Tag: saya

H. Hardjani HS

No Comments

H. Hardjani HS
Ketua Cabang Muhammadiyah Cileungsi

Sentralisasi Manajemen Muhammadiyah Cileungsi Sangat Strategis untuk Pengembangan SDM

Upaya meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan terus dilakukan oleh Muhammadiyah Cabang Cileungsi. Yayasan ini mengelola pendidikan mulai Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, SMP, SMK, SMA dan Perguruan Tinggi. Sesuai dengan ayat Alquran bahwa “Orang yang berilmu akan ditinggikan derajatnya”, Yayasan berusaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia umumnya dan masyarakat Cileungsi khususnya.

Caranya, Muhammadiyah mencoba memberikan pendidikan berbiaya murah bagi anak-anak usia sekolah dari tingkat terendah sampai tertinggi. Meskipun upaya tersebut terkendala minimnya dana –yayasan tidak mempunyai sumber dana tetap dari donatur yang pasti- tetapi berbagai cara digunakan untuk menyiasati kendala tersebut. Seperti subsidi silang dari siswa mampu kepada siswa tidak mampu melalui biaya pendidikan, Muhammadiyah juga memberikan beasiswa bagi siswa berprestasi dan kurang mampu.

“Untuk mencapai biaya relative murah itu belum bisa full, karena tidak ada bantuan dari manapun. Kita mencari uang sendiri, memanfaatkan uangnya sendiri. Untuk sampai ke situ, sistem pendidikan di sini menggunakan sistem sentralisasi. Artinya mulai dari TK hingga PT manajemennya adalah satu, tidak sekolah per sekolah. Sehingga untuk pengaturan kepegawaian, kesejahteraan dan lain-lain berada dalam satu manajemen,” kata H Hardjani HS., Ketua Cabang Muhammadiyah Cileungsi.

Menurut Hardjani, pihak yayasan selain memberikan beasiswa dalam jumlah besar juga mencarikan dana bagi orang-orang yang tidak mampu, fakir miskin dan yatim piatu. Kepada mereka bahkan diberikan pembebasan biaya sekolah apabila dipandang benar-benar tidak mampu. Yayasan juga memberikan keringanan biaya hingga 50 persen bagi keluarga karyawan. Hal tersebut merupakan bagian dari sistem Sentralisasi Manajemen Muhammadiyah Cileungsi.

Hardjani menjelaskan, Muhammadiyah memiliki kegiatan pendidikan, kesehatan, sosial dan lain-lain, di mana antara kegiatan satu dengan yang lain saling menguatkan. Dengan begitu, meskipun tanpa bantuan pemerintah mampu membantu meringankan tugas dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Terbukti, selain guru dan karyawan berjumlah 350 orang, juga tumbuhnya entrepreneur baru di sekitar yayasan. Yakni orang-orang yang mengais rezeki dengan berjualan di sekitar sekolah yang disiapkan tempat, listrik dan air bersih.

“Jadi visi saya adalah bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan Muhammadiyah Cileungsi dengan menggunakan sistem manajemen secara sentral. Dengan sistem ini, meskipun biaya pendidikan relative murah, tetap prestasi tidak kalah. Alhamdulilah siswa SD menjadi juara lukis untuk Jawa Barat dan masuk Olimpiade Matematika tingkat Nasional. Artinya dengan kondisi seadanya prestasi kita cukup membanggakan,” kata pria kelahiran Magelang, 19 September 1958 ini.

Belajar Sampai China

Menurut H Hardjani HS, kemajuan teknologi yang pesat tidak terlalu berdampak buruk bagi dunia pendidikan. Tinggal bagaimana teknologi tersebut diaplikasikan pada dunia pendidikan. Meskipun harus diakui bahwa penggunaan teknologi sangat tergantung pada siapa penggunannya. Oleh karena itu teknologi pendidikan harus benar-benar dipahami pengguaannya. Tetapi bagaimanapun kehadiran teknologi dalam pendidikan tidak perlu ditakutkan.

“Teknologi seperti pisau, kalau dipakai dengan baik menjadi baik kalau dipakai jelek ya menjadi jelek. Contohnya pisau dapur kalau dipakai untuk masak ya bagus, tetapi kalau untuk nodong ya berbahaya. Begitu juga dengan teknologi, semua tergantung pada penggunaannnya. Makanya kita di sini, melengkapi teknologi dari semua tingkatan mulai TK hingga PT, yang menjadi bagian dari sarana,” katanya.

Hardjani mengakui adanya perbedaan dalam sistem pendidikan di Indonesia dan luar negeri yang cukup jauh cara pandangnya. Di luar negeri sekolah memiliki pelajaran yang sangat terspesialisasi menjadi empat mata pelajaran. Sementara di Indonesia 17 mata pelajaran harus diketahui siswa. Dengan empat pelajaran, siswa di luar negeri sangat menguasai spesialisasinya. Sementara di Indonesia, siswa “tahu” segala macam pengetahuan meskipun tidak “bisa” mengaplikasikannya.

Sistem kualitas tersebut, lanjut Hardjani, membedakan antara pendidikan di Indonesia dan luar negeri. Apalagi, target sistem yang berubah-ubah dari legislator pendidikan di Indonesia membuat perubahan yang signifikan. Ia mencontohkan bagaimana sistem UAN yang diterapkan sekarang, di mana banyak siswa harus mengulang ujian. Kejadian ini, merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas lulusan pendidikan di Indonesia.

“Selama ini kita berorientasi pada kuantitas yang merupakan target orde baru dalam pemberantasan buta aksara. Sementara di era Reformasi ini sudah mulai mengutamakan kualitas. Memang ada yang tidak setuju, tetapi sistem UAN sudah dilakukan sejak Indonesia merdeka hingga tahun 1977. Ketika Orba berkuasa UAN dihapus karena perbedaan target tersebut,” tandasnya.

Padahal, lanjutnya, seorang muslim -sesuai dengan sunah Rasul- diwajibkan untuk belajar bahkan hingga ke negeri China. Sunah tersebut bahkan bisa diartikan secara harfiah melihat kondisi negeri China belakangan ini yang menjadi kekuatan ekonomi baru. China dalam waktu singkat telah tumbuh menjadi negara berpengaruh setelah Amerika Serikat dan Jepang. Kemampuan seperti yang ditunjukkan bangsa China berasal dari sifat mereka yang pantang menyerah, pekerja keras, prihatin dan pintar berdagang.

“Sabda Rasulullah, ‘Belajarlah meskipun harus sampai ke negeri China’ benar-benar terbukti melihat kondisinya sekarang. Sunah Rasul yang lain menyatakan bahwa, 80 persen rezeki yang diturunkan Allah adalah perdagangan, sementara yang lain hanya bernilai 20 persen saja. Tetapi semua orang Indonesia mengejar yang 20 persen dan meninggalkan yang 80 persen. Entrepreneurship baru wacana dan belum benar-benar dilakukan. Jadi kalau mau maju, jadikan sekolah sebagai pengetahuan dan setelah lulus diarahkan sebagai entrepreneur,” ujar pria yang bercita-cita menjadikan Cileungsi sebagai kota pelajar, terutama di daerah Bogor timur ini.

Hardjani memberikan catatan bagi bangsa Indonesia untuk mengejar ketertinggalan dunia pendidikan di Indonesia. Yakni mengamalkan sunah Rasul untuk belajar sampai negeri China dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Karena umat Islam sudah dibekali dengan surat Al Ash’r yang mengingatkan pentingnya waktu karena tidak dapat terulang kembali. Sementara yang terjadi di Indonesia yang mayoritas beragama Islam malah meninggalkan perintah Islam. “Kalau orang-orang di luar negeri menggunakan Al Quran untuk dilaksanakan harian. Sementara di Indonesia kitab ini hanya digunakan sebagai bahan bacaan dan tidak dilaksanakan,” katanya.

Di sisi lain, lanjutnya, perintah Al Quran dalam Al Insyiro sangat jelas, yakni memerintahkan setiap manusia untuk bekerja keras. “Kalau selesai pekerjaan yang satu pekerjaan yang lain harus dilakukan. Dan setiap melakukan pekerjaan itu pasti ada kesulitan, tetapi dibalik kesulitan itu pasti ada kemudahan”. “Masalahnya orang Indonesia tidak pernah mau bersulit-sulit, maunya yang enak-enak saja. Artinya apa yang ada di konsep Islam itu semua dipakai oleh Barat, sehingga Barat lebih maju daripada kita,” imbuhnya.

Hijrah untuk Berubah

H Hardjani HS merasa terbantu dengan adanya BOS, BOM dan RKB yang diprogramkan pemerintah. Meskipun untuk itu harus berusaha “mengejar” kepada pihak pemerintah agar program tersebut. Menurut Hardjani, seharusnya pemerintah yang harus datang ke sekolah-sekolah dalam rangka mensukseskan program yang dirancangnya.

Hal ini dirasakan berbeda ketika Yayasan yang diketuai Hardjani memperoleh bantuan dari United Way di USA. Meskipun berkantor di Illinois, USA tetapi mendatangi sekolah-sekolah di seluruh dunia –termasuk Cileungsi- untuk memberikan bantuan. Bahkan ketika kesepakatan untuk me-launching program tersebut, pihak donatur jauh-jauh datang dari USA.

“Jam empat subuh mereka masih di Singapura padahal acara kita jam sembilan pagi. Tetapi mereka sudah memiliki komitmen sehingga jam sembilan tepat perwakilannya sudah datang untuk meresmikannya. Sementara pejabat kita, jam sebelas baru datang di sini, padahal tinggalnya hanya di Cibinong. Jadi  komitmen waktu itu yang di antara kita tidak terlaksana dengan baik. Menganggap pejabat yang harus dilayani,” ungkap Karyawan Teladan Provinsi Jawa Barat Tahun 2000 ini.

Untuk mengatasi hal tersebut, ia mengingatkan, bahwa -dalam bahasa Rasullulah- bangsa Indonesia harus hijrah dan setiap saat berubah. Bangsa Indonesia jangan menggunakan manajemen beton yang kokoh dan tidak bisa diubah-ubah. “Kita harus hijrah untuk berubah. Kita harus mengikuti jejak Rasul dengan meniru sifat-sifat baiknya yakni amanah, fatonah, siddiq dan tablig. Karena banyak orang Islam yang tidak menggunakan ilmunya,” tuturnya.

Ia berharap, agar aturan pemerintah segera diimplementasikan seperti pemberian BOS dan bantuan-bantuan lainnya. Setidaknya, buku sekolah digunakan sistem seperti zaman dahulu yang tidak diperjualbelikan dan dapat dipergunakan oleh generasi berikutnya. Kebijakan tersebut sangat berguna untuk mendukung pendidikan murah karena mengurangi biaya pembelian buku.

Kepada generasi muda, Hardjani berpesan berpikir sebagai umat Islam yang rahmatan lil’alamin yang tidak membedakan suku, ras, agama dan lain-lain. Dengan pola pemikiran seperti itu, generasi muda akan berusaha untuk berbuat baik bagi kepentingan orang lain. ia mencontohkan, pada saat berusia 24 tahun, ia sudah terjun ke dunia pendidikan. Visinya saat itu adalah untuk menyejahterakan masyarakat melalui pendidikan.

“Bukan warisan. Karena kalau warisan akan habis dibagi-bagi, sementara dengan berpendidikan anak keturunan dari pemilik warisan tidak akan menjual warisannya. Karena anak-anaknya berusaha untuk mendapatkan rezeki Tuhan yang 80 persen bukannya membagi-bagi warisan leluhurnya,” ujarnya.

Setelah 26 tahun, buah pemikiran Hardjani telah berhasil menanggulangi pengangguran meskipun dalam skala kecil. Selain 350 guru, karyawan dan pedagang yang bangkit karena Yayasan Perguruan Muhammadiyah beroperasi. Masyarakat yang ada di sekitar yayasan pun dibantu untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi. Artinya, dari segi tenaga kerja dan sosial, Yayasan Perguruan Muhammadiyah telah membantu pemerintah.

“Artinya kalau PCM Cileungsi saja bisa memberikan lapangan kerja bagi 500 orang, dengan 5000 siswa, maka seandainya dalam satu kecamatan ada 10 orang yang pola pikirnya (mindset) seperti saya, di Indonesia tidak ada pengangguran lagi. Bahkan pengangguran intelektual pun tidak ada. Kita menggaji karyawan di sini pun sudah lebih dari UMK, lengkap dengan jaminan sosial, kalau secara umum kesejahteraan karyawan sudah relative cukup. Standar,” katanya.

Adapun visi yang dipegang teguh Hardjani selama ini adalah melaksanakan surat Al Maa’uun (Q.S:107) dan surat Al ‘Ashr (Q.S:103). Dalam surat Al Maa’uun terkandung perintah untuk mengentaskan kemiskinan. Dimana dalam mengentaskan kemiskinan bukan dengan membagi-bagikan uang, tetapi memberikan ilmu pengetahuan. Artinya dengan membekali ilmu, kemiskinan dengan sendirinya tidak ada. Sementara surat Al ‘Ashar mengharuskan manusia untuk menghargai waktu dengan sebaik-baiknya. Ia melihat, bangsa Indonesia belum dapat menghargai waktu dengan baik.

Ia melukiskan pengalaman saat membuat sekolah yang tidak mau menunda-nunda waktu untuk memulai. Apa yang menjadi keinginannya langsung dikerjakan terlebih dahulu dan diperbaiki sambil berjalan, tanpa harus menunggu hal-hal yang ideal. Karena ia sadar kalau menunggu yang ideal –seperti kecukupan dana dan bantuan dari pemerintah– cita-citanya tidak dapat berjalan.

“Kalau saya yang penting punya niat, akan saya tanamkan. Kalau sudah punya tekat saya tanamkan terlebih dahulu, meskipun nggak punya duit harus mulai. Karena bisa sambil jalan, sambil menghimpun dana. Visi saya melaksanakan amanah kedua surat tersebut yang menyangkut IPOLEKSOSBUDHANKAM. Kedua surat itu yang menjadi pegangan saya dan sekaligus menjadi visi saya,” katanya.

Sedangkan mengenai misi yang diembannya, Hardjani menyebut pengentasan kemiskinan melalui pendidikan dan kesehatan. “Karena itu, saya menyelenggarakan pendidikan dari TK sampai Perguruan Tinggi (TK:5 unit, SD: 2 unit, SMP: 2 unit, SMA: 1 unit, SMK: 3 unit, Sekolah Tinggi Teknologi Muhammadiyah Cileungsi, Asrama Yatim Piatu Al-Maun: 2 Unit) yang diharapkan berguna untuk kesejahteraan masyarakat. Untuk kesehatan, mulai pengobatan gratis sampai rumah sakit. Itu misi saya,” kata pria yang berkantor di dua tempat sekaligus ini. Pagi di salah satu perusahaan semen di kawasan Bogor Timur, kemudian malam hari dan hari libur berkantor di Pimpinan Cabang Muhammadiyah Cileungsi.

H. Dudit L. Sugiharto, S. Sos., MM

No Comments

H. Dudit L. Sugiharto, S. Sos., MM
Ketua Yayasan Bhakti Tunas Husada

“Menjadi STIKes Unggulan di Jawa Barat”

Dari sekian banyak Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) di Jawa Barat, prestasi yang ditorehkan STIKes Bhakti Tunas Husada Tasikmalaya patut mendapat acungan jempol. Berdiri sejak april 2004, STIKes Bhakti Tunas Husada merupakan gabungan dari Akademik Perawat (Akper) dan Akademik Analis Kesehatan (AAK) di bawah naungan Yayasan Bhakti Tunas Husada. Dalam tempo lima tahun, tercatat berbagai prestasi dari sekolah tinggi yang digagas oleh H. Iyus Ruswadi tersebut.

“Alhamdulilah, tahun 2009 sesuai dengan visi kami “Menjadi STIKes Unggulan di Jawa Barat”, kami menjadi lembaga pendidikan yang pertama di Indonesia yang mendapat lisensi dari BNSP. Dimana STIKes Bhakti Tunas Husada menjadi LSP dan tempat uji kompetensi untuk Bidang Administrasi pekerjaan Analis dan Keperawatan se-Indonesia. Tahun 2010, kami memperoleh penghargaan sebagai peraih pengelola administrasi keuangan terbaik, administrasi akademik terbaik dan perpustakaan ketiga terbaik, semuanya pada tingkat provinsi Jawa Barat, “ kata H. Dudit L. Sugiharto, S.Sos., MM, Ketua Yayasan Bhakti Tunas Husada.

Selain itu, sejak tahun 2008 STIKes Bhakti Tunas Husada telah menggunakan multimedia dalam sistem pembelajaran. Dan setiap sudut kampus, mahasiswa bebas mengakses internet karena tersedia hotspot di lingkkungan kampus. Untuk mempermudah dosen dalam menjalankan aktivitas mengajar, pihak kampus menyediakan notebook yang dapat dibayar kredit tanpa bungan. Semua itu dimaksudkan agar dosen dapat memberikan pelayanan terbaik serta terjalin komunikasi yang intensif antara dosen dan mahasiswa.

Bagi mahasiswa yang berprestasi, STIKes menyiapkan sederet kemudahan dan fasilitas pendukung bagi aktivitas mereka. Mahasiswa dengan IPK 3,5 ke atas mendapatkan beasiswa dari Yayasan. Sementara bagi mahasiswa yang aktif berorganisasi baik di tingkat nasional maupun regional, selain mendapat beasiswa aktif organisasi juga memperoleh mobil sebagai fasilitas operasional. “Ini untuk amanah dan efisiensi bagi mereka juga, Karena bagi STIKes mahasiswa bukan objek, tetapi subjek,” imbuhnya.

Dudit mengisahkan, sebelum sebesar sekarang, STIKes Bhakti Tunas Husada berawal ketika H. Iyus Ruswadi (Alm), sebagai kepala SPK ingin mendirikan mesjid. Namun, karena tidak memiliki dana ia terpaksa mencari bantuan ke berbagai pihak. Persyaratan untuk mendapatkan bantuan, ia harus membentuk yayasan sehingga berdirilah Yayasan Bhakti Tunas Husada pada November 1988. Setelah mesjid berdiri, barulah terpikir untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Sejak itulah, lanjutnya, disusun AD/ART yayasan pada tanggal 5 Desember 1988 dengan susunan pengurus sebagai berikut : Ketua H. Iyus Ruswadi, H. Mulyana Sekretaris, Arifin Bendahara, dengan anggota dr. Sadeli bersama tujuh orang lainnya. Namun berbagai konflik kepentingan menghiasi perjalanan yayasan sehingga meskipun bangunan pusat pelayanan sudah berdiri tetapi tidak bisa beroperasi. Akhirnya, bangunan tersebut beralih fungsi menjadi Akademik Keperawatan (Akper) berdasarkan SK Mendiknas Tahun 1993.

Tahun 1996, kisahnya, yayasan menambah satu lembaga lagi yakni Akademik Analis Kesehatan (AAK). Disusul kemudian pada tahun 1998 berdiri DUKM sampai tahun 2010 dibubarkan, kemudian Balai Pengobatan (BP) BTH didirikan. Tahun 2003, yayasan mendirikan Panti Asuhan Amanah Bhakti Tunas Husada, karena H. Iyus Ruswadi yatim sejak kelas tiga SD. Perasaan perih yang dirasakannya akibat hidup kekurangan karena yatim, membuat H. Iyus Ruswadi sangat ingin melihat anak-anak bangsa bisa menjadi orang dan berkiprah bagi bangsa, agama dan negara.

“Saya bergabung di sini sejak tahun 1996 dan digembleng langsung oleh beliau. Setelah beliau meninggal pada 15 Februari 2006 saya diangkat sebagai caretaker  ketua yayasan pada 18 Februari 2006, April 2006  secara resmi diangkat sebagai ketua yayasan. Semenjak menjabat, saya kemudian membenahi yayasan yang saat itu masih menggunakan kapasitas kepemimpinan beliau yang mapan dan berwibawa. Sementara saya sebagai pengganti pada usia 36 tahun, mengembangkan konsep yang berbeda dengan latar belakang saya sebagai sarjana marketing dari S1 sampai S2,” ujarnya.

