Tag: saya

Todung Mulya Lubis

No Comments

Tampan dan kaya, tetapi  bukannya bermain mata dengan artis-artis cantik. Malah membela (Si) Marsinah, buruh wanita yang di mata rezim militeristis Suharto harus mati dan didiamkan. Dia besar karena perjuangannya membela hak-hak asasi manusia dari mereka yang tertindas. Sikap hidup seperti itu membuat Todung menjadi sebuah paradoks. Semestinya dia hidup gemerlap sebagaima kehidupan yang selalu diasosiakan film-film murah atau sinetron. Todung jauh dari gambaran hidup seperti itu. Dia tidak terbawa arus yang melambung dalam kemewahan. Tidak main golf yang sekali main green fee-nya bisa Rp 250.000. Dia bina tubuhnya dengan sepeda stasioner, jalan kaki, dan vitamin C dosis tinggi. Makan sekedar memenuhi kebutuhan untuk bertahan hidup. Dia doyan makanan kampung, berlauk tempe dan tahu. Steak yang disuguhkan restoran-restoran mahal bukan seleranya. Dan dia tak tertarik mampir ke situ.

Sosoknya sebagai pengacara akan selalu dikenang, terutama ketika dia mengalahkan mantan Presiden Suharto dalam perkara tokoh rezim Orde Baru itu versus majalah TIME. Dia mencatat kemenangan dalam perkara itu sebagai puncak pencapain kariernya. Walau dia sempat menghadapi teror, diikuti, dan kantornya digarong untuk mendapatkan dokumen yang berkaitan dengan perkara yang dia tangani. ”Itu kemenangan yang monumental. Karena Suharto tak pernah terkalahkan selama ini,” katanya berbagi kemenangan dengan Dolorosa Sinaga, Martin Aleida, Hotman J. Lumban Gaoldari TAPIAN, yang mengunjunginya Jumat, 1 Muharram, 18 Desember 2009 lalu, di rumahnya yang besar dan nyaman di Cinere, Jakarta Selatan.

Kemewahan jam tangan berlapis emas yang melingkar di pergelangannya, juga dua handphone blackberry yang digenggamnya lenyap daya tariknya dibandingkan dengan kaos katun berwarna hitam dengan tulisan yang menantang persis di jantungnya: ”Saya Cicak Berani Lawan Buaya.”

Dalam pergulatannya untuk memenangkan kasus TIME melawan Suharto, berbagai macam teror yang dia terima dalam bentuk telepon, surat, SMS sampai ancaman fisik. ”Saya hanya pasrah kepada yang di Atas. Kalau tidak merasa melakukan kesalahan tidak perlu takut,” katanya. Dia bilang, semua orang yang punya keterikatan seperti dia akan mengalami ancaman serupa. Selama tiga tahun dia tak boleh bepergian ke luar negeri, paspornya dirampas. Dilarang memberikan ceramah maupun mengajar. ”Kantor saya dihancurkan, termasuk file-file saya,” katanya. Suharto marah karena dia terlalu keras, membela tahanan politik, termasuk membela Jenderal H.R. Dharsono, mantan panglima Siliwangi yang membangkang terhadap kekuasaan.

Sebenarnya, cita-cita Todung adalah diplomat. Dia terbuai oleh angan-angannya itu. Sedari duduk di bangku sekolah dasar dia tenggelam membaca biografi orang-orang besar, seperti biografi presiden pertama Amerika Serikat, George Washington, juga Thomas Jefferson, dan Benjamin Franklin. Tetapi, apa mau dikata, bukan dia yang berkuasa atas nasibnya sendiri. Dan, kalaupun cita-citanya untuk menjadi seorang diplomat memang kesampaian, barangkali, jejak yang ditinggalkannya dalam sejarah mungkin tak sebesar seperti sekarang.

Dia hanya akan dikenang sebagai seorang diplomat yang tak berdaya dari sebuah negara yang terus-menerus didera malu di dunia internasional, terutama di bidang hak-hak asasi manusia.
Amerika Serikat dan Aceh menjadi penentu jalan hidupnya. Selain karier, dia punya hubungan khusus dan kebetulan dengan negara adikuasi itu. Sama-sama merayakan ulangtahun 4 Juli (dia lahir di Muara Botung, Tapanuli Selatan, 60 tahun yang lalu.) Todung belajar ilmu hukum di Harvard University dan memperoleh gelar Ph.D in law dengan promotor Profesor Daniel S. Lev, seorang yang sangat berwibawa di bidang politik hukum Indonesia. Sarjana yang berkebangsaan Amerika Serikat itu, adalah guru dan sahabat baginya, dalam suka maupun duka.

Sementara orang Aceh yang ikut menempa dirinya adalah Yap Thiam Hien, pendekar hukum yang tak gepeng oleh linggis kediktatoran Suharto. Pengacara inilah yang dengan keyakinan hukum dan hati nuraninya, yang melebihi advokat lain ketika itu, membela mereka yang dituduh aparat hukum Orde Suharto terlibat dalam Gerakan Tigapuluh September 1965, terutama Dr. Subandrio, wakil perdana menteri dalam pemerintahan Sukarno.

Kemilau keteladanan Yap, mengilhami Todung untuk mendirikan Yap Thiam Hien Award, sebagai penghargaan tertinggi bagi mereka yang berprestasi besar dalam mempertahankan hak-hak asasi manusia. Sebagai sebuah kata, Todung berarti payung. Mulya adalah mulia. Ketetapan hatinya ibarat payung yang tetap berkembang walau diterpa angin atau hujan. Banyak yang menentangnya ketika mengadopsi nama yang terdiri dari tiga kata itu, tersebab Yap adalah Tionghoa (atau Cina, kata orang yang ingin merendahkan derajat golongan minoritas itu). Lagipula, Yap ’kan seorang Kristen!?

Ada dua orang lagi yang takkan dia lupakan. Ayahnya, Sati Lubis, orang yang pertama-tama mendidik anak kedua dari tujuh bersaudara ini mengenai demokrasi dengan membiarkannya besar mengikuti pilihan hatinya sendiri. Sati adalah salah seorang pendiri Antar Lintas Sumatera (ALS), perusahaan angkutan yang menghubungkan kota-kota di Sumatera dengan Jawa. Todung terpesona pada Mahatma Gandhi, sosok yang jujur, sederhana, dan anti-kekerasan.

Jalan hidup Todung menunjukkan bahwa tajamnya kepekaan perasaan menentukan jalan hidup. Katanya, dia mulai memasuki kehidupan melalui seni. Dulu, semasa masih di sekolah menengah atas, dan tak lama sesudahnya, dia sering menulis puisi, cerita pendek, dan main teater. ”Di sinilah kepekaan saya sebagai manusia diasah,” ucapnya dalam sebuah wawancara. Bersama penyair wanita Rayani Sriwidodo dia menerbitkan antologi puisi ”Pada Sebuah Lorong,” tahun 1968. Dia seangkatan dengan Sutardji Calzoum Bachri dan Abdul Hadi W.M.

Mereka tekun, ulet, dan terus berkarya. Sementara saya tidak. Saya masuk fakultas hukum. Saya tidak bisa total. Menjadi seniman juga membutuhkan komitmen yang solid,” katanya.

