Tag: mampu

DR. H Sugihanto Hasanuddien, MA

No Comments

DR. H Sugihanto Hasanuddien, MA
Rektor Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Mewujudkan Perguruan Tinggi yang Lebih Unggul, Maju dan Bermakna

“Jabatan Rektor bukanlah anugerah, ganjaran, apalagi kenikmatan akan tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan” adalah motto yang diusung DR. H Sugihanto Hasanuddien, MA., saat maju dalam pemilihan Rektor Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo periode 2010 – 2014. Pencalonan ini adalah untuk yang kedua kali setelah pada periode 1998 – 2002 jabatan rektor juga diemban pria kelahiran Ponorogo, 7 Juli 1950 ini.

“Saya terpanggil untuk berbagi pengalaman atas perjalanan panjang dalam kesertaan membantu INSURI Ponorogo sejak 1979 sampai sekarang. Harapan saya, bersama keluarga besar INSURI mewujudkan perguruan tinggi yang lebih unggul, maju dan bermakna bagi kita semua,” kata alumni Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Untuk itu, lanjutnya, perlu ikhtiar yang kuat bersama stakeholder INSURI agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Untuk itu, dalam pencalonan sebagai rektor ia, menyusun program pertumbuhan dan perkembangan INSURI pada lima hal, yaitu institusi, sosial, budaya, ekonomi dan politik. Keberhasilan dalam mengembangkan INSURI akan memberikan kontribusi besar pada pencapaian tujuan pembangunan nasional secara keseluruhan.

Dalam perspektif institusi, jelasnya, pengembangan INSURI melalui niat dan tekad bersama Sivitas Akademika yang terdiri atas Pimpinan, dosen, karyawan, mahasiswa serta alumni. Semua harus memiliki orientasi ke masa depan, mensinergikan individu-kelompok-institusi, komunikasi organisasi yang efektif, mengintegrasikan “tri dharma perguruan tinggi” dan menghasilkan lulusan yang unggul, berkualitas serta kompetitif. Dari situ diharapkan akan memicu lahirnya berbagai inspirasi dan inovasi yang bermanfaat bagi bangsa Indonesia.

Dalam perspektif sosial, INSURI akan melahirkan insan-insan akademis yang mempunyai peranan penting dalam proses perubahan sosial di masyarakat. Oleh karena itu, INSURI diharapkan dapat memberikan sumbangan penting pada upaya menumbuhkan kepemimpinan yang arif berbasis individu, kelompok dan institusi.

Dalam perspektif budaya, INSURI merupakan institusi penting dan medium yang efektif untuk mengajarkan norma, mensosialisasikan nilai dan menanamkan etos di kalangan warga kampus. Dalam konteks ini, INSURI dapat menjadi simpul penting untuk membangun kesadaran kolektif (collective conscience) sebagai warga kampus serta mengukuhkan ikatan-ikatan sosial dengan mitra strategis dari Pondok Pesantren, Pemerintah Pusat/Daerah, komunitas akademis dan masyarakat.

Dalam perspektif ekonomi, INSURI diharapkan akan menghasilkan manusia-manusia yang handal untuk menjadi subyek penggerak pembangunan ekonomi nasional. Dalam konteks ini, Tri Sivitas Akademika INSURI harus berperan sebagai pusat penelitian dan pengembangan (research and development) yang diharapkan dapat mengantarkan umat Islam untuk meraih keunggulan dalam persaingan global.

Dalam perspektif politik, INSURI harus mampu mengembangkan kapasitas individu untuk menjadi warga negara yang baik (good citizen) yang memiliki kesadaran akan hak dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena itu INSURI ke depan akan melahirkan lapisan masyarakat akademis yang kemudian membentuk critical mass yang menjadi elemen pokok dalam upaya membangun masyarakat madani, yang bertumpu pada golongan masyarakat kelas menengah terdidik yang menjadi pilar utama civil society sebagai salah satu tiang penyangga bagi upaya perwujudan pembangunan masyarakat demokratis.

Membangun Kampus

Pak Giek –panggilan akrabnya- sejak masih  menjadi mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya sudah aktif di organisasi kemahasiswaan. Aktivitasnya meliputi organisasi intra maupun ekstra kampus. Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel Surabaya dijabat ayah empat anak dari pernikahannya dengan Hj Umi Parwatie pada tahun 1972 – 1974. Ia juga menjabat sebagai Sekjen Dewan Mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya selama dua periode (1974 – 1978).

“Satu tahun setelah lulus sarjana (1979), saya menjadi dosen INSURI Ponorogo sampai sekarang. Saya pernah menduduki jabatan Pembantu Rektor I Bidang Akademis (1996-1998), kemudian menjadi Rektor periode I (1998-2002) dan diangkat kembali menjadi Rektor untuk periode II tahun 2010-2014,” tutur anak ke sembilan dari sebelas bersaudara pasangan H Koesnodimoelyo dan Hj Misinem ini.

Setelah berhasil memangku jabatan Rektor Periode II, kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain:

⦁    Menambah sarana dan prasarana (bangunan) ruang kuliah berlantai dua sebanyak dua lokal. Proyek ini selesai dan sudah dimanfaatkan pada semester genap 2010/2011 sekarang sedang ditambah dan sedang dikerjakan sebanyak dua lokal dengan harapan selesai pada tahun ajaran baru 2011/2012

⦁    Melengkapi dan mengoptimalkan penggunaan laboratorium “micro teaching” dan pusat laboratorium komputer untuk perkuliahan PPL-1 Fakultas Tarbiyah, Dakwah dan Syari’yah
⦁    Membeli dan mengoperasionalkan seperangkat alat laboratorium bahasa sebagai realisasi orang “multi lingual” khususnya bahasa Arab dan bahasa Inggris
⦁    Menambah seperangkat LCD permanent pada empat lokal ruang kuliah, sebagai media pembelajaran berbasis IT (teknologi informasi)
⦁    Mengadakan olimpiade akuntansi bagi siswa SMA-SMK dan MA negeri maupun swasta se-ex Karesidenan Madiun yang diikuti oleh 42 team/regu
⦁    Menjadi penyelenggara musyawarah nasional Forum Komunikasi mahasiswa Fakultas Dakwah se-wilayah Jawa Timur dan NTB

Dalam memimpin INSURI Ponorogo, Pak Giek berpegang  pada visi dan misi yang diajukannya saat mencalonkan diri sebagai Rektor. Adapun visi dan misinya adalah sebagai berikut:
Visi
Mewujudkan INSURI sebagai jendela bagi masyarakat untuk melihat perkembangan Islam dengan mengintegrasikan pendidikan pesantren (keislaman) dan modern (keilmuan)
Misi
⦁    Menumbuhkan kepemimpinan akademik yang arif berbasis individu, kelompok dan institusi
⦁    Menjadikan INSURI sebagai simpul penting dan jejaring kerjasama dengan mitra strategis dari pesantren, pemerintah (pusat/daerah), komunitas akademis dan masyarakat
⦁    Meningkatkan kebutuhan peralatan penunjang riset, memperbaharui fisik lingkungan kampus dan meningkatkan kenyamanan sebagai tempat belajar
⦁    Mengembangkan dan melaksanakan manajemen INSURI yang akuntabel, profesional dan produktif berlandaskan azas manfaat dalam system tata kelola terpadu

Dengan visi dan misi tersebut, diharapkan INSURI dapat melahirkan lebih banyak lagi alumni yang akan menjadi pemimpin berwawasan keislaman  dan peka terhadap persoalan sosial.

“Selama ini, alumni INSURI banyak yang menjadi aktivis dalam politik, sosial dan juga organisasi sosial kemasyarakatan/keagamaan. Kita harapkan mereka inilah yang memberikan partisipasi aktif dalam membangun clean government. Untuk itu, di masa depan kita akan banyak melakukan advokasi bagi pesantren dan madrasah sehingga terjadi mobilisasi intelektual, termasuk menjadi sumber pengembangan dan jendela ilmu agama Islam dengan dunia luar, utamanya dengan dunia internasional,” tegasnya.

Program-program Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

A. Program S1

Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo berkomitmen untuk berkiprah dalam pengembangan keilmuan Islam berwawasan kebudayaan dan kebangsaan dan siap mencetak sarjana muslim, cendekia, dan profesional agar mampu memenuhi tuntutan global ke arah terwujudnya kesejahteraan dan kebahagiaan dunia akhirat.