Berdoa Lebih Keras

Dalam mengelola yayasan, H. Dudit L. Sugiharto, S.Sos., MM., banyak terinspirasi dari H. Iyus Ruswadi. Bagaimana menjalankan roda organisasi dengan amanah adalah salah satunya. Terus menerus melakukan perbaikan disegala bidang merupakan salah satu terobosan berlian yang dilakukan pria kelahiran Tasikmalaya, 22 Februari 1970 ini. Mulai bidang akademik, peraturan kepegawaian, statuta pendidikan serta fasilitas lainnya mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman.
“Semua itu merupakan sebuah prestasi bersama dan bukan hasil kerja saya saja. Yang jelas, keyakinan saya berawal dari konsep Do The Best For Allah, dengan 7 nilai ilahiyah yaitu jujur, tanggung jawab, kerjasama, visioner, disiplin, adil dan peduli. Itu kami terapkan, karena semua orang tahu masalah tidak akan pernah hilang selama kita hidup. Seperti yang dikatakan Kang Erbe Sentanu pencetus Quantum Ikhlas, yang paling penting dilakukan manusia bukan bekerja keras tetapi berdoa lebih keras,”tandasnya.

Tidak heran, dengan keyakinan tersebut, ia tidak pernah lepas shalat Tahajud dan Duha setiap hari. Dampak yang dirasakannya adalah dalam menghadapi berbagai kesulitan Allah selalu memberikan jalan keluar yang terbaik.

“Ini belum sempurna, masih banyak kekurangan karena saya juga belum apa-apa. Tetapi yang jelas, dengan komitmen yang kami sepakati bersama menjadi tanggung jawab kita meskipun masih banyak kekurangan,” tambahnya. “Saya tidak bisa sembarangan memilih orang karena harus amanah. Tetapi Alhamdulilah, di sini semua transparan. Penggunaan uang dapat terpantau dengan jelas,” imbuhnya.

Terkait banyaknya sekolah tinggi sejenis, Dudit menyikapinya sebagai mitra sejajar. Ia pun menganggap persaingan merupakan hal yang wajar asalkan persaingan disikapi dengan sehat. Pada prinsipnya, ketika mahasiswa merasa puas saat menempuh pendidikan di STIKes BTH akan membawa nama baik kampusnya dimata masyarakat. Begitu juga sebaliknya, kesan buruk akan dikeluarkan ketika mahasiswa tidak puas terhadap kampus dimana dia menempuh pendidikan.

Menyikapi kondisi tersebut, Dudit menyiapkan segala sesuatunya dengan baik. Selain menetapkan disiplin tinggi, fasilitas multimedia bagi dosen dan mahasiswa. Dibimbing oleh 32 dosen lulusan S1, S2 dan S3, membuat mahasiswa tingkat akhir sebelum prosesi wisuda direkrut perusahaan-perusahaan yang membutuhkan.

“Selain beasiswa yang jumlahnya bisa dua kali lipat dari mahasiswa di perguruan tinggi lain. Kepada dosen berprestasi pun diberikan reward atas prestasinya. Ada tunjangan gaji serta peraih dosen terbaik atau pegawai terbaik memiliki kesempatan untuk umrah dan haji atas biaya yayasan. Pendidik itu pertanggungjawabannya langsung kepada Allah sehingga wajar bagi mereka menerima penghargaan seperti itu,” katanya.

Dudit juga membuat berbagai terobosan terkait sistematika perkuliahan. Salah satunya adalah membuat kartu mahasiswa sebagai ATM, kartu registrasi, kode akses, kartu absensi, parkir dan lain-lain, bekerja sama dengan sebuah bank nasional. Semua itu dilakukan untuk mempermudah mahasiswa dalam menjalankan aktivitas di kampus STIKes BTH Tasikmalaya. Dengan jumlah mahasiswa 722 orang saat ini, kualitas alumnus sangat diutamakan sehingga banyak diantara mereka yang diterima bekerja di luar negeri seperti Kuwait, Jepang, Arab Saudi dan lain-lain.

“Masyarakat juga mengakui kredibelitas STIKes BTH Tasikmalaya, mahasiswa baru yang daftar ke  kita yang tidak lulus, kita rekomendasikan ke perguruan tinggi lain yang sejenis. Begitu juga dengan anak-anak panti asuhan yang tadinya kucel dan dekil, sekarang menjadi bersih, rajin dan layak untuk bersekolah,” kata suami dari Dewiyani  Dahlia, YRS. ST MT ini.

Sekilas STIKes BTH Tasikmalaya

Sejarah
Tanggal 27 April 2004 keluar SK Mendiknas RI No. 60/D/O/2004 tentang Pendirian Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes BTH) dengan tiga Program Studi : DIII Keperawatan, DIII Analis Kesehatan dan S1 Farmasi. Dengan demikian, Akper BTH dan AAK berubah status menjadi program studi di STIKes BTH, ditambah satu program studi yang baru yaitu S1 Farmasi.

Visi
Visi STIKes BTH Tasikmalaya adalah Menjadi STIKes Unggulan di Jawa Barat.

Misi
Menyelenggarakan Tridharma Perguruan Tinggi yang bermutu untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan berdaya saing.

Tujuan
Mewujudkan tata kelola institusi yang otonom, transparan dan akuntabel.
Menghasilkan lulusan yang berkompeten, berahlak mulia, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta memiliki keunggulan.
Memperluas keilmuan dan pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan.

Filsafat dan Nilai
Filsafat STIKes BTH Tasikmalaya berlandaskan Pancasila dan Undang – Undang Dasar 1945 serta seiring Visi Yayasan yaitu “Mensyukuri nikmat Allah dengan mewujudkan suatu entaitas yang bermanfaat sebagai perwujudan ibadah”. Nilai yang dianut STIKes BTH adalah Jujur, Tanggung Jawab, Visioner, Disiplin, Kerjasama, Adil, Peduli.
Identitas
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bhakti Tunas Husada Tasikmalaya berdiri berdasarkan SK Mendiknas No. 60/D/O/2004 tanggal 27 April 2004 yang berlokasi di Jalan Cilolohan No. 36 Tasikmalaya 46115, Tlp. (0265)334740, Fax (0265)327225.

Program Studi

DIII Keperawatan
Terakreditasi BAN PT No. 017/BAN-PT/Ak- VI/DpHII/XII/2005
Pada Program Studi ini, mahasiswa diarahkan agar memiliki kemampuan dibidang pelayanan asuhan keperawatan serta mampu melakukan segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan dasar manusia. Selain itu mahasiswa diajarkan pula tentang keperawatan medikal bedah, jiwa, anak, komunitas, maternitas dan berbagai ilmu pendukung lainnya. Pola pengajaran dilakukan dengan teori dan praktek di kelas, laboratorium, bahkan diberbagai rumah sakit serta puskesmas secara langsung.

DIII Analis Kesehatan
Terakreditasi BAN PT No. 016/BAN-PT/Ak-VI/DpHII/XII/2006
Mahasiswa Program Studi ini diarahkan untuk menjadi seorang analis kesehatan di laboratorium atau tempat lainnya. Keahliannya yang akan dimiliki di antaranya mampu melakukan pemeriksaan klinis atau kimia sebagai penunjang diagnosa dokter, atau sebagai tenaga ahli di laboratorium perusahaan penghasil produk farmasi, kosmetik atau makanan. Pengetahuan dasar yang diajarkan meliputi ilmu kimia, biologi serta berbagai ilmu pendukung lainnya. Pola pengajaran meliputi kegiatan teori, praktek di laboratorium atau berupa kunjungan ke berbagai industri.

S1 Farmasi
Terakreditasi BAN PT No. 010/BAN-PT/Ak-VI/S1/2007
Lulusan Program Studi ini diarahkan untuk menciptakan sarjana yang professional dibidang farmasi . Bidang keilmuan farmasi ini terdiri atas 5 bagian yaitu Kimia Farmasi, Teknologi Formulasi, Bahan Alam Farmasi, Farmakologi dan Ilmu Dasar /Ilmu Tambahan. Tiap-tiap bagian merupakan ilmu yang berhubungan atau kelompok keilmuan dan terapan dibidang farmasi. Bagian-bagian ini meliputi teori, praktek dan penelitian. Lulusan Program Studi ini dapat melanjutkan pendidikan berikutnya untuk menjadi apoteker atau melanjutkan jenjang S2 Farmasi.

Sarana dan Prasarana

STIKes BTH Tasikmalaya berdiri di atas tanah seluas 20727 m², dilengkapi dengan laboratorium praktek yang memadai, perpustakaan, free internet, mushola dan sarana lainnya untuk kegiatan kemahasiswaan, olah raga, kesenian dan koperasi. Khusus bagi mahasiswa keperawatan tersedia asrama yang terletak di lingkungan kampus, selain itu tersedia pula tempat parkir yang luas, menjadikan STIKes BTH menjadi tempat belajar yang representative.

Seluruh ruang kelas yang ada telah dilengkapi dengan LCD Projector, yang akan memudahkan para pengajar dan mahasiswa untuk melakukan proses belajar secara interaktif dan efisien.

Sistem Informasi kemahasiswaan tersedia pada On Line Information Booth (MISTer IT) yang dapat dimanfaatkan setiap saat oleh mahasiswa untuk melakukan pengecekan progress belajar, nilai, jadwal dan informasi penting lainnya. Keunggulan
Perpustakaan yang dimiliki STIKes BTH Tasikmaya dilengkapi dengan ribuan buku elektronik (e-book) dan ratusan buku contoh lainnya yang dapat dijadikan referensi. Berbagai jurnal baik dari dalam dan luar negeri tersedia cukup, juga dapat diakses  gratis melalui koneksi internet yang tersedia secara gratis pula.
Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STIKes BTH Tasikmalaya telah bekerja sama dengan berbagai pihak, menyelenggarakan berbagai kegiatan sepeti bakti sosial, pengobatan gratis, penyembelihan hewan qurban dan lainnya.

STIKes BTH Tasaikmalaya memberikan pembebasan biaya semester bagi mahasiswa yang berprestasi untuk masing-masing angkatan dan program studi. Selain itu pemberian beasiswa dari Kopertis Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, serta berbagai institusi swasta lainnya juga menjadi agenda rutin STIKes BTH Tasikmalaya.

Lulusan STIKes BTH Tasikmalaya telah bekerja di berbagai instansi baik pemerintah (75% lulusan telah diangkat PNS) maupun swasta seperti RSP Pertamina, RS Pondok Indah serta berbagai laboratorium terkemuka serta perusahaan-perusahaan farmasi berskala besar.

Bagi mahasiswa analis dan keperawatan, sebelum lulus akan mengikuti Uji Kompetensi Laboratorium Dasar yang diselenggarakan oleh LSP BTH yang telah bersertifikat BNSP. Untuk pelaksanaannya, STIKes BTH Tasikmalaya telah memiliki Tempat Uji Kompetensi (TUK) bagi profesi Analis Kesehatan dan Keperawatan.

Rencana Strategis STIKes BTH Tasikmalaya Tahun 2011 – 2015

Dalam 6 (enam) tahun perjalanannya STIKes BTH Tasikmalaya telah berupaya melejitkan potensi dirinya dalam rangka mencapai visinya sebagai “STIKes Unggulan di Jawa Barat”. Program pengembangan STIKes BTH telah dirancang melalui Perencanaan Strategi (Renstra) secara periodik yang disusun setiap 5 tahun. Renstra terakhir yang berlaku untuk periode 2006-2010 telah dilaksanakan dan dievaluasi.

Untuk kesinambungan program maka telah disusun Renstra periode berikutnya tahun 2011-2015 yang berorientasi pada pengalaman masa lalu, keadaan saat ini dan prospek ke depan. Sejalan dengan Visi maka Misi STIKes BTH adalah “Menyelenggarakan Tridharma Perguruan Tinggi yang bermutu untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan berdaya saing”, sedangkan tujuan STIKes BTH adalah :
Mewujudkan tata kelola institusi yang otonom, transparan dan akuntabel.
Menghasilkan lulusan yang berkompeten, berahlak mulia, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta memiliki keunggulan.
Memperluas keilmuan dan pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan.
Penyusunan Renstra 2011 – 2015 dilakukan secara kooperatif, koordinatif dan sistematik melalui analisa SWOT untuk menganalisa lingkungan internal berupa fakto-faktor yang menjadi kekuatan (Strength) dan kelemahan (Weakness) yang dimiliki STIKes BTH, serta lingkungan eksternal berupa factor-faktor yang menjadi peluang (Opportunity) dan ancaman (Threath) yang dihadapi STIKes BTH.

Berdasarkan hasil analisa SWOT maka ditetapkan formulasi strategi yang digunakan atas unsur kekuatan dan peluang (S-O), strategi atas unsur kekuatan dan ancaman (S-T), strategi atas unsur kekuatan dan peluang (W-O), dan strategi atas unsur kelamahan dan ancaman (W-T). Selanjutnya ditentukan strategis yang dipilih untuk pengembangan STIKes BTH periode 2011-2015 adalah sebagai berikut :
Membangun dan mengoptimalkan sistem manajemen akademik, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.
Membangun sistem manajemen dan optimalisasi pengembangan SDM.
Membangun dan optimalisasi implementasi SPMI, PDPT dan LSP.
Membangun sistem manajemen keuangan yang handal.
Membangun sistem manajemen sarana dan prasarana.
Meningkatkan promosi dan pencitraan institusi.
Menggali sumber dana di luar mahasiswa.
Meningkatkan hard skill dan soft skill lulusan.
Membuka program studi baru.

Prof. DR. H. A. Djalil Idris Saputra, Drs. MM.

