Tag: kuliah

Trisno Alianto

No Comments

Trisno Alianto
PT Mastindo Agung Semesta

Menyuplai Bahan Bangunan Termurah Untuk Indonesia

Setelah meraih gelar Bachelor of Science di sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat, Trisno Alianto memutuskan bekerja di Singapura. Selama enam bulan, ia bekerja di negeri tersebut. Namun, kedua orang tuanya meminta untuk kembali dan bekerja di tanah air. Tujuannya untuk membantu keduanya mengelola perusahaan keluarga yang dimiliki.

“Kami memiliki berbagai usaha seperti pabrik sepatu, pabrik aluminium dan pabrik tekstil. Tetapi akhirnya pada tahun 1998 saya mendirikan Mastindo setelah melihat adanya peluang pasca kerusuhan Mei 1998. Akibat krisis harga property turun dan banyak yang membutuhkan bahan bangunan. Di sisi lain, saya memiliki akses ke China karena pernah bekerja di sana. Makanya, saya terdorong untuk membantu mengimpor kebutuhan material dari China yang lebih murah,” kata pendiri PT Mastindo Agung Semesta ini.

Keberaniannya di tengah krisis moneter yang melumpuhkan sendi-sendi perekonomian tidak lepas dari kejelian pengamatannya. Perekonomian dunia yang jatuh terpuruk ke titik nadlir justru menjadi peluang emas baginya. Tanpa keraguan sedikit pun, ia “melepaskan” diri dari perusahaan keluarga yang ditekuninya selama beberapa tahun. Meskipun demikian, ia tetap menjalin hubungan kerja dengan perusahaan keluarga sebagai induk perusahaan.

Trisno –panggilan akrabnya- bahkan mengabadikan nama kedua orang tuanya menjadi nama perusahaan. “Mastindo itu sebenarnya nama ayah dan ibu saya. MA adalah singkatan Muhadi Alianto, ST adalah Srimurni Tjandra dan saya tambah INDO, Indonesia. Jadilah PT Mastindo Agung Semesta untuk mengimpor barang dari berbagai negara, seperti China, Malaysia dan lain-lain. Tadinya perusahaan mengimpor ATK, handphone dan sekarang spesialis di bahan bangunan,” terangnya.

Sebagai pengusaha, lanjut Trisno, tentu saja banyak kendala yang harus dihadapinya. Ia mencontohkan bagaimana di awal operasional perusahaan dari dalam negeri menghadapi kontrol impor dari pemerintah, bea masuk, pajak dan lain-lain. Sementara dari negara produsen, terutama China kendala yang dihadapinya adalah kesulitan untuk mencari supplier yang terpercaya. Penyebabnya, di China sendiri terjadi perang harga yang mengakibatkan kesulitan mengimpor barang yang benar-benar berkualitas.

Produsen material bangunan di China pada harga berapapun dapat memproduksi sesuai kemampuan. Hanya saja, kualitas dikorbankan untuk mengejar harga yang sangat murah. Akibatnya, konsumen di Indonesia harus kecewa karena membeli barang yang tidak berkualitas. Untuk menyiasatinya, ia berencana membangun pabrik di Jakarta atau Surabaya.

“Kita akan membuat beberapa produk yang dibuat di Indonesia, seperti stainless steel dan mungkin nanti menyusul poly carbonate. Rencananya pabrik akan dibangun di Jakarta atau Surabaya. Sesuai dengan visi kita, ‘Menyuplai bahan bangunan termurah untuk kawasan Indonesia.’ Banyak barang yang murah tetapi kualitasnya kurang. Kalau barang dari China umumnya begitu, harga berapa pun mereka bisa produksi, tanpa jaminan kualitas. Kalau kita produksi di Indonesia harganya bisa murah dengan kualitas yang baik,” tegasnya.

Menurut Trisno, ia sangat optimis bahwa ke depan produksi perusahaan mendapat sambutan dari konsumen di Indonesia. Seiring dengan pembangunan yang semakin meningkat di tanah air, produk perusahaan –baik impor maupun produksi sendiri- akan memenuhi kebutuhan pembangunan. Bahkan untuk sekarang, pelanggan perusahaan seperti kontraktor dan bengkel yang tersebar di Jakarta, Surabaya, Makassar dan Indonesia Timur lainnya menjadi pelanggan setia PT Mastindo Agung Semesta.

“Sebagai importir dan distributor bahan bangunan, kita sudah melayani 23 kota di seluruh Indonesia. Ke depan, kita berencana untuk merakit bahan di Indonesia supaya lebih stabil. Karena kalau impor terus, agak susah mengingat tren di masyarakat juga berubah-ubah. Sementara kita harus menyediakan banyak barang untuk menyiapkan kebutuhan konsumen. Yang penting, pelanggan tidak perlu ke mana-mana mencari bahan yang diperlukannya. Pokoknya, kita one stop shopping untuk material ini,” ungkap pria kelahiran Medan, 15 Februari 1966 ini.

Generasi Muda Kompetitif

Berbicara mengenai generasi muda, Trisno Alianto mengungkapkan optimismenya. Mereka mampu mengembangkan Indonesia menjadi jauh lebih baik lagi. Masa depan Indonesia, tak pelak lagi sangat tergantung dari bagaimana generasi muda mengembangkan kemampuan dan potensinya masing-masing.

“Saya kira, generasi muda sekarang sudah mengenal hi tech yang dikuasianya. Saya yakin generasi muda di masa mendatang akan mampu menguasai Indonesia. Kalau kita sendiri tidak ikut dengan knowledge kita sendiri yang akan susah. Kita mau mencari apa saja, dengan membuka internet semua langsung keluar,” tutur ayah tiga orang putra dari pernikahannya dengan Luciawati Purnomo ini.

Kepada generasi muda, Trisno berpesan agar mereka tidak sekali-kali meninggalkan teknologi. Karena di kemudian hari, persaingan yang terjadi di dunia internasional lebih banyak di bidang teknologi. Oleh karena itu, generasi muda harus tetap menyadari bahwa ke depan persaingan semakin ketat dengan teknologi sebagai kendaraannya.

“Generasi muda ke depan harus lebih kompetitif, karena semua sudah jelas informasinya tinggal bagaimana efisiensi dilakukan. Makanya mulai sekarang kita harus mengikuti teknologi. Dan ini harus diajarkan sejak dini di sekolah,” ungkap pengagum Mao Tse Tong dan John F Kennedy ini.

Untuk itu, Trisno mendukung upaya pemerintah yang memberikan anggaran 20 persen dari APBN bagi pendidikan. Setidaknya pada setiap sekolah tersedia komputer dengan jaringan internet untuk mengenalkan teknologi informasi sejak dini. “Anak-anak harus mengikuti knowledge semaksimal mungkin dengan teknologi ini. Jangan sampai anak-anak kita kalah dari anak-anak di luar negeri. Semuanya meningkat tetapi kita memang kalah cepat dari bangsa lain,” kata anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Meskipun demikian, pria dengan moto “Menyiapkan diri adalah arti dari suatu kehidupan” ini, tidak mempersiapkan anak-anaknya untuk menggantikan posisinya. Ia menyerahkan secara penuh keinginan mereka dalam mengejar cita-cita sesuai dengan kemampuan masing-masing.

“Anak saya ada tiga laki-laki semua, yang paling besar SMA sedangkan yang kecil baru SD. Saya tidak mengarahkan mereka untuk meneruskan usaha ini. Tergantung mereka karena setelah kuliah anak-anak pasti memiliki rencana masing-masing. Semua sudah open, terserah mereka. Yang penting kita sudah siapkan semuanya, mulai sekolah sampai kuliah,” tegas penyuka liburan di Bali, Singapura dan USA ini.

Lima Besar Dunia

Terhadap pemerintah sekarang, Trisno Alianto menyadari kesulitan yang mereka hadapi. Masalah waktu adalah problema terbesar yang dihadapi dunia usaha terhadap kebijakan pemerintah. Ia mencontohkan bagaimana impor barang harus tertunda di Bea Cukai. Sementara di negara seperti Singapura, dalam beberapa hari masalah kepabeanan pasti teratasi.

“Kita tahu kapan barang kita keluar karena prosedurnya sudah tetap. Tetapi memang memerlukan proses yang sangat panjang, meskipun sudah terdapat perubahan yang sangat berarti. Perbaikannya sudah sangat drastis. Contohnya masalah pajak, dari dahulu sistem yang digunakan sudah sangat bagus begitu juga cara meng-handle yang dilakukan dengan baik,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Trisno berharap pemerintah mampu membenahi sektor riil. Karena meskipun secara makro kemajuan perekonomian di Indonesia sangat bagus, tetapi pada sektor riil semuanya hanya sebatas angka. Sementara pemulihan ekonomi tidak mungkin hanya dari satu decision saja dan harus didukung oleh market/pasar dan faktor-faktor lainnya.