Visi
Terbentuknya Sarjana Muslim yang berkualitas, berakhlakul karimah dan mampu menjawab tantangan zaman.
Misi
1.    Menyelenggarakan pendidikan akademik dan profesional untuk mewujudkan manusia yang berkualitas, beramal ilmiah dan berilmu amaliah
2.    Menyelenggarakan Pendidikan Islam yang dapat meningkatkan kualitas iman taqwa, berakhlakul karimah dan memiliki wawasan luas
3.    Membina kompetensi ideal menuju kemandirian dalam kehidupan pribadi maupun bersama-sama
4.    Menyelenggarakan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara efektif, efisien dan menyeluruh agar tercipta Sumber Daya Manusia yang berkompetensi kompetitif di era global

Tujuan
Menyiapkan insan Indonesia yang memiliki keunggulan dan kompetensi:
1.    Intelektual dan profesional
2.    Moral keislaman
3.    Kemandirian
4.    Tri Dharma Perguruan Tinggi, sehingga mampu berkompetisi dalam merespon perubahan dan perkembangan masyarakat dalam perspektif global tanpa kehilangan jati diri

Program Studi
Fakultas Tarbiyah
1.    Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) – Terakreditasi (B)
2.    Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) – Terakreditasi (B)
3.    Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Diniyah (PGMI) – Terakreditasi (B)
4.    Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) – Terakreditasi (C)

Fakultas Syariah
– Program Studi Muamalah/Hukum Ekonomi Islam – Terakreditasi (B)

Fakultas Dakwah
– Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) – Terakreditasi (B)

Akademi Analis Farmasi dan Makanan (D3) — Terakreditasi (B)
Biaya pendidikan
Cukup terjangkau oleh setiap calon mahasiswa dan dibayar dengan system Triwulan (September, Desember, Maret dan Juni)

Penyelenggaraan pendidikan
1.    Menggunakan system satuan kredit semester (SKS) dengan waktu tempuh 8 semester (jenjang S1)
2.    Menerima mahasiswa transfer dari program Diploma dan Sarjana Muda ke semua prodi kecuali prodi PGMI

Fasilitas
1.    Tenaga pengajar dengan kualifikasi S2 dan S3
2.    Ruang perkuliahan yang representative dilengkapi dengan LCD
3.    Perpustakaan yang representative
4.    Laboratorium komputer, micro teaching, dakwah dan bahasa yang didukung teknologi elektronik dan audio visual
5.    Gratis akses internet sepanjang hari (free hot spot area)
6.    Kegiatan mahasiswa yang mampu menunjang minat dan bakat mahasiswa
7.    Letak kampus yang strategis dan mudah dijangkau

B. Program S2

Profil
Dengan menyadari adanya kebutuhan akan SDM kependidikan di lingkungan Ponorogo dan sekitarnya, yang lebih berkualitas, kompetitif dan profesional, INSURI Ponorogo sebagai lembaga pendidikan tinggi berupaya memenuhi tuntutan tersebut dengan menyelenggarakan pendidikan jenjang S2 (Program Magister Pendidikan Islam dengan 2 (dua) konsentrasi yaitu Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dan Pendidikan Agama Islam (PAI).

Tujuan diselenggarakannya program ini adalah untuk menghasilkan lulusan Magister Pendidikan Islam yang memiliki wawasan keilmuan manajemen pendidikan Islam yang humanis-inklusif dan mampu memecahkan berbagai masalah persoalan pendidikan dalam teori dan praktik, serta memiliki kemampuan metodologis dan sistematis dalam mengembangkan serta mengaktualisasikan diri dalam komunitas lokal, nasional dan internasional.

Kompetensi lulusan
1.    Menguasai teori dan praktik Manajemen Pendidikan Islam dan Pendidikan Agama Islam
2.    Memiliki kecakapan untuk mengembangkan Manajemen Pendidikan Islam dan Pendidikan Agama Islam baik pada aspek teoritis dan praktis
3.    Memiliki sikap kecendekiawanan dan integrasi keilmuan di era globalisasi
4.    Mampu mengaktualisasikan diri dalam berbagai forum baik ilmiah maupun di tengah masyarakat
5.    Memiliki keterampilan dalam meneliti masalah-masalah yang terkait dengan pendidikan Islam

Dosen Pengampu
Dosen yang terlibat langsung dalam proses belajar mengajar adalah dosen yang telah menyandang gelar Professor atau minimal Doktor yang mempunyai kapasitas keilmuan secara nasional maupun internasional, antara lain:

1.    Prof. K. Yudian Wahyudi, PhD (Alumnus S3 Harvard University USA)
2.    Prof. Dr. Muslimin Ibrahim, MA (Guru Besar UNESA Surabaya)
3.    Prof. Dr. H. Muhaimin, MA (Guru Besar UIN Malang)
4.    Prof. Dr. H. Khusnurridhlo, MPd (Ketua STAIN Jember)
5.    Prof. Dr. Sa’dun Akbar, MPd (Guru Besar Universitas Negeri Malang)
6.    Prof. Dr. H. Imam Bawani, MA (Guru Besar IAIN Sunan Ampel Surabaya)
7.    Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadhal, MPd (Direktur Pendidikan Dasar Kemendiknas)
8.    Prof. Dr. H. Imam Fuadi, MA (Guru Besar STAIN Tulungagung)
9.    Dr. H. M. Suyudi, MAg (Direktur Pascasarjana INSURI)
10.    Dr. H. Hobri, MPd (Dosen Universitas Jember)
11.    Dr. H. Abdul Munip, MAg (Dosen UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)
12.    Dr. Hj. Hanun Asrorah, MAg (Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya)

Fasilitas
1.    Ruang perkuliahan yang representative dilengkapi dengan LCD dan AC
2.    Perpustakaan yang representative
3.    Laboratorium komputer, micro teaching
4.    Gratis akses internet sepanjang hari (free hot spot area)
5.    Ruang seminar

Drs. Sugiyarto, MPd

No Comments

Drs. Sugiyarto, MPd
Kepala Sekolah SMKN 4 SURAKARTA

Wirausaha Solusi Tepat Bagi Lulusan Siswa SMK

Sejak kecil bercita-cita ingin berkarier guru, membuat sugiyarto kecil, bersemangat untuk  maju meraih obsesinya tersebut, kendati setelah dewasa obsesinya itu ditujukan untuk membawa SMK Negeri 4 Surakarta berkembang dan  menjadi idola siswa dan guru. Bagaimana penuturannya memimpin sekolah kejuruan berstandar RSBI ini, berikut ceritanya :

“Sejak dulu memang saya ingin menjadi guru atau pendidik, “ungkapnya. Tak heran jika sugiyarto mampu membawa dan mengangkat  SMK Negeri 4 Surakarta sebagai sebuah sekolah kejuruan  favorit di kota bengawan ini. Memang masih butuh perjuangan panjang, buktinya bapak dua anak ini mengaku merasa belum puas jika belum menjadikan sekolah ini bertambah besar. Saat ini Sugiyarto telah menjadikan sekolah yang dahulu kelasnya hanya  21 kelas,  sekarang telah bertambah menjadi 33 kelas. Obsesinya ke depan adalah 36 kelas. Suatu tantangan, semangat dan harapan yang luar biasa, bila dibandingkan dengan karier dan cita-citanya dahulu.

Menurutnya, SMKN 4 Surakarta sejak tahun 2006  telah menekankan kepada seluruh siswanya untuk belajar berwirausaha . Tantangan ke depannya  dibutuhkan senjata yaitu kerja keras, berupa optimalisasi peran  seluruh elemen sekolah yang berjumlah 1.126 siswa, tak terkecuali pesuruh sekolah untuk bahu membahu membawa nama dan lulusan SMKN 4 Surakarta  diterima masyarakat dan perusahaan dengan baik. “Tantangan nyata, karena semua Program Studi Keahlian yang ada di SMKN 4 Surakarta yaitu Tata Boga (Jasa boga dan pastry), Tata kecantikan (Hair dresser dan Skin care), Tata busana (Busana Butik) dan Akomodasi Perhotelan menyangkut kebutuhan  manusia yang tak pernah kering, “pungkasnya.

SMKN 4 Surakarta mempunyai siswa yang 90 % adalah perempuan, dan kebanyakan berasal dari kalangan keluarga menengah kebawah. Wajar jika Sugiyarto selalu memotivasi mereka untuk senantiasa bangkit dengan tidak mengharapkan sekolah serba gratis. Artinya, jika ada siswa yang tak mampu membayar keperluan sekolah, diajak untuk  berwirausaha dengan modal dari sekolah.

Pekerjaan rumah lainnya adalah mengupayakan siswanya yang menolak untuk bekerja di luar kota,  dengan  menciptakan wirausaha. Pola  inilah yang tengah digodok pihaknya terus menerus agar siswa tetap termotivasi  untuk bekerja mandiri. “Standarnya jangan sampai siswa tidak punya kemampuan berwirausaha di rumah, dan beralih jadi pengangguran, dan ini jangan sampai terjadi, “tegas kepala sekolah.