No Comments

Prof. DR. H. A. Djalil Idris Saputra, Drs. MM.
Rektor Universitas 17 Agustus 1945 Cirebon
Mengubah Nasib Melalui Pendidikan
Semangat untuk maju membuat manusia mampu menghadapi hambatan yang dihadapi. Setiap rintangan dan halangan yang menghadang jalan menuju cita-citanya akan diterjang. Setidaknya, solusi terbaik atas segala permasalahan yang dihadapi akan selalu diperjuangkan pemecahannya. Semua dilakukan dengan konsisten dan terus menerus dan berdoa kepada Alloh SWT, serta tidak pernah berputus asa sampai tercapainya keinginan.
Begitulah gambaran sekilas mengenai liku-liku perjalanan hidup Prof. DR. H. A. Djalil Idris Saputra, Drs. MM., Rektor Universitas 17 Agustus 1945 Cirebon. Profil pendidik kelahiran desa terpencil di pegunungan Tasikmalaya Selatan tanggal 6 Desember 1947 ini, terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Ayahnya adalah seorang guru Sekolah Dasar, sementara sang ibu seorang ibu rumah tangga biasa. Anak kedua dari sepuluh bersaudara ini, sudah harus memperjuangkan segala sesuatunya semenjak kecil.
“Bisa dibayangkan begaimana sulitnya seorang ayah membesarkan sepuluh anak dengan gaji guru yang pas-pasan. Meskipun demikian, almarhum ayahnya menerapkan disiplin tinggi dan memicu anak-anaknya untuk bersemangat menuntut ilmu, baik ilmu umum maupun agama. Setelah pulang sekolah umum, sore harinya saya mengaji di madrasah. Saya menyelesaikan pendidikan sekolah dasar pada tahun 1961. Sejak itu, terbersit keinginan untuk mengubah nasib dan bercita-cita membantu kehidupan orang tua dan saudara-saudaranya”, katanya mengawali kisah.
Jalur pendidikan, lanjut Prof Djalil, saat itu merupakan satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Ia siap menempuh segala resiko terkait cita-citanya tersebut, salah satunya adalah berpisah dengan kedua orang tua dan sanak famili. Karena untuk melanjutkan pendidikan, pilihan satu-satunya adalah pergi ke kota kabupaten. Maklum, secara geografis desa tempatnya tinggal terletak  sejauh 12 kilometer dari kecamatan yang harus ditempuh dengan berjalan kaki.
“Meskipun sudah ada jalan, tetapi tidak beraspal. Sesekali memang ada truk pengangkut hasil bumi dan mobil pejabat yang lewat. Saya berkhayal, suatu saat saya ingin mempunyai mobil seperti mereka. Dan dengan semangat mengejar mimpi, saya melanjutkan sekolah di SMEP Negeri di kota kabupaten. Saya tinggal di asrama/pesantren karena tidak bayar alias gratis”, ujarnya.
Saat sekolah di SMEP Negeri, prestasi Prof. Djalil terlihat sangat menonjol. Ia selalu menjadi juara umum sehingga tidak pernah membayar uang sekolah. Bahkan, salah satu toko buku terbesar di Tasikmalaya, Sutraco, memberi buku-buku pelajaran selama ia belajar, sebagai hadiah atas prestasinya. Setelah lulus SMEP pada tahun 1964, ia melanjutkan sekolah ke SMEA Negeri Tasikmalaya dengan harapan bisa secepatnya bekerja.
Masih dengan prestasi yang membanggakan, Prof. Djalil lulus dari SMEA Negeri Tasikmalaya pada tahun 1967. Melihat potensi besar yang tersimpan pada anak didiknya, guru-guru SMEA Negeri menganjurkan salah satu lulusan terbaiknya ini untuk melanjutkan kuliah dan menunda keinginan untuk mencari nafkah. Berbekal semangat dan doa dari kedua orang tua, ia berangkat ke bandung untuk melanjutkan kuliah dan diterima di AAN Negeri Bandung.
“Selama di Bandung saya menumpang hidup dirumah saudara yang mempunyai sebuah pabrik textil di kota Cirebon yang bernama PT. Fintexco. Alhamdulillah, beliau menerima kehadiran saya di rumahnya dengan baik. Setelah lulus AAN Negeri pada tahun 1974 dengan predikat memuaskan, saya malah langsung ditempatkan di pabriknya dengan jabatan Manager keuangan”, ungkapnya penuh syukur.
Meskipun sudah memiliki pekerjaan mapan, Prof. Djalil tidak pernah berhenti mewujudkan cita-citanya. Mengejar ilmu dan melanjutkan kuliah adalah keyakinan yang terus dipupuk agar tercapainya segala keinginan dan cita-cita. Apalagi, dalam pemikirannya, sebagai anak muda yang dinamis, bekerja di pabrik sebagai karyawan akan membosankan terkait dinamika pekerjaan. Oleh karena itu, ia kemudian mendaftarkan diri untuk mengikuti program S1 di Untag 1945 Jakarta.
“Setelah lulus dengan predikat cum laude pada tahun 1976, saya ditawari mengajar di Untag Cirebon oleh Prof. Dr. Prajudi Atmosudirjo, rektor saat itu. Saya mau, tetapi saat itu saya masih menjabat Direktur di PT. Fintexco. Saya takut terjadi conflict of interest terkait posisi saya itu, tetapi beliau menjamin asalkan setiap sore mengajar tidak akan terjadi apa-apa. Jadilah saya dosen di Untag Cirebon ini.
Pada tahun 1979 saya sempat mendirikan PT. Sari Angin Cirebon, sebuah perusahaan oxygen yang ide dan gagasan pendiriannya terinspirasi dari hasil penelitian skripsi saya di PN ZATAS, ketika saya menyelesaikan tugas akhir di AAN Negeri Bandung”. ungkapnya.
Membangun Untag Cirebon
Prof. DR. H. A. Djalil Idris Saputra, Drs. MM. kemudian memulai tugasnya sebagai Dosen Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Cirebon. Perguruan tinggi swasta yang saat itu masih belum memiliki kampus sehingga terpaksa menumpang di gedung SMP Negeri 2 di Jl. Siliwangi, Cirebon. Sebagai Dosen muda, dengan semangat tinggi untuk memajukan Universitas, ia mengupayakan agar perguruan tinggi tempatnya mengabdi memiliki kampus sendiri.
“Dalam pikiran saya, sebuah perguruan tinggi idealnya kan mempunyai kampus sendiri. Akhirnya kami mendapat bantuan dari pemerintah berupa satu lokal gedung meskipun  sulit dijangkau karena lokasinya jauh dari pusat kota dan tidak dilewati angkutan kota. Akibatnya, ketika kampus ingin dipindahkan, mahasiswa angkatan tua banyak yang protes dan tidak mau dipindahkan”, ujarnya.
Akhirnya gedung bantuan pemerintah tersebut digunakan untuk kepentingan administrasi sambil menunggu saat yang tepat untuk memindahkan kegiatan belajar mengajar. Disisi lain, karier Prof. Djalil semakin terbuka di jalur pendidikan. Tahun 1979, pemerintah membuka penawaran Dosen Kopertis dengan persyaratan harus bersedia ditempatkan di seluruh Indonesia. Ia mengikuti prosedur penerimaan dosen tersebut hingga berakhirnya proses seleksi.
Atas kehendak Alloh, pada tahun 1981 Prof. Djalil ditempatkan sebagai Dosen Kopertis Wil. IV Jabar di Untag Cirebon. Ia mengajukan permohonan kepada pihak Kopertis agar penempatannya di Untag Cirebon.
“Saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas pengangkatan saya sebagai PNS. Karena ini merupakan ungkapan rasa terima kasih kepada orang tua, guru-guru dan saudara saya Bpk. H.D Ma’mun & Kel. yang membantu dimasa-masa sulit dahulu. Saya ingin mendarmabaktikan ilmu dan pengetahuan saya kepada seluruh masyarakat melalui jalur pendidikan. Saya senantiasa ingin membantu dan mempunyai rasa empati yang sangat dalam kepada setiap anak didik dan kepada orang-orang disekitar saya, manakala ia mendapat hambatan dan kesulitan dalam meraih cita-cita. Saya sangat puas dan bersyukur dengan profesi sebagai pendidik, boleh jadi gen pendidik dari almarhum ayah saya mengalir deras dalam diri saya”. Katanya.
Tahun 1981, Prof. Djalil menjabat sebagai ketua Jurusan Administrasi (FISIP) Untag Cirebon. Rencananya untuk memindahkan mahasiswa ke gedung baru mulai direalisasikan. Setelah lengkap dengan segala fasilitasnya, mahasiswa baru langsung ditempatkan di gedung baru. Begitu seterusnya, sehingga pada tahun 1987, seluruh mahasiswa Untag menempati gedung di lokasi sekarang ini.
Saat menjabat sebagai Dekan Fisip Untag, Prof. Djalil memiliki akses ke seluruh Untag yang ada di Indonesia. Dari situ, ia melihat keunggulan dan kelemahan di setiap perguruan tinggi Untag yang sudah menunjukkan eksistensinya. Salah satu kelemahan mendasar dari Untag Cirebon adalah tidak adanya leader yang benar-benar bekerja dan mengabdi dengan sungguh-sungguh.
“kebetulan, tahun 1990-an saat rapat di Jakarta, saya sempat berbincang dengan mantan Gubernur DKI, Bpk Cokropranolo yang saat itu menjabat sebagai wakil ketua yayasan Untag Jakarta. Kami terlibat perbincangan untuk memajukan pendidikan di Cirebon dan beliau menyarankan saya mencari orang-orang Cirebon yang sukses di Jakarta untuk membantu. Saat itu juga, saya membuat surat permohonan bantuan seperti beliau sarankan”’ kisahnya.
Prof. Djalil kemudian “berburu” para pengusaha, profesional dan pejabat asli Cirebon untuk mengharapkan bantuannya. Maka dengan izin Alloh SWT, saya dan Bpk. Drs. H. Andi Kusma (sekertaris yayasan Untag Cirebon) dipertemukan dengan Bpk. H. Ir. Iman Taufik Pengusaha Nasional yang asli kelahiran Cirebon (sekarang Ketua Pembina Untag 1945 Cirebon). Meskipun sebelumnya tidak kenal sama sekali, namun respon beliau terhadap ide tersebut cukup tinggi. Setelah membaca proposal, beliau sangat antusias dan cepat tanggap dengan memberikan bantuan pendidikan ke kampung halamannya. Perlahan namun  pasti, akhirnya gedung dan perlengkapan yang canggih sehingga kampus Untag semakin lengkap dan modern.
Selanjutnya beliau menyarankan untuk mencari Rektor Untag yang sudah guru besar, atas bantuan Prof. DR. Maman P Rukmana (ketika itu beliau menjabat sebagai Rektor Unpad Bandung) dan meminta Prof. DR. Yuyu Wahyu dari IPB agar mau menjadi Rektor Untag Cirebon menggantikan Rektor Untag sebelumnya. Syukur alhamdulillah beliau bersedia menjadi Rektor Untag Cirebon periode tahun 1992 sampai dengan tahun 2000.
Selepas Prof. DR Maman P Rukmana habis masa jabatan Rektor di Unpad Bandung, beliau langsung menggantikan Prof. DR. Wahyu menjadi Rektor Untag Selanjutnya.
Tahun 2006, secara kepangkatan Prof. Djalil sudah bisa mengajukan diri sebagai Guru Besar. Apalagi secara persyaratan S3, satu publikasi di jurnal Internasional dan dua publikasi di jurnal Nasional pun sudah tercapai, sehingga tahun 2007 SK Mendiknas sebagai Guru Besar sudah keluar. April 2008 akhirnya ia dikukuhkan sebagai Guru Besar di bidang Administrasi Negara melalui SK Mendiknas. Prof. Djalil juga sangat peduli terhadap kesejahteraan masyarakat di kota Cirebon, semua ini terimplementasikan dalam disertasi Doktornya yang berjudul “Pengaruh Implementasi Kebijakan Desetralisasi, Revitalisasi Ritel Pasar Tradisional, Pengaturan Ritel Pasar Modern terhadap Kesejahteraan Pedagang Kecil Di Kota Cirebon Provinsi Jawa Barat.
Pada bulan Maret 2008, Prof. DR. Maman P Rukmana yang menggantikan Prof. DR. Wahyu sebagai Rektor meninggal dunia. Saat itu, senioritas dan kapasitasnya membuat Prof. Djalil diangkat sebagai Pjs Rektor Untag Cirebon. Di lingkungan Untag akhirnya terjadi polemik untuk menentukan pengganti Rektor, apakah harus mencari guru besar dari luar atau guru besar dari Untag yang sudah tahu kondisinya dengan baik.
“Sebenarnya saya tidak berambisi menjadi Rektor. Tetapi saya memberikan pilihan dan kalaupun tidak terpilih tidak apa-apa, semua demi kemajuan Untag Cirebon. Akhirnya secara aklamasi saya terpilih menjadi Rektor, dan dilantik pada tanggal 1 April 2008, dan kebetulan hari itu juga sebenarnya SK Guru Besar saya sudah turun, hanya saja belum ada di tangan. Meskipun baru saya terima tiga bulan kemudian”, ungkapnya.
Dalam kepemimpinan Prof. DR. Djalil, Untag Cirebon mengalami beberapa perubahan. Setidaknya, rektor-rektor sebelumnya tidak pernah bekerja penuh di Untag karena menetap di Bandung atau Bogor, sementara dirinya bekerja penuh di Cirebon. Beberapa pengembangan seperti kesejahteraan karyawan dan dosen pun dilakukannya. Begitu juga dialog antara Universitas dengan mahasiswa sehingga menjamin berlangsungnya kegiatan akademik di kampus.
Dengan berpegang pada Visi, Misi dan tujuan Universitas 17 Agustus 1945 Cirebon, Prof. DR. Djalil mengelola Universitas 17 Agustus 1945 yang memiliki 5 Fakultas dan 10 Program Studi (Prodi) yaitu :
1.    Fakutas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
a.    Program Studi : Administrasi Negara (S1)
b.    Program Studi : Administrasi Niaga (S1)
2.    Fakultas Hukum
Program studi : Ilmu Hukum (S1)
3.    Fakultas teknik
a.    Program Studi    : Teknik Elektro (S1)
Konsentrasi :
–    Teknik Energi Listrik
–    Teknik Telekomunikasi
b.    Program Studi    :Teknik Mesin
Konsentrasi :
–    Teknik Konversi Energi
–    Teknik Industri
4.    Fakultas Ekonomi
a.    Program Studi    :Manajemen (S1)
Konsentrasi    :
–    Manajemen Keuangan
–    Manajemen Pemasaran
–    Manajemen Perpajakan
b.    Program Studi    : Akuntansi (D3)
c.    Program Studi: Manajemen   Perhotelan (D3)
5.    Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
a.    Program Studi: Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (S1)
Konsentrasi     :
–    Teknologi Penangkapan Ikan
–    Penyuluh Tani dan Nelayan
Adapun visi, misi dan tujuan Untag Cirebon adalah sebagai berikut :
Visi Untag Cirebon :
·    Terwujudnya  lembaga pendidikan tinggi yang modern, berbasis penelitian, profesional, bermutu dan siap bersaing baik tingkat regional, nasional maupun internasional.

Misi Untag Cirebon :
·    Menyelenggarakan pendidikan tinggi modern yang berbasis penelitian.
·    Mengembangkan kelembagaan manajemen modern yang berorientasi mutu, profesionalisme dan keterbukaan serta mampu bersaing di tingkat Regional, Nasional maupun Internasional.
·    Menggerakan pembangunan pedesaan dengan berasaskan pada pengelolaan dan pemenfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan untuk kesejahteraan bangsa indonesia dan umat manusia.

Tujuan UNTAG Cirebon :
o    Mengembangkan program pendidikan yang menghasilkan lulusan yang siap pakai, profesional, mandiri, mampu menciptakan lapangan kerja sendiri dan berakhlak terpuji.
o    Membentuk kampus sebagai pusat ilmu berwawasan lingkungan yang berperan sebagai mitra pembangunan di wilayahnya.
o    Mengembangkan dan membina kehidupan masyarakat akademik melalui sistem manajemen pendidikan tinggi yang profesional.
Prof. Djalil memiliki perhatian yang besar terhadap mahasiswanya, “Sebagai rektor, saya siap berdiskusi, dialog dan bahkan dikritik sekalipun. Karena yang kita hadapi ini adalah jiwa muda yang dinamis dengan pola pikir yang sangat idealis. Tetapi dengan pendekatan persuasif dan demokratis, saya menegaskan bahwa untuk kondisi dalam kampus tidak perlu dengan demo, cukup dialog. Sedangkan mengenai kondisi sosial politik di masyarakat saya persilahkan untuk berdemo  asalkan dengan cara-cara yang santun dan bertanggungjawab”. Katanya bijak.
Prof. Djalil sangat ingin memiliki mahasiswa yang ketika lulus dari Untag langsung bisa beradaptasi dengan lingkungan, baik di tempat kerja maupun di dalam masyarakat. Ada salah satu prodi yaitu Manajemen Perhotelan di bawah Fakultas Ekonomi yang melaksanakan Job Training nya di luar negeri selama enam bulan, sehingga ketika pulang ke tanah air mahasiswa sudah mahir berbahasa asing dan siap bekerja. Akan tetapi ia juga berharap agar mahasiswa setelah lulus mampu hidup mandiri serta menciptakan lapangan pekerjaan membangun negeri sendiri sehingga berguna bagi masyarakat sekitarnya. Dan lulusan Untag tersebar dibeberapa lembaga/instansi baik di pemerintahan maupun swasta, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Khususnya di sekitar Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, majalengka dan kuningan).
Untuk membina hubungan baik dengan mahasiswa, dosen dan karyawan Untag, Prof. Djalil mengadakan apel sebulan sekali. Apel diikuti oleh seluruh civitas akademika Untag Cirebon dengan tujuan agar program-program yang diinginkannya berjalan dengan baik sesuai Program yang direncakanan.

Pendidikan Indonesia Ketinggalan
Menurut Prof. DR. H. A. Djalil Idris Saputra, Drs. MM., secara umum sumber daya manusia Indonesia sebenarnya sangat bagus. Bahkan apabila dibandingkan dengan negara maju sekalipun, SDM Indonesia tidak kalah kualitas. Terbukti dari berbagai olimpiade pengetahuan yang diselenggarakan secara internasional, kontingen Indonesia selalu kembali dengan medali.
“Orang Indonesia banyak yang pintar dan menjadi dosen di perguruan tinggi luar negeri. Mereka di sini kurang mendapat penghargaan terhadap tingkat keilmuan mereka, baik secara materi maupun fasilitas serta untuk mengadakan penelitian tersedia dana yang melimpah di luar negeri. Tidak heran, kalau mereka mengabdikan ilmu dan kecerdasannya bagi bangsa lain”, katanya.
Di sisi lain, Prof. Djalil juga mengungkapkan kegalauan hatinya terhadap dunia pendidikan Indonesia. Ia mengingatkan bagaimana di masa lalu, pendidikan Indonesia sangat terkenal karena berkualitas. Malaysia adalah salah satu negara yang mengirimkan ribuan mahasiswa dan pelajarnya untuk menuntut ilmu di Indonesia. Persamaan budaya, bahasa, dan kualitas pendidikan yang tinggi adalah salah satu alasan pemerintah Malaysia mengirim generasi mudanya belajar di negara kita ini.
Pemerintah Malaysia juga tidak segan mengundang para dosen dan guru dari Indonesia untuk menularkan ilmunya di Perguruan Tinggi dan sekolah-sekolah di negaranya. Namun, siapa sangka kalau 30 tahun kemudian kondisi berbalik 180 derajat. Malaysia jauh melangkah dalam pendidikan berkualitas international dengan basis pendidikan Indonesia. Pola-pola pendidikan hasil kreasi pendidik asal Indonesia mengalami modifikasi dan metamorfosis sesuai kebutuhan bangsa Malaysia.
“Sekarang pendidikan kita ketinggalan jauh dari Malaysia. Luar biasa mereka itu. Artinya ada sesuatu yang salah  dengan kita, karena sejak dahulu pendidikan Indonesia sudah terkenal bagus. Oleh karena itu, Indonesia harus menata kembali dan mengubah mindset orang Indonesia di hati mereka. Mungkin ESQ harus dipakai untuk mengubah hati dan akhlaknya. Karena secara umum kualitas manusia Indonesia bisa bersaing. Yang menjadi masalah adalah perubahan akhlak”, tegasnya.
Ayah empat orang anak ini mengungkapkan bahwa yang diperlukan Indonesia sekarang ini adalah seorang pemimpin yang mampu memberikan keteladanan. Pemimpin tersebut harus menanggalkan seluruh kepentingan pribadi, golongan, partai, kesukuan dan kekeluargaan demi memajukan dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Tidak ada alasan untuk kegagalan tercapainya kemajuan dan kesejahteraan bangsa dengan sumber daya alam yang melimpah tersebut.
“Itu yang kita cari, karena reformasi yang kita jalankan memang kebablasan. Sekarang ini, antara eksekutif dan legislatif masing-masing memiliki peran dalam menentukan perjalanan bangsa. Dan yang terjadi adalah saling  intervensi satu sama lain sehingga tujuan yang ingin dicapai malah justru tidak efektif dijalankan. Kalau bisa dibereskan, kesejahteraan tinggal tunggu waktu saja”. Tegasnya.
Untuk mengubah semua itu, jelasnya, peran generasi muda sangat besar. Prof. Djalil berharap agar dalam era globalisasi sekarang ini generasi muda Indonesia menjadi lebih baik lagi. Apalagi dengan kemajuan teknologi informasi (IT) yang sangat canggih membuat akses informasi mudah diperoleh dimana-mana. Artinya, sekarang ini sekat antar bangsa semakin tipis sehingga generasi muda siap tidak siap harus berhadapan dengan generasi muda bangsa lain.
“Dengan internet dan teknologi lainnya yang semakin canggih, seharusnya generasi muda mendatang mampu bersaing di dunia Internasional. Karena sebetulnya manusia itu sama pintarnya kok, orang luar negeri atau bangsa sendiri. Kalau zaman saya memang susah, tetapi sekarang ini sudah mudah semua. Sarana, peralatan dan lain-lain dalam menunjang kemajuan”, ungkapnya.
Prof. Djalil mengakui, peran keluarga sangat besar dalam menunjang karier panjangnya di dunia pendidikan. Oleh karena itu, ia sangat berterima kasih kepada istri dan anak-anaknya. Terutama kepada istri tercinta, Hj. Yuyun Sartika yang dinikahinya pada tahun 1975, yang selalu mendampinginya dalam suka dan duka. Kepada istrinya, Prof. Djalil menghadiahkan sebuah perusahaan jasa out sourcing yang bekerjasama dengan beberapa perusahaan nasional bernama PT. RAFI FAMILI. Di samping itu Prof. Djalil adalah pendiri dan pengurus beberapa Lembaga pendidikan, salah satu diantaranya adalah Lembaga Pendidikan Al-Azhar 3 Cirebon.
Kakek lima orang cucu ini, dalam nasehat-nasehatnya kepada anak dan cucunya selalu menekankan pentingnya menuntut ilmu. Ia juga menganjurkan kepada mereka untuk mempersiapkan diri membangun kemandirian sejak dini. Dengan begitu, mereka tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri dan keluarga tetapi juga bagi orang lain, bangsa dan negara.
“saya memotivasi anak-anak dengan selalu menekankan untuk senantiasa belajar dan belajar, mencari ilmu dan menumbuhkan kemandirian. Bahkan, kalau mampu anak-anak saya bisa berprestasi melebihi bapaknya dengan segala fasillitas kehidupan sekarang yang lebih mudah dan akses meraih prestasi lebih terbuka. Asal betul-betul dijalani dengan tekun dan semangat tinggi pasti akan tercapai”, Kata Prof. DR. H. A. Djalil Idris Saputra, Drs. MM. menutup pembicaraan.

Drs. Dadang Hermawan, Ak., MM

No Comments

Drs. Dadang Hermawan, Ak., MM
Ketua STIKOM Bali

Hidup Harus Bermanfaat Bagi Keluarga dan Orang Lain

Darah pendidik mengalir deras dalam diri, Drs. Dadang Hermawan, Ak., MM. Kedua orang tua pria yang biasa dipanggil Dadang ini adalah pendidik sejati yang mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan bangsa. Meskipun secara materi tidak berlimpah, tetapi masyarakat sangat menghormati dan menghargai profesi keduanya.

Panggilan hati untuk menjadi pendidik seperti kedua orang tua, membuat kiprah Dadang tidak jauh dari dunia pendidikan. Memasuki tahun kedua perkuliahannya di Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Padjadjaran, Bandung, ia bekerja sebagai guru di beberapa SMA di Kabupaten Bandung. Selain itu, ia juga menjadi instruktur di beberapa lembaga kursus/bimbingan belajar serta asisten dosen untuk beberapa penelitian.

“Bahkan sejak tingkat tiga, dalam usia 21 tahun saya menjadi wakil kepala sekolah di sebuah SMA di Kabupaten Bandung. Semua itu, terinspirasi dari kedua orang tua yang menjadi guru, meskipun sampai saat ini secara materi tidak punya apa-apa. Kecuali harta warisan dari kakek, nenek dan buyut saya yang merupakan orang terpandang di tingkat kecamatan pada zamannya,” kata Ketua STIKOM Bali ini.

Dadang sendiri tidak secara langsung mengambil jurusan kependidikan saat kuliah. Ia lebih memilih akuntansi yang hingga sekarang menjadi jurusan favorit. Tidak heran, setelah menyelesaikan kuliah pada 1986, dua tahun kemudian ia meninggakan dunia pendidikan. Tuntutan ekonomi keluarga, membuat ia beralih haluan sebagai PNS dan menjadi auditor di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Pria kelahiran Bandung, hari Sabtu, tanggal 10 Agustus 1963 ini ditempatkan di perwakilan Bali.

Namun jiwa pendidik yang diwarisi dari kedua orang tuanya, membuat Dadang terpanggil. Setelah delapan tahun mengabdi, ia mengundurkan diri dari BPKP untuk kembali menekuni dunia pendidikan. Ia menjadi pimpinan sebuah lembaga pendidikan terkenal di Pulau Dewata tersebut. Sejak itu, ia terjun total di dunia pendidikan melalui berbagai lembaga pendidikan yang didirikannya.