Menurut pemilik usaha pergudangan PT Cita Bumi Kendari ini, pemerintah harus melakukan dua hal, menstabilkan nilai kurs rupiah dan menurunkan suku bunga. Karena saat ini, nilai suku bunga perbankan Indonesia merupakan tertinggi di Asia sebesar 14 persen. Padahal, di negara-negara lain suku bunga sudah mencapai di bawah 1 persen. Apabila kedua hal tersebut terwujud, kemajuan perekonomian di Indonesia akan meningkat secara signifikan.

“Indonesia negara yang sangat makmur, semua itu hanya masalah waktu saja. Karena semua bahan tambang ada di bumi Indonesia sehingga kesejahteraan tinggal beberapa langkah lagi. Bahkan, seorang ekonom meramal, nanti tahun 2030 Indonesia akan menjadi top five in the world, lima besar kekuatan ekonomi di belakang China, Brazil, dan India. Saya kira proses menuju itu sangat sulit, karena banyak personal interest yang harus disingkirkan. Tetapi kalau personal interest bisa dikesampingkan, akan lebih mudah untuk menyejahterakan rakyat,” kata Trisno Alianto menutup pembicaraan.

Kurnia

No Comments

Kurnia
CV Hazna Indonesia/Shasmira

Membangun Indonesia Menjadi Kiblat Fashion Muslim Dunia

Umat Islam semenjak zaman Nabi Muhammad SAW telah menentukan kiblat untuk shalat, menghadap Kabah. Tetapi seiring perjalanan waktu, terjadi pergeseran kiblat umat Islam. Bukan lagi menuju Kabah, tetapi mengarah ke Bandung, Indonesia. Namun jangan salah sangka, karena kiblat yang mengarah ke Bandung bukan untuk shalat dan ibadah yang lain. Kiblat umat Islam ke Kota Kembang adalah tren fashion busana muslim.

Pencetus tren tersebut adalah CV Hazna Indonesia, produsen segala pernak-pernik busana muslim. Mulai kerudung atau jilbab, baju gamis, kopiah, sarung, sajadah, dan lain-lain. Dengan mempekerjakan, 40 staf, 100 penjahit dan 600 pengrajin, Hazna Indonesia dengan brand Shasmira telah hadir di 55 kota di Indonesia. Bahkan, produk busana muslim Haznah Indonesia telah menjangkau Brunei, Singapura, Malaysia dan Bangladesh.

“Ide awalnya dari istri saya untuk membuat kado spesial berupa kerudung sebagai oleh-oleh sepulang ibadah haji. Ternyata kerudung desain istri saya tersebut sangat disukai. Dan, karena kebetulan istri saya berkerudung kami memutuskan untuk mengembangkan produk ini sebagai sebuah bisnis,” kata Kurnia, pemilik dan pendiri CV Hazna Indonesia/Shasmira.

Saat itu, sebenarnya Kurnia sendiri masih bekerja di perusahaan swasta. Ia mencoba membuat beberapa kerudung dengan desain minimalis yang ternyata sangat disukai konsumen saat dilempar ke pasar. Kerudung minimalis segera saja menjadi tren karena terlihat fashionable dan tidak ketinggalan zaman. Dari situ, ia menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar untuk memasarkan desain kerudung miliknya.

Setelah beberapa lama, timbul keyakinan dalam diri Kurnia bahwa bisnis kerudung cukup menjanjikan. Ia kemudian memutuskan untuk berdiri sendiri dan membawa brand sendiri dengan nama Nisa 59. Menyusul kemudian pada bulan Agustus 2007 secara resmi ia meluncurkan brand Shasmira dengan produk yang lebih variatif sehingga dapat diterima bahkan oleh orang-orang yang sebelumnya tidak mengenal jilbab sama sekali.

“Saat ini jilbab bukan hanya sekadar untuk syariah, tetapi sudah menjadi fashionable. Sudah merupakan life syle, sehingga tidak sedikit orang yang sebelumnya tidak pakai jilbab tetapi begitu pakai jilbab menjadi lebih modis dan fashionable. Kedua kita harus menyadari bahwa penduduk Indonesia mayoritas muslim, sehingga itu adalah potensi pasar yang luar biasa. Saya perkirakan Indonesia akan menjadi kiblatnya fashion muslim tingkat dunia,” ungkapnya.

Kurnia sebagai seorang pebisnis, melihat bahwa prospek bisnis busana muslim ke depan cukup menjanjikan. Selain karena mayoritas penduduk Indonesia muslim, kesadaran masyarakat untuk memakai jilbab sangat tinggi. Ia mencontohkan bagaimana daerah-daerah seperti Aceh, Padang, dan Jawa Tengah penggunaan kerudung resmi menjadi aturan daerah. Selain itu, dunia hiburan pun ternyata turut mendongkrak popularitas kerudung dengan seringnya ditayangkan sinetron bernuansa religi.

“Oleh karena itu, kita juga melakukan penetrasi pasar dengan menggunakan sistem keagenan dengan empat tingkatan. Ada agen, member, distributor dan house network. Alhamdulilah kita sudah mampu membangun sekitar 600 jaringan distributor di seluruh Indonesia. Termasuk juga Asia, di Hongkong, Nederland, Brunei, Singapura dan Malaysia. Kita memiliki toko berkonsep kerjasama kemitraan dengan investor yang sekarang sudah berjumlah 55 House of Shasmira,” ujarnya.

Quality Control System

Sebagai tren setter busana muslim dunia, Kurnia memiliki berbagai kiat untuk memperteguh eksistensi produknya. Jaringan pemasaran yang luas dan harga produk yang terjangkau adalah salah satu strategi bisnisnya. Meskipun di pasaran juga beredar produk tanpa merek yang beredar di pasar-pasar tradisional.

“Tetapi kalau kita menaikkan harga sesuai dengan kompetitor, kita akan kalah. Makanya ini harus disiasati dengan mencari solusi alternatif dengan harga yang lebih rendah tetapi kualitasnya sama. Biasanya, itu kita lakukan dengan menembus langsung produksi barang tanpa perantara. Jadi langsung pada sumbernya,” tegasnya.

Selain itu, Kurnia juga terus meningkatkan skill dan kemampuan SDM. Tujuannya agar hasil kerja SDM sesuai program dan harapan perusahaan. Caranya melalui berbagai bimbingan dan pelatihan yang secara berkala diberikan perusahaan kepada seluruh SDM. Ia juga menerapkan sistem yang mampu mengontrol seluruh hasil kerja karyawan.

“Kita menambahkan sistem kontrol dari semua pekerja kita dengan menerapkan sistem QC. Jadi setiap barang yang masuk kita kontrol lagi dan barang yang tidak sesuai kita kembalikan untuk diperbaiki. Kenapa, karena kalau diserahkan kepada mereka tanpa kontrol yang ketat, maka kualitas kita nanti menjadi tidak seragam,” sergahnya.

Apalagi, lanjut Kurnia, meskipun pengguna brand di persaingan bisnis baju muslim jarang, tetapi ia harus tetap waspada. Hingga saat ini, jumlah pengusaha busana muslim sekitar 50-100 pengusaha. Sebuah jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan 200 juta penduduk muslim di Indonesia. “Kita harus bersaing dengan produk lokal seperti di Bukittinggi, tetapi kita harus siap untuk go international,” tegasnya.

Menurut Kurnia, yang patut diwaspadai dalam persaingan usaha busana muslim global adalah kemampuan China dalam memproduksi barang. Produsen China mampu membuat barang sesuai dengan pesanan harga yang diinginkan pelanggan. Dari yang paling mahal sampai termurah mereka mampu membuat dengan desain yang cukup bagus.

“Kita memang bisa menyesuaikan diri dengan mengurangi margin keuntungan. Tetapi produk China dengan harga murah ini cukup berdampak pada pemasaran kami untuk menjangkau kalangan menengah bawah. Kalau kalangan menengah ke atas, mereka pasti akan berpikir dua kali untuk menggunakannya, terkait kualitasnya. Sedangkan masyarakat bawah, tidak terlalu peduli yang penting fungsi dan harga. Masalah kekuatan dan kenyamanan nomor dua,” tuturnya.

Ke depan, Kurnia berharap akan melakukan berbagai pengembangan pemasaran. Salah satnya adalah dengan menempatkan satu orang perwakilan Shasmira pada setiap kota di Indonesia. Ia juga ingin setiap orang Indonesia mengenal produk perusahaan dan tidak terbatas hanya sekadar mengenal tetapi juga membeli dan mereferensikan produk Shasmira kepada orang lain.

“Kita ingin Shasmira tidak hanya dikenal di Indonesia tetapi juga go international. Target itu kita lakukan dengan terus menerus mengembangkan difersifikasi produk itu sendiri, dengan mengikuti tren yang ada di masyarakat. Karena pergantian mode sangat cepat sekali di masyarakat dan mencapai hitungan per bulan. Konsumen itu raja yang berhak menentukan pilihan sesuai keinginan masing-masing,” tegasnya.