Guna mengantisipasi semua problem tersebut itulah, Sugiyarto berobsesi membentuk laboratorium entrepreneur di kota Surakarta ini yang diberi nama “EntrepreneurshipLab SMKN 4 Solo”
Obsesinya ini sudah dirintis mulai awal tahun 2010 yang lalu dengan membuat Pilot Project EntrepreneurshipLab untuk kelas XI Boga 4, dengan menggandeng mitra Tenaga Ahli (Expert) dari DED (German Development Service) yang sekarang berganti nama menjadi GIZ- Develompment Service dan 2 orang  mentor dari industri yang memiliki kepedulian dengan dunia pendidikan serta Team Work yang terdiri dari guru kewirausahaan dan guru produktif. “Saat ini usaha mereka sudah berjalan dan sudah menjadi mitra kerja Business Centre yang ada di SMKN4 Surakarta dan mentor mentor dari industri.” Diharapkan modal yang diberikan kepada tiap grup sebesar 1 juta rupiah (Rp. 500.000 untuk modal kerja dan Rp. 500.000 untuk pembelian peralatan kecil) sudah dapat dikembalikan di bulan februari 2011 ini. Karena Pilot Project EntrepreneurshipLab untuk kelas XI Boga 4 akan berakhir bulan Februari 2011 “ Inilah nilai plusnya, dan ini harus berjalan terus dan punya tanggungjawab sendiri,” paparnya.
Sugiyarto mengatakan dengan entrepreneurship diharapkan siswa-siswa dapat belajar menjadi pengusaha, bukan pekerja. Ide-ide ini akan semakin memecut siswa agar selalu berpikir bahwa enterprenership adalah solusi mandiri mereka. Untuk itu program enterprenership juga diterapkan untuk Program Studi Tata Busana yang akan launching pada tanggal 28 Februari 2011 dengan tetap menggandeng Expert dari GIZ- Develompment Service dan 2 orang  mentor dari industri.
Teori Sugiyarto benar, karena dengan mengajak seluruh siswa mandiri dan senantiasa berpikir positif untuk berkembang, diharapkan mereka bisa menjadi masyarakat wirausahawan profesional.
Kini harapan Sugiyarto adalah bagaimana menjadikan SMKN 4 Surakarta  ini juga berbudaya lingkungan.
“Lulusan dari SMKN 4 Surakarta bisa bekerja di mana saja, gaji minimal sesuai UMK, “katanya. Memang ada juga sich, tuturnya anak yang bekerja di bawah UMK, tapi saya menganjurkan agar mereka tidak bekerja di perusahaan yang gajinya di bawah UMK. “Kalau ada kedapatan siswa bekerja dengan gaji di bawah UMK mereka dipindahkan ke industri lain.”
Penanganan lulusan SMKN 4 Surakarta dikelola dengan baik oleh BKK (Bursa Tenaga Khusus) SMKN4 Surakarta yang setiap tahun kebanjiran permintaan tenaga kerja oleh banyak industri di wilayah Jawa Tengah, DIY, Jabodetabek dan bahkan dari luar negeri. Semua seleksi rekruitment tenaga kerja dilakukan di SMKN 4 Surakarta sebelum siswa melaksanakan Ujian Nasional.  Pihak industri terkait yang datang ke SMKN 4 Surakarta, sehingga kebanyakan siswa belum lulus Ujian Nasional tapi mereka sudah punya tempat di Industri.
Jadi tidak ada cerita, lulusan SMKN 4 Surakarta keluar masuk industri cari lowongan kerja. Karena setiap tahunnya justru masih banyak permintaan tenaga kerja dari beberapa industri tetapi SMKN 4 Surakarta sudah kehabisan lulusan yang belum bekerja. Artinya penyerapan lulusan SMKN 4 Surakarta di Industri yang relevan sudah mencapai 100 %.
Memang tidak semua lulusan SMKN 4 Surakarta langsung bekerja, karena ada beberapa dari mereka yang melanjutkan sekolah (kuliah) dengan mendapatkan beasiswa dari Industri maupun PMDK dari perguruan tinggi negeri di wilayah DIY dan Jateng.
Untuk masalah beasiswa dari Industri ini, SMKN 4 Surakarta menjalin kerja sama dengan IGTC Bogor (International Garment Training Centre) yang setiap tahunnya pihak IGTC Bogor datang ke SMKN 4 Surakarta mengadakan seleksi bagi siswa kelas XII untuk mendapatkan beasiswa belajar di IGTC Bogor setelah lulus dari SMKN 4 Surakarta selama 1 tahun. Beasiswa ini meliputi biaya kuliah, asrama dan makan.
Materi test dari IGTC Bogor semuanya dalam bahasa inggris, karena IGTC adalah lembaga pelatihan bertaraf internasional.

Tantangan semakin berat, setelah sekolah SMKN 4 Surakarta diberi lebel RSBI sejak Juli 2010 yang lalu, sebab masih ada program yang harus digapainya, terutama peningkatan sumber daya manusia, dan  pola pikir global.  “Pikiran yang kolot harus diubah, kalau tidak, maka akan terjebak  dengan perubahan  yang ada, jadi bagi mereka yang tidak mau berubah harus mengerti, bahkan guru harus bisa mengefektifkan dirinya dengan jalan belajar lebih giat lagi akan kemajuan teknologi modern, bahkan kalau perlu sekolah ke luar negeri, “tegasnya.
Sugiyarto mengatakan untuk mengikat jalinan kerjasama dengan seluruh elemen sekolah agar lebih erat lagi, ia biasanya menjadikan mereka sebagai kolega.

SMKN 4 Surakarta juga memiliki Business Centre (BC) Sparta yang bergerak dibidang Catering, Pastry, Butik, Salon Kecantikan, Laundry dan juga Hotel dengan kapasitas  4 kamar ber -AC yang melayani customer dari luar SMKN 4 Surakarta. Semua pegawai Business Centre Sparta SMKN 4 Surakarta adalah alumni dari sekolah ini juga.
Khusus untuk Salon Kecantikan Sparta sudah memiliki beberapa pelanggan dari pejabat setempat. Dan untuk pastry (spesialis kue-kue kering), biasanya booming produk terjadi setiap menjelang idul fitri dan natal. Hal ini yang dimanfaatkan oleh sebagian siswa besar SMKN 4 Surakarta untuk bekerja part time setelah pulang sekolah dengan mendapatkan penghasilan yang bervariatif sesuai dengan jam terbangnya.
“Workshop di masing-masing Program Studi Keahlian sudah menggunakan peralatan teknologi tinggi sesuai standart Industri. Hal ini dikarenakan semua workshop yang ada di SMKN 4 Surakarta sudah diverifikasi oleh LSP Lisensi menjadi TUK (Tempat Uji Kompetensi) Bidang Garment, Tata Kecantikan Rambut dan Tata Kecantikan Kulit, Restourant dan Akomodasi Perhotelan, yang dapat digunakan untuk pelaksanaan Ujian Kompetensi Keahlian dari semua Instansi yang membutuhkan.
Sehingga diharapkan semua lulusan SMKN 4 Surakarta tidak akan canggung bekerja di Industri yang sudah menggunakan peralatan modern “ demikian penjelasan bapak satu istri  yang juga bekerja dengan profesi  pendidik ini.

Untuk itulah, Sugiyarto membuka pendaftaran penerimaan  siswa di SMKN 4 Surakarta dengan 2 cara, yakni dengan melihat nilai  ujian nasional yang dibobot terlebih dahulu sesuai dengan peraturan yang berlaku, seperti bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Sosial, dan yang kedua adalah dengan teknik wawancara dan psikotes. Tujuan dari cara yang kedua ini adalah untuk menseleksi atau menyaring motivasi dan minat mereka terhadap bidang yang mereka inginkan, termasuk juga masalah kesehatan siswa. “Jangan sampai ambil jurusan tata boga, tapi mereka tidak memiliki tinggi dan berat badan yang proporsional, ini kan kurang baik ya, “ujarnya.

Menghadapi era global

Menghadapi era globalisasi sekarang ini, Sugiyarto mengingatkan dampak negatifnya. Untuk mencegah dampak yang kurang baik, ia meminta seluruh jajaran di sekolahnya untuk bersikap disiplin dan tepat waktu, hal ini penting untuk meningkatkan etos kerja. “Untuk menghargai orang lain, dan tidak boleh terlambat, “ujarnya. Untuk mengawasi semua unsur tersebut, pihaknya mengaku telah membentuk tim PPKS (Pembimbing Prestasi Karakter Siswa).

“PPKS ini dibimbing 2 orang, yaitu wali kelas dan guru pendamping. Tujuannya adalah  mendidik siswa agar tidak terlambat, bagi siswa yang terlambat menunggu di luar kelas dan mendapat punishment membersihkan areal sekolah sesuai pembagian tim PPKS.

Sugiyarto menambahkan, pihaknya menerapkan disiplin masuk sekolah pukul 07.00 pagi, namun pukul 06.45 WIB diharapkan siswa sudah berada di sekolah untuk melakukan kegiatan patut diri yang meliputi kegiatan mengatur ruang kelas agar bersih dan rapih. “Jarak dijaga antara meja dan kursi, serta mengabsensi siswa.” Sedangkan untuk penilaian pelajaran, pihaknya juga menerapkan pola mengulang kembali bagi siswa yang ketahuan menyontek pekerjaan temannya. Hal ini penting untuk mendidik siswa agar berkelakuan yang baik,  disiplin, bekerja keras serta mau berusaha.”