“Tahun 2002, bersama beberapa kolega saya mendirikan sebuah perguruan tinggi di Denpasar dengan nama STMIK STIKOM Bali atau yang lebih populer dengan nama STIKOM Bali. Sekarang ini, STIKOM Bali merupakan kiblat sekolah ICT di Bali dengan jumlah mahasiswa sekitar 5.000 orang,” tegasnya.

Selain STIKOM Bali, ia juga mengasuh dan mendirikan tiga SMK, lima lembaga pendidikan keterampilan dan tiga perguruan tinggi yang tersebar di Bali, Jawa dan Sumatera. “Banyak suka duka dalam menekuni profesi ini. Sukanya jika ada alumni yang sukses tetapi tetap tidak lupa kepada almamaternya. Dukanya jika ada mahasiswa yang tidak tamat kuliah sesuai dengan waktu yang telah ditentukan,” imbuhnya.

Semua yang dilakukan Dadang, tidak terlepas dari motivasi kuat dalam dirinya. Selain mewarisi jiwa pendidik, keinginan untuk mengabdikan hidup bagi orang banyak juga melandasi tindakannya. Seiring perjalanan waktu, pilihan hidup sebagai pendidik jauh lebih kuat menarik dirinya daripada cita-cita masa kecil sebagai dokter.

Ia juga mengabaikan penghargaan masyarakat terhadap profesi pendidik yang semakin berkurang. Berbeda dengan masa ayah dan ibunya, pendidik mendapat penghargaan tinggi dari masyarakat karena profesinya. Walaupun profesi tidak memberikan materi berlebihan, tetapi jerih payah seorang guru “terbayar” berkat penghargaan dari masyarakat di sekitarnya.

“Motivasi saya dalam menekuni bidang pendidikan adalah bahwa hidup harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk keluarga dan orang lain. Dengan bergerak di bidang pendidikan, secara langsung maupun tidak langsung saya telah memberikan manfaat kepada seluruh anak didik. Baik berupa pemberian ilmu yang akan menjadi bekal mereka di masa mendatang. Saya akan merasa bahagia kalau mendengar anak didik kita berhasil bekerja baik di sektor swasta maupun pemerintah. Begitu juga ketika mereka berwiraswasta,” ungkapnya.

Awalnya Istri Tidak Mendukung

Drs. Dadang Hermawan, Ak., MM, menghabiskan masa kecilnya di kota Kembang. Semasa SMA hingga kuliah S1, berbagai macam aktivitas digeluti. Mulai menjadi pengurus Remaja Masjid, pengurus olahraga, kesenian, kepemudaan, Pramuka, kemahasiswaan dan berbagai organisasi lainnya. Pengalamannya tersebut, sangat berguna ketika harus membagi konsentrasi dalam mengurus belasan lembaga pendidikan yang dimilikinya.

Sebagai pemilik lembaga pendidikan, Dadang sendiri tentu saja tidak melupakan pendidikan bagi dirinya sendiri. Setelah S1, pada tahun 2002 ia berhasil menyelesaikan S2 di Universitas Udayana Denpasar dan saat ini sedang mengikuti proses penerimaan pada program S3 Universitas Brawijaya Malang. Semua dilakukan dalam rangka perbaikan diri dan lembaga pendidikan yang diasuhnya. “Saya ingin terus melakukan perbaikan dalam segala hal. Baik pribadi maupun yang berkaitan dengan lembaga yang saya asuh,” tandasnya.

Sebenarnya, kisah Dadang, saat beralih dari PNS di BPKP dan sepenuhnya mengabdi ke dunia pendidikan bukan tanpa tentangan. Dengan karier dan posisi yang saat itu sudah cukup “lumayan”, masa depan keluarga terjamin. Orang pertama yang menentang keras keputusan tersebut berasal dari istri Dadang sendiri. Perbedaan pandangan membuat sang istri merasa “sayang” atas karier panjang suaminya di pemerintahan.

“Istri kurang mendukung saya berpindah lagi ke sektor pendidikan. Biasa, namanya juga perempuan inginnya tetap di zona aman sebagai PNS. Tetapi setelah ikut berkecimpung, seluruh keluarga sangat mendukung dan memahami tentang profesi yang saya jalani sekarang,” kata ayah empat anak ini.

Seperti juga orang tua yang lain, Dadang membesarkan dan memotivasi anak-anaknya dengan memberikan pengertian dan kesadaran tentang arti hidup dan kehidupan.  Bahwa keberhasilan dan kegagalan dalam hidup adalah hal biasa yang dialami setiap manusia di muka bumi ini. Keempat anaknya di bebaskan untuk menentukan pilihan pendidikan masing-masing tanpa paksaan untuk memilih jurusan sesuai keinginan kedua orang tuanya.

“Semua terserah mereka. Dari empat anak kami, tiga orang anak sudah tamat SMA. Bahkan anak yang paling besar telah menamatkan S1-nya di Unair Surabaya dan telah bekerja di salah satu bank milik pemerintah. Kecuali yang bungsu, tiga anak tersebut tidak ada yang mengikuti jejak bapaknya. Tapi si bungsu pun nggak tahu juga akan ke mana, pilihan ada di tangannya,” tuturnya.

Dadang menyadari, anak-anaknya sebagai generasi muda sekarang memiliki eranya sendiri. Seperti juga anaknya, dalam pengamatannya dengan mata pendidik, generasi muda sekarang sangat cerdas dan rasional. Hanya, ada sedikit kekurangan pada generasi sekarang yang secara umum kurang memiliki karakter atau ciri khas sebagai orang timur. “Tetapi tidak semua begitu. Tugas pendidiklah bagaimana menjadikan mereka pintar tapi tetap santun, canggih tapi tidak sombong dan brillian tapi tetap jujur. Saya berpendapat bahwa kita harus optimis bahwa mereka bisa melanjukan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini,” tegasnya.

Heran Pendidikan Tidak Gratis

Menurut Drs. Dadang Hermawan, Ak., MM perkembangan pendidikan di Indonesia jauh lebih maju. Setidaknya apabila dibandingkan dengan dunia pendidikan Indonesia 20 tahun belakangan ini. Namun demikian, harus diakui bahwa pendidikan di negeri ini masih jauh tertinggal dengan negara-negara tetangga. Apalagi jika dibandingkan dengan kondisi pendidikan di negara-negara Eropa, Indonesia termasuk negara “tertinggal” serta terbelakang.

Banyak faktor memengaruhi kondisi tersebut. Antara lain adalah faktor besarnya jumlah penduduk dan tersebar pada wilayah yang sangat luas. Apalagi kekurangan aparatur yang menangani masalah pendidikan belum benar-benar ikhlas untuk memajukan bangsa ini. Wacana yang dikembangkan hanya baik pada permukaan tetapi jauh dari kondisi ideal dalam pelaksanaan.

“Sering kita dengar bagaimana sulitnya izin penyelenggaraan pendidikan dari tingkat TK sampai PT dikeluarkan pejabat berwenang kalau tanpa “pelicin”. Begitu juga dengan masih banyaknya kebocoran anggaran pendidikan dan lain-lain. Ini memerlukan pengkajian dan penelaahan yang menyeluruh dari semua pemangku kepentingan pendidikan. Terutama para pejabat yang berkepentingan di bidang pendidikan untuk selalu bersih dan ikhlas dalam memajukan bidang pendidikan di negara kita,” tuturnya.

Dengan alokasi anggaran untuk pendidikan sebesar 20 persen dari APBN, Dadang keheranan melihat masih banyak masyarakat yang tidak mampu mengenyam pendidikan dasar dan menengah. Padahal dengan dana sebesar itu, seharusnya tidak hanya kesejahteraan guru saja yang dipenuhi, tetapi juga pendidikan murah dan bermutu bagi seluruh lapisan masyarakat. Namun, pada kenyataannya semua itu jauh dari kenyataan sebenarnya. Masih banyak rakyat yang memiliki potensi untuk berkembang bahkan tidak mampu mengakses pendidikan dasar sekalipun.

“Saya kadang heran, dalam dua tahun terakhir ini anggaran pendidikan hampir di semua tingkatan pemerintahan baik itu pusat, propinsi maupun kabupaten/kota telah secara umum mengalokasikan 20 % atau lebih untuk sektor pendidikan. Belum lagi dari berbagai perusahaan dengan dana CSR-nya. Anggaran tersebut kalau dijumlah mencapai ratusan triliun rupiah, kok masih tidak cukup untuk menggratiskan sekolah dari tingkat SD sampai SMA. Ini ada yang salah dalam pelaksanaan anggaran kita dan perlu kajian lebih lanjut,” katanya sembari mencontohkan sebuah kabupaten di Bali yang telah mampu menggratiskan pendidikan SD sampai SMA bagi rakyatnya. “Padahal jika dilihat dari PAD-nya sangat kecil, ini yang perlu dicontoh oleh daerah-daerah lainnya,” tambahnya.

Semua akan berbeda dalam penyelenggaraan lembaga pendidikan swasta (dari TK sampai dengan PT). Lembaga pendidikan swasta yang membiayai sendiri seluruh kegiatannya sehingga harus berorientasi bisnis. Artinya pendapatan dari berbagai sumber baik dari warga belajar maupun lainnya harus selalu surplus dibandingkan dengan pengeluarannya.

“Bagaimana lembaga tersebut bisa berkembang jika pendapatannya selalu minus? Mau terus-terusan minta bantuan? Yang membantu pun ada batasnya apakah itu pengurus yayasan, dermawan maupun pemerintah. Jadi menurut saya para pengelola pendidikan ini harus mampu berpikir dan menciptakan berbagai sumber pendapatan untuk kemajuan lembaga yang dikelolanya. Tapi setelah surplus, dana tersebut  bukan untuk dibagikan kepada para pendirinya tapi dipakai untuk peningkatan sarana dan prasarananya,” ungkap Anggota Pengurus APTISI VIII-A Bali, sejak 2009  ini.

Selain itu, lanjut Dadang, pada tingkat pendidik harus sadar bahwa mereka bukan sekadar pengajar. Karena seorang pendidik bukan hanya memberikan materi pelajaran di kelas tetapi setelah itu acuh tak acuh. Pendidik juga harus memperhatikan bagaimana orang-orang yang diajar mengerti apa tidak, paham atau tidak dan seterusnya. “Seorang pendidik harus memberi tauladan yang baik. Antara tindakan dan perbuatannya harus sesuai. Dan yang lebih penting lagi, seorang pendidik harus benar-benar sabar, ikhlas dan tawakal menghadapi anak didiknya yang tidak sesuai dengan keinginan pendidik itu sendiri,” ujarnya.

Biodata Singkat:
N a m a : Drs. Dadang Hermawan, Ak., MM
Tempat dan Tanggal Lahir     : Bandung, 10 Agustus 1963

Riwayat Pendidikan :
1.    Sekolah Dasar Negeri Tahun 1968 – 1974
2.    Sekolah Menengah Pertama Negeri Tahun 1975 – 1977
3.    Sekolah Menengah Atas Negeri Tahun 1978 – 1981
4.    Perguruan Tinggi :
– S1 : Fak. Ekonomi Jur. Akuntansi Universitas Padjadjaran, 1986
– S2 : MM Universitas Udayana, 2002
– S3 : Sedang Proses Penerimaan di Universitas Brawijaya
5. Pendidikan Tambahan :
1.    Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa, 1984
2.    Melbourne Language Centre, Australia, 1996
3.    Berbagai seminar, lokakarya, workshop, baik sebagai pembicara, moderator maupun peserta di dalam maupun luar negeri

Karen Agustiawan

No Comments

The Backbone of Indonesia

Sejak pertama kali bertemu dengan Karen Agustiawan beberapa bulan lalu–waktu itu ia masih menjabat sebagai Direktur Hulu PT. Pertamina–seperti ada energi besar yang melingkupi perempuan alumni ITB angkatan 1978 ini.  Waktu itu, saya mewawancarainya untuk kepentingan penulisan buku alumni ITB78.

Dan, ketika akhirnya, nama Karen Agustiawan diumumkan menjadi Direktur Umum Pertamina, saya tidak kaget. Ia memang pantas menerima jabatan itu. Siapa Karen Agustiawan? Berikut ini sekelumit catatan saya, tentang profil sarjana Teknik Fisika ini:

Pada usia ke lima puluh tahun, Direktorat Hulu PT Pertamina (Persero) mencetak sejarah karena dipimpin seorang perempuan. Ia adalah Karen Agustiawan, alumni ITB78 jurusan Teknik Fisika. Apa keistimewaan Karen sehingga ia memperoleh kepercayaan yang begitu prestisius? Posisi ini pula kemudian yang menjembataninya untuk duduk sebagai Dirut Pertamina. Perempuan pertama yang menduduki jabatan sebagai Dirut Pertamina.

Kalangan perminyakan berpendapat bahwa “the backbone of Pertamina” adalah Direktorat Hulu. Padahal, “the backbone of Indonesia” adalah Pertamina. Nah, bayangkan betapa vital direktorat yang sekarang berfungsi sebagai sub-holding dan membawahi seluruh portofolio usaha Pertamina di sektor hulu dengan enam anak perusahaan ini. Dan, tentu saja, betapa prestisius serta strategisnya sebuah jabatan Direktur Hulu di Pertamina. Sebagai “negeri minyak”, Indonesia jelas masih sangat mengandalkan devisa dari sektor yang satu ini. Dari data statistik dapat kita baca bahwa 70% pendapatan Pertamina disumbang oleh Direktorat Hulu.

Karen Agustiawan, anak bungsu dari seorang Guru Besar Universitas Padjajaran bernama Prof. Dr. Soemiatno, tidak pernah menyangka bahwa ia akan mengemban kepercayaan begitu besar memimpin Direktorat Hulu Pertamina. Bahkan, kini sebagai Dirut Pertamina.

Karen adalah orang luar Pertamina. Ia lama berkarir di Halliburton, sebuah perusahaan migas multinasional. Karen menjadi orang dalam Pertamina ketika ia diminta menjadi staf Ahli Dirut Pertamina. Jika kemudian Karen naik menjadi Direktur Hulu –sebelum menjadi Dirut– itu karena nama-nama yang sempat diplot untuk menduduki jabatan Direktur Hulu tak lolos ‘verifikasi’. Alhasil, otomatis Karen ‘naik’ sebagai Direktur Hulu. Memang, Karen pernah dilamar untuk posisi ini. Alasannya, Pertamina butuh penyegaran. Latar belakang Karen yang punya reputasi bagus di beberapa perusahaan perminyakan dunia seperti Mobil Oil dan Halliburton dianggap memadai untuk membawa atmosfer baru di Pertamina. Toh, secara halus, Karen sempat menolak. “Akan lebih efektif jika saya berada di level eksekusi untuk membantu Direktur Hulu,” begitu kata Karen kepada para petinggi Pertamina.

Toh, garis tangan berkata lain. Karena fakta menunjukkan bahwa akhirnya Karen lah yang menduduki kursi itu. “Nothing special, it just happened, karena nama-nama yang dijagokan kurang memenuhi kriteria yang diinginkan,” ungkap ibu tiga orang putra ini, yang mengaku bukan tipe pribadi ambisius dalam meniti karir.

***

Pada awalnya Karen remaja sebenarnya bercita-cita ingin menjadi arsitek. Sama sekali tak terbayang ia akan sukses meniti karir di dunia perminyakan.

Sayangnya, pas menjelang akhir SMA, saya baru sadar tidak mahir menggambar. Padahal, jadi arsitek itu harus piawai menggambar,” ucap “Kartini” yang hobi bermain piano ini. Maka, ketika berhasil lolos masuk ITB, ia pun menjatuhkan pilihan di jurusan Teknik Fisika.

Lulus dari ITB pada 1983, Karen sempat ingin bergabung dengan BPPT karena ketika itu sedang dibuka keran beasiswa. Namun, lantaran sang suami sudah bekerja di BPPT, Karen memilih untuk berkarir di dunia swasta. Dunia migas pun menjadi pilihannya.

Siapa yang tak ingin masuk ke dunia ini, apalagi ketika itu sedang booming,” kenang Karen bernostalgia. Karen pun melamar ke Arco dan Mobil Oil. Di kedua perusahaan bergengsi itu ia diterima. Tapi, Karen lebih memilih Mobil Oil. Selama empat tahun, Karen mengawali karir sebagai sistem analis dan manajemen data. Berprestasi kinclong, Karen dikirim ke Dallas, lagi-lagi di bidang yang sama yakni sebagai programmer dan sistem analis, serta komputasi eksplorasi. Pengalamannya berkutat dengan data ini, kelak, menjadi bekal bagi Karen memimpin Direktorat Hulu Pertamina. Di Dallas, ia bermukim hingga empat tahun. “Operasional akan menjadi efektif jika didukung oleh data yang lengkap dan akurat,” tegasnya.

Karen sempat vakum dari dunia kerja karena melahirkan anak ketiga. Akhirnya, dengan dalih ingin lebih punya waktu untuk keluarga, Karen mundur dari Mobil Oil. Selanjutnya ia bergabung dengan Landmark Concurrent Solusi Indonesia, sebuah anak perusahaan Halliburton. Di Landmark, Karen membangun berbagai sistem informasi manajemen terpadu untuk beberapa stakeholders perminyakan terkemuka, seperti ExxonMobil, Pertamina, dan BPMIGAS.

Lagi-lagi, kinerja Karen dianggap cemerlang. Halliburton pun menariknya. Posnya di Halliburton bukan pos kacangan. Ia menjadi juru lobi Halliburton untuk menjalin kemitraan dan relasi dengan berbagai stakeholders papan atas bidang perminyakan, seperti Menteri ESDM, Pertamina, BPMIGAS, dan berbagai institusi di dunia migas.

Sejak itu, nama Karen mulai dilirik Pertamina. Oleh karena itu, ketika Pertamina mulai menggelorakan semangat pembaruan, Karen diminta untuk menjadi Staf Ahli Dirut Pertamina untuk Bidang Hulu. Dari sinilah, pintu masuk Karen untuk menjadi Direktur Hulu mulai terbuka, yang kemudian mengantarkannya sebagai Dirut Pertamina.

***

Eksistensi Karen sebagai perempuan pertama dan “orang luar” Pertamina yang menduduki pos jabatan direksi, jelas, bukannya tanpa resistensi. Sebagai individu berwatak disiplin, buah dari perpaduan didikan keluarga dan pengalaman berkarir di perusahaan multinasional, Karen membawa atmosfer baru di Pertamina. Semasa, menjabat sebagai orang nomor satu di Direktorat Hulu., ia tak segan keluar masuk ruang operasional, sesuatu yang sebelumnya sangat jarang dilakukan. “Saya ingin mengetahui fakta di lapangan langsung dari ujung tombak,” tegas perempuan yang selalu tampil energik dan pernah mendapat penghargaan khusus dari Country Manager Halliburton Indonesia atas kontribusi luar biasa yang diberikannya kepada Halliburton.

Bahkan, demi menjaga budaya transparansi di direktorat yang kini dipimpinnya, Karen membuka keran direct sms dan direct email untuk menampung laporan dari para jajarannya. “Pintu kantor saya selalu terbuka untuk kalian,” katanya kepada segenap jajaran di Direktorat Hulu. Selain terkenal disiplin, Karen juga terkenal sebagai individu yang tidak mau berkompromi dengan perilaku korupsi. “Siapapun yang berani korupsi akan saya tindak. Tanpa pandang bulu,” imbuh Karen langsung tanpa bermetafora.

Rupanya, atmosfer baru semacam ini membuat banyak orang terkejut. Selain itu, Karen mulai memberi tempat pada generasi muda Pertamina yang ia anggap brilian dan mampu.

Karena itu, resistensi terhadap diri saya sempat semakin kencang,” akunya mengevaluasi keadaan di lingkup internal.

