Tag: saya

Thomas Aquino Bima Priadi

Country Manager PT ESRI Indonesia

Lulusan Teknik Sipil yang Pakar IT

Bangsa Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan setara dengan bangsa lain. Bahkan sejak dahulu kala, sejarah Indonesia telah menunjukkan kebesarannya sebagai sebuah bangsa yang disegani. Kalau sekarang terjadi kemunduran yang mengakibatkan ketinggalan, tentu sebuah kesalahan telah terjadi pada bangsa ini.

Padahal, bukan hanya Malaysia yang beberapa dekade sebelumnya mengirimkan ribuan pemuda untuk digembleng di Indonesia. Mereka inilah yang menjadi cikal bakal kesejahteraan negeri jiran tersebut belakangan ini. Tidak hanya itu, negara semaju Jepang pun pernah menggunakan jasa pemuda Indonesia dalam industri teknologi informasi (IT/information technology).

Salah satunya adalah saya yang mendapat kesempatan dari Prof. BJ Habibie yang memiliki gagasan membangun industri IT Indonesia bagi pasar asing. Waktu itu beliau dapat challenge dari Jepang untuk mengisi programmer di sana yang sangat kekurangan. Saat itu, Habibie merekrut sarjana dari berbagai disiplin ilmu untuk dididik IT di IPTN. Setelah itu, kami dikirim untuk job training di IBM Jepang. Selesai job training itu, kami bekerja di Jepang untuk mengerjakan beberapa proyek,” kata Thomas Aquino Bima Priadi, Country Manager PT ESRI Indonesia.

Seiring perjalanan waktu, lanjutnya, banyak industri Jepang yang melakukan relokasi proyeknya ke Indonesia. Para programmer yang asli Indonesia menjadi tumpuan harapan untuk menggarap proyek-proyek perusahaan Jepang di sini. Selain itu, para programmer juga memiliki kesempatan untuk mengerjakan proyek-proyek bagi pasar perusahaan lokal.

Saat itu, Bima –panggilan akrabnya- harus dihadapkan pada kenyataan bahwa ia harus memilih bidang IT yang menjadi minatnya. Sebagai lulusan teknik sipil FT UGM Yogyakarta, ia sangat berminat pada engineering. Meskipun demikian perkenalannya dengan sistem informasi geografi telah membuat dirinya jatuh cinta dan berminat untuk mengembangkan sistem ini di tanah air.

Saya memang tidak memiliki pengalaman di bidang ini. karena Ketika lulusan dari Teknik Sipil UGM Yogyakarta, Tetapi market bidang konstruksi saat itu kurang bagus, sehingga saya banting stir ke bidang IT yang belum sepenuhnya berkembang seperti sekarang. Ketika mengenal sistem informasi geografi, saya jatuh cinta dan bertekad menekuni usaha di bidang ini karena yakin berpeluang besar akan tumbuh dengan baik,” tegasnya.

Bima menyadari bahwa tantangan di bidang ini adalah minimnya data yang tersedia. Buktinya, banyak proyek yang tidak berlanjut karena data spasial yang dibutuhkan tidak tersedia. Akibatnya, banyak proyek perusahaan yang terpaksa tidak diselesaikan karena harus berinvestasi dalam jumlah besar untuk mengumpulkan data spasial ini.

Oleh karena itu, saya mengadakan koordinasi dengan lembaga penyedia data agar kebutuhan terhadap data selalu tersedia ketika diperlukan. Saya juga bertukar gagasan untuk mendorong kemajuan sistem informasi geografi di Indonesia. Saya berharap, tidak ada lagi proyek di Indonesia yang gagal diselesaikan karena ketersediaan data sangat minim,” tegasnya.

Standar IT Indonesia

Thomas Aquino Bima Priadi menuturkan PT ESRI Indonesia memiliki visi menyebarkan software ESRI menjadi acuan utama teknologi GIS di Indionesia. Ia berharap, teknologi ini dapat dipergunakan oleh seluruh lembaga, baik pemerintah maupun swasta.

Pertama menjadi standar yang dibutuhkan, kedua kita mampu menjadi bagian dari dunia teknologi informasi Indonesia. Kita ingin perusahaan menjadi leader dan standar sehingga siapapun nanti akan mengacu kepada perusahaan kita,” tegasnya.

Ke depan, lanjutnya, ESRI Indonesia ingin membangun SDM Indonesia. Utamanya SDM yang diperlukan untuk membangun dunia IT, khususnya didalam bidang Sistim Informasi Geografi di Indonesia. Upaya yang ditempuh adalah mencoba berkolaborasi dengan beberapa perguruan tinggi. Dengan pertimbangan, bahwa perguruan tinggi memiliki knowledge yang diperlukan sementara perusahaan memiliki teknologi.

Itu yang harus kita gabungkan dan menjadi simpul-simpul kemajuan dunia IT Indonesia. Mereka juga harus mampu menangkap respon dan kebutuhan-kebutuhan IT dunia. Sementara ini yang kami sudah mengawali upaya kerjasama dengan kami adalah ITB dan UI. Sedangkan di timur, ITS Surabaya dan Unhas Makassar, sementara ke barat kita sudah kerjasama dengan Unsyah Banda Aceh,” tandasnya.

Pria kelahiran Purworejo, 1 April 1962 ini mengungkapkan rasa syukurnya atas dukungan keluarga yang sangat luar biasa terhadap karier yang ditekuninya selama ini. Sang istri, Dr. Banon Lupi Edi (dokter di rumah sakit Harapan Bunda) dan kedua anaknya tidak pernah mengajukan komplain atas kesibukan suami dan ayahnya. Meskipun harus ditinggal pagi-pagi dan kembali ke rumah dini hari, mereka menerima kondisi tersebut.

Saya pulang ke rumah paling cepat pukul sembilan malam. Tidak jarang malah pukul dua pagi, jadi mereka semua sudah tidur. Tetapi bagi saya justru itulah dukungan luar biasa dari keluarga karena mereka memberikan pengertian terhadap kesibukan saya. Oleh karena itu, terhadap pengorbanann dan kerelaan mereka itu tidak akan saya sia-siakan. Keluarga telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berkembang semaksimal mungkin,” imbuh anak kedua dari lima bersaudaran pasangan Petrus Suyoso (Alm.) dan Henrica Sri Adiarti.

 Berbicara mengenai generasi muda, Thomas Aquino Bima Priadi mengungkapkan bahwa generasi muda sekarang lebih lengkap fasilitasnya. Apalagi bila dibandingkan dengan kondisi generasi muda di zamannya yang minim akses ke mana-mana. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi generasi muda untuk tidak bisa mempelajari dan memanfaatkan segala sesuatu di sekelilingnya agar menjadi lebih hebat lagi.

Yang perlu dilakukan adalah membantu memotivasi dan mengarahkan generasi muda agar kehidupan mereka lebih pasti dalam menatap masa depan. Generasi muda sekarang boleh saja menyukai yang serba instant karena sesuai dengan zamannya. Namun mereka juga tidak boleh mengabaikan proses yang harus dilakukan secara bertahap untuk memperoleh sesuatu. Diharapkan proses tersebut memiliki value bagi mereka sendiri, organisasi, masyarakat dan lain-lain,” tandasnya.

Tergantung Teknologi

Menurut Thomas Aquino Bima Priadi, banyak perusahaan sejenis yang menjalankan usaha di Indonesia. Tentu saja, semua perusahaan IT sangat mengandalkan kemajuan teknologi masing-masing karena itulah “jualan” perusahaan. Begitu juga dengan persaingan di dalam usaha ini tidak lepas dari kecanggihan teknologi yang ditanamkan pada produk IT.

Semua tergantung teknologi. Jadi bagaimana sebuah perusahaan memiliki teknologi yang cukup mumpuni sehingga mampu bersaing secara sehat. Tetapi yang jelas kita berpikir jangka panjang sehingga bisa dilihat sebagai mitra pemerintah yang sangat konsisten,” ungkap penyuka liburan di kampung halaman ini.

 Saat ini, lanjut penerima Most Strategic Win Tahun 2011 dari ESRI Inc. ini, dunia IT sekarang sudah menjadi bagian dari gaya hidup setiap manusia. Bisa dikatakan, umat manusia di muka bumi ini tidak bisa dilepaskan hidupnya dari sarana yang berhubungan dengan IT. Oleh karena itu, mau tidak mau-suka tidak suka, meskipun berlatar belakang pendidikan teknik sipil, dunia IT diselaminya.

Akhirnya saya mempunyai passion dalam bisnis ini. Meskipun awalnya memang berbagai kesulitan saya hadapi. Karena awalnya saya tidak pernah dididik di situ, bukan di set-up untuk itu. Tetapi saya diberi kesempatan, sehingga untuk masuk ke situ juga saya nikmati. Meskipun terjadi gap yang sangat berat, karena teman-teman yang lain sudah lebih dahulu menguasai kondisi dengan baik,” ungkapnya.

PT ESRI Indonesia di bawah pimpinan Thomas Aquino Bima Priadi sebagai Country Manager memiliki klien hampir seluruh kementerian di Indonesia. Beberapa perusahaan perminyakan dan perkebunan kelapa sawit juga turut menjadi klien perusahaan dalam masalah teknologi Sistim Informasi Geografi (SIG). Semua itu, membuktikan eksistensi perusahaan yang semakin dikenal sebagai penyedia jasa IT, khususnya SIG, terkemuka di Indonesia.

Di samping itu, Bima memiliki misi pribadi untuk menjadikan Indonesia sebagai penguasa informasi bagi dirinya sendiri tentang bangsa dan Negara Indonesia dan seluruh kekayaan yang terkandung di dalamnya. Karena dari sisi informasi, justru orang lain yang menjadi penguasa yang menurutnya sangat tidak bagus. Seharusnya, informasi tersebut menjadi sebuah hal yang sangat penting bagi setiap orang di Indonesia. Jangan sampai informasi-informasi yang sangat penting disediakan asing untuk keuntungan mereka sendiri dan bukan keuntungan bangsa kita.

 “Banyak informasi yang dikuasai oleh pribadi-pribadi sehingga kurang dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Seperti bank-bank Indonesia itu berlangganan informasi intelijen perbankan dari Malaysia, Hongkong, dan lain-lain. Padahal sumber informasi dari lembaga kita sendiri seperti BPS dan lain-lain. Ditambah sedikit pengolahan informasi, mereka jual kembali kepada kita dengan harga mahal. Oleh karena itu, sebenarnya bangsa Indonesia sangat dirugikan karena keuntungan akan datang kepada investor asing yang seharusnya dinikmati bangsa ini,” kata Thomas Aquino Bima Priadi.

H Abdul Hakim Fouad Attamimi

No Comments

Direktur Utama Faryha Tour

(PT Ronaldhitya Tour & Travel)

Sukses Dengan Terus Menerus Belajar dan Menekuni Satu Bidang

Dalam berkarier atau berbisnis, ketekunan terhadap salah satu bidang akan membuat orang menjadi sangat ahli. Selama menjalani karier atau bisnisnya, berbagai pelajaran berharga akan membuatnya menjadi spesialis di bidang yang ditekuninya. Proses yang dijalani selama menekuni pekerjaan akan menjadi pengalaman yang membawa kesuksesan.

Seperti yang dijalani oleh pengusaha biro perjalanan haji & umrah, H Abdul Hakim Fouad Attamimi, Direktur Utama Faryha Tour (PT Ronaldhitya Tour & Travel). Pilihannya untuk belajar di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua, Bali Jurusan Manajemen Pariwisata (lulus tahun 1993) adalah langkah awalnya menuju tangga kesuksesan. Pengusaha asli Bali kelahiran Klungkung, 1 November 1969 ini mengisahkan perjalanan hidupnya, berikut ini.

Saya asli Bali tetapi muslim dan hingga saat ini orang tua dan saudara-saudara semua ada di Bali. Tahun 1993, saya diterima bekerja di perusahaan biro perjalanan wisata, Nusa Dua Bali Tour & Travel. Awal Januari 1994, saya langsung dikirim ke Jakarta sebagai representative, karena banyak tamu dari Eropa yang ke Jakarta dahulu. Jadi, awalnya saya bekerja di biro perjalanan umum,” katanya.

Pertengahan tahun 1994, Hakim –panggilan akrabnya- pimpinan Nusa Dua Bali Tour Jakarta berangkat umrah bersama keluarga. Ia diajak dan menjadi tour leader dalam perjalanan spiritual tersebut. Terkesan atas pengalaman pertamanya di Tanah Suci, membuat ia sangat tertarik di bidang umrah & haji. Dua tahun kemudian, ia memutuskan keluar dari PT Nusa Dua Bali Tour dan bergabung dengan PT. Insan Salsabila, biro perjalanan umrah & haji.

 Sejak itu, Hakim mulai berkecimpung di bisnis umrah & haji. Beberapa kali ia berangkat untuk mengawal para jemaah umrah & haji plus. Kadang, kegiatan jemaah disambung dengan perjalanan wisata ke berbagai negara, seperti; Mesir, Turkey, Jordan, Jerussalem, Maroko, bahkan sampai Spanyol. Setelah beberapa kali pindah kerja di perusahaan umrah & haji, ia memperoleh pekerjaan sebagai Kepala Perwakilan Travel dari Saudi Arabia di Jakarta selama tiga tahun (2006-2009).

Tetapi tahun 2006 itu, saya mulai merintis usaha sendiri dengan membuka biro perjalanan wisata, khusus Umrah & Haji. Namun, sampai tahun 2010, izin umrah & haji belum keluar, hingga akhirnya saya membeli perusahaan yang sudah punya izin, PT. Ronaldhitya Tour & Travel dan mengganti merk dagang menjadi ‘Faryha Tour’. Saya membuka usaha ini karena melihat bahwa ke depan, dengan daftar tunggu pemberangkatan haji regular antara 6 – 10 tahun, umrah & haji plus menjadi pilihan alternative untuk ke tanah suci. Karena banyak yang lebih memilih umrah sambil menunggu jadwal keberangkatannya,” katanya.

Menurut Hakim, Fahyra Tour sekarang memiliki cabang di Surabaya dan perwakilan di berbagai daerah di Indonesia seperti; Tangerang, Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Sidoarjo, Malang, Pasuruan, Balikpapan, Bali, Palu dan lain-lain. Dengan dibukanya perwakilan di berbagai daerah, jemaah akan semakin mudah mendapatkan informasi tentang segala sesuatu mengenai rencana perjalanan umrah atau haji.

Perwakilan Daerah

Sebagai perusahaan yang baru beberapa tahun berdiri, menurut Hakim banyak kendala yang harus diatasi. Selain perizinan perusahaan umrah & haji yang sekarang dihentikan pemerintah RI, peraturan mengenai umrah & haji dari pemerintah Indonesia dan Arab Saudi pun terus berubah-ubah. Perubahan terjadi bahkan setiap tahun sehingga perusahaan travel umrah & haji kesulitan untuk mengikutinya.

Kendala lain, lanjutnya, datang dari customer sendiri yang rata-rata mendaftarkan diri pada detik-detik terakhir. Akibatnya perusahaan kesulitan untuk reservasi tiket pesawat dan akomodasi mereka di Arab Saudi. Selain itu, dengan visa yang sekarang menggunakan sistem kuota apabila waktunya terlalu mepet perusahaan akan kehabisan dan kesulitan mendapatkan kuota visa umrah & haji.

Minimal satu atau dua bulan sebelum berangkat mereka mendaftar. Kalau yang last minute itu biasanya jemaah dari Jakarta, sementara yang dari daerah biasanya lebih tepat waktu. Kebetulan kita membuka perwakilan sampai ke daerah sehingga informasi yang benar disampaikan kepada calon jemaah melalui perwakilan kami. Kita juga mengantisipasi dengan sistem reservasi penerbangan serta informasi masalah kuota visa kepada jemaah,” tegasnya.

 Hakim tidak pernah menyembunyikan informasi terkait keberangkatan ibadah umrah & haji kepada calon jemaah. Ia selalu menjelaskan kondisi yang dihadapi perusahaan terkait kendala perizinan dan lain-lain serta menawarkan alternative terbaik bagi jemaah, seperti memberikan alternative program atau alternative tanggal keberangkatan dan lain-lain. Kita juga jelaskan kepada jemaah segala kondisi selama di tanah suci agar para jama’ah siap dengan segala kondisi tersebut sebelum berangkat,” imbuh penyuka liburan ke Bali ini.

Untuk menghindari kejadian seperti itu, Hakim menggandeng jemaah melalui sponsorship seperti dari jemaah pengajian, pondok pesantren dan komunitas Islam lainnya. Sponsor itulah yang akan membuat paket umrah atau haji dan mendaftarkan diri ke perusahaan jauh hari sebelumnya. Ia juga membentuk pengajian bulanan yang diselenggarakan di berbagai daerah bagi mantan jemaah haji & umrah yang mempercayakan kepengurusannya kepada Fahyra Tour.

Jadi begitu selesai ibadah jemaah tidak kita lepas begitu saja, tetap ada komunikasi. Karena mungkin di lain waktu mereka akan menggunakan jasa kita lagi. Boleh dibilang umrah sangat berkembang baik, karena orang tidak selalu berlibur atau holiday ke Eropa. Ini perjalanan religius, berwisata sambil ibadah yang belakangan sangat diminati masyarakat,” tegasnya.

Dalam menyikapi persaingan, Hakim menyambutnya dengan sangat baik. Baginya, semakin banyak kompetitor bisnis travel umrah & haji semakin bagus. Ia menyerahkan kepada calon jemaah untuk menilai pelayanan yang diberikan perusahaan. Artinya, semua perusahaan yang bergerak di bidang umrah & haji akan berlomba memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah. Tinggal jemaah yang akan menentukan perusahaan travel mana yang menurut mereka paling baik.

Yang jelas komitmen kami adalah bahwa yang kami layani adalah ‘Tetamu Allah’ atau ‘Duyufurrahman’ sehingga kami tidak main-main dalam urusan ini. Kami secara profesional melayani jemaah karena itu adalah amanah, itu yang kita pegang. Karena biaya yang sudah dibayarkan itu adalah amanah yang harus kita pegang. Kita dahulukan & prioritaskan seluruh hak dan kewajiban jemaah,”tegasnya.

Hakim hanya berharap dari sisa biaya yang sudah dikeluarkan menjadi keuntungan perusahaan. Tidak pernah ia mengambil keuntungan di awal pembayaran yang telah dilakukan jemaah. Kebijakan perusahaan adalah memaksimalkan pelayanan kepada jemaah sementara urusan keuangan adalah belakangan. “Kalau tidak ada sisa, ya tidak apa-apa, karena yang kita layani itu adalah tetamu Allah sehingga ‘Dia’ nanti yang akan menggantinya,” tuturnya.

Kebanggaan Keluarga

Menurut H. Abdul Hakim Fouad Attamimi, usahanya lebih fokus pada bidang umrah & haji. Meskipun memiliki pengalaman bekerja di perusahaan travel pariwisata umum –bukan umrah & haji- namun ia tidak tertarik untuk ikut meramaikan bisnis tersebut. Persaingan dan banyaknya perusahaan besar yang “bermain” di travel pariwisata umum membuat ia lebih memilih menekuni umrah & haji.

