Tag: saya

Liesna Sulistiowati Shaw

Owner Marvellous Little Maestro dan GaleriLiesna

Memupuk dan Mengeksplorasi Bakat Dengan Menyenangkan

Bakat adalah bawaan lahir yang merupakan karunia Tuhan. Namun bakat besar akan sia-sia tanpa usaha keras untuk memupuk dan mengekplorasinya. Banyak orang berbakat yang tidak berhasil dalam hidup karena mengabaikan bakatnya. Sebaliknya, banyak orang tidak berbakat justru sukses karena kerja keras dan kesadaran akan bakat yang tidak dimilikinya. Seperti ungkapan Thomas A. Edison, bahwa bakat hanyalah 1 persen dari keberhasilan, sementara 99 persen sisanya adalah hasil kerja keras.

Meskipun demikian, bukan berarti orang berbakat tidak bisa berhasil. Asalkan rajin memupuk dan mengeksplorasi bakatnya, kesuksesan akan berhasil diraih. Salah satu lembaga kursus untuk memoles bakat sejak usia dini adalah Marvellous Little Maestro yang bertempat di Kemang. Bakat yang ditangani terutama dalam seni menggambar dengan merangsang anak-anak untuk mengekspresikan diri dan mengeluarkan kemampuan dalam dirinya.

“Fungsi otak sedang berkembang pada saat usia balita, periode ini disebut juga sebagai periode emas. Demikian pula dengan kreativitas-nya, dengan memadukan brain, hand, eyes dan heart coordination, seorang anak akan mengeksplor secara visual. Kemudian pada usia lima tahun keatas, mereka mulai memperhatikan alam di sekitarnya. Nah, alat yang tepat untuk membina reflek kreativitas adalah dengan cat, kuas, krayon, kertas dan alat gambar lainnya.” kata Liesna Sulistiowati Shaw, Pendiri dan Owner Marvellous Little Maestro.

Pilihannya untuk melakukan pembinaan terhadap anak-anak dilandasi oleh keyakinan bahwa setiap anak bisa menggambar. Hanya saja, banyak yang kemudian merasa gambar atau lukisannya kurang bagus. Sebenarnya hal ini karena tidak pernah dilatih sejak kecil. “Padahal, ketika seorang anak pada usia tiga tahun sudah mampu menggoreskan suatu komposisi, ini sudah menunjukkan ekspresinya yang sangat kuat, terkait kemampuan dan perkembangan motorik anak,” ujar Liesna yang gemar mengumpulkan buku-buku bertema gambar dan lukis untuk kemajuan anak-anak didiknya.

Selain itu, lanjut Liesna, apresiasi masyarakat terhadap seni lukis, terutama pada anak-anak masih kurang. Berbeda dengan seni musik misalnya, yang hampir setiap stasiun televisi berlomba menayangkannya. Dengan dukungan suami dan teman-temannya, ia kemudian mendirikan Marvellous Little Maestro (MLM) pada awal tahun 2010. Tujuannya menampung sekaligus membina dan mengembangkan kreativitas dan bakat anak dalam seni gambar dan lukis.

“Kalau dibandingkan dengan bidang seni musik, apresiasi terhadap gambar menggambar masih sangat kurang di masyarakat. Begitu juga tempat memupuk bakat-bakat menggambar anak-anak masih sangat sedikit. Makanya, dengan dukungan suami dan keluarga saya membuka sanggar ini dengan harapan untuk merangsang kreativitas anak-anak secara menyenangkan,” katanya. Oleh karena itu, lembaga yang didirikannya pun mengusung tag “Explore Your Talents With So Much Fun”. “Fun-nya bagaimana? Kita membuat nyaman si anak yang belajar gambar dan lukis, serasa di rumah sendiri dengan menggunakan macam-macam medium yang disukai anak. Selain itu kami juga mengolah segala macam barang bekas menjadi berguna kembali, seperti bekas stik ice cream, kotak, kardus, dll,” lanjutnya. “Disini kami juga selalu mengingatkan anak-anak murid untuk selalu mengumpulkan hasil karya mereka.”

Awalnya, pemilik GaleriLiesna ini mengajar menggambar dan melukis dari rumah ke rumah secara privat sejak tahun 2006 sampai 2008. Saat liburan sekolah tiba, ia membuka Arts & Crafts Holiday for Children di rumahnya, di kawasan Kemang. Ternyata peminatnya sangat banyak sehingga didirikanlah sanggar dan tempat les gambar dengan materi yang menarik, edukatif sekaligus menyenangkan bagi anak-anak. Tahun 2009, ia mulai menyusun materi dan kurikulum yang dibutuhkan untuk pendiriannya.

“Karena orang Indonesia tertarik dengan nama-nama bahasa Inggris, akhirnya kita menggunakan nama yang keinggris-inggrisan. Walaupun telah mengumpulkan ide bermacam-macam nama, akhirnya terpilihlah Marvellous Little Maestro. Kata Marvellous ini sebenarnya kata yang sering diucapkan oleh anak sulung saya. Jadilah ide itu dan secara resmi bernama Marvellous Little Maestro!” ujarnya.

 

Berawal dari Sketsa

Ketertarikan dosen Desain Komunikasi Visual, Universitas Pelita Harapan, Karawaci ini terhadap seni lukis anak dilandasi keinginan untuk terus memajukan kreativitas anak-anak Indonesia. Menurutnya, memberikan dasar kemampuan menggambar secara dini bagi anak sangat berguna bagi masa depan mereka. Setidaknya, dari riwayat sukses para innovator dunia di masa lalu menunjukkan bahwa kemampuan sketsa, menggambar dan memvisualkan ide dari benak sangat berperan besar.

“Ini benar-benar basic yang bagus bagi anak-anak untuk berkarya dan menghargai diri sendiri dan karya mereka. Dengan menghasilkan suatu kreasi, mereka akan bangga dan percaya diri terhadap kemampuannya. Ditambah dengan apresiasi dari keluarga dan sekolah, mereka akan belajar mengekspresikan diri. Visual thinking yang baik dapat menghasilkan gambar-gambar untuk masa depan mereka. Kita bisa lihat sejarah penemu besar seperti Einstein, Leonardo Da Vinci, Galileo Galilei dan lain-lain, berawal dengan membuat sebuah sketsa, coretan-coretan, sebelum menciptkan karya besar mereka,” kata ibu empat anak, istri Bima Shaw ini.

Dalam kegiatannya sebagai dosen, Liesna juga selalu menekankan kepada para mahasiswa desainnya agar membuat sketsa dulu di kertas, untuk mendapatkan ide-ide, baru kemudian dikembangkan menjadi suatu desain. Bukan tidak mungkin, dari sketsa-sketsa yang sudah terkumpul itu akan lahir karya-karya besar.

Apalagi, ia melihat bagaimana generasi muda sekarang ini jauh berbeda dengan pengalamannya. Saat ini, generasi muda dibanjiri informasi dari berbagai sumber yang lebih banyak menawarkan hiburan. Seperti televisi dan teknologi informasi (IT) yang bebas dinikmati kapan saja. Semua informasi menawarkan gaya hidup serba instant, mudah dan menyenangkan.

“Ketika saya masih sekolah dulu, hanya ada satu channel TV dan informasinya pun sangat dibatasi. Tetapi justru itulah yang membuat kita kreatif, main di luar dengan pasir, tanah, tanaman dan lain-lain. Sedangkan anak-anak jaman sekarang memiliki tantangan agar tetap kreatif di dunia yang penuh saingan, di dunia yang penuh informasi dan teknologi yang tak terbatas ini,” ungkapnya.

Pertanyaannya adalah bagaimana generasi muda tetap kreatif dan orisinil di tengah gencarnya informasi di sekelilingnya. Originalitas akhirnya menjadi sangat sulit akibat informasi yang beredar di sekeliling mereka. Untuk mengatasinya, ia menyarankan agar generasi muda mencari jati dirinya sebagai generasi muda Indonesia. Artinya, generasi muda harus memahami dan mengerti seni dan kebudayaan Indonesia serta menjadikannya sebagai pondasi bagi karya kreatifnya.

“Mereka harus mengerti, memahami arts and culture Indonesia sebagai pondasi yang kuat. Setelah itu mereka tetap berkreasi menjadi dirinya sendiri dan terus menggali kemampuan dalam dirinya. Apapun yang disukai harus dipelajari dan dicari ilmunya, tetapi harus focus on something you like. Misalnya anak menyukai komik sekaligus culture Indonesia, bisa saja dia meng-create komik dengan culture Indonesia tetapi bisa mendunia, mengapa tidak?” tutur perempuan kelahiran Jakarta, 30 Juni 1972 ini.

Putri kedua dari empat bersaudara pasangan Bambang Subianto dan Srie Wahyuni ini mencontohkan bagaimana di Amerika diciptakan tokoh-tokoh superhero seperti Superman, Batman. Penciptaan tokoh imajinasi tersebut terjadi pada abad 20, dimana di Indonesia sendiri telah memiliki banyak kisah tradisional yang menarik dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, Papua dan lain-lain. Ia berharap generasi muda Indonesia ke depannya memiliki semangat kreatif dengan tetap mempertahankan jati diri dan akar budayanya.

“Dunia kreatif saat ini sangat berkembang. Kita tidak bisa lagi mengharapkan anak untuk memiliki posisi ideal seperti dokter, bankir dan lain-lain. Dunia kreatif sangat luas, bisa bekerja di TV, Majalah, Buku atau menjadi dirinya sendiri dengan fokus sebagai seniman. Intinya anak-anak harus lebih jago daripada kita dengan banyaknya informasi dan teknologi, jadi jangan malah mandek. Makanya harus dipupuk dan terus dieksplore kemampuan anak-anak ini,” kata pengajar yang sangat bangga ketika anak didiknya maju tersebut. “Itu kepuasan batin bagi saya,” imbuhnya.

Membuka Franchise

Putri mantan Menteri Keuangan di era pemerintahan Presiden B.J. Habibie ini mengisahkan bahwa dirinya sejak usia tiga tahun sudah sangat senang menggambar. Masih teringat dengan jelas sang ayah yang mengajarinya untuk mengumpulkan hasil coretan ke dalam sebuah file. Liesna diajarkan agar dapat mengenali perkembangan hasil karyanya dari tahun ke tahun.

“Bapak membuat sebuah buku map untuk menaruh gambar-gambar saya dan itulah portfolio pertama saya. Sekarang saya juga mengajari anak-anak untuk menuliskan nama dan tanggal pembuatan gambar mereka masing-masing untuk dikumpulkan dalam portfolio mereka sendiri. Jadi dalam beberapa tahun kemudian mereka bisa melihat apa yang telah dibuat dan perkembangan gambar/lukisan mereka itu. Apakah semakin sempurna, halus atau apa saja,” ungkap perempuan yang menguasai bahasa Inggris dan Belanda ini.

Master in Design, Curtin, University of Technology, Western Australia ini mengungkapkan keinginannya untuk pengembangan MLM. Salah satunya adalah dengan mewaralabakan lembaga pendidikan yang didirikannya. Apalagi, dukungan dari beberapa teman di wilayah lain yang sangat ingin agar lembaga serupa berdiri di sekitar tempat tinggal mereka.

“Saya ingin memajukan MLM dan menjadikannya sebagai sebuah bisnis franchise. Saat ini saya sedang menggodok materi untuk franchise, apalagi teman di Australia juga menawarkan untuk membuka di sana. Kemudian saya juga ingin membuat acara menggambar atau arts & crafts di TV yang saat ini masih cukup jarang, supaya tetap menyemangati anak Indonesia untuk berkreasi,” kata pengagum pelukis-pelukis aliran Impressionist seperti Picasso, W. Kandinsky, Cezanne dan Monet ini. Ia juga pengagum pelukis-pelukis Indonesia dan sangat terinspirasi oleh alam seperti tanaman, daun dan bunga.

Meskipun disibukkan dengan kegiatan mengajar (di Universitas Pelita Harapan dan MLM) serta mengelola galeri butik, Liesna tetap mendapat dukungan penuh dari keluarga. Apalagi lokasi pekerjaan suaminya berada dalam satu gedung dengan kegiatan yang digelutinya. Begitu juga keempat anaknya yang memberikan apresiasi terhadap apa yang dilakukan sang ibu.

“Mereka sih tidak komplain karena sudah besar. Mereka hanya ‘menuntut’ kepada kami. Misalnya kalau kami sudah janji akan menemani mereka tetapi karena macet atau karena hal lain terlambat mereka akan protes dan menuntut supaya tidak terjadi lagi. Tetapi pada prinsipnya dukungan keluarga sangat besar kepada saya,” ungkap pemilik moto “Usaha, kerja Keras, tanggung jawab, do what you love serta bekerja sesuai dengan passion dan love life” tersebut.

Untungnya, anak-anak Liesna cukup mengerti kesibukan sang ibu. Liesna sendiri telah mengatur waktunya sedemikian rupa sehingga memiliki banyak kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama mereka. Setidaknya, di pagi hari, ia dan anak-anaknya keluar rumah bersama-sama terkait jam sekolah mereka. Ia juga mengatur agar kegiatan mengajarnya bisa selesai pada pukul 16.00 sehingga terhindar dari kemacetan pulang kerja. Selain itu, paling tidak sebulan sekali untuk berjalan-jalan ke tempat wisata atau berenang ke kolam renang.

Liesna telah menetapkan moto dalam membina keluarga dalam lima poin yang telah disepakati. Yakni: “Saling menghormati, tanggung jawab, kerjasama (seperti clean up day every Saturday), menjadi contoh dan sahabat bagi anak , membangun suasana rumah yang nyaman & sehat dan menjadikan tempat keluarga & anak-anak berkreasi dan belajar”.

“Mereka sudah tahu kegiatan masing-masing. Kalau sore tidak ada kegiatan bersama suami, saya pasti pulang lebih dulu sehingga sampai rumah masih sore dan sempat bermain bulutangkis dengan anak-anak. Apalagi anak-anak saya laki-laki semua yang tidak bisa diam. Di waktu luang, saya suka mengajak anak-anak kedua dan ketiga menggambar, kebetulan mereka suka sekali menggambar. Anak pertama lebih suka olahraga, musik dan bahasa Inggris. Sementara yang bungsu masih kecil,” kata Liesna Sulistiowati Shaw.

Sekilas Profil Marvellous Little Maestro (MLM)

Liesna Sulistiowati Shaw dengan latar belakang pendidikan Desain Komunikasi Visual membuka sanggar lukis dan gambar untuk anak-anak, Marvellous Little Maestro (MLM), pada awal tahun 2010. MLM ini didirikan untuk anak-anak (dari usia 2,5 – 12 tahun) agar dapat dengan bebas berkreasi secara visual.

Dengan mengajarkan berbagai macam media, di MLM anak-anak dapat mengekspresikan diri dalam bentuk gambar, ilustrasi dan lukisan. Adapun kelas-kelas yang ditawarkan terdiri dari:
– Arts & Crafts (Apple Class) usia 2,5 -12 tahun,
– Cool Characters (Tree Class) usia 6-8 tahun,
– Drawing and Painting with Acrylic & Watercolor (Sunflower Class) usia 8-12 tahun,
– Fun Batik! (Rainbow Class) usia 8-12 tahun.

Tujuan pendirian MLM adalah memajukan kreativitas anak-anak Indonesia secara visual dengan pemahaman global tanpa meninggalkan jati diri anak-anak sebagai anak Indonesia, sekaligus peduli terhadap lingkungan dengan menggunakan berbagai barang bekas, seperti bekas tempat susu, kardus, kotak-kotak, kertas bekas, tali, pita dan sebagainya. Liesna akan terus meng-inspire anak-anak didiknya untuk terus mencintai dunia seni gambar dan supaya terus berkreasi secara visual.

Drs. Adrianto, M.Hum

Direktur Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels

Mengajar Adalah Cara Terbaik Untuk Belajar 

Tanpa penguasaan yang tinggi terhadap bahasa Inggris, Drs. Adrianto, M.Hum., nekat membuka kursus. Berbekal pemasangan iklan di suratkabar dan lokasi “elit” di sebuah hotel, lembaga kursus menerima siswa dari berbagai kalangan. Tidak hanya murid sekolah, tetapi juga petinggi kepolisian di wilayah Jakarta.

Namun siapa sangka, kalau ternyata tutor yang memberikan kursus merasa kurang menguasai bahasa Inggris. Mahasiswa Universitas Indonesia yang mendirikan kursus hanya bermodal menghapal materi yang akan diajarkannya kepada siswa. Tidak heran, dalam beberapa sesi ia “gelagapan” menjawab pertanyaan-pertanyaan muridnya.

“Karena saya memang waktu itu belum benar-benar menguasai bahasa Inggris. Dan untuk bahan mengajar pun ‘hanya’ menghapal bahan yang akan saya ajarkan. Peserta kursus saya sedikit tetapi berkualitas, antara lain istri Panglima Polisi wilayah Jakarta. Oleh karena itu, saya harus benar-benar menguasai materinya,” kata Direktur Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels ini.

Tentu saja, Adri –panggilan akrab pria kelahiran Semarang, 19 November 1958- ini, tidak ingin dihukum karena ternyata penguasaan bahasa Inggris-nya minim. Dengan terpaksa, ia belajar bahasa Inggris sekuat tenaga agar mampu menguasainya dengan baik. Ia tidak ingin kredibilitasnya turun dan mendapat malu di depan siswa yang notabene belajar darinya.

Hasil kerja kerasnya tidak sia-sia. Upayanya untuk menghapal materi pelajaran bahasa Inggris berhasil positif. Akhirnya ia menguasai bahasa internasional tersebut dan percaya diri untuk menggunakannya pada berbagai kesempatan.

“Jadi kesimpulannya saya mampu berbahasa Inggris karena mengajar, meskipun hanya ngapalin saja. Intinya drive saya itu berasal dari keterpaksaan, yang tadinya terpaksa menjadi bisa. Ilmu yang saya dapat, mengajar adalah cara belajar yang sangat bagus,” tandasnya.