Toh, Karen bergeming. Buktinya, warna baru yang digelorakannya itu berbuah hasil. Masuknya Karen ke Pertamina menciptakan opini positif di kalangan perminyakan internasional bahwa Pertamina sudah berubah. Perusahaan-perusahaan minyak asing besar, yang selama ini belum menjadi mitra Pertamina, mulai membuka peluang menawarkan kerjasama. Salah satunya, Petrobras dari Brazil. Bahkan, perusahaan minyak, yang terkenal sebagai salah satu dari sedikit pemilik teknologi terdepan dalam bidang eksplorasi lepas pantai, khususnya di laut dalam, ini menawarkan bantuan teknis berupa alih teknologi bagi para teknisi Pertamina. “Kelak, ketika Pertamina dan Petrobras sudah menjalin joint cooperation, teknisi kalian sudah siap,” papar Karen menirukan ucapan seorang petinggi Petrobras.

***

Sekilas, Karen memang tampak seperti wanita bertangan besi. “Ah, tidak juga. Saya tetap Karen yang dulu,” kilah perempuan kelahiran 19 Oktober 1958, yang hobi mengoleksi lukisan ini. Tapi, pernyataan itu benar adanya.

Bagaimanapun, Karen tetaplah seorang Ibu yang ingin selalu dekat dengan anak-anaknya. Lantaran itu, ia menolak untuk tinggal di rumah dinas. “Rumah dinas identik dengan kantor kedua bagi saya. Saya tidak ingin anak-anak kehilangan atmosfer rumah yang hommy,” tambah Karen, yang semasa di ITB pernah menjadi vokalis band dangdut sekaligus menjuarai lomba menyanyi dangdut yang diselenggarakan FTI ITB.

Ya, begitulah Karen, seorang wanita berbintang Libra, yang meski kini memimpin salah satu Direktorat penting di perusahaan yang dijuluki “the backbone of Indonesia” tetap menjadi ibu yang hangat bagi anak-anaknya

 

DR. Inneke Limuria, MSi

No Comments

Shiny Studi Center

Penyembuhan Melalui Terapi Sentuh Otak Dengan Tangan

Semua orang menyangka, kalau tulang tengkorak manusia itu menyatu bagaikan batok kelapa. Tulang tengkorak yang melindungi organ vital berupa otak itu sebenarnya selalu bergerak. Pergerakan tulang tengkorak mengikuti ritme tetap seolah-olah tulang bereaksi terhadap sistem hidrolis.

Gangguan terhadap gerak tulang tengkorak dan tulang belakang yang menjadi sistem syaraf manusia, menyebabkan terjadinya kelainan fisik. Anak-anak autis adalah salah satu akibat yang ditimbulkan oleh terganggunya gerakan tulang tengkorak ini. Diperlukan orang yang benar-benar ahli untuk “memperbaiki” gerakan tulang tengkorak menjadi selaras sehingga menjadi normal kembali.

Melalui terapi sentuh otak dengan tangan, saya membantu memaksimalkan fungsi susunan syaraf pusat. Penderita gangguan ini disentuh tulang tengkoraknya agar memiliki gerakan seirama sehingga sistem hidroliknya menjadi normal. Penyebabnya antara lain karena pola makanan yang tidak benar sehingga gerakannya menjadi banyak hambatan,” kata DR. Inneke Limuria, MSi., pakar terapi inidan Pendiri Shiny Studi Center.

Terapi sentuh tangan dengan otak sendiri “ditemukan” Inneke pada tahun 1998. Saat itu ia secara tidak sengaja merasakan adanya gerakan tulang tengkorak dan tulang belakang sebagai sistem syaraf pusat dengan irama tertentu. Sentuhan-sentuhan pada areal tersebut memberikan stimulus terhadap gangguan fungsi organ tubuh sehingga berangsur-angsur normal.

Beberapa penderita autis serta gangguan syaraf lainnya, lanjut Inneke, dapat disembuhkan melalui terapi sentuh otak ini. Penyembuhan dengan terapi sentuh otak atau terapi craniosacral dilakukan dengan sentuhan-sentuhan lembut pada tulang tengkorak. Sentuhan ini tidak hanya “melepaskan” sumbatan yang menghambat kerja sistem syaraf, tetapi bahkan mampu meningkatkan IQ hingga 20 poin.

Terapi sentuh otak mampu mengembangkan kemampuan otak anak secara maksimal. Metode ini hanya enam orang di Asia Tenggara yang memilikinya. Orang yang lumpuh akibat organisasi syarafnya terhambat, bisa kita perbaiki dari susunan syaraf pusatnya. Kesehatan mentalnya kalau terganggu juga bisa kita perbaiki,” kata pendiri Psiko Medika Holistika Center ini. Seiring dengan perkembangan divisi pendidikan yang sangat maju, akhirnya divisi pendidikan berdiri sendiri. “Kita namakan Shiny Study Center,” tambahnya.

Shiny Study Center memiliki visi “Menggali, membimbing dan mengembangkan kemampuan anak agar menjadi pribadi yang dapat dibanggakan, menjadikan anak yang mempunyai kualitas unggul dalam pendidikan dan pengembangan mental dan perilaku sumber daya manusia yang berorientasi pada nilai-nilai arti kehidupan yang sesungguhnya.” Adapun misi yang diusung lembaga ini adalah:

  • Mencari dan membina bakat serta kemampuan para murid agar menjadi pribadi-pribadi yang cerdas, terampil serta dapat diandalkan

  • Menyelenggarakan pendidikan pendamping home schooling yang berorientasi terhadap kemampuan berpikir analisis, sintetis, kritis, logis dan kreatif, serta berperilaku tanggap dan peduli terhadap masalah psikologis

  • Mengembangkan dan meningkatkan bidang penelitian dan pengabdian pada masyarakat sesuai dengan perkembangan teknologi maju

  • Mempersiapkan lulusan dengan kualitas kemampuan pendamping home schooling yang tinggi serta memiliki jiwa kepemimpinan yang berakhlak baik

Shiny Study Center memiliki koordinator berpengalaman pada masing-masing divisi yang memiliki keahlian khusus untuk menangani anak-anak yang bermasalah seperti gangguan mental dan fisik. Seperti koordinator home schooling yang berpengalaman di Amerika serta mengaplikasikan kurikulum children resource America. Selain itu, program akselerasi atau percepatan belajar untuk anak-anak yang mengalami hambatan belajar dan anak-anak dengan IQ terlampau tinggi untuk sekolah umum.

Tujuannya supaya mereka tidak bosen di dalam kelas. Seperti harusnya SMP tiga tahun mereka cukup dua tahun saja. Begitu juga dengan SMA cukup dua tahun, kalau di SD begitu kelas lima langsung kita ikutkan untuk ujian nasional. Itu kalau anaknya mampu. Kemudian pengembangan bakat anak, karena ini adalah anugerah Tuhan, dengan talenta yang luar biasa. Saya mengemasnya dengan tujuan yang penting anak-anak tersebut memiliki keahlian khusus,” katanya.

Shiny Study Center juga memberikan layanan psikologi umum dan biological psychology, pskologi perkembangan anak, deteksi dini perkembangan anak, psikologi normal, klinis anak, kesehatan mental, psikologi belajar, psikologi pendidikan bakat anak, psikologi kepribadian dan karakter anak, psikologi komunikasi, serta kognitif behavior therapy. “Semua itu cukup untuk pendampingan. Makanya pendidikan kita juga bisa untuk guru-guru sekolah umum,” jelasnya.

Menurut Inneke, meskipun sekarang banyak layanan sejenis tetapi dirinya masih mampu menunjukkan eksistensinya. Karena layanan yang diberikan lembaganya berbeda dengan lembaga-lembaga lain. “Saya sudah menangani enam ribu anak. Memang ada yang berhasil dan ada pula yang tidak, tetapi tingkat keberhasilan yang kami capai sekitar 80 persen,” ujarnya.

Kinesiology Menaikkan IQ

DR. Inneke Limuria, MSi., pada awalnya hanya melayani permintaan orang tua yang anak-anaknya “bermasalah” di sekolah. Anak-anak tersebut dianggap autis sehingga mengganggu belajar anak-anak lainnya. Seiring dengan membeludaknya permintaan, ia memberanikan diri untuk ide dan aspirasi bagi dunia pendidikan kepada pihak berwenang. Ia menghadap langsung untuk membicarakan ide-idenya dengan Dirjen Pendidikan Luar Biasa (PLB) Depdiknas.

Akhirnya kita diizinkan dan langsung mendapat surat untuk mendirikan lembaga ini. Setelah itu, antara saya dan Depdiknas terjalin ikatan dalam sebuah MOU untuk membantu mencerdaskan pendidikan nasional. Tahun 2002, waktu itu Mendiknas masih Pak Malik Fadjar, Dirjen Pak Indrajit Sidji, mereka bilang, Kinesiologi kamu itu bagus untuk menaikkan IQ sampai 20 poin dari anak-anak bermasalah dengan IQ rendah,” ujarnya.

MOU tersebut mewajibkan Inneke untuk memberikan training kepada guru-guru di 32 provinsi. Tugasnya adalah memperkenalkan metode senam otak, kinesiology, ilmu gerak dan lain-lain yang mampu meningkatkan kemampuan otak anak-anak didik di sekolah. Masalah yang dihadapinya adalah penerapan di lapangan tidak bisa diharapkan sampai ke tingkat yang paling bawah karena terputus pada tingkat provinsi.

Padahal, lanjut Inneke, saat mengelola pilot project Depdiknas di TK Pembina Ulujami, hasilnya terbukti memuaskan. Pelatihan senam otak pada siswa TK membuat IQ, daya tangkap dan ketahanan terhadap stress sangat bagus. Mental anak-anak dalam menghadapi berbagai persoalan sangat kuat sehingga mereka mampu mengikuti setiap pelajaran di sekolah dengan baik.

Padahal, tahun 1998 saya faks senam otak ke seluruh sekolah tidak dianggap sama sekali karena mereka tidak mengerti. Setelah beberapa anak kerabat pejabat Depdiknas dan lain-lain yang mengalami hambatan di sekolah bisa tertolong, akhirnya kinerja saya pelan-pelan diakui. Jadi perjuangan saya juga tidak mudah dalam merintis hal ini,” katanya.

Berbagai suka dan duka juga dialami Inneke dalam mengembangkan metodenya tersebut. Pernah, ia dijatuhkan dengan cara yang sangat “keras” dan efektif oleh para pesaingnya. Yakni dengan memasukkan iklan di media nasional terkemuka bahwa Psiko Medika Holistik Center bukan miliknya lagi. Tujuannya adalah “mengambil” klien-kliennya untuk mereka sendiri terkait tes psikologi industri dari perusahaan-perusahaan yang mempercayakan rekrutmennya kepada Psiko Medika Holistik Center.

Tetapi saya tetap tenang dan tidak terbawa dalam permusuhan itu. Hasilnya malah sebaliknya, peristiwa tahun 2005 itu membuat pihak Diknas dan Dirjen Depdiknas malah memberikan penghargaan bagi saya. Bahkan Unesco malah memberikan kepercayaan untuk proyek mereka melalui sebuah MOU,” kata Inneke yang mengagumi potensi perempuan Indonesia masa kini tersebut. “Mereka sekarang pinter-pinter, bagus-bagus memiliki dedikasi dan terobosan, ide-ide yang baik,” tambahnya.

Inneke memiliki obsesi untuk memajukan pusat pendidikan yang dirancangnya tersebut. Ia menginginkan agar apa yang dikerjakannya dapat dimanfaatkan oleh orang banyak. Apalagi, pendidikan baru dapat dirasakan dan dievaluasi hasilnya setelah lima tahun sehingga ia merasa memiliki kewajiban untuk menjaga kualitas “produk”-nya

Kalau dalam beberapa tahun lagi saya melihat anak-anak peserta didik berhasil, barulah saya merasa tenang. Saya ingin mereka menjadi agen-agen perubahan, baik dengan terobosan baru maupun dari pola pikir mereka itu. Kita sekarang tidak bisa mengacu pada IQ saja, tetapi juga EQ, SQ dan CQ. Jadi karakter yang baik, keagamaan, kerohanian karena hidup itu ada remnya, kemudian baru kepandaian dan kreativitas,” tegasnya

Sekilas DR. Inneke Limuria, M.Si

DR. Inneke Limuria, M.Si mempunyai motto hidup “Menjadi saluran berkat & hikmat buat banyak orang”. Pengalaman hidupnya selama 12 tahun melayani anak-anak jalanan (children at risk) dijalaninya dengan penuh semangat, hingga pada tahun 2000 tergabung menjadi rintisan (embrio) dari Jaringan Peduli Anak Bangsa (JPAB), dan pada tahun 2004 terbentuklah Asosiasi Kinesiologi Seluruh Indonesia (AKSI).

MoU dengan Departemen Pendidikan Nasional ditandatangani oleh Menteri Pendidikan Nasional & Dirjen DIKDASMEN untuk sekolah-sekolah di 32 propinsi di Indonesia untuk mencerdaskan serta meningkatkan memori & konsentrasi anak, terutama untuk menolong anak belajar, meningkatkan motivasi belajar, menumbuhkan karakter yang baik serta dedikasi yang baik.

Jaringan lain yang ditekuni beliau adalah Jaringan Epidemiologi Nasional (JEN), yang memberikan penyuluhan tentang KESPRO. Selain itu, beliau juga menjadi Dosen Psikologi Abnormal, Psikologi Klinis & Biological Psychology di beberapa Fakultas Psikologi baik Jakarta ataupun kota-kota besar lainnya.

Kesehatan tubuh sangat berkaitan dengan kondisi psikis seseorang. Untuk mengobati tubuh seseorang, pikiran dan masalah yang dihadapi orang tersebut harus dipulihkan terlebih dahulu. Penyembuhan secara keseluruhan, yang meliputi bio, psiko, dan sosio inilah yang disebut Metode Penyembuhan/Terapi Holistik.

Di Indonesia, metode terapi ini belum dikenal secara luas. Bahkan sebagian besar masyarakat, menyamakannya dengan pengobatan alternatif, yang sudah lebih luas dikenal saat ini.

Dr. Inneke Limuria, M.Si adalah salah seorang yang memiliki keahlian terapi holistik ini. Bahkan beliau adalah salah satu dari sangat sedikit orang di dunia yang saat ini menguasai dan menggunakan teknik diagnosa menggunakan Touch for Health (dari J.F. The) dan Cranio Sacral (dari John Upledger).

Dr. Inneke memulai pengobatnnya dengan memegang kepala pasien, di mana terdapat susunan syaraf pusat. Sedemikian sehingga beliau akan merasakan ritme dan cairan dari otak sampai ke tulang ekor. Cara yang disebut Cranio Sacral ini bisa memperbaiki dinamika struktur dan fungsi tubuh serta cairan otak, untuk mencapai keseimbangan pemulihan kesehatan dan pencegahan penyakit, serta mengurangi trauma. Biasanya jika seseorang sedang stress, akan menyebabkan gumpalan cairan di kepala, sehingga otak mengalami ketidakseimbangan.

Sistem Cranio Sacral ini sangat dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar diri seseorang. Hanya dalam waktu 10 (sepuluh) menit, Dr. Inneke dapat langsung mendiagnosa penyakit dan gangguan yang terjadi pada diri pasien, yang ternyata dipengaruhi oleh pikiran pasien tersebut. Pikiran tersebut disebabkan berbagai hal, mulai dari kondisi psikis, genetik atau lingkungan bahkan akibat korban perasaan dari pasangan hidup.

Dr. Inneke selalu menekankan ke pasiennya agar memiliki 5 (lima) komponen penting sebagai modal kesembuhan: kesadaran, keikhlasan menerima, memaafkan, melepaskan dan kepasrahan.

Felicia Wiyanti Wowor

No Comments

Owner AMBATIK

Melestarikan Budaya Indonesia Dengan Menekuni Batik

Di tengah kekhawatiran lunturnya nasionalisme generasi muda, terdapat beberapa pengecualian. Prasangka bahwa generasi muda sudah meninggalkan budaya sendiri terpatahkan oleh mereka yang dengan tekun melestarikannya. Beberapa di antaranya, bahkan memantapkan diri membuka usaha yang berhubungan dengan budaya Indonesia.

Salah satunya adalah pemilik AMBATIK, Felicia Wiyanti Wowor. Di usianya yang masih belia, -kelahiran Jakarta, 18 Februari 1984- telah melahirkan beragam karya yang menunjukkan kecintaan terhadap Indonesia. Media yang digunakannya adalah budaya asli Indonesia yang pernah diklaim Malaysia, batik. Melalui karyanya, ia menunjukkan kepada dunia bahwa batik adalah budaya Indonesia yang bahkan anak muda pun sudah menggunakannya.

“Batik adalah warisan asli Indonesia. Mungkin karena orang tua saya penggemar batik sekaligus pendidik, mereka ingin warisan Indonesia itu tidak hilang. Salah satu caranya adalah ditularkan kepada anak-anaknya termasuk saya. Awalnya sih, karena saya lulusan desain, mama minta dibuatkan baju berbahan dasar batik. Lama kelamaan, saya senang juga karena berbeda dari batik-batik yang biasa. Akhirnya, setelah melalui berbagai observasi sebelumnya saya memutuskan untuk membuka usaha ini,” katanya.

Fini –lulusan D3 Fashion Design & Pattern Making ESMOD Jakarta- mendirikan AMBATIK tahun 2009. Dengan dukungan kedua orang tuanya –Frans Endy Wowor dan Maryam Harwanti Siregar- yang mengelola sebuah sekolah, usahanya mulai berjalan. Desain hasil karyanya diminati berbagai kalangan, baik tua maupun muda. Apalagi, sebagai anak muda kreasinya pun sangat sesuai dengan selera generasi muda yang bisa digunakan untuk menghadiri pesta, bekerja maupun aktivitas sehari-hari lainnya.

Strategi untuk merangkul generasi muda, yang diterapkan Fini sangat jitu. Menampilkan desain busana warna-warni digabungkan dengan berbagai aksesori entik lainnya, menjadikan desainnya sangat disukai. Ia sadar, budaya asli warisan bangsa ini harus dilestarikan di tengah gencarnya budaya luar yang masuk ke Indonesia. Karena di era globalisasi, tidak ada sekat antara satu negara dengan negara lainnya.
“Akibat globalisasi, anak-anak muda mendapat budaya lain. Oleh karena itu, saya berusaha supaya anak-anak Indonesia tetap tahu Indonesia. Salah satunya melalui media ini untuk membantu mempertahankan budaya kita sendiri. Kita tahu anak muda suka fashion maka ini sangat membantu dengan mengikuti kemauan mereka. Globalisasi membuat semua bisa masuk, sehingga kalau tidak ketat mempertahankan akan terlibas budaya lain. Jangan sampai karena interested terhadap budaya kita, orang lain yang memanfaatkannya,” tuturnya.

Selamatkan Pengrajin

Dengan menekuni batik, Fini Wowor tidak hanya sekadar membangun usahanya sendiri. Seiring dengan semakin maju dan banyaknya desain yang dikerjakannya, ia juga memerlukan bahan-bahan yang tidak bisa dibuatnya sendiri. Salah satunya adalah kain batik yang harus dibelinya dari para pengrajin batik. Langkah untuk membeli dari pengrajin tersebut berdampak luas karena kehidupan mereka terselamatkan.

“Saya harus hunting mencari kain batik untuk desain saya. Kadang pengrajin juga datang kepada saya untuk menawarkan kain batik produk mereka. Karena mereka juga senang, produknya digunakan yang berarti mereka bisa terus berproduksi lagi. Artinya batik tetap lestari menjadi warisan budaya Indonesia,” kata sulung dari empat bersaudara yang mendapat dukungan penuh keluarga ini.

Terkait dengan hal tersebut, Fini menyerukan kepada para penggemar batik di Indonesia untuk menggunakan batik tulis. Selain kualitasnya sangat bagus, penggunaan batik tulis akan membuat pengrajin tidak kekurangan pekerjaan. Dengan menggunakan produk batik tulis, artinya lapangan perekonomian akan terus terbuka bari para pengrajin batik.