Jadinya kita malah semakin fokus pada pelayanan jemaah. Karena seperti yang saya gariskan kepada karyawan, bahwa jemaah itu adalah tetamu Allah yang harus dilayani dengan sepenuh hati serta ikhlas dalam bekerja,” kata ayah tiga putri dari pernikahannya dengan Wahidah Rasjid Bawazier ini. Hakim mendapat dukungan penuh dari keluarga atas usaha yang ditekuninya selama ini. “Saya setiap tahun juga membawa keluarga untuk pergi umrah ataupun haji. Itu merupakan kebanggaan bagi keluarga juga, lho…,” imbuhnya.

Sulung dari lima bersaudara pasangan Fouad Abdullah Attamimi dan Latifah Usman ini melambungkan harapan besar pada usahanya. Langkah awal adalah dengan mengokohkan, memantapkan pundi-pundi dan tiang-tiang penyangga Fariha Tour terlebih dahulu. Baik dari segi permodalan, manajemen maupun SDM semua harus dibenahi dengan baik agar cita-citanya untuk menjadikan Faryha sebagai leader dalam pelayanan hamba Allah. “Terutama dalam pelayanan serta menjadi amanah atau dapat dipercaya masyarakat luas,” tambahnya.

Kepada pemerintah khususnya Kementerian Agama RI, Hakim berharap agar umrah & haji plus lebih ditingkatkan pengurusannya. Karena selama ini, haji plus dikelola sendiri oleh travel agen. Sedangkan pemerintah sering mengulur waktu dalam hal pelunasan sehingga travel agen mengalami kesulitan dalam penyiapan pelayanan kepada jemaah, terutama penerbangan dan akomodasi. Sistem yang berlaku sekarang, pemerintah menerapkan kebijakan pelunasan pembayaran bersamaan dengan jemaah regular. Akibatnya, waktu yang dimiliki agen untuk mempersiapkan kebutuhan jemaah sangat sedikit sehingga menjadi tidak maksimal.

Peran pemerintah dalam ONH Plus masih minim, karena birokrasi terlalu kaku. Apalagi perizinan sekarang masih distop untuk umrah & haji dan sangat dibatasi. Sebenarnya kalau pemerintah tegas, banyak travel yang punya izin umrah & haji tetapi tidak memiliki customer namun kebalikannya banyak travel yang notebene tidak punya izin umrah & haji tetapi memiliki dan memberangkatkan banyak jamaah,” tutur pemilik moto “Melayani tamu Allah dengan Amanah” ini.

Hakim yang menjadi anggota HIMPUH dan ASITA ini, berpesan kepada para generasi muda untuk tidak takut menjalankan sebuah usaha. Generasi muda juga harus mempergunakan waktu yang mereka miliki sebaik mungkin. Ia sangat menyayangkan talenta muda berbakat yang disia-siakan. Apalagi dengan derasnya tayangan TV yang menawarkan mimpi instant untuk menjadi terkenal dan sukses. Akibatnya, banyak generasi muda yang menyia-nyiakan hidupnya untuk mengejar mimpi yang tidak pasti.

Seharusnya generasi muda bisa lebih tekun dan bersabar mengejar kesuksesan melalui proses yang panjang. Seperti yang saya alami, artinya dari saya mulai menjadi pegawai biasa, manager dan merintis usaha sendiri. Jadi saya harapkan para pemuda, yang baru lulus sekolah berusaha dan mempergunakan waktu sebaik mungkin. Selain itu, selalu gunakan kepercayaan yang diberikan kepada mereka,” ujar H Abdul Hakim Fouad Attamimi.

Ir. H SugiSugiatmo Kasmungin, MT., PhD

No Comments

Ketua Jurusan Teknik Perminyakan Universitas Trisakti

Goodwill Pemerintah Diperlukan untuk Mengurangi Impor Minyak

Kebutuhan Indonesia terhadap sumber energi minyak bumi cukup tinggi. Sayangnya, pasokan energi tak terbarukan ini dari dalam negeri sangat kurang sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan nasional. Padahal, selama ini Indonesia memiliki sumur-sumur minyak yang sangat potensial dan dapat memenuhi pasokan kebutuhan energi konsumsi nasional.

“Dari satu juta barel minyak bumi produksi nasional, pemerintah Indonesia hanya memiliki 40 persen saja, sisanya milik asing. Akibatnya, kita harus impor dari Singapura sebesar 600 – 700 ribu barel karena kebutuhan kita 1,3 juta barel per hari. Sebenarnya kalau pemerintah mempunyai goodwill terhadap kebijakan perminyakan dengan benar, kita dapat mengurangi impor BBM dengan membangun kilang baru dan meningkatkan kapasitas kilang,” kata Ir. H Sugiatmo Kasmungin, MT., PhD Ketua Jurusan Teknik Perminyakan Universitas Trisakti.

Sebagai ahli reservoir EOR – Enhanced Oil Recovery (peningkatan produksi minyak bumi), Sugiatmo memahami dengan baik seluk beluk dunia perminyakan di Indonesia. Banyak sumber ladang minyak yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri. Sayangnya, kekurangan dana dan tidak adanya kebijakan pemerintah yang tepat membuat peluang tersebut diambil investor dari luar negeri.

Meskipun demikian, Sugiatmo memahami kenapa bangsa Indonesia harus menerima kondisi tersebut. Mahalnya biaya untuk mengeksplorasi satu sumur minyak yang mencapai lima belas juta dolar saja, membuat perusahaan minyak sekelas Pertamina harus berpikir ulang untuk mencari sumur minyak sendiri dan membuka main set untuk kelas dunia.

“Dalam mencari minyak perlu modal tetapi kita tidak mempunyainya. Karena dana hasil pertambangan digunakan untuk keperluan lain, bukan untuk pertambangan itu sendiri. Sebenarnya, SDM dan sumber daya alam kita tidak kekurangan. Dengan dukungan tekonologi serta modal yang sebenarnya ada seharusnya Indonesia tidak terpuruk seperti sekarang,” jelasnya.

Sugiatmo menegaskan perlunya kebijakan politik pemerintah untuk mendukung kemajuan dunia pertambangan khusunya perminyakan di Indonesia. Salah satunya adalah regulasi perizinan pertambangan yang sering menghambat eksplorasi. Karena lamanya proses perizinan operasi pengeboran yang mengakibatkan semakin membengkaknya biaya yang harus dikeluarkan perusahaan pertambangan.

“Pengurusan izin pertambangan memerlukan waktu satu tahun karena melalui Kementerian Kehutanan, bupati dan lain-lain. Artinya perusahaan pertambangan selain mengeluarkan pembiayaan satu sumur yang cukup besar, juga harus mengeluarkan biaya ekstra besar untuk perizinan saja. Jadi mereka harus menanggung biaya yang membengkak semakin besar,” ujarnya.

Keluarga Perminyakan

Ir. H Sugiatmo Kasmungin, MT., PhD lahir di Balikpapan, sebuah kota kecil di Kalimantan yang terkenal sebagai ladang minyak terbesar di Indonesia. Sedangkan leluhurnya berasal dari Cepu, wilayah kaya minyak yang dieksplorasi sejak zaman penjajahan Belanda. Keluarganya pindah ke Sanga – Sanga (99) setelah sang ayah dipindahtugaskan ke sana.

“Jadi saya berasal dari keluarga perminyakan, karena dari nenek moyang bekerja di bidang perminyakan semua. Saya menghabiskan masa kecil sampai SMA di Balikpapan. Setelah itu, saya masuk Usakti tahun 1981 dan selesai tahun 1988. Sejak tahun 1984 saya menjadi asisten mahasiswa dan diangkat sebagai dosen tetap setelah lulus kuliah,” ujarnya.

Tahun 1991, Sugiatmo -masih seorang dosen muda- mendapat tugas belajar S2 yang mampu diselesaikan pada tahun 1994. Dua tahun kemudian, ia memperoleh kesempatan belajar lagi ke Malaysia. Di sini, ia belajar mengenai bidang keahlian teknik reservoir khususnya di bidang EOR – Enhanced Oil Recovery, yang sangat dibutuhkan Indonesia dalam meningkatkan produksi minyak. Yakni mendorong minyak yang tersisa di reservoir untuk diangkat ke permukaan.

“Saya memprakarsai berdirinya laboratorium di Universitas Trisakti meskipun menemukan sangat banyak kendala, terutama biaya dan tempat. Karena pembangunan laboratorium membutuhkan biaya yang sangat besar. Tetapi yang jelas kalau ingin maju kita harus disiplin, kerja keras, jujur dan toleransi, kerjasama dan komunikasi untuk menghindari kesalahpahaman,” tegasnya.

Dengan kesibukannya yang sangat menyita waktu -Sugiatmo harus stand by di kampus pukul enam pagi- ia tidak memiliki waktu yang leluasa dengan keluarga. Apalagi keluarganya sebagian besar tinggal di Yogyakarta karena ikut dengan sang istri yang berprofesi sama dengan dirinya, menjadi dosen. Saat ini istrinya adalah Ketua Program Studi Kedokteran Gigi FKG Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

“Jadi istri saya lebih pinter. Yang jelas, bagi kami yang penting adalah terus membina komunikasi keluarga sehingga saya pagi-pagi sudah harus telepon menanyakan kabar berita. Karena anak saya masih kecil-kecil dan memerlukan perhatian khusus. Karena kami sesama pendidik, jadi kami sudah tahu sama tahu sehingga saling mengerti kelebihan dan kekurangan pasangan,” tegas pria yang bangga mendidik orang menjadi berhasil tersebut. “Itu kebanggaan tersendiri bagi saya. Untuk saya sendiri, kalau nanti sudah bebas financial dan waktu, saya ingin membuka café segar ‘Wong Mandiri’ saja,” imbuhnya.

Terbiasa menghadapi generasi muda –jurusan perminyakan memiliki mahasiswa sekitar 1200 orang- membuat Sugiatmo sangat memahami mereka. Bagaimana dinamika kehidupan generasi muda bagi bangsa dan negara harus menjadi skala prioritas. Karena Indonesia yang sebenarnya sangat kaya raya harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran bersama.

“Tetapi dalam kekayaan itu harus memilah-milah mana yang penting dan harus kita dahulukan. Kita harus mampu berkontribusi mensejahterakan bangsa dengan kekayaan alam dimiliki negara ini. Oleh karena itu, apakah kekayaan alam tersebut bisa menjadi sumber kebahagiaan atau malapetaka, semua tergantung bagaimana kita mengolahnya. Intinya, kita itu kaya tetapi miskin jiwa karena kita tidak pandai dalam mengelola dan mengolah,” tegasnya.

Apalagi, lanjutnya, secara kualitas SDM Indonesia juga tidak kalah dengan bangsa lain. Sugiatmo telah membuktikan sendiri dalam berbagai seminar di luar negeri yang pernah diikutinya membuktikan hal tersebut. Bahkan saat ia tugas belajar di Malaysia, justru dirinya yang melengkapi fasilitas berdirinya laboratorium EOR di universitas bergengsi tersebut dengan biaya dari universitas. “Jadi secara kualitas kita tidak kalah dalam hal skill SDM. Hanya saja diperlukan peningkatan kompetensi SDM secara terus menerus agar kita tidak ketinggalan,” tambahnya.

Orientasi Kurikulum: Masa Depan

Sejak menjabat sebagai Ketua Program Studi Teknik Perminyakan tahun 2006, Dr. Sugiatmo Kasmungin telah membawa iklim perubahan berbagai kemajuan. Meskipun demikian, ia mengakui kemajuan yang dicapai tidak lepas dari usaha dan kerja keras semua pihak.

“Kami taat peraturan yang telah ditetapkan universitas. Setiap event profesi kita selalu melibatkan sivitas akademika, sehingga sosialisasi program studi dapat berjalan dengan baik. Pertumbuhan mahasiswa begitu pesat, sehingga diperlukan perubahan cara berpikir komprehensif bagaimana memajukan program studi dengan benar agar tidak ketinggalan dengan universitas lain,” tandasnya.

Program Studi Teknik Perminyakan mengalami peningkatan animo mahasiswa dari tahun ke tahun. Tahun 2007 mahasiswa yang diterima sebanyak 154 dan berhasil meluluskan 144 mahasiswa. Tahun 2008 mahasiswa baru meningkat menjadi 186 dan meluluskan 177 mahasiswa, tahun 2009, 289 mahasiswa baru dan 143 lulusan. Sedangkan tahun 2010 menerima 305 mahasiswa baru, 151 lulusan dan tahun 2011 program studi Teknik Perminyakan mampu menampung 375 mahasiswa dan meluluskan 152 sarjana teknik perminyakan.

Berbicara mengenai akreditasi, Sugiatmo mengakui belum memuaskan berbagai pihak. Karena Jurusan Teknik Perminyakan memiliki akreditasi B tetap pada tahun 2011 ini. Ia mengakui banyak faktor yang menentukan meskipun secara penilaian terdapat peningkatan. Hal tersebut terlihat dari angka penilaian yang mengalami peningkatan dari 316 tahun 2006 menjadi 321 pada tahun 2011.

Menurut Sugiatmo, kondisi tersebut terkait dengan dukungan bidang akademik, karya ilmiah dan kegiatan kemahasiswaan dan alumni. Untuk itu diperlukan peningkatkan akreditasi yang memerlukan investasi sarana dan prasarana pendidikan, penambahan dosen baru dan peningkatan jenjang kepangkatan akademik dosen.

“Staf pengajar umumnya telah memiliki sertifikasi dosen dan pengalaman di bidang teknik perminyakan lebih dari 10 tahun. Seperti diketahui bahwa untuk lulus S-1 program studi teknik perminyakan mempunyai beban 144 SKS yang harus ditempuh selama 8 semester,” ujarnya.

Kompetensi lulusan sarjana teknik perminyakan diarahkan kepada lima bidang kompetensi yaitu: teknik reservoir, teknik pemboran, teknik produksi, teknik penilaian formasi dan pengelolaan lapangan. Semua itu dilakukan secara bertahap sejak mahasiwa semester dua yang harus mengikuti kuliah lapangan minyak dan gas bumi. Pada semester 6 mahasiswa akan dibekali kerja praktek dilanjutkan semester 7 masuk studio pengembangan lapangan dan semester 8 akan menjalani tugas akhir.

“Pada tahun ini, akan dibagi per satu kelas dihuni oleh 40-50 orang mahasiswa. Tetapi tergantung dengan kondisi yang ada sehingga setiap pelajaran terdapat 7-8 kelas paralel yang dikoordinasikan oleh seorang dosen koordinator mata kuliah pengampu dengan kepakaran sama,” ungkapnya.

Metode pengajaran di Jurusan Teknik Perminyakan membuat IPK lulusannya pun terus meningkat. Dari rata-rata 2.8 menjadi 3.0 dan mendekati target universitas meskipun secara individu terdapat mahasiswa angkatan 2006 yang lulus dengan nilai 3.81. Dari laporan EPSBED tiap angkatan juga menunjukkan terdapat mahasiswa dengan prestasi mengilap. “Bahkan angkatan 2009 sudah ada yang dibooking untuk magang di perusahaan minyak. Tiap tahun program studi meluluskan sekitar 140-180 orang atau sekitar 50-80% dari in take mahasiswa tiap tahun,” imbuhnya.

Menurut Sugiatmo, semua itu tidak lepas dari kurikulum berorientasi pemikiran ke depan. Apalagi di era global sekarang ini permasalahan harus diselesaikan secara team dan sangat cocok di dunia perminyakan. Dengan catatan, dalam sebuah team diperlukan orang-orang yang menguasai benar dengan masalah dan bagaimana menyelesaikan masalahnya tersebut. Untuk itu kurikulum program studi pada semester 7 diberikan mata kuliah pengembangan lapangan minyak dan gas bumi.

“Dalam satu team terdapat delapan mahasiswa yang diberikan suatu persoalan lapangan. Disini secara tak langsung mahasiswa belajar dan berpikir secara terpadu dalam memutuskan, merencanakan, menganaliasa dan memecahkan persoalan pengembangan lapangan menyangkut pengembangan engineering dan soft skills. Ini termasuk kurikulum yang berorientasi pemikiran global,” tandasnya.

Selain itu, lanjutnya, Jurusan Teknik Perminyakan selalu terbuka dan proaktif terhadap alumni dan stakeholder. Karena lulusan program studi sebanyak 2300 orang telah tersebar di seluruh belahan dunia ini dan bekerja di berbagai perusahaan minyak. Melalui mailing list, universitas selalu memberikan informasi yang baik untuk kemajuan bersama, seperti mengundang alumni untuk memberikan kuliah tamu tiap bulan, sharing pengembangan soft skills dan trik mencari kerja serta berprestasi di bidang perminyakan.

“Untuk lebih meningkatkan mutu akademik, kami secara team berusaha melakukan kerja sama dengan Kementerian Sumber dan Energi, BP Migas, Dirjen Migas, Pertamina, DPR, Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Meksiko. Mereka kami undang, baik sebagai nara sumber ataupun partisipasi dalam kegiatan hulu migas,” kata Ir. H Sugiatmo Kasmungin, MT., PhD.

Muhammad Kadafi, SH., MH

No Comments

Rektor Universitas Malahayati

Melatih dan Mengembangkan Jiwa Leadership Serta Entrepreneurship Mahasiswa

Seorang pengusaha atau entrepreneur harus memiliki dua karakter yang membedakannya dari orang-orang biasa. Kedua karakter tersebut membuat pola dan cara berpikir pengusaha dalam menilai perkembangan di sekelilingnya menjadi berbeda. Perbedaan itulah yang membuat seorang entrepreneur selalu memperoleh keuntungan yang menjadikan mereka sebagai orang sukses dan terpandang.

Kedua karakter tersebut harus dimiliki oleh orang-orang yang bercita-cita menjadi entrepreneur. Sifat atau karakter yang harus dimiliki entrepreneur tersebut tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus melalui pembelajaran dan pelatihan yang berkesinambungan. Kedua karakter tersebut yaitu; pertama kreatif (creative) adalah kemampuan mengembangkan ide dan cara-cara baru dalam memecahkan masalah dan menemukan peluang (thinking new things). Kedua inovatif (innovative) adalah kemampuan menerapkan kreativitas dalam rangka memecahkan masalah dan menemukan peluang (doing new things).

“Sebagai seorang pendidik saya mengajarkan mahasiswa untuk senantiasa melatih dan mengembangkan jiwa entrepreneur dan leadership mereka dengan aktif mengikuti pelatihan, training, seminar, dan symposium yang berkenaan dengan pengembangan diri. Selain itu, saya mewajibkan kepada seluruh mahasiswa untuk mengikuti dan berperan aktif dalam organisasi-organisasi kemahasiswaan yang ada di universitas ini tanpa menomorduakan kuliah atau belajar mereka. Dengan begitu saya yakin mahasiswa akan memiliki jiwa kepemimpinan yang baik dan secara tidak langsung jiwa entrepreneur juga terbentuk,” kata Muhammad Kadafi, SH., MH., Rektor Universitas Malahayati Bandar Lampung.