Sebenarnya tekad kuat Adri untuk belajar bahasa Inggris dilandasi oleh keinginannya bekerja di kedutaan besar. Namun ia terbentur syarat bekerja di kedutaan adalah penguasan bahasa Inggris yang mumpuni. Sementara dirinya saat itu tidak memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik. “Logikanya, kalau ingin belajar bahasa Inggris kenapa saya tidak mengajar bahasa Inggris. Makanya saya mendirikan lembaga kursus itu karena menjadi guru kan harus lebih pinter dari muridnya,” kilah pria dengan moto “Menyenangkan Orang Lain” ini.

Terlalu Teoritis

Menurut Drs. Adrianto, M.Hum, dunia pendidikan Indonesia saat ini terlalu banyak mata pelajaran yang harus dikuasai. Anak didik dijejali mata pelajaran yang sebenarnya belum perlu diajarkan. Selain itu, mereka sebagai peserta pembelajaran kebanyakan menerima pelajaran yang bersifat teori belaka.

“Pelajaran yang banyak itu, dipenuhi dengan teori, tapi praktek dalam pembelajaran bahasa Inggris. Sekarang ini banyak yang diajarkan secara teoritis, sementara gurunya sendiri terkesan kurang menguasai bahasa Inggris yang pas. Kalau untuk bahasa asing, harusnya guru-guru yang mengajar anak-anak dengan hapalan kemudian mempraktekkan,” kata pengagum Bunda Theresa tersebut.

Adri mencontohkan dirinya sendiri dalam belajar bahasa Inggris dengan metode awal, menghapal. Ia menghapalkan percakapan sehari-hari dalam bahasa Inggris, bukan kata per kata baru disusun dalam sebuah kalimat. Adri mempraktekkan percakapan-percakapan tersebut di kamar kosnya layaknya sebuah sandiwara monolog.

Saking seriusnya Adri menghapal, penah ibu kosnya sempat mendobrak masuk kamar. Ibu kosnya menyangka di dalam kamarnya terjadi pertengkaran antara dirinya dengan orang lain. “Tetapi saya jalan terus, untuk mempraktekkan kemampuan bahasa Inggris. Anak-anak sekarang juga harus begitu, jangan takut salah dalam mempraktekkan bahasa asing. Salah nggak apa-apa, lama-lama toh akan bisa. Mengenai teori dengan praktek itulah kita bisa menggali teorinya,” kata ayah tiga anak dari pernikahannya dengan Titiek Sayekti ini.

Menurut sulung dari empat saudara pasangan R Ng KH Rois Ibrahim dan Ny R Ng Sumarni ini, dunia pendidikan di Indonesia sebenarnya sudah maju. Secara keseluruhan dunia pendidikan Indonesia tidak ketinggalan dengan negara lain. Hanya saja, pada beberapa perlu dilakukan pembenahan sesuai dengan kebutuhan zaman. “Pendidikan kita maju. Generasi muda sejak kecil harus diberi landasan, sehingga akan berkembang ketika mereka besar nanti,” tambahnya.

Tangan Tuhan

Adrianto memimpin Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels (Akpar JIH) sejak dua tahun lalu. Sebenarnya ia sendiri tidak merencanakan kariernya akan mencapai puncak di lembaga pendidikan pencetak tenaga kepariwisataan. Semua yang dilakukannya berjalan mengalir begitu saja dilandasi dengan rasa ingin tahunya yang sangat besar. Selebihnya, ia menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan untuk membimbing perjalanannya.

“Sebenarnya saya sendiri merasa bahwa semua itu tangan Tuhan. Adanya saya disini dan sebagainya tidak saya rencanakan terlebih dahulu. Tadinya lembaga ini dipegang oleh rekan dari Trisakti. Kemudian setelah masa jabatannya habis saya menggantikannya,” katanya.

Adri mengisahkan ketertarikannya di dunia pariwisata. Dimana untuk menggeluti dunia pariwisata harus tahu akar pariwisata itu sendiri. Indonesia dengan primadona kepariwisataan di Bali, akarnya pun terletak di Pulau Dewata tersebut. Sadar akan hal itu, ia belajar dan bekerja di Bali selama tiga tahun.

Kepada investor asal Singapura tempatnya bekerja, Adri menyarankan untuk membuka lembaga pendidikan pariwisata di Jimbaran. Sarannya diterima dan bekerjasama dengan Universitas Udayana dan berdirilah Politeknik Negeri Bali. Selama di Bali, ia tinggal di Ubud. Pertimbangannya, Ubud adalah pusat budaya Bali sehingga tinggal di tengah sentra akar pariwisata sangat tepat. “Nawaitu saya adalah mempelajari budaya Bali dan pariwisata, karena Bali termasuk primadona pariwisata dunia,” tambahnya.

Kesimpulan selama mempelajari pariwisata Bali, menurut Adri adalah lekatnya agama Hindu dalam kehidupan masyarakat. Saking kuat dan mengakarnya agama Hindu –bahkan mengalahkan ketaatan masyarakat dalam beragama Hindu di India. Ketaatan masyarakat Bali terhadap agamanya telah menjelma menjadi budaya. Bahkan sebutannya pun sudah menjadi khas Bali, yakni agama Hindu Bali.

“Meskipun demikian, seperti pemeluk agama lain, orang Bali sendiri banyak yang tidak tahu secara detail terhadap arti ritual agamanya,” ungkap penyuka liburan bernuansa “Back to nature” tersebut.

Setelah tiga tahun di Bali, Adri kemudian kembali ke Akpar dan diangkat sebagai Pembantu Direktur (Pudir I). Pengangkatan tersebut, menurut dirinya terkait dengan pengetahuannya mengenai masalah budaya yang dipelajarinya di Bali. “Mungkin dianggap oleh direktur saya sudah menguasai ilmunya selama belajar di Bali. Sebenarnya saya hanya senang karena belajar sesuatu yang menarik untuk dipelajari,” kata kepala keluarga dengan moto “Biarkan anak berkembang secara alamiah dengan dasar pembinaan dan pendidikan yang baik dari kami” ini.

Akpar JIH Sekilas

Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels berdiri pada tahun 1994. Kampus pertama menempati lokasi Hotel Borobudur di Lapangan Banteng Jakarta Pusat selama tiga tahun. Pertama kali berdiri, merupakan program apprentice Hotel Borobudur untuk memenuhi tenaga kerja terampil dan siap pakai untuk memenuhi kebutuhan Hotel Borobudur sendiri.

Seiring dengam jumlah mahasiswa yang terus meningkat, kapasitas kelas tidak mencukupi sehingga lokasi kampus dipindahkan ke Kawasan Niaga Terpadu Sudirman (SCBD) Jalan Jend Sudirman kav 52-53. Dimana di kawasan ini juga terdapat Hotel Ritz Carlton, gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Gedung Artha Graha, Apartemen Capital, Apartemen SCBD, Apartemen Kusuma Chandra, JakTV dan beberapa gedung bisnis lainnya.

Akpar JIH ini merupakan anak perusahaan dari PT Jakarta International Hotels & Development (JIHD) yang juga merupakan induk organisasi Hotel Borobudur. PT JIHD selaku pemilik dari Akpar JIH dan Hotel Borobudur merupakan anak perusahaan dari Bank Artha Graha.

Sampai saat ini, Akpar JIH terus mengembangkan berbagai program yang sesuai dengan kebutuhan industri perhotelan baik dalam keahlian maupun praktek.

Lulusan Akpar JID tidak hanya bekerja di Indonesia, tapi telah menjangkau Amerika, Jepang, Dubai dan Negara-Negara di Timur Tengah termasuk untuk mensuplai tenaga kerja ke Kapal pesiar di Amerika dan Eropa.

Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels merupakan sebuah akademi pariwisata terkemuka di Jakarta yang memiliki komitmen tinggi untuk mengembangkan dunia pariwisata dengan mengembangkan berbagai program pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi yang merupakan tuntutan dari industri pariwisata pada umumnya dan industri perhotelan pada khususnya.

Keahlian yang berbasis kompetensi inilah yang sampai saat ini membantu lulusan Akpar JIH dalam mendapatkan pekerjaan. Dalam penyaluran lulusan, Akpar JIH mendapat bantuan dari beberapa hotel dalam group sendiri seperti Hotel Borobudur, the Ritz Carlton Pacific Place, Prameswari Puncak dan Kartika Plaza Discovery di Bali.

Program praktek lapangan Akpar JIH adalah dengan mengirimkan mahasiswa ke hotel-hotel berbintang lima di Jakarta, Bali, Malaysia dan Singapura.

Selain program pendidikan yang baik, Akpar JIH juga terletak di lokasi yang strategis dan dilalui oleh berbagai angkutan umum dari selurauh area di Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi. Hal ini menyebabkan mahasiswa Akpar JIH datang dari berbagai penjuru kota karena akses angkutan yang mudah dan murah dengan ditunjang oleh jaringan Transjakarta dan suttlebus di kawasan kampus.

Fasilita belajar Akpar JIH terdiri dari kelas ber-AC dengan kapasitas 20 orang per kelas. Selama pelajaran menggunakan multi media seperti Over Head Projector, Video Presentation dan LCD. Tenaga pengajar terdiri dari 37 orang dosen dari praktisi dengan gelar S1 dan S2, serta guest lecturer. Akpar JIH juga dilengkapi dengan perpustakaan dan laboratorium untuk prakterk. Saat melakukan latihan kerja lapangan (PKL) Akpar JIH bekerja sama dengan hotel bintang lima dalam dan luar negeri.

Profil Akpar JIH

Jenjang pendidikan: D1, D3

Jumlah alumni: 300

Ikatan alumni: Ikatan Alumni Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels (ILUNI APJIH), Jakarta International Hotels

Jumlah dosen tetap: 37 (pendidikan S1: 30, S2: 7)

Luas kampus: 2.500 m2

Fasilitas Kampus

Jumlah ruang kuliah: 8

Perpustakaan: luas 50 m2, koleksi buku: 200 judul, 400 eksemplar

Laboratorium: 6 unit (Front Office, Model Room, Kitchen, Restaurant, Laundry, Komputer)

Lembaga penelitian: Lembaga Pengembangan Manajemen Pariwisata (LPMP)

Unit kegiatan mahasiswa: olahraga (sepak bola, basket, badminton, voli, tenis meja, futsal), pencinta alam, rohani Islam, rohani Kristen, kesenian (paduan suara), bela diri (karate), English Club, Bartender Club, out bound

Fasilitas lain: lapangan olahraga, bergabung dengan Artha Graha Group

Akpar JIH melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi lain di luar negeri: HILDIKTRIPARI-Conrad Hilton Huston USA dalam studi banding

Kerjasama dengan instansi/lembaga lain di dalam negeri: Artha Graha Group, Kopertis III Ditjen Dikti

Prestasi:

– Juara I Table Set Up antarakademi se-DKI

– Juara II Food Competition dalam acara Indonesian Food Exhibition

– Masuk dalam 6 besar pada acara Bread Competition yang diselenggarakan oleh Bogasari

Beasiswa: disediakan oleh Jakarta International Hotels and Development bagi mahasiswa berprestasi

HM Anwar Nur, SAg

HM Anwar Nur, SAg
Ketua Yayasan Puspita Bangsa

Mengabdikan Seluruh Hidupnya Bagi Dunia Pendidikan

Totalitas sangat diperlukan untuk keberhasilan sebuah pekerjaan. Dengan totalitas disertai loyalitas tinggi, kesuksesan dari pekerjaan bertambah besar. Namun, semua tidak bisa didapat dengan mudah karena harus melalui rentang waktu yang panjang dan penuh perjuangan. Seseorang dengan totalitas dan loyalitas terhadap sebuah pekerjaan akan menekuninya sepenuh hati sepanjang hidupnya.

Seperti yang dilakukan oleh HM Anwar Nur, SAg, pada dunia pendidikan. Ketua Yayasan Puspita Bangsa ini sejak awal mendedikasikan hidupnya untuk menyebarkan ilmu pengetahuan. Ia memulainya saat usianya masih sangat muda, yakni selepas Pendidikan Guru Agama (PGA) yang setingkat SLTA. Tujuannya, kalau ia dengan kondisinya mampu menempuh pendidikan formal, orang-orang dengan kondisi di bawahnya pun harus bisa seperti dirinya.

“Setelah lulus PGA tahun 1964, saya mulai mengabdikan diri di masyarakat, mengajar di SD dan Madrasah Al Hidayah. Satu tahun kemudian bersama dua puluh rekan lain saya ditugaskan melanjutkan pendidikan ke IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Saya tetap berpikir bagaimana kawan-kawan di bawah kita untuk terus belajar dan sekolah. Makanya saya bersama rekan-rekan dan Dosen IAIN mendirikan sekolah (PGA/SD) untuk pertama kalinya di kami menumpang di IAIN selama tiga tahun dan di Madrasah Al Hidayah sampai tahun 1976,” katanya.

Pendirian sekolah tersebut, lanjutnya, adalah upaya yang lahir dari keprihatinannya terhadap kondisi pendidikan di Ciputat dan sekitarnya. Tahun 1960-an, di wilayah Ciputat hanya terdapat sekolah dasar saja, sehingga bagi anak-anak yang ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi harus ke Jakarta. Ia mengingat bagaimana SMP satu-satunya yang dibuka masyarakat “bubar” begitu saja. Sekolah lain pun bernasib sama karena minat masyarakat terhadap pendidikan pun sangat kecil.

Meskipun demikian, Anwar dan kawan-kawan tidak berputus asa. Ia kemudian membuka PGA Islam sampai dengan SMP dan SMEA menyusul PGA (belakangan berganti menjadi Aliyah dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Keterampilan Keluarga (SMKK) dan Madrasah Aliyah (MA) kemudian dibangunnya. Saat itu, sebagai pengajar dalam lingkungan Departemen Agama dan pemilik yayasan, ia diangkat sebagai pengawas Pendidikan Agama Kabupaten Tangerang.

“Alhamdulilah sekolah yang saya kelola sejak tahun 1965 semakin maju. Sekarang ini, bangunan sekolah mencapai tiga lantai yang dikelola yayasan pimpinan saya. Kalau zaman dahulu, di Ciputat memang tidak ada sekolah yang sampai tingkat menengah. Hanya SD saja, itupun adanya di tingkat kecamatan. Itulah yang memanggil saya untuk bergerak di bidang pendidikan sampai sekarang ini,” kata pimpinan empat yayasan yang bergerak di bidang pendidikan ini.

Modal Nekat

HM Anwar Nur, SAg, sejak kecil terbiasa berjuang hidup karena kondisinya yang serba kekurangan. Pada usia tiga bulan, ayahnya terpisah sampai meninggal dunia sehingga ia dibesarkan seorang diri oleh sang ibu. Berbagai kesulitan harus dihadapinya, karena ibunya hanya berjualan kue dan menumpang hidup di sekolah. Oleh karena itu, sejak kecil ia terbiasa membantu orang tua untuk menyambung hidup.

“Saya dibesarkan dengan berbagai usaha untuk membantu orang tua. Salah satunya adalah dengan berjualan kue di sekolah. Tahun 1958, saya masuk SMP 11 Melawai, Jakarta Selatan, karena di Ciputat belum ada SMP. Di tengah berbagai keterbatasan yang saya miliki -jangankan untuk bayar SPP, pakai seragam dan sepatu saja sudah tidak memadai- saya pulang pergi numpang truk pasir,” kisahnya.

Keterbatasan biaya, membuat Anwar harus drop out dari sekolah SMP. Di saat bersamaan, PGA Tangerang sedang mengadakan ujian masuk. Tidak menunggu waktu lama, ia mengikuti tes yang dilaksanakan oleh Kandepag Kabupaten Tangerang. Ia sangat bersyukur diterima di PGA dan dititipkan oleh kakeknya kepada Kepala Sekolah PGA di rumahnya. Di rumah Kepala Sekolah, ia bertugas membantu pekerjaan rumah tangga seperti menimba air dan mengepel lantai.

“Alhamdulilah, setelah satu tahun di PGA saya terpilih di antara 20 pelajar yang memperoleh Ikatan Dinas dengan nilai tertentu. Dari situ saya memperoleh biaya melanjutkan sekolah. Setelah satu tahun, saya memutuskan untuk keluar dari rumah Kepala Sekolah. Dengan dana ID sebesar Rp4500, saya bisa menyelesaikan sekolah pada tahun 1964,” tegasnya.

Lulus dari PGA, Anwar mendapat kesempatan untuk melanjutkan kuliah di IAIN. Pada saat bersamaan, ia juga mendirikan sekolah bersama kawan-kawan dengan menumpang di gedung IAIN. Aktivitasnya di organisasi kepemudaan seperti PII, IPNU, PMII, Karang Taruna, dan KOSGORO termasuk koperasi dan lain-lain membuat langkahnya lebih mudah. Bahkan, karena kiprahnya di dunia pendidikan yang sangat fenomenal melalui jalur ormas KOSGORO, ia akan diangkat sebagai anggota DPR di zaman pemerintah Presiden Soeharto.

“Tahun 1990, saat membuka Yayasan Puspita Bangsa itu benar-benar tanpa modal sama sekali. Bahkan sejengkal tanah pun saya tidak punya, saya tidak memiliki warisan, hanya modal tekad saja. Ibu meminta saya untuk mendirikan pondok pesantren, panti asuhan. Modal kita hanya kemauan,” tandasnya.

Namun modal nekat Anwar telah membuka jalan seluas-luasnya bagi keinginan mulianya tersebut. Dana yang dimiliki saat itu sebesar Rp500 ribu, nekat dibelikan batu dan pasir masing-masing dua truk. Ia tidak berpikir untuk membangun gedung juga memerlukan semen. Namun, entah dari mana datangnya berbagai bantuan melengkapi material yang dibutuhkannya. “Semen saja tidak kebeli saat itu. Tetapi Alhamdlulilah secara bertahap saya membangun perlahan-lahan,” ungkapnya,

Dalam membangun sekolah, Anwar mendisain serta memantau sendirian. Mulai rencana, konsep, IMB, izin operasional dan pembangunan yayasan sendiri. Baru setelah mulai terbentuk bangunan dan beroperasi, ia merekrut orang untuk membantu mengurus di yayasan yang didirikannya. Setahap demi setahap, ia membangun lokal kelas sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan keuangan. Perlahan namun pasti, perluasan kompleks sekolah dan bangunannya pun semakin meningkat.