Ketika masih duduk di bangku universitas, dia sudah menjadi seorang aktivis. Protes terhadap pembangunan Taman Mini Indonesia merupakan debut awalnya sebagai seorang pembangkang kekuasaan. Dia termasuk yang beranggapan peningkatan taraf hidup guru dan pelayanan publik yang baik lebih mendesak daripada sebuah taman yang cuma sekedar tiruan dari apa yang telah dikerjakan di Muangthai.

Menjelang kuliah hukumnya selesai di Universitas Insdonesia (lulus tahun 1974), Todung magang di Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, dengan jabatan terakhir sebagai Direktur Bidang Nonlitigasi. Memandang jauh ke depan, dia beranggapan masalah hak-hak asasi manusia akan menjadi masalah mendesak. ”Ketika di Amerika, saya lihat laporan tentang negara kita (di bidang hak-hak asasi manusia) dibuat orang asing,” katanya mengenang. Todung kemudian terdorong untuk mendirikan divisi hak-hak asasi manusia di LBH. Tahun 1979, untuk pertama kali, LBH menerbitkan laporan tentang keadaan hak-hask asasi manusia di Indonesia, yang menjadi asal-mula laporan serupa yang diterbitkan secara rutin sampai sekarang.

Todong merasa berhutang budi pada LBH, yang disebutnya sebagai almamaternya yang kedua. Lembaga bantuan hukum itulah katanya yang membuka mata dan hatinya untuk bergumul secara lebih intens dengan soal-soal hukum, soal-soal keadilan. ”Dan saya kira pada akhirnya itu yang membawa saya sampai pada posisi seperti sekarang,” katanya. Di sini dia juga menyaksikan bagaimana Fauzi, temannya sesama mahasiswa yang dia masuk ke LBH, menjadi seorang yang kemudian menggugah kesadarannya tentang betapa agungnya perjuangan yang seseorang tak mengenal pamrih. Fauzi bergerak untuk menyadarkan buruh tentang ha-hak mereka dengan mengunjungi mereka dari rumah-ke-rumah. Jauh dari gemerlap publikasi. Fauzi meninggal karena sakit. Ketika membacakan elegi untuk Fauzi, sebagai salah seorang penerima Yap Thiam Hien Award, Todung kelihatan menangis di atas panggung Hotel Borobudur, di mana acara itu berlangsung pertengahan Desember lalu.

Jalan yang dia tempuh memang tidak mudah, tetapi nasib baik menyertai Todung. Gerakan mahasiswa yang menuntut perubahan terhadap jalan yang ditempuh pemerintah, yang menyebabkan ketimpangan sosial yang parah, mencapai puncaknya 15 Januari 1974. Simbol-simbol Jepang, yang dituduh mengeduk keuntungan dari keadaan perekonomian Indonesia waktu itu, menjadi sasaran. Gedung Astra di Jalan Sudirman, Jakarta, dibakar. Juga Pasar Senen. ”Orde Baru mengalami krisis yang hampir-hampir tidak mampu diatasinya. Terjadi vakum kekuasaan beberapa jam yang seharusnya sangat memungkinkan kudeta,” tulis sosiolog Daniel Dhakidae dalam pengantar ”Dari Kediktatoran sampai Miss Saigon,” sebuah kumpulan wawancara berbagai media dengan TODUNG MULYA LUBIS.

Puluhan aktivis ditangkap dan dihukum waktu itu. Todung seharusnya merasakan risiko dari kesejajaran pikiran dan kegiatannya dengan tokoh-tokoh yang terlibat dalam gerakan tersebut, tapi keajaiban menyelamatkannya. Sepanjang Desember 1973 sampai 14 Januari 1974, dia mengikuti ”Asia Pacific Student Leaders Program,” untuk mengenal Amerika Serikat yang diselenggarakan oleh Departremen Luar Negeri negara itu. Dia berada kembali di Indonesia pada saat gerakan mahasiswa di Jakarta, Bandung, Yogyakarta sudah sampai di puncaknya. ”Dengan demikian namanya mungkin tidak terlalu sering masuk ke dalam catatan para agen intelijen Orde Baru,” kata Daniel dalam pengantarnya.

Selama 18 tahun lamanya dia mengabdi untuk penegakan hukum melalui LBH. Lembaga ini jugalah yang membuka pintu jodohnya. Ketika bertugas selama enam bulan di Surabaya, untuk manangani kasus penggusuran, dia bertemu dengan Dokter Gigi Damiyati Soendoro. Setelah berpacaran selama lima bulan, mereka melangsungkan pernikahan 5 Juni 1983. Lengkaplah sudah yang diberikan LBH kepadanya. Jalan baru terbuka di depannya. Todung harus mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Lantas dia mendirikan kantor pengacara Lubis Santosa & Maulana.

Dia tidak mengatakan ada batas waktu untuk pengabdian. Ada masa untuk terbang tinggi-tinggi, entah ke mana. Dia telah menemukan kesempatan yang baik untuk mengatakan: ”Saya ini sudah kerja selama 18 tahun di LBH. Saya pikir itu sudah cukup lama. Saya kira saya sudah membayar sumbangan sosial saya kepada masyarakat, kepada bangsa.” Sudah saatnya dia memberikan arti yang lebih besar bagi landasan yang turut dia bangun. Dunia aktivis tidak seluruhnya dia lupakan. Sementara hoki-nya sebagai seorang profesional juga membawa keberuntungan. Dia tak suka pada pertanyaan yang menyangkut penghasilannya. Tapi, diperkirakan Todung menerima legal fee antara $375 sampai $550 per jam.

Tapi tak semua kasus membuat koceknya tambah menggelembung. Menjadi mesin uang bukan pilihannya. Ada sesuatu dalam hidup ini yang ingin dia capai. Integritas. Yang dia rambah sejak dia mengenal tulis-menulis, dan malahan menjadi wartawan ”Indonesia Raya” dan ”Sinar Harapan.” Tidak semuanya harus dihitung dengan uang. Katakanlah kasus yang menyangkut pers dan perkara politik. Dan dia bukanlah pengacara yang turut dalam koor besar para advokat ”hitam” yang disindir publik dengan plesetan, ”Maju Tak Gentar Membela Yang Bayar!”

Ketika memenangkan Jeffrey Winters melawan Menko Ginanjar Kartasasmita, guru besar ekonomi asal Amerika Serikat itu bertanya, ”Berapa utang saya pada Anda?” Jawab Todung: ”Tarif saya dalam dolar, sekian per jam.”
”Kok tinggi sekali?”
”Saya memang mahal.”
”Ya, sudah, kalau begitu, saya tidak bayar.”
”Nggak apa-apa!”
Sebagai imbalan jasanya, Jeffrey membelikan satu stel jas. Tetapi, apa mau dikata, begitu dicoba, jas itu kedodoran!
Pengabdian yang panjang, popularitas yang mengawang, kemapaman finansial yang sudah tercapai, apakah itu puncak yang menjadi obsesi Anda? Todung tidak kaget dengan pertanyaan yang diajukan tim TAPIAN. Dia sudah siap dengan jawaban tentang rencanya untuk meletakkan dasar yang lebih kuat lagi pada landasan yang sudah dia bangun selama dia menjadi aktivis.