Menurut Kadafi, pendidikan berorientasi entrepreneurship mutlak dibutuhkan pada saat ini. Mengingat semakin sempit dan susahnya lapangan kerja akhir-akhir ini Dengan berwawasan entrepreneur seorang mahasiswa akan lebih siap menghadapi pasar kerja dibandingkan mereka yang tidak memiliki jiwa entrepreneurship. Sesorang yang memiliki jiwa entrepreneur senantiasa mendayagunakan semua kemampuan yang dimiliki untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan. “Hebatnya, orang-orang seperti ini tidak pernah menggantungkan tujuan hidupnya tersebut kepada orang lain. Berfikir kreatif dan inovatif menjadi modal dasar dari seorang entrepreneur,” tegas pemuda kelahiran Aceh Besar, 8 Oktober 1983 ini.

”World Class University”

Dalam usia masih sangat muda, Muhammad Kadafi, SH., MH, telah memiliki pengalaman matang di dunia pendidikan. Berawal dari memegang jabatan kecil di universitas, perlahan naik menjadi Rektor Universitas Malahayati. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Yayasan di salah satu universitas swasta terkemuka di Aceh.

Sebagai pengajar, banyak pengalaman yang telah dialami Kadafi. Ia memiliki dedikasi, profesionalisme dan kredibilitas sebagai dosen dalam menciptakan lulusan berkualitas mumpuni. Meskipun mengajar dengan honor kecil dan tuntutan kerja serta tinggi, semua dijalani sebagai pengalaman berharga yang sangat berkesan mendalam.

“Dalam hidup ini, saya memiliki obsesi yang masih melekat di benak saya, yakni untuk membuat Universitas Malahayati menjadi ‘World Class University’ dalam waktu dekat. Untuk mewujudkan ‘World Class Univesity’ ada tiga standar yang harus dicapai, yaitu;
 Keberhasilan dalam merekrut SDM terbaik seperti dosen, staf, karyawan dan mahasiswa,
 Kemampuan universitas dalam mengelola dan menghimpun dana dengan sukses,
 Manajemen universitas yang baik yang dilakukan secara profesional, efektif dan efisien.
Sehingga SDM yang dimiliki mampu dimanfaatkan untuk pelayanan pendidikan yang terbaik,” imbuhnya.

Kadafi mengungkapkan tingginya persaingan di bidang pendidikan tidak bisa dielakkan oleh penyelenggara pendidikan. Namun, persaingan membuat semua pihak yang berkutat di dalamnya berusaha untuk meningkatkan kualitas masing-masing. Sebagai pengelola perguruan tinggi swasta, ia sadar bahwa tanpa peningkatan mutu, kualitas pembelajaran serta penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, universitas swasta akan kehilangan mahasiswa. Mahasiswa yang belajar di universitas atau perguruan tinggi swasta pasti memiliki tujuan yang sama yaitu memilih universitas favorit, berkualitas, lengkap dengan sarana dan prasarana, berskala internasional dan memiliki prospek kerja yang jelas setelah lulus.

“Untuk itu kami setiap waktu selalu memperbaiki kekurangan yang ada seperti sarana dan prasarana kampus, lab, ruang belajar, sarana olahraga dan kemahasiswaan. Disamping itu pula perbaikan dibidang pelayanan dan mutu kualitas pendidikan makin hari makin ditingkatkan. Selain itu juga kami sedang mempersiapkan untuk ‘world class university’ dan sudah barang tentu kerjasama dengan universitas luar negeri dibutuhkan dalam hal ini,” ujar Vice Director RS. Bintang Amin Husada tersebut.

Dalam menjaring mahasiswa, Kadafi menyadari pentingnya iklan atau promosi di media masa. Tetapi yang lebih penting lagi adalah bentuk pelayanan universitas kepada masyarakat yang masuk dalam Tri Darma Perguruan Tinggi. Aspek-aspek dari praktek Tri Darma Perguruan Tinggi menjadi sarana efektif untuk sosialisasi tentang kualitas, kredibilitas dan eksistensi perguruan tinggi. Program pelayanan terhadap masyarakat secara langsung misalnya, pengadaan acara-acara publik di Universitas Malahayati, pengadaan lomba, seminar, loka karya dan konferensi baik tingkat pelajar maupun mahasiswa yang menjadi agenda rutin kampus.

Menurut Ketua Yayasan Abulyatama Aceh ini, pendidik bukan sekadar pengajar melainkan mendidik para peserta didik (siswa, mahasiswa) agar “menjadi manusia”. Tugas mengajar yang dilakukan seorang pengajar tidak boleh terlepas dari tugas mendidik. Tentu saja, terdapat bahaya yang besar bila kegiatan mengajar yang dilakukan pengajar terlepas dari tugas mendidik terhadap para siswa. Secara ideal, diharapkan tugas mengajar yang dilakukan guru harus menyatu dengan tugas mendidik.

Mengajar, lanjutnya, dalam arti sempit cenderung memiliki konotasi kegiatan teknis, yaitu menyampaikan pengetahuan yang dimiliki guru kepada para siswa. Begitupun metode mengajar, cenderung memiliki konotasi teknis, yaitu cara-cara yang efektif untuk menyampaikan pengetahuan dari guru ke siswa. Sedangkan mendidik cenderung memiliki arti yang luas dan lebih mendalam, yaitu sebagai kegiatan mengembangkan potensi manusiawi yang hidup dalam diri setiap siswa yang harus dapat berkembang secara utuh dan optimal.

Kecenderungan dalam mendidik, jelas Kadafi, adalah berkaitan dengan pengembangan kepribadian. Mendidik berarti mengembangkan moralitas kejujuran, semangat kerja keras, kemandirian, kreativitas, ketabahan hati dalam menghadapi permasalahan peserta didik. Mereka juga dididik dan ditempa untuk tidak mudah putus asa, menghargai pekerjaan, toleransi dan kerjasama dengan orang lain, berpikir logis dan kritis, kerendahan hati dan kasih sayang.

“Ungkapan: ‘dalam mengajar guru harus tidak melupakan tugas mendidik’ memiliki makna yang dalam dan luas. Dalam mengajar guru jangan hanya bersifat teknis-mekanis, yaitu menyampaikan mata pelajaran saja. Tetapi lebih dari itu, guru harus berani menghidupkan ruh-ruh potensi manusiawi yang hidup dalam diri siswa, seperti kemandirian, kreativitas, moralitas kejujuran, semangat kerja keras, dan lain-lain,” tegas Direktur Kadafi Speed Shop ini.

Pemerintah Mendukung

Putra keempat dari enam bersaudara pasangan DR (HC) H. Rusli Bintang dan Dra. Rosnati Syech ini mengungkapkan besarnya peranan pemerintah dalam dunia pendidikan. Tidak hanya alokasi dana pendidikan dari APBN yang meningkat drastis menjadi 20 persen, tetapi pemerintah juga telah membuat regulasi, kebijakan dan program-program yang disesuaikan dengan kebutuhan saat ini.

Regulasi pemerintah tentang minimal wajib pasca sarjana (S2) bagi pengajar atau dosen di perguruan tinggi memiliki dampak positif untuk peningkatan mutu pendidikan. Kebijakan pemerintah yang dicanangkan oleh Mendiknas untuk mendorong PTS atau PTN berkelas dunia yang mengacu pada pasar bebas di era globalisasi. Pemerintah juga membuat program HIBAH kepada PTN maupun PTS dalam peningkatan sarana dan prasarana perkuliahan.

“Perlu kita ketahui bahwa mengacu pada peraturan pemerintah dalam otonomi pendidikan baik swasta maupun negeri, menjadi kebijakan perguruan tinggi swasta maupun negeri itu sendiri untuk mengelola dengan baik sistem maupun manajemen kurikulum pendidikan yang ada. Di sisi lain setiap perguruan tinggi dituntut untuk dapat mencapai standar pendidikan yang ditetapkan pemerintah,” ungkapnya.

Oleh karena itu, jelasnya, akan menjadi problem setiap perguruan tinggi negeri maupun swasta, di pusat maupun di daerah dalam pencapain standar tersebut. Untuk itu, diperlukan suatu proses penyampaian informasi mengenai program-program pendidikan yang dapat memacu proses pendidikan agar ilmu pengetahuan dapat terserap dan diterima peserta didik dengan baik. “Untuk itu saya akan tetap berjuang serta mengabdikan diri, agar cita-cita bangsa Indonesia umumnya bisa terwujud demi kemajuan pendidikan di Indonesia yang semakin baik,” tambahnya.

Kadafi melihat belum maksimalnya kontribusi pendidikan tinggi dalam membangun Intellectual Quotient, Emotional Quotient, dan Spiritual Quotient bangsa Indonesia. Penyebabnya, pendidikan tinggi di Indonesia pada dasarnya mengacu pada peningkatan mutu dan kualitas peserta didik dalam hal intelektual, mental dan spiritual. Dalam pelaksanaannya, pendidikan di Indonesai hanya mengedepankan perkembangan kecerdasan Intelektual (IQ) semata dan seringkali melupakan pentingnya kecerdasan emosional serta spiritual.

“Perlu diketaui, tingkat kesuksesan seseorang lebih banyak dipengaruhi oleh kecerdasan emosional. Sebagai contoh seorang yang kuat intelektualnya tetapi lemah emosional dan spiritualnya akan menjadi seorang yang otoriter. Contoh lain akan pentingnya Intellectual Quotient, Emotional Quotient, dan Spiritual Quotient adalah dalam pembentukan entrepreneur yang sejati. Seorang entrepreneur yang sejati akan menyeimbangkan ketiga unsur tersebut. Pada intinya ke depan pendidikan di Indonesia harus menyeimbangkan perkembangan ketiga unsur tersebut demi tercipta SDM yang berkualitas dan memiliki daya saing yang tinggi di kancah internasional,” tuturnya.

Minim Dukungan Politik

Sebagai penyelenggara pendidikan, Kadafi merasakan dunia pendidikan di Indonesia semakin berkembang. Selain dukungan dana 20 persen dana APBN untuk pendidikan, sejak lama pemerintah telah mencanangkan program wajib belajar sembilan tahun. Program ini membuat tingkat pendidikan di Indonesia meningkat dan mampu menekan tingkat angka tenaga kerja yeng tidak memiliki keahlian dan pendidikan dasar. Namun, cukup disayangkan bahwa program-program yang dijalankan pemerintah menjadi tidak maksimal akibat adanya pihak atau oknum yang tidak bertanggung jawab. Contohnya, pendanaan untuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS) banyak mengalami korupsi dimana-mana.

“Untuk kebijakan politik yang berdampak langsung terhadap dunia pendidikan masih bisa dibilang minim. Terlihat dari system penerimaan pegawai negeri sipil (PNS) dan honorer yang masih belum transparan hingga saat ini. Pemerintah seharusnya meninjau ulang terhadap kebijakan-kebijakan yang berkenaan langsung dengan system pendidikan yang ada, sebagai contoh tentang kurikulum yang diterapkan di Indonesia. Kurikulum dan segala kebijakan yang ada masih sebatas konseptual tapi belum aplikatif, seperti Kurikulum Berbasis Kompetensi yang aplikasinya masih mengedepankan konsep atau teori ketimbang aplikasi teori tersebut,” tuturnya.

Menurut Kadafi, Indonesia membutuhkan pendidikan yang sanggup melahirkan generasi yang siap menjalin pengetahuan berbasis integritas, mengejar pengetahuan untuk kemajuan bangsa dan mengembangkannya pengetahuan tersebut untuk bangsanya sendiri. Langkah awal yang harus ditempuh adalah menekankan pendidikan tiga tahun sesudah sekolah dasar untuk kewarganegaraan, pembentukan karakter, dan kehidupan bersama dalam masyarakat.

“Seperti yang diterapkan Jepang, sehingga ketika siswa memasuki jenjang menengah atas dan Perguruan Tinggi, siswa memiliki rasa cinta, berkarakter dan perilaku yang bertujuan untuk kemajuan bangsa. Untuk itu diperlukan kondisi ekonomi, politik, hukum, dan keamanan sangat berpengaruh terhadap jalannya proses pendidikan. Kondisi ekonomi yang stabil, politik yang santun, tertib dan elegan, supremasi hukum yang tegak dan tidak memihak akan menciptakan keamanan masyarakat. Pada akhirnya akan berdampak pada sektor pedidikan yang berkualitas,” tuturnya.

Secara berkelakar, Kadafi berandai-andai menjadi Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Seandainya menjabat Mendiknas, ia akan menyarankan kepada petinggi eksekutif dan legislatif agar alokasi anggaran APBN untuk pendidikan tidak hanya 20 persen, jika memungkinkan 50 persen bahkan kalau bisa lebih. Karena pendidikan harus menjadi prioritas utama dengan anggaran yg besar. Ia yakin, dengan anggaran sebesar itu, semua program pendidikan akan terealisasi. “Seperti yang pernah terjadi di Uzbeckistan. Hanya dalam satu dasawarsa jumlah sarjana yang dihasilkan di negara tersebut melebihi Perancis. Hebat,” ujarnya sembari tertawa.

Meskipun dalam kondisi pendidikan seperti sekarang, Kadafi tetap yakin bahwa generasi muda akan mampu melanjutkan ‘tongkat estafet’ kepemimpinan bangsa. Keyakinan tersebut dilandasi adanya keinginan pemerintah untuk memperbaiki kondisi pendidikan di Indonesia yang semakin intensif dilakukan. Semua itu dilakukan untuk menyiapkan kualitas generasi muda sebagai tulang punggung negara yang akan membawa kemajuan dan kesejahteraan bangsa di masa mendatang.

“Kalau pemudanya berkualitas maka berkualitas juga negara tersebut dan kalau pemudanya tidak berkualitas maka nasib negara tersebut pasti akan mengalami kemunduran. Dalam hal ini kita harus optimis bahwa pemuda sekarang sebagai generasi penerus bangsa akan mampu menjawab tantangan zaman. Untuk itu kita harus mempersiapkan mereka dengan kualitas pendidikan yang baik agar kelak mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan ini di masa yang akan datang,” kata Muhammad Kadafi, SH, MH.
Sekilas Universitas Malahayati

Latar belakang pendirian Universitas Malahayati dimulai saat Rusli Bintang, putra sulung pasangan Bintang Amin dan Halimah yang lahir pada hari Jum’at 28 April 1950. Beliau dikenal sebagai seorang usahawan yang cukup sukses, selain itu juga dikenal sebagai pendiri Yayasan dan Universitas Abulyatama Aceh.

Beliau adalah figur seorang anak yatim yang sukses dalam mengarungi kehidupannya. Sukses yang dicapai tersebut dibangun dari kerja keras dan tekat pantang menyerah. Sukses yang diraihnya sama sekali tidak membuat beliau takabur, tinggi hati dan lupa terhadap sesamanya.

Salah satu wujud kepedulian H. Rusli Bintang terhadap sesamanya adalah peran aktif di dunia pendidikan mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi. Sangat disadari oleh beliau bahwa pendidikan saat ini sangat diperlukan oleh masyarakat sebagai salah satu sarana pengembangan diri agar kelak mereka mampu mempertahankan hidup dan pengembangan kehidupan dengan sebaik-baiknya. Niat baik inilah yang mendorong beliau untuk mendirikan Yayasan Alih Teknologi (ALTEK) dan Universitas Malahayati di Bandar Lampung.

Yayasan ALTEK Bandar Lampung berdiri tanggal 20 Juni 1992 yang tertuang dalam Akte Notaris Nomor 114 tahun 1994. Didirikan dengan tujuan umum untuk mengembangkan dan mewujudkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas tinggi melalui jalur pendidikan tinggi.

Adapun tujuan khusus yang hendak diwujudkan oleh Yayasan ALTEK adalah:
 Membina, mengembangkan, dan menghasilkan peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkualitas, mandiri, bertanggung jawab, dan dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional
 Membina, mengembangkan, dan menghasilkan para pendidik dan karyawan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berkualitas, mandiri, bertanggungjawab dan dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional

Sebagai tindak lanjut untuk mewujudkan tujuan umum dan tujuan khusus, Yayasan ALTEK mendirikan suatu perguruan tinggi yang diberi nama UNIVERSITAS MALAHAYATI. Universitas Malahayati didirikan berdasarkan SK. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Rl No.02/D/0/1994 tanggal 28 Januari 1994.

Nama Malahayati diambil dari nama seorang panglima perang wanita berasal dari Aceh, yaitu Laksamana Malahayati. Malahayati merupakan figur seorang wanita Aceh yang cerdas, memiliki semangat juang tinggi, berani, tegas, ulet, tangguh, dan bertanggung jawab, yang senantiasa dilandasi oleh sinar keimanan dan ketaqwaan sesuai dengan ajaran Islam. Atas keperwiraannya itu Laksamana Malahayati dianugrahi gelar sebagai Pahlawan Nasional.

Untuk menghormati dan melanjutkan semangat juang Malahayati tersebut Perguruan Tinggi ini diberi nama Universitas Malahayati yang bertekat bulat untuk ikut serta secara nyata dalam pembangunan nasional bersama-sama, seiring dan sejalan dengan perguruan tinggi lain yang lebih awal hadir di Provinsi Lampung. Sebagai kiprah awal Universitas Malahayati, pada tahun ajaran 1994/1995 dibuka tiga fakultas pelopor dan satu akademi. Ketiga fakultas tersebut adalah:
1. Fakultas Kedokteran
2. Fakultas Teknik dengan empat jurusan: Teknik Mesin, Teknik Sipil, Teknik Manajemen Industri, dan Teknik Lingkungan
3. Fakultas Ekonomi dengan dua jurusan: Akuntansi dan Manajemen, sedangkan akademi yang dibuka adalah Akademi Keperawatan

Pada tahun 2002 didirikan Fakultas Kesehatan Masyarakat berdasarkan SK Dikti: No.137/D/T/2002, dan pada tahun 2004, sesuai dengan surat izin No. 44/0/D/T/2004 DIKTI tanggal 12 November 2004, Universitas Malahayati membuka Program Studi Keperawatan Strata Satu (S-1) yang ditempatkan di bawah Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati.

Pengadaan fakultas-fakultas itu melalui pertimbangan rasional yang matang, seperti pengadaan Fakultas-fakultas Bidang llmu Kesehatan dilakukan dengan pertimbangan antara lain untuk mengantisipasi dan memenuhi tenaga dokter dan para medis yang saat ini masih dirasakan kurang, pengadaan Fakultas Teknik tiada lain untuk mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan tenaga ahli di bidang teknologi canggih, sementara pengadaan Fakultas Ekonomi tiada lain untuk mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan tenaga ahli di bidang Akutansi dan Manajemen yang mampu menciptakan serta memperluas lapangan pekerjaan.

