghadapi globalisasi. Disamping membekali ketrampilan teknis, lulusan SMK Penerbangan Dirghantara diharapkan mampu berbahasa Inggris dengan lancar. Rencananya, ia ingin merekrut tenaga pengajar dengan penguasaan bahara Arab. Mengingat sekarang ini di era globalisasi persaingan tenaga kerja sangat ketat dari seluruh penjuru dunia.

“Jadi kalau bisa tidak hanya bahasa Inggris tetapi bahasa asing lainnya juga, karena peluang bidang ini masih sangat terbuka lebar. Kalau kita mampu mencetak lulusan yang qualified di luar negeri masih banyak yang bisa  menampungnya. Dari pada kita mengirim TKI yang non ketrampilan, mendingan mengirim yang begitu kan . Maka saya berangan-angan merekrut lulusan dari Madrasah, kita didik dan kita kirim ke luar negeri, beherja sama dengan Depnaker. Peluang besar di bisnis bidang penerbangan untuk orang-orang kompeten dan punya sikap,”tandasnya.

Jajaran Perintis

Drs. Tarwan, MT, sebelumnya  sebagai salah satu Instruktur Sekolah Tinggggi Indonesia (STPI), pada tahun 1987 ditugaskan sebagai pengajar Mekanika Teknik pada Jurusan Teknik Penerbangan. Ia juga ditugaskan sebagai tenaga fungsional sebagai Pimpinan Instalasi Teknik Umum.

Tahun 1996, Tarwan mendapat kesempatan untuk melanjutkan  pendidikan pada jenjang Magister(S2) di ITB jurusan yang diambilnya sesuai dengan pekerjaan sehari-hari berkutat didunia penerbangan. Magister Teknik  diselesaikan pada tahun 1998, masih tetap mengajar. Kemudian  ditugaskan sebagai Kepala Sup Penyusunan Program kurang lebih selama setahun. Selanjutnya diberikan kesempatan sebagai Kepala Balai Diklat Penerbangan di Palembang( akhir 2000 s/d akhir 2004.

Anak keempat dari empat bersaudara pasangan Sumardi dan Rakyah (almh) kemudian ditugaskan sebagai dosen tetap di STPI dengan pangkat Lektor Kepala. Tugas ini memberinya banyak waktu luang pada sore hari yang dimanfaatkan untuk mengabdi kepada masyarakat. Salah satunya ikut bergabung sebagai  staf pengajar pada SMK  dilingkungan Curug.

Secara resmi SMK Penerbangan Dirghantara berdiri pada tahun 2005 berlokasi  di kompleks STPI Curug. Sejak awal ia ditugasi sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum kemudian merangkap  sebagai Pelaksana Teknis Operasional (PTO) SMK-PD ( 2008-2009). Pekerjaan yang dilakukanya laksana Kepala Sekolah, karena Kepala Sekolah sudah sepuh hanya saja PTO tak berwenang menandatangani surat-surat resmi. Baru pada bulan Maret 2010  Tarwan kemudian diangkat sebagai Kepala Sekolah SMK-PD secara definitif.

“Visi kami para lulusan SMK Penerbangan Dirghantara Curug, handal dibidangnya masing-masing. Visi yang kita usung adalah “ Menyiapkan teknisi handal dibidang Mesin dan Rangka Pesawat Udara, Instrument dan Avionic Pesawat Udara, berdisiplin, bertanggung jawab dan bermartabat, target kami

terutama ingin membina anak didik agar tangguh, kreatif dan bertanggung jawab dilapangan sesuai bidangnya masing-masing”ungkap ayah empat anak hasil pernikahannya dengan Theresia Haryatun ini.

Oleh karena itu SMK Penerbangan Dirghantara dibawah kepemimpinan Tarwan pada pembinaan sikap yang salah satunya adalah disiplin. Sebagai tolok ukur atau tepatnya cermin adalah Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia ( STPI ) Curug Tangerang, walaupun secara umum belum mencapai kondisi yang menyerupai dalam cermin, tetapi upaya menumbuhkan sikap tersebut terus dilakukan, apalagi sebagian adalah dosen STPI.
“Kita mencoba  menekankan sikap disiplin sebagai budaya yang harus dilaksanakan . Disamping itu sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku kami juaga mengupayakan beberapa type mesin sebagai sarana pelatihan. Meskipun  kita hanya beli mesin bekas karena harga mesin baru mahal dan tak terjangkau , karena kita harus memiliki guna memenuhi persyaratan. Karena predikat akreditasi kita baru “B” nanti kita ingin meningkat menjadi “A”. Kita sedang berupaya untuk bisa memiliki pesawat/mesin yang untuk praktek, bisa juga diterbangkan”ujar pemilik motto ‘Semua yang dihadapi dijalani dengan ikhlas’ ini menguraikan harapanya.

Masuk Angkatan Laut.

Awalnya Drs. Tarwan, MT tidak sedikitpun bercita-cita mejadi guru. Sebagai anak petani biasa, lebih tertarik menjadi tentara. Karena pada saat itu masuk AKABRI ( Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ) masih relatif mudah, tak perlu koneksi maupun persyaratan lai, semua berdasarkan atas prestasi dan kemampuan masing-masing secara obyektif.

“Sejak kecil saya ingin masuk Angkatan Laut, itu cita-cita saya karena pakaianya putih rapi dan kalau berbaris bagus. Tetapi orang tua punya pepatah Jawa “ mangan ora mangan anggere kumpul” maka saya mendaftar sekolah yang relatif dekat rumah. Pada saat itu yang sejalan dengan lulusan STM adalah APTN ( Akademi Pendidikan Teknologi Negeri ) yang lulusanya menjadi calon guru STM dan berubah menjadi ATN ( Akademi Teknologi Negeri ) sementara saya sendiri tidak senang menjadi guru. Karena pada saat itu menjadi guru relatif mudah ( untuk mengisi lowongan karena banyak guru tersangkut G.30 SS/PKI ), sehingga bila punya Ijasah setinggkat SLTP, kita ikut kursus beberapa bulan sudah bisa jadi guru ( SR). Jadi saat itu menurut saya profesi guru kurang menantang” tuturnya.

Setelah lulus dari Akademi Teknologi tahun 1974, Tarwan kemudian “merantau” ke Tangerang. Saat itu kota satelit Jakarta ini sedang giat pembangunan pabrik secara besar-besaran. Ia bekerja dibidang pemasangan mesin dan kemudian bekerja pada suatu perusahaan di Tangerang, dengan jabatan Kepala Seksi Maintenance Produksi hingga memiliki anak. Tahun 1978, ia mulai berpikir sesuai dengan karakternya yang tidak bisa berspekulasi, karena bekerja di swasta terasa pasang surut, sehingga kurang tenang, maka mencari peluang untuk menjadi PNS, karena walaupun gaji kecil  tetapi kontinyu.

Tarwan kemudian mencoba mendaftarkan diri ke Departemen Perhubungan yang saat itu membuka lowongan. Ia diterima dan ditempatkan di Curug sebagai Instruktur. Artinya  profesi yang selama ini dihindari dan dianggap kurang menantang akhirnya harus dijalani. Awalnya ia bertugas sebagai seorang Instruktur hanya sebatas  tanggung jawab pekerjaan saja. Namun lambat laun ia sangat menikmati dan enjoy sebagai guru.

“Karena setiap hari mengajar dan merasa enjoy tadi, sekarang bahkan saya ingin menularkan pengetahuan yang saya miliki kepada orang lain . Jadi guru senang bila melihat siswa-siswanya lebih maju menjadi orang yang bermanfaat. Filosofi hidup saya adalah “bekerja apa yang saya bisa kerjakan dengan kesungguhan dan keikhlasan”, kata pria yang tidak suka bawa pekerjaan kerumah ini.

Sebagai pimpinan di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Swasta, Tarwan merasa perhatian pemerintah masih terbatas. Dengan dana APBN 20 persen, perhatian kepada sekolah swasta masih tetap kecil. Ia mengibaratkan masih terasa dianak tirikan  sedangkan sekolah negeri dianak emaskan.

“Ini masih kurang adil, mestinya sekolah swasta agak lebih diperhatikan lagi. Harusnya ada keseimbangan, meskipun sekarang sudah mulai menerima bantuan terkesan sekadarnya saja” kata pria yang terkesan awet muda ini. Ia membocorkan rahasia awet muda yang dimilikinya, yaitu tidak pernah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. “ Saya tidak bisa hati saya berdebar-debar. Pokoknya saya bersyukur dengan hidup apa adanya seperti  sekarang ini” imbuhnya.

Mengakhiri pembicaraan, Tarwan berpesan kepada generasi muda agar bersungguh –sungguh dalam mengembangkan bakatnya . Setiap bakat merupakan anugerah Tuhan, apapun bentuknya tidak boleh disia-siakan dan harus ditekuni. Sebisa mungkin orang tua tidak memaksakan kehendak yang tidak sesuai dengan bakat anak” cukup mengarahkan dan menunjangnya.” Yang nantinya malah bisa kontra produktif dan dapat menghancurkan masa depan si anak “ Pokoknya talent atau bakat apapun bagus asalkan ditekuni dengan sungguh-sungguh. Semua harus dilakukan dengan benar-benar dan secara total, yang Insya Allah hasilnya akan optimal” tegasnya.

Sutar, SE, MM

No Comments

Sutar, SE, MM
Ketua Yayasan Perguruan Ksatrya Lima Satu

Hidup Penuh Tantangan Menuju Kesuksesan

Setiap orang sadar akan perjuangan dalam hidup. Yakni jalan yang harus ditempuh untuk menuju kesuksesan. Di mana setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk mencapainya. Semua tinggal bagaimana upaya yang dilakukan untuk mencapai keinginan tersebut. Selebihnya, ada kuasa Tuhan yang menentukan sukses tidaknya kehidupan seorang manusia.