Usia saya sudah 60. Sudah waktunya fading out. Saya ini sudah tidak seratus persen pengacara. Jadi, saya keliling, berkhotbah untuk penegakan hukum, untuk transparansi. Masalah yang dihadapi kantor saya, ada sekitar 30 lawyer yang menangani.”
Baginya, penegakan hukum kita sekarang carut-marut. Pasal pencemaran nama baik, sekarang tidak boleh lagi dipertahankan, harus dicabut, paling tidak teman-teman media mengatakan itu. Kesadaran baru ini menguatkan gerakan untuk tumbuhnya good governance, tata-kelola pemerintahan yang baik, dan tata kelola perusahan swasta yang baik.

Pada kasus Prita ada unsur kolusi di sana. Kemarin baru terungkap bahwa selama ini jaksa-jaksa yang menangani perkara itu mendapat check up gratis dari Rumah Sakit Omni International.
Apa itu korupsi? Mencuri itu ’kan dalam bahasa yang lain adalah korupsi. Korupsi itu ada dua kategori. Korupsi karena kebutuhan, atau corruption by needs. Orang korupsi karena tidak punya pendapatan yang memandai. Pegawai negeri yang hanya menerima gaji Rp 600.000 atau satu juta rupiah, tetapi punya anak empat. Bagaimana pun dia tidak bisa hidup satu bulan dari uang tersebut. Dia pasti melakukan korupsi kecil-kecilan, karena korupsi besar dia tidak mungkin lakukan. Dia tidak dalam posisi mengeluarkan izin yang memerlukan sebuah tanda tangan yang bisa dijadikan uang.

Orang-orang kecil mungkin tidak tahu apa yang dia lakukan. Jadi mungkin juga dia beranggapan masa’ hanya mencuri semangka bisa dipenjara. Nah, hal semacam ini bisa terjadi. Jaksa dan hakim harus punya rasa keadilan dalam menghadapi kasus-kasus seperti ini.
Korupsi kategori kedua adalah korupsi gede-gedean, corruption by greed atau korupsi karena rakus. Ini dilakukan oleh pejabat-pejabat yang mengeluarkan izin usaha. Nah, ini adalah korupsi karena memiliki kekuasaan. Korupsi yang terjadi karena kuasa yang diberikan tanpa kontrol.

Korupsi juga bisa dilakukan oleh mereka yang punya knowledge, punya pengetahuan. Misalnya, dengan mengotak-atik teknologi, dengan memindahkan uang dari rekening yang satu ke rekening yang lain. Dengan kemampuan menggoreng saham, mereka bisa menghasilkan uang yang banyak. Dan dengan kemampuan membuat proposal yang baik ke satu instansi pemerintah daerah, seseorang bisa mendapat satu proyek. Nah, ini semua adalah korupsi gede-gedean.

Kalau dilihat dari perspektif hukum, hukum di Indonesia ini kan tidak satu. Apakah penduduk di kampung, orang yang buta huruf, bisa mengerti hukum? Yang mereka tahu hanya hukum adat mereka yang tidak tertulis itu, yang merupakan warisan nenek-moyang mereka. Dengan sikap seperti itu, mereka tidak menganggap hal itu mencuri. Nah, ketika menghadapi kenyataan seperti ini, hakim kan mestinya arif dan bijaksana. Orang yang hanya mencuri kakao masa’ harus dihukum. Orang yang mencuri semangka itu tidak layak dihukum karena masalah ini ada acuannya dalam hukum adat setempat.

Pendidikan kita kan belum bisa memberikan pencerahan dan kesadaran bahwa ada hak dan kewajiban kita di dalam hukum. Itu dalam perspektif yang sangat sederhana. Soal Prita, dia tidak lagi orang yang miskin sama sekali, dan dia pasti tahu hukum. Dia orang yang terdidik yang memamfaatkan teknologi dalam memperjuangkan haknya, tetapi kemudian dijebloskan ke dalam penjara.

Fenomena terjadi adalah ketika simpati publik mendukung dia. Kasus hukum Bibiet dan Chandra dalah puncak dari gunung es permasalahan hukum kita, carut-marut hukum kita. Selama ini KPK memberantas korupsi dengan berani. Tetapi, karena adanya kepentingan, maka muncul kriminalisasi terhadap KPK.

Ketika saya masuk dalam Tim-8, kita panggil semua yang berkaitan. Ternyata tuduhan terhadap Bibiet dan Chandra tidak menemukan bukti bahwa mereka menyalahgunakan wewenang dan menerima suap. Maka, tidak ada pilihan lain kecuali harus membebaskan mereka berdua. Tetapi, puncak penghinaan terhadap nalar kita adalah ketika seorang Anggodo bisa mengatur kejaksaan dan kepolisian. Dan, nyatanya, sampai saat ini Anggodo belum juga ditangkap. Padahal, tidak harus ada laporan dari siapa pun, polisi sudah bisa menangkapnya dengan fakta-fakta yang ada. Tetapi, alasan polisi untuk tidak menangkapnya karena tidak ada yang melapor.

Sambil menunjukkan foto Anggodo dalam pakaian resmi sebagai sindiran facebookers, Todung menganggap pengakuan Anggodo dalam rekaman yang diperdengarkan Mahkamah Konstitusi merupakan penghinaan terhadap korps kepolisian. Perkembangan yang menarik dari gerakan ”Parlemen dunia maya” ini adalah tiada ideologi. Ada dari Islam garis keras, Muhammadiyah, NU, Kristen dan siapa saja. ”Parlemen dunia maya” ini sangat kuat, bisa menghimpun jutaan facebookers. Walaupun di lapangan barangkali mereka hanya bisa menghimpun seribu orang, karena masalah penghimpunan massa di lapangan sudah lain soalnya.

Carut-marut penegakan hukum ini menjadi dosa kolektif kita, tidak boleh mempersalahakan satu pihak. Wartawan pun juga ada yang menyalahgunakan profesinya. Kita tahu beberapa wartawan yang menjadi calo hukum. Di daerah, halaman surat kabar bisa dibeli. Jadi, ada juga dosa wartawan.

Angin dan badai ketidakadilan tidak akan ada ujungnya. Karena itu payung-payung yang mulia di bidang hukum tumbuhlah lebih banyak lagi. Dan, Todung Mulya Lubis janganlah tinggalkan medanmu …

 

Muhammad Arifin

No Comments

PT Catur Bijaksana

Keluar Daerah Untuk Mengembangkan Diri

Jakarta sejak dahulu menjadi tujuan utama urbanisasi atau perpindahan penduduk dari desa ke kota. Tujuan para “manusia” urban tersebut adalah untuk memperbaiki kehidupan masing-masing. Di desa, waktu seolah terhenti dan kehidupan tidak berkembang karena ketiadaan lapangan kerja, pembangunan dan infrastruktur. Akibatnya peluang untuk hidup lebih baik sangat kecil sehingga merantau ke kota adalah pilihan yang masuk akal untuk mengembangkan diri.

“Awalnya saya tertarik hijrah ke Jakarta karena ingin keluar dari daerah. Karena kalau hanya berkutat di daerah sangat sulit berkembang dan tidak memiliki kesempatan untuk maju. Mau tidak mau, orang daerah seperti saya harus berani keluar untuk mengembangkan diri. Jakarta menjadi pilihan untuk merantau setelah saya selesai kuliah di Kupang. Di ibukota juga sudah ada saudara yang merantau untuk sekolah,” kata Muhammad Arifin, Direktur Utama PT Catur Bijaksana.