Yayasan ALTEK juga menyediakan beasiswa bagi calon mahasiswa dan mahasiswa Universitas Malahayati yang berprestasi dan berpotensi yang berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ada pun program ini bertujuan untuk:

 Ikut serta membantu memecahkan masalah-masalah yang ada di lingkungan masyarakat sesuai dengan kapasitas yang dimiliki
 Mengupayakan program penempatan kerja bagi peserta didik

Tujuan Universitas Malahayati adalah:
 Membentuk manusia Indonesia seutuhnya, senat jasmani dan rohani, memiliki
 pengetahuan dan keterampilan, kreatit dan bertanggung jawab, beriman dan bertaqwa kepadaTuhan Yang Maha Esa, serta berjiwa Pancasila
 Mengembangkan dan menyebarluaskan Ilmu Pengetahuan dalam bidang-bidang Kedokteran, Ilmu-ilmu Sosial, llmu-iimu Alam, Teknologi dan seni
 Menyiapkan sarjana yang Pancasilais, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, berpengetahuan luas dan bertanggung jawab untuk mengabdi, kepada bangsa, negara dan agama

Universitas Malahayati, sejak tahun Akademik 1996/1997 telah memiliki dan menernpati kampus sendiri yang terletak di atas perbukitan yang sejuk, nyaman dengan pemandangan yang indah ke arah Ibu Kota Provinsi. Lingkungan yang asri ini sangat mendukung proses belajar dan mengajar

Visi – misi Universitas Malahayati
 Untuk menciptakan manusia yang sehat, dengan pikiran sehat dan tubuh. Dikaruniai dengan pengetahuan, kreativitas dan keterampilan. Menanamkan dengan nilai-nilai tanggung jawab, iman dan kepercayaan yang lebih besar
 Untuk mengembangkan dan menyebarkan pengetahuan ilmiah di bidang kedokteran,ilmu sosial dan lingkungan serta seni dan teknologi
 Untuk mempersiapkan lulusan yang memiliki iman dan keyakinan yang kuat dengan pengetahuan yang luas, sehingga mereka akan berguna masyarakat bangsa dan agama

Program-program yang ada di Universitas Malahayati antara lain yaitu:
 Beasiswa untuk anak yatim piatu
 Santunan tehadap anak yatim yang diadakan setiap 2 kali dalam sebulan dan pada acara-acara yang diadakan oleh universitas malahayati.
 Program wajib asrama bagi seluruh mahasiswa/i Universitas Malahayati
 Program wajib mengikuti English for matriculation
 Progam pertukaran pelajar ke luar negeri
 Program beasiswa bagi dosen Universitas Malahayati
 Program standarisasi penjamin mutu bagi staf dan dosen dilingkungan Universitas Malahayati
 Program kunjungan belajar baik dosen maupun mahasiwa keluar negeri (comparative study program)
 Program kejasama dengan universitas luar negeri dalam bidang science dan research

Biodata Singkat:

Nama : Muhammad Kadafi
Tempat dan tanggal lahir: Aceh Besar, 8 Oktober 1983
Nama orang tua:
Ayah DR (HC) H. Rusli Bintang
Ibu Dra. Rosnati Syech
Anak ke-4 dari 6 Bersaudara

Pendidikan:

 2010 – hingga sekarang, Universitas Diponegoro, program doktor ilmu hukum.
 2007 – 2009 Lampung University, Lampung Law Masters
 2002 – 2006 Lampung University, Lampung
 Majoring: S1, Law/the best graduates of law faculty
 1998- 2001 Senior High School at SMA Negeri 9 Bandar Lampung
 1995 – 1998 Junior High School at SMP Negeri 1 Banda Aceh
 1989 – 1995 Elementary School at Madrasah Ibtidaiyah Negeri I Banda Aceh

 

Drs. Hadi Sutjipto, MT

No Comments

SMK Negeri 2 Salatiga

Mengembangkan Konsep Kebersamaan dan Keterbukaan Dalam Mengelola Sekolah

Setelah Timor Leste lepas dari Indonesia pasca jajak pandapat tahun 1999, Drs. Hadi Sutjipto, MT kembali ke Indonesia. Sepuluh tahun berkarier sebagai guru STM Dili harus ditinggalkan dan dipindahkan ke SMK Negeri 2 Salatiga. Saat itu, sekolah belum memiliki gedung dan terpaksa menumpang di SMEA.

Perlahan-lahan SMK Negeri 2 Salatiga membangun gedung sendiri. Saat Drs. Reza Pahlevi ditunjuk sebagai Kepala Sekolah pertama, Hadi menjadi staf pengajar. Setelah sempat ditunjuk oleh rekan-rekannya untuk menjadi Ketua Jurusan Teknik Bangunan, pada bulan November 2009 ia diangkat sebagai Kepala Sekolah SMK Negeri 2 Salatiga.

 Di bawah pimpinannya, SMKN 2 Salatiga terus berbenah. Sebagai “orang dalam” ia tahu persis kelebihan dan kekurangannya. Langkah yang dilakukannya adalah dengan meningkatkan kelebihan serta menutup kelemahan yang terdapat di sekolah. Upayanya mendapat dukungan penuh dari seluruh jajaran staf pengajar dan karyawan yang memiliki satu visi dalam memajukan SMK Negeri 2 Salatiga.

Yang kami terapkan adalah memperbaiki pola yang pernah dikelola beliau, yakni konsep kebersamaan dan keterbukaan. Kami tidak pernah menganggap ada saingan atau duri, seluruh staf dan karyawan adalah teman-teman kerja sehingga barangkali inilah yang mendidik saya menjadi semakin dewasa. Mungkin sebelum menjadi Kepala Sekolah saya belum dewasa, tetapi Alhamdulilah seperti inilah yang kami lakukan,” katanya.

Untuk meneruskan program kelembagaan, sejak menjabat Kepala SMK N 2 Salatiga prestasi SMK N 2 semakin meningkat dengan bukti diantaranya mampu meraih Juara 1 tingkat provinsi pada LKS di kota Tegal untuk 3 mata Lomba ( Cabinet Making, Joinery, dan Industrial Control), Juara 2 OSTN tingkat Nasional untuk Mata Lomba ICT. Sedangkan pencapaian nilai rata;rata UN untuk tahun 2010/2011 merupakan tertinggi selama 10 tahun meluluskan.

 Bagi Hadi, semua prestasi tersebut berkat kerja keras, perjuangan dan kepercayaan seluruh staf pengajar. Di sisi lain, staf pengajar yang merasa mendapat kepercayaan dari pimpinannya dan “dibiarkan” melakukan berbagai inovasi semakin terpacu berkat kebijakan tersebut. Hasilnya segera terlihat, SMKN 2 Salatiga tetapmenduduki peringkat satu di Salatiga dan naik ke peringkat 9 untuk provinsi Jawa Tengah.

 Untuk saat ini, SMK Negeri 2 Salatiga memiliki delapan program dengan 1468 siswa. Program-program tersebut adalah pertama Teknik Bangunan meliputi teknik gambar bangunan, teknik konstruksi bangunan dan teknik konstruksi kayu. Kedua TeknikElektronika yang terdiri atas elektronika industri dan teknikaudio video, ketiga mesin adalah teknikpermesinan dan teknikmekanik otomotif. Untukteknik informatika adalah program teknik komputer dan jaringan.

Target kami, tahun 2013 jumlah siswa akan mendekatiantara 1500 s.d 2000. Karena kami menargetkan bahwa SMKN 2 Salatiga akan menjadi sekolah yang besar, baik dari sisi jumlah, kuantitas maupun kualitas. Mudah-mudahan kita menjadi Sekolah Bertaraf Internasional atau SBIyang sesungguhnya,” katanya.

Untuk mencapainya, Hadi sudah menetapkan program jangka pendek, menengah dan panjang. Dalam jangka pendek, ia melakukan pembenahan masalah yang berhubungan langsung dengan masa depan anak. Misalnya dengan menyalurkan lulusan yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi pada perusahaan-perusahaan yang sesuai. Langkah tersebut terbukti pada tahun 2010-2011 sebanyak 35 persen siswa kelas III sudah diterima bekerja sebelum lulus.

 “Berkat prestasi tersebut, dalam dua tahun belakangan saat PSB kami menolak banyak siswa. Memang ada program-program tertentu yang menjadi idola tetapi ada juga program yang kurang diminati. Akan tetapi berkat perjuangan teman-teman, peminat sekolah ini cukup banyak sehingga kami ‘bisa’ memilih-lah. Yang jelas kami memiliki komitmen untuk menjadi yang terbaik dan dengan memiliki SDM yang mumpuni target kami akan tercapai,” ujarnya.

Untuk membentuk staf pengajar mumpuni, Hadi menggunakan unsur kepercayaan. Dengan memberikan kepercayaan kepada staf-stafnya, mereka akan bekerja dengan sungguh-sungguh. Berkat kepercayaan mereka akan enjoy dan bekerja dengan seluruh kemampuan yang dimiliki. Kondisi tersebut akan sangat berbeda kalau staf selalu diawasi, dikontrol dan lain-lain. “Kami memberikan kepercayaan untuk improvisasi tetapi koordinasi tetap sehingga nyambung. Ini mungkin yang membuat akselerasi setiap SDM mengeksploitasi kemampuannya secara maksimal,” imbuhnya.

Hadi bersyukur perhatian pemerintah terhadap SMK Negeri 2 Salatiga yang dipimpinnya cukup besar. Dalam kurun waktu tiga tahun belakangan, bantuan pemerintah kota -provinsi maupun pusat- baik dalam bentuk fisik maupun non fisik terus mengalir. Pemkot Salatiga sendiri sangat membantu dan saat ini meminta untuk membuat proposal pembangunan gedung serbaguna senilai Rp1,5 miliar.

Ke depan, Hadi berharap agar pemerintah tidak menghentikan bantuannya demi kemajuan sekolah. Meskipun demikian, sebagai pengelola sekolah ia bertanggung jawab atas bantuan yang diterima dan berusaha menjadi yang terbaik sebagai bentuk pertanggungjawaban. “Intinya kami ingin bahwa pemerintah betul-betul lega dan percaya, bahwa mereka tidak salah membantu SMK N 2 Salatiga. Saya ingin menunjukkan bahwa SMKN2 berhasil dan layak dipercaya,” tambahnya.

Dengan bantuan pemerintah, kelengkapan SMK Negeri 2 Salatiga terus berkembang. Meskipun sekarang sudah melebih sekolah lain, namun Hadi telah merancang program untuk pengembangan sekolah dua atau tiga tahun ke depan. Salah satunya adalah setiap kelas pada tahun ini telahharus menggunakan IT sehingga penggunaan kertas dalam ulangan kedepan ulangan umum tidak menggun akan kertas lagi.

Semua serba computerize. Sekarang sebenarnya sudah tetapi kami terus sempurnakan. Selain itu, kami harus membimbing anak-anak agar soft skill mereka sesuai dengan kebutuhan industri. Jangan sampai kami mendidik anak tetapi ternyata skill mereka tidak sesuai dengan industri. Karena tujuan kami industri, ya kami belajar bagaimana bentuk-bentukseluk-beluk yang dibutuhkan industri,” ungkapnya.

Attitude dan Disiplin

Kemajuan pesat yang ditunjukkan SMK Negeri 2 Salatiga ternyata menarik perhatian dunia industri. Banyak perusahaan yang “berani” merekrut siswa SMK Negeri 2 Salatiga saat mereka bahkan belum lulus. Beberapa perusahaan lebih ekstrim lagi denganbahkanmengadakan kerjasama yang bersifat lebih khusus. Yang paling menonjol adalah PT Astra Daihatsu Motor (ADM), lewat implementatif kurikulum dan soft skillnya. Kemudian PT SIS yang mengembangkan class industry dengan membangun satu kelas di sini dengan alat-alat difasilitasi perusahaan tersebut.

Saya penasaran kenapa perusahaan-perusahaan tersebut memilih SMK Negeri 2 Salatiga. Ternyata sikap kita yang “nguwongke” serta kharisma SMK Negeri 2 Salatiga menarik mereka ke sini. Selain itu, ternyata anak-anak kami memiliki karakter yang dibutuhkan perusahaan. Kami sendiri menerapkan selection ratedisiplin tata tertibyang sangat tinggi sehingga ketika anak-anak sudah bergabung di perusahaan-perusahaan, attitude dan disiplinnya lebih tinggi dari alumni sekolah lain. itulah kenapa perusahaan-perusahaan memilih ke sini,” tuturnya.

Menurut Hadi, sejak sekolah berdiri sudah terjalin keinginan untuk mengubah image. Sesuai program Kemendiknas, dari “STM yang tawur menjadi SMK yang bisa” dan menggandeng CSR perusahaan otomotif, PT Astra Internasional SMKN 2 Salatiga terus berkembang. Di sinilah era penggemblengan para siswa SMKN 2 Salatiga menuju dunia industri. Utamanya bagi mereka yang tidak ingin melanjutkan pendidikan.

Kita memberikan didikan kepada siswa yang mengarah pada dunia industri, bukan melanjutkan pendidikan, maupun mampu berwirausaha. Mereka siap bekerja dan kami usahakan bekerja sesuai bidangnya di industri yang besar sehingga kesejahteraan mereka terjamin. Kami kan tidak ingin mereka memiliki masa depan mereka suram. Keinginan kami mereka maju melebihi para guru. Kami memberikan treatment kepada anak-anak agar mereka menunjukkan bahwa merekalah yang terbaik,” ujarnya.

Sejak itu, nama SMKN 2 Salatiga harum dan terkenal di mana-mana. Hasil gemblengannya ternyata membuahkan anak-anak yang unggul dalam segi etika, norma dan disiplin dibandingkan dengan alumni sekolah lain. Tentu saja dengan kualifikasi dan skill yang ditunjukkan alumni SMKN 2 Salatiga sangat menarik bagi dunia industri untuk merekutnya. Akhirnya perwakilan dari beberapa perusahaan mencari alumni SMKN 2 Salatiga untuk dipekerjakan di perusahaan masing-masing.

Kami punya BKK yang bekerjasama dengan beberapa industri untuk mengadakan rekruitmen di SMK N 2 Salatiga. Kadang industri tertentu peminatnya sampai 900 orang, dan kami juga melibatkan BKK sekolah lain yang selalu berkomunikasi untuk bisa bersaing dalam rekruitmen di tempat kami. Intinya dengan kerjasama BKK kami dengan industri, sangat membantu alumni kami“, ungkapnya.

Dengan kondisi yang dicapai tersebut, Hadi merasa mendapat tantangan yang sangat berat untuk mempertahankan image tersebut. Berkaca dari bangsa ini yang mudah mencetak juara namun sangat sulit untuk mempertahankannya. Baginya, inilah PR yang harus dikerjakan dengan selalu berupaya agar anak-anak didiknya tidak jenuh, bekerja dengan senang, bermotivasi tinggi dan lain-lain.

Kamiharus mampukesulitan untuk mempertahankan prestasi. Mungkin untuk sekadar meningkatkan masih gampang. TetapiKarenasekolah lain pun berlomba dan berjuang untuk bisa sepertimelebihikami. Meskipun demikian kami tetap membuka kesempatan sekolah lain untuk belajar agar seperti kami,” ujarnya.

Sebisa mungkin, Hadi mencegah terulangnya hubungan antara Indonesia dan Malaysia di masa lalu pada sekolahnya. Yakni Malaysia yang dahulu mengirimkan mahasiswa untuk belajar di Indonesia sekarang kondisinya berbalik. Bangsa Indonesia yang harus datang ke Malaysia untuk belajar kepada orang-orang yang dahulu dibinanya. Semua itu disebabkan karena bangsa Indonesia tidak bisa mempertahankan prestasi yang telah berhasil diraihnya.

Itu yang kami jaga agar sekolahkami tidak malah disalip oleh sekolah yang belajar pada kami. Prinsip kami, sekolah harus berbeda dengan sekolah lain, slogannya yang penting kita buktikan, kita bicara dengan fakta. Seperti kita bisa buat mobil sendiri, sehingga Direktorat Pendidikan sudah tahuPSMK tahu, akhirnya kami dipercaya untuk merakit mobil nasional SMK” ungkapnya,

Pembuatan mobil, lanjutnya, dilakukan setelah mendapat bantuan mesin mobil Daihatsu Terios dari AstraADM. Mesin tersebut kemudian dibuatkan body mobil mewahala Roll Royce, yang dibuat selama empat bulan secara handmade. Biaya pembuatan body mobil mencapai Rp57 juta dengan stir kiri bergaya Amerika. “Kami dipercaya oleh Direktorat untuk tidak sekadar merakit tetapi membuat. Kami memimpin 22 SMK untuk merakit mobil nasional SMK, mungkin nanti dari satu mobnas SMK ini, lima atau sepuluh tahun ke depan akan mampu menjadi mobil nasional sungguhan,” imbuhnya.

Workshop dan Training

Untuk mencetak tenaga-tenaga siap pakai alumni SMK Negeri 2 Salatiga diperlukan guru-guru yang mumpuni. Karena dari guru, para siswa memperoleh ilmu untuk diterapkan di dunia industri nantinya. Pengalaman dan pengetahuan guru menjadi sangat mutlak untuk ditingkatkan mengingat percepatan perkembangan dunia industri juga sangat tajam. Terutama menyangkut teknologi yang terus mengalami peningkatan dengan cepat.

Penyegaran, itu kuncinya. Kami selalu mengadakan penyegaran dalam bentuk in house training maupun workshop untuk meningkatkan keterampilan para guru. Kami adakan up date setiap tahun agar kurikulum dan guru-guru kami tidak ketinggalan. Itu langkah kami agar tidak ketinggalan dengan sekolah yang tadinya berguru kepada kami. Begitu juga dengan guru-guru yang ingin melanjutkan pendidikan S2 juga kita dorong,” tuturnya.

Menurut Hadi, sepuluh persen guru SMK Negeri 2 Salatiga sudah memiliki gelar S2. Program training sertifikasi guru-guru pun dilakukan pihak sekolah bekerjasama dengan lembaga pelatihan guru di Malang dan lain-lain. Bahkan sertifikasi kompetensi dari lembaga lain pun pihaknya mendorong agar pendidik mengikutinya. Keuntungan pribadi bagi guru dengan adanya program tersebut cukup banyak seperti diundang sebagai assessor ke mana-mana.

Sebenarnya untuk mengambil program S2 banyak guru-guru yang sudah sepuh malas. Karena mungkin untuk pendapatan sudah cukupmerasa sudah tua dan sudah tidak mampu, jadi tidak memerlukan hal-hal seperti itu. Tetapi saya tetap mendorong dengan berbagai cara agar mereka meningkatkan kompetensinya. Sekarang sudah mulai memiliki kesadaran untuk maju karena sebenarnya tidak ada yang tidak bisa, kalau kita tekuni. Orang kasat mata kok,” tandasnya.

Dalam mengatur SMK Negeri 2 Salatiga dengan 160 gurudan karyawan, Hadi menggunakan manajemen kolektif dengan menerapkan keterbukaan dan kebersamaan. Bukan one man power tetapi kolektif, di mana Kepala Sekolah mengarahkan dan akan dilepaskan begitu program berjalan untuk mencari inovasi baru. Kepercayaan dari Kepala Sekolah itulah yang akan menjadi sumber semangat dari seluruh guru.

Biasanya yang miss itu bukan masalah uang, tetapi informasi. Jadi yang terpenting adalah komunikasi supaya informasi itu nyambung dan tidak mbulet. Untuk itu, pada minggu ke-IV setiap bulan kami mengadakanmeetingstaff. Dan per unit juga mengadakan meeting untuk dilaporkan hasil program yang disusun. Sebenarnya sederhana sekali kalau dilakukan dengan ikhlas,” katanya.