Sementara filosofinya, ialah berpikir positif terhadap semua orang. Makanya target jangka pendek sekolahnya,adalah bagaimana menciptakan siswa didiknya dapat lebih berinovatif, tersalurkan di setiap bidang pekerjaan dan mampu bersaing dalam mendapatkan peluang kerja serta mampu berkompetisi dalam bidang kejuruan.

“Kami juga giat untuk mengikuti lomba-lomba yang diadakan sekolah lain atau perusahaan, Alhamdulillah kami sering menyabet juara, “ujarnya.

“Saat ini SMKN4 Surakarta sudah menjalin dengan kurang lebih sekitar 80 perusahaan yang siap membantu siswa dalam pelaksanaan On The Job Training (OJT) “jelasnya.

Dukungan Keluarga

Menanggapi dukungan keluarga terhadap profesinya, Sugiyarto mengatakan tidak ada masalah. “Jam berapa pun ia keluar rumah, istri dan anaknya tidak mengeluhkan.” Sebab istrinya juga adalah seorang guru dan  pendidik, jadi mengerti benar, pekerjaan dan  profesi yang diembannya.“ Menjawab bagaimana tanggapannya tentang peran pemerintah terhadap SMK, Sugiyarto mengatakan saat ini pemerintah telah memberikan input yang begitu besar terhadap perkembangan SMK, hanya saja memang masih banyak kekurangan yang ada, dan ini tugas dari masyarakat untuk memperbaiki kekurangan yang ada di SMK di seluruh Indonesia.
“Masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki, “ujarnya. Maklum,  tidak ada suatu makhluk yang sempurna, apalagi lembaga atau institusi di muka bumi ini,  tapi juga  bukan suatu alasan yang dapat dibuat-buat dari dasar  ketidak sempurnaan itu yang  membuat kita tidak berdaya, justru karena ketidakberdayaan itulah yang harus jadi potensi dalam diri siswa dan keluarganya untuk bangkit meraih cita-cita yang diinginkan mereka. “anak-anak yang orangtuanya punya banyak anak dan tidak mampu diharapkan bisa memunculkan potensiya, “tuturnya.

Sugiyarto mengatakan sekolahnya kini telah melengkapi segala kebutuhan peralatan untuk digunakan siswanya, alat-alat tersebut merupakan bantuan atau subsidi dari berbagai pihak untuk diberdayakan dan melengkapi berbagai peralatan yang sudah ada.

Jangka Panjang

Untuk program jangka panjang,  pihaknya menginginkan sekolah ini semakin besar. Targetnya adalah membuka kelas baru dari   33 kelas yang ada menjadi 36 kelas,  dengan harapan  jumlah  murid semakin banyak dan berkualitas. Kini jumlah siswa yang terdaftar di SMKN 4 Surakarta   telah mencapai 1.126 siswa “ Dengan semakin besarnya jumlah siswa yang terdaftar di sekolah ini, diharapkan SMKN 4 Surakarta menjadi sekolah unggulan di kemudian hari, “Jelas bapak dua putri yang sudah menginjak bangku kuliah ini.

Mengimbangi semua itu, Sugiyarto juga mengingatkan guru-guru SMKN 4 Surakarta untuk bisa menjadi assesor. Untuk itu pula, pihaknya bekerjasama dengan LEC, mengadakan training atau pelatihan bagi guru-guru dan menjadi bagian dari proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas bagi siswa dalam bidang bahasa Inggris, apalagi Sugiyarto mengaku juga seorang sarjana pendidikan bahasa Inggris. Inilah yang harus dipikirkan seluruh guru untuk maju. Tuntutan Sister School merupakan kewajiban bagi setiap guru untuk meningkatkan kompetensi keahliannya.

Sebagai Kepala SMKN 4 Surakarta, Sugiyarto bekerja sesuai dengan Visi, Misi dan Tujuan sekolah yang telah ditetapkan. Berikut ini visi, misi dan tujuan SMKN 4 Surakarta;

Visi
Terwjudnya SMK bertaraf Internasional dan berbudaya lingkungan

Misi
Menyiapkan lulusan yang siap kerja, cerdas, kompetitif dan berkepribadian luhur.
Mengembangkan potensi sekolah yang berwawasan lingkungan dan bernuansa industri
Menyiapkan wirausahawan yang handal
Mengembangkan semangat keuanggulan dan kompetisi yang positif
Meningkatkan pengalaman ajaran agama yang dianut dan budaya bangsa sebagai sumber kearifan dalam bertindak

Tujuan
Menghasilkan tamatan yang cerdas, terampil dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlak mulia
Membekali peserta didik untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan akademik serta dasar-dasar keahlian yang kuat dan benar, melalui pembelajaran normatif, Adaftif dan Produktif
Menyiapkan peserta didik untuk memasuki duania kerja yang professional dan berwawasan wirausaha untuk memasuki dunia kerja
Memberikan pengalaman yang sesunggunya agar peserta didik menguasai kaahlian produktif berstandar budaya industri yang berorientasi kepada standart mutu, nilai-nilai ekonomi serta membentuk etos kerja yang tinggi, produktif dan kompetitif.
Mewujudkan sekolah menjadi SMK berstandar Nasional/Internasional.

Menanggapi pertanyaan anak muda sekarang ini, Sugiyarto, mengatakan  perlu pembimbingan untuk hadapi realita roda zaman. “Zaman saya dulu tahun 70-an, bertindak seperti itu sudah bagus, tapi kini tindakan itu harus segera diperbaiki, sekolah itu merupakan karakter, tinggal bagaimana menjadi siswa berkarakter yang baik, tidak instan.

Untuk itulah sudah menjadi tanggungjawab para orangtua, masyarakat dan pendidik harus sama-sama duduk satu meja untuk membicarakan generasi muda ini. “

Sedangkan masalah pendidikan seks, ia menyarankan untuk perlunya bimbingan orangtua, masyarakat dan pendidik. “Biar si anak melihat dari awal hingga akhir, sehingga tidak separuh-paruh mereka mendapatkan informasi tentang seks, hingga sampai akibatnya, “tegas kepala sekolah yang membawahi 98 guru dan karyawan administrasi lainnya. Dengan mereka mengenal seluk beluk semua itu, maka setelah lulus sekolah mereka mendapatkan bekal akhir yang baik.

Ekstrakurikuler di SMKN 4 Surakarta, antara lain pramuka, palang merah remaja, Pasukan Inti (paskibra), fashion show/modelling dan olahraga. “Biasanya ekskul dilaksanakan sore hari, “ujarnya. Mengakhiri perbincangan, Sugiyarto, mengatakan bahwa obsesinya kini adalah bagaimana membawa sekolah ini bisa besar dan menjadi idola semua orang. “ Bagi saya, menjadi kepala sekolah sekarang ini sudah merupakan anugrah yang besar, jadi tidak ada lagi target yang muluk-muluk untuk mengapai cita-cita.”

Sugiyarto menambahkan baginya tidak ada kesibukan lain, selain mengurus sekolah, termasuk untuk urusan bermain politik. “Politik tidak bisa, hanya organisasi sosial dan pendidikan “ungkap kepala SMKN 4 Surakarta ini.  Pesannya bagi generasi muda adalah mumpung masih muda kesempatan jangan sampai dihilangkan begitu saja, apa saja bisa dilakukan saat muda. “Kerja yang benar dan yang penting halal, itulah yang disarankan ke siswa.”

Drs. PARLINDUNGAN HUTAHAEAN, MM

No Comments

Drs. PARLINDUNGAN HUTAHAEAN, MM

“Ketekunan dan Penyerahan pada Yang Maha Kuasa Menghasilkan Lebih dari yang Diharapkan”

“Pendidikan adalah jembatan untuk membangun masa depan.  Melalui pendidikan yang baik  pasti akan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, yang menjadi syarat bagi kemajuan suatu bangsa.  Bangsa yang besar dan maju adalah bangsa yang mengutamakan bidang pendidikan di banding bidang  yang lain!!!,” itulah kata yang terucap dari  sosok pria bernama lengkap Drs. Parlindungan Hutahaean, MM  yang kini dipercaya menjabat sebagai Direktur dari Polikteknik Pajajaran Insan Cinta Bangsa (ICB) Bandung, sekaligus Pembina Sekolah Menengah Kejuruan Insan Cinta Bangsa (SMK-ICB).

Mendidik tidaklah serupa dengan mengajar. Seseorang dapat mudah mengajarkan sesuatu kepada orang  lain namun belum tentu dapat memberi didikan yang bermanfaat bagi yang lainnya. Falsafah ini tidaklah omong kosong belaka, melainkan hendaknya bisa  diterapkan dalam keseharian kita. Kata-kata bijak itulah yang telah mendorong  dirinya terjun dan menggeluti bidang pendidikan.  Menurutnya, melalui pendidikan dapat pula ditanamkan nilai-nilai budi pekerti yang sangat membantu seseorang untuk berdisiplin dan memahami kehidupan.