Untuk itu, Fini juga berkeinginan mengembangkan AMBATIK dengan cakupan yang lebih luas. Selain berbagai pameran di dalam negeri, ia juga ingin membangun sebuah gallery untuk memajang karya-karyanya. Obsesi lainnya adalah membangun website sehingga produk hasil ciptaannya dikenal luas di seluruh dunia. “Sementara, ini yang sedang benar-benar dipikirkan. Pekerjaan saya bukan ini saja, karena untuk kontrolnya semua masih saya sendiri,” imbuh putri pasangan pendidik ini.

Sebagai generasi muda, Fini mengajak sesama generasi muda untuk menjadi entrepreneur seperti dirinya. Karena dengan menjadi entrepreneur sejak muda, bisa mengubah Indonesia menjadi lebih sejahtera. “Cari apa yang mereka senang, hobi dan bagaimana bisa membantu Indonesia ke depan. Bagaimana cara membangun Indonesia agar menjadi lebih baik,” tambahnya.

Tren Meningkat

Setelah menyelesaikan pendidikan tahun 2005, Fini sempat membantu di sekolah yang dikelola ayah dan ibunya. Sambil terus mencari-cari celah untuk memulai usaha, ia ikut mengelolanya. Saat itu, ibunya adalah guru sekaligus Kepala Sekolah sehingga sering mendapat hadiah berupa kain batik. Pemberi hariah rupanya tahun kalau ibunya adalah penggemar batik.

“Apalagi di Indonesia sekarang ini juga sudah mulai meningkat trend penggunaan batik. Dari awal saya tertarik dalam bidang itu, hanya untuk masuk ke dunia bisnis ini banyak pertimbangan. Meskipun batik bisa dipakai orang tua, anak muda dan segala segmenlah,” ungkapnya.

Dalam rancangan-rancangannya, Fini membuat batik menjadi pantas dikenakan siapa saja tanpa memandang usia. Tua maupun muda, pantas mengenakan baju hasil rancangan designer muda ini. Yang tua menjadi semakin berwibawa, sementara yang muda tetap tampil ceria tanpa harus kelihatan tua. “Ini salah satu cara menarik minat anak muda berbatik. Mereka tetap keren, tidak menjadi tua dan kemudaannya tetap terlihat,” kata designer yang hanya mendesain satu model dengan beberapa ukuran ini.

Menurut Fini Wowor, AMBATIK atau membuat batik terinspirasi dari derasnya arus globalisasi di Indonesia. Semua itu mengakibatkan generasi muda Indonesia lebih memilih untuk membeli barang-barang bermerk internasional dan menunda pembelian merk lokal, yang lambat laun akan melenyapkan warisan budaya Indonesia yang salah satunya adalah batik. Sayangnya, produk batik dengan kualitas tinggi sangat sulit ditemukan di Jakarta.

Saat ini, generasi muda lebih memilih untuk membeli produk fashion luar negeri yang outletnya bertebaran di Jakarta. Sedangkan batik menjadi produk massal yang berharga murah dengan kualitas seadanya dan tidak memiliki nilai eksklusifitas. Ketika produk fashion batik yang bagus dan bermutu ditemukan, penerimaan pasar masih kurang bagus. Karena masih langkanya desainer baju-baju batik di tanah air.

Setelah memulai AMBATIK dua tahun lalu, Fini membeli berbagai jenis batik dari pembatik-pembatik tradisional di Yogyakarta dan Lasem. Ia mulai mendesain baju batik untuk para bisnismen, pembicara, guru, ibu-ibu dan teman-temannya yang membutuhkan baju batik dengan desain yang sesuai (baju-baju formal tetapi bukan kebaya). Setelah satu tahun berjalan, Fini mulai mendesain baju-baju “umum” berbahan batik seperti celana, atasan, rok, dan baju-baju. Hasil karyanya dipromosikan kepada teman-temannya, orang tua dan keluarga dengan respon yang sangat bagus.

Produk AMBATIK terbuat dari batik tulis atau batik cap yang memiliki keunikan tersendiri. Kisaran harga produk Ambatik –bukan produk massal tetapi terbatas- berada pada rentang antara Rp500 ribu sampai Rp1.200.000,-. “Sebagai orang Indonesia, saya bangga memiliki warisan budaya yang memiliki nilai artistik tinggi. Saya percaya, dengan keunikan dan desain inovatif terhadap warisan budaya ini, generasi mendatang akan mengapresiasi dan dengan bangga menggunakan batik sebagai busananya,” katanya.

 

Anik Indaryani, SE

No Comments

Direktur Utama PT Daya Dinamika Nusantara

Terbiasa Hidup Mandiri Sejak Belia; Mendirikan Perusahaan yang Mendidik Kemandirian Bangsa

Karakter seseorang sangat tergantung bagaimana orang tua mendidiknya di masa kanak-kanak. Meskipun pendidikan formal di sekolah sangat berpengaruh, tetapi pembentukan karakter dalam keluarga akan terbawa sampai dewasa. Seorang anak yang merekam nilai-nilai yang ditanamkan dalam keluarga akan menerapkannya dalam kehidupan yang dijalaninya.

Seperti yang dialami oleh Anik Indaryani, SE., Direktur Utama PT Daya Dinamika Nusantara (DDN). Perempuan kelahiran Salatiga, 13 November 1971 ini, untuk mencapai posisi sekarang tidak pernah lepas dari pendidikan karakter yang diberikan kedua orang tuanya. Kemandirian, kemuliaan hidup dan harga diri, adalah karakter yang ditanamkan kepada sembilan anak Iman Hardjo dan Sri Hartini.

“Semua anak dibiasakan dan dididik untuk mandiri, memiliki tanggung jawab masing-masing. Saya salut terhadap kedua orang tua, sehingga apa yang mereka terapkan itu terpatri dalam hidup kami. Saya bungsu dari sembilan bersaudara yang kebanyakan perempuan dan hanya ada dua laki-laki. Kita semua dididik untuk tidak mengandalkan laki-laki saja. Kita juga menerapkan petuah-petuah yang mulia, seperti tangan selalu diatas, mempertahankan harga diri dan lain-lain,” katanya.

Saat itu, lanjutnya, belum terpikirkan makna nasehat orang tua tersebut. Namun seiring bertambahnya umur dan semakin dewasa ternyata semua nasihat tersebut sangat berpengaruh dalam kehidupan. Ia mencontohkan bagaimana tangan selalu diatas membuat dirinya tidak pernah berharap belas kasihan dari siapapun.

Begitu juga dengan petuah ibunya untuk tidak menerima pekerjaan sebagai pembantu dan lebih baik menjadi tukang gorengan. Penjelasannya, meskipun pembantu baju bersih, uang utuh tetapi itu tidak akan membuat dirinya berkembang karena hanya disuruh-suruh saja. Sementara dengan berjualan pisang, meskipun badannya menjadi kotor tetapi lebih mandiri. Tidak ada seorang pun yang mengendalikan hidupnya.

“Saya belajar kehidupan dari bapak dan belajar berbisnis dari ibu. Karena antara bapak dan ibu bertolak belakang, bapak dermawan sementara ibu pedagang. Jadi kesimpulan saya, bahwa di satu sisi kita harus mengejar kehidupan tanpa harus menafikan hati nurani. Saya ingat tukang bakso dipanggil bapak dan diborong dagangannya untuk anak-anak kecil di kampung. Tentu saja ini membuat ibu saya marah-marah, tetapi dari situ saya ambil hikmah bahwa penting mencari materi tetapi sangat penting untuk berbagi,” cetusnya.

Selain kemandirian, Anik –panggilan akrabnya- juga dikaruinai sifat pembelajar dari Tuhan Yang Maha Esa. Pendidikan disiplin yang diterima saat “menumpang” di rumah kakak iparnya dan membuat saudara-saudaranya marah, justru diambil hikmahnya. Anik yang paling membenci keributan menenangkan kemarahan saudaranya dengan mengatakan bahwa ia tidak disuruh tetapi kemauannya sendiri untuk belajar mengenai segala hal.

Ternyata, lanjutnya, pengalaman tersebut justru sangat berguna ketika ia kuliah. Tentangan dari orang tua dan saudara-saudaranya terkait keinginannya untuk mengambil pendidikan sekolah tinggi perhotelan membuat dirinya semakin tangguh. Pasalnya, saat itu ia sudah didaftarkan di Fakultas Kedokteran dengan cara dititip-titipkan kepada pihak terkait.

“Saya tersinggung dan pamitan untuk mencari sekolah sendiri dan tidak akan pulang sebelum dapat sekolah. Saya sejak dahulu memang mandiri, dan akhirnya dapat sekolah tinggi perhotelan. Semua menentang, karena tradisi keluarga, kalau tidak tentara ya PNS. Karena tidak boleh makanya saya pergi ke Yogyakarta jalan kaki, tanpa membawa uang sama sekali,” kisahnya.

Melihat kenekatan Anik, akhirnya keluarga luluh juga. Salah seorang kakaknya menjemput dan mengatakan kalau keluarga bersedia membiayai pendidikan sesuai keinginannya. Namun, konsekuensi yang harus ditanggungnya adalah keluarga besarnya tidak akan dengan masa depannya. “Spontan saya ngomong, ‘Oke saya akan mencari kerja sendiri dan sebelum saya lulus saya janji sudah bekerja.’ Setelah itu saya pergi ke Yogyakarta dan berjuang untuk mendapatkan pekerjaan sembari kuliah,” imbuhnya.

Masa-masa kuliah, bagi Anik adalah masa yang sangat menyenangkan. Di sisi lain, ia memiliki sahabat yang sangat alim dan selalu mengingatkan dirinya untuk tetap menjalankan agama dengan baik. Sementara di satu sisi, ia juga berteman dengan mahasiswa lain yang seperti senang berhura-hura. Ia berpijak pada dua sisi tersebut sembari mengambil hikmah dari sana. Salah satunya adalah dengan mengikuti jejak sahabatnya yang sangat kuat “tirakat” memohon kekuatan pada Tuhan.

Setelah selesai ujian lokal, Anik mengunjungi kakaknya yang tinggal di Bandung. Sesuai kebiasaan saat kuliah, ia terus menerus melakukan shalat malam. Hingga suatu saat, setelah shalat malam ia tertidur di atas sajadah dan bermimpi. Dalam mimpinya, sahabatnya yang sangat alim asal Kebumen bernama Nining tersebut menyodorkan surat untuk melamar pada sebuah hotel di Bandung.

“Saya tersentak bangun dan langsung mencari alamat hotel di Yellowpages. Saat itu masih jam dua pagi, sehingga saya ditertawakan keponakan karena mengikuti mimpi. Tetapi saya tetap mengirimkan lamaran ke beberapa hotel sekaligus. Sementara menunggu lamaran saya pulang ke Yogyakarta untuk mengikuti ujian negara,” kisahnya.

Ternyata Anik mendapat panggilan dari beberapa hotel sekaligus. Setelah menjalani serangkain tes dan wawancara, semua hotel yang dikirimi lamaran menerimanya. Saat kebingungan menentukan pilihan, keponakan yang tadinya menertawakan dirinya berubah serius dan menyarankan untuk mengambil pekerjaan di hotel dalam mimpinya. “Barangkali benar itu petunjuk, katanya. Dengan bekerja di hotel itu, menurut dia, saya akan hidup seperti seperti ikan besar di akuarium dan bukan ikan kecil di lautan,” imbuhnya.

Saran tersebut diikuti Anik. Ia bekerja dengan serius meskipun hanya bergaji Rp100 ribu per bulan. Tugasnya pun dari bagian terendah seperti menyapu dan mengepel lantai hotel. Ia menjalaninya dengan bersungguh-sungguh sepenuh hati dilandasi semangat belajar yang tinggi. Di sisi lain, ia berpegang pada pesan yang disampaikan oleh ayahnya sebelum dirinya merantau. Bahwa dalam bekerja itu harus bermodalkan kejujuran. Jangan sampai karena recehan mengorbankan harga diri dan kehormatan.

Anik banyak belajar dari pemilik hotel, seorang professor dan istrinya sebagai direktur. Saat itu, ia merangkap sebagai sekretaris ibu direktur sekaligus asisten professor. Kedua orang tersebut telah mengajarinya banyak hal tentang bagaimana mengelola perusahaan serta memperlakukan SDM secara manusiawi. Ia tidak pernah menolak tugas yang diberikan oleh kedua orang tua tersebut. Dari sekadar cek rekening, mengatur buku perpustakaan sampai memanjat atap untuk mengecek penangkal petir hotel.

“Saya bekerja pada beliau sampai sepuluh tahun dengan jabatan terakhir General Manager di hotel tersebut. Dari keduanya, saya belajar memperlakukan SDM dengan manusiawi. Karena di hotel tersebut, keduanya menganggap kami bukan lagi anak buah, tetapi sesama manusia. Pokoknya kami dihargai banget deh bekerja disitu sehingga saya tidak peduli soal uang yang didapat, hanya lebih fokus pada ilmu yang dapat diserap,” ujarnya.

Dari situ, Anik belajar bahwa untuk atasan itu tidak harus bersikap bahwa sebagai bos. Dengan menghargai manusia seutuhnya akan mampu memimpin dengan baik dan dihormati anak buahnya. Ini dibuktikannya saat dirinya dipercaya menjadi direktur keungan sebuah perusahaan asing. Ketika perusahaan terantuk masalah para bos “kabur” ke luar negeri. Tinggallah dirinya yang tersisa dan harus bertanggung jawab terhadap permasalahan yang ditinggalkan.

Saat itu, Anik keluar masuk kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatan yang tidak pernah dilakukannya. Namun, di situlah ia mendapat pelajaran berharga yang tidak mungkin didapatnya di tempat lain. Ia tetap teguh pada pendirian dan menghadapinya dengan penuh kesungguhan. Baginya, selama apa yang dilakukannya benar akan dipertahankan sekuat tenaga. Selain itu, ia terus berdoa memohon bantuan tangan Tuhan untuk turun tangan menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

“Ujungnya tetap jalan Tuhan dan berserah diri kepada-Nya. Doa saya pada Tuhan, ‘Kalau memang hidup saya tidak bermanfaat ambil nyawa saya, tetapi kalau berguna bagi orang lain muliakan hidup saya.’ Yang jelas, saya pegang teguh kejujuran dan menikmati kepercayaan yang diberikan kepada saya. apapun bentuk dan risikonya. Itu yang membuat orang tahu kalau saya adalah Anik yang tangguh, ulet dan tahan banting dan bukan Bu Anik yang kaya raya punya ini dan itu. Yang penting saya pertahankan harga diri saya dan Alhamdulilah menjadi saya sekarang ini,” tegasnya.

Membangun Bisnis MLM

Awalnya Anik Indaryani, SE tidak menyukai dunia Multilevel marketing (MLM). Keingintahuannya yang besar untuk belajar membuat ia mampu menghadapi segala kondisi. Semangat untuk menekuni dunia MLM semakin tinggi setelah bertemu banyak orang dengan ide yang sama. Meskipun saat itu statusnya hanyalah seorang karyawan, tetapi ia tidak membatasi diri sehingga ia memiliki kesempatan untuk berkembang.

“Tetapi situasinya semakin tidak terkendali karena tim sudah mengarah kepada kepentingan dan keuntungan pribadi. Itu membuat saya akhirnya memutuskan untuk keluar meskipun dianggap sebagai pemberontak. Tetapi tidak apa-apa, karena orientasi saya tidak selalu uang. Jadi meskipun dikasih uang berapa karung pun tetapi untuk kepentingan seseorang saya tidak mau. Sebaliknya tanpa uang sekalipun, saya mau kalau untuk kepentingan tim,” tegas pengagum Margareth Tatcher

Karakter seperti itulah yang membuat Anik dikenal oleh penggiat MLM di dalam dan luar negeri. Kadang mereka menganggap Anik sebagai orang yang keras kepala, tidak tahu diuntung sampai manusia terbodoh di dunia karena melepaskan peluang yang sudah ada di depan mata. Sebenarnya, Anik hanyalah menginginkan tereksploitasinya kebaikan dalam diri setiap orang. Meskipun hanya office boy, CS dan lain-lain, apapun profesinya menjadi yang terbaik adalah keharusan.

Apabila terjadi kesalahan, lanjutnya, seorang pimpinan tidak perlu mencari kambing hitam. Akan lebih baik kalau kesalahan yang ditimbulkan oleh tim tersebut kemudian dicarikan solusi terbaik. Sesuai dengan pengalaman yang diperoleh selama bekerja di hotel, sebagai pimpinan Anik bertindak memanusiakan karyawan. Hubungan yang terjalin pun akhirnya tidak seperti antara seorang bos dan karyawan, tetapi menjadi saudara sendiri.

“Tetapi dalam bekerja tetap professional. Kekeluargaan boleh sehingga mereka tidak ada yang takut sama saya. Malah kalau saya tidak masuk suka nyariin, kan biasanya karyawan kalau bos tidak masuk senang sekali. Tetapi di kantor saya beda, mereka merasa ada yang kurang ketika saya tidak masuk,” tegas ibu satu anak istri dari Chresno Dwipoyono Yunanto Wibowo.

PT Daya Dinamika Nusantara (Double Dynamic Network-DDN) merupakan perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang pemasaran produk kesehatan dengan sistem penjualan langsung berjenjang atau MLM. Perusahaan ini didirikan oleh Anik Indaryani, SE bersama teman-temanya sesama networker pada awal tahun 2009. Produk kesehatan yang dipasarkannya juga diproduksi oleh sebuah perusahaan lokal, Aimfood Manufacturing Indonesia – Tangerang. PT DDN berkantor pusat di Jl A Yani No 245 Bandung Jawa Barat dan memiliki stokes di beberapa kota di Indonesia.

“Kita telah memasuki tahun ketiga dari tahun 2009 dan dibangun dari nol. Ingat dibangun bukan dijalankan dimana saya bersama tim mencoba membangun dari kecil sekali dan diremehkan orang. Tetapi saya terus berusaha mewujudkan mimpi, karena dunia multilevel adalah dunia yang sangat unik. Bisnis MLM bisa dijalani oleh orang-orang yang seharusnya ada keterbatasn usia produktif, latar belakang pendidikan, cacat fisik dan lain-lain. Semua bisa diakomodir dan tidak terbatas agama, gender dan lain-lain. Saya menilai ini mulia, yang penting kita tidak menipu,” tandasnya.

Anik mengakui, saat ini citra MLM sangat buruk. Tetapi justru karena itulah ia ingin mengangkat citranya menjadi lebih baik. Karena sebenarnya network dalam dunia bisnis semua meniru bisnis MLM. Artinya semua usaha meniru MLM sementara masalah hasil Tuhan yang menentukan. Di bisnis MLM, roda bisnis dijalankan dengan cara dan strategi yang telah tersusun dengan rapi. Sebenarnya, network sudah terlihat sejak zaman nabi, melalui syiar agama yang dibantu sahabat sebagai team leader. Begitu juga dengan Bung Karno, yang tidak bisa memerdekakan bangsa Indonesia seorang diri.

“Di Indonesia, saya menyayangkan banyaknya bisnis MLM yang datang dari luar negeri dan mendapat sambutan luar biasa. Padahal yang menjalankan itu kan kita sendiri. Kemajuan Malaysia yang melebihi Indonesia disebabkan karena pemerintah mengakui potensi warganya dan mendukung mereka berkembang. Kenapa, karena mental kita tidak siap, karena kita terbiasa dininabobokan. Bukan bermaksud merendahkan, tetapi mental tersebut yang sangat saya sayangkan,” tuturnya.

Selama menjalani bisnis network, Anik Indaryani belajar mengenali karakteristik masyarakat dari berbagai wilayah di Indonesia. Ia paham bahwa setiap daerah memiliki orang-orang dengan karakteristik dan mindset yang berbeda. Untuk itu diperlukan strategi berbeda-beda dalam merangkul masyarakat di wilayah-wilayah yang berbeda agar bergabung dalam network yang disusun.