Arifin berbekal ijazah sarjana teknik sipil segera mendapat pekerjaan di ibukota tahun 1990-an itu. Awalanya ia bekerja di proyek-proyek milik perusahaan asing dari Australia,India, korea dan jepang dengan sistem kontrak. Setelah beberapa kali pindah pekerjaan dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya (semua asing), ia mendapat tawaran dari seorang insinyur asal Jepang untuk membuka perusahaan sendiri.

Pucuk di cinta ulam pun tiba, pepatah ini rasanya sangat cocok disematkan kepada Arifin. Pria kelahiran Rote, 20 Juli 1970 ini, dengan sigap menyambut idea tersebut. Apalagi pengalaman selama bertahun-tahun di perusahaan kontraktor asing ditambah kariernya yang cemerlang, dirasakan cukup untuk membuka perusahaan sendiri. Jabatan sebagai manager satu-satunya yang diduduki oleh orang lokal, menambah kepercayaan dirinya untuk berdiri sendiri.

“Akhirnya saya menerima tantangan tersebut sehingga terbentuklah PT Pemalang Konstruksi, terletak di Pemalang Jawa Tengah. Lokasi tersebut dipilih karena kerja sama terakhir dengan ahli dari Jepang terjadi di Pemalang. Pengalaman dari orang-orang asing itu membuat saya banyak belajar dalam memanage perusahaan,” kata anak kedua dari empat bersaudara pasangan Yahya Muhammad Arief dan Nurati Arief tersebut.

Melalui PT Pemalang Konstruksi, Arifin menuai banyak keuntungan. Setelah berdiri pada tahun 2002, ruang lingkup perusahaan semakin luas. Tidak hanya mendapat sub contractor dari main contractor di seluruh pulau Jawa tetapi juga Sumatera. Semakin lama, perusahaan yang didirikan bapak 4 anak (2 laki-laki dan 2 perempuan) itu semakin maju dan berkembang.

“Makanya agar lebih eksis di dunia konstruksi, kita kemudian membuka usaha Kontraktor Umum , PT Catur Bijaksana. Tujuannya agar perusahaan kontraktor kita bisa mengambil pekerjaan langsung ke owner. Sementara nama Catur Bijaksana diberikan oleh anak perempuan saya. Anak saya empat maka catur, sementara bijaksana berarti arif bijaksana,” tegas suami Yeni Triyani tersebut.

Keluarga Tentara

Muhammad Arifin mengisahkan bahwa ia berasal dari keluarga sederhana dengan latar belakang sebagai tentara. Tugasnya ayahnya selalu berpindah-pindah di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) sesuai dengan perintah atasan. Ia menghabiskan masa kecil dan bersekolah SD-SMP di Manggarai. Sementara pendidikan STM dan perguruan tinggi ditempuhnya di Kupang.

“Ayah tidak pernah memaksa keempat anaknya yang semua laki-laki untuk mengikuti jejaknya menjadi tentara. Orang tua memberi keleluasan kepada anak-anaknya untuk memilih pekerjaan, ‘Yang penting baik’ katanya. Kami berempat memilih Teknik Sipil dan bekerja pada bidang konstruksi. Kakak saya bekerja di perusahaan asing, kemudian adik saya di perusahaan swasta nasional sementara si bungsu ikut saya di sini,” ujarnya.

Arifin sangat bersyukur dukungan keluarga terhadap karier yang digeluti sangat besar. Pengertian terhadap tugas-tugasnya di pembangunan konstruksi membuat ia sering pulang pagi atau menginap. Namun, keluarga memiliki pengertian yang tinggi sehingga merelakan suami dan ayahnya untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Di sisi lain, sang istri pun memiliki bisnis sendiri berupa studio musik sehingga pasangan ini sama-sama sibuk.

“Makanya kita kalau sudah libur tidak boleh diganggu gugat waktu bersama keluarga. Jalan-jalan, nonton konser dan lain-lain karena anak-anak saya bisa bermain musih mewarisi bakat ibunya. Untuk meneruskan usaha ini, anak saya yang arsitek sepertinya cocok. Karena arsitek dengan perusahaan konstruksi seperti ini sangat dekat, menyatu dalam satu bidang,” ungkapnya.

Meskipun sudah menyiapkan anak untuk melanjutkan perusahaan, Arifin menyadari bahwa anaknya pun seperti juga generasi muda lainnya. Yakni generasi yang lebih senang yang serba instant, cepat dan menghasilkan uang yang banyak. Hal itu, menurut Arifin memang seperti hukum ekonomi namun anak-anaknya dipesan agar meskipun mengikuti tren tetapi perencanaan masa depan harus dipikirkan.

“Generasi muda Indonesia lainnya saya rasa masih baik-baik saja selama tetap dibimbing dan mendapat kontrol orang tua. Mereka jangan sampai dilepas seratus persen, bahaya. Yang harus dimiliki mereka adalah sifat jujur,kerja keras dan rajin karena akan berguna bagi masa depannya. Dari situ, mereka mendapat tambahan ilmu pengetahuan melalui pelatihan, seminar dan lain-lain. Generasi muda juga tidak boleh terlalu berharap menjadi pegawai, mereka harus memiliki mindset untuk menjadi entrepreneur,” tandasnya.

Memberikan Pelayanan Terbaik

PT Catur Bijaksana saat ini mempekerjakan karyawan dalam jumlah besar. Terdiri atas 15 karyawan di kantor dan ratusan lainnya karyawan lapangan dan workshop. Sebagai perusahaan, terkait kemajuan yang dicapai sekarang ini tentu tidak lepas dari tantangan, suka dan duka yang harus diatasinya. Yang paling menyakitkan adalah ketika proyek berhasil diselesaikan tetapi main kontraktor yang nakal malah kabur.

“Kita sebagai sub contractor tinggal menghitung kerugiannya. Makanya kita buat perusahaan PT.Catur Bijaksana yang berkedudukan di BSD serpong Tangerang dengan sertifikasi Gred-5, itu agar kita juga bisa ‘bermain’ sebagai kontraktor, tidak sub lagi. Moto kami adalah ‘Kami memberikan pelayanan terbaik’ seperti yang tertanam di seragam kerja karyawan ‘We serve you better’. Kami berharap pelayanan kami memuaskan sehingga klien menggunakan jasa kami lagi berulang-ulang,” karena kesuksesan kami dalam melaksanakan proyek bukan hanya diukur dari keuntungan dan selesainya proyek saja, tetapi apakah kami diundang lagi untuk mengerjakan proyek-proyek klien tersebut, tandasnya.

Dengan mengusung moto “Kami memberikan pelayanan yang terbaik”, membuat Arifin pantang untuk mengecewakan klien. Tidak menepati janji, tidak mengerjakan pekerjaan dengan baik atau pekerjaan lewat dari deadline yang sudah ditetapkan juga menjadi pantangan besar di perusahaan miliknya. “Staf saya kasih pengertian bahwa pimpinan mereka adalah saya tetapi bos kita adalah klien. Karena kalau kita baik terhadap klien, pekerjaan akan berlangsung terus,” imbuhnya.