“Ya bertahap semuanya, kalau saya butuh dua lokal saya bangun dua lokal, sampai selesai bertingkat tiga. Begitu seterusnya, setahap demi setahap sampai sekarang luas tanah total 3000 meter persegi. Pokoknya kita terus melakukan pembangunan lokal kelas ini, meskipun kadang hanya tiga tukang yang bekerja. Ahamdulilah sampai sekarang masih ajeg berjalan dan insya Allah tahun depan cita-cita saya untuk membuat pesantren dan panti asuhan tercapai. Modal saya benar-benar cuma nekat, keberanian, semangat dan ketekunan,” tuturnya.

Terus Berbuat

Yayasan Puspita Bangsa dibawah pimpinan HM Anwar Nur, SAg, memiliki 100 orang guru dan karyawan dengan 1200 siswa. Namun, ia dianggap “bertangan dingin” dalam mengelola yayasan sehingga ke pundaknya dibebankan beberapa yayasan sekaligus. Selain Yayasan Puspita Bangsa, ia juga memimpin Yayasan Al Hidayah dengan 700 siswa dan Yayasan Islamiyah dengan 2500 siswa.

“Sekarang ditambah satu yayasan lagi di Gunung Sindur. Yang jelas, saya tidak bisa diam dan terus berbuat. Saya bukannya tidak mau mengestafetkan kesibukan ini, tetapi memang harus ada kesibukan bagi saya. Jadi sampai hari ini masih saya tangani sendiri kalau ada masalah,” tandasnya.

Mengisahkan sekolah-sekolah di Yayasan, Anwar sangat bersyukur bisa memberikan yang terbaik bagi para siswa. Selain gedung tiga tingkat lengkap dengan sarana dan prasarana penunjang pendidikan seperti perpustakaan, Lab. Bahasa, Lab. Komputer dan Lab. IPA, serta ekstra kurikuler sesuai dengan keinginan dan bakat anak didik pun tersedia. Mulai basket, futsal, beladiri, Pramuka dan lain-lain disediakan sekolah. Ia menyadari bahwa para siswa yang berdatangan dari kampung-kampung di sekitarnya tersebut sangat haus ilmu pengetahuan. Dengan pembinaan yang tepat, ia berharap mereka akan tumbuh menjadi generasi muda penerus bangsa yang handal.

“Alhamdulilah, anak-anak yang sekolah di SMK Pariwisata Puspita Bangsa, yang belum lulus pun sudah banyak diminta oleh hotel-hotel. Kalau yang sudah lulus banyak yang bekerja di hotel-hotel, swalayan, kapal pesiar, bahkan ada yang bekerja di Malaysia sebagai manager hotel. Saya bangga sekali melihat keberhasilan anak didik lulusan dari sini. Kebanggaan itu tidak bisa diukur dengan materi,” kata pria yang menganggap keberhasilan tersebut semata-mata karena Allah tersebut. “Bukan karena saya yang tidak ada apa-apanya ini,” cetusnya.

Ia mengisahkan bagaimana dengan gaji Rp4 ribu pada tahun 1970-an yang tidak cukup untuk makan selama satu minggu, tetapi mampu membiayai adik-adiknya. Bahkan ketika sudah diangkat sebagai pengawas yayasan dengan gaji Rp150 ribu, ia mampu membangun gedung sekolah dan membeli rumah. “Kalau pakai rasio matematika tidak bakal ketemu. Tetapi matematika Allah melampaui semuanya, makanya saya pasrah saja kepada Allah,” imbuhnya.

Kepada pemerintah yang telah memberikan bantuan berupa BOS, BOM dan RKB, HM Anwar, SAg, menyatakan rasa terima kasihnya. Sedikit banyak, yayasan sangat terbantu atas kebijakan pemerintah tersebut. Ia juga sangat bersyukur karena pemerintah telah memberikan bantuan untuk sarana dan prasarana sekolah, sehingga tidak ketinggalan dengan sekolah lain.

“Kita juga menyediakan sarana IT yang memadai. Karena sebagai pendidik, saya menganggap kita harus mengikuti perkembangan. Jadi kalau sekolah lain sudah mengenal internet kita juga tidak ketinggalan, agar anak-anak kami berkembang menjadi pintar karena internet menyediakan segalanya. Tetapi tergantung anaknya juga bagaimana mereka belajar. Bagitu juga dengan generasi muda, mereka harus belajar yang baik dan menimba pengalaman seluas-luasnya. Karena generasi muda harus siap dalam menghadapi semua kesulitan di tengah era globalisasi dunia,” kata HM Anwar Nur, SAg.

Visi dan Misi Yayasan Puspita Bangsa

Visi:

“Sebagai lembaga pendidikan Islam berusaha membentuk kader umat yang beriman, bertaqwa serta berwawasan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertanggung jawab pada dirinya, agama, bangsa dan negara”

Misi:

1.    Menyelenggarakan pendidikan dasar menengah sampai perguruan tinggi
2.    Mengadakan kajian-kajian dalam bidang ilmiah, keagamaan, teknologi dan kemasyarakatan
3.    Mengembangkan kreativitas peserta didik dalam memilih bakat dan kemampuannya
4.    Membantu pemerintah dalam bidang sosial, ekonomi dan budaya

Ir. Bambang Wijaya Putra, MM

Ir. Bambang Wijaya Putra, MM
Direktur Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Medan

Pendidikan Berkualitas Akan Meningkatkan Pelayanan Penerbangan

Dibesarkan dalam keluarga sederhana berlatar belakang militer yang kental dengan disiplin tinggi, terbawa dalam keseharian hidup Ir. Bambang Wijaya Putra, MM. Ayahnya, almarhum Musa Muhidin adalah seorang anggota TNI yang selalu menjunjung tinggi disiplin, berjiwa ksatria serta memiliki cita-cita mulia untuk memajukan bangsa dan negara.

“Semua itu beliau wujudkan dengan memulai dalam lingkungan keluarga sendiri. Jadi orang tua saya selalu menerapkan kepada anak-anaknya agar selalu berdisiplin, menghargai waktu dan mengerjakan segala sesuatu dengan hasil yang baik. Ayah sering mengatakan kepada saya bahwa ‘hidup kita harus dapat bermanfaat bagi diri sendiri, lingkungan sekitar dan selalu bekerja dengan hasil yang terbaik disertai hati yang ikhlas,” kata Direktur Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Medan ini.

Kebiasaan disiplin yang sudah tertanam sejak kecil terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Seperti saat bermain mobil-mobilan –permainan yang paling digemarinya- bersama teman sepermainan, ia selalu berperan sebagai pengatur lalu lintas. Tugasnya mencegah agar mobil teman-temannya tidak saling bertabrakan satu sama lain sehingga permainan menjadi lebih asik dan teratur. “Mungkin pendidikan dalam keluarga membuat saya ingin segala sesuatu berjalan teratur dan disiplin bahkan sampai hal kecil sekalipun,” imbuhnya.

Kebiasaan tersebut, lanjut Bambang, terus terbawa ketika meniti karier sebagai seorang Teknisi Penerbangan di Bandara Sultan Machmud Badaruddin II -dahulu dikenal dengan Bandara Talang Betutu- Palembang pada tahun 1981.  Sejak itu, ia menanamkan tekad dan cita-cita untuk menjadikan penerbangan yang aman, tertib, teratur, baik dan nyaman. Apalagi, ia sadar bahwa di dunia penerbangan tidak ada ruang sekecil apapun untuk melakukan satu titik kesalahan.

Dalam menekuni kariernya, Bambang terus mencoba berpikir dan menganalisa faktor apa yang terpenting dalam dunia penerbangan. Sampai suatu saat ia memiliki kesimpulan bahwa satu hal yang terpenting dalam dunia penerbangan adalah masalah pendidikannya. Yaitu bagaimana mendidik sumber daya manusia (SDM) di penerbangan yang handal, penuh disiplin, profesional dan tidak mentolerir kesalahan. Berdasarkan pemikiran seperti itu, ia kemudian memutuskan untuk memfokuskan karier pada dunia pendidikan yaitu pendidikan penerbangan.

“Sampai saat ini saya mengemban amanah untuk memimpin sebuah Pusat Pendidikan Penerbangan di Medan yaitu Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan Medan. Dari pengalaman saya, jelas terlihat bahwa untuk menciptakan sebuah pelayanan penerbangan yang aman, tertib, teratur, disiplin, dan nyaman dibutuhkan SDM yang handal, unggul dan professional di bidangnya. Nah, untuk membentuk SDM seperti kriteria tersebut dibutuhkan proses pendidikan yang baik,” kata Direktur ATKP yang sudah empat tahun menjabat ini.

Sekilas ATKP Medan

Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan Medan (ATKP Medan)  merupakan salah satu UPT dibawah Badan Diklat Perhubungan. Tugasnya adalah berperan aktif dalam menciptakan SDM perhubungan yang terbaik. Berdiri sejak 1989 dengan nama Pusdiklat Medan dan berganti nama menjadi Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan. ATKP Medan berlokasi di ibukota provinsi Sumatera Utara yang didirikan dengan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KM. 80 tahun 1999, tanggal 13 Oktober 1999 tentang Pendirian Akademik Teknik dan Keselamatan Penerbangan.

ATKP menyelenggarakan pendidikan profesional program diploma bidang teknik dan keselamatan penerbangan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Pendidikan profesional menekankan penerapan keahlian bidang teknik dan keselamatan penerbangan dan pembentukan kompetensi untuk menangani pekerjaan menurut praktik-praktik yang berlaku secara umum dalam bidang teknik dan keselamatan penerbangan.

Penelitian bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan, pengalaman dan daya nalar untuk berperan serta dalam memecahkan permasalahan di dunia penerbangan. Pengabdian kepada masyarakat bertujuan menjalin hubungan antara ATKP dengan dunia penerbangan dan masyarakat melalui kerjasama yang saling menguntungkan.

ATKP Medan memiliki tujuan, untuk;
Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat penerbangan yang memiliki kemampuan profesional di bidang teknik dan keselamatan penerbangan
Menyebarluaskan ilmu pengetahuan di bidang teknik dan keselamatan penerbangan serta mengupayakan penerapannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional
Mengembangkan penerapan ilmu pengetahuan dalam bidang teknik dan keselamatan penerbangan

Tugas ATKP Medan, adalah:
Melaksanakan pendidikan profesional program diploma bidang keahlian teknik penerbangan dan keselamatan penerbangan
Melaksanaan dan pengembangan pendidikan profesional yang meliputi pengajaran, pelatihan dan pembinaan
Melaksanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat
Mengelola perpustakaan, laboratorium, sarana dan prasarana lainnya
Membina civitas akademika dan hubungannya dengan lingkungan

“Sebagai pimpinan di sini, saya menerapkan pendidikan yang berdisiplin tinggi, menghargai waktu dan profesional pada bidang masing-masing. Saya juga menekankan agar mereka selalu mempersembahkan kinerja terbaik yang dilandasi dengan perasaan ikhlas dalam melaksanakan tugas-tugasnya,” tandasnya.

Profesi Mulia

Ir. Bambang Wijaya Putra, MM menuturkan ketertarikannya menekuni profesi sebagai pendidik. Semua dilandasi pemikiran untuk membentuk dan melahirkan SDM handal dan profesional di bidang penerbangan. Berdasarkan  pengalamannya, ia tahu betul harapan masyarakat di bidang tersebut. Masyarakat sangat mendambakan terciptanya pelayanan jasa transportasi penerbangan yang professional, aman, teratur, tepat waktu, bersih dan nyaman.

Lebih jauh lagi, lanjut Bambang, masyarakat membutuhkan sebuah pelayanan transportasi penerbangan yang dapat menghubungkan manusia yang terpisah jarak dan waktu. Terhubungnya manusia antar wilayah tersebut akan mendukung perekonomian negara sehingga roda perekonomian dan pemerintahan dapat berjalan lancar. Dampak lebih nyata, kesejahteraan masyarakat semakin meningkat akibat terselenggaranya pelayanan transportasi penerbangan yang baik.

“Saya menekuni profesi ini karena menurut saya merupakan salah satu profesi yang mulia. Bayangkan, kita membentuk dan melahirkan SDM handal dan profesional yang bekerja di bidang penerbangan. Saat ini, yang saya lakukan adalah semakin meningkatkan kemampuan diri sendiri dan kualitas SDM yang kami latih. Mengingat tantangan ke depan semakin tinggi yang membuat kita belum bisa berpuas diri. Bekerja dan mengabdi kepada negara, pemerintah dan masyarakat adalah apa yang dapat kita berikan dan kita persembahkan kepada negara. Bukan apa yang telah negara berikan kepada kita,” tegasnya.

Bambang merasa “biasa” menghadapi suka, duka dan kendala dalam menjalani profesi sebagai seorang pendidik. Baginya, semua itu merupakan riak dan gelombang yang harus dilalui dalam perjalanan kariernya. Ia mencontohkan bagaimana perasaan bangga membuncah dalam hatinya ketika SDM yang dibentuk berhasil memasuki dunia kerja sebagai profesional di bidang penerbangan.

“Inilah hal yang membanggakan saya. Tetapi duka dan sekaligus menjadi tantangan bagi saya adalah sampai saat ini belum dapat menghasilkan seseorang yang profesional dalam dunia penerbangan yang sebaik dan setara dengan tenaga di negara lain. Inilah yang menjadi tantangan terbesar bagi kita semua untuk terus memompa semangat belajar, berdisiplin dan terus menerus berinovasi sehinggga tidak tertinggal jauh dari negara lain,” tambahnya.

Sebagai seorang pendidik, Bambang menyadari peran dan fungsinya sebagai ujung tombak pemerintah. Seorang pendidik mengemban tugas untuk meningkatkan kecerdasan generasi muda penerus bangsa, mewarnai masyarakat Indonesia dengan berbagai disiplin ilmu dan membentuk sumber daya manusia yang professional dan handal di bidangnya masing-masing.

“Khusus bagi saya adalah membentuk SDM perhubungan udara menjadi yang terbaik berstandard internasional dan dapat diandalkan. Bentuk yang kami berikan berupa pendidikan dan pelatihan yang baik untuk turut serta mencerdaskan bangsa melalui dunia penerbangan,” tandasnya.

Menurut Bambang, dunia pendidikan Indonesia –termasuk pendidikan penerbangan- akan semakin baik di masa mendatang. Perhatian pemerintah terhadap pendidikan yang semakin besar sangat membantu kemajuan di bidang tersebut. Termasuk krisis global yang cukup memukul pendidikan penerbangan –yang merupakan pendidikan berbiaya besar- tetapi ia yakin semua akan cepat kembali berjalan dengan normal.

“Marilah kita buat agar krisis keuangan global menjadi tantangan dan motivasi dalam berjuang memajukan bangsa ini. Yang jelas, saya sangat optimis dunia pendidikan di Indonesia akan semakin baik, itu menjadi tugas kita bersama untuk mewujudkannya. Untuk sementara ini, prioritas SDM pendidik sebaiknya ditingkatkan lagi. Bahkan, peningkatan kualitas dan kuantitas pendidik menjadi prioritas utama,” ungkapnya.

Bambang semakin optimis melihat perkembangan generasi muda Indonesia sekarang ini. Mereka memiliki kemampuan untuk semakin maju asalkan mendapat kesempatan, dukungan dan kepercayaan dari para seniornya. Generasi muda harus memiliki bekal pengetahuan, ilmu serta keterampilan agar mampu melanjutkan kepemimpinan bangsa di masa mendatang.

“Modal awal dari semua usaha adalah kepercayaan. Generasi penerus bangsa kita harus kita beri ilmu, kesempatan dan kepercayaan. Saya optimis dan percaya dengan mendidik generasi penerus bangsa dengan sebaik-baiknya, dengan hati ikhlas dan bertujuan baik, maka generasi penerus bangsa akan membawa negara kita ke arah yang lebih baik dan semakin baik. Amin….,” pungkas Ir. Bambang Wijaya Putra, MM.

Prof. Dr. Djohar MS

Prof. Dr. Djohar MS
Rektor Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa

Program E-Learning di Indonesia Terganjal Absensi

Model system on line atau yang kita kenal  e-learning merupakan salah satu bagian dari  tuntutan dari pengembangan teknologi computer guna memberikan kemudahan umat  manusia dalam mengakses teknologi IT. Dengan adanya model ini diharapkan kekurangan atau kebuntuan  persoalan komunikasi  dapat terpecahkan. “model on line bisa kita buka dan kita dapatkan naskahnya begitu….. lebih terbuka dan dosen bisa memberikan in-put kepada mahasiswa secara cepat, “ demikian Profesor. Doktor Djohar, Ms, mengungkapkan permasalahan itu.

Memang teknologi IT belakangan ini begitu pesat, sehingga dengan metode belajar e-learning, peserta atau siswa didik  diharapkan dapat menyerap dan menangkap pesan-pesan yang disampaikan guru atau dosen dengan mudah, dan tidak perlu lagi sibuk mencatat atau mendengarkan perkuliahan. Menurut professor Djohar, metode ini bisa memberikan interaksi langsung, yang selama ini terbatas atau mengalami kemacetan komunikasi. “Meski begitu bukan tidak ada kelemahannya dari metode ini.”