Semua program dan kebijakan yang diterapkan di SMK Negeri 2 Salatiga tidak lepas dari visi dan misi yang telah ditetapkan. Adapun visi dan misinya adalah sebagai berikut:

Visi

Menyiapkan tamatan yang mampu bersaing di era global dan berimtaq tinggi”

Misi

  1. Menyiapkan tamatan yang menguasai Iptek dan Imtaq

  2. Menyiapkan tamatan siap masuk kerja

  3. Menyiapkan tamatan yang mempunyai jiwa kewirausahaan

  4. Menyiapkan tamatan yang cerdas, jujur, dan bermoral

  5. Menyiapkan tamatan dengan kompetensi bertaraf internasional

  6. Menyelenggarakan sekolah dengan pelayanan bertaraf internasional

Untuk mengajari berwiraswasta, kami memberi modal dengan kewajiban mengembalikan lebih besar. Jadi,Siswa disinitidak hanya kami fasilitasi agar match dengan industri, dengan perguruan tinggi tetapi kami juga menerapkan pendidikan wirausaha. Agar lahir wirausaha mandiri di Salatiga, jangan sampai nanti pengusaha di Salatiga malah datang dari daerah lain,” katanya.

Kepada generasi muda, Drs. Hadi Sutjipto, MT berpesan agar mereka menjadi pejuang bukan pecundang. Pesan itulah yang selalu ditanamkannya kepada anak-anak didiknya. Ia menekankan bahwa untuk mencapai kesuksesan memerlukan perjuangan dan proses sehingga tidak bisa secepatnya diraih.

Tetapi raihlah kesuksesan itu dengan penuh perjuangan. Kalau kalian menjadi pejuang, pasti natinya akan sukses. Tetapi kalau sejak awal inginyang dibayangkansukses dahulu kalian akan menjadi pecundang. Kalah sebelum bertanding dan di tengah jalan akan menyerah. Berjuanglah untuk menjadi sukses, jangan berharap kesuksesan diraih dengan mudah,” tambahnya.

Hadi mencontohkan bagaimana sebelum menjadi Kepala Sekolah SMK Negeri 2 Salatiga, selama sepuluh tahun menjadi guru di Timor Timur. Ia juga pernah menjalani profesi sebagai tukang ojek,agar merasakan bagaimana sulitnya mencari uang. Selain itu, profesi sebagai kenek angkutan umum yang disambung menjadi sopir juga pernah dijalani. Tidak heran, ia bisa diterima di setiap kalangan, mulai preman, pejabat, ulama dan lain-lain.

Saya malu kalau difasilitasi, karena akan merasa “berutang budi”. Bagaimanapun sulitnya lebih baik atas usaha sendiri. Prinsip saya, “lebih baik menolong daripada ditolong”, kata Drs. Hadi Sutjipto, MT.

Dessy Arnas

No Comments

Runway Indonesia – Personality School

Mengajar Pengembangan Diri Sebagai Passion Kehidupan

Setelah menjalani rutinitas pekerjaan selama bertahun-tahun, adakalanya kejenuhan menghinggapi seseorang. Apalagi kalau selama menekuni pekerjaan dilakukan dengan penuh semangat, hingga lupa diri dalam bekerja dan tanpa terasa karier sudah tidak bisa meningkat lagi.

Kondisi seperti ini hanya bisa disikapi dengan menetapkan tiga pilihan. Pertama menyerah terhadap tuntutan pekerjaan sampai memasuki masa pensiun dan menikmati segala konsekuensinya. Kedua melepaskan diri dari seluruh aktivitas pekerjaan untuk menikmati istirahat. Sedangkan ketiga adalah menciptakan tantangan baru sehingga menumbuhkan semangat untuk terus berkembang.

“Saya merasa lelah setelah dua belas tahun bekerja pada sekolah pengembangan diri internasional. Setelah karier dirasa mentok, saya berpikir untuk berdiri sendiri. Apalagi saya ditegur Allah dengan sakit yang cukup keras karena bekerja terlalu ngoyo. Saya kemudian memutuskan untuk istirahat setelah selama bertahun-tahun agak lupa diri dalam bekerja,” kata Dessy Arnas, Runway Indonesia – Personality School.

Dessy kemudian mencari pekerjaan yang tidak terlalu menyita waktu seperti mengajar. Belajar dari pengalaman sebagai marketing yang hampir-hampir tidak memiliki waktu luang, ia mengajukan pengunduran diri dan bergabung di Runway Indonesia, April 2011. Perusahaan pengembangan diri internasional tempatnya bergabung selama 12 tahun pun ditinggalkan.

Sedangkan Runway Indonesia sendiri sebelumnya merupakan sekolah modeling dan acting sejak tahun 2007. Pendirinya Agung Saputra adalah pemilik sebuah management artis dan Nonny Chirilda yang memiliki management model. Keduanya sepakat mengembangkan sekolah yang mereka miliki menjadi personality school atau sekolah pengembangan diri, terbentuklah Runway Indonesia.

“Kemudian bergabunglah saya yang experience di sekolah pengembangan diri, personality. Di sini, saya tidak hanya sekadar mengajar yang sudah menjadi passion kehidupan saya. Tetapi saya juga membuat design program training, desain program kelas, nanti murid-muridnya bisa kita encourage agar dapat lebih mendapatkan sesuatu, begitu,” kata salah satu stakeholder Runway Indonesia ini.

Dessy telah menyusun program pengembangan diri di Runway Indonesia yang terbagi dalam tiga program, yakni program anak-anak, remaja dan dewasa. Bagi kelas dewasa diutamakan untuk mempelajari Self Improvement untuk meningkatkan kepercayaan diri. Kelas anak-anak bisa belajar percaya diri dan kemandirian sehingga terlepas dari ketergantungan pada ibunya, suster dan lain-lain. Sementara kelas remaja -masa transisi yang kritis dan harus diwaspadai- sehingga harus diberikan wawasan agar tidak melenceng, mampu mengatur diri sendiri, manajemen waktu dan lain-lain.

“Kalau bidang entertainment, seperti model dan artis, kemudian bidang karir, semua itu kita terus kembangkan. Karena sasaran kita memang untuk kalangan anak muda, seperti program karier bagi mahasiswa untuk menyiapkan diri dalam berkarier. Seperti bagaimana mereka ‘menjual dirinya’ saat melamar pekerjaan. Karena kebanyakan perusahaan ingin karyawan yang sudah jadi. Di sini, lama pendidikan hanya dua bulan atau 12-14 pertemuan saja,” katanya.

Terbiasa Hidup Mandiri

Perempuan kelahiran 12 Desember 1972 ini mengisahkan, ketertarikannya ke dunia kerja tidak lepas dari peran sang ibu –Hj Suharti- yang seorang wanita karier. Istri H Nasrun Ismail –ayah Dessy- ini bekerja sebagai Sekretaris Kepala Telkom dan sempat melakukan tugas mengepang rambut tiga anak perempuan, menyiapkan perlengkapan satu anak laki-laki serta kebutuhan suaminya.

“Ibu bahkan masih sempat menyasak rambut sendiri, menyetir mobil ke kantor sendiri dengan sepatu hak tinggi. Kayaknya enak banget ya menjadi wanita karier. Makanya sejak sekolah saya ikut sanggar dan kegiatan lain yang menghasilkan uang. Saya terbiasa hidup mandiri meskipun kedua orang tua secara finansial tidak kekurangan. Pada semester 6, saya ikut menjadi pramugari seasonal di Garuda saat musim haji,” katanya.

Ayahnya terusik melihat “keusilan” anak ketiganya ini. Dessy pun mendapat teguran untuk memilih salah satu dengan serius, melanjutkan kuliah atau bekerja mencari uang saja. Sebagai orang yang konsekwen atas pilihannya, Dessy pun kemudian bekerja. Saat usianya menjelang 22 tahun, ia bekerja di Surabaya dan memutuskan untuk menikah satu tahun kemudian.

Sayang, saat karier Dessy sudah bagus dan mapan, suaminya dipindah tugaskan ke Banda Aceh. Dengan perasaan campur aduk antara marah, kecewa dan lain-lain, karier yang sudah dibangunnya pun ditinggalkan begitu saja. Dengan kondisi seadanya, sebagai istri ia patuh terhadap suami. Selama lima tahun (1997-2002), Dessy menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.

“Setelah dipindahkan ke Jakarta, suami mengijinkan saya untuk kembali bekerja. Atas rekomendasi mantan atasan ditempat bekerja terdahulu, saya bekerja di cabang Jakarta perusahaan lama. Setelah lima tahun di Aceh, saya merasa seperti orang kampung. Saya sangat minder, tetapi mantan atasan saya selalu memotivasi. Dalam tiga minggu saya sudah dapat client dan bulan berikutnya sudah dapat client salah satu bank swasta terkemuka,” tuturnya.

Karier Dessy Arnas dengan cepat meroket. Hanya dalam waktu tiga tahun, ia diangkat sebagai General Manager di perusahaan tersebut. Ia menganggap perusahaan tempatnya bekerja tersebut merupakan sekolah kehidupan baginya. “Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya untuk tetap survive hidup di Jakarta. Dan juga saya memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri dan karir imbuh ibu dari Rakha Aditya Afrizal dan Rania Adelia Afrizal ini.

Belajar dari perjalanan hidupnya, Dessy Arnas mengimbau generasi muda untuk tidak salah persepsi tentang emansipasi. Baginya, seorang perempuan tidak mungkin mampu mengalahkan seorang laki-laki. Bahkan dalam ajaran agama pun lelaki adalah imam, sehingga sebagai perempuan harus tunduk pada laki-laki. Perempuan-perempuan yang mempunyai potensi, seharusnya disalurkanlah ke tempat yang benar dalam waktu yang benar pula.

“Aturlah diri kita sebagai perempuan yang harus bisa berfungsi dan berguna buat orang lain. Tidak usah karier kantoran seperti sayalah, ibu rumah tangga juga sebuah karier yang sangat mulia. Saya sangat respek pada ibu rumah tangga karena saya sudah mengalaminya selama lima tahun, full time hanya dirumah” kisahnya.

Saat menjadi ibu rumah tangga, Dessy merasakan bagaimana sulitnya untuk sekadar membuat menu makanan harian. Menurutnya, perempuan boleh memiliki ambisi besar tetapi harus tetap pada porsinya dan tidak terlalu berlebihan. Ukuran yang digunakan adalah rumah tangganya sendiri, sehingga ketika berhasil mengorganisasi sebuah organisasi terkecil -yakni rumah tangga- pasti akan berhasil mengelola organisasi yang lebih besar.

“Pagar dan aturannya memang harus ada, mana yang porsi laki-laki mana yang porsi perempuan. Kalau ada yang tidak pas, kan ada kompromi yang bisa kita lakukan. Kalau sudah memutuskan berkarier, kita juga harus bertanggungjawab terhadap karier kita. Tetapi jangan melupakan tanggung jawab terhadap keluarga dan harus benar-benar bisa mempertanggungjawabkan keduanya,” imbuh pemilik motto “Never Stop to Learn” ini.

Setiap Orang Memiliki Kelebihan

Menurut Dessy, setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik. Pendidikan kepribadian membantu orang untuk meningkatkan nilai tambah sehingga dalam setiap kesempatan selalu terlihat lebih bernilai dan menonjol. Meskipun demikian, kebanyakan orang menganggap bahwa pendidikan kepribadian bukanlah sesuatu yang penting.

“Tidak belajar pun juga tidak apa-apa karena sudah ada dalam diri setiap orang. Biasanya orang malah khawatir, setelah mengikuti pendidikan di sini akan menjadi jaim dan lain-lain. Tetapi kami yakinkan bahwa kita hanya men-suggest dalam segala sesuatu. Tidak cantik atau tidak ganteng tidak apa-apa tetapi tetap percaya diri. Saya ingin menularkan bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Kita berusaha membangkitkan self control yang baik sehingga kita bisa menampilkan citra positif serta potensi diri yang kita miliki,” tandas sarjana Marketing & Communication ini.

Dalam menyikapi persaingan bisnis, Dessy menanggapinya dengan wajar. Baginya, setiap institusi memiliki segmen berbeda-beda lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Di Runway Indonesia dengan konsep yang baru serta para pengajar yang memiliki visi sama, ia yakin akselerasinya pun lebih kencang.

“Saya bilang kepada staf, kalau kita lari sudah tidak bisa direm. Kalau jatuh itu wajar, harus segera bangun dan lari lagi.Terjatuh dan segala kendala lain merupakan hal yang biasa dan bagian dari sekolah saya. Karena semua itu terkait dengan proses yang akan terus berkembang seiring dengan pengalaman,” kata perempuan yang menganggap stafnya sebagai adik-adiknya sendiri ini. “Kalau menegur pasti dalam jam kerja, diluar itu tidak saya lakukan,” tambahnya.

Istri Hendri Afrizal, SE, MM ini berharap agar lembaga yang dikelolanya menjadi lebih besar dan memiliki beberapa cabang. Dengan memiliki cabang di tempat lain, ia mampu berbagi dengan orang yang ingin mengembangkan diri. Ia juga berharap agar program pengembangan diri ini bisa masuk ke sekolah-sekolah. Untuk itu, pemerintah harus memiliki program terkait bagaimana seorang anak belajar soft skill, mengelola stress dan kepercayaan diri.

“Bidang saya kan di pendidikan, saya ingin sekali agar bidang ini tidak ketinggalan. Kenapa bisnis seperti ini laku, karena kita ini kurang pede seperti bangsa lain di dunia ini. Padahal, rasa percaya diri itu bisa ditumbuhkan dan dimulai dari lingkungan terkecil, keluarga. Nilai-nilai yang bisa dieksplore ya harus dikeluarkan. Kita harus konsen terhadap nilai-nilai tersebut agar kita tidak ketinggalan. Jadi sekarang bagaimana caranya untuk membangun kepercayaan diri kita dengan mengeksplore apa yang ada di dalam diri kita menjadi ‘sesuatu’ yang bisa diandalkan,” kata penyuka liburan di pantai ini.

 

 
Personality School
Wajah Baru Runway Indonesia

Selama empat tahun, Runway Indonesia sudah berhasil mencetak hampir 300 talenta yang sukses menghiasi panggung mode dan layar kaca di Tanah Air. Kini, Runway Indonesia hadir dengan wajah baru sebagai Personality School.

Runway Indonesia pertama kali hadir pada 2008 dan mengambil lokasi di Jalan Boulevard Raya-Blok CN2 No. 10, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Saat itu, program yang diperkenalkan lebih fokus pada dunia Modelling dan Acting. Para lulusan dari sekolah ini hampir mencapai 300 orang dan sebagian di antara mereka bersinar sebagai public figure yang membintangi beberapa sinetron dan film layar lebar. Selain itu, mereka juga sering dilibatkan untuk ikut berpartisipasi di ajang peragaan busana karya desainer papan atas.

Melihat perkembangan yang bagus setiap tahun, maka Founder Runway Indonesia yang terdiri atas Nonny Chirilda, Agung Saputra, dan Dessy Arnas yang masing-masing memiliki pengalaman di bidang modeling, talent management dan kepribadian ini, berupaya memberikan ruang yang lebih luas lagi kepada para talenta di Indonesia untuk mendapatkan ilmu Personality yang menjadi modal mereka lebih percaya diri dan mampu berkomunikasi secara baik dengan orang lain.

Saat ini Runway Indonesia memiliki konsep baru sebagai Personality School. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan setiap individu untuk bisa tampil menarik serta percaya diri, sehingga profesi apapun yang akan digeluti, akan berhasil dengan baik. Apakah itu di bidang entertainment, ataupun di bidang karir dan bisnis.

Program-program unggulan yang ditawarkan Runway Indonesia, meliputi Self Improvement, Career Enrichment, Proficient MC & Presenter, Runway Modelling, Professional Acting, Teens Clique, dan Kiddos.

Runway Indonesia menerima anak didik mulai dari tingkat anak-anak (4-10 tahun), remaja (11-16 tahun), dan dewasa (17 tahun ke atas). Mereka akan menerima materi pengajaran selama 14 sesi, dan bisa dilakukan setiap hari, seminggu dua kali, atau setiap Sabtu. Untuk setiap pertemuan akan dilakukan selama 2-3 jam.

Selain kelas regular, Runway Indonesia juga memiliki Corporate Training, dimana materi pelatihannya disesuaikan dengan kebutuhan dari klien atau perusahaan yang bersangkutan.

Adapun pengajar yang diberikan kepercayaan untuk berbagi ilmu Runway Indonesia adalah para praktisi yang sudah berpengalaman di bidang masing-masing. Setiap pengajar akan memberikan materi pelajaran berdasarkan tingkat usia dan kebutuhan peserta, baik itu di kelas regular atau kelas perusahaan.

Target ke depan, bahwa Runway Indonesia – Personality School dapat membantu setiap individu untuk menjadi apa yang mereka inginkan, sesuai dengan potensi yang ada didalam diri mereka. Sehingga apapun yang mereka cita-citakan dapat terwujud dengan baik.

-Run your Way to Success with Runway Indonesia-

Berlilana S, PS.Kom, MSi

No Comments

Ketua STMIK AMIKOM Purwokerto

Menciptakan SDM Berbasis Teknologi Informasi

Perkembangan dunia sekarang tidak bisa dilepaskan dengan teknologi informasi (IT). Hampir seluruh kebutuhan manusia bisa dipastikan menggunakan teknologi informasi sebagai penunjang kegiatannya. Bisa dikatakan, sejak bangun tidur sampai menjelang tidur lagi, manusia dikelilingi peralatan yang didalamnya memiliki unsur teknologi informasi.

Meskipun demikian, perkembangan dunia IT di Indonesia bisa dikatakan tertinggal dibandingkan negara lain. Seperti Singapura dan Malaysia, jauh meninggalkan Indonesia dalam penggunaan IT bagi warganya. Faktor biaya akses IT yang mahal di Indonesia merupakan salah satu hambatan besar yang membuat tertinggal. Sementara dari sisi SDM, sebenarnya masyarakat Indonesia tidak kalah berkualitas. Apalagi banyak pendidikan tinggi yang mendedikasikan pengembangan SDM khusus IT di Indonesia.

“Kami memiliki visi dan misi menciptakan SDM yang mampu bersaing di dunia internasional, berbasis pada teknologi informasi atau IT. Untuk itu, kami menyusun kurikulum menyesuaikan dengan dunia kerja dengan dukungan fasilitas memadai. Semua itu untuk mengejar ketertinggalan Indonesia di dunia IT yang menurut pantaun saya masih agak tertinggal. Itu menjadi persoalan dan PRODUK bersama agar kita menyusul dan menyamai perkembangan dunia IT di negara lain,” kata Berlilana S, PS Kom, MSi., Ketua STMIK AMIKOM Purwokerto.

Menurut Berlilana, kondisi tersebut disebabkan oleh efek pembangunan yang tidak merata di Indonesia. Akibatnya, insfrastruktur yang disediakan pemerintah hanya dinikmati oleh penduduk di wilayah tertentu seperti perkotaan. Sementara bagi penduduk pedesaan harus hidup dengan segala keterbatasan dan harus mengandalkan potensi alam yang ada.