Meskipun demikian, Anik selalu berpegang bahwa bisnis yang dilakukannya merupakan solusi bagi kehidupan. Oleh karena itu, ia jatuh bangun untuk membesarkan PT DDN sehingga mencapai sukses seperti sekarang. Padahal, dalam perjalanannya, PT DDN menghadapi berbagai serangan dari para kompetitor. Ia menganggap sepi semua serangan dan hujatan yang datang dari pesaing yang akan menghabiskan tenaga kalau ditanggapi.

“Saya anggap biasa saja, kalau kita sudah berniat terjun di dunia bisnis ya seperti kita meniti ombak. Hujan badai seperti biasa dan kalau saya terpancing bisa gawat. Karena banyak omongan negative tentang SDM perusahaan yang datang kepada saya. Tegas saya katakan, bahwa ini perusahaan dan ini perilaku personal . Saya pisahkan antara perusahaan dan individu, sampai-sampai saya bilang kalau menginginkan perusahaan dikelola oleh orang yang bersih dari masa lalunya, tunggu saja malaikat,” kata Anik yang selalu melihat sisi positif seseorang tersebut.

Integritas dan Kejujuran

Anik memiliki patokan khusus dalam menjalani kehidupan dan bisnis yang digelutinya. Yakni ketika tindakan atau kegiatannya telah memberikan manfaat nyata bagi orang lain itulah kesuksesan dirinya. Di saat-saat seperti itu, ia merasa bagaikan mendapat sebungkah berlian. Baginya, itulah kesuksesan hakiki yang berhasil diperoleh seseorang. Apalagi kalau mengingat bahwa apa yang dimilikinya kalau dipaksakan untuk membayar sesuatu tidak cukup sehingga pilihan berbagi adalah sesuatu yang masuk akal.

“Buat segala sesuatu seburuk apapun menjadi baik. Itu yang harus kita pegang dan pasti bisa. Menghadapi sebuah masalah besar menjadi tidak punya masalah adalah ciri-ciri calon orang sukses. Kalau ada orang yang memiliki masalah kecil tetapi dibesar-besarkan, bahaya itu, sakit hati fitnah sana-sini. Yang penting, saya berbuat baik untuk kehidupan ini. Kalau banyak omongan tentang perusahaan artinya kita mulai diperhitungkan,” ujarnya.

Anik mengambil hikmah terhadap kejadian yang dialaminya. Apalagi kalau ia bisa mengendalikan kondisi emosional seperti menjadi bahan perbincangan orang tetapi tetap dihadapi dengan tersenyum. Baginya, kondisi seperti itulah yang harus disyukuri, sehingga akan berkembang dengan baik. Ia sering menyatakan untuk tidak pernah memikirkan perut dan ambisi masing-masing. Akan lebih baik kalau memikirkan kepentingan orang banyak sehingga setiap langkahnya dipermudah Tuhan.

“Itu saya dapatkan dari kehidupan bukan belajar. Saya tidak suka kalau dikasihani dalam menjual. Karena integritas dan harga diri itu sangat penting dalam hal apapun. Tidak perlu bonus besar, gaji gedhe atau apapun, tetapi kalau mengorbankan harga diri atau integritas, no way. Saya akan bangga kalau ditunjukkan orang yang dengan kualitas hebat, integritas tinggi dan mempunyai harga diri. Saya suka orang yang berintegritas, jujur, baik dan lain-lain,” ungkapnya.

Anik sadar, PT DDN yang dibangunnya memang belum besar dan sukses. Masih banyak hal-hal yang harus dibenahi. Tetapi, ia akan terus berusaha sekuat tenaga dan menyerahkan seluruh hasilnya kepada Tuhan. Meskipun perempuan, ia berharap kaumnya tidak pernah mengandalkan kelemahan sebagai senjata untuk mempermudah jalannya. Seharusnya perempuan menolak untuk dikasihani dan membuktikan kemampuannya dengan berjuang mewujudkan cita-cita dan keinginannya.

Begitu juga dalam kehidupan berumah tangga. Anik berharap antara suami dan istri terjalin hubungan persahabatan. Ia tidak pernah mengedepankan ego dalam kehidupan rumah tangga. Meskipun di kantor ia adalah direktur utama, tetapi di rumah ia tetap seorang istri sekaligus ibu dari anak semata wayangnya.

“Kalau di rumah saya juga pakai daster dan masak untuk anak dan suami. Hubungan kami pun menjadi seperti sahabat, saling terbuka satu sama lain dan menghargai satu sama lain. Komunikasi adalah kunci dalam memelihara keutuhan keluarga. Kuncinya komunikasi, saling memahami dan percaya, antara suami dan istri,” ujarnya.

Menurut Anik, seorng wanita dalam wmansipasi harus mempunyai harga diri dan kemandirian. Memang laki-laki adalah imam, tetapi kerjasama yang terjalin tidak harus memandang jenis kelamin. Meskipun secara agama memang laki-laki adalah imam tetapi dalam kacamata kehidupan perempuan tidak berbeda.

“Artinya secara kodrat oke, tetapi kemampuan tidak bisa dibatasi. Itu yang paling penting makanya ada presiden wanita segala. Staf saya perempuan juga saya gembleng, jangan menggunakan kelemahan sebagai perempuan. Kita bisa mendapatkan apa saja selama kita bisa dan mampu. Sebagai perempuan kita harus tetap melakukan yang terbaik,” tegasnya.

Membangun Negeri

PT DDN adalah perusahaan lokal yang sedang berkembang menjadi perusahaan nasional. Sebagai Direktur Utama, Anik Indaryani, SE menginginkan pelaku networking memiliki jiwa mandiri dan menjadi panutan bagi leadership yang tidak hanya sekadar mencari uang. Mereka secara keseluruhan harus memiliki visi dan misi untuk ikut membangun negeri. Utamanya dalam membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, dan mengangkat derajat kesehatan.

“Kebetulan kita juga menjual produk kesehatan. Banyak masyarakat yang terbantu penyakitnya karena mengonsumsi produk kita, baik untuk pengobatan maupun pencegahan. Sementara dari sisi usaha, bagi orang yang susah mencari pekerjaan, karena faktor usia, dan lain-lain di sini bisa kita akomodir seluruh kalangan untuk mencapai kesejahteraan dan kesehatan. Kita ada di Sumbar, Pekanbaru, Jabotabek, Jatim dan Makassar. Member berjumlah puluhan ribu di seluruh Indonesia. Kita selalu mencoba untuk membantu pemerintah membangun negeri ini,” tegasnya.

Dari sisi bisnis, marketing berbasis penjualan langsung berjenjang, para networking di DDN berasal dari berbagai profesi. Mulai pengangguran yang membutuhkan pekerjaan, lansia yang butuh kegiatan, sampai PNS, guru dan profesional bergabung karena melihat adanya peluang dalam bisnis ini. Memasuki tahun ketiga ini, DDN sudah mengeluarkan 15 buah mobil, dan bonus harian sudah mencapai Rp20 juta per hari bagi networker berprestasi.

“Peraihan prestasi sudah mereka nikmati, yang mungkin tidak bakal teraih dalam pekerjaan mereka sebenarnya. Inilah kenapa saya tekuni bisnis ini tidak hanya bertujuan meraih keuntungan tetapi lebih luas lagi, kesejahteraan bangsa ini. Hanya saja, saya ingin pemerintah kita mengakui bisnis MLM seperti ini, seperti di Malaysia. Karena ini juga mendidik kita untuk menjadi pemimpin. Kalau jadi karyawan atau pegawai, sepintar apapun kita tidak aakan melampaui atasan kita. Sementara di dunia networking, semua bisa terjadi. Dengan bisnis ini sudah bisa mengatasi pengangguran,” ujarnya.

Dengan jumlah member yang sudah mencapai puluhan ribu tersebar di beberapa daerah di tanah air. Bandung, Jakarta, Surabaya, Sumatera meliputi Palembang, Padang, Payakumbuh, Lampung, Jambi, Kalimantan dan Sulawesi adalah area pemasaran produk DDN. Bahkan, saat ini telah datang permintaan dari luar negeri seperti Malaysia, Vietnam, Australia dan Italia.

“Oleh karena itu, ke depan kita sudah merintis pengembangan menuju go public yang sudah kita blue print-kan, dan mungkin kita akan masuk bursa efek, menjadi holding company dan berakspansi ke negara lain serta bukan sekadar perusahaan MLM saja. Mungkin kita juga akan mendirikan yayasan pendidikan dan yayasan kesehatan agar semakin bermanfaat bagi bangsa ini. Yang penting misi kita adalah misi kebersamaan,” ungkapnya.

 

Ir. Leo Nababan

No Comments

Staf Khusus Menko Kesra

Penganut Kristiani yang Menjadi Pengurus Masjid

Kekerasan yang mengatasnamakan agama belakangan ini marak terjadi di Indonesia. Bahkan konflik horizontal terjadi antara para pemeluk agama yang seharusnya hidup berdampingan secara damai. Padahal, sejarah telah membuktikan bahwa bangsa Indonesia dengan berbagai macam budaya, adat, suku dan agama, “pernah” bersatu dan hidup rukun. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika atau berbeda-beda tetapi tetap satu telah menjadi pedoman hidup dan menjadi perekat bangsa sejak ribuan tahun lalu.

Namun, seiring perjalanan waktu sikap seperti itu mulai luntur. Perbedaan yang harusnya menjadi kekuatan dan kekayaan bangsa ini, justru dianggap sebagai kelemahan. Berbagai upaya dipaksakan untuk membuat orang-orang yang berbeda pandangan, mengikuti keyakinan dan aturan-aturan yang dianggap benar oleh sekelompok orang.

Meskipun begitu, tidak semua orang Indonesia berpendapat sama. Di tengah masyarakat banyak sikap-sikap yang menunjukkan bahwa perbedaan-perbedaan dan sekat-sekat telah melebur menjadi satu kesatuan yang harmonis. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Ir. Leo Nababan untuk masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Staf Khusus Menko Kesra tersebut memberikan contoh yang luar biasa bagaimana hidup bermasyarakat. Yakni menjadi pengurus masjid -yang mungkin satu-satunya di Indonesia- meskipun ia sendiri seorang penganut Kristiani taat.

“Agama adalah masalah pribadi, antara manusia dan Tuhan. Kesalahan bangsa ini adalah selalu mencampuradukkan agama dan kehidupan. Itu yang susah, habluminallah dan habluminannas-nya harus seimbang. Saya memang seorang Kristen dan saya bersyukur karena itu. Tetapi saya juga pengurus Masjid Jami’ Al Mukminin di Kayumanis 10, sebagai koordinator pencarian dana pembangunan masjid,” katanya.

Dari sudut pandang Kristiani, Leo Nababan merasa hidupnya tidak berguna apabila mengabaikan nasib tetangganya. Oleh karena itu, ketika melihat kesibukan tetangga-tetangganya yang muslim membangun masjid, ia juga melibatkan diri. Penerimaan warga muslim terhadapnya pun cukup terbuka dan menerimanya sebagai bagian dari kepanitiaan pembangunan masjid. Ia tidak menyia-nyiakan kepercayaan saudara-saudara muslimnya, dan melaksanakan tugasnya dengan baik.

Leo Nababan sangat menyesalkan adanya kelompok-kelompok yang membawa-bawa agama dalam setiap permasalahan. Jumlah penganut paham ini semakin lama membesar dan terang-terangan memaksakan kehendaknya kepada orang lain yang tidak sepaham. Agama telah menjadi bahan konflik, meskipun dalam kitab suci Al Quran jelas-jelas diajarkan bahwa “Bagimu agamamu, bagiku agamaku”.

“Itu adanya pengakuan bahwa ada agama lain selain Islam. Nabi Muhammad pun mengajarkan kasih sayang kepada sesama manusia, apapun agamanya. Saya adalah seorang Kristen yang setuju pembakaran gereja, karena secara logika TIDAK MUNGKIN gereja dibakar asalkan gereja tersebut “tidak menjadi MENARA GADING” bagi masyarakat di sekitarnya. Artinya, gereja membiarkan tetangga-tetangganya miskin dan kelaparan, tetapi malah membangun menara. Tidak mungkin gereja dibakar kalau gereja melihat kondisi tetangganya,” tandasnya.

Menurut Leo, bangsa Indonesia tidak akan marah kalau ada orang yang mengaku sebagai orang Kristen atau agama lainnya. Karena negara juga mengakui agama sah dan Indonesia: Islam, Katolik, Kristen, Buddha, dan Hindu. Sebenarnya bangsa Indonesia sejak zaman dahulu terbiasa hidup damai berdampingan. Hal tersebut tidak hanya sekedar wacana, tetapi benar-benar dipraktekkan dalam hidupnya. Hampir setiap akhir pekan, ia mengajarkan kehidupan yang luas dan damai kepada kedua anaknya.

“Saya mengajaknya ke pesantren (kebetulan saya dekat dengan Pak Kyai, Prof. DR. Achmad Mubarok –Wakil Ketua Umum Partai Demokrat- dan juga Ketua Umum Pondok Pesantren se-Indonesia yang mempunyai Pondok Pesantren di sekitar Jabotabek) supaya bisa bergaul dengan sesama anak bangsa dan berbagi dengan mereka. Kehidupan bangsa ini harus dimulai dari hal-hal kecil seperti itu,” tuturnya. Leo juga mengkritik pelajaran agama di sekolah, yang harus memisahkan anak-anak beragama lain ketika pelajaran sedang berlangsung. “Secara tidak sadar, kita menitipkan permusuhan sejak kecil,” imbuhnya.

Dunia Inovatif

Ir. Leo Nababan dilahirkan pada 30 Oktober 1962 di Sei Rampah, sebuah desa di pedalaman Sumatera Utara. Ia berasal dari keluarga yang sangat bersahaja, marginal dan golongan bawah. Sang ayah, H. Nababan adalah seorang guru jemaah gereja sementara ibunya, L. Simanjuntak (almh) adalah seorang guru SD. Kedua orang tuanya mendidik Leo dengan disiplin keras dalam segala hal menyangkut kehidupannya.

“Tetapi saya tidak pernah menyesali dilahirkan dari keluarga biasa-biasa saja. Saya terus bersyukur karena Tuhan Yesus Maha Besar dan selalu mengandalkan-Nya dalam hidup saya. Dari perjalanan hidup yang sedemikian itu membuat saya sangat concern dalam kemanusiaan, memperjuangkan kaum marginal, kelas bawah dari mana saya berasal,” tegasnya.

Kaum marginal, lanjutnya, harus dituntun dan diberdayakan dengan memberikan dan membuka lowongan pekerjaan seluas-luasnya. Begitu juga dengan memberikan modal agar mereka bisa membuka usaha dan mampu membangun kemandirian. Untuk itu, ia sangat mendukung program pemerintah dibawah koordinasi Menko Kesra seperti penyaluran kredit melalui KUR, program PNPM dan bantuan beasiswa bagi anak miskin berprestasi. “Pendidikan merupakan salah satu terobosan untuk mengubah orang-orang yang terpinggirkan,” tandasnya.

Di sisi lain, menurut Leo, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar apabila mampu mengelola SDM dan sumber daya alam dengan baik. Karena seiring dengan kemajuan teknologi di era globalisasi, tantangan yang dihadapi bangsa ini ke depan semakin berat. Mendidik SDM handal dan hebat tidak cukup untuk menghadapinya. Apalagi CFTA (China Free Trade Area) dan AFTA (ASEAN Free Trade Area) yang tahun ini mulai berlaku membuat persaingan semakin ketat. Tidak hanya produk dari China dan negara-negara ASEAN yang bebas dipasarkan, tetapi juga pasar tenaga kerja terbuka dan bebas beroperasi di Indonesia.

“Makanya saya mengajak bangsa Indonesia untuk kreatif, karena tantangan ke depan bukan lagi SDM yang hebat. Tetapi SDM inovatif dan kreatif yang akan menjadi andalan bangsa ini ke depan. Kita tidak bisa menutup mata, adanya kemungkinan bahwa negara kita hanya sekadar menjadi pasar dunia luar. Saya minta dengan sangat untuk memacu generasi muda agar berkepribadian dan berjati diri, tetapi juga memiliki inovasi dan kreativitas, agar diakui bangsa lain,” tegas pria 48 tahun yang sudah mengunjungi 36 negara ini.

Leo berharap, bangsa Indonesia tidak bersedih hati dan meratapi kondisinya yang terpuruk sekarang ini. Indonesia adalah negara besar yang “hanya” memerlukan pengelolaan yang benar. Seluruh elemen bangsa harus menatap masa depan yang cemerlang dan melupakan kepahitan masa lalu. Jangan pernah menyesal telah menjadi bangsa Indonesia dan harus bangga karenanya. Kuncinya, harus menggembleng generasi muda menjadi generasi kreatif dan inovatif di era globalisasi ini.

“Saya tegaskan sekali lagi, bangsa ini harus menatap masa depan cemerlang. Dengan catatan bahwa nasionalisme harus terus, jangan menyesali kita ini orang Indonesia dan jangan merendahkan bangsa sendiri. Di rumah saya pasang foto besar saat berkunjung ke Eropa, sepatu saya disemir oleh orang bule. Ini merupakan rangsangan bagi bangsa bahwa jangan menganggap orang bule segalanya. Itu mental bangsa terjajah, toh kenyataannya, sepatu orang Melayu bisa disemir oleh bule,” tegasnya.

Tiga C

Perjalanan panjang Ir. Leo Nababan sebagai anak kampung termarjinalkan yang berhasil menaklukkan berbagai rintangan pantas dijadikan teladan. Sederet prestasi gemilang telah diukir oleh ayah dua anak hasil pernikahannya dengan Dr. Fabiola Alvisi Latu Batara ini. Tokoh Batak insipiratif ini pada usia 35 tahun telah menjadi anggota MPR RI. Kini, tanpa pernah menjadi PNS sebelumnya saat usianya 47 tahun diangkat sebagai pejabat Eselon IB di Kantor Menko Kesra.

Meskipun begitu, alumnus Lemhanas RI KRA XXXIX tahun 2006 ini tidak pernah sombong. Justru sikap yang selalu ditampilkan adalah kerendah hatian, selalu menaruh kepedulian serta penuh kasih kepada sesama. Latar belakang sebagai orang marjinal yang pernah menjadi penggembala kerbau dan itik (parmahan) selalu terbawa.

Pria cerdas yang sejak SD hingga SMA selalu menjadi juara kelas ini, diterima di Institute Pertanian Bogor (IPB) tanpa tes tetapi menyelesaikan studi S1 di Universitas Diponegoro, Semarang. Ia adalah peserta terbaik pertama Penataran Kewaspadaan Nasional (Tarpadnas) Pemuda Tingkat Nasional (1994), terbaik pertama International Standard Learning System (Effective Communications and Interpersonal Relation Skill, 1997), 10 besar terbaik Penataran P4 Pemuda Tingkat Nasional (1995) dan mendapat penghargaan KRA – XXXIX Lemhanas RI (Republik Indonesia) tahun 2006.

“Ketika masuk Lemhanas, terjadi pemikiran-pemikiran yang komprehensif integral tanpa memandang suku, agama dan lain-lain. Itu yang selalu membuat dalam menjalankan hidup saya selalu memberikan hal-hal yang the best bagi bangsa Indonesia. Apapun yang terbaik bagi bangsa ini harus kita berikan dengan setulus hati. Mindset berpikir kita pun harus diubah dan sebagai nasionalis tulen, saya harus berpikir pada kepentingan bangsa,” ujarnya.

Aktivitas berorganisasi dijalani Leo Nababan sejak usia belia. Di Bogor, ia masuk senat dan menjadi salah satu pendiri Gerakan Mahasiswa Kosgoro hingga sampai pada posisi Sekjen DPP Mahasiswa Kosgoro. Leo juga pernah menjabat Ketua DPP AMPI yang membawanya sebagai Wakil Sekjen DPP Partai Golongan Karya. Selain itu, Leo juga pernah bekerja di beberapa perusahaan swasta nasional, dari staf direksi, direktur humas hingga komisaris. Sedangkan, di jajaran lembaga negara, Leo pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menpora, Staf Khusus Ketua DPR RI dan sekarang Staf Khusus Menko Kesra, Agung Laksono.