Menurut Muhammad Arifin prospek perusahaan konstruksi ke depan sangat menjanjikan. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin menggembirakan, pembangunan di Indonesia semakin tinggi intensitasnya. Kebutuhan akan tempat tinggal akibat ledakan jumlah penduduk serta gedung, jalan dan jembatan sangat tinggi. Ia yakin, selama masih ada lahan terbuka perusahaan konstruksi miliknya terpakai untuk pembangunan.

Hanya saja, kendala yang dihadapi saat ini dan ke depan adalah peran pemerintah dalam pembangunan. Selama ini pemerintah melalui APBN adalah pemilik proyek terbesar di Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Pemerintah sebagai pemilik proyek sudah memiliki rekanan tertentu dengan kelengkapan persyaratan seperti sertifikasi. Tanpa sertifikasi di perusahaan, jangan pernah bermimpi untuk memperoleh pekerjaan dari proyek pemerintah.

“Makanya melalui asosiasi perusahaan kontraktor kita berusaha mendapatkan sertifikat keahlian, pelatihan dan lain-lain. Ini juga sangat berguna dalam menghadapi era globalisasi yang harus menyiapkan SDM handal. Kami mengirimkan staf-staf untuk mengikuti pelatihan sehingga memperoleh sertifikasi agar mampu bersaing dengan perusahaan lainnya. Misalnya kalau kita masuk ke departemen tertentu, dengan kualifikasi orang-orang kita, maka kita masih bisa diterima,” tambah pengagum HM Jusuf Kalla ini.

Selain mengirimkan karyawan untuk mendapatkan sertifikasi, Arifin juga mengembangkan hubungan kekeluargaan dengan karyawan. Apalagi para staf yang bekerja padanya sudah memiliki hubungan kerja yang cukup lama. Yakni sejak ia masih bekerja pada perusahaan asing, mereka juga anak buah dibawah kepemimpinannya. Bahkan ia pun sudah mengenal dekat keluarga karyawan dengan baik.

“Rata-rata mereka datang dari jauh seperti Jawa, Lampung, Palembang dan lain-lain. Mereka ini terhadap saya sudah sangat setia dan loyal. Karena tempat tinggal mereka jauh maka saya sediakan mess, lengkap dengan kebutuhan mereka sehari-hari. Jadi mereka tinggal berpikir bekerja untuk keluarga dan perusahaan,” katanya menutup pembicaraan.

 

Lolok Sudjatmiko

No Comments

Chairman PT. Niaga Sapta Samudera

Kepuasan Batin Menekuni Bisnis Angkutan Laut

Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang mempunyai lebih dari 17 ribu pulau besar dan kecil dan mempunyai garis pantai lebih dari 8 juta KM merupakan negara dengan garis pantai terpanjang ke 2 setelah Canada, membuat transportasi laut antar pulau di Indonesia mempunyai peran yang sangat penting dan akan menjadi sektor yang dominan. Penggunaan pesawat terbang memang praktis dan cepat, tetapi daya angkut yang terbatas untuk mobilitas orang dan barang menjadi kurang efektif dan mahal.

Angkutan menggunakan kapal adalah solusi yang paling tepat untuk Indonesia yang paling tepat untuk Indonesia. Kapasitas angkut kapal yang massal baik orang maupun barang membuat moda transportasi ini seharusnya bisa menjadi andalan tumpuan dalam pengembangan pembangunan. Namun, minimnya infrastruktur yang di sediakan pemerintah membuat industri angkutan laut Indonesia sedikit terhambat. Padahal, nenek moyang bangsa ini di kenal sebagai pelaut yang tangguh.

“Angkutan Laut di Indonesia sekarang semakin diperlukan. Pertumbuhan penduduk yang semakin cepat membuat pulau-pulau kecil pun mulai berpenghuni. Untuk mobilitas mereka diperlukan angkutan kapal yang memadai. Kendalanya, banyak infrastruktur yang kurang mendukung angkutan laut modern di beberapa daerah. Misalnya pelabuhan yang di bangun ala kadarnya sehingga tidak dapat di sandari kapal-kapal besi di atas 800 DWT. Keberadaan armada tradisional yang menjadi tulang punggung transportasi lokal bagi orang dan barang di daerah, berkembang apa adanya dan masih sangat perlu pembinaan dan dukungan dari Pemerintah” kata Lolok Sudjatmiko, Chairman PT. Niaga Sapta Samudera.

Wakil Ketua Umum DPP INSA periode 2008-2011 ini berharap, organisasinya mampu membantu masyarakat di daerah terpencil. Seperti bagaimana memberikan nilai tambah terhadap hasil pertanian atau perkebunan di daerah terpencil dengan membawa keluar dari wilayah tersebut. Ia mengusulkan agar hasil pertanian di angkut oleh kapal-kapal tradisional ke suatu titik pelabuhan. Pada lokasi yang sudah di tentukan menunggu kapal-kapal INSA yang lebih besar untuk di angkut ke daerah lain atau luar negeri sehingga nilai jualnya menjadi tinggi.

Menurut Djatmiko panggilan akrabnya, pemerintah perlu mengembangkan angkutan laut sebaik mungkin. Sebagai negara kepulauan, sudah selayaknya kalau lalu lintas laut di wilayah Indonesia mendapat perhatian lebih.

“Saya tertarik menggeluti bisnis angkutan laut salah satunya karena faktor geografis negara kita. Dengan penyebaran penduduk yang tersebar di mana-mana. Semua itu bias di jangkau dengan angkutan laut, karena angkutan laut itu merupakan angkutan massal yang tidak dipunyai oleh moda angkutan lain seperti angkutan darat maupun udara,” ungkapnya.

Di sisi lain, Djatmiko yang senang traveling mengaku bangga dengan usaha yang dilakukannya. Selain bekerja, ia juga berkesempatan untuk mengunjungi pulau-pulau besar dan kecil di seluruh wilayah Indonesia. Meskipun demikian, ia juga harus siap menanggung risiko bisnis angkutan laut seperti pengaruh anomaly cuaca yang tidak bias diprediksi belakangan ini.

“Kendala lain dalam bisnis angkutan laut adalah kurang terkoordinirnya pelayanan antar lembaga baik lembaga swasta maupun lembaga pemerintah, contohnya beberapa peraturan bahkan undang-undang masih diartikan dan di terapkan secara ego sektoral, sehingga membuat kebingungan para pengusaha pelayaran. Kurang fokusnya pemerintah dalam mengembangkan dan memperbaiki sarana dan prasarana pelabuhan, adalah salah satu penyebab ekonomi biaya tinggi di sector transportasi laut. Dengan harapan suatu saat kalau dukungan pemerintah sudah baik, saya percaya transportasi laut akan menjadi primadona. Yang jelas segala kelebihan dan kekurangan yang ada saya memiliki kepuasan batindengan berkiprah di bisnis angkutan laut,” tegasnya.

Laporan Harian

Sebagai pengelola perusahaan tongkang dan tugboat, Djatmiko memiliki kiat sendiri menghadapi persaingan. Selain mengutamakan service, perusahaan miliknya juga memberikan layanan lebih baik kepada pelanggan. Salah satunya adalah dengan memberikan laporan berkala terhadap pemilik barang shipper yang mempercayakan pengirimannya. Tujuannya, pelanggan mengetahui dengan pasti proses pengiriman barang miliknya.