Dikatakan, professor Djohar,  anak-anak menjadi subjek dari metode pengajaran metode pengajaran tersebut. Intinya, metode ini memberikan kemudahan kepada siapa pun subjeknya, dan mereka tinggal mengisi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan dalam system on model e-learning  ini, seperti model latihan lks. “memang  ada baik buruknya juga model ini”. Meski system ini sedang ngetrend atau di kalangan pendidikan, bukan berarti tidak ada titik kelemahannya. Setiap program yang dibuat manusia, pasti  ada saja kekurangannya, tapi setidaknya  ini merupakan sebuah terobosan baru bidang IT.

“Untuk informasi teknologi ini lebih cepat, tapi sekali lagi masih ada persoalan loadingnya,”tuturnya. Djohar yang juga rektor universitas sarjanawiyata taman siswa ini menambahkan program ini harus betul-betul terdisain, jadi bukan hanya sekedar memberikan bahan tulisan atau materi ujian kepada mahasiswa, tapi juga metode ini juga menuntut keaktifan dosen atau tenaga pengajar atau instruktur dalam menganalisa atau membuat materi perkuliahan atau pendidikan.

“Jadi dosen bisa memberikan email kepada mahasiswanya, dan begitu sebaliknya, “pungkas Djohar. Selain itu cara ini juga benar-benar sangat efektif dan memangkas waktu yang selama ini sering terkendala oleh berbagai hal pekerjaan lain. Menurutnya, dibutuhkan waktu untuk senantiasa mengontrol atau melihat-lihat email atau bentuk website lainnya dalam rangka mempercepat kinerja. Sistem kerja secara on-line memang telah mengejala saat ini, baik  di kantor-kantor, perusahaan maupun dunia jurnalistik serta pendidikan.

Menurut profesor Djohar, system ini bisa terpakai  tergantung  subjek dan objeknya, kalau memang harus dikerjakan pada saat itu juga, atau by doing, kenapa tidak, tegasnya, dosen bisa menuliskan atau merubah  naskah ujian atau bahan materi perkuliahan secara cepat dan tepat. “Tapi harus ada objeknya.” Cara ini sangat tepat, khususnya bagi pengajaran jarak jauh atau antar pulau dan negara. Dikatakan, metode ini bisa artinya diistilahkan  dengan objek study, bukan lesson study seperti yang selalu dibicarakan.

Profesor Djohar mengatakan metode ini bisa cepat kita dapatkan atau perlukan, tatkala kita memerlukan modul-modul pembelajaran dari dalam dan luar negeri. “Saya banyak memberikan modul-modul perkuliahan ke Malaysia dan negara-negara lain.” Sebenarnya menurut Djohar, kita mestinya bangga dengan modul-modul yang ditulis bangsa sendiri, bukan bangga dengan modul yang ditulis bangsa asing. “Kita ini sama instrument, baik fisik, otak  dan kemampuan yang lainnya. Tuhan memberikan kemampuan yang sama kepada setiap makhluknya, tinggal bagaimana memanfaatkan kelebihan yang diberikan itu untuk membuat bahan-bahan atau modul yang berguna bagi pendidikan ata ilmu pengetahuan.

“Saya ini banyak memberikan modul kepada mahasiswa dan dosen, dengan memanfaatkan teknologi program  e-learning ini. Namun saat ini yang sangat saya sayangkan, ada dosen yang menulis yang semestinya untuk program pascasarjana doctor, tapi menuliskan modulnya diberikan untuk pascasarjana, “ini kan tidak benar.” Semestinya mereka memahami apa yang harus mereka berikan dan tidak menyimpangkannya.

Menurut Djohar, system e-learning baik kalau menempatkan pada tempat yang seharusnya.”Tergantung tempat, situasi dan posisi antar kita, jadi tidak harus begitu begitu.”Tidak boleh ada pemaksaan dari dosen terhadap anak didik atau mahasiswa, system perkuliahan di zaman sekarang dengan teknologi serba tinggi, semestinya perkuliahan bisa dilaksanakan di mana saja, dan kapan saja. “Perkuliahan itu kan bisa dilaksanakan di café, di taman atau di ruangan terbuka, tidak harus di ruang kuliah atau dosen.”

Dengan teknologi serba tinggi, semestinya perkuliahan bisa dilaksanakan di mana saja, dan kapan saja. “Perkuliahan itu kan bisa dilaksanakan di café, di taman atau di ruangan terbuka, tidak harus di ruang kuliah atau dosen.”

Djohar mengungkapkan dibutuhkan peran aktif dari dosen untuk membuat program perkuliahan dengan teknologi on-line ini, artinya dosen dan mahasiswa sama-sama aktif untuk membuka computernya dan menanggapi atau membuah naskah atau modul untuk disampaikan kepada mahasiswa. “Dosen itu harus punya web, dan mereka mahasiswa juga harus punya, kalau tidak sulit untuk menjalankan metode online tersebut, “katanya.

Menurut profesor Djohar, metode ini telah dilakukan di fakultas ekonomi secara keseluruhan dikampusnya universitas sarjanawiyata taman siswa. “Cara ini dapat juga dimanfaatkan mahasiswa untuk melihat nilai-nilai hasil ujiannya, baik ujian tengah semester maupun akhir semester. “Kalau ini tidak dibuka-buka mahasiswa, mereka akan kesulitan mengetahui hasil ujian maupun materi perkuliahan, semestinya dosen juga harus memberitahukan bahwa materi atau hasil ujian telah disampaikan melalui system online computer e-learning, jadi bisa lebih cepat.

“E-learning dan e-library, jadi perpustakaan kita telah digital, apa pun yang diinginkan mahasiswa untuk memperoleh informasi buku atau skripsi dapat dengan cepat diperoleh, “jelasnya. Menurut Djohar dengan mengambil contoh di Manila, Philipina, di negara itu, program dan metode pembelajarannya selain tidak fleksibel juga acapkali berubah-ubah, dan ini menyulitkan mahasiswa dan siswa. “Kalau yang lain-lain sich sama.”

Djohar menambahkan, metode e-learning telah menarik mahasiswa dan dosen untuk saling berkomunikasi dengan baik, dan ini juga memberikan kepercayaan diri mahasiswa, bahwa di era teknologi seperti sekarang, mereka harus bisa mengerti, dan tidak minder. “Sebenarnya program ini sudah lama, hanya saja baru diterapkan baru-baru ini saja.”

“Sejak jadi rektor 2002 sudah menjamur program ini, “jelasnya. Sementara,  bicara teknologi dengan luar negeri tidak ada yang berbeda, sama saja. “Hanya substansinya saja yang berbeda, seperti di Australia, misalnya.”Hal yang sama juga terjadi di Malaysia, dimana pendidikan menjadi yang nomor satu, sehingga mereka lebih maju. Kini, bagaimana antara pendidikan dan pembelajaran seimbang, di Australia, mereka belajar sendiri-sendiri, tapi ini bukan sebuah solusi, sebab di negeri kita ini pendidikan merupakan yang pokok, agar siswa didik dapat belajar etika dan pola tingkah laku yang baik.

Kini tuturnya bagaimana membuat program yang baik, dan dapat mengarahkan anak-anak menjadi mahasiswa yang unggulan. “Namun semua itu kembali kepada substansi materi yang diberikan, apakah muatan pendidikannya dapat diakali ke dalam materi tersebut, dan ini tergantung besar kecilnya juga bobot pendidikan yang dimuatkan ke materi pembelajaran, “pungkasnya Menurutnya lagi, kurangnya pemanfaatan ilmu pengetahuan ke dalam bobot materi yang diberikan kepada mahasiswa, membuat  mereka hanya menerima pengetahuan saja.

Ironinya Administrasi Absensi

Profesor Djohar menjelaskan, kendati di kampus sarjanawiyata taman siswa telah diterapkan metode e-learning, namun para dosennya tetap diwajibkan untuk hadir di ruang perkuliahan, mahasiswa tetap diwajikan untuk absensi. “Jika mereka berhalangan datang, ya saya anggap tidak hadir, “begitu tandasnya. Hal inilah yang menurutnya juga menjadi belenggu bagi pemanfaatan model-model teknologi atau kemacetan IT. Perkuliahan di Indonesia, sulit untuk tidak melupakan administrasi absensi. “Ini merupakan hal yang wajib dilakukan dosen untuk mencatat  kehadiran para mahasiswa, itulah yang membedakan perkuliahan di negeri kita dengan di luar negeri. “Meskipun mahasiswa saya sudah mengirimkan email dan menjawab pertanyaan yang saya berikan dari Jakarta, kalau mahasiswa saya tidak hadir maka saya anggap bolos alias tidak hadir.”Inilah yang membelenggu pendidikan kampus di Indonesia, “tuturnya ironi.

Menurut Djohar, hancurnya pendidikan di Indonesia, lantaran tidak fleksibelnya kampus-kampus yang terdapat di Indonesia, mereka acapkali mengancam dosen yang tidak absensi dengan tidak membayar honor mereka. Inikan sangat ironi, dan merugikan semua pihak. “Bagi kampus ini merupakan sebuah ketentuan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, jika dosen masih mau tetap mengajar, mereka harus ikut aturan kampus, dan tidak mengambil sikap sendiri-sendiri, “jelasnya.

“Ini saya pernah alami, dan tetap saja saya dirugikan, tapi sudahlah, “celotehnya. Model online menurut Djohar cukup efektif, tapi faktor kehadiran siswa, menjadi persoalan besar bagi berjalannya system ini. “Kalau memang mau online,  ya  harus online semuanya, tidak separuh-paruh.”

Profesor Djohar mengatakan sangat menentang system yang membelenggu perkembangan teknologi saat ini. Sistem online telah mendidik kecepatan memperoleh atau akses informasi dengan cepat. “Semestinya lagi, kampus memahami hal itu.” Kalau ingin maju buatlah system yang maju, sebaliknya kalau mundur, “ jangan harap katanya.

Djohar yang tidak setuju kampus mempasung IT, menyarankan agar persoalan  teknologi informasi segera dapat dicarikan jalan keluarnya. Mengingat teknologi komunikasi telah mengajarkan kita untuk mempercepat segala persoalan atau langkah hubungan komunikasi keduabelah pihak, yakni komunikator dan komunikan. “Buat apa ada laptop dan netbook, seandainya kampus memasung perkembangan teknologi komunikasi informasi dengan urusan absensi, “tuturnya mengulang kembali cerita sebelumnya.

Dengan pemanfaatan computer sebagai sarana mempercepat hubungan komunikasi secara langsung, telah memberikan warna tersendiri bagi persoalan manusia. Nyatanya menurut Djohar, pihaknya mendapat banyak cara memberikan pemahaman kepada mahasiswa, baik berupa tulisan maupun gambar-gambar yang dapat dicerna mahasiswa.
“Kalau saya mengajar cukup dengan memberikan gambar-gambar digital dengan modul yang telah saya program terlebih dahulu, “jelasnya. Profesor Djohar juga menceritakan dirinya mengajar di berbagai kampus di negeri dan swasta, serta mendapat honor yang tidak begitu besar. “Kalau di UIN saya mendapat honor yang cukup tinggi, dan ini telah sesuai dengan keringat, dan ilmu yang saya peroleh, “tuturnya.

Ia mengatakan selama mengajar kerap menggunakan teknologi informasi, sehingga tidak sulit atau capai mengeluarkan seluruh tenaga. Cukup dengan memberikan perkuliahan dalam bentuk modul-modul dan email, maka seluruh perkuliahan seselesai.”Saya dengan teknologi, maka saya bisa mengefesiensikan tenaga dan pikiran, “jelasnya. Perkembangan teknologi e-learning telah popular di Indonesia, seyogyanya ini diikuti oleh seluruh kampus lainnya, agar mereka juga maju dan tidak ketinggalan zaman.

Kampus-kampus harus bisa menerapkan teknologi e-learning, atau kalau tidak maka ia akan tertinggal atau paling tidak  belajar dengan melaksanakan study banding  ke  kampus-kampus  yang  telah lebih dahulu menerapkan metode ini. “Ini cukup efektif dan baik, agar teknologi ini berkembang.”Saya memasukan bahan  kuliah ke internet dan mentranfernya ke mahasiswa. Ini tidak lain agar mahasiswa bisa belajar di rumahnya, tanpa harus tertinggal catatan atau pekerjaannya. Sebelum mengirimkan seluruh bahan saya konsep terlebih dahulu, agar tertata dengan baik. Ia mengatakan merasa bangga dengan mahasiswanya yang telah memahami teknologi IT ini, dan berhasil mengantarkan mahasiswa bimbingannya meraih gelar ke sarjanaan secara cum laude.

Model e-learning tidak harus dilakukan di gedung, tapi bisa di sawah, di laut dan di ruang tamu atau rumah. Sekali lagi, profesor Doktor  Djohar Ms, menekankan pentingnya pemanfaatan IT e – learning, khususnya membantu teman-teman yang membutuhkan informasi pihaknya. E-learning menurutnya juga sangat efektif untuk semua orang. Dengan lima fakultas yang ada, diharapkan kampusnya dapat menggunakan system ini secara cepat dan tepat guna. “Khususnya dalam pemanfaatan ketidaktahuan mahasiswa, maupun dalam praktik diskusi dan seminar, “jelasnya mengakhiri perbincangan.

Drs. Joko Santoso

Drs. Joko Santoso
Kepala SMP Negeri 142 Jakarta

Beberapa Kali Menghindar, Suratan Takdir Membawanya Menjadi Guru

Sosok Drs. Joko Santoso, tidak pernah bercita-cita untuk menjalani profesi sebagai guru. Bahkan dalam mimpi terburuk pun tidak terbersit keinginan menjadi pahlawan tanpa tanda jasa itu. Tetapi suratan takdir menentukan lain, sejak lulus SMA jalan hidupnya mengarah ke sana. Ia diterima sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Olahraga (STO) Semarang.

“Saya tidak tahu kalau STO itu sekolah calon guru. Makanya waktu lulus saya tidak mau mengajar karena memang dasarnya tidak senang menjadi guru. Saya mendaftar dan mengikuti seleksi wajib militer, diterima. Tetapi ketika datang ke Jakarta, ternyata pendidikan ditunda satu tahun karena prioritas lulusan Akademi Perawat dan Kedokteran. Sementara Jurusan Olahraga separuh dipulangkan, termasuk saya. Padahal di rumah sudah mengadakan syukuran,” kata Kepala SMP Negeri 142 Jakarta ini.

Terlanjur malu, ia kemudian “eksodus” dari Jakarta menyeberangi Selat Jawa menuju Lampung. Di provinsi tersebut, ia mendaftar menjadi asisten dosen di Universitas Lambung Mangkurat, Lampung. Meskipun dinyatakan diterima, lagi-lagi ia “kabur” ke Jakarta. Kali ini bukan karena malu, tetapi desakan orang tua yang menghendaki agar salah satu anaknya tinggal di Jawa. Pasalnya, adiknya telah menekuni bidang pertanian di luar Jawa.

Joko Santoso mengalah. Ia meninggalkan pekerjaan yang telah berada dalam genggaman untuk mencari pekerjaan di belantara ibukota. Di Jakarta, ia “akhirnya” harus menerima kenyataan. Pekerjaan yang selama ini selalu dihindarinya, tiba-tiba terbuka untuk pria kelahiran Klaten, 16 Desember 1958 ini. Baru satu minggu berada di ibukota, ia berkesempatan mengikuti tes ujian penerimaan guru.

“Saya diterima meskipun belum punya KTP dan kartu kuning. Saya lulus, dan berkesimpulan bahwa saya memang harus menjadi guru. Mulai saat itu saya berniat untuk menjadi guru yang benar-benar professional,” katanya.

Niatnya benar-benar dibuktikan setelah menekuni profesi sebagai guru di SMP Negeri 47 Jakarta. Pada tahun kedua, ia sudah berkiprah sebagai pembina OSIS dan memasuki tahun keenam menjadi Wakil Kepala Sekolah (Wakasek). Tiga bulan setelah menjabat Wakasek, ia berkesempatan mengikuti ujian Kepala Sekolah.

Kesempatan yang diberikan ini tidak lepas dari kiprah Joko Santoso di dunia pendidikan DKI Jakarta. Meskipun “hanya” guru olahraga, ia adalah instruktur pendidikan olahraga di seluruh DKI Jakarta pada tahun 1996-1998. Disamping tugas tersebut, ia secara freelance ditugaskan oleh Depdiknas untuk memonitor prestasi olahraga pelajar di seluruh Indonesia. Tugas ini membuatnya sering keliling Indonesia untuk memantau atlet muda di seluruh daerah.

“Mungkin karena itu saya berkesempatan mengikuti ujian Kepsek. Saya memang lulus, tetapi tertunda sampai enam tahun. Nah, dalam masa penantian tersebut saya mulai ragu apakah akan terus menjadi guru atau menekuni usaha saya yang mulai maju. Karena ada pertanyaan besar apakah saya mampu menguliahkan anak-anak dengan gaji sebesar itu,” ujarnya.

Akhirnya, Joko mengukuhkan diri untuk tetap menjadi guru karena usaha penanaman kapas di daerah asalnya gagal. Padahal, ia sangat serius dalam menjalankan usaha tersebut sehingga “dibela-belain” pulang pergi Jakarta-Klaten, setiap Sabtu dan Minggu sore. Kekuatan untuk menjalankan pekerjaan di dua tempat yang terpisah ini membuat kagum Kepala Sekolah karena ia tidak pernah sekalipun meninggalkan tugas.

“Karena usaha bangkrut, lagi-lagi saya berkesimpulan bahwa memang saya harus menjadi guru. Setelah niat itu, secara kebetulan selang satu bulan kemudian saya bertemu Kasudin Pendidikan Dasar Jakarta Pusat. Beliau bertanya berbagai hal dan menyuruh saya mengikuti ujian kepala sekolah. Saya jawab, wah sertifikat saya sudah hampir membusuk, Pak, karena saya sudah ujian lima tahun lalu, kok,” kisahnya.