“Hidup adalah perjuangan, pekerjaan adalah harapan dan kesuksesan merupakan impian manusia di dunia yang penuh dengan dinamika. Semua manusia mengharapkan kehidupan yang layak, pekerjaan yang mapan serta kesuksesan dalam setiap langkahnya. Tetapi impian tinggal impian. Manusia hanya bisa berharap dan berangan-angan untuk kesuksesan hidup karena Allah SWT telah menentukan jalan hidup setiap manusia,” kata Sutar, SE, MM., Ketua Yayasan Perguruan Ksatrya Lima Satu.

Nasib setiap manusia, lanjutnya, sudah tertulis dan tersirat dalam garis kehidupan masing-masing. Setiap manusia tinggal menunggu kapan tepatnya waktu kesuksesan berpihak dalam kehidupannya. Dan, pada detik-detik penantian tersebut manusia harus termasuk berusaha untuk menciptakan dan meraih kesuksesan dalam hidupnya.

Salah satu contoh paling tepat adalah pengalaman hidup Sutar sendiri. Dengan tanpa berhenti berusaha dan bekerja keras, perlahan namun pasti kesuksesan demi kesuksesan diraihnya. Bagaimana tidak, berangkat dari keluarga sederhana dan miskin di kampung halaman, ia berkembang menjadi seorang pendidik yang sukses mengelola tiga buah sekolah.

Perjalanan hidup penuh liku dan perjuangan harus dilalui Sutar sejak kecil. Ia datang ke Jakarta ikut pamannya dengan tujuan melanjutkan sekolah. Di luar jam sekolah, ia membantu pekerjaan sang paman di Yayasan Perguruan Ksatrya. Di yayasan inilah, ia juga menyelesaikan pendidikan menengah atas di SMK Ksatrya.

“Saya awalnya dari nol, datang ke Jakarta ikut paman untuk melanjutkan sekolah. Pagi membantu paman, setelah itu masuk sekolah dan kemudian membantu paman lagi, ikut bekerja di sini. Saya ketemu dengan pengurus, dan sambil bekerja di sini saya bisa menyelesaikan sekolah sampai jenjang S1 dengan biaya sendiri,” tuturnya.

Pendiri yayasan, Prof. DR. RP Soejono sedikit demi sedikit mulai memberikan kepercayaan kepada Sutar. Salah satunya, adalah dengan memberikan dorongan penuh untuk melanjutkan pendidikan S2-nya. Setelah menyelesaikan studi, tugas besar diberikan pendiri yayasan kepadanya, yaitu memimpin yayasan dengan 1400 siswa di dalamnya.

“Ini amanah yang sangat besar untuk mencerdaskan anak bangsa. Mudah-mudahan apa yang kami kerjakan sampai tahun 2015 dapat berjalan dengan lancar. Semoga program-program yang kami canangkan selama masa kepengurusan kami berjalan dengan baik. Begitu juga dengan rintangan dan halangan semoga mampu kami atasi,” kata pria 35 tahun dengan dua orang anak ini.

Bertahun-tahun berkutat di dunia pendidikan, membuat Sutar merasa memiliki kecocokan. Bahkan, seluruh tantangan yang dihadapi selama menekuninya sudah tumbuh menjadi semacam “roh” dalam hidupnya. Ia berharap dengan terjun di dunia pendidikan mampu mengangkat harkat dan martabat keluarga mengingat latar belakang kehidupan keluarganya. “Kebetulan keluarga kami sangat sederhana sehingga bisa seperti ini menjadi kebanggaan orang tua. Karena kami betul-betul orang tidak mampu di kampung,” ungkap dosen STIE Pertiwi dan STIE Muhammadiyah Jakarta ini.

Sutar menjawab kepercayaan yang diberikan kepadanya dengan mencurahkan tenaga dan pikiran untuk kemajuan sekolah serta yayasan yang sangat dicintainya. Di bawah kepemimpinannya, ia berharap yayasan semakin maju dengan fokus utama pada kesejahteraan guru dan karyawan yang lebih baik. ia sadar betul, kesejahteraan merupakan tonggak utama untuk meningkatkan kemajuan sekolah dan Yayasan Perguruan Ksatrya.

“Bagaimana cara agar guru bisa sejahtera, nanti pelan-pelan akan kami upayakan. Mungkin dengan kenaikan gaji. Kami juga memiliki program jangka panjang untuk perbaikan sarana dan prasarana, yang kami bangun dengan jerih payah kami, keluarga besar Yayasan Perguruan Ksatrya- bersama tim kami sehingga terwujud empat lokal kelas yang representative. Mohon doanya, setelah lebaran ini akan terus kami tingkatkan,” ujarnya.

Peningkatan Mutu SDM

Selama dua tahun memegang jabatan sebagai Ketua Yayasan Perguruan Ksatrya, Sutar mencoba membenahi kualitas SDM. Ia memulai dari tenaga guru yang mengajar di tiga sekolah di bawah yayasan, SMP Ksatrya, SMA Ksatrya dan SMK Ksatrya. Setidaknya, para staf pengajar terus ditingkatkan kompetensinya melalui berbagai pelatihan.

“Ini merupakan hal yang utama dari kegiatan yayasan. Dari segi peningkatan mutu SDM, Bapak dan Ibu guru terus kita pacu. Demikian juga sarana dan prasarana sedikit demi sedikit akan berjalan sesuai dengan keinginan kami serta aturan pemerintah,” ujarnya.

Sutar juga melaksanakan hal serupa terhadap anak didik yang akan menempuh pendidikan pada sekolah-sekolah yang dikelola yayasan. Setelah lolos seleksi, siswa baru akan “digojlok” pada saat liburan semester I. Siswa kelas I akan diajak tour ke daerah dalam rangka observasi siswa baru. Kegiatan yang dilakukan selama tour bukanlah perploncoan melainkan mendidik siswa untuk mandiri.

“Kegiatan di sana banyak, baik yang sosial seperti pasar murah, bakti sosial dan pengobatan masal untuk menunjang kehidupan masyarakat di lokasi tersebut. Itu menjadi ciri khas kami yang unik dan belakangan banyak diikuti oleh sekolah lain,” katanya bangga. Ia juga sangat bangga terkait banyak prestasi yang telah diukir oleh sekolah. “Alhamdulilah prestasinya banyak sekali, apalagi kalau dilihat dari pialanya. Karena dari segi ekskul kita tidak terhitung banyaknya,” imbuhnya.

Prestasi yang ditorehkan, lanjutnya, membuat animo masyarakat untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah yang dikelola yayasan sangat tinggi. Bahkan, SMK Ksatrya terbilang sangat maju sehingga harus “menolak” siswa yang mendaftar. Dengan tiga jurusan yang dimiliki –perkantoran, manajemen bisnis dan akuntansi- banyak siswa yang tidak tertampung. “Itupun, ruangan yang tadinya aula terpaksa dialihfungsikan menjadi kelas,” ujarnya.

Dibantu 150 orang staf dan guru, Sutar terus berusaha meningkatkan kemajuan dan kualitas sekolah. Untuk itu, ia mengembangkan budaya kekeluargaan di antara para guru dan staf di lingkungan yayasan. Semua dilandasi dengan tetap mengedepankan moto, Trisila Ksatrya yakni pendidikan, pengajaran dan kekeluargaan. “Ketiga hal itu kita rangkum seperti ungkapan Jawa, makan tidak makan asal ngumpul,” tambahnya.

Untuk menciptakan situasi kekeluargaan yang kondusif, Sutar sebagai ketua yayasan sering “turun ke bawah” untuk melayani para staf dan guru. Ia tidak menjalin hubungan atasan bawahan, tetapi mengembangkan hubungan antara keluarga sendiri. “Mungkin ada bedanya antara kami saat ngumpul, becanda dan lain-lain. pokoknya secara profesional kami bisa membedakannya,” tuturnya.

Sister School

Sebagai ketua yayasan yang mengelola sekolah swasta, Sutar SE, MM sadar betul besarnya persaingan yang dihadapi. Selain menghadapi sekolah negeri yang mendapat fasilitas lengkap dari pemerintah, ia juga bersaing dengan sekolah swasta lain bertaraf internasional. Untuk itu, ia mengedepankan pelayanan kepada masyarakat sebagai konsumen.

“Karena produk kami jasa, ya kami mengutamakan pelayanan kepada konsumen. Makanya kami melayani dengan baik masyarakat sekitar sini yang berurusan dengan kami. Mungkin mulai dari segi tata usahanya, fasilitas dan lain-lain,” katanya.

Selain itu, demi kemajuan sekolah ia juga mengadakan kerjasama dengan lembaga pendidikan lain. Ia juga menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan di sekitar sekolah untuk kepentingan “magang” siswa atau praktek kerja lapangan (PKL). Uniknya, setelah lulus banyak siswa praktek yang diterima bekerja di perusahaan tempatnya magang.

“Itu salah satu prestasi juga bagi kami. Karena kami terus berusaha meningkatkan mutu sekolah. Salah satunya kami mengadakan program sister school dengan SMK Negeri 14 dan setiap minggu anak-anak mengikuti pelatihan di BLK milik Depnaker,” terangnya.

Menurut Sutar, sister school merupakan semacam pertukaran pelajar antar sekolah. Salah satu manfaatnya adalah menunjang kekurangan sekolah sekaligus melihat perbandingan kualitas pelajar antar sekolah. Ia mencontohkan, sister school dengan SMKN 14 yang berstandar internasional dan ber-ISO, membuat siswa SMK Ksatrya bisa menggunakan fasilitas sekolah tersebut.