Generasi Berpikir “Bisa”

Kurnia menjelaskan arti harfiah shasmira untuk menamakan brand busana muslim besutannya. Shasmira merupakan nama bunga sangat indah yang berasal dari India. Sementara dalam sejarah Islam, Shasmira juga dikenal sebagai pejuang wanita yang gagah berani sehingga identik dengan wanita. Di zaman sekarang pun, ia mendapati kisah tentang Siti Shasmira yang berjuang demi kemajuan anak-anak bangsa di lokasi terpencil.

“Shasmira juga sebuah nama yang unik sehingga mudah diingat. Jadi kalau orang menyebut shasmira, mereka akan mengasosiasikan dengan baju muslim. Saya juga membangun ini dengan penuh perjuangan, tetapi saya berharap agar perusahaan semakin besar dan memberikan kontribusi bagi pemerintah untuk menanggulangi pengangguran. Harapan saya nanti ke depan, anak-anak bisa melanjutkan dan mengembangkan perusahaan ke arah yang lebih baik,” ujarnya.

Di sisi lain, Kurnia berharap agar pemerintah bisa membantu UMKM seperti usahanya. Bantuan yang sangat diharapkan berupa bantuan permodalan yang sangat berguna bagi perusahaan kecil dan menengah seperti CV Hazna Indonesia dengan persyaratan yang mudah. Ia juga berharap agar pemerintah terjun langsung melakukan pembinaan terhadap pengusaha kecil. Tujuannya agar mereka bisa meningkatkan pengetahuan sehingga perusahaan semakin besar dan menyerap banyak tenaga kerja. Dengan begitu, terjadi hubungan saling membutuhkan satu sama lain antara pemerintah dan dunia usaha.

Kurnia mengingatkan, bahwa angkatan kerja setiap tahun selalu bertambah. Sementara peran pemerintah adalah mengubah pola pikir masyarakat, terutama orang tua untuk mengetuk kesadaran generasi muda agar memiliki jiwa entrepreneur. Yakni bagaimana mereka tidak berpikir mencari kerja di mana setelah lulus kuliah, tetapi bagaimana timbul pemikiran untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

“Itu yang harus digalakkan pemerintah, sehingga apabila semua lulusan perguruan tinggi mampu berusaha sendiri, income per capita meningkat, mengikis pengangguran dan lain-lain. Di sisi lain, pemerintah juga harus memfasilitasi kemitraan antara perusahaan besar dengan perusahaan kecil. Setidaknya untuk memperoleh proyek mereka harus membantu pengusaha kecil terlebih dahulu untuk memberikan kesempatan berwira usaha kepada setiap penduduk. Kalau sudah begitu, saya yakin masyarakat Indonesia akan semakin baik di masa mendatang,” ujarnya.

Kepada generasi muda, Kurnia berpesan agar mereka menanamkan dalam diri masing-masing bahwa untuk mendapatkan penghasilan tidak harus dengan bekerja. Generasi muda mampu menghasilkan pendapatan dengan cara berkarya, yakni menciptakan sebuah karya yang memiliki nilai jual. Generasi muda juga harus memikirkan bagaimana karya yang tercipta memiliki nilai komersial dengan menggandeng orang lain untuk berkolabarosi.

“Itu akan lebih baik daripada selesai kuliah kemudian melayangkan surat lamaran ke mana-mana dan menunggu. Ini misalnya dilakukan oleh Bill Gates yang meng-create sebuah karya dan mencari mitra untuk membesarkan Microsoft. Oleh karena itu, generasi muda harus selalu berpikir bahwa mereka bisa. Karena berpikir bisa akan merangsang kreativitas, inovasi, dan lain-lain. Sementara kalau berpikir tidak bisa akan mematikan potensi yang dimiliki. Makanya berpikirlah bisa. Saya bisa menjadi pengusaha, saya bisa menghasilkan karya yang baik dan sebagainya,” pungkas Kurnia, pemilik CV Hazna Indonesia.

Johan Wang

No Comments

Johan Wang
Direktur Utama PT Jocelyn Anugrah Jaya

Mengalami Keajaiban dan Mukjizat Hidup Diwujudkan pada Miracle Agency

Beberapa kali kejadian ajaib dialami oleh Johan Wang, Direktur Utama PT Jocelyn Anugrah Jaya. Kejadian ajaib tersebut selalu berhubungan dengan keselamatan dirinya sehingga nyawanya berada di ujung tanduk. Salah satunya, ketika masih  kuliah tahun 1999, ia terserempet metromini saat naik motor ke kampus. Celakanya, ia jatuh ke kolong truk kontainer yang sedang melaju. Tak ayal, tubuhnya terseret truk kontainer sejauh sepuluh meter.

Meskipun demikian Johan Wang selamat. Ia “hanya” mengalami patah tulang di hampir sekujur tubuhnya. Setelah tergolek di rumah sakit selama satu tahun lamanya, ia dinyatakan sembuh dan bisa beraktivitas seperti sedia kala. Sejak itulah, ia sangat antipati terhadap obat dan dokter. Trauma tersebut terus dibawanya hingga bekerja, menikah dan memiliki anak. Hingga suatu saat, vonis dokter menyatakan dirinya suspect leukemia dan harus menjalani perawatan intensif.

“Ini keajaiban dan mukjizat untuk kali kedua setelah dilindas kontainer. Suami saya dinyatakan menderita leukemia akut saat menjalani pengecekan di Singapura. Peluang untuk sembuh diperkirakan hanya 30 persen kalau tidak segera ditangani. Rumah sakit di sana mengajukan dana Rp1 miliar untuk perawatan suami saya. Tetapi saya bersikeras membawanya pulang ke tanah air,” kata istrinya.

Ia dan suaminya kemudian kembali ke Indonesia untuk menjalani pengobatan herbal. Berbagai macam obat-obatan herbal dari seluruh penjuru nusantara dicoba demi kesembuhan sang suami. Ratusan juta rupiah telah dihabiskan untuk pengobatan yang ternyata tidak membuahkan hasil tersebut.

Bukannya berkurang, leukemia yang diderita Johan Wang semakin parah. Dari hidung dan gusinya terus menerus terjadi pendarahan, sementara di sekujur tubuhnya timbul bercak-bercak besar kemerahan. Ia hanya mampu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa demi kesembuhan suaminya.

“Tuhan memang Maha Baik. Suatu hari, Dia mengirimkan penderita leukemia kronis ke rumah. Orang tersebut menyarankan untuk tetap konsultasi ke dokter sebagai pegangan meskipun menggunakan herbal untuk pengobatan. Kami menurutinya dan mempercayakan pengobatan kepada dokter yang disarankan orang tersebut,” tandasnya.

Johan Wang, kemudian disarankan untuk menjalani kemoterapi di RS Ciptomangunkusumo  oleh dokter tersebut. Satu kali kemoterapi dan menghuni ruang isolasi selama 45 hari tidak menunjukkan hasil maksimal. Mungkin penyebaran sel kanker yang sudah mencapai paru-paru menjadi penyebabnya. Bahkan, sel kanker didiagnosa telah menguasai 90 persen darah yang beredar di tubuh. Dikhawatirkan, apabila sel kanker sudah mencapai otak nyawa Johan  Wang tidak tertolong.

Sekali lagi, Johan Wang harus mengulang proses kemoterapi dan isolasi dari awal. Sang istri hanya diperbolehkan menunggui suaminya dari luar ruangan. Tanpa henti, ia memanjatkan doa untuk kesembuhan Wang sembari mengasuh anaknya yang kala itu belum genap berumur satu tahun. Perlahan namun pasti, tanda-tanda kesembuhan mulai nampak. Setelah satu tahun tergolek di rumah sakit, Johan Wang dinyatakan terbebas dari leukemia.

“Puji Tuhan, ini benar-benar keajaiban dan mukjizat dari-Nya. Kebahagiaan dan rasa syukur tiada tara kami rasakan. Apalagi setelah keluar dari rumah sakit, kita masih mendapat bonus jalan-jalan ke Turki dari Prudential. Semua berkat mukjizat Tuhan, mulai terlindas kontainer sampai sembuh total dari leukemia, tanpa campur tangan Tuhan tidak akan terjadi. Oleh karena itu, saat bulan Januari 2011 membuka perusahaan, kita namakan Miracle Agency,” tuturnya.

Berkat Tuhan pula yang membuat brand Miracle Agency dari perusahaan PT Jocelyn Anugrah Jaya dengan cepat berkembang. Dengan persaudaraan dan pertemanan yang sangat kuat, dalam waktu singkat telah memiliki 1000 agen dengan 110 leader. Bahkan cabang perusahaan pun berdiri tidak hanya di Jakarta, tetapi juga Bangka, Jambi, Sungai Liat, Bandung dan lain-lain. Tidak hanya itu, dari 220 insurance agency di seluruh Indonesia Miracle Agency menduduki peringkat 10 nasional.