Dari obrolan tersebut, Joko diminta untuk membawa sertifikat kelapa sekolah-nya ke kantor Kasudin Pendidikan Dasar Jakarta Pusat. Setelah itu proses pengangkatannya sebagai kepala sekolah ternyata sangat gampang. Meskipun banyak guru-guru senior yang sudah memiliki sertifikat kepala sekolah, tetapi ia memperoleh kesempatan awal. “Beliau bilang, satu bulan lagi saya menjadi Kepsek. Mungkin karena tidak pernah tanya dan dilihat dari CV, saya banyak berkecimpung di Kanwil maupun Departemen, sehingga saya diangkat duluan,” imbuhnya.

Tidak Mengejar Prestasi

Dalam berkecimpung di dunia pendidikan, Drs. Joko Santosa menjalaninya secara mengalir dan professional. Seperti meskipun sudah menggenggam sertifikat kepala sekolah sejak tahun 1998, ia tidak pernah mempermasalahkan kenapa dirinya belum juga diangkat sebagai kepala sekolah. Ia juga tidak pernah meminta atasannya untuk mempercepat proses kenaikan jabatanya tersebut.

“Mengalir saja, kalau memang sudah tiba saatnya menjadi Kepsek, pasti jadi juga. Istilahnya saya tidak ngoyo dan mengejar prestasi itu, belajar dari pengalaman-pengalaman yang lalu. Seperti pertama kali menjadi PNS, SK saya ditunda selama satu tahun karena belum punya KTP dan kartu kuning. Saya lulus tahun 1986, tetapi baru pada 1987 baru keluar SK,” katanya.

Joko Santoso sudah membayangkan dirinya akan menjadi gila kalau sampai SK pengangkatannya tidak juga “turun”. Setelah gagal masuk Wamil, gagal menjadi dosen dan seandainya gagal juga menjadi PNS guru, ia tidak akan kuat menanggung malu. Karena terdesak keperluan itu, ia meminta bantuan Kanwil sehingga diputuskan untuk menempatkan dirinya di sekolah negeri. Meskipun untuk itu, ia harus menunggu selama satu tahun.

Sejak itu, Joko benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan. Sebagai guru, ia fokus, professional, tidak pernah bolos mengajar dan tidak neko-neko meskipun setiap tanggal 20 gajinya sudah habis. Karena saat itu gaji guru hanya cukup untuk biaya transport saja. Tetapi karena ia memiliki pekerjaan sambilan bisnis, gajinya yang kecil tidak menjadi masalah. Apalagi, saat itu ia juga mengajar di sekolah pelayaran, SMK Santa Lusiana dengan gaji yang “lumayan”. “Sekolah tersebut mendapat dukungan dana dari LSM Belanda,” tambahnya.

Akhirnya Joko dipromosikan dan diangkat sebagai Kepala Sekolah SMP 78. Saat itu, SMP yang dikategorikan sekolah yang bagus dalam kondisi menurun. Tetapi sebelum diterjunkan memimpin SMP 78, ia diajak studi banding ke Singapura oleh Kasudin Pendidikan Dasar Jakarta Pusat. Tujuannya, agar ia tahu bagaimana sekolah yang baik, sehingga bisa dipraktekkan di sekolah yang dipimpinnya.

“Kalau 100 persen tidak mungkin, tetapi setidaknya mendekatilah. Tetapi Alhamdulilah karena guru mendukung, komite mendukung, maka SMP 78 menduduki peringkat kedua di Jakarta Pusat. Saya juga berhasil memperjuangkan rehabilitasi total sekolah, meskipun lahan yang dimiliki hanya 920 meter. Saya terus merayu sama yang diatas, sehingga akhirnya dirombak total menjadi empat lantai. Sayangnya, hari Senin diresmikan, Jumat sebelumnya saya dimutasi di SMP 228,” katanya sambil tertawa.

Merangkap Dua Sekolah

Salah satu “keunikan” karier Drs. Joko Santoso sebagai kepala sekolah adalah beberapa kali merangkap jabatan. Misalnya saat merehabilitasi gedung SMP 78, ia “dipercaya” untuk sekaligus menjabat sebagai Kepala Sekolah SMP 228 karena kepala sekolah sebelumnya memasuki masa pensiun. Masa jabatan di dua sekolah ini diembannya selama enam bulan.

“Karena merasa jauh dari rumah, saya mengajukan permohonan untuk dipindahkan ke wilayah Jakarta Barat. Tetapi ternyata mulai guru-guru hingga pimpinan inginnya saya definitif di SMP 228. Bukan itu saja, SK yang dikeluarkan Dinas juga menguatkan keinginan mereka,” katanya. Setelah satu bulan definitif memegang SMP 228, Joko juga ditugaskan merangkap di SMP 10. “Ndak tahu kok saya sampai merangkap-rangkap begitu,” tambahnya.

Setelah dua bulan merangkap, Joko kembali fokus memegang satu sekolah saja, SMP 228. Setelah kebijakan Pemda DKI yang mengharuskan seluruh sekolah di Jakarta masuk pukul 06.30, ia mengajukan permohonan pindah. Alasannya, meskipun berangkat dari rumah pukul 05.00 subuh pun, ia sering terlambat. Akhirnya permohonannya dikabulkan dan terhitung sejak tanggal 1 Februari 2010, ia menjabat sebagai Kepala Sekolah SMP Negeri 142 yang lebih dekat ke rumah.

“Saya lihat di sini banyak PR yang harus dikerjakan, karena keinginan saya juga banyak. Contohnya tingkat kelulusan UN hanya 52 persen, meskipun itu juga bukan murni kesalahan guru. Tetapi memang sarana dan prasarananya sangat minim sekali meskipun dengan gedung semegah ini,” tandasnya.

Di tangannya, sekolah menjadi lebih tertata. Ia memasang kamera di setiap kelas untuk memantau kegiatan belajar mengajar para siswa/guru. Ia juga menambah sarana olahraga, kesenian dan prasarana lain yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. “Pemasangan kamera ini sangat bagus karena murid dan guru merasa diawasi sehingga serius dalam belajar. Mestinya yang masang kamera adalah sekolah yang sudah RSBI. Tetapi meskipun sekolah ini masih standar tetapi mutunya tidak kalah dengan SSN,” katanya.

Drs. Joko Santoso memfokuskan kepada guru sebagai aktor pendidikan di sekolah. Sedangkan murid –meskipun aktif- tetap tergantung sepenuhnya kepada guru. Bahayanya, kalau sampai guru merasa kecewa mereka cenderung untuk mengajar murid-muridnya dengan seenaknya sendiri.

“Saya menggunakan pendekatan dengan merayu guru tetapi menghindari perintah langsung. Kalau menegur saya tidak pernah marah dan menggunakan bahasa yang halus. Karena kesejahteraan guru sudah terpenuhi, tidak ada alasan lagi untuk bermalas-malasan. Kalau mereka mengkritik, saya tidak pernah marah, karena itu justru menambah ilmu saya,” kata kepala sekolah yang bervisi jauh ke masa depan ini.

Untuk “merayu” para guru, Joko setiap enam bulan sekali mengajak mereka untuk makan-makan di restoran. Ia menyerahkan pilihan makanan sesuai selera dan keinginan para guru. Selain itu, melihat hobi para guru bermain tennis meja, ia menambah lapangan tennis meja sebanyak empat unit.

“Itu cara saya merayu mereka. Karena biasanya saya dipandang sebelah mata karena ‘hanya’ guru olahraga. Setelah itu biasanya sudah menyatu dan tidak ada kendala lagi sehingga menjadi semangat semua. Biasanya, ketika guru sudah tertarik dan bersimpati, semua omongan saya diikuti,” katanya membeberkan rahasia “menaklukkan” hati para guru. Di SMP 142 Ia memimpin 47 guru dan 12 karyawan dengan 900 siswa. “Semua guru sudah S1 bahkan ada yang S2. Kecuali kepala sekolahnya yang mogol. Seharusnya tahun 2007 saya sudah selesai S2, tetapi sampai sekarang pun masih belum kelar juga,” tambahnya sambil tertawa.

Ke depan, Joko Santoso memiliki obsesi agar sekolah yang dipimpinnya lebih baik dari sekolah berstandar SSN. Meskipun hingga sekarang SMP 142 tidak berpredikat SSN, tetapi dari pengalaman memegang sekolah sebelumnya, secara kualitas akademis tidak kalah dengan sekolah RSBI. Padahal, sekolah yang dipimpinnya saat itu, SMP 78 rintisan SSN pun belum tetapi prestasinya melebihi sekolah RSBI.

“Karena memang secara lahan tidak memenuhi syarat untuk SSN, tetapi secara akademik bisa diandalkan. Nilai rata-rata akademik sudah 8,3 sementara persyaratan untuk SSN hanya 7,0. Dengan nilai itu sebenarnya sudah sejajar dengan SSN, tetapi kita masih sekolah standar reguler,” ungkapnya. Kegiatan ekstrakurikuler yang menjadi kebanggaan SMP N 78 adalah marching band. “Bahkan, marching band SMP N 78 pernah tampil di negara Belanda dan pernah diboyong Gubernur Bali,” imbuhnya menutup pembicaraan.

Drs. H. Musman Tholib, M.Ag

Ketua Muhammadiyah Jawa Tengah

Menggunakan Manajemen Silaturahmi dalam Kondisi Apapun

Manusia hidup tidak pernah lepas dari permasalahan. Sejak lahir hingga berkalang tanah, masalah selalu hadir dalam kehidupan. Dari masalah kecil dan remeh temeh hingga masalah besar semua terjadi silih berganti. Hanya manusia dengan kemampuan memecahkan masalah yang berhasil dalam hidupnya.

Adapun cara yang paling ampuh untuk memecahkan masalah adalah menjaga silaturahmi. Melalui silaturahmi, persoalan kecil dapat terpecahkan dan masalah besar terurai. Dengan silaturahmi pula, manusia tidak akan silau oleh pangkat, jabatan dan kedudukan seseorang.

Untuk berhasil dalam hidup, seorang anak muda harus memiliki kemauan belajar yang tinggi. Belajar itu bisa dari buku atau pengalaman orang-orang yang sukses dan orang yang gagal. Kedua hendaklah menjalani manajemen silaturahmi, baik ke dalam maupun keluar. Kalau saling tolong menolong dalam kebersamaan, hasilnya pasti akan sukses,” kata Drs. H. Musman Tholib, M.Ag., Ketua Muhammadiyah Jawa Tengah.

Pria kelahiran Purwodadi Grobogan, 13 Agustus 1944 ini mengungkapkan agar generasi muda tidak mudah marah ketika dikritik. Mereka seharusnya menerima kritikan sebagai upaya untuk membangun dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Karena dari kritikan yang diterima, mereka bisa mawas diri tentang kekurangan atau kelebihan mereka.

Ia mengingatkan, bahwa yang terpenting dalam hidup adalah bagaimana dapat beribadah dengan baik untuk mendapat ridhlo Allah. Apapun pekerjaan, jabatan dan kondisinya, asalkan mendapat ridlho Allah pasti akan selamat dunia akhirat. Karena hal itu merupakan manifestasi dari seorang hamba yang sangat tergantung dari kekuasaan Tuhan sebagai penguasa alam semesta.

Karena itu kita tidak akan silau, minder, dan menghormati orang lain. Kalau salah ya menyadari kesalahannya. Prinsip saya, ‘Pangkat iso minggat, bondho iso lunga’ tetapi silaturahmi harus tetap dijaga. Jangan silau dengan jabatan, pangkat tetapi bekerja dengan baik, karena bekerja itu dinilai oleh Allah bukan manusia saja. Jadi persaudaraan itu harus terjaga dengan baik,” tuturnya.

Priyayi, Santri dan Abangan

Drs. H. Musman Tholib, M.Ag adalah putra pasangan H. Moh. Tholib dan Nartiyah. Kakek dari pihak ibu adalah seorang priyayi yang sangat disegani masyarakat di sekitarnya sekaligus menjabat sebagai Lurah/Kepala Desa. Kehidupan kepala desa saat itu jauh dari nilai-nilai ajaran agama, yang memang tidak lazim saat itu. Sedangkan kakek dari pihak ayah adalah seorang kyai sekaligus pengurus masjid di kampungnya.

Saya lahir di Desa Krangganharjo, Kec. Toroh Kabupaten Purwodadi Grobogan Jawa Tengah. Sejak kecil saya dibesarkan dalam lingkungan keluarga priyayi, santri dan abangan sekaligus. Orang tua saya adalah pegawai KUA sekaligus petani. Saya tepengaruh dengan kehidupan santri, apalagi ayah memiliki mushola sendiri dan kakek adalah pengurus masjid. Sedangkan kakek dari ibu saya adalah Kepala Desa yang agak jauh dengan agama,” kisah suami Hj Siti Taqiyah, BA ini.

Karena condong dengan kehidupan santri, selesai Sekolah Rakyat (SR) Musman mengikuti ujian sekolah PGA (Pendidikan Guru Agama) di Salatiga. Dari seluruh provinsi Jawa Tengah, setiap satu kecamatan hanya dua wakil yang diterima hingga terkumpul 200 siswa. Ia juga merupakan satu di antara 40 orang siswa yang menerima ikatan dinas (ID) dari pemerintah.

Di Salatiga, Musman tinggal di rumah dan menerima dua sisi pendidikan sekaligus. Pagi sekolah di PGAP Negeri Salatiga sebagai persiapan untuk menjadi guru agama Islam. Sementara sore ia belajar mengaji untuk mendalami agama Islam mulai mengkaji Al Quran sampai pelajaran Nahwu Sorof atau gramatika bahasa Arab.

Setelah itu saya meneruskan di PGAA Solo. Saat itu Menag memberikan kesempatan kepada siswa PGAA yang nilainya baik untuk meneruskan pendidikan ke IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saya juga termasuk sehingga mempunyai kesempatan kuliah di IAIN Yogyakarta dengan status tugas belajar hingga sarjana muda. Karena tidak ditugaskan mengajar, akhirnya saya melanjutkan sampai S1,” tandasnya.

Musman menyelesaikan pendidikan di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 1972. Berbagai tawaran datang kepadanya, mulai menjadi Kepala Sekolah Laboratorium PGA pada Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga hingga Dekan di Kalimantan. Semua ditolaknya, apalagi ayahnya juga tidak memberikan izin baginya untuk ke Kalimantan. Meskipun demikian, sebenarnya ia memiliki prinsip untuk tidak mempermasalahkan di mana pun akan ditempatkan.

Di manapun bertugas yang penting bisa ibadah, itu prinsip saya. Kebetulan saya bertugas di Kudus untuk mengajar di SMEAN Kudus. Saat itu, saya mengajak anak-anak untuk meramaikan masjid Jember yang tidak terurus. Alhamdulilah, perlahan-lahan jamaah mulai banyak meskipun lingkungan sekitarnya saat itu dikenal sebagai kampung hitam. Banyak molimo yang berlangsung dengan seenaknya,” tuturnya.

Musman terpanggil untuk membina dan memperbaiki akhlak masyarakat sekitar sekolah. Apalagi situasi keamanan sekolah tidak kondusif karena sering terjadi pencurian. Awalnya, ia mengajak siswa untuk mengadakan berbagai kegiatan yang melibatkan tokoh masyarakat sekitar. Saat pembagian zakat fitrah, misalnya, ia mengajak para tokoh untuk membantu menyalurkan. Hasilnya menakjubkan, sejak itu tidak pernah terjadi pencurian lagi.

Ia semakin akrab dengan masyarakat sekitar saat memperoleh kesempatan untuk membeli sebidang tanah di wilayah tersebut. Ia berniat untuk membangun rumah yang sudah dibelinya dengan tujuan mengubah masyarakat menjadi lebih baik. Ia menanami tanahnya dengan singkong dan pisang. Saat panen tiba, ia mengundang tetangga untuk bersama-sama memanen hasil kebunnya.

Dari situ orang mulai simpati dengan saya dan tidak melakukan pencurian lagi. Begitu juga dengan pembangunan rumah saya yang tidak mengalami apapun meskipun orang lain bisa hilang kusennya. Artinya kalau kita menolong orang itu sebenarnya kita menolong diri sendiri ‘Jika kamu berbuat baik, maka untuk kamu sendiri’. Begitu juga sebaliknya, kalau perbuatan kamu jelek ya untuk kamu sendiri,” tegasnya.

Saat itu, Musman merupakan pria bergelar sarjana (S1) yang kedua di seluruh Kudus. Oleh karena itu, ia diminta untuk mengisi pengajian di Pengadilan Negeri, Badan Pertanahan, Kepolisian dan lain-lain. Ia juga diminta untuk mengisi jabatan Dekan IKIP Muhammadiyah Kudus yang tadinya dijabat oleh Kepala Pengadilan Negeri.

Setelah dua tahun menjadi Dekan, IKIP Muhammadiyah Kudus dilebur dan bergabung dengan FKIP Muhammadiyah Solo (sekarang menjadi UMS). Ia diminta dengan sangat untuk menjadi Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah Kudus. Saat itu, sekolah masuk sore dan ia berinisiatif agar sekolah masuk pagi. Caranya, ia menetapkan calon siswa yang ingin belajar di SMA Muhammadiyah harus membayar uang gedung sebesar Rp.15.000,-

Respon masyarakat justru besar sekali. Saya mendapat 10 kelas sehingga harus pinjam ruangan di SD, dan SMP Muhammadiyah. Atas bantuan seorang pengusaha, akhirnya hanya SMA Muhammadiyah Kudus yang bisa memiliki gedung sekolah bertingkat. Selain itu, kami juga memiliki peralatan laboratorium berkat kerjasama dengan teman-teman UGM,” kata pria yang menjabat sebagai Kasie Urusan Agama Islam Kantor Departemen Agama Kabupaten Kudus dari tahun 1976-1987 ini.

Di bawah kepemimpinan Musman, SMA Muhammadiyah Kudus maju pesat. Berbagai prestasi ditorehkan mulai olahraga -volley dan tennis lapangan- sampai prestasi akademis tidak kalah dengan SMA lain. Berbagai jabatan penting di Kudus –mulai Bupati, Kejari Satpol PP, intelijen, anggota DPRD dan lain-lain- dipegang oleh alumni SMA Muhammadiyah Kudus. “Kebanggaan lainnya, alumni SMA Muhammadiyah yang menjadi anggota DPRD itu berasal dari berbagai partai. Dari PAN, PKS, PDIP dan lain-lain,” imbuhnya.