“Antusias sekali pertukaran pelajar seperti itu, karena besar manfaatnya bagi sekolah swasta seperti kami. Karena kami semuanya dikerjakan sendiri, dibiayai sendiri dan kalau pun maju, ya kami maju sendiri. Pokoknya bagaimana kami mengolah sekolah swasta agar tidak ketinggalan. Semua itu harus diawali dari diri sendiri,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah juga memberikan perhatian kepada sekolah swasta sehingga tidak terjadi sekolah swasta yang ditutup atau bahkan roboh dimakan usia. Tetapi dengan kerja keras, selama 58 tahun yayasan berhasil mempertahankan sekolah agar tidak gulung tikar. “Kami masih bisa berdiri dengan modal sendiri. Kami membangun tiga lantai dengan dana dari kami sendiri tanpa bantuan dari pemerintah. Kami juga memiliki visi jangka pendek untuk membuat nyaman sekolah ini dengan membangun sarana yang memadai,” tambah ketua yayasan yang membuka pintu selama 24 jam bagi para pengajar ini.

Menyikapi carut marut dunia pendidikan, Sutar menyatakan bahwa dunia pendidikan Indonesia ketinggalan dari negara lain. Bahkan, jika dibandingkan dengan Malaysia yang dahulu banyak mengirimkan pelajar dan mahasiswa ke Indonesia pun, masih jauh tertinggal. Kondisi sekarang justru terbalik, karena pelajar dan mahasiswa Indonesia banyak yang menuntut ilmu ke negara tersebut.

“Pemerintah sebenarnya tidak tahu persis kondisi di lapangan seperti apa dalam membenahi kualitas pendidikan. Hal tersebut diperparah dengan pejabat-pejabat kita yang menetapkan standar kelulusan yang terlihat sangat dipaksakan. Akibatnya, banyak sekolah di Jakarta banyak tidak siap seperti terlihat pada tingkat kelulusan UN yang sangat memprihatinkan. Kondisi tersebut semakin parah di daerah-daerah pedalaman seperti Papua, NTT dan lain-lain. Itulah gambaran dunia pendidikan yang diperjuangkan oleh pahlawan tanpa tanda jasa,” kata Sutar, SE, MM.

Profil Yayasan Perguruan Ksatrya Lima Satu

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang dibutuhkan masyarakat saat ini. Terutama dalam menyongsong era globalisasi yang penuh dengan persaingan tak terkecuali dalam pendidikan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Yayasan Perguruan Ksatrya telah mempersiapkan diri menjadi wadah yang tepat bagi putra-putri kita untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu dalam ilmu pengetahuan umum dan dilengkapi ilmu agama sehingga dapat mencetak generasi muda yang berwawasan global serta unggul dalam IPTEK dan IMTAQ.

Yayasan Perguruan Ksatrya merupakan lembaga pendidikan yang didirikan sejak tahun 19Lima Satu oleh Prof. DR. RP Soejono dkk, hingga kini terus mengembangkan sarana dan prasarana pendidikan antara lain dengan membangun gedung tiga lantai dan dua lantai serta dua laboratorium komputer terbaru (P4) dilengkapi sistem jaringan (LAN) dan internet, laboratorium IPA, ruang multimedia, sarana olahraga, perpustakaan serta kegiatan ekstra kurikuler antara lain Paripurna, serba daya, Paskibra, futsal, basket dan lain-lain. Pendidikan agama yang diberikan kepada siswa antara lain baca tulis Al Quran dan sholat berjamaah yang didampingi oleh para guru.

Yayasan Perguruan Ksatrya Lima Satu mengelola tiga sekolah, yakni:

SMA Ksatrya
Memiliki dua jurusan IPA dan IPS serta terakreditasi “A”

Visi
Terwujudnya kehidupan yang religius, cerdas dan bermartabat
Misi
1.    Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianutnya sehingga menjadi lebih arif dalam berperilaku
2.    Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif sehingga siswa dapat berkembang secara optimal sesuai potensi yang dimilikinya
3.    Menumbuhkan rasa percaya diri sehingga siswa berani dan mampu menghadapi tantangan

SMK Ksatrya
Memiliki tiga studi keahlian, Perkantoran, Bisnis Manajemen dan Akuntasi, serta terakreditasi “B”
Visi
Menjadikan SMK Ksatrya sebagai wahana layanan pendidikan yang menghasilkan tamatan yang beriman, bertakwa dan professional, berjiwa wira usaha serta berdaya kompetisi global

Misi
1.    Meningkatkan kualitas layanan pendidikan melalui peningkatan pembelajaran secara efektif dan menyenangkan
2.    Menumbuhkembangkan sikap disiplin dalam belajar
3.    Menumbuhkembangkan sikap saling menghormati, menghargai dan memiliki tata karma
4.    Menumbuhkembangkan sikap rajin dan konsisten dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianut
5.    Meningkatkan daya saing yang berwawasan kecakapan hidup

SMP Ksatrya
Visi
Unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan iman dan takwa

Misi
1.    Menciptakan generasi muda yang berbakat dan berakhlak mulia
2.    Meningkatkan mutu pembelajaran dan hasil belajar
3.    Mengembangkan potensi siswa yang berlandaskan keimanan dan ketakwaan

Fasilitas dan Sarana Pendidikan
1.    Sarana praktek ibadah (mushola)
2.    Gedung sekolah tiga lantai milik sendiri
3.    Lapangan dan fasiltias olahraga yang lengkap
4.    Staf pengajar yang profesional di bidangnya
5.    Perpustakaan
6.    Laboratorium komputer terbaru (P4) dan full AC serta dilengkapi dengan LAN dan internet
7.    Laboratorium bahasa
8.    Tempat parkir luas
9.    Koperasi
10.    Kantin

H. Hardjani HS

No Comments

H. Hardjani HS
Ketua Cabang Muhammadiyah Cileungsi

Sentralisasi Manajemen Muhammadiyah Cileungsi Sangat Strategis untuk Pengembangan SDM

Upaya meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan terus dilakukan oleh Muhammadiyah Cabang Cileungsi. Yayasan ini mengelola pendidikan mulai Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, SMP, SMK, SMA dan Perguruan Tinggi. Sesuai dengan ayat Alquran bahwa “Orang yang berilmu akan ditinggikan derajatnya”, Yayasan berusaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia umumnya dan masyarakat Cileungsi khususnya.

Caranya, Muhammadiyah mencoba memberikan pendidikan berbiaya murah bagi anak-anak usia sekolah dari tingkat terendah sampai tertinggi. Meskipun upaya tersebut terkendala minimnya dana –yayasan tidak mempunyai sumber dana tetap dari donatur yang pasti- tetapi berbagai cara digunakan untuk menyiasati kendala tersebut. Seperti subsidi silang dari siswa mampu kepada siswa tidak mampu melalui biaya pendidikan, Muhammadiyah juga memberikan beasiswa bagi siswa berprestasi dan kurang mampu.

“Untuk mencapai biaya relative murah itu belum bisa full, karena tidak ada bantuan dari manapun. Kita mencari uang sendiri, memanfaatkan uangnya sendiri. Untuk sampai ke situ, sistem pendidikan di sini menggunakan sistem sentralisasi. Artinya mulai dari TK hingga PT manajemennya adalah satu, tidak sekolah per sekolah. Sehingga untuk pengaturan kepegawaian, kesejahteraan dan lain-lain berada dalam satu manajemen,” kata H Hardjani HS., Ketua Cabang Muhammadiyah Cileungsi.

Menurut Hardjani, pihak yayasan selain memberikan beasiswa dalam jumlah besar juga mencarikan dana bagi orang-orang yang tidak mampu, fakir miskin dan yatim piatu. Kepada mereka bahkan diberikan pembebasan biaya sekolah apabila dipandang benar-benar tidak mampu. Yayasan juga memberikan keringanan biaya hingga 50 persen bagi keluarga karyawan. Hal tersebut merupakan bagian dari sistem Sentralisasi Manajemen Muhammadiyah Cileungsi.

Hardjani menjelaskan, Muhammadiyah memiliki kegiatan pendidikan, kesehatan, sosial dan lain-lain, di mana antara kegiatan satu dengan yang lain saling menguatkan. Dengan begitu, meskipun tanpa bantuan pemerintah mampu membantu meringankan tugas dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Terbukti, selain guru dan karyawan berjumlah 350 orang, juga tumbuhnya entrepreneur baru di sekitar yayasan. Yakni orang-orang yang mengais rezeki dengan berjualan di sekitar sekolah yang disiapkan tempat, listrik dan air bersih.

“Jadi visi saya adalah bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan Muhammadiyah Cileungsi dengan menggunakan sistem manajemen secara sentral. Dengan sistem ini, meskipun biaya pendidikan relative murah, tetap prestasi tidak kalah. Alhamdulilah siswa SD menjadi juara lukis untuk Jawa Barat dan masuk Olimpiade Matematika tingkat Nasional. Artinya dengan kondisi seadanya prestasi kita cukup membanggakan,” kata pria kelahiran Magelang, 19 September 1958 ini.

Belajar Sampai China

Menurut H Hardjani HS, kemajuan teknologi yang pesat tidak terlalu berdampak buruk bagi dunia pendidikan. Tinggal bagaimana teknologi tersebut diaplikasikan pada dunia pendidikan. Meskipun harus diakui bahwa penggunaan teknologi sangat tergantung pada siapa penggunannya. Oleh karena itu teknologi pendidikan harus benar-benar dipahami pengguaannya. Tetapi bagaimanapun kehadiran teknologi dalam pendidikan tidak perlu ditakutkan.