“Ada tiga c yang harus dipegang dalam menjalani kehidupan. Yakni, capability, capital dan connection yang harus sinergis dalam membangun kehidupan. Kemudian tiga hal untuk mencapai sukses adalah mengandalkan Tuhan dalam hidup, bekerja kerja keras meningkatkan kapabilitas dan membangun jaringan seluas mungkin,” tegasnya.

Leo sangat bersyukur, selain capability dan capital, Tuhan juga memberkati dirinya dengan connection/jaringan yang kuat. Memanfaatkan jaringan secara positif, akan mempercepat akselerasi kesuksesan seseorang. Kemudian yang tidak kalah penting adalah intensitas dalam mempertahankan dan memelihara hubungan baik pada jaringan yang sudah terbentuk. Semua itu didapat dari aktivitas berorganisasi yang sangat intensif.

“Saya terus belajar dan lewat organisasi membuka jaringan. Saya berhubungan dengan Pak Agung Laksono itu sudah 18 tahun. Dari sejak beliau memegang jabatan sebagai Sekjen Kosgoro, sementara saya Sekjen Mahasiswa Kosgoro, hubungan tersebut terus terjalin. Dalam interaksi intensif seperti itu, terjadi inovasi berpikir, bergaul dan saya menjadi andalan beliau. Bagi saya, beliau adalah guru, bagaikan buku yang tidak pernah habis saya baca setiap hari,” ungkapnya.

Ke depan, Leo Nababan memiliki obsesi untuk membangun patung Tuhan Yesus tertinggi di dunia di Pulau Samosir. Rencananya ia juga akan membangun patung Nommensen di seberangnya. Namun, ia tidak menargetkan kapan terwujudnya impian tersebut. Ia menyerahkan sepenuhnya obsesi tersebut pada kuasa Tuhan Yang Maha Esa. “Biar Tuhan yang tentukan waktu yang tepat. Puji Tuhan karena memang saya mengandalkan Dia dalam hidup saya,” tambahnya.

Leo sangat menyesalkan pudarnya kepedulian generasi muda Batak atas budayanya sendiri. Jangankan mengikuti pesta-pesta adat, menggunakan bahasa Batak pun generasi muda sudah enggan. Ia sangat khawatir terhadap kepunahan budaya Batak akibat ketidakpedulian tersebut.

Leo Nababan mencontohkan bagaimana bangsa Jepang berhasil dalam hal ini. Setinggi apapun ilmu dan teknologi yang dikuasai, mereka tetap “kembali” menggunakan budayanya sendiri. Sementara orang-orang Batak dan bangsa Indonesia umumnya sudah unang lupa adati.

“Saya mencoba melestarikannya kepada kedua anak saya. Meskipun mereka sekolah internasional dengan bahasa pengantar bahasa Inggris dan Mandarin, sementara ibunya dari Manado, saya mengajari mereka bahasa Batak. Saya juga ajak mereka ke pesta adat Batak dan bergereja di HKBP Menteng. Kalau bukan generasi muda, bisa punah adat itu,” kata penerbit buku “Manghobasi Ulaon Adat Batak” ini.

 

Jacob Jack Ospara, M.Th

No Comments

Anggota DPD Provinsi Maluku

Mengajak Rakyat Maluku Bersama-sama Membangun Bangsa

Kalau ada yang melenggang ke Senayan bukan untuk mencari uang, Jacob Jack Ospara, M.Th adalah orangnya. Karena sebagai senator anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Provinsi Maluku, sangat memungkinkan untuk menggelembungkan pundi-pundi uangnya.

Sebaliknya yang dilakukan Jack –sebutan akrab baginya- adalah tetap menjaga dan melindungi idealismenya yang ditawarkan saat kampanye pemilihan senator, yakni dengan menyuarakan jeritan hati rakyat Maluku yang meskipun sudah 64 tahun bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Pembangunan baik yang dilakukan pemerintahan Orde Baru maupun Reformasi belum dapat menjawab realitas dan pergumulan rakyat Maluku.

Menurut Jack, dalam kampanye pemilihan, ia tidak menyuruh rakyat untuk memilih dirinya, tetapi mengajak rakyat untuk bersama-sama membangun bangsa dan negara dengan segala sumber daya yang mereka miliki untuk mewujudkan masyarakat Maluku yang sejahtera dan berkeadilan.

Jack merasa apa yang dilakukan wakil rakyat sekarang –baik di DPR maupun DPD- mengagung-agungkan ungkapan “vox populi vox dei”. Ungkapan yang berarti suara rakyat suara Tuhan yang sering diteriakkan saat kampanye tersebut, dipandang sinis olehnya. Bagi Jack, ungkapan tersebut hanya slogan belaka karena dipakai untuk memobilisasi massa dan merangsang semangat rakyat pemilik hak suara. Namun, segera setelah berhasil duduk sebagai anggota dewan yang terhormat mrg dengan serta merta menafikan kepentingan rakyat dan lebih mengutamakan kepentingan keluarga, kelompok atau golongan masing-masing.

Lembaga legislatif yang seharusnya berfungsi sebagai alat kontrol pemerintah dalam menyusun dan membuat kebijakan semakin mudah ditawar dan dikendalikan. Hal inilah yang bagi kalangan LSM, media dan pengamat politik yang kritis menjuluki lembaga legislatif sebagai “tukang stempel”, akibat mereka sering meloloskan kebijakan-kebijakan yang tidak humanis dan pro rakyat.

“Negara kita dalam keadaan sakit, baik mental maupun moral. Sebagian besar dari kita sudah kehilangan sense of crisis dan cinta kasih kepada bangsa dan negaranya. Banyak dari mereka yang telah mengubah jubah dan singgasananya sebagai wakil rakyat serta melupakan khittah kemanusiaannya. Mereka menjadi seperti serigala-serigala politik yang hanya mengandalkan kekuatan, tidak ada nurani, tidak ada akal sehat, bahkan tak peduli yang kuat itu lacur. Mereka tidak lagi peduli pada kepentingan rakyat jelata yang hampir sebagian besar masih berkutat dengan masalah perut,” ujarnya.

Jack Ospara terpanggil untuk mengabdikan diri berbekal pengalaman dan ilmu pengetahuan yang sudah dialaminya selama puluhan tahun. Pengabdian dan perhatiannya yang sangat besar terhadap tanah leluhur itulah yang mengantarkannya menjadi seorang wakil rakyat utusan daerah atau anggota DPD-RI. “Saya hanya mengemukakan apa yang terbaik untuk dilaksanakan di negeri ini. Sesuai dengan visi saya, Menjadi Wakil daerah yang dapat dipercaya, Jujur, Terbuka, Memperjuangkan Pembangunan Daerah yang Adil dan Bermartabat bagi Kesejahteraan Masyarakat Penghuni Wilayah Seribu Pulau, Berdasarkan Kasih,” imbuhnya.

Menurut Jack Ospara, ada empat macam kasih yang mendasari kondisi tersebut. Yakni kasih Agape yang merupakan kasih tanpa syarat dan sanggup berkorban untuk sesama. Artinya dalam membantu tidak boleh membeda-bedakan agama, suku atau ras. Kasih agape adalah cinta kasih pemberian Tuhan yang paling hakiki.

Kedua adalah kasih Eros, yakni kasih yang dilandasi nafsu seperti keindahan, kekayaan, kecantikan dan lain-lain yang mengandung unsur kenikmatan di dalamnya. Ketiga adalah kasih Filos yakni filosofi, mengasihi dan mencintai teman. Keempat adalah kasih Storgos, yakni kasih yang memiliki ikatan yang erat seperti antara kasih orang tua.

“Ketiga kasih –Eros, Filos dan Storgos- tidak memiliki kekuatan penghubung relasi antar manusia dalam keluarga dan masyarakat bila tidak diikat dengan Agape. Tanpa kasih Agape, akan sulit membangun kebersamaan, persaudaraan, pertemanan dan kesesamaan dengan orang lain. Ini artinya bahwa kalau mau mengasihi rakyat Maluku ya harus mencintai Maluku. Mau membangun Indonesia ya harus mencintai rakyat Indonesia,” tegasnya.

Belajar, Belajar dan Belajar

Menurut Jacob Jack Ospara, M.Th., ketertarikan untuk terjun memperjuangkan suara rakyat Maluku telah terasah dan terbentuk karena keyakinan pada agama yang dianutnya. Dalam ajaran Kristen, kasih Agape Tuhan Yesus mengasihi setiap orang tanpa memandang agama, suku atau ras. Bahkan bila dalam gereja dibentuk apa yang disebut sinode dalam organisasinya, itu mengisyaratkan semua elemen; para pendeta, tua-tua, maupun anggota jemaat, wajib berjalan bersamaan, bergandengan tangan melayani, mengasihi dan berbuat sesuai karunia Tuhan memlihara dan mempertahankan kehidupan manusia dan masyarakat.

“Sinode berasal dari dua kata Yunani ‘sun’ artinya bersama-sama dan ‘nodes’ yang berarti jalan. Sinode atau ‘sunnodos’ artinya semua warga gereja berjalan bersama-sama dan melayani bersama. Tahun 1974 saya diangkat sebagai Sekretaris Departemen yang membidani pendidikan, penanganan pembangunan dan kesejahteraan sosial. Penerjemahan tugasnya mengarah pada manajemen pembangunan yang menggabungkan teologi dan masalah-masalah sosial yang berkembang di masyarakat. Realisasi dari karya Tuhan itu harus diwujudkan tidak hanya di rumah namun juga di masjid, gereja, rumah sakit, dan lain-lain,” tandasnya.

Jack adalah orang pertama, pada tahun 1975 yang menggagas pembentukan organisasi persatuan gereja rakyat Maluku. Untuk keperluan itu ia mengundang istri Menhan/Pangab RI, Ibu Yohanna Nasution dan Ibu Sri Sudarsono (adik BJ Habibie) ke Ambon untuk melihat dan bersentuhan langsung dengan realitas kehidupan rakyat Maluku.

Kepada mereka Jack menjelaskan bahwa kondisi susah yang dialami tersebut tidak pandang agama. Penganut agama Kristen, sama-sama menderita seperti saudara-saudaranya yang beragama Islam. Begitu juga sebaliknya, kondisi umat Muslim pun tidak jauh berbeda. Ini menjadi bukti bahwa Tuhan tidak pernah membedakan manusia, hanya manusia sendiri yang mengkotak-kotakkannya.

“Yang namanya kelaparan, kemiskinan tentunya dapat terjadi oleh semua umat manusia, tidak ada perbedaan agama baik Kristen, Muslim, Hindu, Budha, tidak juga ada pembedaan ras tionghoa, kulit hitam, Asia, Eropa dan lain-lain. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa masalah kemanusiaan itu sifatnya universal, kelaparan, kemiskinan, kemelaratan, penderitaan karena konflik dapat terjadi dan dialami oleh semua lapisan masyarakat. Namun, dibalik semua itu bahwa orang yang memaknai dan memahami agama secara baik tidak akan terjebak dalam fundamentalisme agama dan primordialisme yang kebablasan,” kata murid ulama besar Buya Hamka ini.

Jack yang berkawan karib dengan pemikir Islam Indonesia, almarhum Nurcholis Madjid ini memberikan ajaran kepada generasi muda untuk terus belajar dan tidak pernah berhenti menjadi manusia pembelajar. Dengan mempelajari segala hal, baik formal, informal dan mengacu pada pengalaman di masyarakat generasi muda akan memperoleh bekal yang baik untuk kehidupannya sendiri. Kalau itu yang terjadi maka bangsa Indonesia sendiri sangat beruntung memiliki generasi muda yang bermutu untuk memperbaiki kondisi sekarang.

“Pesan saya kepada generasi muda hanya satu, yakni belajar, belajar dan belajar. Belajar baik secara formal, informal dan pengalaman di masyarakat. Karena apa, hanya dengan belajar kita bisa membentuk diri kita sebagai pribadi yang baik. Setiap peristiwa yang dialami adalah kesempatan yang baik untuk belajar. Mengenal orang dari berbagai suku dan agama adalah pengalaman yang baik,” ujarnya.

Sekilas Jacob Jack Ospara

Jacob Jack Ospara lahir di Nuwewang, 18 Mei 1947, dari pasangan Hosea Ospara dan Isabela Lepit. Kehidupan pedesaan di perbatasan wilayah Kabupaten Maluku Barat Daya dan wilayah Timor Leste membuat “blue print” tentang kehidupan marginal yang dialami manusia terpatri abadi dalam pikirannya. Spirit untuk memerangi perlakuan diskriminatif tersebut kemudian mewarnai perjalanan hidup ayah tiga anak Maya, Hoberth dan Ari hasil perkawinannya dengan Maria Itje Wenno tersebut.

Meskipun orang tuanya hanya mengenyam pendidikan sampai kelas III Sekolah Rakyat (Volks School), namun tidak menyurutkan niatnya untuk memberikan pendidikan terbaik bagi putranya. Maka ketika berumur enam tahun, Jack bersekolah di SR GPM Nuwewang dan dilanjutkan ke SMP Negeri Wonreli, Pulau-Pulau Kisar. Di sini pula, pemikiran-pemikiran Jack semakin terasah. Pergaulannya yang luas dengan pemahaman terhadap dan pengenalan terhadap adat istiadat, bahasa dan budaya daerah lain menjadi dasar pembentukan kepribadiannya.

Jack yang semasa sekolah tidak dibiayai orang tua justru tidak merasa miris, bahkan sebaliknya hal tersebut menjadi semangat baginya untuk tetap berdaya hidup. Dalam proses panjang kehidupannya, secara sadar ia mengakui bahwa karakter kebangsaan dan kepribadiannya tidak lepas dari peran serta tiga orang polisi dengan latar belakang dan budaya berbeda yang ikut membiayai sekolahnya.

Proses pembentukan kepribadian itu semakin terlihat ketika Jack meneruskan sekolah di SMA Negeri 2 Ambon tahun 1963-1966. Gejolak politik tanah air terkait adanya perjuangan pembebasan Papua (Irian Barat waktu itu) dengan Trikora serta penumpasan pemberontakan PKI, semakin memotivasi semangat kebangsaannya. Ia aktif kegiatan sosial politik yang dikoordinir oleh organisasi-organisasi yang bersifat nasional seperti GSKI (Gerakan Siswa Kristen Indonesia). Jack juga aktif melakukan dialog intensif dengan siswa-siswa yang tergabung dalam GSNI (Gerakan Siswa Nasional Indonesia).

Masa SMA yang penuh pergolakan untuk mempertahankan eksistensi Negara Indonesia dari rongrongan PKI ditutup Jack dengan meneruskan pendidikan seperti yang dicita-citakannya, menjadi Pendeta. Di sisi lain, ia sebenarnya juga terpanggil untuk mengabdikan diri pada nusa dan bangsa dengan mengikuti wajib militer sukarela. Namun, setelah melalui perenungan yang dalam, cita-cita masa kecilnya lebih kuat memanggil. Jack kemudian meneruskan kuliah di Institut Teologi Gereja Protestan Maluku tahun 1967. Dua tahun kemudian, Jack dikirim ke Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta untuk menyelesaikan pendidikan sarjananya.

Semasa mahasiswa, Jack Ospara adalah aktivis yang banyak melakukan kegiatan-kegiatan organisasi kemahasiswaan dengan sikap yang militant. Ia bahkan menjadi anggota Dewan Mahasiswa dan aktif di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) cabang Ambon. Saat kuliah di STT Jakarta, Jack juga menjadi anggota Dewan Mahasiswa di kampus tersebut. Pada kesempatan inilah ia berkesempatan untuk melakukan dialog intesif dengan mahasiswa-mahasiswa dari Universitas Pancasila, Universitas Kristen Indonesia, STTF Driyarkara dan SAIN Syarief Hidayatullah. Aktivitas inilah yang mempertemukannya dengan Prof. DR. Hamka dan Nurcholis Madjid, dua sosok pemikir Islam terkemuka Indonesia.

“Pengalaman tersebut telah memperkaya sekaligus memperluas wawasan saya. Ini sangat berguna ketika saya menjabat di Gereja Protestan Maluku dan mengabdi di tengah masyarakat. Karena saya harus berhubungan dengan berbagai kalangan dalam lingkungan masyarakat,” tegasnya.

Berikut ini adalah aktivitas-aktivitas Jacob Jack Ospara, M.Th:

 Pendiri Musyawarah Perguruan Swasta (MPS) Daerah Maluku (tahun 1971)
 Pendiri Badan Koordinasi Kegiatan Masyarakat Kesejahteraan Sosial Provinsi Maluku
 Pendiri Yayasan Bina Asih Leleani Ambon (tahun 1983)
 Aktif menjadi Pengurus Pusat SOIna (Special Olympics Indonesia) sebagai Sekretaris Jenderal (2006-sekarang)
 Aktif di bidang Pendidikan Kristen sebagai Ketua III Majelis Pendidikan Kristen seluruh Indonesia
 Ketua FKKFAC Provinsi Maluku (tahun 2006-sekarang) dan Penasehat HWPCI Provinsi Maluku (tahun 2007-sekarang)
 Ketua Umum Lembaga Pengembangan Pesparawi Provinsi Maluku (tahun 1998 – sekarang)
 Pekerjaan di gereja dan Perguruan Tinggi
1. Pendeta/Penghentar Jemaat GPM di Saparua Tiouw (1973-1974)
2. Sekretaris Klasis GPM PP Lease (1974-1975)
3. Sekretaris Departemen Diakonia/Anggota Badan Pekerja Sinode GPM (Masa Bhakti 1974-1976 [1982])
4. Wakil Sekretaris Umum BPH Sinode GPM (tahun 1982-1986)
5. Sekretaris Umum BPH Sinode GPM (tahun 1986-1990)
6. Dosen Fakultas Filsafat UKIM Ambon (tahun 1990 – sekarang)
7. Pendiri dan Pimpinan Lembaga Kesejahteraan Anak dan Keluarga Inahaha (tahun 1983-1990)
8. Dosen Agama Kristen pada FKIP Unpatti Ambon dan PGSLP Ambon (1977-1988)
9. Penyuluh Agama Kristen di Lingkungan Bidang Bimas Kristen Kanwil Depag Provinsi Maluku (1976-1986)
Setelah terpilih sebagai Anggota DPD Provinsi Ambon, Jacob Jack Ospara berkomitmen untuk membangun daerah dan masyarakat Maluku dengan mengedepankan Visi dan Misi, yaitu:

Visi
Menjadi Wakil daerah yang dapat dipercaya, Jujur, Terbuka, Memperjuangkan Pembangunan Daerah yang Adil dan Bermartabat bagi Kesejahteraan Masyarakat Penghuni Wilayah Seribu Pulau, Berdasarkan Kasih

Misi
1. Memperjuangkan pemanfaatan sumber daya manusia (human resources) dan sumber daya alam (natural resources) guna mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat
2. Mengawal implementasi yang konsisten dan konsekuen semua perundangan dan peraturan negara guna menjamin pembangunan berbagai sektor berlangsung dengan transparan, akuntabel dan berkesinambungan demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat
3. Memperjuangkan terwujudnya otonomi khusus bagi Maluku sebagai Provinsi Kepulauan yang memiliki karakteristik laut – pulau
4. Memperjuangkan pengamalan nilai-nilai dasar Pancasila sebagai Falsafah Hidup bangsa Indonesia serta penyelenggaraan negara berdasarkan UUD 1945 secara fleksibel, dengan memanfaatkan kearifan lokal (local wisdom) sebagai pengejawantahan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat
5. Memperjuangkan terbukanya komunikasi sosial, politik dan kemasyarakatan antara pemerintah pusat dan daerah serta menjamin tetap tumbuhnya iklim demokrasi yang memungkinkan aspirasi daerah dan wilayah dihormati, dihargai serta diwujudkan dengan adil dan transparan