Kondisi seperti itulah, yang menghambat perkembangan dunia IT di Indonesia. Akibat pembangunan infrastruktur yang tidak merata, berimbas pada dunia IT di Indonesia meskipun potensi untuk berkembang sangat besar. Menurut Berlilana, untuk mempercepat akselerasi kemajuan IT di Indonesia ada beberapa hal yang harus dibenahi. Pertama dengan memompakan semangat dari dalam diri sendiri dalam menyikapi kemajuan negara-negara luar agar terpacu untuk menjadi lebih baik.

“Setidaknya, minimal harus menyamai mereka. Tetapi semua itu membutuhkan dukungan pemerintah, dalam rangka membuat kebijakan agar teknoloni informasi yang ada di negara kita berkembang dengan baik. Kita bersyukur dengan adanya Keminfo menunjukkkan pemerintah sudah memiliki komitmen terhadap perkembangan IT di negara kita. Mudah-mudahan, adanya kementerian khusus seperti itu, kita mampu bersaing di negara luar,” ujarnya.

Filosofi Pohon Pisang

Berlilana S, PS.Kom, MSi, lahir di Jakarta, 2 Desember 1973. Setelah lulus kuliah dan bergelar sarjana, ia berusaha mewujudkan cita-citanya, menjadi dosen. Langkah yang dilakukannya adalah dengan melamar pekerjaan sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi swasta di Yogyakarta maupun Purwokerto. Nilai indeks prestasi yang pas-pasan adalah alasan ditolaknya lamaran yang diajukannya.

“Akhirnya saya bekerja di asuransi serta beberapa perusahan swasta di Jakarta. Tetapi saya tidak betah karena jiwa pendidik dan cita-cita sebagai guru/dosen begitu tinggi. Akhirnya cita-cita saya kesampain, pada bulan Maret 1998 saya diterima sebagai dosen di Lembaga Pendidikan IMKI Prima. Lembaga ini merupakan grup Primagama yang bergerak di bidang pendidikan diploma Profesi Komputer 1 tahun,” kisahnya.

Berlilana bekerja mengawali karier di IMKI Prima sebagai tenaga humas dan pengajar. Tahun 2002, ia dipercaya menjadi pimpinan cabang IMKI Prima Purwokerto. Dibawah pimpinannya, perkembangan IMKI Prima Purwokerto mengalami kemajuan yang sangat pesat sampai tahun 2005. Melihat perkembangan IMKI Prima Purwokerto yang sangat pesat tersebut, Manajemen Pusat dan STMIK AMIKOM Yogyakarta tertarik dan mendirikan STMIK AMIKOM Purwokerto. Di bawah arahan dan binaan Prof. Dr. M. Suyanto, Berlilana terpilih untuk menjadi Ketua STMIK AMIKOM Purwokerto hingga sekarang ini.

Semua yang dilakukan Berlilana, tidak terlepas dari pesan almarhum ayahnya pada saat kecil. Pelajaran yang sangat berharga adalah bagaimana seseorang mampu menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Seorang manusia harus bisa menyerupai pohon pisang dalam kehidupan. Karena pohon pisang, dari akar sampai pucuk daunnya dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Menurut sang ayah, akar pohon pisang dapat digunakan sebagai obat-obatan, batangnya untuk panggung pagelaran wayang kulit, daunnya untuk membungkus, buahnya sangat bergizi, kulit buah untuk pakan ternak dan lain-lain.

“Yang lebih hebat lagi, pohon pisang tidak akan mati sebelum menghasilkan sesuatu yang berguna yaitu buah. Kalau ditebang sebelum berbuah dia akan tumbuh lagi dan apabila sudah berbuah, dia siap mati tetapi sudah menyiapkan tunas-tunas pisang baru yang siap menggantikan posisinya. Filosofi ini sangat membekas sekali di hati dan membuat saya berusaha terus hidup sampai menghasilkan sesuatu untuk diri sendiri, keluarga dan bangsa ini. Saya baru siap ‘mati’ setelah menyiapkan tunas-tunas pengganti, generasi penerus yang lebih handal. Salah satunya adalah mahasiswa-mahasiswa saya yang walaupun bukan anak sendiri tetapi bisa sukses itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi diri saya,” tuturnya.

Sebenarnya, cita-cita Berlilana di masa kecil adalah menjadi seorang pilot meniru kesuksesan pamannya yang bekerja sebagai pilot. Namun, karena filosofi pohon pisang lebih kuat menariknya untuk berguna bagi orang lain dengan menjadi pendidik. Setelah tercapai cita-citanya menjadi pendidik, ia merasa sangat puas apalagi tanggapan masyarakat terhadap profesi yang ditekuninya pun sangat baik. Semua itu menjadi “benteng” baginya untuk tidak berbuat salah yang dapat mencemari profesinya sebagai seorang pendidik

Berlilana mengakui bahwa menjadi seorang pendidik merupakan kebahagian tersendiri. Apalagi ia berkesempatan merintis perguruan tinggi ini –STMIK AMIKOM Purwokerto- dari awal berdirinya sampai sekarang. Dari modal seadanya dan kampus menumpang, sekarang mempunyai kampus sendiri yang cukup megah, lima lantai dengan fasilitas lengkap. Semua pencapaian itu, tidak lepas dari dukungan luar biasa dari keluarganya. Karena mereka merelakan ayah dan suaminya bekerja sampai larut malam dan mengurangi jatah libur bersama.

“Keluarga sangat mendukung. Terutama istri saya, Dwi Murni Handayani dan ke tiga anak saya, Muhammad Agriawan Satria Utama, Kayla Fatimatuzzahra, Aisyah Mulia Permata Akhir. Bagi saya, profesi apapun yang nanti ditekuni anak-anak akan saya bebaskan asalkan mereka nantinya bisa menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Seperti filosofi pohon pisang yang diajarkan kakeknya,” ungkapnya.

Barlilana menilai, perkembangan pendidikan di Indonesia sudah cukup baik. Meskipun demikian, perbaikan dan pemerataan antara kota dan desa perlu diperhatikan yang terkait dengan fasilitas pendukung proses pembelajaran. Begitu juga perbedaan lembaga pendidikan negeri dan swasta, di mana sekolah/perguruan tinggi negeri sepenuhnya disubsidi dan dibantu pemerintah. Sementara lembaga pendidikan swasta jauh lebih mandiri meskipun harus diakui menjadi salah satu penyebab kesenjangan dan ketimpangan yang sangat jauh pada dunia pendidikan di Indonesia.

“Perkembangan dunia pendidikan kita sudah bagus, terbukti banyak prestasi-prestasi anak bangsa di level perlombaan tingkat dunia. Hanya saja kadang komitmen penyelenggara pendidikan di Indonesia perlu ditingkatkan lagi. Jangan sampai dengan semakin banyaknya putra bangsa yang berprestasi, justru bangsa lain yang memanfaatkan kecemerlangan dan kemampuan otaknya,” tegasnya.

Agent of Change

Sebagai orang yang terbiasa membina generasi muda, Berlilana sangat memahami kondisi generasi muda sekarang ini. Dengan membanjirnya informasi melalui TV dan teknologi IT, tentu saja cukup banyak dampak negative dan positif yang ditimbulkan. Positifnya, kehadiran teknologi apabila disikapi dengan baik akan sangat membantu kehidupan manusia. Namun, apabila disikapi secara keliru sisi negative dari teknologi juga sangat mengkhawatirkan.

Ia mencontohkan bagaimana internet sekarang sudah sangat merakyat. Seluruh lapisan masyarakat mampu mengakses jaringan internet dengan bebas dan murah. Apalagi, teknologi hand phone yang semakin canggih dengan tariff operator murah, membuat internet bisa diakses dari mana saja. Namun sangat disayangkan sesuatu yang baik itu tidak bisa digunakan, sekadar iseng, ikut-ikutan atau penggunaan tidak bermanfaat lainnya.

Dalam pandangannya, salah satu “korban” dari perkembangan teknologi informasi tersebut adalah generasi muda. Dengan kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat, telah menyeret generasi muda untuk beralih kepada segala sesuatu yang serba cepat, praktis, instant dan lain-lain. Celakanya, kondisi tersebut diperparah dengan tayangan televisi yang tidak mendidik dan hanya menjual mimpi saja.

“Semua itu jelas-jelas mematikan kreativitas generasi muda. Ini sangat berbeda dengan generasi muda di zaman saya atau sebelumnya. Padahal, sebagai generasi muda kita harus siap menjadi agent of change terkait perubahan teknologi yang sangat cepat itu. Sebagai generasi muda kita harus siap menerima perubahan tadi, karena teknologi kalau digunakan dengan benar sangat ampuh bagi kemajuan kita. Tetapi di sisi lain, teknologi apabila disalahgunakan akan menjadi mesin pembunuh bagi karakter kita sendiri,” tandasnya.

Salah satu ketakutan yang timbul terhadap tayangan televisi yang tidak mendidik adalah minimnya kelahiran pemimpin di negeri ini. Kreativitas dari generasi muda yang kering dan tidak bermakna, membuat perkembangan bangsa ke depan cukup mengkhawatirkan. Artinya, ke depan Indonesia akan semakin sedikit melahirkan entrepreneur handal di bidangnya masing-masing. Padahal, entrepreneur membuat ketahanan bangsa terhadap krisis ekonomi sangat tinggi.

“Pendidikan entrepreneur sangat penting karena negara kita sangat sedikit orang-orang yang berwira usaha. Contohnya di Singapura 2 % penduduknya adalah seorang wirausaha, sedangkan di Indonesia masih jauh, sekitar 0,6 % saja. Karena kebanyakan pendidikan sekarang banyak menciptakan seorang karyawan atau pekerja saja,” ungkapnya.

Sekolah Tinggi Nomor Satu

STMIK AMIKOM Purwokerto setelah lima tahun berjalan semakin menunjukkan perkembangan yang baik. Berbagai kerjasama dengan pihak lain terus dijalin sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas lulusan sekolah tinggi ini. Selain mempekerjakan 62 dosen muda bergelar S2, STMIK juga mengundang dosen tamu dari wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.

Kerjasama juga dilakukan dengan alumni STMIK AMIKOM Purwokerto yang sudah bekerja di perusahaan-perusahaan. Tujuannya agar mengajak adik-adiknya untuk bekerja di perusahaan-perusahaan mereka agar bisa mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh selama kuliah. “Kita bekerjasama dengan Microsoft Indonesia. Kita juga ditunjuk oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk menyelenggarakan sertifikasi Profesi di Indonesia. Hal ini menggambarkan bahwa perusahaan-perusahaan dan industri di Indonesia sudah mempercayai AMIKOM,” tuturnya.

STMIK AMIKOM Purwokerto cukup menarik minat calon mahasiswa di sekitar eks Karesidenan Banyumas. Artinya masyarakat di wilayah kabupaten Banyumas, Purwokerto, Cilacap dan lain-lain, mempercayai AMIKOM sebagai perguruan tinggi yang menjadi rujukan utama. Bahkan dari website Dikti, AMIKOM menduduki level tertinggi dari jumlah mahasiswa se Jawa Tengah. Di Purwokerta sendiri, terdapat 11 perguruan tinggi yang sama, tetapi STMIK AMIKOM Purwokerto tetap menjadi yang nomor satu bahkan di tingkat Jawa Tengah untuk perguruan tinggi swasta bidang komputer.

Beberapa program unggulan AMIKOM sangat diminati oleh mahasiswa. Antara lain, multimedia, yakni kemampuan multimedia yang berbeda dengan perguruan tinggi lain. Di mana para mahasiswa dibekali agar betul-betul menguasai materi dengan baik. STIMIK juga memberikan soft skill kepada mahasiswa berkaitan dengan pengembangan diri, dimulai sejak mahasiswa baru sampai menjelang kelulusan.

“Tujuannya agar mahasiswa nanti memiliki pengembangan kepribadian yang positif. Ketiga, desain kurikulum kita itu lebih kita arahkan agar mereka mampu menjadi technopreneur seperti bisa membuka usaha, berusaha atau bahkan bekerja pada saat mereka masih berstatus mahasiswa. Ini yang membedakan antara STMIK AMIKOM Purwokerto dengan perguruan tinggi lainnya,” ungkapnya.

Jumlah mahasiswa STIMIK AMIKOM Purwokerto sampai memasuki tahun kelima mencapai 1600 mahasiswa dan meluluskan tiga kali angkatan. Berlilana berharap, lima tahun pertama AMIKOM menjadi perguruan tinggi IT terbesar di Jawa Tengah. Harapan tersebut tercapai dengan sukses –sesuai data Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah sehingga ditingkatkan target programnya. Target lima tahun kedua adalah membangun STMIK menjadi lebih besar dan bisa berbicara di level internasional.

“Di mana ada target-target khusus, bahwa perguruan tinggi kami tahun ini bisa teakreditasi dari BAN PT. Target kedua menyusun standar mutu internasional yang akan didukung dengan ISO maupun standar mutu nasional yang mana standar mutu tersebut membuat semua pekerjaan di semua lini sudah tersistem dengan baik. Ketiga, bahwa kita tetap menjaga kepercayaan masyarakat agar STMIK AMIKOM ini tetap positif dan keberadaannya bisa diterima masyarakat luas. Seperti induk kami, STMIK AMIKOM Yogyakarta yang dipilih UNESCO menjadi perguruan tinggi percontohan tingkat dunia yang dikelola secara entrepreneur,” tegas Berlilana.

Drs. Nana Supriatna

No Comments

Drs. Nana Supriatna
Kepala Sekolah SMP Negeri 212 Jakarta

Mempersembahkan Prestasi Melalui Imtaq dan Moving Class

Di zaman sekarang, pada profesi dan posisi apapun, orang harus kreatif untuk menyiasati keadaan. Carut marutnya kondisi di tanah air, memaksa setiap orang untuk lebih keras memutar otak dalam memenuhi kebutuhannya. Upaya pembangunan yang dilakukan pemerintah memang sangat membantu namun masih memerlukan proses panjang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Tidak terkecuali di dunia pendidikan. Meskipun alokasi anggaran pendidikan dari APBN sebeser 20 persen, namun waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan prosesnya masih panjang. Seperti yang dialami Drs. Nana Supriatna, Kepala Sekolah SMP Negeri 212 Jakarta, saat sekolah yang dipimpinnya sedang dalam proses pembangunan.

“Waktu itu, kami mengadakan kegiatan belajar mengajar di sekolah dasar di sekitar sekolah. Kami terpaksa menyebar anak-anak di beberapa SD karena mereka sendiri kekurangan ruang kelas. Bahkan, ketika salah satu SD yang kami tumpangi juga direhab, kami terpaksa menggunakan kelas kami yang baru setengah jadi,” katanya menceritakan pengalaman saat menjadi Kepala Sekolah di SMP N 145.

Ia memutar otak untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi kegiatan belajar mengajar (KBM). Dengan terpaksa, ia membagi-bagi siswanya untuk ditempatkan di kelas yang masih setengah jadi. Bagi siswa yang beruntung, mereka bisa menempati ruang kelas di lantai I yang sudah jadi.

Sementara yang lain terpaksa menggunakan ruang kelas di lantai II yang belum berpintu dan jendela. Akibatnya, mereka harus menahan kencangnya tiupan angin serta limpasan air hujan. Itupun masih menyisakan beberapa kelas yang tertinggal di SD yang berbaik hati memberikan tumpangan.

“Ruangannya masih tidak berlistrik. Akhinya kita atur masuknya bergantian, ada yang pagi dan siang. Tahun 2008 saya mencoba melakukan inovasi pembelajaran, dengan melakukan studi banding ke sekolah lain yang lebih maju. Namun belum sempat diterapkan, saya keburu mutasi ke sini awal Januari 2009,” tuturnya.

Tantangan yang dihadapi Nana begitu menginjakkan kaki di SMP 212 cukup berat. Saat itu, dari 223 siswa yang mengikuti Ujian Nasional tingkat kelulusan belum mencapai 100 persen. Ranking sekolah pun, untuk wilayah Jakarta Selatan tergolong masih rendah dengan nilai rata-rata 7,8. Sebagai kepala sekolah baru, ia merancang sistem untuk mempercepat akselerasi kemajuan sekolah yang dipimpinnya.

Dari studi banding yang dilakukan bersama para guru, Nana kemudian memperkenalkan metode moving class. Metode ini berjalan dengan menyiapkan kelas untuk mata pelajaran tertentu dengan guru dan kelengkapan belajar lengkap. Para siswa yang memiliki jadwal mata pelajaran akan mendatangi kelas-kelas tersebut untuk belajar.

“Secara teknis begitu. Tetapi kita terus melakukan evaluasi sejauh mana efektivitas sistem yang kami adopsi dari sekolah lain ini. Diharapkan anak-anak tidak jenuh sehingga selalu segar dengan adanya pergantian kelas tersebut. Karena perputarannya anak-anak diberi waktu lima menit untuk perpindahan kelas setiap dua jam pelajaran. Dengan moving class, kita harapkan mampu mempersembahkan prestasi dengan dilandasi Imtaq,” tegasnya.

Nana bersyukur, karena program ini bukan seratus persen kehendaknya sehingga berjalan dengan baik. Dukungan para staf guru yang bersama-sama melakukan studi banding mengenai sistem ini sangat besar. Sehingga ketika diterapkan tidak menimbulkan pertanyaan dari staf guru. “Jadi langsung in saja. Tidak ada kendala sama sekali,” imbuhnya.

Perlahan namun pasti, lanjut Nana, sistem yang diterapkannya membuahkan hasil. Dari sekolah dengan nilai rata-rata 7,8 kemudian meningkat menjadi 8,4 pada kelulusan UN 2010. Selain itu, ia juga meluncurkan program penambahan standar kurikulum yang dilaksanakan dengan baik. Hasilnya terjadi peningkatan  standar penilaian yang digunakan sebagai agar pada nantinya sekolah menjadi berstandar Sekolah Standar Nasional (SSN).

“Itu harapannya, tetapi semua tergantung dari anak didik, guru, orang tua serta para karyawan. Dan kita harus mengkomunikasikannya dengan baik sehingga keinginan itu bisa terwujud,” kata Kepala Sekolah yang memimpin 43 guru, 10 tenaga Tata Usaha dan 3 orang pesuruh/Satpam ini. “Siswa terbagi dalam 18 kelas dengan jumlah total 682 siswa,” tambahnya.

Darah Pengajar

Drs. Nana Supriatna dilahirkan di Kuningan, tanggal 28 Juli 1962. Ia memulai kariernya sebagai guru sejak tahun 1983 saat bertugas di SMP 200 Jakarta Utara. Sambil mengajar, tahun 1984 ia kuliah di Universitas Muhammadiyah Jakarta dengan target menggenggam gelar Sarjana Muda. Setelah itu, ia merencanakan untuk melanjutkan pendidikan di UNJ.

“Saat itu sekolah masih berada di tengah sawah. Karena tidak ada angkutan, saya harus berjalan kaki karena tidak ada mobil. Kadang saya juga ‘numpang’ truk container yang banyak berseliweran di daerah tersebut. Saat itu, saya ingin mempelajari bagaimana cara belajar mengajar. Saya ikut Wakasek untuk mempelajari bagaimana cara menulis kurikulum, rencana mengajar dan lain-lain,” kisahnya.