“Bisnis tongkang dan tugboat ini bias diibaratkan tanpa managemen pun sudah jalan, namun pengalaman saya yang pernah bekerja di beberapa perusahaan pelayaran besar yang di manage dengan baik, menggerakan saya agar berusaha mengaplikasikannya di perusahaan sendiri. Makanya meskipun perusahaan tongkang dan tugboat jarang memberikan laporan harian dan keterbukaan akses informasi kepada penyewa, tetapi menjadi keharusan di perusahaan kami, itu salah satunya” tegasnya.

Meskipun masih berkutat di bisnis kapal tongkang dan tugboat, Djatmiko menargetkan di masa mendatang memiliki armada kapal yang lebih besar. Saat ini, dengan tongkang dan tugboat jangkauan layanan yang diberikan baru berkisar Negara-negara ASEAN. Sementara kapal besar mampu mengjangkau seluruh dunia. Untuk itu, ia sedang menyiapkan SDM yang akan mengoperasionalkan kapal besar di kantornya dalam waktu yang tidak lama lagi.

Di perusahaan yang didirikan tahun 2005 tersebut, Djatmiko baru memiliki delapan set tongkang dan tugboat. Ia merencanakan, tahun ini armadanya bertambah 4-5 set dan akan di pertahankan pertumbuhan perusahaan setiap tahun. Untuk jangka panjang, ia akan terjun di armada kapal lebih yang lebih besar dengan membeli dan mengoperasikan kapal-kapal type Handy Max dan Pana Max. Seperti juga nama perusahaan PT. Niaga Sapta Samudera yang memiliki harapan suatu saat nati armadanya akan mengarungi tujuh samudera di dunia ini demi kejayaan armada Merah Putih.

“Harapan saya, kapal-kapal Merah Putih kami akan bias mengarungi tujuh samudera dan menyinggahi lima benua. Saya memulai usaha ini tahun 2005 dengan secara intensif mencarter kapal. Baru tahun 2008 saya mulai membangun armada kapalsendiri sampai sekarang. Dengan dukungan karyawan darat sekitar 20 orang dan di laut sekitar 80 orang karena setiap tugboat dioperasikan oleh 10 orang,” ujarnya. Dalam menjalin gubungan dengan karyawan. Djatmiko tetap menggunakan jalur hirarki untuk urusan rutinitas pekerjaan, “Tetapi diluar kedinasan kita harus kembali sebagai makhluk Tuhan yang saling menghormati, saling memberi dan menjalankan aspek sosiallainnya,” imbuhnya.

Keinginan memiliki kapal besar seperti bulker, tanker dan lain-lain, menurut Djatmiko tidak lepas dari keinginannya untuk meberi sumbangsih bagi Negara. Karena dalam jangka panjang, ia merasa tidak puas apabila hanya berkutat di bisnis tongkang dan tugboat saja. Apalagi, sebagai Wakil Ketua Umum INSA ia sangat paham seperti di gariskan dalam AD/ART organisasi tersebut. “Keberadaan organisasi inimembantu anggota mencapai tujuan yang lebih baik. Kemudian membantu infrastruktur dan non infrastruktur di seluruh Indonesia,” tambahnya.

Masuk Militer

Sebetulnya, Lolok Sudjatmiko tidak memiliki latar belakang kelautan sama sekali, Bahkan ia lahir di Kota Kediriyang jauh dari laut dan dibesarkan di Bandung. Orang tuanya, Lasmijan W. Sudjatmiko dan Sutati adalah anggota kesatuan TNI Angkatan Udara. Selepas SMA di Bandung, anak kedua dari tiga bersaudara ini memilih untuk tidak mendaftarkan diri di perguruan tinggi mana pun dan langsung memilih Akademi Maritim Indonesia untuk belajar dasar-dasar Manajemen Pelayaran Niaga.

“Karena saya menolak keinginan orang tua yang men-drill saya untuk masuk militer. Makanya saya masuk Akademi Maritim Indonesia yang berhasil saya selesaikan tahun 1998. Saya sempat meneruskan sebentar di CaliforniaMaritime Academy, Valejo, California melalui program khusus bagi mahasiswa/taruna asing,” kisahnya.

Tahun 1990, Djatmiko kemudian bergabung di PT. Gesury Group. Perusahaan ini merupakan perusahaan pelayaran yang cukup besar dan terkenal di tanah air dan di Dunia hingga akhir tahun 2002.

Keinginan untuk berkiprah di dunia angkutan laut yang memiliki jangkauan luas membuat Djatmiko mengundurkan diri. Bersama ibeberapa orang rekan mendirikan usaha sendiri di bidang tongkang dan tugboat tahun 2005. Menurut perhitungannya, untuk belajar bisnis di dunia pelayaran dengan memulai dari tongkang dan tugboat sangat bagus untuk belajar.

“Untuk entry di bisnis pelayaran niaga, tongkang dan tugboat bagus untuk belajar. Harapan saya ke depan perusahaan terus maju hingga mempunyai kapal-kapal yang bias melayani barang-barang ekspor ke luar negeri. Saya yakin, kedepan bisnis angkatan laut akan lebih mendominasi sebagai alat distribusi di tanah air. Ini bisa kita lihat, meskipun Surabaya-Madura memiliki jembatan Suramadu tetapi feri tetap penuh. Begitu juga dengan jalur Merak dan Bakaehuni, kapal berapapun beroperasi di sana tetap kurang,” tegas suami Rumiris Hermina dengan tiga anak ini.

Lolok Sudjatmiko sangat berterima kasih atas dukungan keluarga yang luar biasa terhadap kariernya. Pria kelahiran Kediri, 01 Februari 1967 ini telah menanamkan kepada keluarga bahwa perusahaan adalah sumber kehidupan bagi masa depan keluarga sehingga ia tidak bisa main-main. Ia harus total membesarkan perusahaan demi masa depan mereka semua.

“Sejauh ini, langka-langka saya mendapat dukungan dari keluarga. Istri dan ketiga anak saya, dua perempuan dan satu laki-laki, pertama SMP kelas II, ke-II SD kelas VI dan terakhir SD kelas II mendukung karier saya. Untuk itu pada hari-hari kerja saya bisa mencurahkan perhatian saya ke perusahaan, tetapi kalau hari Sabtu saya tidak jarang mencurahkan waktu saya untuk bermain bersama keluarga. Kalau hari Minggu saya dari pagi sampai sore full ke gereja menunggu anak-anak. Setiap pagi saya sempatkan untuk mengantar anak sekolah dan pada hari-hari libur terkadang juga mengajak mereka berkunjung ke kapal kalau lagi dok,” kisahnya.

Dengan begitu, Djatmiko berharap agar setiap saat masih bisa memantau perkembangan anak-anaknya. Jangan sampai kejadian seperti yang dialami oleh beberapa orang temannya yang karena kesibukan menjadi tidak mengenal sifat dan kehidupan anaknya sendiri. Ia berharap, suatu saat salah seorang anaknyaakan mewarisi bakatnya untuk meneruskan usaha ini. “Mudah-mudahan saja. Saya percayakan perawatan anak-anak kepada istrinya. Nanti kalau dua-duanya sibuk malah repot,” tambahnya.