“Teknologi seperti pisau, kalau dipakai dengan baik menjadi baik kalau dipakai jelek ya menjadi jelek. Contohnya pisau dapur kalau dipakai untuk masak ya bagus, tetapi kalau untuk nodong ya berbahaya. Begitu juga dengan teknologi, semua tergantung pada penggunaannnya. Makanya kita di sini, melengkapi teknologi dari semua tingkatan mulai TK hingga PT, yang menjadi bagian dari sarana,” katanya.

Hardjani mengakui adanya perbedaan dalam sistem pendidikan di Indonesia dan luar negeri yang cukup jauh cara pandangnya. Di luar negeri sekolah memiliki pelajaran yang sangat terspesialisasi menjadi empat mata pelajaran. Sementara di Indonesia 17 mata pelajaran harus diketahui siswa. Dengan empat pelajaran, siswa di luar negeri sangat menguasai spesialisasinya. Sementara di Indonesia, siswa “tahu” segala macam pengetahuan meskipun tidak “bisa” mengaplikasikannya.

Sistem kualitas tersebut, lanjut Hardjani, membedakan antara pendidikan di Indonesia dan luar negeri. Apalagi, target sistem yang berubah-ubah dari legislator pendidikan di Indonesia membuat perubahan yang signifikan. Ia mencontohkan bagaimana sistem UAN yang diterapkan sekarang, di mana banyak siswa harus mengulang ujian. Kejadian ini, merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas lulusan pendidikan di Indonesia.

“Selama ini kita berorientasi pada kuantitas yang merupakan target orde baru dalam pemberantasan buta aksara. Sementara di era Reformasi ini sudah mulai mengutamakan kualitas. Memang ada yang tidak setuju, tetapi sistem UAN sudah dilakukan sejak Indonesia merdeka hingga tahun 1977. Ketika Orba berkuasa UAN dihapus karena perbedaan target tersebut,” tandasnya.

Padahal, lanjutnya, seorang muslim -sesuai dengan sunah Rasul- diwajibkan untuk belajar bahkan hingga ke negeri China. Sunah tersebut bahkan bisa diartikan secara harfiah melihat kondisi negeri China belakangan ini yang menjadi kekuatan ekonomi baru. China dalam waktu singkat telah tumbuh menjadi negara berpengaruh setelah Amerika Serikat dan Jepang. Kemampuan seperti yang ditunjukkan bangsa China berasal dari sifat mereka yang pantang menyerah, pekerja keras, prihatin dan pintar berdagang.

“Sabda Rasulullah, ‘Belajarlah meskipun harus sampai ke negeri China’ benar-benar terbukti melihat kondisinya sekarang. Sunah Rasul yang lain menyatakan bahwa, 80 persen rezeki yang diturunkan Allah adalah perdagangan, sementara yang lain hanya bernilai 20 persen saja. Tetapi semua orang Indonesia mengejar yang 20 persen dan meninggalkan yang 80 persen. Entrepreneurship baru wacana dan belum benar-benar dilakukan. Jadi kalau mau maju, jadikan sekolah sebagai pengetahuan dan setelah lulus diarahkan sebagai entrepreneur,” ujar pria yang bercita-cita menjadikan Cileungsi sebagai kota pelajar, terutama di daerah Bogor timur ini.

Hardjani memberikan catatan bagi bangsa Indonesia untuk mengejar ketertinggalan dunia pendidikan di Indonesia. Yakni mengamalkan sunah Rasul untuk belajar sampai negeri China dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Karena umat Islam sudah dibekali dengan surat Al Ash’r yang mengingatkan pentingnya waktu karena tidak dapat terulang kembali. Sementara yang terjadi di Indonesia yang mayoritas beragama Islam malah meninggalkan perintah Islam. “Kalau orang-orang di luar negeri menggunakan Al Quran untuk dilaksanakan harian. Sementara di Indonesia kitab ini hanya digunakan sebagai bahan bacaan dan tidak dilaksanakan,” katanya.

Di sisi lain, lanjutnya, perintah Al Quran dalam Al Insyiro sangat jelas, yakni memerintahkan setiap manusia untuk bekerja keras. “Kalau selesai pekerjaan yang satu pekerjaan yang lain harus dilakukan. Dan setiap melakukan pekerjaan itu pasti ada kesulitan, tetapi dibalik kesulitan itu pasti ada kemudahan”. “Masalahnya orang Indonesia tidak pernah mau bersulit-sulit, maunya yang enak-enak saja. Artinya apa yang ada di konsep Islam itu semua dipakai oleh Barat, sehingga Barat lebih maju daripada kita,” imbuhnya.

Hijrah untuk Berubah

H Hardjani HS merasa terbantu dengan adanya BOS, BOM dan RKB yang diprogramkan pemerintah. Meskipun untuk itu harus berusaha “mengejar” kepada pihak pemerintah agar program tersebut. Menurut Hardjani, seharusnya pemerintah yang harus datang ke sekolah-sekolah dalam rangka mensukseskan program yang dirancangnya.

Hal ini dirasakan berbeda ketika Yayasan yang diketuai Hardjani memperoleh bantuan dari United Way di USA. Meskipun berkantor di Illinois, USA tetapi mendatangi sekolah-sekolah di seluruh dunia –termasuk Cileungsi- untuk memberikan bantuan. Bahkan ketika kesepakatan untuk me-launching program tersebut, pihak donatur jauh-jauh datang dari USA.

“Jam empat subuh mereka masih di Singapura padahal acara kita jam sembilan pagi. Tetapi mereka sudah memiliki komitmen sehingga jam sembilan tepat perwakilannya sudah datang untuk meresmikannya. Sementara pejabat kita, jam sebelas baru datang di sini, padahal tinggalnya hanya di Cibinong. Jadi  komitmen waktu itu yang di antara kita tidak terlaksana dengan baik. Menganggap pejabat yang harus dilayani,” ungkap Karyawan Teladan Provinsi Jawa Barat Tahun 2000 ini.

Untuk mengatasi hal tersebut, ia mengingatkan, bahwa -dalam bahasa Rasullulah- bangsa Indonesia harus hijrah dan setiap saat berubah. Bangsa Indonesia jangan menggunakan manajemen beton yang kokoh dan tidak bisa diubah-ubah. “Kita harus hijrah untuk berubah. Kita harus mengikuti jejak Rasul dengan meniru sifat-sifat baiknya yakni amanah, fatonah, siddiq dan tablig. Karena banyak orang Islam yang tidak menggunakan ilmunya,” tuturnya.

Ia berharap, agar aturan pemerintah segera diimplementasikan seperti pemberian BOS dan bantuan-bantuan lainnya. Setidaknya, buku sekolah digunakan sistem seperti zaman dahulu yang tidak diperjualbelikan dan dapat dipergunakan oleh generasi berikutnya. Kebijakan tersebut sangat berguna untuk mendukung pendidikan murah karena mengurangi biaya pembelian buku.

Kepada generasi muda, Hardjani berpesan berpikir sebagai umat Islam yang rahmatan lil’alamin yang tidak membedakan suku, ras, agama dan lain-lain. Dengan pola pemikiran seperti itu, generasi muda akan berusaha untuk berbuat baik bagi kepentingan orang lain. ia mencontohkan, pada saat berusia 24 tahun, ia sudah terjun ke dunia pendidikan. Visinya saat itu adalah untuk menyejahterakan masyarakat melalui pendidikan.

“Bukan warisan. Karena kalau warisan akan habis dibagi-bagi, sementara dengan berpendidikan anak keturunan dari pemilik warisan tidak akan menjual warisannya. Karena anak-anaknya berusaha untuk mendapatkan rezeki Tuhan yang 80 persen bukannya membagi-bagi warisan leluhurnya,” ujarnya.

Setelah 26 tahun, buah pemikiran Hardjani telah berhasil menanggulangi pengangguran meskipun dalam skala kecil. Selain 350 guru, karyawan dan pedagang yang bangkit karena Yayasan Perguruan Muhammadiyah beroperasi. Masyarakat yang ada di sekitar yayasan pun dibantu untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi. Artinya, dari segi tenaga kerja dan sosial, Yayasan Perguruan Muhammadiyah telah membantu pemerintah.

“Artinya kalau PCM Cileungsi saja bisa memberikan lapangan kerja bagi 500 orang, dengan 5000 siswa, maka seandainya dalam satu kecamatan ada 10 orang yang pola pikirnya (mindset) seperti saya, di Indonesia tidak ada pengangguran lagi. Bahkan pengangguran intelektual pun tidak ada. Kita menggaji karyawan di sini pun sudah lebih dari UMK, lengkap dengan jaminan sosial, kalau secara umum kesejahteraan karyawan sudah relative cukup. Standar,” katanya.

Adapun visi yang dipegang teguh Hardjani selama ini adalah melaksanakan surat Al Maa’uun (Q.S:107) dan surat Al ‘Ashr (Q.S:103). Dalam surat Al Maa’uun terkandung perintah untuk mengentaskan kemiskinan. Dimana dalam mengentaskan kemiskinan bukan dengan membagi-bagikan uang, tetapi memberikan ilmu pengetahuan. Artinya dengan membekali ilmu, kemiskinan dengan sendirinya tidak ada. Sementara surat Al ‘Ashar mengharuskan manusia untuk menghargai waktu dengan sebaik-baiknya. Ia melihat, bangsa Indonesia belum dapat menghargai waktu dengan baik.

Ia melukiskan pengalaman saat membuat sekolah yang tidak mau menunda-nunda waktu untuk memulai. Apa yang menjadi keinginannya langsung dikerjakan terlebih dahulu dan diperbaiki sambil berjalan, tanpa harus menunggu hal-hal yang ideal. Karena ia sadar kalau menunggu yang ideal –seperti kecukupan dana dan bantuan dari pemerintah– cita-citanya tidak dapat berjalan.