Selama bertahun-tahun, Nana menekuni pekerjaannya sebagai guru. Sambil kuliah, ia juga mengikuti berbagai pendidikan dan latihan (Diklat) untuk meningkatkan kompetensinya. Diklat yang diikutinya antara lain, Diklat Administrasi dan Supervisi (1996), Diklat Calon Kepala Sekolah (1999), Pelatihan Pengembangan Manajemen SMP (2006) dan Pelatihan Pengembangan Manajemen SMP (2008).

Tahun 1998, Nana mengikuti tes kepala sekolah tetapi gagal. Tidak berputus asa, tahun 1999 ia mengikuti tes kepala sekolah dan berhasil. Meskipun demikian, ia tidak memperoleh kesempatan untuk memimpin sekolah. Ia tetap ditugaskan sebagai guru menunggu adanya ‘lowongan’ kepala sekolah di SMP lain.

“Pada saat itu, sekolah kami kedatangan Kepala Sekolah baru, pindahan dari wilayah timur. Mungkin beliau kaget juga melihat kondisi sekolah panas dan gersang, murid-muridnya kacau serta setiap hari ramai dilintasi trailer yang besar-besar. Sudah begitu sering terjadi tawuran pelajar lagi, jadi kacau banget deh,” kisahnya.

Suatu saat terjadi tawuran pelajar yang melibatkan anak-anak di SMP-nya. Nana yang sudah terbiasa dengan situasi tersebut langsung menenangkan siswanya. Ia mengumpulkan orang tua murid dan menemukan “jawara” yang memiliki anak paling badung pentolan tawuran. Entah karena apa, setelah kepala sekolah “memarahi” jawara tersebut ia langsung jatuh sakit.

“Kepala Sekolah kemudian mengajukan cuti panjang. Saya sebagai Wakasek akhirnya menjadi Plt Kepala Sekolah yang menjalankan sekolah. Semua saya lakukan kecuali tanda tangan dokumen yang dilakukan Kepsek dibantu istrinya yang mengantarkan atau mengambil dokumen ke sekolah. Saya banyak belajar dari situ meskipun secara prestasi menduduki posisi paling bawah,” ujarnya.

Nana membuktikan dirinya layak menjadi pucuk pimpinan sekolah. Salah satunya adalah ketika sekolah menduduki peringkat I di kecamatan. Ini dijadikannya sebagai bahan pembelajaran, sembari menunggu turunnya SK pengangkatan sebagai Kepala Sekolah. Ia menjaga betul prestasi dan kemajuan sekolah untuk memelihara peluangnya menjadi Kepala Sekolah.

“Karena tidak boleh ada reaksi atau kondisi sekolah menjadi cacat yang berarti saya tidak bisa menunjukkan bagaimana menjalankan sekolah. Itu menjadi tantangan buat saya, untuk menciptakan kondisi yang kondusif untuk proses belajar mengajar. Saya akhirnya diangkat sebagai Kepala sekolah di SMP 145, tahun 2005.  Tetapi sampai pelantikan, saya tidak bilang sama siapapun, hanya kepada istri saja. Takut nggak jadi kan malu,” katanya sembari tertawa.

Semua yang dilakukan oleh Drs. Nana Supriatna di dunia pendidikan, nampaknya tidak bisa dilepaskan dari keluarga. Karena sebagian besar keluarganya, baik dari ayah ataupun ibunya berprofesi sebagai guru. Tidak heran, darah pendidik mengalir deras di dalam dirinya.

“Bapak saya memang guru, dua adik bapak juga guru. Begitu juga dengan paman dari pihak ibu hampir semuanya guru sehingga darah guru sudah ada dalam diri saya,” katanya. Selama ini, dengan memiliki intuisi sebagai pengajar ia berusaha untuk melaksanakan tugas dengan baik. “Kalau ada tantangan kita upayakan untuk dipecahkan,” imbuhnya.

Nana menilai, peran pemerintah sekarang dalam dunia pendidikan cukup baik. Penggunaan teknologi pendidikan juga dirasakan sebagai kemajuan yang sangat berarti. Ia mencontohkan bagaimana sistem penerimaan siswa baru (PSB) secara online telah menghapus kesenjangan. Karena sistem tersebut tidak memungkinkan bagi anak orang kaya melewati jalur “belakang” untuk mendapatkan sekolah yang bermutu.

“Sistem PSB Online menghapus itu semua, asalkan nilainya bagus, anak bisa masuk sekolah yang diinginkan. Begitu juga dengan BOS serta kebijakan Pemda DKI terhadap pendapatan guru, saya sangat setuju. Pokoknya pemerintah sekarang dalam hal pendidikan sangat bagus untuk kemajuan pendidikan,” katanya menutup pembicaraan.

Drs. Syamsul Bahri TRB, MM, CPA, Ak.

No Comments

Drs. Syamsul Bahri TRB, MM, CPA, Ak.
Pemilik dan Managing Partner KAP SYAMSUL BAHRI TRB & REKAN

Diharapkan Menjadi Pendidik, Besar Sebagai Akuntan Publik

Bagi orang zaman dahulu, profesi sebagai guru alias pendidik adalah pekerjaan sangat mulia dan terhormat. Guru adalah pintu ilmu pengetahuan yang tiada habisnya sehingga posisinya sangat disegani di tengah masyarakat. Seorang guru dijadikan suri tauladan bagi masyarakat sekitarnya. Tidak heran, di berbagai daerah guru sekaligus juga tokoh masyarakat yang diikuti kata-kata dan tingkah lakunya.

Harapan untuk menjadi seorang pendidik “pernah” dilambungkan oleh kakek dan nenek Drs. Syamsul Bahri TRB, MM, CPA, Ak., kepada cucunya tersebut. Setiap libur sekolah dan pulang kampung dari Banda Aceh, pertanyaan apakah sang cucu sudah menjadi guru selalu terlontar. Apalagi ketika cucu kesayangannya tersebut mulai beranjak dewasa, pertanyaan serupa selalu diulang dalam berbagai kesempatan.

“Baik kakek dari pihak ayah maupun ibu, selalu memberikan pertanyaan yang senada, ‘Apa kamu sudah jadi guru?’ Di mata mereka guru adalah profesi mulia meskipun generasi kakek maupun ayah jarang mengecap pendidikan formal yang dikelola kaum kolonial. Akibatnya, mereka buta aksara latin tetapi melek aksara arab yang didapatkan dari pendidikan non-formal. Sejak itu, menjadi guru selalu terpatri di hati saya agar dapat mengabdikan diri kepada masyarakat. Walaupun guru adalah profesi yang tidak memberikan banyak materi, tetapi sangat dihormati masyarakat karena pengabdiannya,” kata Pemilik sekaligus Managing Partner KAP SYAMSUL BAHRI TRB & REKAN ini.

Anak kelima dari sembilan bersaudara pasangan Teuku Radja Badai dan Tjut Syah Indra ini, menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat (SR) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) di kota Banda Aceh. Berbekal dukungan kedua orang tua yang sangat menginginkan agar anak-anaknya dapat menempuh pendidikan setinggi mungkin, ia merantau ke Medan. Tujuannya adalah menuntut ilmu di perguruan tinggi nomor satu di Propinsi Sumatera Utara, yaitu Universitas Sumatera Utara (USU).

Namun bukan jurusan kependidikan yang ditujunya seperti harapan sang kakek. Ia memilih untuk mengambil jurusan kedokteran seperti cita-cita masa kecilnya. Penyebabnya, rasa kemanusiaannya yang tergugah melihat kondisi kampung halamannya tidak memiliki tenaga dokter. Maklum, kampung halamannya di Kecamatan Meureudu (sekarang ibu kota Kabupaten Pidie Jaya) berjarak ± 150 kilometer dari Banda Aceh dan 40 kilometer dari Sigli, sebuah kecamatan pada masa itu yang belum memiliki tenaga dokter.

“Masyarakat di kampung saya kebanyakan petani yang mengandalkan pelayanan kesehatan kepada para mantri, perawat atau bidan yang ada di sekitar mereka. Nah, salah satu mantri kesehatan yang ada di desa kami adalah paman yang sering meminta saya membantu beliau saat liburan di kampung. Hal tersebut memperkuat keinginan saya untuk kuliah di kedokteran menyusul kakak dan saudara sepupu yang telah lebih dalulu kuliah di Fakultas Kedokteran USU, karena profesi ini dapat mengabdikan diri dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” ujarnya.

Tetapi pria yang akrab dipanggil Achun ini harus mengubur impiannya untuk menjadi dokter dalam-dalam. Ia hanya bertahan menjalani perkuliahan di Fakultas Kedokteran USU Medan pada Tingkat pertama saja. Beberapa alasan membuat cita-citanya kandas di tengah jalan, kuliahnya terhenti begitu saja. Putus asa dan frustasi, ia menyalahkan siapa saja yang dianggapnya menghambat cita-citanya. “Mulai SMA dibawah standar, kemampuan financial orang tua kurang, ditambah saya sendiri tidak pandai mendekatkan diri kepada dosen. Bahkan sempat terpikir Tuhan tidak sayang sama saya,” imbuhnya.

Namun, Achun akhirnya tersadar bukan itu penyebab kegagalannya. Melalui introspeksi diri yang mendalam, dengan berkaca pada kondisi orang lain yang lebih parah dari dirinya, ia bangkit dari keterpurukan. Semangat bahwa dirinya bisa berbuat seperti yang dilakukan orang lain terus menggelora. Ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk melakukan semampu yang mungkin dilakukannya.

Pada saat seperti itu, terngiang di telinga Achun petuah-petuah dari kakek tercinta. Salah satu yang paling membantunya bangkit dari keterpurukan adalah nasihat yang berbunyi: “berbuatlah sebisamu jangan dipaksakan”. Dari situ ia sadar, dunia kedokteran bukanlah karier yang tepat baginya. Ia kemudian melirik profesi yang pada saat itu masih langka di masyarakat dan sangat asing baginya, menjadi seorang akuntan, yang nantinya meneruskan berpraktek sebagai akuntan publik.

“Profesi akuntan publik saat itu masih jarang sekali, hanya ada di kota-kota besar saja. Tetapi yang jelas, profesi ini juga dapat mengabdikan diri kepada masyarakat. Bisa membuka praktek untuk melayani orang lain, sama seperti dokter. Tetapi dengan banting stir ini, saya harus kerja keras menekuni sesuatu yang begitu asing. Sesuatu yang belum pernah terbayangkan dan begitu abstrak bagi saya. Tetapi dengan kemauan keras untuk berhasil, saya bertahan,” ujar pengagum pengusaha “nyentrik” Bob Sadino tersebut.

Achun kemudian mengambil kuliah pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi USU. Kurikulum yang berlaku saat itu mahasiswa harus memperoleh ijazah sarjana muda terlebih dahulu sebelum melanjutkan pendidikan tingkat sarjana. Karena akuntansi sejak dahulu hingga sekarang merupakan jurusan favorit, mahasiswanya pun sangat banyak. Dengan dosen “hanya” delapan orang yang bergelar akuntan saat itu, tingkat kelulusannya pun menjadi rendah. Tidak heran mahasiswa yang menamatkan kuliah hingga delapan tahun pun masih dianggap normal. Standar kelulusan sesuai kurikulum saat itu adalah lima tahun, namun mahasiswa yang berhasil menempuh pendidikan lima atau enam tahun dianggap luar biasa.

Setelah memperoleh gelar sarjana muda, Achun mendapat tawaran dari fakultas untuk bergabung menjadi tenaga pengajar. Karena saat itu, FE USU masih kekurangan tenaga pengajar dalam jumlah besar terutama untuk jurusan akuntansi. Teringat kakeknya yang selalu menanyakan kapan dirinya menjadi guru, ia pun menerima tawaran tersebut. Meskipun secara administratif, ia terganjal sistem yang mengharuskan seorang dosen adalah sarjana.

“Maka jadilah saya pegawai negeri berstatus tenaga administrasi yang bertugas di bidang akademik. Yang jelas, saya terpanggil karena teringat keinginan kakek yang mengharapkan cucu-cucunya mengabdikan dirinya menjadi guru, melayani masyarakat walaupun penghasilan tidak seberapa. Nah, jadilah saya asisten dosen,” kisah penyuka liburan di pantai atau pegunungan tersebut.

Disamping menjadi asisten dosen, Achun juga bekerja magang sebagai tenaga auditor di beberapa kantor akuntan publik (KAP). Dengan bekerja di KAP, ia memiliki penghasilan tambahan disamping mengajar. Di sini, ia tidak hanya memperoleh penghasilan yang memadai, tetapi juga tambahan ilmu pengetahuan yang sangat berguna bagi kariernya kelak.

“Pokoknya, selain masalah finansial tidak menjadi problem lagi, saya juga dapat ilmunya. Malah kucuran dari orang tua hanya bersifat insidentil saja, kalau butuh baru minta. Sangat puas bisa menikmati hasil keringat sendiri, di samping dapat meringankan beban orang tua yang sudah kurang begitu produktif lagi,” tuturnya.

Menekuni Profesi

Akhirnya Drs. Syamsul Bahri TRB berhasil menyelesaikan gelar sarjana akuntansi dan secara resmi menjadi tenaga pengajar di almamaternya, Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara. Bersama enam rekannya sesama staf pengajar FE USU, ia kemudian mendirikan Kantor Akuntan Publik (KAP). Dengan pertimbangan komersiil, sengaja nama KAP mengambil nama salah seorang pendiri yang telah memiliki dua gelar master akuntansi.

Sepuluh tahun kemudian, enam rekan sepakat untuk memecah perusahan menjadi dua KAP sehingga masing-masing KAP memiliki tiga partner. Pertimbangan melakukan hal tersebut adalah asumsi bahwa enam orang ahli terlalu ramai untuk satu persekutuan perdata. Hasilnya luar biasa, karena setelah memisahkan diri tumbuh tekad dan tantangan baru untuk berkembang dan berhasil.

“Dengan tekat untuk berbuat semampu yang bisa kita capai, ternyata hasilnya luar biasa. Hanya dalam tempo tiga tahun, kerja keras kami melampaui apa yang kami kerjakan sepuluh tahun bersama enam rekan KAP terdahulu. Dalam tiga tahun pertama operasi kami mampu membeli sebuah ruko tiga lantai untuk kantor di daerah yang berpotensi untuk berkembang. Kami juga mampu mengerjakan proyek-proyek besar sendiri maupun dengan konsorsium bersama KAP lain,” katanya.

Achun mengakui bahwa dalam menekuni bidang akuntan publik cukup banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah datang dari penilaian masyarakat terhadap profesi AP terkait kasus-kasus yang terjadi, baik di dalam negeri maupun negara-negara besar lainnya. Akibatnya, untuk sekadar memperoleh kepercayaan masyarakat adalah pekerjaan rumah yang sangat berat bagi akuntan publik.

Sedangkan kendala intern terjadi akibat penumpukan pekerjaan yang biasa terjadi pada akhir atau awal tahun. Pada saat-saat seperti itu, intensitas pekerjaan sangat tinggi sehingga memerlukan tenaga lapangan yang banyak.  Sementara pada pertengahan tahun, pekerjaan yang diperoleh bahkan tidak mencukupi untuk didistribusikan kepada staf auditor yang terlanjur direkrut.

“Oleh karena itu, perputaran tenaga auditor di lapangan menjadi tinggi. Ini membuat KAP akan terkuras energinya untuk mendidik tenaga junior setiap tahun. Karena setelah mapan dan memiliki ‘nama’ mereka akan mencari pekerjaan yang dianggap lebih favorit. Biasanya, staf auditor belum merasa bangga dengan status mereka di KAP, walau secara finansial hal ini sudah dapat disetarakan dengan profesi yang lebih favorit lainnya,” ungkap ayah empat anak ini.

Kendala lain adalah pemerintah sebagai pemegang regulasi mengeluarkan aturan-aturan yang tidak banyak membantu dunia AP. Akibat peraturan-peraturan yang ada belum mendorong profesi akuntan publik ke posisi yang lebih baik. Tidak heran, apabila dikaji lebih dalam profesi AP masih harus menempuh jalan panjang untuk bisa berkembang sebagaimana mestinya. Banyak tantangan yang harus dihadapi dan dipecahkan masalah yang timbul agar profesi AP mampu mencapai posisi ideal di tengah masyarakat.

Di sisi lain, lanjut Achun, minat untuk menekuni pekerjaan sebagai akuntan publik sangat kecil. Tidak terjadi penambahan jumlah Akuntan Publik (AP) secara signifikan dari tahun ke tahun. Data yang dibeberkannya menunjukkan sesuatu yang mencengangkan dalam profesi AP. Dari sekitar 230 juta jiwa penduduk Indonesia, hanya 905 orang yang berprofesi sebagai akuntan publik. Angka ini jauh ketinggalan dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN bahkan dengan Filipina sekalipun.

Data yang dilansir oleh Media Investor Daily, 4 Agustus 2010, halaman 1, menunjukkan bahwa Singapura memiliki AP 15.120 orang dengan jumlah penduduk hanya 5 juta jiwa, Filipina 15.020 AP dengan penduduk 88 juta jiwa, Thailand 6.070 AP dengan penduduk 66 juta jiwa, Malaysia 2.460 AP dengan penduduk 25 juta jiwa dan Vietnam 1.500 AP dengan penduduk 85 juta jiwa.

“Selain itu, RUU Akuntan Publik yang saat ini sedang digodok oleh Pemerintah dan DPR, juga belum memihak kepada pengembangan dunia usaha. Disamping pandangan masyarakat kepada akuntan publik sendiri secara umum masih kurang baik. Seolah-olah AP adalah tukang yang siap mengerjakan sesuatu sebagai barang tempahan, pesanan sesuai selera konsumen. Ini merupakan tantangan bagi AP untuk merubah image negatif ini ke gambaran yang lebih objektif,” imbuhnya.

Padahal, lanjut Achun, harus diakui bahwa kebutuhan dunia usaha akan peran Akuntan Publik untuk memberikan opini sebagai pihak yang independen untuk berbagai keperluan tidak bisa dihindari. Faktor ini menyebabkan banyak kelompok kepentingan yang membuat kebijakan sendiri-sendiri untuk memilih AP yang menurut mereka memenuhi spesifikasi/ persyaratan kelompok masing-masing. Ia mencontohkan, keberadaan AP-Bapepam, AP perbankan, AP BPK dan lain-lain, yang untuk dapat memenuhi syarat dimaksud memerlukan biaya dan waktu sehingga membuat harga pokok jasa akuntan menjadi tinggi.

“Ketidak jelasan masa depan akuntan publik membuat generasi muda mempunyai minat yang rendah untuk menekuni bidang ini.  Hal ini terlihat dari kecilnya minat mengikuti Pendidikan Profesi Akuntansi (PPA) dan Ujian Sertifikasi Akuntansi Publik (Certified Public Accountant : CPA),” keluhnya.