Kepada generasi muda, Lolok Sudjatmiki berpesan agar mereka memberikan yang terbaik kepada Bangsa dan Negara. Kalau memiliki sebuah cita-cita mereka harus total dan berjuang untuk mewujudkannya. Seperti dirinya yang terjun di bisnis angkutan laut, mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kemajuan transportasi laut dan sector kemaritiman lainnya di Indonesia.

“Kalau perlu, apapun harus dikobarkan untuk meraih cita-cita kita, sepanjang pengorbanan itu dapat di pertanggung jawabkan di muka Hukum, terlebih di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Selain itu, kita harus jujur terhadap pemerintah dalam membayar segala kewajiban sebagai warga Negara, jujur kepada mitra kerja kita, jujur terhadap diri sendiri dan keluarga,” kata Lolok Sudjatmiko.

Hadi Sukarno

No Comments

PT Urip Lancar Abadi

Menaklukkan Ibukota dengan Ijazah SLTP

Kerja keras, berusaha mencari peluang dan selalu berdoa adalah kunci kesuksesan. Ketiganya bisa dilakukan oleh siapa pun yang menginginkan kebaikan dalam hidupnya. Tak peduli latar belakang pendidikan dan keluarganya, asalkan memiliki kemauan untuk maju, jalan kesuksesan akan terbentang.

Perjalanan hidup Hadi Sukarno bisa menjadi contoh bagaimana perjuangan membuahkan kesuksesan. Ia merantau dari daerah asalnya di Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta ke ibukota tanpa modal apapun. Menumpang pada tetangganya yang bekerja di Bank Indonesia, ia bertarung memperjuangkan hidupnya di ibukota. Modalnya, selembar ijazah Sekolah Tekni (ST) yang baru saja diperolehnya pada tahun 1969.

“Saya agak minder karena setamat Sekolah Teknik, setara dengan SLTP tidak mampu melanjutkan sekolah lagi. Maka, pada hari Senin Kliwon, 1 Januari 1971  saya berangkat ke Jakarta. Saya ikut tetangga yang karyawan BI dan tinggal di Grogol. Saya bekerja pada tetangganya yang memiliki bengkel,” kata pemilik PT Urip Lancar Abadi ini.

Karena baru lulus tingkat SLTP, perawakan Karno –panggilan akrabnya- masih  sangat kecil. Oleh karena itu, ia hanya diterima bekerja untuk sekadar membantu-bantu di bengkel seperti mengepel, menyeterika dan antar jemput anak sekolah. Ia “tidak dianggap” untuk bekerja di bengkel yang harus mengangkat mesin-mesin yang berat. Meskipun demikian, ia tidak berputus asa dan tetap bertekad untuk bekerja di bengkel. Di saat tugas rumah tangga selesai, ia akan membantu pekerjaan di bengkel.

Cita-cita Karno untuk bekerja di bengkel baru tercapai tiga tahun kemudian. Melihat pekerjaan yang dilakukannya dalam waktu singkat kariernya pun menanjak. Ia sempat menjadi Kepala Bengkel PT Rosiba Sakti meskipun banyak montir yang lebih piawai darinya. Perusahaan tempatnya bekerja memiliki angkutan peti kemas di Tanjung Priok dan ia diangkat sebagai Kepala Operasional Peti Kemas.

“Tahun 1975, saya menikah dan memiliki anak pertama tiga tahun kemudian. Anak kedua saya lahir pada tahun 1984 dan tahun 1988 kami pindah ke Bekasi.  Akibat kepindahan itu, saya terpaksa mengundurkan diri secara baik-baik dari pekerjaan karena terlalu capai. Rumah di Bekasi sementara pool-nya di Kapuk setiap hari harus bolak-balik, lumayan menguras tenaga,” ungkapnya.

Setelah tidak bekerja Karno belajar mandiri. Dari pesangon dan uang simpanan yang dimiliknya ia membeli sebuah mobil. Dengan mobil tersebut, ia bergabung di Tanjung Priok untuk menawarkan jasa antar barang. Saat itu, ia sering mengantarkan barang di PT IFF. Akhirnya karena melihat penampilan Karno yang selalu rapi dan necis, ia ditarik perusahaan tersebut untuk mengantarkan produk kepada customer-customer-nya.

Sebuah peristiwa yang terjadi pada PT IFF mengubah perjalanan hidup Hadi Sukarno. Yakni ketika barang produk perusahaan baru selesai dikerjakan pukul 20.00 dan harus dikirim ke Surabaya untuk digunakan produksi pada pukul 13.00 keesokan harinya. Biasanya, untuk pengiriman barang keluar kota digunakan perusahaan ekspedisi yang biasanya tutup pukul 16.00. Akhirnya diputuskan Karno yang akan mengirimkan barang tersebut ke Surabaya.

“Tugas tersebut saya terima. Dengan menyewa kendaraan yang biasa membawa barang rute Jakarta – Surabaya, barang diterima pukul 11.15 siang. Saat perusahaan di Jakarta telepon, pihak Surabaya mengonfirmasi kalau barang sudah diterima. Atas prestasi tersebut, saat sampai di Jakarta seluruh karyawan sampai general manager yang orang Inggris memberikan ucapan selamat. Selain itu, diputuskan bahwa mulai hari itu pengiriman ke Surabaya diserahkan kepada saya, tidak lagi menggunakan jasa perusahaan ekspedisi,” kisahnya.

Mendirikan Perusahaan

Meskipun sudah “memegang” pengiriman barang PT IFF, pria kelahiran Wonosari, 24 Agustus 1952 ini tetap bekerja secara pribadi. Belum pernah terpikirkan untuk mendirikan perusahaan sendiri dan terpaksa menggunakan PT Rosiba sebagai bendera. Untungnya, pemilik perusahaan tersebut masih  berbaik hati terhadap anak buah kesayangan yang sudah keluar tersebut.

“Jadi namanya PT Rosiba, tetapi proyek yang mengerjakan saya. Kalau urusan keuangan saya tinggal minta pada bos Rosiba. Suatu saat bos sedang ke luar negeri, sementara saya butuh uang sehingga tidak bisa mengambil. Dia menyuruh saya untuk membuat PT sendiri dan membuat rekomendasi ke Bukopin. Akhirnya saya menggunakan jasa notaris dan mengajukan dua nama perusahaan ke Departemen Kehakiman, PT Lancar Abadi dan PT Urip Lancar. Kedua nama tersebut sudah ada maka Departemen Kehakiman mengusulkan nama PT Urip Lancar Abadi. Jadilah nama itu sampai sekarang,” tuturnya.

Seiring perjalanan waktu, perusahaan milik sulung dari lima bersaudara pasangan Darto Pawiro dan Karmi ini semakin berkembang. Salah satunya adalah pemeringkatan yang dilakukan oleh PT Unilever setiap tiga bulan sekali bagi para supplier. Check record tersebut digunakan sebagai indikator untuk melihat ketepatan pengiriman barang untuk perusahaan tersebut dari supplier.