“Kalau saya yang penting punya niat, akan saya tanamkan. Kalau sudah punya tekat saya tanamkan terlebih dahulu, meskipun nggak punya duit harus mulai. Karena bisa sambil jalan, sambil menghimpun dana. Visi saya melaksanakan amanah kedua surat tersebut yang menyangkut IPOLEKSOSBUDHANKAM. Kedua surat itu yang menjadi pegangan saya dan sekaligus menjadi visi saya,” katanya.

Sedangkan mengenai misi yang diembannya, Hardjani menyebut pengentasan kemiskinan melalui pendidikan dan kesehatan. “Karena itu, saya menyelenggarakan pendidikan dari TK sampai Perguruan Tinggi (TK:5 unit, SD: 2 unit, SMP: 2 unit, SMA: 1 unit, SMK: 3 unit, Sekolah Tinggi Teknologi Muhammadiyah Cileungsi, Asrama Yatim Piatu Al-Maun: 2 Unit) yang diharapkan berguna untuk kesejahteraan masyarakat. Untuk kesehatan, mulai pengobatan gratis sampai rumah sakit. Itu misi saya,” kata pria yang berkantor di dua tempat sekaligus ini. Pagi di salah satu perusahaan semen di kawasan Bogor Timur, kemudian malam hari dan hari libur berkantor di Pimpinan Cabang Muhammadiyah Cileungsi.

Anik Indaryani, SE

No Comments

Direktur Utama PT Daya Dinamika Nusantara

Terbiasa Hidup Mandiri Sejak Belia; Mendirikan Perusahaan yang Mendidik Kemandirian Bangsa

Karakter seseorang sangat tergantung bagaimana orang tua mendidiknya di masa kanak-kanak. Meskipun pendidikan formal di sekolah sangat berpengaruh, tetapi pembentukan karakter dalam keluarga akan terbawa sampai dewasa. Seorang anak yang merekam nilai-nilai yang ditanamkan dalam keluarga akan menerapkannya dalam kehidupan yang dijalaninya.

Seperti yang dialami oleh Anik Indaryani, SE., Direktur Utama PT Daya Dinamika Nusantara (DDN). Perempuan kelahiran Salatiga, 13 November 1971 ini, untuk mencapai posisi sekarang tidak pernah lepas dari pendidikan karakter yang diberikan kedua orang tuanya. Kemandirian, kemuliaan hidup dan harga diri, adalah karakter yang ditanamkan kepada sembilan anak Iman Hardjo dan Sri Hartini.

“Semua anak dibiasakan dan dididik untuk mandiri, memiliki tanggung jawab masing-masing. Saya salut terhadap kedua orang tua, sehingga apa yang mereka terapkan itu terpatri dalam hidup kami. Saya bungsu dari sembilan bersaudara yang kebanyakan perempuan dan hanya ada dua laki-laki. Kita semua dididik untuk tidak mengandalkan laki-laki saja. Kita juga menerapkan petuah-petuah yang mulia, seperti tangan selalu diatas, mempertahankan harga diri dan lain-lain,” katanya.

Saat itu, lanjutnya, belum terpikirkan makna nasehat orang tua tersebut. Namun seiring bertambahnya umur dan semakin dewasa ternyata semua nasihat tersebut sangat berpengaruh dalam kehidupan. Ia mencontohkan bagaimana tangan selalu diatas membuat dirinya tidak pernah berharap belas kasihan dari siapapun.

Begitu juga dengan petuah ibunya untuk tidak menerima pekerjaan sebagai pembantu dan lebih baik menjadi tukang gorengan. Penjelasannya, meskipun pembantu baju bersih, uang utuh tetapi itu tidak akan membuat dirinya berkembang karena hanya disuruh-suruh saja. Sementara dengan berjualan pisang, meskipun badannya menjadi kotor tetapi lebih mandiri. Tidak ada seorang pun yang mengendalikan hidupnya.

“Saya belajar kehidupan dari bapak dan belajar berbisnis dari ibu. Karena antara bapak dan ibu bertolak belakang, bapak dermawan sementara ibu pedagang. Jadi kesimpulan saya, bahwa di satu sisi kita harus mengejar kehidupan tanpa harus menafikan hati nurani. Saya ingat tukang bakso dipanggil bapak dan diborong dagangannya untuk anak-anak kecil di kampung. Tentu saja ini membuat ibu saya marah-marah, tetapi dari situ saya ambil hikmah bahwa penting mencari materi tetapi sangat penting untuk berbagi,” cetusnya.

Selain kemandirian, Anik –panggilan akrabnya- juga dikaruinai sifat pembelajar dari Tuhan Yang Maha Esa. Pendidikan disiplin yang diterima saat “menumpang” di rumah kakak iparnya dan membuat saudara-saudaranya marah, justru diambil hikmahnya. Anik yang paling membenci keributan menenangkan kemarahan saudaranya dengan mengatakan bahwa ia tidak disuruh tetapi kemauannya sendiri untuk belajar mengenai segala hal.

Ternyata, lanjutnya, pengalaman tersebut justru sangat berguna ketika ia kuliah. Tentangan dari orang tua dan saudara-saudaranya terkait keinginannya untuk mengambil pendidikan sekolah tinggi perhotelan membuat dirinya semakin tangguh. Pasalnya, saat itu ia sudah didaftarkan di Fakultas Kedokteran dengan cara dititip-titipkan kepada pihak terkait.

“Saya tersinggung dan pamitan untuk mencari sekolah sendiri dan tidak akan pulang sebelum dapat sekolah. Saya sejak dahulu memang mandiri, dan akhirnya dapat sekolah tinggi perhotelan. Semua menentang, karena tradisi keluarga, kalau tidak tentara ya PNS. Karena tidak boleh makanya saya pergi ke Yogyakarta jalan kaki, tanpa membawa uang sama sekali,” kisahnya.

Melihat kenekatan Anik, akhirnya keluarga luluh juga. Salah seorang kakaknya menjemput dan mengatakan kalau keluarga bersedia membiayai pendidikan sesuai keinginannya. Namun, konsekuensi yang harus ditanggungnya adalah keluarga besarnya tidak akan dengan masa depannya. “Spontan saya ngomong, ‘Oke saya akan mencari kerja sendiri dan sebelum saya lulus saya janji sudah bekerja.’ Setelah itu saya pergi ke Yogyakarta dan berjuang untuk mendapatkan pekerjaan sembari kuliah,” imbuhnya.

Masa-masa kuliah, bagi Anik adalah masa yang sangat menyenangkan. Di sisi lain, ia memiliki sahabat yang sangat alim dan selalu mengingatkan dirinya untuk tetap menjalankan agama dengan baik. Sementara di satu sisi, ia juga berteman dengan mahasiswa lain yang seperti senang berhura-hura. Ia berpijak pada dua sisi tersebut sembari mengambil hikmah dari sana. Salah satunya adalah dengan mengikuti jejak sahabatnya yang sangat kuat “tirakat” memohon kekuatan pada Tuhan.

Setelah selesai ujian lokal, Anik mengunjungi kakaknya yang tinggal di Bandung. Sesuai kebiasaan saat kuliah, ia terus menerus melakukan shalat malam. Hingga suatu saat, setelah shalat malam ia tertidur di atas sajadah dan bermimpi. Dalam mimpinya, sahabatnya yang sangat alim asal Kebumen bernama Nining tersebut menyodorkan surat untuk melamar pada sebuah hotel di Bandung.

“Saya tersentak bangun dan langsung mencari alamat hotel di Yellowpages. Saat itu masih jam dua pagi, sehingga saya ditertawakan keponakan karena mengikuti mimpi. Tetapi saya tetap mengirimkan lamaran ke beberapa hotel sekaligus. Sementara menunggu lamaran saya pulang ke Yogyakarta untuk mengikuti ujian negara,” kisahnya.

Ternyata Anik mendapat panggilan dari beberapa hotel sekaligus. Setelah menjalani serangkain tes dan wawancara, semua hotel yang dikirimi lamaran menerimanya. Saat kebingungan menentukan pilihan, keponakan yang tadinya menertawakan dirinya berubah serius dan menyarankan untuk mengambil pekerjaan di hotel dalam mimpinya. “Barangkali benar itu petunjuk, katanya. Dengan bekerja di hotel itu, menurut dia, saya akan hidup seperti seperti ikan besar di akuarium dan bukan ikan kecil di lautan,” imbuhnya.

Saran tersebut diikuti Anik. Ia bekerja dengan serius meskipun hanya bergaji Rp100 ribu per bulan. Tugasnya pun dari bagian terendah seperti menyapu dan mengepel lantai hotel. Ia menjalaninya dengan bersungguh-sungguh sepenuh hati dilandasi semangat belajar yang tinggi. Di sisi lain, ia berpegang pada pesan yang disampaikan oleh ayahnya sebelum dirinya merantau. Bahwa dalam bekerja itu harus bermodalkan kejujuran. Jangan sampai karena recehan mengorbankan harga diri dan kehormatan.

Anik banyak belajar dari pemilik hotel, seorang professor dan istrinya sebagai direktur. Saat itu, ia merangkap sebagai sekretaris ibu direktur sekaligus asisten professor. Kedua orang tersebut telah mengajarinya banyak hal tentang bagaimana mengelola perusahaan serta memperlakukan SDM secara manusiawi. Ia tidak pernah menolak tugas yang diberikan oleh kedua orang tua tersebut. Dari sekadar cek rekening, mengatur buku perpustakaan sampai memanjat atap untuk mengecek penangkal petir hotel.