Cita-cita awalnya memang ingin menjadi orang yang berkecimpung di bidang pendidikan. Tapi bukan hanya sebagai pengajar, melainkan juga pendidik. Keberhasilan seorang pendidik, menurutnya, bukan semata-mata jika anak didik-nya  menguasai ilmu yang diberikan, tetapi yang lebih penting adalah secara nyata bisa mengamalkan ilmu itu dibidang tugasnya masing-masing. Karena, ilmu yang tinggi tidak akan ada gunanya kalau jatuh ke tangan orang yang tidak bermoral. Oleh karena itu, tugas seorang pendidik tidak hanya  mengajar, memberikan ilmu namun juga mendidik, membentuk moral peserta didiknya. “Supaya ilmunya itu bisa dimanfaatkan, diamalkan,  yang dengan demikian juga menjadi manfaat bagi guru atau pendidiknya,” ucap peraih Candidate Doctor di bidang Manajemen Pendidikan ini. “Bagi saya, mencerdaskan anak bangsa, khususnya generasi muda merupakan tujuan dari seorang pendidik, dimana tidak bisa dibandingkan dengan sesuatu yang bersifat materi ataupun prestise,” ujarnya menambahkan.

Mengawali  karir sebagai Tenaga Ahli Laboratorium Peledak di PINDAD Bandung (tahun1964), perlahan namun pasti, Parlindungan  biasa akrab  disapa, diangkat sebagai Kepala Laboratorium Pelumas di PINPAD Bandung (tahun 1970), lalu dipercaya sebagai Kepala Laboratorium Pelumas & Coating pada (tahun 1973). Kemudian pada tahun 1974, ia di angkat sebagai Kepala Bengkel Slagkwik di PINDAD. Dan pada (tahun 1976) sebagai Staff Gudang Induk di PINDAD. Setahun kemudian karirnya terus meningkat dimana ia di percaya sebagai Guru Militer Bidang Sosial tepatnya pada tahun 1978 di PUSDIKINT-AD, dan pada tahun 1981, ia mulai menjajakan langkah kakinya di dunia pendidikan dengan di angkat menjadi Guru Militer Golongan V.  Di tahun 1983, ia diangkat sebagai Kepala Guru Militer Pembekalan dan beranjak satu tahun tepatnya pada tahun 1984, Parlindungan diangkat sebagai Asisten Litbangdik dan Asisten Pendidikan Pengajaran di tahun 1985, yang kedua-duanya masih di PUSDIKINT-AD. Lalu pada tahun 1986, pria yang sempat menjadi Anggota DPRD Tk. II Kab. Lebak Jawa Barat pada periode tahun 1987 – 1992 dan Anggota DPRD Tk.II untuk daerah  Kab. Sumedang Jawa Barat  periode tahun 1992 – 1997 ini,  di angkat sebagai Kepala Departemen Makanan PUSDIKBEKANG-AD.

Sebagai Abdi Negara, dan setelah Purnawirawan ia memperoleh berbagai bintang jasa dan penghargaan dari pemerintah, diantaranya: Sapta Lencana Dwidya Sistha pada tahun 1983, Satya Lencana Kesetiaan 24 tahun pada tahun 1993 dan Bintang Eka Pakci Naraya pada tahun 1995. Demikian juga dalam kiprahnya di berbagai bidang pendidikan di masyarakat, pria kelahiran           30 September 1940 ini menerima berbagai penghargaan dari  beberapa Lembaga Swasta, diantaranya; Tahun 2003 menerima 2 Penghargaan sekaligus yaitu sebagai TOP Executive Award dan sebagai International Professional of The Year, di tahun 2004 menerima Penghargaan  Citra Insan Pembangunan Indonesia. Tahun 2005 menerima Penghargaan International Bussiness & Company Award, di tahun 2008 menerima Penghargaan Leadership Award dan di tahun 2009 menerima Penghargaan Professional and Educator Award.

Pengalaman Hidup Membentuk Karakter

Terlahir sebagai anak seorang guru, membuat suami dari Ny. Bonur Parlindungan, SH, MH ini merasakan betapa berat perjuangan orangtuanya sebagai pendidik yang ketika itu harus ditangkap dan di intrograsi oleh Belanda hanya karena membimbing pelajaran kepada sekelompok anak di kampungnya dan dianggap pihak Belanda tidak memiliki ijin dari penguasa. “Saya merasakan kehidupan yang berat takala secara terpaksa saya harus mengungsi dari satu kampung ke kampung lain hanya untuk menghindar dari cengkraman pihak Belanda.” Ujar pria yang ketika kecil merasakan hidup diantara rimbunnya pepohonan hutan di daerahnya. Namun hal itu tidak membuat niatnya surut untuk berbuat sesuatu yang berguna demi kemajuan pendidikan di negeri ini. Ia tetap memutuskan untuk meneruskan jejak langkah kaki kedua orang tuanya sebagai seorang pendidiik.

Bersekolah di Sekolah Rakyat, Parlindungan kecil tidak diperlakukan berbeda dengan murid lainnya walaupun saat ini ayahnya menjabat sebagai kepala Sekolah Sigumpar 2. “Guru-guru yang mengajarnya saat itu, mendidik dengan keras dan tidak pandang bulu”. Namun hal itulah yang diakuinya, membentuk karakter dan kepribadiannya sampai saat ini. Setelah menjalani pendidikan di SMP dan melanjutkannya sampai SMA, Parlindungan muda memutuskan untuk berangkat menuju kota Medan dikarenakan kondisi keamanan yang sedang bergejolak saat itu.

Terdidik Untuk Menjadi Pendidik

Semangat mendidik tidak pernah hilang dalam benak pria  yang satu ini. Hal ini dapat terlihat dari jejak langkah hidupnya, dimana setelah Parlindungan masuk menjadi seorang meliter, ia ditempatkan sebagai guru militer dan pada tahun 1978 terpilih untuk menimba ilmu di USA untuk bidang Supply Management, Management Acquisition dan Logistic Management serta pada tahun 1980 sebagai Observer Training Logistic tepatnya di  Hawai – USA. Dan saat ia kembali ke tanah air  tepatnya pada tahun 1979, sebuah tempat kursus bahasa Inggris bernama International College Laboratory Of English, dipercayakan kepadanya untuk dikelola.  Sehingga  terwujudlah cita-citanya untuk mencerdaskan anak bangsa melalui dunia pendidikan.

Dibawah kepemimpinannya dalam waktu hitungan bulan, International Collage  Bandung terus berkembang. Kursus yang tadinya hanya membuka kursus Bahasa Inggris saja, ia kembangkan dengan membuka jurusan-jurusan baru, diantaranya; kursus Bahasa Jepang, Bahasa Belanda, Mengetik, Tata Buku dan Akuntansi. Melalui tangan dinginnya, maka International Collage Bandung  mendapat kemajuan. Terbukti setahun kemudian berdirilah Lembaga Pendidikan Sekretaris Program 6 bulan. Kemudian pendidikan administrasi, Accounting, Perhotelan, Perbankan dan Jurnalistik, dimana semuanya melalui program  1 tahun.

Dari awal berdirinya lembaga ini telah memiliki gedung dan labotarium sendiri, namun lembaga pendidikan ini semuanya bersifat pendidikan luar sekolah. Sehingga keinginan untuk memformalkan baru terwujud pada tahun 1986 dengan terbentuknya Yayasan. Melalui Yayasan ini, maka berdirilah secara berturut-turut Pendidikan Formal. Dimulai dengan mendirikan SMIP pada tahun 1989, di lanjutkan pada tahun 1991 STM, tahun 1993 SMEA, tahun 1993 Politeknik, tahun 1997 Program Sertifikasi, tahun 2002 SMA dan pada tahun 2005 ini pengajuan program Diploma IV.

Hingga saat ini Lembaga Pendidikan yang dipimpin oleh Drs. Parlindungan Hutahaean, MM ini, telah menyerap lebih dari 50 staff akamedika, 220 guru dan dosen serta + 2.500 siswa dan mahasiswa. Dimana Lembaga pendidikan ini telah melahirkan lebih kurang 11.400 alumni yang telah tersebar diseluruh pelosok Nusantara dan bahkan diluar negeri.

Kebanggaannya terhadap bangsa dan negara ditunjukkannya dengan perbuatan. Hal ini dapat terlihat dengan begitu banyaknya alumni yang telah berhasil, baik di pekerjaannya maupun berwiraswasta. Terlebih Lembaga kami saat ini telah dapat menyediakan lapangan pekerjaan untuk + 290 orang sebagai kegiatan yang bermanfaat dan itu merupakan komitmen sejak awal. Namun, disisi lain, pria yang menikah pada tahun 1968 ini menyayangkan perekonomian Negara yang tidak stabil sehingga berpengaruh terhadap keuangan orang tua murid, yang mengakibatkan mereka jadi sulit membayar iuran sekolah ( SPP ). Tidak Cuma itu, Ia pun  menyayangkan ketertinggalan Indonesia di bidang pendidikan terutama begitu banyak kasus berhentinya siswa atau anak didik dari sekolah hanya karena tidak memiliki daya juang atau ketidakmampuan membiayai sekolahnya.