Membantu Orang

Awalnya Johan Wang tidak begitu tertarik dengan dunia asuransi. Sebagai perantau dari Jambi dan kuliah di Jakarta, ia indekos di kamar berukuran dua kali tiga meter. Setelah lulus kuliah ia bekerja sebagai staf auditor. Salah satu teman kos Johan bernama Heri, dilihatnya memiliki kehidupan yang lebih baik. Ternyata Heri adalah agen perusahaan asuransi Prudential.

“Suami saya melalui Heri kemudian bergabung dengan Prudential. Meskipun awalnya ia menyangka MLM, tetapi ia berketetapan hati untuk bergabung dan bekerja sebagai agen asuransi. Ia pun resmi mengundurkan diri dari perusahaan lama –meskipun sempat diiming-imingi kenaikan gaji- tetapi ia sudah bulat keputusan untuk bergabung di Prudential. Di sini ia memiliki misi yang luar biasa, yakni membantu orang menyiapkan masa depan mereka,” kisahnya.

Landasan misi mulia tersebut, lanjutnya, membuat karier Johan Wang dengan cepat meroket. Hanya dalam tempo tujuh tahun, ia sudah menduduki posisi paling atas sebagai agency manager (2008). Hampir setiap tahun perusahaan mengeluarkan bonus untuk Johan Wang berupa jalan-jalan ke luar negeri. Selain itu, penghasilan besar dari asuransi membuatnya mampu membeli rumah, mobil dan lain-lain.

Bahkan, saat dinyatakan suspect leukemia pun penghasilan Johan Wang tidak berkurang. Uplink managernya menjamin bahwa usaha sales asuransi yang dijalankannya tetap berjalan seperti biasa. Bisa dibilang, inilah bisnis yang menjadi pasif income sebenarnya. Karena saat Johan sakit, biaya operasional –seperti cicilan rumah, mobil dan biaya hidup keluarga- sebesar Rp60 juta per bulan tertutupi.

“Jadi saya tidak perlu menjual rumah atau asset lain sama sekali. Apalagi, semua biaya pengobatan suami saya benar-benar ditanggung oleh Prudential. Untungnya, perusahaan memiliki kebijaksanaan apabila nasabah menderita penyakit akut seperti kanker, leukemia dan lain-lain, polis diberikan secara cash. Yang lebih menenangkan lagi, saat suami jatuh sakit teman-teman sudah siap menggalang dana. Tetapi berkat Prudential semua telah terbantu,” kisahnya penuh syukur.

Di saat-saat sedang menderita cobaan hidup seperti itu, Johan Wang dan istrinya menyadari siapa teman dan sahabat sejati. Disamping ada yang dengan sukarela memberikan bantuan materi, ada juga yang mengetahui kondisinya lantas meninggalkan pasangan ini begitu saja. ”Kalau lagi senang, semua teman berdatangan tetapi ketika kita jatuh satu per satu meninggalkan kita. Nah, saat Johan sakit itulah baru kelihatan siapa teman-teman kita,” imbuhnya.

Melalui Miracle Agency, pasangan Johan Wang dan istri, membangun kesuksesan bersama. Mereka tidak hanya berpikir untuk kesuksesan pribadi tetapi juga membuat banyak orang sukses. Dengan berbisnis di agen asuransi Prudential kesempatan untuk memperbaiki kehidupan terbuka lebar. Ia mengisahkan bagaimana banyak anak buahnya yang memiliki keinginan kuat untuk maju berhasil meraih impiannya.

Apalagi dalam menjalankan bisnis agen asuransi Prudential relative tidak memerlukan modal sama sekali. Yang diperlukan hanyalah kemauan untuk maju mencapai impian yang dicita-citakan mencapai kehidupan yang lebih baik. Seorang agen hanya dituntut untuk ulet, memiliki tujuan yang jelas dan siap dengan risiko yang sangat kecil.

“Risikonya hanya menghadapi penolakan dari nasabah, itu saja. Dan penolakan akan tidak menjadi masalah kalau kita memiliki goal dan dream. Saya bilang belum ada bisnis seluar biasa Prudential. Tanpa modal, nilainya ratusan juta, hasilnya juga luar biasa, dengan risiko hanya penolakan. Saya dalam kurun waktu tujuh tahun sudah mampu memperoleh income diatas Rp100 juta per bulan. Padahal modal awal hanya Rp6 ribu untuk materai,” tegasnya.

Risiko Penolakan

PT Jocelyn Anugrah Jaya dibawah Johan Wang sebagai Direktur Utama setelah mencapai ranking 10 besar agen asuransi menetapkan untuk masuk 5 besar dalam beberapa tahun ke depan. Tetap bervisi untuk membantu orang mencapai kehidupan lebih baik, perusahaan mengalami akselerasi kemajuan yang sangat pesat. Beberapa bulan berjalan, perusahaan telah mencatatkan omzet rata-rata Rp1,5 miliar per minggu.

“Saya cuma menerapkan kekeluargaan, kekompakan dan lain-lain. Untuk merangsang sales, kita membuat kontes jalan-jalan, ke Hongkong, Phuket dan lain-lain. Atau angpao bagi mereka yang berhasil mendapatkan tiga nasabah. Yang jelas, karena percepatan usaha kita sangat luar biasa, kami yakin tembus sepuluh besar. Pokoknya tetap mengusung visi meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan menjadi lebih tinggi. Bring miracle for every family yaitu memberikan keajaiban bagi setiap agen dan leader yang bernaung dalam Miracle Agency. Sementara bagi nasabah banyak manfaat yang mereka rasakan dari produk-produk Prudential,” tegasnya.

Untuk mencapai visi tersebut, selain mengadakan kontes dan jalan-jalan perusahaan juga memberikan bantuan berupa training dan pelatihan. Tujuannya untuk membekali para agen agar mereka memiliki skill yang cukup untuk menghadapi tantangan ke depan, menguasai produk yang dijual serta motivasi yang tinggi untuk maju. Ibarat handphone, mereka di-charge untuk menambah stamina sebelum terjun dalam persaingan pasar asuransi yang semakin sengit.

Selain itu, Johan Wong menargetkan untuk membawa perusahaan mencapai lima besar agen asuransi di Indonesia. Karena dengan predikat lima besar berarti akan semakin mudah dalam mencari nasabah. Selain itu, banyaknya produk asuransi dari Prudential yang memenuhi kebutuhan nasabah juga memudahkan tugas agen asuransi. Di sisi lain, manfaat asuransi bagi nasabah juga sangat banyak. Mulai merancang masa pensiun, anak sekolah, sakit parah dan lain-lain dapat tercover asuransi.

“Masyarakat harus tahu bahwa setiap tahun selalu ada penyakit baru yang terdeteksi, karena mutasi penyakit semakin beragam. Nah, nasabah kalau sudah sakit, ujung-ujungnya masuk rumah sakit juga. Kenyataannya banyak orang di rumah sakit yang tidak tertolong gara-gara kesulitan dana. Di situlah pentingnya asuransi, kalau terjadi apa-apa tidak perlu menjual asset yang dengan susah payah dikumpulkan,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, secara pekerjaan bekerja sebagai agen asuransi cukup mudah. Bagi agen yunior, untuk mencapai kesuksesan cukup melakukan persis seperti yang dikerjakan oleh para seniornya. Karena para senior telah berpengalaman dan membuktikan bahwa apa yang dikerjakannya dalam bisnis ini telah menghasilkan limpahan materi bagi keluarga.

Selain itu, bagi generasi muda yang belum memiliki pekerjaan tetap, bekerja di perusahaan asuransi seperti Prudential sangat menjanjikan masa depan. Penghasilan sebagai agen asuransi mampu mencukupi kebutuhan hidup, dengan peluang karier yang terbuka lebar serta kesempatan keliling dunia. Agen asuransi juga mempunyai kesempatan untuk memiliki kebebasan financial tidak terbatas dengan keikutsertaannya pada program perusahaan tempatnya bekerja.

“Untuk yang sudah bekerja di Prudential, saya sarankan agar mereka mengikuti sistem saja untuk sukses. Kunci suksesnya cuma copy paste, mengikuti omongan leader karena mereka sudah membuktikan. Seperti saya bisa beli rumah, mobil dan lain-lain yang merupakan hasil dari pekerjaan sebagai agen asuransi. Apalagi untuk ke depan, market kita masih luar biasa. Karena selama masih ada kehidupan –kelahiran, pertumbuhan penduduk dan lain-lain- asuransi akan terus diperlukan. Sementara tenaga pemasaran asuransi pun masih sangat sedikit, dan yang harus diingat adalah risiko pekerjaan ini hanya sekadar penolakan saja,” katanya.

Profil PT Jocelyn Anugrah Jaya

PT Jocelyn Anugrah Jaya merupakan salah satu kantor manager mandiri (Agency) dari PT Prudential Life Assurance yang didirikan pada tanggal 15 April 2010 oleh Bapak Johan sebagai pemilik sekaligus pemimpin perusahaan dan disyahkan dengan akte notaris Hannywati Gunawan, SH, No 34. Perusahaan bergerak di bidang jasa khususnya asuransi jiwa dan mulai beroperasi pada tanggal 3 Januari 2011, beralamat di gedung Permata Kuningan, Jakarta Selatan.