“Saya bekerja pada beliau sampai sepuluh tahun dengan jabatan terakhir General Manager di hotel tersebut. Dari keduanya, saya belajar memperlakukan SDM dengan manusiawi. Karena di hotel tersebut, keduanya menganggap kami bukan lagi anak buah, tetapi sesama manusia. Pokoknya kami dihargai banget deh bekerja disitu sehingga saya tidak peduli soal uang yang didapat, hanya lebih fokus pada ilmu yang dapat diserap,” ujarnya.

Dari situ, Anik belajar bahwa untuk atasan itu tidak harus bersikap bahwa sebagai bos. Dengan menghargai manusia seutuhnya akan mampu memimpin dengan baik dan dihormati anak buahnya. Ini dibuktikannya saat dirinya dipercaya menjadi direktur keungan sebuah perusahaan asing. Ketika perusahaan terantuk masalah para bos “kabur” ke luar negeri. Tinggallah dirinya yang tersisa dan harus bertanggung jawab terhadap permasalahan yang ditinggalkan.

Saat itu, Anik keluar masuk kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatan yang tidak pernah dilakukannya. Namun, di situlah ia mendapat pelajaran berharga yang tidak mungkin didapatnya di tempat lain. Ia tetap teguh pada pendirian dan menghadapinya dengan penuh kesungguhan. Baginya, selama apa yang dilakukannya benar akan dipertahankan sekuat tenaga. Selain itu, ia terus berdoa memohon bantuan tangan Tuhan untuk turun tangan menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

“Ujungnya tetap jalan Tuhan dan berserah diri kepada-Nya. Doa saya pada Tuhan, ‘Kalau memang hidup saya tidak bermanfaat ambil nyawa saya, tetapi kalau berguna bagi orang lain muliakan hidup saya.’ Yang jelas, saya pegang teguh kejujuran dan menikmati kepercayaan yang diberikan kepada saya. apapun bentuk dan risikonya. Itu yang membuat orang tahu kalau saya adalah Anik yang tangguh, ulet dan tahan banting dan bukan Bu Anik yang kaya raya punya ini dan itu. Yang penting saya pertahankan harga diri saya dan Alhamdulilah menjadi saya sekarang ini,” tegasnya.

Membangun Bisnis MLM

Awalnya Anik Indaryani, SE tidak menyukai dunia Multilevel marketing (MLM). Keingintahuannya yang besar untuk belajar membuat ia mampu menghadapi segala kondisi. Semangat untuk menekuni dunia MLM semakin tinggi setelah bertemu banyak orang dengan ide yang sama. Meskipun saat itu statusnya hanyalah seorang karyawan, tetapi ia tidak membatasi diri sehingga ia memiliki kesempatan untuk berkembang.

“Tetapi situasinya semakin tidak terkendali karena tim sudah mengarah kepada kepentingan dan keuntungan pribadi. Itu membuat saya akhirnya memutuskan untuk keluar meskipun dianggap sebagai pemberontak. Tetapi tidak apa-apa, karena orientasi saya tidak selalu uang. Jadi meskipun dikasih uang berapa karung pun tetapi untuk kepentingan seseorang saya tidak mau. Sebaliknya tanpa uang sekalipun, saya mau kalau untuk kepentingan tim,” tegas pengagum Margareth Tatcher

Karakter seperti itulah yang membuat Anik dikenal oleh penggiat MLM di dalam dan luar negeri. Kadang mereka menganggap Anik sebagai orang yang keras kepala, tidak tahu diuntung sampai manusia terbodoh di dunia karena melepaskan peluang yang sudah ada di depan mata. Sebenarnya, Anik hanyalah menginginkan tereksploitasinya kebaikan dalam diri setiap orang. Meskipun hanya office boy, CS dan lain-lain, apapun profesinya menjadi yang terbaik adalah keharusan.

Apabila terjadi kesalahan, lanjutnya, seorang pimpinan tidak perlu mencari kambing hitam. Akan lebih baik kalau kesalahan yang ditimbulkan oleh tim tersebut kemudian dicarikan solusi terbaik. Sesuai dengan pengalaman yang diperoleh selama bekerja di hotel, sebagai pimpinan Anik bertindak memanusiakan karyawan. Hubungan yang terjalin pun akhirnya tidak seperti antara seorang bos dan karyawan, tetapi menjadi saudara sendiri.

“Tetapi dalam bekerja tetap professional. Kekeluargaan boleh sehingga mereka tidak ada yang takut sama saya. Malah kalau saya tidak masuk suka nyariin, kan biasanya karyawan kalau bos tidak masuk senang sekali. Tetapi di kantor saya beda, mereka merasa ada yang kurang ketika saya tidak masuk,” tegas ibu satu anak istri dari Chresno Dwipoyono Yunanto Wibowo.

PT Daya Dinamika Nusantara (Double Dynamic Network-DDN) merupakan perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang pemasaran produk kesehatan dengan sistem penjualan langsung berjenjang atau MLM. Perusahaan ini didirikan oleh Anik Indaryani, SE bersama teman-temanya sesama networker pada awal tahun 2009. Produk kesehatan yang dipasarkannya juga diproduksi oleh sebuah perusahaan lokal, Aimfood Manufacturing Indonesia – Tangerang. PT DDN berkantor pusat di Jl A Yani No 245 Bandung Jawa Barat dan memiliki stokes di beberapa kota di Indonesia.

“Kita telah memasuki tahun ketiga dari tahun 2009 dan dibangun dari nol. Ingat dibangun bukan dijalankan dimana saya bersama tim mencoba membangun dari kecil sekali dan diremehkan orang. Tetapi saya terus berusaha mewujudkan mimpi, karena dunia multilevel adalah dunia yang sangat unik. Bisnis MLM bisa dijalani oleh orang-orang yang seharusnya ada keterbatasn usia produktif, latar belakang pendidikan, cacat fisik dan lain-lain. Semua bisa diakomodir dan tidak terbatas agama, gender dan lain-lain. Saya menilai ini mulia, yang penting kita tidak menipu,” tandasnya.

Anik mengakui, saat ini citra MLM sangat buruk. Tetapi justru karena itulah ia ingin mengangkat citranya menjadi lebih baik. Karena sebenarnya network dalam dunia bisnis semua meniru bisnis MLM. Artinya semua usaha meniru MLM sementara masalah hasil Tuhan yang menentukan. Di bisnis MLM, roda bisnis dijalankan dengan cara dan strategi yang telah tersusun dengan rapi. Sebenarnya, network sudah terlihat sejak zaman nabi, melalui syiar agama yang dibantu sahabat sebagai team leader. Begitu juga dengan Bung Karno, yang tidak bisa memerdekakan bangsa Indonesia seorang diri.

“Di Indonesia, saya menyayangkan banyaknya bisnis MLM yang datang dari luar negeri dan mendapat sambutan luar biasa. Padahal yang menjalankan itu kan kita sendiri. Kemajuan Malaysia yang melebihi Indonesia disebabkan karena pemerintah mengakui potensi warganya dan mendukung mereka berkembang. Kenapa, karena mental kita tidak siap, karena kita terbiasa dininabobokan. Bukan bermaksud merendahkan, tetapi mental tersebut yang sangat saya sayangkan,” tuturnya.

Selama menjalani bisnis network, Anik Indaryani belajar mengenali karakteristik masyarakat dari berbagai wilayah di Indonesia. Ia paham bahwa setiap daerah memiliki orang-orang dengan karakteristik dan mindset yang berbeda. Untuk itu diperlukan strategi berbeda-beda dalam merangkul masyarakat di wilayah-wilayah yang berbeda agar bergabung dalam network yang disusun.

Meskipun demikian, Anik selalu berpegang bahwa bisnis yang dilakukannya merupakan solusi bagi kehidupan. Oleh karena itu, ia jatuh bangun untuk membesarkan PT DDN sehingga mencapai sukses seperti sekarang. Padahal, dalam perjalanannya, PT DDN menghadapi berbagai serangan dari para kompetitor. Ia menganggap sepi semua serangan dan hujatan yang datang dari pesaing yang akan menghabiskan tenaga kalau ditanggapi.

“Saya anggap biasa saja, kalau kita sudah berniat terjun di dunia bisnis ya seperti kita meniti ombak. Hujan badai seperti biasa dan kalau saya terpancing bisa gawat. Karena banyak omongan negative tentang SDM perusahaan yang datang kepada saya. Tegas saya katakan, bahwa ini perusahaan dan ini perilaku personal . Saya pisahkan antara perusahaan dan individu, sampai-sampai saya bilang kalau menginginkan perusahaan dikelola oleh orang yang bersih dari masa lalunya, tunggu saja malaikat,” kata Anik yang selalu melihat sisi positif seseorang tersebut.

Integritas dan Kejujuran

Anik memiliki patokan khusus dalam menjalani kehidupan dan bisnis yang digelutinya. Yakni ketika tindakan atau kegiatannya telah memberikan manfaat nyata bagi orang lain itulah kesuksesan dirinya. Di saat-saat seperti itu, ia merasa bagaikan mendapat sebungkah berlian. Baginya, itulah kesuksesan hakiki yang berhasil diperoleh seseorang. Apalagi kalau mengingat bahwa apa yang dimilikinya kalau dipaksakan untuk membayar sesuatu tidak cukup sehingga pilihan berbagi adalah sesuatu yang masuk akal.

“Buat segala sesuatu seburuk apapun menjadi baik. Itu yang harus kita pegang dan pasti bisa. Menghadapi sebuah masalah besar menjadi tidak punya masalah adalah ciri-ciri calon orang sukses. Kalau ada orang yang memiliki masalah kecil tetapi dibesar-besarkan, bahaya itu, sakit hati fitnah sana-sini. Yang penting, saya berbuat baik untuk kehidupan ini. Kalau banyak omongan tentang perusahaan artinya kita mulai diperhitungkan,” ujarnya.