Parlindungan Hutahaean dan Keluarga

Keluarga merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari keseharian Parlindungan, hal ini terbukti dari dukungan istri dan putra-putrinya dalam membantu menjalankan Lembaga pendidikan yang dipimpinnya hingga saat ini. Sang istri tercinta, Ny. Bonur Parlindungan, SH., MH., (Candidate Doctor di bidang Manajemen Pendidikan), yang juga menjabat sebagai Ketua dari  Yayasan Insan Cinta Bangsa senantiasa menyempatkan diri terjun dan melihat langsung kondisi tugas-tugas pada masih-masing unit pendidikan yang ada dilingkungan  ICB.

Demikian juga tak mau ketinggalan, putra-putrinya selalu memberikan dukungan bagi pengembangan unit-unit pendidikan yang ada di lembaganya, mereka banyak memberikan masukan-masukan baik secara langsung maupun melalui diskusi by internet karena sebagian dari mereka sedang berada di luar negeri, bahkan diantara putra-putrinya sangking ingin membantu mengembangkan lembaga pendidikan orang tuanya, ada yang sampai mengirim bantuan peralatan pendidikan untuk menunjang sarana prasarana lembaga sebagai bentuk dukungannya.

Bakat mengajar di lingkungan keluarganya hampir melekat pada setiap anggota keluarga, hal ini dapat terlihat dan dibuktikan dengan ikut sertanya mereka mengajar sebagai tenaga pendidik pada lembaga yang dimilikinya dan bahkan pada event-event tertentu, mereka ikut andil memberikan pelatihan-pelatihan pengembangan bagi staff di lingkungan Yayasan  Insan Cinta Bangsa.

Dukungannya terhadap tumbuh kembang anak-anaknya pun dapat terlihat lewat keberhasilan Parlindungan dalam membesarkan putra-putrinya khususnya dalam menyelesaikan pendidikan, dimana mereka  telah berhasil dan sukses meraih berbagai gelar pendidikan baik di dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini dapat terlihat dari gelar pendidkan yang mereka miliki, diantaranya, Ir. Robert PM. Hutahaean, MM., dan sang istri Ir. Meita P. Simangunsong, MM., (Candidat Doktor Ilmu Manajemen), Winbert PM. Hutahaean, S.IP, MA., dan istrinya Daisy Pasaribu, S.Sos., (seorang Diplomat dan bertugas di Canada), kemudian anaknya yang ketiga Elfrida Hutahaean, S.Sos., dan anak yang ke empat  Elyana Hutahaean, S.IP, MA., (meraih gelar dan bekerja di Australia) dan si bungsu Ir. Limbert PM.Hutahaean, MA., saat ini sedang menempuh S3 di Sunderland University dan istrinya Ai Permanasari, SH., sedang menempuh S2 di Glasgow –  Inggris.

Generasi Muda dan Perkembangan Pendidikan

Sebagai salah satu tokoh panutan Generasi Muda, Drs. Parlindungan Hutahaean, MM., mengakui betapa besarnya potensial generasi muda dalam membangun kehidupannya, oleh karena itu kita sebagai generasi yang lebih senior wajib memberikan contoh dan tauladan kepada generasi muda. Jangan pernah bosan untuk membina semangat generasi muda dalam berbangsa dan bernegara.

Cukup memprihatinkan memang, jika kita mengamati perkembangan ekspresi generasi muda yang dipengaruhi lingkungan yang kurang baik. Mereka kerap kali berkata-kata dan bertingkah laku kasar. Namun, dengan bimbingan yang baik niscaya mereka bisa berkembang menjadi generasi penerus yang nantinya akan memimpin bangsa ini.

Hal ini pun tidak jauh dari perkembangan pendidikan di Negara ini yang secara umum masih tertinggal jika dibandingkan dengan Negara-negara lain. Ada beberapa sekolah, yang secara fasilitas sudah mencukupi tapi dari segi pendidikannya belum efektif. Bahkan secara nasional, perkembangan pendidikan masih belum merata sehingga timbul kesan hanya mereka yang memiliki kemampuan secara ekonomis mampu memperoleh pendidikan yang layak.

Tumbuh sebagai warga Negara yang bangga berbangsa dan bernegara Indonesia, lulusan Sekolah Sigumpar 1 ini pun selalu membaktikan hidupnya demi kemajuan pendidikan Indonesia “Dunia pendidikan sudah melekat pada dirinya sejak saya kecil oleh karena itu, hingga saat ini dan sepanjang Tuhan YME masih mengijinkan saya untuk bekerja, maka saya akan berkomitmen untuk terus mengabdi dilingkungan pendidikan. Filosofi pendidikan yang mengatakan bahwa “pendidikan sepanjang hayat”  menginspirasi saya untuk tidak akan pernah berhenti mendidik, long life education,” imbuhnya..

Pemerintah dan Dunia Pendidikan

Ber-visi dan misi-kan “Kebutuhan pendidikan pasti akan terus berkembang, maju terus tanpa pernah merasa bosan. Diharapkan melalui pendidikan, hidup manusia akan lebih baik dan sejahtera” pria yang ramah dan sangat santun dengan setiap orang ini, berusaha dengan segenap kekuatannya untuk memajukan perkembangan pendidikan di Indonesia, namun tak bisa dipungkiri peranan pemerintah sangatlah dibutuhkan. Ia berharap pemerintah dapat menyediakan sekolah Negara yang sepenuhnya di biayai oleh negara khususnya bagi keluarga yang tidak mampu. Pemberian beasiswa dinilainya jalan terbaik untuk meningkatkan perkembangan pendidikan, khususnya bagi orang yang kurang mampu agar mereka dapat menyelesaikan pendidikannya pada tinggat dasar, menengah bahkan pendidikan tinggi sekalipun.

Hal terpenting lainnya adalah bagaimana caranya pemerintah dapat memberikan pendidikan yang bermutu, yaitu program pendidikan yang berkualitas, baik dari segi programnya, prosesnya, peralatannya maupun staf pengajarnya sehingga nantinya dapat menghasilkan anak didik yang berkualitas yang akhirnya dapat berguna bagi bangsa dan negara ini.

“Tidak seperti bidang-bidang usaha yang lain, kami mengelola usaha pendidikan dengan model berwirausaha, artinya segala sesuatu yang akan kita lakukan harus kita hitung dengan cermat agar memberikan hasil yang baik dan berkualitas. Usaha di bidang pendidikan merupakan usaha jangka panjang yang harus mengedepankan mutu dan kualitas pengajaran. Penciptaan pengajaran yang bermutu dan berkualitas tentunya tidak bisa instan tetapi harus berkesinambungan ” Ujar pria yang murah senyum ini.

“Pendidikan yang berorientasi pada enterpreneurship atau kewiraswastaan adalah berjuang demi kemajuan dan mampu mengabdikan diri kepada masyarakat sebagai wujud pendidikan dan setiap anak didik nantinya diharapkan memiliki tekad dan kemampuan sendiri untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang makin meningkat dan memperluas lapangan kerja”. Konsep inilah yang sekarang sedang kita usung menjadi acuan untuk mengembangkan program-program pendidikan di Lembaga kami, baik di tingkat menengah kejuruan maupun di pendidikan tinggi.

Ia pun menambahkan, dalam kiprahnya setiap perguruan tinggi di Indonesia harus mampu berperan dan memberikan kontribusinya dalam membangun Intellectual Quotient, Emotional Quotient dan Spiritual Quotient kepada setiap mahasiswanya, hal ini dapat diwijudkan dalam meramu kurikulum yang berbasis kepada pembentukan kompetensi yang berfokus pada skill (keterampilan), Knowledge (Pengetahuan) dan Attitude ( Perilaku).

Seseorang yang hanya bisa mengajar tapi ajarannya tidak mendidik maka hasilnya bisa menyesatkan anak didik. Setiap pendidik  harus mampu mengajar sesuai dengan tugasnya dan apapun yang diajarkannya harus bersifat mendidik. Untuk itu seluruh pendidik diharapkan dapat terus meningkatkan kemampuan dan keterampilan serta meningkatkan pengetahuan mereka demi kemajuan bangsa, pendidik harus memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negaranya, karena lewat tangan para pendidiklah, anak didik yang tangguh, cerdas dan berguna bagi bangsa depan bangsa dan negara ini dapat diciptakan. Maju tidaknya bangsa ini bisa ditentukan oleh para pendidik.