Untuk memecahkan masalah tersebut, Achun sangat berharap terjadinya perubahan besar pada profesi yang digelutinya saat ini. Ia sadar, keinginannya tidak mungkin terwujud tanpa dukungan dari berbagai pihak, utamanya lembaga legislatif dan eksekutif dalam menetapkan regulasi pada profesi ini. Ia mengakui, peran Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) sebagai wadah para akuntan publik sudah cukup baik. Ia berharap agar peran IAPI di masa mendatang terus ditingkatkan agar profesi ini dapat dihargai sebagaimana mestinya.

“Selain itu, terjadinya persaingan yang kurang sehat antar KAP, pemahaman masyarakat terhadap peran AP dalam dunia usaha serta berbagai pihak yang terkait dengan kelanjutan profesi ini sangat diperlukan. Karena profesi akuntan publik di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan, di mana umur akuntan publik yang aktif mayoritas dikuasi oleh AP yang berumur diatas 51 tahun sebesar 64 persen. Usia AP antara 41 – 50 tahun sebesar 25 persen dan usia 26 – 40 tahun hanya 11 persen. Semua itu, kalau tidak ditangani dengan serius profesi ini hanya tinggal kenangan,” katanya.

Menghargai Orang Lain

Selama menjalani kariernya, Achun merasa mendapat dukungan penuh dari keluarga. Istri dan keempat anaknya, sangat mendukung dan mengerti atas profesi suami dan ayahnya. Bahkan, tumbuh rasa kebanggaan dari anak-anaknya terhadap profesi sang ayah. Tidak heran, dua dari empat anaknya mengikuti jejak ayahnya dan menempuh pendidikan untuk menjadi akuntan.

“Sedangkan anak tertua meneruskan cita-cita ayahnya yang gagal menjadi dokter. Si bungsu, sebagai satu-satunya anak perempuan masih duduk di kelas tiga SMA dan belum menentukan pilihan profesi apa yang nantinya akan dijalani. Yang jelas, naik turunnya keberhasilan KAP terus mendapat support keluarga secara positif,” tegas suami Radhiatun Mardiah, SE, MSi tersebut.

Dukungan keluarga yang besar, sudah dirasakan Achun sejak awal. Ayah dan ibu sangat berkeinginan agar anak-anaknya dapat menyelesaikan pendidikan setinggi-tingginya. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat dan merasakan bagaimana upaya kedua orang tuanya dalam membiayai pendidikan keluarga besarnya. Tujuannya hanya satu, supaya semua anak-anak dan kemenakan-kemenakannya mampu menyelesaikan studi serta meraih cita-cita masing-masing.

“Untungnya, kehidupan keluarga kami tergolong berkecukupan dibanding saudara-saudara ayah maupun ibu. Meskipun tidak tergolong kaya raya tetapi bisa digolongkan keluarga berada. Ayah adalah seorang pedagang yang berkemauan keras, dan selalu tidak puas sebelum berhasil mewujudkan apa yang ingin dicapainya. Walaupun pada akhirnya ada beberapa anaknya tidak berhasil meraih gelar sarjana,” katanya.

Achun masih teringat bagaimana ayah dan kakeknya menanamkan sikap untuk menghargai orang lain. Petuah yang disampaikan secara turun temurun tersebut dimaksudkan agar timbul penghargaan dari orang lain karena mereka juga merasa dihargai. Meskipun pesannya sangat sederhana, tetapi baginya cukup sulit untuk diterapkan. Kesulitan yang paling berat baginya adalah untuk menghargai waktu bagi diri sendiri.

“Kalau memposisikan diri kita menjadi orang lain yang waktunya dikorbankan untuk kepentingan kita, akan kita sadari betapa naifnya kita. Makanya, sampai seusia sekarang saya masih terus belajar bagaimana dapat mengelola waktu dengan baik,” kata pria kelahiran Takeungon, Aceh Tengah, 7 Juli 1951 ini.

Dalam menjalani kehidupan baik untuk diri sendiri, keluarga, atau masyarakat Achun memiliki slogan sebagai pegangan. Slogan tersebut berbunyi; “Buatlah sesuatu yang bermanfaat, sekecil apapun itu dan semampu kita mewujudkannya untuk diri sendiri maupun orang lain. Jangan menilai segala sesuatu dari apa yang akan kita peroleh tetapi apa yang telah kita perbuat”.

“Dengan mengamalkan ini, kita akan memperoleh kepuasan tersendiri. Bahwa  kita sebenarnya bermanfaat, memiliki potensi yang berguna untuk diri sendiri maupun orang lain. Ini yang selalu saya tekankan kepada keluarga maupun karyawan dalam menjalani kehidupan. Dengan bermodalkan hal ini, akan lebih mudah untuk mencapai cita-cita serta memperoleh ketenangan hidup,” kata Drs. Syamsul Bahri TRB, MM, CPA, Ak.

Ruslan Effendy

No Comments

Ruslan Effendy
Ketua Koperasi Jasa Marga Bhakti I

Pengurus Tidak Boleh Memiliki Kepentingan di Koperasi

Usaha bersama dengan semangat kerakyatan yang kental adalah “roh” dari koperasi. Bentuk usaha yang menjadi “soko guru” perekonomian bangsa tersebut bertujuan untuk menyejahterakan rakyat, utamanya anggota koperasi. Sebagai pilar perekonomian, koperasi yang dikelola dengan baik akan memberikan manfaat yang besar. Tidak hanya bagi anggota koperasi tetapi juga masyarakat di sekitarnya.

Namun sebuah koperasi hanya bisa menjadi tumpuan perekonomian apabila dikelola dengan baik. Untuk mengelola koperasi memerlukan orang-orang yang benar-benar kompeten, menguasai bidang perkoperasian dan memiliki naluri bisnis yang tajam. Selain itu, seorang pengurus koperasi harus tahu akan dibawa ke mana koperasi yang berada dibawah kendalinya.

“Sebagai pengurus koperasi harus memahami perkoperasian dengan baik. Memahami UU Perkoperasian, aturan-aturannya, bentuk, anggota dan tujuan pendirian koperasi. Satu catatan untuk pengurus koperasi adalah mereka tidak boleh memiliki kepentingan di dalam koperasi. Kalau itu dilakukan koperasi akan maju karena itu tidak gampang, memerlukan mental yang kuat,” kata Ruslan Effendy, Ketua Koperasi Jasa Marga Bhakti I.

Mental yang kuat dipelukan untuk mencegah pengurus “bermain” dalam pengelolaan bisnis koperasi. Karena koperasi sebagai institusi bisnis memiliki peluang-peluang besar untuk mendatangkan keuntungan besar yang sangat “menggoda” iman. Salah-salah, pengurus koperasi yang tidak kuat mental akan menggunakan kesempatan tersebut bagi keuntungannya sendiri. Bisa dikatakan tidak mudah menjadi pengurus yang tetap bertahan tanpa kepentingan di koperasi.

Selain itu, lanjutnya, pengurus koperasi juga harus “open” kepada keluarga. Karena sifat kepengurusan di koperasi lebih banyak sosial yang tidak banyak mendatangkan materi. Sementara tugas sebagai pengurus koperasi sangat menyita waktu kebersamaan dengan keluarga. Apalagi bagi pengurus koperasi yang “merangkap” sebagai karyawan seperti dirinya, memerlukan waktu ekstra untuk melaksanakan kedua tugasnya.

“Kegiatan koperasi dari Senin sampai Jumat, Sabtu untuk kuliah. Sementara tugas di PT Jasa Marga tidak mengenal waktu, bahkan hari libur nasional pun kami tetap masuk. Nah, keluarga yang melihat kesibukan luar biasa yang kami lakukan akan menuntut sebagai kompensasinya. Karena mereka merasa tidak mendapat apa-apa,” ujarnya. Ia bersyukur, mendapat kepercayaan sepenuhnya dari keluarga. Sang istri, Mardahlena dan anak-anaknya tidak keberatan ia hanya menyisihkan waktu beberapa saat bersama mereka. “Mereka memahami meskipun saya pergi pagi dan pulang pagi. Mungkin beberapa tahun lagi saya akan melepaskan semuanya dan lebih fokus pada keluarga,” imbuhnya.

Untuk itu, Ruslan sedang menggodok sistem yang menetapkan honor dan target pengurus Koperasi JMB I. Dengan standar yang jelas dan pasti, seorang pengurus koperasi memiliki kejelasan tentang hak dan kewajibannya. “Jangan sampai anggota punya target, tetapi pengurus tidak punya kebebasan gerak dan honor yang pasti,” tegasnya.

Adu Bidding

Dalam tiga periode kepemimpinannya, Ruslan Effendy belakangan membawa koperasi berkiprah “keluar” dan lebih fokus pada penawaran jasa outsourcing dan investasi. Meskipun untuk itu, koperasi harus berhadapan langsung dengan sektor swasta yang lebih berorientasi keuntungan. Karena itu, diperlukan strategi yang tepat untuk memainkan peran dalam ketatnya persaingan bisnis.

“Kalau kurang punya strategi sudah pasti kita akan kalah. Makanya kita kemudian banyak ikut tender pengadaan, terutama di lingkungan PT Jasa Marga. Kita bekerja sama dengan perbankan untuk pendanaannya, karena rasanya berat kalau pakai dana sendiri. Kita juga bekerja sama dengan perusahaan otomotif seperti PT Astra Internasional dalam pengadaan kendaraan. Kerjasama seperti inilah, yang membuat kita berani ‘adu bidding’ dengan perusahaan swasta,” tuturnya.

Menurut Ruslan, dukungan dari pihak luar seperti itulah yang harus dipertahankan oleh koperasi. Apalagi di tengah persaingan global yang semakin sengit, pengurus koperasi harus “cerdas” mengembangkan koperasinya. Kalau hanya berkutat pada satu unit usaha saja koperasi tidak akan berkembang. Seperti diatur dalam UU Koperasi, disebutkan bahwa koperasi bisa mengembangkan usaha seluas-luasnya. Dengan mengembangkan diri, koperasi akan mampu memenuhi kebutuhan anggota yang setiap tahun bertambah dan meningkat.

“Tentu memerlukan kebijakan pengurus untuk mendorong dan memotivasi perkembangan koperasi. Koperasi kita sendiri sudah menerapkan sistem penggajian yang sangat rapi, naik secara gradual dan sistematis. Nah, kalau tidak diimbangi dengan pengembangan usaha atau usahanya mandeg, mungkin untuk menggaji karyawan sudah suli. Koperasi bisa hancur,” tandasnya.
Strategi yang diterapkan Ruslan adalah dengan membuat publik percaya atas kiprah Koperasi Jasa Marga Bhakti I. Selain itu, koperasi harus tetap menjaga hubungan baik dengan anggota maupun mitra usaha. Untuk ekspansi usaha, koperasi mendirikan anak perusahaan sebagai sarana memperlancar penetrasi bisnis. Ia mencontohkan, bagaimana koperasi bersama perusahaan “maju bersama” dalam proses penawaran lelang sebuah proyek.

“Ini strategi kita, bukan curang. Saya tahu strategi ini banyak digunakan orang dalam sebuah lelang. Saya pernah mendapati bahwa lima perusahaan lawan lelang saya, pemiliknya hanya satu orang. Dari pengalaman saya, kalau tidak mengikuti sistem seperti itu koperasi tidak akan pernah menang. Meskipun proyek tersebut berasal dari Jasa Marga,” tegasnya.

Efek Keseimbangan

Ruslan Effendy menuturkan, Koperasi Jasa Marga Bhakti I memiliki dua seksi usaha, anggota dan non-anggota. Seksi usaha anggota lebih mengedepankan sisi sosial, yang meliputi penyediaan barang-barang kebutuhan anggota, simpan pinjam dan waserba (warung serba ada). Koperasi juga melayani usaha penyediaan barang bagi anggota mulai kendaraan roda dua, roda empat bahkan sampai kredit perumahan.

“Bahkan pembuatan SIM dan STNK pun kita fasilitasi. Pokoknya setiap keinginan anggota untuk memenuhi kebutuhannya, kita usahakan untuk dapat direalisasikan. Unit usaha ini tidak mengambil keuntungan dan lebih bersifat sosial. Untuk itu, kami memberikan subsidi yang didatangkan dari kegiatan non anggota,” tuturnya.

Unit usaha non anggota yang dijalankan koperasi, lanjut Ruslan, meliputi bisnis yang cukup besar. Karena induknya pengelola jalan tol, koperasi memiliki unit usaha armada derek jalan tol. Kemudian rental kendaraan dengan kekuatan 60 armada mobil keluaran terbaru siap disewakan kepada anggota dan umum. Selain itu, koperasi memiliki usaha service AC, pemasangan dan pemeliharaan lengkap dengan teknisi untuk urusan pendingin ruangan tersebut. Usaha lain yang dijalankan adalah unit fotokopi dan ATK, jasa cleaning service dan jasa outsourcing untuk pekerjaan-pekerjaan sipil yang bersifat tidak rutin, seperti pembuatan marka jalan dan lain-lain. Koperasi juga memiliki unit usaha bengkel di beberapa lokasi yang cukup mendatangkan pendapatan memadai.

“Untuk pekerjaan-pekerjaan yang bersifat bisnis pengurus turun langsung. Karena kalau kita pakai manajer, nanti pengurus tidak terlibat langsung dan santai-santai saja,” katanya.

Meskipun begitu, disadari bahwa dengan tidak menggunakan manajer koperasi akan menyalahi ketentuan perundangan. Karena sudah diatur dalam UU, bahwa koperasi karyawan yang berkembang besar harus menggunakan jasa manager dalam pengelolaannya. Sementara Koperasi Jasa Marga Bahkti I memiliki 565 anggota dengan aset sekitar Rp 18 miliar dan dikelola oleh tiga orang pengurus merangkap sebagai manajer. “Pembagian tugas manajerial berkaitan dengan anggota ditangani bendahara, kegiatan bisnis sekretaris, tetapi semua keputusan berada di tangan ketua koperasi. Bukannya kita tidak percaya manajer, tetapi cukup susah mengubah budaya bangsa kita ini,” ungkapnya.

Meskipun tanpa manajer, lanjut Ruslan, koperasi mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi anggota. Program baru yang diluncurkannya adalah memberikan pinjaman lunak bagi anggota untuk meneruskan kuliah hingga selesai. Biaya kuliah -di universitas manapun- akan dilunasi oleh koperasi dan anggota tinggal mencicil pinjaman tanpa bunga tersebut setiap bulan. Setiap anggota memiliki satu hak untuk mendapatkan pinjaman tersebut yang bisa digunakan untuk anggota tersebut atau keluarganya.

“Idenya datang dari seringnya anggota meminjam untuk biaya kuliah, dengan begini anggota tidak perlu pusing tiap enam bulan sekali memikirkannya. Koperasi juga memberikan beasiswa dari tingkat SD-SMA, yang diberikan setiap bulan November kepada lebih dari 30 orang, sehubungan dengan Ultah Jasa Marga cabang Tangerang. Beasiswa ini berpatokan pada nilai yang diperoleh siswa yakni bagi anak-anak dengan nilai rata-rata di atas 8,” ungkanya.

Ke depan, koperasi akan terus harus mengembangkan sayap utamanya kepemilikan aset tak bergerak. Karena selama ini koperasi banyak mempunyai aset bergerak seperti kendaraan baik operasional maupun yang disewakan. Sebagai ketua, Ruslan ingin membuat aset-aset tidak bergerak diperbanyak di masa-masa mendatang. Dalam waktu dekat koperasi akan membuat kontrakkan dengan fasilitas lengkap terdiri dari minimal 40 kamar, dengan lokasi yang strategis dan harga sewa rendah. Pendapatan koperasi akan diperoleh dari toko kebutuhan hidup yang berada di tengah areal kontrakkan, listrik, keamanan dan lain-lain.

Dengan program-program tersebut tidak heran banyak anggota yang sayang melepaskan keanggotaannya meskipun dimutasi ke daerah lain. Banyak manfaat yang diberikan koperasi Jasa Marga Bhakti I dibawah kepemimpinan Ruslan Effendi bagi anggota. Bahkan saat lebaran, koperasi mengadakan bazar dan anggota memperoleh uang tunai serta voucher belanja, untuk digunakan membeli keperluan menyambut hari raya. Koperasi juga menyediakan angkutan antar jemput bagi anggota untuk membawa hasil belanjanya tersebut.

“Anggota yang dimutasi tetapi sayang melepas keanggotaannya, membuat pernyataan kalau tidak mau keluar dari keanggotaan koperasi. Kita angkat mereka sebagai anggota luar biasa. Bahkan kita merubah Aanggaran Dasar, yakni ketika anggota berhenti dari keanggotaan, ia tetap mendapatkan haknya dari dana cadangan,” katanya. Prinsipnya, saat tercatat sebagai anggota asset koperasi hanya ratusan juta, sehingga akan tidak adil ketika 20 tahun kemudian seorang anggota yang keluar hanya mendapatkan uang pokok saja. Padahal asset koperasi telah berkembang menjadi puluhan miliar. “Karena saya pernah belajar efek keseimbangan dan itu saya berikan di koperasi ini,” imbuhnya.

ISO Koperasi

Memasuki tahun 2010, Ruslan Effendy memiliki rencana besar untuk pengembangan koperasi. Seiring dengan diterapkannya ASEAN Free Trade Area (AFTA) dan China Free Trade Area (CFTA), ia mencoba sebuah sistem di Koperasi Jasa Marga Bhakti I yang sangat kuat. Dengan sistem yang kuat tersebut, siapapun yang akan menggantikannya kelak akan mampu membawa koperasi semakin maju.

“Untuk itu saya sedang berusaha agar koperasi bisa memperoleh ISO. Kalau sistem sudah bagus, siapapun yang masuk tidak menimbulkan masalah, karena kita sudah siap. Jadi bukan hanya kaderisasi orang, tetapi juga penguatan sistem. Memang membutuhkan biaya besar, tetapi mau tidak mau koperasi di Indonesia itu harus di-ISO-kan. Karena untuk jangka panjang saya yakin sangat berguna,” ujarnya.

Oleh karena itu, sebelum Ruslan mengakhiri masa jabatan sebagai ketua koperasi untuk ketiga kalinya, ia memantapkan sistem. Semua itu belajar dari pengalamannya saat pertama kali mengemban amanat sebagai ketua. Ia saat itu tidak tahu apapun mengenai perkoperasian. Hanya dengan kemauan kuat dan kesadaran untuk belajar –melalui berbagai pelatihan- ia mampu membesarkan Koperasi Jasa Marga Bhakti I. Dari koperasi karyawan yang “amburadul” disulap menjadi koperasi beraset belasan miliar yang akan terus tumbuh membesar.

“Kalau sekarang koperasi sudah cukup besar. Saya khawatir begitu saya tinggalkan nanti anggota bertanya-tanya mengenai koperasinya. Kalau sistem sudah terbentuk dan mantap, begitu saya meninggalkan koperasi tidak akan menimbulkan masalah. Saya tidak ingin koperasi ini menjadi hancur seperti tahun 1998 lalu,” katanya. Ruslan mengungkapkan bahwa dengan sistem yang tertata rapi, kepengurusan bisa diserahkan kepada siapa saja. “Kemampuan manajerial pengurus akan digembleng melalui pelatihan-pelatihan,” imbuh penyuka liburan di Malang dan Bali ini.