Anik mengambil hikmah terhadap kejadian yang dialaminya. Apalagi kalau ia bisa mengendalikan kondisi emosional seperti menjadi bahan perbincangan orang tetapi tetap dihadapi dengan tersenyum. Baginya, kondisi seperti itulah yang harus disyukuri, sehingga akan berkembang dengan baik. Ia sering menyatakan untuk tidak pernah memikirkan perut dan ambisi masing-masing. Akan lebih baik kalau memikirkan kepentingan orang banyak sehingga setiap langkahnya dipermudah Tuhan.

“Itu saya dapatkan dari kehidupan bukan belajar. Saya tidak suka kalau dikasihani dalam menjual. Karena integritas dan harga diri itu sangat penting dalam hal apapun. Tidak perlu bonus besar, gaji gedhe atau apapun, tetapi kalau mengorbankan harga diri atau integritas, no way. Saya akan bangga kalau ditunjukkan orang yang dengan kualitas hebat, integritas tinggi dan mempunyai harga diri. Saya suka orang yang berintegritas, jujur, baik dan lain-lain,” ungkapnya.

Anik sadar, PT DDN yang dibangunnya memang belum besar dan sukses. Masih banyak hal-hal yang harus dibenahi. Tetapi, ia akan terus berusaha sekuat tenaga dan menyerahkan seluruh hasilnya kepada Tuhan. Meskipun perempuan, ia berharap kaumnya tidak pernah mengandalkan kelemahan sebagai senjata untuk mempermudah jalannya. Seharusnya perempuan menolak untuk dikasihani dan membuktikan kemampuannya dengan berjuang mewujudkan cita-cita dan keinginannya.

Begitu juga dalam kehidupan berumah tangga. Anik berharap antara suami dan istri terjalin hubungan persahabatan. Ia tidak pernah mengedepankan ego dalam kehidupan rumah tangga. Meskipun di kantor ia adalah direktur utama, tetapi di rumah ia tetap seorang istri sekaligus ibu dari anak semata wayangnya.

“Kalau di rumah saya juga pakai daster dan masak untuk anak dan suami. Hubungan kami pun menjadi seperti sahabat, saling terbuka satu sama lain dan menghargai satu sama lain. Komunikasi adalah kunci dalam memelihara keutuhan keluarga. Kuncinya komunikasi, saling memahami dan percaya, antara suami dan istri,” ujarnya.

Menurut Anik, seorng wanita dalam wmansipasi harus mempunyai harga diri dan kemandirian. Memang laki-laki adalah imam, tetapi kerjasama yang terjalin tidak harus memandang jenis kelamin. Meskipun secara agama memang laki-laki adalah imam tetapi dalam kacamata kehidupan perempuan tidak berbeda.

“Artinya secara kodrat oke, tetapi kemampuan tidak bisa dibatasi. Itu yang paling penting makanya ada presiden wanita segala. Staf saya perempuan juga saya gembleng, jangan menggunakan kelemahan sebagai perempuan. Kita bisa mendapatkan apa saja selama kita bisa dan mampu. Sebagai perempuan kita harus tetap melakukan yang terbaik,” tegasnya.

Membangun Negeri

PT DDN adalah perusahaan lokal yang sedang berkembang menjadi perusahaan nasional. Sebagai Direktur Utama, Anik Indaryani, SE menginginkan pelaku networking memiliki jiwa mandiri dan menjadi panutan bagi leadership yang tidak hanya sekadar mencari uang. Mereka secara keseluruhan harus memiliki visi dan misi untuk ikut membangun negeri. Utamanya dalam membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, dan mengangkat derajat kesehatan.

“Kebetulan kita juga menjual produk kesehatan. Banyak masyarakat yang terbantu penyakitnya karena mengonsumsi produk kita, baik untuk pengobatan maupun pencegahan. Sementara dari sisi usaha, bagi orang yang susah mencari pekerjaan, karena faktor usia, dan lain-lain di sini bisa kita akomodir seluruh kalangan untuk mencapai kesejahteraan dan kesehatan. Kita ada di Sumbar, Pekanbaru, Jabotabek, Jatim dan Makassar. Member berjumlah puluhan ribu di seluruh Indonesia. Kita selalu mencoba untuk membantu pemerintah membangun negeri ini,” tegasnya.

Dari sisi bisnis, marketing berbasis penjualan langsung berjenjang, para networking di DDN berasal dari berbagai profesi. Mulai pengangguran yang membutuhkan pekerjaan, lansia yang butuh kegiatan, sampai PNS, guru dan profesional bergabung karena melihat adanya peluang dalam bisnis ini. Memasuki tahun ketiga ini, DDN sudah mengeluarkan 15 buah mobil, dan bonus harian sudah mencapai Rp20 juta per hari bagi networker berprestasi.

“Peraihan prestasi sudah mereka nikmati, yang mungkin tidak bakal teraih dalam pekerjaan mereka sebenarnya. Inilah kenapa saya tekuni bisnis ini tidak hanya bertujuan meraih keuntungan tetapi lebih luas lagi, kesejahteraan bangsa ini. Hanya saja, saya ingin pemerintah kita mengakui bisnis MLM seperti ini, seperti di Malaysia. Karena ini juga mendidik kita untuk menjadi pemimpin. Kalau jadi karyawan atau pegawai, sepintar apapun kita tidak aakan melampaui atasan kita. Sementara di dunia networking, semua bisa terjadi. Dengan bisnis ini sudah bisa mengatasi pengangguran,” ujarnya.

Dengan jumlah member yang sudah mencapai puluhan ribu tersebar di beberapa daerah di tanah air. Bandung, Jakarta, Surabaya, Sumatera meliputi Palembang, Padang, Payakumbuh, Lampung, Jambi, Kalimantan dan Sulawesi adalah area pemasaran produk DDN. Bahkan, saat ini telah datang permintaan dari luar negeri seperti Malaysia, Vietnam, Australia dan Italia.

“Oleh karena itu, ke depan kita sudah merintis pengembangan menuju go public yang sudah kita blue print-kan, dan mungkin kita akan masuk bursa efek, menjadi holding company dan berakspansi ke negara lain serta bukan sekadar perusahaan MLM saja. Mungkin kita juga akan mendirikan yayasan pendidikan dan yayasan kesehatan agar semakin bermanfaat bagi bangsa ini. Yang penting misi kita adalah misi kebersamaan,” ungkapnya.

 

Lolok Sudjatmiko

No Comments

Chairman PT. Niaga Sapta Samudera

Kepuasan Batin Menekuni Bisnis Angkutan Laut

Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang mempunyai lebih dari 17 ribu pulau besar dan kecil dan mempunyai garis pantai lebih dari 8 juta KM merupakan negara dengan garis pantai terpanjang ke 2 setelah Canada, membuat transportasi laut antar pulau di Indonesia mempunyai peran yang sangat penting dan akan menjadi sektor yang dominan. Penggunaan pesawat terbang memang praktis dan cepat, tetapi daya angkut yang terbatas untuk mobilitas orang dan barang menjadi kurang efektif dan mahal.

Angkutan menggunakan kapal adalah solusi yang paling tepat untuk Indonesia yang paling tepat untuk Indonesia. Kapasitas angkut kapal yang massal baik orang maupun barang membuat moda transportasi ini seharusnya bisa menjadi andalan tumpuan dalam pengembangan pembangunan. Namun, minimnya infrastruktur yang di sediakan pemerintah membuat industri angkutan laut Indonesia sedikit terhambat. Padahal, nenek moyang bangsa ini di kenal sebagai pelaut yang tangguh.

“Angkutan Laut di Indonesia sekarang semakin diperlukan. Pertumbuhan penduduk yang semakin cepat membuat pulau-pulau kecil pun mulai berpenghuni. Untuk mobilitas mereka diperlukan angkutan kapal yang memadai. Kendalanya, banyak infrastruktur yang kurang mendukung angkutan laut modern di beberapa daerah. Misalnya pelabuhan yang di bangun ala kadarnya sehingga tidak dapat di sandari kapal-kapal besi di atas 800 DWT. Keberadaan armada tradisional yang menjadi tulang punggung transportasi lokal bagi orang dan barang di daerah, berkembang apa adanya dan masih sangat perlu pembinaan dan dukungan dari Pemerintah” kata Lolok Sudjatmiko, Chairman PT. Niaga Sapta Samudera.

Wakil Ketua Umum DPP INSA periode 2008-2011 ini berharap, organisasinya mampu membantu masyarakat di daerah terpencil. Seperti bagaimana memberikan nilai tambah terhadap hasil pertanian atau perkebunan di daerah terpencil dengan membawa keluar dari wilayah tersebut. Ia mengusulkan agar hasil pertanian di angkut oleh kapal-kapal tradisional ke suatu titik pelabuhan. Pada lokasi yang sudah di tentukan menunggu kapal-kapal INSA yang lebih besar untuk di angkut ke daerah lain atau luar negeri sehingga nilai jualnya menjadi tinggi.

Menurut Djatmiko panggilan akrabnya, pemerintah perlu mengembangkan angkutan laut sebaik mungkin. Sebagai negara kepulauan, sudah selayaknya kalau lalu lintas laut di wilayah Indonesia mendapat perhatian lebih.

“Saya tertarik menggeluti bisnis angkutan laut salah satunya karena faktor geografis negara kita. Dengan penyebaran penduduk yang tersebar di mana-mana. Semua itu bias di jangkau dengan angkutan laut, karena angkutan laut itu merupakan angkutan massal yang tidak dipunyai oleh moda angkutan lain seperti angkutan darat maupun udara,” ungkapnya.