“Pendidikan formal terkadang menjadikan orang mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Namun hal itu akan berjalan lebih baik jika disertai pendidikan non formal, seperti pendidikan ahlak, budi pekerti, sopan santun, kedisiplinan dan tanggung jawab. Dasar-dasar norma tersebut akan membentuk kepribadian diri seseorang sehingga meraih sukses dan mudah menyesuaikan diri ditengah masyarakat.

Demikian juga dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, mereka harus mampu dan mau menyesuaikan diri dengan perubahan dan perkembangan zaman, seperti halnya perkembangan teknologi dan informasi yang dapat diaplikasikan dalam penerapan metode pengajaran dan mereka pun dapat mengikuti pelatihan-pelatihan tentang penggunaan teknologi atau perkembangan informasi. Jangan sampai seorang pendidik nantinya tertinggal oleh anak didiknya dalam penggunaan teknologi informasi yang terus berkembang.

Mata pelajaran yang diberikan pun harus memiliki muatan-muatan pengembangan kepribadian, kemampuan keilmuan dan keterampilan, kemampuan berkarya, kemampuan perilaku berkarya, kemampuan hidup bermasyarakat. Jika hal itu dilakukan maka lulusan perguruan tinggi yang dihasilkan dapat lebih berdaya guna di tengah masyarakat.”Kualitas suatu Negara dapat tercermin dari sistem pendidikan dan hasil dari pendidikan itu sendiri. Tentu untuk mencapai hasil yang diinginkan tidak semudah membalikkan telapak tangan, dibutuhkan dedikasi, pengorbanan dan keinginan yang kuat dari para pendidik itu sendiri maupun dan semua pihak.”

Obsesi di Masa Depan

Bagi pria berusia 69 tahun ini, hidup di tentukan oleh pendidikan. Hasil didapatkan dari bekerja dan untuk bisa bekerja dibutuhkan keahlian, karena itu ia berobsesi dapat menuntun anak didiknya menghadapi persaingan di dunia pendidikan saat ini dengan latihan, pengajaran dan kepemimpinan, karena kita hidup dalam dunia usaha dimana jiwa entrepreneur harus diterapkan dalam diri setiap anak didiknya.

“Kita harus menanamkan sifat senang memberi kontribusi kepada masyarakat tanpa pamrih, walau tetap berjiwa entrepreneur yaitu berjiwa win win solution (kedua pihak merasa diuntungkan),” ucap pria yang selalu menerapkan system pengajaran yang bijak dengan tidak mengucapkan ‘kamu salah’ atau ‘ jangan lakukan’ itu. ”Kita harus percaya kalau anak didik kita bisa melewati kompetisi ini. Dengan begitu, rasa percaya diri mereka bisa terlatih sejak dini  dan lihat saja apa yang mungkin terjadi nanti,” ujarnya menutup pembicaraan dengan Tim Profil.

H. Hardjani HS

No Comments

H. Hardjani HS
Ketua Cabang Muhammadiyah Cileungsi

Sentralisasi Manajemen Muhammadiyah Cileungsi Sangat Strategis untuk Pengembangan SDM

Upaya meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan terus dilakukan oleh Muhammadiyah Cabang Cileungsi. Yayasan ini mengelola pendidikan mulai Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, SMP, SMK, SMA dan Perguruan Tinggi. Sesuai dengan ayat Alquran bahwa “Orang yang berilmu akan ditinggikan derajatnya”, Yayasan berusaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia umumnya dan masyarakat Cileungsi khususnya.

Caranya, Muhammadiyah mencoba memberikan pendidikan berbiaya murah bagi anak-anak usia sekolah dari tingkat terendah sampai tertinggi. Meskipun upaya tersebut terkendala minimnya dana –yayasan tidak mempunyai sumber dana tetap dari donatur yang pasti- tetapi berbagai cara digunakan untuk menyiasati kendala tersebut. Seperti subsidi silang dari siswa mampu kepada siswa tidak mampu melalui biaya pendidikan, Muhammadiyah juga memberikan beasiswa bagi siswa berprestasi dan kurang mampu.

“Untuk mencapai biaya relative murah itu belum bisa full, karena tidak ada bantuan dari manapun. Kita mencari uang sendiri, memanfaatkan uangnya sendiri. Untuk sampai ke situ, sistem pendidikan di sini menggunakan sistem sentralisasi. Artinya mulai dari TK hingga PT manajemennya adalah satu, tidak sekolah per sekolah. Sehingga untuk pengaturan kepegawaian, kesejahteraan dan lain-lain berada dalam satu manajemen,” kata H Hardjani HS., Ketua Cabang Muhammadiyah Cileungsi.

Menurut Hardjani, pihak yayasan selain memberikan beasiswa dalam jumlah besar juga mencarikan dana bagi orang-orang yang tidak mampu, fakir miskin dan yatim piatu. Kepada mereka bahkan diberikan pembebasan biaya sekolah apabila dipandang benar-benar tidak mampu. Yayasan juga memberikan keringanan biaya hingga 50 persen bagi keluarga karyawan. Hal tersebut merupakan bagian dari sistem Sentralisasi Manajemen Muhammadiyah Cileungsi.

Hardjani menjelaskan, Muhammadiyah memiliki kegiatan pendidikan, kesehatan, sosial dan lain-lain, di mana antara kegiatan satu dengan yang lain saling menguatkan. Dengan begitu, meskipun tanpa bantuan pemerintah mampu membantu meringankan tugas dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Terbukti, selain guru dan karyawan berjumlah 350 orang, juga tumbuhnya entrepreneur baru di sekitar yayasan. Yakni orang-orang yang mengais rezeki dengan berjualan di sekitar sekolah yang disiapkan tempat, listrik dan air bersih.

“Jadi visi saya adalah bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan Muhammadiyah Cileungsi dengan menggunakan sistem manajemen secara sentral. Dengan sistem ini, meskipun biaya pendidikan relative murah, tetap prestasi tidak kalah. Alhamdulilah siswa SD menjadi juara lukis untuk Jawa Barat dan masuk Olimpiade Matematika tingkat Nasional. Artinya dengan kondisi seadanya prestasi kita cukup membanggakan,” kata pria kelahiran Magelang, 19 September 1958 ini.

Belajar Sampai China

Menurut H Hardjani HS, kemajuan teknologi yang pesat tidak terlalu berdampak buruk bagi dunia pendidikan. Tinggal bagaimana teknologi tersebut diaplikasikan pada dunia pendidikan. Meskipun harus diakui bahwa penggunaan teknologi sangat tergantung pada siapa penggunannya. Oleh karena itu teknologi pendidikan harus benar-benar dipahami pengguaannya. Tetapi bagaimanapun kehadiran teknologi dalam pendidikan tidak perlu ditakutkan.

“Teknologi seperti pisau, kalau dipakai dengan baik menjadi baik kalau dipakai jelek ya menjadi jelek. Contohnya pisau dapur kalau dipakai untuk masak ya bagus, tetapi kalau untuk nodong ya berbahaya. Begitu juga dengan teknologi, semua tergantung pada penggunaannnya. Makanya kita di sini, melengkapi teknologi dari semua tingkatan mulai TK hingga PT, yang menjadi bagian dari sarana,” katanya.

Hardjani mengakui adanya perbedaan dalam sistem pendidikan di Indonesia dan luar negeri yang cukup jauh cara pandangnya. Di luar negeri sekolah memiliki pelajaran yang sangat terspesialisasi menjadi empat mata pelajaran. Sementara di Indonesia 17 mata pelajaran harus diketahui siswa. Dengan empat pelajaran, siswa di luar negeri sangat menguasai spesialisasinya. Sementara di Indonesia, siswa “tahu” segala macam pengetahuan meskipun tidak “bisa” mengaplikasikannya.

Sistem kualitas tersebut, lanjut Hardjani, membedakan antara pendidikan di Indonesia dan luar negeri. Apalagi, target sistem yang berubah-ubah dari legislator pendidikan di Indonesia membuat perubahan yang signifikan. Ia mencontohkan bagaimana sistem UAN yang diterapkan sekarang, di mana banyak siswa harus mengulang ujian. Kejadian ini, merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas lulusan pendidikan di Indonesia.

“Selama ini kita berorientasi pada kuantitas yang merupakan target orde baru dalam pemberantasan buta aksara. Sementara di era Reformasi ini sudah mulai mengutamakan kualitas. Memang ada yang tidak setuju, tetapi sistem UAN sudah dilakukan sejak Indonesia merdeka hingga tahun 1977. Ketika Orba berkuasa UAN dihapus karena perbedaan target tersebut,” tandasnya.

Padahal, lanjutnya, seorang muslim -sesuai dengan sunah Rasul- diwajibkan untuk belajar bahkan hingga ke negeri China. Sunah tersebut bahkan bisa diartikan secara harfiah melihat kondisi negeri China belakangan ini yang menjadi kekuatan ekonomi baru. China dalam waktu singkat telah tumbuh menjadi negara berpengaruh setelah Amerika Serikat dan Jepang. Kemampuan seperti yang ditunjukkan bangsa China berasal dari sifat mereka yang pantang menyerah, pekerja keras, prihatin dan pintar berdagang.