Sukses sebagai Kepala Seksi, Musman kemudian ditugaskan sebagai Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Cilacap. Ia sekaligus juga menjabat sebagai Sekretaris Wanhat Golkar (Dewan Penasehat Golkar) yang Ketuanya dijabat oleh Bupati Kabupaten Cilacap terkait kebijakan mono loyalitas Presiden Soeharto. Saat itu, ia memanfaatkan posisinya tersebut dengan mengadakan pengajian keliling di kediaman pejabat-pejabat kabupaten. “Jadi saya manfaatkan untuk meningkatkan pemahaman keberagamaan para pejabat sekaligus dalam pengamalannya,” ujarnya.

Dari Cilacap, Musman kemudian ditarik sebagai Kepala Bidang Penerangan Agama Islam Kanwil Provinsi Jawa Tengah (1991-1995). Setelah itu dipercaya untuk menjabat sebagai Kepala Bagian Sekretariat Kanwil Depag Provinsi Jawa Tengah (1995-1999) dan jabatan terakhirnya adalah Kepala Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Depag Provinsi Jawa Tengah. Selama duduk di jabatan struktural, Musman tidak melupakan menggeluti pada dunia pendidikan terutma di Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Musman menjabat pengurus Badan Pelaksana Harian Universitas Muhammadiyah Surakarta selama 2 periode pada saat Rektor dipegang oleh Prof. H. Dochak Latif. Pada tahun 2000, setelah memiliki jabatan funsionaris Lektor dari Kopertis, Musman mengajukan mutasi kepegawaian menjadi Dosen Jurusan Tarbiyah STAIN Surakarta. Ia menyandang jabatan fungsionaris Lektor Kepala terhitung mulai tanggal 1 Juli 2000.

Saya mengajar di STAIN dari tahun 2000 sampai 2009 dan mengambil S2 di UMS Surakarta. Kebetulan saat kuliah saya aktif di senat mahasiswa, bendahara, sekretaris dan lain-lain. Saya juga aktif di Muhammadiyah dan banyak belajar dari tokoh-tokoh Muhammadiyah DIY dan PP Muhammadiyah. Saya sering ikut rapat-rapat organisasi Muhammadiyah. Di organisasi ini, yang paling mengesankan adalah soal kedisiplinan waktu. Segala sesuatu on time dan yang kedua adalah keikhlasan, itu yang paling berharga,” tambahnya.

Membangun Masjid Monumental

Ayah dari tiga anak –Naibul Umam Eko Sakti, S.Ag., M.Si., Arin Fitriani, M.Si, dan Siti Hajar Rahmawati, SE, MA, ini mengungkapkan visi dan misinya dalam memajukan organisasi Muhammadiyah di Jawa Tengah. Secara umum visi yang diusung adalah “Mewujudkan masyarakat Islam yang sebenarnya” yakni bagaimana membuat masyarakat damai dan sejahtera.

Sementara misinya memperdalam dan memperkokoh aqidah Tauhid dan menyebarkan agama Islam berdasar Al Qur’an dan An Sunnah dengan menggunakan akal yang sehat. Serta mewujudkan ajaran Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Semua itu dicapai dengan merealisasikan lewat amal sholeh dalam bentuk amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, sosial kemasyarakatan dan usaha-usaha pertolongan umum lainnya,” tegasnya.

Amal Usaha Muhammadiyah di Jawa Tengah antara lain :

  1. Bidang Pendidikan :

PAUD

TK/ABA

SD

MI

SMP

MTs

SMU

SMK

MA

UNIVERSITAS

SEKOLAH TINGGI/AKADEMI

TPQ

150

1883

192

460

280

110

113

140

17

5

14

70

B. Bidang Kesehatan, Sosial dan Ekonomi

Rumah Sakit

RB/BP/Poliklinik/BKIA

PAY

Non Panti

Rumah Jompo

Penitipan

Tim Perawatan Jenasah

Bank Syariah

Cabang Bank Syariah

BMT/BTM

Koperasi

Toko

Wartel

LAZIS Muhammadiyah

31

99

99

19

4

19

12

1

2

79

59

15

4

73

Dalam periode masa jabatannya, Musman memiliki obsesi yang sangat menarik. Ia ingin Muhammadiyah Jawa Tengah memiliki “sesuatu” yang menyerupai isi di Tugu Monas. Bukan kemegahannya, namun lebih kepada fungsi pembelajaran di dalamnya. Yakni sebuah masjid monumental lengkap dengan menara yang menjadi pusat pembelajaran tentang Islam dan ke-Muhammadiyahan.

Dalam periode kepemimpinan saya, harus bisa membangun masjid yang monumental. Tidak hanya sekadar sebagai tempat ibadah, tetapi juga untuk pembelajaran. Di menaranya kita buat diorama, lintas perjalanan tokoh Muhammadiyah dari dahulu sampai sekarang, kemudian CD tuntunan ibadah yang benar juga akan ditampilkan profil masing-masing Daerah Muhammadiyah se Jawa Tengah. Jadi orang yang datang bisa belajar dan sekarang pembangunan terus dalam proses bahkan untuk lantai dasar sudah dapat dimanfaatkan untuk ibadah shalat berjamaah,” ujarnya.

Obsesi lain yang ingin dicapai Musman adalah pengembangan dan pemberdayaan cabang serta ranting Muhammadiyah. Dalam organisasi Muhammadiyah cabang berada di tingkat kecamatan, sementara ranting dan tingkat desa/kelurahan. Menurut hematnya, terjadinya penambahan cabang dan ranting akan membuat Muhammadiyah bertambah amalnya.

Muhammadiyah Wilayah Jawa Tengah sebenarnya memiliki sepuluh program unggulan dalam periode kepengurusannya.

10 Program Unggulan tersebut adalah:

  1. Administrasi penataan perkantoran dari Ranting, Cabang dan Daerah

  2. Zakat, infak dan shadaqoh berjalan dengan benar

  3. Pembangunan masjid monumental

  4. Ketersediaan dana penanggulangan bencana

  5. Menggerakkan potensi-potensi di bidang ekonomi seperti Bank Syariah, BTM Baitul Tamwil Muhammadiyah

  6. Penertiban dan pengamanan asset milik Muhammadiyah

  7. Penyelenggaraan Hari berMuhammadiyah oleh masing-masing Pimpinan Daerah Tingkat Kabupaten/Kotamadya dan puncaknya diselenggarakan tingkat Provinsi

  8. Dan lain-lain

Semua itu bisa terwujud kalau pimpinan Muhammadiyah memiliki ikatan yang kuat. Kalau sudah terjadi ikatan yang kuat, kompak insya Allah Muhammadiyah akan maju. Di Muhammadiyah harus dihindari sikap Jubriyo yakni ujub, kibir dan riya’. Ujub itu bangga diri, riya’ itu pamer dan kibir itu sombong. Meskipun bisa menghasilkan banyak manfaat tetapi dalam agama ketiga hal tersebut harus dihindari. Kemudian jangan dilupakan bahwa perbedaan adalah teman berpikir, persamaan pendapat harus kita wujudkan,” katanya.

Mendirikan MWB Muhammadiyah

Sewaktu sekolah di PGAA Negeri Surakarta, setiap Ahad pagi Musman mempunyai kesempatan mengikuti kuliah pagi yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah Daerah Surakarta. Perkuliahan ini bertempat di gedung Balai Muhammadiyah Keprabon. Sejak itulah, ia mulai mengenal Muhammadiyah secara mendalam.

Dari sana saya mulai mengenal Muhammadiyah. Begitu lulus dari PGAA Negeri Surakarta, sambil menunggu penugasan saya pulang kampung ke desa Krangganharjo. Bersama beberapa pemuda saya mendirikan MWB atau Madrasah Wajib Belajar Muhammadiyah,” kisahnya.

Perkenalanannya dengan Muhammadiyah semakin mendalam setelah mendapat penggilan tugas belajar di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebagai mahasiswa, disamping aktif di organisasi intra anggota Senat Mahasiswa Fak. Tarbiyah, Musman juga memasuki organisasi ekstra yaitu IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah).

Beberapa jabatan penting sempat diemban selama aktif di IMM, antara lain:

  • Di IMM menjabat sebagai Ketua Komisariat IMM Fakultas Tarbiyah tahun 1966.

  • Ketua Korkom IMM IAIN Sunan Kalijaga tahun 1968.

  • Sekretaris Cabang IMM DIY 1970.

  • Sekretaris BPK (Badan Pembina Kader) PP Muhammadiyah (1971-1974).

Di Yogyakarta, saya mendapat pelajaran langsung tentang Islam dan keMuhammadiyahan dari Bapak KH. R Hajid. Beliau merupakan santri dari KHA. Dahlan. Dari para Tokoh Muhammadiyah Kol. H. Junus Anis, KH. Ahmad Badawy, KH. Abdul Mukti, KH. Bakir, K. Hiban Hajid, KH. Ahmad Azhar Basyir, KH. AR. Fakhruddin, Prof. Abdul Kahar Mudzakir, Djindar Tamimy, Mr. Kasman Singodimedjo, Djarnawi Hadikusumo dan ulama-ulama Muhammadiyah lainnya,” terangnya.

Saat bertugas di Kudus tahun 1973, beberapa jabatan penting Drs. H Musman Tholib, M.Ag, di Muhammadiyah antara lain:

  • Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Kudus 2 periode (periode Muktamar 40-41).

Kemudian setelah bertugas di Semarang (ibukota Provinsi Jawa Tengah) Musman diberi amanah sebagai :

  • Sekretaris Majelis Tarjih Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah periode Muktamar 41.

  • Ketua Majelis Tarjih Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah periode Muktamar 42.

  • Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah periode Muktamar 43, 44 dan 45.

  • Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah periode Muktamar 46 (2010-2015).

Susanto Ali

Direktur Utama PT Ciptalestari Ideanusa/ Exatex

Irasional bila kita harus Mengemis, Lakukanlah dengan lebih baik lagi. Analisa Kelebihan dan Kelemahan kita

Pasca krisis moneter melanda perekonomian dunia dan sangat dirasakan di Indonesia, dunia bisnis nyaris runtuh. Banyak perusahaan-perusahaan besar yang terpaksa melakukan PHK besar-besaran untuk mencegah kebangkrutan. Dampak krisis masih dirasakan selama beberapa tahun kemudian karena pemulihan pasca krisis sangat lamban.

Akibatnya, likuiditas pasar sangat rendah sehingga banyak transaksi yang tertunda. Pemilik produk terpaksa harus “menjajakan” dagangan dari pintu ke pintu dengan system pembayaran terhutang. Celakanya, di saat hutang jatuh tempo pembeli akan berusaha mengulur-ulur waktu pembayaran dengan mencari gara gara.

“Tahun 1999, saya menjajakan dagangan dari pintu ke pintu di pasar Tanah Abang dari blok A sampai blok F. Saya sampai mengemis order pada pelanggan, begitu juga dengan tagihannya harus mengemis baru dibayar. Irasional dengan itu, saya membuat perbandingan kenapa di pabrik kain lain tidak begitu. Kemudian saya studi analisis kelebihan dan kelemahan produk saya. Ternyata di pabrik saya lebih banyak kelemahannya daripada keunggulannya, sehingga saya mencari guru-guru untuk menganalisa ini,” Susanto Ali, Direktur Utama PT Ciptalestari Ideanusa/ Exatex

Menurut Santo, urusan mengelola pabrik tekstil yang memproduksi kain seragam dan batik merupakan amanah orang tua, Muhasan Ali dan Tan Giok Khim. Keluarganya sudah mengelola industri ini sejak dirinya masih berada dalam kandungan. Saat itu, ibunya sangat terkenal sebagai pekerja keras dan pakar celup kain di daerah Karet Kuningan. Sayangnya, keahlian tersebut tidak didukung oleh mesin yang mumpuni karena keterbatasan modal dan tempat, meskipun sangat memahami know how dalam menciptakan produk bermutu.

Santo sangat menyadari bahwa dalam dunia industri harus memperhatikan supporters yaitu 5 M (material, mesin, manusia, market dan modal). Terhadap kelima hal tersebut, seorang pengusaha harus menerapkan disiplin tinggi dan akurat dalam bertindak. Bagian per bagian harus saling mendukung dengan harmonis satu sama lain.

“Saya belajar dari guru-guru saya tentang segala hal. Sejak itu pengetahuan saya mulai terbuka. Mereka juga memberikan nasihat dalam pemilihan mesin misalnya yang menganjurkan untuk menggunakan mesin Jerman dibandingkan mesin lainnya. Akhirnya saya pilih dan beli mesin tekstil dari Jerman dengan keunggulan setelah dicuci kain tidak susut dan tidak kusut, warna tidak mudah pudar, Bahkan kain produksi kita tidak menyebabkan iritasi pada kulit yang sensitive sekalipun pada kulit bayi,” kata pria dengan prinsip kerja jujur, adil, bijaksana, setia, tabah dan sederhana ini.

Karyawan adalah Perhiasan

Susanto Ali saat ini mempekerjakan 120 orang SDM di pabriknya. Bungsu dari tujuh bersaudara ini terus meningkatkan keterampilan karyawan. Menurut pria kelahiran Jakarta, 13 April 1974 ini, sebagai pucuk pimpinan perusahaan ia tidak pernah menerapkan PHK kecuali terjadi kasus kriminal.

“Karyawan saya anggap sebagai perhiasan kita. Karena jelas saya tidak bisa hidup tanpa mereka. Skill mereka pun terus dipoles dari yang masih mentah sampai mereka ‘matang’. setelah matang kita tawarkan untuk usaha mandiri. Saya menerapkan prinsip bahwa ketika di pabrik ini kita duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi,” kata suami Diyan Wahyuni ini.

Dalam memajukan pabrik, ayah dua orang putri ini, memperbarui mesin-mesin yang dimiliki dengan mesin yang mendukung penghematan air, listrik, SDM dan chemical. Dengan mengadopsi mesin-mesin yang sangat efisien tersebut ia berhasil mengurangi biaya tinggi sekaligus meningkatkan produktivitas. Semua itu untuk mendukung target produksi, yang terus meningkat setiap tahun.

“Saya berkesimpulan bahwa industri hanya bisa hidup dari repeatabilitas order, bila tidak ada repeatabilitas order industrinya akan pendek umur. Untuk mendapatkan repeatabilitas tersebut, kita harus menjamin kepuasan pembeli. Supporters yang berbisnis dengan kita tidak perlu memakai helm alias tidak akan diketok harganya atau dianiaya. customers juga boleh compare membandingkan dengan produk serupa di pabrik lain, inspeksi proses pemesanan mereka dan lain-lain, sesuai UU Anti Monopoli,” tegasnya.

Dalam menyikapi ketatnya persaingan, Susanto Ali selalu berusaha mengambil hikmah dari setiap kejadian. Termasuk setiap kesulitan yang dihadapinya dengan belajar berpikir positif. Ketika krisis katun akibat ulah spekulan, ia dengan cepat belajar untuk beralih memproduksi kain seragam berbahan T/R . Yang jelas, untuk mempertahankan kualitas agar lebih baik lagi ia mengandalkan mesin-mesin Eropa dengan label GmbH atau AG. Sampai-sampai kalau bukan GmbH/ AG saya tidak confident. Jadi mesin-mesin pabrik ini mayoritas dari Jerman semua. Saking fanatiknya sampai saya bersumpah tidak akan naik mobil Eropa sebelum mayoritas mesin-mesin saya buatan Eropa,” tuturnya.

Santo sadar, bahwa sebuah pabrik tidak bisa dilepaskan mata rantainya dalam produksi. Mulai dari bahan baku yang harus dipilih dan dibeli sampai finishing processing yang cukup complicated semua terhubung dan saling tergantung satu sama lain. Pabrik tekstil juga tergantung pada kredit perbankan untuk membiayai pembelian teknologi maupun biaya produksi.

“Selama ini, perkembangan perusahaan cukup baik. Alhamdulilah tetap jalan, mesin semuanya jalan, karyawan bekerja dengan baik, biaya ter-cover dari penjualan dan lain-lainnya. Dalam tekstil itu ada moto bahwa selama masih ada peradaban tentu masih ada yang menggunakan kain. Bagaimana pun sepinya pasar tentu ada kain yang sedang laris di pasar . Dengannnya kita lengkapi fasilitas permesinan produksi kita. We don’t need too smart, what we need is reality.

Gempuran Produk China

Saat diminta menangani pabrik oleh ayahnya, Santo memiliki visi untuk menyehatkan perusahaan di bidang keuangan, lingkungan dan lainnya. Menjaga dan meningkatkan qualitas produk. Menjaga dan meningkatkan volume output produksi, yang otomatis kita mendapatkan efisiensi dan penghematan biaya produksi. Melakukan dengan lebih baik lagi untuk segala hal yang positif.

Perlahan namun pasti, pabrik berkembang menjadi sehat dalam keuangan dan produknya mulai dilirik pasar. Yang namanya kepercayaan itu tidak boleh minta dipercaya, kepercayaan itu menunjukkan sikap dan penilaian supporters kepada perusahaan kita,” ujarnya.

Menurut Santo, dibukanya pasar bebas yang memungkinkan segala macam produk dunia masuk ke Indonesia justru membawa keuntungan tersendiri. Ia mencontohkan bagaimana produk-produk tekstil asal China yang membanjiri pasaran justru membuat pengusaha Indonesia introspeksi diri. Bagaimana pasar global telah mengancam industri dalam negeri sehingga lebih sadar akan masa depan mereka sendiri.