Di sisi lain, Djatmiko yang senang traveling mengaku bangga dengan usaha yang dilakukannya. Selain bekerja, ia juga berkesempatan untuk mengunjungi pulau-pulau besar dan kecil di seluruh wilayah Indonesia. Meskipun demikian, ia juga harus siap menanggung risiko bisnis angkutan laut seperti pengaruh anomaly cuaca yang tidak bias diprediksi belakangan ini.

“Kendala lain dalam bisnis angkutan laut adalah kurang terkoordinirnya pelayanan antar lembaga baik lembaga swasta maupun lembaga pemerintah, contohnya beberapa peraturan bahkan undang-undang masih diartikan dan di terapkan secara ego sektoral, sehingga membuat kebingungan para pengusaha pelayaran. Kurang fokusnya pemerintah dalam mengembangkan dan memperbaiki sarana dan prasarana pelabuhan, adalah salah satu penyebab ekonomi biaya tinggi di sector transportasi laut. Dengan harapan suatu saat kalau dukungan pemerintah sudah baik, saya percaya transportasi laut akan menjadi primadona. Yang jelas segala kelebihan dan kekurangan yang ada saya memiliki kepuasan batindengan berkiprah di bisnis angkutan laut,” tegasnya.

Laporan Harian

Sebagai pengelola perusahaan tongkang dan tugboat, Djatmiko memiliki kiat sendiri menghadapi persaingan. Selain mengutamakan service, perusahaan miliknya juga memberikan layanan lebih baik kepada pelanggan. Salah satunya adalah dengan memberikan laporan berkala terhadap pemilik barang shipper yang mempercayakan pengirimannya. Tujuannya, pelanggan mengetahui dengan pasti proses pengiriman barang miliknya.

“Bisnis tongkang dan tugboat ini bias diibaratkan tanpa managemen pun sudah jalan, namun pengalaman saya yang pernah bekerja di beberapa perusahaan pelayaran besar yang di manage dengan baik, menggerakan saya agar berusaha mengaplikasikannya di perusahaan sendiri. Makanya meskipun perusahaan tongkang dan tugboat jarang memberikan laporan harian dan keterbukaan akses informasi kepada penyewa, tetapi menjadi keharusan di perusahaan kami, itu salah satunya” tegasnya.

Meskipun masih berkutat di bisnis kapal tongkang dan tugboat, Djatmiko menargetkan di masa mendatang memiliki armada kapal yang lebih besar. Saat ini, dengan tongkang dan tugboat jangkauan layanan yang diberikan baru berkisar Negara-negara ASEAN. Sementara kapal besar mampu mengjangkau seluruh dunia. Untuk itu, ia sedang menyiapkan SDM yang akan mengoperasionalkan kapal besar di kantornya dalam waktu yang tidak lama lagi.

Di perusahaan yang didirikan tahun 2005 tersebut, Djatmiko baru memiliki delapan set tongkang dan tugboat. Ia merencanakan, tahun ini armadanya bertambah 4-5 set dan akan di pertahankan pertumbuhan perusahaan setiap tahun. Untuk jangka panjang, ia akan terjun di armada kapal lebih yang lebih besar dengan membeli dan mengoperasikan kapal-kapal type Handy Max dan Pana Max. Seperti juga nama perusahaan PT. Niaga Sapta Samudera yang memiliki harapan suatu saat nati armadanya akan mengarungi tujuh samudera di dunia ini demi kejayaan armada Merah Putih.

“Harapan saya, kapal-kapal Merah Putih kami akan bias mengarungi tujuh samudera dan menyinggahi lima benua. Saya memulai usaha ini tahun 2005 dengan secara intensif mencarter kapal. Baru tahun 2008 saya mulai membangun armada kapalsendiri sampai sekarang. Dengan dukungan karyawan darat sekitar 20 orang dan di laut sekitar 80 orang karena setiap tugboat dioperasikan oleh 10 orang,” ujarnya. Dalam menjalin gubungan dengan karyawan. Djatmiko tetap menggunakan jalur hirarki untuk urusan rutinitas pekerjaan, “Tetapi diluar kedinasan kita harus kembali sebagai makhluk Tuhan yang saling menghormati, saling memberi dan menjalankan aspek sosiallainnya,” imbuhnya.

Keinginan memiliki kapal besar seperti bulker, tanker dan lain-lain, menurut Djatmiko tidak lepas dari keinginannya untuk meberi sumbangsih bagi Negara. Karena dalam jangka panjang, ia merasa tidak puas apabila hanya berkutat di bisnis tongkang dan tugboat saja. Apalagi, sebagai Wakil Ketua Umum INSA ia sangat paham seperti di gariskan dalam AD/ART organisasi tersebut. “Keberadaan organisasi inimembantu anggota mencapai tujuan yang lebih baik. Kemudian membantu infrastruktur dan non infrastruktur di seluruh Indonesia,” tambahnya.

Masuk Militer

Sebetulnya, Lolok Sudjatmiko tidak memiliki latar belakang kelautan sama sekali, Bahkan ia lahir di Kota Kediriyang jauh dari laut dan dibesarkan di Bandung. Orang tuanya, Lasmijan W. Sudjatmiko dan Sutati adalah anggota kesatuan TNI Angkatan Udara. Selepas SMA di Bandung, anak kedua dari tiga bersaudara ini memilih untuk tidak mendaftarkan diri di perguruan tinggi mana pun dan langsung memilih Akademi Maritim Indonesia untuk belajar dasar-dasar Manajemen Pelayaran Niaga.

“Karena saya menolak keinginan orang tua yang men-drill saya untuk masuk militer. Makanya saya masuk Akademi Maritim Indonesia yang berhasil saya selesaikan tahun 1998. Saya sempat meneruskan sebentar di CaliforniaMaritime Academy, Valejo, California melalui program khusus bagi mahasiswa/taruna asing,” kisahnya.

Tahun 1990, Djatmiko kemudian bergabung di PT. Gesury Group. Perusahaan ini merupakan perusahaan pelayaran yang cukup besar dan terkenal di tanah air dan di Dunia hingga akhir tahun 2002.

Keinginan untuk berkiprah di dunia angkutan laut yang memiliki jangkauan luas membuat Djatmiko mengundurkan diri. Bersama ibeberapa orang rekan mendirikan usaha sendiri di bidang tongkang dan tugboat tahun 2005. Menurut perhitungannya, untuk belajar bisnis di dunia pelayaran dengan memulai dari tongkang dan tugboat sangat bagus untuk belajar.

“Untuk entry di bisnis pelayaran niaga, tongkang dan tugboat bagus untuk belajar. Harapan saya ke depan perusahaan terus maju hingga mempunyai kapal-kapal yang bias melayani barang-barang ekspor ke luar negeri. Saya yakin, kedepan bisnis angkatan laut akan lebih mendominasi sebagai alat distribusi di tanah air. Ini bisa kita lihat, meskipun Surabaya-Madura memiliki jembatan Suramadu tetapi feri tetap penuh. Begitu juga dengan jalur Merak dan Bakaehuni, kapal berapapun beroperasi di sana tetap kurang,” tegas suami Rumiris Hermina dengan tiga anak ini.

Lolok Sudjatmiko sangat berterima kasih atas dukungan keluarga yang luar biasa terhadap kariernya. Pria kelahiran Kediri, 01 Februari 1967 ini telah menanamkan kepada keluarga bahwa perusahaan adalah sumber kehidupan bagi masa depan keluarga sehingga ia tidak bisa main-main. Ia harus total membesarkan perusahaan demi masa depan mereka semua.

“Sejauh ini, langka-langka saya mendapat dukungan dari keluarga. Istri dan ketiga anak saya, dua perempuan dan satu laki-laki, pertama SMP kelas II, ke-II SD kelas VI dan terakhir SD kelas II mendukung karier saya. Untuk itu pada hari-hari kerja saya bisa mencurahkan perhatian saya ke perusahaan, tetapi kalau hari Sabtu saya tidak jarang mencurahkan waktu saya untuk bermain bersama keluarga. Kalau hari Minggu saya dari pagi sampai sore full ke gereja menunggu anak-anak. Setiap pagi saya sempatkan untuk mengantar anak sekolah dan pada hari-hari libur terkadang juga mengajak mereka berkunjung ke kapal kalau lagi dok,” kisahnya.

Dengan begitu, Djatmiko berharap agar setiap saat masih bisa memantau perkembangan anak-anaknya. Jangan sampai kejadian seperti yang dialami oleh beberapa orang temannya yang karena kesibukan menjadi tidak mengenal sifat dan kehidupan anaknya sendiri. Ia berharap, suatu saat salah seorang anaknyaakan mewarisi bakatnya untuk meneruskan usaha ini. “Mudah-mudahan saja. Saya percayakan perawatan anak-anak kepada istrinya. Nanti kalau dua-duanya sibuk malah repot,” tambahnya.

Kepada generasi muda, Lolok Sudjatmiki berpesan agar mereka memberikan yang terbaik kepada Bangsa dan Negara. Kalau memiliki sebuah cita-cita mereka harus total dan berjuang untuk mewujudkannya. Seperti dirinya yang terjun di bisnis angkutan laut, mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kemajuan transportasi laut dan sector kemaritiman lainnya di Indonesia.

“Kalau perlu, apapun harus dikobarkan untuk meraih cita-cita kita, sepanjang pengorbanan itu dapat di pertanggung jawabkan di muka Hukum, terlebih di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Selain itu, kita harus jujur terhadap pemerintah dalam membayar segala kewajiban sebagai warga Negara, jujur kepada mitra kerja kita, jujur terhadap diri sendiri dan keluarga,” kata Lolok Sudjatmiko.