Perusahaan lebih di kenal dengan brand Miracle Agency untuk mempermudah komunikasi antara pihak Prudential (kantor pusat) dengan agency. Karena setiap agency memiliki kode kantor yang berbeda satu dengan lainnya dan bernaung dalam satuan region.

Miracle Agency di bawah pimpinan Johan Wang telah banyak melahirkan leader – leader yang solid dan berkomitmen dari semua tingkatan jenjang karier. Antara lain Unit Manager (UM), Senior Unit Manager (SUM) dan tingkatan yang paling tinggi yaitu Agency Manager (AM). Untuk sebuah agency baru dengan begitu banyaknya leader merupakan suatu kekuatan group yang besar. Selain di Jakarta, Miracle Agency juga memiliki kantor cabang di Bandung, Jambi, Bangka, Pangkalpinang dan Sungai Liat.

Visi dan misi PT Jocelyn Anugrah Jaya

Visi
Menggapai semua kesuksesan dengan satu tujuan demi keberhasilan perusahaan dalam perkembangannya

Misi
Menjadi agency terbaik dan memiliki suatu komitmen untuk berkembang terus dan melampaui semua pengharapan yang ada

Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari misi, Miracle Agency mempunyai landasan sebagai suatu kekuatan dasar berdiri dan berkembangnya perusahaan sebagai berikut:
Semangat untuk menjadi yang terbaik
Organisasi yang memberikan kepada orang lain untuk belajar
Bekerja sebagai suatu keluarga.

DR. H Sugihanto Hasanuddien, MA

No Comments

DR. H Sugihanto Hasanuddien, MA
Rektor Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Mewujudkan Perguruan Tinggi yang Lebih Unggul, Maju dan Bermakna

“Jabatan Rektor bukanlah anugerah, ganjaran, apalagi kenikmatan akan tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan” adalah motto yang diusung DR. H Sugihanto Hasanuddien, MA., saat maju dalam pemilihan Rektor Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo periode 2010 – 2014. Pencalonan ini adalah untuk yang kedua kali setelah pada periode 1998 – 2002 jabatan rektor juga diemban pria kelahiran Ponorogo, 7 Juli 1950 ini.

“Saya terpanggil untuk berbagi pengalaman atas perjalanan panjang dalam kesertaan membantu INSURI Ponorogo sejak 1979 sampai sekarang. Harapan saya, bersama keluarga besar INSURI mewujudkan perguruan tinggi yang lebih unggul, maju dan bermakna bagi kita semua,” kata alumni Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Untuk itu, lanjutnya, perlu ikhtiar yang kuat bersama stakeholder INSURI agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Untuk itu, dalam pencalonan sebagai rektor ia, menyusun program pertumbuhan dan perkembangan INSURI pada lima hal, yaitu institusi, sosial, budaya, ekonomi dan politik. Keberhasilan dalam mengembangkan INSURI akan memberikan kontribusi besar pada pencapaian tujuan pembangunan nasional secara keseluruhan.

Dalam perspektif institusi, jelasnya, pengembangan INSURI melalui niat dan tekad bersama Sivitas Akademika yang terdiri atas Pimpinan, dosen, karyawan, mahasiswa serta alumni. Semua harus memiliki orientasi ke masa depan, mensinergikan individu-kelompok-institusi, komunikasi organisasi yang efektif, mengintegrasikan “tri dharma perguruan tinggi” dan menghasilkan lulusan yang unggul, berkualitas serta kompetitif. Dari situ diharapkan akan memicu lahirnya berbagai inspirasi dan inovasi yang bermanfaat bagi bangsa Indonesia.

Dalam perspektif sosial, INSURI akan melahirkan insan-insan akademis yang mempunyai peranan penting dalam proses perubahan sosial di masyarakat. Oleh karena itu, INSURI diharapkan dapat memberikan sumbangan penting pada upaya menumbuhkan kepemimpinan yang arif berbasis individu, kelompok dan institusi.

Dalam perspektif budaya, INSURI merupakan institusi penting dan medium yang efektif untuk mengajarkan norma, mensosialisasikan nilai dan menanamkan etos di kalangan warga kampus. Dalam konteks ini, INSURI dapat menjadi simpul penting untuk membangun kesadaran kolektif (collective conscience) sebagai warga kampus serta mengukuhkan ikatan-ikatan sosial dengan mitra strategis dari Pondok Pesantren, Pemerintah Pusat/Daerah, komunitas akademis dan masyarakat.

Dalam perspektif ekonomi, INSURI diharapkan akan menghasilkan manusia-manusia yang handal untuk menjadi subyek penggerak pembangunan ekonomi nasional. Dalam konteks ini, Tri Sivitas Akademika INSURI harus berperan sebagai pusat penelitian dan pengembangan (research and development) yang diharapkan dapat mengantarkan umat Islam untuk meraih keunggulan dalam persaingan global.

Dalam perspektif politik, INSURI harus mampu mengembangkan kapasitas individu untuk menjadi warga negara yang baik (good citizen) yang memiliki kesadaran akan hak dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena itu INSURI ke depan akan melahirkan lapisan masyarakat akademis yang kemudian membentuk critical mass yang menjadi elemen pokok dalam upaya membangun masyarakat madani, yang bertumpu pada golongan masyarakat kelas menengah terdidik yang menjadi pilar utama civil society sebagai salah satu tiang penyangga bagi upaya perwujudan pembangunan masyarakat demokratis.

Membangun Kampus

Pak Giek –panggilan akrabnya- sejak masih  menjadi mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya sudah aktif di organisasi kemahasiswaan. Aktivitasnya meliputi organisasi intra maupun ekstra kampus. Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel Surabaya dijabat ayah empat anak dari pernikahannya dengan Hj Umi Parwatie pada tahun 1972 – 1974. Ia juga menjabat sebagai Sekjen Dewan Mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya selama dua periode (1974 – 1978).

“Satu tahun setelah lulus sarjana (1979), saya menjadi dosen INSURI Ponorogo sampai sekarang. Saya pernah menduduki jabatan Pembantu Rektor I Bidang Akademis (1996-1998), kemudian menjadi Rektor periode I (1998-2002) dan diangkat kembali menjadi Rektor untuk periode II tahun 2010-2014,” tutur anak ke sembilan dari sebelas bersaudara pasangan H Koesnodimoelyo dan Hj Misinem ini.

Setelah berhasil memangku jabatan Rektor Periode II, kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain:

⦁    Menambah sarana dan prasarana (bangunan) ruang kuliah berlantai dua sebanyak dua lokal. Proyek ini selesai dan sudah dimanfaatkan pada semester genap 2010/2011 sekarang sedang ditambah dan sedang dikerjakan sebanyak dua lokal dengan harapan selesai pada tahun ajaran baru 2011/2012

⦁    Melengkapi dan mengoptimalkan penggunaan laboratorium “micro teaching” dan pusat laboratorium komputer untuk perkuliahan PPL-1 Fakultas Tarbiyah, Dakwah dan Syari’yah
⦁    Membeli dan mengoperasionalkan seperangkat alat laboratorium bahasa sebagai realisasi orang “multi lingual” khususnya bahasa Arab dan bahasa Inggris
⦁    Menambah seperangkat LCD permanent pada empat lokal ruang kuliah, sebagai media pembelajaran berbasis IT (teknologi informasi)
⦁    Mengadakan olimpiade akuntansi bagi siswa SMA-SMK dan MA negeri maupun swasta se-ex Karesidenan Madiun yang diikuti oleh 42 team/regu
⦁    Menjadi penyelenggara musyawarah nasional Forum Komunikasi mahasiswa Fakultas Dakwah se-wilayah Jawa Timur dan NTB

Dalam memimpin INSURI Ponorogo, Pak Giek berpegang  pada visi dan misi yang diajukannya saat mencalonkan diri sebagai Rektor. Adapun visi dan misinya adalah sebagai berikut:
Visi
Mewujudkan INSURI sebagai jendela bagi masyarakat untuk melihat perkembangan Islam dengan mengintegrasikan pendidikan pesantren (keislaman) dan modern (keilmuan)
Misi
⦁    Menumbuhkan kepemimpinan akademik yang arif berbasis individu, kelompok dan institusi
⦁    Menjadikan INSURI sebagai simpul penting dan jejaring kerjasama dengan mitra strategis dari pesantren, pemerintah (pusat/daerah), komunitas akademis dan masyarakat
⦁    Meningkatkan kebutuhan peralatan penunjang riset, memperbaharui fisik lingkungan kampus dan meningkatkan kenyamanan sebagai tempat belajar
⦁    Mengembangkan dan melaksanakan manajemen INSURI yang akuntabel, profesional dan produktif berlandaskan azas manfaat dalam system tata kelola terpadu

Dengan visi dan misi tersebut, diharapkan INSURI dapat melahirkan lebih banyak lagi alumni yang akan menjadi pemimpin berwawasan keislaman  dan peka terhadap persoalan sosial.