“Kalau tidak digempur produk China kita tidak sadar, lengah. Malah saya berharap suatu saat kita bisa ekspor ke China. Karena saat ini semua negara mengemis ke China bahkan negara maju seperti Italia sekalipun. Sebenarnya kalau mau Indonesia bisa menjadi negara yang maju asalkan semua orang bekerja, mendapat gaji, punya tabungan sehingga produk apapun akan memiliki pangsa pasarnya. Semua laku karena Indonesian people is the most consumptive people in the world,” tegasnya.

Berbicara mengenai cita-citanya, Susanto Ali mengungkapkan secara sederhana. Ia menginginkan bagaimana kedua putrinya mendapatkan perlakuan yang sama seperti orang tuanya memperlakukan dirinya. Misalnya, ia akan memberikan sebuah restoran untuk anak pertama sebagai ladang usaha. Sementara anak kedua akan mendapatkan sebuah perkebunan sebagai tumpuan masa depan.

“Saya tidak banyak menuntut ini itu, karena saya ini generasi kedua di perusahaan ini. Saya juga tidak mengharuskan anak-anak saya untuk mengelolanya kecuali putri putri saya sendiri yang terpanggil untuk mengelolanya . Makanya saya harus objektif memilih di antara anak-anak saudara saya atau keponakan-keponakan yang benar-benar mumpuni mengendalikan perusahaan ini. Kami kan bertujuh, sehingga dari belasan cucu orang tua saya harus dilihat siapa yang mampu, berkualitas dan mumpuni. Artinya harus mau berkotor-kotor dan berpanas-panas di pabrik ini,” tegas Santo.

Santo hanya menegaskan bahwa keputusan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas produk perusahaan telah final. Bahwa tekstil produksi PT Ciptalestari Ideanusa/exatex adalah tidak susut, tidak kusut, tidak menimbulkan iritasi kulit dan tidak berubah warna. Keputusan tersebut merupakan hasil riset dengan menempatkan diri sebagai konsumen sehingga memahami dengan baik kebutuhan mereka.

“Jadi tidak asal produksi dan jual saja, namun tempatkan diri kita sebagai pembeli dengan empati. Bila kita produksi asal asalan sebenarnya yang rugi bukan hanya pembeli. Namun produsen yang rugi duluan karena pembeli tidak balik lagi. Simple saja, saya tanamkan kain yang kita kirim ke pasar tidak boleh balik namun ordernya harus balik. Bahwa semakin simple akan semakin sedikit kita membuat produk gagal,” ujarnya.

Selain itu, dengan tetap mengandalkan Pasar Tanah Abang untuk melempar produknya, justru permintaan meningkat setiap tahun. Apalagi sejak ia lebih memfokuskan diri pada pembuatan kain seragam dan produk batik. Tanah Abang itu highly competitive and the market place to be. “Di sana multi etnis, dari China, Arab, Padang dan lain-lain. Semuanya memiliki jaringan di seluruh daerah di Indonesia. Jadi kita masuk Tanah Abang berarti produk kita disebarkan di pasar-pasar di seluruh Indonesia dan manca negara. Saya pelajari, industri tekstil yang masuk ke Tanah Abang hartanya tidak berkurang. Itu saja pedomannya,” akunya.

Kepada generasi muda, Susanto Ali berpesan agar bekerja lebih baik lagi, memiliki sifat prihatin dan peduli terhadap sesama. Rela berkorban untuk kepentingan yang lebih luas. Apabila sikap sikap itu dimiliki generasi muda tentu kesejahteraan bangsa tinggal menunggu waktu. Dengan nilai-nilai yang dimiliki membuat bangsa Indonesia akan tumbuh menjadi sebuah negara dengan masyarakat yang semakin baik. Dari kebaikan-kebaikan itulah yang membuat penyelenggaraan negara menjadi maksimal dan efisien. “Tidak ada yang instant dalam dunia ini, karena kalau instant dapatnya tentu instant pula lenyapnya. Jelas, semakin lama kita mendapatkan tentu semakin lama pula kita lenyapnya. Kita harus kembali ke siklus alam,” kata Susanto Ali.

 

SM Panjaitan

Direktur Utama PT Surya Global Security Service

Sukses Menyeluruh Sulit Dicapai

Setiap menjalankan sebuah usaha, diperlukan planning (perencanaan), money (uang), man (manusia), peralatan ditambah dengan strategi yang jitu. Semua itu, digabungkan dalam sebuah pentahapan pencapaian yang terencana sejak memulai (start), lokasi usaha, sampai tujuan terukur yang ingin dicapai. Misalnya, usaha jangka panjang yang terukur antara 5-25 tahun, jangka sedang dalam hitungan 12 bulan sementara jangka pendek maksimal 30 hari.

Meskipun demikian, semua itu tergantung pada sasaran atau target yang ingin dicapai oleh pemilik usaha. Yang jelas, kesuksesan bisa diukur dengan berbagai patokan, mulai sukses dalam bentuk uang, kepemimpinan, kesejahteraan dan lain-lain.

“Untuk sukses secara menyeluruh sangat sulit dijangkau. Karena usaha itu bisnis dengan motto ‘Modal sedikit dengan hasil yang banyak’. Harus tetap sejahtera tetapi tidak melanggar aturan dan berjalan sesuai Undang-Undang dan peraturan. Pengusaha harus berpedoman pada ilmu ekonomi, kepemimpinan dan managerial yang menyesuaikan perkembangan zaman, serta menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi dan canggih. Dia juga harus terus berinovasi untuk mencapai hasil yang lebih baik ke depan sesuai Asta Gatra, ideology, politik, ekonomi, sosial, budaya, agama dan keamanan,” kata SM Panjaitan, Direktur Utama PT Surya Global Security Service.

Pengusaha sukses, lanjutnya, tidak akan tergantung kepada nasib. Ia sangat tergantung pada kegigihan, keuletan, ketekunan, kedisplinan, ketelitian dan kecermatan di segala hal. Pengusaha yang sukses memiliki selektivitas dan prioritas dalam mengambil keputusan, memahami kebutuhan pasar serta perkiraan tentang masa depan. Tentu saja, semua itu melalui perhitungan yang sangat matang, berdasarkan angka-angka sehingga bisa menentukan sasaran-sasaran tambahan. Yakni melalui usaha mendapat inovasi baru dan bukan sekadar “coba-coba”. Kalau pun dilakukan hanya “coba-coba” tetapi melalui perhitungan menurut teori penelitian.

Menurut Panjaitan, seorang pengusaha adalah sekaligus pemimpin, yang mengerahkan orang lain untuk mewujudkan gagasan dan idenya. Pengusaha yang pemimpin, menduduki salah satu golongan dalam kategori umum manusia yang terdiri atas empat kategori. Kategori pertama adalah orang yang tidak tahu kalau dirinya tahu. Kedua orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu sehingga selalu menjadi penghalang. Ketiga orang yang tahu kalau dirinya tahu dan keempat orang yang tahu dirinya tidak tahu.

“Apabila dua kategori terakhir berada dalam diri satu orang, maka dialah yang akan menjadi pemimpin. Karena dia mampu memberdayakan sumber daya yang ada –manusia, uang dan alat- mampu menggerakkan, memotivasi, menuntun dan membimbing. Dia juga mampu memberdayakan uang, mampu menempatkan orang dengan tepat sesuai kapasitas masing-masing. Bahkan, seorang pemimpin bisa membuat orang yang dinilai bodoh menjadi sangat ahli di bidangnya,” tegasnya.

Seorang pemimpin, jelas Panjaitan, memiliki keyakinan bahwa Tuhan tidak menciptakan manusia bodoh. Masing-masing manusia dalam keyakinan pemimpin telah mendapat porsi tugas, fungsi dan peranan yang tidak persis sama. Untuk itulah, seorang pemimpin menciptakan sistem yang berupa suatu kesatuan yang utuh, terdiri dari banyak unsur yang saling mempengaruhi dan saling membutuhkan. Masing-masing orang memiliki talenta yang membutuhkan kompetensi hasil belajar latihan dalam berbagai tingkatan. Semua itu dapat ditentukan oleh seorang pemimpin melalui kriteria-kriteria tertentu yang jelas dan terukur.

Seorang pemimpin perusahaan, menurut Panjaitan, harus bijak dalam menerima kritikan positif. Dia tidak boleh terlalu fanatif terhadap sebuah pendapat dan mengabaikan saran-saran yang berasal dari anak buahnya. Seorang pemimpin harus mempertimbangkan sebelum memutuskan, tidak egois, fleksibel, luwes dan energik. Selain itu, pemimpin harus gampang menyesuaikan diri, lembut tetapi prinsip dan keyakinan harus tercapai.

“Seorang pemimpin itu harus seperti air, yang selalu mengalir, merembes atau menguap tetapi selalu mencapai laut. Itulah tujuan sebenarnya dari air yang tidak dapat dibendung oleh apapun sebelum mencapai laut sebagai tujuan akhir. Tidak ada yang dapat menghentikan gerakan tersebut bahkan kalau perlu tsunami menggerakkan air. Seperti itulah pengusaha sukses menurut pandangan saya,” ungkapnya.

Seorang pengusaha sukses, imbuhnya, adalah orang yang sukses dalam penggunaan uang (money) dan menikmati hasilnya. Dia juga sukses menggerakkan orang (man) dengan kesejahteraan rohani dan batin. Pengusaha yang sukses juga berhasil dalam memaksimalkan penggunaan alat, profesional dan proporsional, tepat guna dan berhasil guna. Artinya pengusaha sukses harus berguna bagi orang banyak dan bukan keuntungan pribadi atau kelompok saja.

Memerlukan Inovasi

Dalam memimpin perusahaan, menurut Panjaitan akan sangat berbeda dengan pimpinan dalam kemiliteran. Kalau dalam kemiliteran garis komando sangat jelas penanggung jawab antara yang dipimpin dengan pimpinan, pengusaha tidak bisa melakukannya. Pimpinan di militer lebih gampang mengendalikan anak buahnya terkait adanya garis komando tersebut. Sementara pimpinan perusahaan tidak memiliki hubungan yang tegas dengan para karyawan yang dipekerjakannya.

“Kedudukan antara pemilik perusahaan dan karyawan relative sejajar. Karyawan hanya takut dipecat atau dikeluarkan dari pekerjaan oleh kekuasaan sehingga tanggung jawabnya kurang. Kebanyakan karyawan ingin bekerja sesedikit mungkin dengan hasil semaksimal mungkin dengan berbagai dalih atau alasan. Karyawan tidak sadar bahwa mereka ikut pemilik perusahaan dengan saham tenaga. Oleh karena itu, bagi pimpinan perusahaan harus mencari cara dan strategi atau formula yang paling baik dan terus melakukan inovasi yang berkesinambungan,” tandasnya.

Sebenarnya, kemajuan atau kemunduran sebuah usaha merupakan sebuah kejadian biasa dan normal. Seperti grafik dalam kehidupan di dunia ini, kenaikan atau penurunan adalah sesuatu yang wajar. Yang penting, tujuan akhirnya adalah tercapainya sasaran yang telah direncanakan. Kemajuan atau kemunduran sebuah perusahaan, yang mengetahui dengan pasti adalah pimpinan atau pemilik perusahaan. Pencapaian kemajuan perusahaan sampai 65 persen akan dinilai berhasil pada tahapan jangka pendek, sedang dan panjang. Meskipun demikian, angka 100 persen pencapaian dalam bisnis bukan tidak mungkin terjadi.

Seorang pengusaha, jelasnya, dapat melatih indera penciuman terhadap peluang bisnis di sekitarnya. Salah satu latihan yang paling berguna adalah dengan melatih panca indera untuk penguasaan terhadap informasi. Karena ketika informasi sudah dikuasai, bisa diibaratkan seorang pengusaha telah menguasai dunia. Semua itu bisa diperoleh melalui olah pikir dari membaca, baik ilmu pengetahuan maupun media massa. Kemudian banyak melihat, mendengar, merasa dan mencium sehingga banyak pengalaman, baik media massa, elektronik dan lain-lain.

“Kemudian kita harus menguasai banyak bahasa. Kemudian olah fisik atau olahraga juga menggunakan otak. Kalau sudah pintar, bijak melalui olah fakir tentu membutuhkan fisik yang sehat. Orang pintar juga harus dengan fisik yang sehat dan kuat. Bila ini dimiliki seseorang, kami yakin indera penciuman di bidang usaha atau bisnis pasti tajam. Bahkan mereka akan mampu secara otomatis mencium peluang usaha yang baik untuk bisnis di masa depan,” tegasnya.

Menarik Becak

SM Panjaitan adalah seorang purnawirawan polisi berpangkat Komisaris Polisi. Ia telah menjalani tugas panjang di kepolisian selama 37 tahun 10 bulan dari pangkat terendah, Bharada pada tahun 1969 (14 Februari 1970, resmi menjadi polisi). Selama bertugas di kepolisian, ia menjalani pendidikan kedinasan sampai 14 kali untuk meningkatkan kompetensinya sebagai petugas yang mengabdi kepada masyarakat. Setelah pensiun pada tahun 2006 (30 Desember 2006), ia mengisi masa pensiun dan membuka usaha pada bulan Oktober 2008.

Saat menjalankan tugas sebagai polisi, Panjaitan menyadari bahwa pekerjaan adalah amanah dari Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, ia harus mengutamakan tugas di atas segalanya. Adapun tugas mengurus anak dan keluarga diserahkan sepenuhnya kepada istri tercinta. Di luar tugas, barulah tenaga, pikiran dan seluruh potensi yang ada dikerahkan untuk mencari penghasilan yang halal.

“Saya pernah menarik beca dari tahun 1976-1977, mencatak dan memasok sol sepatu, mandor angkot, beternak, membuat ember dari tong aspal dan lain-lain. Semua itu saya kerjakan di luar tugas kepolisian untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karena saat itu, adik-adik datang dari kampung dan kebetulan saya tinggal di luar asrama. Nah, saat saya berpangkat sersan dan menjadi komandan regu maka saya harus masuk asrama. Terpaksa, kegiatan di luar saya hentikan demi kelancaran tugas dan karier. Meskipun secara penghasilan banyak berkurang, tetapi itu peraturan yang harus ditaati,” kisahnya.

Panjaitan tentu saja harus mematuhi aturan yang berlaku di asrama sehingga tidak bisa menjalankan bisnisnya di luar jam kerja. Ia terikat peraturan asrama yang bahkan untuk keluar asrama pun harus mendapat izin dari Ka. Asrama kecuali untuk kepentingan tugas. Di sini ia banyak belajar bagaimana tugas dan kriteria pimpinan militer atau kepolisian yang penuh disiplin. Pimpinan militer (perwira) bagaikan martil, yang menokok paku adalah bintara –penghubung antara atas dan bawah- sedangkan yang dipalu adalah bawahan (tamtama( yang banyak menjadi satu agar kuat dan tahan. “Pemimpin militer memimpin prajurit yang telah dilatih tegas dan keras dalam disiplin dan tanggung jawab. Jadi baik yang memimpin maupun yang dipimpin sama-sama keras,” ujarnya.

Pengalaman disiplin di kepolisian, sedikit banyak dipraktekkan Panjaitan dalam mengendalikan perusahaan. Ia berharap perusahaan yang dipimpinnya menjadi sarana mendapatkan manusia yang sejahtera, bertanggung jawab dan berguna bagi kesejahteraan keluarganya. Baginya, bekerja merupakan pengalaman berharga dan menjadi ilmu yang dapat digunakan untuk dijadikan ilmu pengetahuan bagi para staf dan karyawan perusahaan. Setidaknya, para karyawan mampu mengembangkan perusahaan sesuai perkembangan zaman karena mereka lah penggerak dan motor perusahaan.

Panjaitan sadar, sedikit banyak usaha yang digelutinya sekarang adalah merupakan bagian dari program pemerintah. Untuk itu, ia berharap agar pemerintah turut campur tangan mengenai masa depan perusahaan. Yakni dalam hal perencanaan, man, money, peralatan dan produk hukum serta peraturan dengan batasan-batasan tertentu. Kemajuan perusahaan akan memberikan andil dalam mensejahterakan rakyat sedangkan kemundurannya berakibat sebaliknya.

“Sebagai pemimpin, saya harus menggugah dan memotivasi karyawan atau generasi muda. Saya juga berkewajiban mendorong dari belakang dengan menjadi contoh di depan, bersikap adil dan bijaksana, berusaha memberi pandangan visi ke depan agar jangan jalan di tempat. Namun, sekarang semua itu menjadi sangat terbatas, hanya di lingkungan kerja saja. Akibat kesibukan pekerjaan yang sangat padat, membuat saya harus membatasi aktivitas di tempat lain,” kata SM Panjaitan.

 

E. Kurniawan, S.Si MT

PT Indonesian Environment Consultant

Masalah Lingkungan dan Manusia Menjadi Passion Dalam Bisnis

Lingkungan hidup sebagai karunia dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan ruang bagi kehidupan dalam segala aspek dan matranya.
Manusia dengan kemampuan berpikir dan kepekaan emosinnya merupakan mahluk yang mumpuni di bumi ini. Telah menjadi sifat manusia untuk selalu meningkatkan taraf hidup, sehingga ia melakukan berbagai inovasi yang dapat mempermudah dan meningkatkan kehidupannya. Hal ini dimungkinkan oleh karena tangannya yang dapat membuat alat (prehensile hands) dan matanya yang stereoskopik, sehingga ia dapat melakukan konseptualisasi dan mengimplementasikan konsepnya.
Dalam rangka meningkatkan taraf hidup dan kehidupan dalam perateknya haruslah dapat memperhatikan aspek lingkungan dalam proses produksinya secara sungguh-sungguh dengan tujuan akhir adalah tersediannya sumber daya alam yang lestari.
PT. Indonesia Environment Consultant hadir dalam rangka mewujudkan terciptanya penyelarasan antara imperatif peningkatan taraf hidup dan kehidupan dan kewajiban moral untuk mewujudkan lingkungan yang lestari dengan mengusung satu visi besar kedepan yaitu Menjadi perusahaan Green Business terbaik di Indonesia dan sebagai mitra bagi institusi lain dalam upaya menciptakan Planet bumi yang lestari.