“Sabda Rasulullah, ‘Belajarlah meskipun harus sampai ke negeri China’ benar-benar terbukti melihat kondisinya sekarang. Sunah Rasul yang lain menyatakan bahwa, 80 persen rezeki yang diturunkan Allah adalah perdagangan, sementara yang lain hanya bernilai 20 persen saja. Tetapi semua orang Indonesia mengejar yang 20 persen dan meninggalkan yang 80 persen. Entrepreneurship baru wacana dan belum benar-benar dilakukan. Jadi kalau mau maju, jadikan sekolah sebagai pengetahuan dan setelah lulus diarahkan sebagai entrepreneur,” ujar pria yang bercita-cita menjadikan Cileungsi sebagai kota pelajar, terutama di daerah Bogor timur ini.

Hardjani memberikan catatan bagi bangsa Indonesia untuk mengejar ketertinggalan dunia pendidikan di Indonesia. Yakni mengamalkan sunah Rasul untuk belajar sampai negeri China dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Karena umat Islam sudah dibekali dengan surat Al Ash’r yang mengingatkan pentingnya waktu karena tidak dapat terulang kembali. Sementara yang terjadi di Indonesia yang mayoritas beragama Islam malah meninggalkan perintah Islam. “Kalau orang-orang di luar negeri menggunakan Al Quran untuk dilaksanakan harian. Sementara di Indonesia kitab ini hanya digunakan sebagai bahan bacaan dan tidak dilaksanakan,” katanya.

Di sisi lain, lanjutnya, perintah Al Quran dalam Al Insyiro sangat jelas, yakni memerintahkan setiap manusia untuk bekerja keras. “Kalau selesai pekerjaan yang satu pekerjaan yang lain harus dilakukan. Dan setiap melakukan pekerjaan itu pasti ada kesulitan, tetapi dibalik kesulitan itu pasti ada kemudahan”. “Masalahnya orang Indonesia tidak pernah mau bersulit-sulit, maunya yang enak-enak saja. Artinya apa yang ada di konsep Islam itu semua dipakai oleh Barat, sehingga Barat lebih maju daripada kita,” imbuhnya.

Hijrah untuk Berubah

H Hardjani HS merasa terbantu dengan adanya BOS, BOM dan RKB yang diprogramkan pemerintah. Meskipun untuk itu harus berusaha “mengejar” kepada pihak pemerintah agar program tersebut. Menurut Hardjani, seharusnya pemerintah yang harus datang ke sekolah-sekolah dalam rangka mensukseskan program yang dirancangnya.

Hal ini dirasakan berbeda ketika Yayasan yang diketuai Hardjani memperoleh bantuan dari United Way di USA. Meskipun berkantor di Illinois, USA tetapi mendatangi sekolah-sekolah di seluruh dunia –termasuk Cileungsi- untuk memberikan bantuan. Bahkan ketika kesepakatan untuk me-launching program tersebut, pihak donatur jauh-jauh datang dari USA.

“Jam empat subuh mereka masih di Singapura padahal acara kita jam sembilan pagi. Tetapi mereka sudah memiliki komitmen sehingga jam sembilan tepat perwakilannya sudah datang untuk meresmikannya. Sementara pejabat kita, jam sebelas baru datang di sini, padahal tinggalnya hanya di Cibinong. Jadi  komitmen waktu itu yang di antara kita tidak terlaksana dengan baik. Menganggap pejabat yang harus dilayani,” ungkap Karyawan Teladan Provinsi Jawa Barat Tahun 2000 ini.

Untuk mengatasi hal tersebut, ia mengingatkan, bahwa -dalam bahasa Rasullulah- bangsa Indonesia harus hijrah dan setiap saat berubah. Bangsa Indonesia jangan menggunakan manajemen beton yang kokoh dan tidak bisa diubah-ubah. “Kita harus hijrah untuk berubah. Kita harus mengikuti jejak Rasul dengan meniru sifat-sifat baiknya yakni amanah, fatonah, siddiq dan tablig. Karena banyak orang Islam yang tidak menggunakan ilmunya,” tuturnya.

Ia berharap, agar aturan pemerintah segera diimplementasikan seperti pemberian BOS dan bantuan-bantuan lainnya. Setidaknya, buku sekolah digunakan sistem seperti zaman dahulu yang tidak diperjualbelikan dan dapat dipergunakan oleh generasi berikutnya. Kebijakan tersebut sangat berguna untuk mendukung pendidikan murah karena mengurangi biaya pembelian buku.

Kepada generasi muda, Hardjani berpesan berpikir sebagai umat Islam yang rahmatan lil’alamin yang tidak membedakan suku, ras, agama dan lain-lain. Dengan pola pemikiran seperti itu, generasi muda akan berusaha untuk berbuat baik bagi kepentingan orang lain. ia mencontohkan, pada saat berusia 24 tahun, ia sudah terjun ke dunia pendidikan. Visinya saat itu adalah untuk menyejahterakan masyarakat melalui pendidikan.

“Bukan warisan. Karena kalau warisan akan habis dibagi-bagi, sementara dengan berpendidikan anak keturunan dari pemilik warisan tidak akan menjual warisannya. Karena anak-anaknya berusaha untuk mendapatkan rezeki Tuhan yang 80 persen bukannya membagi-bagi warisan leluhurnya,” ujarnya.

Setelah 26 tahun, buah pemikiran Hardjani telah berhasil menanggulangi pengangguran meskipun dalam skala kecil. Selain 350 guru, karyawan dan pedagang yang bangkit karena Yayasan Perguruan Muhammadiyah beroperasi. Masyarakat yang ada di sekitar yayasan pun dibantu untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi. Artinya, dari segi tenaga kerja dan sosial, Yayasan Perguruan Muhammadiyah telah membantu pemerintah.

“Artinya kalau PCM Cileungsi saja bisa memberikan lapangan kerja bagi 500 orang, dengan 5000 siswa, maka seandainya dalam satu kecamatan ada 10 orang yang pola pikirnya (mindset) seperti saya, di Indonesia tidak ada pengangguran lagi. Bahkan pengangguran intelektual pun tidak ada. Kita menggaji karyawan di sini pun sudah lebih dari UMK, lengkap dengan jaminan sosial, kalau secara umum kesejahteraan karyawan sudah relative cukup. Standar,” katanya.

Adapun visi yang dipegang teguh Hardjani selama ini adalah melaksanakan surat Al Maa’uun (Q.S:107) dan surat Al ‘Ashr (Q.S:103). Dalam surat Al Maa’uun terkandung perintah untuk mengentaskan kemiskinan. Dimana dalam mengentaskan kemiskinan bukan dengan membagi-bagikan uang, tetapi memberikan ilmu pengetahuan. Artinya dengan membekali ilmu, kemiskinan dengan sendirinya tidak ada. Sementara surat Al ‘Ashar mengharuskan manusia untuk menghargai waktu dengan sebaik-baiknya. Ia melihat, bangsa Indonesia belum dapat menghargai waktu dengan baik.

Ia melukiskan pengalaman saat membuat sekolah yang tidak mau menunda-nunda waktu untuk memulai. Apa yang menjadi keinginannya langsung dikerjakan terlebih dahulu dan diperbaiki sambil berjalan, tanpa harus menunggu hal-hal yang ideal. Karena ia sadar kalau menunggu yang ideal –seperti kecukupan dana dan bantuan dari pemerintah– cita-citanya tidak dapat berjalan.

“Kalau saya yang penting punya niat, akan saya tanamkan. Kalau sudah punya tekat saya tanamkan terlebih dahulu, meskipun nggak punya duit harus mulai. Karena bisa sambil jalan, sambil menghimpun dana. Visi saya melaksanakan amanah kedua surat tersebut yang menyangkut IPOLEKSOSBUDHANKAM. Kedua surat itu yang menjadi pegangan saya dan sekaligus menjadi visi saya,” katanya.

Sedangkan mengenai misi yang diembannya, Hardjani menyebut pengentasan kemiskinan melalui pendidikan dan kesehatan. “Karena itu, saya menyelenggarakan pendidikan dari TK sampai Perguruan Tinggi (TK:5 unit, SD: 2 unit, SMP: 2 unit, SMA: 1 unit, SMK: 3 unit, Sekolah Tinggi Teknologi Muhammadiyah Cileungsi, Asrama Yatim Piatu Al-Maun: 2 Unit) yang diharapkan berguna untuk kesejahteraan masyarakat. Untuk kesehatan, mulai pengobatan gratis sampai rumah sakit. Itu misi saya,” kata pria yang berkantor di dua tempat sekaligus ini. Pagi di salah satu perusahaan semen di kawasan Bogor Timur, kemudian malam hari dan hari libur berkantor di Pimpinan Cabang Muhammadiyah Cileungsi.