“Selama ini, alumni INSURI banyak yang menjadi aktivis dalam politik, sosial dan juga organisasi sosial kemasyarakatan/keagamaan. Kita harapkan mereka inilah yang memberikan partisipasi aktif dalam membangun clean government. Untuk itu, di masa depan kita akan banyak melakukan advokasi bagi pesantren dan madrasah sehingga terjadi mobilisasi intelektual, termasuk menjadi sumber pengembangan dan jendela ilmu agama Islam dengan dunia luar, utamanya dengan dunia internasional,” tegasnya.

Program-program Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

A. Program S1

Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo berkomitmen untuk berkiprah dalam pengembangan keilmuan Islam berwawasan kebudayaan dan kebangsaan dan siap mencetak sarjana muslim, cendekia, dan profesional agar mampu memenuhi tuntutan global ke arah terwujudnya kesejahteraan dan kebahagiaan dunia akhirat.

Visi
Terbentuknya Sarjana Muslim yang berkualitas, berakhlakul karimah dan mampu menjawab tantangan zaman.
Misi
1.    Menyelenggarakan pendidikan akademik dan profesional untuk mewujudkan manusia yang berkualitas, beramal ilmiah dan berilmu amaliah
2.    Menyelenggarakan Pendidikan Islam yang dapat meningkatkan kualitas iman taqwa, berakhlakul karimah dan memiliki wawasan luas
3.    Membina kompetensi ideal menuju kemandirian dalam kehidupan pribadi maupun bersama-sama
4.    Menyelenggarakan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara efektif, efisien dan menyeluruh agar tercipta Sumber Daya Manusia yang berkompetensi kompetitif di era global

Tujuan
Menyiapkan insan Indonesia yang memiliki keunggulan dan kompetensi:
1.    Intelektual dan profesional
2.    Moral keislaman
3.    Kemandirian
4.    Tri Dharma Perguruan Tinggi, sehingga mampu berkompetisi dalam merespon perubahan dan perkembangan masyarakat dalam perspektif global tanpa kehilangan jati diri

Program Studi
Fakultas Tarbiyah
1.    Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) – Terakreditasi (B)
2.    Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) – Terakreditasi (B)
3.    Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Diniyah (PGMI) – Terakreditasi (B)
4.    Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) – Terakreditasi (C)

Fakultas Syariah
– Program Studi Muamalah/Hukum Ekonomi Islam – Terakreditasi (B)

Fakultas Dakwah
– Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) – Terakreditasi (B)

Akademi Analis Farmasi dan Makanan (D3) — Terakreditasi (B)
Biaya pendidikan
Cukup terjangkau oleh setiap calon mahasiswa dan dibayar dengan system Triwulan (September, Desember, Maret dan Juni)

Penyelenggaraan pendidikan
1.    Menggunakan system satuan kredit semester (SKS) dengan waktu tempuh 8 semester (jenjang S1)
2.    Menerima mahasiswa transfer dari program Diploma dan Sarjana Muda ke semua prodi kecuali prodi PGMI

Fasilitas
1.    Tenaga pengajar dengan kualifikasi S2 dan S3
2.    Ruang perkuliahan yang representative dilengkapi dengan LCD
3.    Perpustakaan yang representative
4.    Laboratorium komputer, micro teaching, dakwah dan bahasa yang didukung teknologi elektronik dan audio visual
5.    Gratis akses internet sepanjang hari (free hot spot area)
6.    Kegiatan mahasiswa yang mampu menunjang minat dan bakat mahasiswa
7.    Letak kampus yang strategis dan mudah dijangkau

B. Program S2

Profil
Dengan menyadari adanya kebutuhan akan SDM kependidikan di lingkungan Ponorogo dan sekitarnya, yang lebih berkualitas, kompetitif dan profesional, INSURI Ponorogo sebagai lembaga pendidikan tinggi berupaya memenuhi tuntutan tersebut dengan menyelenggarakan pendidikan jenjang S2 (Program Magister Pendidikan Islam dengan 2 (dua) konsentrasi yaitu Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dan Pendidikan Agama Islam (PAI).

Tujuan diselenggarakannya program ini adalah untuk menghasilkan lulusan Magister Pendidikan Islam yang memiliki wawasan keilmuan manajemen pendidikan Islam yang humanis-inklusif dan mampu memecahkan berbagai masalah persoalan pendidikan dalam teori dan praktik, serta memiliki kemampuan metodologis dan sistematis dalam mengembangkan serta mengaktualisasikan diri dalam komunitas lokal, nasional dan internasional.

Kompetensi lulusan
1.    Menguasai teori dan praktik Manajemen Pendidikan Islam dan Pendidikan Agama Islam
2.    Memiliki kecakapan untuk mengembangkan Manajemen Pendidikan Islam dan Pendidikan Agama Islam baik pada aspek teoritis dan praktis
3.    Memiliki sikap kecendekiawanan dan integrasi keilmuan di era globalisasi
4.    Mampu mengaktualisasikan diri dalam berbagai forum baik ilmiah maupun di tengah masyarakat
5.    Memiliki keterampilan dalam meneliti masalah-masalah yang terkait dengan pendidikan Islam

Dosen Pengampu
Dosen yang terlibat langsung dalam proses belajar mengajar adalah dosen yang telah menyandang gelar Professor atau minimal Doktor yang mempunyai kapasitas keilmuan secara nasional maupun internasional, antara lain:

1.    Prof. K. Yudian Wahyudi, PhD (Alumnus S3 Harvard University USA)
2.    Prof. Dr. Muslimin Ibrahim, MA (Guru Besar UNESA Surabaya)
3.    Prof. Dr. H. Muhaimin, MA (Guru Besar UIN Malang)
4.    Prof. Dr. H. Khusnurridhlo, MPd (Ketua STAIN Jember)
5.    Prof. Dr. Sa’dun Akbar, MPd (Guru Besar Universitas Negeri Malang)
6.    Prof. Dr. H. Imam Bawani, MA (Guru Besar IAIN Sunan Ampel Surabaya)
7.    Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadhal, MPd (Direktur Pendidikan Dasar Kemendiknas)
8.    Prof. Dr. H. Imam Fuadi, MA (Guru Besar STAIN Tulungagung)
9.    Dr. H. M. Suyudi, MAg (Direktur Pascasarjana INSURI)
10.    Dr. H. Hobri, MPd (Dosen Universitas Jember)
11.    Dr. H. Abdul Munip, MAg (Dosen UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)
12.    Dr. Hj. Hanun Asrorah, MAg (Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya)

Fasilitas
1.    Ruang perkuliahan yang representative dilengkapi dengan LCD dan AC
2.    Perpustakaan yang representative
3.    Laboratorium komputer, micro teaching
4.    Gratis akses internet sepanjang hari (free hot spot area)
5.    Ruang seminar

Drs. Sugiyarto, MPd

No Comments

Drs. Sugiyarto, MPd
Kepala Sekolah SMKN 4 SURAKARTA

Wirausaha Solusi Tepat Bagi Lulusan Siswa SMK

Sejak kecil bercita-cita ingin berkarier guru, membuat sugiyarto kecil, bersemangat untuk  maju meraih obsesinya tersebut, kendati setelah dewasa obsesinya itu ditujukan untuk membawa SMK Negeri 4 Surakarta berkembang dan  menjadi idola siswa dan guru. Bagaimana penuturannya memimpin sekolah kejuruan berstandar RSBI ini, berikut ceritanya :

“Sejak dulu memang saya ingin menjadi guru atau pendidik, “ungkapnya. Tak heran jika sugiyarto mampu membawa dan mengangkat  SMK Negeri 4 Surakarta sebagai sebuah sekolah kejuruan  favorit di kota bengawan ini. Memang masih butuh perjuangan panjang, buktinya bapak dua anak ini mengaku merasa belum puas jika belum menjadikan sekolah ini bertambah besar. Saat ini Sugiyarto telah menjadikan sekolah yang dahulu kelasnya hanya  21 kelas,  sekarang telah bertambah menjadi 33 kelas. Obsesinya ke depan adalah 36 kelas. Suatu tantangan, semangat dan harapan yang luar biasa, bila dibandingkan dengan karier dan cita-citanya dahulu.

Menurutnya, SMKN 4 Surakarta sejak tahun 2006  telah menekankan kepada seluruh siswanya untuk belajar berwirausaha . Tantangan ke depannya  dibutuhkan senjata yaitu kerja keras, berupa optimalisasi peran  seluruh elemen sekolah yang berjumlah 1.126 siswa, tak terkecuali pesuruh sekolah untuk bahu membahu membawa nama dan lulusan SMKN 4 Surakarta  diterima masyarakat dan perusahaan dengan baik. “Tantangan nyata, karena semua Program Studi Keahlian yang ada di SMKN 4 Surakarta yaitu Tata Boga (Jasa boga dan pastry), Tata kecantikan (Hair dresser dan Skin care), Tata busana (Busana Butik) dan Akomodasi Perhotelan menyangkut kebutuhan  manusia yang tak pernah kering, “pungkasnya.