Dari data yang ada, terlihat bahwa PT IFF yang menggunakan jasa pengiriman milik Karno –saat itu belum memiliki perusahaan- menjadi nomor satu dalam ketepatan. Oleh karena itu, direktur PT IFF tidak segan-segan untuk merekomendasikan angkutan tanpa nama miliknya untuk mengangkut barang-barang mereka. Akhirnya, perusahaan-perusahaan besar menggunakan jasa perusahaan meskipun berdasarkan iklan dari mulut ke mulut.

“Saya bisa ‘menguasai’ angkutan barang ke Surabaya dari perusahaan-perusahaan tersebut yang biasanya menggunakan jasa ekspedisi. Saking tepatnya, Wing Surya Group di Surabaya memberikan julukan kepada PT Urip Lancar Abadi sebagai perusahaan one day service. Tetapi saya bilang kepada mereka, bahwa saya tidak berani mencantumkan itu meskipun layanan tersebut diakui. Yang jelas, moto saya adalah ‘Kami ada melayani anda’. Saya berusaha untuk memberikan bukti bukan janji,” tegas suami Sumarmi ini.

Menurut Karno, dengan tingkat kondisi jalan sekarang ini, pengiriman barang dari Jakarta – Surabaya melalui darat memakan waktu maksimal 20 jam.  Sesuai dengan tuntutan pekerjaan, dari hanya satu mobil perusahaan mampu membeli beberapa armada lagi. Hingga saat ini, armada yang dimiliki perusahaan mencapai 25 mobil.

Menurut Karno, pasca tahun 2010 banyak perusahaan kelas internasional yang menuntut standar ISO. Tidak ketinggalan, PT Urip Lancar Abadi pun menerapkan ISO bagi perusahaan. Angkutan yang tadinya hanya terdiri atas truk sekarang sudah menggunakan mobil box semua. “Berdasarkan pengalaman, setiap mobil uzur langsung diganti mobil baru, untuk efisiensi. Meskipun mobil banyak, tetapi saya tidak pernah memakai tenaga montir untuk maintenance. Mobil saya sehat semua, kalau perawatan kecil dikerjakan sendiri dan sebelum turun mesin mobil sudah diganti baru,” tandasnya.

Meniatkan untuk Ibadah

Hadi Sukarno sebagai pelaku usaha berharap agar pemerintah memberikan rasa aman terhadap dunia usaha. Bagi pengusaha, kebutuhan terhadap keamanan yang kondusif sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan usahanya di Indonesia. Meskipun demikian, kondisi aman tersebut memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kondisi politik di tanah air.

“Banyak perusahaan yang ‘pura-pura’ bangkrut padahal memindahkan perusahaannya ke luar negeri. Harapan saya tetap keamanan saja, karena kalau kondisi sudah aman mudah-mudahan banyak investor datang dari luar negeri. Ke depan, mudah-mudahan saya akan membawa perusahaan menjadi besar, profesional dengan meniatkan diri untuk ibadah. Karena saya bisa merekrut orang-orang yang sedang menganggur, membantu anak yatim dan lain-lain,” tegasnya.

Saat ini, Karno berusaha untuk membantu anak-anak yang kurang mampu tetapi memiliki kemampuan tinggi. Ia memiliki sembilan anak asuh sembilan yang dua di antaranya sedang menempuh pendidikan tinggi. Selain itu, ia juga berusaha untuk merekrut anak-anak kampung yang memiliki kemampuan tetapi tidak ada biaya untuk mengembangkan kemampuannya.

Sepanjang bulan Ramadhan, Karno bekerja sama dengan Polres setempat memberikan takjil bagi orang-orang yang berpuasa. Kegiatannya tersebut mendapat dukungan penuh dari gereja tempatnya beribadah. “Tadinya saya hanya ikut-ikutan bersama Polres untuk memberikan takjil kepada para pengendara yang melintas,” imbuhnya.

Setelah berlangsung beberapa saat, akhirnya Karno memutuskan untuk mengadakan bakti sosial selama sebulan penuh dengan memberikan takjil bagi umat muslim yang puasa. Akhirnya pihak gereja menganggarkan dana bakti sosial untuk hal yang sama. “Kalau anggaran bakti sosial gereja itu ada yang untuk orang miskin beragama Kristen dan anggaran bakti sosial untuk umum yang harus disampaikan, seperti takjil ini. Kebetulan ketua seksinya adalah saya,” tambahnya.

Sesuai dengan sikapnya yang selalu berusaha “Berbagi Kasih”, Karno juga menerapkan standar penggajian dan kesehatan yang tinggi bagi karyawan.  Meskipun dikelola secara tradisional, ia memberikan gaji yang melebihi UMR dan menggunakan asuransi kesehatan dengan jaminan lebih tinggi dari Jamsostek, standar Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia.

“Untuk ukuran kesehatan paling unggul karena kita menggunakan asuransi AIA. Karena kita tahu pekerjaan sopir di ekspedisi ini risikonya cukup tinggi. Dengan tanggungan keluarga dan menjadi gantungan mencari nafkah, perlindungan seperti itu layak mereka dapatkan. Bahkan kalau ada karyawan yang sudah keluar pun, asalkan dengan baik-baik mereka boleh menggunakannya. Lha, sudah kita bayar,” kata pengusaha yang baru saja membayar asuransi karyawan sebesar Rp 40 juta ini.

Takjil Kepedulian

Pada dua tahun terakhir ini, jemaat Gereja Kristen Jawa (GKJ) Jalan Jatiluhur Kota Bekasi menyediakan takjil gratis bagi umat muslim yang beribadah puasa Ramadhan. Bekerja sama dengan Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Bekasi Kota, takjil gratis disediakan di empat lokasi, yakni Pos Polisi Sumber Arta Jalan KH Nur Ali Kalimalang, di depan Pos Polisi Ahmad Yani Jalan Hasibuan, Pos Polisi Tol Bekasi Timur dan Pos Polisi Bulak Kapal.

Hadi Sukarno sebagai salah satu anggota majelis Gereja Kristen Jawa (GKJ) –bersama anggota majelis lainnya Mudoyo dan Eko Londo- sering turun langsung membagikan takjil. Biasanya disediakan sebanyak 1500 paket bagi pejalan kaki dan pengendara yang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah masing-masing. Berbagai sajian khas Ramadhan seperti bubur kacang hijau, kolak, teh kotak dan air mineral dibagi-bagikan kepada umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa.

“Apa yang kami lakukan adalah sebuah kegiatan sosial dan solidaritas bagi sesama sebagai bentuk kepedulian. Kami juga akan mengadakan penjualan sembako murah khusus bagi warga kurang mampu di sekitar gereja di luar jemaat. Sembako yang nilainya sekitar Rp 65 ribu akan kami jual Rp 10 ribu menjelang Lebaran,” katanya.

 

Kondisi tersebut, menurut Kepala Unit Pendidikan Rekayasa (Dikyas) Satuan Lalu Lintas Polresta Bekasi Kota, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Erna RA, membuktikan bahwa solidaritas antarumat beragama di wilayah Kota Bekasi telah berjalan dengan baik. Artinya, berbagi, peduli sesama dan indahnya kebersamaan sebagai solidaritas antarumat beragama di bulan suci Ramadhan, “Telah menjadi sebuah kenyataan,” tegasnya seperti pada harian Sinar Harapan edisi Selasa, 23 Agustus 2011.