“Menurut saya, setiap manusia lahir dimuka bumi ini pasti punya alasan tertentu, oleh karena itu saya sangat menyadari bahwa Tunah SWT menciptakan saya dimuka bumi ini untuk 2 (dua) alasan yaitu manusia dan lingkungan. Oleh karena itu tidak berlebihan jika saya memilih manusia dan lingkungan menjadi passionnya hidup saya. Saya berharap dengan segala apa yang telah saya miliki dapat memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia dan pelestarian fungsi lingkungan. Untuk saat ini kegiatan dan aktivitas yang saya kerjakan selalu terkait di kedua koridor tersebut yaitu lingkungan dan manusia termasuk didalamnya menjalankan aktivitas bisnis yang saya lakukan. Mungkin nanti, sesudah semua berjalan sesuai harapkan akan mengembangkan ke ranah yang lain terutama untuk kegiatan bisnis dibidang lainnya,” ujar E. Kurniawan, President Director/CEO PT Indonesian Environment Consultant.

Enang –panggilan akrabnya- adalah lulusan S1 Jurusan Biologi Lingkungan di Universitas Sriwijaya tahun 2001. Setelah lulus, selama dua bulan bekerja di sebuah bank internasional, Citibank NA. Ketika perusahaan otomotif terkemuka, PT. Astra Internasional Tbk membuka lowongan pekerjaan ia melamar dan diterima di PT. Astra International-Toyota Cabang Sudirman dan cabang Ambasador Jakarta. Di tempat inilah, ia belajar mengenai ilmu bisnis, filosofi perusahaan dan lain-lain, yang akhirnya diimplementasikan di perusahaan sekarang.

Meskipun demikian, sembari bekerja Enang tetap menyimpan cita-cita besarnya, ia mengumpulkan modal untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Setelah lulus tes di Program Megister Teknik Lingkungan ITB Bandung, ia memutuskan keluar dari PT. Astra International Tbk. Semua orang terhenyak mendengar keputusan yang sangat radikal tersebut. Dari orang tua, saudara, tetangga dan sahabat-sahabatnya keheranan. Bagaimana mungkin, pada usianya yang baru 25 tahun dan memiliki penghasilan cukup baik ditinggalkan begitu saja untuk mengejar sesuatu yang tidak pasti.

“Cukup besar tentangan saat itu. Tetapi saya katakan, mungkin inilah jalan hidup yang digariskan Tuhan. Saya berjanji kepada orang tua dan saudara-saudara untuk tidak akan mengganggu hidup mereka dan tetap akan menjalankan peran saya sesuai harapan dan ekspetasi mereka. Makanya, demi cita-cita akhirnya saya keluar dari Astra.

Ketika setelah keluar dari Astra dan hampir satu bulan saya tidak bekerja di Astra rupanya Tuhan justru memberikan jalan terbaik karena atasan menyuruh saya bekerja part time di Auto 2000 Pasteur Bandung. Masih ingat pada waktu itu ketika wawancara dengan kepala cabang di Auto 2000 Pasteur justru atasnnya tersebut sangat mendukung sekolah saya. Ia bahkan mau menerima saya dengan syarat agar saya fokus kepada kuliah menjadi hal utama, bukan pekerjaan. Wah, ini memang rezeki untuk ku, bukan syarat itu,” katanya.

Enang menyelesaikan kuliahnya selama hampir dua tahun yaitu pada 2004-2006. Selama masa perkuliahan perjuangan berat harus dijalani karena menjalankan dua aktivitas sekaligus yaitu kuliah sambil bekerja. Sempet ia berpikir kuliah di program masternya saat ini tentunya tidak akan terlalu berat seperti program sarjana, namun rupannya beliau keliru aktifitas diperkuliahan justru menyita pikiran dan tenaga cukup besar sehingga diperlukan effort yang cukup besar untuk mengatur semuanya agar aktifitas perkuliahan dan bekerjanya tetap berjalan dengan baik. Aktifitas sehari-hari terkadang kuliah dimulai jam 7 pagi sampai dengan jam 1 siang lalu dilanjutkan dengan pergi kekantor untuk jalankan aktifitas pekerjaannya pulang pada malam harinya, dan dilanjutkan dengan mengerjakan tugas-tugas perkuliahan yang terkadang harus begadang semalaman untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut, kadang saat itu ia berfikir ini terlalu berat, tapi ia disadarkan bahwa semua akan indah pada waktunya, kilahnya.

Di ujung Akhir perkuliahnnya, saatnya ia disadarkan kembali untuk memilih jalan hidup yang menjadi cita-cita dan mimpinya dengan menggunakan kontrak hidup “berani” ia benar-benar menggunakannya untuk keluar dari perusahaan otomotif tersebut yang hampir 5 tahun membesarkannya. Sayangnya, ia harus menanggung “masalah besar” karena ketika setelah beberapa saat mengajukan diri untuk keluar suatu masalah membelitnya. Permasalahannya dengan customernya, membuat ia harus kehilangan seluruh tabungan yang dikumpulkannya selama bekerja, bukan hanya itu bahkan dia merasa disinilah titik terendah yang pernah dialaminya.

“Itu sebagai kompensasi dan mungkin itu juga resiko yang harus saya bayar untuk mendapatkan mimpi saya kelak. Tinggallah saya yang sudah keluar dari perusahaan, tak punya pekerjaan dan hanya menyisakan uang Rp49 ribu di rekening. Disinilah saya mendapat pelajaran yang sangat berharga. Bahwa ketika kita berani bermimpi, kita tidak hanya siap menghadapi risiko. Tetapi kita bahkan harus berani membayar risiko dari apa yang dicita-citakan apapun itu, karena saya percaya untuk mendapatkan sesuatu yang luar biasa tidak bisa ditempuh dengan cara yang biasa yang kebanyakan orang dilakukan,” ungkapnya.

Dari situ, Enang kemudian membangun perusahaan setahap demi setahap. Modal awalnya adalah semangat karena selepas dari Astra dan harus menghabiskan seluruh tabungan di akhir kariernya, ia tidak memiliki dana sama sekali. Hanya keinginan dan cita-cita yang membuatnya membangun perusahaan yakni melalui passion di bidang lingkungan dan sesekali menjalankan aktifitas lainnya seperti menjadi fasilitator dan co trainer di lembaga training untuk memuaskan hasratnya di passion lainnya terkait manusia.

“Saya merasa dikirimkan Tuhan untuk dua tujuan, lingkungan dan manusia. Tidak untuk orang lain makanya saya ambil risiko dan membangun ini. Dari berkantor ikut orang sekarang sudah memiliki kantor yang layak. Saat ini kami berkantor di Menara Hijau Building MT Haryono Jakarta. Tahun pertama dan kedua perusahaan berjalan, saya tidak pernah berbicara tentang manajemen, tetapi lebih banyak kepada value dan budaya corporate. Karena saya menganggap pondasi perusahaan terletak pada velue dan budaya corporate, katanya.

Keberanian dan Komitmen

Indonesian Environment Consultant memulai dengan membangun bisnis lingkungan berawal sebagai konsultan. Belakangan, IEC juga memasuki bisnis dalam kategori services di bidang lingkungan. Tahun 2012, ia ingin membuat award untuk teknologi lingkungan yang hasilnya akan diimplementasikan dalam industrial scale.

“Mungkin akan kita bangun bersama sponsor. Tujuan kita adalah membangun industri yang berbasis green business, kelak kita berharap akan menjadi pusat inkubasi bisnis untuk Greeen Technology. IEC nanti akan terjun ke pengolahan limbah, manufaktur dan energi,” kata finalis Teknopreuneur Award dan New Ventures Indonesia ini.

Menilik kembali perjalanan IEC, Enang menjelaskan bahwa perusahaan yang didirikannya menjadikan tekad sebagai modal utamanya dan dalam menjalankan usahannya adalah spirit sebagai motor dalam menggerakan roda perusahaan sesuai yang dikehendaki. Dengan spirit itu akan mudah meningkatkan kepercayaan dari para kolega yang disertai dengan filosofi penjualan spirit power selling yakni menjual by spirit. Jadi rahasianya adalah menyampaikan spirit yang dimiliki kepada calon pelanggan,” tuturnya.

Setiap perusahaan memiliki cara yang tersendiri untuk tumbuh dan berkembang, begitu juga dengan IEC ketika tahun-tahun awal focus terhadap value dan budaya corporate baru satu tahun belakangan fokus terhadap manajeman dan profit. Meskipun demikian, sebagai pemilik Enang sangat bersyukur karena semua itu sesuai harapannya dan semua perjalanan itu terasa indah lebih dari yang dibayangkan sebelumnya. Bagi pengagum Bung Karno ini, membangun pondasi bisnis yang kuat lebih berguna daripada harus untung dahulu. Dengan memiliki bisnis yang kuat dan akhirnya menguntungkan, berarti ia telah menjawab dan menepis keraguan orang tua dan saudara-saudaranya saat keluar dari Astra.

“Butuh pemahaman yang kuat terhadap proses berjalan dan siap menerima dinamika yang akan terjadi dalam membangun usaha ini. Hobinya naik gunung sewaktu kuliah telah memberinya pelajaran berharga, bahwa kita haruslah tetap fokus terhadap tujuan, dimana tujuan utama kita naik gunung untuk tiba di puncak dan pulang kembali ke rumah dengan selamat. Saya mengumpamakan dalam hidup sama seperti kita mendaki gunung sering sekali kita temukan jalan teramat terjal dan curam dengan segala liku dan kelok tetapi kalau ditelusuri lebih jauh bukankah semua itu menjadi sahabat setia yang akan menuntun kita menuju puncak untuk tiba tepat esok pagi.

Dalam meraih mimpi membutuhkan keberanian dan komitmen. Tidak cukup hanya keberanian untuk mengambil keputusan-keputusan besar tapi harus memiliki komitmen yang jelas dengan segala resiko yang siap dibayar bukan diterima. Ini bukan tentang apa yang kita bisa tetapi apa yang kita mau. Ini baru gentle,” tegasnya.

Enang yang dibesarkan dari dunia pendidikan –ayahnya Kepala Sekolah SMP ibunya Kepala Sekolah SD- meyakini bahwa power of spirit adalah modal utama. Spirit yang luar biasa sudah cukup untuk membangun perusahaan, meniti karier atau mengejar impian untuk hidup lebih baik. Karena dengan spirit, segala sesuatu baik kondisi baik atau buruk, senang atau susah akan dihadapi dengan besar hati.

“Hambatan itu bukan ketika susah saja lho, bahkan kesenangan juga bisa menjadi hambatan dalam meraih cita-cita kita. Contohnya saya pernah ditawari headhunter untuk menjadi vice president di perusahaan UK tentunya dengan gaji yang cukup menggiurkan. Disinilah kembali saya diuji untuk mengambil keputusan besar dalam menentukan pilihan. Setelah melalui shalat istikharah dan lain-lain, saya putuskan untuk tetap di sini. Karena menurut saya ini bukan tentang uang semata, tetapi menjalankan passion saya yang membuat saya lebih memberi nilai besar pada diri saya, inilah sebuah pilihan walaupun terkadang pilihan tersebut terasa tak popular, tetapi keyakinan yang besar untuk tiba pada cita-cita luhur mengantarkan saya untuk mengambil keputusan besar untuk tetap menjalankan dan mengendalikan perusahaan yang menjadi passionnya,” jelasnya.

Enang sangat bersyukur, perusahaan yang dikembangkan melalui power of spirit tersebut mulai menuai harapan. Ini membuat semangatnya semakin terbakar untuk membangun perusahaan menjadi lebih baik lagi. Apalagi dengan permasalahan lingkungan di Indonesia yang sangat banyak dan regulasi semakin ketat, akan menjadi modal cukup untuk menjalankan green business yang dijalaninya dan pada waktunya nanti uang akan datang dengan sendirinya.

“Saya sangat beryukur bisa seperti ini karena orang-orang di sekitar saya,
orang tua, sahabat, guru-guru spiritual dan lain-lain untuk memastikan agar saya menjalani semua ini dengan sungguh-sungguh. Balik lagi perumpamaan seperti naik gunung, semua tidak bisa dilakukan sendiri tetapi diperlukan rekan-rekan dimana disitu kita biasa saling support, selain itu sama halnya naik gunung ataupun pada saat meraih cita-cita kita perlu untuk istirahat sejenak untuk mencapai puncak tapi ingat jangan lama karena akan buat tubuh ini beku selanjutnya jalan lagi kalau perlu berlari agar cepat sampai di puncak gunung,” tuturnya.

Nikmati Proses

Pilihan Enang untuk menggeluti bisnis lingkungan atau Green Business tidak lepas dari latar belakang pendidikan dan pengalamannya. Pria kelahiran Bogor, 27 Juli 1978 ini, menggabungkan pengalaman sebagai karyawan dan latar belakang pendidikan Teknik Lingkungan ITB yang akan membuat sebuah bisnis berjalan dengan baik membuat penguasaha muda bungsu delapan bersaudara ini tetap dapat memberikan solusi dan kontribusi terhadap permasalahan lingkungan sangat prima.

“Alhamdulilah, prospek usaha ini pun ke depan sangat bagus. Karena hanya sedikit perusahaan seperti ini. Ditambah, sebagai mantan karyawan Astra yang bisa mengerti bagaimana Astra membangun business serta alumni Teknik Lingkungan ITB yang mengerti lingkungan, sehingga perpaduannya cocok dan klop mudah-mudahan akan menjadi modal besar untuk mengantarkan IEC menjadi salah satu perusahaan besar dinegeri ini,” kata anak pasangan H. E Padma (alm) dan H.R. Djulaeha ini.

Ke depan, Enang memiliki cita-cita untuk menjadikan perusahaan miliknya tidak kalah dengan perusahaan lain. Bahkan, cita-citanya menjadikan Indonesia Environment Consultant (IEC) memiliki brand yang kuat seperti IBM dan Microsoft. Di mana brand-brand itu telah memiliki nama besar dan memberikan kontribusi besar dengan produk yang dikeluarkan perusahaan tersebut.

“Saya mempunyai cita-cita, ke depan seperti perusahaan-perusahaan tersebut, ketika orang mengingat lingkungan maka nama IEC langsung disebut. Bahkan nanti saya berharap, IEC bukan lagi Indonesian Environment Consultant tetapi Indonesian Environment Corporation,” sebagai Holding Company harapnya.

Untuk saat ini, IEC mengerjakan proyek-proyek seperti studi lingkungan, AMDAL, desain CSR, Water Treatment yang lengkap dengan konstruksinya dan mengerjakan project-project Green Property. Kedepan IEC akan menjadi Green Incubator untuk para pebisnis lingkungan dan membangun projek-projek yang berbasis lingkungan seperti peyedia energy renewable seperti pembangkit tenaga mikrohidro.

Enang merasa diuntungkan dengan semakin tingginya kesadaran terhadap kelestarian lingkungan dari berbagai pihak. Selain pemerintah, masyarakat dan perusahaan juga memiliki kesadaran yang meningkat. Termasuk perusahaan vendor yang akan memilih perusahaan-perusahaan yang peduli terhadap lingkungan untuk memproduksi produk yang dihasilkan.

Setelah berhasil dengan passion-nya pada lingkungan dan manusia, Enang telah menetapkan tujuan hidup yang pasti. Suatu saat, ia nanti akan menyumbangkan tenaga dan pemikiran kepada penyelenggara negara. Bukan sebagai politikus, tetapi dengan berbekal keahlian dan pengetahuan yang dimiliki serta passionnya dibidang lingkungan dan manusia berharap dapat berkontribusi untuk kesejahteraan rakyat dan kelestarian lingkungan. “Tentu setelah saya melahirkan karya-karya yang bermanfaat dan terbaik, bagi khalayak,” imbuhnya.

Bagi generasi muda, Enang mengingatkan pada suatu hal yang harus dimiliki untuk mencapai kesuksesan. Pertama adalah menikmati proses yang sedang dijalankannya. Apapun itu, bagaimana kondisi yang dihadapi semua tidak lepas dari proses. Ibaratnya, seseorang yang ingin menjadi seseorang yang “luar biasa” dan pastilah dia melakukan sesuatu yang luar biasa juga, bukan melakukan hal biasa yang kebanyakan orang lakukan.

Selain itu, setiap orang harus memiliki keberanian untuk bertransformasi menjadi manusia lebih baik, baik menjadi seseorang yang berani, seseorang yang penuh cinta, seseorang yang jujur atau apapun itu, berharap akan menuntun kita menuju mimpi yang dicita-citakanya, mimpi hanya akan menjadi milik mereka yang percaya akan dirinya. Satuhal lagi Ketika mulai berjalan melenceng dari tujuan hidup yang dicita-citakan, generasi muda harus kembali pada track yang sudah ditentukannya sendiri. Tanpa itu, kesuksesan akan semakin jauh dari jangkauan dan generasi muda akan menjadi orang yang sangat biasa.

“Generasi muda harus belajar menikmati proses, meskipun itu berat. Mereka harus membayar lebih -waktu dan apa saja- untuk memperoleh sesuatu yang lebih banyak. Kemudian, alangkah baiknya jika kita memiliki komitmen hidup sendiri. Seperti saya dengan kontrak hidup “Berani”. Jadi ketika merasa takut, saya ingatkan diri sendiri bahwa ‘Mr Enang kontrak hidup Anda adalah berani, menjadi laki-laki yang berani, bagaimana sih….?’ Intinya jikalau kita ingin menjadi orang yang lebih, harus dibayar dengan cara yang lebih juga. Sekali lagi Tidak ada orang luar biasa tetapi melakukan usaha seperti apa yang biasa dilakukan orang. “I need to believe that something extra ordinary is possible.” Saya percaya sesuatu yang luar biasa akan terjadi pada orang yang bersungguh-sungguh. Bukan hanya pada diri saya sendiri tapi pada mereka yang percaya akan mimpinya.’ tegasnya.