SMKN 4 Surakarta mempunyai siswa yang 90 % adalah perempuan, dan kebanyakan berasal dari kalangan keluarga menengah kebawah. Wajar jika Sugiyarto selalu memotivasi mereka untuk senantiasa bangkit dengan tidak mengharapkan sekolah serba gratis. Artinya, jika ada siswa yang tak mampu membayar keperluan sekolah, diajak untuk  berwirausaha dengan modal dari sekolah.

Pekerjaan rumah lainnya adalah mengupayakan siswanya yang menolak untuk bekerja di luar kota,  dengan  menciptakan wirausaha. Pola  inilah yang tengah digodok pihaknya terus menerus agar siswa tetap termotivasi  untuk bekerja mandiri. “Standarnya jangan sampai siswa tidak punya kemampuan berwirausaha di rumah, dan beralih jadi pengangguran, dan ini jangan sampai terjadi, “tegas kepala sekolah.

Guna mengantisipasi semua problem tersebut itulah, Sugiyarto berobsesi membentuk laboratorium entrepreneur di kota Surakarta ini yang diberi nama “EntrepreneurshipLab SMKN 4 Solo”
Obsesinya ini sudah dirintis mulai awal tahun 2010 yang lalu dengan membuat Pilot Project EntrepreneurshipLab untuk kelas XI Boga 4, dengan menggandeng mitra Tenaga Ahli (Expert) dari DED (German Development Service) yang sekarang berganti nama menjadi GIZ- Develompment Service dan 2 orang  mentor dari industri yang memiliki kepedulian dengan dunia pendidikan serta Team Work yang terdiri dari guru kewirausahaan dan guru produktif. “Saat ini usaha mereka sudah berjalan dan sudah menjadi mitra kerja Business Centre yang ada di SMKN4 Surakarta dan mentor mentor dari industri.” Diharapkan modal yang diberikan kepada tiap grup sebesar 1 juta rupiah (Rp. 500.000 untuk modal kerja dan Rp. 500.000 untuk pembelian peralatan kecil) sudah dapat dikembalikan di bulan februari 2011 ini. Karena Pilot Project EntrepreneurshipLab untuk kelas XI Boga 4 akan berakhir bulan Februari 2011 “ Inilah nilai plusnya, dan ini harus berjalan terus dan punya tanggungjawab sendiri,” paparnya.
Sugiyarto mengatakan dengan entrepreneurship diharapkan siswa-siswa dapat belajar menjadi pengusaha, bukan pekerja. Ide-ide ini akan semakin memecut siswa agar selalu berpikir bahwa enterprenership adalah solusi mandiri mereka. Untuk itu program enterprenership juga diterapkan untuk Program Studi Tata Busana yang akan launching pada tanggal 28 Februari 2011 dengan tetap menggandeng Expert dari GIZ- Develompment Service dan 2 orang  mentor dari industri.
Teori Sugiyarto benar, karena dengan mengajak seluruh siswa mandiri dan senantiasa berpikir positif untuk berkembang, diharapkan mereka bisa menjadi masyarakat wirausahawan profesional.
Kini harapan Sugiyarto adalah bagaimana menjadikan SMKN 4 Surakarta  ini juga berbudaya lingkungan.
“Lulusan dari SMKN 4 Surakarta bisa bekerja di mana saja, gaji minimal sesuai UMK, “katanya. Memang ada juga sich, tuturnya anak yang bekerja di bawah UMK, tapi saya menganjurkan agar mereka tidak bekerja di perusahaan yang gajinya di bawah UMK. “Kalau ada kedapatan siswa bekerja dengan gaji di bawah UMK mereka dipindahkan ke industri lain.”
Penanganan lulusan SMKN 4 Surakarta dikelola dengan baik oleh BKK (Bursa Tenaga Khusus) SMKN4 Surakarta yang setiap tahun kebanjiran permintaan tenaga kerja oleh banyak industri di wilayah Jawa Tengah, DIY, Jabodetabek dan bahkan dari luar negeri. Semua seleksi rekruitment tenaga kerja dilakukan di SMKN 4 Surakarta sebelum siswa melaksanakan Ujian Nasional.  Pihak industri terkait yang datang ke SMKN 4 Surakarta, sehingga kebanyakan siswa belum lulus Ujian Nasional tapi mereka sudah punya tempat di Industri.
Jadi tidak ada cerita, lulusan SMKN 4 Surakarta keluar masuk industri cari lowongan kerja. Karena setiap tahunnya justru masih banyak permintaan tenaga kerja dari beberapa industri tetapi SMKN 4 Surakarta sudah kehabisan lulusan yang belum bekerja. Artinya penyerapan lulusan SMKN 4 Surakarta di Industri yang relevan sudah mencapai 100 %.
Memang tidak semua lulusan SMKN 4 Surakarta langsung bekerja, karena ada beberapa dari mereka yang melanjutkan sekolah (kuliah) dengan mendapatkan beasiswa dari Industri maupun PMDK dari perguruan tinggi negeri di wilayah DIY dan Jateng.
Untuk masalah beasiswa dari Industri ini, SMKN 4 Surakarta menjalin kerja sama dengan IGTC Bogor (International Garment Training Centre) yang setiap tahunnya pihak IGTC Bogor datang ke SMKN 4 Surakarta mengadakan seleksi bagi siswa kelas XII untuk mendapatkan beasiswa belajar di IGTC Bogor setelah lulus dari SMKN 4 Surakarta selama 1 tahun. Beasiswa ini meliputi biaya kuliah, asrama dan makan.
Materi test dari IGTC Bogor semuanya dalam bahasa inggris, karena IGTC adalah lembaga pelatihan bertaraf internasional.

Tantangan semakin berat, setelah sekolah SMKN 4 Surakarta diberi lebel RSBI sejak Juli 2010 yang lalu, sebab masih ada program yang harus digapainya, terutama peningkatan sumber daya manusia, dan  pola pikir global.  “Pikiran yang kolot harus diubah, kalau tidak, maka akan terjebak  dengan perubahan  yang ada, jadi bagi mereka yang tidak mau berubah harus mengerti, bahkan guru harus bisa mengefektifkan dirinya dengan jalan belajar lebih giat lagi akan kemajuan teknologi modern, bahkan kalau perlu sekolah ke luar negeri, “tegasnya.
Sugiyarto mengatakan untuk mengikat jalinan kerjasama dengan seluruh elemen sekolah agar lebih erat lagi, ia biasanya menjadikan mereka sebagai kolega.

SMKN 4 Surakarta juga memiliki Business Centre (BC) Sparta yang bergerak dibidang Catering, Pastry, Butik, Salon Kecantikan, Laundry dan juga Hotel dengan kapasitas  4 kamar ber -AC yang melayani customer dari luar SMKN 4 Surakarta. Semua pegawai Business Centre Sparta SMKN 4 Surakarta adalah alumni dari sekolah ini juga.
Khusus untuk Salon Kecantikan Sparta sudah memiliki beberapa pelanggan dari pejabat setempat. Dan untuk pastry (spesialis kue-kue kering), biasanya booming produk terjadi setiap menjelang idul fitri dan natal. Hal ini yang dimanfaatkan oleh sebagian siswa besar SMKN 4 Surakarta untuk bekerja part time setelah pulang sekolah dengan mendapatkan penghasilan yang bervariatif sesuai dengan jam terbangnya.
“Workshop di masing-masing Program Studi Keahlian sudah menggunakan peralatan teknologi tinggi sesuai standart Industri. Hal ini dikarenakan semua workshop yang ada di SMKN 4 Surakarta sudah diverifikasi oleh LSP Lisensi menjadi TUK (Tempat Uji Kompetensi) Bidang Garment, Tata Kecantikan Rambut dan Tata Kecantikan Kulit, Restourant dan Akomodasi Perhotelan, yang dapat digunakan untuk pelaksanaan Ujian Kompetensi Keahlian dari semua Instansi yang membutuhkan.
Sehingga diharapkan semua lulusan SMKN 4 Surakarta tidak akan canggung bekerja di Industri yang sudah menggunakan peralatan modern “ demikian penjelasan bapak satu istri  yang juga bekerja dengan profesi  pendidik ini.

Untuk itulah, Sugiyarto membuka pendaftaran penerimaan  siswa di SMKN 4 Surakarta dengan 2 cara, yakni dengan melihat nilai  ujian nasional yang dibobot terlebih dahulu sesuai dengan peraturan yang berlaku, seperti bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Sosial, dan yang kedua adalah dengan teknik wawancara dan psikotes. Tujuan dari cara yang kedua ini adalah untuk menseleksi atau menyaring motivasi dan minat mereka terhadap bidang yang mereka inginkan, termasuk juga masalah kesehatan siswa. “Jangan sampai ambil jurusan tata boga, tapi mereka tidak memiliki tinggi dan berat badan yang proporsional, ini kan kurang baik ya, “ujarnya.

Menghadapi era global

Menghadapi era globalisasi sekarang ini, Sugiyarto mengingatkan dampak negatifnya. Untuk mencegah dampak yang kurang baik, ia meminta seluruh jajaran di sekolahnya untuk bersikap disiplin dan tepat waktu, hal ini penting untuk meningkatkan etos kerja. “Untuk menghargai orang lain, dan tidak boleh terlambat, “ujarnya. Untuk mengawasi semua unsur tersebut, pihaknya mengaku telah membentuk tim PPKS (Pembimbing Prestasi Karakter Siswa).

“PPKS ini dibimbing 2 orang, yaitu wali kelas dan guru pendamping. Tujuannya adalah  mendidik siswa agar tidak terlambat, bagi siswa yang terlambat menunggu di luar kelas dan mendapat punishment membersihkan areal sekolah sesuai pembagian tim PPKS.

Sugiyarto menambahkan, pihaknya menerapkan disiplin masuk sekolah pukul 07.00 pagi, namun pukul 06.45 WIB diharapkan siswa sudah berada di sekolah untuk melakukan kegiatan patut diri yang meliputi kegiatan mengatur ruang kelas agar bersih dan rapih. “Jarak dijaga antara meja dan kursi, serta mengabsensi siswa.” Sedangkan untuk penilaian pelajaran, pihaknya juga menerapkan pola mengulang kembali bagi siswa yang ketahuan menyontek pekerjaan temannya. Hal ini penting untuk mendidik siswa agar berkelakuan yang baik,  disiplin, bekerja keras serta mau berusaha.”

Sementara filosofinya, ialah berpikir positif terhadap semua orang. Makanya target jangka pendek sekolahnya,adalah bagaimana menciptakan siswa didiknya dapat lebih berinovatif, tersalurkan di setiap bidang pekerjaan dan mampu bersaing dalam mendapatkan peluang kerja serta mampu berkompetisi dalam bidang kejuruan.

“Kami juga giat untuk mengikuti lomba-lomba yang diadakan sekolah lain atau perusahaan, Alhamdulillah kami sering menyabet juara, “ujarnya.

“Saat ini SMKN4 Surakarta sudah menjalin dengan kurang lebih sekitar 80 perusahaan yang siap membantu siswa dalam pelaksanaan On The Job Training (OJT) “jelasnya.

Dukungan Keluarga

Menanggapi dukungan keluarga terhadap profesinya, Sugiyarto mengatakan tidak ada masalah. “Jam berapa pun ia keluar rumah, istri dan anaknya tidak mengeluhkan.” Sebab istrinya juga adalah seorang guru dan  pendidik, jadi mengerti benar, pekerjaan dan  profesi yang diembannya.“ Menjawab bagaimana tanggapannya tentang peran pemerintah terhadap SMK, Sugiyarto mengatakan saat ini pemerintah telah memberikan input yang begitu besar terhadap perkembangan SMK, hanya saja memang masih banyak kekurangan yang ada, dan ini tugas dari masyarakat untuk memperbaiki kekurangan yang ada di SMK di seluruh Indonesia.
“Masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki, “ujarnya. Maklum,  tidak ada suatu makhluk yang sempurna, apalagi lembaga atau institusi di muka bumi ini,  tapi juga  bukan suatu alasan yang dapat dibuat-buat dari dasar  ketidak sempurnaan itu yang  membuat kita tidak berdaya, justru karena ketidakberdayaan itulah yang harus jadi potensi dalam diri siswa dan keluarganya untuk bangkit meraih cita-cita yang diinginkan mereka. “anak-anak yang orangtuanya punya banyak anak dan tidak mampu diharapkan bisa memunculkan potensiya, “tuturnya.

Sugiyarto mengatakan sekolahnya kini telah melengkapi segala kebutuhan peralatan untuk digunakan siswanya, alat-alat tersebut merupakan bantuan atau subsidi dari berbagai pihak untuk diberdayakan dan melengkapi berbagai peralatan yang sudah ada.

Jangka Panjang

Untuk program jangka panjang,  pihaknya menginginkan sekolah ini semakin besar. Targetnya adalah membuka kelas baru dari   33 kelas yang ada menjadi 36 kelas,  dengan harapan  jumlah  murid semakin banyak dan berkualitas. Kini jumlah siswa yang terdaftar di SMKN 4 Surakarta   telah mencapai 1.126 siswa “ Dengan semakin besarnya jumlah siswa yang terdaftar di sekolah ini, diharapkan SMKN 4 Surakarta menjadi sekolah unggulan di kemudian hari, “Jelas bapak dua putri yang sudah menginjak bangku kuliah ini.

Mengimbangi semua itu, Sugiyarto juga mengingatkan guru-guru SMKN 4 Surakarta untuk bisa menjadi assesor. Untuk itu pula, pihaknya bekerjasama dengan LEC, mengadakan training atau pelatihan bagi guru-guru dan menjadi bagian dari proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas bagi siswa dalam bidang bahasa Inggris, apalagi Sugiyarto mengaku juga seorang sarjana pendidikan bahasa Inggris. Inilah yang harus dipikirkan seluruh guru untuk maju. Tuntutan Sister School merupakan kewajiban bagi setiap guru untuk meningkatkan kompetensi keahliannya.

Sebagai Kepala SMKN 4 Surakarta, Sugiyarto bekerja sesuai dengan Visi, Misi dan Tujuan sekolah yang telah ditetapkan. Berikut ini visi, misi dan tujuan SMKN 4 Surakarta;

Visi
Terwjudnya SMK bertaraf Internasional dan berbudaya lingkungan

Misi
Menyiapkan lulusan yang siap kerja, cerdas, kompetitif dan berkepribadian luhur.
Mengembangkan potensi sekolah yang berwawasan lingkungan dan bernuansa industri
Menyiapkan wirausahawan yang handal
Mengembangkan semangat keuanggulan dan kompetisi yang positif
Meningkatkan pengalaman ajaran agama yang dianut dan budaya bangsa sebagai sumber kearifan dalam bertindak

Tujuan
Menghasilkan tamatan yang cerdas, terampil dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlak mulia
Membekali peserta didik untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan akademik serta dasar-dasar keahlian yang kuat dan benar, melalui pembelajaran normatif, Adaftif dan Produktif
Menyiapkan peserta didik untuk memasuki duania kerja yang professional dan berwawasan wirausaha untuk memasuki dunia kerja
Memberikan pengalaman yang sesunggunya agar peserta didik menguasai kaahlian produktif berstandar budaya industri yang berorientasi kepada standart mutu, nilai-nilai ekonomi serta membentuk etos kerja yang tinggi, produktif dan kompetitif.
Mewujudkan sekolah menjadi SMK berstandar Nasional/Internasional.

Menanggapi pertanyaan anak muda sekarang ini, Sugiyarto, mengatakan  perlu pembimbingan untuk hadapi realita roda zaman. “Zaman saya dulu tahun 70-an, bertindak seperti itu sudah bagus, tapi kini tindakan itu harus segera diperbaiki, sekolah itu merupakan karakter, tinggal bagaimana menjadi siswa berkarakter yang baik, tidak instan.

Untuk itulah sudah menjadi tanggungjawab para orangtua, masyarakat dan pendidik harus sama-sama duduk satu meja untuk membicarakan generasi muda ini. “

Sedangkan masalah pendidikan seks, ia menyarankan untuk perlunya bimbingan orangtua, masyarakat dan pendidik. “Biar si anak melihat dari awal hingga akhir, sehingga tidak separuh-paruh mereka mendapatkan informasi tentang seks, hingga sampai akibatnya, “tegas kepala sekolah yang membawahi 98 guru dan karyawan administrasi lainnya. Dengan mereka mengenal seluk beluk semua itu, maka setelah lulus sekolah mereka mendapatkan bekal akhir yang baik.

Ekstrakurikuler di SMKN 4 Surakarta, antara lain pramuka, palang merah remaja, Pasukan Inti (paskibra), fashion show/modelling dan olahraga. “Biasanya ekskul dilaksanakan sore hari, “ujarnya. Mengakhiri perbincangan, Sugiyarto, mengatakan bahwa obsesinya kini adalah bagaimana membawa sekolah ini bisa besar dan menjadi idola semua orang. “ Bagi saya, menjadi kepala sekolah sekarang ini sudah merupakan anugrah yang besar, jadi tidak ada lagi target yang muluk-muluk untuk mengapai cita-cita.”

Sugiyarto menambahkan baginya tidak ada kesibukan lain, selain mengurus sekolah, termasuk untuk urusan bermain politik. “Politik tidak bisa, hanya organisasi sosial dan pendidikan “ungkap kepala SMKN 4 Surakarta ini.  Pesannya bagi generasi muda adalah mumpung masih muda kesempatan jangan sampai dihilangkan begitu saja, apa saja bisa dilakukan saat muda. “Kerja yang benar dan yang penting halal, itulah yang disarankan ke siswa.”